Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Secara umum remaja berarti tumbuh menjadi dewasa, menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), adalah periode usia antara 10 sampai 19 tahun, sedangkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), menyebut kaum muda (youth) untuk usia antara 15 sampai 24 tahun. Sementara itu, menurut The Health Resources and Services Administrations Guidelines Amerika Serikat, rentang usia remaja adalah 11-12 tahun dan terbagi menjadi tiga tahap, yaitu remaja awal (11-14 tahun), remaja menengah (15-17 tahun), dan remaja akhir (18-21 tahun) (Widyastuti dkk, 2011). Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik, mental, sosial dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi (Yudhi, 2008). Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sekitar 16 juta perempuan berusia 15-19 tahun melahirkan setiap tahunnya, sekitar 11% dari semua kelahiran di seluruh dunia. Sembilan puluh lima persen dari kelahiran

remaja terjadi di negara-negara berkembang. Usia 10-20 tahun adalah usia remaja, di mana usia-usia tersebut mempunyai risiko yang lebih tinggi (kesulitan melahirkan, kematian bayi atau ibu) dari pada kehamilan dalam usia-usia di atasnya. Wanita yang hamil pada usia 15-19 tahun mempunyai risiko yang lebih besar untuk mengalami komplikasi kehamilan dan persalinan dibandingkan wanita yang hamil pada usia 20-24 tahun (Sarwono, 2011). Undang-undang di Indonesia telah mengatur batas usia perkawinan. Dalam undang-undang perkawinan bab II pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria mencapai umur 19 tahun dan pihak perempuan mencapai umur 16 tahun. Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. Hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik, psikis, dan mental (Narendra, 2002). Pernikahan dini merupakan perkawinan di bawah umur (19 tahun) yang target persiapannya belum dikatakan maksimal baik dari segi persiapan fisik, persiapan mental juga persiapan materi. Terdapat berbagai faktor yang melatar belakangi terjadinya pernikahan dini yang dilakukan, dan menjadi permasalahan yang besar ketika tidak ada pencarian analisa masalah yang tepat yang didasari oleh data yang akurat dan terpercaya serta solusi yang alternatif untuk memecahkan masalah ini. Penangganan adanya dampak buruk pernikahan dini, yaitu dengan pendewasaan usia kawin, keluarga sejahtera dan pemerintah peduli

remaja berupa solusi baru yang lebih objektif yang dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk mengatasi maraknya pernikahan dini (Sasmita, 2008). Di Indonesia wanita yang berusia 25 sampai 29 tahun yang menikah dibawah usia 18 tahun mencapai 34 %, dan Indonesia termasuk dalam lima besar Negara-negara yang persentase pernikahan dini tertinggi di dunia. Berdasarkan usia pernikahan dan level pendidikan, data statistik di Indonesia menunjukkan terdapat 20 % wanita yang menikah diusia sekitar 15-19 tahun dan 18 % wanita yang menikah dengan laki-laki dibawah usia 20 tahun. Pernikahan dini 15-20% dilakukan oleh pasangan baru, secara nasional pernikahan dini usia pengantin di bawah usia 16 tahun sebanyak 26,9% (Depkes RI, 2005). Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mayoritas penduduk perempuan usia perkawinan pertamanya diantara 19-24 tahun yaitu masing-masing sebesar 45,08 persen dan 45,59 persen. Sedangkan persentase penduduk perempuan yang menikah pada usia 18 tahun ke bawah (10-15 dan 16-18tahun) masih lebih tinggi di daerah perdesaan dari pada daerah perkotaan yaitu sebesar 44,02 persen dan 35,86persen. Hal ini menggambarkan bahwa penduduk yang tinggal di daerah perkotaan memiliki kesadaran yang lebih tinggi untuk menunda perkawinan hingga mencapai usia yang cukup matang dari pada penduduk daerah perdesaan. Fenomena ini dapat dipahami karena penduduk di daerah perkotaan lebih mudah untuk mengakses informasi, fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan, sehingga perempuan yang menunda usia perkawinan lebih banyak dibandingkan di daerah perdesaan. Semakin

terbukanya kesempatan kerja bagi perempuan dan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, merupakan beberapa faktor yang turut mempengaruhinya (BPS, 2010). Pernikahan diusia muda menimbulkan banyak dampak baik positif maupun negatif yang akan terjadi baik terhadap diri remaja sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Dampak negatif perkawinan usia muda terhadap perempuan jauh lebih besar dan lebih kompleks dibandingkan laki-laki. Dampak-dampak yang ditimbulkan ini berpengaruh pada kualitas keluarga yang dihasilkan, ditinjau dari sisi ketidaksiapan secara fisik bagi calon ibu remaja dalam mengandung dan melahirkan bayinya, maupun kesiapan psikis dalam menghadapi persoalan sosial atau ekonomi rumah tangga, dan membina pernikahan serta menjadi orang tua yang bertanggung jawab (Fransiska, 2011). Berdasarkan hasil survey sementara dari beberapa orang siswi SMA Negeri 2 Indra Jaya Kecamatan Indra Jaya didapatkan hasil bahwa banyak siswi yang tidak mengerti tentang pernikahan dini dan dampak yang akan ditimbulkan dari pernikahanan dini baik dari segi kesehatan maupun dari segi lainnya. Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa masih sangat rendahnya pengetahuan

siswi tentang pernikahan dini serta dampaknya pada kesehatan reproduksi, dan masih perlu banyak bimbingan serta pengetahuan tentang pernikahan dini dan dampak yang akan ditimbulkan bagi kesehatan.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan fenomena di atas, maka peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang Bagaimana Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dampak Pernikahan Dini Pada Kesehatan Reproduksi Di SMA Negeri 2 Indra Jaya Kecamatan Indrajaya Kabupaten Pidie Tahun 2013 ?.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Ingin mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini pada kesehatan reproduksi di SMA Negeri 2 Indra Jaya Kecamatan Indrajaya Kabupaten Pidie Tahun 2013. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswi tentang dampak

pernikahan dini terhadap kehamilan. b. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswi tentang dampak

pernikahan dini terhadap persalinan. c. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswi tentang dampak

pernikahan dini terhadap bayi yang dilahirkan. d. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswi tentang dampak

pernikahan dini terhadap organ reproduksi

D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian diharapkan ini dapat bermanfaat bagi 1. Peneliti Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan ilmu pengetahuan tentang kesehatan reproduksi khususnya mengenai pernikahan dini 2. Remaja Putri Dapat mengetahui dampak apa saja yang timbul akibat pernikahan dini, khususnya untuk kesehatan reproduksi, agar remaja putri sedapat mungkin menghindari pernikahan yang terjadi di usia dini. 3. Masyarakat Sebagai masukan bagi masyarakat khususnya orang tua yang memiliki remaja putri, agar dapat memberikan informasi mengenai dampak yang dapat terjadi pada pernikahan dini. 4. Institusi Pendidikan Dapat menjadi bahan masukan berupa referensi dalam melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi remaja.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003). B. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : 1. Tahu (know), diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari selanjutnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang di pelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya. 2. Memahami (comprehension), diartikan sebagai sesuatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham
7

terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya. 3. Aplikasi (aplication), diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain. 4. Analisa (analisys), diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam komponen - komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5. Sintesis (synthesis), menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dan formulasi - formulasi yang ada. 6. Evaluasi (evaluation), berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek atau materi. Penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada

C. Remaja Remaja adalah individu yang sedang berada pada masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dan ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat dari aspek fisik, psikis dan sosial. Masa remaja merupakan masa

peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Masa ini sering disebut dengan masa pubertas. Namun demikian menurut beberapa ahli, selain istilah pubertas digunakan juga istilah adolesens, dalam bahasa inggris adolescence (Poltekes Depkes Jakarta, 2010). Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologik, perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Di sebagian besar masyarakat dan budaya masa remaja pada umumnya dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun (Notoatdmojo, 2007). Menurut Soetjiningsih (2004) Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak yang dimulai saat terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun, yaitu masa menjelang dewasa muda. D. Pernikahan Dini Pengertian pernikahan dini adalah sebuah bentuk ikatan atau pernikahan yang salah satu atau kedua pasangan berusia di bawah 18 tahun atau sedang mengikuti pendidikan di sekolah menengah atas. Jadi sebuah pernikahan disebut pernikahan dini, jika kedua atau salah satu pasangan masuk berusia di bawah 18 tahun (Fransiska, 2011). Perkawinan dalam usia muda merupakan salah satu faktor yang menyebabkan keganasan mulut rahim. Kanker serviks adalah kanker yang

10

menyerang bagian ujung bawah rahim yang menonjol ke vagina. Kanker serviks merupakan kanker yang berasal dari leher rahim ataupun mulut rahim yang tumbuh dan berkembang dari serviks, dapat menembus keluar serviks sehingga tumbuh diluar serviks bahkan terus tumbuh sampai dinding panggul. Remaja tahap awal beresiko paling besar untuk menghadapi masalah dalam masa hamil dan melahirkan bayi dengan BBLR, kematian bayi dan abortus, remaja tahap awal cenderung memulai perawatan prenatal lebih lambat dari pada remaja berusia lebih tua dan wanita dewasa, mereka memiliki resiko tinggi (Apriliana, 2011). Pada masa remaja ini, alat reproduksinya belum matang untuk melakukan fungsinya. Rahim (uterus) baru siap melakukan fungsinya setelah umur 20 tahun, karena pada masa ini fungsi hormonal melewati masa yang maksimal. Pada usia 14-18 tahun, perkembangan otot-otot rahim belum cukup baik kekuatan dan kontraksinya sehingga jika terjadi kehamilan rahim dapat rupture (robek). Pada usia 14-19 tahun, sistem hormonal belum stabil, kehamilan menjadi tidak stabil mudah terjadi pendarahan dan terjadilah abortus atau kematian janin. Usia kehamilan terlalu dini dari persalinan memperpanjang rentang usia reproduksi aktif. Hal ini dapat mengakibatkan resiko kanker leher rahim dikemudian hari (Fardian, 2007).

11

E. Dampak-dampak yang ditimbulkan dari pernikahan dini 1. Dampak terhadap kehamilan Dampak pernikahan dini terhadap kehamilan menurut Anonim, (2005) diantaranya adalah sebagai berikut : a. Kurangnya Perawatan Selama Hamil dan Sebelum Melahirkan Gadis remaja yang hamil terutama jika tidak mendapatkan dukungan dari keluarganya sangat berisiko mengalami kekurangan dalam hal perawatan selama hamil dan sebelum melahirkan. Padahal perawatan ini sangat penting terutama dibulan-bulan awal kehamilan. Perawatan ini berguna untuk memantau kondisi medis ibu dan bayi serta

pertumbuhannya, sehingga jika ada komplikasi bisa tertangani dengan cepat. b. Hipertensi Remaja yang hamil memiliki resiko mengalami tekanan darah tinggi atau disebut dengan pregnancy-induced hypertension, dibandingkan dengan perempuan yang hamil diusia matang. Kondisi ini memicu terjadinya preeklamsia, yaitu kondisi medis berbahaya yang

menggabungkan tekanan darah tinggi dengan kelebihan protein dalam urin, pembengkakan tangan dan wajah ibu serta kerusakan organ. Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus.

12

Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri, ) c. Efek preeklampsia bagi janin Preeklampsia dapat menyebabkan gangguan peredaran darah pada plasenta. Hal ini akan menyebabkan berat badan bayi yang dilahirkan relatif kecil. Selain itu, preeklampsia juga dapat menyebabkan terjadinya kelahiran prematur dan komplikasi lanjutan dari kelahiran prematur yaitu keterlambatan belajar, epilepsi, sereberal palsy, dan masalah pada pendengaran dan penglihatan. d. Resiko Tertular Penyakit Menular Seksual (PMS) Remaja yang melakukan hubungan seks memiliki risiko tertular penyakit seksual seperti chlamydia dan HIV. Hal ini sangat penting untuk diwaspadai karena PMS bisa menyebabkan gangguan pada serviks (mulut rahim) atau menginfeksi rahim dan janin yang sedang dikandung.

13

e. Depresi Pasca Melahirkan Kehamilan yang terjadi pada saat remaja, terlebih yang tidak mendapat dukungan dari suami (yang menghamili) berisiko tinggi mengalami depresi pasca melahirkan. Depresi ini bisa mengganggu perawatan bayi yang baru lahir dan juga perkembangan remaja tersebut ke depannya, karena umurnya yang belasan tahun sudah harus mengurusi anak, ditambah lagi jika dalam pengurusannya tidak ditunjang oleh dukungan suami (bagi remaja yang sudah menikah) dan oleh laki-laki yang menghamili (bagi remaja yang hamil di luar nikah). f. Keguguran Keguguran pada hamil usia muda dapat terjadi secara tidak disengaja, misalnya karena terkejut, cemas, stres. Tetapi ada juga keguguran yang sengaja dilakukan oleh tenaga non profesional sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping yang serius seperti tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan. g. Anemia Kehamilan Anemia gizi lebih sering dijumpai dalam kehamilan karena pada masa ini terjadi peningkatan kebutuhan zat-zat makanan untuk mendukung perubahan-perubahan fisiologis selama hamil. Penyebab anemia pada saat hamil diusia muda disebabkan kurang pengetahuan akan pentingnya gizi

14

pada saat hamil di usia muda, karena pada saat hamil mayoritas seorang ibu mengalami anemia. Tambahan zat besi dalam tubuh fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah, membentuk sel darah merah janin dan plasenta, lama kelamaan seorang yang kehilangan sel darah merah akan menjadi anemis. 2. Dampak pernikahan dini terhadap persalinan Beberapa persoalan yang dikemukakan adalah risiko kesehatan anakanak yang dinikahkan di bawah umur, misalnya ibu usia di bawah 15 tahun lima kali mengandung resiko pendarahan, serta kesulitan melahirkan. Kematian ibu di kalangan usia bawah diestimasikan dua kali hingga lima kali lebih banyak dari ibu berusia dewasa. Seorang remaja dari segi fisik, remaja itu belum kuat, tulang panggulnya masih terlalu kecil sehingga dapat membahayakan proses persalinan. Pada tahap remaja, seorang anak sedang mengalami pertumbuhan. Bila ia juga harus mengandung janin yang sedang tumbuh maka akan terjadi perebutan dalam perkembangan sehingga walaupun mungkin selamat namun kualitas anak yang dilahirkan remaja tentu akan berbeda dengan yang dilahirkan oleh perempuan dewasa yang memang sudah siap untuk melahirkan (Fransiska, 2011). Perdarahan pada saat melahirkan antara lain disebabkan karena otot rahim yang terlalu lemah dalam proses involusi. Selain itu juga disebabkan selaput ketuban stosel (bekuan darah yang tertinggal di dalam rahim).

15

Kemudian proses pembekuan darah yang lambat dan juga dipengaruhi oleh adanya robekan pada jalan lahir (Anomim. 2005). 3. Dampak pernikahan dini terhadap anak yang dilahirkan Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi terutama rahim yang belum siap dalam suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah (BBLR) juga dipengaruhi gizi saat hamil kurang dan juga umur ibu yang belum menginjak 20 tahun. Cacat bawaan dipengaruhi kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan, pengetahuan akan asupan gizi rendah, pemeriksaan kehamilan (ANC) kurang, keadaan psikologi ibu kurang stabil. Selain itu cacat bawaan juga disebabkan karena keturunan (genetik) proses pengguguran sendiri yang gagal, seperti dengan minum obat-obatan (gynecosit sytotec) atau dengan loncat-loncat dan memijat perutnya sendiri. Ibu yang hamil pada usia muda biasanya pengetahuannya akan gizi masih kurang, sehingga akan berakibat kekurangan berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan dengan demikian akan mengakibatkan makin tingginya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dan cacat bawaan (Anonim, 2005). Dampak bagi anak akan melahirkan bayi lahir dengan berat rendah, sebagai penyebab utama tingginya angka kematian ibu dan bayi, cedera saat lahir, komplikasi persalinan yang berdampak pada tingginya mortalitas. Kehamilan yang terjadi pada saat remaja bisa beresiko tinggi mengalami

16

depresi pasca melahirkan, Para gadis ini akan merasa down dan sedih setelah melahirkan bayinya. Depresi bisa menganggu pertumbuhan bayi yg baru lahir dan juga perkembagan remaja tersebut karena itu remaja harus berbicara secara terbuka dengan dokter atau orang lain yang dipercayai (Nugraha, 2002). 4. Dampak pernikahan dini terhadap organ reproduksi Remaja yang menikah dini baik secara fisik maupun biologis belum cukup matang untuk memiliki anak, sehingga kemungkinan anak cacat dan anak ataupun ibu meninggal saat proses persalinan lebih tinggi. Pernikahan dini juga berisiko mengakibatkan penyakit kanker mulut rahim dan rasa sakit pada kemaluan wanita saat beruhubungan intim. Perempuan yang menikah dibawah umur 20 tahun beresiko terkena kanker leher rahim. Pada usia remaja, sel-sel leher rahim belum matang. Kalau terpapar human papiloma virus atau HPV pertumbuhan sel akan menyimpang menjadi kanker. Leher rahim ada dua lapis epitel, epitel skuamosa dan epitel kolumner. Pada sambungan kedua epitel terjadi pertumbuhan yang aktif, terutama pada usia muda. Epitel kolumner akan berubah menjadi epitel skuamosa. Perubahannya disebut metaplasia. Kalau ada HPV menempel, perubahan menyimpang menjadi displasia yang merupakan awal dari kanker. Pada usia lebih tua, di atas 20 tahun, sel-sel sudah matang, sehingga resiko makin kecil. Gejala awal perlu diwaspadai, keputihan yang berbau, gatal serta perdarahan setelah senggama. Jika diketahui pada stadium sangat dini atau prakanker, kanker

17

leher rahim bisa diatasi secara total. Untuk itu perempuan yang aktif secara seksual dianjurkan melakukan tes Papsmear 2-3 tahun sekali (Apriliana, 2011). F. Resiko Pernikahan Dini Resiko yang terjadi karena pernikahan dini menurut Sibagariang (2010), adalah sebagai berikut : 1. Resiko sosial pernikahan Dini Masa remaja merupakan masa untuk mencari identitas diri dan membutuhkan pergaulan dangan teman-teman sebaya. Pernikahan dini secara secara sosial akan menjadi bahan pembicaraan teman-teman remaja dan masyarakat. Kesempatan untuk bergaul dengan teman sesama remaja hilang, Sehingga remaja kurang dapat membicarakan masalah-masalah yang dihadapinya. Pernikahan dini dapat mengakibatkan remaja berhenti sekolah sehingga kehilangan kesempatan untuk menuntut ilmu sebagai bekal untuk hidup di masa depan. 2. Resiko kejiwaan pernikahan dini Perkawinan pada umumnya merupakan suatu masa peralihan dalam kehidupan seseorang dan oleh karenanya mengandung stres. Untuk itu menghadapi perkawinan diperlukan kesiapan mental dari suami maupun istri, yaitu bahwa dia mulai beralih dari masa hidup sendiri kemasa hidup bersama

18

dan berkeluarga. Kesiapan dan kematangan mental ini biasanya belum dicapai pada umur dibawah 20 tahun. 3. Resiko Kesehatan Pernikahan Dini Resiko kesehatan terutama terjadi pada pasangan wanita pada saat mengalami kehamilan dan persalinan. Kehamilan mempunyai dampak negative terhadap kesejahteraan seorang remaja. Sebenarnya ia belum siap mental untuk hamil, namun karena keadaan ia terpaksa menerima kehamilan dengan resiko kurang darah (anemia), Kurang gizi pada masa kehamilan, penyulit pada saat melahirkan, dan bisa saja pasangan yang kurang siap untuk menerima kehamilan cenderung untuk mencoba melakukan aborsi yang dapat berakibat kematian bagi wanita.

G. Upaya Penanggulangan Resiko Pernikahan Dini Upaya penanggulangan resiko tinggi pernikahan dini menurut Sibagariang (2010), adalah sebagai berikut : 1. Pencegahan Orang tua perlu manyadari bahwa pernikahan dini bagi anaknya penuh dengan resiko yang membahayakan baik secara sosial, kejiwaan maupun kesehatan. Remaja putri perlu diberikan informasi tentang hak-hak reproduksinya dan resiko pernikahan dini. Bagi remaja yang belum menikah, kehamilan remaja dapat dicegah dengan cara menghindari terjadinya

19

senggama, itu berarti remaja harus mengisi waktunya dengan kegiatankegiatan yang akan memberi bekal hidupnya dimasa depan. 2. Penanganan Kehamilan remaja merupakan kehamilan yang beresiko karena itu remaja yang hamil harus intensif memeriksakan kehamilannya. Dengan demikian diharapkan kelainan dan penyulit yang akan terjadi dapat segera di obati.

H. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dampak Pernikahan Dini Pada Kesehatan Reproduksi 1. Informasi Menurut Soetjiningsih (2004) bahwa faktor yang menjadi sebab terjadinya pengetahuan yang kurang tentang masalah remaja terutama tentang pernikahan dini yaitu institusi pendidikan langsung yaitu guru sekolah dan orang tua yang kurang siap memberikan informasi yang kurang dan tepat waktu. Semakin maju tehknologi, membaiknya komunikasi mengakibatkan membanjirnya arus

informasi dari luar yang sulit sekali diseleksi. Informasi adalah keterangan pemberitahuan kabar berita dari suatu media dan alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, poster, spanduk, internet, dan tenaga kesehatan. Media komunikasi adalah media yang digunakan pembaca untuk mendapatkan informasi sesuatu atau hal tentang pengetahuan. Berkaitan dengan penyediaan informasi bagi manajemen dalam

20

pengambilan keputusan, informasi yang diperoleh harus berkaitan. Kualitas informasi tergantung tiga hal yaitu akurat, tepat waktu dan relevan. (Tugiman, 2006). Sumber informasi mempengaruhi pengetahuan baik dari media maupun orang-orang dalam terkaitnya dengan kelompok manusia memberi kemungkinan untuk dipengaruhi dan mempengaruhi anggota-anggota. Seseorang di dalam proses pendidikan juga memperolah pengetahuan melalui berbagai macam alat bantu. Alat bantu media akan membantu dalam melakukan penyuluhan. Agar pesan kesehatan dapat disampaikan dengan jelas dengan media orang dapat lebih mengerti fakta kesehatan yang dianggap rumit sehingga mereka dapat

menghargai betapa bernilainya kesehatan (Notoatmodjo, 2003). Kriteria informasi baik jika mendapatkan informasi 6 media, dan cukup jika mendapatkan informasi < dari 6 media (Notoatmodjo, 2005). 2. Peran Orang Tua Orang tua merupakan tempat anak berlindung dan mendapatkan kedamaian melalui keserasian antara ketertiban dan ketrentraman dengan mempertimbangkan pengaruh-pengeruh yang datang dari luar rumah, tidaka ada pihak lain yang dapat menggantikan peranan orang tua dengan seutuhnya. Keberhasilan orang tua di dalam menunjang motivasi dan keberhasilan studi terletak pada eretnya hubungan orang tua dengan anaknya (Soekanto, 2007). Orang tua harus segera menjelaskan apa sesungguhnya yang terjadi

21

dalam tubuh anak dan beberapa perubahan yang harus diterimanya. Orang tua juga harus memberikan pengetahuan tentang pernikahan dini yang akan berdampak pada kesehatan reproduksi dan dapat mengancam masa depan sianak, anak akan kehilangan waktu bermain dengan teman-temannya dan kehilangan waktu untuk belajar (Anonim, 2005).

I. Kerangka Teori Berdasarkan pendapat Tugiman (2006) dan Soekanto (2007) faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan remaja adalah informasi dan peran orang tua. Independen Menurut Tugiman (2006) - Informasi Menurut Soekanto (2007) - Peran orang tua Gambar 1. Kerangka Teori Pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini Dependen

22

BAB III KERANGKA KONSEP

A.

Kerangka Konsep Kerangka konsep dalam penelitian ini mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Tugiman (2006) dan Soekanto (2007) yang mengatakan pengetahuan remaja dipengaruhi oleh informasi dan peran orang tua. Independen
Informasi

Dependen

Peran orang tua

Pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini

Gambar 2. Kerangka Konsep

22

23

B. No

Definisi Operasional Variabel Defenisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Hasil Ukur

Variabel Dependen 1. Pengetahuan remaja Segala sesuatu Mengedarkan yang diketahui kuesioner remaja Kuesioner Ordinal Baik Cukup Kurang

Variabel Independen 1. Informasi Pengetahuan yang didapat baik dari media masa maupun perorangan Mengedarkan kuesioner Kuesioner Ordinal Baik Cukup

2.

Peran Orang Suatu peran dalam Tua memberikan suatu informasi mengenai persoalan tentang pernikahan dini

Mengedarkan kuesioner

Kuesioner

Ordinal Berperan Tidak Berperan

24

C.

Cara Pengukuran Variabel 1. Menurut Notoatmodjo ( 2003 ), cara pengukuran tingkat pengetahuan terbagi atas 3 katagori : a. Tingkat pengetahuan baik, jika jawaban responden benar lebih besar dari 76 100 % dari total skor b. Tingkat pengetahuan cukup, jika jawaban responden benar antara 56 75 % dari total skor c. Tingkat pengetahuan kurang, jika jawaban responden benar kurang dari 56 % dari total skor 2. Informasi terbagi atas 2 katagori (Notoatmodjo, 2005) : a. Baik jika responden medapatkan informasi 6 informasi b. Cukup jika responden mendapatkan informasi < 6 informasi 3. Peran orang tua terbagi atas 2 katagori (Soekanto, 2007) : a. Berperan jika menjawab ya dengan jumlah 2 pertanyaan b. Tidak berperan jika menjawab ya dengan jumlah < 2 pertanyaan

25

BAB IV METODELOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode

pendekatan cross sectional untuk melihat Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dampak Pernikahan Dini Pada Kesehatan Reproduksi Di SMA Negeri 2 Indra Jaya Kecamatan Indra Jaya Kabupaten Pidie Tahun 2013 B. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Negeri 2 Indra Jaya Kecamatan Indra Jaya Tahun 2013. Waktu penelitian direncanakan pada bulan Juni 2013. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi : Populasi dalam penelitian ini adalah siswi kelas 1 dan 2 yang ada di SMA Negeri 2 Indra Jaya dengan jumlah 66 orang 2. Sampel : Sampel adalah semua populasi yang diteliti adapun tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Total sampling yaitu seluruh populasi dijadikan sampel dengan jumlah 66 orang siswi.

25

26

D. Cara Pengumpulan Data 1. Data Primer Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari responden dengan

membagikan koesioner yang telah disusun sesuai dengan tujuan penelitian yang berisikan daftar pertanyaan dengan pilihan jawaban yang telah disiapkan. 2. Data Sekunder Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang didapatkan dari SMA Negeri 2 Indra Jaya.

E. Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan dengan cara manual. Pelaksanaanya dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : (Notoatmodjo, 2003) 1. Editing, langkah ini bertujuan agar data yang diperoleh dapat diolah dengan baik untuk mendapatkan informasi yang tepat. 2. Coding, yaitu memberikan kode atau angka tertentu terhadap kuisoner yang diajukan. 3. Transfering, data yang telah diberi kode disusun secara berurutan dari responden pertama sampai responden terakhir untuk dimasukkan ke dalam tabel sesuai dengan variabel yang diteliti. 4. Tabulating, yaitu data yang dikumpulkan ditabulasi dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

27

F. Analisa Data Analisa data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan presentase untuk masing-masing katagori dalam tabel distribusi frekuensi dengan menggunakan rumus yang dikutip dari Budiarto (2002) sebagai berikut :

P=

f 100 % n

Keterangan : P = Persentase f = Frekuensi teramati n = Jumlah sampel