Anda di halaman 1dari 8

ASSESSMENT PENYIMPANAN VAKSIN DPT PADA BIDAN PRAKTIK SWASTA (BPS) DI WILAYAH SURABAYA TIMUR

Assessment DPT vaccine storage in midwives in private practice in East Surabaya Dinasty Arthika1, Fariani Syahrul2
2

mahasiswa FKM Unair, dinastyar@yahoo.com Staf PengajarDepartemenEpidemiologi FKM Unair, fariani_syahrul@yahoo.com


Kata kunci: assessment, imunisasi DPT, bidan praktik swasta ABSTRACT The number of diphteria cases in Surabaya was increasing constantly. Several cases of diphtheria were founding in patient with complete DPT immunization status, this indicated that there was a problem in DPT immunization services, especially about DPT vaccine storage and handling. The goal of this study was to assess knowledge of midwives in private practice about DPT vaccine and the DPT vaccine storage and handling. This study was a descriptive study with cross sectional design. The population was all midwives in private practice in East Surabaya area. The subject was population with specific criteria, there were 43 midwives in private practice. The result of DPT vaccine knowledge, the majority was lack (55.8%) and DPT vaccine storage was less (74.4%). The result showed that DPT vaccine storage and handling were not maximized yet, especially midwives in private practice gave lack of attention to DPT vaccine storage. Information updating and controlling more intensely about DPT vaccine storage are recommended. Keyword : assessment,DPT, immunization, midwives 1. PENDAHULUAN Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan kesehatan Indonesia saat ini adalah adanyabeban gandaatau double burden, dimana penyakit tidak menular mengalami peningkatan yang signifikan

ABSTRAK Kasus difteri di Kota Surabaya terus mengalami peningkatan. Beberapa kasus difteri yang ditemukan merupakan penderita dengan status imunisasi DPT lengkap, sehingga mengindikasikan adanya permasalahan dalam pelayanan imunisasi. Penelitian ini mempunyai tujuan menilai pelaksanaan pelayanan imunisasi di unit Bidan Praktik Swasta (BPS) wilayah Surabaya Timur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional. Populasi adalah seluruh bidan praktik swasta di Surabaya Timur. Subjek merupakan keseluruhan populasi dengan kriteria yang ditetapkan, sejumlah 43 BPS. Hasil penilaian menunjukkan bahwa sebagian besar (62,8%)sanitasi tempat pelayanan imunisasi sudah baik. Sebagian besar BPS (58,1%) mempunyai pengetahuan cukup, namun untuk pengetahuan khusus vaksin DPT, sebagian besar (55,8%)tergolong kurang.Penyimpanan vaksin DPTpada sebagian besar BPS (74,4%) adalah kurang. Hasil penilaian pencatatan dan pelaporan imunisasi BPS, sebagian besar kurang (44,2%). Kesimpulan adalah sebagian besar pelayanan imunisasi DPT pada unit BPS di Surabaya Timur hanya termasuk cukup. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan imunisasi BPS belum maksimal, terutama dalamhal penyimpanan vaksin DPT dan pencatatan serta pelaporan imunisasi. Perlu dilakukan updating informasi dan pengawasan yang lebih ketat mengenai penyimpanan vaksin DPT.

sementara penyakit infeksi masih menjadi penyebab penyakit yang utama. Berbagai upaya pencegahan telah dilakukan, salah satunya dengan pemberian imunisasi untuk menurunkan angka kejadian penyakit infeksi. Beberapa penyakit infeksi mengalami peningkatan kembalisetelah sebelumnya mengalami penurunan angka kejadian yang bermakna (Re emerging disease), salah satunya adalah penyakit difteri. Penyakit difteri tergolong dalam Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Imunisasi merupakan suatu cara meningkatkan kekebalan spesifik dari paparan suatu penyakit, apabila seseorang terpapar suatu penyakit mereka tidak menderita sakit (Depkes RI, 2004). Penyakitdifteridapatdicegahdengan pemberian imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus). Kesuksesan program imunisasi dapat dilihat berdasarkan angka cakupan imunisasi yang tinggi dan efektifitas vaksin (Gazmarian et al., 2002).Penyedia pelayanan imunisasi harus bertanggung jawab terhadap penyimpanan dan pemeliharaan vaksin yang tepat mulai dari vaksin datang di tempat pelayanannya sampai vaksin diberikan kepada pasien (CDC, 2011). Salah satu daerah di Jawa Timur dengan angka kejadian difteri yang selalu tinggi adalah kota Surabaya. Pada tahun 2009 ditemukan 29 penderita difteri , dimana26 orang(89,7%)dengan status imunisasi DPT lengkap. Begitujuga tahun 2010 yaitu dari 50 penderita difteri ,terdapat 35 penderita (70,0%) dengan status imunisasi DPT lengkap. Wilayah Surabaya Timur merupakan wilayah di Surabaya dengan angka kejadian difteri tertinggi pada tahun 2010(Dinkes Kota Surabaya, 2010). Terjadinya kasus difteri dengan status imunisasi lengkap dimungkinkan salah satunya karena kegagalan pembentukan kekebalan dari vaksin yang diberikan. Kekebalan yang tidak terbentuk pada orang yang telah mendapat imunisasi dapat disebabkan beberapa faktor. Menurut Markum dalam Wati (2009), dengan dasar reaksi antigen antibodi tubuh akan melawan benda asing yang mungkin masuk

dan akan merusak tubuh, tetapi setelah beberapa bulan/tahun zat anti akan berkurang karena diubah oleh tubuh sehingga imunitas tubuh menurun. Selain itu, penggunaan vaksin yang sudah rusak atau kadaluarsa, dan pemberian imunisasi yang tidak tepat waktu dapat menjadi faktor yang berhubungan dengan kegagalan pembentukan tubuh yang kebal meski sudah diimunisasi. Hal ini sangat berkaitan dengan potensi vaksin yang diberikan, terutama dalam penyimpanan dan pemeliharaan vaksin yang tidak tepat. Hasil pelacakan di Jawa Timur menemukan sebesar 38% penderita difteri mendapatkan imunisasi di Posyandu, 18% di Rumah Sakit dan 16% di Bidan Praktik Swasta (Dinkes Jatim, 2011). Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak sedikit penderita difteri yang mendapatkan imunisasi dari Unit Pelayanan Swasta (UPS). Assessmentmerupakan alih bahasa dari istilah penilaian. Assessment atau penilaian memiliki konteks yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan evaluasi (Wijono, 2007). Menurut Buana (2005) dalam Wahyuni (2012), penilaian adalah suatu kegiatan menentukan nilai dari suatu objek, seperti baik atau buruk, efektif atau tidak efektif, berhasil atau tidak berhasil, dan semacamnya sesuai dengan kriteria atau tolok ukur yang ditetapkan sebelumnya. Selama ini pemantauan dan pengawasan tentang penyimpanan vaksin oleh pihak Dinas Kesehatan Kota Surabaya lebih fokus pada Puskesmas, sedangkan untuk pemantauan dan pengawasan terhadap unit pelayanan swasta terutama bidan praktik swasta masih sangat terbatas. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur juga pernah melakukan survey assessment imunisasi yang dilaksanakan terbatas di 9 kabupaten. Assessment pelayanan imunisasi DPT yang ditujukan khusus untuk bidan praktik swasta belum pernah terlaksana. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan assessment (penilaian) terhadap penyimpanan vaksin yang dilakukan oleh Bidan Praktik Swasta (BPS) di wilayah Surabaya Timur.

2. METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional, yaitu pengumpulan data observasi atau pengukuran terhadap variabel dependen independen dalam waktu yang sama (Notoatmodjo, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Bidan Praktik Swasta (BPS) yang membuka praktik kebidanan dalam kurun waktu 3 bulan terakhir dan menyediakan pelayanan imunisasi di wilayah Surabaya Timur., meliputi 7 kecamatan yaitu Kecamatan Tambaksari, Kecamatan Gubeng, Kecamatan Rungkut, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kecamatan Gunung Anyar, Kecamatan Sukolilo, dan Kecamatan Mulyorejo.Besarsampeladalah total populasiyaitu 43 BPS. 3. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian terhadap pengetahuan BPS tentang vaksin DPT menunjukkan bahwa sebagian besar pengetahuan BPS tentang vaksin DPT termasuk dalam kategori kurang (55,8%).Selengkapnya dapat dilihat pada table 1. Penilaian terhadap penyimpanan vaksin DPT dilakukan pada 39 BPS wilayah Surabaya Timur, karena terdapat 4 BPS yang tidak melakukan penyimpanan vaksin DPT di tempat praktiknya. Distribusi hasil penilaian penyimpanan vaksin DPT ditunjukkan seperti pada tabel 2.Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa sebagian besar penyimpanan vaksin DPT di BPS di wilayah Surabaya Timur tergolong dalam kategori kurang (74,4%).Hasil observasi penyimpanan vaksin DPT secara rinci tampak seperti pada tabel 3 berikut ini: Hasil observasi menunjukkan bahwa masih terdapat penyimpanan vaksin DPT yang tidak sesuai dengan rekomendasi atau anjuran yang ditetapkan, seperti lemari es yang tidak dilengkapi dengan thermometer dan freeze tag, jarak lemari es dengan dinding belakang yang terlalu dekat, lemari es vaksin yang digunakan untuk

menyimpan benda selainn vaksin, suhu lemari es yang tidak sesuai batas normal, peletakan vaksin DPT. 4. PEMBAHASAN Rendahnya hasil penilaian pengetahuan BPS tentang vaksin DPT karena jawaban dari beberapa pertanyaan mengenai vaksin DPT banyak yang salah, diantaranya mengenai jenis vaksin DPT, sifat vaksin DPT, indikator dalam mengetahui kerusakan vaksin DPT, kondisi vaksin DPT yang sudah tidak dapat dipergunakan, prinsip yang dapat digunakan dalam pemakaian vaksin, waktu perawatan lemari es, dan hal yang harus dilakukan dalam pencairan (defrost) bunga es. Akar penyebab pengetahuan BPS yang masih kurang yaitu sebagian besar BPS lupa bahkan ada yang tidak tahu tentang istilah yang digunakan dalam penjelasan tentang vaksin DPT, seperti freeze sensitive, heat sensitive, Vaccine Vial Monitor (VVM), shake test, freeze watch atau freeze tag, First In Firs Out (FIFO), Early Expired First Out (EEFO). Selain faktor tidak tahu, beberapa BPS juga kurang lengkap dalam memberikan jawaban untuk pertanyaan yang jawabannya lebih dari satu.
Tabel 1. Hasil Penilaian Pengetahuan BPS tentang Vaksin DPT Kategori Baik Cukup Kurang Jumlah Frekuensi 2 17 24 43 Persen (%) 4,7 39,5 55,8 100

Tabel 2. Hasil Penilaian Penyimpanan Vaksin DPT di BPS Wilayah Surabaya Timur Tahun 2012 Kategori Baik Cukup Kurang Jumlah Frekuensi 1 9 29 39 Persen (%) 2,6 23,0 74,4 100

Di dalam buku pedoman On the job training (OJT) imunisasi dasar bagi pelaksana imunisasi/bidan (Depkes RI, 2009a), istilah istilah tersebut tercantum dalam penjelasan tentang vaksin DPT. BPS sebagai tenaga pelaksana imunisasi harus memenuhi standar kualifikasi yang ditentukan dan mendapat pelatihan sesuai dengan tugasnya. Pada dasarnya, standar pelaksana imunisasi di praktik swasta sama dengan tingkat Puskesmas yaitu mempunyai petugas imunisasi dan pelaksana cold chain.Hasil penelitian menunjukkan bahwa BPS di wilayah Surabaya Timur mempunyai tugas rangkap yaitu sebagai petugas imunisasi dan pelaksana cold chain di tempat pelayanan mereka. Tidak terdapat pembagian tugas secara khusus dalam hal ini. Sehingga BPS harus menguasai kedua hal tersebut, yaitu pengetahuan tentang pelayanan imunisasi dan penyimpanan vaksin DPT. Menurut Notoatmojo (2007), pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Tingkat pengetahuan mempunyai 6 tingkatan yaitu: tahu (know), memahami (comprehension), aplikasi (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation).Dengan belum bisa terpenuhinya tingkatan pertama dari pengetahuan, otomatis tingkat selanjutnya belum bisa terpenuhi. Tingkatan pertama belum bisa terpenuhi yaitu mereka tidak tahu, pada akhirnya mereka belum dapat memahami, apalagi sampai dapat mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan pengetahuan BPS tentang vaksin DPT perlu dilakukan updating
pengetahuan terutama tentang penyimpanan vaksin DPT. Penyimpanan vaksin DPT menjadi hal penting dalam pelayanan imunisasi DPT,

karena untuk menjamin kualitas potensi vaksin DPT tersebut. Penyimpanan vaksin DPT pada komponen statis dilakukan dengan menyimpan vaksin di dalam lemari es yang ditempatkan pada suatu ruangan (Depkes RI, 2009a). Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa beberapa BPS (9,3%) ternyata tidak tidak dilengkapi dengan lemari es pada tempat pelayanan mereka. Hal ini dikarenakan beberapa alasan yaitu jumlah pasien imunisasi yang datang sedikit dan tempat praktik yang digunakan merupakan tempat praktik cabang. Berdasarkan hasil wawancara, pada BPS yang memiliki jumpah pasien imunisasi sedikit, BPS membuat janji dengan pasien yang akan diimunisasi DPT, kemudian pada hari yang ditentukan BPS akan mengambil vaksin DPT di Puskesmas dengan menggunakan thermos atau vaccine carrier sehingga tidak menyimpan vaksin DPT. Selain itu, ada satu BPS dimana tempat praktiknya adalah tempat praktik cabang yang hanya membuka praktik pada hari tertentu (Selasa dan Kamis), di dalam tempat praktiknya tidak tersedia lemari es, sama halnya dimana dia mengambil vaksin DPT dari salah satu Klinik dan ketika akan melayani imunisasi, vaksin DPT dibawa dan disimpan di dalam thermos. Penyimpanan vaksin DPT pada komponen statis perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya kelayakan ruangan penyimpanan, jenis lemari es yang direkomendasikan adalah lemari es dengan pintu membuka ke depan , lemari es digunakan khusus untuk penyimpanan vaksin, suhu lemari es 2 80C, lemari es dilengkapi dengan thermometer dan freeze tag atau freeze watch (Ranuh et al, 2008). Selain itu, penempatan vaksin DPT juga harus diperhatikan dimana vaksin DPT diletakkan jauh dari freezer, dan di dalam lemari es tidak boleh ditemukan vaksin yang kadaluarsa atau vaksin dengan VVM C atau D (Depkes RI, 2009a).

Tabel 3. Hasil Observasi Penyimpanan Vaksin DPT di BPS Wilayah Surabaya Timur Tahun 2012 Variabel Jenis lemari es : Lemari es dengan pintu membuka ke atas Jarak lemari es dengan dinding belakang 10 15 cm Lemari es mempunyai stop kontak tersendiri Karet pintu lemari es yang rapat Thermometer a. Tidak ada b. Ada thermometer tetapi tidak berfungsi c. Ada thermometer berfungsi dengan benar Suhu lemari es ketika dibuka a. < 20C atau > 80C b. 20C 80C Freeze tag atau freeze watch a. Tidak ada b. Ada, freeze tag atau freeze watch tidak berfungsi/kadaluarsa c. Ada, freeze tag atau freeze watch berfungsi dengan benar Jika terdapat freeze tag atau freeze watch, tanda pada freeze tag atau freeze watch: a. Ada tanda silang (X) pada freeze tag atau warna biru melebar pada freeze watch b. Tidak ada tanda silang (X) pada freeze tag atau warna biru yang tidak melebar pada freeze watch Terdapat benda selain vaksin di dalam lemari es: a. Ada b. Tidak ada Kondisi vaksin di dalam lemari es: 1. Vaksin DPT yang kadaluarsa a. Ditemukan b. Tidak ditemukan 2. Vaksin DPT dengan kondisi VVM C atau D a. Ditemukan b. Tidak ditemukan Sirkulasi udara di ruangan penempatan lemari es a. Pengap b. Agak pengap c. Tidak terasa pengap Lemari es tidak terkena sinar matahari langsung Letak vaksin DPT jauh dari freezer Jarak antar kotak/dus vaksin a. Saling menempel antar kotak atau < 1 cm b. 1 2 cm c. > 2 cm Jumlah (n) 43 2 18 35 12 10 17 20 19 31 2 6 8. Persen (%) 100,0 5,1 46,2 89,7 30,8 25,6 43,6 51,3 48,7 79,5 5,1 15,4

1. 2. 3. 4. 5.

6.

7.

3 5

37,5 62,5

9.

21 18

53,8 46,2

10.

0 39 0 39 10 15 14 39 34 32 4 3

0 100 0 100 25,6 38,5 35,9 100 87,2 82,1 10,3 7,7

11.

12. 13. 14.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan vaksin DPT pada unit BPS di wilayah Surabaya Timur masih tergolong kurang, selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.15. Banyak hal dalam penyimpanan vaksin di BPS yang belum sesuai dengan ketentuan atau yang direkomendasikan. Diantaranya yaitu, tidak terdapat BPS yang menggunakan lemari es dengan pintu membuka ke atas, ditemukan lemari es vaksin yang digunakan untuk menyimpan

benda selain vaksin, beberapa lemari es tidak dilengkapi dengan thermometer dan freeze tag atau freeze watch, freeze tag dengan tanda silang (X), suhu lemari es tidak sesuai, susunan vaksin yang belum sesuai yaitu jarak antar kotak atau dus vaksin yang saling menempel. Lemari es dengan pintu membuka ke atas lebih dianjurkan untuk penyimpanan vaksin, karena mempunyai beberapa kelebihan yaitu suhu lemari es dengan pintu

membuka ke atas lebih stabil, pada saat pintu dibuka ke atas, suhu dingin turun ke bawah sehingga tidak keluar; apabila listrik padam maka relatif lebih bisa bertahan lebih lama; jumlah vaksin yang bisa disimpan lebih banyak (Ranuh et al., 2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh lemari es yang digunakan oleh BPS untuk menyimpan vaksin adalah lemari es dengan pintu membuka ke depan. Hal tersebut masih diperbolehkan, asalkan tata cara penempatan vaksin sesuai dengan anjuran yang terdapat dalam buku pedoman baik dari Depkes R.I. ataupun IDAI. Beberapa BPS (6,9%) mengetahui bahwa lemari es untuk penyimpanan vaksin yang lebih baik dan anjuran dari Dinas Kesehatan adalah lemari es dengan pintu membuka ke depan, akan tetapi mereka tidak mampu memenuhi anjuran tersebut dengan alasan keterbatasan biaya yang mereka miliki. Menurut Ranuh et al. (2008), lemari es vaksin tidak boleh dipergunakan untuk menyimpan benda selain vaksin seperti makanan, minuman, obat obatan atau benda benda selain vaksin, karena akan memungkinkan lemari es sering dibuka sehingga mengganggu stabilitas suhu di dalam lemari es. Selain itu, menurut CDC (2011), lemari es penyimpanan vaksin tidak diperbolehkan untuk menyimpan makanan dan minuman karena untuk mencegah terjadinya kontaminasi terhadap vaksin, sehingga lemari es harus khusus untuk menyimpan vaksin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar yaitu 53,8% lemari es dipergunakan untuk menyimpan benda selain vaksin seperti makanan, minuman, bahan makanan dan obat obatan. Selain itu , ditemukan sebesar 4,6% penyimpanan vaksin dijadikan satu dengan lemari es rumah tangga. Hal ini sangat bertentangan dengan aturan yang ditetapkan. Sifat vaksin DPT yang sensitif terhadap suhu beku, maka peletakkan vaksin DPT harus jauh dari freezer, tetapi bukan berarti vaksin DPT boleh diletakkan pada pintu lemari es.Vaksin DPT tidak boleh diletakkan pada bagian pintu lemari es atau freezer, karena pada bagian pintu lemari es, temperaturnya tidak stabil (CDC,

2011). Suhu yang tidak stabil akan menurunkan potensi dari suatu vaksin. Pada penelitian ini, ditemukan 11,5% BPS yang meletakkan vaksin DPT pada bagian pintu lemari es. Mereka beranggapan bahwa hal ini sudah benar karena vaksin DPT sudah diletakkan menjauhi freezer, padahal hal tersebut tidak sesuai dengan aturan, sehingga vaksin DPT tersebut kemungkinan besar telah mengalami penurunan potensi atau bahkan kerusakan. Penyusunan vaksin yang benar yaitu jarak setiap dus atau kotak vaksin minimal 1 2 cm, hal ini untuk menjaga sirkulasi suhu di dalam lemari es (Depkes, 2009). Sirkulasi udara di ruangan sekitar lemari es juga harus baik, dapat dilakukan dengan memberi jarak antara lemari es dengan dinding belakang sekitar 10 15 cm dan lemari es tidak boleh terkena sinar matahari langsung (Ranuh et al., 2008). Pada BPS di wilayah Surabaya Timur, penyusunan vaksin di dalam lemari es belum sesuai dengan yang diharapakan dimana peletakan dus vaksin masih bertumpuk atau tidak ada jaran antar dus vaksin, juga ada yang menaruh vaksin di dalam thermos yang kemudian thermos tersebut disimpan di dalam lemari es. Penempatan posisi lemari es masih banyak yang hampir menempel pada dinding belakang atau jarak dengan dinding

belakang < 10 cm, sehingga memungkinkan sirkulasi udara sekitar lemari es menjadi tidak baik.
Hasil observasi penyimpanan vaksin menunjukkan bahwa lebih dari 50% lemari es yang digunakan tidak mempunyai stop kontak tersendiri dan jarak lemari es dengan dinding belakang < 10 cm. Sedangkan menurut Depkes (2009c), usahakan satu lemari es mempunyai satu stop kontak tersendiri, karena apabila beberapa steker dicolokkan pada stop kontak paralel dalam waktu bersamaan, sangat mungkin menyebabkan tenaga listrik menjadi tidak normal atau menimbulkan percikan api. Pengelolaan vaksin dan rantai vaksin yang tidak baik maka dapat mengakibatkan vaksin tidak mampu merangsang kekebalan tubuh secara optimal bahkan dapat

menimbulkan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang tidak diharapkan. Oleh karena itu, dalam pelayanan imunisasi perlu memahami hal praktis untuk menilai apakah vaksin masih layak diberikan kepada pasien atau tidak (Ranuh et al., 2008). Vaksin DPT yang merupakan vaksin mati, akan rusak di bawah suhu tertentu (freeze sensitive), maka diperlukan indikator suhu berupa vaccine vial monitor (VVM) atau freeze tag atau freeze watch. VVM merupakan indikator yang terpasang pada vial vaksin berupa kota segiempat dengan warna lingkaran di sekitarnya (VVM C atau D), untuk menilai apakah vaksin sudah pernah terpapar suhu di atas batas yang dibolehkan, apabila kotak segiempat memiliki warna yang sama atau lebih gelap dari lingkaran sekitar maka vaksin tidak boleh digunakan. Sedangkan freeze tag atau freeze watch adalah alat untuk mengetahui apakah vaksin pernah terpapar suhu di bawah 00C, biasanya diletakkan di dalam rak ketiga pada lemari es, apabila dalam freeze watch terdapat warna biru melebar ke sekitarnya atau dalam freeze tag ada tanda silang (X) berarti vaksin pernah terpapar suhu 00C yang dapat merusak vaksin mati sehingga tidak boleh diberikan kepada pasien (Ranuh et al., 2008). Apabila vaksin DPT terpapar suhu < 0 0 C maka vaksin akan membeku, keretakan vial vaksin dapat terjadi ketika dilakukan pencairan bunga es sehingga memungkinkan untuk terjadi kontaminasi dengan bakteri. Pabrik yang memproduksi menganjurkan bahwa vaksin yang terpapar suhu < 00C harus dibuang dan tidak boleh digunakan (Gazmarian et al., 2002). Hasil penelitian tidak menemukan vaksin dengan VVM C atau D, hal ini menjamin bahwa vaksin DPT yang terdapat di BPS wilayah Surabaya Timur tidak terpapar suhu pada batas atas. Tidak semua lemari es dilengkapi dengan freeze tag atau freeze wactch, hanya sebagian kecil yang dilengkapi dengan freeze tag (16,5%). Kebanyakan BPS juga tidak mengetahui tentang freeze tag maupun freeze watch. Hal ini yang menjadi kendala dalam menilai apakah vaksin tersebut pernah

terpapar suhu < 00C, sehingga kualitas potensi dan efektifitas vaksin DPT yang terdapat di BPS wilayah Surabaya Timur tidak dapat diketahui. Apabila hasil penilaian penyimpanan vaksin DPT dilihat berdasarkan pengetahuan tentang vaksin DPT maka tampak seperti tabel 4 di bawah ini:
Tabel 4 Tabulasi Antara Pengetahuan BPS tentang Vaksin DPT dengan Penyimpanan Vaksin DPT di BPS wilayah Surabaya Timur Tahun 2012 Penilaian Pengetahuan BPS tentang Vaksin DPT Penilaian Penyimpanan Vaksin Kurang Cukup Total Baik

Baik Cukup Kurang Total

0 0 1 1

2 3 4 9

0 12 17 29

2 15 22 39

Hasil penelitian seperti tampak pada tabel 4 di atas menunjukkan bahwa jumlah BPS yang memiliki pengetahuan vaksin DPT yang kurang sebagian besar penyimpanan vaksin DPTnya juga termasuk dalam kategori kurang. Sebelumnya telah dijelaskan bahwa faktor pengetahuan merupakan hal penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2007). 5. KESIMPULAN Hasil penilaian kedua aspek yaitu pengetahuan BPS tentang vaksin DPT dan penyimpanan vaksin DPT pada unit pelayanan statis di Bidan Praktik Swasta (BPS) wilayah Surabaya Timur menunjukkan bahwa sebagian besar hasil penilaian masih tergolong dalam kategori kurang. Diperlukan suatu upaya berupa updating informasi dan pengawasan yang lebih ketat tentang penyimpanan vaksin DPT bagi seluruh BPS di wilayah Surabaya Timur.

6. REFERENSI CDC. 2011. Vaccine Storage and Handling Guide. USA: Department of Health and Human Service Depkes. R.I. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1116/MENKES/SK/XI/2005 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta: Depkes. R.I. Depkes. R.I. 2009a. On The Job Training (OJT) Imunisasi Dasar bagi Pelaksana Imunisasi/Bidan. Jakarta: Ditjen PP & PL Depkes. R.I. 2009b. Pedoman Teknis Pencatatan dan Pelaporan Program Imunisasi bagi Petugas Puskesmas. Jakarta: Ditjen PP & PL Depkes. R.I. 2009c. Pelatihan Imunisasi Dasar bagi Pelaksana Imunisasi di UPK Swasta. Jakarta: Depkes. R.I. Dinkes. Jatim./Penyakit difteri dan situasidiJatim/http://dinkes.jatimprov .go.id/userimage/dokumen/PENYAK IT%20DIFTERI%20&%20SITUASI %20DI%20JATIM.pdf (sitasi tanggal 9 Desember 2011) Dinkes. Kota Surabaya. 2010. DataJumlah Kasus dan Kematian Penyakit Menular Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) Kota Surabaya. Surabaya: Seksi Wabah dan Bencana Gazmarian, J.A., N. V. Oster, D. C. Green, L. Schuester, K. Howell, J. Davis, M. Krovisky, S. W. Warburton. 2002. Vaccine Storage Practices in primary Care Physician Offices Assessment and Interventon. American Journal of Preventive Medicine. Vol. 23. No. 4: 251 Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta. Jakarta Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metode Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta Ranuh, I.G.N., H. Suyitno, S.R.S. Hadinegoro, C.B. Kartasasmita, Ismoedijanto, Soedjatmiko. 2008. Pedoman Imunisasi di Indonesia Edisi Ketiga. Badan Penerbit IDAI. Jakarta

Wahyuni. 2012. Penilaian Remaja terhadap Tipe Pola Asuh Keluarga di SMA Negeri 1 Padangsidimpuan. Skirpsi. Medan. Universitas Sumatera Utara/http://repository.usu.ac.id/bitstr eam/123456789/31593/4/Chapter%2 0II.pdf (sitasi tanggal 10 Maret 2012) Wati, Lienda. 2007. Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kelengkapan Imunisasi pada Anak Usia 12 23 Bulan di Jawa Barat dan Jawa tengah Tahun 2007 (Analisis Data Sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007). Skripsi. Jakarta. Universitas Indonesia/http://www.lontar.ui.ac.id/f ile?file=digital/126060-S-5608Faktor-faktor%20yangLiteratur.pdf(sitasi tanggal 10 Desember 2011) Wijono, Djoko. 2007. Evaluasi Program Kesehatan dan Rumah Sakit. CV Duta Prima Airlangga. Surabaya