Anda di halaman 1dari 18

2.

Teori dan Prinsip Komunikasi Kesehatan

2.4.1 Pengertian Komunikasi Komunikasi adalah proses pengoperasian rangsangan (stimulus) dalam bentuk lambang atau simbol bahasa atau gerak (non-verbal), untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Stimulus ini berupa suara/bunyi atau bahasa lisan, maupun berupa gerakan, tindakan, atau simbol-simbol yang diharapkan dapat dimengerti oleh pihak lain, dan pihak lain tersebut merespons atau bereaksi sesuai dengan maksud pihak yang memberikan stimulus. Oleh sebab itu reaksi atau respons, baik dalam bentuk bahasa maupun simbol-simbol ini merupakan pengaruh atau hasil proses komunikasi. Proses komunikasi yang menggunakan stimulus atau respons dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tulisan, selanjutnya disebut komunikasi verbal. Sedangkan apabila proses komunikasi tersebut menggunakan simbolsimbol disebut komunikasi nonverbal. Komunikasi sangat diperlukan dalam proses pendidikan kesehatan (promosi kesehatan). Komunikasi merupakan kegiatan untuk mengendalikan faktor-faktor predisposisi, seperti kurangnya pengetahuan, sikap masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit, adanya tradisi, kepercayaan yang negatif tentang penyakit. Tanpa adanya proses komunikasi, pembangunan, termasuk pembangunan di sektor kesehatan, tidak akan berjalan dengan baik dan efektif. Komunikasi di bidang kesehatan bukan saja diperlukan untuk melibatkan seluruh komponen masyarakat agar berpartisipasi dalam pembangunan kesehatan, tetapi juga diperlukan untuk memperoleh dukungan politik dan kebijaksanaan dari para pejabat penyelenggara negara, baik eksekutif maupun legislatif, dan para pejabat lintas sektor yang lain. Untuk berkomunikasi dengan efektif, para petugas kesehatan perlu dibekali ilmu komunikasi dan media komunikasinya. 2.4.2 Unsur-Unsur Komunikasi Unsur-unsur yang terdapat dalam komunikasi adalah:

1. Sumber/komunikator Komunikator adalah sumber yang menyampaikan atau mengeluarkan stimulus antara lain dalam bentuk informasi atau disebut pesan yang harus disampaikan pada pihak lain.

2. Pesan Pesan adalah isi stimulus yang dikeluarkan oleh komunikator (sumber) kepada komunikan (penerima).

3. Media Saluran, atau lebih popular disebut media, adalah alat atau sarana yang digunakan oleh komunikator dalam menyampaikan pesan atau informasi kepada komunikan.

4. Sasaran/komunikan Komunikan adalah pihak yang menerima stimulus dan memberikan respon terhadap stimulus tersebut.

5. Umpan balik

6. Evaluasi

2.4.3 Model, Macam, dan Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi

Proses komunikasi terdiri dari dua model, yaitu model linier dan model sistem. 1. Model linier

Umpan balik

Gambar 2.4 Model Komunikasi Linier

Pada model komunikasi linier proses komunikasi terjadi menurut suatu urutan tertentu. Terlihat ada perbedaan kedudukan dan peranan antara sumber dan sasaran. Sumber seolah-olah lebih tinggi dari sasaran.

2. Model sistem Model komunikasi sistem menetapkan kedudukan dan peranan sumber sama dengan kedudukan dan peran sasaran. Fungsi setiap unsur komunikasi, terutama unsur dan sasaran tidak hanya tunggal, tapi bersifat ganda. Misalnya pada situasi ceramah. Jadi seseorang yang sedang menyampaikan ceramah merupakan sumber pesan sekaligus pesan itu sendiri dan sasaran pesan. Dia merupakan pesan melalui gerak-geriknya dan sasaran pesan karena ia harus dapat menangkap reaksi yang tibul akibat pesan yang disampaikannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi (7C) 1. Credibility 2. Content 3. Context: 4. Clarity 5. Continuity and consistency 6. Channels 7. Capability of the audience

Macam-macam komunikasi: Ditinjau dari media yang digunakan Visual, audio, audiovisual Ditinjau dari hubungan sumber dan sasaran Langsung/tatap muka, tidak langsung Ditinjau dari umpan balik yang diperoleh Dua arah, satu arah Ditinjau dari simbol yang digunakan Lisan, tulisan, isyarat Ditinjau dari suasana berlangsungnya komunikasi Formal, informal

Metodelogi Komunikasi7

2.4.4

Perencanaan, Pendukung dan Penghalang Komunikasi4.5.6.7

Proses Perencanaan Komunikasi Merencanakan program komunikasi sedikit berbeda denga merencanakan programprogram yang lain. Proses perencanaan komunikasi ini secara umum digambarkan dalam bentuk diagram P, atau yang lebih umum disebut P Process. 1. Analisis Analisis kominikasi kesehatan mencakup 2 aspek, yakni aspek epidemiologi dan aspek perilaku.

o Analisis epidemiologi mencakup prevalensi penyakit, karakteristik penderita penyakit tersebut, faktor-faktor resiko, dan atau penyebab utama penyakit. o Analisis perilaku, mencakup perilaku masyarakat sehubungan dengan

penyakitnya (gejala atau tanda-tanda), penyebab dan cara penularan penyakit, cara pencegahannya, tindakan, dan pencarian pengobatan. 2. Desain komunikasi Dalam merancang program komunikasi kesehatan, hal-hal yang perlu dilakukan antara lain: a) menentukan khalayak sasaran b) menentukan tujuan secara spesifik c) menentukan isi pesan dan media d) menentukan strategi e) menyusun rencana tindakan 3. Pengembangan media Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pengembangan media ini adalah : a. Membuat desain media b. Uji coba media c. Revisi dan finalisasi media 4. Implementasi,monitoring, dan assessment Dalam program komunikasi, impelementasi, monitoring, dan evaluasi merupakan suatu kesatuan. Langkah-langkah yang harus dilakukan pada tahap ini adalah : o Pelatihan petugas (bila perlu) o Peluncuran

o Pemantauan proses o Pengukuran dampak program komunikasi terhadap masyarakat (jangka pendek, menengah, dan panjang) 5. Telaah (review) Program komunikasi adalah suatu proses yang berkesinambungan. Hal ini berarti bahwa hasil evaluasi dari suatu program komunikasi merupakan feedback dan input bagi program selanjutnya. Oleh sebab itu assessment program komunikasi merupakan telaah bagi program ini, yang terdiri dari : o Analisis hasil assessment o Rekomendasi tindak lanjut o Perencanaan kembali Faktor-Faktor Penunjang Komunikasi Yang Efektif Komponen pesan: a. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa menarik perhatian komunikan. b. Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti. c. Pesan harus mampu membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut. d. Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat ia digerakan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki. Komponen komunikan: a. Ia dapat dan benar-benar mengerti pesan komunikasi. b. Pada saat mengambail keputusan ia sadar bahwa keputusannya itu sesuai dengan tujuannya.

c. Pada saat mengambil keputusan ia sadar bahwa keputusannya itu bersangkutan dengan kepentingan pribadinya. d. Ia mampu untuk menepatinya baik secara mental maupun fisik. Komponen komunikator : a. Trustworthiness atau kepercayaan pada komunikator. b. Attractiveness atau daya tarik komunikator. c. Source power atau kekuasaan : kemampuan untuk menimbulkan ketundukan atau kepatuhan d. Expertise atau keahlian komunikator.

Faktor-Faktor Penghalang Komunikasi a. Lingkungan Pada lingkungan yang berisik atau terlalu padat, kegiatan komunikasi tidak dapat berjalan dengan kondusif. b. Fisiologikal Komunikan yang memiliki gangguan fisiologis, seperti gangguan mendengar, melihat, dan lainnya, dapat memiliki gangguan selama proses komunikasi berlangsung. c. Psikologikal Komunikan yang memiliki gangguan psikologis juga dapat menghambat pelaksanaan komunikasi. Oleh karena itu diperlukan metode khusus dan kesabaran untuk menangani komunikan jenis ini. d. Kebudayaan Adat istiadat setempat, perilaku setempat, dan kepercayaan setempat dapat mempengaruhi proses dari penerimaan pesan dari komunikasi yang terjadi.

2.4.5

Komunikasi Interpersonal, Intrapersonal dan Massa

Pengertian Komunikasi Massa Definisi komunikasi massa menurut beberapa ahli. Bittner (1980:10), komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang. Gerbner (1967), Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri. Dapat disimpulkan bahwa komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Sistem Komunikasi Massa versus Sistem Komunikasi Interpersonal Menurut Elizabeth-Noelle Neuman (1973), komunikasi massa secara teknis menunjukkan empat tanda pokok: Bersifat tidak langsung, harus melewati media teknis. Bersifat satu arah, tidak ada interaksi antara para komunikan. Bersifat terbuka, ditujukan pada publik yang tidak terbatas dan anonim. Mempunyai publik yang tersebar. Karena perbedaan teknis, sistem komunikasi massa juga mempunyai karakteristik psikologis yang khas dibandingkan komunikasi interpersonal. Ini tampak dalam pengendalian arus informasi, umpan balik, stimuli alat indera, dan proporsi unsur isi dengan hubungan. Pengendalian Arus Informasi Mengendalikan arus informasi berarti mengatur jalannya pembicaraan yang disampaikan dan yang diterima. Perbandingan antara pengendalian arus informasi dalam komunikasi massa dan komunikasi interpersonal: KOMUNIKASI MASSA KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Kita tidak dapat mengendalikan arus informasi seperti yang dikehendaki

Kita bersama-sama dapat mengendalikan arus informasi seperti yang dikehendaki.

(dikendalikan komunikator) Situasi komunikasi dapat menunjang persuasi Situasi komunikasi akan mendorong belajar yang efektif yang efektif Komunikator sukar menyesuaikan pesannya Komunikator mudah menyesuaikan pesannya dengan reaksi komunikan, reaksi khalayak dengan reaksi komunikan dijadikan proses untuk komunikasi berikutnya (feedback) Tabel 2.2 Umpan Balik Umpan balik berasal dari teori sibernetika (Norbet Wiener). Dalam sibernetika, umpan balik adalah keluaran (output) system yang dibalikkan kembali kepada system masukan (input) tambahan dan berfungsi mengatur keluaran berikutnya. Dalam komunikasi umpan balik diartikan sebagai respon, peneguhan, dan servomekanisme internal. Sebagai Respon, umpan balik adalah pesan yang dikirim kembali dari penerima ke sumber, memberi tahu sumber tentang reaksi penerima, dan memberikan landasan kepada sumber untuk menentukan perilaku selanjutnya. Dalam pengertian ini umpan balik bermacam-macam jumlah dan salurannya. Umpan balik sebagai peneguhan, respon yang diperteguh akan mendorong orang untuk mengulangi respon tersebut. Sebaliknya, respon yang tidak diperteguh akan dihilangkan. Umpan balik sebagai servomekanisme. Dalam setiap sistem, selalu ada aparat yang memberikan respon pada jalannya sistem. Belajar menimbulkan servomekanisme dalam diri individu. Sikap yang diperoleh melalui belajar, diinternalisasikan dalam diri individu sebagai mekanisme yang menstabilkan perilaku individu. Perbedaan umpan balik sistem komunikasi massa dan sistem komunikasi interpersonal: PEMBEDA Sebagai respon Sebagai peneguhan Sebagai servomekanisme KOMUNIKASI MASSA Hanyalah zero feedback, berlangsung satu arah Delayed feedback (terlambat) Kendala ekonomi, nilai, teknologi, dan organisasi KOMUNIKASI INTERPERSONAL Volume tidak terbatas dan lewat berbagai saluran komunikasi Umpan balik cepat Sikap berfungsi sebagai servomekanisme

berfungsi sebagai servomekanisme Tabel 2.3 Stimuli Alat Indera Dalam komunikasi massa, stimuli alat indra bergantung pada jenis media massa. Sedangkan dalam komunikasi interpersonal, stimuli lewat seluruh alat inderanya. Menurut McLuhan, perkembangan sejarah berdasarkan media massa dibedakan menjadi 3 babak: Babak tribal: lewat semua alat indera. Babak Gutenberg: hanya indera mata yang mendapat stimuli. Babak neotribal: alat-alat elektronik memungkinkan manusia menggunakan beberapa macam alat indera. Proporsi Unsur Isi dengan Hubungan Perbandingan proporsi unsur isi dengan hubungan antara komunikasi massa dan komunikasi interpersonal. KOMUNIKASI MASSA Unsur isi lebih penting Pesan berstruktur, dapat disimpan, diklasifikasi, dan didokumentasikan KOMUNIKASI INTERPERSONAL Unsur hubungan lebih penting Pesan tidak berstruktur, tidak sistematis, dan sukar disimpan atau dilihat kembali. Tabel 2.4

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Reaksi Khalayak pada Komunikasi Massa Media masa adalah faktor lingkungan yang dapat mengubah perilaku khalayak, sedangkan khalayak itu sendiri dianggap sebagai kepala kosong yang siap untuk menampung atau menerima pesan-pesan yang telah diberikan atau disampaikan dari media massa. Dari sini khalayak akan memilih suatu informasi dari lingkungan yang berbeda pula. Dalam perspektif kategori sosial berasumsi bahwa dalam masyarakat terdapat kelompokkelompok sosial yang reaksinya pada stimuli tertentu cenderung sama. Untuk golongan berdasarkan usia, yakni untuk usia anak-anak dalam menyukai tayangan televisi, mereka lebih menyukai tayangan film-film kartun, seperti Naruto, Avatar, Spongbob Squerpain, Doraemon, Sinchan, Popeyed dan film-film kartun yang lainnya. Dan untuk usia seorang ibu-ibu rumah tangga, mereka lebih condong menyukai tayangan tentang acara memasak atau film-film

telenovela yang cenderung menceritakan tentang kisah-kisah percintaan dan kisah-kisah perselingkuhan atau sinetron-sinetron dan untuk usia remaja mereka lebih menyukai tentang tayangan seperti infotainment-infotainment. Untuk golongan sosial yang berdasarkan jenis kelamin, yaitu untuk para perempuan mereka lebih menyukai tayangan-tayangan seperti acara gosip dan sinetron-sinetron. Sedangkan untuk para laki-laki mereka lebih menyukai atau memilih tentang tayangan olahraga, seperti tinju dan sepak bola. Untuk golongan sosial berdasarkan tingkat pendapatan, mereka yang pendapatannya lebih dari standar atau tinggi maka tayangan dalam media TV mereka lebih menyukai tentang acara yang menayangkan ada tempat-tempat perbelanjaan. Dari masingmasing sebagian golongan sosial tersebut apabila masing-masing golongan sosial seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendapatan dan yang lainnya maka apabila mereka cenderung memilih isi komunikasi yang sama maka bila mereka berkomunikasi maka akan memberi respon dengan cara hampir sama juga.

Komunikasi untuk pendidikan kesehatan Secara umum berkomunikasi berarti merujuk pada usaha untuk menimbulkan suatu persamaan mengenai sikap dengan seseorang. Sedangkan yang dimaksud dengan komunikasi kesehatan menurut Romuson dkk yaitu usaha sistematis untuk mempengaruhi secara positif perilaku kesehatan penduduk yang besar jumlahnya dengan menggunakan prinsip dan metode komunikasi massa, desain instruksional, pemasaran sosial, analisis perilaku, dan antropologi medis. Adapun tujuan komunikasi kesehatan yaitu perubahan perilaku yang berkaitan dengan kesehatan, agar dapat tercapai peningkatan derajat kesehatan. Wilbur Schramm menyebutkan bahwa dalam komunikasi dibutuhkan sedikitnya tiga unsur, yaitu sumber, berita atau pesan, dan sasaran. Pendapat lain menyebutkan ada empat unsur, yaitu sumber, pesan, media, dan sasaran. Terdapat disiplin ilmu yang mempengaruhi komunikasi kesehatan yaitu, pemasaran sosial, analisis perilaku, dan antropologi.

Pemasaran sosial adalah desain, implementasi, dan pengawasan program yang ditujukan untuk meningkatkan penerimaan gagasan sosial atau perilaku pada suatu kelompok sasaran. Pemasaran sosial menjual produknya (berupa jasa pelayanan kesehatan atau sikap dan perilaku baru) dengan mengingat pada minta masyarakat. Minat ini akan diarahkan pada minat untuk bersikap dan berperilaku sehat, untuk kemudian peningkatan derajad kesehatan dapat tercapai. Metodelogi komunikasi kesehatan masyarakat

HASIL Evaluasi dampak PERENCANAAN -analisis masalah kesehatan -riset pengembanga n -studi perilaku kesehatan pengembanga n strategi -uji coba bahan-bahan PELAKSANAAN produksi DISTRIBUSI -TV -radio -bahan cetakan -tatap muka -tempat mendapatkan PEMANTAUAN -kegiatan -pengetahuan -penerimaan -perilaku -derajat kesehatan -perilaku -sikap -pengetahuan

operasional

Berbeda dengan klasifikasi Piaget, Kohnstamm memiliki klasifikasinya sendiri. Kohnstamm membagi periodisasi psikologi menjadi 4 yaitu: 1. Umur 0-2 tahun disebut masa vital 2. Umur 2-7 tahun disebut masa estetis 3. Umur 7-13 tahun disebut masa intelektual 4. Umur 13-20 tahun disebut masa sosial

Masa kelas tinggi sekolah dasar (9/10-13 tahun) 1. Adanya perhatian kepada kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, hal ini membawa kecenderungan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan yang praktis. 2. Amat realistic, ingin tahu dan ingin belajar.

3. Telah ada minat kepada hal-hal dan mata pelajaran khusus 4. Sampai kira-kira umur 11 tahun, dalam menyelesaikan tugas masih membutuhkan bantuan guru atau orang dewasa. Setelah kira-kira umur 11 sudah mulai berusaha menyelesaikan tugas sendiri 5. Memandang nilai rapor adalah ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolahnya. 6. Gemar membentuk kelompok bermain. Tidak terikat pada peraturan permainan yng tradisional, mereka membuat peraturan sendiri.

Ingatan sebagai hasil belajar dan retensinya Proses belajar ditandai dengan keluaran berupa tambahan informasi dalam memori atau terjadinya peningkatan retensi. Dengan kata lain, retensi atau daya ingat merupakan hasil perwujudan dari belajar. Memori sendiri mengacu pada penyimpanan informasi dan akses informasi yang pernah diterima Memori mencakup proses encoding (penyandian), storage (penyimpanan), retrieval (memanggil kembali) atau dapat dikatakan ruang lingkup memori meliputi penerimaan informasi, penyimpanan informasi, sampai dengan pemanggilan kembali informasi. Adapun penjabarannya yaitu sebagai berikut: 1. Encoding yaitu proses pengkodean terhadap apa yang dipersepsi. Proses pengkodean ini dapat terjadi dengan dua cara, yaitu: a. Pengkodean dengan tidak sengaja, yaitu bila informasi yang diterima dimasukan secara tidak sengaja ke dalam ingatan, misalkan informasi berdasarkan pengalaman yang tidak disengaja. b. Pengkodean dengan sengaja, yaitu bila individu dengan sengaja memasukan informasi ke dalam ingatan, misalkan orang yang dengan sengaja bersekolah untuk mendapatkan informasi. 2. Storage yaitu proses penyimpanan informasi yang telah dikodekan. Disebut juga retensi, yaitu proses mengendapkan informasi ke dalam ingatan. System penyimpanan ini sangat mempengaruhi jenis memori (memori sensori, memori jangka pendek, memori jangka panjang). Ada pula yang disebut dengan jejak-jejak ingatan, jejak ini akan disempan sementara dalam ingatan yang pada suatu waktu akan ditimbulkan kembali. Jejak ingatan ini dapat hilang, sehingga terjadi kelupaan, hal ini dipengaruhi oleh interval (jarak waktu antara memasukan informasi dan menimbulan kembali informasi). Semakin lama interval

atau semakin lama waktu dari memasukan informasi ke menimbulkan kembali informasi, maka retensinya akan semakin berkurang. 3. Retrieval yaitu proses pemulihan kembali atau mengingat kembali informasi yang telah disimpan sebelumnya untuk bisa digunakan dalam memecahkan masalah atau mengahadapi persoalan sehari-hari.

encoding

storage

retrieval

Adapun Atkinson dan Shiffrin membagi memori menjadi 3 tempat penyimpanan yaitu memori sensori, memori jangka pendek, dan memori jangka panjang atau yang disebut juga tiga sistem memori. Semua informasi akan selalu diterima oleh memori sensori, kemudian sebagian informasi akan diteruskan ke dalam memori jangka pendek, dan sebagian lagi akan hilang. Dari memori jangka pendek, melalui suatu proses seleksi informasi, informasi dilanjutkan ke dalam memori jangka panjang. Informasi yang tidak diteruskan ke dalam memori jangka panjang akan dilupakan. Tetapi informasi yang sudah disimpan dalam memori jangka panjang bisa kembali ke memori jangka pendek, sehingga kelupaan dapat terjadi di setiap tahap model memori tersebut. Lama ingatan dalam tiap tahap memori tidaklah sama. Memori sensori bertahan sekitar 1-2 detik, sedangkan memori jangka pendek bertahan sekitar 15-25 detik. Perpindahan memori dari satu tahap menuju tahap selanjutnya memerlukan usaha, usaha agar memori sensori dapat berpindah ke dalam memori jangka pendek yaitu dengan perhatian atau atensi. Dan selanjutnya agar memori jangka pendek dapat berpindah ke dalam memori jangka panjang, dibutuhkan gelada atau rehearsal dan elaborasi

Retensi ingatan Untuk mempelajari retensi ingatan manusia, Hermann Ebbinghaus melakukan percobaan pada dirinya sendiri, Ebbinghaus menghafal 13 suku kata tidak bermakna kemudian mencatat ingatannya. Hasil percobaan Ebbinghaus menghasilkan teori sebagai berikut:

Segera setelah diberikan informasi, retensi ingatan manusia yaitu 100%, tetapi setelah 20 menit, retensi ingatannya berkurang hingga sampai hanya 58% dari keseluruhan informasi. Pengurangan retensi ingatan ini terus terjadi sampai pada hari ke 31 hanya tinggal 21% dari

keseluruhan informasi yang diingat. Sebagai catatan, penurunan retensi ingatan terhadap suatu informasi ini diujicobakan tanpa adanya trigger atau pemicu berupa recall atau pengulaman kembali materi atau informasi yang diberikan. Percobaan lain dilakukan oleh H.F. Spitzer, yaitu dengan menghafal bacaan yang bermakna, namun hasilnya tidak menunjukan banyak perbedaan dengan percobaan Ebbinghaus

Dengan kata lain, penurunan retensi ingatan terhadap informasi atau materi baik yang tidak bermakna maupun yang bermakna, tidak akan jauh berbeda.