Anda di halaman 1dari 10

FILARIASIS I.

Definisi Filariasis Filariasis adalah kelompok penyakit yang mengenai manusia dan binatang yang disebabkan oleh parasit kelompok nematode yang umumnya disebut filarial. Berdasarkan habitatnya dalam tubuh pejamu, filarial diklasifikasikan ke dalam empat kelompok yaitu kelompok kutaneus yang terdiri atas Loa-loa, Onchocerca volvulus, dan Mansonella streptocerca. Kelompok limfatik termasuk

Wuchereriabancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori serta kelompok kavitas tubuh yang terdiri dari Mansonella perstans dan Mansonella ozzardi.1

II.

Epidemiologi Dari keempat kelompok filarial yang telah disebutkan sebelumnya, filarial dari kelompok limfatik merupakan kelompok yang paling banyak menginfeksi manusia. Lebih dari 90 juta orang di seluruh dunia mengalami filariasis yang disebabkan oleh kelompok filarial ini khususnya masyarakat yang tinggal di daerah tropis dan subtropis. Sedikitnya 21 juta orang di seperempat bagian benua Afrika serta Amerika tengah dan Amerika selatan terinfeksi oleh Onchocerca volvulus, sementara itu sebanyak 3 juta orang terinfeksi Loa-loa di Afrika tengah. WHO telah mengidentifikasikan filariasis limfatik sebagai penyebab kedua kecacatan terlama dan permanen di dunia setelah penyakit lepra. Penyakit ini dapat mengenai semua kelompok usia tetapi umumnya mikrofilaremia lebih banyak ditemukan pada usia dewasa dan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Prevalensi yang sama ditemukan baik pada laki-laki maupun perempuan serta tidak ada predileksi terhadap satu ras tertentu.1 Parasit filariasis di Indonesia terdiri dari tiga spesies yaitu Brugia malayi, Brugia Timori dan Wuchereria bancrofti. Ketiga spesies ini dapat dipisahkan lagi menjadi lima tipe yaitu Brugia malayi periodik, Brugia malayi subperiodik, Brugia timori tipe kota (urban), Wuchereria bancrofti tipe kota (urban), dan Wuchereria bancrofti tipe pedesaan (rural).Dari ketiga spesies tersebut, yang menjadi masalah cukup besar dalam kesehatan masyarakat adalah Brugia malayi dan Brugia timori tertutama di daerah pedesaan. Brugia malayi endemic di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau-pulau di Maluku tetapi terbatas pada

sebelah barat garis Weber, yang memisahkan Irian Jaya dengan pulau Seram dan Ambon. Brugia timori endemik di Flores dan Alor. Dari berbagai tipe parasit filarial ini, Brugia malayi dan Brugia timori menempati urutan pertama dalam penyebarannya di Indonesia. Demikian pula jumlah penderita dan penularannya lebih besar dibandingkan dengan Wuchereria bancrofti.2 Berdasarkan laporan tahun 2009, tiga provinsi dengan jumlah kasus terbanyak filariasis adalah Nanggroe Aceh Darussalam (2.359 orang), Nusa Tenggara Timur (1.730 orang) dan Papua (1.158 orang). Tiga provinsi dengan kasus terendah adalah Bali (18 orang), Maluku Utara (27 orang), dan Sulawesi Utara (30 orang), dapat dilihat pada Gambar 1. Kejadian filariasis di NAD sangat menonjol bila dibandingkan dengan provinsi lain dan merupakan provinsi dengan jumlah kasus tertinggi di seluruh Indonesia.

GAMBAR 1. PENDERITA FILARIASIS PER PROVINSI TAHUN 2009

Sumber : Ditjen PP & PL Depkes RI, 2009 3

GAMBAR 2. PETA ENDEMISITAS FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber : Ditjen PP & PL Depkes RI, 2009 3

Beberapa faktor yang mempengaruhi penularan penyakit filariasis di antaranya densitas populasi nyamuk, jumlah microfilaria dalam darah, dan daerah endemis ( di daerah non-endemis umumnya jumlah nyamuk yang menjadi vektor perantara dalam penularan penyakit ini sedikit sehingga kasus filariasis jarang ditemui).1

III.

Etiologi Filariasis di Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Mikrofilaria mempunyai periodisitas tertentu, artinya kebanyakan mikrofilaria berada di darah tepi pada waktu-waktu tertentu saja. Periodisitas ini dapat dibagi menjadi 3 tipe yaitu nokturna (terdapat di dalam darah tepi pada malam hari), sub periodik nokturna (ditemukan di darah tepi pada siang dan malam hari, tetapi lebih banyak ditemukan pada malam hari) dan non periodik (ditemukan di darah tepi pada siang maupun malam hari).

A. Wuchereria bancrofti 1) Hospes dan nama penyakit


Hospes definitif cacing ini adalah manusia. Cacing dewasa hidup di kelenjar dan saluran limfe, sedangkan mikrofilaria hidup di dalam darah. Hospes perantara cacing ini adalah nyamuk. Penyakit yang disebabkan cacing ini disebut Filariasis Bancrofti.4

2) Morfologi dan siklus hidup


Cacing dewasa menyerupai benang, berwarna putih kekuningan. Cacing betina berukuran 90 100 x 0,25 mm, ekor lurus dan ujungnya tumpul, didelfik dan uterusnya berpasangan (paired). Cacing jantan berukuran 35 40 x 0,1 mm, ekor melingkar dan dilengkapi dua spikula.4 Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria bersarung dan berukuran 250 300 x 7 8 mikron. Mikrofilaria terdapat di dalam darah dan paling sering ditemukan di aliran darah tepi, tetapi pada waktu tertentu saja. Pada umumnya mikrofilaria, cacing ini mempunyai periodisitas nokturna karena mikrofilaria dalam darah tepi banyak ditemukan pada malam hari, sedangkan pada siang hari mikrofilaria terdapat di kapiler organ-organ viseral (jantung,ginjal,paruparu dan sebagainya). Untuk melengkapi daur hidupnya, Wuchereria bancrofti membutuhkan manusia ( hospes definitif ) dan nyamuk (hospes perantara). Nyamuk terinfeksi dengan menelan mikrofilaria yang terisap bersama-sama dengan darah. Di dalam lambung nyamuk, mikrofilaria melepaskan sarungnya dan berkembang menjadi larva stadium 1 ( L 1 ), larva stadium 2 ( L 2 ), dan larva stadium 3(L 3 ) dalam otot toraks dan kepala. L 1 memiliki panjang 135 375 mikron, bentuknya seperti sosis, ekor ,memanjang dan lancip, dan masa perkembangannya 0,5 5,5 hari ( di toraks ). L 2 memiliki panjang 310 1.370 mikron, bentuk gemuk dan lebih panjang daripada L 1, ekornya pendek membentuk kerucut, dan masa perkembangannya antara 6,5 9,5 hari ( di toraks dan kepala ). L 3 memiliki mobilitas yang cepat sekali, kadang-kadang ditemukan di proboscis nyamuk sehingga larva ini bersifat infektif dan ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk. Apabila L 3 ini masuk ke dalam jaringan manusia kemudian masuk ke sistem limfatik perifer dan bermigrasi ke saluran limfe

distal dan akhirnya ke kelenjar limfe dan tumbuh menjadi L 4 dan L 5 (cacing betina dewasa dan jantan dewasa).4

B. Brugia malayi dan Brugia timori 1) Hospes dan nama penyakit


Hospes definitif Brugia malayi adalah manusia dan mamalia lainnya, misalnya kera, anjing, kucing dan sebagainya. Cacing dewasa terdapat pada saluran dan kelenjar limfe. Hospes definitif Brugia timori hanya terdapat pada manusia. Penyakit yang disebabkan Brugia malayi disebut filariasis malayi, sedangkan yang disebabkan Brugia timori disebut filariasis timori. Kedua penyakit ini juga disebut filariasis brugia.4

2) Morfologi dan siklus hidup


Cacing dewasa berbentuk silindrik seperti benang berwarna putih kekuningkuningan. Pada ujung anteriornya terdapat mulut tanpa bibir dan dilengkapi baris papilla 2 buah, baris luar 4 buah dan baris dalam 10 buah. Cacing betina berukuran 55 x 0,16 mm dengan ekor lurus, vulva mempunyai alur transversal dan langsung berhubungan dengan vagina membentuk saluran panjang. Cacing jantan berukuran 23 x 0,09 mm, ekor melingkar dan bagian ujungnya terdapat papila 3 4 buah, dan di belakang anus terdapat sepotong papila. Pada ujung ekor terdapat 4 6 papila kecil dan 2 spikula yang panjangnya tidak sama.4 Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria bersarung, panjangnya 177 230 mikron, lekuk tubuh kaku, panjang ruang kepala dua kali lebarnya, inti tubuh tidak teratur dan ekornya mempunyai 1 2 inti tambahan. Mikrofilaria ini terdapat dalam darah tepi. Kedua cacing ini mempunyai daur hidup yang kompleks dan ukuran tubuh lebih pendek bila dibandingkan dengan ukuran tubuh Wuchereria bancrofti. Masa pertumbuhan larva di dalam tubuh vector kira-kira 10 hari. Disini larva mengalami pergantian kulit dan berkembang menjadi L 1, L 2, dan L 3. Pada manusia masa pertumbuhan bisa mencapai 3 bulan. Pada tubuh manusia perkembangan kedua cacing ini mempunyai pola hidup yang sama seperti Wuchereria bancrofti.4

Di Indonesia hingga saat ini telah teridentifikasi 23 spesies nyamuk dari 5 genus, yaitu: Mansonia, Anopheles, Culex, Aedes dan Armigeres yang menjadi vektor filariasis. Sepuluh spesies nyamuk Anopheles diidentifikasi sebagai vektor Wuchereria bancrofti tipe pedesaan. Culex quinquefasciatus merupakan vektor Wuchereria bancrofti tipe perkotaan. Enam spesies Mansonia merupakan vektor Brugia malayi. Di Indonesia bagian timur, Mansonia dan Anopheles barbirostis merupakan vektor filariasis yang penting. Beberapa spesies Mansonia dapat menjadi vektor Brugia malayi tipe sub periodik nokturna. Sementara Anopheles barbirostis merupakan vektor penting terhadap Brugia timori yang terdapat di Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Maluku Selatan.3 Selain manusia, beberapa jenis hewan dapat menjadi hospes filariasis. Dari semua spesies cacing filaria yang menginfeksi manusia di Indonesia, hanya Brugia malayi tipe sub periodik nokturna yang ditemukan pada lutung (Presbytis cristatus), kera (Macaca fascicularis) dan kucing (Felis catus).3

IV.

Patofisiologi Parasit memasuki sirkulasi saat nyamuk menghisap darah lalu parasit akan menuju pembuluh limfa dan nodus limfa. Di pembuluh limfa terjadi perubahan dari larva stadium 3 menjadi parasit dewasa. Cacing dewasa akan menghasilkan produk-produk yang akan menyebabkan dilaasi dari pembuluh limfa sehingga terjadi disfungsi katup yang berakibat aliran limfa retrograde. Akibat dari aliran retrograde tersebut maka akan terbentuk limfedema. Perubahan larva stadium 3 menjadi parasit dewasa menyebabkan

antigen parasit mengaktifkan sel T terutama sel Th2 sehingga melepaskan sitokin seperti IL 1, - sitokin ini akan menstimulasi sum- sum tulang sehingga

terjadieosinofilia yang berakibat meningkatnya mediator proinflamatori dan sitokin jugaakan merangsang ekspansi sel B klonal dan meningkatkan produksi IgE. IgE yangterbentuk akan berikatan dengan parasit sehingga melepaskan mediator inflamasisehingga timbul demam. Adanya eosinofilia dan meningkatnya mediator inflamasimaka akan menyebabkan reaksi granulomatosa untuk membunuh parasit dan terjadikematian parasit. Parasit yang mati akan mengaktifkan reaksi inflam dangranulomatosa. Proses penyembuhan akan meninggalkan pembuluh limfe yangdilatasi, menebalnya dinding pembuluh limfe, fibrosis, dan kerusakan struktur. Hal inimenyebabkan terjadi ekstravasasi cairan limfa ke interstisial yang akan menyebabkan perjalanan yang kronis.5 V. Manifestasi klinis Gejala klinis filariasis disebabkan oleh cacing dewasa pada sistem limfatik dan oleh reaksi hiperresponsif berupa occult filariasis. Dalam perjalanan penyakit, filariasis bermula dengan ade-nolimfangitis akuta berulang dan berakhir dengan terjadinya obstruksi menahun dari sistem limfatik. Perjalanan penyakit tidak jelas dari satu stadium ke stadium berikutnya tetapi bila diurut dari masa inkubasi maka dapat dibagi menjadi: 1)Masa prepaten Masa pepaten, masa antara masuknya larva infektif sampai terjadinya mikrofilaremia berkisar antara 37 bulan. Hanya sebagian saja dari penduduk di daerah endemik yang menjadi mikrofilaremik, dan dari kelompok mikrofilaremik

inipun tidak semua kemudian menunjukkan gejala klinis. Terlihat bahwa kelompok ini termasuk kelompok yang asimtomatik amikrofilaremia dan asimtomatik mikrofilaremia. 2)Masa inkubasi Masa inkubasi, masa antara masuknya larva infektit sampai terjadinya gejala klinis berkisar antara 8-16 bulan. 3)Gejala klinik akut Gejala klinik akut merupakan limfadenitis dan limfangitis disertai panas dan malaise. Kelenjar yang terkena biasanya unilateral. Penderita dengan gejala klinis akut dapat amikrofilaremia maupun mikrofilaremia. Filariasis bancrofti Pembuluh limfe alat kelamin laki-laki sering terkena disusul funikulitis, epididimitis dan orchids. Adenolimfangitis inguinal atau aksila, sering bersama dengan limfangitis retrograde yang umumnya sembuh sendiri dalam 3-15 hari dan serangan terjadi beberapa kali dalam setahun. Filariasis brugia Limfadenitis paling sering mengenai kelenjar inguinal, sering terjadi setelah bekerja keras. Kadang-kadang disertai limfangitis retrograd. Pembuluh limfe menjadi keras dan nyeri dan sering terjadi limfedema pada pergelangan kaki dan kaki. Penderita tidak mampu bekerja selama beberapa hari. Serangan dapat terjadi 12 kali/tahun sampai beberapa kali perbulan. Kelenjar limfe yang terkena dapat menjadi abses, pecah, membentuk ulkus dan meninggalkan parut yang khas, setelah 3 minggu 3 bulan. 4)Gejala menahun Gejala menahun terjadi 10-15 tahun setelah serangan akut pertama. Mikrofilaria jarang ditemukan pada stadium ini,sedangkan adenolimfangitis masih dapat terjadi. Gejala menahun ini menyebabkan terjadinya cacat yang

menggangguaktivitas penderita serta membebani keluarganya. Filariasis bancrofti Hidrokel paling banyak ditemukan. Di dalam cairan hidrokel ditemukan mikrofilaria. Limfedema dan elefantiasis terjadi di seluruh tungkai atas, tungkai bawah, skrotum, vulva atau buah dada, dan ukuran pembesaran di tungkai dapat 3 kali dari ukuran asalnya. Chyluria terjadi tanpa keluhan, tetapi pada beberapa penderita menyebabkan penurunan berat badan dan kelalahan.

Limfedema pada filariasis bancrofti biasanya mengenai seluruh tungkai. Limfedema tungkai ini dapat dibagi menjadi 4 tingkat, yaitu: Tingkat 1. Edema pitting pada tungkai yang dapat kembali normal (reversibel) bila tungkai diangkat Tingkat 2. Pitting/ non pitting edema yang tidak dapat kembali normal (irreversible) bila tungkai diangkat Tingkat 3. Edema non pitting, tidak dapat kembali normal (irreversibel) bila tungkai diangkat, kulit menjadi tebal Tingkat 4. Edema non pitting dengan jaringan fibrosis dan verukosa pada kulit (elephantiasis) Filariasis brugia Elefantiasis terjadi di tungkai bawah di bawah lutut dan lengan bawah, sedang ukuran pembesaran ekstremitas tidak lebih dari 2 kali ukuran asalnya.6

Occult Filariasis Tropical Pulmonary Eosinofilia Bentuk ini terjadi oleh karena terjadinya hipersensitivitas terhadap microfilaria ditandai dengan hipereosinofilia, IgE terhadap filarial tinggi, gejala limfadenopati serta asma bronkial. Gejala cepat menghilang dengan pemberian

Dietilkarbamasin. Beberapa keadaan klinis lain seperti arthritis, tenosynovitis, fibrosis endomiokardial, glomerulonephritis kadang-kadang merupakan manifestasi dari occult filariasis.6

DAFTAR PUSTAKA 1. http://emedicine.medscape.com/article/217776-overview#a0199 2. http://www.scribd.com/doc/7963861/Cdk-064-Filariasis-i 3.http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/BULETIN%20FILARIAS IS.pdf 4. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/125/jtptunimus-gdl-lailiwahyu-6227-3-

babii.pdf 5. Harrison hal 1746 jilid 1 6. http://www.scribd.com/doc/8574783/Cdk-096-Filaria