Anda di halaman 1dari 14

ISU GLOBAL Isu mengenai energi, lingkungan hidup, dan pemanasan global menjadi isu yang penting untuk

dibahas karena melibatkan banyak pihak dan kepentingan. Setiap umat manusia sebagai anggota ekosistem dunia yang mempunyai tanggung jawab besar dalam memelihara bumi dan isinya. Adanya faktor jumlah manusia yang semakin meningkat dan kurang bijak dalam mengelola dan memanfaatkan lingkungan menjadi salah satu dari sedikit faktor yang menyebabkan masalah-masalah global seperti: penipisan lapisan ozon, pemanasan global, penggundulan hutan, polusi dan lain sebagiannya, sekarang ini telah menjadi polemik yang terus meluas. Dengan memahami lingkungan dan isu-isu global tersebut. Dalam pembelajaran perspektif global, diharapkan mampu menyadarkan pada kita semua bahwa tanggung jawab untuk memelihara bumi dan isinya ini merupakan tugas kita semua. Segala masalah yang ada di sekitar kita seperti : penipisan lapisan ozon, pemanasan global, penggundulan hutan, polusi, semakin langkanya spesies tanaman maupun hewan, krisis energi dan sebagainya, harus segera dicari solusinya. A. Isu-isu Global Masa Kini dan Masa Depan Secara garis besar permasalahan pokok yang dihadapi umat manusia di masa kini dan masa depan adalah : 1. Bahan Makanan Pentingnya permasalahan ini dikarenakan banyaknya kasus kekurangan bahan makanan, berupa bencana kelaparan. Jumlah manusia yang meninggal akibat bencana ini sudah jutaan orang karena kelaparan yang terjadi di China, India, dan sebagainya. Masalah ini berkaitan dengan : a. Kebutuhan Obyektif pangan Ketika PBB melaporkan bahwa jumlah kalori yang dimakan oleh orang-orang Amerika Utara dan Eropa per harinya ternyata berlebihan 1/3 dari yang diperlukan oleh tubuh mereka, sementara orang-orang Afrika jumlah kalori yang dimakan masih kurang 6%. Untuk menutupi kekurangan produksi dan konsumsi, negara-negara berkembang semakin tergantung kepada negara-negara maju dalam impor bahan pangan utama yang semakin meningkat dari 12 juta ton

pada tahun 1950-an menjadi 36 juta ton pada tahun 1972 hal ini dikarenakan pertumbuhan penduduk pertahun yang mencapai 10%, sedangkan pertumbuhan pengan hanya meningkat 2% saja. Dan juga akan semakin meningkat pada tahun-tahun mendatang. b. Kendala fisik ataupun ekonomi dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian. Terbatasnya tanah subur, apakah karena penanaman 1 jenis pohon yang sama secara terus menerus dan keterbatasan air minum dan irigasi telah menyebabkan produksi bahan makan sulit untuk dipertahankan apalagi bencana alam seperti : El Nino, banjir, kekeringan, dan sebagainya menyebabkan terjadinya krisis bahan makanan. 2. Penduduk Meningkatnya kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan semakin berkembangnya sarana kesehatan sehingga mengurangi angka kematian/mortalitas bayi merupakan hal-hal yang menebabkan terjadinya pertumbuhan penduduk yang cepat pada abad-abad belakangan ini. Pertumbuhan penduduk akan berakibat pada banyak aspek kehidupan pendidikan, ketenagakerjaan, dan lingkungan hidup. Revolusi Industri yang terjdi di Eropa dan menyebar ke Amerika Utara sebelum pertengahan abad ke-18 telah menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah penduduk secara tajam. Penemuan teknologi untuk meningkatkan hasil pertanian, perternakan, dan perikanan sehingga suplai bahan makanan terpenuhi dan juga kemajuan teknologi kesehatan yang mampu meningkatkan pemiliharaan kesehatan manusia. Setelah PD II selesai juga merupakan awal terjadinya pertambahan penduduk di abad ke-20. pemilikan akan tanah yang subur, air yang melimpah, mineral, kekayaan hutan, minyak dan sebagainya, mempengaruhi budaya masing-masing kawasan. Semakin meningkat jumlah penduduk semakin meningkat pula pengekspoitasian terhadap sumber bahan mentah yang ada, sehingga mencapai titik batas kemampuan alam sehingga menyebabkan sumber-sumber alam tidak mampu memenuhi kebutuhan penduduk. Keadaan ini telah menyebabkan terjadinya masalah-masalah yang diakibatkan oleh jumlah penduduk, dari yang namanya krisis ekonomi, sosial, kelaparan, mingrasi, sampai peperangan. 3. Energi dan konservasi Embargo minyak yang dilakukan oleh OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries) atau organisasi negara-negara pengespor minyak termasuk Indonesia terhadap negara

industri barat di tahun 1973 menyadarkan kepada kita betapa pentingnya energi terutama yang berupa minyak. Minyak merupakan sumber energi alam yang non-renewable artinya begitu habis ya sudah. Seluk beluk energi dinyatakan oleh Jarolimeck sebagai berikut : 1. Seluruh kehidupan tergantung pada energi dan matahari merupakan sumber energi yang utama 2. Sebagian besar dari masalah lingkungan yang serius yang dihadapi oleh umat manusia saat ini disebabkan oleh andanya perumbuhan yang menyebabkan semakin meningkatnya konsumsi energi 3. Sumber-sumber energi berukut penggunaanya berkaitan erat dengan tingkat perkembangan teknologi dan budayanya. Artinya mesyarakat masyarakat yang sudah mencapai tingkatan industri semakin membutuhkan energi yang sangat besar 4. Perkembangan ekonomi sangat dipengaruhi oleh industrialisasi yang pada gilirannya juga membutuhkan energi dalam jumlah besar 5. Sumber-sumber energi di dunia ini dan distribusinya sangat merata sehingga ada bangsa yang sudah maju namun demikian saling ketergantungan antar bangsa yang merupakan suatu keharusan belum berjalan sebagaiana mestinya/masih terjadi ketimpangan.

B. Isu Pemanasan Global


1. Pengertian Pemanasan Global Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu ratarata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0,74 0,18 C (1,33 0,32 F) selama seratus tahun terakhir. Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6,4 C (2,0 hingga 11,5 F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air lautdiperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

2. Penyebab Pemanasan Global (Global warming) 1. Efek rumah kaca Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 C (59 F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 C (59 F)dari temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global. 2. Efek umpan balik Penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena

udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer. Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan. Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif. Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah. 3. Dampak Pemanasan Global (Global warming) 1. Iklim Mulai Tidak Stabil Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan

memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, dimana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim. 2. Peningkatan permukaan laut Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21. 3. Suhu global cenderung meningkat Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat. 4. Gangguan ekologis Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung

untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah. 5. Dampak sosial dan politik Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain. 6. Hilangnya Lautan Es Menurut WWF, bahkan pemanasan global kurang dari 2C dapat memicu hilangnya lautan es kutub utara dan pencairan lapisan es di Greenland . Efek timbal balik kekuatan yang tak terduga ini adalah penyebab terlampauinya titik-titik kritis tersebut. Hal ini akan menyebabkan peningkatan permukaan laut beberapa meter secara global yang akan mengancam puluhan juta manusia di dunia. 2.5.Cara mencegah Pemanasan Global (Global warming) 1. Kurangi konsumsi daging. Berdasarkan penelitian, untuk menghasilkan 1 kg daging, sumber daya yang dihabiskan setara dengan 15 kg gandum. Bayangkan bagaimana kita bisa menyelamatkan bumi dari kekurangan pangan jika kita mengurangi konsumsi daging. Peternakan juga penyumbang 18% jejak karbon dunia, yang mana lebih besar dari sektor transportasi (mobil, motor, pesawat, dll). Belum ditambah lagi dengan bahaya gas-gas rumah kaca tambahan yang dihasilkan oleh aktivitas peternakan lainnya, seperti

metana yang notabene 3 kali lebih berbahaya dari CO2 dan gas NO yang 300 kali lebih berbahaya dari CO2. Dan yang pasti banyak manfaat kesehatan dan spiritual jika mengurangi konsumsi daging. 2. Makan dan masaklah dari bahan yang masih segar. Menghindari makanan yang sudah diolah atau dikemas akan menurunkan energi yang terbuang akibat proses dan transportasi yang berulang-ulang. Makanan segar juga lebih sehat bagi tubuh. 3. Beli produk lokal, hasil pertanian lokal lebih murah dan juga menghemat energi, terutama jika menghitung energi dan biaya transportasinya. Makanan organik lebih ramah lingkungan, tetapi periksa juga asalnya. Jika diimpor dari daerah lain, kemungkinan emisi karbon yang dihasilkan akan lebih besar daripada manfaatnya. 4. Daur ulang aluminium, plastik, dan kertas. Akan lebih baik lagi jika Anda bisa menggunakannya berulang-ulang. Energi untuk membuat satu kaleng aluminium setara dengan energi untuk menyalakan TV selama 3 jam. 5. Beli dalam kemasan besar. Akan jauh lebih murah, juga menghemat sumber daya untuk kemasan. Jika terlalu banyak, ajaklah teman atau saudara Anda untuk berbagi saat membelinya. 6. Matikan oven Anda beberapa menit sebelum waktunya. Jika tetap dibiarkan tertutup, maka panas tersebut tidak akan hilang. 7. Hindari fast food. Fast food merupakan penghasil sampah terbesar di dunia. Selain itu konsumsi fast food juga buruk untuk kesehatan. 8. Bawa tas yang bisa dipakai ulang. Gunakan gelas yang bisa dicuci. Jika Anda terbiasa dengan cara modern yang selalu menyajikan minum bagi tamu dengan air atau kopi dalam kemasan. Beralihlah ke cara lama kita. Dengan menggunakan gelas kaca, keramik, atau plastik food grade yang bisa dicuci dan dipakai ulang. 9. Berbelanjalah di lingkungan sekitar. Akan sangat menghemat biaya transportasi dan BBM.

10. Tanam pohon setiap ada kesempatan. Baik di lingkungan ataupun berpartisipasi dalam program penanaman pohon. Bisa dengan menyumbang bibit, dana, dan lain-lain. Tergantung kesempatan dan kemampuan.

C. Isu Penipisan Lapisan Ozon


1. Pengertian Ozon Hampir sekitar 90 persen dari jumlah ozon yang ada di atmosfer berada pada lapisan teratas yang dikenal dengan nama stratosfer, yang lokasinya sekitar 15-50 km di atas permukaan bumi. Wilayah yang berisikan konsentrasi terbesar dari ozon ini dinamakan sebagai lapisan ozon.. Pada tahun 1930, Chapman menjelaskan pembentukan ozon secara alamiah. Di mana ia menjelaskan bahwa sinar ultraviolet dari pancaran sinar matahari mampu menguraikan gas oksigen di udara bebas. Molekul oksigen tersebut terurai menjadi dua buah atom oksigen, proses ini dikenal dengan nama photolysis. Lalu kedua atom oksigen tadi secara alamiah bertumbukan dengan molekul gas oksigen yang ada disekitarnya, kemudian terbentuklah ozon. Reaksi Pembentukan Ozon : Sinar Ultra Violet OO + O O3 Selain terjadi proses pembentukan molekul ozon, secara alamiah terjadi juga proses penguraian O3. Sinar ultraviolet yang mempunyai energi tinggi dapat memutus ikatan rantai molekul ozon, sehingga molekul ozon tersebut kembali menjadi atom oksigen bebas (O) dan molekul oksigen (O2). Pada kondisi normal, tanpa adanya Bahan Perusak Ozon (BPO), reaksi pembentukan dan penguraian molekul Ozon terjadi dalam keadaan seimbang sehingga jumlah molekul Ozon di stratosfir relatif stabil. Reaksi Penguraian Ozon : Sinar UV + O3 O + O3 2O3 2. Manfaat Lapisan Ozon ===> O2 + O ===> O2 + O2 <===> 3O2

Lapisan Ozon sangat bermanfaat bagi segala kehidupan di bumi karena ia berfungsi sebagai : 1) Melindungi makhluk hidup yang ada di bumi dengan cara menyerap hampir 90% radiasi sinar ultraviolet yang dipancarkan oleh matahari. Telah diketahui bahwa Sinar UV sangat berbahaya dan dapat menyebabkan : a. b. c. d. e. f. 2) Penyakit kanker kulit Katarak Kerusakan genetik pada sel-sel manusia, hewan maupun tumbuhan. Penurunan sistem kekebalan hewan, tumbuhan dan organisme yang hidup di air Mengurangi hasil pertanian dan dan merusak tanaman Mematikan anak-anak ikan, kepiting dan udang di lautan, serta mengurangi jumlah Memberi efek pada suhu atmosfer yang menentukan suhu dunia

plankton yang menjadi salah satu sumber makanan kebanyakan hewan- hewan laut.

3. Faktor Penyebab Penipisan Lapisan Ozon Zat-zat perusak ozon tersebut dikenal dengan nama Bahan Perusak Ozon (BPO), contohnya yaitu : 1. Chlorofluorocarbon (CFC) dan Hydrochlorofluorocarbons (HCFC) CFC yang berlebihan dikonsumsi oleh masyarakat modern dunia sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. CFC dapat melepaskan atom Chlorine dan dapat merusak lapisan ozon. CFC digunakan oleh masyarakat di dunia dengan cara yang tidak terkira banyaknya, misalnya dengan penggunaan Freon pada alat AC, lemari es, dan alat pendingin lainnya merupakan salah satu bentuk yang turut andil dalam pengrusakan lapisan ozon, karena alat ini menggunakan CFC-11, CFC-12, CFC 114 dan HCFC-22 dalam proses kerjanya. 2. Penggunaan CFC-11, CFC-12 dan CFC-114 secara luas juga digunakan pada produk dengan alat kerja penyemprot atau disebut aerosol spray seperti kaleng semprot untuk pengharum ruangan, penyemprot rambut (hair spray), minya wangi/parfum, insektisida, pembersih kaca (jendela), pembersih oven, produk-produk farmasi, cat, minyak pelumas dan oli. 3. Penggunaan CFC-113 sebagai cairan pembersih (cleaning solvent) pada proses pembuatan peralatan elektronik, penghilangan lemak (degreasing) logam selama proses

fabrikasi. Selain itu CFC-113 digunakan untuk dry-cleaning dan spot-cleaning pada industri tekstil. 4. Haloncarbon yang digunakan dalam zat cair pemadam kebakaran (aerosol fire extinguiser) seperti Methyl Bromide, Carbon Tetrachloride, dan Methyl Chloroform. 5. Penggunaan methyl chloroform dan carbon tetrachloride sebagai bahan pelarut (solvent). 4. Mekanisme Penipisan Lapisan Ozon Pada lapisan Stratosfer radiasi matahari memecah molekul gas yang mengandung khlorin atau bromin yang dihasilkan oleh zat/bahan perusak ozon seperti CFC dan Haloncarbon yang akan menghasilkan radikal khlor dan brom. Radikal-radikal khlorin dan bromin kemudian melalui reaksi berantai memecahkan ikatan gas-gas lain di atmosfer, termasuk ozon. Molekulmolekul ozon terpecah menjadi oksigen dan radikal oksigen. Dengan terjadinya reaksi ini akan mengurangi konsentrasi ozon di stratosfer. Semakin banyak senyawa yang mengandung khlor dan brom perusakan lapisan ozon semakin parah. Dalam waktu kira-kira 5 tahun, CFC bergerak naik dengan perlahan ke dalam stratosfer (10 50 km). Molekul CFC terurai setelah bercampur dengan sinar UV dan membebaskan atom Chlorine. Bahan kimia ini menipiskan lapisan ozon dengan bertindak sebagai katalis dalam suatu reaksi kimia yang merubah ozon (O3) menjadi oksigen (O2). Reaksi ini dipercepat dengan adanya kristal-kristal es di stratosfer yang merupakan salah satu dari sumber bagi kerugian besar ozon di Antartika. Karena CFC bertindak sebagai katalis, maka mereka tidak dikonsumsi dalam reaksi yang merubah ozon menjadi oksigen, tetapi tetap ada di stratosfer dan terus menerus merusak ozon selama bertahun-tahun. Menurut hasil penelitian, satu atom Cl dapat menguraikan sampai 100.000 senyawa ozon dan bertahan sampai 40-150 tahun di atmosfer. Padahal stratosfer hanya bisa menyerap sejumlah atom klorin, sehingga pada akhirnya meskipun penggunaan CFC ditekan, jumlah yang ada dalam atmosfer masih cukup besar dan perlu waktu yang sangat lama untuk diserap. 1. Reaksi Penipisan Ozon Stratosfer karena CFC Fotodisosiasi CFC : CFCl3 + UV ==> CFCl2 + Cl Reaksi dengan O3 : O3 + Cl ==> ClO + O2

ClO + O Hasil : 2. O3 + O

==> Cl + O2 ==> 2O2

Reaksi Perusakan Ozon oleh Bromin Senyawa Bromine dipecah oleh sinar UV sehingga melepaskan Bromin, dan

meng-katalisa perusakan Ozon : O3 + Br ==> BrO + O2 BrO + O ==> Br + O2 Hasil : O3 + O ==> 2O2 5. 1) Dampak Penipisan Lapisan Ozon Lapisan ozon akan membentuk lubang sehingga makin banyaknya sinar UV yang

mencapai bumi, karena untuk tiap 10 persen penipisan lapisan ozon akan terjadi kenaikkan radiasi UV sebesar 20 persen. Hal ini sangat berbahaya terhadap kelangsungan makhluk hidup di bumi. Sinar ultraviolet dalam jumlah banyak dapat menyebabkan : a. Kanker kulit pada manusia b. Penyakit katarak pada mata manusia c. Rusaknya sistem imunisasi tubuh d. Perusakan genetik atau sel-sel hidup pada manusia dan hewan e. Kehidupan laut, ekosistem, dan hutan pun akan terganggu bila volume sinar UV melebihi batas normal f. Menurunkan produktifitas pertanian. g. Dengan banyaknya radiasi gelombang pendek UV-B maka akan memicu reaksi kimiawi di atmosfer bawah, yang dapat mengakibatkan penambahan jumlah reaksi fotokimia yang menghasilkan asap beracun, terjadinya hujan asam dan berakibat naiknya gangguan saluran pernapasan pada manusia. 2) Gunung-gunung es di kutub utara akan mencair yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut dunia. Sehingga lambat laun daratan di bumi pun akan tenggelam 3) Kerusakan lapisan ozon juga memiliki pengaruh langsung pada pemanasan bumi yang sering disebut sebagai Global Warming. Sebagian besar ozon stratosfer dihasilkan di kawasan tropis

dan diangkut ke ketinggian yang tinggi dengan skala besar putaran atmosfer semasa musim salju hingga musim semi. Umumnya kawasan tropis memiliki ozon yang rendah. 6. Pencegahan dari Penipisan Lapisan Ozon 1) Mengurangi atau tidak menggunakan lagi produk-produk rumah tangga yang mengandung zat-zat yang dapat merusak lapisan pelindung bumi (Bahan Perusak Ozon) dari sinar UV. 2) Menggunakan selalu produk-produk yang berlogo ramah ozon. Gambar logo produk ramah ozon :

3) Menggunakan alat pemadam api yang tidak mengandung Haloncarbon. 4) Memeriksa dan merawat peralatan pendingin/pengatur suhu dan sistem pemadam api secara berkala untuk memastikan tidak adanya kebocoran BPO (CFC, HCFC atau Halon) 5) Memastikan bahwa CFC/HCFC/Halon yang ada di dalam sistem diambil kembali (recovery) dan didaur ulang (recycle) dalam proses perawatan dan perbaikan sistem pendingin atau pemadam api. 6) Mengirim CFC/HCFC/Halon yang sudah tidak terpakai ke fasilitas pengolahan BPO bekas seperti Halon Bank, Pusat Reklamasi CFC atau Pemusnahan BPO. 7) Mengganti alat-alat kebutuhan yang berpotensi menghasilkan zat-zat perusak ozon dengan alternatif lain yang lebih ramah lingkungan misalnya pembangkit tenaga listrik dari sel surya, angin atau arus air terjun/turbin. 8) Diperlukan upaya meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam program perlindungan lapisan ozon, pemahaman mengenai penanggulangan penipisan lapisan ozon, memperkenalkan bahan, proses, produk, dan teknologi yang tidak merusak lapisan ozon dengan cara mengadakan seminar Save Our Earth. 9) Tidak membakar hutan maupun menebang pohon-pohon secara liar. 7. Penanggulangan Penipisan Lapisan Ozon 1. Penanggulangan Penipisan Lapisan Ozon oleh Badan Dunia

Isu penipisan lapisan ozon telah dijadikan isu internasional oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Lingkungan Hidup, United Nations Environment Programme (UNEP) sejak tahun 1987. Pada tahun 1977, pertemuan pakar UNEP mengambil tindakan Rencana Dunia terhadap lapisan ozon, dengan ditandatanganinya Protokol Montreal pada tahun 1987, suatu perjanjian untuk perlindungan terhadap lapisan ozon. Protokol ini kemudian diratifikasi oleh 36 negara termasuk Amerika Serikat. 2. Penanggulangan Penipisan Lapisan Ozon oleh Indonesia Pada tahun 1992, Indonesia meratifikasi Protokol Montreal dan Konvensi Wina melalui Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1992 tentang Pengesahan Konvensi Wina dan Protokol Montreal. Dilakukannya hal ini sebagai bentuk upaya Indonesia dalam rangka perlindungan lapisan ozon. Aksi nyata yang dilakukan seperti penghapusan CFC sebagai salah satu Bahan Perusak Ozon (BPO) pada sektor manufaktur refrigerasi. Jadwal penghapusan BPO yang berlaku bagi Indonesia adalah sebagai berikut : Bahan Perusak Ozon Halon TCA CTC CFC Methyl Bromida HCFC Jadwal Penghentian Impor 1998 1998 1998 2007 2015 2040