Anda di halaman 1dari 6

Perkembangan dan Teori Manajemen Modern

Disusun oleh:

Adrianus A. Haryo
Kemal Ahmad Ridla Lina Triyani Nurul Kurniasari Dela Nurul Oktaviani Pratiwi Permata K Rahmiyenti Zerni NURUL KURNIASARI DELA

Pada dasarnya, kehidupan manusia setiap hari tidak terlepas dari prinsipprinsip manajemen. Tentunya dalam keseharian manusia, manusia berusaha mengatur banyak hal di hidupnya. Di sekitar manusia pun banyak sekali hal-hal yang telah di atur dengan baik. Hal tersebut dimaksudkan agar terciptanya kondisi yang tertib dan tidak kacau. Dalam resume ini, kelompok kami akan mengulas aliran manajemen modern. Manajemen modern merupakan sebuah perkembangan manajemen yang dimulai sejak era 1940an hingga kini. Manajamen modern ini merupakan sebuah perluasan dari manajemen ilmiah yang telah ada di tahun-tahun sebelumnya. Beberapa ilmuwan yang merupakan tokoh dari manajemen era modern ini contohnya yaitu, Abraham Maslow Chris Argyris, Douglas Mcgregor, Edgar schien, David Mcclelend dan lain sebagainya. Pengaplikasian manajamen modern yang terkait dengan manajemen ilmiah, banyak melibatkan ilmu matematika dan fisika dalam memecahkan permasalahan. Sehingga, teori manajemen modern ini pun berkembang melalui dua jalur yaitu melalui perilaku organisasi dan melalui aliran kuantitatif. Ada juga dua pendekatan yang terkait dengan manajemen yaitu pendekatan sistem dan pendekatan kontingensi. 1. Abraham Maslow yang mengemukaan adanya Idquo , yaitu Ego dan Super Ego, dan Hirarki Kebutuhan Manusia dalam penjelasannya tentang perilaku manusia dan dinamika motivasi. 2. Douglas Mc Gregor dengan teori X dan teori Y nya. Teori X menyatakan bahwa sebagian besar orang lebih suka diperintah, dan tidak tertarik akan adanya rasa tanggung jawab serta menginginkan keamanan atas segalanya. Teori ini juga menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Dalam teori ini pekerja memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan, namun mereka menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam melakukan pekerjaan para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan oleh perusahaan.

Untuk menyadari adanya kelemahan dari asum teori X, maka Douglas memberikan alternatif teori lain yang disebut dengan teori Y. Asums dalam teori ini menyatakan bahwa orang-orang pada dasarnya tidak malas dan dapat dipercaya, tidak seperti yang diduga dalam teori X sebelumnya. Teori ini memiliki anggapan bahwa kerja merupakan kodrat atau kewajiban seorang manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari yang dilakukannya. Pekerja tidaklah harus selalu diawasi dan diancam secara ketat karena di dalam diri mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri dalam bekerja yang secara tidak langsung sesuai dengan tujuan perusahaan maupun organisasi. Mereka memiliki kemampuan kreativitas, imajinasi, kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas pencapaian tujuan kerja. 3. Frederick Herzberg yang mengutarakan teori higienis dan teori dua faktor. Frederick Herzberg (Hasibuan, 1990 : 177) mengemukakan teori motivasi berdasar teori dua faktor yaitu faktor higienis dan motivator. Dia membagi kebutuhan Maslow menjadi dua bagian yaitu kebutuhan tingkat rendah (fisik, rasa aman, dan sosial) dan kebutuhan tingkat tinggi (prestise dan aktualisasi diri) serta mengemukakan bahwa cara terbaik untuk memotivasi individu adalah dengan memenuhi kebutuhan tingkat tingginya. Menurut Hezberg, faktor-faktor seperti kebijakan, administrasi perusahaan, dan gaji yang memadai dalam suatu pekerjaan akan menentramkan karyawan. Bila faktor-faktor ini tidak memadai maka orang-orang tidak akan terpuaskan (Robbins,2001:170). Menurut hasil penelitian Herzberg ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam memotivasi bawahan (Hasibuan, 1990 : 176) yaitu : a. Hal-hal yang mendorong karyawan adalah pekerjaan yang menantang yang mencakup perasaan berprestasi, bertanggung jawab, kemajuan, dapat menikmati pekerjaan itu sendiri dan adanya pengakuan atas semua itu.

b. Hal-hal yang mengecewakan karyawan adalah terutama pada faktor yang bersifat embel-embel saja dalam pekerjaan, peraturan pekerjaan, penerangan, istirahat dan lain-lain sejenisnya. c. Karyawan akan kecewa bila peluang untuk berprestasi

terbatas. Mereka akan menjadi sensitif pada lingkungannya serta mulai mencari-cari kesalahan. Herzberg menyatakan bahwa orang dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor yang merupakan kebutuhan, yaitu : d. Maintenance Factors adalah faktor-faktor pemeliharaan yang

berhubungan dengan hakikat manusia yang ingin memperoleh ketentraman badaniah. Kebutuhan kesehatan ini merupakan kebutuhan yang berlangsung terus-menerus, karena kebutuhan ini akan kembali pada titik nol setelah dipenuhi. e. Motivation Factors. Adalah faktor motivator yang menyangkut kebutuhan psikologis seseorang yaitu perasaan sempurna dalam melakukan pekerjaan. Factor motivasi ini berhubungan dengan penghargaan terhadap pribadi yang berkaitan langsung denagn pekerjaan. 4. Robert Blake dan Jone Mouton yang membahas lima gaya kepemimpinan dengan kisi-kisi manajerial Menurut Blake dan Mouton, ada empat gaya kepemimpinan yang dikelompokkan sebagai gaya yang ekstrim, sedangkan lainnya hanya satu gaya yang dikatakan ditengah-tengah gaya ekstrims tersebut. Gaya kepemimpinan dalam managerial itu antara lain sebagai berikut: 1. Manager sedikit sekali usahanya untuk memikirkan orang-orang yang bekerja dengan dirinya, dan produksinya yang seharusnya dihasilkan oleh organisasinya. Dalam menjalankan tugas manager dalam gris ini menganggap dirinya sebagai perantara yang hanya mengkominikasikan informasi dari atasan lepada bawahan.

2. Manager mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi untuk memikirkan baik produksinya maupun orang-orang yang bekerja dengannya. Dia mencoba merencanakan semua usaha-usahanya dengan senantiasa memikirkan dedikasinya pada produksi dan nasib orang-orang yang bekerja dalam organisasinya. Manager yang termasuk dalam kategori ini dapat dikatakan sebagai manager tim yang riel (the real team manager). Dia mampu untuk memadukan kebutuhan-kebutuhan produksi dengan kebutuhan=kebutuhan orang-orang di organisasinya. 3. Ini gaya kepemimpinan dari manager yang mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi untuk selalu memikirkan orang-orang yang bekerja dalam organisasinya. Tetapi pemikirannya mengenai produksi rendah. Manager semacam ini sering dinamakan pemimpin club (the Country club

management), Manajer ini berusaha menciptakan suasana lingkungan yang semua orang bias bekerja rilek, bersahabat, dan bahagia bekerja dalam organisasinya. Dalam suasana seperti ini tidak ada satu orang pun yangmau memikirkan tentang usaha-usaha koordinasi guna mencapai tujuan organisasi. 4. Ini merupakan gaya kepemimpinan mangajaer yang kadangkala disebut sebagai manajer yang menjalankan tugas secara otokratis (autocratictask managers). Manager semacamini hanya maua memikirkan tentang usah peningkatan efisiensi pelaksanaan verja, tidak mempunyai atau hanya sedikit rasa tanggung jawabnya pada orang-orang yang bekerja dalam

organisasinya.dan lebih dari itu gaya kepemimpinannya lebih menonjolkan otokratisnya. 5. Dalam hal ini manager mempunyai pemikiran yang mdium baik pada produksi maupun pada orang-orang. Dia berusaha mencoba menciptakan danmembina moral orang-orang yang bekerja dalam organisasi yang di pimpinnya, dan produksi dalam tingkat yang memadai, tidak terlampau mencolok. Dia tidak menciptakan target terlampau tinggi sehingga sulit dicapai, dan berbaik hati mendorong orang-orang untuk bekerja lebih baik.

5. Rensis Likert yang mengidentifikasi pendekatan contingency dalam studi kepemimpinan. 6. Chris Argyris yang memandang organisasi sebagai sistem sosial atau sitem antar hubungan budaya. 7. Edgar Schei yang banyak meneliti dinamika kelompok dalam organisasi, dan lainnya.

Ada beberapa prinsip dasar penting yang disimpulkan dari pendapat para tokoh- tokoh manajemen modern, yaitu sebagai berikut : 1. Manajemen tidak dapat dipandang sebagai suatu teknik secara ketat (peranan, prosedur, prinsip) 2. Manajemen harus sistematik dan pendekatan yang digunakan harus dengan pertimbangan secara hati hati. 3. Organisasi sebagai keseluruhan dan pendekatan menejer individual untuk pengawasan sesuai dengan situasi. 4. Pendekatan motivasional yang menghasilkan komitmen pekerja terhadap tujuan organisasi sangat dibutuhkan.

Di samping itu, Teori Manajemen Modern memiliki kelebihan dan kekurangan diantaranya : a. Kelebihan : Banyak digunakan dalam kegiatan sehari-hari, misalnya dalam penganggaran modal, perencanaan produk, manajemen persediaan,

penjadwalan, metode antrian dan transportasi. b. Kelemahan : Konsep manajemen modern sulit dipahami karena perhitungannya yang sulit.