Anda di halaman 1dari 5

Fajri Mulya Iresha 0906489706

PERUBAHAN IKLIM AKIBAT LIMBAH PADAT DOMESTIK Review municipal solid waste those contributes to climate change.

Limbah padat domestik memiliki andil dalam perubahan iklim global yang saat ini tengah terjadi. Adanya limbah padat dan aktivitas pengelolaannya juga menghasilkan gas-gas rumah kaca yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pemanasan global seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitro oksida (N2O). Sampah yang berbeda dan manajemen limbah padat yang berbeda akan mengakibatkan implikasi yang berbeda terhadap pemakaian energi, emisi CH4, dan penyerapan karbon. Limbah Padat Domestik terutama adalah limbah yang dihasilkan oleh rumah tangga, tapi juga mencakup beberapa limbah komersial dan industri yang mempunyai karakteristik yang sama dengan limbah rumah tangga, dan telah disimpan di TPA kota. Gas rumah kaca yang diakibatkan oleh manajemen limbah padat sendiri terdiri dari beberapa proses yang dapat diklasifikasikan menjadi : 1. Mobilisasi, Dampak perubahan iklim yang diakibatkan oleh proses mobilisasi manajemen limbah padat domestik yang terkait dengan pengumpulan, pemilahan, pengolahan, dan pengangkutan sampah. Gas rumah kaca pada proses ini merupakan penyebab tidak langsung yang diakibatkan oleh bahan bakar fosil yang berasal dari karbon dioksida bahan bakar kendaraan. Dampak gas rumah kaca yang diakibatkan dari proses transportasi limbah adalah : Transportasi limbah dari sumber ke fasilitas pengolahan, melalui setiap langkah langkah perantara, seperti situs sampah rumah tangga, stasiun transfer dll; Transportasi residu dan bahan daur ulang dari fasilitas pengolahan limbah untuk tempat pembuangan akhir dan pasar. Emisi terbesar pada proses mobilisasi adalah karbon dioksida yang dilepaskan saat transportasi.

2. Pengolahan/treatment, Emisi pada pengolahan termasuk gas rumah kaca yang dihasilkan dari limbah itu sendiri (emisi langsung) dan dari bahan bakar fosil yang digunakan dalam pengolahan (emisi tidak langsung) sebelum pembuangan residu. Contoh emisi langsung adalah gas karbon dioksida yang dikeluarkan dari pembakaran limbah selama insinerasi. Emisi tidak langsung adalah penggunaan bahan bakar dalam pembuatan kompos dll.

a. Dampak pada landfill Emisi CO2 pada bahan bakar fosil yang digunakan pada operasi landfill Emisi N2O pada bahan bakar fosil yang digunakan pada operasi landfill b. Dampak pada insinerasi dan proses termal lainnya Emisi CO2 (dan CO2 yang tidak menyebabkan global warming atau shortcycle)dari senyawa karbon pada sampah itu sendiri Emisi N2O akibat pembakaran sampah Emisi CO2 akibar bahan bakar yang digunakan untuk insinerasi c. Mechanical and Biological Treatment, pengomposan, Anaerobic Digestion, dan daur ulang Emisi CH4 selama proses Short cycle CO2 dari dekomposisi sampah organik (tidak menyebabkan gas rumah kaca) CO2 dari bahan bakar yang digunakan selama proses pengolahan. 3. Pembuangan, Emisi gas rumah kaca pada proses pembuangan material yang terkumpul pada landfill, dan dari limbah itu sendiri. Penyebab utama gas rumah kaca dari manajemen limbah padat domestic adalah emisi metana dari sampah organik yang berada di landfill. a. Landfill Emisi gas CH4 dari TPA. Emisi short-cycle CO2 dalam gas TPA atau dalam gas yang dikeluarkan dari flare atau mesin (tidak ada dampak gas rumah kaca). Emisi short-cycle carbon yang disimpan di TPA selama> 100 tahun. Emisi gas fosil CO2 dari gas TPA. Emisi N2O dari tempat pembuangan sampah atau dari flare gas atau mesin TPA. Pelepasan CFC / HFC dari WEEE b. Dampak pada insinerasi dan proses termal lainnya Emisi gas rumah kaca dari residu perlakuan termal (abu) setelah pembuangan. c. Mechanical and Biological Treatment Emisi CH4 dari kompos MBT dalam gas TPA. Emisi short-cycle CO2 dari residu MBT yang dipendam atau kompos diterapkan pada tanah (ada dampak gas rumah kaca). Short-cycle karbon disimpan di TPA selama> 100 tahun. Emisi N2O dari kompos MBT yang dikubur.

d. Pengomposan, dan Anaerobic Digestion CH4 dari kompos pada tanah. Short-cycle CO2 dari kompos pada tanah. Pendek siklus karbon disimpan dalam tanah untuk > 100 tahun. e. Daur Ulang Emisi CFC / HFC selama daur ulang WEEE. Dampak lainnya dari daur ulang 4. Pengalihan emisi. Pengalihan emisi akan terjadi jika telah dilakukan pengolahan agar emisi gas rumah kaca tersebut dirubah menjadi sesuatu yang berguna. a. b. c. Landfill Pemulihan energy dari gas landfill menjadi generator listrik Incineration and other thermal processes Panas untuk listrik atau untuk meringankan beban listrik Anaerobic Digestion Panas untuk listrik atau untuk meringankan beban listrik

How to prevent/reduce the municipal solid waste impacts to climate change? Pada dasarnya, metode yang digunakan untuk mencegah atau mengurangi dampak limbah padat domestik terhadap perubahan iklim harus sesuai dengan hirarki menajemen limbah padat yaitu seperti yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 1. Hirearki manajemen limbah padat domestik

Berikut ini adalah pembahasan dari emisi gas rumah kaca pokok dan sink untuk limbah masingmasing praktik manajemen dan efek mereka pada faktor-faktor emisi :

Pengurangan dari sumber, Secara umum, merupakan kesempatan untuk mengurangi emisi Gas rumah kaca secara signifikan seperti penurunan energi emisi CO2 yang terkait dari akuisisi bahan baku dan proses manufaktur, dan tidak adanya emisi dari manajemen limbah, menggabungkan untuk mengurangi emisi GRK lebih dari semua pilihan lain. Daur ulang umumnya memiliki emisi gas rumah kaca kedua terendah. Untuk bahan yang paling mudah untuk didaur ulang akan mengurangi pemakaian energi dan emisi CO2 yang terkait dalam proses manufaktur (meskipun tidak sedramatis pengurangan pada sumber) dan menghindari emisi dari manajemen limbah. Kertas daur ulang meningkatkan penyimpanan karbon hutan. Pengomposan adalah pilihan manajemen untuk sampah organik. Emisi gas rumah kaca dari kompos lebih rendah dari penimbunan untuk sisa makanan (kompos menghindari emisi metana), dan lebih tinggi dari penimbunan untuk pepohonan (penimbunan dihitung dengan penyimpanan karbon yang dihasilkan untuk didegradasi secara penuh di tempat pembuangan sampah). Secara keseluruhan, mengingat ketidakpastian dalam analisis, faktor-faktor emisi untuk pengomposan atau pembakaran bahan-bahan yang serupa. Pemilahan, emisi gas yang lebih sedikit akan didapatkan dari combustion dan landfill yang mengelola sampah serupa untuk pengolahan limbah padat campuran. Karena, dalam prakteknya, combustion dan landfill mengelola aliran limbah yang dicampur, emisi yang lebih bersih ditentukan oleh faktor teknologi (misalnya, efisiensi sistem pengumpulan gas TPA, efisiensi pembakaran konversi energi) dibandingkan dengan spesifisitas materi. Bahan-spesifik emisi untuk landfill dan combustion memberikan dasar untuk membandingkan pilihan ini dengan pengurangan sumber, daur ulang, dan pengomposan. Urutan pembakaran, penimbunan, dan pengomposan dipengaruhi oleh: (1) metode akuntansi persediaan gas rumah kaca, yang tidak menghitung emisi CO2 dari sumber biogenik berkelanjutan, dan tidak menghitung emisi dari sumber seperti plastik, dan (2) serangkaian asumsi pada penyerapan, penggunaan sistem pemulihan metana, efisiensi sistem pemulihan gas TPA, pemulihan logam besi, dan menghindari penggunaan bahan bakar fosil.

Pada tingkat perusahaan, program daur ulang yang ditargetkan dapat mengurangi Gas rumah kaca. Sebagai contoh, fasilitas komersial yang bergeser dari praktek dasar dari landfill (di TPA yang tidak ada sistem pengumpulan gas) untuk daur ulang 50 ton kertas kantor dan 2 ton kaleng aluminium dapat mengurangi emisi gas rumah kaca oleh lebih dari 100 MTCE. Di tingkat komunitas, sebuah kota dengan 100.000 timbulan sampah rata-rata (4,3 pon / hari per kapita) dan daur ulang (27 persen), dan pembuangan dasar di TPA yang tidak memiliki sistem pengumpulan gas, dapat meningkatkan tingkat daur ulang hingga 40 persen - misalnya, dengan menerapkan program membayar sebanyak yang kamu buang- dan mengurangi emisi sekitar 10.000 MTCE per tahun. (Perhatikan bahwa pertumbuhan lebih lanjut di daur ulang akan mungkin terjadi, beberapa komunitas sudah melebihi tingkat daur ulang dari 50 persen). Sebuah kota 1 juta, membuang 650.000 ton per tahun di TPA tanpa sistem pengumpulan gas, dapat mengurangi emisi gas rumah kaca per tahun 92.000 MTCE dengan mengelola limbah dalam unit pembakar. Sebuah kota 50.000 penimbunan 30.000 ton per tahun bisa menginstal sistem TPA dengan sistem pemulihan gas dan mengurangi emisi sekitar 6.600 MTCE per tahun.

Explore your opinion Berdasarkan pendapat saya, hal yang paling tepat dilakukan dalam pengelolaan sampah adalah dengan melihat potensi desentralisasi dalam mengelola sampahnya. Harus ada perubahan paradigma dalam menyikapai tujuan sampah. Seharusnya tujuan akhir sampah tidak ke TPA (sentralisasi) melainkan dimanfaatkan kembali. Apalagi di Indonesia potensi gerakan desentrallisasi sampah sudah didukung dengan kehadiran pemulung dan pengepul (lapak) yang memanfaatkan kembali sampah yang dianggap sudah lagi tidak berguna. Perlu adanya optimalisasi pengolahan secara desentralisasi dengan mendukung keberadaan pemulung dan pengepul di Indonesia agar mereka masuk dalam rantai pengelolaan sampah di Indonesia. Sampah yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan baru masuk ke landfill untuk selanjutnya ditimbun atau di insenerasi. Di tingakat generator (sumber sampah) perlu diadakan edukasi dan sosialisasi agar melakukan pemilahan untuk mengoptimalisasi pengelolaan. Di samping itu, teknologi kompos juga perlu dikembangkan untuk menanggulangi sampah organik. Dengan begitu, beban TPA, transportasi menuju TPA dan lainnya dapat diminimalisir sehingga terjadi pengurangan emisi Gas Rumah Kaca.