Anda di halaman 1dari 11

I.

PENDAHULUAN

A.

Latar belakang

Peristiwa fisiologi yang utama pada siklus estrus terjadi pada ovarium, Kejadian-kejadian tersebut tercermin juga pada perubahan-perubahan yang terjadi pada vagina di bawah pengaruh hormon-hormon ovarium, yaitu estrogen dan progesteron. Penemuan ini memberikan andil yang penting pada perkembanagn fisiologi reproduksi, karena memungkinkan untuk mendiagnosis kejadian-kejadian di ovarium dengan teknik sederhana tanpa menggunakan teknik operasi. Epithelium vagina secara siklik rusak dan dibangun kembali, bervariasi dari bentuk squama berlapis sampai kuboid rendah. Perubahan siklik ini dapat diikuti dengan menggunakan teknik preparat apus vagina, yaitu dengan mengeruk debris yang terkumpul di lumen dan memeriksanya di bawah mikroskop. Perubahan-perubahan histology vagina terjadi pada semua mamalia betina selama siklus estrus. Teknik preparat apus vagina ternyata paling berguna, terutama pada spesies yang memiliki siklus estrus pendek (mencit dan tikus). Rodentia, vagina smears untuk mengetahui masa ovulasi serta daur estrus pada umumnya.

B. Tujuan praktikum kali ini adalah: 1. 2. 3.

Tujuan

Dapat melakukan prosedur pembuatan sediaan apus vagina Dapat mengidentifikasi tipe-tipe sel dalam sediaan yang dibuat Menentukan fase estrus pada hewan uji

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Betina dari sebagian besar spesies mamalia mempunyai daur masa birahi dan keinginan kawin pada waktu-waktu tertentu, yang disebut masa estrus atau masa birahi, ketika keadaanya optimal bagi penyatuan telur dan sperma. Estrus ditandai dengan meningkatnya nafsu birahi, ovulasi dan perubahan dalam dinding vagina (Cowan, 1994). Ovarium merupakan organ target hormon hipofisis. Oleh rangsangan FSH ditumbuhkan folikel yang akan memproduksi estrogen. Hormon ini kalau sudah tinggi kadarnya dalam darah menghalangi sekresi FSH, tetapi mendorong sekresi LH. Dengan tingginya kadar LH dalam darah terjadi ovulasi. Folikel yang tinggal jadi corpus luteum yang memproduksi progesteron dan estrogen yang sedikit (Guyton dan Hall, 1997). Kadar progesteron yang tinggi menghalangi sekresi LH. Karena itu corpus luteum berdegenerasi dan tidak lagi memproduksi progesteron. Sementara itu uterus mengalami fase menstruasi. Jika ada kehamilan, plasenta bertindak sebagai LH, sehingga corpus luteum terus terpelihara untuk menghasilkan progesteron, sampai saat melahirkan (Guyton dan Hall, 1997). Pertumbuhan yang cepat dan kornifikasi epithelium vagina selama dan pada akhir estrus telah diketahui disebabkan oleh estrogen. Bila pada siklus yang normal aras telah menurun setelah ovulasi, maka akan tampak epithelium vagina secara histologi berubah dari tipe skuama berlapis tebal karena estrogen ke epithelium kuboid rendah tipis yang menandakan fase anestrus dari siklus estrus (Nalbandov, 1990).

III.

MATERI DAN METODE

A.

Materi

Materi praktikum apus vagina terdiri dari alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan. Alat-alat yang digunakan seperti mikroskop, gelas objek, gelas penutup, cotton bud. Sedangkan bahan-bahannya adalah mencit betina yang telah masak kelamin dan tidak sedang hamil, larutan NaCl 0,9%, larutan alkohol 70%, pewarna methylen blue 1%.

B. Cara kerja praktikum apus vagina yaitu: 1. 2. 3.

Metode

Disediakan gelas objek, dibersihkan dengan alkohol 70% dan kering udarakan. Mencit betina yang akan diperiksa dipegang dengan tangan kanan. Ujung cotton bud dibasahi dengan larutan NaCl 0,9%. Perlahan-lahan dimasukkan ke dalam vagina mencit sedalam kurang lebih 5 mm, diputar searah jarum jam dua hingga tiga kali.

4.

Ujung cotton bud yang telah dimasukkan ke dalam vagina mencit tersebut dioleskan dua atau tiga baris olesan dengan arah sama (sejajar).

5. 6.

Gelas objek dicuci pada air mengalir, ditutup dengan gelas penutup Sediaan diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah, baru kemudian dengan perbesaran kuat.

7. 8.

Gambaran sel dibandingkan pada sediaan dengan standar Ditentukan fase estrus hewan uji tersebut.

IV.

HASIL DAN PENGAMATAN

A.

Hasil

Hasil pengamatan apus vagina dan apus standar di bawah mikroskop terlihat sel epithel yang dindingnya mengalami penebalan, yamg disebut fase estrus sedangkan sel leukositnya tidak terlihat.

B.

Pembahasan

Sistem reproduksi betina mengalami suatu daur yang berulang secara berkala dan teratur. Lama daur pembiakan itu bervariasi pada berbagai jenis hewan mamalia. Pada primata dan non-primata, semua perubahan-perubahan baik fisiologis maupun morfologis pada ovarium, vagina, dan uterus yang terjadi selama siklus adalah identik, kecuali bahwa non-primata menunjukkan puncak-puncak yang periodik untuk keinginan kawin (birahi atau estrus), sedangkan pada beberapa primata tidak terdapat tanda-tanda tersebut. Primata, terkelupasnya endometrium uterus akan mengakibatkan pendarahan, sedangkan pada non-primata tidak tampak pendarahan yang memadai. Mamalia (tidak semua pada primata) ada rasa ingin membiak (birahi) yang datang secara berkala bagi betinanya, disebut estrus. Karena itu pada kelompok hewan demikian daur pembiakan sama atau serentak dengan daur estrus. Daur estrus ialah suatu peristiwa antara dua kejadian estrus. Seluruh bagian sistem reproduksi mengalami perubahan berkala dalam daur itu. Prinsipnya menyesuaikan diri dengan yang dialami alat kelamin primer, yaitu ovarium, suatu ketika dalam daur itu ovarium banyak menghasilkan estrogen, dan ini mempengaruhi saluran serta kelenjar sekunder. Bahkan juga tabiat, tubuh betina itu secara keseluruhan mengalami perubahan berkala, sesuai dengan perubahan produksi estrogen dalam ovarium. Daur pembiakan dibagi atas 7 macam menurut daerah genitalia yang mengalaminya: 1. Daur ovarium 2. Daur tuba 3. Daur uterus 4. Daur servik

5. Daur vagina 6. Daur kelenjar susu 7. Daur tabiat Daur ovarium Dibagi atas 2 tahap yaitu: 1. Fase folikel 2. Fase lutein Fase folikel ialah masa pertumbuhan folikel sejak dari primer, sekunder, tertier, sampai folikel Graff. Pertumbuhan folikel dirangsang oleh FSH dan LH dari hipofisa. Menjelang folikel matang techa interna mulai menghasilkan estrogen. Estrogen juga berfungsi menekan FSH, merangsang penggetahan lebih banyak LH, dengan demikian kadar LH dalam darah naik, dan ini merangsang ovulasi. Fase lutein, setelah ovulasi folikel Graff yang tinggal dalam ovarium menjadi corpus luteum. Bekas antrum dimasuki darah dan jaringan ikat yang berasal dari theca interna yang berubah struktur dan fungsi. Sel-sel itu kini disebut sel lutein. Sel ini bekerja menghasilkan hormon steroid, yaitu estrogen (sedikit) dan progesteron (banyak). Ovulasi pertumbuhan corpus luteum di bawah kontrol LH yang berkadar tinggi dalam darah. Fase ini berlangsung 14 hari pada manusia. Jadi kalau dijumlahkan, daur pembiakan yang 28 hari terbagi atas 14 hari pertama fase folikel, 14 hari kedua fase lutein. Progesteron sebagai penghambat estrogen mengontrol daur pembiakan pada saluran dan kelenjar kelamin. Ia juga sebagai umpan balik pada hipofisa. Semakin tinggi kadar progesteron dalam darah, penggetahan LH semakin turun, lalu terhenti. Terhenti penggetahan LH berarti terhenti pula pengontrolan pemeliharaan corpus luteum sendiri. Akibatnya corpus luteum itu berdegenerasi dan produksi progesteron dan estrogen terhenti.

Jika ovum dibuahi dan terjadi nidasi dan placentasi, lapisan chorion embrio (disebut juga jaringan trophoblas) menghasilkan chorionic gonadotropin, yang sifatnya sama dengan LH. Karena itu corpus luteum terpelihara pertumbuhannya dan bertahan selama kehamilan. Daur uterus Daur uterus dibagi menjadi 3 fase, yaitu: 1. Fase proliferasi 2. Fase sekresi 3. Fase menstruasi Fase proliferasi: kelenjar endometrium tumbuh dan terjadi mitosis berulang-ulang pada sel-sel epithel serta jaringan ikat yang membina lamina propria. Sel stroma kini disebut decidua, yang kaya akan glikogen. Fase ini dempet dengan fase folikel dalam ovarium, berarti di bawah rangsangan estrogen kadarnya meningkat dalam darah. Fase ini mulai pada waktu berakhirnya menstruasi, menyebabkan endometrium jadi 2-3 tebal dari semula. Fase sekresi: mulai saat terjadinya ovulasi di ovarium. Fase ini dempet dengan fase lutein daur ovarium, dan dikontrol oleh meningkatnya kadar progesteron dalam darah. Kelenjar uterus melakukan penggetahan dan lendir getahan berkumpul dilumennya. Fase menstruasi: fase ini terjadi jika ovum tidak dibuahi, sehingga nidasi tidak terjadi. Corpus luteum berhenti bekerja, sehingga kadar progesteron jatuh mendadak. Karena itu endometrium pun mengalami penyusutan dan hancur. Fase ini 2 minggu setelah ovulasi.

Daur vagina Fase folikel ovarium, kadar estrogen yang tinggi merangsang epithel vagina aktif bermitosis dan mensintesa banyak glikogen. Dengan demikian lapisan mukosa vagina jadi menebal menjelang ovulasi dan lumen banyak glikogen. Pada primata selain manusia dan rodentia, penebalan epithel lapisan mukosa vagina itu disertai pula dengan proses penandukan

(kornifikasi), lalu mengelupas dan jatuh ke lumen. Dalam analisis usapan vagina ditemukannya sel-sel epithel yang menanduk sebagai indikator pula akan masa ovulasi. Menjelang ovulasi leukosit pun banyak menerobos lamina propria, terus ke lumen. Pada fase lutein, berhubungan dengan naiknya kadar progesteron, sifatnya ialah menekan pertumbuhan epithel. Karena itu lapisan mukosa menjadi tipis dan lapisan menanduk hilang. Perubahan tersebut dapat diikuti dengan menggunakan teknik preparat apus vagina, yaitu dengan mengeruk debris yang terkumpul di lumen dan memeriksanya di bawah mikroskop. Perubahan-perubahan histologi vagina terjadi pada semua mamalia betina selama siklus estrus. Teknik preparat apus vagina ternyata paling bermanfaat, terutama pada spesies yang memiliki siklus estrus pendek (mencit dan tikus), karena pada spesies ini, histologi dapat mencerminkan kejadian-kejadian pada ovarium paling tepat. Spesies dengan siklus yang lebih panjang, seperti pada wanita dan pada semua hewan domestikasi, akan mengalami keterlambatan satu sampai beberapa hari dari perubahan ovarium, sehingga preparat apus vagina kurang tepat untuk dapat digunakan sebagai indikator kejadian di ovarium. Tetapi dengan menggunakan metode pewarnaan Papanicolau, dapat menunjukkan waktu ovulasi wanita secara tepat dan untuk diagnosa adanya kanker pada saluran kelamin. Pertumbuhan yang cepat dan kornifikasi epithelium vagina selama dan pada akhir estrus disebabkan oleh naiknya kadar estrogen dalam darah. Siklus yang normal aras estrogen menurun setelah ovulasi, maka akan tampak epithelium vagina dengan kornifikasi mulai berkurang, gambaran sisik menghilang dan leukosit dominan. Epithelium vagina secara histologi berubah dari tipe skuama berlapis tebal karena estrogen ke epithelium kuboid rendah tipis yang menandakan fase anestrus dari siklus. Tabel: Aktifitas ovarium dan histologi vagina selama siklus estrus pada Marmut

Kejadian di Tahap Diestrus Proestrus Permulaan estrus Akhir estrus Metestrus Lamanya Tahap Ovarium Separuh selama siklus 12 jam 12 jam 18 jam 6 jam waktu Korpora lutea Folikel dengan cepat Kawin Ovulasi Korpora

Tipe Sel dalam preparat apus vagina Epithel bernukleus dan

leukosit tumbuh Epithel bernukleus Kornifikasi Kornifikasi lutea Leukosit

diantara

Permulaan diestrus 6 jam atau anestrus

terbentuk kornifikasi hilang Permulaan korpora Kornifikasi hilang fungsional

Hasil pengamatan, apus vagina Marmut terlihat sel epithel berinti yang mengalami penebalan pada dinding delnya. Siklus estrus pada apusan vagina Marmut sedang mengalami tahap proliferasi dengan ditandai sel epithel yang terkornifikasi. Sedangkan sel leukosit tidak terlihat pada apus vagina Marmut. Kejadian di ovarium pada apusan tersebut yaitu korpora lutea terbentuk.

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum kali ini diperoeh kesimpulan, yaitu: 1. Fase estrus ditandai dengan sel epithel yang terkornifikasi, hal ini disebabkan karena kadar estrogen dalam darah naik. 2. Apus vagina digunakan untuk mengetahui kejadian-kejadian pada ovarium, terutama spesies yang siklus estrusnya pendek (Marmut). 3. Apusan vagina mencit dan standar menunjukkan sel epithel yang nampak mengalami penebalan kornifikasi sedangkan leukosit tidak tampak pada apusan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Cowan, B. 1994. Reproduktive Endocrinologi. B. Lippincoot, Philadelpia Guyton, A. C. And Hall J. E. 1996. Fisiologi Kedokteran. WB Saunders Comp, Philadelpia Nalbandov, A. V. 1990. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas. UI-Press, Jakarta Rahilly, O. R. 1996. Human Embryology and Teratologi. Wiley-Liss, Canada Soules, M. R. 1989. Problems in Reproductive Endocrinology and Infertility. Elsevier Science Publishing, New York Spark, R. F. The Infertile Male. Plenum Publishing Corp, New York Yatim, Wildan. 1994. Reproduksi dan Embryologi. Tarsito, Bandung