Anda di halaman 1dari 19

MUNTAH DARAH PADA BAYI

030.06.261 030.06.264 030.06.269 030.06.270 030.07.211 030.08.212 030.08.213 030.08.215

Tyas Cempaka Sari Ursula Kristiani Veruca Athirah Vicella Patricia V. Refta Hermawan Rizky Kumara Anindhita Rosalina Saddam Haykal

030.08.220 030.08.221 030.08.223 030.08.224 030.08.225 030.08.226 030.08.307

Septian Dwi Chandra Shabrina Herdiana Putri Shane Tuty Cornish Shanty Handayani Shella Pratiwi Shelly Sulvitri Syarifah Zawani bt. TN.Sharif

Jakarta, 7 Oktober 2009

BAB I
1|Page

PENDAHULUAN

Pengelompokan yang tepat bagi seorang bayi berdasarkan masa kehamilan dan berat lahir merupakan hal yang penting. Kelainan berat badan dalam masa kehamilan dapat meningkatkan diabetes pada ibu, infeksi intrauterin, atau kelainan kromosom. Masalahmasalah klinis pada bayi preterm diakibatkan oleh imaturitas. Bayi yang kekurangan berat badan berada dalam resiko hipoglikemia. Ciri-ciri fisik dan neurologis dari bayi yang baru lahir dapat memberikan perkiraan kasar usia kehamilan. Dengan usia kehamilan yang semakin lama, kulit bayi mengalami kreatinisasi, lebih tebal, dan memiliki lebih sedikit lanugo (rambut-rambut halus). Gejala pernapasan pada bayi yang baru lahir tidak selalu disebabakan gangguan paru primer. Kerusakan otak, asidosis metabolik, penyakit jantung kongenital, gangguan pada diagfragma seperti kelumpuhan pada nervus frenikus, atau hipoplasia otot atau lesi di dalam ruang toraks seperti pnemotoraks, efusi pleura atau hernia diafragmatika, dapat mengakibatkan gangguan pernapasan. Asfiksia intrapartum pada bayi yang dilahirkan pada usia kehamilan penuh dan berbagai bentuk stress intrauterin dapat meningkatkan peristaltik usus janin disertai relaksasi sfinkter ani eksterna sehingga terjadi pengeluaran mekoneum ke cairan amnion.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2|Page

PENYEBAB PENDARAHAN PADA TRAKTUS GASTROINTESTINAL

1. NEONATUS

a. Hemorrhagic Newborned Disease

Memiliki gambaran klinis berupa terjadinya muntah darah dan juga dapat ditemukan darah di feses, mudah sekali terjadi pendarahan. Etiologinya karena kekurangan faktor pembekuan sebagai akibat kekurangan vitamin K. Diagnosis dapat ditegakkan dengan tes Protrombine Time. Jika terjadi defisiensi vitamin K, maka protrombine time akan memanjang.

b. Swallowed-maternal blood Darah ibu bisa tertelan oleh neonatus pada saat partus ataupun pada saat menyusui karena terjadi lesi pada papilla mammae ibu. Untuk membedakan apakah darah yang dimuntahkan neonatus adalah darah ibunya atau darahnya sendiri adalah dengan APT Test.

c. Gastrointestinal Lession Gastrointestinal lessions atau lesi gastrointestinal ini disebabkan karena terjadinya erosi pada mukosa saluran cerna (contoh pada esofagus, gaster, duodenum, dan saluran cerna lainnya). Kemungkinan yang menjadi penyebab erosi pada lapisan mukosa adalah sekresi cairan gaster yang berlebihan ataupun bisa juga disebabkan karena terjadinya infeksi (invasi dari kuman penyebab infeksi inilah yang akan merusak dinding saluran cerna sehingga terbentuk lesi yang menyebabkan pendarahan. Memiliki gejala klinis seperti muntah darah dan buang air besar yang disertai darah.

d. Fissura Ani Merupakan penyebab paling umum perdarahan gastrointestinal pada bayi. Darah yang dihasilkan berwarna merah terang, menyebabkan bercak darah di popok. Diagnosis dibuat dengan pemeriksaan dubur, kadang-kadang dilakukan dengan spekulum. Pemeriksaan lanjut tidak diperlukan dan pengobatan terdiri dari pelunak tinja dan pelebaran dubur.

3|Page

e. Necrotizing Enterocolitis (N.E.C) NEC adalah penyakit gastrointestinal yang didapat dan paling sering pada bayi baru lahir, atau suatu peradangan pada usus yang sebagian besar akibat prematuritas dan berat bayi lahir yang sangat rendah. Pada gambaran klinis terdapat distensi abdomen, muntah kehijauan atau cairan kehijauan keluar melalui pipa lambung, dan terdapat darah pada feses. Pada penyakit NEC, hasil laboratorium menemukan trombositopenia dapat mengindikasikan adanya nekrosis usus.

2. BAYI

a. Esofagitis Penyebab umum dari peptik esofagitis adalah gastroesofageal reflux (GERD). Esophagistis karena refluks yang berat pada esophagus dapat disebabkan karena penyakit neuromuskuler, trauma mekanik karena benda asing, dan trauma kimia karena tertelan bahan kaustik, obat-obatan dan infeksi. Gejala klinisnya adalah regurgitasi, disfagia, dan odinofagia. Pemeriksaan diagnostik yang sering dilakukan adalah dengan Barium Meal. Modalitas diagnostik lainnya termasuk pH probe dan esofagoskopi.

b. Intussusepsi Salah satu kemungkinan penyebab perdarahan saluran cerna bagian bawah pada bayi usia 6-18 bulan. Warna tinja berkisar dari merah cerah ke marun. USG dapat digunakan sebagai studi diagnostik awal untuk menghindari cara yang lebih invasif seperti pneumatic barium enema.

c. Alergi Protein Susu Alergi protein susu menyebabkan colitis yang mungkin berhubungan dengan perdarahan gastrointestinal bawah. Alergi disebabkan oleh reaksi imun yang merugikan terhadap susu sapi. Selain perdarahan, gejala klinisnya bisa terjadi peningkatan frekuensi buang air besar.

d. Enterocolitis Hirschprung Gejala klinisnya terdapat hematochezia dengan diare.

4|Page

3. ANAK USIA PRASEKOLAH

a. Intussusepsi Merupakan invaginasi atau masuknya bagian usus ke dalam perbatasan atau bagian yang lebih distal dari usus (umumnya, invaginasi ileum masuk ke dalam kolon desendens). Penyakit ini tidak diketahui penyebabnya. Terdapat hubungan dengan infeksi infeksi virus adeno dan keadaan tersebut dapat mempersulit gastroenteritis. Bercak bercak peyeri yang banyak terdapat di dalam ileum mungkin berhubungan dengan keadaan tersebut, bercak jaringan limfoid yang membengkak dapat merangsang timbulnya gerakan peristaltic usus dalam upaya untuk mengeluarkan massa tersebut sehingga menyebabkan intususepsi. Memiliki gejala klinis seperti nyeri kolik diafragma hebat, lemah, syok, suhu meningkat, nadi lemah,pernafasan dangkal. Pada pemeriksaan colok dubur,mungkin teraba ujung invaginat seperti porsio uterus, disebut pseudoporsio. Pada sarung tangan terdapat lendir dan darah. Penyakit ini dapat didiagnosis dengan menggunakan foto polos abdomen (memperlihatkan suatu masa di tempat intussepsi) dan USG (dapat digunakan untuk melokalisir area usus yang masuk). b. Varises esofagus Penyakit ini ditandai dengan pembesaran abnormal pembuluh darah vena di esofagus bagian bawah. Varises esofagus terjadi jika aliran darah menuju hati terhalang. Aliran tersebut akan mencari jalan lain, yaitu ke pembuluh darah di esofagus, lambung, atau rektum yang lebih kecil dan lebih mudah pecah. Seperti penyakit hipertensi portal, atresia bilier. Penyakit ini memiliki gejala klinis seperti muntah darah, tinja hitam seperti ter, kencing menjadi sangat sedikit, sangat haus, pusing, dan syok. Dapat didiagnosis dengan menggunakan endoskopi (untuk melihat letak perdarahan). c. Meckels divertikulum Merupakan suatu kelainan bawaan, yang merupakan suatu kantung (divertikula) yang menjulur/menonjol dari dinding usus halus; divertikula ini bisa mengandung jaringan lambung maupun jaringan pankreas. Memiliki gejala klinis antara lain tinja biasanya berwarna keunguan atau kehitaman, nyeri kram, dan muntah. Penyakit ini dapat didiagnosis dengan menggunakan radionuclear scanning (dengan menggunakan Tech.) dan pemeriksaan darah (dilakukan untuk menemukan adanya anemia karena kekurangan zat besi, untuk memeriksa hematokrit dan kadar hemoglobin).

5|Page

4. ANAK USIA SEKOLAH a. Ulkus Peptikum Merupakan luka terbuka yang berbentuk bundar atau oval pada lapisan lambung atau usus dua belas jari (duodenum). Ulkus peptikum bisa disebabkan oleh bakteri (misalnya Helicobacter pylori) atau obat-obatan yang menyebabkan melemahnya lapisan lendir pelindung lambung dan duodenum sehingga asam lambung bisa menembus lapisan yang sensitif di bawahnya. Memiliki gejala klinis yaitu darah merah tua dalam tinja, muntah ,dan nyeri perut berulang. Dapat didiagnosis dengan Barium enema, endoskopi, dan tes Helicobacter pylori. b. Kolitis ulseratif Penyakit radang non spesifik kolon yang umumnya berlangsung lama disertai masa remisi dan eksaserbasi yang berganti-ganti. Faktor genetik tampaknya berperan dalam etiologi, karena terdapat hubungan familial. Juga terdapat bukti yang menduga bahwa autoimunne system berperan dalam patogenisis kolitis ulserativa. Memiliki gejala: sakit abdomen, diare lendir, nanah dan darah merah, dan perdarahan rektum. Metode diagnosis antara lain endoskopi, sigmoidoskopi, dan radiologis. c. Juvenile polyp Merupakan sesuatu yang tumbuh sebagai bahan yg berasal dari lipatan usus halus dan merupakan bagian dari jaringan yg membantu lipatan usus tersebut. Itu semua tidak berkembang dari colon, melainkan berasal dari jaringan dasar atau bawah lipatan usus tersebut. Faktor genetic tampaknya berperan dalam etiologi ini, juvenile polyp dihubungkan dengan dua mutasi gen, yaitu : SMAD4 on chromosome 18 dan PTEN on chromosome 10. Memiliki gejala antara lain diare dengan darah segar, kram perut, dan anemia. Metode diagnosis yaitu kolonoskopi dan sigmoidoskopi. KETUBAN PECAH DINI (KPD)

Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia

Gambar. Ketuban Pecah 6 Dini |Page

kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan. Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi 1% dari semua kehamilan. 70% kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD merupakan penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%. Pada sebagian besar kasus, penyebabnya belum ditemukan. Faktor yang disebutkan memiliki kaitan dengan KPD yaitu riwayat kelahiran prematur, merokok, dan perdarahan selama kehamilan. Beberapa faktor risiko dari KPD : 1. Inkompetensi serviks (leher rahim) 2. Polihidramnion (cairan ketuban berlebih) 3. Riwayat KPD sebelumya 4. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban 5. Kehamilan kembar 6. Trauma 7. Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu 8. Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis
Gambar. Inkompetensi Leher Rahim

Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya "mengganjal" atau "menyumbat" kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

ASFIKSIA NEONATORUM DAN APGAR SCORE Asfiksia Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga dapat menurunkan oksigen dan mungkin meningkatkan karbondioksida yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut. Atas dasar pengalaman klinis, Asfikia Neonatorum dapat dibagi dalam:
7|Page

a. "Vigorous baby'' (skor Apgar 7-10) - bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan penanganan medis yang segera.

b. "Mild-moderate asphyxia" (skor Apgar 4-6/asfiksia sedang) - pada pemeriksaan fisis akan terlihat frekuensi jantung lebih dari lOOx/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, refleks iritabilitas tidak ada. c. Asfiksia berat (skor Apgar 0-3) - pada pemeriksaan fisis ditemukan frekuensi jantung kurang dari l00x/menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada. Asfiksia berat dengan henti jantung yaitu keadaan : 1. Bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir. 2. Bunyi jantung bayi menghilang post partum. Asfiksia janin atau neonatus akan terjadi jika terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke janin. Gangguan ini dapat timbul pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. Hampir sebagian besar asfiksia bayi baru lahir merupakan kelanjutan asfiksia janin, karena itu penilaian janin selama kehamilan dan persalinan. memegang peranan penting untuk keselamatan bayi atau kelangsungan hidup yang sempurna tanpa gejala sisa. Asfiksia neonatorum memiliki berbagai gejala klinik, diantaranya: bayi tidak bernapas atau napas megap-megap, denyut jantung kurang dari 100 x/menit, kulit sianosis, pucat, tonus otot menurun, dan tidak ada respon terhadap refleks rangsangan. Untuk menegakkan diagnosis asfiksia neonatorum, kita sebagai dokter harus melakukan anamnesis mengenai gangguan/kesulitan waktu lahir, lahir tidak bernafas/menangis. Selain anamnesis dapat juga dilakukannya pemeriksaan fisik, yaitu dengan menilai dengan Apgar Score, berikut tabelnya:

Kriteria Detak jantung Pernafasan Refleks saat jalan nafas dibersihkan Tonus otot Warna kulit
Nilai 0-3 : Asfiksia berat

0 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Lunglai Biru pucat

1 < 100 x/menit Tak teratur Menyeringai Fleksi ekstrimitas (lemah) Tubuh merah ekstrimitas biru

2 >100x/menit Tangis kuat Batuk/bersin Fleksi kuat gerak aktif Merah seluruh tubuh

8|Page

Nilai 4-6 : Asfiksia sedang Nilai 7-10 : Normal

Dilakukan pemantauan nilai apgar pada menit ke-1 dan menit ke-5, bila nilai apgar 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor mencapai 7. Nilai Apgar berguna untuk menilai keberhasilan resusitasi bayi baru lahir dan menentukan prognosis, bukan untuk memulai resusitasi karena resusitasi dimulai 30 detik setelah lahir bila bayi tidak menangis. (bukan 1 menit seperti penilaian skor Apgar).

KORELASI ANTARA KETUBAN PECAH DINI DENGAN TERJADINYA ASFIKSIA PADA KASUS PASIEN DIATAS KPD atau Ketuban Pecah Dini merupakan suatu keadaan yang tidak normal, karena ketuban seharusnya akan dipertahankan hingga bayi yang dikandung siap untuk dilahirkan. Ketuban itu sendiri memiliki peranan yang penting dalam kehamilan, antara lain melindungi bayi dari terjadinya infeksi (ascending infection dari vagina ke uterus, chorioamnionitis) dan membantu bayi ketika persalinan dengan cara mempermudah bayi tersebut melalui jalan lahir untuk dilahirkan. Jika terjadi ketuban pecah dini, maka bayi tersebut berisiko terpapar dengan berbagai macam infeksi yang ada diluar (terutama di vagina). Sumber infeksi ini bermacam-macam tergantung dari flora apa yang ada di vagina si ibu. Selain terjadinya infeksi, ketuban pecah dini juga mengakibatkan prolaps atau keluarnya tali pusat bayi. Hal ini menyebabkan tali pusat itu terlilit, sehingga suplai darah bayi akan terganggu. Terganggunya suplai darah bayi ini memberi arti bahwa bayi tersebut kekurangan nutrisi dan oksigen, sedangkan pada saat yang bersamaan terjadi penumpukan sisa-sisa metabolisme seperti karbondioksida. Jika terjadi dalam jangka waktu yang lama, bayi ini akan mengalami suatu keadaan dimana suplai oksigen ke jaringan bayi tersebut sangat kurang (hipoksia, yang jika akan berterusan akan jadi anoksia). Pada saat bayi dilahirkan, bayi tersebut akan mengalami asfiksia sebagai akibat kurangnya suplai darah ke jaringannya, sehingga dapat disimpulkan bahwa asfiksia merupakan kelanjutan dari hipoksia (atau anoksia) janin.

9|Page

BAB III STUDI KASUS

Seorang bayi lelaki berusia 3 hari dikirim oleh Rumah Sakit Bersalin dengan keluhan muntah darah. Bayi lahir spontan dan ketuban pecah 29 jam sebelum makanan.

ANAMNESIS PASIEN Identitas Bayi 1. Nama 2. Umur 3. Jenis Kelamin : An. B : 3 hari : laki-laki Identitas Ibu 1. Nama 2. Alamat 3. Umur : Ny. S ::-

4. Pendidikan : 5. Pekerjaan :-

Keluhan Utama : muntah darah Keluhan Tambahan : Riwayat Penyakit Sekarang : ditanyakan, -. Lama keluhan berlangsung. -. Bagaimana sifat terjadinya gejala: mendadak, perlahan-lahan, terus-menerus, dll. -. Terdapatnya hal yang mendahului keluhan. -. Upaya apa yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya. Pada kasus muntah, perlu diketahui frekuensi muntah, sifat muntah, berapa banyak jumlah muntah, warna darah, keluhan penyerta bagaimana, terdapat demam atau tidak.

Riwayat Kehamilan Ibu : Hal pertama yang perlu ditanyakan adalah keadaan kesehatan ibu selama hamil, ada atau tidaknya penyakit serta upaya yang dilakukan untuk mengatasi penyakit tersebut. Juga ditanyakan berapa kali ibu melakukan kunjungan antenatal dan

10 | P a g e

kepada siapa kunjungan itu dilakukan. Ditanyakan obat-obatan yang diminum pada usia kehamilan muda yang mungkin dapat menyebabkan cacat bawaan.

Riwayat Kelahiran : terjadi ketuban pecah dini (KPD) kira-kira 29 jam sebelum kelahiran dan bayi dilahirkan secara spontan. Pada anamnesis tambahan diperoleh informasi bahwa bayi lahir dengan asfiksia berat dengan Apgar score 1. Riwayat kelahiran bayi harus ditanyakan dengan teliti termasuk siapa yang menolong, cara kelahiran. Masa kehamilan juga perlu ditanyakan, apakah cukup bulan, kurang bulan atau lewat bulan. Berat dan panjang badan lahir selalu ditanyakan. Ini dapat menentukan apakah bayi pada saat lahir sesuai, kecil atau besar untuk masa kehamilannya.

Riwayat Makanan : diharapkan dapat diperoleh keterangan tentang makanan atau apapun yang dikonsumsi oleh bayi tersebut dalam jangka pendek. Kita juga perlu mengetahui susu apa yang diberikan oleh ibu kepada bayi tiga hari yang lalu: apakah itu air susu ibu (ASI) ataupun pengganti air susu ibu (PASI). Jika bayi diberikan PASI perlu ditanyakan jenis dan mereknya, takaran.

PEMERIKSAAN FISIK Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : bayi tampak sakit dan lemah, juga didapatkan bahwa ubun-ubun besar sedikit cekung. : turgor kulit baik. : : -

TANDA VITAL Suhu Denyut Jantung Laju Respirasi : 37C : 152x/menit : 38x/menit

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Tes darah : -. Hb -. Leukosit -. Trombosit : 12 gr % : 5200/ L : 80.000/ L


11 | P a g e

INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN FISIK MAUPUN LABORATORIUM -. Bayi tampak lemah : Ini bisa disebabkan karena bayi mengalami dehidrasi ringan akibat muntah-muntah yang dialaminya. Jika terjadi muntah pada seseorang, itu mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit meskipun tidak begitu signifikan). -. Suhu tubuh : 37C

(Normal 36,5 37,5C , menunjukan bahwa kemungkinan besar pasien tidak mengalami infeksi. Karena pada kasus pediatri, infeksi bisa terjadi tanpa adanya tanda-tanda demam) -. Denyut jantung (Normal 100 180x/menit) -. Laju respirasi (Normal 30 60x/menit) -. Turgor kulit : Baik : 38x/menit : 152x/menit

(menunjukan bahwa pasien tidak mengalami dehidrasi berat, tetapi memungkinkan untuk mengalami dehidrasi ringan dimana tanda-tanda vital bayi masih menunjukan nilai yang normal) -. Ubun-ubun besar : sedikit cekung

(pada keadaan normal, ubun-ubun besar bayi rata atau sedikit cekung) -. Hemoglobin (Hb) : 12 gr%

(Normal 14 20 gr% , bayi ini mengalami anemia) -. Leukosit : 5 200

(Normal 9 000 30 000 , leukositopenia) -. Trombosit : 80 000

(Normal 150 000 400 000 , trombositopenia)

PEMERIKSAAN LABORATORIUM ANJURAN -. Prothrombine time -. Tes Apt -. Tes reaksi alergi -. Tes darah: uji mikroskopik (uji bakteri Gram positif)
12 | P a g e

-. Tes flora vagina ibu

PEMERIKSAAN PENUNJANG -. Endoskopi

DIAGNOSIS KERJA Hematemesis et causa gastritis ulseratif

DIAGNOSIS BANDING 1. Hemorrhagic Newborn Disease. Hemorrhagic Newborn Disease adalah suatu penyakit dimana terjadinya perdarahan pada bayi yang baru saja lahir. Penyebab utama terjadinya perdarahan ini karena bayi lahir dengan kadar vitamin K yang rendah, dimana vitamin K merupakan faktor yang penting dalam proses pembekuan darah. Faktor predisposisi penyakit ini antara lain bayi yang tidak mendapatkan vitamin K parenteral sewaktu lahir, pemberian ASI eksklusif (dimana kadar vitamin K pada ASI lebih rendah dibandingkan dengan kadar vitamin K pada susu formula), si ibu memiliki penyakit kejang dan dalam pemberian medikasi anti-convulsant. Untuk menegakkan diagnosis ini, dokter perlu melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik serta dilakukannya pemeriksaan laboratorium yaitu prothrombin time. 2. Swallowed-maternal Blood. Swallowed-maternal blood atau tertelan darah ibu bisa pada waktu bayi sedang di lahirkan (yaitu pada saat bayi berada dalam jalan lahir) ataupun pada saat bayi sedang menyusui dimana terdapat lesi pada papilla mammae ibu yang berdarah. Untuk membedakannya, bisa dilakukan tes Apt untuk membantu menegakkan diagnosis. Jika tes Apt memberikan hasil positif, maka darah tersebut merupakan darah bayi yang penyebabnya bisa dari perdarahan gastrointestinal ataupun dari perdarahan yang terjadi di paru; sedangkan jika hasilnya negative, maka darah tersebut merupakan darah ibu yang tertelan oleh bayi. 3. Allergic Colitis. Suatu kondisi pada bayi yang disebabkan oleh respon imun yang dicetuskan oleh protein tertentu. Respon imun ini menyebabkan terjadinya suatu reaksi di dinding gastrointestinal. Protein dalam susu sapi dan susu kedelai merupakan penyebab yang paling sering ditemukan. Bayi dengan kolitis yang disebabkan karena alergi memiliki gejala feses dengan darah (volum darah sangat kecil sehingga tidak menimbulkan keluhan) dan muntahmuntah. Dalam membantu menegakan diagnosis, dokter bisa melakukan uji reaksi alergi pada bayi dan kolonoskopi untuk menentukan sumber perdarahan.

PENATALAKSANAAN
13 | P a g e

1. Resusitasi cairan. Resusitasi cairan ini dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki status hidrasi dari bayi ini. Pada kasus ini, bayi mengalami dehidrasi ringan sebagai akibat dari muntah darah sehingga diperlukan sesuatu untuk memperbaiki dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit bayi tersebut. Digunakan preparat D5%-10% dalam cairan elektrolit. 2. Pendarahan dari pembuluh darah (varises, kelainan vaskuler) yang persisten:

Vasopresin 20 unit/1,73m2 selama 20 menit atau ocreotide 25-30 g/m2/jam, keduanya dapat diberikan selama 24 jam apabila diperlukan. Pemasangan Sengstaken-Blakemore tube (merupakan sejenis oro- atau nasogastric tube yang digunakan dalam penanganan pada pendarahan saluran cerna bagian atas). Skleroterapi (digunakan khususnya untuk menangani malformasi dari pembuluh darah yang menyebabkan pendarahan). Konsul bedah anak.

3. Pendarahan akibat ulkus: antasida, dekompresi gaster, elektrokauter, injeksi epinefrin lokal, pembedahan darurat. 4. Pemberian antibiotik untuk menangani infeksi akibat Grup B-streptococcus. Pemberian antibiotic ini bisa: -. Parenteral Clindamycin dengan dosis 5 mg/kg BB -. Per oral Colistin dengan dosis 3-5 mg/kg BB

PROGNOSIS : ad bonam; karena keadaan umum bayi masih normal, dan ini menunjukkan bayi ditangani dalam tahap awal dan cepat, sehingga dapat sembuh dengan baik.

PENCEGAHAN Pencegahan yang dapat dilakukan, terutama pada kasus ini, bisa dibagi menjadi dua kelompok: 1. Pada saat kehamilan. Pada saat kehamilan, ibu harus benar-benar memperhatikan segala faktor seperti faktor nutrisi (ibu harus mendapat nutrisi yang mencukupi agar bayi yang dikandungnya tidak kekurangan zat-zat tertentu), faktor hygiene (faktor ini penting karena kebersihan itu
14 | P a g e

mengurangi risiko terjadinya infeksi akibat agen-agen infeksi seperti bakteri, jamur, virus), faktor emosi (ada berbagai riset yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara emosi ibu dengan pertumbuhan bayi, terdapat juga penelitian yang menghubungkan emosi ibu dengan kasus KPD atau ketuban pecah dini).

2. Pada saat kelahiran. Pada saat kelahiran, jika terjadi KPD atau ketuban pecah dini (pada kasus premature/tidak cukup bulan), maka sebaiknya kehamilannya dipertahankan agar tidak terjadinya RDS atau respiratory distress syndrome pada bayi, tetapi hal ini meningkatkan faktor terjadinya infeksi intrauterine sehingga pemberian antibiotika perlu dipertimbangkan. Jika terjadi KPD (pada kasus cukup bulan), maka sebaiknya bayi tersebut dilahirkan (kelahiran yang diinduksi/ induced-partus). Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya infeksi intrauterine. Bagi ibu yang mengalami KPD dengan gejala: keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina, aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah; maka secepatnya ibu tersebut dibawa ke rumah sakit terdekat agar dapat ditangani dengan segera. Untuk mencegah terjadinya infeksi saat kelahiran, terapi profilaksis perlu dipertimbangkan lagi oleh dokter apakah diperlukannya pemberian antibiotik (seperti penisilin atau ampisilin; bagi yang alergi terhadap penisilin bisa diberikan clindamisin atau eritromisin).

PEMBAHASAN KASUS

Sebelum melakukan pemeriksaan laboratorium dan tindakan lainnya, kita sebagai dokter harus memberitahukan tindakan-tindakan apa saja yang akan kita lakukan dan juga disertai dengan alasan dilakukannya tindakan tersebut kepada ibu si bayi, agar ibu bayi tersebut merasa tenang dan percaya bahwa apa yang akan kita lakukan itu demi kebaikan si bayi. Setelah itu, kita dapat meminta persetujuan dari si ibu untuk menandatangani surat persetujuan, yaitu informed consent sebagai dasar kepercayaan si ibu kepada dokter yang akan menangani anaknya yang butuh pertolongan.

Pada kasus ini, terjadi beberapa peristiwa yang mungkin bisa menjadi dasar terjadinya penyakit yang dialami oleh bayi ini, yaitu: 1. KPD (Ketuban Pecah Dini). 2. Asfiksia berat pada saat kelahiran bayi. 3. Perdarahan gastrointestinal, yang memiliki manifestasi muntah darah.

15 | P a g e

Riwayat kehamilan ibu terjadi KPD tepatnya 29 jam sebelum kelahiran (1 hari 5 jam). KPD ini memiliki beberapa komplikasi seperti meningkatkan risiko terjadinya infeksi intrauterin (terutama ascending infection dari vagina naik ke uterus) infeksi ini nantinya bisa menimbulkan berbagai efek pada bayi; terjadinya prolaps (atau turunnya) tali pusat. Hal ini menyebabkan terjepitnya tali pusat sehingga akan mengakibatkan terjadinya gangguan suplai darah dari ibu ke janin. Jika terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka janin akan mengalami hipoksia (kurangnya suplai darah,oksigen, ke jaringan). Hipoksia inilah yang mengakibatkan terjadinya asfiksia berat pada bayi pada saat bayi tersebut dilahirkan (dapat disimpulkan bahwa asfiksia merupakan kelanjutan dari hipoksia janin). Karena pada saat lahir bayi mengalami asfiksia berat, maka bayi tersebut sudah seharusnya diberikan pertolongan alat bantu pernafasan atau diberikan facial mask dengan tujuan untuk merangsang reflex nafasnya lalu diikuti dengan pemberian oksigen. Pertolongan pernafasan yang dilakukan pada bayi ini, memiliki efek samping yaitu iritasi pada saluran cerna (yang bisa berkelanjutan menjadi lesi). Tetapi, hal ini kurang mungkin menjadi penyebab terjadinya perdarahan gastrointestinal pada kasus ini, karena faktor waktu terjadinya iritasi dinding saluran cerna sampai terbentuknya lesi itu memerlukan waktu yang lama. Dengan kata lain, perdarahan gastrointestinal pada kasus ini, disebabkan oleh infeksi yang sudah terjadi intrauterine yang menyebakan timbulnya kerusakan pada dinding saluran cerna. Terdapatnya bakteri gram negatif yaitu Grup B-streptococcus pada flora vagina si ibu menjadi dasar yang kuat bahwa terjadi sepsis pada bayi akibat infeksi dari bakteri tersebut. Infeksi ini terjadi karena faktor perlindungan bayi dalam uterus (yaitu amnion sac) telah bocor. Infeksi akibat bakteri ini memberikan gambaran yang beda pada hasil laboratorium dimana bakteri ini mengakibatkan turunnya jumlah leukosit (leukopenia). Pada hasil pemeriksaan laboratorium, menunjukkan bahwa bayi ini mengalami trombositopenia. Trombositopenia ini bisa sebagai akibat dari terjadinya infeksi. Trombositopenia ini dapat terjadi pada berbagai infeksi neonates dan janin yang dapat menyebabkan perdarahan spontan yang serius. Karena terjadi trombositopenia, maka perdarahan yang terjadi susah dihentikan sehingga terjadi perdarahan yang terus menerus. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya anemia pada bayi.

16 | P a g e

BAB IV PENUTUP

Perdarahan saluran cerna pada anak dapat berasal dari saluran cerna atas atau dari saluran cerna bawah yang menifestasi klinisnya berbeda. Hal yang utama diperhatikan pada perdarahan saluran cerna pada anak adalah mengatasi agar tidak terjadi shok hipovolemik karena perdarahan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah memastikan lokasi perdarahan. Anamnesa dan pemeriksaan fisik yang tepat akan menghindari kita dari pemeriksaan penunjang yang berlebihan.

17 | P a g e

BAB V DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman R.E, Kliegman R, Arvin A.M. Nelson Textbook of Pediatrics. Translated by Wahab S in Nelson Ilmu Kesehatan Anak edisi 15 vol.2 . EGC. Jakarta: 2000. 252:127577.

2. Sherwood L, Santoso L [ed]. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi II. EGC Jakarta : 2001.

3. Behrman E, Kliegman, Alvin M, Nelson [ed]. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Volume 1. EGC. Jakarta : 2000.

4. Prince, Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Vol 1. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta : 2006.

5. Tierney, Mc Phee, Papadakis. Current Medical Diagnosa & Treatment. 14 th [ed]. MeGraw Hill : 2001.

6. Suraatmaja S. Kapita Selekta Gastoenterologi Anak. SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad. Denpasar : 2000.

7. Sudoyo A, setyohadi B, Alwi I, simadibrata M, Setiati S [ed]. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I, edisi IV. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI Jakarta : 2007.

18 | P a g e

8. Ganong, Wiliam. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 20. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta : 2003.

9. Matondang S, Wahidayat I, sastrosasmoro S. Diagnosis Fisis Pada Anak. Edisi II. CV Sagung Seto. Jakarta : 2003.

10. Fardah A A, Ranuh R G, Sudarmo S M. Perdarahan Gastrointestinal. Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya, edited in 2006. Available at: http://www.pediatrik.com/isi03.php? page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-peov235.htm Accessed on September 6, 2009.

19 | P a g e