Anda di halaman 1dari 3

Nama : Eni Rahmawati IMM UNESA

DAKWAH KAMPUS

Kehidupan di area kampus tentulah sangat berbeda dengan kehidupan di area sekolah pada tingkat sebelumnya. Jika di SMA, setiap harinya kita akan berjumpa dengan temanteman yang menggunakan pakaian yang sama, yaitu kemeja polos berwarna putih dan bawahan berwarna abu-abu, setiap hari akan tetap seperti itu. Berbeda dengan kita yang telah melewati masa itu dan menginjak pada masa dimana kita bertemu dengan dunia baru yang lebih luas dan berwarna, dunia kampus. Tidak akan lagi kita temui teman-teman yang berseragam, semua memakai pakaian sesuai dengan kesukaan, ada yang memakai kemeja ada yang berjubah Dari luar, semuanya sudah terlihat berbeda, tentunya jika tahu lebih dalam tentang setiap individunya pasti akan lebih banyak lagi perbedaan, seperti cara berpikir dan lain-lain. Karena hal inilah, setiap kali ada suatu hal yang mampir di telinga masing-masing mahasiswa, cara menanggapinyapun akan berbeda. Ada yang akan bersikap biasa saja, ada yang akan terang-terangan menolak, dan ada juga yang mau menerimanya. Apalagi jika yang mampir ke telinga mereka adalah sesuatu yang berbau keislaman, kebanyakan anak muda sekarang akan lebih cenderung menolak dikarenakan banyak alasan, salah satunya adalah takut akan masuk ke dalam aliran sesat atau segala sesuatu yang berhubungan dengan teroris. Dalam Muhammadiyah dikenal dakwah kultural dimana kita dituntut untuk lebih mendalami akar rumput budaya masyarakat. Begitu pula dikampus yang notabenenya

memiliki fakultas yang berbeda beda yang otomatis budaya per fakultas pun berbeda pula, oleh karena itu sebaiknya kita juga menggunakan dakwah kultural supaya dakwah kampus lebih mengena. Misalnya saja fakultas Bahasa dan Seni Unesa, jika kita menerapkan dakwah kulturar dari fakultas lain, misalnya fakultas berbasis agama islam di IAIN, pasti tidak akan nyambung, karena budaya yang berbeda. Kebanyakan mahasiswwa fakultas Bahasa dan Seni UNESA adalah mahasiswa yang tidak terlalu menaruh perhatian pada hal-hal semacam itu, maka diperlukan pendekatan yang membuat mereka semakin mendekat tidak semakin menjauh. Strategi dakwah yang luwes diharapkan mampu untuk merangkul semua kalangan untuk bergabung dalam organisasi dakwah kampus. Justru jika kita menggunakan strategi dakwah dengan cara yang terlalu keras dan kaku akan membuat orang bahkan mendekat pun

takut apalagi mengikuti kegiatan yang di adakan. Namun perlu diingat bahwa luwes buka berarti tanpa aturan, tapi tetap memegang prinsip-prinsip yang diajarkan dalam agama islam. Kreativitas sangat dibutuhkan dalam berdakwah, apalagi sasaran kita adalah kaum intelektual seperti mahasiswa. Kita harus lebih kreatif dalam membuat kegiatan-kegiatan yang mampu menarik minat mahasiswa. Seperti kegiatan kajian, bukan hanya sekedar kajian. Saat menempelkan pamflet, ajakannya bukan hanya untuk kajian tapi gunakan kata-kata yang sekiranya bisa menarik perhatian mata dari para mahasiswa. Misalnya dengan tulisan Rujakan Bareng, walaupun pada awalnya niat dari para mahasiswa yang mengikuti kajian, tapi jika lama kelamaan saat mahasiswa tersebut mengikuti kajian dan kita mendekati sedikit demi sedikit, maka insyaallah niat mahasiswa tersebut akan berubah, bukan hanya sekedar ingin makan, tapi juga ingin berkumpul dan ngeshare masalah agama islam serta mendengarkan taushiyah dari ustad ataupun ustadzah yang diundang untuk mengisi kajian. Dan tentunya masih ada banyak cara lagi sesuai dengan kreativitas mahasiswa. Agar kita tetap teguh untuk berdakwah, tentunya ada banyak ayat-ayat Allah yang menjadi pegangan agar ghirah untuk berdakwah tidak pernah goyah. Seperti surat Ali Imran ayat 104 yang artinya: Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuru berbuat yang maruf dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Maksud dari ayat diatas sangatlah jelas, bahwasanya berdakwah itu sangatlah dianjurkan. Makna dari berdakwa itu sendiri adalah menyeru kepada kebajikan, menyuru berbuat yang maruf dan mencegah dari yang munkar. Yang sudah baik (kelakuan, dll) lebih diperbaiki agar menjadi lebih dan lebih baik, dan yang masih buruk harus diperbaiki agar menjadi manusia yang baik, bukan hanya dimata manusia tapi juga dimata Allah. Selain ayat diatas, masih ada banyak lagi ayat-ayat Allah yang menganjurkan hambanya untuk berdakwah, mendakwahkan ajaran-ajaran agamanya.