Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRESENTASI KASUS

Corpal Gram

A. KASUS PASIEN I.

IDENTITAS PASIEN:
- Nama pasien - Umur - Jenis kelamin - Pendidikan - Pekerjaan - Agama - Suku/bangsa - Alamat

: Bp. Trismanto : 45 tahun : Laki-laki : SMA : Bekerja di bengkel : Islam : Jawa/Indonesia : Ploso Gede Ngluar, Magelang

II.1. ANAMNESIS :
- Keluhan Utama :

Pasien mengeluhkan mata kirinya terasa mengganjal.


- Keluhan Tambahan :

Mata kiri merah, pegal, terasa mengganjal terutama saat memejamkan mata.
- Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) :

5 hari yang lalu ketika di bengkel tempatnya bekerja pasien merasa mata kirinya kelilipan, kemudian terasa mengganjal terutama saat memejamkan mata/berkedip. Pegal (+), Pandangan kabur (-), nerocos (-). Keesokan harinya pasien berusaha mengambil kelilipan tersebut menggunakan kertas, namun masih terasa mengganjal. Belum diobati, sebelumnya pernah mengalami hal serupa dan sembuh.

II.2. KESAN :
- Kesadaran

: Compos Mentis

- Keadaan Umum : Baik - OD - OS

: Tampak tenang : Terasa mengganjal, pegal, merah

II.3. PEMERIKSAAN SUBYEKTIF PEMERIKSAAN Visus Jauh Refraksi Koreksi Visus Dekat Proyeksi Sinar Proyeksi Warna Emetrop Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan OD 20/20 Emetrop Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan OS 20/20

II.4. PEMERIKSAAN OBYEKTIF


2

PEMERIKSAAN
1. Sekitar mata (supersilia)

OD Kedudukan alis baik, jaringan parut (-)

OS Kedudukan alis baik, jaringan parut (-)

PENILAIAN

2. Kelopak mata

- Pasangan - Gerakan

Simetris Tidak ada gangguan gerak Ptosis (-), pseudoptosis (-) Hiperemis (-), tumor (-) Silia lengkap, trikiasis (-) Tanda peradangan (-)

Simetris Tidak ada gangguan gerak Ptosis (-), pseudoptosis (-) Hiperemis (-), tumor (-) Silia lengkap, trikiasis (-) Tanda peradangan (-)

- Lebar rima - Kulit

- Tepi kelopak - Margo intermarginalis

3. Apparatus Lakrimalis - Sekitar gland. lakrimalis Tanda radang (-) - Sekitar sakus lakrimalis - Uji flurosensi - Uji regurgitasi 4. Bola mata
- Pasangan - Gerakan

Tanda radang (-) Tanda radang (-) Tidak dilakukan (-)

Tanda radang (-) Tidak dilakukan (-)

Simetris Gangguan gerak (-)

Simetris Gangguan gerak (-) Makroftalmos (-) Mikroftalmos (-)

- Ukuran

Makroftalmos (-) Mikroftalmos (-)

5. TIO 6. Konjungtiva - Palpebra superior Forniks - Palpebra inferior Bulbi

Palpasi kenyal

Palpasi kenyal

Hiperemi (+) Hiperemi (+) Hiperemi (+) Injeksi siliar (+) Injeksi konjungtiva (+)

Hiperemi (-) Hiperemi (-) Hiperemi (-) Injeksi siliar (-) Injeksi konjungtiva (-)

7. Sclera 8. Kornea
- Ukuran - Kecembungan - Limbus

Tidak dapat dinilai Sklera ikterik (-)

11 mm horizontal Lebih cembung dari sclera Benjolan (-) Korpus alienum (-)

11 mm horizontal Lebih cembung dari sclera Benjolan (-) Korpus alienum (-) Licin Mengkilap

Ukuran normal 12 mm

- Permukaan

Tidak licin Tidak mengkilap

OD : tampak infiltrat berbentuk bulat, berwarna putih abu-abu pada kornea bagian sentral

- Medium

tampak keruh

Jernih

- Dinding Belakang - Uji flurosensi - Placido

Tidak dapat dinilai Jernih Tidak dilakukan Garis placido tidak terlihat pada kornea Tidak dilakukan Konsentris reguler

9. Kamera Okuli anterior


4

- Ukuran

Tidak dapat dinilai Dalam Keruh, Hipopion (+) Jernih

- Isi

10. Iris
- Warna - Pasangan

Coklat keruh

Coklat

Tidak dapat dinilai Simetris Tidak dapat dinilai Gambaran kripti baik, neovaskularisasi (-), deformitas (-) Tidak dapat dinilai Bulat

- Gambaran

OD : iris tidak dapat dinilai karena sebagian permukaan kornea tertutup oleh infiltrat, dan COA terisi oleh hipopion

Bentuk

11. Pupil
- Ukuran - Bentuk - Tempat

Tidak dapat dinilai 4 mm Tidak dapat dinilai bulat Tidak dapat dinilai Ditengah iris Tidak dapat dinilai Reguler Tidak dapat dinilai + Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai

Normal (3-6 mm) OD : pupil tidak dapat dinilai karena sebagian permukaan kornea tertutup oleh infiltrat, dan COA terisi oleh hipopion

- Tepi - Refleks direct - Refleks indrect 12. Lensa - Ada/tidak - Kejernihan - Letak - Warna kekeruhan 13. Korpus Vitreum

Tidak dapat dinilai Ada Tidak dapat dinilai Jernih Tidak dapat dinilai Di tengah belakang iris Tidak dapat dinilai Tidak ada Tidak dapat dinilai Jernih OD : lensa tidak dapat dinilai karena sebagian permukaan kornea tertutup oleh infiltrate

14. Refleks fundus

Tidak dapat dinilai (+) warna orange

II.5. KESIMPULAN PEMERIKSAAN OD OS

III. DIAGNOSIS
-

OD : Ulkus kornea OS : Emetrop, sehat

IV. TERAPI
-

Gentamisin 15 mg/ml 1-2 tetes setiap 2-4 jam, atau salep gentamisin 0,3% setiap 3-4 jam.

Kloramfenikol 1%, 1-2 tetes sebanyak 2-4 kali sehari. Atropin 1% 3 kali sehari. Siprofloksasin tablet 500 mg, 2 kali sehari.

V. PROGNOSIS
Visum (Visam)

: timbulnya sikatrik akan menyebabkan penurunan visus pada pasien ini

Kesembuhan (Sanam)

: Baik, namun membutuhkan waktu yang cukup lama

Jiwa (Vitam) Kosmetika (Kosmeticam)

: Baik : kurang baik

II. PEMBAHASAN

Pada kasus ini, pasien mengeluhkan bahwa mata kanannya sangat merah, bengkak, terasa pegal, perih, nrocos, silau, serta pandangannya kabur. Hal ini bermula dari adanya riwayat terkena lumpur pada tujuh hari sebelum kedatangan pasien ke poli mata. Dari pemeriksaan subjektif didapatkan penurunan visus yang sangat besar pada mata kanan (1/~) dimana visus mata kirinya 5/5 (emetrop). Sedangkan pada pemeriksaan subjektif, tampak kelopak mata kanan bengkak, dan terasa sakit untuk membuka mata. Konjungtiva mata kanan baik pada konjungtiva palpebra superior, forniks, dan palpebra inferior tampak hiperemi, serta terdapat injeksi siliar dan injeksi konjungtiva pada konjungtiva bulbi. Pada sentral permukaan kornea mata kanan terdapat infiltrat berwarna putih abu-abu sedangkan bagian permukaan kornea yang tidak tertutupi infiltrat tampak keruh. Selain itu terdapat hipopion di kamera okuli anterior. Iris, pupil, lensa, korpus vitreus, dan refleks fundus mata kanan tidak dapat dinilai karena terhalang oleh infiltrat pada permukaan kornea dan hipopion pada kamera okuli anterior. Dari anamnesis, pemeriksaan subjektif maupun objektif yang dilakukan, maka diagnosis bagi mata kanan (OD) pasien adalah ulkus kornea. Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea, yang ditandai dengan adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea

bergaung, dan diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Patofisiologi Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil, seperti pada pasien ini dimana defek yang terjadi terletak di sentral dari kornea dan dalam ukuran yang cukup besar, hingga pupil tidak dapat dinilai. Terjadi penurunan visus yang sangat tajam, dimana visus mata kanannya yang mengalami ulkus 1/~, sedangkan visus mata kirinya yang sehat 5/5. Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuklear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah ulkus kornea. Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit juga diperberat dengan adanya gesekan palpebra (terutama palbebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris.

Penyakit ini bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan parut. Infiltrat sel leukosit dan limfosit dapat dilihat pada proses progresif. Ulkus ini menyebar kedua arah yaitu melebar dan mendalam. Jika lesi sampai ke membran Bowman dan sebagian stroma maka akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan menyebabkan terjadinya sikatrik. Klasifikasi Terdapat beberapa jenis ulkus kornea. Berdasarkan lokasinya, dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea , yaitu: 1. Ulkus kornea sentral a. Ulkus kornea bakterialis b. Ulkus kornea fungi c. Ulkus kornea virus d. Ulkus kornea acanthamoeba 2. Ulkus kornea perifer a. Ulkus marginal b. Ulkus mooren (ulkus serpinginosa kronik/ulkus roden) c. Ulkus cincin (ring ulcer) Ulkus Kornea Sentral a. Ulkus Kornea Bakterialis Ulkus Streptokokus : Khas sebagai ulkus yang menjalar dari tepi ke arah tengah kornea (serpinginous). Ulkus bewarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram dengan tepi ulkus yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh streptokok pneumonia. Ulkus Stafilokokus : Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putik kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epitel. Apabila tidak diobati secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan

infiltrasi sel leukosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal. Ulkus Pseudomonas : Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral

kornea. ulkus sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea. Penyerbukan ke dalam dapat mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam. Gambaran berupa ulkus yang berwarna abu-abu dengan kotoran yang dikeluarkan berwarna kehijauan. Kadang-kadang bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapat terlihat hipopion yang banyak. Ulkus Pneumokokus : Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam. Tepi ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga memberikan gambaran karakteristik yang disebut Ulkus Serpen. Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel yang penuh dan berwarna kekuning-kuningan. Penyebaran ulkus sangat cepat dan sering terlihat ulkus yang menggaung dan di daerah ini terdapat banyak kuman. Ulkus ini selalu di temukan hipopion yang tidak selamanya sebanding dengan beratnya ulkus yang terlihat. Diagnosa lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis. b.. Ulkus Kornea Fungi Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari sampai beberapa minggu sesudah trauma yang dapat menimbulkan infeksi jamur ini. Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabu-abuan yang agak kering. Tepi lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti bulu pada bagian epitel yang baik. Terlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral sehingga terdapat satelit-satelit disekitarnya..Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak yang disebabkan bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan naik. Dapat terjadi neovaskularisasi akibat rangsangan radang. Terdapat injeksi siliar disertai hipopion. c. Ulkus Kornea Virus

10

Ulkus Kornea Herpes Zoster : Biasanya diawali rasa sakit pada kulit dengan perasaan lesu. Gejala ini timbul satu - tiga hari sebelum timbulnya gejala kulit. Pada mata ditemukan vesikel kulit dan edem palpebra, konjungtiva hiperemis, kornea keruh akibat terdapatnya infiltrat subepitel dan stroma. Infiltrat dapat berbentuk dendrit yang bentuknya berbeda dengan dendrit herpes simplex. Dendrit herpes zoster berwarna abu-abu kotor dengan fluoresin yang lemah. Kornea hipestesi tetapi dengan rasa sakit keadaan yang berat pada kornea biasanya disertai dengan infeksi sekunder. Ulkus Kornea Herpes simplex : Infeksi primer yang diberikan oleh virus herpes simplex dapat terjadi tanpa gejala klinik. Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda injeksi siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di permukaan epitel kornea disusul dengan bentuk dendrit atau bintang infiltrasi. Terdapat hipertesi pada kornea secara lokal kemudian menyeluruh. Terdapat pembesaran kelenjar preaurikel. Bentuk dendrit herpes simplex kecil, ulceratif, jelas diwarnai dengan fluoresin dengan benjolan diujungnya d. Ulkus Kornea Acanthamoeba Awal dirasakan sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya, kemerahan dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat perineural. Ulkus Kornea Perifer a. Ulkus Marginal Bentuk ulkus marginal dapat simpel atau cincin. Bentuk simpel berbentuk ulkus superfisial yang berwarna abu-abu dan terdapat pada infeksi stafilococcus, toksit atau alergi dan gangguan sistemik pada influenza disentri basilar gonokok arteritis nodosa, dan lain-lain. Yang berbentuk cincin atau multiple dan biasanya lateral. Ditemukan pada penderita leukemia akut, sistemik lupus eritromatosis dan lain-lain.

11

b. Ulkus Mooren Merupakan ulkus yang berjalan progresif dari perifer kornea kearah sentral. ulkus mooren terutama terdapat pada usia lanjut. Penyebabnya sampai sekarang belum diketahui. Banyak teori yang diajukan dan salah satu adalah teori hipersensitivitas tuberculosis, virus, alergi dan autoimun. Biasanya menyerang satu mata. Perasaan sakit sekali. Sering menyerang seluruh permukaan kornea dan kadang meninggalkan satu pulau yang sehat pada bagian yang sentral. c. Ring Ulcer Terlihat injeksi perikorneal sekitar limbus. Di kornea terdapat ulkus yang berbentuk melingkar dipinggir kornea, di dalam limbus, bisa dangkal atau dalam, kadang-kadang timbul perforasi.Ulkus marginal yang banyak kadang-kadang dapat menjadi satu menyerupai ring ulcer. Tetapi pada ring ulcer yang sebetulnya tak ada hubungan dengan konjungtivitis kataral. Perjalanan penyakitnya menahun. Gejala klinis pada ulkus kornea secara umum dapat berupa : Gejala Subjektif Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva Sekret mukopurulen Merasa ada benda asing di mata Pandangan kabur Mata berair Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus Silau Nyeri Gejala Objektif Injeksi siliar Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltrat Hipopion

12

Seperti halnya pada kasus ini, gejala-gejala baik subjektif maupun objektif diatas dapat ditemukan pada pasien ini. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea, sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing, abrasi, adanya riwayat penyakit kornea yang bermanfaat, misalnya keratitis akibat infeksi virus herpes simplek yang sering kambuh. Hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian obat topikal oleh pasien seperti kortikosteroid yang merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, virus terutama keratitis herpes simplek. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit sistemik seperti diabetes, AIDS, keganasan, selain oleh terapi imunosupresi khusus. Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala obyektif berupa adanya injeksi siliar, kornea edema, terdapat infiltrat, hilangnya jaringan kornea. Pada kasus berat dapat terjadi iritis yang disertai dengan hipopion. Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti : Ketajaman penglihatan Tes refraksi Tes air mata Pemeriksaan slit-lamp Keratometri (pengukuran kornea) Respon reflek pupil Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi. Goresan ulkus untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau KOH) Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan pada ulkus kornea tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik, anti virus, anti jamur, sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan dengan steroid. Sikloplegik

13

Untuk sikloplegik kebanyakan digunakan sulfas atropin karena bekerja lama 1-2 minggu. Efek kerja sulfas atropin : Sedatif, menghilangkan rasa sakit. Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang. Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil. Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodsi sehingga mata dalan keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi midriasis sehinggga sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas dan mencegah pembentukan sinekia posterior yang baru. Antibiotik Digunakan antibiotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum luas. Untuk itu, dapat digunakan antibiotik golongan aminoglikosida (yang efektif terhadap bakteri Gram negatif) dikombinasikan dengan antibiotik sephalosporin generasi pertama yang efektif terhadap bakteri Gram positif. Namun, pengobatan yang diberikan pun harus disesuaikan dengan kemampuan financial pasien. Anti jamur Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat komersial yang tersedia berdasarkan jenis keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi : 1. Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya : dengan topikal amphotericin B 1, 2, 5 mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml, Natamycin > 10 mg/ml, golongan Imidazole 2. 3. 4. Jamur berfilamen : dengan topikal amphotericin B, thiomerosal, Natamicin, Imidazol Ragi (yeast) : dengan amphotericin B, Natamicin, Imidazol Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa, berbagai jenis anti biotik. Anti Viral

14

Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan streroid untuk mengurangi gejala, sikloplegik, antibiotik spektrum luas untuk infeksi sekunder, dan analgetik bila terdapat indikasi. Untuk herpes simplex diberikan pengobatan IDU, ARA-A, PAA, interferon inducer.

Keratoplasti Keratoplasti adalah jalan terakhir jika urutan penatalaksanaan medikamentosa tidak berhasil. Indikasi keratoplasti bila terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan, kekeruhan kornea yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria yaitu : 1. Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita 2. Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita. 3. Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia. Prognosis Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan ada tidaknya komplikasi yang timbul. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea bersifat avaskular. Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya mendapat pertolongan serta timbulnya komplikasi, maka prognosisnya menjadi lebih buruk. Penyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi ketaatan penggunaan obat. Dalam hal ini, apabila tidak ada ketaatan penggunaan obat terjadi pada penggunaan antibiotika maka dapat menimbulkan resistensi. Ulkus kornea harus membaik setiap harinya dan harus disembuhkan dengan pemberian terapi yang tepat. Ulkus kornea dapat sembuh dengan dua metode; migrasi sekeliling sel epitel yang dilanjutkan dengan mitosis sel dan pembentukan pembuluh

15

darah dari konjungtiva. Ulkus superfisial yang kecil dapat sembuh dengan cepat melalui metode yang pertama, tetapi pada ulkus yang besar, perlu adanya suplai darah agar leukosit dan fibroblas dapat membentuk jaringan granulasi dan kemudian sikatrik. Seperti pasien pada kasus ini, prognosis bagi visam dan kosmeticamnya kurang baik oleh karena kemungkinan adanya sikatrik yang dapat mengganggu ketajaman penglihatan (visus) dan tampak kurang bagus secara kosmetik, serta dibutuhkan waktu yang cukup lama dalam penyembuhannya.
III. DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2007. Ulkus Kornea. Diakses dari www.medicastore.com pada tanggal 01 Maret 2010.

Ilyas, Sidarta. (2005). Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Jakarta : Fakultas Kedokteran UI

James, Bruce., Chew, Chris., dan Bron, Anthony. (2003). Lecture Notes Oftalmologi. Edisi kesembilan. Jakarta : Erlangga

Mills, John Trevor. 2009. Corneal Ulceration and Ulcerative Keratitis. Diakses dari www.emedicine.medscape.com pada tanggal 01 Maret 2010.

Vaughan, Daniel. G., Asbury, Taylor., dan Riordan-Eva, paul. (2000). Oftalmologi Umum. Edisi keempat belas. Jakarta : Widya Medika

16

Anda mungkin juga menyukai