Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FISIKA DASAR I RESONANSI

DISUSUN OLEH : MASHURI (1007045009)

PROGRAM STUDI FISIKA LABORATORIUM FISIKA DASAR FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2010

HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FISIKA DASAR I RESONANSI

FAKULTAS : MIPA Universitas Mulawarman JURUSAN : Fisika

DISUSUN OLEH MASHURI (1007045009)

Samarinda, 10 Desember 2010 Mengetahui, Asisten

M. Arya Misbahul F (NIM: 0807045010)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur terpanjat ke zat yang maha suci Allah SWT, salawat serta salam semoga tercurah limpah atas Nabi Muhammad SAW. Atas berkat rahmat Allah SWT saya dapat melaksanakan tugas sebagaimana mestinya, meskipun umumnya banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, baik dalam melaksanakan tugas intern juga pelayanan terhadap praktikum IPA pada umumnya, Atas berkat karuniaNya pula saya dapat menyelesaikan laporan resmi Laboratorium Fisika dasar I. Banyak terima kasih kami ucapkan pada asisten laboratorium fisika dasar I beserta stafnya yang senantiasa bekerjasama dalam melaksanakan praktikum dan perawatan alat-alat laboratorium Fisika dasar I yang relative mahal harganya. Pada akhir semester I ini saya laporkan hasil percobaan resonansi dengan harapan pihak terkait dapat mengkaji dan menerima laporan yang telah saya susun ini. Laporan percobaan resonansi Laboratorium fisika dasar I ini memberi gambaran umum tentang percobaan yang telah saya kerjakan. Dari latar belakang, dasar teori, analisis data, hasil pengamatan, pembahasan hingga pada kesimpulan dari percobaan. Laporan ini dibuat dengan maksud agar asisten laboratorium Fisika dasar I atau yang bertanggung jawab dapat mengetahui dengan pasti segala macam halhal yang saya tuliskan data laporan ini. Akhirnya kepada tuhan yang maha esa saya kembalikan, atas kehilapan saya dalam menjalankan amanat hingga dibuatnya laporan percobaan resonansi pada semester I ini.

Samarinda, 10 Desember 2010 Praktikan,

Mashuri (1007045009)

DAFTAR ISI
Lembar pengesahan Kata pengantar Daftar isi Abstrak Abstract (i) ...(1) (2) ..(3) ..(4) .(5) (5) ..(6) ...(7) ..(18)

BAB I Pendahuluan 1.1 Latar belakang 1.2 Tujuan percobaan 1.3 Manfaat percobaan BAB II Tinjauan Pustaka

BAB III Metodologi Percobaan 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat ...(18) ..(18) ..(19) ....(20) ..(27) ...(29) .(31)

3.3 Prosedur Percobaan BAB IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Data Pengamatan 4.2 Analisis Data 4.3 Pembahasan BAB V Penutup 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran Daftar Pustaka

.(30)

ABSTRAK Mashuri, Resonansi dibimbing oleh M. Arya Misbahul F

Percobaan yang dilakukan ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena resonansi bunyi didalam suatu tabung dan juga untuk menentukan cepat rambat bunyi di udara. Dimana laporan ini berisikan tentang latar belakang percobaan yang disertai dengan dasar teori tentang resonansi. Dan juga dalam laporan ini ditampilkan hasil analisis data yang diperoleh dari percobaan yang telah di lakukan, dimulai dari tabel data, perhitungan tanpa KTP (ketidakpastian), perhitungan dengan KTP, perhitungan mutlak dan perhitungan relatif sehingga didapatkan persentase hasil dari percoobaan. Dan juga terdapat pembahasan setelah dilakukan percobaan. Adapun metodologi yang dilakukan seperti mengetahui alat dan bahan yang digunakan, menyetel atau menghidupkan alat hingga pada pelaksanaan percobaan, dan hal itu dapat dilihat pada laporan yang telah dibuat ini. Dan dalam percobaan yang telah dilakukan ini bardasarkan data pengamatan dan perhitungan didapatkan tingkat kegagalan yang berkisar 1% hingga 7%. Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas dalam laporan ini juga disebutkan factor-faktor kesalahan dalam melakukan percobaan yang

menggunakan frekuensi 1300, 1500, dan 1700 Hz. Sehingga akhir dari laporan ini adalah kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan.

Kata kunci : tranversal, longitudinal, amplitudo, frekuensi

ABSTRACT Mashuri, Resonance guided by M. Arya Misbahul F

Experiments carried out aimed to explain the phenomenon of resonant sound in a tube and also to determine the velocity of sound in air. Where the report contains background experiments are accompanied by basic theory of resonance. And also in this report presented the results of analysis of data obtained from experiments that have been done, starting from data tables, calculations without uncertainty, with uncertainty calculation, calculation of absolute and relative calculation to obtain the percentage yield of percoobaan. And also there is a discussion after the experiment. While the methodology is like knowing the tools and materials Used, set or turn on the appliance Until the implementation of the experiment, and it cans be seen in this report have been made. And in this experiment has been done bardasarkan observational data and calculations obtained failure rates ranging from 1% to 7%. Besides the things mentioned above in this report also mentioned error factors in conducting experiments that use the frequencies 1300, 1500, and 1700 Hz. So the end of this report is the conclusion of the experiment has been done.

Key words: tranversal, longitudinal, amplitude, frequency

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bunyi merupakan bagian dalam kehidupan kita sehari-hari. Bunyi membantu kita untuk memahami dunia disekitar kita. Kita memanfaatkan bunyi untuk berkomunikasi dan untuk memperingatkan adanya bahaya. Bahkan, kita kerap menjadikan bunyi sebagai sumber hiburan. Banyak hal yang menabjukkan tersembunyi dalam dunia bunyi dan getaran. Bunyi merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Kita berkomunikasi sebagian besar melalui bunyi, yaitu suara yang kita keluarkan dalam bentuk kata-kata (istilah lain untuk bunyi adalah suara). Bunyi merupakan salah satu keindahan didunia ini yang merupakan kebutuhan hidup kita seharihari. Bunyi jika sebelumnya tidak dipahami berdasarkan ilmu pengetahuan maka akan tampak seperti peristiwa yang aneh. Akan tetapi berdasarkan pengertian ilmu pengetahuan alam, molekul-molekul bervibrasi dalam arah yang sama dengan arah yang ditempuh gelombang tersebut. Resonansi adalah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda akibat getaran benda lain. Adanya peristiwa resonansi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti dua dua garpu tala yang mepunyai bilangan getar atau frekuensi yang sama bila garpu tala yang satu digetarkan atau dibunyikan maka garpu tala yang lainnya akan ikut bergetar atau berbunyi. Hal ini mendorong kita untuk memahami dan melakukan percobaan ini agar dapat mengetahui lebih lanjut tentang peristiwa resonansi.

1.2 Tujuan Percobaan Adapun tujuan diadakannya pratikum kali ini antara lain: 1. Menjelaskan fenomena resonansi bunyi didalam suatu tabung

2. Menentukan cepat rambat bunyi di udara 3. Dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari 1.3 Manfaat percobaan Ada beberapa manfaat dalam percobaan ini, antara lain: 1. Dapat mengetahui cepat rambat bunyi 2. Dapat menghitung panjang gelombang bunyi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bunyi dihasilkan ketika sebuah benda bergetar. Benda ini munngkin saja bergetar di zat padat (logam misalnya), zat cair (misalnya air), atau gas (misalnya udara). Hampir sepanjang waktu, berbagai jenis bunyi yang kita dengar merambat di udara. Ketika benda bergetar, partikel-pertikel udara di sekitar benda itu dipaksa bergerak. Sebagai contoh, ketika kalian menabuh drum atau menggoyangkan lonceng. Getaran dari benda ini akan menggetarkan partikelpartikel udara di sekitarnya. Lantas, getaran diteruskan dari satu partikel udara ke partikel disampingnya. Terkadang, getaran itu mencapai ke telinga kita. Denyut atau pulsa getaran yang melintasi udara dikenal sebagai gelombang bunyi. Gelombang bunyi terbentuk oleh partikel-partikel udara yang terdorong saling mendekat kemudian saling menjauh. Ketika sebuah benda bergetar ke kanan, benda tersebut mendorong partikel udara di dekatnya agar lebih dekat, hal ini dikenal serbagai Rapatan. Partikel-partikel udara lalu bertumbukan dengan partikel di sebelahnya, dan demikian seterusnya. Ketika benda bergetar kembali ke kiri, partikel-partikel udara memisah kembali hal ini disebut Renggangan. Perulangan dari pemampatan dan peregangan itu menghasilkan gelombang bunyi. Gerlombang bunyi dikenal sebagai gelombang longitudinal. Hal ini karena partikel-partikel bergerak dalam satu arah, yaitu serjajar terhadap gerak gelombang. Gelombang longitudinal juga dapat terlihat pada konstraksi otot tenggorokan. Inilah yang menyebabkan makanan berjalan masuk dari mulut ke lambung ketika kita menelan. Cacing tanah yang bergerak dengan cara mengkonstraksi otot mereka pun seperti gelombang longitudinal. Gelombang bunyi berbeda dengan gelombang transversal. Gelombang tranversal terjadi ketika partikel bergerak dengan arah tegak lurus terhadap gerak gelombang. Salah satu contoh gelombang transversal stationer adalah gerak getaran tali. Salah satu gelombang transversal berjalan

dapat dijumpai di stadion olahraga yang dikenal sebagai gelombang orang meksiko. Hal ini terlihat saat semua penonton di stadion berdiri, lalu duduk secara bargantian sedemikian juga, hingga menghasilkan gerakan serupa gelombang. Sebagian gelombang yang dapat kita lihat merupakan kombinasi dua jenis gelombang sekaligus, yaitu gelombang longitudinal dan transversal. Sebagai contoh gelombang air di laut atau danau. Gesekan antara udara dan air menyebabkan partikel-partikel permukaan menjadi bergerak dengan arah hamper sirkuler (dengan sekaligus gerakan sejajar dan tegak lurus) membentuk gelombang air. Gelombang bunyi tidak dapat dilihat. Akan tetapi gerakan gelombang bunyi dapat dibandingkan dengan jenis gelombang lain yang dapat kita lihat, seperti gelombang laut. Ilmuan mengukur panjang dan tinggi gelombang bunyi menggunakan sebuah alat yang disebut Osiloskop. Dengan pengukuran ini kita akan tahu lebih jauh mengenai titinada dan kenyaringan suara. Sekarang kita tahu bahwa kita mendengar beragam bunyi karena benda-benda bergetar dengan cara berbeda, menghasilkan gelombang bunyi dengan panjang dan tinggi gelombang yang berbeda pula. Panjang gelombang bunyi menunjukkan frekuensi (atau titinada) bunyi. Frekuensi memberi petunjuk jumlah getaran (atau gelombang) lengkap yang melewati satu titik tiap detik. Makin banyak getaran per detik, makin tinggi frekuensi dan makin tinggi titinada bunyi. Pada awalnya frekuensi diukur dalam siklus per detik. Akan tetapi sejak tahun 1960-an frekuensi diukur dengan menggunakan satuan Hertz (disingkat menjadi Hz). Nama satuan ini diambil dari nama Heinrich Hertz, seorang ilmuan jerman yang mempelajari gelombang electromagnet. Satu hertz adalah satu getaran per detik. Bunyi ber titinada tinggi kerap diukur dalam satuan Kilohertz (seribu hertz) atau Megahertz (sejuta hertz). Benda besar bergetar lambat, nada yang dihasilkan oleh lonceng besar hanya akan bertitinada rendah karena gelombang bunyi yang dihasilkan per detik hanya sedikit. Lonceng yang berukuran lebih kecil akan bergetar lebih cepat, akibatnya ia menghasilkan lebih banyak gelombang bunyi per detik. Titinada yang dihasilkannya pun lebih tinggi jika dibandingkan lonceng yang besar.

Tinggi gelombang bunyi menunjukkan amplitudo bunyi. Ini memberi sebuah petunjuk berapa besar energi yang dimiliki gelombang. Bunyi keras menghasilkan perbedaan yang besar antara puncak dan lembah gelombang. Bunyi keras dapat dihasilkan dengan berteriak, meniup kencang alat musik tiup, memetik kuat alat music dawai, ataupun memukul keras kulit drum. Memetik dawai atau memukul kulit drum dengan perlahan hanya akan menghasikan bunyi yang lembut atau perlahan karena amplitudo getarannya lebih sedikit dan ketinggian gelombangnya lebih kecil. Gelombang bunyi merupakan satu cara paling efektif untuk

memperingatkan orang akan adanya bahaya. Itu sebabnya mengapa tanda bahaya (alarm), peluit, klakson dan sirine telah digunakan selama bertahun-tahun. Berbagai peranti ini cenderung membuat suara tak enak dan keras. Suara seperti itu tentu mampu menarik perhatian orang dan sanggup mengubah kita untuk segera mengambil tindakan. Sebagai contoh lainnya adalah bel pintu, bel sepeda, klakson mobil, peluit kabut pada kapal, sirine serangan udara, alarm api, alarm jam, dan sirine kendaraan darurat. Pada tahun-tahun belakangan ini, ini ini beberapa ambulans telat dilengkapi dengan sirine multiphase yang menghasilkan sederetan bunyi berbeda. Apabila pengemudi dijalanan sedang mendengarkan stereo mobil, sirine ini lebih mudah dideteksi dan menginstruksikan pengemudi untuk minggir sehingga ambulans dapat lewat. Pada masa lampau orang telah mengerti bahwa bunyi merambat dengan kecepatan tertentu. Mereka juga menyadari bahwa kecepatan bunyi dan laju cahaya adalah berbeda. Hal ini menjelaskan mengapa mereka kadang melihat aksi gerak di kejauhan sebelum mendengar suara dari aksi gerak itu. Misalnya, benturan kampak pada pohon, kepulan asap dari letusan senapan, atau lompatan seseorang saat menceburkan diri ke air. Sekitar tahun 550 sebelum masehi (SM), seorang ahli matematika asal yunani bernama Pythagoras mengamati bahwa tali yang bergetar dapat menghasilkan bunyi. Ia juga mencoba untuk mengetahui mengapa panjang tali dapat menghasilkan nada yang berbeda. Akan tetapi baru pada sekitar tahun 1600-

an, sebuah studi manguak cara bunyi merambat. Pada tahun 1705, seorang ilmuan inggris, Francis Hauksbee, mendemonstrasikan bahwa bunyi memerlukkan bahan untuk merambat. Hauksbee menunjukkan bahwa meskipun dering bel dapat terdengar ketika ditempatkan dalam penutup kaca, deringnya menjadi tidak dapat terdengar lagi ketika udara di pompa keluar dari penutup kaca itu (menjadikannya ruang hampa udara). Hauksbee menjelaskan bahwa bunyi dapat di dengar pada keadaan pertama karena getaran bel menyebabkan udara didalam kaca bergetar, dan selanjutnya menggetarkan penutup kaca dan partikel-partikel udara diluar penutup kaca. Selama bertahun-tahun, orang bertanya-tanya apakah ada hubungan antara bunyi, getaran dan realitas fisik. Akhirnya pada tahun 1700-an, seorang ilmuan jerman, Ernst Chladni, memberikan penyajian visual gelombang bunyi melalui eksperiment pelat bergetar. Chladni menaburkan pasir pada pelat logam. Ia menggetarkan pelat logam itu dengan cara menggesekkan busur biola di sepanjang tepi pelat. Gerak busur biola menyebabkan gelombang pasir bergerak melintasi pelat dan di pantulkan kembali lagi di tepinya. Eksperimen Chladni menunjukkan bahwa pelat yang bergetar menghasilkan pola di pasir. Polanya berbeda-beda, bergantung pada frekuensi getaran. Eksperiment ini membuktikan bahwa gelombang bunyi dapat mempengaruhi bahan fisik dan perubahan ini dapat diulang. Bukti nyata bahwa bunyi ditimbulkan oleh gelombang muncul pada tahun 1842. Ketika itu, seorang ilman Austri bernama Christian Doppler mengulas bahwa titinada bunyi menjadi berubah ketika sumber bunyinya bergerak terhadap pendengar. Doppler menjelaskan bahwa derau atau bunyi yang merambat sebagai gelombang terdistorsi oleh pergerakan-menjadi terkompres ketika sumbernya bergerak mendekat telinga dan menjadi terentang ketika sumbernya bergerak menjauh dari telinga. Di kemudian hari, fenomena ini dikenal sebagai efek Doppler. Penamaan ini untuk menghormati sang penemu. Bayangkanlah kalian berjalan diruas jalan utama yang sibuk dengan arus lalu lintas yang terus bergerak. Meskipun lalu lintas bergerak dengan laju konstan, namun jika kalian berjalan pada arah sama dengan lalu lintas, jumlah kendaraan

(frekuensi) yang melintas makin berkurang. Sebaliknya, jika kaian berjalan berlawanan arah dengan arah lalu lintas, frekuensi makin naik. Teori Doppler menunjukkan bahwa hal serupa terjadi pada gelombang bunyi. Jika kita berjalan mendekati sumber bunyi (atau sumber bunyi yang bergerak mendekati kita), kita akan mendengar frekuensi (atau titinada) yang makin bertambah karena gelombang bunyi digencet secara bersamaan. Demikian pula jika kita bergerak menjauh (atau sumber bunyi yang bergerak menjauh), kita mendengar titinada yang makin berkurang karena gelombang bunyi menjadi saling terpisah. Efek ini paling dapat diketahui ketika sebuah kendaraan darurat melaju kencang dengan sirene meraung-raung. Bunyi itu makin rendah ketika ambulans atau pemadam kebakaran telah lewat dan melaju makin jauh. Pengaruh yang sama terjadi jika kendaraan itu diam, tetapi kita-misalnya didalam mobil-bergerak mendekatinya. Manusia dan bianatang membuat bunyi-bunyian sebagai cara untuk berkomunikasi. Mereka memiliki organ luar biasa yang disebut telinga. Keberadaan telinga memungkinkan manusia dan binatang untuk mendeteksi dan mendengar getaran gelombang bunyi. Telinga kita menerjemahkan gelombang bunyi yang diambilnya menjadi suatu sinyal yang dapat dipahami otak. Pendengaran adalah anugerah berharga bagi kita. Dengan adanya pendengaran yang baik, kita terbantu dalam memahami dunia disekitar kita. Bunyi atau suara adalah kompresi mekanikal atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium. Medium atau zat perantara ini dapat berupa zat cair, padat, gas. Jadi, gelombang bunyi dapat merambat misalnya di dalam air, batu bara, atau udara. Kebanyakan suara adalah merupakan gabungan berbagai sinyal, tetapi suara murni secara teoritis dapat dijelaskan dengan kecepatan osilasi atau frekuensi yang diukur dalam Hertz (Hz) dan amplitudo atau kenyaringan bunyi dengan pengukuran dalam desibel. Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi, yaitu getaran di udara atau medium lain, sampai ke gendang telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh telinga manusia kira-kira dari 20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo umum dengan berbagai variasi dalam kurva responsnya. Suara di atas 20 kHz disebut ultrasonik dan di

bawah 20 Hz disebut infrasonik. Bunyi kereta lebih nyaring daripada bunyi bisikan, sebab bunyi kereta menghasilkan getaran lebih besar di udara. Kenyaringan bunyi juga bergantung pada jarak kita ke sumber bunyi. Kenyaringan diukur dalam satuan desibel (dB). Bunyi pesawat jet yang lepas landas mencapai sekitar 120 dB. Sedang bunyi desiran daun sekitar 33 dB. Kebanyakan suara adalah merupakan gabungan berbagai sinyal, tetapi suara murni secara teoritis dapat dijelaskan dengan kecepatan osilasi atau frekuensi yang diukur dalam Hertz (Hz) dan amplitudo atau kenyaringan bunyi dengan pengukuran dalam desibel. Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi, yaitu getaran di udara atau medium lain, sampai ke gendang telinga manusia. Gema terjadi jika bunyi dipantulkan oleh suatu permukaan, seperti tebing pegunungan, dan kembali kepada kita segera setelah bunyi asli dikeluarkan. Kejernihan ucapan dan musik dalam ruangan atau gedung konser tergantung pada cara bunyi bergaung di dalamnya. Gelombang adalah suatu gejala terjadinya penjalaran suatu gangguan melewati suatu medium dimana setelah gangguan ini lewat keadaan medium akan kembali ke keadaan semula seperti sebelum gangguan ini datang. 1. Macam-macam gelombang Secara umum gelombang dapat dikelasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu gelombang mekanik dan gelombang elektromagnetik. 1.1 Gelombang mekanik Gelombang mekanik adalah gelombang yang memerlukan suatu medium untuk menjalar, persamaan gelombang mekanik dapat diturunkan dari persamaan gerak Newton. Contoh gelombang mekanik antara lain adalah gelombang pada system massa-pegas, gelombang pada tali dan gelombang akustik (bunyi). Pada gelombang tali besaran merupakan perubahan posisi (perpindahan atau simpangan), sedangkan pada gelombang akustik berupa perubahan tekanan (tekanan akustik). gelombang akustik di udara merupakan gelombang longitudinal dimana arah selalu sejajar dengan arah perambatan gelombang, sedangkan gelombang tali merupakan gelombang transversal karena arah selalu tegak lurus pada arah perambatan.

1.2 Gelombang elektromagnetik Gelombang elektromagnetik ialah gelombang tidak memerlukan medium untuk menjalar, persamaan gerak gelombang elektromagnetik dapat diturunkan dari persamaan Maxwell. Contoh gelombang elektromagnetik diantaranya adalah gelombang radio, gelombang cahaya dan sinar-x. Pada gelombang elektromagnetik, adalah medan listrik dan medan magnetic. Gelombang elektromagnetik disebut gelombang transversal karena arah selalu tegak lurus pada arah perambatan gelombang. 2. Bunyi dan Pendengaran Bunyi terdengar karena adanya gangguan yang menjalar ke telinga pendengar. Karena gangguan ini selaput gendang di telinga bergetar dan getaran ini diubah menjadi denyut listrik yang dilaporkan ke otak melalui urat syaraf pendengaran. Bunyi dijalarkan sebagai gelombang mekanik longitudinal yang dapat menjalar dalam medium padat, cair ataupun gas. Medium gelombang bunyi ini adalah molekul yang membentuk bahan medium mekanik ini.Karena adanya gangguan gelombang bunyi yang bersifat longitudinal, molekul melakukan getaran dengan arah yang sejajar dengan arah penjalaran bunyi. Jelas bahwa bunyi tidak akan terdengar secara langsung jika kita berada di bulan, karena tidak ada molekul yang dapat bertindak sebagai medium gelombang. Untuk dapat berkomunikasi, kita harus menggunakan gelombang lain yaitu gelombang elektromagnetik yang dapat menjalar dalam ruang vakum. Bunyi yang dapat didengar sebenarnya adalah gelombang mekanik longitudinal dengan frekuensi dalam daerah pendengaran manusia yaitu berkisar antara 20 cps sampai kira-kira 20.000 cps. Gelombang mekanik longitudinal dengan frekuensi di bawah daerah pendengaran disebut gelombang infrasonic. Gelombang semacam ini biasa dihasilkan oleh sumber yang besar biasanya gempa bumi. Untuk frekuensi di atas daerah pendengaran, gelombang mekanik longitudinal ini disebut gelombang ultrasonic. Gelombang ultrasonic ini dapat dihasilkan oleh getaran mekanik pada kwarsa yang diberi tegangan listrik bolak-balik dengan frekuensi ultrasonic. Dengan cara seperti ini orang dapat menghasilkan gelombang mekanik dengan

frekuensi setinggi 6 x 108 cps, dengan panjang gelombang kira-kira sebesar 5 x 10-5 cm, sama besarnya dengan panjang gelombang cahaya. Gelombang ultrasonic ini sering dipergunakan untuk pemeriksaan kualitas produksi di dalam industri. Sumber gelombang bunyi atau gelombang sonic ialah benda yang bergetar pada frekwensi pendengaran. Gelombang bunyi dapat dihasilkan. Gelombang bunyi dapat dihasilkan getaran tali atau semacamnya (misalnya, gitar, biola, tali suara manusia, dan sebagainya), oleh kolom udara yang bergetar (misalnya, organ, seruling atau alat pelat atau membran yang bergetar (misalnya, gong, gendang, pengeras suara), oleh kolom udara yang bergetar, benda ini berganti-ganti merapatkan udara disekitarnya pada waktu molekul udara bergerak ke arah depan, dan meregangkan udara pada arah gerak ke arah belakang. Tumbukan antara molekul udara merupakan intraksi yang menjalarkan gangguan ini keluar dari sumber. Setelah masuk ke telinga, gelombang ini terdengar sebagai bunyi. Resonansi merupakan suatu fenomena dimana sebuah sistem yang bergetar dengan amplitudo yang maksimum akibat adanya impuls gaya yang berubah ubah yang bekerja pada impuls tersebut. Kondisi seperti ini dapat terjadi bila frekuensi gaya yang bekerja tersebut berimpit atau sama dengan frekuensi getar yang tidak diredamkan dari sistem tersebut. Banyak contoh dari peristiwa resonansi yang dihadapi dalam kehidupan sehari hari, antara lain : bila berdekatan dengan sebuah gelas dan dibangkitkan suatu nada ( frekuensi ) yang besarnya sama dengan frekuensi alam gelas itu sendiri maka gelas itu akan bergetar ( berbunyi) sekeras kerasnya. Bila nada (frekuensi ) tadi dibunyikan cukup keras dan secara terus menerus maka getar gelas akan semakin diperkeras sehingga gelas dapat pecah. Dengan suara, orang dapat menghancurkan suatu benda. Juga peristiwa keruntuhan pesawat terbang yang kecepatannya mendekati kecepatan menjalar bumi berdasar atas peristiwa resonansi. Getar pesawat yang disebabkan oleh gerak mesin mesinnya yang diteruskan pada udara sebagai bunyi, tidak dapat dengan cepat ditinggalkan ( atau meninggalkan ) pesawat terbang karena kecepatan pesawat terbang tidak berbeda banyak dengan keepatan menjalar bumi. Akibatnya ialah getar badan pesawat

terbang diperkeras dengan cepat sekali sehingga pesawat terbang runtuh karena hal tersebut. Dengan kecepatan agak di atas kecepatan menjalar bumi, pesawat terbang dapat terbang dengan selamat ( Supersonic Flight ). Contoh peristiwa resonansi lainnya ialah bila suatu garpu tala ( sumber getar ) digetarkan di dekat suatu kolom udara yang salah satu ujungnya tertutup sedangkan ujung yang lain terbuka akan terjadi resonansi bila :

L = ( 2m + 1 ) / 4f

Dimana l = V / f , maka : L = ( 2m + 1 ) / 4f Dimana : L = panjang kolom udara m = bilangan resonansi ( 0,1,2,3,.) f = frekuensi garpu tala l = panjang gelombang V = kecepatan suara di udara. Konsep resonansi yang terjadi antara garpu tala ( sumber getar ) dengan kolom udara dapat dijadikan dasar untuk menentukan nilai kecepatan suara di udara secara cepat dan mudah dibandingkan dengan cara yang lainnya. Memperlihatkan sebuah alat sederhana yang dapat digunakan untuk mengukur laju bunyi di udara dengan metode resonansi Sebuah garpu tala yang bergetar dengan frekuensinya f dipegang di dekat ujung terbuka dari sebuah tabung. Tabung itu sebagian diisi dengan air. Panjang kolom udara dapat diubah-ubah dengan mengubah tinggi permukaan air. Didapatkan bahwa intensitas bunyi adalah maksimum bila tinggi permukaan air lambat laun direndahkan dari puncak tabung sejarak a. Setelah itu, intensitas mencapai lagi pada jarak jarak d, 2d, 3d dan seterusnya. Intensitas bunyi mencapai maksimum bila kolom udara beresonansi dengan garpu tala tersebut. Kolom udara beraksi seperti sebuah tabung yang tertutup di alah satu ujung. Pada gelombang tegak terdiri dari sebuah titik simpul

di permukaan air dan sebuah titik perut di dekat ujung terbuka. Karena frekuensi dari sumber adalah tetap dan laju bunyi di dalam kolom udara mempunyai sebuah nilai yang pasti, maka resonansi terjadi pada sebuah panjang gelombang spesifik,

l=V/f Jarak d diantara kedudukan kedudukan resonansi yang berturutan adalah jarak diantara titik titik simpul yang berdekatan.

d = l / 2 atau l = 2d Dengan menggabungkan persamaan persamaan maka kita akan mendapatkan , 2d = V / f atau V = 2df Salah satu contoh peristiwa resonansi ialah bila suatu garpu tala (sumber getar) digetarkan dekat suatu kolom udara yang salah satu ujungnya tertutup sedangkan ujung yang lainnya terbuka. Hubungan antara panjang tabung L, dimana terjadi resonansi dengan panjang gelombang diberikan oleh: ; n = 0, 1, 2, ..(1)

L = (2n + 1)

dari persamaan (1) dapat dipahami bahwa resonansi pertama terjadi pada titik dengan panjang kolom L1 = dan resonansi berikutnya pada L2, L3, , tetapi

ukuran tabung sangat kecil dibandingkan dengan panjang gelombang bunyi, sehingga perut gelombang tidak terjadi tepat dimulut lubang, melainkan sedikit diluar tabung, sehingga perlu dikoreksi dengan persamaan : K= 0,6R (2)

Dengan R jari-jari tabung. Dengan demikian persamaan (1) menjadi : L = (2n + 1) ..(3)

Gunakan hubungan

= V/F (dengan V cepat rambat bunyi di udara dan F

frekuensi bunyi yang merambat) maka persamaan (3) dapat ditulis : L = (2n + 1) Keterangan: L = panjang tabung atau panjang kolom udara n = bilangan resonansi (0, 1, 2, 3, ..) f = frekuensi bunyi (Hz) = panjang gelombang (m) V = kecepatan suara diudara (m/s) Intensitas bunyi mencapai maksimum bila kolom udara beresonansi dengan garpu tala tersebut, kolom udara beraksi seperti sebuah tabung yang tertutup di salah satu ujung dan titik perut di ujung yang terbuka. ..(4)

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 Waktu dan Tempat

Percobaan resonansi bunyi ini dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2010, pada hari Jumat pukul 14:00 16:00, dan bertempat di laboratorium Fisika Dasar gedung C lantai 3 FMIPA Universitas Mulawarman.

3.2 Alat Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ihni, yaitu: 1. 2 buah kabel penghubung 2. Jangka sorong 3. Speaker 4. 3 buah statip 5. Signal generator 6. Pipa resonansi

3.3 Prosedur percobaan 1. Diukur diameter dalam tabung (pipa resonansi) 2. Diletakkan speaker tepat ditengah ujung pipa resonansi 3. Diatur frekuensi yang digunakan, dengan signal generator yaitu, 1300, 1500 dan 1700 Hz 4. Dinyalakn speakernya 5. Didengarkan, pada jarak berapa meter bunyi dari speaker berubah. Dicatat harga ini sebagai L 6. Diulangi langkah pada poin 4 dan 5 beberapa kali untuk memastikan letak resonansi tersebut 7. Diulang langkah 3-5 untuk menentukan titik resonansi berikutnya sejauh panjang pipa resonansi memungkinkan 8. Ditulis data percobaan dalam bentuk tabel.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan NO. 1 F(Hz) 1300 Hz n 1 2 3 4 5 2 1500 Hz 1 2 3 4 5 3 1700 Hz 1 2 3 4 5 L(m) 5x10-2 11x10-2 14x10-2 21x10-2 28x10-2 4x10-2 9x10-2 14x10-2 20x10-2 24x10-2 3x10-2 8x10-2 12x10-2 16x10-2 19x10-2

D1 = 44 + (3 x 0,05) = 44 + 0,15 = 44,15 D2 = 45 + (7 x 0,05) = 45 + 0,35 = 45,35 D3 = 45 + (3 x 0,05) = 45 + 0,15 = 45,15 R1 = = = 22,07

R2 =

= 22,67

R3 =

= 22,57

Rrata-rata = = 22,44mm

=
0,02m

K = 0,6R = 0,6 x 0,02 = 0,012m

4.2 Analisis Data * Perhitungan tanpa KTP F1 = 1300 Hz

V1 =

= = = = =

= 107,47 = 126,88 = 112,91 = 128,27 = 138,04

V2 =

V3 =

V4 =

V5 =

F2 = 1500 Hz

V1 =

= = = = =

= 104 = 122,4

V2 =

V3 =

= 130,29 = 141,33 = 137,46

V4 =

V5 = F3 = 1700 Hz

V1 =

= = = = =

= 95,2 = 125,12 = 128,23 = 129,96 = 124,87

V2 =

V3 =

V4 =

V5 =

* Perhitungan dengan KTP V={(


2

)2 + (

}1/2
2

={(

)2 + (

}1/2

Dimana F = 1/3 nst (nilai standar terkecil) signal generator = 1/3 x 1Hz = 1/3 Hz atau 0.33 Hz V = 1/3 nst Mistar = 1/3 x 0,003m

F1 = 1300 Hz V1 = { ( = {27,04}1/2 = 5,2 V2 = { ( = {9,74}1/2 = 3,12 V3 = { ( = {4,97}1/2 = 2,23


2 2

)2 + (

}1/2

)2 + (

}1/2

)2 + (

}1/2

V4 = { ( = {3,01}1/2 = 1,74 V5 = { ( = {2,01}1/2 = 1,42 F2 = 1500 Hz V1 = { ( = {36}1/2 = 6 V2 = { ( = {12,96}1/2 = 3,6 V3 = { ( = {6,61}1/2 = 2,57 V4 = { ( = {4}1/2 = 2 V5 = { ( = {2,68}1/2 = 1,64

)2 + (

}1/2

)2 + (

}1/2

)2 + (

}1/2

)2 + (

}1/2

)2 + (

}1/2

)2 + (

}1/2

)2 + (

}1/2

F3 = 1700 Hz V1 = { ( = {46,24}1/2 = 6,8 V2 = { ( = {16,65}1/2 = 4,08 V3 = { ( = {8,49}1/2 = 2,91 V4 = { ( = {5,14}1/2 = 2,28 V5 = { ( = {3,44}1/2 = 1,86
2 2

)2 + (

}1/2

)2 + (

}1/2

)2 + (

}1/2

)2 + (

}1/2

)2 + (

}1/2

* KTP mutlak F1 = 1300 Hz (V1 + V1) = (107,47 (V2 + V2) = (126,88 (V3 + V3) = (112,91 (V4 + V4) = (128,27 5,2) 3,12) 2,23) 1,74)

(V5 + V5) = (138,04 F2 = 1500 Hz (V1 + V1) = (104 (V2 + V2) = (122,4 (V3 + V3) = (130,29 (V4 + V4) = (141,33 (V5 + V5) = (137,46 F3 = 1700 Hz (V1 + V1) = (95,2 (V2 + V2) = (125,12 (V3 + V3) = (128,23 (V4 + V4) = (129,96 (V5 + V5) = (124,87 6)

1,42)

3,6) 2,57) 2)

1,64)

6,8)

4,08) 2,91) 2,28) 1,86)

* KTP Relatif F1 = 1300 Hz x 100 % = x 100 % = 4,84 %

x 100 % =

x 100 % = 2,46 %

x 100 % =

x 100 % = 1,98 %

x 100 % =

x 100 % = 1,36 %

x 100 % = F2 = 1500 Hz x 100 % =

x 100 % = 1,03 %

x 100 % = 5,77 %

x 100 % =

x 100 % = 2,94 %

x 100 % =

x 100 % = 1,97 %

x 100 % =

x 100 % = 1,42 %

x 100 % = F3 = 1700 Hz x 100 % =

x 100 % = 1,19 %

x 100 % = 7,14 %

x 100 % =

x 100 % = 3,26 %

x 100 % =

x 100 % = 2,27 %

x 100 % =

x 100 % = 1,75 %

x 100 % =

x 100 % = 1,49

4.2 Pembahasan Dalam suatu pipa tertutup salah satu ujungnya, resonansi maksimum yang akan memperkuat suara. Apabila terjadi gelombang diujung pipa yang terbuka adalah perut gelombang dan ujung yang tertutup berupa simpul gelombang. Pada setiap titik di dalam pipa terdapat gelombang sefasa yang efeknya adalah saling memperkuat, Untuk menghitung panjang geombang kita dapat menghitungnya denngan rumus: dimana adalah panjang gelombang, V adalah cepat rambat bunyi, dan F

adalah frekuensi. Dan untuk menghitung panjang tabung yang disimbolkan dengan huruf L, dengan menggunakan hubungan Maka kita dapat menghitungnya dengan rumus: L = (2n + 1) Ketika dilakukan pengambilan data diharapkan akan mendapatkan hasil yang lebih akurat. Hal tersebut bias terjadi apabila sewaktu pengambilan data ada kerjasama yang baik. Akan tetapi pada kenyataannya, hasil data kurang akurat dengan dibuktikan pada perhitungan ketidakpastian relative, yaitu pada frekuensi 1700 Hz. Data pertama sebesar 7,14% sedangkan data yang lainnya lebih kecil dari 5%. Tetapi sisi ke-akuratannya cukup akurat bahkan dapat dikatakan mendekati 0%, dengan kata lain ketelitian diantara 1% sampai dengan 7%. Kecepatan bunyi dalam percobaan ini jauh berbeda dangan kecepatan bunyi pada suhu ruang, hal ini dikarenakan suhu ruangan lebih dingin dan lebih kurang teliti dalam pengamatan. Kesalahan yang mungkin terjadi adalah pengambilan ukuran pada tabung, karena praktikan kurang teliti, selain itu mungkin juga karena penarikan tabung resonansi yang terlalu cepat atau kurang

lamban, kesalahan dalam menghitung nilai pada audio generator. Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari misalnya yaitu diantaranya bunyi sirine pada ambulance, maupun pada klakson mobil yang apabila ditekan lama akan mengalami penguatan atau perubahan bunyi.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Kesimpulan dari percobaan ini adalah : 1. Resonansi merupakan suatu fenomena dimana sebuah sistem yang bergetar dengan amplitudo yang maksimum akibat adanya impuls gaya yang berubah ubah yang bekerja pada impuls tersebut. Kondisi seperti ini dapat terjadi bila frekuensi gaya yang bekerja tersebut berimpit atau sama dengan frekuensi getar yang tidak diredamkan dari sistem tersebut. 2. Cepat rambat bunyi dapat ditentukan dengan cara mengalikann panjang gelombang dengan frekuensi, atau dapat ditulis dengan persamaan : V= xf Dimana, V = cepat rambat bunyi ( ) = panjang gelombang (m) F = frekuensi (Hz) 3. Banyak contoh dari peristiwa resonansi yang dihadapi dalam kehidupan sehari hari, antara lain : bila berdekatan dengan sebuah gelas dan dibangkitkan suatu nada ( frekuensi ) yang besarnya sama dengan frekuensi alam gelas itu sendiri maka gelas itu akan bergetar ( berbunyi) sekeras kerasnya. Bila nada (frekuensi) tadi dibunyikan cukup keras dan secara terus menerus maka getar gelas akan semakin diperkeras sehingga gelas dapat pecah. Dengan suara, orang dapat menghancurkan suatu benda. Juga peristiwa keruntuhan pesawat terbang yang kecepatannya mendekati kecepatan menjalar bumi berdasar atas peristiwa resonansi.

5.2 Saran

1. Praktikan sebelum melakukan percobaan diharapkan terlebih dulu paham atau mengerti materi percobaan 2. Mengenal alat-alat yang digunakan untuk percobaan 3. Tahu cara menggunakannya

DAFTAR PUSTAKA

Bueche, Frederick J. 1989. Fisika edisi kedelapan. Institut Teknologi Bandung; Erlangga. Gerrits, Dr.G.C dan Soerjohoedojo, Ir. Soemani.S. 1953. Buku Peladjaran Ilmu Alam jilid 2. Jakarta; J.B.Wolter. Halliday dan Resnick. 1978. Fisika Edisi ketiga. Jakarta; Erlangga. Sears, Zemansky. 1982. Fisika untuk Universitas I Edisi keempat. Bandung; Binacipta. Tipler, Paul A. 1998. Fisika jilid 1. Jakarta; Erlangga. Young, freedman. 2002. Fisika Universitas 1. Jakarta; Erlangga.

Anda mungkin juga menyukai