Anda di halaman 1dari 5

Maaf ini adalah tulisan yang mulai berumur dan cenderung basi topiknya.

Tidak saya posting sebelumnya karena saya flag triple-X jadi masuk kotak unpublished terkunci. Beberapa hari terakhir ini ada beberapa posting dan komen menggelitik yang berkaitan dengan topik tulisan ini jadi saya pikir mungkin ada baiknya saya share saja. Membaca posting dari seorang sejawat DIBer (minjam istilah yang dipopulerkan TS Adwed Buchary St. Bandaro) tentang wacana para Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) di daerahnya yang menginginkan agar dapat mendapat kesempatan belajar menjadi dokter spesialis supaya tidak mendapat halangan dari para dokter di sekitarnya untuk menduduki posisi top leader di institusi kesehatan setempat menimbulkan banyak pikiran dalam benak saya. Pikiran pertama yang timbul adalah bahwa wacana itu hanya lelucon di siang hari yang tidak perlu memancing polemik, bahkan tidak perlu ditanggapi. Pikiran yang muncul berikutnya adalah "Bodoh." Sekolah dokter dan dokter spesialis adalah pendidikan profesi. Kalau pun berguna untuk penjenjangan karir semata-mata untuk penjenjangan profesi saja. Bukan untuk jabatan struktural. Untuk jabatan struktural penjenjangannya sangat berbeda. Bukan university based dengan diploma sarjana tapi berupa pelatihan, penataran, workshop periodik yang diselenggarakan oleh instansi terkait atau lintas instansi dibawah koordinasi Pemda. Pendidikan penjenjangan struktural yang utama adalah Diklat PIM I, II, III dan IV, disertai beberapa diklat singkat pendukung. Atau dikoordinasi di tingkat nasional untuk para calon topmost leaders seperti Lemhanas (resminya tidak masuk penjenjangan struktural). Gelar sarjana seberapapun tingginya dan apapun jenisnya hampir tidak berpengaruh dengan penjenjangan struktural. Paling bisa memancing pertimbangan pimpinan untuk memiilih pegawai mana yang akan mendapat promosi, misalnya yang gelarnya plus Master atau Doktor lebih dipertimbangkan dari yang diplomanya hanya SKM. Sebatas itu saja. Yang S3 pun kalau dipilih menjadi pejabat struktural masih diwajibkan untuk mengikuti pelatihan penjenjangan karier struktural. Harusnya para SKM di tempat sejawat tersebut lebih mengerti dulu yang seperti ini sebelum memilih jalur "bunuh diri" SKM sekolah menjadi dokter spesialis. Pikiran ketiga yang timbul di otak saya tetap masih "Bodoh." Kalau jabatan yang diincar cuma sebagai Kepala Puskesmas atau jabatan fungsional lain termasuk jabatan struktural (bahkan sampai Kepala Dinas Kesehatan) SKM tidak ada halangannya secara legal. Yang dituangkan secara eksplisit dalam Undang Undang di mana top leader harus tenaga medis (dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dokter gigi sesialis) hanya RS sebagaimana yang tertuang dalam UU No. 44 tahun 2009 tentang RS. Jabatan di institusi kesehatan lain masih memungkinkan dijabat oleh orang yang bergelar sarjana lain (bahkan banyak yang bukan sarjana). Apalagi sekarang dengan sistem desentralisasi dan otonomi daerah pengangkatan pejabat di suatu institusi benar-benar diserahkan kepada kebijakan Kepala Daerah setempat. Hanya sedikit jabatan yang masih diatur ketat persyaratannya oleh aturan hukum yang ditetapkan secara sentral oleh negara seperti jabatan Direktur RS tersebut. Ide berikut yang terlintas adalah "Sarkasme." Ya, sarkasme. Tanpa bermaksud menggeneralisasi kata ini untuk semua SKM saya punya beberapa rekan bergelar SKM yang kepanjangan gelarnya lebih cocok sebagai "Sarkasme" dibanding Sarjana Kesehatan Masyarakat. Kalau bicara soal diri, pekerjaan dan lingkungan pekerjaannya selalu bernada sarkastik. Langsung atau tidak langsung selalu menyerang para dokter. Selalu menuduh dijadikan second best atau never be the best di lingkungan kerjanya. Selalu merasa dijadikan second choice, third choice, fourth chice and so on kalau ada promosi jabatan. Selalu merasa dokter adalah penghambat perkembangan karirnya. Selalu merasa dianaktirikan tanpa menyadari bahwa sesungguhnya anak tiri negara ini adalah para dokter. Parahnya para sarkastik ini tidak pernah sadar bahwa promosi jabatan selalu lepas karena ulah mereka sendiri, karena kemampuan dan kemauan yang kurang. Sebagian kerjanya cuma ngopi di warung selama jam kerja. Yang perempuan lebih mirip ibu-ibu pasar yang di kantor kerjanya cuma mikir jam berapa bisa ke pasar, omongan cuma berkisar kasur, dapur dan sumur. Diajak ngobrol apa aja tidak nyambung. Kalau sebagai bawahan pelaksana saja mereka tidak becus bagaimana mereka akan dipromosikan menjadi decision maker? Tapi ini cuma pengalaman individual, tidak bermaksud menggeneralisasi hal ini untuk semua yang bergelar SKM. Tidak terhitung juga SKM yang etos kerjanya sangat baik, prestasi dan kinerjanya prima serta dapat menjadi kawan yang baik dalam lingkungan kerja dan menjadi tetangga yang baik dalam kehidupan di luar kantor. Yang baik ada di semua tempat, yang buruk begitu juga. Apapun gelar kesarjanaannya. Pikiran yang berikut muncul kembali lagi "Bodoh." Kalau memang ambisi hidup menjadi pejabat harusnya tidak pernah memilih FKM sebagai batu loncatan. Harusnya dari awal bercita-cita sekolah di IPDN atau STPDN. Cuma sekolah ini yang muridnya diproyeksikan menjadi future leader kalau sudah

selesai sekolah, ditambah AKABRI untuk militer dan PTIK untuk kepolisian. FKM lebih banyak dibekali ilmu untuk menjadi pelaksana administrasi kesehatan di masyarakat. Sekolah kita juga begitu, kita di FK dan di sekolah spesialis dan subspesialisasi dididik untuk menjadi pelaksana pelayanan kesehatan terhadap pasien. Hanya itu saja. Kita hanya diajarkan manajemen dalam skop sangat kecil, hanya berupa patient-doctor relationship. Only two men company. Kalaupun kemudian kita bisa mengembangkan diri itu adalah hal lain yang tidak kita pelajari di sekolah sekalipun kita senantiasa diberi bekal filosofis selama sekolah untuk selalu melakukan self-improvement. "Medicine is a life long education," prinsip itu ditanamkan setiap hari saat kita masih kuliah dan hingga kini jauh hari setelah kita menjadi sarjana. Mungkin prinsip sederhana yang ditanamkan setengah paksa setengan brain wash itulah yang membuat banyak dokter berkembang sangat signifikan dibanding saat hari pertama masuk kuliah sebagai mahasiswa baru culun bertampang setengah bodoh di Fakultas Kedokteran. Sungguh suatu pilihan bodoh bila memproyeksikan diri menjadi pejabat dan memilih FKM sebagai sekolah, sebodoh orang yang memilih sekolah dokter sementara hati sejak awal berambisi menjadi Bupati. Pikiran berikut cukup bikin miris hati. Kalau kita berpikir secara rasional dan berpegang teguh pada aturan akan mustahil para SKM tersebut dapat menjadi dokter spesialis tanpa melalui jenjang dokter umum terlebih dahulu. Untuk aturan saat ini tidak dimungkinkan. Contoh sederhana saja yang bisa jadi kuda pacuan hanya kuda. Cheetah walaupun bisa sprint dengan kecepatan sangat tinggi tidak akan pernah beradu balap dengan kuda pacuan. Kalau suatu saat ada balap cheetah maka cheetah dan kuda pacu akan mejalani lomba di liga yang berbeda dan tidak akan pernah disatukan dalam satu gelanggang. Kata "Dokter Spesialis" saja sudah menjelaskan secara harfiah, jadi dokter dulu baru jadi dokter spesialis, dan hanya dokter yang bisa jadi dokter spesialis sesuai jenjang profesi yang saya sebut di paragraf pertama. Tapi kalau melihat perkembangan pendidikan kedokteran di masyarakat dewasa ini benarkah ide para SKM itu mustahil terwujud? Belum tentu. Sangat populer sekarang istilah "Komersialisasi" pendidikan kedokteran di Indonesia. Kata komersialisi tidak pernah berkonotasi baik, selalu kembar siam dengan pengertian standar dan aturan bisa dengan mudah dirubah atau diturunkan untuk mendapat keuntungan finansial sebesar-besarnya. Benarkah ada komersialisasi pendidikan kedokteran di Indonesia saat ini? Saya tidak berkompetensi menjawab. Sebagai PNS lembaga non pendidikan saya hanya bisa melihat secara empiris dengan mata orang awam bahwa hal tersebut memang sepertinya ada. Bukan hanya tiket masuk Fakultas Kedktern yang dijual sangat mahal tanpa disertai perbaikan mutu pendidikan di dalamnya tetapi dapat juga diamati dengan semakin menjamurnya Fakultas Kedokteran di mana-mana yang statusnya hanya berafiliasi atau satelit dengan Fakultas Kedokteran di daerah lain yang mungkin terpisah jarak geografis sangat jauh yang tentu akan menimbulkan banyak kendala dalam proses pembinaan oleh Fakultas induknya. Pernah ada salah satu Fakultas Kedokteran di propinsi terluar Indonesia Bagian Barat yang Fakultas pembinanya berada sangat jauh di wilayah timur Indonesia. Sebagai orang awam pendidikan saya hanya bisa mempertanyakan dalam hati bagaimana kira-kira pembinaannya secara institusional dan bagaimana proses belajar mengajarnya; apa benar bisa efektif, optimal atau intensif? Beberapa minggu ini ramai pemberitaan di berbagai media bahwa ada Fakultas Kedokteran yang tidak memperdulikan jurusan ijazah tahap SLTA calon mahasiswanya sehingga SMU jurusan sosial, tamatan STM, dsb bisa masuk Fakultas Kedokteran. Kalau tamatan STM bisa masuk FK apa mustahil bahwa pemilik ijazah SKM bisa diterima untuk pendidikan dokter spesialis? Saat ini dengan makin banyaknya jumlah penerimaan calon mahasiswa di suatu FK dan semakin menjamurnya didirikan FK di mana-mana jawaban yang selalu terlontar bahwa Indonesia butuh "Percepatan" pengadaan dokter karena rasio jumlah dokter dan penduduk Indonesia masih jauh dari perbandingan optimal. Itu memang alasan yang sangat rasional untuk percepatan penambahan tenaga dokter kalau kita tidak mempertimbangkan faktor lain. Pendidikan dokter di Indonesia mengajarkan para mahasiswanya untuk "Hospital based." Setelah dokter harus kerja di RS, dan kenyataannya memang begitu. Pengadaan alkes dan sarana fisik masih terlalu mahal untuk para fresh graduated untuk memilih kerja yang "Community based" dengan berpraktek swasta mandiri di tengah masyarakat. Kalau kita memperhitungkan faktor ini kita akan sadar bahwa ratusan sampai ribuan dokter yang diwisuda setiap tahun akan "tersia-sia" di masyarakat. Laju penambahan sarana kesehatan sangat lambat di Indonesia terlebih lagi pembangunan RS. Belum lagi untuk RS pemerintah penerimaan pegawai termasuk tenaga dokter diatur dan dibatasi oleh sangat banyak peraturan yang semuanya berkekuatan hukum. Belum memikirkan masalah penggajian para PNS ini yang menurut beberapa analisis ekonom tidak terlalu sehat untuk negara. Jadi benarkah kita memerlukan percepatan pengadaan dokter dan memperbanyak pengadaan FK bila negara tidak mengimbangi dengan meningkatkan laju

penambahan sarana fisik kesehatan? Belum lagi kalau memertimbangkan kondisi geografis negara kita yang sangat bervariasi. Negara kita bukan flatland seperti Amerika Serikat dan sebagian negara Eropa dengan kemudahan transportasi hingga ke daerah paling perifer. Saya sendiri berdomisili di ibu kota salah satu propinsi di Sumatra yang kotanya terletak di sebuah pulau besar yang hampir kosong. Secara kasar sekitar 70% pulau ini berupa rawa payau dan hutan tidak berpenghuni. Begitu juga sebagian besar kabupaten dalam propinsi ini. Sebagian besar pulaunya bahkan tidak berpenghuni dan banyak yang sampai saat ini belum bernama karena tidak ada penduduk yang pernah memberi nama. Sebaran penduduk Indonesia tidak merata. Sebagian besar penduduk mendiami tanah datar dan berkumpul di kota-kota besar sehingga sebaran dokter juga tidak merata. Kalau penyebaran dokter yang tidak merata benarkah penambahan jumlah dokter yang menjadi solusi tunggalnya, atau distribusi dan redistribusi yang akan menjadi pemecahannya? Kalau distribusi dan redistribusi yang dipilih bukan penambahan FK jawabannya tetapi perbaikan dan penambahan sarana kesehatan di daerah yang perlu dipercepat. Para pejabat Pemda dan wakil rakyat di DPR setempat harus membuka mata, membuka hati dan membuka pikiran untuk memikirkan solusi ampuh bagaimana supaya para dokter mau beromba-lomba bertugas di daerahnya. Sekarang berapa pemda di Indonesia yang bersedia membayar tunjangan kerja dan tunjangan kesejahteraan para dokternya? Berapa pemda yang bisa membayar teratur setiap awal bulan biaya hidup dokternya? Berapa pemda yang sudah melengkapi RS daerahnya dengan alkes yang membuat para dokternya bisa berkarya optimal dalam melakukan pelayanan? Ants follow the sugar trail. Tidak heran kalau para dokter dan tenaga kerja lainnya berlomba-lomba berkumpul di kota besar khususnya Jabodetabek karena memang pusaran finansial negara terletak di situ, daerah lain hanya kena percikan riak ombaknya. Dokter adalah manusia sederhana yang mencari hidup. Kalau bisa hidup sejahtera, bekerja optimal dan melakukan pengembangan diri sesuai tuntutan keilmuan dan tuntutan sebagai manusia yang manusiawi di final frontier di ujung tebing pelosok negarapun saya yakin para dokter bersedia ditempatkan. Saat ini yang banyak terjadi paramedis petugas pustu harus meminjam meja ke kelurahan kalau mau terima pasien. Dan beribu masalah sektor kesehatan lain yang seharusnya menjadi pekerjaan rumah yang akan membuat para penyelenggara negara tidak pernah sempat tidur untuk menyelesaikannya. Kalau memikirkan kembali tentang sekolah kedokteran (FK dan sekolah spesialis) banyak kenangan yang terlintas kembali. Kenangan manis, asam, asin dan super pahit, khususnya selama menjalani pendidikan spesialis. Pendidikan ini bukan hanya memberi bekal pengetahuan dan keterampilan tetapi juga membawa kebijakan, membawa banyak pengalaman yang memperkaya hidup. "Memperkaya hidup dengan kehidupan, memperkaya kehidupan dengan hidup," begitu biasa saya katakan. Ada satu hal lain yang juga selalu terlintas kembali dalam pikiran saya bila teringat tentang sekolah, saya jadi teringat text chatting saya dengan salah seorang rekan staf pengajar pendidikan spesialis-sebutlah-di negeri antah berantah karena saya tidak bijak untuk membuka identitas rekan tersebut dan institusinya di forum terbuka di dunia maya ini. Percakapan ringan sekitar empat tahun lalu tentang keseharian pendidikan spesialis tentang kesulitan sejawat tersebut menetapkan aturan tegas di dunia yang banyak "anehnya" di "Sekolah Manahan" ini (Kami selalu menyebut pendidikan dokter seagai "Sekolah Manahan" untuk menggambarkan bagaimana kita dididik untuk menjadi jitu dan bersih di pendidikan kedokteran. Dididik untuk selalu bull's eye dalam manajemen pasien). Salah satu tulisan saya untuk sebagai respon keluhan bernada keresahan dan putus asa sejawat XX (anggaplah begitu nama samarannya) tersebut saya menulis analogi dari cerita Mahabharata dan sedikit epos Ramayana yang tidak saya twist tapi dibuat sedikit "swelling" supaya nyambung dengan suasana hati rekan yang mengeluh tersebut. Salah satu jawaban saya isinya seperti ini, "Gara-gara disebut-sebut kata pangeran saya jadi ingat kisah-kisah pewayangan yang isinya filsafat hidup semua. Dalam wayang Arjuna sebenarnya bukan yang paling jago memanah walau selalu disebut dan dianggap begitu. Citra Arjuna sebagai yang terbaik adalah buah dari pencitraan yang rapih. Banyak yang lain lebih mumpuni tapi yang jelas disebut lebih jago itu Karna dan seorang lagi yang bukan bangsawan yang saya lupa namanya. Srikandi dan Abimanyu yang keluarga Arjuna sendiri juga diduga mempunyai potensi lebih dari Arjuna. Semua berguru pada Durna. Arjuna paling disayang gurunya, bukan karena paling pintar tapi terutama karena bloodline, dia itu pangeran; paling suka menjilat dan cari muka, pa ling suka memfitnah teman supaya dikira dia pintar sendiri, paling ambisius, dan paling cakep dibanding pangeran-pangeran lain (penampilan sudah memegang peranan enting sejak jaman wayang!). Jadi dia yang selalu disebut paling bisa segalanya dan dikader menjadi staf penerus sekolah manahan itu. Karna walau belakangan terbukti juga seorang pangeran awal kemunculannya hanya sebagai anak seorang kusir yang jadi kacung dipekerjakan untuk menyapu lapangan dan mijitin Dorna, membersihkan alatalat memanah dan berbagai suruhan kasar lainnya. Walau akhirnya bisa terampil memanah (sebagian besar dengan belajar secara otodidak) dia tidak pernah bisa menang tanding dari Arjuna karena disuruh mengalah terus oleh gurunya karena sudah ada rencana tersendiri buat Arjuna sebagai calon penerus.

Karna adalah murid luar biasa baik yang sangat hormat, patuh dan tahu berterima kasih pada guru, jadi mengalah dan pura-pura bodoh adalah tugas negara buat Karna yang terus berlanjut walau identitasnya sebagai bangsawan sudah ketahuan. Semua demi sang penerus yang terpilih semata-mata karena bloodline, bukan karena potensi atau kompetensi walaupun kenyataannya Arjuna juga tidak bodoh-bodoh amat. Saingan yang seorang malah lebih parah lagi, karena bukan bangsawan buat nginjak stadion manahan (ini maksudnya bukan yang di Solo ya) aja dia tidak boleh. Sudah coba masukin formulir aplikasi tapi langsung ditolak oleh Durna karena bukan bangsawan, celakanya Durna juga tidak lagi butuh kacung baru jadi benar-benar dia tidak bisa masuk sekolah itu. Karena semangat self improvement sangat kuat sang mantan calon murid yang sudah ditolak ini tiap hari datang ngintip dari semak di kejauhan bagaimana Durna mengajar murid-murid berdarah birunya, pulangnya metode dan materi pengajaran itu dia replikasi sendirian di hutan buat mengajar dirinya sendiri. Karena semangat banget belajar akhirnya dia bikin sasana sendiri dalam hutan, bikin patung Durna yang diperlakukan sebagai gurunya walau kenyataannya dia murni belajar otodidak, mungkin sedikit dapat bantuan dengan curi-curi baca textbook-textbook lontar tentang memanah di perpustakaan (salah satunya pasti berjudul "Dummy for Bowman," lainnya "Arrow 101."). Suatu waktu dia minta dinilai oleh Durna, maksudnya minta surat kompetensi buat ngurus STR sebagai pemanah. Waktu diuji Durna kaget karena dia lebih pintar dari semua arrowmaster dan champion di sekolah manahan para bangsawan tersebut, bahkan lebih superior dari Durna sendiri. Ditanya dia sekolah di mana sampai bisa lebih pintar dari semua super master ilmu panah. Dijawab kalau dia murid Durna juga, dan gurunya hanya Durna seorang. Jelas Durna heran karena memang tidak pernah kenal. Akhirnya "Sang Murid" membawa sang maestro ke sasana peribadi kecilnya dan menunjukkan patung kepada siapa dia beguru setiap hari selama beberapa tahun ini. Daripada malu ketahuan dia lebih bodoh dari murid patungnya sendiri disuruhlah si murid bertanding dengan Arjuna supaya bisa diisi nilai rapornya. Jelas arjuna langsung kalah. Gurunya saja dalam hati mengaku kalah sampai tidak berani sparring partner. Arjuna si anak manja yang sudah terbuai deagan kata-kata bahwa dialah yang paling pintar tidak terima. Buat menenangkan Arjuna yg ngedumel terus si murid bayangan dipanggil dan disuruh menegaskan apa betul dia berguru kepada Durna, dan hanya kepada Durna seorang. Senang banget dia, dipikirnya sudah diakui sebagai murid asli. Kemudian diingatkan bahwa sudah menjadi tugas luhur seorang murid untuk menuruti apapun permintaan guru. Tambah senang dia, langsung mengiyakan. Pikirnya ijazah, STR, SIP sudah selesai diurus, tinggal ambil di sekretaris bagian tanpa perlu ngasih uang sogokan lagi. Ternyata Durna minta dia memotong ibu jari tangannya. Jelas tamat karirnya sebagai pemanah. Tidak bisa lagi pinch grip anak panah. Dia menurut karena memang kewajiban murid di jaman itu untuk patuh kepada guru. Saat itu guru works in more mysterius way than God jadi dipikirnya pasti ada makna bijak dibalik perintah tidak manusiawi itu padahal semuanya semata-mata hanya demi pengkaderan Arjuna yang sebenarnya bukan yang paling berkompeten. Memang enak punya bloodline bagus, memang enak jadi murid kesayangan. Di dunia ini kalau kita bertemu manusia tipe Arjuna masih lumayan, walau bukan yang paling kompeten tapi sedikit banyak masih punya kemampuan. Celakanya pangeran-pangeran di dunia ini banyak yang tipe Sugriwa, pangeran lutung berjiwa ganas serakah seperti gorilla. Banyak juga Rahwana yang punya sepuluh muka yang semuanya bertampang jahat. Banyak juga manusia Kumbakarna saudara Rahwana yang kerjanya cuma makan, dan paling doyan makan rejeki orang. Banyak juga Dursasana yang licik bisanya cuma menghasut dan senang melihat orang susah. Banyak juga yang seperti Sangkuni yang jauh lebih jahat dari Dursasana yang isi otaknya hanya khusus diperuntukkan untuk memutar balik semua kenyataan menjadi hasutan. Kenyataan baik jadi hasutan buruk, realita buruk jadi hasutan manis. Semua harus diputarbalikkan menjadi negatif. Lebih banyak lagi Duryudana yang senantiasa harus memimpin orang berbuat jahat, apapun alasannya yang penting jahat. Belum bisa bernapas tenang kalau belum menganiaya orang. Tetapi ada juga murid seperti Abimanyu. Cerdas, brilian, bisa desicion making meramu berbagai faktor pendukung dan penghambat menjadi sebuah keputusan brilian secara instan tetapi akhirnya tumbang saat terlalu cepat dilepas mandiri hanya memperhitungkan kecakapannya saja, tidak mempertimbangkan pengalaman dan kebijakannya. Dan matinya bukan glorious death tapi victoryless death, malah disalahkan karena bertindak sendiri (padahal disuruh) padahal orangnya belum matang. Banyak juga murid bertampang Anoman. Penampilan monyet tetapi hati bukan lutung, kemampuan bukan beruk. Tapi karena luarnya tampak monyet semua orang menganggap monyet. Celakanya orang kalau lama diperlakukan sebagai monyet bakal berperilaku layaknya monyet sungguhan atau malah berkembang menjadi King Kong yang meresahkan. Banyak juga yang harus bernasib laksana Karna yang terjebak takdir untuk mengemban tugas "luhur" menjadi jahat padahal aslinya dia lebih putih dari orang lain yg sebenarnya kebanyakan aslinya hitam atau sedikitnya kelabu sangat gelap. Di sekolah manahan ada guru seperti Krisna yang pengetahuannya sangat luas, keterampilannya sangat dalam dan kebijaksanaannya tiada berbanding. Cakp dalam knowledge transfer, selalu mengupdate diri. Tegas dalam memberi punishment, adil dalam memberi reward. Bisa menjadi seorang guru, orang tua, sahabat sesuai kebutuhan, atau

bahkan menjadi ketiganya di saat yang bersamaan. Benar-benar mewakili figur "Maha guru" yang ada dalam benak pikiran idealis. Tetapi ada juga guru yang seperti Pandu yang sangat mudah dimanipulasi, mudah dirayu untuk medahulukan kepentingan tertentu tanpa menyadari bahwa semua aksi akan membawa efek domino di mana yang baikpun akhirnya akan jatuh akibat satu hal yang mungkin dianggap sepele. Ada juga yang seperti Dritarastra selalu merasa tidak berdaya, tidak percaya diri dan merasa dirugikan orang padahal kenyataannya ketidakberdayaannya justru senantiasa memperdaya orang dan merugikan orang lain, dan selalu mempunyai anak emas yang menjadi favorit walaupun anak emas itu selalu terbukti dari golongan yang perlu mendapat hukuman berat setiap hari. Banyak Gandari yang selalu mendukung keburukan walau sesungguhnya bisa memilih sebaliknya. Banyak juga guru seperti Durna yang bisanya cuma ngomong, nyuruh dan marah tanpa pernah mengajarkan apa-apa selain menjadi contoh "Don't be like him" kalau muridnya bisa bijak menilai. Malah aslinya kemampuan sebagai pengajar luar biasa kurang. Lebih celaka lagi tidak kurang jumlahnya guru yang seperti Bisma yang merasa tidak punya daya memberantas keburukan padahal hanya dialah yang mempunyai kemampuan veto untuk menghentikan keburukan, dan menggantinya menjadi kebaikan. Anything may happen as long as they don't lay their hands on me. Tapi ini cuma dalam wayang kok, cuma dalam wayang. Sekali lagi cuma dalam wayang. Kalau dalam hidup cuma anekdot atau parodi." Sebagai post script saya tambahkan beberapa comment saya di lapak salah seorang sejawat DIBer untuk menanggapi comment kekurangan tenaga dokter di perifer: "DU sebetulnya tidak kurang juga jumlahnya. Sekarang (kalau tidak salah) ada 75 FK se Indonesia dengan daya serap 200-500 maba/FK setiap tahun ajaran. Asumsi kasar bisa tersedia 75 x (200-500) dokter fresh graduated setiap tahun. Yang pensiun jauh lebih rendah lajunya. Yang kurang adalah daya serap Pemerintah untuk mempekerjakan dokter terutama di perifer. Berapa besar laju penambahan RS, Puskesmas setiap tahun? Sangat rendah. Udah wajar kalau dokter tidak mau ke perifer, Pemerintah tidak memfasilitasi ditambah lagi gajinya sangat minim. Bukan cuma jadi alas kaki kayak kalimat TS Galuh, dokter juga jadi pengki buat buang sampah. Di RS kota besar saja dokter susah masuk karena penerimaannya di RS pamerintah diatur oleh BKD dan terpaut sangat banyak aturan kepegawaian yang sekarang tujuannya memang membatasi jumlah PNS. Jadi dokter mau mengabdi di perifer juga belum tentu bisa." "Waktu saya kuliah dulu setahu saya cuma ada 14 FK di Indonesia dengan daya serap hanya 150-250 maba/FK/tahun. Jaman itupun sebetulnya tidak kurang jumlah dokter dibanding jumlah fasilitas kesehatan yang tersedia. Kalau melihat rasio jumlah penduduk banding dokter memang jauh tidak mencukupi. Tapi rasio itu bukan satu-satunya parameter yang harus dipertimbangkan." "Sekarangpun Puskesmas masih dirancang untuk operasional optimal dengan hanya satu dokter, Puskesmas perawatan dengan tiga dokter. Itulah daya serap Pemerintah secara kasar di luar daya tampung RS. Kali aja dengan jumlah Puskesmas di Indonesia. Hasilnya saya yakin lebih kecil dari jumlah alumni FK se Indonesia setahun."

Anda mungkin juga menyukai