Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS INSTRUMEN PERCOBAAN 1 ANALISIS AMOXICILLIN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI ULTRA-VIOLET ( UV )

Oleh: Resti Susanti Ayu Wikha Noviyana Riri Fauziyya Garnisha Utamas N Erna Tugiarti Budiasih (G1F001072) (G1F011026) (G1F011028) (G1F011030) (G1F011034)

Kelompok 4, golongan IB Asisten :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2013

PERCOBAAN 1 ANALISIS AMOXICILLIN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET (UV)

I.

TUJUAN Memahami serta mampu melakukan analisis kuantitatif senyawa obat

dengan metode spektrofotometri UV. II. TINJAUAN PUSTAKA Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Kelebihan spektrofotometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih lebih dapat terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating ataupun celah optis. Pada fotometer filter, sinar dengan panjang gelombang yang diinginkan diperoleh dengan berbagai filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter, tidak mungkin diperoleh panjang gelombang yang benar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang benar-benar terseleksi dapat diperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blangko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorpsi antara sampel dan blangko ataupun pembanding (Khopkar,1990). Salah satu metode sederhana untuk menentukan zat organik dan anorganik secara kualitatif dan kuantitatif yaitu dengan metode spektrofotometri ultraviolet. Prinsip kerjanya berdasarkan penyerapan cahaya atau energi radiasi oleh suatu larutan. Jumlah cahaya atau energi radiasi yang diserap memungkinkan pengukuran jumlah zat penyerap dalam larutan secara kuantitatif (Triyati, 1985). Sinar ultra violet mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm. alah satu aplikasi dari spektrofotometri ultra violet adalah penetapan kadar yang memiliki

peranan penting untuk melakukan penentuan kuantitatif bahan baku dan sediaan obat. Konsentrasi dari analit didalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang gelombang tetentu dengan menggunakan hukum LambertBeer. Jika penentuan kadar sangat rendah atau senyawa mula-mula mengabsorbsi dibawah 200 nm, maka sering kali senyawa ini terlebih dahulu diubah menjadi suatu senyawa yang berwarna melalui reaksi kimia dan absorbsi ditentukan dalam daerah tampak (Khopkar, 1990).

III.

ALAT DAN BAHAN Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah spektrofotometer UV, kuvet, beaker glass, spatula, labu ukur, timbangan analitik, mortir dan stamper, pipet ukur, piper filler, pipet tetes, dan gelas ukur, tissue dan alat sentrifuge. Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini tablet amoxicillin

500 mg 10 tablet, larutan NaOH 0,1 N, aquadest, dan Amoxicillin Trihidrat

IV.

CARA KERJA a) Penetapan panjang gelombang ( maksimum 1. Melarutkan Amoxicillin trihidrat 500 mg dalam 250 mL larutan NaOH 0,1 N. Konsentrasinya yaitu 500mg/250 ml = 500.000 g/250 ml = 2000 ppm 2. Mengencerkan Amoxicillin trihidrat 50 kali dengan NaOH 0,1 N, caranya yaitu dengan mengambil 1 ml larutan amoxicillin kemudian di add 50 ml NaOH. Konsentari setelah pengenceran: V1.M1 = V2.M2 1.2000 = 50.x x = 40 ppm 3. Absorbansinya dibaca pada panjang gelombang ( 200-380 nm

b) Penetapan waktu reaksi(operating time) 1. 2. Melarutkan Amoxicillin trihidrat 500 mg dalam NaOH 0,1 N Mengencerkan larutan tersebut 50 kali dengan NaOH 0,1 N

3.

Mengamati absorbansinya pada panjang gelombang maksimum yang didapatkan dengan interval waktu 5, 10, 15, 30, 45, 60 menit

c) Pembuatan kurva baku kadar amoxicillin 1. Membuat kurva kalibrasi regresi linear antara absorbansi larutan dengan konsentrasi amoxicillin trihidrat dalam NaOH 0,1 N dengan kadar bertingkat dari 10-25 yang telah didapat. 2. Larutan NaOH digunakan sebagai blanko. yang dibaca panjang gelombang maksimum

d) Pengukuran kadar amoxicillin 1. Mengambil 10 tablet amoxicillin secara acak dan menimbang satu persatu, kemudian menggerus halus dan mengaduk sampai homogen. 2. Menimbang serbuk amoxicillin secara seksama seberat 50 mg sebanyak 3 kali ulangan, lalu dilarutkan dalam 100 ml NaOH 0,1 N didalam labu ukur, setelah itu dilakukan penggojokan secara mekanik selama 10 menit dan didiamkan selama 15 menit. 3. Larutan disentrifugasi selama 5 menit dan diambil supernatannya 4. 5 mL larutan filtrat yang pertama dibuang diencerkan dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 N 5. Absorbansi diukur menggunakan spektrofometer pada panjang gelombang maksimum yang didapatkan . 6. Blanko yang digunakan adalah larutan NaOH 0,1 N. 7. Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali 8. Kadar amoxicillin dihitung sehingga didapatkan kadar dalam mg/tablet (x

V.

DATA DAN PERHITUNGAN

Pengenceran amoxicillin baku 500 mg/ 250ml = 2mg/ml = 2000g/ml Kurva baku = 10ppm, 15ppm, 20ppm

Pengenceran 50x

Pengenceran 10ppm

Pengenceran 15ppm

Pengenceran 20ppm

M1.V1 = M2.V2 2000.1= M2.50ml M2 = 40ppm

M1 . V1 = M2 . V2 40 . V1 = 10 . 25 V1 = 6,25ml

M1.V1 = M2.V2 40.V1 = 15.25 V1 = 9,375ml

M1.V1 = M2.V2 40.V1 = 20.25 V = 12,5ml

Berat masing-masing tablet amoxicillin Penimbangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berat (gr) 0,684 0,707 0,703 0,700 0,698 0,704 0,698 0,690 0,684 0,704

Berat total tablet: 6,977 Berat tablet rata-rata = 6,977/10 = 0,6977gr =697,7mg Absorbansi larutan baku dan sampel

Larutan Baku = 245nm blanko = 0 10ppm = 0,321 15ppm = 0,333 20ppm = 0,338 a = 0,305 b = 1,7 . 10-3 r = 0,972

Larutan Sampel = 245nm pengenceran 2000x blanko = 0

replikasi 1 = 0,167 2 = 0,170 3 = 0,170

Persamaan linier y = a + b y= 1,7 . 10-3 + 0,305

replikasi 1 y1= y= 1,7 . 10-3 1 + 0,305 = 1,7 . 10-3. 0,167 + 0,305 = 0,2839 . 10-3 + 0,305 = 305,2839 . 10-3

Replikasi 2 Y2= y= 1,7 . 10-3 2 + 0,305 = 1,7 . 10-3 . 0,170 + 0,305 = 0,289 . 10-3 + 0,305 = 305,289 . 10-3

Replikasi 3 Y3= y= 1,7 . 10-3 3 + 0,305 = 1,7 . 10-3 . 0,170 + 0,305 = 0,289 . 10-3 + 0,305 = 305,289 . 10-3 Kadar Kadar = x y x 100

Kadar 1 = = 425,997

x305,2839 . 10-3 x 100

Kadar 2 = = 426,003

x 305,289 . 10-3x 100

Kadar 3 = = 426,003

x 305,289 . 10-3 x 100

Kadar rata-rata = 426,001 SD = 3,464 . 10-3 Kadar = Kadar rata-rata SD = 426,0013,464 . 10-3

VI. PEMBAHASAN 1. Prinsip Spektrofotometri UV Penetapkan kadar amoxicillin, menggunakan metode spektrofotometri UV dan alat yang digunakan untuk mengukur panjang gelombang atau frekuensi yang diabsorbsi oleh senyawa tersebut disebut spektrofotometer. Dasar dari

spektrofotometri adalah adanya emisi cahaya. Penyinaran cahaya dalam daerah sinar tampak dan UV, dilakukan seperti pada absorpsi melalui berdekatan satu sama lain. Dari molekul diperoleh spectrum pita tangan garis emisi yang tercatat sebagai pitapita yang sangat berdekatan. Prinsip kerja dari spektrofotometri UV adalah apabila radiasi atau cahaya putih dilewatkan melalui larutan berwarna, maka radiasi dengan panjang gelombang tertentu akan diserap secara selektif dan radiasi lainnya akan diteruskan (Rivai, 1995). Dalam ilmu kefarmasian spektrofotometri digunakan untuk menganalisis kadar obat. Spektrofotometri dapat mengindikasikan bahwa setiap obat harus dapat bekerja secara maksimal dalam tubuh terutama dalam hal penyerapannya. Spektrofotometri merupakan metode analisis yang didasarkan pada absorpsi radiasi elektromagnet. Cahaya terdiri dari radiasi terhadap kepekaan mata manusia. Gelombang dengan panjang berlainan akan menimbulkan cahaya yang berlainan sedangkan campuran cahaya dengan panjang-panjang ini akan menyusun cahaya putih. Cahaya putih meliputi seluruh spektrum nampak 400-760 nm. Dalam analisis spektrofotometri digunakan suatu sumber radiasi yang menjorok ke dalam daerah spektrumultraviolet itu. Dari spektrum ini, dipilih panjang-panjang gelombang tertentudengan lebar pita kurang dari 1 nm (Anonim, 1979). Komponen utama dari spektrofotometer dapat dilihat pada gambar sebagai berikut.

Sumber Cahaya Lampu hidrogen atau deutrium (160-375 nm). Pengatur Intensitas Berfungsi untuk mengatur intensitas sinar yang dihasilkan oleh sumber cahaya agar sinar yang masuk tetap konstan. Monokromator Berfungsi untuk merubah sinar polikromatis menjadi sinar monokromatis sesuai yang dibutuhkan oleh pengukuran. Monokromator kuarsa untuk daerah UV. Kuvet Pada pengukuran di daerah sinar tampak digunakan kuvet kaca dan daerah UV digunakan kuvet kuarsa. Detektor Fungsinya untuk merubah sinar menjadi energi listrik yang sebanding dengan besaran yang dapat diukur. Syarat-syarat ideal sebuah detektor : 1) kepekaan yang tinggi, 2) perbandingan isyarat atau signal dengan bising tinggi, 3) respon konstan pada berbagai panjang gelombang, 4) waktu respon cepat dan signal minimum tanpa radiasi, dan 5) signal listrik yang dihasilkan harus sebanding dengan tenaga radiasi. Penguat (Amplifier) Berfungsi untuk memperbesar arus yang dihasilkan oleh detektor agar dapat dibaca oleh indikator. Indikator Indikator dapat berupa recorder atau komputer (Yoki,2009) Penilaian spektroskopi UV-Vis didasarkan pada suatu persamaan matematis yang disebut hukum Lambert-Beer, yaitu absorbansi (A) adalah hasil perkalian antara absorptivitas (a) atau absorptivitas molar () dengan tebal kuvet (b), dan konsentrasi larutan (c) (Gandjar, 2009). Cara kerja spektrofotometer secara singkat adalah dengan larutan pembanding ( larutan NaOH ) sebagai blanko dalam sel pertama sedangkan larutan yang akan dianalisis pada sel kedua. Kemudian pada fotosel yang cocok dimana dalam praktikum kali ini dengan panjang gelombang maksimum 248 nm, fotosel tersebut kemudian dibuka dan dilewatkan berkakas cahaya pada blanko dan sampel. Dimana skala absorbansi menunjukan absorbansi larutan sampel ( pada praktikum ini didapat absorbansinya 1,15 ). ( Khopkar,1990 ) .

Spektrofotometer terdiri dari beberapa macam, yaitu : a. b. c. d. e. AAS / AES : penyerapan / pancaran atom. UV-Visibel : penyerapan molekul. Spektrofluorometri : pancaran molekul. IR : mengukur penyerapan radiasi pada frekuensi berbeda. NMR ( Nucleus Magnetic Resonance ) : sensitive magnet nucleus atom ( spen nucleus ) terhadap molekul atau ionnya. Instrumentasi spektrofotometri : a. Sumber energy cahaya yang berkesinambungan yang meliputi daerah spectrum yang meliputi daerah specktrum yang mana alat tersebut dirancang untuk beroperasi, dimana pada spektrofotometer UV digunakan lampu deuterium. b. Monokromator, sebuah alat untuk mengetahui pita sampel panjang gelombang dari spectrum lebar yang dipancarkan oleh sumber cahaya atau disebut juga alat untuk menghasilkan berkas radiasi dengan satu panjang gelombang ( monokromatisikan sinar pada kromatis ). Ada 2 macam monokromator, yaitu : c. Prisma, prinsipnya ada pembiasan sinar yang menimbulkan sudut deviasi yang berbeda untuk berbagai panjang gelombang. d. Lusi difiaksi ( grating ), prinsipnya adalah interfensi antara berkas-berkas sinar yang didifiaksikan pada jalan-jalan aksi. e. Wadah untuk sampel, digunakan kuvet dengan sisi tenang adalah bagian yang akan terkena cahaya dan tidak boleh tersentuh jari tangan karena akan mengganggu pengukuran. f. Detector, bebrapa transdusen yang merubah energy cahay menjadi suatu isyarat liserier. Syarat suatu detector adalah : 1) mampu menangkap dan member respon terhadap energy yang meliputi daerah panjang gelombang yang cukup besar, 2) mempunyai waktu respon yang pendek, 3) mempunyai kestabilan umum, jangka panjang dan waktu yang lama, 4) memberi isyarat yang dapat dipercepat dengan mudah sehingga dapat menggerakkan alat pembacaan. Isyarat yang dihasilkan harus berbanding lurus dengan intensitas sinar. g. h. Amplifien dan rangkaian yang membuat isyarat liserier cocok diamati. Recorder, sisitem pembacaan yang dapat mempertunjukan besarnya isyarat. (Day, 1990 )

2. Monografi Bahan

1.Amoxicillin

Amoxicillin trihydrat

Amoxicillin Amoxicillin adalah zat pembunuh kuman golongan antibiotik penisilin, bekerja melawan bakteri di dalam tubuh Anda,Amoxicillin digunakan untuk mengobati beraneka jenis infeksi/peradangan disebabkan oleh bakteri, seperti infeksi peradangan telinga, infeksi kandung kecing, radang paru paru, kencing nanah, dan infeksi yang disebabkan oleh E.coli atau salmonella . Amoxicillin juga kadangkadang digunakan bersama-sama dengan clarithromycin zat pembunuh kuman yang

disebut lain (Biaxin) untuk borok-borok perut disebabkan oleh Helicobacter pylori infeksi/peradangan. Kombinasi ini kadang-kadang digunakan dengan lansoprazole reduktor perut yang disebut asam (Prevacid) (Tjay, 2008). Amoksisilin (INN) atau amoksisilin (BAN mantan) adalah moderat-spektrum laktam antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang disebabkan oleh mikroorganisme yang rentan. Ini biasanya merupakan obat pilihan dalam kelas karena lebih baik diserap setelah pemberian oral,, daripada lain- laktam antibiotik. Amoksisilin adalah rentan terhadap degradasi-laktamase-memproduksi bakteri oleh, dan mungkin diberikan dengan asam klavulanat untuk mengurangi kerentanan tersebut. Amoksisilin bertindak oleh menghambat sintesis dinding sel bakteri. Hal ini menghambat silang hubungan antara rantai polimer linear yang peptidoglikan membuat komponen utama dari dinding sel bakteri gram positif. Pengobatanpengobatan antibiotik dapat menyebabkan diare, yang bisa menjadi suatu tanda dari suatu infeksi/peradangan yang baru (Anonim, 2010). Amoksisilin mengandung tidak kurang dari 90,0% C16H19N3O5S, dihitung terhadap zat anhidrat. Mempunya potensi setara dengan tidak kurang dari 900 g dan tidak lebih dari 1050 g per mg C16H19N3O5S, dihitung terhadap zat anhidrat. Pemerian Serbuk hablur, putih, praktis tidak berbau. Kelarutan Sukar larut dalam air dan metanol, tidak larut dalam benzene, dalam karbon tetraklorida, dan dalam kloroform. Secara komersial, sediaan amoksisilin tersedia dalam bentuk trihidrat, serbuk hablur, dan larut dalam air. Ketika dilarutkan dalam air secara langsung, akan berbentuk amoksisislin suspensi oral dengan pH antara 5-7,5 (Anonim, 1995). Amoksisilin digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram negatif (Haemophilus Influenza, Escherichia coli, Proteus mirabilis, Salmonella). Amoksisilin juga dapat digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri positif (seperti; Streptococcus pneumoniae, enterococci, nonpenicilinase-producing staphylococci, Listeria) tetapi walaupun demikian, aminophenisilin, amoksisilin secara umum tidak dapat digunakan secara sendirian untuk pengobatan yang disebabkan oleh infeksi Streprococcus dan Staphylococcal (Anonim, 2010). Pengunaan Amoxicillin sebagai antibiotik yang memiliki sifat
broadspectrum, amoxicillin sering diresepkan untuk berbagai macam infeksi dan untuk beragam usia pasien. Tak jarang pula dinemukan amoxicillin sebagai salah satu komposisi dalam obat racikan serbuk atau yang lebih dikenal sebagai puyer pada pasien anak.

2.

NaOH Pada percobaan kali ini pelarut yang digunakan adalah NaOH. Natrium

hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. NaOH bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbondioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. NaOH juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan KOH. NaOH tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non polar lainnya (Harijadi, 1986). NaOH Nama sistematis Nama lain Rumus Molekul Densitas Titik leleh : Titik didih Kelarutan dalam air Massa molar Penampilan Titik nyala Natrium hidroksida Soda kaustik NaOH 2,1 g/ cm3, padat 318oC (591 K) 1390oC (1663 K) 111 g/ 100 mL (20oC) 39,9971 g/mol zat padt putih tidak mudah terbakar (Skogg, 1965)

3. Aquades Adalah air yang dimurnikan yang diperoleh dengan destilasi,perlakuan menggunakan penukar ion , osmosis balik , atau proses lain yang sesuai. Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan air minum. Tidak mengandung zat tambahan lain. Pemerian : cairan jernih , tidak berwarna , tidak berbau. Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat (Anonim,1995)

3.

Persamaan Planc dan Hukum Lambert-Beer Panjang gelombang () didefinisikan sebagai jarak antara dua puncak atau jarak linear dari suatu titik pada satu gelombang ke titik yang bersebelahan pada gelombang yang berdekatan. Dimensi panjang gelombang adalah panjang (L) yang dapat dinyatakan dalam centimeter (cm) atau dengan angstrom (A) (Gandjar, 2009).

Hubungan dari ketiga parameter yaitu panjang gelombang, fekuensi dan energy tiap foton dirumuskan oleh Planck yang dikenal dengan persamaan Planck. Hubungan antara panjang gelombang frekuensi dirumuskan sebagai berikut: c = . v atau = c/v atau v = c/ Persamaan Planck: hubungan antara energi tiap foton dengan frekuensi E=h.v E = h . c/ Dimana: E = energi tiap foton h = tetapan Planck (6,626 x 10-34 J), v = frekuensi sinar c = kecepatan cahaya (2,998x1010 m.s-1). Dari rumus di atas dapat diketahui bahwa energi dan frekuensi suatu foton akan berbanding terbalik dengan panjang gelombang tetapi energi yang dimiliki suatu foton akan berbanding lurus dengan frekuensinya (Gandjar, 2009). Misalnya: energi yang dihasilkan cahaya UV lebih besar dari pada energi yang dihasilkan sinar tampak. Hal ini disebabkan UV memiliki panjang gelombang () yang lebih pend ek (100400 nm) dibanding panjang gelombang yang dimiliki sinar tampak (400800 nm). Interaksi antara materi dengan cahaya disini adalah terjadi penyerapan cahaya, baik

cahaya Uv, Vis maupun Ir oleh materi sehingga spektrofotometri disebut juga sebagai spektroskopi absorbs (Underwood, 2001). Proses Absorbsi Cahaya pada Spektrofotometri Ketika cahaya dengan panjang berbagai panjang gelombang (cahaya polikromatis) mengenai suatu zat, maka cahaya dengan panjang gelombang tertentu saja yang akan diserap. Di dalam suatu molekul yang memegang peranan penting adalah elektron valensi dari setiap atom yang ada hingga terbentuk suatu materi. Elektron-elektron yang dimiliki oleh suatu molekul dapat berpindah (eksitasi), berputar (rotasi) dan bergetar (vibrasi) jika dikenai suatu energy (Skoog, 1994). Jika zat menyerap cahaya tampak dan UV maka akan terjadi perpindahan elektron dari keadaan dasar menuju ke keadaan tereksitasi. Perpindahan elektron ini disebut transisi elektronik. Apabila cahaya yang diserap adalah cahaya inframerah maka elektron yang ada dalam atom atau elektron ikatan pada suatu molekul dapat hanya akan bergetar (vibrasi). Sedangkan gerakan berputar elektron terjadi pada energi yang lebih rendah lagi misalnya pada gelombang radio (Yoki, 2009). Atas dasar inilah spektrofotometri dirancang untuk mengukur konsentrasi suatu suatu yang ada dalam suatu sampel. Dimana zat yang ada dalam sel sampel disinari dengan cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu. Ketika cahaya mengenai sampel sebagian akan diserap, sebagian akan dihamburkan dan sebagian lagi akan diteruskan. Pada spektrofotometri, cahaya datang atau cahaya masuk atau cahaya yang mengenai permukaan zat dan cahaya setelah melewati zat tidak dapat diukur, yang dapat diukur adalah It/I0 atau I0/It (perbandingan cahaya datang dengan cahaya setelah melewati materi (sampel) (Skoog, 1994). Proses penyerapan cahaya oleh suatu zat dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar Proses penyerapan cahaya oleh zat dalam sel sampel. dari gambar terlihat bahwa zat sebelum melewati sel sampel lebih terang atau lebih banyak di banding cahaya setelah melewati sel sampel. Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya yang hamburkan diukur sebagai transmitansi (T), dinyatakan dengan hukum lambert-beer atau Hukum Beer, berbunyi: jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet, inframerah dan sebagainya) yang diserap atau ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat dan tebal larutan (Trisno, 2012). Berdasarkan hukum Lambert-Beer, rumus yang digunakan untuk menghitung banyaknya cahaya yang hamburkan:

dan absorbansi dinyatakan dengan rumus:

dimana I0 merupakan intensitas cahaya datang dan It atau I1 adalah intensitas cahaya setelah melewati sampel. Rumus yang diturunkan dari Hukum Beer dapat ditulis sebagai: A= a . b . c atau A = . b . c dimana: A = absorbansi b = atau terkadang digunakan l = tebal larutan (tebal kuvet diperhitungkan juga umumnya 1 cm) c = konsentrasi larutan yang diukur = tetapan absorptivitas molar (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam molar) a = tetapan absorptivitas (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam ppm) (Gandjar, 2009). Secara eksperimen hukum Lambert-beer akan terpenuhi apabila peralatan yang digunakan memenuhi kriteria-kriteria berikut: 1. Sinar yang masuk atau sinar yang mengenai sel sampel berupa sinar dengan dengan panjang gelombang tunggal (monokromatis).

2. Penyerapan sinar oleh suatu molekul yang ada di dalam larutan tidak dipengaruhi oleh molekul yang lain yang ada bersama dalam satu larutan. 3. Penyerapan terjadi di dalam volume larutan yang luas penampang (tebal kuvet) yang sama. 4. Penyerapan tidak menghasilkan pemancaran sinar pendafluor. Artinya larutan yang diukur harus benar-benar jernih agar tidak terjadi hamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid atau suspensi yang ada di dalam larutan. 5. Konsentrasi analit rendah. Karena apabila konsentrasi tinggi akan menggangu kelinearan grafik absorbansi versus konsntrasi (Trisno, 2012). Faktor-faktor yang sering menyebabkan kesalahan dalam menggunakan

spektrofotometer dalam mengukur konsentrasi suatu analit: 1. Adanya serapan oleh pelarut. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan blangko, yaitu larutan yang berisi selain komponen yang akan dianalisis termasuk zat pembentuk warna. 2. Serapan oleh kuvet. Kuvet yang ada biasanya dari bahan gelas atau kuarsa, namun kuvet dari kuarsa memiliki kualitas yang lebih baik. 3. Kesalahan fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi sangat rendah atau sangat tinggi, hal ini dapat diatur dengan pengaturan konsentrasi, sesuai dengan kisaran sensitivitas dari alat yang digunakan (melalui pengenceran atau pemekatan) (Gandjar, 2009). Spektrum UV merupakan hasil interaksi antara radiasi elektromagnetik (REM) dengan molekul. REM merupakan bentuk energi radiasi yang mempunyai sifat gelombang dan partikel (foton). Karena bersifat sebagai gelombang maka beberapa parameter perlu diketahui, misalnya panajang gelombang, frekuensi, bilangan gelombang dan serapan. REM mempunyai vektor listrik dan vektor magnet yang bergetar dalam bidang- bidang yang tegak lurus satu sama lain dan masing-masing tegak lurus pada arah perambatan radiasi. Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi sampel dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium. Deuterium disebut juga heavy hidrogen. Dia merupakan isotop hidrogen yang stabil yang terdapat berlimpah di laut dan daratan. Inti atom

deuterium mempunyai satu proton dan satu neutron, sementara hidrogen hanya memiliki satu proton dan tidak memiliki neutron (Khopkar, 2003). Karena sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna bening dan transparan. Oleh karena itu, sample tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan penambahan reagent tertentu. Bahkan sample dapat langsung dianalisa meskipun tanpa preparasi. Namun perlu diingat, sample keruh tetap harus dibuat jernih dengan filtrasi atau centrifugasi. Prinsip dasar pada spektrofotometri adalah sample harus jernih dan larut sempurna. Tidak ada partikel koloid apalagi suspensi. Semakin banyak sinar yang diserap sample (Absorbansi tinggi), maka konsentrasi protein terlarut semakin besar (Khopkar, 2003). Keuntungan dan Keunggulan dari spektrofotometer adalah : 1. Penggunaannya luas, dapat digunakan untuk senyawa anorganik, organik dan biokimia yang diabsorpsi di daerah ultra lembayung atau daerah tampak. 2. Sensitivitasnya tinggi, batas deteksi untuk mengabsorpsi pada jarak 10-4 sampai 10-5 M. Jarak ini dapat diperpanjang menjadi 10-6 sampai 10-7 M dengan prosedur modifikasi yang pasti. 3. Selektivitasnya sedang sampai tinggi, jika panjang gelombang dapat ditemukan dimana analit mengabsorpsi sendiri, persiapan pemisahan menjadi tidak perlu. 4. Ketelitiannya baik, kesalahan relatif pada konsentrasi yang ditemui dengan tipe spektrofotometer UV-Vis ada pada jarak dari 1% sampai 5%. Kesalahan tersebut dapat diperkecil hingga beberapa puluh persen dengan perlakuan yang khusus. 5. Mudah, spektrofotometer mengukur dengan mudah dan kinerjanya cepat dengan instrumen modern, daerah pembacaannya otomatis (Skoog, DA, 1996). Spektrofotometri UV memang lebih simple dan mudah dibanding spektrofotometri visible, terutama pada bagian preparasi sample. Namun harus hatihati juga, karena banyak kemungkinan terjadi interferensi dari senyawa lain selain analit yang juga menyerap pada panjang gelombang UV. Hal ini berpotensi menimbulkan bias pada hasil analisa (Day & Underwood, 2001). Amoxicillin dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri UV karena senyawa tersebut merupakan senyawa yang tidak berwarna dan dapat menyerap

cahaya pada daerah UV. Sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna, bening dan transparan. Oleh karena itu, reagen

sampel tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan penambahan

tertentu. Bahkan sampel dapat langsung dianalisa meskipun tanpa preparasi. Namun perlu diingat, sampel keruh tetap harus dibuat jernih dengan filtrasi atau sentrifugasi. Prinsip dasar pada spektrofotometri adalah sampel harus jernih dan larut sempurna, tidak ada partikel koloid apalagi suspensi (Khopkar, 2003). Penilaian spektroskopi UV-Vis didasarkan pada suatu persamaan matematis yang disebut hukum Lambert-Beer, yaitu absorbansi (A) adalah hasil perkalian antara absorptivitas (a) atau absorptivitas molar () dengan tebal kuvet (b), dan konsentrasi larutan (c). Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa intensitas yang diteruskan oleh larutan zat penyerap berbanding lurus dengan tebal kuvet dan konsentrasi larutan (Gandjar, 2009). Ada beberapa pembatasab dalam hukum Lambert-Beer yaitu: Sinar yang digunakan dianggap monokromatis Penjerapan yang terjadi dalam suatu volum yang mempunyai penampang luas yang sama Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut Tidak terjadi peristiwa fluoresensi atau fosforisensi Indeks bias tidak tergantung konsentrasi larutan (Gandjar, 2009). Persamaan hukum Lambert-Beer A = a.b.c Yang mana: A = absorban a = absorptivitas b = tebal kuvet (cm)

c = konsentrasi Kuantitas spektroskopi yang diukur biasanya adalah transmitans (T) = absorbansi (A) , yang mana A = Absorptivitas (a) merupakan suatu konstanta yang tidak tergantung pada konsentrasi, tebal kuvet, dan intensitas radiasi yang mengenai larutan sampel. Melainkan tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul, dan panjang gelombang radiasi. Satuan a ditentukan oleh satuan b dan c. jika satuan c dalam Molar (M) maka absorptivitas disebut dengan absorptivitas molar dan disimbolkan dengan dengan satuan M-1cm-1 atau liter.mol-1cm-1 (Gandjar, 2009). 4. Panjang Gelombang Maksimum Panjang gelombang yang digunakan untuk melakukan analisis adalah panjang gelombang dimana suatu zat memberikan penyerapan paling tinggi yang disebut maks. Hal ini disebabkan jika pengukuran dilakukan pada panjang gelombang yang sama, maka data yang diperoleh makin akurat atau kesalahan yang muncul makin kecil (Yoki, 2009). Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Ada beberapa alasan kenapa harus menggunakan panjang gelombang maksimal, yaitu: Memiliki kepekaan yang maksimal, perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar Disekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali (Gandjar, 2009). Namun, kadangkala dijumpai keadaan dimana penggunakan panjang gelombang maksimal kurang baik. Hal ini karena misalnya, selain zat yang akan dianalisis juga terdapat zat lain yang mempunyai absorbansi pada panjang gelombang maksimal tersebut. Ada beberapa variabel yang dapat mempengaruhi absorbansi, antara lain: jenis pelarut, pH pelarut, suhu, konsentrasi tinggi dan zat-zat pengganggu (Gandjar, 2009). , dan

Absorbansi yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya 0,2 sampai 0,8 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmittans. Anjuran ini berdasarkan bahwa kesalahan dalam pembacaan T adalah 0,005 atau 0,5% (kesalahan fotomerik) (Gandjar, 2009). Berdasarkan hukum Beer absorbansi akan berbanding lurus dengan konsentrasi, karena b atau l harganya 1 cm dapat diabaikan dan merupakan suatu tetapan. Artinya konsentrasi makin tinggi maka absorbansi yang dihasilkan makin tinggi, begitupun sebaliknya konsentrasi makin rendah absorbansi yang dihasilkan makin rendah. (Hukum Lamber-Beer dan syarat peralatan yang digunakan agar terpenuhi hukum Lambert-Beer. Hubungan antara absorbansi terhadap konsentrasi akan linear (AC) apabila nilai absorbansi larutan antara 0,2-0,8 (0,2 A 0,8) atau sering disebut sebagai daerah berlaku hukum Lambert-Beer. Jika absorbansi yang diperoleh lebih besar maka hubungan absorbansi tidak linear lagi (Trisno, 2012). Kurva kalibarasi hubungan antara absorbansi versus konsentrasi dapat dilihat pada Gambar.

Gambar Kurva hubungan absorbansi vs konsentrasi Faktor-faktor yang menyebabkan absorbansi vs konsentrasi tidak linear: 1. Adanya serapan oleh pelarut. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan blangko, yaitu larutan yang berisi selain komponen yang akan dianalisis termasuk zat pembentuk warna. 2. Serapan oleh kuvet. Kuvet yang ada biasanya dari bahan gelas atau kuarsa, namun kuvet dari kuarsa memiliki kualitas yang lebih baik. 3. Kesalahan fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi sangat rendah atau sangat tinggi, hal ini dapat diatur dengan pengaturan konsentrasi, sesuai dengan kisaran sensitivitas dari alat yang digunakan (melalui pengenceran atau pemekatan) (Khopkar, 2003).

5.

Pembahasan Cara Kerja 1. Penetapan panjang gelombang maksimum Penetapan panjang gelombang maksimum tidak dilakukan karena alat yang dipakai yaitu spektrofotometri UV-Vis tidak dapat melakukan pengukuran panjang gelombang maksimal. Panjang gelombang maksimal amoxicillin yang didapat dari literature adalah 245 nm (Moffat, et al., 2005). Pada percobaan ini, langkah pertama yang dilakukan dalam rangka menetapkan panjang gelombang maksimum larutan amoxicillin adalah menimbang Amoxicillin sebanyak 500 mg, lalu dilarutkan Amoxicillin trihidrat ke dalam 250 larutan NaOH 0,1 N. Konsentrasinya dapat dicari dari 500mg/250 ml = 500.000 g/250 ml = 2000 ppm. Alasan digunakannya NaOH sebagai pelarut adalah karena NaOH bersifat sebagai asam kuat sedangkan amoxicillin adalah senyawa obat yang bersifat asam (Anonim, 1995), sehingga akan mempermudah pelarutan dan penyatuan dari sampel amoxicillin itu sendiri ke dalam pelarutnya. Selain itu, amoxicillin trihidrat merupakan senyawa amoxicilin yang mengandung gugugs H2O (air) didalamnya. Setelah dilarutkan dalam NaOH 0,1 N, larutan amoxicillin trihidrat tersebut diencerkan sebanyak 50x dengan NaOH 0,1 N kembali, konsentrasi zat yang telah dienceerkan yaitu V1.M1 = V2.M2 1.2000 = 50.x x = 40 ppm Tujuan dari pengenceran ini adalah agar 250 ml larutan Amoxicillin dalam NaOH 0,1 N tidak terlalu pekat (lebih encer) dan butir-butir amoxicillin akan lebih melarut dalam larutannnya sehingga akan memeprmudah pembacaan dan pengukuran absorbansi dari larutan sampel amoxicillin. Hal ini dikarenakan jika suatu larutan yang akan diukur absorbansinya dengan spektrofotometri UV terlalu pekat maka butir-butir partikel dari sampel yang diuji akan menyebabkan absorbansi dari larutan tersebut tidak dapat terbaca dengan jelas, sebab terlalu banyak partikel/molekul sampel yang berinteraksi dengan cahaya UV dari spektrofotometri sehingga absorbansinya terlalu tinggi dan sulit ditentukan (Budi, 2008). Langkah terakhir yang dilakukan adalah membaca absorbansi larutan sampel amoxicillin pada panjang gelombang 200-380 nm. Pemilihan rentang panjang gelombang untuk spektrofotometri UV sebesar 200-380 nm karena panjang gelombang sinar UV adalah 200-400 nm (Gandjar, 2009).

Berdasarkan literatur, panjang gelombang maksimum dari amoxicillin adalah 247-291 nm (Moffat, et al., 2005). Namun dalam praktikum ini panjang gelombang maksimum amoxicillin yang digunakan adalah 245 nm. Berdasrkan literatur, penentuan kadar amoxicillin masuk dalam spektrofotometri UV, karena panjang gelombang maksimum yang digunakan adalah 245 nm dan masih dalam rentang panjang gelombang untuk sinar UV, yaitu 200-400 nm (Gandjar, 2009). Penentuan panjang gelombang maksimum pada pengukuran dengan

menggunakan spektrofotometri adalah langkah kerja yang sangat penting. Dalam praktikum ini, tujuan ditetapkannya panjang gelombang maksimal amoxicillin adalah untuk mengukur absorbansi kadar Amoxicillin selanjutnya. 2. Penetapan Waktu Reaksi (Operating Time) Pada percobaan yang kedua ini, langkah awal yang dilakukan adalah melarutkan Amoxicillin trihidrat sebanyak 500 mg ke dalam 250 larutan NaOH 0,1 N. Alasan digunakannya NaOH sebagai pelarut adalah karena NaOH bersifat sebagai asam kuat sedangkan amoxicillin adalah senyawa obat yang bersifat asam (Anonim, 1995), sehingga akan mempermudah pelarutan dan penyatuan dari sampel amoxicillin itu sendiri ke dalam pelarutnya. Selain itu, amoxicillin trihidrat merupakan senyawa amoxicilin yang mengandung gugugs H2O (air) didalamnya. Setelah dilarutkan dalam NaOH 0,1 N, larutan amoxicillin trihidrat tersebut diencerkan sebanyak 50x dengan NaOH 0,1 N kembali. Tujuan dari pengenceran ini adalah agar 250 ml larutan Amoxicillin dalam NaOH 0,1 N tidak terlalu pekat (lebih encer) dan butir-butir amoxicillin akan lebih melarut dalam larutannnya sehingga akan memeprmudah pembacaan dan pengukuran absorbansi dari larutan sampel amoxicillin. Hal ini diakrenakan jika suatu larutan yang akan diukur absorbansinya dengan spektrofotometri UV terlalu pekat akan butir-butri partikel dari sampel yang diuji akan menyebabkan absorbansi dari larutan tersebut tidak dapat terbaca dengan jelas, sebab terlalu banyak partikel/molekul sampel yang berinteraksi dengan cahaya UV dari spektrofotometri sehingga absorbansinya terlalu tinggi dan sulit ditentukan (Budi, 2008). Langkah selanjutnya adalah membaca absorbansi larutan sampel amoxicillin pada panjang gelombang maksimum (maks) yang telah didapatkan dari prosedur pertama (maks = 245 nm) dengan interval waktu 5, 10, 15, 30, 45 dan 60 menit. Namun, prosedur penetapan operating time ini juga tidak dilakukan dalam praktikum. Hal ini dikarenakan waktu yang tidak memadai untuk

melaksanakan prosedur ini. Berdasarkan literatur, tujuan ditentukannya operating time adalah untuk mengetahui waktu operasional dan pengukuran yang stabil, yaitu saat sampel bereaksi sempurna dengan reagen. Waktu kerja (operating time) ini ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan (Gandjar, 2009). 3. Pembuatan Kurva Baku Kadar Amoxicillin Pembuatan kurva baku dilakukan dengan cara menimbang berat amoxiciliin standar sebanyak 500 mg dengan menggunakan timbangan digital. Kemudian diencerkan dengan larutan NaOH 0,1 N sebanyak 250 mL. Konsentrasi yang didapat setelah pengenceran tersebut yaitu 2 mg/mL. Larutan tersebut kemudian diambil sebanyak 1 mL lalu diencerkan dengan larutan NaOH 0,1 N sebanyak 50 mL. Konsentrasi larutan stock yang didapat adalah 0,04 mg/mL. Kemudian larutan tersebut dibuat menjadi 3 konsentrasi yaitu 10 ppm, 15 ppm, dan 20 ppm dengan pengenceran seperti yang telah disebutkan dalam bab perhitungan di atas. Masing-masing larutan dibaca absorbansinya pada gelombang maksimum yang telah didapat yaitu 245 nm. Dari hasil pengukuran didapat absorbansinya berturut-turut adalah 10 ppm = 0,321 ; 15 ppm = 0,333 ; 20 ppm = 0,328. Gambar kurva bakunya adalah:

KURVA BAKU AMOXICILLIN


0.334 0.332 y = Absrobansi (A) 0.33 0.328 0.326 0.324 0.322 0.32 0.318 0.316 0.314 10 15 X = Konsentrasi Larutan Obat (ppm) 20 0.321 0.328 0.333

Kemudian ditentukan kurva kalibrasi regresi linear antara absorbansi larutan yang didapat dengan konsentrasi amoxicillin dalam larutan NaOH 0,1 N, dan didapatkan nilai: a = 0,305

b = 1,7.10-3 r = 0,972 Dari hasil tersebut didapatkan persamaan kurva baku, y = 1,7.10-3x+0,305. Fungsi dari pembuatan kurva baku linier adalah untuk memperoleh persamaan larutan baku dalam penentuan kadar sampel. 4. Pengukuran Kadar Amoxicillin Pertama-tama dilakukan penetapan kadar secara kuantitatif dengan mengambil secara acak 10 tablet amoxicillin dan ditimbang satu persatu. Hasil penimbangan kesepuluh tablet amoxicillin adalah 6,977 g. Setelah itu, 10 tablet amoxicillin tersebut digerus dengan mortir hingga halus dan homogen. Tujuan penggerusan ini adalah agar untuk mempermudah dan mempercepat pelarutan dari amoxicillin menggunakan larutan NaOH 0,1 N 100 ml karena semakin luas permukaan suatu zat (partikel amoxicillin semakin kecil dan luas permukaannya semakin besar) maka semakin besar pula kelarutannya (semakin banyak partikel amoxicillin yang bertumbukan dengan pelarut) (Martin, et al., 1990). Alasan digunakannya NaOH sebagai pelarut adalah karena NaOH bersifat sebagai asam kuat sedangkan amoxicillin adalah senyawa obat yang bersifat asam (Anonim, 1995), sehingga akan mempermudah pelarutan dan penyatuan dari sampel amoxicillin itu sendiri ke dalam pelarutnya. Selain itu, amoxicillin trihidrat merupakan senyawa amoxicilin yang mengandung gugugs H2O (air) didalamnya. Kemudian, timbang secara seksama 50 mg serbuk amoxicillin sebanyak 3x penimbangan ( karena dalam percobaan ini dilakukan replikasi sebanyak 3x). Timbang seksama artinya deviasi penimbangan tidak boleh lebih dari 0,1% dari jumlah yang ditimbang. Setelah menimbang 50 mg serbuk amoxicillin sebanyak 3x, serbuk tersebut masing-masing diencerkan dengan larutan NaOH 0,1 N dalam labu ukur 100 ml. Larutan yang terbentuk dikocok hingga homogen dan didiamkan selam 15 menit. Setelah 15 menit, ketiga larutan replikasi tersebut diambil sedikit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi untuk disentrifugasi selama sekitar 10 menit. Tujuan dari sentrifugasi ini adalah untuk memisahkan padatan/partikel amoxicillin yang berukuran kecil dan tersebar merata dalam cairan uji dari larutan amoxicillin tersebut. Setelah disentrifugasi, terlihat bahwa partikel amoxicillin yang tadinya masih melayang-layang dalam larutan sudah menempel pada dinding tabung reaksi dan larutan berubah menjadi lebih bening (supernatan). Selanjutnya, supernatan dari dari masing-maisng tabung reaksi diukur absorbansinya

menggunakan maks dari percobaan 1 (245 nm). Absorbansi yang didapat berada >0,8, maka perlu dilakukan pengenceran agar absorbansi yang didapat berada pada rentang 0,2 0,8 atau 15 % sampai 70 % jika dibaca sebagai transmitans. Anjuran ini berdasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam pembacaan T adalah 0,005 atau 0,5 % (kesalahan fotometrik) (Gandjar, 2009). Kemudian larutan tersebut masing-masing dibuat 100 x pengenceran. Didapatkan hasil absorbansi berturut-turut adalah 0,167 A; 0,170 A; 0,170 A. Berdasarkan perhitungan menggunakan regresi yang telah didapat y= ax+ b , akan didapatkan kadar berturut-turut yaitu 1,307 ; 1,245; 1,302. Hasil yang diperoleh ternyata bagus dan masih berada dalam rentang 0,2-0,8 A. Hal ini sesuai dnegan literatur yang menyebutkan bahwa absorban yang terbaca pada

spektrofotometer hendaknya antara 0,2 sampai 0,8 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitans. Anjuran ini berdasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam pembacaan T adalah 0,005 atau 0,5% (kesalahan fotometrik) (Gandjar, 2009). Ratarata kadarnya adalah 426,001 dan SD nya adalah 3,464 x 10-3. Sehingga didapatkan persen kadar amoxicillin, yaitu 426,001 3,464 x 10-3mg/ml.

6. Hasil vs Literatur Amoksisilin adalah antibiotik dengan spektrum luas, digunakan untuk pengobatan seperti yang tertera diatas, yaitu untuk infeksi pada saluran napas, saluran empedu, dan saluran seni, gonorhu, gastroenteris, meningitis dan infeksi karena Salmonella sp., seperti demam tipoid. Amoxicillin adalah turunan penisilin yang tahan asam tetapi tidak tahan terhadap penisilinase (Siswandono, 2000). Komposisi utama dari tablet adalah zat berkhasiat yang terkandung di dalamnya yaitu Amoxicillin, sedangkan bahan pengisi yang sering digunakan dalam pembuatan tablet yaitu bahan penghancur, bahan penyalut, bahan pengikat, bahan pemberi rasa dan bahan tambahan lainnya. Tablet harus memenuhi uji keseragaman bobot jika zat aktif merupakan bagian terbesar dari tablet dan cukup mewakili keseragaman kandungan. Penetapan kadar zat aktif bertujuan untuk mengetahui apakah kadar zat aktif yang terkandung di dalam suatu sediaan sesuai dengan yang tertera pada etiket dan memenuhi syarat seperti yang tertera pada masing-masing monografi. Bila zat aktif obat tidak memenuhi syarat maka obat tersebut tidak akan memberikan efek terapi dan juga tidak layak untuk dikonsumsi. Persyaratan utama adalah tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 105,0% dari jumlah yang tertera pada etiket (Ansel, 1989).

Amoxicillin yang dihitung kadarnya dalam praktikum adalah dalam bentuk tablet. Sehingga, amoxicillin sebagai zat aktif harus memenuhi standar kadar sesuai dengan aturan. Hasil yang diperoleh dari praktikum adalah kadar tablet sebesar 426,003 mg/ mL dari bobot tablet rata-rata adalah 697,7 mg. Hal ini berarti, kadar amoxicillin sekitar 61 % yang berarti kurang memenuhi standar sesuai literatur yang disebutkan di atas. Hasil yang berbeda ini dapat terjadi karena pada saat melarutkan amoxicillin dalam larutan NaOH saat pengocokan dan pengadukan amoxicillin dalam larutan NaOH dengan menggunakan labu ukur tidak tercampur secara sempurna dan larutan belum homogen yang ditandai dengan banyak partikel amoxicillin yang terlihat beterbangan dalam larutan sampel tersebut sehingga kadar amoxicillin yang terlarut dalam larutan tidak optimal dan sempurna . Oleh karena itu, pada saat pembacaan absorbansi dengan spektrofotometer UV hasil yang diperoleh tidak optimal. Berdasarkan literatur, penentuan kadar sampel metode regresi linier yaitu metode parametrik dengan variabel bebas (konsentrasi sampel) dan variabel terikat (absorbansi sampel) menggunakan persamaan garis regresi Kurva Larutan Baku. Konsentrasi sampel dapat dihitung berdasarkan persamaan kurava baku tersebut (Gandjar, 2009).

VII.

KESIMPULAN

Kadar amoxicillin ditetapkan dengan metode spektrofotometri berdasarkan interaksi radiasi dengan amoxicillin yang berupa proses absorbsi. Panjang gelombang maksimum yang digunakan adalah 245 nm pada spektrofotemetri Ultaviolet (UV) Kadar amoxicillin dalam tablet yang diperoleh adalah 426,003 mg/ Ml

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV , Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Ansel, 1989, Pengatar Bentuk sediaan Farmasi, Edisi 4, UI Press, Jakarta. Budi, Darmawan Setia, 2008, Penentuan Kadar Glukosa dalam Darah (www.scribd.com) diakses pada tanggal 10 Mei 2013. Day A.R dan Underwood, A.L, 1990, Analisa Kimia Kuantitatif, Erlangga, Jakarta. Gandjar, I. G., dan Abdul Rohman, 2009, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Harizul, Rivai, 1995, Asas Pemeriksaan Kimia, UI Press, Jakarta Harjadi, W., 1986, Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT Gramedia, Jakarta. Khopkar, S. M., 2003, KonsepDasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia Press, Jakarta. Khopkar, S.M., 1990, Konsep Dasar Ilmu Kimia Analitik, UI Press, Jakarta. Martin, A, et al., 1990, Farmasi Fisi, UI-Press, Jakarta. Moffat, A.C., et. al., 2005, Clarkes Analysis Of Drug And Poisons. Thirth Edition, Pharmaceutical Press. Electronic version, London. Saputra,Yoki, 200,. Spektrofotometri (http://www.chem-is

try.org/artikel_kimia/kimia_analisis/spektrofotometri/), diakses pada tanggal 10 Mei 2013. Siswandono, 2000, Kimia Medisinal, Airlangga University Press, Surabaya. Skogg, 1965, Analytical Chemistry. Edisi keenam, Sounders College Publishing, Florida. Skoog, D. A., West, D. M., dan Holler, F. J., 1994, Fundamentals of Analytical Chemistry, Edisi ke-7, Sounders College, USA. Trisno, Alex, 2012, Spektrofotometeri, http://alextrisno1.wordpress.com, diakses pada tanggal 12 Mei 2012. Triyati, etty, 1985, Spektrofotometer ultra-violet dan sinar tampak serta aplikasinya dalam oesanologi, Oseana X (1) : 39-40. Underwood, A. & Day, 2001, Analisis Kimia Kuantitatif, Penerbit Erlangga, Jakarta.