Anda di halaman 1dari 19

KUINOLON Antibiotika golongan kuinolon, bekerja dengan menghambat satu atau lebih enzim topoisomerase yang bersifat esensial

untuk replikasi dan transkripsi DNA bakteri. URAIAN: Asam Nalidiksat adalah prototip antibiotika golongan Kuinolon lama. Golongan Kuinolon ini digunakan untuk infeksi sistemik. Yang termasuk golongan ini antara lain adalah Spirofloksasin, Ofloksasin, Moksifloksasin, Levofloksasin, Pefloksasin, Norfloksasin, Sparfloksasin, Lornefloksasin, Flerofloksasin dan Gatifloksasin. Mekanisme Kerja Kuinolon : Pada saat perkembang biakkan kuman ada yang namanya replikasi dan transkripsi dimana terjadi pemisahan double helix dari DNA kuman menjadi 2 utas DNA. Pemisahan ini akan selalu menyebabkan puntiran berlebihan pada double helix DNA sebelum titik pisah. Hambatan mekanik ini dapat diatasi kuman dengan bantuan enzim DNA girase. Peranan antibiotika golongan Kuinolon menghambat kerja enzim DNA girase pada kuman dan bersifat bakterisidal, sehingga kuman mati. Indikasi: Gastroenteritis termasuk kolera, shigelosis, diare turis (travellers diarrhea), campylobacter dan salmonella; kankroid; penyakit radang panggul (dengan doksisiklin dan metronidazole); penyakit legionela; meningitis (termasuk profilaksis meningitis mengingokokus); infeksi saluran napas termasuk infeksi pseudomonas pada cystic fibrosis, tetapi tidak pada pneumonia peneumokokus; infeksi saluran kemih; infeksi tulang dan sendi; septicemia; antraks; infeksi kulit; otitis eksterna; profilaksis pada bedah. Kontraindikasi : Riwayat gangguan tendon berhubungan dengan penggunaan kuinolon. Efek Samping dan Interaksi Obat : Golongan antibiotika Kuinolon umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Efek sampingnya yang terpenting ialah pada saluran cerna dan susunan saraf pusat. Sifat-sifat farmakologi : a. obat golongan kuinolon didistribusikan lebih luas b. Sebagian besar dieksresikan di dalam urine

1. Sediaan di Pasaran a. Spirofloksasin Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan Spirofloksasin 250 mg, 500 mg, 750 mg bahkan ada yang 1.000 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan Spirofloksasin 200 mg/100 ml. b. OfloksasinAntibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan Ofloksasin 200 mg dan 500 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan Ofloksasin 200 mg/100 ml. c. MoksifloksasinAntibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan Moksifloksasin kandungan 400 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan Moksifloksasin 400 mg/250 ml. d. LevofloksasinAntibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan Levofloksasin 250 mg dan 500 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan Levofloksasin 500 mg/100 ml. e. PefloksasinAntibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan Pefloksasin 400 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan Pefloksasin 400 mg/125 ml dan ampul dengan kandungan Pefloksasin 400 mg/5 ml. f. NorfloksasinAntibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 400 mg. g. SparfloksasinAntibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 200 mg. h. LornefloksasinAntibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 400 mg. i. FlerofloksasinAntibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 400 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan 400 mg/100 ml. j. GatifloksasinAntibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 400 mg. Juga tersedia dalam bentuk vial untuk ijeksi dengan kandungan 400 mg/40 m Absorpsi Pada pemberian dosis 100 mg, kadar serum puncak rata-rata adalah 1,0 mcg/ml setelah 2 jam. Sedang pada dosis 200 mg dan'300 mg, kadar puncak rata-rata berturutturut adalah 1,65 mcg/ml dan 2,8 mcg/ml.

Distribusi Pada pemberian per oral, ofloxacin didistribusi dengan baik kedalam berbagai jarinigan termasuk kulit, saliva, tonsila palatina, sputum, prostat, cairan prostat, kandung empedu, empedu, air mata, uterus, ovarium, dan duktus ovarii. Pengobatan dilakukan selama 5 hari dengan dosis yaitu 1-2 tetes pada mata yang terinfeksi, setiap 2 jam sekali, hingga lebih 8 kali per hari, untuk hari pertama dan kedua. Selanjutnya setiap 4 jam sekali hingga lebih dari 4 kali per hari, untuk hari ke-3 hingga hari ke-5. Sebagai kesimpulan, tetes mata levofloxacin 0.5% jika diberikan dalam dosis 5 hari, aman dan efektif untuk terapi konjungtivitis bakterial pada pasien anak. Terapi dengan levofloxacin 0.5% memiliki keuntungan klinis karena aktivitas antibakteri spektrum luas yang dimiliki levofloxacin, terutama dalam melawan organisme gram positif seperti S. Pneumoniae. Floxa 0.6ml mini dose Sedian ini adalah antibiotik Ofloxacin 3,00 mg yang merupakan tetes mata steril yang berwarna kuning muda. Obat ini memiliki akifitas bakterisid terutama pada bakteri gram negative seperti Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter aerogenes, Proteus dan Klebsiella sp , bekerja dengan cara menghambat sintesis protein sel bakteri tersebut juga terhadap strain yang sensitive dari Staphylococci termasukS.aureus dan S.epdermidis (koagulase beberapa spesies non-haemolytic dan beberapa jenis streptococcus pneumonia. Floxa diindikasikan untuk mengobati infeksi pada mata yang disebabkan oleh bakteri yang sensitive. Efek samping yang sering terjadi adalah rasa pedih, gatal, dan merah-merah pada konjungtiva. Reaksi ini terjadi terhadap kurang dari 3% pasien yang diobati dengan Floxa dan reaksi yang sama dapat terjadi pada penggunaan antibiotic aminoglikosida lainnya. Jika ofloxacin topical digunakan bersama antibiotic aminoglikosida sistemik maka kadar serum total harus selalu dimonitor. positif dan koagulase negative termasuk strain yang tahan Penicilinase). Streptococci termasuk juga

L F X 0,6 ml mini dose Sedian antibiotik dengan komposisi Levofloxacin 5,00 mg yang tidak berwarna, jernih, dengan pH antara 5-8 yang merupakan suatu anti infeksi. Memiliki aktifitas bakteriid terutama terhadap bakteri gram negative seperti P.aeruginosa, Enterococcus sp, Proteus, dan Klebsiella sp, juga terhadap strain yang sensitive dari Staphylococci (termasuk S.aureus dan Streptococci) jugatermasuk S.pneumoniae. Diindikasikan untuk infeksi ocular eksternal mata seperti konjungtivitis yang disebabkan mikroorganisme yang peka terhadap Levofloxacin seperti strain Staphylococcus sp, Streptococcus pneumonia, Micrococcus sp., Enterococus sp., Corynebacterium sp., Pseudomonas sp., Pseudomonas aeruginosa dan Haemophyllus sp. Penggunaan antibiotyik topical beta laktam dengan LFX dapat menurunkan /menghilangkan aktivitas LFX. Obat ini harus dalam pengawasan dokter karena pemakaian yang lama dapat menyebabkan pertumbuhan organisme yang tidak sensitive termasuk jamur, yang dapat menimbulkan super infeksi. Efek samping biasanya adalah rasa pedih, iritasi dan eyelid itching. Lyteers 0,6 ml mini dose Zat aktif nya adalah Sodium Chloride 4,4 mg dan Kalium Chloride 0.8 mgsedangkan zat tambahan nya adalah Saliva Orthana (mucin), yang merupakan sediaan steril mata yang bekerja sebagai pembasah/lubricant pada mata yang kering dan berfungsi untuk mempertahankan agar permukaan mata tetap basah. Membentuk lapisan pelindung pada permukaan mata yang disebut lapisan air mata (tears film). Diindikasikan untuk melumasi dan menyejukkan mata kering akibat kekurangan skresi air mata atau teriritasi karena kondisi lingkungan, ketidaknyamanan karena penggunaan Contact Lens, gangguan penglihatan karena kelebihan lender pada mata. Obat ini hampir tidak ada efek samping, dan pengguanaan untuk anak-anak dibawah usia 6 tahun harus dengan pengawasan orang tua nya. Protagenta 0.6 ml mini dose Zat yang terkandung di dalamnya adalah Polyvinylpyrrolidone 20,0 mg, Vitamin A, dan Natrium Hyaluronat. Polyvinylpyrrolidone sebagai bahan yang mempunyai keaktifan khas, suatu koloid protektif makromolekuler yang secar fisikokimia sangat mirip protein.

Obat ini juga dapat menstabilkan dan sekaligus sebagai pengganti lapisan cairan mata pre corneal dan karena itu mendorong mempercepat penyembuhan lesion epitel kornea. Karena fungsi koloid protektifnya. Diindikasikan untuk menghilangkan gejala iritasi lokal yang disebabkan debu, gas, atau gangguan lakrimasi. Manifestasi rangsangan pada mata disebabkan produksi cairan air mata yang kurang atau tidak cukup (mata kering). Selain itu juga sebagai pelicin untuk lensa kontak. Tropine 1% 0,6 ml mini dose Mengandung Atropine sulfate 1 mg yuabg merupakan suatu antikolinergik yang menghasilkan dilatasi pupil dan paralisis. Bekerja dengan cara menghambat respon otot sfingter iris dan otot akomodasi badan ciliar terhadap perangsangan kolinergik, menghasilkan dilatasi pupil (midriasis) dan paralisi akomodasi (sikloplegia). Tropine 1% ini digunakan: untuk mengukur kesalahan-kesalahan refraksi. Biasanya dianjurkan untuk refraksi pada anak-anak hingga usia 6 tahun dan pada anak-anak dengan strabismus konvergen dan tidak digunakan pada orang dewasa karena masa kerjanya yang panjang. Pengobatan pada iris dan saluran uveal, Synechiae posterior (pencegahan dan perawatan) : Atropin dapat digunakan untuk

dilatasi pupil guna memecahkan synechiae posterior dan mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi parah yang ditimbulkan oleh synechiae serta dapat juga digunakan untuk mencegah pembentukan Synechiae posterior.

Midriatik pre operasi dan pasca operasi.

Tidak boleh untuk pasien galukoma atau berkecenderungan menjadi glaucoma misalnya glaucoma anterior sudut sempit, dan pasien yang menunjukkan hipersensitivitas terhadap obat ini. Tropine juga memiliki efek samping yaitu efek samping lokalnya dapat meningkatkan tekanan intra okuler, rasa menyengat sesaat dan sensitifitas terhadap cahaya sekunder pada dilatasi pupil. Pemakaian jangka panjangnya dapat menimbulkan iritasi local, hiperaemia, oedemia dan konjungtivitis.

Sedangkan efek samping sistemik nya yaitu ditandai dengan kekeringan pada mulut, flusing, kulit kering, bradikardia, diikuti takikardia dengan palpitasi dan aritmia, gangguan saluran kemih, gangguan pada irama dan pergerakan saluran gatrointensional, diikuti dengan konstipasi. Muntah, pusing dan staggering mungkin dapat terjadi , gatal pada anak-anak dan gangguan pencernaan pada bayi. Lubricen 0,6 ml mini dose Tiap ml nya mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose 2,0 mg, Natrium hyaluronat, Natrium klorida,, Natrium hydrogen phosphate, dan Natrium dihidrogen phosphate. Obat ini menyebar secara cepat pada kornea dan konjungtiva membentuk lapisan pelindung dengan waktu kontak yang lebih lama, berfungisi sebagai lubricant pada matayang kering karena kekurangan skresi air mata atau pun kekurangan mucus dan berfungsi sebagai air mata buatan. Farmakodinamik dari Hydroxypropil Methylcellulose adalah suatu zat yang inert dan tidak mempunyai aktifitas farmakologi . Diindikasikan secara topical untuk memberikan lubrikasi seperti air mata untuk meredakan gejala mata kering dan iritasi mata yang berkaitan dengan produksi air mata juga dapat digunaklan sebagai lubrukasi ocular untuk mata buatan. Cenfresh 0.6ml mini dose Tiap ml nya mengandung Carboxymethylcellulose Sodium 5 mg, yang bekerja sebagai pembasah/lubricants pada mata kering serta berfungsi mempertahankan permukaan amata tetap basah. Obat ini bekerja dengan cara membentuk lapisan pelindung pada permukaan mata atau lapisan air mata (tears film) yang membasahi mata anda dari hari kehari agar terasa nyaman. Diindikasikan untuk mengurangi iritasi ringan pada mata yang kering, melindungi mata terhadap iritasi lebih lanjut mengurangi rasa tidak nyaman yang dikarenakan angin dan sinar matahari.

Cendo Xytrol Pengobatan infeksi mata yg meradang , konjungtivitis akut n kronis yg tak bernanah, blefarokonjung, keratokonjung, iridosiklitis, iritis, blefaritis, episkleritis, Penggunaan dlm waktu panjang memicu pertumbuhan organism yg resisten trhdp cendo xytrol. KOMPOSISI / KANDUNGAN Tiap 1 ml Cendo Xitrol Eye Drops mengandung Deksametason 0,1%, Neomisina 3,5 mg, dan Polimiksina 6000 IU. FARMAKOLOGI (CARA KERJA OBAT) Cendo Xitrol adalah obat tetes mata yang mengandung kombinasi obat kortikosteroid (deksametason) dan antibiotik (neomisina dan polimisina). Kortikosteroid mempunyai efek antiinflamasi atau menekan peradangan. Sedangkan neomisina dan polimisina mempunyai efek antibakterial. INDIKASI / KEGUNAAN Indikasi Cendo Xitrol adalah :

Infeksi mata yang disebabkan oleh bakteri yang peka terhadap neomisina dan polimiksina. Blefaritis tidak bernanah. Konjungtivitis tidak bernanah. Skleritis. Tukak kornea. Keratitis.

DOSIS DAN ATURAN PAKAI : lazim diberikan adalah 4 6 kali sehari 1 2 tetes. EFEK SAMPING

Reaksi hipersensitivitas atau alergi dapat terjadi meskipun jarang. Iritasi mata, rasa terbakar, tersengat, gatal, penurunan ketajaman mata. Katarak subkapsular posterior dan glaukoma pada penggunaan jangka panjang dan terus menerus.

Cendo Xitrol Tetes Mata, botol @ 5 ml dan @ 15 ml.

CARA KERJA OBAT : Alletrol Compositum Tetes Mata merupakan obat kombinasi steroid dan antiinfeksi. Steroid : Dexamethasone merupakan kortikosteroid sintetik yang berkhasiat sebagai anti inflamasi (anti radang) yang ditimbulkan oleh mikroorganisme, zat kimia, iritasi termis, trauma, maupun allergen. Peradangan dapat ditekan dengan cara menghambat kerja zat-zat seperti prostaglandin yang merupakan mediator inflamasi. Anti infeksi : Neomycin Sulphate merupakan garam sulfat dari Neomycin B dan C yang diproduksi oleh biakan Streptomyces fradiae Waksman (Fam. Streptomycetacae), mempunyai potensi setara dengan tidak kurang dari 600 ug Neomycin base dihitung dari basa anhidrat. Polymixin B Sulphate merupakan garam sulfat dari poiymixin B1 dan B2 (yang diproduksi oleh biakan Bacillus polymixa (Prazmewski) Miguia (Fam. Bacillaceae), mempunyai potensi setara dengan tidak kurang dari 6000 Potyrnixirr B unit per miligram, dihitung dari basa anhidrat. Neomycin Sulphate dan Polymixin B Sulphate secara bersama-sama aktif terhadap organisma patogen pada* mata antara lain : Staphilococcus aureus, Eschericia coli, Haemophylus influenzas, Klebsiella/Enterobacter sp, Neisseria sp,dan Pseudomonas aeruginosa. Kombinasi ini tidak poten melawan Pseudomonas aeruginosa, Serratia mercescens, Streptococci termasuk Streptococcus pneumoniae. INDIKASI : Alletrol Compositum Tetes Mata baik untuk : Peradangan pada mata yang disertai dengan infeksi bakteri. Chronic anterior uveitis dan luka pada kornea yang disebabkan oleh bahan kimia, radiasi, iritasi termis dan penetrasi benda-benda asing. Inflamasi okuler dari palpebral dan bulbar conjunctiva, cornea dan anterior segment.

DOSIS DAN CARA PEMAKAIAN : Cara pemakaian topikal, diteteskan pada mata. Aturan pemakaian : Dosis awal 1 atau 2 tetes

setiap _ ^ ii *am Dada siann hari dan tiap 2 jam pada malam hari. Jika telah memberikan respon yang baik, dosis dikurangi menjadi 1 tetes setiap 4 jam. Untuk mengontrol gejala, dosis dikurangi menjadi 1 tetes 3 atau 4 kali sehari. Pada peresepan awal tidak boleh lebih dari 20 ml dan resep tidak boleh diulang tanpa evaiuasi lebih jauh. PERINGATAN DAN PERHATIAN : Penggunaan kortikosteroid daiam jangka panjang dapat menyebabkan glaukoma. kerusakan saraf mata, mata kabur dan posterior sub capsular cataract, serta kemungkinan terjadi infeksi sekunder. Pemakaian jangka panjang dapat menyebabkan pertumbuhan yang berlebihan dari organisme yang tidak peka termasuk fungi, perforasi, penipisan pada cornea dan sclera, tertutupnya infeksi akut purulent mata. Penggunaan kombinasi steroid-antiinfeksi dapat menimbulkan masking effectyaitu keadaan dimana gejala kliniknya berkurang tetapi sebenamya infeksi bertambah berat. Bila obat digunakan selama 10 hari atau lebih, maka dianjurkan untuk memonitor tekanan intraokuler secara rutin. Neomycin menyebabkan sensitisasi pada kulit (terutama terjadi skin rash). Hati-hati pemakaian pada wanita hamil dan menyusui. Bila terjadi iritasi atau sensitisasi hentikan pengobatan dan segera konsuitasi ke dokter. EFEK SAMPING : Efek samping kombinasi steroid-antiinfeksi dapat disebabkan oleh komponen steroid (Dexamethasone), komponen antiinfeksi (Neomycin dan polymixin), maupun keduanya. Komponen steroid mempunyai efek menaikkan tekanan intraokuler sehingga mungkin dapat menyebabkan glaukomarkerasakan saraf mata, katarak dan menghambat penyembuhan luka. Komponen antiinfeksi menyebabkan hipersensitivitas lokal. Kombinasi steroid-antiinfeksi dapat menyebabkan infeksi sekunder oleh jamur maupun bakteri. KONTRA INDIKASI :

Epitheial herpes simplex keratitis (denditric keratitis), vaccina, varicella dan penyaklt viral yang lain pada kornea dan konjungtiva. Infeksi mycobacterial pada mata. Penyakit jamur pada mata. Penderita yang hypersensitif terhadap komponen dari ALLETROL COMPOSITUM Tetes Mata. (Hypersensitivitas terhadap komponen antibiotik lebih sering terjadi dibandingkan dengan komponen lain).

TEARS NATURALE II, Artificial Tears Tetes Mata Air mata adalah cairan yang sangat penting. Air mata dengan susunan komponen alamiah yang membentuk lapisan pelindung pada permukaan mata disebut lapisan air mata (tears film). Lapisan air mata melapisi dan membasahi mata dari hari ke hari agar mata tetap sehat dan nyaman. Tetapi beberapa orang punya air mata yang jumlahnya kurang dari normal atau kekurangan komponan-komponeo penting. Hal ini memudahkan rusaknya lapisan air mata sehingga terbentuk titik-titik kering (dryspots) di kornea, mata jadi sensitif, terasa panas, mengganjal, lelah atau rasa tidak nyaman lainnya. Kadang-kadang, mata kering dapat meningkatkan produksi air mata untuk mempertahankan agar permukaan mata tetap basah. Tetapi air mata yang diproduksi tidak lengkap komponennya sehingga tetap terjadi masalah. TEARS NATURALE II, Artificial Tears Untuk mata kering dan sensitif. Mata kering dapat dikurangi dengan TEARS NATURALE II yang menggantikan komponen-komponen air mata yang diperlukan untuk mengurangi iritasi mata. TEARS NATURALE II menggantikan lapisan air mata. KOMPOSISI: Setiap ml mengandung, Zat aktif: Dextran 0.1 % dan Hidroksipropilmetil selulosa 2910 0.3 % (Sistem Polimeryang iarutdaiam air), Zat pengawet: Polyquaternium-1 0.001 %, Zat tambahan; Natrium Bofat, Kalium Klorida, Natrium Klorida, Air purifikasi, Asam Hidroklorida dan/atau Natrium hidroksida sebagai pengatur pH. INDIKASI: Untuk mengurangi rasa panas dan iritasi karena mata kering.

Untuk melindungi mata terhadap iritasi lebih lanjut. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman karena iritasi mata ringan, terkena angin atau sinar matahari. Vitamin A Vitamin A telah terbukti sebagai vitamin yang sangat menunjang kesehatan

mata sama halnya dengan beta-carotene. Selain wortel, vitamin ini banyak juga diperoleh pada daging sapi atau ayam, telur, minyak ikan cod, hati, susu dan mentega. Vitamin C Kegunaannya sebagai antioksidan bagi sel-sel mata dapat Anda temui pada buah jeruk, stroberi, brokoli, jambu dan paprika. Mengkonsumsi vitamin C secara rutin baik untuk mencegah dan penyembuhan penyakit katarak. Vitamin E Selain baik untuk kulit, vitamin E dapat berfungsi menguatkan sel-sel retina yang melemah. Sumber vitamin E antara lain terdapat pada kacang hijau, biji bunga matahari, almond, hazelnuts, kacang tanah dan sayuran hijau. vitamin C. Jika dalam bahasa kimia, dikenal dengan nama asam askorbat. Tentu dehidroaskorbat juga nama lain dari vitamin C. Tetapi, baru-baru ini para ahli di Oregon Health and Science University mengklaim bahwa vitamin C dapat membantu meningkatkan fungsi sel-sel retina mata dan fungsi otak. Para peneliti mengemukakan, sel-sel retina baik yang ada di dalam dan luar perlu mendapatkan asupan vitamin yang cukup supaya dapat berfungsi dengan baik. Retina sebenarnya adalah bagian dari sistem saraf pusat dan penemuan ini setidaknya menguatkan dugaan bahwa vitamin C memiliki manfaat penting untuk kesehatan otak. Otak memiliki reseptor khusus yang dikenal dengan sebutan GABA. GABA berfungsi dalam mengatur komunikasi antara sel-sel otak. GABA melakukan peran "rem" pada neuron rangsang otak. Penelitian ini menunjukkan bahwa GABA sebagai reseptor yang ditemukan dalam sel-sel retina akan berhenti beroperasi ketika mereka kehilangan vitamin C. Fakta lain menunjukkan, vitamin C juga diperlukan untuk reseptor GABA di bagian otak lainnya. Para peneliti mengatakan, antioksidan alami turut melestarikan reseptor dan sel-sel otak sehingga melindungi mereka dari kerusakan dini. CENDO NATACEN MD Natamycin adalah antibiotik tetraene polyene yang merupakan turunan dari Streptomycesnatalencis, yang memiliki aktifitas in vitro terhadap berbagai macam yeast dan

filamentous fungi, termasuk Candida, Asperghillus, Cephalosporium dan Penicillium. Tiap ml mengandung Natamycin 50 mg CARA KERJA OBAT : Natamycin bekerja dengan cara mengikat molekul pada sterol moiety dari pada membran sel jamur. Polyenesterol complex mengubah permeabilitas daripada membran yang menyebabkan sel kehabisan kandungan esensialnya. Walaupun efektifitas terhadap fungi tergantung pada dosis, natamycin lebih sebagai fungisidal. Natamycin tidak efektif in vitro terhadap bakteri-bakteri gram positif ataupun gram negatif. INDIKASI : Untuk pngobatan fungi blefaritis konjungtivitis dan keratitis yang disebabkan oleh organisme yang sensitif termasuk fusarium solani keratitis. PERINGATAN & PERHATIAN :

Tidak adanya perbaikan kondisi keratitis setelah 7-10 hari penggunaan obat dapat mengindikasikan bahwa infeksi disebabkan oleh mikroorganisme yang tidak peka terhadap Natamycin.

CARA PEMAKAIAN : Teteskan pada kantung konjungtiva seetiap 1 atau 2 jam. Setelah 3 atau 4 hari diturunkan menjadi 1 tetes, 6-8 kali sehari. Penggunaan dilanjutkan selama 14-21 hari atau sampai terjadi perbaikan klinis, penggunaan dengan frekuensi yang lebih rendah dapat memadai (4-6 kali sehari) pada kasus fungal blefaritis dan konjungtivitas. EC Jamur Keluhan mulai timbul setelah 5 hari rudapaksa atau 3 minggu kemudian. Pasien akan mengeluh sakit mata yang hebat,berair, dan silau.Pada mata akan terlihat infiltrat yang berhifa dan satelit bila terletak didalam stroma. Biasanya disertai dengan cincin endotel

dengan plaque dan hipopion. Tampak tukak yang jelas dan menonjol ditengah tukak nampak bercabang-cabang, dengan endotelium plaque, ganbaran satelit pada kornea, dan lipatan descement. Sebaiknya diagnostik dibuat dengan pemeriksaan mikroskopik dengan KOH10% terhadap kerokan kornea yang menunjukkan adanya. Pasien dengan infeksi jamur dirawat dan diberi pengobatan natamisin 5% setiap 1-2 jam saat bangun atau anti jamur lain seperti miconazol, amfoterisin, nistatin, dan lain-lain. Diberikan sikloplegik disertai obat oral anti glaukoma bila terjadi peningkatan tekanan intra okuler. Bila tidak berhasil diatasi maka dilakukan keratoplasti. Secara ringkas dapat dibedakan :

Jamur berfilamen (filamentous fungi) : bersifat multiseluler dengan cabang-cabang Jamur bersepta : Furasium sp, Acremonium sp, Aspergillus sp, Cladosporium Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp. Jamur ragi (yeast) yaitu jamur uniseluler dengan pseudohifa dan tunas : Candida Jamur difasik. Pada jaringan hidup membentuk ragi sedang media pembiakan

hifa.

sp, Penicillium sp, Paecilomyces sp, Phialophora sp, Curvularia sp, Altenaria sp.

albicans, Cryptococcus sp, Rodotolura sp.

membentuk miselium : Blastomices sp, Coccidiodidies sp, Histoplastoma sp, Sporothrix sp. FAKTOR RESIKO Trauma (mis., lensa kontak, benda asing) 1. 2. 3. vernal Riwayat penyakit trauma (terutama terkait dengan tumbuhan) 4. Pekerjaan dalam bidang pertanian Pemakaian kortikosteroid topikal yang lama Operasi kornea seperti keratoplasti tembus, operasi katarak sutureless, atau Keratitis kronis akibat herpes simplex, herpes zoster, atau keratoconjungtivitis

laser in situ keratomileusis (LASIK)

KS topikal mengaktivasi dan meningkatkan virulensi jamur dengan mengurangi resistensi kornea terhadap infeksi dan bisa mensupresi respon sistem imun, karena itu merupakan predisposis terjadinya keratitis fungal. Jamur mencapai kedalam stroma kornea melalui kerusakan pada epithelium memperbanyak diri nekrosis pada jaringan reaksi inflamasi. Organisme dapat menembus kedalam membran descmentyang intak dan mencapai bagian anterior atau segmen posterior. Mikotoksin dan enzimproteolitik menambah kerusakan jaringan yang ada. Keratitis fungal juga dapat terjadi sekunder dari endophthalmitis fungal. Pada kasus ini,organisme jamur dari segmen posterior menembus membran Descemet dan masuk kedalam stroma kornea. PROSES TERJADINYA ATAU PERJALANAN PENYAKIT Fungi biasanya tidak menyebabkan keratitis mikroba karena normalnya, fungi tidak dapat berpenetrasi ke dalam lapisan epitel kornea yang intak dan tidak masuk ke dalam kornea lewat pembuluh darah limbus episklera. Organisme dapat berpenetrasi ke dalam membran Descement yang intak dan masuk ke dalam stroma.. Ia membutuhkan cedera penetrasi atau riwayat defek epitel untuk masuk ke dalam kornea. Setelah berada di dalam kornea, organisme dapat berproliferasi. Organisme yang menginfeksi defek pada epitel sebenarnya merupakan mikroflora normal yang terdapat pada konjungtiva dan andeksa. Fungi filamentosa merupakan kausa tersering dari infeksi pasca trauma. Fungi filamentosa berproliferasi di dalam stroma kornea tanpa melepaskan substansi kemotaktik, sehingga menunda munculnya respon imun host/ respon inflamasi. Berbeda dengan fungi filamentosa, Candida albicans memproduksi fosfolipase A dan lisofosfolipase pada permukaan blastospora, untuk membantu ia masuk ke dalam jaringan. Fusarium solani, yang merupakan fungus yang virulen, dapat menyebar di dalam stroma kornea dan berpenetrasi ke dalam membrane Descemet. Trauma kornea akibat tumbuhan merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya keratomikosis. Terutamanya, petani yang tidak memakai alat proteksi diri, khususnya kaca mata. Trauma akibat pemakaian lensa kontak juga adalah salah satu faktor resiko terjadinya keratomikosis. Trauma kornea

paling sering menyebabkan keratomikosis dan merupakan factor resiko major tipe keratitis tersebut . Seorang dokter harus mempertimbangkan besar kemungkinan suatu keratomikosis jika pasien mempunyai riwayat trauma kornea, terutama adanya kontak dengan tumbuhan atau tanah. Resiko trauma akibat pemakaian lensa kontak adalah kecil, dan bukan merupakan faktor resiko major untuk keratomikosis. Selain dari itu, kortikosteroid topikal diketahui dapat mengaktivasi dan meningkatkan virulensi organisme jamur dengan menurunkan resistensi kornea terhadap infeksi. Candida sp menyebabkan infeksi okuler pada hospes yang mengalami imunodefisiensi dan pada kornea dengan ulkus kronik. Pemakaian kortikosteroid yang semakin meningkat sejak 4 dekade yang lalu telah berimplikasi sebagai suatu penyebab utama peningkatan insidensi keratomikosis. Tambahan, pemakaian kortikosteroid sistemik dapat menekan respon imun hospes, sehingga terjadi perdisposisi kepada keratomikosis. Faktor resiko lainnya termasuk operasi kornea (mis., PK, keratotomi radial) dan keratitis kronik (mis., herpes simpleks, herpes zoster, atau konjungtivitis vernal/alergi). Jika pada hospes normal keratomikosis acapkali didahului oleh trauma, atau pemakaian steroid, pada penderita AIDS kelainan ini dapat timbul secara spontan tanpa faktor predisposisi pada kornea, dan dapat terjadi pada satu mata atau dua mata.

DIAGNOSIS BANDING Keratitis bakterialis

sangat cepat disertai dengan injeksio konjungtiva, fotofobia dan penurunan visus pada

pasien dengan ulkus kornea bakterial, inflamasi endotel, tanda reaksi bilik mata depan, dan hipopion sering ada. Penyebab infeksi tumbuh lambat, organisme seperti mikrobakteri atau bakteri anaerob infiltratnya tidak bersifat supuratif dan lapisan epitel utuh. Penggunaan

kortikosteroid, kontak lensa, graf kornea yang telah terinfeksi kesemuanya merupakan predisposisi terjadinya infeksi bakterial. Keratitis virala

Dapat disebabkan oleh virus herpes simplex, varicella-herpes zoster atau adenovirus.

Pasien keratitis akibat nfeksi herpes simplex sering datang dengan keluhan nyeri berat dan gambaran seperti infiltrat yang bercabang-cabang (keratitis dendritik). Tes sensitivitas pula menurun, bahkan pada infeksi herpes zoster bisa hilang sama sekali. Endoftalmitis

Didiagnosa bila inflamasi melibatkan kedua-dua bilik mata depan dan belakang.

Tanda klasik pada endoftalmitis adalah penurunan visus, hiperemis konjungtiva, nyeri yang memberat, edema palpebra, dan hipopion. Kemosis konjugtiva dan edema kornea dapat ditemukan. Penyebab terjadi endoftalmitis bisa secara eksogen (mis. pasca operasi) atau endogen (penyebaran secara hematogen ; mis. jalur IV yang terinfeksi, atau dari organ tubuh lain yang terinfeksi). Antibiotik 2.1.2. Aktivitas dan spektrum Antibiotik spektrum sempit seperti penisilin-G, eritromisin dan klindamisin hanya bekerja terhadap bakteri gram positif manakala streptomisin, gentamisin dan asam nalidiksat khusus aktif terhadap bakteri gram negatif. Antibiotik spektrum luas seperti sulfonamida, ampisilin dan sefalosporin bekerja terhadap lebih banyak bakteri gram positif maupun gram negatif. 2.1.3. Mekanisme kerja Antibiotik menghambat mikroba melalui mekanisme yang berbeda yaitu (1) mengganggu metabolisme sel mikroba; (2) menghambat sintesis dinding sel mikroba; (3) mengganggu permeabilitas membran sel mikroba; (4) menghambat sintesis protein sel mikroba; dan (5) menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba. Antibiotik yang menghambat metabolisme sel mikroba ialah sulfonamid, trimetoprim, asam p-aminosalisilat (PAS) dan sulfon. Dengan mekanisme kerja ini diperoleh efek bakteriostatik. Antibiotik yang merusak dinding sel mikroba dengan menghambat sintesis

enzim atau inaktivasi enzim, sehingga menyebabkan hilangnya viabilitas dan sering menyebabkan sel lisis meliputi penisilin, sepalosporin, sikloserin, vankomisin, ristosetin dan basitrasin. Antibiotik ini menghambat sintesis dinding sel terutama dengan mengganggu sintesis peptidoglikan. Obat yang termasuk dalam kelompok yang mengganggu permeabilitas membran sel mikroba ialah polimiksin, golongan polien serta berbagai antimikroba kemoterapeutik umpamanya antiseptic surface active agents. Polimiksin sebagai senyawa ammonium-kauterner dapat merusak membran sel setelah bereaksi dengan fosfat pada fosfolipid membran sel mikroba. Antibiotik yang menghambat sintesis protein sel mikroba ialah golongan aminoglikosid, makrolid, linkomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol. Sel mikroba perlu mensintesis berbagai protein untuk kehidupannya. Penghambatan sintesis protein terjadi dengan berbagai cara. Streptomisin berikatan dengan komponen 30S dan menyebabkan kode pada mRNA salah dibaca oleh tRNA pada waktu sintesis protein. Akibatnya akan terbentuk protein yang abnormal dan nonfungsional bagi sel mikroba. Antibiotik aminoglikosid dan lainnya yaitu gentamisin, kanamisin dan neomisin memiliki mekanisme kerja yang sama namun potensinya berbeda. Antibiotik yang menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba termasuk rifampisin dan kuinolon. Rifampisin adalah salah satu derivat rifamisin, berikatan dengan enzim polymerase-RNA sehingga menghambat sintesis RNA dan DNA oleh enzim tersebut. Golongan kuinolon menghambat enzim DNA girase pada kuman yang fungsinya menata kromosom yang sangat panjang menjadi bentuk spiral sehingga bisa muat dalam sel kuman yang kecil (Gunawan, Setiabudy, Nafrialdi, Elysabeth, 2007). Golongan antibiotik Menurut Stephens (2011), walaupun terdapat hampir 100 antibiotik namun mayoritasnya terdiri dari beberapa golongan. Golongan-golongan tersebut adalah : 1. Golongan penisilin. Penisilin merupakan antara antibiotik yang paling efektif dan paling kurang toksik. Penisilin mengganggu reaksi transpeptidasi sintesis dinding sel

bakteri. Golongan penisilin dapat terbagi menjadi beberapa kelompok yaitu : - Penisilin natural yaitu yang didapat dari jamur Penicillium chrysogenum. Yang termasuk di sini adalah penisilin G dan penisilin V. - Penisilin antistafilokokus, termasuk di sini adalah metisilin, oksasilin dan nafsilin. Penggunaan hanya untuk terapi infeksi disebabkan penicillinaseproducing staphylococci. - Penisilin dengan spektrum luas yaitu ampisilin dan amoksisilin. Ampisilin dan amoksisilin mempunyai spektrum yang hampir sama dengan penisilin G tetapi lebih efektif terhadap basil gram negatif. - Penisilin antipseudomonas yaitu termasuk karbenisilin, tikarsilin dan piperasilin. Ia dipanggil begitu karena aktivitas terhadap Pseudomonas aeruginosa (Harvey, Champe, 2009). 2. Golongan sefalosporin. Golongan ini hampir sama dengan penisilin oleh karena mempunyai cincin beta laktam. Secara umum aktif terhadap kuman gram positif dan gram negatif, tetapi spektrum anti kuman dari masing-masing antibiotik sangat beragam, terbagi menjadi 3 kelompok, yakni: - Generasi pertama bertindak sebagai subtitut penisilin G. Termasuk di sini misalnya sefalotin, sefaleksin, sefazolin, sefradin. Generasi pertama kurang aktif terhadap kuman gram negatif. - Generasi kedua agak kurang aktif terhadap kuman gram positif tetapi lebih aktif terhadap kuman gram negatif, termasuk di sini misalnya sefamandol dan sefaklor. Generasi ketiga lebih aktif lagi terhadap kuman gram negatif, termasuk Enterobacteriaceae dan kadang-kadang peudomonas. Termasuk di sini adalah sefoksitin (termasuk suatu antibiotik sefamisin), sefotaksim dan moksalatam. - Generasi keempat adalah terdiri dari cefepime. Cefepime mempunyai spektrum antibakteri yang luas yaitu aktif terhadap streptococci dan staphylococci (Harvey, Champe, 2009). 3. Golongan tetrasiklin Tetrasiklin merupakan antibiotik spektrum luas yang bersifat

bakteriostatik yang menghambat sintesis protein. Golongan ini aktif terhadap banyak bakteri gram positif dan gram negatif. Tetrasiklin merupakan obat pilihan bagi infeksi Mycoplasma pneumonia, chlamydiae dan rickettsiae. Tetrasiklin diabsorpsi di usus halus dan berikatan dengan serum protein. Tetrasiklin didistribusi ke jaringan dan cairan tubuh yang kemudian diekskresi melalui urin dan empedu (Katzung, 2007). 4. Golongan aminoglikosida Aminoglikosida termasuk streptomisin, neomisin, kanamisin dan gentamisin. Golongan ini digunakan untuk bakteri gram negatif enterik. Aminoglikosida merupakan penghambat sintesis protein yang ireversibel (Katzung, 2007). 5. Golongan makrolida Golongan makrolida hampir sama dengan penisilin dalam hal spektrum antikuman, sehingga merupakan alternatif untuk pasien-pasien yang alergi penisilin. Bekerja dengan menghambat sintesis protein kuman. Antara obat dalam golongan ini adalah eritromisin. Eritromisin efektif terhadap bakteri gram positif (Katzung, 2007). 6. Golongan sulfonamida dan trimetropim Sulfonamida menghambat bakteri gram positif dan gram negatif. Trimetropim menghambat asam dihidrofolik reduktase bakteri. Kombinasi sulfamektoksazol dan trimetoprim untuk infeksi saluran kencing, salmonelosis dan prostatitis (Katzung, 2007). 7. Golongan flurokuinolon Flurokuinolon merupakan golongan antibiotik yang terbaru. Antibiotik yang termasuk dalam golongan ini adalah ciprofloksasin (emedicineheath, 2011).