Anda di halaman 1dari 11

BAB VI MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF AGAMA HINDU

Pada bagian ini disajikan masyarakat dalam perspektif agama hindu. Bab ini difokuskan pada pemahaman tentang konsepsi pandangan agama Hindu tentang konsepsi masyarakat yang sejahtera; Peran umat Hindu dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera; Pandangan agama Hindu tentang HAM, demokrasi dan kesetaraan gender; Tanggung jawab umat Hindu dalam mewujudkan HAM, demokrasi dan kesetaraan gender.


Dengan mempelajari bab ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan tentang konsepsi masyarakat dalam perspektif agama Hindu.


Mahasiswa mampu mendefinisikan konsep masyarakat yang sejahtera. Mahasiswa mampu menjelaskan peran umat Hindu dalam mewujudkan masyarakat sejahtera. Mahasiswa mampu mendefinisikan pandangan agama Hindu tentang HAM, demokrasi dan kesetaraan gender. Mahasiswa mampu menjelaskan tanggung jawab umat Hindu dalam mewujudkan HAM, demokrasi dan kesetaraan gender.


6.1. Pandangan Agama Hindu tentang konsepsi masyarakat yang sejahtera Pengertian tentang masyarakat sebagai sebuah komunitas dalam pandangan Hindu adalah berangkat dari konsepsi kula (keluarga), gotra atau mahagotra (himpunan keluarga besar atau yang lebih besar) yang berkembang melingkupi suatu wilayah desa hingga terbentuknya suatu tatanan hidup bersama, baik yang disebut kula dresta, desa dresta atau loka dresta, dan desa dresta. Setiap kula atau gotra pada dasarnya merupakan unit terkecil dari sistem tatanan dharma karma dalam sebuah

129

kesatuan kosmos yang bertujuan mewujudkan kreta (pakertan) yakni kesejahteraan warganya. Dari konsep kerta (kreta) ini dikembangkan menjadi keraman atau desa pakraman seperti dikenal pada masyarakat Hindu di Bali. Konsepsi kerta (kreta) yang dipahamkan dalam konteks keraman ini secara ideal (dan utopis) merujuk kepada ketentraman dan keberlimpahan sebagaimana halnya di kahyangan atau sorga, dan ketentraman keberlimpahan itu adalah sepatutnya dihadirkan di bumi bagi segenap umat manusia. Hal ini disebutkan dalam Atharva Veda, sebagai berikut : Bumi yang memikul beban, bagaikan sebuah keluarga, semua orang berbicara dengan bahasa berbeda-beda dan yang memeluk kepercayaan (agama) yang berbeda pula, semoga ia melimpahkan kekayaan kepada kita, tumbuhkan penghargaan di antara anda seperti seekor sapi betina (kepada anak-anaknya). Atharva Veda XII.1.45 Engkau mengambil makanan dan airmu di tempat yang sama. Aku menyatukan anda semua dengan suatu ikatan saling pengertian. Sembahlah Tuhan Yang Maha Esa dengan kebulatan hati (musyawarah) dan tujulah kehidupan yang bersatu seperti sebuah as roda yang dikelilingi oleh jari-jarinya. Atharva Veda III.30.6 Wahai umat manusia, dengan berjalan kea rah depan anda seharusnya tidak saling bertentangan, karena anda adalah para pengikut tujuan yang sama, yang hormat kepada para orang tua, yang memiliki pemikiran-pemikiran yang mulia dan ikut serta di dalam pikiran yang sama. Majulah lebih lanjut berakap-cakap dengan kata-kata yang manis. Aku mempersatukan anda dan memberkahimu dengan pemikiran-pemikiran yang mulia. Atharva Veda III.30.5 Para dewa marut bertingkah laku seperti sesame saudara dan mereka membenci orang yang membedakan tinggi dan rendah, majulah dikau menuju kemakmuran. Rg Veda V.60.5 Semoga semua dari anda menjadi giat dan bajik. Buatlah seluruh masyarakat menjadi mulia dan hancurkanlah orang-orang yang kikir. Rg Veda IX.63.5 6.2. Peran umat Hindu dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera Setiap manusia Hindu yang merupakan bagian dari anggota keluarga, gotra, mahagotra, dan desa pakraman secara teologis telah dibekali sebuah kesadaran sosial ekonomi cultural untuk berperan mengkondisikan dan membangun sebuah

130

masyarakat yang kerta raharja (civil society) dalam ajaran Agama Hindu disebut Brahma Samad atau masyarakat madani. Upaya ini tidak sekadar tergantung kepada pemimpin Negara, akan tetapi bertumpu kepada setiap individu. Hal ini selaras dengan konsepsi filosofis Hindu yang memandang bahwa setiap manusia Hindu adalah seorang pemimpin, pertamatama adalah memimpin mengendalikan indria-indrianya ke hal yang positif, sehingga ia juga akan dapat memimpin keluarga dan masyarakat demi terciptanya kesejahteraan bersama. Mewujudkan kesejahteraan pada prinsipnya sebuah dharma agama, sekaligus dharma negara dan dharma kemasyarakatan. Sesungguhnya ajaran Bhagawadgita dalam hubungannya dengan peran umat Hindu dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera telah tersirat sebagai dasar berpijak bahwa manusia tidak lepas dari kerja. Tanpa kerja bagaimana bisa mensejahterakan keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat seperti dalam sloka: Tanpa kerja orang tak akan mencapai kebebasan, demikian juga ia tak akan mencapai kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja. Bhagawadgita III.4 Atas dasar itu maka peran masyarakat Hindu mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera salah satunya adalah dengan yadnya. Dalam pelaksanaan yadnya sudah tentu membutuhkan sarana upakara seperti buah-buahan, kelapa, kembang dan lain-lain, bahan baku ini diupayakan agar masyarakat umat Hindu menanam apa yang menjadi kebutuhan kita. Gunanya tiada lain untuk memberikan kesejahteraan pada masyarakat setempat, selain itu masyarakat Bali telah jaya berperan dalam mensejahterakan masyarakat Hindu dengan mendirikan koperasi krama Bali sebagai salah satu contoh kepedulian dalam memberikan kesejahterakan pada masyarakat. 6.3. Pandangan Agama Hindu tentang HAM, gender. Hak asasi manusia (HAM) adalah anugerah Tuhan. Sebagai makhluk pribadi, manusia memiliki hak hidup, hak milik, dan hak meredeka. Hak-hak mendasar yang kemudian diklaim sebagai hak asasi pribadi manusia, dalam sejarah perjalanan kemajuan individual barat, diratifikasi sebagai universal declaration of human rights. demokrasi dan kesetaraan

131

Layak jika setiap manusia menuntut apa yang menjadi bagian hak asasi pribadinya. Ini yang menumbuhkan sikap egoisme manusia barat yang tidak saja berbeda namun sangat bertentangan dengan apa yang dikehendaki oleh spiritualisme manusia timur sebab menurut paham Hindu adalah tergolong asura sampad, watak kekerasan yang sepatutnya dibuang jauh-jauh. Hakikat hak dalam persepsi paham Hindu tidak untuk ditonjolkan, melainkan merupakan faktor sesudah adanya kewajiban (dharma, tattwamasi). Sebab menurut paham filsuf besar Hindu, Mahtma Gandhi, menyebutkan bahwa sumber dari seluruh hak yang sejati ialah kewajiban. Asal saja kita semua melaksanakan kewajiban sendiri, tidak akan terlalu susah mengejar hak. (Mahatma Gandhi, semua manusia bersaudara, Gramedia 1988). Dan Swami Vivikananda menegaskan tiaptiap kewajiban adalah suci, dan mengabdikan diri kepada suatu kewajiban adalah suatu bentuk pemujaan terhadap Tuhan yang tertinggi. Menusia makhluk paling utama ciptaan Sanghyang Widhi telah dibekali sejumlah hak, hak hidup, hak milik dan kebebasan. Manusia lahir dan hidup merupakan proses utpeti, kemudian sthiti adalah proses kepemilikan, meski hanya untuk sementara, meski akhir dari segala kebebasan akan melalui praline menuju alam mahardika. Jadi sesungguhnya ajaran Hindu lebih dari pada paripurna untuk dapat dipahami dari sekedar memberi pengakuan dan atau perlindungan terhadap hak-hak umatnya. Jika hak asasi manusia barat cenderung menuntut pengakuan perlindungan hak asasi pribadi kelak akan muncul egoisme keangkuhan atau ahamkara. Maka hak asasi manusia versi Hindu lebih memberi pengakuan dan atau perlindungan dalam pemahaman bahwa hak-hak pribadi manusia merupakan bagian yang tidak boleh dipisahkan dengan swdharma kewajiban itu sendiri. Lebih dari itu, apa yang disebutsebut sebagai hak asasi manusia dalam pengertian Hindu, pada akhir dari segala tujuan adalah bukan untuk keakuan tetapi untuk kesadaran. Dengan demikian sebenarnya ajaran Agama Hindu jauh lebih dalam dan luas memberi pengertian HAM, dengan hak asasi pribadinya, termasuk pengakuan dan atau perlindungannya. Pada hakikatnya jika kita menyadari bahwa tiap makhluk di dunia adalah ciptaan Tuhan dan tiap makhluk memiliki hak asasi yang sama, kita akan bisa memandang tiap orang sebagai diri kita. Dengan demikian kita tidak akan

132

mempergunakan hak kita secara bebas tanpa adanya batasan. Dalam ajaran Hindu, Tattwamasi memiliki persepsi dan makna yang sama dengan nilai-nilai HAM, serta menyiratkan jiwa dan prikemanusiaan secara bebas, universal dan adil serta beradab. Tattwamasi (aku adalah kamu, kamu adalah aku) memantulkan sifat saling mengasihi. Manusia berhak bebas dari ketakutan, bebas dari kekurangan, bebas menyatakan pendapat dan bebas memeluk agama. Namun manusia juga hendaknya menyadari bahwa kebebasan yang kita terima berhak juga dirasakan oleh orang lain. Dengan demikian kita akan dapat mengontrol diri kita untuk selalu menahan diri kita untuk tidak selalu hanya menuntut hak kita tanpa memandang hak orang lain karena pada hakikatnya jika kita ingin dihargai dan ingin hak kita dihormati oleh orang lain, maka kita juga harus memperhatikan dan menghormati hak orang lain. Masyarakat yang demokratis memberikan kebebasan dan kesempatan yang sama kepada anggota-anggotanya untuk berusaha dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Nilai ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia pada dasarnya dapat menggunakan atau mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, yang oleh C.B. Macphersons disebut sebagai developmental power (Macphersons,1973). Setiap individu memiliki kebebasan untuk berusaha baik dalam artian untuk memperoleh pendapatan maupun untuk mengembangkan potensi pribadi yang dimilikinya. Bebas disini adalah bahwa setiap individu, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, boleh memilih pekerjaan atau usaha apa pun serta menggantinya dengan usaha yang lain yang dia inginkan untuk menghidupi diri dan keluarganya. Tidak ada pembatasan bahwa seorang individu tidak boleh memilih pekerjaan tertentu, atau sebaliknya tidak ada paksaaan agar individu memilih atau menerima pekerjaan tertentu. Pembatasan hanya boleh dilakukan dengan berdasarkan kualifikasi yang dimiliki oleh individu tersebut dan telah ditetapkan aturan main yang diketahui oleh semua individu yang berkepentingan. Bebas dalam pengertian ini juga dikaitkan dengan hak seorang individu untuk berkreasi dan mengembangkan potensi diri. Sebagaimana halnya dengan developmental power, ketika dilahirkan seseorang juga telah membawa dalam dirinya bakat dan kemampuan terpendam baik dibidang seni, olah raga, kepemimpinan maupun di bidang yang lain. Bakat dan kemampuan terpendam ini

133

masih merupakan potensi-potensi semata yang tidak banyak memberikan arti sebelum diaktualkan. Dan oleh karena itu, diberikan kebebasan kepada seorang individu untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya merupakan cara untuk mengaktualkan potensi-potensi tersebut. Aktualisasi potensi bukan hanya akan memberikan nilai positif kepada individu itu sendiri tetapi mungkin juga kepada lingkungannya. Implisit dalam pemberian kebebasan kepada individu untuk berusaha dan mengembangkan potensi pribadinya adalah pengakuan bahwa individu-individu tersbut memiliki persamaan hak untuk berusaha dan mengembangkan potensi pribadinya. Kebebasan yang dimiliki oleh seorang individu harus pula diartikan sebagai hak yang dimilki oleh individu yang lain. Sarana dan fasilitas yang tersedia bagi sarana-sarana berusaha dan pengembangan potensi pribadi harus dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh setiap individu. Sebagai ilustrasi yang kongkret, pemberian bantuan kredit oleh pemerintah untuk meningkatkan usaha mengandung pengertian bahwa semua orang, setelah memenuhi persyaratan yang diperlukan, berhak mengajukan permohonan dan menerima bantuan tersebut. Juga pemberian izin untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seni dan olah raga kepada individuindividu tertentu misalnya, tidak boleh diikuti dengan larangan untuk melakukan kegiatan yang sama oleh individu-individu yang lain. Salah satu kelebihan demokrasi dibandingkan dengan sistem yang lain adalah relative tingginya rasa aman yang dimiliki oleh seorang individu dalam kehidupan sosialnya. Keamanan sosial ini meliputi berbagai aspek yang sangat luas. Seorang individu tidak merasa khawatir ditipu oleh produsen suatu produk yang dibelinya, dia tidak merasa takut menghadapi pemeriksaan kepolisian, dia tidak merasa khawatir diperlakukan sewenang-wenang oleh perusahaan tempatnya bekerja seperti dipecat tanpa alas an misalnya, dan rasa aman yang lain. Dalam masyarakat yang demokratis seorang individu tahu betul hak-haknya sebagai warga Negara. Dan Negara menjamin sepenuhnya hak-hak tersebut. Rasa aman dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh seorang individu berasal dari dua hal. (1). Pemahaman sepenuhnya akan hak-hak yang dimilikinya secara implicit mengandung pengertian bahwa individu-individu tersebut memahami pula bahwa pelaksanaan hak-haknya tersebut dibatasi oleh hak-hak individu yang lain. Dengan

134

demikian pemahaman atas hak-haknya mengimplikasikan pemahaman atas kewajiban-kewajiban individu terhadap hak-hak individu yang lain. Hak dan kewajiban individu ini merupakan dua konsep yang mengakar dalam diri setiap individu dan dalam pelaksanaannya bersifat timbale balik. (2). Selain melalui sifat timbal balik antara hak dan kewajiban individu yang satu dengan individu yang lain, social security juga berasal dari adanya aturan-aturan yang jelas yang menjamin hak dan kewajiban individu. Aturan-aturan ini secara tegas mengatur pelaksanaan hak dan kewajiban serta menetapkan sanksi-sanksi bagi pelanggarnya. Dalam kehidupan sosial aturan-aturan ini benar-benar dilaksanakan dan pada saat yang sama diikuti dengan lembaga-lembaga pemberi sanksi yang memiliki kekuatan pemaksa jika terjadi pelanggaran. Manusia yang lahir ke dunia merdeka dan mempunyai martabat serta hak yang sama dihadapan Tuhan Yang Maha Esa baik laki-laki maupun perempuan. Istilah dewa-dewi, putra-putri, lingga yoni dalam ajaran Hindu menggambarkan bahwa dualisme ini sesungguhnya ada dan saling membutuhkan karena Tuhan Yang Maha Esa menciptakannya semua makhluk hidup selalu berpasangan. Gerakan emansipasi wanita yang dimulai dunia barat akibat perlakuan kaum laki-laki yang terkadang memarginalkan kaum perempuan, namun harus disadari bahwa gerakan itu bertujuan menegakkan proporsi wanita sebagaimana layaknya. Ini harus dipahami secara baik agar perilaku wanita tidak terkesan membrontak terhadap eksistensi laki-laki. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan eksistensi wanita yaitu bahwa wanita secara fisik apapun alasannya memang lebih lemah dari kaum laki-laki, di samping itu secara kodrati wanita dapat hamil, menyusui, dan datang bulan. Kodrat inipun terkadang dilanggar oleh kebanyakan kaum wanita dengan gerakan emansipasi sehingga tidak sesuai dengan jiwa gerakan itu sendiri yaitu menegakkan proporsi wanita sesuai dengan kodratnya. Wanita karier adalah hak asasi sepanjang tidak meninggalkan kodratnya sebagai wanita. Menjadi wanita karier bukan berarti boleh tidak setia dan tidak menghormati suami dan tidak menyusui anak, anggapan ini salah besar. Memang wanita dihadapan kepada hal yang sangat dilematis karena keadaan fisik yang secara kodrati lebih lemah dari lakilaki, di satu sisi ingin eksis bersama kaum laki-laki dan di sisi yang lain dia harus taat kepada kodratnya. Berkenaan dengan kesetaraan gender ini harus disikapi secara arif

135

dan bijaksana, artinya kasuistis tidak bisa dijadikan ukuran bahwa wanita kedudukannya sebagai second class apalagi out class. Pandangan ini sangat keliru dan bahkan dapat dikategorikan sebagai propokasi kemesraan hubungan laki-laki dan perempuan dengan isu gendernya. Wanita dituntut harus mampu mengkolaborasikan karier atau pekerjaan dengan urusan rumah tangga bila ia telah memilih untuk menjadi wanita karier. Kewajiban yang berlainan ini diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa agar manusia dapat hidup saling melengkapi dan harmonis. Sesungguhnya menurut ajaran Agama Hindu wanita memiliki kedudukan yang terhormat sesuai kodratnya seperti yang diuraikan dalam Manawadharmasastra sebagai berikut : wanita harus dihormati dan disayangi oleh ayahnya, kakaknya, suami dan ipar-iparnya, jika mengehendaki kesejahteraan. Di mana wanita dihormati, di sanalah para dewa merasa senang, tetapi di mana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun dalam keluarga itu akan berpahala. Di mana warga wanitanya hidup dalam kesedihan, keluarga itu cepat akan hancur, tetapi di mana wanita itu tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia. Rumah di mana wanitanya tidak dihormati sewajarnya, mengucapkan katakata kasar, keluarga itu akan hancur seluruhnya seolah-olah dihancurkan oleh kekuatan gaib. Manawadharmasastra III.55-58 Dari terjemahan sloka-sloka kitab Manawadharmasastra di atas dapat dipahami sesungguhnya kedudukan wanita atau perempuan di dalam Agama Hindu sangat dihormati, sebab bila tidak ada penghormatan kepada wanita, maka seluruh aktivitas ritual tidak akan bermanfaat. Hingga dewasa ini wanita mendapat kehormatan khususnya dalam berbagai pelaksanaan upacara yadnya. Nilai tawar perempuan menurut ajaran Hindu sebenarnya cukup kompetitip karena secara hakiki Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa menciptakan dua insane berbeda jenis kelamin ini dalam kapasitas saling membutuhkan dan saling melengkapi. Jadi keunggulan laki-laki ada kalanya tidak ada pada wanita dan keunggulan wanita tidak ada pada laki-laki, oleh karena itu maka dua insane ini terdorong saling memerlukan dan selalu ingin bersatu agar kekurangan masing-masing menjadi lengkap. Selain posisi

136

terhormat salah satu keunggulan komparatif wanita yang termaktub dalam kitab suci Veda sebagai berikut : Orang yang jahat ini memperlakukan kami sebagai wanita yang tidak berdaya. Tetapi kami berani dan sebagai ibu dari anak-anak laki-laki yang gagah perkasa, layaknya istri dari dewa Indra dan sahabat para dewa marut. Regveda X.8.9. Dengan merajuk kepada terjemahan mantram Regveda di atas semestinya dua insane Tuhan Yang Maha Esa, yakni pria dan wanita harus menyadari bahwa tidak ada yang harus dipinggirkan sehingga keutuhan, kesempurnaan dengan secara harmoni. 6.4. Tanggung jawab umat Hindu dalam mewujudkan HAM dan demokrasi, dan kesetaraan gender. Tanggung jawab dalam mewujudkan HAM dan demokratisasi bagi sebuah kehidupan masyarakat dalam pandangan Veda, pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dharma karma. Dalam pemahaman tentang dharma karma baik dalam konteks dharma agama, dharma negara, dan dharma kemasyarakatan, maka makna HAM akan dipahami sebagai satu kesatuan dengan KAM (kewajiban asasi manusia). Selanjutnya, dengan memahami makna HAM dan KAM sebagai satu kesatuan juga berarti memahami konsepsi HAR (hak asasi ruh) dan KAR (kewajiban asasi ruh) yang terlahirkan sebagai amnesia. Seperti telah disinggung dalam pembicaraan di atas, pandangan filsafat manusia Hindu lebih berat tendensinya kepada paham spritualisme, bahwa jiwaatma lebih tinggi dari badan materi. Dalam kaitan ini, Mahatma Gandhi mengatakan, sumber dari seluruh hak yang sejati ialah kewajiban. Asal saja kita semua melaksanakan kewajiban sendiri (swadharma), tidak akan terlalu susah mengejar hak. Pandangan Mahatma Gandhi ini pada dasarnya bersumber dari Bhagawadgita sebagai berikut : oleh karena itu, laksanakanlah segala kerja sebagai kewajibanmu tanpa terikat pada hasil (sebagai hak), sebab kerja yang bebas dari keterikatan bila melakukannya, maka orang itu akan mencapai (tujuan) yang tinggi. Dalam bahasa yang lain Svami Vivekananda mengatakan, bahwa tiap-tiap kewajiban adalah suci, dan mengabdikan diri kepada sesuatu kewajiban adalah suatu bentuk pemujaan terhadap Tuhan yang tertinggi. Dengan demikian sudah sangat jelas mudah diwujudkan jika perpaduan keunggulan komparatif masing-masing gender dipadukan

137

bagi masyarakat Hindu, bahwa mewujudkan HAM tidak dapat dilakukan tanpa memahami HAM. Dengan kata lain, bahwa pemahaman dan pelaksanaan HAM secara otomatis telah mengandung HAM sekalipun tidak selalu tampak dalam bentuk benda materi yang nyata


Masyarakat dalam pandangan Hindu adalah berangkat dari konsepsi kula (keluarga) gotra atau mahagotra yang melingkupi suatu wilayah desa, sehingga terbentuknya suatu tatanan hidup bersama, sedangkan konsepsi masyarakat sejahtera yang dipahamkan dalam konteks keraman yang merujuk pada ketentraman dan keberlimpahan dalam mewujudkan kreta (pakertan) yakni kesejahteraan warganya. Untuk mendapatkan / mewujudkan masyarakat sejahtera tidak lepas dari konsep ajaran moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Sebuah masyarakat yang kerta raharja (civil society) yang dalam ajaran Agama Hindu disebut dengan Brahma samad, yaitu mewujudkan kesejahteraan pada prinsipnya sebuah dharma agama sekaligus dharma Negara dan dharma kemasyarakatan.


Untuk memperdalam pemahaman anda terhadap materi diatas silahkan melatih kemampuan anda dengan menjawab pertanyaan berikut dengan singkat dan jelas 1. Jelaskan definisi masyarakat yang sejahtera? 2. Sebutkan peran umat Hindu dalam mewujudkan masyarakat sejahtera. 3. Jelaskan pandangan agama Hindu tentang HAM, demokrasi dan kesetaraan gender? 4. Jelaskan tanggung jawab umat Hindu dalam mewujudkan HAM, demokrasi dan kesetaraan gender?

138


Buatlah kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 4-6 orang (ada pembagian tugas yang jelas). Tugas kelompok. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Studi kasus : Kewajiban Adat yang memberatkan Studi kasus : Wanita dalam keluarga Studi kasus : Perdagangan wanita dan Anak Studi kasus : Upacara keagamaan dan kemiskinan. Studi kasus : Kegiatan adat dan Kebersamaan Stdi kasus : Kebiasaan masyarakat yang bertentangan dengan Agama.


PHDI Pusat. 1990. Pedoman Pembinaan Umat Hindu Dharma Indonesia . Upadasastra. Denpasar. Titib, I Made.1986.Veda, Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan , Paramita: Surabaya. Surpha, I. Wayan., 2005, Pengantar Hukum Hindu, Paramita, Surabaya. Sidharta, Tjok., 2003, Slokantara Untaian Ajaran Etika teks terjemahan dan ulasan , Paramita, Surabaya. Sudharta, dan G.Pudja.1986. Manavadharmastra, Kompedium Hukum Hindu, Hanuman Sakti: Jakarta.

139