Anda di halaman 1dari 14

Pengertian Bank Syariah Bank Syariah terdiri atas dua kata , yaitu Bank dan Syariah.

Kata bank bermakna suatu lembaga keungan yang berfungsi sebagai perantara keuangan dari dua pihak, yaitu pihak yang berkelebihan dana dan pihak yang kekurangan dana. Kata syariah dalam versi bank syariah di Indonesia adalah aturan perjanjian berdasarkan yang dilakukan oleh pihak bank dan pihak lain untuk penyimpangan dana atau pembiayaan kegiatan usaha dan kegiatan lainnya sesuai dengan hukum Islam. Penggabungan kedua kata dimaksud, menjadi bank syariah. Bank Syariah adalah suatu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara bagi pihak yang berkelebihan dana dengan yang kekurangan dana untuk kegiatan usaha dan kegiatan lainnya sesuai dengan hukum Islam. Selain itu, bank syariah biasa disebut Islamic banking atau interest fee banking, yaitu suatu sistem perbankan dalam pelaksanaan operasional tidak menggunakan sistem bunga (riba ), spekulasi (maisir), dan ketidakpastian atau ketidakjelasan ( gharar ). Bank Syariah berarti bank yang tata cara operasionalnya didasari dengan tata cara Islam yang mengacu kepada ketentuan Al-Quran dan Al Hadist.

Dasar Hukum Bank Syariah


Bank syariah secara yuridis normative dan yuridis empiris diakui keberadaannya di negara Republik Indonesia. Pengakuan secara yuridis normatif tercatat dalam peraturan perundang undangan di Indonesia, diantaranya, Undang Undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan, Undang Undang No. 10 tentang Perubahan atas Undang Undang No.7 Tahun 1998 tentang Perbankan, Undang Undang No. 3 Tahun 2004 tentang perubahan atas Undang Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Undang Undang No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Selain itu, pengakuan secara yuridis empiris dapat dilihat perbankan syariah tumbuh dan berkembang pada umumnya di seluruh Ibu kota provinsi dan Kabupaten di Indonesia, bahkan beberapa bank konvensional dan lembaga keungan lainnya membuka unit usaha syariah (bank syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, dan semacamnya). Pengakuan secara yuridis dimaksud, memberi peluang tumbuh dan berkembang secara luas kegiatan usaha perbankan syariah,termasuk memberi kesempatan kepada bank umum (konvensional) untuk membuka kantor cabang yang khusus melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.Kebiasaandan/atau tradisi hukum di Indonesia dalam membuat rancangan undang-undang di zaman orde Lama dan di awal orde baru tidak pernah terdengar kata syariah. Kata syariah itu baru muncul ketika rancangan undang-undang perbankan diusulkan menjadi undang-udang di zaman akhir orde baru dan di awal zaman reformasi. Hal ini menunjukkan bahwa pihak eksekutif dan legislative memahami aspirasi penduduk Indonesia yang mayoritas muslim sehingga menyiapkan perangkat hukum yang berkaitan dengan persoalan hukum perbankan dan produk-produknya.Hukum perbankan yang menggunakan prinsip-prinsip syariah baru hadir pada tahun 1992 di Indonesia, yaitu Bank Muamalat Indonesia. Bank Muamalat berdiri tahun 1992 sampai 1998 masih menjadi pemain tunggal dalam dunia perbankan yang menggunakan prinsip syariah dan ditambah 78 BPR Syariah di Indonesia.

Awal Kelahiran Perbankan Syariah


Sejak awal kelahirannya,perbankan syariah dilandasi dengan kehadiran dua gerakan renaissance islam modern:neorevivalis dan modernis1[1].tujuan utama dari pendirian lembaga keuangan berlandaskan etika ini adalah tiada lain sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berlandaskan Al-Quran dan as-Sunnah. Upaya awal penerapan system profit (keuntungan) dan loss sharing tercatat di Malaysia sekitar tahun 1940-an,yaitu adanya upaya mengelola dana jamaah haji secara non konvesional.Rintisan institusional lainnya adalah Islamic rural bank di desa Mit Ghamr pada tahun 1963 di Kairo,Mesir. Sebuah rintisan awal yang cukup sederhana itu,bank islam tumbuh dengan sangat pesat.Sesuai dengan analisa Prof.Khursid dan laporan internasional Association of Islamic Bank,hingga akhir 1999 tercatat lebih dari dua ratus lembaga keuangan islam yang beroperasi di seluruh dunia baik di Negara-negara berpenduduk muslim maupun di Eropa,Australia,maupun Amerika2 Suatu hal yang patu juga dicatat adalah saat ini banyak nama besar dalam keungan internasional seperti Citibank,Jardine Flemming,ANZ,Chase Chemical Bank,Golgman Sach,dan lain-lain tela membuka cabang dan subsidiaries yang berdasarkan syariah.Dalam dunia pasar modal pun,Islamic fund kini ramai dipedagangkan,suatu hal yangv mendorong singa pasar modal dunia dow Jones untuk menerbitkan Islamic Dow Jones.Oleh karena itu,tak heran jika Scharf,mantan direktur utama Bank Islam Denmark yang Kristen itu,menyatakan bahwa Bank Islam adalah partner baru pembangunan3
1. Mit Ghamr Bank

Rintisan perbankan mulai mewujud di Mesir pada decade 1960-an dan beroperasi sebagai ruralsocial bank (semacam lembaga keuangan unit desa di Indonesia) di sepanjang delta Sungai Nil.Lembaga dengan nama Mit Ghamr Bank binaan Prof.Dr.Ahmad Najjar tersebut hanya beroperasi di pedesaan Mesir dan berskala kecil,namun institusi tersebut mampu menjadi pemicu yang sangat berarti bagi perkembangan system financial dan ekonomi islam4

2. Islamic Development Bank Pada sidang Menteri Luar Negeri Negara-Negara Organisasi Konferensi Islam di Karachi,Pakistan,Desember 1970,Mesir mengajukan sebuah proposal untuk mendirikan bank syariah.Proposal yang disebut Studi tentang Pendirian Bank Islam Internasional untuk Perdagangan dan Pembangunan(International Islamic Bank fo Trade and Development)dan proposal pendirian Federasi Bank Islam (Federation of Islamic Banks),dikaji para ahli dari delapan belas Negara islam. Proposal tersebut pada intinya mengusulkan bahwa system keuangan berdasarkan bunga harus di gantikan dengan suatu system kerja sama dengan skema bagi hasil keuntungan maupun kerugian.Proposal tersebut diterima.Sidang menyetujui rencana mendidikan Bank Islam Internasional dan Federasi Bank Islam5 Sebagai rekomondasi tambahan,proposal tersebut mengusulkan pembentukan perwakilanperwakilan khusus,yaitu Asosiasi bank-bank Islam(Association of Islamic Banks) sebagai badan konsultatif untuk masalah-masalah ekonomidan perbankan syariah.Tugas badan ini antaranya menyediakan bantuan teknis bagi Negara-negara islam yang ingin mendirikan bank syariah dan lembaga keuangan syariah.bentuk dukungan teknis tersebut dapat berupa pengiriman para ahli ke Negara tersebut,penyebaran atau sosialisasi system perbankan syariah,dan saling tukar informasi dan pengalaman antar Negara islam6

3. Islamic Research and Training Institute IDB (Islamic Development Bank) juga membantu mendirikan bank-bank islam di berbagai Negara.Untuk perkembangan sisitem ekonomi syariah,institute ini membangun sebuah institute riset dan pelatihan untuk pengembangan penelitian dan pelatihan ekonomi islam,baik dalam bidang perbankan maupun keuangan secara umum.Lembaga ini disingkat IRTI (Islamic Research and Training Institute)7
Pembentukan bank-bank syariah Dengan berdirinya IDB telah memotivasi banyak negara Islam untuk lembaga keuangan syariah. Untuk itu, komite ahli IDB pun bekerja keras menyiapkan panduan tentang pendirian, peraturan, dan pengawasan bank syariah. Kerja keras ini membuahkan hasil sehingga pada akhir tahun 1970-an dan awal dekade 80-an, bank-bank syariah bermunculan di Mesir, Sudan, negaranegara Teluk, Pakistan, Iran, Malasyia, Bangladesh serta Turki. Secara garis besar lembaga-lembaga tersebut dapat dimasukkan ke dalam dua kategori. Pertama, bank Islam (Islamic Comersial Bank), kedua, lembaga investasi dalam bentuk international holding companies. Bank-bank yang masuk dalam kategori pertama di antaranya: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Faisal Islamic Bank Kuwait Finance House Dubai Islamic Bank Jordan Islamic Bank for Finance and Investment Bahrain Islamic Bank Islamic International Bank for Investment and Development

Adapun yang masuk dalam kategori kedua adalah: 1. Dar al-Mal al-Islami

2. Islamic Investment Company of the Gulf 3. Bahrain Islamic Investment Bank 4. Islamic Investment House

Perkembangan bank-bank syariah di berbagai Negara 1. Pakistan Pakistan merupakan pelopor di bidang perbankan syariah. Pada awal juli 1979, sistim bunga dihapuskan dari operasional tiga institusi, yaitu: National Investment (unit trust), House Building Finance (pembiayaan sektor perumahan) dan mutual fund of the investment corporation of Pakistan (kerjasama investasi). Pada tahun 1979-80, pemerintah mensosialisasikan skema pinjaman tanpa bunga kepada petani dan nelayan. Pada tahun 1981, seiring diberlakukannya undang-undang perusahaan mudharabah dan murabahah , mulailah beroperasi 7000 cabang bank komersial nasional diseluruh Pakistan dengan mengunakan sistim bagi hasil. Pada awal tahun 1985, seluruh sistim perbankan pakistan dikonversi dengan sistim yang baru, yaitu sistim perbankan syariah.

2. Mesir Bank syariah pertama yang didirikan di Mesir adalah Faisal Islamic Bank. Bank ini mulai beroperasi pada bulan Maret 1978, dan berhasil membukukan hasil mengesankan dengan total asset sekitar 2 milyar dolar AS pada 1986 dan tingkat keuntungan sekitar 106 juta dolar AS. Selain Faisal Islamic Bank for Investment dan Development yang beroperasi dengan mengunakan instrument keuangan Islam dan menyediakan jaringan yang luas. Bank ini beroperasi, baik sebagai bank investasi (investment Bank), bank perdagangan (merchant bank), maupun bank komersial (commercial bank). 3. Siprus Faisal Islamic Bank of Kibris (siprus) mulai beroperasi pada maret 1983 dan mendirikan Faisal Islamic Investment Corporation yang memiliki 2 cabang di Siprus dan 1 cabang di

Istanbul. Dalam sepuluh bulan awal beroperasinya, bank tersebut telah melakukan pembiayaan dengan skema murabahah senilai sekitar TL 450 juta (TL atau Turkey Lira, mata uang Turki). Bank ini juga melakukan pembiayaan dengan skema musyarakah dan mudharabah, dengan tingkat keuntungan yang bersaing dengan bank non syariah. Kehadiran bank Islam di Siprus telah mengerakan masyarakat untuk menabung, bank ini beroperasi dengan mendatangi desa-desa, pabrik dan sekolah dengan mengunakan kantor kas (mobil) keliling untuk mengumpulkan tabungan masyarakat. Selain kegiatan-kegiatan diatas, mereka juga mengelola dana-dana lainnya seperti al qardhul hasan dan zakat. 4. Kuwait Kuwait Finance House didirikan pada tahun 1977 dan sejak awal beroperasi dengan sistim tanpa bunga. Institusi ini memiliki 8 cabang di Kuwait, dan telah menunjukkan perkembangan yang cepat. Selama 2 tahun saja, yaitu 1980 1982, dana masyarakat yang terkumpul meningkat dari sekitar KD 149 juta menjadi KD 474 juta. Pada akhir tahun 1985, total aset mencapai KD 803 juta dan tingkat keuntungan bersih mencapai KD 17 juta. 5. Bahrain Massaf Faisal al Islami Bahrain mulai beroperasi pada Desember 1982. Akhir 1985, total asset telah mencapai 677 juta dolar AS dengan keuntungan sebesar 2,6 juta dolar. 6. Uni Emirat Arab Dubai Islamic Bank merupakan salah satu pelopor bank syariah. Didirikan pada tahun 1975 investasinya meliputi bidang perumahan. Proyek-proyek industri, dan aktivitas komersial. Selama beberapa tahun, para nasabahnya telah menerima keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan bank konvensional. 7. Malaysia Lembaga keuangan syariah di Malaysia telah muncul sejak 1969 dan telah berevolusi sebagai komponen yang viable dan kompetitif dari sistim keuangan secara keseluruhan. Strategi yang diambil, dengan dukungan penuh dari pemerintah, adalah mengembangkan sistim keuangan Islam yang menyeluruh yang beroperasi berdampingan dengan sistim konvensional, terutama infrastruktur perbankan syariah, assuransi syariah, dan pasar keuangan (pasar modal dan pasar uang) syariah. Intradependency dari komponen struktural ini menciptakan enabling environment bagi sistim keuangan untuk beroperasi secara efisien.

Kesimpulannya, dalam mengembangkan sistim keuangan syariah, pemerintah Malaysia menempuh pragmatic and gradual approach, mengembangkan sistim yang menyeluruh, dan memberikan komitment yang kuat untuk memastikan keberhasilannya. Sistim keuangan Islam harus didukung oleh enabling infrastruktur keuangan Islam dalam bentuk pengembangan institusional, kerangka regulasi, dan kerangka legal dan syariah. 8. Iran Perkembangan bank syariah di Iran di mulai sejak Januari 1984 berdasarkan ketentuan /undang-undang yang disetujui pemerintah pada bulan agustus 1983. sebelum undang-undang tersebut dikeluarkan sebenarnya telah terjadi transaksi sebesar lebih dari 100 milyar rial yang diadministrasikan sesuai dengan sistim syariah. Hingga bulan oktober 1983, sebanyak 20.000 karyawan bank di Iran telah mengikuti pelatihan sistim perbankan syariah. 9. Turki Baru pada tahun 1984, pemerintah Turki memberikan izin kepada Daar al Maal al Islami (DMI) untuk mendirikan bank yang beroperasi berdasarkan bagi hasil. Hal ini karena menurut ketentuan Bank sentral Turki, bank syariah diatur dalam satu yurisdiksi khusus. Setelah DMI berdiri, pada bulan desember 1984 didirikan pula Faisal Finance Institution dan mulai beroperasi pada bulan april 1985.

PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA


Berkembangnya bank-bank syariah di negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Pada awal periode 1980-an, diskusi mengenai bank syariah sebagai pilar ekononii Islam mulai dilakukan. Para tokoh yang terlibat dalam kajian tersebut adalah Karnaen A. Perwataatmadja, M. Dawam Rahardjo, AM. Saefuddin, M. Arnim Azis, dan lain-lain. Beberapa uji coba pada skala yang relatif terbatas telah diwujudkan. Di antaranya adalah Baitut Tamwil Salman, Bandung, yang sempat tumbuh mengesankan. Di Jakarta juga dibentuk lembaga serupa dalam bentuk koperasi, yakni Koperasi Ridho Gusti. Akan tetapi, prakarsa lebih khusus untuk mendirikan bank Islam di Indonesia baru dilakukan pada tahun 1990. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18-20 Agustus 1990 menyclenggarakan Lokakarya Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat Hasil lokakarya tersebut dibahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV MUI yang

berlangsung di Hotel Sahid Jaya Jakarta, 22-25 Agustus 1990. Berdasarkan amanat Munas IV MUI, dibentuk kelompok kerja untuk mendirikan bank Islam di Indonesia. Kelompok kerja yang disebut Tim Perbankan MUI, bertugas melakukan pendekatan dan konsultasi dengan semua pihak terkait.

Bank Muamalat Indonesia lahir sebagai hasil kerja Tim Perbankan MUI tersebut diatas.Akte pendirian PT Bank Muammalat Indonesia ditandatangani pada tanggal 1 November 1991.Pada saat penandatanganan akte pendirian ini terkumpul komitmen pembelian saham sebanyak Rp.84 miliar. Pada tanggal 3 November 1991,dalam acara silaturahmi Presiden di Istana Bogor,dapat dipenuhi dengan total komitmen modal disetor awal sebesar Rp.106.126.382.000,00. Dengan modal awal tersebut, pada tanggal 1 mei 1992, Bank Muammalat Indonesia mulai beroperasi. Hingga September 1999, Bank Muammalat indonesia telah memiliki lebih 45 outlet yang tersebar di Jakarta,Bandung,semarang,Surabaya,Balikpapan dan Makasar.
Namun yang perlu diketahui pada awal pendirian Bank Muamalat Indonesia, keberadaan Bank Syariah ini belum mendapat perhatian yang optimal dari tatanan Industri Perbankan Nasional. Landasan hukum operasi yang menggunakan sistem syariah ini hanya dikatagorikan sebagai Bank dengan Sistem Bagi Hasil karena tidak terdapat landasan hukum Syariah secara rinci serta jenis-jenis usaha yang diperbolehkan bank. Hal ini sangat jelas tercermin dari UU No. 7 Tahun 1992 yang menyimpulkan bahwa pembahasan perbankan dengan sistem bagi hasil diuraikan hanya sepintas dan merupakan sisipan belaka. Era reformasi dan perbankan syariah Pada Era Reformasi dengan disetujuinya UU No. 10 Tahun 1998 perkembangan Perbankan Syariah mulai membaik pasalnya dalam UU tersebut diatur secara rinci landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh Bank Syariah. Undang-undang tersebut juga memberikan arahan bagi Bank Konvensional untuk membuka cabang Syariah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi Bank Syariah. Hal tersebut ternyata direspon secara antusias oleh masyarakat perbankan. Sejumlah bank mulai memberikan pelatihan dalam bidang perbankan syariah bagi stafnya. Sebagian Bank Konvensional tersebut ingin mengembangkan institusinya dalam membuka divisi atau cabang Syariah. Sebagian lainnya bahkan berencana mengkonversi diri sepenuhnya menjadi Bank

Syariah. Hal demikian diantisipasi oleh Bank Indonesia dengan mengadakan Pelatihan Perbankan Syariah bagi para pejabat Bank Indonesia dari seluruh bagian perbankan, terutama aparat yang berkaitan langsung seperti DPNP (Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan), Kredit, Pengawasan, Akuntansi, Riset, dan Moneter.

Bank Umum Syariah

Pelopor kedua Bank Syariah di Indonesia adalah Bank Syariah Mandiri (BSM). Bank Syariah Mandiri merupakan Bank milik pemerintah pertama yang melandaskan operasional pada Prinsip Syariah. Secara struktural, BSM berasal dari Bank Susila Bakti (BSB), sebagai salah satu anak perusahaan di lingkungan Bank Mandiri yang kemudian dikonversikan menjadi Bank Syariah secara utuh. Dalam rangka melancarkan proses konversi menjadi Bank Syariah BSM menjalin kerjasama dengan Tazkia Institute terutama dalam bidang pelatihan dan pendampingan konversi. Sebagai salah satu Bank yang dimiliki oleh Bank Mandiri yang memiliki aset ratusan triliun dan networking yang sangat luas, Bank Syariah Mandiri memiliki beberapa keunggulan komparatif dibandingkan pendahulunya. Demikian juga perkembangan politik terakhir di Aceh menjadi blessing in disguise bagi Bank Syariah Mandiri. Hal ini karena Bank Syariah Mandiri menyerahkan seluruh cabang Bank Mandiri yang ada di Aceh kepada Bank Syariah Mandiri untuk dikelola secara Sistem Syariah. Hal ini jelas akan meningkatkan secara pesat aset Bank Syariah Mandiri dari posisi pada akhir tahun 1999 sejumlah Rp 400 miliar menjadi di atas 2 hingga 3 triliun. Perkembangan ini diikuti pula dengan peningkatan jumlah cabang Bank Syariah Mandiri dari 8 cabang menjadi 20 cabang. Cabang Syariah dari Bank Konvensional Setelah terbentuknya Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri dan antusias masyarakat terhadap adanya Bank yang memakai Sistem Islam. Maka berbagai Bank Konvensional lainnya mengikuti jejak untuk membuka cabang Bank Syariah di institusinya. Dibawah ini adalah data pada November tahun 2000 yang menjelaskan peningkatan perkembangan Bank Syariah di Indonesia, 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Bank IFI membuka cabang Syariah pada 28 Juni 1999. Bank BNI telah membuka 5 cabang Syariah. Bank BTN akan membuka cabang Bank Syariah. Bank Mega akan mengkonversi satu anak Bank Konvensionalnya menjadi Bank Syariah. Bank BRI telah membuka cabang Syariah. Bank BUKOPIN telah melakukan konversi menjadi Bank Syariah di cabang Aceh. BPD JABAR telah membuka cabang Syariah di Bandung. BPD Aceh tengah menyiapkan SDM untuk konversi cabang Syariah.

PPerbedaan antara bank syariah dan bank konvensional

Dalam beberapa hal, bank konvensional dan bank syariah memiliki persamaan, terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat umum untuk memperoleh pembiayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan dan sebagainya. Disamping itu, antara bank syariah dan bank konvensional memiliki perbedaan yang sangat prinsipil, yakni menyangkut akad-akad yang ditetapkan, aspek legalitas, struktur organisasi, bidang usaha yang dibiayai dan lingkungan kerja. 1. Akad dan aspek legalitas

Di dalam bank syariah, akad yang dilakukan memiliki konsekwensi duniawi dan ukrawi, karena akad yang dilakukan berdasarkan ketentuan syariat Islam. Di dalam perbankan syariah, apabila pihak-pihak yang melakukan akad atau transaksi melanggar kesepakatan / perjanjian yang telah disepakati dan ditandatangani, maka konsekwensi hukum yang akan diterima tidak hanya ketika hidup di dunia saja tetapi juga kelak di hari kiamat. Semua hal dan pihak-pihak, baik barang, jasa maupun pelaku-pelaku yang terlibat dalam setiap akad transaksi perbankan syariah harus memenuhi a. b. Rukun: ketentuan-ketentuan penjual, pembeli, barang, harga syariah dan akad sebagai (ijab-qabul / berikut: transaksi) yaitu:

Syarat-syarat,

1. Barang dan jasa harus halal. Karena itu segala bentuk akad / transaksi atas barang dan jasa yang 2. haram Harga menjadi barang batal dan / haram jasa demi harus syariah. jelas.

3. Tempat penyerahan (delivery) harus jelas karena akan berdampak pada biaya transportasi. 4. Barang yang menjadi obyek transaksi harus sepenuhnya dalam kepemilikan yang sah. Tidak diperbolehkan oleh syariah melakukan akad / transaksi jual beli atas barang atau sesuatu yang belum dimiliki atau dikuasai, seperti yang terjadi pada transaksi short sale di pasar modal. 2. Berbeda dengan perbankan konvensional, jika pada perbankan syariah terdapat perbedaan atau perselisihan antara bank dan nasabahnya, kedua belah pihak tidak menyelesaikannya di peradilan negeri, tetapi menyelesaikannya sesuai tata cara dan hukum syariah. Lembaga yang mengatur hukum berdasar prinsip syariah di Indonesia dikenal dengan nama Badan Arrbitrase Muamalah Indonesia (BAMUI) yang didirikan secara bersama oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia. 3. StrukturOrganisasi Bank syariah diperkenankan untuk memiliki struktur organisasi yang sama dengan bank konvensional, misalnya adanya dewan komisaris dan direksi. Namun, di sisi lain terdapat

perbedaan yang sangat mendasar antara struktur organisasi yang dimiliki bank syariah dan bank konvensional. Perbedaan yang mendasar itu adalah bahwa di dalam struktur organisasi perbankan syariah harus ada Dewan Pengawas Syariah. Dewan Pengawas Syariah biasanya diletakkan pada posisi setingkat Dewan Komisaris pada setiap bank. Hal ini untuk menjamin efektifitas pendapat atau opini yang dikemukakan oleh Dewan Pengawas Syariah. Karena itu, biasanya penetapan anggota Dewan Pengawas Syariah dilakukan oleh Rapat Umum Pemegang Saham, setelah para anggota Dewan Pengawas Syariah itu mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah a. Nasional Dewan (DSN). Struktur organisasi tersebut Syariah terbagi atas: (DPS)

Pengawas

Fungsi utama para ulama dalam Dewan Pengawas Syariah (DPS) adalah mengawasi jalannya operasional bank syariah sehari-hari agar selalu sesuai dengan petunjuk dan ketentuanketentuan syariat Islam. Hal ini, karena akad / transaksi yang berlaku di dalam sistem perbankan syariah sangat berbeda dengan akad / transaksi yang berlaku di dalam perbankan konvensional. Dalam kaitan ini, dalam sistem perbankan syariah diperlukan garis-garis panduan (guidelines) yang berbeda pula dengan sistem perbankan konvensional. Garis panduan ini disusun dan ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional. Dalam pada itu, Dewan Pengawas Syariah (DPS) harus membuat pernyataan secara berkala (biasanya setiap tahun) bahwa bank syariah yang diawasi telah berjalan sesuai atau tidak sesuai dengan syariat Islam. Pernyataan DPS ini disampaikan dalam buku laporan tahunan (annual raport) bank yang bersangkutan. Tugas lain Dewan Pengawas Syariah (DPS) adalah meneliti dan membuat rekomendasi atas produk baru bank syariah yang diawasinya. Dengan demikian, DPS bertindak sebagai penyaring pertama atas produk b. yang telah Dewan diteliti dan difatwakan Syariah oleh Dewan Nasional Syariah Nasional. (DSN)

Dewan Syariah Nasional (DSN) dibentuk pada tahun 1997 dan merupakan hasil rekomendasi dari Lokakarya Reksadana Syariah pada bulan Juli tahun yang sama. Lembaga ini merupakan lembaga otonomi di bawah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan dipimpin oleh Ketua Umum MUI dan seorang sekertaris (ex-officio). Kegiatan sehari-hari Dewan Syariah Nasional (DSN) ini dijalankan oleh Badan Pelaksana Harian dengan seorang ketua dan sekertaris serta beberapa anggota. Fungsi utama Dewan Syariah Nasional adalah mengawasi produk-produk lembaga keuangan syariah agar sesuai dengan syariat Islam. Dewan ini bukan hanya mengawasi perbankan syariah, tetapi juga mengawasi lembaga-lembaga keuangan syariah lain, seperti asuransi, reksadana, modal ventura dan sebagainya. Untuk keperluan pengawasan tersebut, Dewan Syariah Nasional

membuat garis panduan produk syariah yang diambil dari sumber-sumber hukum Islam. Garis panduan ini menjadi dasar pengawasan bagi Dewan Pengawas Syariah yang terdapat di setiap lembaga-lembaga keuangan syariah dan menjadi dasar acuan dalam pengembangan produkproduknya. Selain itu, Dewan Syariah Nasional bertugas memberikan rekomendasi kepada para ulama yang akan ditugaskan sebagai Dewan Pengawas Syariah pada suatu lembaga keuangan syariah tertentu. Dewan Syariah Nasional dapat memberikan teguran kepada lembaga keuangan syariah yang dipandang telah menyimpang dari garis panduan perbankan syariah dan petunjuk syariat Islam. Hal ini dilakukan setelah menerima dan mendapat laporan dari Dewan Pengawas Syariah lembaga keuangan atau perbankan syariah yang bersangkutan. Jika lembaga keuangan atau perbankan syariah tersebut tidak mengindahkan teguran yang diberikan, Dewan Syariah Nasional dapat mengusulkan kepada otoritas yang berwenang, seperti Bank Indonesia dan Departemen Keuangan, untuk memberikan saksi hukum yang berlaku agar lembaga keuangan atau perbankan syariah tersebut tidak melakukan tindakan-tindakan yang lebih jauh dari ketentuan dan petunjuk syariah. 4. Bisnis dan Usaha yang Dibiayai Perbankan Syariah.

Di dalam bank syariah, bisnis dan usaha yang dilaksanakan tidak terlepas dari ketentuan dan petunjuk syariah. Karena itu, bank syariah tidak diperkenankan membiayai bisnis dan usaha yang diharamkan oleh syariah. Lembaga keuangan syariah dan perbankan syariah tidak akan memperhatikan permohonan pembiayaan dari suatu usaha atau bisnis sebelum mendapatkan kejelasan a. b. dan kepastian obyek yang akan beberapa itu itu hal pokok halah sebagai atau madharat atau berikut: haram? tidak?

Apakah Apakah proyek

pembiayaan akan dibiayai

menimbulkan

c. Apakah proyek yang akan didanai berkaitan dengan perbuatan zina / asusila lainnya? d. Apakah proyek itu berkaitan dengan perjudian?

e. Apakah proyek yang akan dibiyai itu berkaitan dengan pembuatan senjata ilegal? f. Apakah proyek itu dapat merugikan syiar Islam, baik secara langsung atau tidak langsung?

5. Lingkungan Kerja Dan Corporate Culture Sebuah bank syariah selayaknya memiliki lingkungan kerja yang sejalan dengan syariah. Dalam hal etika misalnya sifat amanah dan shiddiq harus melandasi setiap karyawan sehingga tercermin integritas eksekutuf muslim yang baik. Disamping itu karyawan bank syariah harus skillful dan profesional dan mampu melakukan tugas-tugas teamwork.

Selain itu, cara perpakaian dan tingkah laku dari para karyawan merupakan cerminan bahwa mereka bekerja dalam lembaga keuangan yang membawa nama besar Islam, sehingga tidak ada aurat yang terbuka dan tingkah laku yang kasar. Demikian pula dalam menghadapi nasabah, akhlak harus senantiasa terjaga.

Perbandingan Antara Bank Syariah Dan Bank Konvensional Perbandingan antara bank syariah dan bank konvensional disajikan dalam tabel berikut.[9]

Bank Syariah Bank Konvesional 1. Melakukan investasi-investasi 1. Investasi yang halal dan haram. yang halal saja. 2. Berdasarkan prinsip bagi hasil 2. Besarnya disepakati pada waktu akad dengan berpedoman kepada kemungkinan untung rugi. Besar rasio didasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh Rasio tidak berubah selama akad masih berlaku Kerugian ditanggung bersama Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan keuntungan Eksistensi tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil. 3. Berorientasi pada keuntungan 3. (profit oriented) dan kemakmuran dan kebahagian dunia akhirat Memakai perangkat bunga Besarnya disepakati pada waktu akad dengan asumsi akan selalu untung Besarny presentase didasarkan pada jumlah modal yang dipinjamkan Bunga dapat mengambang dan besarnya naik turun Pembayaran bunga besarnya tetap tanpa pertimbangan untung rugi Jumlah bunga tidak meningkat sekalipun keuntungan meningkat Eksistensi bunga diragukan Profit oriented

4. Hubungan dengan nasabah dalam 4. Hubungan dengan nasabah bentuk hubungan kemitraan. dalam bentuk hubungan kreditur-debitur. 5. Penghimpunan dan penyaluran 5. Tidak terdapat dewan sejenis dana harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah