Anda di halaman 1dari 12

Fortifikasi dapat diterapkan untuk tujuan-tujuan berikut: Untuk memperbaiki kekurangan zat-zat dari pangan (untuk memperbaiki defisiensi

i akan zat gizi yang ditambahkan). Untuk mengembalikan zat-zat yang awalnya terdapat dalam jumlah yang siquifikan dalam pangan akan tetapi mengalami kehilangan selama pengolahan. Untuk meningkatkan kualitas gizi dari produk pangan olahan (pabrik) yang digunakan sebagai sumber pangan bergizi misalnya susu formula bayi. Untuk menjamin ekuivalensi gizi dari produk pangan olahan yang menggantikan pangan lain, misalnya margarin yang difortifikasi sebagai pengganti mentega (nutlect.blogspot.com/2011/03/fortifikasi-pangan.html) LINI, Fortifikasi Pangan

Syarat syarat bahan saat ditambahakan Menurut Soekirman (2003) syarat-syarat bahan pangan yang akan dilakukan fortifikasi adalah produsen yang memproduksi dan mengolah bahan pangan tersebut terbatas jumlahnya, tersedianya teknologi fortifikasi untuk bahan pangan yang dipilih dan bahan pangan tersebut tetap aman untuk dikonsumsi dan dan tidak membahayakan kesehatan. Menurut Martianto (2011), minyak goreng merupakan bahan pangan Yang diproduksi secara terpusat dan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat, sehingga dapat dipakai sebagai alternatif bahan pangan untuk difortifikasi. Fortifikasi vitamin A ke dalam minyak goreng sawit perlu dilakukan dengan alasan: (1) Produk makanan Indonesia sebagian besar menggunakan minyak goreng; (2) Untuk mengurangi penyakit akibat KVA, maka perlu adanya kebijakan yang tepat untuk menanggulangi masalah KVA; (3) Salah satu kebijakan yang ditempuh adalah fortifikasi vitamin A dalam minyak goreng, dan (4) Pemerintah akan menetapkan standar yang mewajibkan kepada seluruh produsen minyak goreng sawit untuk melakukan fortifikasi vitamin A ke dalam produknya. Menurut Hariyadi (2011), fortifikasi vitamin A pada minyak goreng Dapat dilakukan dengan alasan: (1) Vitamin A dan pro-vitamin A sangat mudah larut dalam minyak goreng; (2) Vitamin A umumnya lebih stabil dalam minyak goreng dari pada dalam bahan pangan lainnya; (3) Minyak goreng (lipida) membantu proses absorbsi dan pemanfaatan vitamin A; (4) Minyak goreng digunakan oleh masyarakat luas; (5) Tekhnologi tersedia dan sederhana, dan (6) Biaya fortifikasi terjangkau. (http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/53123/BAB%20II%20Tinjauan%20Pust aka.pdf?sequence=4) ANONIM

Pilihan zat gizi yang ditambahkan kedalam makanan untuk difortifikasi (fortifikan) ditentukan oleh 1. 2. 3. 4. masalah kekurangan gizi yang ada dengan pertimbangan teknis kimiawi, daya serap dalam sistem pencernaan manfaat biologis (bioavailability), pengaruhnya terhadap rasa, penampilan, dan keamanan makanan, dan harga.

(http://www.kfindonesia.org/index.php?pgid=11&contentid=13) anonym

Kendala fortifikasi Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana dengan program fortifikasi di negeri ini? Kondisinya memang masih sangat memprihatinkan dan belum membudaya. Pemerintah dan pihak produsen pangan masih angin-anginan dalam menjalankan program tersebut. Padahal, industri pangan memegang peranan kunci dalam program fortifikasi. Sayangnya, dalam banyak kasus Kementerian Kesehatan masih belum efektif dalam mengendalikan dan memotivasi kalangan industri. Fortifikasi merupakan tugas dan tanggung jawab dari perusahaan pengolahan makanan. Sedangkan otoritas birokrasi bertindak sebagai penasihat, konsultan, koordinator, dan supervisor yang memungkinkan industri pangan melaksanakan fortifikasi pangan secara baik. lndustri pangan sebaiknya memiliki program fortifikasi jangka panjang melalui penyediaan teknik preservasi yang dikembangkan dan melalui peningkatan (promosi) pangan yang kaya zat gizi mikro yang tersedia secara lokal. Beberapa aspek program fortifikasi pangan, seperti penentuan prevalensi kekurangan, pemilihan intervensi yang tepat, penghitungan taraf asupan makanan (zat gizi), konsumsi pangan pembawa sehari-hari dan fortifikan yang akan ditambahkan, dan juga teknologinya sebaiknya diawasi dan dievaluasi oleh otoritas kesehatan negeri ini. (http://www.investor.co.id/home/fortifikasi-pangan-dan-mdgs/30273) anonym

Perkembangan Fortikasi di Indonesia 1) Fortifikasi Garam Sebenarnya pemerintah Belanda di tahun 1927, telah mengeluarkan peraturan yang mengharuskan yodisasi garam bagi garam rakyat. Waktu itu garam hanya dihasilkan oleh satusatunya pabrik P.N. Garam di Madura. Berarti keinginan untuk fortifikasi di Indonesia sudah ada sejak zaman Belanda, pada saat teknologinya baru ditemukan di dunia barat. Sejak merdeka tahun 1945 dimana garam tidak lagi monopoli P.N. Garam, peraturan itu tidak lagi dilaksanakan. Gagasan untuk melakukan fortifikasi khususnya untuk garam dan tepung terigu sudah menjadi wacana sejak awal tahun 1970-an, di seminar-seminar gizi dan pangan. Dengan advokasi UNICEF, perhatian pertama diarahkan untuk mengatasi masalah kurang yodium dengan fortifikasi garam yang dikenal dengan yodisasi garam. Melalui koordinasi Bappenas dan Departemen Kesehatan, gagasan untuk yodisasi garam rakyat secara nasional, dibicarakan dengan Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan serta Departemen Dalam Negeri. Hasil pembicaraan antar sektor tahun 1982 menghasilkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri (Kesehatan, Perindustrian dan Perdagangan, dan Dalam Negeri) tentang dimulainya upaya yodisasi garam rakyat. SKB ini tahun 1985 ditingkatkan menjadi SKB 4-Menteri dengan ditambah Menteri Pertanian. Dan akhirnya di tingkatkan lagi menjadi Keputusan Presiden No.69 tahun 1994 tentang wajib Yodisasi Garam. Sejak itu yodisasi garam adalah wajib menurut hukum di Indonesia. Dikeluarkannya SKB antar menteri tentang yodisasi garam, dan lobi-lobi para pakar gizi dan UNICEF tentang pentingnya fortifikasi telah mendapat perhatian para pengambil kebijakan dan perencana pembangunan di Bappenas. Pada tahun 1989 kebijakan perlunya program fortifikasi dicantumkan dalam Repelita III dan seterusnya. Program yodisasi garam merupakan program fortifikasi nasional yang pertama dalam Repelita. Pada tahun 2003 diadakan evaluasi pelaksanaan wajib yodisasi garam. Hasilnya menunjukkan kemajuan yang nyata. Apabila di tahun 1980-an hanya 30% rumah tangga menggunakan garam beryodium, pada tahun 2003 meningkat menjadi 64%. Data terakhir tahun 2006 menjadi 78% dengan catatan masih ada 30% kabupaten dengan konsumsi garam beryodium dibawah 50%. Salah satu masalah yang masih dihadapi program yodisasi garam adalah masih banyaknya beredar garam dengan label beryodium, tetapi tanpa yodium alias palsu. 2) Fortifikasi Terigu Selanjutnya kebijakan fortifikasi dalam Repelita III diperkuat dalam salah satu bab dari pasal 27 Undang-Undang Pangan tahun 1996 yang penyusunannya diprakarsai oleh Kementerian Negara

Urusan Pangan yang dibentuk tahun 1993. Bab III tentang Mutu dan Gizi Pangan, Pasal 27 (3) UU tersebut berbunyi : Dalam hal terjadi kekurangan dan atau penurunan status gizi masyarakat, pemerintah dapat menetapkan persyaratan bagi perbaikan atau pengayaan gizi pangan tertentu yang diedarkan. Kata pengayaan gizi yang dimaksud dalam UU Pangan ini adalah fortifikasi. Untuk merespon keluarnya UU Pangan tersebut Menteri Kesehatan mengeluarkan Surat Keputusan tanggal 16 Juni 1996 tentang Fortifikasi Tepung Terigu. Sementara itu di Kementerian Negara Urusan Pangan dibentuk Komisi Fortifikasi yang bersifat lintas sektor. Diskusi teknis pelaksanaan fortifikasi tepung terigu di mulai di komisi ini dengan dukungan aktif UNICEF. Sedang pembahasan secara nasional diadakan tahun 1998 di forum Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi ke VI, LIPI di Gedung Dewan Riset Nasional Serpong. Sejak itu berbagai percobaan fortikasi tepung terigu dimulai dengan dukungan dana pengadaan premix dari UNICEF, US-AID dan CIDA. Sedang pengoperasian fortifikasi tepung terigu dimulai tahun 1998 di salah satu pabrik tepung terigu di Jakarta. Akhirnya pada tanggal 14 Januari 1999, program fortifikasi tepung terigu dengan zat besi dicanangkan secara resmi oleh pemerintah yang diwakili oleh Menteri Negara Urusan Pangan dan disaksikan oleh kepala perwakilan UNICEF di Indonesia. Dua tahun kemudian fortifikasi ini menjadi wajib setelah dikeluarkannya Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.153 tahun 2001, tentang Standar Nasional Indonesia Tepung Terigu. SNI ini mewajibkan fortifikasi tepung terigu dengan zat besi, seng, asam folat, vitamin B1 dan B2. Salah satu masalah pada tahun-tahun pertama pelaksanaan fortifikasi wajib tepung terigu adalah beredarnya tepung terigu impor tanpa fortifikasi. Masalah lain, kurang dipahami arti dan maksud fortifikasi oleh masyarakat termaksud pejabat negara. Sebagai contoh kebijakan fortifikasi tepung terigu pernah dicurigai sebagai rekayasa untuk alasan monopoli perdagangan tepung terigu di Indonesia. Berkaitan dengan itu ada pejabat yang membuat pernyataan di media cetak dan radio bahwa fortifikasi pangan tidak ada gunanya bagi masyarakat. Kecurigaan yang bersumber dari ketidaktahuan tentang apa itu fortifikasi, mencapai klimaksnya pada Pebruari 2008, SNI wajib fortifikasi tepung terigu dicabut oleh pemerintah. Pencabutan ini tentu saja mendapat tantangan keras dari pers dan para pakargizi dan kesehatan, termasuk UNICEF. Pada tahun 2008/2009 harga bahan makanan pokok termasuk terigu meningkat tajam. Fortifikasi tepung terigu dituduh sebagai salah satu sebab nya. Kesalahan persepsi ini dapat diperbaiki setelah pihak Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI), selaku organisasi independen dan non-pemerintah, memberi penjelasan melalui surat dan media massa. Sementara itu pemerintah cukup tanggap menegakkan hukum. SNI Wajib fortifikasi tepung terigu dihidupkan lagi Bulan Juli 2008.

Untuk mengurangi dan kemudian menghapuskan ekspor tepung terigu tanpa di fortifikasi dari negara mana saja, ditingkat global dibentuk suatu badan independen non-pemerintah yang diberi nama Flour Fortification Initiative (FFI). Badan ini berpusat di Amerika Serikat (di Emory University) dengan visi dan misi menguniversalkan tepung terigu yang difortifikasi. Artinya beberapa tahun kedepan diharapkan semua tepung terigu di pasar dunia sudah difortifikasi dengan zat besi dan zat-zat lainnya. 3) Perkembangan Program Fortifikasi di Indonesia Perkembangan program fortifikasi di Indonesia diawal sejak tahun 1994 dengan dikeluarkannya INPRES wajib yodisasi garam. Dilanjutkan dengan percobaan-percobaan fortifikasi terigu dengan zat besi pada tahun 1997 berhasil mendorong terbitnya SNI wajib fortifikasi tepung terigu tahun 2001/2002. Perkembangan kedua fortifikasi di atas diprakrasai oleh Bappenas, Departemen Kesehatan, Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, didukung oleh UNICEF. Dari sudut kebijakan, perkembangan fortifikasi di Indonesia, didukung oleh terbitnya UU Pangan tahun 1996, dan masuknya gizi sebagai prioritas dalam REPELITA. Tahun 2003 berdiri suatu lembaga independent non pemerintah yang mendukung kebijakan dan program fortifikasi, dan terbentuklah Yayasan Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI). Kementerian Kesehatan dengan bantuan dana dari ADB dan dukungan teknis dari KFI mengembangkan fortifikasi minyak goreng dengan vitamin A di Makassar dan Taburia (sprinkles) di Jakarta Utara. Hasil kedua percobaan tersebut pada tahun 2010 sudah ditingkatkan menjadi program nasional. Tahun 2010 dirintis pula kebijakan fortifikasi beras RASKIN dengan zat besi yang dikoordinasi oleh Bappenas, Perum. Bulog, Kementerian Pertanian dengan Kementerian Kesehatan dan KFI. II. PERAN INDUSTRI DALAM PROGRAM FORTIFIKASI Harus diakui bahwa, industri pangan di Indonesia telah berkembang dengan cukup pesat. Ia telah berhasil membawa perubahan-perubahan terhadap kebiasaan dan pola makan masyarakat konsumennya. Industri pangan sudah berhasil pula menyajikan kepada konsumen beragam pilihan produk pangan olahan, termasuk yang menjanjikan kemudahan-kemudahan dalam penyiapan, penyajian dan pembuangannya. Namun demikian, pertanyaan yang perlu dikemukakan adalah apakah perubahan-perubahan cukup mendasar yang diakibatkan oleh kegiatan pengembangan industri pangan tersebut membawa manfaat terhadap status gizi dan kesehatan masyarakat konsumennya?.Industri pangan/makanan memegang peranan kunci dalam setiap program fortifikasi di setiap Negara. Hal ini disebabkan karena industri pangan memang memegang peranan yang penting dan strategis dalam membentuk pola dan kebiasaan diet

masyarakat. Apalagi dengan kegiatan promosi yang didukung oleh dana yang besar, maka industri pangan mempunyai kekuatan yang besar untuk mempengaruhi (secara positif atau pun negatif) status gizi dan kesehatan masyarakat konsumennya. Pelaksanaan fortifikasi pangan, bagaimanapun, harus dijalankan oleh industri

pangan/makanan. Akan tetapi, dalam banyak kasus departemen kesehtan sering tidak dapat atau mau mengendalikan dan memotivasi industri. Umumnya pemerintah tidak melakukan sendiri fortifikasi pangan. Hal ini adalah tugas/tanggungjawab dari perusahaan pengolahan makanan. Pegawai pemerintah harus bertindak sebagai penasehat, konsultan, koordinator, dan supervisor yang memungkinkan industri pangan/makanan melaksanakan fortifikasi pangan secara efektif dan menguntungkan. lndustri pangan/makanan juga dapat memainkan peranan yang nyata dalam strategi fortifikasi jangka panjang melalui penyediaan tenik preservation yang dikembangkan dan melalui peningkatan (promosi) pangan yang kaya zat gizimikro yang tersedia secara lokal atau sebagai fortifikan. Spesifiknya, industri pangan (baik nasional manpun multinasional) perlu untuk: 1. berpartisipasi sejak permulaam perencanaan program, yang akan menetapkan strategi fortifikasi yang layak, 2. mengidentifikasi mekanisme untuk kolaborasi antara pemerintah, industri pangan dan sistem pemasarannya, dan organisasi non pemerintah dan perwakilan donor, 3. membantu dalam mengidentifikasi pangan pembawa dan fortifikan yang sesuai, 4. menetapkan dan mengembangkan sistem jaminan mutu (quality assurance system), 5. berpatisipasi dalam dukungan-dukungan promosi dan edukasi untuk mencapai populasi sasaran. Mengingat pentingnya industri pangan sebagai salah satu penunjang berhasilnya program fortifikasi pangan maka diharapkan produk yang dikeluarkan haruslah sudah terjamin mutu dan kualitas dari pangan tersebut. Untuk menjamin mutu pangan pembawa fortifikan maka diharapkan setiap industri dapat melakukan pengontrolan mutu dan pengendaliannya (Quality Assurance ) pada program fortifikasi pangan. III. PENGONTROLAN KUALITAS DAN PENGENDALIANNYA (QUALITY ASSURANCE) PADA PROGRAM FORTIFIKASI PANGAN

A. Pengontrolan Kualitas Program Fortifikasi Pangan Industri pangan diseluruh dunia menerapkan prinsip-prinsip managemen kualitas (Quality management) untuk memperbaiki dan mempertahankan kulitas produk-produk mereka. Managemen kualitas modern mempunya tiga elemen yang saling berhubungan quality design, quality improvement dan quality control. Quality Assurance (QA) mencakup keseluruhan aktifitas organisasi yang dilakukan untuk memastikan bahwa pangan fortifikasi memenuhi standar mutu, termasuk kriteria yang ditetapkan dalam setiap peraturan pangan. Kosep ini sangat luas yang mencakup segala hal yang mempengaruhi mutu pangan fortifikasi (Nestel, P. dkk http//:www.ilsi.org). Quality Assurance sendiri merupakan suatu sistem yang proaktif, kontinu (berkesinambungan) untuk memonitoring kemampuan reproduksi (reproductibility) dan ketahanan diuji (reliability), yang dapat dilakukan dengan : 1. Menyusun standar dan desain kualitas yang dapat direspon untuk memastikan apakah standar ini dipenuhi. 2. Menentukan tindakan perbaikan yang harus dilakukan ketika standar tidak dipenuhi. 3. Melakukan pengukuran Quality Control (QC) pada batasan yang dapat dipercaya (convidens level ) Quality Control terdiri dari suatu rangkaian cara penilaian yang digunakan untuk melengkapi dokumen dengan menetapkan standar teknik melalui penentuan tujuan dan indikator yang dapat diukur. Quality Control merupakan bagaian Quality Assurance. Secara umum keuntungan yang dapat diperoleh dari implementasi sistem QA fortifikasi pangan meliputi : 1. Meningkatkan kontrol bahan mentah yang berlebih. 2. Meningkatkan mutu pangan fortifikasi. 3. Memperbaiki proses pabrik pangan fortifikasi, menghemat biaya produksi dan keuntungan lebih tinggi. 4. Standardisasi dan keseragaman pangan fortifikasi. 5. Pengorganisasian fasilitas pabrik lebih baik. 6. Pertimbangan konsumen lebih besar pada pangan fortifikasi yang mempunyai keseragman mutu tinggi. Implementasi suatu kebijakan QA sendiri dimulai dari orang yang paling senior di pabrik pangan. Dengan mengembangkan suatu kebijakan QA dan mengkomunikasikannya

kesemua staf di perusahaan, bagian managemen setuju untuk memelihara mutu yang tinggi dalam proses fortifikasi pangan. Kebijakan harus inci untuk menunjukkan bahwa managemen mengetahui secara pasti bagaimana maksud untuk mencapai dan meneruskan mutu yang tinggi dari pangan fortifikasi. Memproduksi pangan fortifikasi bermutu tinggi secara konsisten adalah tujuan dari manager maupun karyawan; untuk itu QA dan QC seharusnya dijadikan sebagai alat yang membantu untuk mencapai tujuan perusahaan. B. Elemen Elemen Sistem QA Untuk Program Fortifikasi Pangan Sistem Quality Assurance dalam program fortifikasi pangan harus mempunya hal-hal berikut : 1. Definisi indikator dan metode untuk mengukur bahwa pada akhir proses, pangan fortifikasi mempunyai ciri tertentu. 2. Proses yang sistematik dengan menentukan spesifikasi dan standar melalui inspeksi, audit teknikal, dan monitoring untuk meyakinkan bahwa level mutu didefinisikan dipelihara saat produksi, distribusi, dan pusat pemasaran. 3. Dokumentasi kegiatan Quality Assurance secara sistematik dalam bentuk catatan dan laporan. Sedangkan dalam prosedur Quality Assurance dibutuhkan poin-poin berikut dalam proses produksi : 1. Kontrol Bahan Mentah : Semua bahan harus mempunyai spesifikasi yang tepat, dan semua bahan harus diperiksa untuk memastikan bahwa bahan tersebut sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. 2. Kontrol Produksi: Faktor-faktor mutu dan Hazard (bahaya) yang berhubungan dengan proses produksi harus diidentifikasi. Critical Control Point (titik kendali kritis) harus ditetapkan dan diawasi. 3. Kontrol Pangan Fortifikasi : Pangan fortifikasi harus memenuhi semua ukuran mutu, tidak dipalsukan dan label yang sesuai. Untuk itu harus dilindungi dari pengaruh lingkungan dengan kemasan yang baik sehingga dapat memelihara keutuhan dan kestabilan kandungan mikronutrien. Untuk memastikan bahwa keutuhan produk tetap terpelihara sampai pada konsumen, pangan fortifikasi harus disimpan di tempat yang bersih, kering, kondisi ventilasi baik dan diangkut dengan transportasi yang aman, bersih dan tepat.

Sistem QA Pangan Fortifikasi memuat Elemen-Elemen Penting diantarnya : 1. Cepat, Pengujian Sederhana. Keputusan perbaikan harus dibuat tepat waktu karena sekali pangan fortifikasi diproduksi, hampir tidak pernah dapat diproses ulang. Pengujian gizi mikro harus menggunakan metode yang cepat, mudah, bila mungkin kuantitatif atau semikuantitatif. Bila menggunakan metode semikuantitatif, harus cukup sensitive menetapkan tingkat zat gizi yang ditambahkan, dan analisis sampel pangan harus dapat mewakili produk pangan fortifikasi dalam waktu tertentu. 2. Pengemasan Dalam Kantong Berlabel. Pangan fortifikasi untuk penjualan eceran harus dikemas terlebih dahulu. Di Negara-negara sedang berkembang, program fortifikasi gula dengan vitamin A dan garam dengan yodium kadang-kadang gagal menyelamatkan pangan fortifikasi secara efektif untuk konsumen karena pangan dipasarkan dalam bentuk borongan (jumlah besar) dan dijual pada konsumen dalam jumlah kecil yang diambil dari karung atau drum di took eceran. Selama praktek tersebut masih berjalan, sistem Quality Assurance dalam produksi pangan fortifikasi. Tidak dapat menjadi program yang efektif untuk mengontrol masalah defisiensi gizi mikro. Label pada pangan fortifikasi harus mencakup nama pangan, daftar bahan pembuat pangan nama dan alamat produsen, dan dosis (jumlah) minimum gizi mikro yang dapat diterima. 3. Pemeriksaan, Audit Dan Teknikal Dan Monitoring. Tujuan kegiatan ini adalah untuk membuktikan dengan tepat apakah pangan fortifikasi sesuai dengan standar dan spesifikasi yang ditetapkan. Kegiatan ini harus didasarkan pada metode analisis kantitatif. Untuk memastikan bahwa hasilnya berarti, diperlukan keahlian mengembangkan rencana. 4. Dokumentasi Yang Supervisi Menyeluruh. Satu dari sekian banyak factor yang membatasi keberhasilan program fortifikasi pangan di negara-negara sedang berkembang adalah tidak adanya dokumentasi yang tepat. Karena perwakilan (agen) control pangan sering lemah, audit mutu, pemeriksaan (inspeksi), dan kegiatan monitoring (pemantauan) jarang dilakukan. Bila dilakukan dokumentasinya umumnya miskin (sedikit). Akhirnya perusahaan kurang memelihara kegiatan QA dan QC, yang menyebabkan program fortifikasi pangan tidak efektif. Untuk mengatasi masalah ini, di rekomendasikan membentuk kelompok intern institusional untuk mengawasi program fortifikasi pangan. Kelompok ini minimal harus mewakili industri pangan yang relevan dan perwakilan pemerintah untuk melakukan supervisi dan evaluasi program fortifikasi. Selain itu

diperlukan juga bantuan konsultan nasional atau internasional untuk membantu program fortifikasi pangan. Menurut Lotfi, M. dkk, (1996). Ada 6 hal mendasar yang harus dipertimbangkan dengan hati-hati dan dilaksanakan dengan jelas untuk keberhasilan program QA, yaitu : 1. Pengorganisasian bagian QA QA harus dimulai dengan dukungan konsep kualitas secara Top Management. Kebutuhan untuk Quality Control Product seharusnya diperluas dan menjadi kebutuhan semua personil. 2. Seleksi Personil Personil yang dibagian QA seharusnya diseleksi pada kualifikasi tertentu dan dilatih untuk mampu melakukan tanggung jawab untuk keberhasilan program QA. 3. Pengambilan Sampel Untuk Evaluasi Produk dan Line Control Sampel diambil dari sebagian produk harus representative dan diseleksi secara random. 4. Standar dan Spesifikasi Jaminan merek dan control produk diikuti dengan mencampur bahan-bahan dan spesifikasi proses, tidak ada fase yang lebih penting dari QA kearah spesifikasi sempurna dan menetapkan standar mutu untuk evaluasi produk. 5. Ukuran (Laboratorium Peralatan, Prosedur dan Laporan) Laporan hasil sangat penting seperti halnya analisis sampel. Bentuk laporan berupa penemuan dan rekomendasi seharusnya lengkap setiap hari dan menjadikannya referensi untuk berikutnya. Hasil seharusnya dijadikan sebagai pedoman keputusan managemen dan kegiatan koreksi bila diperlukan. 6. Pengumpulan Data dan Interpretasi Pengumpulan data yang hati-hati menggunakan prosedur pengambilan sampel yang benar dan analisis adalah hal yang penting. Interpretasi data quality control adalah satu dari beberapa fungsi penting dalam keberhasilan pelaksanaan program QA. Penggunaan metode statistic dapat menambah nilai untuk interprestasi proses dan data yang lebih baik. Langkah-langkah implementasi program QA adalah sebagai berikut: 1. Memberi spesifikasi untuk fortifikan dan pangan pembawa (ukuran butiran, warna, daya terima, level atau dosis fortifikan). 2. Melakukan Hazard Analysis (Analisis Bahaya) pada fortifikan dan pangan yang difortifikasi secara rutin, terutama untuk kontaminan kimia, mikrobiologi dan fisik.

3. Pengambilan sampel dan pengujian fortifikan pangan pembawa dan pangan yang tekah difortifikasi untuk potensi, ukuran butiran, warna, berat bersih, pencampuran, pengepakan dan kondisi penyimpanan. 4. Mengidentifikasi dan mengatur critical control point (Titik Kendali Kritis) yang dapat menyebabkan kerugian pangan fortifikasi. 5. Penarikan kembali dengan mencari dan mengidentifikasi produk dalam kasus konsumen. 6. Mengaudit dan mengevaluasi system QA untuk menentukan apakah ada variasi elemenelemen dengan system managemen kualitas yang efektif dalam mmencapai kualitas yang diharapkan. 7. Mengimplementasikan kegiatan perbaikan (mendeteksi masalah-masalah kualitas, keamanan dan ukuran-ukuran) untuk menghindari timbulnya masalah yang sama. 8. Dokumentasi semua aspek system QA dan menyediakan dokumentasi yang dapat direspon untuk pangan fortifikasi. C. Quality Control Dalam Proses Produksi Pangan Terfortifikasi Kunci untuk memelihara standar mutu adalah mengidentifikasi dan mengoreksi masalah-masalah dalam proses fortifikasi. Bagaimana pun masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi dan dikoreksi hanya bila tahapan proses fortifikasi dipahami dengan benar. Hal ini menunjukkan identifikasi sumber yang dibutuhkan serta langkah-langkah yang harus dilakukan. Berikut ini merupakan identifikasi sumber yang dibutuhkan serta langkah-lngkah yang harus dilakukan : INPUT
Bahan Mentah Peralatan Tenaga Ahli Prosedur Fortifikasi Standar & spesifikasi .Prosedur Managemen Mutu .

OUTPUT Penerimaan & Penyimpanan bahan mentah Pemeliharaan alat Komoditi fortifikasi Menjaga / meningkatkan mutu Penyimpanan Catatan pemeliharaan

. Komoditi fortifikasi yang sesuai Gambar.1 Bagan Proses Fortifikasi spesifikasi & disimpan dengan baik
Sumber : Nestel, P. dkk (http//:www.ilsi.org)

Komoditi fortifikasi yang sesuai spesifikasi & disimpan dengan baik

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi dan menggambarkan rangkaian kejadian dalam proses fortifikasi. Pada Gambar 2 ditunjukkan contoh yang lebih rinci langkah-langkah fortifikasi gula dengan vitamin A.
Gambar.2 Urutan kegiatan produksi dalam fortifikasi vit. A pada gula Menentukan jumlah fortifikan yang dibutuhkan Order bahan

fortifikan pada gula

Menerima dan Menyimpan fortifikan Menetapkan kadar vitamin A produk

Menambahkan Pengemasan

fortifikan

Penyimpanan