Anda di halaman 1dari 5

FORMULASI GEL SARI BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.

)
1 2 2

Nursiah Hasyim , Faradiba , dan Gina Agriany Baharuddin


2

Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin, Makassar Fakultas Farmasi, Universitas Muslim Indonesia, Makassar

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian untuk formulasi gel sari buah belimbing wuluh ( Averrhoa bilimbi L.) dengan variasi basis gel dengan tujuan untuk memperoleh formula gel sari buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) yang stabil secara fisik. Dua formula gel dibuat dengan basis gel carbopol (formula I) dan hidroksipropilmetilselulosa (HPMC) (Formula II). Kemudian dilakukan evaluasi kestabilan fisik dengan parameter pemeriksaan organoleptik, pengukuran viskositas, dan penentuan yield value sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat. Pada pemeriksaan organoleptik kedua formula gel tidak mengalami perubahan warna, bau dan konsistensi sebelum maupun setelah penyimpanan dipercepat. Pada pengukuran viskositas diperoleh hasil bahwa formula I dan II tidak berbeda nyata sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat. Analisis statistik dari yield value menunjukkan bahwa formula I dan II tidak berbeda nyata sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat. Pada rheogram terlihat bahwa formula I memiliki kurva yang tidak terlalu berhimpit dan formula II memiliki kurva yang berhimpit sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua sediaan stabil, tetapi yang memiliki kestabilan paling optimal yaitu formula II dengan dasar gel hidroksipropilmetilselulosa (HPMC). Kata kunci : gel, sari buah belimbing wuluh, karbopol, hidroksipropilmetilselulosa, kestabilan fisik.

PENDAHULUAN Masalah kulit yang sering timbul antara lain kering, kusam, kasar, berminyak dan berjerawat. Bagaimana cara mendapatkan kulit yang sehat? Jawabannya dimulai dari pori-pori, dengan cara memelihara pori-pori kulit agar tetap halus dan sehat menjauhkan kita dari banyak masalah kulit, ter-utama jerawat. Masalah kulit makin terasa di Indonesia yang beriklim tropis dengan suhu yang panas dan lembab serta udara kotor. Salah satu obat tradisional yang digunakan sebagai obat antijerawat adalah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dengan cara mengoleskan langsung cairan hasil irisan dari buahnya. Masyarakat menggunakan buah belimbing wuluh sebagai obat untuk mengatasi jerawat karena mengandung asam oksalat, kalium, riboflavin, niasin, asam askorbat, piridoksin, tiamin, karoten, kalsium, fosfor, besi dan natrium (1,2,3). Untuk mengatasi masalah jerawat dibutuhkan suatu sediaan yang mempunyai daya penetrasi yang baik dan waktu kontak yang cukup lama untuk mengurangi/mengobati jerawat, di antaranya adalah sediaan gel yang mempunyai kadar air yang tinggi sehingga dapat menghidrasi stratum corneum dan mengurangi resiko timbulnya peradangan lebih lanjut akibat menumpuknya minyak dalam pori-pori. Dari penelitian ini diharapkan dapat dibuat sediaan gel dari bahan dasar sari buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) sebagai gel 5

dengan variasi basis carbopol dan hidroksipropilmetilselulosa (HPMC). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan masalah bagaimana mengembangkan sari buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) agar menghasilkan formula gel yang memiliki kestabilan yang optimal. Maksud penelitian ini adalah untuk memformulasi gel dari sari buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dengan variasi dasar gel, dengan tujuan untuk menentukan formula gel sari buah belimbing wuluh yang stabil secara optimal. METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat yang digunakan antara lain alat pengering beku (freeze drier), gelas erlenmeyer 25 ml, 250 ml, dan 500 ml (Pyrex), gelas piala 50 ml dan 100 ml (Iwaki, Pyrex), gelas ukur 25 ml (Pyrex), lemari pendingin (Sharp), lumpang dan alu, pH meter, timbangan analitik (Chyo), dan Viscometer Brookfield. Bahan yang digunakan antara lain air suling, etanol, hidroksipropilmetilselulosa (HPMC), carbopol 934, trietanolamin (TEA), metil paraben, propilenglikol, dan buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.).

Majalah Farmasi dan Farmakologi , Vol. 15, No. 1 Maret 2011, hlm. 5 9

Pembuatan Sari Kering Sebanyak 6 buah belimbing wuluh berukuran sedang, yang setara dengan 29 g dibersihkan, kemudian diambil sarinya dengan juicer, dan diperoleh jus sebanyak 8,2 ml dengan berat 10,1 gram. Jus yang diperoleh dikeringbekukan dengan freeze drier, dan diperoleh ekstrak kering sebanyak 425 g. Rancangan Formula dan Pembuatan Sediaan Gel sari buah belimbing wuluh dibuat dengan variasi bahan pembentuk gel yaitu karbopol dan HPMC. Sebagai pelarut digunakan air suling, metil paraben sebagai pengawet, propilenglikol sebagai humektan. Komposisi selengkapnya dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rancangan Formula Gel Sari Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dengan basis karbopol dan HPMC Konsentrasi (% b/v) Nama bahan Formula I Sari belimbing wuluh HPMC Carbopol TEA Propilenglikol Metil Paraben Air suling 0,425% 0,35% 2% 10% 1,2% Ad 100% Formula II 0,425% 8% 10% 1,2% Ad 100%

kan selama 24 jam hingga gelembung hilang, lalu dilakukan pengukuran pH dan viskositas gel. Evaluasi Kestabilan Evaluasi kestabilan dari sediaan gel sari buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) biasanya dilakukan dalam kondisi dipaksakan (stressed condition) untuk mempercepat peruraian dan mengurangi waktu yang diperlukan untuk pengujian. Penyimpanan kondisi dipercepat dilakukan pada o suhu antara 5 dan 35 C masing-masing 12 jam selama 10 siklus (4,5). Pemeriksaan organoleptik sediaan gel Pemeriksaan organoleptik meliputi pemeriksaan perubahan warna, konsistensi dan bau dari formula sebelum dan sesudah penyimpanan kondisi dipercepat. Pengukuran viskositas sediaan gel Sebanyak 100 ml gel dimasukkan ke dalam gelas piala 250 ml kemudian viskositasnya diukur dengan Viscometer Brookfield yang dilengkapi dengan spindle no. 64 dengan kecepatan 50 rpm (putaran per menit) kemudian data yang diperoleh dicatat dan dianalisis secara statistik. Penentuan yield value sediaan gel Sebanyak 100 ml gel dimasukkan ke dalam gelas piala 250 ml kemudian yield valuenya diukur menggunakan Viscometer Brookfield yang dilengkapi dengan spindle nomor 64 dengan berbagai kecepatan yakni 5, 10, 20, 30, dan 50 rpm (putaran per menit). Data yang diperoleh dicatat dan dianalisis secara statistik. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini dibuat gel antijerawat dengan menggunakan bahan aktif ekstrak sari belimbing wuluh (Averrhoa blimbi L.) karena secara empiris belimbing wuluh dapat digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan jerawat dengan cara dihaluskan dan digosokkan pada wajah yang berjerawat. Sediaan gel dibuat dengan basis gel yang berbeda, yaitu karbopol dan hidroksipropilmetilselulosa (HPMC). Karbopol dipilih sebagai salah satu bahan dasar gel berdasarkan bentuk dan penampakan gel yang ingin diperoleh yakni gel satu fase dan bening atau transparan, karena berdasarkan literatur bahan dasar gel tersebut dari golongan bahan sintetik bila diformulasi akan membentuk gel satu fase yang jernih. Sedangkan hidroksipropilmetilselulosa (HPMC) merupakan dasar gel semisintetik turunan selulosa. Trietanolamin ditambahkan sebagai bahan penetral untuk karbopol yang bersifat asam karena

Formulasi gel dengan basis karbopol Karbopol didispersikan dalam air suling o yang telah dipanaskan hingga suhu 70 C di dalam lumpang, lalu digerus hingga terbentuk dispersi yang homogen. Propilenglikol dan TEA ditambahkan hingga terbentuk gel yang mengembang dan jernih. Ke dalam basis ditambahkan ekstrak belimbing wuluh yang telah ditambah dengan metilparaben dan telah dilarutkan dengan etanol. Pengadukan dihentikan dan gel disimpan dalam wadah tertutup. Gel didiamkan selama 24 jam hingga gelembung-gelembung hilang, kemudian dilakukan pengukuran pH dan viskositas gel. Formulasi gel dengan basis HPMC HPMC didispersikan dalam air suling yang telah dipanaskan hingga suhu 70 oC di dalam lumpang, lalu digerus hingga terbentuk dispersi yang homogen. Ke dalam basis ditambahkan propilenglikol, dan diaduk sampai homogen, selanjutnya ditambahkan ekstrak belimbing wuluh yang telah ditambah dengan metil paraben dan telah dilarutkan dengan etanol. Pengadukan dihentikan dan gel disimpan di dalam wadah tertutup. Gel didiam-

Nursiah Hasyim, Formulasi Gel Sari Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)

mengandung 56 86% asam karboksilat. Mekanisme kerjanya dengan mengionisasi gugus karboksil dari karbopol ketika terpapar oleh cahaya dan menyebabkan oksidasi yang diperlihatkan dengan penurunan viskositas dispersi karbopol (6). Trietanolamin juga berfungsi sebagai bahan penstabil dan pengembang dari karbopol dan mencegah rusaknya dispersi dari karbopol ketika terpapar oleh cahaya yang dapat menyebabkan gel menjadi keruh. Penambahan metil paraben dimaksudkan sebagai pengawet (7). Hal ini disebabkan karena penggunaan medium pendispersi air yang sangat rentan terhadap pertumbuhan mikroba. Sedangkan propilenglikol pada formula ini digunakan sebagai humektan (6). Evaluasi kestabilan sediaan gel sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat dilakukan untuk menentukan kestabilan secara fisik karena evaluasi tersebut merupakan salah satu parameter untuk mendeteksi ketidakstabilan dari sediaan gel. Evaluasi dilakukan dengan pada kondisi dipaksakan (stressed condition) untuk mempercepat peruraian dan mengurangi waktu yang diperlukan untuk pengujian. Sediaan gel diuji kestabilannya pada suhu 5 35 C selama 10 siklus dengan tiap siklus selama 12 jam. Evaluasi kestabilan meliputi pemeriksaan organoleptis, pengukuran viskositas dan yield value. Hasil pemeriksaan organoleptis menunjukkan bahwa kedua sediaan gel stabil secara fisik karena tidak mengalami perubahan warna, bau dan konsistensi, baik itu sebelum maupun setelah penyimpanan dipercepat. Salah satu indikator perubahan yang mengarah pada ketidakstabilan suatu sediaan adalah terjadinya perubahan warna dan bau sediaan. Pengamatan organoleptis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perubahan warna, bau dan konsistensi yang terjadi selama penyimpanan (8).

Dari pengukuran viskositas diperoleh data sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata yang dapat dijadikan parameter bahwa kedua sediaan gel stabil secara fisik. Pengukuran viskositas dengan Viscometer Brookfield dengan spindle 64 dan kecepatan 50 rpm sebanyak tiga kali replikasi sebelum penyimpanan dipercepat menghasilkan nilai pada formula I 86,733 poise dan pada formula II 115,400 poise. Sedangkan setelah penyimpanan dipercepat diperoleh hasil pada formula I adalah 82,133 poise dan pada formula II adalah 115,233 poise. Hasil analisis statistik terhadap nilai viskositas menunjukkan bahwa kedua formula berbeda sangat signifikan yang ditunjukkan oleh F hitung lebih besar dari Ftabel. Yield value adalah besarnya gaya atau tekanan geser yang harus dilampaui agar dapat mengalir. Yield value dan viskositas saling berhubungan karena semakin tinggi viskositas maka yield value semakin besar. Yield value pada formula I sebelum penyimpanan dipercepat adalah 53,064 dyne/cm 2 dan setelah penyimpanan dipercepat adalah 48,286 dyne/cm 2. Sedangkan pada formula II sebelum penyimpanan dipercepat adalah 4,693 dyne/cm 2 dan setelah penyimpanan 2 dipercepat adalah 9,400 dyne/cm . Analisis statistik menunjukkan bahwa kedua formula berbeda sangat signifikan yang ditunjukkan oleh F hitung lebih besar dari Ftabel. Kedua sediaan gel menunjukkan tipe aliran non-Newton yaitu aliran plastis karena tidak melalui titik (0,0) tapi memotong sumbu shearing stress pada suatu titik tertentu yang dikenal dengan sebagai yield value. Pada rheogram terlihat bahwa formula I memiliki kurva yang tidak terlalu berhimpit sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat sedangkan pada formula II memiliki kurva yang berhimpit sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat.

Tabel 2. Hasil Pengamatan Organoleptis Gel Sari Buah Belimbing (Averrhoa bilimbi L.) Penyimpanan Dipercepat Jenis Sediaan Formula I (Basis karbopol) Kondisi Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Jenis Pemeriksaan Bau

Sebelum dan Sesudah

Warna

Konsistensi

Kuning Kuning Kuning Kuning

Khas Khas Khas Khas

Halus, lunak Halus, lunak Halus, lunak Halus, lunak

Formula II (Basis HPMC)

Majalah Farmasi dan Farmakologi , Vol. 15, No. 1 Maret 2011, hlm. 5 9

Tabel 3. Hasil Pengukuran Rata-rata Viskositas (poise) Gel Sari Buah Belimbing (Averrhoa bilimbi L.) Sebelum dan Setelah Penyimpanan Dipercepat Formula Formula I (Basis karbopol) Formula II (Basis HPMC) Viskositas Rata-rata (poise) Sebelum 86,733 115,400 Sesudah 82,133 115,233

Tabel 4. Hasil Penentuan Rata-rata Yield Value (Dyne/cm detik) Gel Sari Buah Belimbing (Averrhoa bilimbi L.) Sebelum dan Setelah Penyimpanan Dipercepat Ulangan 1 Formula I (Basis karbopol) Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah 53,343 48,157 4,657 4,729 2 52,786 48,414 9,757 9,043

Jenis Sediaan

Kondisi

Formula II (Basis HPMC)

Formula I
80,000 70,000 Tekanan Geser 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 0,000 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
Sebelum Sesudah

Kecepatan Geser

Gambar 1. Rheogram Hubungan antara Kecepatan Geser dengan Tekanan Geser Gel Sari Buah Belimbing (Averrhoa bilimbi L.) pada Formula I (Basis Karbopol)

Formula II
120,000 100,000 Tekanan Geser 80,000 60,000 40,000 20,000 0,000 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
Sebelum Sesudah

Kecepatan Geser

Gambar 1. Rheogram Hubungan antara Kecepatan Geser dengan Tekanan Gel Sari Buah Belimbing (Averrhoa bilimbi L.) pada Formula II (Basis HPMC)

Nursiah Hasyim, Formulasi Gel Sari Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)

Berdasarkan pengamatan organoleptik, kedua formula tidak mengalami perubahan warna, bau dan konsistensi sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat. Berdasarkan parameter viskositas dan yield value, kedua formula tidak berbeda nyata sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat. Rheogram memperlihatkan bahwa formula I memiliki kurva yang tidak terlalu berhimpit dan formula II memiliki kurva yang yang berhimpit sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat, sehingga diperoleh hasil bahwa kedua formula gel

stabil, tapi formula II dengan dasar gel hidroksipropilmetilselulosa (HPMC) adalah yang paling stabil secara optimal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, gel dari sari buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dengan basis gel HPMC (hidroksi-propilmetilselulosa) memiliki kestabilan fisik paling optimal.

DAFTAR PUSTAKA 1. Asean countries, 1993, Standard of Asean Herbal Medicine, vol 2, Jakarta, 24-30. 2. Soedibyo, M., 1998, Alam sumber kesehatan, manfaat dan kegunaan, Balai Pustaka, Jakarta, 81. 3. Thomas, A.N.S, 1989, Tanaman Obat Tradisional, Yogyakarta. Kanisius. 4. Aulton, M.E, 1988, Pharmaceutics; The Science of Dosage Form Design, Chur-chill Livingstone, New York. 5. Banker, G.S., Rhodes, C.T., editor , 1990, Modern Pharmaceutics, 2nd ed, USA, Marcel Dekker. 6. Kibbe. A.H., 2000, Handbook of Pharmaceurd tical Excipient, 3 ed. American Pharmaceutical Press, USA. 7. Gennaro, A.R., 1990, Remingtons Pharmath ceutical Sciences, 18 ed., Mack Publishing Company, Easton, Penn-sylvania, 1305, 1539. 8. Lachman L., Lieberman H.A., Kaning J.L., 1986, The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, Lea and Febiger 600 Washington Square Philadelphia, USA.