Anda di halaman 1dari 3

SENI TEMBIKAR BARAT Tembikar Romawi Tembikar Romawi diawali dengan meniru gaya tembikar Etruska, namun kemudian

n berkembang dengan gayanya sendiri. Secara umum, tembikar di Itali cenderung memiliki satu warna dan dekorasinya pun dicetak, tidak seperti tembikar Yunani yang hiasannya dilukis

Tembikar Yunani

Tembikar Arretine Namun pada masa kekaisaran, mulai berdiri pabrik-pabrik tembikar, yang memproduksi tembikar untuk kemudian dijual ke berbagai-bagai tempat. Ada beberapa kedai di Italia, di dekat kota yang disebut Arezzo, dan beberapa lainnya di Prancis selatan. Tembikar jenis ini disebut tembikar Arretine. Setelah menaklukan Asia Barat, Romawi pun mengembangkan seni tembikar mereka dengan belajar dari para seniman Asia Barat. Jika sebelumnya tembikar Romawi berwarna hitam, kini warnanya menjadi merah. Bangsa Romawi juga belajar cara membuat dekorasi pada tembikar dengan cara mencetaknya, yang ternyata lebih cepat dan mudah daripada dengan cara dilukis. Dengan inovasi ini, kedai-kedai tembikar dapat menghasilkan barang dengan kualiti yang bagus namun dengan harga yang murah. Tembikar jenis ini menjadi sangat popular, dan kedai tembikar memperoleh keuntungan yang berlipat ganda. Tembikar jenis ini disebut tembikar Galia Selatan Ketika tahu bahawa tembikar Arretine dan Galia Selatan mampu mendatangkan banyak ruang. Orang-orang pun menirunya di pelbagai tempat, dan dimulai sejak masa masa kaisar Vespasianus, sekiat 70 M. Di Spanyol, tiruan ini disebut Terra Sigillata Hispanika, sedangkan di Afrika Utara, disebut Slip Merah Afrika. Tembikar Afrika ini sangat berjaya, bahkan mampu mengalahkan tembikar Galia Selatan Lima puluh tahun sejak pertama kali dihasilkan, tembikar Slip Merah Afrika telah digunakan oleh hampir semua orang di seluruh penjuru Kekaisaran Romawi.

Para arkeologi menemukan tembikar jenis ini di Inggeris dan Denmark, Austria, Sepanyol, Yunani, dan tentu saja di Afrika Utara. Sementara di bagian timur Romawi, orang-orang lebih suka menggunakan Sigillata. Slip Merah Afrika menjadi tembikar yang paling mewah dan utama di Afrika Utara dan Eropah selama lebih kurang lebih 400 tahun, bahkan setelah kejatuhan Romawi. Di Afrika Utara, orang-orang tetap menghasilnya di bawah kekuasaan bangsa Vandal, yang memerintah pada sekitar tahun 400-an sampai 500-an M. Barulah pada abad ke-6 M, mereka membuat tembikar dengan gaya baru setelah adanya penaklukan oleh bangsa Arab, yang ikut memperkenalkan tembikar dengan lapisan seperti kaca.