Anda di halaman 1dari 5

PENENTUAN POSISI RELATIF Penentuan posisi relative adalah penentuan vector jarak antara dua stasiun pengamatan, yang

dikenal sebagai jarak basis atau baseline. Penentuan posisi dengan menggunakan metode relative sendiri, dibagi menjadi 2 yaitu: 1. Metode Relatif Statik Penentuan posisi secara static adalah penentuan posisi dari titik yang static (diam). Penentuan posisi ini dapat dilakukan dengan menggunakan data pseudorange dan/atau fase. Dibandingkan dengan metode relative kinematic, ukuran lebih kepada suatu titik pengamatan yang diperoleh dengan metode static biasanya lebih banyak. Hal ni menyebabkan keandalan dan keteliian posisi yang diperolehumumnya relative lebih tinggi (mencapai orde mm dan cm). Salah satu bentuk implementasi dari metode penentuan posisi static yang popular adalah survey GPSuntuk penentuan koordinat dari titik-titik kontroluntuk keperluan pemetaan ataupun pemantauan fenomena deformasi an geodinamika. Pada prinsipnya, survey GPS bertumpu pada metode-metode penentuan posisi static secara diferensial dengan menggunakan data fase. Dalam hal ini pengamatan satelit GPS umumnya dilakukan baseline per baseline selama selang waktu tertentu (beberapa puluh menitsampai beberapa jam tergantung tingkat ketelitian yang diinginkan) dalam suatu jaringan kerangka titik-titik akan ditentukan posisinya. Pada survey data GPS, pemrosesan data GPS untuk menentukan kordinat dari titik-titik dalam jaringan umunya akan mencakuo tiga tahapan utama perhitungan, yaitu: Pengolahan data dari tiap baseline dalam jaringan Perataan jaringan yang melibatkan semua baseline untuk menentukan koordinat dari titik-titik dalam jaringan Transformasi koordinat titik-titik tersebut dari datum WGS 84 ke datum yang diperlukan oleh pengguna

SV2(t1) SV1 (t1) SV2 (t2)

SV1 (t2)

P sesi (t1-t2)

Q sesi (t1-t2)

Dari gambar terlihat bahwa kedua pengamat antenna (receiver) mengamati satelit dalam sesi yang sama dan waktu yang sama (rentang waktu yang sama). Dalam pengamatan ini tidak terdapat perpindahan titik letak pengamatan. Dari prngamatan diatas akan diperoleh data beda fase, datan beda waktu dan data elemen-elemen kepler (inklinasi, anomaly sejati, sumbu panjang orbit, argument of perige, dan ascession of right ascending node). Pengolahan data dari tiap baseline GPS pada dasarnya adalah bertujuan menentukan nilai estimasi vector baseline atau koordinat relative. Proses estimasi yan digunakan untuk pengolahan baseline umumnya berbasis metode kuadrat terkecil.

2. Metode Relatif Kinematik Penentuan posisi secara kinematic adalah penentuan posisi dari titik-titik yang bergerak dan receiver GPS tidak dapat atau mempunyai kesempatan untuk berhenti pada titik-titik tersebut. Penentuan posisi kinematic ini menggunakan data pseudorange ataupun fase. Hasil penentuan posisi bisa diperlukan saat pengamatan (real time) ataupn sesudah pengamatan (post-processing).Untuk real time positioning diperlukan komunikasi data antara stasiun referensi dengan receiver bergerak, seperti pada kasus sistem DGPS dan sisem RTK yang telah dijelaskan sebelumnya. Berdasarkan pada jenis data yang diambil serta metod penentuan posisi yang digunakan, ketelitian posisi kinematic yang diberikan oleh GPS dapat berkisardari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Dari segi aplkasinya, metode relatif kinematic GPS akan bermanfaat untuk navigasi, pemantauan (surveillance), guidance, airborne gravimetric, survey hidrografi, dll. Akhir-akhir ini banyak aplikasi yang menuntut ketelitian posisi dari titik-titik yang bergeraksecara teliti (tingkat ketelitian berorde centimeter), seperti untuk sistem pendaratan pesawat, kalibrasi altimeter satelit, dan studi oseanografi (arus, gelombang an pasut). Dalam hal ini, ada beberapa karakteristik dari metod kinematic teliti yang patut dicatat, yaitu: Metode ini harus berbasiskan penentuan posisi diferensial yang menggunakan data fase. Problem utama dari penentuan basis kinematic secara telitiadalah penentuan posisi kinematic secara teliti adalah penentuan ambiguitas fase secara on-the-fly, yaitu penentuan ambiguitas fase pada saat receiver sedang bergerak dalam waktu sesingkat mungkin. Penentuan ambiguitas secara on-the-fly akan meningkatkan ketelitian, keandalan, dan fleksibilitas dari penentuan posisi kinematic. fotogrammetri,

Saat ini dikenal beberpa teknik ambiguitas fase secara on-the-fly Hasil penentuan posisi bisa diperlukan saat pengamatan ( real time) ataupun sesudahm pengamatan (post-processing).

Untuk moda real-time, diperlukan komunikasi data antara stasiun dengan receiver yang berbeda.

Status Receiver Relatif static Relatif kinematik Sama Base Rover

Window Sesi Sama Sesi berbeda

Jumlah Titik Tetap Bertambah

Perbedaan antara metode relative static dan kinematic secara garis besar

P Base (t1 - t3) sesi

R1 Rover (t1-t2) sesi 1

R2 Rover (t2-t3) sesi 2

Pada metode relative kinematic ini terdapat perbedaan sesi. Pada antenna receiver P terlihat bahwa antenna ini merekam data GPS dari waktu pertama hingga Waktu terakhir. Antara titik antenna P dan R1 terdapat koreksi diferensial. Koreksi diferensial bisa menggunakan cara berbasis gelombang radio dengan menggunakan modulasi dan dengan cara berbasis jaringan internet dengan menggunakan IP address dan Password. Pada R1 dan R2 terlihat adanya perbedaan sesi pada R1 diambil pada t1-t2 kemudian antenna receiver dipindahkan ke R2 dengan titik yang diambil pada waktu t2t3. Pada pemindahan antenna di titik R1 dan R2 antena receiver tidak boleh dimatikan karena akan mengganggu kevalidan data GPS dikarenakan ada pengaruh dari sinyal inilialisasi gelombang Dalam pengambilan data ini, terdapat factor pembatas berupa pancara penguat dari satelit. Dan dalam pengambilan data sering terjadi kesalahan dalam GPS swndiri yang akan menyebabkan power fai dan tull of memory. Selain itu kesalahan random yang umumnya terjadi akan dibahas dan diolah engan menggunakan ilmu statistic. Pengamatan GPS dengan menggunakan metode ini bisa menggunakan sleep Mode dengan terlebih dahulu menentukan jangka waktu tertentu.