P. 1
CSR DALAM KONTEKS HUBUNGAN it Analisis Terhadap Studi Kasus PT Riau Andalan Pulp and Paper Dan PT Lapindo Brantas 2002-2009

CSR DALAM KONTEKS HUBUNGAN it Analisis Terhadap Studi Kasus PT Riau Andalan Pulp and Paper Dan PT Lapindo Brantas 2002-2009

|Views: 6,653|Likes:
Dipublikasikan oleh Tangguh
Abstract

This paper sought for a deeper understanding in the notions of CSR in accordance
with the demand from the society for a more beneficial existence of a corporation
in Indonesia. Provided that the society and government had laready have the same
logic in accepting CSR, what we are seeking to explain in this paper is on the
question of how and what kind of role society and government provide to
incentifize and sustain the active role of company in doing their CSR. Upon this
case we took two examples of company, the RAPP, ltd (Riau Pulp and Paper) as
the branch corporation of the larger APRIL (Asia Pacific Resources
International Limited) and Lapindo Brantas Ltd. In this paper we also elaborate
the notion of tripartite relation between the government-civil society-capital.
Upon our conclusion we find out that in terms of achievements done, RAPP was
better than Lapindo in implementing their CSR, Riaupulp was able to lure the
society’s and district government’s support when at the same time Lapindo was
crucified. Somehow we find that it was up to the company’s own goodwill to
enforce the CSR in this country because both the society and the government
somehow remain indifferent to unite in observing the role of CSR. The society are
not strongly bound and the government could be no more than a lame watchdog.
Abstract

This paper sought for a deeper understanding in the notions of CSR in accordance
with the demand from the society for a more beneficial existence of a corporation
in Indonesia. Provided that the society and government had laready have the same
logic in accepting CSR, what we are seeking to explain in this paper is on the
question of how and what kind of role society and government provide to
incentifize and sustain the active role of company in doing their CSR. Upon this
case we took two examples of company, the RAPP, ltd (Riau Pulp and Paper) as
the branch corporation of the larger APRIL (Asia Pacific Resources
International Limited) and Lapindo Brantas Ltd. In this paper we also elaborate
the notion of tripartite relation between the government-civil society-capital.
Upon our conclusion we find out that in terms of achievements done, RAPP was
better than Lapindo in implementing their CSR, Riaupulp was able to lure the
society’s and district government’s support when at the same time Lapindo was
crucified. Somehow we find that it was up to the company’s own goodwill to
enforce the CSR in this country because both the society and the government
somehow remain indifferent to unite in observing the role of CSR. The society are
not strongly bound and the government could be no more than a lame watchdog.

More info:

Published by: Tangguh on Jul 10, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

CSR DALAM KONTEKS HUBUNGAN TRIPARTIT

:
ANALISIS TERHADAP STUDI KASUS PT RIAU ANDALAN PULP AND PAPER DAN PT LAPINDO BRANTAS (2002 - 2009)

Disusun untuk ikut serta dalam Lomba Ilmiah Mahasiswa Sosial Politik Universitas Indonesia Kategori Lomba Karya Tulis Ilmiah 2009

oleh: Ahmad Naufal Dai (0706291174) Tangguh (0706291426) Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

Abstract
This paper sought for a deeper understanding in the notions of CSR in accordance with the demand from the society for a more beneficial existence of a corporation in Indonesia. Provided that the society and government had laready have the same logic in accepting CSR, what we are seeking to explain in this paper is on the question of how and what kind of role society and government provide to incentifize and sustain the active role of company in doing their CSR. Upon this case we took two examples of company, the RAPP, ltd (Riau Pulp and Paper) as the branch corporation of the larger APRIL (Asia Pacific Resources International Limited) and Lapindo Brantas Ltd. In this paper we also elaborate the notion of tripartite relation between the government-civil society-capital. Upon our conclusion we find out that in terms of achievements done, RAPP was better than Lapindo in implementing their CSR, Riaupulp was able to lure the society’s and district government’s support when at the same time Lapindo was crucified. Somehow we find that it was up to the company’s own goodwill to enforce the CSR in this country because both the society and the government somehow remain indifferent to unite in observing the role of CSR. The society are not strongly bound and the government could be no more than a lame watchdog.

Keywords: CSR, Tripartite relationship, Government’s role, Society’s role, RAPP ltd, Lapindo Brantas inc.

KATA PENGANTAR

Hoi Poloi (peribahasa Yunani, “Demi Rakyat”)

Konsep CSR di Indonesia boleh dikatakan masih hijau. Implemetasinya masih mengalami banyak kendala dan tantangan. Diantara terkait pertanyaan apakah benar kesadaran akan entitas perusahaan dibebani tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility) dan moral sudah menjadi sebuah konteks kesadaran yang umum di masyarakat dan pemerintah. Kalaupun iya dalam bentuk apakah pelaksanaan CSR itu dapat dilihat? Nilai-nilai apa sajakan yang terkait didalam sebuah bentuk tanggung jawab korporasi yang telah mendapatkan keuntungan dalam operasionalisasinya. Lalu dalam tataran yang lebih dalam kami ingin melihat seperti apakah konsep CSR ketika dikaitkan dengan hubungan tripartite masyarakat-modal-pemerintah dalam konteks interaksi. Lalu kami akan mencoba mengevaluasi sejauh apa bentuk interaksi ketiga faktor tersebut, apakah sudah cukup berhasil ataukah masih mengalami banyak kendala.

Pertanyaan-pertanyaan tadi akan kami jawab sembari melihat konteks relevan CSR di Indonesia. Kami menyadari karya tulis ini belum sempurna dan komprehensif dalam membahas persoalan, tetapi kami bangga karena niat dan usaha kami terwujud dengan selesainya penulisan karya tulis ini setelah bekerja keras mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber. Kami bangga karena bisa menyumbangkan sumbangan akademis, sekalipun masih sederhana. Setidaknya kami telah berusaha untuk berkontribusi dalam perluasan wacana pembenahan sistem pertahanan dan keamanan kita.

Kepada semua pihak yang membaca dan menilai karya ilmiah ini, kami

mengharapkan diskusi, saran, dan kritik untuk semakin membuka cakrawala berpikir kami, di samping untuk semakin mendinamisasi wacana dalam karya tulis ini. Depok, 18 Februari 2009

DAFTAR ISI

BAGIAN AWAL Abstract……….................................................................................................... ii Kata Pengantar ................................................................................................. iii Daftar Isi …...….…………………………....………………………………… BAGIAN INTI I. I.1. I.2. I.3. II. II.1. II.2. III. IV. PENDAHULUAN ................................................................................. Latar Belakang ……....……………………………………..............….. Rumusan Masalah .........……………………………......................…… 1 1 2 v

Tujuan dan Manfaat Penulisan……...…………………………..………. 2 TELAAH PUSTAKA ........................................................................... Konsep Tripartit; Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat ………………. Definisi Konsep Corporate Social Responsibility (CSR) ……………... METODE PENULISAN …………………………………....……… 3 3 5 9

PEMBAHASAN ..................................................................................... 11

IV.1. PT Riau Andalan Pulp and Paper………...……………………………. 11 IV.2. PT Lapindo Brantas………...…………………………………………... 14 V. V.1. V.2. PENUTUP ……………………………………………....…....……... 22

Simpulan ………………………...…………………………………….. 22 Saran……………………………………………………………………. 23

BAGIAN AKHIR DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP PESERTA

BAB I PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang

Kekuasaan dan pengaruh perusahaan raksasa atau korporasi di berbagai ranah kehidupan masyarakat yang semakin kokoh di era globalisasi adalah fakta empiris yang mau tidak mau harus kita hadapi di abad ke-21 ini. Dengan kekuatan itu, dampak positif maupun negatif yang diberikan dari perusahaan-perusahaan tersebut pun terasa sangat besar. Tidak ada yang menyangkal bahwa korporasi telah memberikan sumbangan bagi kemajuan ekonomi, peningkatan sumber daya manusia dan sebagainya. Namun, dampak negatif aktivitasnya juga berskala yang sama. Kerusakan lingkungan, proses pemiskinan dan marginalisasi kelompok masyarakat rentan, kian lebarnya kesenjangan ekonomi serta pengaruhnya terhadap proses politik yang tidak demokratis di berbagai jenjang pemerintahan hanyalah sebagian dari dampak negatif itu.

Kritik serta usulan solusi telah diajukan untuk menangani dampak negatif tersebut. Corporate Social Responsibility (CSR) adalah sebagian langkah solusi yang sudah dipraktikkan secara global pada 20 tahun terakhir ini, dengan berbagai tingkatan kinerja. Di Indonesia, CSR saat ini dapat digambarkan sebagai potensial sekaligus merisaukan. Potensial karena dijumpai banyak indikasi positif seperti: penyelenggaraan PROPER oleh Kementerian Lingkungan Hidup, penganugerahan CSR Award, Forum BUMN untuk community development (comdev), naiknya keanggotaan organisasi-organisasi perusahaan yang mempromosikan CSR, maraknya seminar dan pelatihan CSR serta pembentukan divisi/departemen yang menangani CSR di berbagai perusahaan, terutama korporasi. Perusahaanperusahaan berskala lebih kecil juga sudah mulai mengikuti kecenderungan ini.

Di sisi lain, masih terdapat kebijakan ekonomi-politik pemerintah dan produk hukum yang kurang kondusif dalam mendorong investasi yang ramah sosial dan lingkungan. Implementasi kebijakan CSR korporasi yang bersifat kosmetikal juga masih kerap ditemukan.

I.2.

Rumusan Masalah

Pertanyaan utama yang ingin kami jawab terkait dengan tiga variabel, yaitu (1) tanggung jawab sosial korporasi (corporate social responsibility) sebagai sebuah ide dan (b) hubungan segitiga yang saling mempengaruhi antara masyarakatnegara-modal. Seluruhnya akan kami bentuk dalam pertanyaan: “Bagaimanakah peranan masyarakat sipil dan pemerintah berkoordinasi dalam memonitor implementasi CSR oleh korporasi di Indonesia (dengan mengambil contoh Riaupulp dan Lapindo)?”

I.3.

Tujuan dan Manfaat Penulisan

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan analisis mengenai: 1. Performa CSR dua perusahaan besar (PT Riau Andalan Pulp and Paper dan PT Lapindo Brantas) sebagai kasus studi. 2. Solusi untuk usaha penanganan kedua kasus tersebut.

Manfaat yang diharapkan dari pembuatan karya tulis ini adalah untuk: 1. Memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang konsep tripartit pemerintah-swasta-masyarakat perusahaan. 2. Memberikan masukan bagi para pembuat kebijakan demi menangani dan konsep tanggung jawab sosial

kedua kasus studi. 3. Memberikan opsi solusi dan saran menyangkut kedua kasus studi.

4. BAB II TELAAH PUSTAKA

II.1. Konsep Tripartit; Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat

Farchan Bulkin dalam tulisannya tentang negara dan masyarakat menjelaskan bahwa ada suatu keterkaitan antar variabel dari ketiga konsep tersebut dalam interaksi struktural dan ideasional dalam membentuk arah kebijakan suatu negara. Signifikansi ketiga konsep ini dapat terlihat perihal hubungan triangular di mana negara sebagai titik sentral kerap menjadi sasaran konflik kepentingan dua aktor lainnya, yakni pengusaha (modal) dan masyarakat sipil (civil society), di mana keduanya berupaya memajukan kepentingan fundamental mereka.1 Pengusaha/modal selalu menuntut iklim investasi yang “kondusif”, gaji buruh yang tidak terlalu tinggi, akses yang lebih luas terhadap sumber daya alam, dan liberalisasi pemerintah yang harus dibarengi kepastian hukum. Masyarakat (civil society) datang dari titik pemikiran berbeda, berupaya menentang dominasi berlebihan dari kaum pemodal terutama agar hak-hak sebagai konsumen dan stakeholders (bagian dari sebuah sistem di mana aktor-aktor ini menjadi subjek yang terpengaruh dari sebuah kebijakan) dapat terpenuhi dan terlindungi. Lewat forum solidaritas, lembaga swadaya masyarakat (NGOs), dan kritik akademisi, masyarakat terus berupaya mengimbangi dominasi kapital yang semakin menguat di era globalisasi ini dalam ranah kehidupan berbangsa.2

O’Brien dalam tataran lebih tinggi melihat pola konfliktual yang sama tidak hanya terjadi dalam ranah kehidupan di suatu negara, tetapi sudah memasuki dimensi internasional di mana aktor yang berperan sudah berskala global, dalam hal ini 1
53 2 DR. Firmanzah. Globalisasi; Sebuah Proses Dialektik Sistemik. Jakarta: Yayasan Sad Satria Bhakti, 2002, h. 18-23 Farchan Bulkin, Negara Masyarakat dan Ekonomi, (Jakarta: Prisma 8, 1984) h. 51 –

menyangkut pertentangan antara institusi-institusi ekonomi multilateral (MEIs, Multilateral Economic Institutions) dan pergerakan masyarakat sipil global (GSM, Global Social Movements). Dengan isu-isu yang mirip seperti kesejahteraan buruh, perlindungan terhadap konsumen gerakan sosial global yang terdiri dari variasi aktor seperti akademisi, relawan LSM, tokoh masyarakat, dan bahkan pemimpin negara-negara berkembang mengadakan forum tahunan yang dikenal sebagai WSF (World Social Forum) untuk menandingi pertemuan tahunan di Davos, Swiss yang dikenal dengan nama World Economc Forum.3

Pada intinya kajian literatur yang kami pergunakan di sini adalah perihal bagaimana negara dan masyarakat dapat mempengaruhi kinerja perusahaan agar ampuh lebih baik mengimplementasikan tanggung jawab sosial korporasinya. John Elkington dalam karyanya menelurkan istilah The Triple Bottom Line yang menurutnya setiap usaha harus mempertimbangkan tiga aspek nilai dalam operasionalisasinya, yaitu nilai ekonomi, nilai sosial, dan nilai lingkungan.4 Relevansi karyanya dengan hubungan tripartit antara negara-modal-masyarakat dapat terlihat dari penggambarannya mengenai adanya pressure waves terhadap iklim usaha dari pemerintah dan masyarakat untuk merubah paradigma lama menjadi paradigma baru dalam berbisnis. Implikasi paling jelas terlihat dari penambahan divisi hubungan masyarakat.5

Hal itu menurut Julie Richardson terlihat dari perubahan strategisasi hubungan perusahaan dan konsumen seperti semakin perlunya perusahaan membentuk unit kegiatan yang dapat menunjukkan akuntabilitas perusahaannya tidak hanya pada para pemegang saham (share holders) secara ekonomi tetapi juga secara sosial dan lingkungan kepada masyarakat (share holders). Dengan begitu menurut Elkington, masyarakat akan merasa kepentingannya terakomodasi sehingga 3
O’Brien R. ed., Contesting Global Governance: Multilateral Economic Institutions and Global Social Movements, (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), h. 1 - 23 4 John Elkington, Entering the Triple Bottom Line, dalam Adrian Henriques dan Julie Richardson, eds., The Triple Bottom Line, Does It all Addss Up? Asserting The Sustainability of Business and CSR, (London: Sterling V.A, 2004) h. 1 - 5 5 Ibid

mengurangi pengawasan ketat (public scrutiny) yang kerap mengajukan keberatannya kepada pemerintah dalam bentuk tuntutan hukum atau aspirasi politik yang dapat bernilai negatif terhadap eksistensi sebuah perusahaan.6

Relevansi hubungan ketiga konsep menjadi sangat erat dengan CSR ketika berbicara mengenai risk-management system yang terus diupayakan oleh perusahaan demi memitigasi kemungkinan eror dan protes masyarakat. Suara masyarakat dinilai merupakan elemen penting yang harus diwaspadai oleh perusahaan jika tidak ingin terimbas permasalahan eksternal yang merepotkan. Oleh karena itu ditengah tekanan masyarakat yang semakin kencang, CSR harus dikembangkan dan dioptimalkan demi kepentingan perusahaan itu sendiri.7

II.2. Definisi Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)

Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial korporasi adalah suatu konsep di mana organisasi, khususnya (namun bukan hanya) korporasi, mempertimbangkan kepentingan masyarakat dengan bertanggung jawab atas pengaruh kegiatan mereka terhadap pelanggan, supplier, karyawan, pemegang saham, masyarakat, dan stakeholder lainnya, seperti lingkungan dalam segala aspek operasional korporasi. Kewajiban ini dipandang berada di luar amanat undang-undang untuk dan memandang organisasi dengan sukarela mengambil langkah untuk meningkatkan kualitas hidup bagi karyawan dan keluarga mereka sebagaimana juga masyarakat lokal dan masyarakat umum. CSR berhubungan erat dengan pembangunan berkelanjutan, di mana ada argumentasi bahwa suatu korporasi dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya keuntungan 6
Julie Richardson, Accounting for Sustainability: Measuring Quantities or Enhancing Qualities? dalam Adrian Henriques dan Julie Richardson, eds., The Triple Bottom Line, Does It all Addss Up? Asserting The Sustainability of Business and CSR, (London: Sterling V.A, 2004) h. 34 - 36 7 Ronen Shamir, Between Self-Regulation and the Alien Tort Claims Act: On the Contested Concept of Corporate Social Responsibility, dalam Law & Society Review, Vol. 38, No. 4 (Des., 2004), h. 635-664

atau deviden, namun juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.

CSR muncul sebagai respon terhadap meningkatnya tuntutan atas etika bisnis secara drastis pada 1980-an dan 1990-an. Sehingga, kini kebanyakan korporasi besar menekankan komitmen untuk meningkatkan nilai-nilai sosial nonekonomik, bahkan beberapa korporasi melakukan rebranding nilai-nilai core mereka dengan pertimbangan etika bisnis.

Ada beberapa pendekatan terhadap CSR. Yang diterima secara luas adalah proyek-proyek pembangunan berbasis masyarakat. Pendekatan alternatif yang paling sering dipilih adalah pengembangan fasilitas pendidikan. Pendekatan terhadap CSR yang paling lazim adalah pemberian bantuan kepada organisasiorganisasi lokal dan masyarakat miskin di negara-negara berkembang, yang tidak terlalu disukai beberapa organisasi karena tidak membangun kecakapan masyarakat lokal.

Korporasi yang bertanggung jawab atas pengaruhnya terhadap masyarakat akan melakukan pencatatan, audit, dan pelaporan tindakannya. Hal ini merupakan satu unsur penting CSR yang disebut akuntansi sosial (social accounting). Terdapat beberapa pedoman dan standar akuntansi sosial, seperti berikut.

The GoodCorporation Standard8, yang dikembangkan oleh The Institute of Business Ethics, menetapkan prinsip-prinsip syarat-syarat penempatan tenaga kerja yang jelas dan adil, hubungan yang jujur dan adil dengan pelanggan, hubungan yang jujur dan adil sengan supplier dan kontraktor, kontribusi terhadap masyarakat untuk menjadikannya lingkungan yang lebih baik untuk kediaman dan bisnis, perlindungan terhadap lingkungan dalam penggunaan sumber-sumber daya serta minimalisasi limbah dan polusi, akuntabilitas finansial terhadap para pemegang saham (atau

8

“The GoodCorporation Standard”, http://www.goodcorporation.com/PDF/standard_2007.pdf, diakses pada 9 Februari 2009 11:45

sepadan) serta komunikasi dengan mereka terkait materi organisasi, dan komitmen manajemen untuk memenuhi standar tersebut.

Manual for the Preparers and Users of Eco-efficiency Indicators9, yang dikembangan oleh United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), menetapkan indikator-indikator eko-efisiensi10 berupa rasio antara variabel lingkungan dan variabel finansial dengan mengukur performa perusahaan di bidang lingkungan (lima isu lingkungan umum, yaitu penggunaan air, penggunaan energi, kontribusi terhadap pemanasan global, substansi perusak ozon, dan limbah) dengan mempertimbangkan kondisi finansialnya.

Guidance on Good Practices in Corporate Governance Disclosure11, juga dikembangkan oleh UNCTAD, menetapkan pentingnya transparansi dan manajemen korporat, menyerukan keterbukaan korporat di bidang-bidang finansial dan hasil operasi; tanggung jawab dewan terkait komunikasi finansial; transaksi signifikan dengan pihak-pihak terkait; tujuan perusahaan; struktur kepemilikan serta para pemegang saham dan investor substansial; peraturan dan prosedur akuisisi kontrol korporat di pasar modal dan transaksi luar biasa; struktur, peran, dan fungsi dewan; anggota dewan dan eksekutif kunci; mekanisme perlindungan hak stakeholder; faktor-faktor risiko material yang dapat diduga; independensi auditor eksternal; dan fungsi audit internal.

Guidance on Corporate Responsibility Indicators Inannual Reports12, juga dikembangkan oleh UNCTAD, menyerukan indikator-indikator tanggung jawab korporat, seperti berikut.

Kelompok
9

Indikator

“Manual for the Preparers and Users of Eco-efficiency Indicators”, http://www.unctad.org/en/docs/iteipc20037_en.pdf, diakses pada 9 Februari 2009 12:06 10 Eko-efisiensi (eco-efficiency): “… dicapai dengan penawaran barang dan jasa dengan harga bersaing yang memuaskan kebutuhan manusia dan meningkatkan kualitas hidup, sementara secara progresif mereduksi pengaruh ekologis dan intensitas sumber daya…” dan dicapai ketika aktivitas ekonomi berada pada tingkat “… selaras dengan estimasi kapasitas yang dapat ditanggung bumi”. (The World Business Council for Sustainable Development/WBCSD, 1996) 11 “Guidance on Good Practices in Corporate Governance Disclosure”, http://www.unctad.org/en/docs/iteteb20063_en.pdf, diakses pada 9 Februari 2009 12:02 12 “Guidance on Corporate Responsibility Indicators Inannual Reports”,

Perdagangan, investasi, dan relasi

1. 2. 3. 4.

Pendapatan total Nilai impor vs. ekspor Total investasi baru Pembelian lokal

Kreasi pekerjaan dan praktik perburuhan

5. Total angkatan kerja dengan perincian melalui jenis pekerjaan, kontrak pekerjaan, dan gender 6. Gaji dan keuntungan pekerja dengan perincian jenis pekerjaan dan gender 7. Jumlah total dan tingkat turnover pekerja dengan perincian gender Persentase pekerja yang tercakup dalam perjanjian kolektif 8. Pengeluaran pada penelitian dan pengembangan 9. Jam pelatihan rata-rata per tahun per pekerja dirinci kategori pekerja Pengeluaran pada pelatihan pekerja per tahun per pekerja dirinci kategori pekerja 10. Biaya kesehatan dan keamanan pekerja Hari kerja yang hilang karena kecelakaan, luka, dan penyakit dalam pekerjaan

Pengembangan teknologi dan SDM

Kesehatan keamanan

dan

Kontribusi pemerintah 11. Pembayaran kepada pemerintah dan masyarakat Kontribusi sukarela terhadap masyarakat sipil Korupsi 12. Jumlah hukuman atas pelanggaran korupsi terkait hukum atau regulasi dan jumlah denda yang dibayar

BAB III METODE PENULISAN

Penulisan karya tulis ilmiah ini dilakukan berdasarkan metode kualitatif, bersifat deskriptif, dan disertai analisis. Deskriptif karena penelitian yang ada dalam karya tulis ilmiah ini berusaha menggambarkan pola hubungan antara variabel tanggung jawab sosial korporasi (corporate social responsibility) sebagai sebuah ide, hubungan segitiga yang saling mempengaruhi antara masyarakat-negara-modal, dan teori kerangka pikir legal dalam pengembangan tripartit di Indonesia dengan studi kasus PT Riau Andalan Pulp and Paper dan PT Lapindo Brantas.

Penulisan karya tulis ilmiah ini juga bersifat analitis karena berusaha melihat lebih dalam konsepsi sebuah tripartit dan CSR yang ideal. Berpijak dari itu, analisis dilanjutkan kepada realitas kondisi variabel-variabel ini dalam konteks dan kasus yang diteliti. Hal ini bertujuan memetakan persoalan dan melihat seberapa ideal aplikasi variabel-variabel ini dalam kasus studi, sehingga dapat diperoleh rekomendasi solusinya.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ini adalah studi literatur. Data yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer yang digunakan adalah buku-buku, internet, dan jurnal ilmiah yang menjelaskan definisi, kriteria, ciri-ciri, dan indikator-indikator konsep tripartit serta konsep CSR. Data sekunder yang digunakan berupa buku-buku, jurnal, media massa, serta berbagai literatur dari internet yang berhubungan dengan realitas kondisi variabel-variabel tersebut dalam kasus-kasus yang diteliti.

Data-data yang terkumpul kemudian digunakan untuk menjelaskan realitas

kondisi performa CSR dua kasus studi tersebut. Terakhir, setelah melihat permasalah secara komprehensif, kami coba merekomendasikan solusi atas realitas kondisi performa CSR kedua korporasi besar tersebut.

BAB IV PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini kami akan mengambil dua contoh perusahaan besar di Indonesia yaitu PT. Riau Andalan Pulp and Paper, RAPP (anak perusaahaan APRIL) dan PT. Lapindo Brantas, untuk selanjutnya dikaji perihal sejauh apa mereka telah melakukan strategisasi dan implementasi tanggung jawab sosial korporasi (CSR) mereka.

IV.1. PT Riau Andalan Pulp and Paper

Perseroan terbatas Riau Andalan Pulp and Paper merupakan anak perusahaan Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) yang merupakan perusahaan terkemuka yang bergerak dalam usaha tanaman karet dan merupakan salah satu perusahan terbesar dunia yang menghasilkan bubur kayu dan kertas. Visi perusahaan ini berupaya untuk menjadi yang terbersar, yang paling rapih manajemennya, dan paling peduli soal sustainable production di dunia. Dalam situs resmi perusahaan ini, APRIL menyatakan komitmennya dalam memenuhi permintaan pasar dunia akan kertas dan karet yang semakin meningkat, namun di sisi lain akan terus berusaha sebaik mungkin mengintegrasikan prinsip keberlangsungan (sustainability) dalam operasinya.

Sebagai perusahaan yang mengandalkan pasokan ekstraktif dari hutan sebagai bahan bakunya, RAPP merasa perlunya membentuk iklim produksi yang kondusif dalam artian konsiderasi dalam setiap tindakan perusahaan ini tidak melulu berfokus pada operasionalisasi yang bertujuan laba, namun juga program nir-laba untuk membuktikan kontribusinya sebagai perusahaan yang melaksanakan CSR. Hal itu dapat terlihat dari laporan kegitan nirlaba perusahaan ini sedari tahun

2008-2009 sebagai berikut: • Membentuk satuan khusus tugas yang dimaksudkan untuk berkolaborasi dengan masyarakat dalam membantu membasmi dan mengurangi illegal logging. Kasus illegal logging selain meresahkan Pemda dan masyarakat sekitar juga meresahkan PT Riau Andalan Pulp and Paper karena dianggap mengancam sustainability dari ketersediaan bahan baku kayu bagi perusahaan tersebut. Hal ini disebabkan kerap kali para pembalak liar (illegal logger) menggunakan metode yang tidak direstui dan tidak memperhatikan aspek regenerasi hutan. Setidaknya urusan ini merupakan bagian dari interest perusahaan. • Menciptakan program-program pemberdayaan masyarakat yang

kontributif terhadap pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar unit produksi RAPP. Poin pemberdayaan ini menyangkut pembentukkan sekolah-sekolah unggulan yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap perbaikan pendidikan masyarakat sekitar. Bahkan banyak media Riau yang menganggap sekolah bentukan RAPP sebagai salah satu yang terbaik di provinsi tersebut. Situs resmi APRIL (Induk perusahaan RAPP) juga menyatakan dirinya secara aktif terus berupaya mengembangkan wilayah Kampar agar lebih maju dan modern. • Memberikan kontribusi dengan menyalurkan sebagian energi listrik kepada masyarakat yang dianggap sangat membutuhkannya. Hal ini terbukti ketika perusahaan ini mengalami krisis sejak awal tahun 2008, perusahaan mulai sering memadamkan pasokan listriknya yang berdampak signifikan karena sebagian warga memang mengandalkan pasokan listrik dari perusahaan ini. • Membentuk satuan tugas yang difungsikan untuk mencegah dan memadamkan kebakaran hutan yang kerap terjadi di hutan-hutan Indonesia. Divisi pemadam kebakaran swasta ini berulang kali memberikan kontribusi positif terhadap upaya pencegahan kebakaran meluas.

Intinya, dapat disimpulkan perihal prestasi dan kinerja, PT RAPP boleh dikatakan berhasil dalam memenuhi target dan janjinya sebagai perusahaan yang berkomitmen untuk menerapkan CSR. Selanjutnya, kami akan melihat seberapa besarkah peran masyarakat dalam menginsentifkan PT RAPP untuk melakukan hal ini.

Insentif Masyarakat dan Pemerintah Terhadap PT Riau Andalan Pulp and Paper

Dalam kurun waktu beberapa tahun ini, ada beberapa kritik dan saran yang menjadi modalitas perusahaan ini melaksanakan CSR bagi Riaupulp (nama lain dari PT RAPP). Beberapa peristiwa juga dapat menjadi tolak ukur penilaian seberapa berhasilnya Beberapa hal krusial itu adalah: 1. Rencana pelaksanaan hearing dengan DPRD Riau menyangkut

pembahasan peninjauan manajemen dan efisiensi PT. RAPP terkait dengan isu krisis global.13 Walaupun sampai berita terkni belum ada kejelasan mengenai hasil pembicaraan yang terjadi namun dapat dikatakan DPRD Riau cukup peduli terhadap pelaksanaan CSR perusahaan kertas raksasa tersebut. Sejak tahun 2002, DPRD Riau dan Pemda setempat berulangkali mengadakan pembicaraan dengan pihak manajemen Riaupulp mengenai kesediaan perusahaan tersebut memberikan kontribusi positif terhadap masayarakat sekitar terutama daerah Pelalawan.14 2. Hasil penelitian menteri kehutanan dan lingkungan hidup untuk tahun 2008 penelitian hidup menyimpulkan bahwa PT RAPP, bersama dengan PT Lapindo mendapatkan predikat hijau dari skala penilaian pemerintah yang berarti telah ‘cukup memenuhi’ standard pemerintah. Namun WALHI segera angkat bicara dan memprotes kemungkinan adanya ketidaksesuaian antara fakta di lapangan dan pengukuran ranking
13 Diambil dari http://www.riauterkini.com/politik.php?arr=21744 diakses pada 2 Februari 2009 p.k. 13.20 WIB 14 Diambil dari http://riaumandiri.net/indexben.php?id=6071 diakses pada 29 Januari 2009 p.k. 00.20 WIB

perusahan-perusahaan tersebut.15 LSM lingkungan di Indonesia memang mengambil stance kritis terhadap pemerintah dan program CSR perusahaan yang dinilai membahayakan keselamatan lingkungan. 3. Penyegelan bahan baku kayu milik PT Riau Andalan Pulp & Paper oleh polisi pada 15 Februari 2007 dipersoalkan Dinas Kehutanan Riau karena dinilai tidak berdasar. Media lokal juga memprotes langkah polisi. Sedangkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Riau dari Partai Kebangkitan Bangsa, Yulios, menuding penyegelan itu menghambat investasi.16 Hal ini seolah menyiratkan bahwa Riaupulp telah menanamkan pengaruhnya dengan cukup signifikan di daerah Riau, tidak hanya terhadap masyarakat sipil, namun termasul media dan pemerintah daerah.

Sedangkan, PT RAPP terus dikritik oleh WALHI karena dianggap memberikan kinerja buruk dalam pengelolaan operasionalisasi produksinya, disamakan dengan PT Newmont Nusa Tenggara.17 Protes WALHI terhadap RAPP juga kembali datang bersamaan dengan protes terhadap kementerian kehutanan Indonesia dalam rencana kebijakannya pada tahun 2008.18 Tuduhan dari Kalahari juga mewarnai wajah ‘permusuhan’ LSM-LSM Indonesia terhadap salah satu perusahaan penghasil kertas terbesar di dunia ini.19

IV.2. PT Lapindo Brantas

Sungguh ironis ketika PT Lapindo Brantas, suatu perusahaan kontraktor yang seharusnya mengekstrak minyak dan gas bumi malah mengekstrak lumpur panas
15 Diambil dari http://korbanlumpur.info/index.php/media/media-lokal/86-korantempokementerian-lingkungan-hidup-menuai-protes diakses pada 4 februari 2009, p.k. 11.30 16 Diambil dari http://www.tempointeractive.com/hg/nusa/sumatera/2007/03/03/brk,2007030394665,id.html diakses pada 6 Februari 2009 p.k. 14.50 WIB 17 Diambil dari http://www.walhi.or.id/kampanye/psda#media diakses pada 1 februari 2009, p.k. 15.45 WIb 18 Diambil dari http://www.walhi.or.id/kampanye/hutan/konversi/ diakses pada pada 3 Februari 2009, p.k. 11.30 WIB 19 Diambil dari http://www.jikalahari.org/in/berita/kolom.php diakses pada 4 Februari 2009, p.k. 17.30 WIB

di desa Renokenongo, kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo provinsi Jawa Timur, Indonesia sejak 29 Mei 2006. Semburan lumpur tersebut sampai dengan bulan Oktober 2006 belum berhasil dihentikan tersebut telah menyebabkan tergenangnya kawasan pemukiman penduduk, tak kurang dari 10 pabrik, dan 90 hektar sawah di tiga kecamatan di sekitarnya, serta memengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Banjir lumpur panas selain menganggu jadwal perjalanan kereta api dari dan ke Surabaya, juga menyebabkan jalan tol SurabayaGempol ditutup untuk ruas Gempol-Sidoarjo sehingga menyebabkan kemacetan luar biasa di jalur dari dan menuju ke Surabaya dan mengharuskan pembangunan jalur tol pengganti.

Ada dua versi penyebab banjir lumpur panas ini. Pertama, gempa berkekuatan 5,9 skala Richter yang melanda Yogyakarta yang terjadi dua hari sebelum awal semburan, dengan episentrum sejauh 280 km dari pusat semburan lumpur. Kedua, pengeboran sumur Banjar Panji-1 oleh PT Lapindo Brantas sejak awal Maret 2006 yang diperkirakan direncanakan dengan prediksi pengeboran yang salah. Versi kedua ini didukung oleh voting konklusif antara 74 ilmuwan petroleum dunia dalam Konferensi Internasional di Cape Town, Afrika Selatan, pada akhir Oktober 2008.20 Kedua versi ini memiliki konsekuensi sosial, ekonomi, dan politik masing-masing. Pada versi pertama, ketika lumpur Lapindo dikategorikan sebagai bencana alam, tanggung jawab utama bukan berada pada pundak PT Lapindo Brantas melainkan pada pemerintah yang berperan melayani dan membela rakyatnya. Pada versi kedua, ketika semburan lumpur Lapindo merupakan kesalahan PT Lapindo Brantas, tanggung jawab terhadap korban lumpur berada pada Lapindo.

Koordinasi Pemerintah dan Masyarakat Sipil dalam Advokasi Tanggung Jawab Sosial PT Lapindo Brantas

20

Lihat “Durham University - Conclusive vote on cause of Indonesian mud volcano”, diakses dari http://korbanlumpur.info/media/media-asing/401-durham-university-conclusivevote-on-cause-of-indonesian-mud-volcano-.html 17 Februari 2009 15:28

Dalam penanggulangan masalah banjir lumpur panas Lapindo ini, terlihat bahwa ada paradoks antara peran pemerintah dan BUMN, swasta, serta masyarakat sipil, sehingga terjadi kontradiksi. Di antaranya, dalam mengusahakan kompensasi bagi masyarakat sebagai korban yang paling dirugikan, di mana mereka harus mengungsi dan kehilangan mata pencaharian, pemerintah hanya membebankan kepada PT Lapindo pembayaran ganti rugi untuk empat desa (Kedung Bendo, Renokenongo, Siring, dan Jatirejo) sementara desa-desa lainnya ditanggung APBN, juga penanganan infrastruktur yang rusak. Di sini terlihat adanya penerapan tripartit yang melenceng, di mana PT Lapindo seakan ingin melimpahkan porsi terbesar tanggung jawab sosial dalam kasus ini kepada pemerintah.

Sementara pemerintah tampak bersedia menanggung beban tanggung jawab ini, pemerintah terlihat bersikap biasa-biasa saja dilihat dari poin-poin: (1) ketidakseriusan menghentikan semburan, di mana payung kebijakan baru turun tiga bulan pascasemburan lumpur dan sampai saat ini tidak ada mobilisasi teknologi, ahli dan dana yang secara sungguh-sungguh diarahkan untuk menghentikan semburan; (2) ketidakseriusan menangani dampak, di mana sampai saat ini hak-hak korban tidak terlindungi dan tidak dipenuhi; sementara proses hukum hanya dilakukan setengah hati, di mana berkas kasus sudah lebih dua tahun cuma bolak-balik Kepolisian Daerah (Polda)-Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati Jatim); bahkan, meledaknya pipa Pertamina yang merenggut 12 nyawa sama sekali tidak diusut; serta (3) ketidakpekaan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), di mana dalam dua kali Sidang Paripurna (7 dan 27 Januari 2009) Komnas HAM belum membuahkan keputusan.21

Di lain pihak, PT Lapindo Brantas sendiri tampak tidak serius menanggung beban tanggung jawab sosial dalam kasus ini dan lebih sering mengingkari kesepakatan bersama dengan tripartit lainnya. Dengan pemerintah, sebagai contoh Lapindo
21 “Mengapa Komnas HAM Menunda Keputusan Kasus Lumpur Lapindo?” diakses dari http://korbanlumpur.info/kata-mereka/tokoh-bicara/455-mengapa-komnas-ham-menundakeputusan-kasus-lumpur-lapindo-.html 17 Februari 2009 15:14

melanggar mekanisme pembayaran 80% sisa uang aset korban Lapindo yang diatur dalam Peraturan Presiden yang mengatur pelunasan 20-80 dengan jangka waktu sebelum masa kontrak dua tahun habis. Dengan masyarakat, Lapindo sering mengingkari perjanjian-perjanjian yang telah disepakati bersama dengan korban, Sebagai contoh, Lapindo tidak memberikan kejelasan setelah hampir tiga tahun tentang perlunasan 80% tersebut.22

Poin lainnya adalah, ketika skenario antisipasi kegagalan penghentian semburan lumpur sampai kepada pilihan penyaluran membuang langsung lumpur panas itu ke Kali Porong, dilakukan pengujian toksikologis di tiga laboratorium terakreditasi yang menyimpulkan lumpur Lapindo tidak termasuk limbah B3 dan tidak berbahaya sehingga dapat dibuang ke perairan. Namun, Walhi menolak rencana ini setelah menunjukkan hasil uji lumpur berbeda, yaitu bahwa lumpur Lapindo tercemar logam kadmium (Cd) dan timbal (Pb) yang cukup berbahaya serta kadar PAH (Chrysene dan Benz(a)anthracene) di atas ambang batas, sehingga mengancam keberadaan manusia dan lingkungan. Paralel dengan penolakan Walhi, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV DPR RI, 5 September 2006, juga menyatakan rencana pembuangan lumpur yang dilakukan dengan cara mengalirkannya ke laut melalui Sungai Porong dapat mengakibatkan kegagalan panen produksi tambak yang semakin meluas di sepanjang pesisir Sidoarjo dan daerah kabupaten lain di sekitarnya, karena lumpur yang sampai di pantai akan terbawa aliran transpor sedimen sepanjang pantai; memperburuk kerusakan ekosistem Sungai Porong; serta mencemari Selat Madura dan sekitarnya. ITS sebagai BUMN pun telah mengkaji alternatif dengan memisahkan air dari endapan lumpur lalu membuang air ke laut. Namun, karena terjadinya peningkatan volume semburan lumpur, Rapat Kabinet pada 27 September 2006 tetap memutuskan untuk membuang lumpur panas Sidoardjo ke laut melalui Sungai Porong. Keputusan ini tentu saja ditolak Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi)23 dan ITS karena bisa
22 “Tim 16 Kembali Demo BPLS dan Minarak Lapindo”, diakses dari http://korbanlumpur.info/kabar-korban/berita/464-tim-16-kembali-demo-bpls-dan-minaraklapindo.html 17 Februari 2009 14:53 23 Lihat “WALHI Jawa Timur Tolak Pembuangan Lumpur Lapindo”, http://www.walhi.or.id/kampanye/cemar/industri/060905_lumpurlapindo-laut_sp/, diakses

mengakibatkan dampak yang semakin meluas terhadap sebagian besar tambak di sepanjang pesisir Sidoarjo dan daerah kabupaten lain di sekitarnya juga memperburuk kerusakan ekosistem Sungai Porong. Namun, pemerintah tetap merealisasikan keputusan ini. Dari hal ini terlihat bahwa peran interaksi dan koordinasi antara pemerintah dan masyarakat sipil sangat lemah.

Insentif Pemerintah

Insentif pemerintah dalam kasus Lapindo dijalankan dalam bentuk usaha mengakomodasi kedua pihak, baik PT Lapindo Brantas maupun para korban Lapindo, dalam usaha penyelesaian dampak sosial dan ekonomi kasus ini. Pada akhirnya, altruisme pemerintah dianggap berlebihan ketika pada awalnya pemerintah hanya membebankan kepada Lapindo pembayaran ganti rugi untuk 4 desa (Kedung Bendo, Renokenongo, Siring, dan Jatirejo) sementara desa-desa lainnya ditanggung APBN, juga penanganan infrastruktur yang rusak. Hal ini adalah konsekuensi pandangan bahwa semburan lumpur panas Lapindo dipicu oleh gempa Yogyakarta, sehingga Lapindo tidak bertanggung jawab sepenuhnya sementara dan hal ini menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga mensinyalir bahwa pemerintah berusaha merintangi usaha politisasi24 kasus ini oleh masyarakat karena CEO PT Lapindo Brantas, Nirwan Bakrie, yang merupakan adik kandung dari pengusaha dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu, Aburizal Bakrie.

Beberapa insentif pemerintah yang nyata akhir-akhir ini adalah sebagai berikut. 1. Di tingkat nasional, pemerintah merespon demo korban Lapindo yang tergabung dalam Tim 16 Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera I
pada 26 Januari 2009, 21:50 Yang dimaksud oleh penulis dengan “politisasi” dalam konteks ini adalah seluruh usaha oleh seluruh pihak untuk membuat suatu isu menjadi agenda politik pemerintah. Keberhasilan usaha politisasi akan berlanjut kepada “sekuritisasi”, yaitu seluruh respon pemerintah terhadap isu yang dipolitisasi, termasuk menciptakan basis legal formal

24

(Tim 16 Perum TAS I) terhadap Istana Negara pada 2-3 Desember dengan memanggil Nirwan Bakrie, CEO Lapindo, dan beberapa menterinya untuk membuat kesepakatan dengan perwakilan Tim 16 tentang pembayaran bertahap.25 2. Di tingkat lokal, pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Soekarwo-Syaifullah Yusuf (Karsa) pada 30 Januari 2009 berjanji akan menuntaskan kasus Lapindo serta memberi ganti rugi warga korban di luar peta terdampak.26 Sukarwo pun berjanji akan meminta Presiden Susilo Bambang Yudoyono untuk mendesak PT lapindo Brantas untuk segera membayar sisa ganti rugi 80% yang sudah telat hampir satu tahun serta mencarikan dana talangan dari pemerintah daerah maupun pusat untuk ganti rugi semua korban.27

Insentif Masyarakat

Insentif masyarakat dalam kasus Lapindo dijalankan dalam bentuk primernya advokasi kepada pemerintah dan pihak PT Lapindo Brantas untuk melindungi apa yang dipersepsikan sebagai hak-hak pada korban Lapindo dalam kasus ini, sebagai penjaga kepentingan para korban, dan kritik terhadap performa pemerintah dan Lapindo dalam penyelesaian kasus ini. Bentuk nyatanya antara lain adalah demo sebagai ungkapan protes dan pengajuan tuntutan.

Contoh aksi demo masyarakat antara lain sebagai berikut. 1. Tim 16 Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera I (Tim 16 Perum TAS I) pada 3 Desember 2008 menandatangani kesepakatan skema cicilan 30
25 “Penggantian Aset Korban yang Tak Kunjung Beres”, diakses dari http://korbanlumpur.info/kabar-korban/berita/452-penggantian-aset-korban-yang-tak-kunjungberes-.html 18 Februari 2009 17:46 26 “Warga Menanggapi Dingin Sesumbar Karsa”, diakses dari http://korbanlumpur.info/ kabar-korban/berita/459-warga-menanggapi-dingin-sesumbar-karsa.html 17 Februari 2009 15:11 27 “Koalisi Korban Lapindo Demo Tuntut Penuntasan Kasus Lapindo”, diakses dari http://korbanlumpur.info/kabar-korban/berita/465-koalisi-korban-lumpur-demo-tuntutpenuntasan-kasus-lapindo.html 18 Februari 2009 17:26

juta per bulan itu, kecewa setelah mendemo Istana Negara pada 2-3 Desember.28 2. Pada 23 Desember 2008 lalu, ribuan warga dari tujuh desa korban lumpur Lapindo yang tergabung dalam Gerakan Pendukung Perpres No 14 Tahun 2007 (Geppres) menutup jembatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis, sebagai ungkap protes menuntut sisa pembayaran ganti rugi sebesar 80% yang harus dibayar PT Lapindo Brantas secara tunai.29 3. Pada pagi 11 Febuari 2009, sekitar 4000 korban Lapindo dari Perumahan Tanggul Angin Sejahtera I yang terorganisir rapi dalam kelompok TIM 16 mendemo kantor Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dan kantor PT Lapindo Brantas, setelah Lapindo melanggar kesepakatan.30 4. Pada 16 Februari 2009, para korban Lapindo yang tergabung dalam Koalisi Kelompok Korban Lapindo (K3L) yang terdiri dari Geppres (yang menuntut pembayaran cash and carry), Laskar Korban Lumpur atau Lasbon Kapur (yang menuntut 20% cash dan 80% diganti rumah), Pengungsi Pasar Baru Renokenongo/Persatuan Warga Renokenongo Korban Lapindo alias Pagar Rekorlap (pembayaran belum tuntas 20% dan belum menentukan sikap untuk 80%), dan Persatuan Warga Perum TAS I alias tim 16 mendemo pasangan gubernur baru Jawa Timur pasangan Sukarwo dan Syaifullah Yusuf, mendesak gubernur untuk berkomitmen kepada korban Lapindo serta menuntut pemerintah untuk memberikan dana talangan untuk para korban.31

28

“Penggantian Aset Korban yang Tak Kunjung Beres”, diakses dari http://korbanlumpur.info/kabar-korban/berita/452-penggantian-aset-korban-yang-tak-kunjungberes-.html 18 Februari 2009 17:46 29 “Korban Lumpur Lapindo Tutup Jembatan Porong”, diakses dari http://hotmudflow.wordpress.com/2008/12/23/korban-lumpur-lapindo-tutup-jembatan-porong/ 17 Februari 2009 14:44 30 “Tim 16 Kembali Demo BPLS dan Minarak Lapindo”, diakses dari http://korbanlumpur.info/kabar-korban/berita/464-tim-16-kembali-demo-bpls-dan-minaraklapindo.html 17 Februari 2009 14:53 31 “Koalisi Korban Lapindo Demo Tuntut Penuntasan Kasus Lapindo”, diakses dari http://korbanlumpur.info/kabar-korban/berita/465-koalisi-korban-lumpur-demo-tuntutpenuntasan-kasus-lapindo.html 18 Februari 2009 17:26

27

BAB V PENUTUP

V.1. Simpulan

Studi kasus penulis atas berbagai perusahaan besar yang menjadi subjek penelitian menunjukkan bahwa sebagai suatu gagasan, CSR sudah menjadi wacana umum yang telah tersosialisasi dengan baik di Indonesia dan menjadi konsideran perusahaan sebagai aspek yang dapat memberi dampak positif terhadap usahanya karena merupakan investasi sosial dan bukan komponen biaya yang akan mengurangi keuntungan. CSR bukan lagi suatu keharusan bagi perusahaan, melainkan kebutuhan untuk memperoleh modal sosial, karena terdapat korelasi positif antara profit atau tujuan finansial perusahaan dengan CSR atau tujuan sosial perusahaan. Berbagai pertimbangan lain seperti bahwa nilai konsumsi masyarakat didasarkan pada pertimbangan etika sosial perusahaan juga pada akhirnya membuat CSR menjadi bagian sentral dan penting di berbagai perusahaan. Namun, pada akhirnya kesadaran implementasi CSR masih belum optimal di Indonesia karena terdapat beberapa perusahaan yang masih tidak peduli dengannya karena kurangnya pandangan positif terhadap aspek lingkungan dan sosial di sekelilingnya.

Di lain pihak, konsep tripartit masih mengalami kendala dalam implementasinya. Dalam lingkungan penyelenggaraan tripartit tersebut, terlihat bahwa peran interaksi dan koordinasi antara ketiga sudut segitiga tersebut masih lemah. Beberapa catatan penulis adalah bahwa konsep triple bottom line ternyata malah memberi masalah di beberapa kasus. Salah satu contohnya adalah dalam kasus PT Riau Andalan Pulp and Paper, di mana masyarakat sipil di tingkat lokal dan pemerintah daerah mengalami bias terhadap perusahaan tersebut, sehingga memberikan resistensi terhadap usaha para LSM dan NGO serta pemerintah pusat.

Sementara itu, dalam kasus lumpur panas Lapindo, pemerintah pusat disinyalir tidak tanggap dengan tuntutan masyarakat dan sering menunda keputusan, sehingga butuh sentakan-sentakan drastis sebelum memulai langkahnya. Pihak swasta sendiri (PT Lapindo Brantas) terkesan tidak bertanggung jawab terutama dalam pembayaran terhadap para korban lumpur. Yang terkonstruksi di benak masyarakat malah adanya isu main belakang antara pemerintah dan PT Lapindo Brantas terkait hubungan CEO Lapindo dengan salah seorang menteri kabinet.

V.2. Saran

Kasus PT Riau Andalan Pulp and Paper memperlihatkan kepada kita bagaimana lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau non-governmental organization (NGO) yang bertujuan mengembangkan masyarakat dalam konteks social development dalam isu-isu kemanusiaan tidak mampu melakukan pendekatan yang benar-benar bottom-up, malah sebenarnya top-down. Para LSM dan NGO tersebut mengalami resistensi karena kurangnya keterkaitan langsung dengan masyarakat sipil di tingkat lokal terkait isu PT RAPP. Oleh karena itu, seharusnya para LSM dan NGO dapat bersikap lebih membumi dan organik serta supel terhadap masyarakat untuk dapat membaca kepentingan mereka. Selain itu, pemerintah pusat yang juga menerima resistensi masyarakat terkait isu PT RAPP menunjukkan ketidakpekaannya terhadap isu tersebut, sehingga seharusnya pemerintah pusat dapat berkoordinasi dalam meninjau regulasi ulang terkait isu-isu krusial.

Sementara itu, kasus Lapindo menunjukkan peran masyarakat dalam melakukan politisasi isu tersebut dengan melakukan berbagai diskursus dan sosialisasi gagasan, sehingga isu Lapindo dapat dianggap sebagai isu dengan tingkat prioritas yang lebih tinggi oleh pemerintah. Proses politisasi dapat menjadi sarana memperkuat kontrol politik masyarakat terhadap pemerintah, sehingga masyarakat sipil dapat menjalankan peran primernya dalam tripartit sebagai penjaga dan pengkritik, pelindung hak-hak masyarakat, dan penyampai aspirasi.

28

29

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku Bulkin, Farchan. Negara Masyarakat dan Ekonomi. Jakarta: Prisma 8, 1984 Firmanzah. Globalisasi; Sebuah Proses Dialektik Sistemik. Jakarta: Yayasan Sad Satria Bhakti, 2002 Henriques, Adrian dan Julie Richardson, eds. The Triple Bottom Line, Does It all Addss Up? Asserting The Sustainability of Business and CSR. London: Sterling V.A, 2004 O’Brien R. ed. Contestiing Global Governance: Multilateral Economic Institutions and Global Social Movements. Cambridge: Cambridge University Press, 2000

Sumber Internet http://riaumandiri.net/indexben.php?id=6071 http://www.riauterkini.com/politik.php?arr=21744 “Durham University - Conclusive vote on cause of Indonesian mud volcano” diakses dari http://korbanlumpur.info/media/media-asing/401-durhamuniversity-conclusive-vote-on-cause-of-indonesian-mud-volcano-.html “Guidance on Good Practices in Corporate Governance Disclosure” http://www.unctad.org/en/docs/iteteb20063_en.pdf “Korban Lumpur Lapindo Tutup Jembatan Porong” http://hotmudflow.wordpress.com/2008/12/23/korban-lumpur-lapindo-tutupjembatan-porong/ “Lumpur Lapindo Tidak Dapat Ditutup, Kata Geolog Internasional” http://hotmudflow.wordpress.com/2008/10/23/lumpur-lapindo-tidak-dapat-

ditutup-kata-geolog-internasional/ “Manual for the Preparers and Users of Eco-efficiency Indicators” http://www.unctad.org/en/docs/iteipc20037_en.pdf “Mengapa Komnas HAM Menunda Keputusan Kasus Lumpur Lapindo?” http://korbanlumpur.info/kata-mereka/tokoh-bicara/455-mengapa-komnas-hammenunda-keputusan-kasus-lumpur-lapindo-.html “Penggantian Aset Korban yang Tak Kunjung Beres” http://korbanlumpur.info/kabar-korban/berita/452-penggantian-aset-korbanyang-tak-kunjung-beres-.html “The GoodCorporation Standard” http://www.goodcorporation.com/PDF/standard_2007.pdf “Tim 16 Kembali Demo BPLS dan Minarak Lapindo” http://korbanlumpur.info/kabar-korban/berita/464-tim-16-kembali-demo-bplsdan-minarak-lapindo.html 17 Februari 2009 14:53 “WALHI Jawa Timur Tolak Pembuangan Lumpur Lapindo” http://www.walhi.or.id/kampanye/cemar/industri/060905_lumpurlapindolaut_sp/ “Warga Menanggapi Dingin Sesumbar Karsa” http://korbanlumpur.info/kabarkorban/berita/459-warga-menanggapi-dingin-sesumbar-karsa.html

Sumber Jurnal Shamir, Ronen. Between Self-Regulation and the Alien Tort Claims Act: On the Contested Concept of Corporate Social Responsibility. Law & Society Review, Vol. 38, No. 4 (Des., 2004), h. 635-664

30

31

DAFTAR RIWAYAT HIDUP PESERTA

Ahmad Naufal Dai (0706291174) Tempat/Tanggal Lahir Status Kewarganegaraan Alamat Nomor Kontak Alamat E-mail Informasi Pendidikan : Bandung, 16 Agustus 1990 : Belum menikah : Indonesia : Asrama UI Depok : +6285691579245 : accuser_of_justice@yahoo.com : Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI 2007

Tangguh (0706291426) Tempat/Tanggal Lahir Status Kewarganegaraan Alamat Nomor Kontak Alamat E-mail Informasi Pendidikan : Jakarta, 14 Januari 1990 : Belum menikah : Indonesia : Jalan Palembang blok F no. 194 RT 002/05 Perum Masnaga Raya Jakamulya Bekasi Selatan 17146 : +628158210373 : altria_arc@yahoo.com : Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI 2007

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->