Anda di halaman 1dari 35

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok XVIII 167


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Didalam kehidupan sehari hari kita sering kali berjumpa dengan defleksi,
baik defleksi pada baja, pada besi maupun kayu. Oleh sebab itu kita seorang
engineer harus memperhitungkan defleksi atau lendutan yang akan terjadi,
contohnya saja pada jembatan. Jika seorang engineer tidak memperhitungkan
maka akan berakibat fatal bagi pengguna jembatan tersebut, karena faktor
lendutan yang lebih besar akan mengurangi faktor safety pada struktur tersebut.
Oleh sebab itu kita harus mengetahui fenomena apa saja yang akan terjadi pada
defleksi ini.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui fenomena defleksi (lendutan) pada batang prismatik.
2. Membuktikan kebenaran rumus defleksi teoritis dengan hasil percobaan.
1.3 Manfaat
Dengan praktikum ini kita dapat mengetahui defleksi yang terjadi pada
sebuah struktur dan juga menghitung besarnya defleksi, mencegah terjadinya
kegagalan struktur akibat adanya defleksi.
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 168
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Dasar
2.2.1 Defleksi dan Jenis jenis Defleksi
Suatu batang kontinu yang ditumpu pada bagian pangkalnya akan
melendut jika diberi suatu pembebanan. Secara umum persamaan dari defleksi
dapat dilihat pada kurva defleksi dari sebuah batang prismatik. Jika dilihat pada
kurva dibawah ini, maka defleksi V
Gambar 5.2.1 Skema defleksi pada cantilever
Defleksi dari batang pada titik m
1
pada jarak x dari tumpuam ( gambar 1 )
berpindah searah dengan sumbu y, diukur dari x aksis ke kurva defleksi. Defleksi
yang mengarah kebawah adalah positif dan yang mengarah ke atas adalah bernilai
negatif.
Suatu putaran dari axis batang pada titik m
1
adalah sudut antara axis dan torgent
di kurva defleksi ( gambar 2 ). Sudut ini positif ketika searah jarum jam.
Ringkasan rumus umumnya adalah :
g = distribusi beban
dv
EIV
dx
''' = =
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 169
Dimana : M = Momen bending V I M ' ' =
V = gaya geser V I V ' ' ' ' =
P
Gambar 5.2.2 Gaya yang bekerja pada batang cantilever
Defleksi berdasarkan pembebanan yang terjadi pada batang, terdiri atas ;
1. Defleksi aksial (regangan)
Defleksi yang terjadi jika pembebanan pada luas penampang.
Gambar 5.2.3 Defleksi secara vertikal
=
AE
Pl
(sumber:Mechanics of Material,
Hibbeler)
Turunan rumus:
=
A
P
dari hukum hooke : = E
L = = L L
0
= L / L
0
E =
A
P
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 170
E ( L / L
0
)=
A
P
E ( / L
0
)=
A
P
=
AE
Pl
0
(sumber : Mechanics of Material, Hibbeler)
2. Defleksi lateral (lendutan)
Defleksi yang terjadi jika pembebanan tegak lurus pada luas penampang
Gambar 5.2.4 Defleksi cantilever
\
Gambar 5.2.5 Defleksi lateral secara tegak lurus penampang
3. Defleksi oleh gaya geser atau puntir pada batang
Unsur-unsur dari mesin haruslah tegar untuk mempertahankan ketelitian
dimensional terhadap pengaruh beban. Suatu batang kontinu yang ditumpu
akan melendut jika mengalami beban lentur.
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 171
Gambar 5.2.6 Defleksi karena adanya momen puntir
2.1.2 Tumpuan dan jenis jenis tumpuan
Jenis jenis tumpuan yang dipakai pada struktur dapat dilihat pada tabel
dibawah ini beserta gaya yang bekerja pada tumpuan tersebut
Jenis
Tumpuan
Simbol Gaya yang Bekerja
Tumpuan
Rol
F
y
Tumpuan
Engsel
F
x
F
y
Tumpuan
Jepit
F
x
F
y
M
Gambar 5.2.7 Jenis-jenis tumpuan pada struktur
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 172
Defleksi berhubungan dengan regangan (AL/L). Jika regangan yang terjadi
pada struktur semakin besar, maka tegangan struktur akan bertambah besar.
Defleksi sangat penting untuk diketahui karena berhubungan dengan
desain sturktur dan membantu dalam analisis struktur.
2.1.3 Faktor faktor yang mempengaruhi defleksi
Faktor-faktor yang memepengaruhi defleksi :
1. Besar pembebanan
2. Panjang batang
3. Dimensi penampang batang
4. Jenis material batang
2.1.4 Metoda Integrasi, luas momen, superposisi
Lendutan yang terjadi disetiap titik pada batang tersebut dapat dihitung
dengan berbagai metoda, antara lain :
Metoda integrasi
Metoda luas momen
Metoda superposisi
1. Metoda Integrasi
Metoda integrasi dapat dipakai untuk kurva lendutan yang mengandung
unsur momen lentur/persamaan momen lentur dengan menggunakan diagram
beban besar dan keseimbangan statis.
F
y
= 0 qdx + (Q+ dQ) Q = 0
dQ = -qdx q
dx
dQ
=
M
A
= 0 (M + dM) (Q + dq) dx (qdx)
2
dx
- M = 0
dM = (Q + dQ) dx -
2
1
q (dx)
2
dM = Qdx + dQdx +
2
1
q (dx)
2
diabaikan
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 173
Q
dx
dM
=
w
A
B
L
x
y
Gambar 5.2.8 Lendutan menggunakan metoda integrasi
Dari sistem diatas dapat ditentukan kondisi reaksi tumpuan dengan diagram
benda bebas sebagai berikut :
DBB :
wx
x
2
x
M wx
2
wx
2
| |
=
|
\ .
=
2 2
2
3
1
4
1 2
d y wx
EI
dx 2
dy 1
EI wx C
dx 6
1
EIy wx C x C
24

=
= +
= + +
Gambar 5.2.9 Potongan gaya terdistribusi
dari persamaan sebelumnya :
Q M Q
dx
dM
= ' =
q Q q
dx
dQ
= ' =
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 174
EIy
M
Iy E M = ' ' =
( )
( )
( )
IV
w'=-
M
-w''='=
EIy
- w''EIy '=M'=-Q
- w''EIy ''=Q'=-q
Untuk EIy=konstan bukan fungsi x , berlaku hubungan:
w EIy=q
w'''EIy=-Q
w'' EIy=-M
Persamaan kurva lendutan yang mengandung unsur momen lentur dapat
diintegrasi untuk memperoleh lendutan w sebagai fungsi x. langkah perhitungan
adalah menulis persamaan untuk momen lentur dengan mempergunakan diagram
benda bebas dan keseimbangan statis bila balok/pembebanan pada balok tiba-tiba
berubah pada waktu bergerak. Sepanjang sumbu balok, maka akan ada pemisahan
momen masing-masing untuk tiap bagian, persamaan untuk M diganti dengan
persamaan diferensial. Persamaan tersebut diintegrasikan untuk mendapatkan
kemiringan w dan konstanta integrasi. Konstanta dapat ditentukan dari kondisi
untuk batas sehubungan dengan w dan w pada perletakan balok dan kondisi
kontinuitas w dan w pada titik untuk di mana bagian-bagian balok tertentu.
Konstanta untuk hasil evaluasi dapat disubsitusi kembali ke persamaan
untuk w, sehingga menghasilkan persamaan akhir untuk kurva lendutan.
2. Metoda luas momen
Metode luas momen memanfaatkan sifat-sifat diagram luas momen lentur.
Cara ini khususnya cocok bila yang diinginkan lendutan dan putaran sudut pada
suatu titik saja, karena dapat diperoleh besaran tersebut tanpa mencari persamaan
selengkapnya dari garis lentur terlebih dulu.
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 175
Kurva
lendutan
Garis
singgung
uA B
uBA = uB - uA
du
dA
uB
ABA
M
EI
Gambar 5.2.10 Lendutan batang cantilever menggunakan metoda luas momen
( )
( )
}
} }
= u = u u
= u
= u = u
=
=
dx
EI
M
dx
EI
M
d
dx
EI
M
d
EI
M
'
dx
d
EI
M
' w
dt
d
EI
M
' ' w
BA B A
B
A
- Teorema luas momen yang pertama
Sudut BA merupakan sudut yang dibentuk oleh garis singgung kurva
lendutan pada titik A dan titik B yang berharga sama dengan negatif dari luas
momen
EI
M
diantara kedua titik tersebut.
BA
M M
=- dx =- luas diantara titik Adan B
EI EI

`
)
}
konversi tanda :
1. Sudut relatif BA berharga positif, jika OB lebih besar dari OA titik B
berada disebelah kanan titik A. Jika bergerak kearah sumbu A positif.
2. Momen lentur berharga positif seperti pada gambar dibawah :
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 176
Gambar 5.2.11Momen lentur pada sebuah batang
Dari gambar diperoleh :
B B
A A
B
A
M
dA=x d=-x dt
EI
M
dA=- dx
EI
M
BA=- x dt
EI
M
=- momen pertama dari luas kurva antara titik Adan Bdenganacuan titik B
EI

`
)
} }
}
- Teorema luas momen yang kedua
Lendutan A BA merupakan perpindahan relatif titik B terhadap garis
linier, yaitu semua faktor yang mengandung lendutan w dan turunannyan
dikembangkan ke tingkat pertama dari luas kurva
EI
M
yang terletak antara titik A
dan B dengan acuan titik B.
3. Prinsip superposisi
Persamaan diferensial kurva lendutan balok adalah persamaan diferensial
linier, yaitu semua faktor yang mengandung lendutan w dan turunannya
dikembangkan ke tingkat pertama saja. Karena itu, penyelesaian persamaan untuk
bermacam-macam kondisi pembebanan boleh di superposisi. Jadi lendutan balok
akibat beberapa beban yang bekerja bersama-sama dapat dihitung dengan
superposisi dari lendutan akibat masing-masing beban yang bekerja sendiri-
sendiri
IV
M
W''
EIy
Q
W'''
EIy
q
W
EIy
=
=
=
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 177
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
1 2
1 2
1 2
1 2
W x W x W x
berlaku analog
W' x W' x W' x
M x M x M x
Q x Q x Q x
= +
= +
= +
= +
Gambar 5.2.12 Metoda superposisi
w
x
y
2

A
B
C
w
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi
Kelompok XVIII
2.1.5 Aplikasi Defleksi
1. Jembatan
Disinilah dimana aplikasi lendutan batang mempunyai perananan yang
sangat penting. Sebuah jembatan
kendaraan diatasnya mengalami beban yang sangat besar dan dinamis yang
bergerak diatasnya. Hal ini tentunya akan mengakibatkan terjadinya lendutan
batang atau defleksi pada batang
yang terjadi secara berlebihan tentunya akan mengakibatkan perpatahan pada
jembatan tersebut dan hal yang tidak diinginkan dalam membuat jembatan
2. Poros
Pada poros yang saling bersinggungan untuk mentran
memberikan beban pada batang poros secara radial. Ini yang menyebabkan
terjadinya defleksi pada batang poros transmisi. Defleksi yang terjadi pada poros
membuat sumbu poros tidak lurus. Ketidak lurusan sumbu poros akan
menimbulkan efek getaran pada pentransmisian gaya torsi antara roda gigi. Selain
itu,benda dinamis yang berputar pada sumbunya.
Praktikum FDM Bidang Konstruksi
2.1.5 Aplikasi Defleksi
Disinilah dimana aplikasi lendutan batang mempunyai perananan yang
sangat penting. Sebuah jembatan yang fungsinya menyeberangkan benda atau
kendaraan diatasnya mengalami beban yang sangat besar dan dinamis yang
bergerak diatasnya. Hal ini tentunya akan mengakibatkan terjadinya lendutan
batang atau defleksi pada batang-batang konstruksi jembatan tersebu
yang terjadi secara berlebihan tentunya akan mengakibatkan perpatahan pada
jembatan tersebut dan hal yang tidak diinginkan dalam membuat jembatan
Gambar 5.2.13 Defleksi pada jembatan
Pada poros yang saling bersinggungan untuk mentransmisikan gaya torsi
memberikan beban pada batang poros secara radial. Ini yang menyebabkan
terjadinya defleksi pada batang poros transmisi. Defleksi yang terjadi pada poros
membuat sumbu poros tidak lurus. Ketidak lurusan sumbu poros akan
getaran pada pentransmisian gaya torsi antara roda gigi. Selain
itu,benda dinamis yang berputar pada sumbunya.
Gambar 5.2.14 Defleksi pada baut
Defleksi
178
Disinilah dimana aplikasi lendutan batang mempunyai perananan yang
yang fungsinya menyeberangkan benda atau
kendaraan diatasnya mengalami beban yang sangat besar dan dinamis yang
bergerak diatasnya. Hal ini tentunya akan mengakibatkan terjadinya lendutan
batang konstruksi jembatan tersebut. Defleksi
yang terjadi secara berlebihan tentunya akan mengakibatkan perpatahan pada
jembatan tersebut dan hal yang tidak diinginkan dalam membuat jembatan
smisikan gaya torsi
memberikan beban pada batang poros secara radial. Ini yang menyebabkan
terjadinya defleksi pada batang poros transmisi. Defleksi yang terjadi pada poros
membuat sumbu poros tidak lurus. Ketidak lurusan sumbu poros akan
getaran pada pentransmisian gaya torsi antara roda gigi. Selain
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 179
3. Rangka (chasis) kendaraan
Kendaraan kendaraan pengangkut yang berdaya muatan besar, memiliki
kemungkinan terjadi defleksi atau lendutan batang batang penyusun
konstruksinya dan juga chasisnya.
Gambar 5.2.15 Defleksi pada rangka kendaraan
2.1.6 Penurunan Rumus Defleksi Lateral
Penurunan rumus :
P
/ 2
P
/ 2
P
DBB :
P
P/2
P/2
Potongan 1 ( 0 x / 2 s s ) Potongan 2 ( / 2 x s s )
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 180
P/2
M
1
V
x
N
2
1
3
1 3
Px
M
2
EI M
Px
2
Px
EI C
4
Px
EI C x C
12
=
'' o =
=
' o = +
o = + +
P/2
x
M
N
V
( )
( )
( )
( )
2
2
3
3
2 4
Px
M P x / 2
2
EI M
Px
P x / 2
2
P x / 2
Px
EI C
4 2
P x / 2
Px
EI C x C
12 6
=
'' o =
= +

' o = + +

o = + + +

kondisi yang berlaku :


1. untuk x / 2 = , defleksi sudut kedua persamaan harus sama (
I II
' ' o = o ), maka :
( )
2 2
1 2 1 2
P x / 2
Px Px
C C C C
4 4 2

+ = + + =

2. untuk x / 2 = , defleksi sudut kedua persamaan harus sama (


I II
o = o ), maka :
( )
3
3 3
1 3 2 4 3 4
P x / 2 Px Px
C x C C x C C C
12 12 6

+ + = + + + =

3. untuk x = 0 , 0 o =
3
1 3 3
4 3
Px
C x C 0 C 0
12
maka C C 0
+ + = =
= =
4. untuk x = , 0 o =
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi
Kelompok XVIII
P
Pb

( )
3
3
3 3
2
2
1 2
P x / 2
Px
12 6
Px P
C 0 0
12 48
C
C C

+ + + =
+ + + =
= =

maka :
untuk 0 x / 2 s s
3 2
3 2
Px 3P
EI x
12 48
4Px 3P x Px
48EI 48EI
o = +
+
o = o =

untuk / 2 x s s
( )
(
3
2 2 3 3 2
3
3 2 2 3
3 2 2 3 3 2 2 3
P x / 2 Px 3Px
EI 0
6 12 48
P 3x 3x Px 3Px
EI x
6 2 4 8 12 48
Px Px 9Px
EI
12 4 48 48
P P
EI 4x 12x 9x 4x 12x 9x
48 48EI

o = + + +
| |
o = + +
|
\ .
o = +
o = + o = +




2.
DBB :
Praktikum FDM Bidang Konstruksi
Pa

2 4
2 2 2
2
2
1 2
C x C 0
C 0 0
4P P 3P
C
48 48
3P
C C
48
+ + + =
+ + + =

= =
= =

0 x / 2
( )
2 2
EI x
4Px 3P x Px
3 4x
48EI 48EI
o = o =

) (
3 2
2 2 3 3 2
3 2 2 3
3 2 2 3 3 2 2 3
Px 3Px
EI 0
6 12 48
P 3x 3x Px 3Px
6 2 4 8 12 48
Px Px 9Px
12 4 48 48
P P
EI 4x 12x 9x 4x 12x 9x
48 48EI
o = + + +
| |
o = + +
|
\ .
o = +
o = + o = +




Defleksi
181
)
3 2 2 3 3 2 2 3
o = + o = +
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 182
1. untuk x a = , defleksi sudut kedua persamaan harus sama (
I II
' ' o = o ), maka :
( )
2
2 2
1 2 1 2
P x a Pbx Pbx
C C C C
2 2 2

+ = + + =

2. untuk x a = , defleksi sudut kedua persamaan harus sama (
I II
o = o ), maka :
( )
3
3 3
1 3 2 4 3 4
P x a Pbx Pbx
C x C C x C C C
6 6 6

+ + = + + + =

3. untuk x = 0 , 0 o =
3
1 3 3
4 3
Pbx
C x C 0 C 0
6
maka:C C 0
+ + = =
= =

Potongan 1 ( 0 x / 2 s s )
Pb

M
V
x
N
2
1
3
1 3
Pbx
M
Pbx
EI M
Pbx
EI C
2
Pbx
EI C x C
6
=
'' o = =
' o = +
o = + +

Dilihat pada DBB,


Kondisi yang berlaku :
Potongan 2 ( / 2 x s s )
Pb

x
M
N
V
( )
( )
( )
( )
2
2
2
3
3
2 4
Pbx
M P x a
Pbx
EI M P x a
P x a Pbx
EI C
2 2
P x a Pbx
EI C x C
6 6
=
'' o = = +

' o = + +

o = + + +

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi


Kelompok XVIII 183
4. untuk x = , 0 o =
( )
( ) ( )
3
3
2 4
3 3
2
2 3
2
2 2 2 2
2 1 2
P x a
Pbx
C x C 0
6 6
Pb Pb
C 0 0
6 6
Pb Pb
C
6 6
Pb Pb
C b C C b
6 6

+ + + =
+ + + =
=
= = =



maka :
untuk 0 x a s s
( )
( )
3
2 2
2 2 2
Pbx Pb
EI b x 0 0
6 6
Pbx
b x
6 EI
o = + + =
o =

untuk a x s s
( )
( )
( )
( )
3
3
2 2
3
2 2 2
P x a Pbx Pb
EI b x 0 0
6 6 6
P x a Pbx
b x
6 EI 6

o = + + + =

o = +

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi


Kelompok XVIII 184
3
.
P
/ 2
/ 2
Dengan metode superposisi, sistem di atas menjadi :
P
I
Defleksi Pada Struktur I
dari tabel defleksi :
2
2
Px 3
x 0 x
6EI 2 2
P
3x x
24EI 2 2
| |
o = s s
|
\ .
| |
o = s s
|
\ .

Defleksi Pada Struktur II


( )
2
Rx
3 x
6EI
o =
defleksi di titik B = 0, maka :
( )
BI BII
2 2
3 3
0
P R
3 3 0
24EI 2 6EI
5P R 15P
0 R
48EI 3EI 48
o + o =
| |
+ =
|
\ .

+ = =



R
II
= +
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 185
maka defleksi total adalah :
untuk 0 x
2
s s

( )
( )
2 2
2 2
2 2
Px 3 Rx
x 3 x
6EI 2 6EI
Px 3 15 Px
x 3 x
6EI 2 48 6EI
Px 3 45 15x Px 27 33x
x
6EI 2 48 48 6EI 48 48
| |
o = +
|
\ .
| |
=
|
\ .
| | | |
= =
`
| |
\ . \ . )


untuk x
2
s s

( )
2 2
P 15 Px
3x 3 x
24EI 2 48 6EI
| |
o =
|
\ .

4.
P
a b
Dengan metode super posisi, sistem di atas menjadi :
P
I
R
II
.
. Defleksi Pada Struktur I
dari tabel defleksi :
( )
( )
2
2
Px
3a x 0 x a
6EI
Pa
3x a a x
6EI
o = s s
o = s s
= +
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 186
Defleksi Pada Struktur II
( )
2
Rx
3 x
6EI
o =
defleksi di titik B = 0, maka :
maka defleksi total adalah :
BI BII
o = o + o
untuk 0 x a s s
( ) ( ) ( )
( ) ( )
2 2 2
3
2 2
2
3
Px Pa x
3a x 3 a 3 x
6EI 2 6EI
Px Pa
3a x 9 3 x 3a ax
6EI 12 EI
o =
= +

( ) ( ) ( )
( ) ( )
2 2 2
3
2 2 2
2
3
Pa Pa x
3x a 3 a 3 x
6EI 2 6EI
Pa Pa x
3x a 9 3 x 3a ax
6EI 12 EI
o =
= +

untuk a x s s
( ) ( ) ( )
( ) ( )
2 2 2
3
2 2 2
2
3
Pa Pa x
3x a 3 a 3 x
6EI 2 6EI
Pa Pa x
3x a 9 3 x 3a ax
6EI 12 EI
o =
= +

( ) ( )
( ) ( )
BI BII
2 2
3 2 2
3
0 x
Pa R
3 a 3 0
6EI 6EI
R Pa Pa
3 a R 3 a
3EI 6EI 2
o + o = =

+ =
= =

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi


Kelompok XVIII 187
2.2 Teori Dasar Alat Uji
1. Dial Indicator
Pada alat ukur yang digunakan dalam percobaan defleksi ini adalah dial
gauge (dial indikator) atau jam ukur. Jam ukur merupakan alat ukur pembanding
yang banyak digunakan dalam industri pemesinan pada bagian produksi maupun
pada bagian pengukuran. Prinsip kerjanya adalah secara mekanis, dimana
bergerak linier dari sensor diubah menjadi gerak putaran pada jarum penunjuk
pada piringan berskala dengan perantara batang bergigi dan susunan roda gigi.
Kecermatan pembacaan skala adalah 0.01, 0.05 atau 0.002 dengan
kapasitas ukuran yang berbeda misalnya 20, 10, 5, 2 atau 1 mm. Untuk kapasitas
ukuran yang besar biasanya dilengkapi dengan jarum jam penunjuk kecil pada
piringan jam yang besar, dimana satu putaran penuh dari jarum jam yang besar
sesuai dengan satu angka dari yang kecil. Dial indokator yang digunakan pada
praktikum ini dapat dilihat pada gambar di bawah.
Gambar 5.2.16 Dial indicator
Ujung sensor dapat diganti dengan berbagai bentuk (bulat, lonjong, pipih)
dan dibuat dari berbagai baja karbida atau sapphire. Permukaan jenis sensor
disesuaikan dengan kondisi benda ukur dan frekuensi penggunaannya. Toleransi
kesalahan putarnya (run-out tolerance) dapat diperiksa dengan cara menempatkan
jam ukur pada posisi yang tetap dan benda ukur diputar pada sumbu yang tertentu.
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 188
2. Beban
Beban yang digunakan untuk memberikan gaya luar pada batang.
Gambar 5.2.17 Beban
- Stand Magnetic
Digunakan untuk menjaga kedudukan dial indicator agar tidak bergeser
dari kedudukannya.
Gambar 5.2.18 Stand Magnetic
- Batang uji
Batang yang digunakan sebagai alat uji lendutan
Gambar 5.2.19 Batang prismatic
- Mistar
Digunakan untuk mengukur panjang batang sekaligus mengatur letak
beban yang diinginkan.
Gambar 5.2.20 Mistar
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 189
BAB III
METODOLOGI
3.1. Peralatan
Gambar 5.3.1 Skema alat
3.2. ProsedurPercobaan
1. Susun batang seperti pada gambar diatas, hanger penggantung beban
dipasang tetapi belum diberi beban. Hanger dapat dipasang satu atau dua,
tergantung kondisi pembebanan yang diinginkan. Pasang dial gauge pada
posisi x yang akan diukur lendutannya dan posisi awal batang uji yang
ditunjukan oleh dial gauge dicatat.
2. Pasang beban pada hanger dan lendutan yang ditunjukkan dial gauge
dicatat. Lendutan yang terjadi adalah selisih kedua pencatatan tersebut.
3. Ulangi cara diatas untuk massa yang berbeda.
4. Ubah posisi dial gauge untuk menemukan lendutan dititik lain.
3.3 Asumsi
- Semua gaya yang bekerja dianggap dalam keadaan steady.
- Batang uji bersifat homogen (prismatik).
- Batang uji lurus dan luas penampangnya konstan.
Dial indikator
Beban
Batang prismatic
Tumpuan
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi
Kelompok XVIII
4.1 Tabel Data
Tabel 5.4.1 Data Percobaan
No pengujian
1
2
3
4
5
P = 9,81 N 6
7
1
2
3
4
5 P = 9,81 N
6 a = 200 mm
7 b = 600 mm
1
2
3
4
5
P = 9,81 N 6
7
1
2
3
Praktikum FDM Bidang Konstruksi
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Percobaan
posisi dial
(x)
Panjang
batang (l) Perc
100 800 0,3
200 800 0,75
300 800 1,02
400 800 1,1
500 800 1,1
600 800 0,75
700 800 0,41
100 800 0,59
200 800 0,38
300 800 0,79
400 800 0,89
500 800 0,7
600 800 0,55
700 800 0,31
100 800 0,06
200 800 0,94
300 800 0,49
400 800 0,17
500 800 0,56
600 800 0,38
700 800 0,25
100 800 0,06
200 800 0,08
300 800 0,22
Defleksi
190
Perc
0,75
1,02
0,75
0,41
0,59
0,38
0,79
0,89
0,55
0,31
0,06
0,94
0,49
0,17
0,56
0,38
0,25
0,06
0,08
0,22
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 191
4 400 800 0,23
5 P = 9,81 N 500 800 0,2
6 a = 200 mm 600 800 0,15
7 b = 600 mm 700 800 0,11
Padang, November 2011
Hokti Fandelr
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 192
4.2 PerhitunganPercobaan
Percobaan I
Diketahui :
9.81 N
400 400
A
B
E I= 62500000 N/mm
800mm =
Maka DBB-nya :
98.1 N
A
y
A
x
B
y
400 400
ReaksiTumpuan :
A
y
y
M 0
B 800 9.81 400
B 4.905N
=
=
=
y
y
x x
F 0
A 9.81 4.905 4.905N
F 0 A 0
=
= =
= =

Perhitungan defleksi
Pada x = 400 mm
=
P . X
48 E I
=
9,81 . 400
48 . 62500000
= 1,67424 mm
Percobaan II
Diketahui :
9.8 1N
600
A
B
200
E I= 62500000 N/mm
800mm =
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 193
Maka DBB-nya :
9.8 1N
A
y
A
x
B
y
200 600
ReaksiTumpuan :
A
y
y
M 0
B 800 9.81 200
B 2.45N
=
=
=
y
y
x x
F 0
A 9.81 2.45 7.35 N
F 0 A 0
=
= =
= =

Perhitungan defleksi
Pada x = 400 mm
=

6
(

)
(x a)
6
=
, . .
. .
(800 600

400

)
, ( )
.
= 1.15 mm
Percobaan III
9.81N
/ 2
/ 2
DBB
A
y
A
x
M
A
B
y
9.81 N
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 194
Perhitungan defleksi
Pada x = 400 mm
=
.
6

27
48

33
48

=
9,81 . 400
6 . 62500000

27 . 400
48

33 . 400
48

= 0,73248 mm
Percobaan IV
9.81 N
200mm 600mm
E= 62500000 N/mm
800mm =
DBB
A
y
A
x
M
A
B
y
9.81 N
Perhitungandefleksi
=

6
(3 )
.

12


(9

3 3 )
=
9,81 (400)
6 . 62500000
(3 . 200 400)
9,81 (200)

12 (800)

(62500000)
(9 (800)

3 (800)(400) 3 (200)(800) +(200)(400))


= 0,837 mm
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi
Kelompok XVIII
4.3 Tabel hasil perhitungan
No Pengujian
1
2
3
4
5
6 P = 9,81 N
7
1
2
3
4
5 P = 9,81 N
6 a = 200 mm
7 b = 600 mm
1
2
3
4
5
6 P = 9,81 N
7
1
2
3
4
5 P = 9,81 N
6 a = 200 mm
7 b = 600 mm
Praktikum FDM Bidang Konstruksi
4.3 Tabel hasil perhitungan
Pengujian
posisi
dial (x)
Panjang batang
(l)
100 800
200 800
300 800
400 800
500 800
P = 9,81 N 600 800
700 800
100 800
200 800
300 800
400 800
P = 9,81 N 500 800
a = 200 mm 600 800
b = 600 mm 700 800
100 800
200 800
300 800
400 800
500 800
P = 9,81 N 600 800
700 800
100 800
200 800
300 800
400 800
P = 9,81 N 500 800
a = 200 mm 600 800
b = 600 mm 700 800
Defleksi
195
Panjang batang
Perc teo
0.3 0.61
0.75 1.15
1.02 1.53
1.1 1.67
1.1 1.53
0.75 1.15
0.41 0.61
0.59 0.53
0.38 0.94
0.79 1.12
0.89 1.15
0.7 1.00
0.55 0.73
0.31 0.39
0.06 0.10
0.94 0.33
0.49 0.57
0.17 0.73
0.56 0.72
0.38 0.56
0.25 0.31
0.06 0.13
0.08 0.42
0.22 0.71
0.23 0.84
0.2 0.65
0.15 0.00
0.11 -1.28
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 196
4.4 Grafik
Grafik defleksi percobaan VS defleksi teori (pengujian I)
Grafik defleksi percobaan VS defleksi teori (pengujian II)
Grafik defleksi percobaan VS defleksi teori (pengujian III)
0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
1,4
1,6
1,8
0 200 400 600 800
d
e
f
l
e
k
s
i
posisi dial
Perc
teo
0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
1,4
0 200 400 600 800
d
e
f
l
e
k
s
i
posisi dial
Perc
teo
0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0,8
0,9
1
0 200 400 600 800
d
e
f
l
e
k
s
i
posisi dial
Perc
teo
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 197
Grafik defleksi percobaan VS defleksi teori (pengujian IV)
Grafik defleksi percobaan Pengujian I VS Pengujian II
Grafik defleksi percobaan Pengujian III VS Pengujian IV
-1,5
-1
-0,5
0
0,5
1
0 200 400 600 800
d
e
f
l
e
k
s
i
posisi dial
Perc
teo
0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
0 200 400 600 800
d
e
f
l
e
k
s
i
posisi dial
Perc I
0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0,8
0,9
1
0 200 400 600 800
d
e
f
l
e
k
s
i
posisi dial
Perc
III
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi
Kelompok XVIII
4.5 Analisa dan Pembahasan
Pada pengujian dengan objek defleksi ini dilakukan empat jenis
percobaan pada sebuah batang prismatik dengan tumpuan pada kedua ujung
batang divariasikan dimana pada percobaan I dan II digunakan tumpuan rol dan
engsel sedangkan pada percobaan III dan IV digunakan tumpuan jepit dan rol
serta titik penempatan beban yang berbeda pula.
Pada pengujian I,
meningkat seiring semakin jauhnya titik pengujian dari tumpuan. Dimana pada
tengah tengah batang didapat harga defleksi paling besar dan titik paling dekat
dengan tumpuan didapat harga defleksi paling kecil. Hal i
yang ada dimana harga lendutan terbesar terdapat pada tengah
Pada pengujian II, sistem yang digunakan adalah sama seperti pada
pengujian I, yaitu sebuah batang yang ditumpu
rol. Yang membedakannya adalah penempatan beban yang diberikan, yaitu pada
jarak 200 mm dari salah satu ujung batang prismatik. Defleksi yang terjadi pada
batang kemudian diukur pada posisi yang berjarak 100 mm satu sama lai
sepanjang 800 mm .Harga defleksi teoritis dan defleksi percobaan dapat dilihat
pada tabel hasil pengujian II. Harga defleksi teoritis yang didapat lebih kecil dari
harga defleksi pengujian I sehingga hasil atau bentuk defleksi yang terjadi pada
batang juga ke bawah seperti terlihat pada grafik pengujian II. Pada grafik tersebut
tampak bahwa terdapat perbedaan antara harga defleksi percobaan dengan
defleksi teoritis. Kesalahan ini bisa disebabkan oleh kesalahan dalam pembacaan
Praktikum FDM Bidang Konstruksi
Pembahasan
Pada pengujian dengan objek defleksi ini dilakukan empat jenis
percobaan pada sebuah batang prismatik dengan tumpuan pada kedua ujung
divariasikan dimana pada percobaan I dan II digunakan tumpuan rol dan
engsel sedangkan pada percobaan III dan IV digunakan tumpuan jepit dan rol
serta titik penempatan beban yang berbeda pula.
Gambar 5.4.1 Pengujian I
Pada pengujian I, besar defleksi yang didapat setelah pengukuran
meningkat seiring semakin jauhnya titik pengujian dari tumpuan. Dimana pada
tengah batang didapat harga defleksi paling besar dan titik paling dekat
dengan tumpuan didapat harga defleksi paling kecil. Hal ini sesuai dengan teori
yang ada dimana harga lendutan terbesar terdapat pada tengah tengah batang.
Gambar 5.4.2 Pengujian II
Pada pengujian II, sistem yang digunakan adalah sama seperti pada
pengujian I, yaitu sebuah batang yang ditumpu dengan engsel tetap dan tumpuan
rol. Yang membedakannya adalah penempatan beban yang diberikan, yaitu pada
jarak 200 mm dari salah satu ujung batang prismatik. Defleksi yang terjadi pada
batang kemudian diukur pada posisi yang berjarak 100 mm satu sama lai
sepanjang 800 mm .Harga defleksi teoritis dan defleksi percobaan dapat dilihat
pada tabel hasil pengujian II. Harga defleksi teoritis yang didapat lebih kecil dari
harga defleksi pengujian I sehingga hasil atau bentuk defleksi yang terjadi pada
ga ke bawah seperti terlihat pada grafik pengujian II. Pada grafik tersebut
tampak bahwa terdapat perbedaan antara harga defleksi percobaan dengan
defleksi teoritis. Kesalahan ini bisa disebabkan oleh kesalahan dalam pembacaan
Defleksi
198
Pada pengujian dengan objek defleksi ini dilakukan empat jenis
percobaan pada sebuah batang prismatik dengan tumpuan pada kedua ujung
divariasikan dimana pada percobaan I dan II digunakan tumpuan rol dan
engsel sedangkan pada percobaan III dan IV digunakan tumpuan jepit dan rol
defleksi yang didapat setelah pengukuran
meningkat seiring semakin jauhnya titik pengujian dari tumpuan. Dimana pada
tengah batang didapat harga defleksi paling besar dan titik paling dekat
ni sesuai dengan teori
tengah batang.
Pada pengujian II, sistem yang digunakan adalah sama seperti pada
dengan engsel tetap dan tumpuan
rol. Yang membedakannya adalah penempatan beban yang diberikan, yaitu pada
jarak 200 mm dari salah satu ujung batang prismatik. Defleksi yang terjadi pada
batang kemudian diukur pada posisi yang berjarak 100 mm satu sama lain
sepanjang 800 mm .Harga defleksi teoritis dan defleksi percobaan dapat dilihat
pada tabel hasil pengujian II. Harga defleksi teoritis yang didapat lebih kecil dari
harga defleksi pengujian I sehingga hasil atau bentuk defleksi yang terjadi pada
ga ke bawah seperti terlihat pada grafik pengujian II. Pada grafik tersebut
tampak bahwa terdapat perbedaan antara harga defleksi percobaan dengan
defleksi teoritis. Kesalahan ini bisa disebabkan oleh kesalahan dalam pembacaan
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi
Kelompok XVIII
dial indicator serta kesalaha
akan diukur defleksinya.
Pada pengujian III, sebuah batang
ditumpu dengan menggunakan tumpuan roller pada ujung lainnya.
diukur pada titik atau posisi yang berjarak
batang prismatik sepanjang
hasil pengujian III bisa dilihat
defleksi teori. Harga defleksi teoritis yang didapat
percobaan kecuali pada titik dua, ini mungkin dikarenakan kesalahan pada
pengambilan data. Bentuk dari defleksi yang terjadi tersebut bisa dilihat pada
grafik pengujian III. Pada grafik tersebut
defleksi teoritis dengan defleksi percobaan. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh
kesalahan dalam pembacaan dial indi
dial indikator pada titik yang akan diukur defleksinya.
Pada percobaan yang terakhir, yaitu percobaan IV, sebuah batang
dijepit pada satu sisi dan ditumpu dengan rol pada ujung lainnya, seperti pada
percobaan III. Yang membuat sistem pada pengujian IV berbeda dengan sistem
pada pengujian III adalah bahwa posisi dari beban luar yang diberikan pada
pengujian IV tidak di
ujung batang prismatik. Posisi pengukuran defleksi pada batang sama seperti pada
percobaan - percobaan sebelumnya. Hasil dari pengukuran defleksi serta
perhitungan defleksi secara teoritis dapat dilih
Bentuk defleksi yang terjadi digambarkan pada grafik pengujian IV. Pada grafik
tersebut juga juga tampak bahwa terdapat perbedaan antara harga defleksi
Praktikum FDM Bidang Konstruksi
serta kesalahan dalam memposisikan dial indicator
akan diukur defleksinya.
Gambar 5.4.3 Pengujian III
Pada pengujian III, sebuah batang prismatik dijepit pada satu ujungnya dan
ditumpu dengan menggunakan tumpuan roller pada ujung lainnya.
iukur pada titik atau posisi yang berjarak 400 mm dari tumpuan. Yang mana
sepanjang 800 mm seperti terlihat pada tabel data. Pada tabel
hasil pengujian III bisa dilihat kecilnya defleksi percobaan yang terjadi
ga defleksi teoritis yang didapat besar dari pada defleksi
percobaan kecuali pada titik dua, ini mungkin dikarenakan kesalahan pada
Bentuk dari defleksi yang terjadi tersebut bisa dilihat pada
grafik pengujian III. Pada grafik tersebut tampak bahwa terdapat perbedaan antara
defleksi teoritis dengan defleksi percobaan. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh
kesalahan dalam pembacaan dial indikator serta kesalahan dalam memposisikan
pada titik yang akan diukur defleksinya.
Gambar 5.4.4 Pengujian IV
Pada percobaan yang terakhir, yaitu percobaan IV, sebuah batang
dijepit pada satu sisi dan ditumpu dengan rol pada ujung lainnya, seperti pada
percobaan III. Yang membuat sistem pada pengujian IV berbeda dengan sistem
pada pengujian III adalah bahwa posisi dari beban luar yang diberikan pada
pengujian IV tidak di tengah batang tetapi pada jarak 200 mm dari salah satu
ujung batang prismatik. Posisi pengukuran defleksi pada batang sama seperti pada
percobaan sebelumnya. Hasil dari pengukuran defleksi serta
perhitungan defleksi secara teoritis dapat dilihat pada tabel hasil pengujian IV .
Bentuk defleksi yang terjadi digambarkan pada grafik pengujian IV. Pada grafik
tersebut juga juga tampak bahwa terdapat perbedaan antara harga defleksi
Defleksi
199
dial indicator pada titik yang
dijepit pada satu ujungnya dan
ditumpu dengan menggunakan tumpuan roller pada ujung lainnya. Defleksi
dari tumpuan. Yang mana
00 mm seperti terlihat pada tabel data. Pada tabel
defleksi percobaan yang terjadi dari pada
besar dari pada defleksi
percobaan kecuali pada titik dua, ini mungkin dikarenakan kesalahan pada
Bentuk dari defleksi yang terjadi tersebut bisa dilihat pada
tampak bahwa terdapat perbedaan antara
defleksi teoritis dengan defleksi percobaan. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh
ator serta kesalahan dalam memposisikan
Pada percobaan yang terakhir, yaitu percobaan IV, sebuah batang prismatik yang
dijepit pada satu sisi dan ditumpu dengan rol pada ujung lainnya, seperti pada
percobaan III. Yang membuat sistem pada pengujian IV berbeda dengan sistem
pada pengujian III adalah bahwa posisi dari beban luar yang diberikan pada
tengah batang tetapi pada jarak 200 mm dari salah satu
ujung batang prismatik. Posisi pengukuran defleksi pada batang sama seperti pada
percobaan sebelumnya. Hasil dari pengukuran defleksi serta
at pada tabel hasil pengujian IV .
Bentuk defleksi yang terjadi digambarkan pada grafik pengujian IV. Pada grafik
tersebut juga juga tampak bahwa terdapat perbedaan antara harga defleksi
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 200
pengujian dengan defleksi teoritis dan penyebab perbedaan tersebut masih sama
seperti pada pengujian-pengujian sebelumnya.
Pada grafik Pengujian I Vs Pengujian II dapat dilihat bentuk defleksi
yang terjadi. Kedua pengujian tersebut menggunakan sistem yang sama. Namun,
yang membuatnya beda adalah bahwa penempatan beban yang diberikan pada
pengujian II tidak ditengah-tengah batang. Oleh karena itu, besarnya defleksi
yang terjadi tidak akan sama untuk setiap titik pada kedua pengujian tersebut
tersebut.
Grafik pengujian III Vs pengujian IV menggambarkan bentuk defleksi
yang terjadi pada batang prismatik. Kedua pengujian tersebut juga menggunakan
sistem yang sama, yaitu sebuah batang prismatik yang ditumpu jepit pada salah
satu ujungnya serta tumpuan rol pada ujung lainnya. Posisi pembebanan yang
diberikan berbeda satu sama lain di mana untuk pengujian IV, posisi bebannya
tidak lagi di tengah melainkan pada jarak a dari tumpuan jepit. Pada grafik dapat
dilihat bahwa penempatan beban yang berbeda juga akan menghasilkan defleksi
yang berbeda meskipun besarnya beban yang diberikan sama. Hal ini sesuai
dengan teori di mana defleksi dipengaruhi oleh besar serta posisi beban yang
diberikan.
Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi
Kelompok XVIII 201
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Harga defleksi pada titik tertentu tergantung dengan posisi tumpuan dan
pembebanan.
2. Suatu batang prismatik akan mengalami defleksi jika dilakukan
pembebanan.
3. Untuk batang sederhana, defleksi maksimum terjadi pada titik yang
diberikan pembebanan.
4. Suatu batang yang kontiniu yang ditumpu akan melendut jika mengalami
beban lentur sebagai gaya balance dari gaya yang bekerja tersebut.
5.2 Saran
Pada pratikum kali ini praktikan menyarankan agar teliti dalam
memposisikan beban dan memposisikan dial indicator, agar harga defleksi sama
dengan yang teoritis dam juga mempelajari penurunan rumus defleksi.