Anda di halaman 1dari 8

Proses Keperawatan di Instalasi Gawat Darurat

1. Konsep Instalasi Gawat Darurat Instalasi gawat darurat merupakan suatu unit terdepan dalam penanganan semua penderita yang hendak menjalani perawatan. Baik buruknya kualitas pelayanan kesehatan salah satunya ditentukan dengan seberapa jauh kesiapan tim tenaga kesehatan dalam penanganan masalah -masalah kedaruratan, baik kedaruratan medik, kedaruratan bedah, dan kedaruratan psikiatrik.

Triase Pada fase ini hal pertama yang harus dilakukan adalah rapid assessment/screening assessment yang dilakukan berdasarkan protap yang telah disepakati. Pengkajian ini harus meliputi data demografi antara lain : nama pasien, tanggal lahir, nomor tanda pengenal (KTP/SIM/Paspor), alamat, nomor telepon, serta nama dan nomor telepon orang terdekat pasien yang dapat dihubungi.

Pengkajian kondisi pasien yaitu tanda-tanda vital

dan pemeriksaan penunjang

berfungsi untuk menentukan ketiga macam bentuk kedaruratan. Apabila terdapat kedaruratan bedah dan kedaruratan medik pada penderita yang mengalami gangguan jiwa maka intervensi yang segera dan intensif harus kita utamakan untuk penanganan ke dua macam kedarutan tersebut, apabila kedua macam kedaruratan tersebut telah kembali normal, selanjutnya kita fokus pada penanganan kedaruratan psikiatri yang melatar belakangi terjadinya kedaruratan bedah dan medik

2. Tujuan: 1. 2. Meningkatkan kualitas hidup pasien Meningkatkan kemampuan pasien dalam : a. Memenuhi kebutuhan perawatan diri secara mandiri b. Melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri c. Meningkatkan kemampuan dalam bersosialisasi d. Mengatasi masalah e. Melatih kemampuan mekanisme koping f. Mematuhi program terapi

3. Proses Keperawatan 1. Pengkajian 2. Perumusan Diagnosa 3. Rencana Tindakan 4. Implementasi 5. Evaluasi

4. Penentuan kedaruratan psikiatri dalam lingkup keperawatan jiwa Konsep Dasar: Kedaruratan psikiatri adalah gangguan pikiran, perasaan, perilaku dan atau sosial yang membahayakan diri sendiri atau orang lain yang membutuhkan tindakan intensif yang segera, (Allen, Forster, Zealberg, & Currier, 2002). Kedaruratan psikiatri adalah Gangguan alam pikiran, perasaan atau perilaku yang membutuhkan intervensi terapeutik segera, (Kaplan dan Sadock, 1993). Kedaruratan psikiatri adalah perubahan-perubahan dalam alam perasaan, aktifitas perilaku, proses pikir, dan fungsi persepsi sampai suatu taraf yang menimbulkan hendaya, (Walker, 1985) Keadaan darurat ditentukan oleh adanya ancaman terhadap keutuhan (integrity) fisik atau psikososial, baik pada individu tersebut maupun orang lain di lingkungan sekitarnya. Contoh terhadap keutuhan fisik : percobaan bunuh diri, mutilasi diri, ingin memukul dan membunuh orang lain, ingin memperkosa seseorang. Sedang ancaman terhadap keutuhan psikosial : membuat kegaduhan, kegelisahan dilingkungan sekitar, menarik diri dari pergaulan

Skala yang digunakan untuk mengukur tingkat kedaruratan pasien adalah skala GAF (Global Assessment of Functioning Scale) dengan rentang skor 1 30 skala GAF. Kondisi pasien dikaji setiap shift dengan menggunakan skor GAF.

Kriteria pasien yang berada pada rentang skor GAF 0-100 adalah sebagai berikut: 100 Fungsi superior dalam rentang aktivitas yang luas, masalah hidup tampak tidak pernah mempengaruhi hidupnya karena ia memiliki banyak kualitas
91

positif. Tidak ada gejala Tidak ada atau minimal gejala (contoh: ansietas ringan menjelang ujian), berfungsi baik di semua area, berminat dan terlibat dalam berbagai aktivitas, aktif secara sosial, secara umum puas terhadap kehidupan, masalah yang dihadapi tidak lebih dari amslaah kehidupan sehari-hari (misal: perselisihan sehari-hari dengan anggota keluarga yang lain)

90

81 80 Jika gejala sudah muncul, sifatnya masih sementara dan reaksi terhadap stresor psikososial masih dapat diterima (misal: kesulitan konsentrasi setelah pertengkaran rumah tangga); gangguan rngan dalam fungsi sosial, okupasi, atau sekolah 71 70 Beberapa gejala ringan (misal: perasaan depresi dan insomnia ringan) ATAU beberapa kesulitan dalam melakukan fungsi sosial, okupasi, atau sekolah (misal: kadang-kadang membolos, atau mencuri barang-barang rumah tangga), tetapi secara umum menjalankan fungsi dengan sangat baik, memiliki hubungan sosial yang bermakna dengan beberapa orang. 61 60 Gejala sedang (misal: afek data dan pembicaraan sirkumstansial, kadangkadang mengalami panik) ATAU mengalami kesulitan sedang dalam menjalankan fungsi sosial, okupasi atau sekolah (misal: memiliki sedikit teman, konflik dengan teman sebaya atau sejawat). 51 50 Gejala serius (misal: ide-ide bunuh diri, ritual obsesif yang berat, sering mengutil) ATAU gangguan serius dalam menjalankan fungsi sosial, okupasi, atau sekolah (misal: tidak memiliki teman, tidak mampu mempertahankan suatu pekerjaan). 41

40

Beberapa gangguan dalam orientasi realita atau komunikasi (misal: bicara tidak logis, tidak jelas, atau tidak relevan) ATAU gangguan mayor pada beberapa area, seperti kerja atau sekolah, hubungan keluarga, penilaian, berpikir, atau perasaan (misal: seseorang yang depresi menghindari teman, menolak keluarga, dan tidak mampu bekerja; anak yang sering memukul anak yang lebih kecil, adalah pemberontak di rumah, dan gagal di sekolah)

31 30 Perilaku dipengaruhi oleh waham atau halusinasi ATAU gangguan serius dalam berkomunikasi atau menilai (misal: kadangkala inkoheren, perilaku secara umum tidak sesuai, percobaan bunuh diri) ATAU tidak mampu berfungsi di hampir semua area (misal: diam di tempat tidur sepanjang hari; tidak memilki pekerjaan, rumah atau teman) 21 20 Beberapa bahaya merusak diri atau orang lain (misal: percobaan bunuh diri tanpa tujuan untuk mati, seringkali melakukan kekerasan, kondisi mania) ATAU kadang-kadang tidak mampu mempertahankan perawatan diri minimal (misal: tidak membersihkan anus setelah selesai b.a.b) ATAU gangguan berat dalam berkomunikasi (misal: inkoheren atau tidak berbicara sama sekali) 11 10 Perilaku mencederai diri sendiri atau orang lain yang menetap ( misal: perilaku kekerasan yang terjadi berulang kali) ATAU tidak mampu merawat diri secara menetap ATAU percobaan bunuh diri berat dengan tujuan kematian yang jelas 1 0 Tidak cukup informasi

Pada keperawatan kategori pasien dibuat dengan skor yang merupakan modifikasi dari skor GAF karena keperawatan menggunakan pendekatan respons manusia dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan fungsi respons yang adaptif. Keperawatan meyakini bahwa kondisi manusia selalu bergerak pada rentang adaptif dan maladaptif. Ada saat individu tersebut berada pada titik yang paling adaptif , namun di saat lain individu yang sama dapat berada pada titik yang paling maladaptif. Kondisi dapat dilihat atau diukur dari respons yang ditampilkan. adaptif dan maladaptif ini

Status Mental 1. Pengkajian : A. Proses pikir a. Arus pikir Inkoheren


Asosiasi Logoroe Flight

longgar

of idea

Tangensial Circumstansial ................................ ................................

b. Isi Pikir Pikiran Bunuh Diri


Preokupasi Pikiran Ide

Isolasi sosial

yang terkait Rendah diri

Pikiran

Pesimisme Pikiran Pikiran

magis curiga

.................................... Waham

Waham kebesaran Waham curiga Waham dosa Waham agama Waham nihilistik c. Bentuk Pikir
Realistik Otistik ......................................... ......................................... .........................................

Non realistik

B. Perilaku a. Psikomotor
Peningkatan

Hiperaktifitas Gagap Gaduh gelisah Mannarism ........................... ...........................


Pelambatan

Katalepsi Fleksibilitas serea Hipoaktifitas ........................... ........................... b. Hubungan sosial


Sikap

apatis diri

Penelantaran Menyendiri

c. Interaksi
Bermusuhan Tidak

kooperatif tersinggung mata kurang Curiga

Mudah Kontak

Defensif,

....................................

C. Perasaan a. Affek

Adekuat Tumpul Dangkal/datar Inadekuat ...................................

b. Mood
MerasaKesepian Apatis Marah Anhedonia Eforia Cemas sedih Depresi Keinginan

(ringan,sedang,berat,panic)

bunuh diri

...................................................

D. Persepsi sensori a. Halusinasi


Pendengaran Penglihatan Penciuman Perabaan Kinestetik

b. Ilusi c. Depersonalisasi d. Derealisasi

2. Perumusan diagnosa keperawatan Berdasarkan pengkajian yang didapatkan,maka diagnosa keperawatan yang muncul sebagi berikut : a. Perilaku Kekerasan b. Resiko perilaku kekerasan c. Resiko Bunuh diri d. Perubahan sensori persepsi: halusinasi pendengaran e. Perubahan proses pikir: waham curiga, kebesaran f. Isolasi sosial g. Deficit perawatan diri

3. Rencana dan Tindakan keperawatan (sesuai dengan pedoman hasil semiloka keperawatan jiwa thn 2012) 4. Evaluasi tindakan keperawatan (sesuai dengan pedoman hasil semiloka keperawatan jiwa thn 2012)