Anda di halaman 1dari 12

JURUS KAWAK DAN PENGEMBANGANNYA (Oleh: Ki Demang Suwung) Beberapa Organisasi Setia Hati (SH) Imbrio SH adalah Sedulur

Tunggal Kecer (STK) sebuah perkumpulan olahraga pencaksilat yang didirikan oleh Ki Ngabehi Soero Diwirjo pada tahun 1903 di Kampung Tambak Gringsing Surabaya. Pencaksilatnya itu sendiri dinamakan Joyo Gendela. Joyo Gendela dalam pewayangan Jawa adalah nama salah satu Punokawan pengabdi Pendawa yaitu Petruk. Dalam perjalanan waktu, pada tahun 1917 nama STK atas usulan dari beberapa kadang STK yang latihan di OSVIA kepada Ki Ngabehi Soero Diwirjo nama STK diganti menjadi Setia Hati (SH) sampai sekarang dengan dasar Persaudaraan. Persaudaraan SH sampai saat ini masih tetap eksis walaupun perkembangannya tidak terlalu pesat. Persaudaraan SH menempati rumah Ki Ngabehi Soero Diwirjo yang diwakafkan kepada SH yang rumah itu sekarang menjadi Panti SH di desa Winongo Madiun. Oleh karena itu Persaudaraan SH juga sering disebut SH Panti atau SH Winongo. Karena berbagai alasan dan latar belakang beberapa Warga SH ingin memisahkan diri dan berdiri sendiri. Warga SH pertama yang ingin mengembangkan SH sendiri adalah seorang pemuda dari Desa Pilangbango Madiun bernama Hardjo Oetomo. Pada tahun 1924 memprokamirkan berdirinya SH baru bernama Setia Hati Pencak Sport Club (SH PSC) yang selanjutnya berubah menjadi Setia Hati Pemuda Sport Club (SH PSC). Selanjutnya pada tahun 1948 berubah nama menjadi Setia Hati Terate. Tahun 1932 disusul seorang pemuda dari Desa Ngrambe Ngawi yang bernama Moenandar Hardjowiyoto memproklamirkan SH baru bernama Setia Hati Organisasi (SHO) di Kota Semarang. Tahun 1933 seorang pemuda dari Desa Sewulan Kecamatan Dagangan Madiun bernama Prawira Subeni juga memproklamirkan SH baru bernama Setia Hati Tuhu Tekad (SHTT). Setelah SH menjadi beberapa SH baru, ternyata manusia masih terus belum puas. Pada tahun 1966 di Dukuh Boboran Desa Winongo Kecamatan Manguharjo Madiun, seorang bernama Raden Djimat Hendro Suwarno memproklamirkan SH baru yang diberinama Setia Hati Tunas Muda Winongo (SH TMW). Sekitar tahun 1978 terjadi konflik antara Pengurus Persaudaraan Setia Hati Terate dalam hal ini R.M. Imam Koesoepangat dengan Warga Persaudaraan Setia Hati Terate dari Kota Solo dalam hal ini Bapak Hassan Djojoadisoewarno. Puncak dari perseteruan itu Bapak Hassan Djojoadisoewarno dipecat dari organisasi Persaudaraan 1

Setia Hati Terate. Dampak dari pemecatan itu berdirilah organisasi SH baru bernama Persaudaraan Setia Hati yang dipimpin oleh salah satu murid Bapak Hassan Dhjojoadisoewarno yang bernama Bapak Imron. Karena SH ini dipimpin oleh Bapak Imron maka juga sering disebut SHI (SH Imron) dan ada yang menyebut (SH Indonesia). Dalam sejarah SH pernah muncul nama SH KD (Setia Hati Korban Dunia) di Bandung. SH Cempaka Putih di Jakarta. SH M (SH Muda) di Madiun. Di Belanda ada Bond Pencak Silat Setia Hati, SH Sura Ing Baya, SH Sabda Ing Pandita. Di Prancis ada SH Terate Atomic Boxing. Semua SH itu pada umumnya berdasarkan Persaudaraan dengan ajaran pokok fisik berupa pencak silat dan ajaran kerokhanian. Karena SH itu sebuah nama yang beken dan berkarisma maka saat ini sudah seabrek organisasi pencak silat yang menggunakan nama SH baik di Indonesia maupun di luar negeri dengan corak yang berlain-lainan. Masa Belajar Bapak Hardjo Oetomo Pada tahun 1917 Bapak Hardjo Oetomo mulai magang/kandidat kepada Persaudaraan Setia Hati di Desa Winongo Madiun yang dipimpin oleh Ki Ngabehi Soero Diwirjo untuk bisa diterima menjadi Saudara Setia Hati. Aturan pada Persaudaraan Setia Hati sebelum seseorang bisa diterima menjadi anggota tetap maka diharuskan magang/kandidat dulu beberapa bulan, biasanya minimlal 3 bulan sampai 6 bulan. Saat menjadi kandidat itu diwajibkan menemui Anggota senior untuk meminta wejangan dengan jumlah yang sudah ditentukan oleh pengurus. Tugas anggota senior adalah memberikan wejangan dan tanda tangan dan mengamati perilaku kandidat. Setelah diberikan wejangan yang biasanya beberapakali tatap muka barulah diberikan tanda tangan sebagai bukti kalau kandidat bisa diangkat menjadi anggota sah. Bila kandidat sudah dianggap memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan barulah dipersilakan mencari ubo rampe untuk Keceran. Karena sudah dianggap memenuhi syarat maka Hardjo Oetomo muda dipersilakan mencari ubo rampe keceran. Setelah uborampenya lengkap dan melalui upacara resmi maka Hardjo Oetomo muda di Kecer sendiri oleh Ki Ngabehi Soero Diwirjo pada tahun 1917. Setelah keceran barulah diberi pelajaran fisik berupa pencak silat dan ngelmu SH berupa kebatinan SH. Hardjo Oetomo sangat tekun belajar pencak silat SH sehingga bisa mengusai semua permainan pencak silat SH. Dalam catatan di SH, Bapak Hardjo Oetomo adalah anggota tingat erstre trap/ (tingkat I), belum tweede trap / (tingkat II), apalagi deerde trap / (tingkat III). Jadi kalau selama ini banyak catatan kalau Bapak Hardjo Oetomo adalah warga SH (Winongo) tingkat III/deerde trap adalah tidak benar dan perlu dicermati lebih lanjut.

Materi fisik pencak silat SH adalah berupa jurus sebanyak 36 jurus tapi yang diajarkan hanya 35 jurus, 1 jurus tidak diajarkan yaitu jurus nomor 29 jurus sterlak. Kecuali jurus, diberikan pelajaran salam/bukaan, permainan silat misalnya lintau, bungusan, tanah baru dan lain-lain, kemudian solo spel dan juga sambung. Materi kebatinan berupa uraian tentang diri sendiri untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri dan mengenal Tuhan sebaikbaiknya yang selanjutnya untuk mencari keselamatan lahir batin dunia akherat. Tidak diceritakan kapan Bapak Hardjo Oetomo selesai belajar Tk I S.H. karena memang adat di S.H. hanya dicatat pada saat awal mula dikecer. Masa Pergerakan Bangsa Indonesia Selesai belajar SH tingkat I/erstre trap, Bapak Hardjo Oetomo sebagai generasi muda mulai gerah dengan suasana pergerakan bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah Belanda. Perlawanan fisik terhadap penjajah terjadi dimana-mana di wilayah Indonesia. Tidak ketinggalan Bapak Hardjo Oetomo bersama pengikutnya yang umumnya para pemuda mengangkat senjata untuk melawan penjajah. Pada masa pergerakan itu tercatat beberapa kali Bapak Hardjo Oetomo ditangkap Belanda dan dipenjarakan. Gerakan Beliau dan pengikutnya antara lain beberapa kali melempar kereta api yang lewat dan menyerang Tangsi dan pos belanda di Bosbo Madiun. (Selengkapnya ada pada Sejarah Berdirinya Persaudaraan Setia Hati Terate). Pada masa pergerakan tahun 1922 itu Bapak Hardjo Oetomo merenung. Lha saya ini kan Pendekar lha saya kan bisa pencak silat Lha kalau pencak silat ini saya ajarkan kepada para pengikut saya kan bisa menambah keberanian dan kekuatan melawan penjajah Piye enake ya... Setelah melalui perenungan yang dalam, maka Bapak Hardjo Oetomo memberanikan diri mohon kepada Ki Ngabehi Soero Diwirjo untuk memberikan pelajaran pencak silat kepada para pasukan pergerakannya. Pada suatu malam Bapak Hardjo Oetomo menghadap Ki Ngabehi Soero Diiwrjo mengutarakan maksudnya untuk memberikan pelajaran pencak silat kepada para pejuang. Ki Ngabehi Soero Diwirjo merenung sejenak. Lalu Beliau menjawab :Nggih nak menawi mekaten pikajeng penjenengan mangga mawon menawi pencak silat SH bade dipun ajaraken dateng para pejuang. Matur nuwun sanget Pak Soero Insya Allah bade kula wujudaken. Kegundahan Hati Sang Pejuang Pemberian ijin untuk melatih pencak silat bagi para pejuang disambut gembira oleh Bapak Hardjo Oetomo. Suatu malam setelah selesai sholat tahajud, Bapak Hardjo Oetomo keluar rumah rebahan di 3

atas lincak bambu yang ada di depan rumahnya. Sambil menatap gugusan bintang-bintang nun jauh di sana Beliau merenung: wah sebentar lagi aku akan melatih pencak silat SH kepada para pengikutku para pejuang itu agar mempunyai semangat juang yang tinggi, keberanian yang tinggi dalam mengusir penjajah Belanda karena memiliki beladiri pencak silat SH. Dalam perenungannya tibatiba Beliau ingat akan sumpahnya ketika menerima kecer dari Pak Soero. We lha dalah lha kalau saya melatih pencak silat SH lha saya lak melanggar sumpah... Karena memang pada waktu itu latihan pencak silat SH tidak boleh dilakukan di tempat lain. Latihan dan kecer hanya dilakukan di rumahnya Ki Ngabehi Soero Diwirjo saja di desa Winongo Mediun. Beliau ingat 7 (tujuh) sumpah yang dulu pernah diucapkan di depan Ki Ngabegi Soero Diwirjo yang antara lain : 1. Kita haroes mendjalanken atoeran ,,Setija Hati dengan sesoengoehnja, lahir hingga batin. 2. Kita ta boleh mempeladjarken peladjaran Setija Hati kepada siapapoen, jang boekan saudara Setija Hati. Waduh Gusti Allah apa yang harus saya lakukan, begitu beratnya sumpah itu Duh Gusti, mohon petunjukMu Gusti Allah nyuwun ngapunten sedaya kalepatan kula Gusti. Bapak Hardjo Oetomo terus bermunajad, terus tafakur tiap malam mohon pencerahan kepada Gusti Allah.. untuk memperoleh petunjuk apa yang terbaik Mensiasati Sumpah Dalam tafakurnya Bapak Hardjo Oetomo mendapat petunjuk yang luar biasa. Bagaimana caranya tetap bisa memberikan latihan pencak silat SH tetapi tidak melanggar sumpah. Ya ya ya ya Saya telah mendapat petunjuk agar tidak melanggar sumpah. JURUS DAN NAMA ORGANISASI INI HARUS DI RUBAH Setiap hari setiap malam tiada henti-hentinya Beliau mengotakatik jurus SH untuk dibuat jurus baru. Pelan-pelan jurus mulai dirubah. Kudha-kudha yang semula di belakang di rubah ke depan. Pada jujurjurus awal, Pukulan yang dulu mengarah ke ulu hati di rubah mengarah ke kepala bagian belakang menggunakan pukulan bandilan. Beberapa pasangan yang dulu di atas dirubah ke tengah. Tendangan dan pukulan yang dulu rendah dibuat agak tinggi dengan sasaran ulu hati. Urutan jurus yang sudah mapan di rubah sesuai kebutuhan. Jurus 29 yang tidak diajarkan dibuatkan jurus baru sehingga jumlahnya komplit menjadi 36 jurus. Jurus yang dulu di SH tidak ada prakteknya dibuatkan praktek. Sehingga semua jurus di SH-nya Bapak Hardjo Oetomo semua bisa dipraktekkan maju mundur.

Setelah jurus selesai di rubah menjadi JURUS BARU versi Bapak Hardjo Oetomo atau Versi Pilangbango. (Yang selanjutnya nanti jurus baru itu akan kami sebut menjadi JURUS KAWAK). Tinggalah membuat nama baru. Setelah melalui perenungan yang dalam diperolehlah nama: SETIA HATI PENCAK SPORT CLUB (SH PSC) dengan dasar perguruan. Jaman penjajahan itu belum memungkinkan Bapak Hardjo Oetomo memberikan latihan pencak silat terbuka karena keadaan Madiun rawan operasi militer oleh Belanda. Pada waktu itu Bapak Hardjo Oetomo pekerjaannya keliling dari kota ke kota mencari nafkah dengan berdagang. Tahun 1924 sampailah beliau di Kota Pare Kediri, di kota itulah Beliau melatih pencak silat SH PSC untuk pertama kalinya. Murid pertama Beliau bernama: IDRIS dari Dandang Jati Loceret Nganjuk. Disusul Mudjuri dan Djajapana. Selanjutnya dengan Jurus Baru/Jurus Kawak itu Beliau terus mengembangkan SH PSC kecuali di Pilangbango Madiun juga ke kota Kertasana, Jombang, Ngantang, Lamongan. Jogya, Solo yang pada dasarnya untuk memberikan semangat patriotisme dalam melawan penjajah. SH PSC Berubah Dunia ini adalah dinamis, apaun yang ada di dunia ini tidaklah langgeng. Setiap saat terus berkembang dan setiap saat terus berubah. Demikian pula dengan SH PSC. Pada jaman pendudukan Jepang tahun 1942 diadakan konperensi Pilangbango I. Hasil dari konpernsi itu antara lain merubah nama Setia Hati Pemuda Sport Club (SH PSC) menjadi Setia Hati Terate dengan dasar Perguruan tanpa organisasi. Nama Setia Hati Terate itu atas usul Sdr. Soeratno Sorengpati seorang tokoh Indonesia Muda. Pada tahun 1948 dilakukan Konferensi Pilangbango ke II di rumah Bapak Hardjo Oetomo. Konferensi ini atas prakarsa Bapak. Soetomo Mangkoedjojo, Bapak Djendro Darsono dan Bapak Soemadji. Hasil dari konferensi ini antara lain Setia Hati Terate berubah menjadi Organisasi dengan dasar Persaudaraan. Pada tanggal 29-30 September 1962 dilakukan Musyawarah SH Terate di Madiun, dengan angenda antara lain menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan Wasiat Setia Hati Terate. Pada tanggal 17 Nopember 1962 akhirnya terbitlah Piagam, AD/ART, serta Wasiat Setia Hati Terate. Karena Piagam, AD/ART, serta Wasiat Setia Hati Terate terbitan tahun 1962 itu dirasa oleh Pengurus belum cukup mewakili kepentingan SH Terate maka perlu disempurnakan lagi. Penyempurnaan dibebankan pada SH Terate Cabang Surabaya. Maka pada tanggal 17 Oktober 1963 terbitlah Piagam, AD/ART, serta Wasiat Setia Hati Terate baru (yang ke II) yang pembuatannya di motori oleh Bapak Djendro Darsono. Dalam Piagam, AD/ART, serta Wasiat Setia 5

Hati Terate baru itu tertulis teknik jurus Tk I SH Terate sebagai ajaran wajib yang harus diberikan kepada para siswa. Jurus itu adalah Jurus Ciptaan Bapak Hardjo Oetomo atau JURUS KAWAK. Munculnya Jurus Baru Salah satu murid Bapak Hardjo Oetomo yaitu Bapak Irsyad nampaknya ingin melakukan pembaharuan materi fisik di SH Terate. Maka sekitar tahun 1950-an Beliau mengotak-atik Jurus Kawak untuk disempurnakan. Pertimbangan Beliau antara lain Jurus Kawak terlalu sulit diajarkan kepada para siswa oleh karena itu belajar jurus kawak Pilangbango memerlukan waktu yang lama. Pada waktu itu untuk disyahkan tk. I rata-rata diperlukan waktu 6 tahun. Beberapa jurus dirasa kurang sempurna karena terdapat kelemahan ketika menyerang maupun di serang. Akhrinya Bapak Irsyad berhasil merubah gerakan JURUS KAWAK menjadi JURUS BARU yang dipakai sampai sekarang. Untuk mempermudah siswa belajar Jurus maka Bapak Irsyad menciptakan senam dasar. Senam dasar yang jumlahnya 90, gerakannya bagian dari jurus juga, jadi tidak mengambil dari gerakan di luar jurus. Untuk melengkapi materi pencak silat SH Terate Bapak Irsyad juga menyusun jurus belati, dan jurus toya. Serta penyempurnaan Grippen. Tahun 1960 ada tambahan materi Pernafasan. Perkembangan selanjutnya dalam konggres SHT sekitar th 1980-an muncul Senam Toya dan Jurus Toya Baru. Di Jakarta muncul Senam Masal. Sehingga saat ini materi pencak silat di SHT bisa dikatakan paling banyak dan paling lengkap bila dibandingkan organisasi pencak silat lain. Pelestari Jurus Kawak (PJK) Setahu penulis sejak dulu tidak ada larangan Jurus Kawak diajarkan. Permasalahannya karena pemegang jurus kawak makin lama makin habis karena meninggal dunia atau pasif dalam mengembangkan pencak silat SH Terate. Maka yang muncul aktif mengembangkan adalah Warga baru yang menggunakan Jurus Baru, sehingga SH Terate dengan jurus baru berkembang dimana-mana di wilayah Indonesia dan di manca Negara. Sampai dengan tahun 1980 di beberapa cabang SH Terate antara lain, Surabaya, Malang, Solo, Jogyakarta setiap pengesahan Warga baru sebagian calon warga menggunakan Jurus Kawak dan Jurus Baru. Hal tersebut tidak masalah karena kedua-duanya dianggap sama-sama SH Terate. Sampai saat ini yang masih menggunakan Jurus Kawak adalah Cabang Malang dan itupun ketika pengesahan oleh Pengurus Pusat juga tidak dipermasalahkan. Permasalahan muncul ketika yang mengatasnamakan PELESTARI JURUS LAMA (PJL) mengembangkan Jurus Lama kepada para Warga SH Terate dengan tidak mengikuti prosedur yang telah digariskan oleh Pengurus Pusat. PJL menggunakan aturan sendiri dan 6

ini dianggap oleh Pengurus Pusat menjadi semacam Negara di dalam Negara. Ini tidak boleh dilakukan karena akan merusak sendi-sendi organisasi sehingga organisasi akan menjadi awut-awutan karena tidak teratur, para Warganya membuat aturan sendiri-sendiri, padahal SH Terate adalah organisasi Pencak Silat terbesar di dunia. Berdasarkan surat Ketua Umum terbaru nomor: 39/SE/PSHT.000/V/2010 tanggal . 2010 tentang Petunjuk pelaksanaan latihan pencak silat Setia Hati Terate seluruh Indonesia, antara lain disebutkan: Jurus lama bukan ajaran pokok tetapi pengetahuan saja. Bisa diterjemahkan kalau Jurus Kawak tidak dilarang untuk dipelajari. Ini lebih menegaskan bahwa PJL/PJK jangan membuat aturan sendiri dan harus tetap dalam satu koridor yaitu SH Terate. Perkembangan PJK Saat ini Ilmu SH saat ini berkembang demikian pesat, terutama yang dimotori oleh Saudara-Saudara SH Terate. Murid-murid Bapak Hardjo Oetomo yang tingkat III lebih 15 orang. Semua murid mempunyai kewajiban mengembangkan ilmu SH. Setelah SH Terate diorganisasikan penurunan ilmu SH dipusatkan melalui pusat organisasi di Padepokan SH Terate Madiun dan sebagian besar materi yang diajarkan adalah pengembangan dari Mas Imam Koesoepangat. Sementara itu banyak murid-murid Bapak Hardjo Oetomo yang juga punya murid yang juga mengembangan ilmu SH misalnya Bapak Jendro Dharsono, Bapak Harsono, Bapak Santoso, Bapak Soetomo Mangkoe Djojo, Bapak Hassan Soewarno, Bapak Hardjo Sajono/Hardjo Giring, Bapak Goenawan, Bapak Salyo, Bapak Karyono, Bapak Danu, Bapak Soemadji, Bapak Islam, Bapak Ari Soetikno, Bapak Hardjo Sanjoto, Bapak Wignjo, Bapak Giarto dan masih banyak lagi. Pengembangan ilmu-ilmu SH itu saat ini dipegang oleh beberapa orang yang tersebar dibeberapa kota, dan pada umumnya pengembangan ilmu SH itu mempunyai karakter sendiri-sendiri walupun basicnya tetap SH. Ada beberapa penerus PJK di beberapa kota, kita sebut saja Mas Wignjo di Bandung, Mas Djoko Kuntjoro di Solo, Murid-murid Mas Bambang Tunggul Wulung di Semarang, Mas Bambang Tri Wahyu di Madiun, Mas Hariono di Sidoarjo, Mas Darmo Sanyoto di Malang, Mas Sadimin di Surabaya, Mas Koeswanto dan Mas Mufadol di Takeran Magetan, Mas Slamet Riyadi di Cilacap, Mas Imron di Solo dan masih banyak lagi. Semua itu murid-murid generasi ke tiga dan keempat dari Bapak Hardjo Oetomo yang masih memegang dan mengembangkan ilmu SH Terate lama dengan semua kelebihan dan pengembangan masing-masing. Ternyata Jurus Kawak diminati juga oleh Warga SH Terate luar negeri, sudah ada Warga asing, misalnya Belanda, Prancis, dan beberapa Negara lain. Oleh mereka ternyata Jurus Kawak dikaji secara 7

ilmiah dan juga disebarluaskan kepada yang membutuhkan. Ini menjadi tantangan untuk kita semua para Warga SH Terate. Tidak menutup kemungkinan suatu saat bila orang Indonesia ingin belajar Jurus Kawak SH Terate maka harus belajar ke luar negeri. (.. elok kan.) Generasi berikutnya adalah generasi penerus SH Terate yang disahkan mulai sekitar tahun 1960 s.d. saat ini juga menghasilkan beberapa tokoh yang mengusai pengembangan ilmu SH mulai pemecahan benda keras, tenaga dalam, pengobatan dan obat tradisional, pengobatan holistic, kejawen dan keilmuan moderen misalnya psikologi, Hypnosys, hypno therapy, manajemen IQ, SQ dan lain-lain. Bahkan ada beberapa Warga SH Terate yang mengusai ilmu santet, ahli nujum, perdukunan, pukulan jarak jauh dan lain-lain. (Yang terakhir ini sering disebut katanya bukan ilmu S.H. tapi karena antara pemegang ilmu yang Warga S.H. Terate dan yang meminta juga warga S.H.Terate kedua-duanya mbulet saja jadinya se-olah-olah itu juga ilmu S.H. Terate). Dalam mengembangkan ilmu SH Terate saat ini banyak kita jumpai Saudara/Warga SH Terate yang megembangkan dengan caranya sendiri. Golongan ini dalam mengembangkan ilmu SH Terate memang aneh, misalnya dengan membuat gosip, mendiskreditkan Saudara yang lain, menjelek-jelekkan Saudara sendiri di depan Saudara yang lain, memojokkan sesepuh, mempengaruhi pengurus untuk menuruti kehendaknya, membuat teror dengan menyebarluaskan berita bohong melalui SMS, FB, E-mail, Block, internet, mengkotak-kotakkan SH Terate dan lain-lain. Kelompok SH ini biasanya menyebut dirinya sebagai SHS. istilah Surabayanya . SETIA HATI SIMBOKNE ANCUK.. Pelestarian Ilmu SH Terate Dari sekian banyak organisasi SH yang paling pesat berkembang adalah SH Terate. Mengapa SH Terate bisa berkembang pesat? Karena SH Terate adalah organisasi yang dinamis tidak menolak perubahan sehingga selalu bisa mengikuti perkembangan jaman dan selalu memikat orang untuk ikut berlatih. Ada satu tugas penting bagi generasi penerus SH Terate yaitu menginventarisasi keilmuan SH yang saat ini dipegang oleh beberapa Warga SH yang umumnya sudah berusia sepuh. Bila semua itu bisa diinventarisasi maka menjadi kekayaan yang tidak ternilai bagi SH Terate utamanya bagi pengembangan ke ilmuan SH Terate kedepan. Para sepuh pemegang ilmu SH sudah mulai terbuka untuk memberikan apa yang dimiliki kepada generasi muda SH, tinggal para generasi muda mau apa tidak menerima warisan itu. Memang konsekuensinya berat untuk mewarisi ilmu itu, harus berani laku Ngelmu iku tinemune kanti laku.

Berbicara keilmuan SH sebaiknya mulai dihilangkan sifat-sifat merasa paling benar sendiri, merasa paling baik sendiri. Ego-ego semacam itu harus mulai dihilangkan, dan sebenarnya tidak ada ilmu yang paling benar dan paling baik. Karena akan semakin baik bila ilmu SH itu saling melengkapi. Pesan Sesepuh SH Terate Beberapa sesepuh SH Terate banyak berpesan; Selama masih mau menggunakan nama SH (dalam arti: Setia Hati) maka: 1. Harus paham makna SH. 2. Setiap ketemu Saudara SH selalu salaman. 3. Jangan meninggalkan berdiri Alif untuk mengawali dan mengakhiri latihan jurus maupun pembukaan/salam. 4. Dalam menggunakan salam/pembukaan hendaknya menempelkan jari di tanah dan menunjuk udara. (Ini ada makna khusus) 5. Sebelum sambung hendaknya berputar temu gelang dahulu baru dimulai sambung. Penutup Tugas generasi penerus SH Terate sangat berat. Globalisasi membuat berbagai beladiri asing bebas masuk dan semakin menjamur di tanah air. Sementara pencak silat termasuk beladiri tradisional yang oleh kebanyakan orang Indonesia sendiri dianggap kuno, tertinggal, kampungan dan kurang gaul sehingga menghambat perkembangan SH Terate utamanya di perkotaan. Semboyan SH Terate yang merupakan pijakan/visi bagi para Warga SH Terate dan selalu didengung-dengungkan pada saat pertemuan Warga adalah: SELAMA MATAHARI MASIH BERSINAR DAN SELAMA BUMI MASIH DIHUNI MANUSIA MAKA SELAMA ITU SH TERATE TETAP JAYA DAN KEKAL ABADI SELAMA-LAMANYA menjadi tugas generasi muda SH Terate untuk mewujudkan. Semboyan itu tidak akan terwujud bila kita masih merasa ilmu SH yang kita miliki adalah yang paling baik dan paling benar dan tidak mau menerima ilmu SH yang lain. Bahkan dibeberapa daerah timbul daerahisme yang merasa ilmu SH-nya paling super bila dibandingkan dengan ilmu SH dari daerah lain. Bila rasa paling baik dan paling super ini diteruskan menjadi suatu konflik intern di SH maka kita tunggu saja kehancuran SH Terate. Sebagai peringatan marilah kita ikuti peringatan Sri Pakubuwana IV pada bukunya Wulangreh dalam Tembang GAMBUH berikut ini; Pitutur bener iku Sayektine apantes tiniru Nadyan metu saking wong sudra papeki 9

Lamun becik nggone muruk Iku pantes siro anggo Ana pocapanipun Adiguna adigang adigung Pan adigang kidang, adigung pan esthi Adiguna ula iku Telu pisan mati sampyoh Sikidang umbagipun Angandelken kebat lumpatipun Pan si gajah ngandelaken geng ainggil Ula ngandelaken iku Mandine kalamun nyakot Iku upaminipun Aja ngandelaken sira iku Suteng nata iya sapa ingkang wani Iku ambege wong digung Ing wusana dadi asor Terjemahan: Nasihat yang benar itu Sesungguhnya baik untuk ditiru Walau diucapkan oleh orang biasa yang papa Jika yang diajarkan adalah kebaikan Itulah yang pantas engkau ikuti Ada suatu ucapan Adiguna adigang adigung Adigang itu sifatnya kijang, sedang Adigung sifatnya gajah Adiguna sifatnya ular Ketiga-tiganya mati bersamaan Keangkuhan si Kijang Mengandalkan cepat dan lincah melompatnya Kalau si Gajah mengandalkan badannya yang tinggi dan besar Ular mengandalkan bisanya yang mematikan ketika mengigit itulah perumpamaan Jadi janganlah mengandalkan kekuatan dirimu sebagai anak raja/yang sedang berkuasa, siapa yang akan berani itulah sikap orang yang adigung 10

yang akhirnya menjadi tidak dihormati Madiun, 3 November 2010 Penulis, Ki Demang Suwung Demange etan kali Demange wong edan

11

12