Anda di halaman 1dari 9

DISTINCT ELEMENT METHOD DAN PERSPEKTIF PENERAPANNYA DALAM KETEKNIKAN PERTANIAN1 Bambang Purwantana2 ABSTRAK Distinct Element Method

(DEM) merupakan suatu metode numerik yang sangat potensial untuk mempelajari perilaku bahan-bahan granuler. DEM pada awalnya diperkenalkan untuk menganalisa perilaku kumpulan partikel-partikel granuler. Metode ini kemudian berkembang dengan cepat dan banyak digunakan untuk mempelajari perilaku dari berbagai jenis bahan granuler, dan dalam beberapa kasus, dengan modifikasi tertentu, juga dapat diterapkan untuk mempelajari bahan-bahan kontinyu. Makalah ini mengkaji dasar pemikiran dan teori tentang DEM serta perspektif penerapannya dalam keteknikan pertanian. Review beberapa hasil penelitian disajikan dalam makalah ini.
Kata kunci : DEM, partikel, sifat mekanis, model

PENDAHULUAN Distinct Element Method (DEM) merupakan salah satu metode numerik yang diperkenalkan pertama kali oleh Cundall dan Strack (1979) untuk analisa kumpulan bahan curah (granuler). Metode ini telah banyak digunakan untuk mempelajari bebagai jenis bahan granuler dan pada beberapa kasus juga digunakan untuk analisa bahan semi-granuler (Misalnya: Iwashita dan Oda, 1998; Shimizu dan Cundall 2001). Pada saat-saat awal diperkenalkannya, DEM banyak digunakan untuk analisa bahanbahan teknik sipil seperti misalnya dalam proses pencampuran beton, analisa batuan dan pasir, dan-lain-lain. Di bidang teknik pertanian, Oida (2001) mencoba mengaplikasikan DEM untuk analisa interaksi alat-mesin pertanian dengan tanah. Meski masih dalam tahap awal DEM menunjukkan potensi yang cukup prospektif untuk keperluan analisis masalahmasalah keteknikan pertanian. Dalam DEM konvensional, obyek diasumsikan sebagai kumpulan partikel diskret mutlak dan interaksi mekanis diantara partikel ditentukan oleh konstanta gaya pegas, konstanta daspot atau kelembaman dan konstanta gesek. Untuk tujuan tertentu beberapa modifikasi DEM juga sudah dilakukan. Iwashita dan Oda (1998) menambahkan parameter tahanan guling diantara partikel. Momozu et al. (2003) memperkenalkan parameter adhesi diantara partikel untuk mensimulasikan proses pemotongan tanah. Purwantana (2004a, 2004b) menambahkan parameter tarikan diantara partikel untuk mensimulasikan perilaku keberadaan perakaran dalam tanah selama proses pemotongan. Meski belum diperoleh hasil yang maksimal, modifikasi terhadap DEM konvensional sangat membantu dalam
1 2

Dipresentasikan pada Seminar Hasil penelitian Jurusan Teknik Pertanian FTP-UGM 27-11-2004 Staf pengajar Jurusan Teknik Pertanian FTP-UGM, Email: bambang_pw@ugm.ac.id

analisa perilaku bahan yang mempunyai sifat tidak diskret mutlak. Beberapa peneliti juga tengah mencoba menggabungkan atau mengkombinasi DEM dengan metode numeris lainnya misalnya dengan Finite Element Method (FEM). PRINSIP DASAR DEM DEM berbasis pada hukum-hukum fisika. Pergerakan partikel-partikel dikendalikan dengan suatu persamaan gerak. Karakteristik utama DEM adalah asumsi bahwa obyekobyek yang dianalisa adalah kumpulan dari elemen-elemen kecil. Setiap elemen menerima gaya kontak dari elemen-elemen disekitarnya, dari dinding kontainer, atau dalam hal interksi dengan alat atau mesin, dengan permukaan alat atau mesin. Besarnya gaya kontak ditentukan berdasarkan jarak perpindahan relatif, dan kecepatan relatif dari elemenelemennya. Didalam DEM juga diasumsikan bahwa overlap dimungkinkan terjadi pada saat kontak, dan besarnya gaya kontak dihitung selama terjadinya overlapping tersebut. Dalam simulasi dengan DEM, gaya-gaya yang bekerja dari satu elemen ke elemen lainnya dimodelkan dengan sistem getaran seperti ditunjukkan pada Gb.1. Suatu pegas dengan konstanta k, satu dashpot dengan koefisien kelembaman (coefficient of viscous damping) dan satu bidang geser dengan koefisien gesek diandaikan berada diantara elemen. Pada arah normal, suatu hubungan terputus ( no-tension joint) dimasukkan untuk menyatakan bahwa tidak ada gaya tarik-menarik pada saat dua elemen saling terpisah. Asumsi yang sama juga dipakai dalam hubungan antara elemen dengan dinding.
(Elemen Elemen) (Elemen-Dinding)

k
n

k
n notension
joint

k
n

no-tension joint

(Normal)

(Tangensial)

(Normal)

(Tangensial)

Gb. 1. Hubungan mekanis antar elemen dan antara elemen-dinding Dalam DEM, posisi semua elemen ditentukan bertahap (step-by-step) dengan interval t detik. Posisi dan gaya kontak pada setiap elemen menentukan pergerakan dari elemen tersebut. Konsep algoritmanya ditunjukkan pada Gb. 2.

Judgment of Contact and Finding Relative Displacement / Velocity

Position of Each Element

Contact Force on Each Element

Integration by Time Interval t and Getting Displacement of Each Element

Gb.2. Konsep algoritma simulasi Gaya yang bekerja pada elemen adalah proporsional terhadap jarak perpindahan dan kecepatan relatif elemen terhadap elemen yang kontak dengannya. Contoh ilustrasinya ditunjukkan melalui Gb.3. dimana dua elemen i dan j saling kontak. Gambar ini menunjukkan posisi masing-masing elemen i dan j pada waktu t. Besar dan arah atau track pergerakan setiap elemen selama t ditunjukkan dengan tanda panah. Perpindahan horisontal (arah X ) dan vertikal (arah Y ) elemen i dan j selama t masing-masing dinyatakan dengan notasi ui, vi, uj and vj. j (xj,yj) i n (xi,yi) rj
uj (-)

vj (-)

vi (+)

i j
ri

j
s

i
ui

(+)

Gb.3. Diagram kontak antara elemen Pada arah normal, un adalah positip untuk tekanan (compression). Untuk arah tangensial, us adalah positip untuk searah jarum jam disekeliling elemen j. Gaya kontak normal dan tangensial, [fn]t dan [fs]t bernilai positip pada arah berlawanan dengan un dan us. Untuk perpindahan rotasi, i dan momen [Mi]t, masing-masing nilainya adalah positip pada arah berlawanan jarum jam.

Pada arah normal, gaya oleh pegas en dan gaya oleh dashpot dn dapat dinyatakan dengan persamaan-persamaan : en = k n u n dan

d n = n

u n t d s = s u s t

Pertambahan gaya pada arah tangensial oleh pegas es dan oleh dashpot ds dapat dinyatakan dengan persamaan-persamaan : e s = k s u s dan

Gaya pegas pada waktu t, [en]t, diperoleh dengan menambahkan gaya pegas en pada gaya pegas pada selang waktu sebelumnya [en]t-t sebagai berikut: [ en ] t = [ en ] t t + k n u n Dengan demikian, gaya kontak normal pada elemen i yang diberikan oleh elemen j diperoleh dengan menambahkan gaya dashpot [dn]t, yang nilainya proporsional dengan kecepatan relatif i terhadap elemen j selama t, pada gaya pegas [en]t sebagai berikut:

[ f n ] t = [ en ] t + [ d n ] t

= ([ en ] t t + k n u n ) +

Dengan cara yang sama, gaya pada arah tangensial dapat dihitung sebagai berikut:

n u n t

[ f s ] t = [ es ] t + [ d s ] t

= ([ e s ] t t + k s u s ) +

Dengan mengubah gaya kontak pada arah normal dan tangensial kedalam gaya horisontal dan vertikal serta rotasi, dan dengan menjumlahkan gaya-gaya kontak yang disebabkan oleh seluruh elemen yang kontak dengan elemen i , maka diperoleh resultan gaya horisontal, vertikal dan momen sebagai berikut:

s u s t

[ Fxi ] t = ( [ f n ] t cos ij + [ f s ] t sin ij ) , [ Fy i ] t = ( [ f n ] t sin ij [ f s ] t cos ij ) [M i ]t


= ri ( [ f s ] t )
j j j

Besarnya percepatan pada elemen i untuk arah horisontal, vertikal dan rotasi dapat diperoleh dengan membagi gaya kontak untuk setiap arah dengan masa atau momen inersia dari elemen i sebagai berikut:

i ] t = [u

[ Fxi ] t
mi

i ] t = [v

[ Fyi ] t
mi

i ] t [

[M i ]t
Ii

Kecepatan elemen i untuk setiap arah pada waktu t diperoleh dengan mengintegralkan percepatan untuk setiap selang waktu t dan menambahkan nilainya pada nilai kecepatan sebelumnya. Selanjutnya, jarak perpindahan elemen i untuk setiap arah pada waktu t diperoleh dengan mengintegralkan kecepatan terhadap selang waktu t. PENERAPAN DEM Dalam bidang teknik sipil, DEM banyak digunakan khususnya dalam pekerjaanpekerjaan analisis tanah ataupun batuan. Makino et al. (2003) misalnya, membuat simulasi

dan optimasi pengisian pasir dengan bantuan pengudaraan dalam pembuatan campuran beton dengan menggunakan DEM dua dimensi. Hasilnya antara lain seperti tertera pada Gambar 4. Dari hasil simulasi antara lain diperoleh kesimpulan bahwa dengan bantuan DEM maka perilaku partikel pasir dan gaya-gaya yang bekerja pada partikel selama proses pengisian dan pengudaraan menjadi lebih jelas.

Gambar 4. perilaku partikel pasir dalam proses pengisian dengan pengudaraan

Takahashi (2003), membuat simulasi gaya tahanan yang bekerja pada sekop wheel loader menggunakan DEM. Simulasi dimaksudkan sebagai langkah awal dalam otomatisasi pekerjaan penyekopan dan pemuatan material. Dari hasil simulasi disimpulkan bahwa proses perubahan bentuk dari tumpukan batuan selama pemuatan menjadi lebih jelas. Trajectory dan distribusi gaya-gaya yang bekerja serta partikel batuan dapat digambarkan secara jelas melalui simulasi. Gambar 5 adalah contoh gambaran trajectory partikel batuan hasil simulasi. Dalam skala lapangan, DEM juga dapat digunakan untuk mensimulasikan dinamika suatu bentangan lahan. Zhang Chuhan et al. (1997) misalnya mencoba mengaplikasikan DEM untuk analisis dinamika struktur lereng batuan. Dari hasil simulasi antara lain diperoleh gambaran tentang distribusi tegangan yang terjadi pada suatu stuktur lereng, seperti diilustrasikan pada Gambar 6. Dalam keteknikan pertanian penggunaan DEM dimulai khususnya pada simulasi penaganan bubuk dan grain. Perilaku bahan selama proses penanganan bahan seperti pengangkutan, penumpukan dan lain-lain menjadi topik-topik utama pemakaian DEM. Gambar 7 memperlihatkan contoh hasil simulasi pengangkutan bahan dengan screw conveyor hasil penelitian Shimizu dan Cundall (2001), dan Gambar 8 memperlihatkan pengaruh sifat mekanis bahan terhadap perilaku alirannya dalam suatu silo (Masson, 2000)

Gambar 5. Trajectory partikel dalam proses penyekopan

Gambar 6. Distribusi tegangan pada lereng batuan setelah ekskavasi

Gambar 7. Perilaku partikel pada pengangkutan dengan screw conveyor

Penerapam DEM untuk keperluan analisis interaksi mesin-tanah (teramekanik) telah dimulai oleh Oida (2001). Beberapa usaha modifikasi DEM konvensional telah dilakukan meskipun belum memberikan hasil yang optimal. Momozu dan Oida (1997) berusaha

memodifikasi DEM dengan memasukkan faktor adhesi partikel dan mengaplikasikannya dalam simulasi interaksi tanah dengan pisau rotari. Disimpulkan bahwa dengan introduksi faktor adhesi partikel tersebut maka simulasi dapat dilakukan untuk tanah liat, sementara pada DEM konfensional sesuai untuk tanah pasir. Contoh hasil simulasinya ditunjukkan pada Gambar 9.

Gambar 8. Network gaya-gaya kontak antar partikel selama proses aliran bahan

Gambar 9. Contoh hasil simulasi pemotongan tanah dengan introduksi adhesi partikel

Oida et al. (1997) juga telah menggunakan DEM untuk mengamati perilaku deformasi tanah dibawah roda traksi. Masih berkaitan dengan interaksi mesin dan tanah, Tanaka et al. (2000) menggunakan DEM untuk mengamati runtuhan tanah dalam proses subsoiling dengan getaran. Dari kedua penelitian ini dinyatakan bahwa gambaran nyata perilaku tanah dapat diperjelas dengan penggunaan DEM, namun untuk perilaku gayanya masih diperlukan perbaikan. Gambar 10 dan 11 memperlihatkan contoh hasil simulasi tersebut.

Gambar 10. Perbandingan deformasi elemen antara DEM konvensional dan modifikasi

Gambar 11. Perilaku runtuhan tanah selama dalam proses subsoiling

PENUTUP Dari gambaran tentang DEM diatas, dapat dicatatat hal-hal penting sebagai berikut: 1. 2. 3. Prospek penerapan DEM dalam keteknikan pertanian masih sangat terbuka luas. Modifikasi model DEM mengikuti sifat-sifat mekanis bahan pertanian perlu banyak dikembangkan untuk memperoleh hasil simulasi yang optimal Diperlukan kerjasama interdisipliner dalam pengembangan DEM untuk teknik pertanian DAFTAR PUSTAKA Cundall, P.A., and Strack, O.D.L. 1979. A discrete numerical method for granular assemblies. Geotechnique, 29(1):47-65 Iwashita, K., and Oda, M. 1998. Rolling resistance at contacts in simulation of shear band development by DEM. Journal of Engineering Mechanics, 124(3):286-292 Makino H., Hirata M., Hadano Y. 2003. Computer simulation and optimization of sand filling using the distinct element method. Proceeding of the WFO Technical Forum 2003. Masson S., martinez J. 2000. Effect of particle mechanical properties on silo flow and stresses from distinct element simulations. Powder Technology, 109: 164-178

Momozu, M., Oida, A., Yamazaki, M. 1997. Simulation of interaction between soil and rotary blade by modified distinct element method. Proceeding of 7th European ISTVS Conference, Ferrara, 572-579 Momozu, M., Oida, A., Yamazaki, M., and Koolen, A.J. 2003. Simulation of a soil loosening process by means of the modified distinct element method. Jornal of Terramechanics, 39(3):207-220 Oida, A., Schwanghart H., Ohkubo S., Yamazaki, M. 1997. Simulation of soil deformation under a track shoe by the DEM. Proceeding of 7th European ISTVS Conference, Ferrara, 155-162 Oida A. 2000. Application of Distinct Element Method on Soil-Machine Interaction. Kyoto University, Japan Purwantana, B 2004. Simulation of root-matted soil cutting by use of Distinct Element Method. Agritech Vol. 24 No. 3: 130-138 Shimizu Y, Cundall P.A. 2001. Three dimensional DEM simulations of bulk handling by screw conveyors. Journal of Engineering Mechanics, 127(9):864-872 Takahashi H. 1999. Simulation of the resitive forces acting on the bucket of wheel loader by use of DEM. Graduate School of Engineering, Tohoku University, Sendai, Japan Tanaka H., Momozu M., Oida A., Yamazaki M. 2000. Simulation of soil deformation and resistance at bat penetration by the distinct element method. Jornal of Terramechanics, 37(1):41-56 Zhang C., Pekau O.A., Feng J., wang G. 1997. Application of DEM in dynamic analysis of high rock slopes and blocky structures. Soil Dynamic and Earthquake Engineering 16: 385-394