Anda di halaman 1dari 11

BENGKEL KONSTRUKSI KAYU JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI MALANG

Jl. Veteran No. 8 PO. BOX 04 Malang Telp. 0341 551341 Fax. 0341- 5517083789

Subjek : Laporan Praktek Kerja Kayu I

No. Job : 1-3 Halaman : 1/11

BAB VI Latihan Dasar Mengetam dan Menggergaji ( Job Sheet I)


6.1 Dasar Teori
Mengetam adalah salah satu pekerjaan dalam kayu yang dilakukan untuk melicinkan / menghaluskan, menyikukan serta meratakan atau membentuk potongan kayu. Pada job kali ini akan digunakan ketam kayu yang digunakan agar permukaan kayu itu menjadi lurus dan rata. Ketam kayu ialah alat untuk menghaluskan serta meratakan permukaan kayu. Ketam terdiri dari rumah ketam dan mata ketam. Rumah ketam terbuat dari kayu, lubang mata ketam bersudut 45 o terhadap bidang dasar rumah ketam. Supaya hasil pengetaman dapat diatur maka pada mata ketam dipasang lidah ketam, yang berfungsi untuk mematahkan sisa pengetaman. Ukuran mata ketam yaitu sampai dengan cm. Mata ketam mempunyai sudut penajaman 25o s/d 30o. Menggergaji adalah suatu pekerjaan dalam kerja kayu yang dilakukan untuk memotong atau membelah kayu sesuai dengan jenis gergajinya dalam ukuran dan bentuk yang kita kehendaki. Proses penggergajian pada suatu gergaji yang baik adalah didasarkan pada kerataan dan ketajaman giginya yang bekerja sebagai pahatpahat kecil. Serpih / tatal gergaji akan dibuang dengan sendirinya searah dorongan gergaji oleh takikan gigi-gigi gergaji. Digunakan untuk membagi-bagi kayu dalam beberapa bentuk potong yang dikehendaki. Ada bermacam-macam jenis gergaji : Gergaji Tangan Pemotong Digunakan untuk memotong kayu dan arah menggergaji adalah tegak lurus terhadap arah urat kayu, dan posisi sudut 45o dari permukaan kayu. Gergaji Tangan Pembelah Digunakan untuk membelah kayu dan arah menggergaji searah dengan arah urat kayu dan posisi sudut 60o terhadap permukaan kayu. Gergaji Tangan Punggung Digunakan pada pekerjaan kayu kecil dan halus, selalu menggunakan gigi gergaji yang tajam.

BENGKEL KONSTRUKSI KAYU JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI MALANG


Jl. Veteran No. 8 PO. BOX 04 Malang Telp. 0341 551341 Fax. 0341- 5517083789

Subjek : Laporan Praktek Kerja Kayu I

No. Job : 1-3 Halaman : 1/11

6.2 Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengenal dan memahami peralatan manual yang digunakan untuk mengetam dan menggergaji. 2. 3. Mahasiswa dapat memahami langkah kerja yang baik dalam mengetam dan menggergaji. Mahasiswa dapat mengetahui dan mahir dalam melakukan cara mengetam yang baik,

sehingga mendapatkan kesikuan, kerataan dan kelurusan yang baik. 4. Mahasiswa dapat melakukan penggambaran pada benda kerja sebelum dilakukan

penggergajian. 5. Mahasiswa dapat mengetahui dan mahir dalam melakukan cara menggergaji, baik

menggunakan gergaji potong maupun gergaji belah. 6. Mahasiswa dapat memahami dan mengetahui jenis dan bahan dalam kerja kayu.

6.3 Alat-alat dan Bahan


Pada praktik kayu (Job Sheet 1) diperlukan alat-alat guna memudahkan kita bekerja. Adapun alat-alat tersebut adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Bangku kerja Ragum / Penjepit Gergaji tangan ( belah dan potong ) Gergaji punggung Ketam pendek kasar dan ketam pendek halus Meteran Obeng Pensil Perusut

10. Palu besi 11. Obeng 12. Rol meter 13. Kikir untuk gergaji 14. Penggaris Siku

Bahan :Kayu kamfer, berbentuk balok dengan ukuran 5/7 cm panjang 51,7 cm = 1 potong.

BENGKEL KONSTRUKSI KAYU JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI MALANG


Jl. Veteran No. 8 PO. BOX 04 Malang Telp. 0341 551341 Fax. 0341- 5517083789

Subjek : Laporan Praktek Kerja Kayu I

No. Job : 1-3 Halaman : 1/11

6.4. Langkah Kerja


Cara menyetel ketam (Mengatur ketam) : Biasanya baik ketam pendek maupun ketam panjang, diatas mata ketamnya dilengkapi dengan lidah ketam (pematah tata sisi ketam). Lidah ketam ini gunanya untuk memutuskan urat-urat kayu pengetaman sehingga bidang kayu yang diketam itu halus dan licin (tidak kasar). Lidah ini dipasang di atas meja ketam dengan sebuah sekrup, sehingga letaknya lidah ketam tetap pada tempatnya. Lidah ketam itu dipasang (distel) terhadap sisi pemotong dan mata ketam kira-kira : 0,8 mm 1,6 mm untuk metam kasar 0,4 mm 0,8 mm untuk metam halus Supaya letaknya mata ketam itu tetap dan teguh pada letaknya, maka mata ketam itu diperkuat dengan baji. Untuk mendapatkan pengetaman (supaya ketam itu bekerja) maka ketam harus distel, sehingga keluar sedikit dari telapaknya. Bila mata ketam itu keluarnya sama rata dengan telapaknya, maka ketam itu tidak akan bekerja sedikitpun. Langkah-langkah menyetel ketam : 1. Sediakanlah dan aturlah mata ketam dengan lidahnya (pematah tatal) sehingga pemotong bebas dari sentuhan lidah ketam. 2. Setel lidah ketam terhadap sisi pemotong mata ketam kira-kira 0,8 mm 1,6 mm untuk ketam kasar atau 0,4 mm 0,8 mm untuk ketam halus, dan baut mur kencangkan sedikit agar lidah ketam tetap kedudukanya. 3. Taruhlah mata ketam tadi pada alur bangku kerja yang telah tersedia, sehingga mata ketam mempunyai kedudukan berapat ke pinggir sudut alur dan teguh (tetap stabil). Ambilah obeng tangan dan kencangkan skrup mur itu hingga cukup kencang. 4. Pegang rumah ketam itu dengan tangan kiri dan masukkan mata ketam berikut bajinya, dengan tangan kanan sehingga tepat pada kedudukannya. 5. Tekan mata ketam berikut baji dengan ibu jari kiri pada lubang ketam, dan dilihat apakah mata ketamnya sudah cukup keluar. 6. Jika belum cukup keluar, pukullah ujung ketam sedikit demi sedikit dengan palu setelah itu pukullah baji untuk mengunci pada rumah ketam. 7. Bila terlampaui banyak keluar ujung belakang dari dop besi rumah-rumah ketam kita pukul dengan palu, agar mata ketamnya naik ke atas. 8. Dengan jalan demikian dapatlah keluar baji dan mata ketamnya dari rumah-rumah ketam. 10. Buatlah percobaan mengetam pada kayu yang tidak dipakai (kayu bekas) apakah hasil penyetelannya dan hasilnya cukup baik (tidak terlalu kasar) apabila masih belum sempurna aturlah seperti langkah-langkah di atas.

BENGKEL KONSTRUKSI KAYU JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI MALANG


Jl. Veteran No. 8 PO. BOX 04 Malang Telp. 0341 551341 Fax. 0341- 5517083789

Subjek : Laporan Praktek Kerja Kayu I

No. Job : 1-3 Halaman : 2/11

Pengetaman : 1 Telitilah kayu yang akan diketam, apakah bebas dari paku, pasir atau kotoran lainnya yang dapat merusak mata ketam. 2 Jepitlah kayu yang akan dikerjakan pada ragum horizontal pada bangku kerja dengan muka lebar diatasnya. 3 Pengetaman pertama kali dikerjakan pada permukaan yang paling lebar (bidang 1), dengan posisi kuda-kuda agar tenaga cukup tercurahkan pada pekerjaan dimana ketam dipegang diatasnya 4 Pengetaman dilakukan dengan cara : pegangan ketam yang depan dipegang oleh tangan kiri, sedangkan pegangan yang berada dibelakang dipegang oleh tangan kanan. 5 6 Ketamlah berulang kali, agar mendapatkan permukaan yang rata, lurus dan licin. Perhatikan dan periksa hasil ketaman dengan menggunakan siku-siku dan berilah tanda bila sudah baik.. 7 Jepitlah kayu yang akan diketam pada ragum, dengan muka yang tebal (bidang 2) diatasnya dan ketamlah sisi tebalnya hingga rata, lurus dan siku terhadap bidang 1 dan beri tanda. 8 9 Tarik garis perusut untuk menentukan lebar yang diinginkan. Ketam sisi tebalnya (bidang 4), yang telah ditandai oleh perusut sampai lurus, rata dan siku pada bidang 2 10 Tarik garis perusut untuk menentukan tebal kayu. 11 Ketam muka lebar (bidang 3), hingga rata, lurus dan siku terhadap bidang 2 dan bidang 4. Pemeriksaan Hasil Pengetaman : Untuk memeriksa hasil pengetaman, apakah kayu yang kita ketam sudah rata, lurus, licin, dan siku, maka harus diperhatikan hal-hal berikut : Kayu yang sudah rata dan lurus dibidik dengan cara membidiknya pada sepanjang pinggiran pekerjaan kayu. Untuk mengetahui apakah kayu dalam arah melintang sudah rata pada kayu yang lebar. Ini dilakukan dengan meletakkan satu dari bagian siku-siku yang tegak lurus pada kayu tersebut, dengan cara melihat arah datangnya cahaya maka akan terlihat apakah permukaan kayu sudah rata, lurus dan siku.

Pemeriksaan kerataan dengan siku-siku dapat dilakukan dalam 3 arah, yaitu : Arah serat ( memanjang ) Arah tegak lurus serat ( lebar ) Arah diagonal

BENGKEL KONSTRUKSI KAYU JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI MALANG


Jl. Veteran No. 8 PO. BOX 04 Malang Telp. 0341 551341 Fax. 0341- 5517083789

Subjek : Laporan Praktek Kerja Kayu I

No. Job : 1-3 Halaman : 1/11

Penggergajian : 12 Siapkan kayu yang telah diketam sebelumnya 13 Lukislah bagian kayu yang akan digergaji dengan menggunakan pensil dan penggaris siku sesuai dengan gambar rencana. 14 Jepit benda kerja pada ragum horizontal atau vertikal sesuai dengan bagian yang akan digergaji. 15 penggergajian harus dilakukan sesuai dengan fungsinya, yaitu memotong dan membelah. Karena hasilnya akan lain jika digunakan tidak sesuai dengan fungsinya. 16 Posisi benda kerja harus stabil dan pada penggergajian diusahakan gergaji akan terus mengikuti garis yang telah dilukis sebelumnya. 17 Untuk membelah kayu, sudut penggergajian yang tepat adalah + 60 0 terhadap benda kerja. Sedangkan untuk memotong kayu, posisi penggergajian yang baik adalah membentuk sudut penggergajian +450.

6.5. Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan : Pengetaman dilakukan agar benda kerja yang kita inginkan dapat lurus, rata dan siku serta hendaknya kita setiap mengetam benda kerja selalu diperhatikan atau dikoreksi kerataan serta kesikuannya. Pada penggergajian, diusahakan garis gergaji bisa lurus mengikuti batas-batas gergaji yang kita inginkan sesuai dengan gambar rencana. Saran : 1). Pada permulaan mengetam jangan dipasang mata ketamnya terlalu banyak keluar, sebab memukul mata ketamnya lebih masuk, adalah lebih mudah dari pada menariknya kembali. 2). Menarik ketam kembali (mengatur lebih halus) boleh dilakukan dengan jalan memukul rumah ketam itu pada bagian belakangnya (tumiting) dengan sebuah palu besi, sambil memegang rumah ketam dan bajinya dengan tangan kiri. Bajinya jangan dipasang terlalu kuat, karena dengan pukulan yang keras rahang dari balok ketam (rumah ketam) mudah akar pecah.

3). Jagalah supaya bagian sebelah belakang dari mata ketamnya bagus letaknya dalam rumahrumah, terutama bagian atas dan bawahnya untuk menjaga agar mata ketam tidak akan bergetar waktu dipakai (diadakan pengetaman) dan ini akan terletak pada permukaan hasil pengetaman sebagai ombak-ombak kecil.

4). Jika waktu mengetam mata ketamnya tersumbat, janganlah dicoba mengeluarkan sisa pengetaman (tatal) dengan benda dari besi, seperti dengan paku, sebab dapat merusak mata ketam. 5). Baji atau pengunci mata ketam harus dibentuk sehingga tidak menahan sisa pengetaman. 6). Hati-hati pada waktu membuka atau memasang skup lidah ketam, jangan sampai terpeleset karena sisa mata ketam itu sangat tajam.

BENGKEL KONSTRUKSI KAYU JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI MALANG


Jl. Veteran No. 8 PO. BOX 04 Malang Telp. 0341 551341 Fax. 0341- 5517083789

Subjek : Laporan Praktek Kerja Kayu I

No. Job : 1-3 Halaman : 1/11

BAB VII Sambungan Bibir Miring Berkait ( Job Sheet II)


7.1 Dasar Teori
Pada job 2 Sambungan Bibir Miring Berkait, kita harus mengetahui kegunaannya. Sambungan bibir miring berkait adalah untuk mempermudah perpanjangan kayu pada penggunaanpenggunaan kayu yang ukurannya lebih panjang. Sambungan ini dipergunakan jika pada suatu balok menerus yang terletak pada 3 tumpuan atau lebih akan disambung. Sambungan ini misalnya digunakan pada penyambungan dalam konstruksi kuda-kuda balok bubungan/nok, balok gording, balok lantai dan lain-lainnya.

7.2 Tujuan
1. Mahasiswa mampu menggunakan perkakas tangan 2. Mahasiswa mampu memahami fungsi dan kegunaan dari sambungan bibir miring berkait 3. Mahasiswa mampu melaksanakan pekerjaan pemahatan dengan baik 4. Mahasiswa mampu mendesain bentuk-bentuk sambungan kayu, terutama sambungan bibir miring berkait 5. Mahasiswa mampu membuat bentuk-bentuk sambungan kayu, terutama sambungan bibir miring berkait 6. Mahasiswa mampu menerapkan dalam konstruksi kuda-kuda, balok bubungan/nok, balok gording, balok lantai dan lain sebagainya; 7. Mahasiswa mampu membuat gambar kerja (bestek) berbagai jenis sambungan kayu, terutama sambungan bibir miring berkait 8. Mahasiswa mampu mengevaluasi hasil pelaksanaan sesuai dengan perencanaan

BENGKEL KONSTRUKSI KAYU JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI MALANG


Jl. Veteran No. 8 PO. BOX 04 Malang Telp. 0341 551341 Fax. 0341- 5517083789

Subjek : Laporan Praktek Kerja Kayu I

No. Job : 1-3 Halaman : 1/11

7.3 Alat-alat dan Bahan


Pada praktik kayu (Job Sheet 2) diperlukan alat-alat guna memudahkan kita bekerja. Adapun alat-alat tersebut adalah : 1. Bangku kerja 2. Ragum / Penjepit 3. Gergaji tangan ( belah dan potong ) 4. Gergaji punggung 5. Ketam pendek kasar dan ketam pendek halus 6. Pahat tusuk ukuran dan 1 7. Patar 8. Meteran 9. Obeng 10. Pensil 11. Perusut 12. Palu kayu 13. Palu besi 14. Obeng 15. Rol meter 16. Penggaris Siku 17. Kikir untuk gergaji 18. Amplas Bahan : Kayu kamfer, berbentuk balok dengan ukuran 5/7 cm panjang 50 cm = 1 potong.

7.4. Langkah Kerja


1. Kayu/ benda kerja disiapkan dengan ukuran matang 4x6x50 dengan menggunakan ketam denan hasil lurus, rata dan siku seperti langkah kerja pada job sheet 1. 2. Setelah itu potong menjadi 2 bagian sama panjang yaitu masing-masing 25 cm 4. Lukis benda kerja sesuai gambar kerja, dengan panjang sambungan 2 3 (t) tebal kayu. Melukis : - Menentukan panjang sambungan sesuai gambar - Membagi 5 bagian dari lebar kayu tersebut - Kita buat garis miring sesuai gambar Tentukan ketebalan dada sambungan dengan ketentuan 1/5 tebal kayu Kita buat tanda silang kayu yang ingin kita gergaji atau dibuang

BENGKEL KONSTRUKSI KAYU JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI MALANG


Jl. Veteran No. 8 PO. BOX 04 Malang Telp. 0341 551341 Fax. 0341- 5517083789

Subjek : Laporan Praktek Kerja Kayu I

No. Job : 1-3 Halaman : 2/11

3. Periksa dan cek hasil lukisan kepada Instruktur 4. Setelah lukisan benar, Klem kayu menggunakan ragum pada meja kerja disesuaikan dengan arah serat kayu 5. Buat bagian 1 dulu dengan gunakan gergaji untuk membuat dada sambungan dan bersihkan hasil pekerjaan dengan menggunakan pahat. 6. Bagian 2 dibuat sama seperti bagian 1 dan bersihkan hasil pekerjaan. 7. Periksa dan ukur hasil semua pekerjaan dengan siku. 8. Rakit kedua benda kerja dan cek ukuran dan kerapatan dari keduanya. 9.Bila terjadi kurang sempurnanya penyambungan, periksalah kembali, kemudian sambungkan lagi dan lakukan berulang kali, sampai sambungan tersebut berhasil baik. 10. Terakhir periksa dan cek hasil pekerjaan kepada instruktur dan minta penilaian atas hasil pekerjaan.

7.5. Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan : Pembuatan sambungan bibir miring berkait memerlukan skill yang baik dalam menggunakan peralatan tangan khususnya pada saat menggunakan pahat. Dalam pemahatan sangat diperlukan sikap kehati-hatian yang tinggi, kemudian bila pahat terasa sulit digunakan ada kemungkinan ketajaman pahat sudah berkurang. Jadi setiap saat perlu penajaman pahat supaya hasil bisa maksimal. Pada hasil pekerjaan di usahakan sambungan bisa menempel dan mengait dengan baik, antar sambungan bisa rata, lurus, kokoh dan rapat. Saran : 1. Selalu periksalah ketajaman pahat pada sebelum digunakan. Bila dirasa kurang tajam maka asahlah terlebih dahulu menggunakan batu asah. 2. 3. Pada saat praktek pergunakanlah alat sesuai fungsinya. Konsultasi pada pembimbing pada setiap tahapan pekerjaan agar tidak terjadi kesalahan dalam pekerjaan. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tidak diperkenankan mengeruk permukaan kayu dengan pahat. Pada waktu bekerja tidak boleh bergurau. Jangan memukul dengan benda kerja yang ada. Akibat tidak memperhatikan keselamatan kerja tangan bisa terluka. Selalu periksa dan cek serta bersihkan alat sebelum dikembalikan. Bersihkan lingkungan tempat kerja sebelum waktu praktek selesai.

BENGKEL KONSTRUKSI KAYU JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI MALANG


Jl. Veteran No. 8 PO. BOX 04 Malang Telp. 0341 551341 Fax. 0341- 5517083789

Subjek : Laporan Praktek Kerja Kayu I

No. Job : 1-3 Halaman : 1/11

BAB VIII Sambungan Ibu Pintu (Kusen) ( Job Sheet III)


8.1 Dasar Teori
Kosen pintu terdiri dari balok tegak dan datar, yang tegak dinamakan tiang dan yang datar dinamakan ambang. Ukuran kayu yang di gunakan sesuai yang diperkirakan dengan tebal tembok dan lebar pintu. Pada praktek kayu Job Sheet 3 ini, di gunakan ukuran kayu 4/6. Untuk pemasangan pintu diperlukan sponing dalamnya sama dengan tebal pintu. Untuk mencegah agar tidak bercelah dan agar kedudukan kusen tidak bergeser di buatlah kupingan kusen supaya dapat mengunci dengan spesi dinding.

8.2 Tujuan
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mahasiswa dapat mengenal dan memahami peralatan manual yang digunakan untuk membuat sambungan pen dan lubang. Mahasiswa dapat memahami langkah kerja yang baik dalam membuat sambungan pen dan lubang. Mahasiswa Mampu mendesain bentuk-bentuk sambungan kayu, terutama sambungan sambungan pen dan lubang; Mahasiswa Mampu membuat bentuk-bentuk sambungan kayu, terutama sambungan pen dan lubang; Mahasiswa mengetahui fungsi dari sambungan pen dan lubang Mahasiswa mampu dan terampil dalam melaksanakan pekerjaan pemahatan,pengeboran dan melubangi kayu. Mahasiswa mampu menerapkan prinsip hubungan dan bentuk ibu pintu, serta bagian bagian hubungannya.

8.3 Alat-alat dan Bahan


Pada praktik kayu (Job Sheet 3) diperlukan alat-alat guna memudahkan kita bekerja. Adapun alat-alat tersebut adalah :

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Bangku kerja Ragum / Penjepit Gergaji tangan ( belah dan potong ) Gergaji punggung Ketam pendek kasar dan ketam pendek halus Pahat tusuk ukuran . , dan 1

BENGKEL KONSTRUKSI KAYU JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI MALANG


Jl. Veteran No. 8 PO. BOX 04 Malang Telp. 0341 551341 Fax. 0341- 5517083789

Subjek : Laporan Praktek Kerja Kayu I

No. Job : 1-3 Halaman : 2/11

7. 8. 9.

Pahat lubang Patar Meteran

10. Obeng 11. Pensil 12. Perusut 13. Palu kayu 14. Palu besi 15. Obeng 16. Rol meter 17. Penggaris Siku 18. Kikir untuk gergaji 19. Amplas Bahan : Kayu kamfer, berbentuk balok dengan ukuran 5/7 cm panjang 50 cm = 1 potong.

8.4. Langkah Kerja


1. 2. 3. Kayu/ benda kerja disiapkan dengan ukuran matang 4x6x50 dengan menggunakan ketam dengan hasil lurus, rata dan siku seperti langkah kerja pada job sheet 1. Setelah itu potong menjadi 2 bagian sama panjang yaitu masing-masing 25 cm Kita lukis tiang dan ambang sesuai gambar kerja. Pada saat melukis bagian yang akan di buat sponing pakailah perusut agar hasil benar-benar lurus. 4. setalah pelukisan benda kerja selesai langkah selanjutnya kerjakan bagian ambang kusen terlebih dahulu sampai selesai, dalam pekerjaan ini bisa menggunakan bantuan gergaji terlebih dahulu baru di sempurnakan menggunakan pahat tusuk dan patar. Sedangkan untuk pembuatan lubangnya gunakan pahat lubang, setelah itu sempurnakan lagi dengan pahat tusuk. 5. setelah ambang selesai barulah mengerjakan bagian tiangnya, disini kita di tuntut untuk bisa membuat pen dengan baik. Dalam pembuatannya bisa menggunakan bantuan gergaji terlebih dahulu kemudian di sempurnakan menggunakan pahat dan patar. 6. dalam proses penyempurnaan pertemuan sambungan, selalu periksa terus menerus supaya pertemuan sambungan antara tiang dengan ambang bisa rapat dan siku. 7. Setelah bagian tiang dan ambang selesai dengan baik. Langkah selanjutnya membuat alur kapur, telinga, dan sponing sesuia gambar kerja. Dalam praktek kali ini tidak di gunakan ketam sponing, melainkan masih menggunakan pahat dalam pembuatan sponingnya.

BENGKEL KONSTRUKSI KAYU JURUSAN TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI MALANG


Jl. Veteran No. 8 PO. BOX 04 Malang Telp. 0341 551341 Fax. 0341- 5517083789

Subjek : Laporan Praktek Kerja Kayu I

No. Job : 1-3 Halaman : 1/11

8.5. Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan : Dari praktek kerja kayu job sheet 3 yang perlu kita ketahui adalah kemampuan serta ketelitian dan juga ketekunan mahasiswa dalam mengerjakan dan menyelesaikan dengan baik pembuatan bentuk sambungan pen dan lubang. Perlu di tekankan bahwa sambungan pen dan lubang pada kusen cukup rumit di bandingkan dengan job job sebelumnya, sehingga mahasiswa di tuntut untuk benar benar bisa menggunakann peralatan tangan dengan baik. Saran : 1). Gunakan selalu pahat tusuk dalam keadaan tajam. 2). Penyimpanan pahat pada bak bangku kerja hendaknya diletakkan dengan mata pahat ke bawah, untuk menghindarkan kerusakan mata pahat. 3). Pahat tusuk tidak boleh digunakan untuk pahat lubang. Demikian pula bila dipukul-pukul tangkainya akan mudah pecah. 4). Dalam pekerjan membuat lubang tembus pekerjaan dilakukan pada dua bidang permukaan atas dan bawah, supaya tidak pecah permukaan kayu. 5). Bila menggunakan pahat lubang tipis hendaklah menggunakan pahat lubang tipis yang ukurannya lebih kecil sedikit dari ukuran dan penyelesaiannya dilakukan dengan pahat tusuk. 6) Selalu periksa hasil kerja saat penyetelan antara tiang dan ambang, supaya di hasilkan sambungan pen dan lubang dengan hasil yang siku, hasil presisi tidak terlalu longgar atau pun terlalu rapat.