Anda di halaman 1dari 2

PENGAMBILAN MINYAK LAKA DARI KULIT BIJI METE DAN PENINGKATAN KANDUNGAN KARDANOL DALAM MINYAK LAKA

Tumbuhan jambu mete berasal dari timur laut Brazil dan merupakan tumbuhan obat-obatan yang termasuk dalam daftar prioritas WHO mengenai tumbuhan obat-obatan yang paling banyak dipakai didunia. Produk samping dari buah mete adalah minyak laka atau CNSL (cashew nut shell liquid) yang dapat digunakan sebagai antioksidant, bahan baku untuk rem, dan bahan anti rembesan air dalam pembuatan cat dan plastik. Kardanol dalam CNSL berperan penting dalam peningkatan kualitas CNSL sebagai bahan baku industri resin, coating, dan surfactant yang digunakan sebagai pigment pendispersi untuk water-based tinta. Pada penelitian ini dipelajari proses ekstrasi minyak laka dari kulit biji mete menggunakan metode soxhlet dengan pelarut yang digunakan adalah etanol 95%. Percobaan pengambilan minyak laka dari kulit biji mete dilakukan dalam variasi ratio berat sampel terhadap volume pelarut dalam (g/ml) sebagai berikut : 1:5, 1:10, 1:15, 1:20, dan 1:25. Sedangkan peningkatan kandungan kardanol dalam minyak laka yang dihasilkan dari kulit biji mete dilakukan melalui pemanasan pada temperatur 200 C pada berbagai variasi waktu, sehingga akan didapat hasil ekonomis dari perolehan kardanol. Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan bahwa dengan waktu ekstraksi yang dilakukan selama 183 menit banyaknya perolehan minyak laka setiap perbandingan berat sampel terhadap volume pelarut, dipengaruhi oleh kecepatan sirkulasi etanol dengan perolehan terbaik yang dihasilkan adalah 22,67% pada perbandingan berat sample terhadap solvent sebesar 1:15. Produk kardanol yang terbaik diperoleh pada pemanasan 200 oC yaitu pemanasan selama satu jam dengan persentase perolehan sebesar 97,85 % (http://eprints.undip.ac.id/28027/)

Jambu monyet Jambu monyet atau jambu mede (Anacardium occidentale) adalah sejenis tanaman dari suku Anacardiaceae yang berasal dari Brasil dan memiliki "buah" yang dapat dimakan. Yang lebih terkenal dari jambu mede adalah kacang mede, kacang mete atau kacang mente; bijinya yang biasa dikeringkan dan digoreng untuk dijadikan berbagai macam penganan. Secara botani, tumbuhan ini sama sekali bukan anggota jambu-jambuan (Myrtaceae) maupun kacang-kacangan (Fabaceae), melainkan malah lebih dekat kekerabatannya dengan mangga (suku Anacardiaceae). Dikenal juga dengan berbagai nama seperti jambu md (Sd.); jambu mt atau jambu mnt (Jw.); jhambu monyt (Md.); jambu dwipa, jambu jipang, nyambu monyt (Bl.); nyambuk nybt (Sas.); jambu rang, jambu mony (Mink.); jambu dipa (Banj.); buwah monyet (Timor); buwah yaki(Manado); buwa yakis, wo yakis (Sulut); buwa yaki (Ternate, Tidore); buwa jakis (Galela); jambu dar, jambu masong (Mak.); jampu srng, jampu tapsi (Bug.); dan lain-lain.[1] Dalam bahasa Inggris dinamakan cashew (tree), yang diturunkan dari perkataan Portugis untuk menamai buahnya, caju, yang sebetulnya juga merupakan pinjaman dari nama dalam bahasa

Tupi, acaj. Sementara nama marganya (Anacardium) merujuk pada bentuk buah semunya yang seperti jantung terbalik (http://id.wikipedia.org/wiki/Jambu_monyet).

Mete, Buah Sejati Berbentuk Ginjal Mempunyai Beragam Manfaat

Produk utama tanaman jambu mete (Anacardium occidentale L.) adalah kacang mete. Sedangkan produk samping seperti buah semu dapat diolah menjadi sirup, anggur, abon , selai, dodol, nata de cashew dan pakan ternak. Lebih dari itu, gelondong mete setelah dipisahkan dari kacangnya didapat kulit yang umumnya dibuang sebagai limbah. Padahal limbah inilah dapat diolah menjadi bahan industri yang menjanjikan. Ekspor produk mete Indonesia, sampai saat ini masih didominasi dalam bentuk gelondong (94,44%). Sedangkan dalam bentuk kacang mete relatif kecil yaitu hanya 5,56%. Pada posisi ini, sebenarnya Indonesia pada posisi merugi karena hilangnya nilai tambah dari pengolahan gelondong mete (kulit gelondong setelah dipisahkan dari kacangnya) menjadi Cashew Nut Shell Liquid (CNSL) sebagai bahan baku industri. Seperti halnya kacang mete, peluang eskpor CNSL masih sangat terbuka. Data International Trade Center (ITC) menunjukkan bahwa kebutuhan Amerika Serikat mencapai 7.420 ton CNSL yang sebagian besar masih dipenuhi dari India dan Brazil. Di Indonesia usaha pengolahan CNSL belum berkembang, bahkan belum banyak masyarakat yang mengetahuinya. Padahal bahan bakunya cukup tersedia dan pemasarannya diketahui sangat prospektif ke berbagai Negara (http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/792/)

2. Kandungan Kalori Kacang Mete

Kacang mete dianggap sebagai makanan yang mengandung lemak dan kalori tinggi. Namun jika dikonsumsi dalam jumlah moderat, kacang mete bisa menjadi snack yang menyehatkan. Kacang mete merupakan sumber protein dan serat yang baik. Lemak yang terkandung dalam kacang mete adalah lemak tak jenuh tunggal, sehingga baik untuk kesehatan jantung. Selain itu, kacang mete juga kaya akan kalium, zinc, asam folat, selenium, dan vitamin Setiap kacang mete panggang berminyak mengandung sekitar 9 kalori. Setiap porsi penyajian berisi 20 biji kacang mete mengandung lemak lebih dari 14 gr, karbohidrat lebih dari 10 gr, dan serat kurang dari 1 gr (http://www.amazine.co/9205/tips-snack-sehat-kandungan-kalori-manfaatkacang-mete/).