Anda di halaman 1dari 42

TUGAS TEORI KOMUNIKASI

Memahami Teori Komunikasi: Pendekatan, Pengertian, Kerangka Analisis dan Perspektif

Disusun:

Disusun: Kelompok 3 (Ganjil) 1. Deby Nurwijayanti 2. Arnita Amnestika 3. Gamma Anggraeni Indri A 4. Wita Nurfitri 5. Haudia Uzna 6. Novia Rizky Mulyani
7.

(F1C006087) (F1C012001) (F1C012005) (F1C012027) (F1C012041) (F1C012043) (F1C012071)

Wira Surya Dhini Januarizki

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PURWOKERTO 2013
Memahami Teori Komunikasi: Pendekatan, Pengertian, Kerangka Analisis dan Perspektif

Pendahuluan Ilmu komunikasi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner. Disebut demikian karena pendekatan-pendekatan yang di pergunakan berasal dari dan menyangkut berbagai bidang keilmuan(disiplin) lainnya seperti linguistic, sosiologi, psikologi, antropologi, politik, dan ekonomi. Sifat kemultidisplinan ini tidak dapat dihindari karena objek pengamatan dalam ilmu komunikasi sangat luas dan kompleks, menyangkut berbagai aspek sosial, budaya, ekonomi, dan politik dari kehidupan manusia.

1. Pendekatan-pendekatan dalam keilmuan Pendekatan-pendekatan merupakan kerangka dasar dari berbagai teori dan model yang ada dalam ilmu komunikasi. Menurut Littlejohn dalam bukunya Theories of Human Communication yang diterbitkan tahun 1989, secara umum dunia masyarakat ilmiah menurut cara pandang serta objek pokok pengamatannya dapat dibagi dalam 3 kelompok atau aliran pendekatan. Ketiga kelompok pendekatan tersebut adalah: 1. Aliran pendekatan scientific Umumnya berlaku dikalangan para ahli-ahli ilmu eksakta seperti fisika, biologi, kedokteran, matematika, dan lain-lain. Menurut pandangan ini, ilmu diasosiasikan dengan objektivitas. Objektivitas yang dimaksudkan adalah objektifitas yang menekankan prinsip standardisasi, observasi, dan konsistensi. Salah satu bentuk metode penilitiannya adalah metode eksperimen. Melalui metode ini si peniliti sengaja melakukan percobaan terhadap objek yang ditelitinya. Tujuan penelitian lazimnya di

gunakan untuk mengukur ada tidaknya pengaruh atau hubungan sebab akibat diantara dua variable atau lebih, dengan mengontrol dari variable lain. Contoh: lima ekor tikus diberikan suntikan x, sementara lima ekor tikus lainnya tidak. Selama kurun waktu tertentu, dibandingkan ada tidaknya perubahan dan perbedaan diantara kedua variable kelompok tikus tersebut. Apabila terdapat perbedaan, dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan terjadi karena pengaruh dari suntikan x tsb. 2. Aliran Pendekatan Humanistic Aliran ini mengasosiasikan ilmu dengan prinsip subyektivitas. Dalam konteks ilmu sosial metode yang lazim digunakan dalam dalam aliran ini adalah partisipasi observasi melalui metode ini peneliti dalam mengamati sikap dan perilaku dari orang orang yang ditelitinya, membaur dan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan orang orang yang ditelitinya. Misalnya: bergaul tinggal di rumah orang orang tertentu dalam kurun waktu tertentu. Interpretasi atas sikap dan perilaku dari orang orang yang ditelitinya tidak hanya didasarkan atas informasi yang diperoleh melalui hasil wawancara atau Tanya jawab dari orang orang yang ditelitinya melainkan atas dasar pengamatan secara langsung dan pengalaman berinteraksi dengan mereka. Karena sifatnya yang subjektif dan interpretative, maka pendektan humanistic ini lazimnya cocok diterapkan untuk mengkaji persoalan-persoalan yang menyangkut system nilai, kesenian, kebudayaan, sejarah, dan pengalaman pribadi. 3. Pendekatan khusus ilmu Pengetahuan Sosial (Sosial Science) Pendekatan yang diterapkan oleh para pendukung aliran ini pada dasarnya merupakan gabungan atau kombinasi dari pendekatan-pendekatan aliran scientific dan humanistic. Dipergunakannya dua pendekatan yaitu scientific dan humanistic yang masing-masing berbeda prinsip ini, adalah karena yang menjadi objek studi dalam ilmu pengetahuan sosial adalah kehidupan manusia.

Untuk memahami tingkah laku manusia diperlukan pengamatan yang cermat dan akurat. Untuk ini jelas bahwa pengamatan harus dilakukan seobjectif mungkin agar hasilnya dapat berlaku umum dan tidak berlaku khusus. Disamping factor objektifitas, ilmu pengetahuan sosial juga mengutamakan factor penjelasan dan interpretasi. Hal ini disebabkan oleh manusia yang jadi objek pengamatan adalah makhluk yang aktif, memiliki daya pikir, berpengetahuan, memegang prinsip, dan nilai-nilai tertentu, serta sikap dan tidakannya dapat berubah sewaktu-waktu. Interpretasi atau penjelasan juga diperlukan karena meskipun berdasarkan ciri-ciri biologis, sosial, atau cirri-ciri lainnya manusia dapat dibagi dalam beberapa kelompok dalam kategori tertentu , tidak berarti bahwa masing-masing baik secara individual ataupun kelompok akan mempunyai persamaan dalam hal sikap dan perilakunya. Contoh: 3 orang (A, B, C) memiliki beberapa karakteristik individual yang sama, yakni semuanya wanita, semuanya bekerja sebagai guru sekolah dasar, dan semuanya berpendidikan tamatan SLTA. Namun demikian, ketiga orang tersebut boleh jadi masing-masing mempunyai perbedaan satu sama lainnya mengenai sikap dan perilakunya tentang suatu hal.

Pendekatan ilmu pengetahuan sosial ini kemudian secar umum terbagi menjadi dua kubu, yaitu ilmu pengetahuan tingkah laku (Behavioral Science) dan ilmu pengetahuan sosial (Sosial Science). Kubu pertama menekankan kajiannya terhadap tingkah laku individual manusia sedangkan kubu kedua pada interaksi antarmanusia. Perbedaan antara kedua kubu tersebut pada dasarnya hanya menyangkut aspek permasalahan yang diamati, sementara metode pengamatannya relatif sama. Bidang Kajian ilmu komunikasi sebagai salah satu ilmu pengetahuan sosial, pada dasarnya difokuskan pada pemahaman tentang bagaimana tingkah laku manusia dalam menciptakan , mempertukarkan dan menginterpretasikan pesan-pesan untuk tujuan tertentu.

Namun dengan adanya dua pendekatan yaitu scientific dan humanistic, yang diterapkan muncul dua kelompok masyarakat ilmuwan komunikasi yang yang berbeda baik secara spesifikasi objek permasalahan yang diamatinya, maupun dalam hal aspek metodologis serta teori-teori dan model-model yang dihasilkannya. Kalangan ilmuwan komunikasi yang mendalami bidang studi speech communication (komunikasi ujaran) umumnya banyak menerapkan metode aliran humanistic. Teori-teori yang dihasilkannya pun lazim di sebut sebagai teori retorika. Sementara itu para ahli ilmu komunikasi yang meneliti bidang studi lainnya seperti komunikasi antar pribadi, komunikasi dalam kelompok, komunikasi organisasi, komunikasi masa dll umumnya banyak menerpakan metode-metode scientific.

II. Pengertian tentang Ilmu dan Teori dalam Komunikasi A. Definisi Ilmu Terdapat banyak definisi mengensi ilmu yang dirumuskan para ahli. Masing-masing mempunyai penekanan arti yang berbeda satu sama lain. Empat diantaranya adalah sebagai berikut:

Ilmu adalah Pengetahuan yang bersifat umum dan sistematik, pengetahuan dari mana dapat disimpilkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah umum (Nazir 1988).

Konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup 3 hal: adanya rasionalitas, dapat di generalisasi, dan dapat di sistematisasi (Shapere, 1974).

Pengertian Ilmu mencakup logika, adanya interpretasi subjektif, dan konsistensi dengan realitas sosial (Alfred Schutz, 1962).

Ilmu tidak hanya merupakan suatu pengetahuan yang terhimpun secara sistematis, tetapi juga merupakan suatu metedologi (Tan, 1954).

Dapat ditarik kesimpulan bahwa Ilmu pada dasarnya adalah Pengetahuan tentang suatu hal, baik yang menyangkut alam (natural), atau sosial (kehidupan masyarakat), yang diperoleh manusia melalui proses berpikir.

B. Pengertian Ilmu Komunikasi Menurut Berger dan Chaffe dalam buku mereka Handbook of Communication Science (1987) , ilmu komunikasi adalah Suatu Pengamatan terhadap produksi, proses dan pengaruh dari system-sistem tanda dan lambing melalui pengembangan teori-teori yang dapay diuji dan di generalisasikan dengan tujuan menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses, dan pengaruh dari system-sistem tanda dan lambang.

Pengertian Ilmu Komunikasi yang dijelaskan oleh Berger dan Chaffe tersebut memberikan 3 (tiga) pokok pikiran: 1. Objek pengamatan yang menjadi fokus perhatian dalam ilmu komunikasi adalah produksi, proses dan pengaruh dari system-sistem tanda dan lambang dalam konteks kehidupan manusia. 2. Ilmu Komunikasi bersifat ilmiah-empiris (scientific) dalam arti pokok-pokok pikiran dalam ilmu komunikasi (dalam bentuk teori-teori) harus berlaku umum. 3. Ilmu komunikasi bertujuan menjelaskan fenomena sosial yang berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda lambang.

C. Pengertian Teori dalam Komunikasi Teori pada dasarnya merupakan konseptualisasi atau penjelasan logis dan empiris mengenai suatu fenomena. Teori memiliki 2 (dua) ciri umum: 1. Semua Teori adalah abstraksi tetang suatu hal. Dengan demikian teori sifatnya terbatas. Contoh: Teori tentang radio kemungkinan besar tidak dapat digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang menyangkut televisi. 2. Semua teori adalah konstruksi ciptaan individual manusia. Oleh sebab itu sifatnya relative dalam arti tergantung pada cara pandang si pencipta teori, sifat dan aspek hal yang diamati, serta kondisi-kondisi lain yang mengikat sseperti waktu, tempat,dan lingkungan disekitarnya.

Berdasarkan uraian diatas, secara sederhana dapat dikatakan bahwa teori komunikasi pada dasarnya merupakan konseptualisasi atau penjelasan logis tentang suatu fenomena peristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia. Peristiwa yang dimaksud mencakup produksi, proses, dan pengaruh dari system-sistem tanda dan lambang yang terjadi dalam kehidupan manusia.

D. Penjelasan dalam Teori Penjelasan dalam teori tidak hanya menyangkut penyebutan nama dan pendefinisian variable-variabel, tetapi juga mengidentifikasikan keberaturan hubungan diantara variable. Menurut Littlejohn (1987), penjelasan dalam teori berdasarkan pada prinsip keperluan yakni suatu penjelasan yang menerapkan variabel-variabelapa yang kemungkinan diperlukan untuk menghasilkan sesuatu. Contoh: Untuk menghasilkan x, barangkali diperlukan adanya y dan z.

E. Sifat, Tujuan, dan Fungsi Teori Sifat dan Tujuan teori menurut Abraham Kaplan (1964), adalah bukan semata untuk menemukan fakta yang tersembunyi, tetapi juga suatu cara untuk melihat fakta, mengorganisasikan, serta merepresentasikan fakta tersebut. Dengan demikian teori yang baik adalah teori yang sesuai dengan realitas kehidupan. Teori juga mempunyai fungsi. Menurut Littlejohn, Fungsi teori ada 9 (Sembilan) yaitu: 1. Mengorganisasikan dan menyimpulkan pengetahuan tentang suatu hal . Ini berarti bahwa dalam mengamati realitas kita tidak boleh melakukannya secara sepotong-sepotong. Kita perlu mengorganiasasi dan mengintensitaskan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan dunia. Pola-pola dan hubungan-hubungan harus dapat dicari dan ditemukan. Pengetahuan kita mengenai pola-pola dan hubungan-hubungan ini kemudian diorganisasikan dan disimpulkan. Hasilnya berupa teori akan dipakai sebagai rujukan atau dasar bagi upaya-upaya berikutnya.

2. Memfokuskan. Artinya hal-hal atau aspek-aspek dari suatu objek yang diamati harus jelas fokusnya. Teori pada dasarnya menejlaskan tentang suatu hal, bukan banyak hal.

3.

Menjelaskan. Maksudnya adalah bahwa teori harus mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamatinya. Penjelasan ini tidak hanya berguna untukmemahami pola-pola, hubungan-hubungan, tetapi juga untuk menginterpretasikan peristiwa-peristiwa tertentu.

4. Pengamatan. Menunjukkan bahwa teori tidak hanya menjelaskan tentang apa yang sebaiknya diamati melainkan juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengamatinya.

5. Membuat Prediksi. Meskipun kejadian yang diamati berlaku pada masa lalu, namun berdasarkan data dan hasil pengamatan ini harus dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang akan terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga tercermindalam kehidupan masa sekarang.

6. Fungsi Heuristik dan Heurisme. Aksioma umum menyebutkan bahwa teori yang baik adalah teori yang mampu merangsang penelitian.

7. Komunikasi. Menunjukkan bahwa teori seharusnya tidak menjadi monopoli si penciptanya. Teori harus dipublikasikan, didiskusikan dan terbuka terhadap kritikankritikan.

8. Fungsi Kontrol, Bersifat Normatif. Hal ini dikarenakan asumsi-asumsi teori dapat kemudian berkembang menjadi norma-norma atau nilai-nilai yang dipegang dalam kehidupan sehari-hari.

9. Generatif. Fungsi ini terutama sekali menonjol dikalangan pendukung tradisi/aliran pendekatan interpretative dan teori kritis. Menurut pandangan aliran ini, teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan cultural, serta sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.

F. Pengembangan Teori Proses Pengembangan atau Pembentukan teori umumnya mengikuti model pendekatan pendektan ini, biasa disebut hypotetice-deducative method (metode hipotetis-deduktif), proses pengembangan teori melibatkan empat tahap sebagai berikut: 1. Developing Question (mengembangkan pertanyaan)

Forming Hypotesis (Membentuk eksperimental yang lazim di pergunakan dalam ilmu pengetahauan alam. Menurut 2. hipotesis) 3. Testing the hypothesis (menguji hipotesis) 4. Formulating theory (memformulasikan teori)

Komponen konseptual dan Jenis-Jenis Teori Komunikasi


Komponen Konseptual Komunikasi Frank E.X. Dance (1976), seorang sarjana Amerika yang menekuni bidang komunikasi, menginventarisasi 126 definisi komunikasi yang berbeda-beda satu sama lainnya. Dari definisi definisi ia menemukan adanya 15 komponen konseptual pokok. Berikut adalah gambaran mengenai kelima belas komponen tersebut disertai dengan contoh-contoh definisinya. 1. Simbol simbol / verbal / ujaran Komunikasi adalah pertukaran pikiran atau gagasan secara verbal (Hoben, 19540 2. Pengertian /pemahaman Komunikaai adalah suatu proses dengan mana kita bisa memahami dan dipahami oleh orang lain. Komunikasi merupakan proses yang dinamis dan secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku. (Anderson, 1959) 3. Interaksi / hubungan / proses social interaksi,juga dalam tingkatan biologis, adalah salah satu perwujudan komunikasi, karena tanpakomunikasi tindakan-tindakan kebersamaan tidak akan terjadi. (Mead, 1963) 4. Pengurangan rasa ketidakpastian Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego. (Barnlund, 1964) 5. Proses

Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian , dan lainlain melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka, dan lain-lain. (berelson dan Steiner, 1964) 6. Pengalihan / penyampaian/ peertukaran Penggunaan kata komunikasi tampaknya menunjuk kepada adanya sesuatuyang dialihkandari suatu benda atau orang ke benda atau orang lainnya. Kata komunikasi kadang-kadang menunjuk kepada apayang dialihkan, lat apa yang dipakaisebagai saluran pengalihan, atau menunjuk kepada keseluruhan proses upaya pengalihan. Dalam banyak kasus apa yang dialihkan itu kemudian menjadi milik atau bagian bersama. Oleh karena itu komunikasi juga menuntut adanya partisipasi. (Ayer, 1957) 7. Menghubungkan / menggabungkan komunikasi adalah suatu proses yang menghubungkan kehidupandenganbagian lainnya. (Ruesch, 1957) satu bagian dalam

8. Kebersamaan komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari yang semula dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih. (Gode, 1959) 9. Saluran / alat / jalur komunikasi adalah alat pengiriman pesan-pesan kemiliteran perintah/order, dan lainlain,seperti telegraf, telepon, radio, kurir, dan lain-lain (American College Dictionary) 10. Replikasi memori komunikasi adalah proses yang mengarahkan perhatian seseorang dengan tujuan mereplikasi memori. (Cartier dan Harwood, 1953) 11. Tanggapan diskriminatif komunikasi adalah tanggapan diskriminatif dari suatu organism terhadap suatu stimulus. (Stevens, 1950) 12. Stimuli Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai penyampaian informasi yang berisikan stimuli diskriminatif, dari suatu sumber terhadap penerima. (Newcomb, 1966) 13. Tujuan / kesengajaan

komunikasi pada dasarnya penyampaian pesan yang sengaja dari sumber terhadap penerima dengan tujuan memengaruhi tingkah laku pihak penerima. (Miller, 1966) 14. waktu / situasi Proses komunikasi merupakan suatu transisi dari suatu keseluruhan struktur situasi ke situasi yang lain sesuai pola yang diinginkan. (Sondel, 1956) 15. Kekuasaan / kekuatan komunikasi adalah suatu mekanisme yang menimbulkan kekuatan / kekuasaan. (Schater, 1951)

Jenis jenis teori Komunikasi Menurut Littlejohn (1989), berdasarkan metode penjelasan serta cakupan objek pengamatannya, secara umum teori-teori komunikasi dapat dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok teori-teori umum (general theories). Kelompok kedua adalah teori-teori kontekstual (contextual theories). Teori-teori umum 1. Teori-teori fungsional dan Struktural Ciri dari jenis teori ini adalah adanya kepercayaan atau pandangan tentang berfungsinya secara nyata struktur yang berada diluar diri pengamat. Menurut pandangan ini, seorang pengamat adalah bagian dari struktur. Oleh karena itu cara pandangnya juga akan dipengaruhi oleh struktur yang berada di luar dirinya. Pendekatan strukturalisme yang berasal dari linguistik, menekankan pengkajiannya pada hal-hal yang menyangkut pengorganisasian bahasa dalam sistem sosial. Pendekatan fungsionalisme yang bersal dari biologi, menekankan pengkajiannya tentang cara-cara mengorganisasikan dan mempertahankan sistem.

Persamaan karakteristik teori fungsional dan struktural a. baik pendekatan strukturalisme ataupun pendekatan fungsionalisme, dua-duanya sama-sama lebih mementingkan synchrony (stabilitas dalam kurun waktu tertentu). b. mempunyai kecenderungan memusatkan perhatian pada akibat-akibat yang diinginkan (unintended consequence) daripada hasil-hasil yang sesuai tujuan. c.mempunyai kepercayaan bahwa realitas itu pada dasarnya objektif dan independent (bebas). Oleh karena itu pengetahuan menurut pandangan ini dapat ditemukan melalui metode pengamatan (observasi) empiris yang cermat. d. bersifat dualistis, karena kedua teori ini memisahkan bahasa dan lambang dari pemikiranpemikiran dan objek-objek yang disimbolkan dalam komunikasi.

e. memegang prinsip the correspondence theory of truht (teori kebenaran yang sesuai). Menurut teori ini bahasa harus sesuai dengan realitas. Simbol-simbol harus mempresentasikan sesuatu secara akurat. 2. Teori-Teori Behavioral dan Cognitive Teori-teori behavioral dan kognitif yang berkembang dari psikologis cenderung memusatkan pengamatannya pada diri manusia secara indivisual. Salah satu konsep pemikirannya yang terkenal adalah tentang model S-R (stimulus response) yang menggambarkan proses informasi antara rangsangan dan tanggapan. Teori ini mengutamakan analisis variabel. Analisis ini pada dasarnya merupakan upaya mengindentifikasikan variabelvariabel kognitif yang dianggap penting, serta mencari hubungan korelasi di antara variabel. Analisis ini juga menguraikan tentang cara-cara bagaimana variabel-variabel proses kognitif dan informasi menyebabkan atau menghasilnkan tingkah laku tertentu. Komunikasi menurut pandangna teori ini dianggap sebagai manifestasi dari tingkah laku, prose berpikir, dan fungsi bio-neutral dari individu. Oleh karenanya variabel-variabel penentu yang memegan peranan penting terhadap sarana kognisi seseorang (termasuk bahasa) biasanya berada di luar kontrol dan kesadaran orang tersebut. 3. Teori-teori Konvensional dan Interaksional Berpandangan bahwa kehidupan sosial merupakan suatu proses interaksi yang membangun, memlihara serta mengubah kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam hal ini bahasa dan simbol-simbol. Komunikasi menurut teori ini dianggap sebagai alat perekat masyarakat. Kelompok teori ini berkembang dari aliran pendekatan interaksionisme simbolis sosiologi dan filsafat bahasa ordiner. Menurut teori-teori interaksional dan konvesional, makna pada dasarnya merupakan kebiasan-kebiasaan yang diperoleh melalui interaksi. Maka, makna dapat berubah dari waktu ke waktu, dari konteks ke konteks, serta dari satu kelopmok sosial ke kelompok sosial lainnya. Dengan demikian sifat objektivitas dari makna adalah relatif dan kontemporer. 4. Teori-teori kritis dan interpretif Ada dua karakteristik umum dari teori kritis dan interpretif. Pertama, penekanan terhadap subjektivitas yang didasarkan pada pengalaman indivisual. Kedua, makna atau meaning centered atau dasar pemahaman makna. Terdapat pula perbedaan yang mendasar antara teori-teori tersebut. Pendekatan teori interpretif cenderung menghindarkan sifat-sifat preskriptif dan keputusan keputusan absolut tentang fenomena yang diamati. Pengamtan menurut teori interpretif hanyalah sesuatu yang bersifat tentatif atau relatif. Sementara teori kritis lazimnya cenderung menggunakan keputusankeputusan yang absolut, preskriptif dan juga politis sifatnya.

Teori-teori Kontekstual

1. Komunikasi intra-pribadi adalah proses komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang. Pusat perhatiannya adalah bagaimana jalannya proses pengolahan informasi dalam diri seseorang melalui sistem syaraf dan inderanya. Teori-teori komunikasi intra-pribadi umumnya membahas mengenai proses pemahaman, ingatan, dan interpretasi terhadap simbol-simbol yang ditangkap melalui panca indera. 2. Komunikasi antar-pribadi adalah komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi baik yang terjadi secara langsung ataupun tidak langsung. Contohnya percakapan tatap muka, percakapan lewat telepon dan surat menyurat pribadi. Teori komunikasi antar-pribadi memfokuskan pengamatannya pada bentuk-bentuk dan sifat hubungan, percakapan, iteraksi, dan karakteristik komunikator. 3. Komunikasi kelompok memfokuskan pembahasannya pada interaksi di antara orang-orang dalam kelompok kecil. Komunikasi kelompok juga melibatkan komunikaasi antar-pribadi. Teori komunikasi kelompok membahas tentang dinamika kelompok, efisiensi, dan efektivitas penyampaian informasi dalam kelopmpok, pola dan bentuk interaksi, serta pembuatan keputusan. 4. Komunikasi organisasi Menunjuk pada pola dan bentuk komunikasi yang terjadi dalam konteks dan jaringan organisasi. Komunikasi organisasi melibatkan bentuk-bentuk komunikasi formal dan informal, serta bentuk-bentuk komunikasi antar-pribadi dan komunikasi kelompok. Pembahsan teori komunikasi organisasi antara lain menyangkut struktur dan fungsi organisasi, hubungan antar manusia, komunikasi dan proses pengorganisasian, serta kebudayaan organisasi. 5. Komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang besar. Proses komunikasi massa melibatkan aspek-aspek komunikasi intra-pribadi, komunikasi antar-pribadi, komunikasi kelompok, dan komunikasi morganisasi. Teori-teori komunikasi massa umumnya memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang menyangkut struktur media, hubungan media dan masyarakat, serta dampak atau hasil komunikasi massa terhadap individu.

Empat Perspektif dalam Ilmu Komunikasi

1. Covering Laws Theories Pada dasarnya pemikiran covering laws theories berangkat dari prinsip sebabakibat atau hubungan kausal. Rumusan umum dari prinsip ini antara lain dicerminkan dalam pernyataan-pernyataan hipotesis yang berbunyi: Jika A makaB . Pemikiran covering laws model ini diperkenalkan oleh oleh Dray. Menurut Dray, penjelasan-penjelasan covering laws theories didasarkanpada asas. Pertama,bahwa teori berisikan penjelasan-penjelasan yang berdasarkan pada keberlakuan umum/ hukum umum. Kedua,bahwa penjelasan teori berdasarkan analisis keberaturan. 2. Deductive-Nomological (D-N) Penjelasan yang berprinsipkan D-N ini dibagi dalam dua objek bagian: Objek penjelasan Subjek penjelasan

3. Deductive- Statistical Hukum D-S ini berdasarkan prinsip probabilitas dalam statistic, formula pernyataan D-S adalah sebagai berikut : P (X,Y = R) Formula P(X,Y=R) menunjukkan bahwa proporsi X bersama Y bisa sama dengan R 4. Inductive Statistical Hukum I-S ini juga berdasarkan prinsip probabilitas statistic dalam hukum I-S ini subjek penjelasan (explanans) dijadikan pendukung inductive untuk menerangkan objek penjelasan. 5. Rules Theory Pemikiran rules theory berdasarkan prinsip praktis.bahwa manusia aktif memilih dan mengubah aturan-aturan yang menyangkut kehidupanya. Rules theory mempunyai dua cirri penting a. Aturan pada dasarnya merefleksikan fungsi-fungsi perilakudan kognitif yang kompleks dari kehidupan manusia b. Aturan menunjukkan sifat-sifat keberaturan yang berbeda dari keberaturan sebab akibat.

Penerapan Rules theory dalam komunikasi pribadi Menekankan bahwa tingkah laku orang merupakan hasilatau dari penerapanaturan yang disepakati bersama. Dalam hal ini ada empat proposisi yang diajukan a. Tindakan-tindakan yang bersifat gabungan, merupakan cirri-ciri dari perilaku manusia. kombinasi dan asosiasi

b. Tindakan-tindakan diatas, disampaikan melalui pertukaran informasi simbolis. c. Penyampaian informasi simbolis menuntutadanya interaksi antar sumber pesan dan penerima yang sesuai dengan aturan-aturan komunikasi yang disepakati. d. Aturan-aturan komunikasi ini mencakup pola-polaumumdan khusus. 6. System Theory Secara umum pemikiran dasar pendekatan system mempunyai empat cirri pokok a. System adalah suatu keseluruhan yang terdiri bagian-bagian, elemen-elemen, unsure-unsur yang amsing-masing mempunyai karakteristiknya tersendiri. b. System berada secara tetap dalam lingkungan yang berubah. c. System hadir sebagai reaksi atas lingkungan. d. System merupakan koordinasi dari hierarki. Dilihat dari metode dan logika penejelasanya terdapat empat perspektif yang mendasari penegmbangan teori komunikasi. Perspektif tersebut adalah : a. Hukum b. Aturan c. Teori system d. Dan simbolik interaksionisme

TEORI KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DIMENSI-DIMENSI PRIBADI DAN RELASIONAL

Pendahuluan Secara umum, komunikasi antarpribadi dapat diartikan sebagai suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Pengertian proses mengacu pada perubahan dan tindakan yang berlangsung terus menerus. Sedangkan makana berarti sesuatu yang dipertukarkan dalam proses tersebut, adalah kesamaan pemahaman di antara orang-orang yang berkomunikasi terhadap pesan-pesan yang digunakan dalam proses komunikasi. Terdapat sejumlah karakteristik yang menentuksn kegiatan dapat disebut komunikasi antarpribadi: 1. 2. Komunikasi antarpribadi dimulai dari diri sendiri, Komunikasi antarpribadi bersifat transaksional,

3. Komunikasi antarpribadi mencakup aspek-aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi, 4. Komunikasi antarpribadi mensyaratkan adanya kedekatan fisik antara pihak-pihak yang berkomunikasi, 5. Komunikasi antarpribadi melibatkan pihak-pihak yang saling tergantung satu dengan lainnya dalam proses komunikasi, 6. Komunikasi antarpribadi tidak dapat diubah maupunn diulang.

Ada beberapa dimensi pokok antarpribadi, yaitu: 1) individu dalam komunikasi antarpribadi, 2) memahami diri pribadi, 3) memahami orang lain, 4) aspek relasional atau hubungan dalam komunikasi komunikasi antarpribadi.

Individu dalam Komunikasi Antarpribadi Letak (lokus) psikologis Aspek psikolofis dari komunikasi antarpribadi menempatkan makna hubungan social ke dalam individu, yaitu dalam diri partisipan komunikasi. Kita biasanya mengartikan hubungan dan bahkan orang lain dalam pengertian yang berpusat pada diri kita sendiri,, yaitu bagaimana segala sesuatunya berhubungan atau berkaitan dengan diri kita. Suatu pngalaman psikologis terhadap komunikasi antarpribadi merupakan bagian penting dari pemahaman yang menyeluruh terhadap komunikasi antarpribadi. Mesikpundemikian, beberapa persoalan dapat muncul dalam proses pemahaman oleh individu .yang disebut juga sebagai proses intra pribadi ini. Fisher (1987:106) menyebutkan tiga di antaranya, yaitu:

1. Munculnya respons individu terbatas pada setelah kegiatan komunikasi, 2. Ingatan atau persepsi individu dapat berubah setelah suatu tindakan komunikasi, 3. Individu sering mencampuradukkan hubungan antarpribadi dengan respons emosional mereka. Jadi, dengan aspek psikologis saja belumlah cukup untuk memahami komunikasi antarpribadi secara menyeluruh. Hal terpenting dari lokus psikologis adalah asumsi bahwa diri pribadi individu terletak pada suatu tempat di dalam individu, dan tidak mungkin dapat diamati secara langsung. Dengan demikian, lokus psikologis memiliki dua dimensi, yaitu dimensi internal dan eksternal. Fungsi psikologis dari komunikasi adalah untuk menginterpretasikan tanda-tanda melalui tindakan atau perilaku yang dapat diamati. Kita akan melakukan seleksi terhadap tanda-tanda dari perilaku dan mengungkap man ayang palsu dan mana yang asli. Jadi, meskipun pada dasarnya tidak dapat dilakukan pengamatan secara langsung pada dimensi internal dari diri, orang melakukan penyimpulan berdasarkan apa yang dia amati. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah mengamati dimensi eksternal dari diri, yaitu pada perilaku atau tindakan. Tataran Psikologis dalam Komunikasi Komunikasi antarpribadi merupakan kegiatan yang melibatkan dua orang atau lebih yang memiliki tingkat kesamaan diri atau proses psikologis tertentu. Missal Ani berkomunikasi dengan Budi, maka proses psikologis Ani harus memiliki kesamaan tertentu dengan proses psikologis Budi. Ketika Ani dan Budi berkomunikasi, mereka secara individual dan serempak mempeluas diri pribadi masing-masing ke dalam tindakan komunikasi melalui pemikiran, perasaan, keyakinan atau dengan kata lain melalui proses psikologis mereka. Prooses ini akan berlangsung terus sepanjang mereka masih berkomunikasi. Fisher (1987:110) mengemukakan bahwa ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, proses intra pribadi kita memiliki paling sedikit tiga tataranyang berbeda.seringkali disebut dengan persepsi, metapersepsi, dan metametapersepsi. Selanjutnya, ketiga tataran ini berfungsi secara simultan ketika kita sedang berkomunikasi dengan orang lain, da tiap tataran dapat dipengaruhi atau mempengaruhi tataran lainnya. Proses psikologis dapat berpengaruh pada komunikasi dan hubungan antarpribadi karena individu menggunakannya sebagai pedoman untuk bertindak atau berperilaku. Ketika hal ini berlangsung, maka individu akan bertindak atas dasar proses psikologis yang diketahui atau diyakininya seebagai diri yang sesungguhnya. Akhirnya, karena proses psikologis secara potensial mampu mempengaruhi komunikasi, kita tidak dapat mengesampingkannya jika ingin benar-benar memahami hubungan antarmanusia.

Sebaliknya, kita juga jangan menganggap bahwa hanya proses psikologislah yang menentukan komunikasi. Kita hendaknya menempatkan proses psikologis sebagai faktor yang dapat mempengaruhi komunikasi dan hubunga social, karea secara teknis proses psikologis bukan merupakan bagian dari hubungan itu sendiri. Memahami Diri Pribadi dalam Komunikasi Doiri pribadi adalah suatu ukuran/kualitas yang memungkinkan seseorang untuk dianggap dan dikenali sebagai individu yang berbeda dengan individu lainnya. Persepsi terhadap Diri Pribadi (Self Perseotion) Proses psikologis diasosiasikan dengan interpretasi da pemberian makna terhadap orang atau obje tertentu dikenal sebagai persepsi. Dengan mengutip Cohen, Fisher (1987:118) dikemukakan bahwa persepsi didefinisikan sebagai interpretasi terhadap berbagai representasi dari objek-objek eksternal, jadi persepsi adalah pengetahuan tentang aa yang dapat ditangkap oleh indera kita. Definisi ini melibatkan sejumlah karakteristik yang mendasari upaya kita untuk memahami proses antarpribadi. 1. Suatu tindakan persepsi mensyaratkan kehadiran objek eksternal untuk dapat ditangkap oleh indera kita, 2. Adanya informasi untuk diinterpretasikan, 3. Sifat representative dari penginderaan, maksudnya kita tidak dapat mengartikan makna dari informasi yang kita anggap mewakili objek tersebut. Oleh karenanya, persepsi tidak lebih dari pengetahuan mengenai apa yang tampak sebagai realitas bagi diri kita. Jadi, sebaiknya kita tidak kelewat yakin dengan pengetahuan yang kita peroleh melalui persepsi. Sifat-sifat Persepsi Persepsi terjadi di dalam benak individu yang memersepsi, bukan di dalam objek, dan selalu merupakan pengetahuan tentang penampakan. Maka apa yang mudah bagi kita jadi tidak mudah bagi orang lain, atau apa yang jelas bagi kita bias jadi kabur bagi orang lain. Di sini lah kita perlu memahami tataran intra pribadi dari komunikasi antarpribadi dengan meliha lebih jauh sifatsifat persepsi. 1. Persepsi adalah pengalaman, 2. Persepsi adalah selektif, 3. Persepsi adalah penyimpulan, 4. Persepsi tidak akurat,

5. Persepsi adalah evaluative. Suatu hal yang tidak terpisahkan dari interpretasi subyektif adalah proses evaluasi. Rasanya hamper tidak mungkin kita mempersepsi suatu objek tanpa mempersepsikan pula baik atau buruknya objek tersebut. Kita cenderung untuk mengingat hal-hal yang memiliki nilai tertentu bagi diri kita, dan hal-hal yang sangat (baik atau buruk) yang dapat kita ingat dengan baik. Selebihnya hal-hal yang biasa saja cenderung luput dari pikiran kita. beberapa Elemen dari Persepsi 1. Sensasi/penginderaandan interpretasi, 2. Harapan, dapat menjadi kekuatan yang sangat berarti dalam mengarahkan persepsi, 3. Bentuk dan latar belakang, 4. Perbandingan, 5. Konteks, merupakan yang paling potensial.

Langkah pertama dalam persepsi diri adalah mengetahi/menyadari diri kita sendiri, yaitu mengungkap siapa dan apa kita sebenarnya. Dan, sesungguhnya menyadari siapa diri kita, adalah juga persepsi diri. Karena ketika kita menyadari siapa diri kita secara simultan kita juga telah mempersepsikan diri kita sendiri. Untuk dapat menyadari diri kita, pertama kali kali kita harus memahami apakah diri/self tersebut. diri secara ederhana dapat kita artikan sebagai identitas individu. Jadi identitas diri adalah cara-cara yang kita gunakan untuk membedakan individu satu dengan individu-individu lainnya. Dengan demikian, diri adalah suatu pengertian yang mengacu pada identitas spesifik dari individu. Fisher (1987:134) menyebutkan ada beberapa elemen dari kesadaran diri, yaitu konsep diri, self esteem, dan multiple selves. Pemahaman terhadap konsep diri adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Pada umumnya orang cenderung menggolongkan dirinya sendiri dalam tiga kategori, yaitu karakteristik atau sifat pribadi, karakteristik atau sifat social, dan peran social. Karakteristik pribadi adalah sifat-sifat yang kita miliki, paling tidak dalam persepsi kita mengenai diri kita sendiri. Karakteristik ini dapat bersifat fisik. Karakteristik social menunjukkan sifat-sifat yang kita tampilkan dalam hubungan kita dengan orang lain

Karakteristik pribadi adalah sifat sifat yang kita miliki, paling tidak dalam persepsi kita mengenai diri kita sendiri. Karakteristik ini dapat bersifat fisik (laki, perempuan, tinggi, rendah, cantik, tampan gemuk,dsb.)atau kemampuan tertentu (pandai, pendiam, cakap, dungu, terpelajar,

dsb.). Karakteristik social menunjukan sifat sifat yang kita tampilkan dalam hubungan kita dengan orang lain. Antara lain, ramah atau ketus, ekstrovet atau introvert, banyak bicara atau pendiam. Peran sosial, mencakup hubungan dengan orang lain dan dalam suatu masyarakat tertentu. Ketika ungkapan yang digunakan untuk menyatakan persepsi evaluatif seseorang terhadap dirinya sendiri adalah self esteem , suatu bagian yang inheren dari konsepdiri Self esteem juga bersifat lebih mendalam dan langgeng daripada suatu reaksi temporal. Self esteem berpengaruh terhadap perilaku kita, khususnya perilaku komunikasi kita. Meskipun pembahasan kita mengenai diri sejauh ini mengacu pada diri sebagai identitas tunggal, namun sebenarnya masing masing dari kita memiliki berbagai identitas diri yang berbeda, yang disebut multiple selves. Multiple selves dapat pula dipahami dalam bentuk yang lain. Ketika kita terlibat dalam komunikasi antarpribadi, kita memiliki dua diri dalam konsep diri kita. Pertama adalah persepsi mengenai diri kita, kedua adalah persepsi kita tentang persepsi orang lain terhadap kita (metapersepsi). Proses perkembangan kesadaran diri diperoleh dengan tiga konsep, yaitu reflexive self, social sellf dan becoming self. Kesadaran diri dikatakan reflexive apabila bersifat dua arah. Ketika kita mempersepsikam diri kita, kita mempersepsikan bahwa diri kita terlibat dalam persepsi diri. Analogi lain untuk menggambarkan multiple selves adalah dengan melempar bola karet ke dinding. Kita melempar bola ke dinding, dan bola memantul kembali ke arah kita. Pada sisi lain, individu memperoleh konsep dirinya melalui interaksi dengan orang lain. Menggunakan orang lain sebagai criteria untuk menilai konsep diri kita, disebut menggunakan social self. Aspek lain dari pengembangan kesadaran diri melalui interaksi social adalah self monitoring. Konsep diri bukan merupakan sesuatu yang tetap, selalu berubah, terus menerus berkembang, dan selalu diterpa oleh informasi baru untuk dipersepsikan dan diinterpretasikan.

BAB 3 : Memahami Orang Lain dalam Komunikasi

Dalam setiap komunikasi yang melibatkan dua orang,akan terdapat dua pribadi yang harus dikenali, yaitu diri kita sendiri dan lawan bicara kita. Upaya ini menyangkut proses psikologis yaitu persepsi. Persepsi sendiri memiliki banyak kelemahan dalam sebagai dasar untuk memeperoleh pengetahuan. Antara lain persepsi tidakakurat, selektif dan objektif.

Ada tiga jenis informasi penting yang harus kita ketahui, yaitu tujuan orang tersebut, kondisi internalnya (psikologis), dan kesamaan antara kita dan orang tersebut. Mempersepsi tujuan seseorang memiliki beberapa arti penting bagi kita 1. sebagai mekanisme proteksi 2. kita dapat menegetahui kesungguhan dari penampilan orang tersebut jadi secara singkat kita dapat menganggap sebagian perilaku memiliki tujuan tertentu.

Melalui pengamatan perilaku kita dapat menyimpulkan bagaimana sikap, keyakinan dan nilaiorang tersebut. Ada anggapan bahwa elemen non verbal dari perilaku merupakan refleksi yang paling akurat dari perasaan atau kondisi internal seseorang. Selain itu adanya kesamaan pandangan dengan lawan bicara akan menimbulkan rasa nyaman dan saling menyukai.

Dalam komunikasi antarpribadi, tiap partisipan perlu mengenali partisipan lainya dalam rangka mencapai dua tujuan, yaitumengurangi ketidakpastian (uncertainty reduction) dan perbandingan social (social comparison). Dalam situasi ketidakjelasan kita berusaha untukmengeliminasi ketidakjelasan ini dalamrangka untuk memperoleh gambaran perilaku apa yang sesuai dengan situasi tersebut.

Perbandingan social adalah proses membandingkandiri kita dengan orang lain. Mengutip Leon Festinger, Fisher (1987:160) yang menegemukakan bahwa seseorang biasanya melakukan evaluasi diri. Komunikasi antar pribadi merupakan suatu peluang untuk melakukan perbandingan social. Ketikamelakukan perbandingan social, kita cenderung melakukan dengan orang yang setara.

Proses mengurangi ketidakpastian dan perbandingan social terbatas pada tahap pengnalan/mulai menegenal, yaitu tahap awal dalam komunikasi antarpribadi. Interaksi selanjutnya akan semakin mengurangi ketidakpastian dan memperjelas bagaimana harus berinteraksi, dan biasanya juga membawa pada penemuan kesamaan. Hal ini misalanya terjadi pada saat kita memiliki sahabat. Biasanya kita menjadi tidak terlalu mnegnggap penting perbedaan yang ada

Persepsi terhadap Orang Lain

Proses mempersepsi orang lain mencakup persepsi terhadap karakteristik fisik dan perilaku komunikasi orang tersebut. Steve Ducks mengemukakan bahwa perilaku orang akan membantu dalam tiga hal 1. perilaku tersebut mungkin akan menyenangkan bagi kita 2. perilaku tersebut dapat memberikan informasi yang dapat kita gunakan untuk membentuk kesan mengenai kondisi internal seseorang. 3. perilaku seseorang dapat memberikan perkiraan terhadap kelanjutan hubungan dikemudian hari. Jika seseorang melakukan persepsi, sebenarnya yang mengendalikan penyimpulan terhadap apa yang dilakukanya adalah orang itu sendiri Bahasan tertuju pada diri kita ketika perhatian kita tertuju pada orang lain. Tiga proses kognitif yang terjadi dalam mempersepsikan orang lain : 1. Implicit Personality theory mengasumsikan orang seabagai psikolog amatir, yang menggunakan pernagkat psikologis untuk mempersepsi orang lain. Dengan informasi dari perilaku orang tadi kita dapat mengaplikasikan cirri-ciri kepribadian tadi kepadanya hingga memperoleh suatu persepsi mengenai siapakah dia. Menggunakan implicit personality berarti berusaha memahami individu tersebut kedalam suatu kerangka pemahaman. Pengaplikasianyadimulai dengan individu yang mencoba mengidentifikasikanya kedalam klasifikasi social berdasarkan apa yang kita ketahui tentang individu tersebut sebagai sosok yang spesifik. 2. Proses Atribusi adalah proses intrapribadi dan menempatkan penyebab atau pengendali atas suatu peristiwa kepada seseorang atau sesuatu. Proses komunikasi ini menempatkan locus of control kepada seseorang (dispotitional) atau kepada konteks (situational). Sebagai bentuk proteksi. Proses atribusi memeiliki arti penting bagi komunikasi dalam beberapa hal, proses ini membantu kita menyusun penjelasan menganai suatu kejadian / peristiwa. Kedua, proses ini secara relatif akurat menggambarkan hubungan antara kondisi psikologis dan perilaku. Ketiga, proses atribusi akan mempengaruhi hasil dari hubungan antar pribadi (misalnya ingin meneruskan atau meningkatkan hubungan), dan meningkatnya hubungan juga akan mempengaruhi proses atribusi. Dengan demikian tataran intrapribadi (atribusi) dan antar pribadi (hubungan) dari komunikasi saling mempengaruhi satu dengan lainya. 3. Responsse sets merupakan prediposisi tertentu yang dilakukan untuk menanggapi orang lain. Proses ini mengandung lompatan penyimpulan dari perilaku orang lain kepada perilaku kita ketika menanggapinya. Dalam proses ini kesalahan dalam mempersepsikan orang sangat mungkin terjadi. Responsse sets yang sangat umum digunakan adalah Halo effect dan Leniency effect kita merasakan halo effect ketika kita terlalu menggeneralisasi perilaku orang dalam suatu situasi tertentu kepada situasi lain yang sma sekali belum kita ketahui. Persoalan yang muncul dari halo effect adalah bahwa kita mengabaikan situasi yang dapat mempengaruhi tindakan orang. Kita melupakan kenyataan bahwa orang akan berperilaku dan menampilkan peran yang berbeda dalam situasi yang berbeda dealan kepada orang yang berbeda. Leniency effect adalah responsse set lain dimana kita membiarkan hubungan kita dengan seseorang mempengaruhi persepsi kita terhadap orang tersebut. Persepsi terhadap orang lain seperti halnya persepsi terhadap diri sendiri

terbuaka bagi berbagai kesalahan oleh karenanya persepsi terhadap orang lain (akurat maupun tidak akurat) dapat menguntungkan atau merugikan dalam proses hubungan atau komunikasi antar pribadi. Perilaku terhadap orang lain Untuk dapat berkomunikasi secara efektif kita berharap untuk dapat mempengaruhi persepsi orang lain terhadap diri kita. Kita menginginkan orang lain memiliki penilaian yang baik menegenai diri kita, paling tidak, memiliki kedsan bahwa kita konsisten dengan tujuan kita berkomunikasi, meskipun kita tidak dapat memaksa orang dalam memeprsepsikan diri kita namun kita dapat melakukan sesuatu untuk mengarahkan persepsi mereka. Tindakan ini sesungguhnya sangat alamiah atau wajar artinya bukan selalu merupakan upaya untuk berpurapura atau menipu orang lain, beberapa konsep yang dapat menjelaskan hal ini antara lain Impression management, Rhetorical Sensitivity, atributional, responses, dan konfirmasi antar pribadi. Erving Goffman (1963) seseorang sosiolog mengemukakan bagaimana setiap orang dalam kehidupan sehari-harinya terlibat dalam memerankan dirinya kepada orang lain. Tindakan ini bukanlah upaya kepura-puraan atau manipulatif melainkan bagian yang wajar dalam interaksi social yang disebut Impression management. Lebih lanjut dikemukakan bahawa setiap kali kita berperilaku terhadap orang lain, tidak ada pilihan lain kecuali mengarahkan kesan orang tersebut terhadap kita. Impression management memandang komunikasi antar pribadi sebagai sebuah drama atau sandiwara. Ketika kita mengarahkan pesan orang lain, kita menghadirkan diri kita dalam dua bentuk perilaku yaitu depan dan belakang. Depan mengacu pada bagian dari diri kita yang berada diatas panggung. Belakang mengacu pada perilaku dibalik panggung kita yang kita ;lakukan ketika tidak ada orang lain, atau kita tidak menyadari adanya orang lain yang hadir disekitar kita.

Impression management merupakan perilaku yang lebih diarahkan oleh orang lain dari pada diri kita sendiri. Rhetorical sensitivity adalah konsep yang dikembangkan oleh Rodh hart dan Don burks (1972) yang mengacu kepada kualitas persepsi yang didasarkan atas kemungkinan-kemungkinan (contingencies). Menjadi rhetoricaly sensitive berarti peka terhadap diri sendiri, peka terhadap situasi dan terutama peka terhadap orang lain.

Terdapat lima karakteristik yang menandai rhetorical sensitivity 1. orang yang rhetorically sensitive dapat menerima kompleksitas pribadi, yaitu dapat memahami bahwa setiap individu merupakan kesatuan dari banyak diri.

2. orang yang rhetorically sensitive menghindari sifat kaku atau keras dalam berkomunikasi dengan orang lain. 3. orang semacam ini akan mengimbangakn kepentingan pribadi denagn kepantingan oranglain, suatu kepekaan yang disebut kesadaran interaksi. 4. orang yang rhetorically sensitive sadar kapan harus mengkomuniksikan atau tidak mengkomunikasikan sesuatu dalam situasi yang berbeda. 5. orang semacam ini menyadari bahwa suatu pesan dapat dikemukakan melalui berbagai cara, dan dia dapat menyesuaikan cara penyampaian pesan epada poster berkomunikasi dalam situasi tertentu. Atributional responsse merupakan cara lain penggunaan proses atribusi melalui perilaku kita sebagai reaksi atas tindakan orang lain dalam hal ini kita menanggapi dengan suatu cara yang secara jelas menunjukkan suatu makna tertentu terhadap perilaku orang lain. Konfirmasi antar pribadi merupakan tanggapan atau reaksi atas perilaku orang lain. Konsep ini masih berkaitan dengan impression management ketika kita berusaha untuk mengarahkan kesan, maka padasaat yang bersamaan orang lain pun melakukan hal yang sama kepada kita. Dalam menganggapinya kita memiliki tiga alternative, yaitu konfirmasi, menolak, atau diskonfirmasi.

BAB 9 TEORI-TEORI REALITA SOSIAL DAN BUDAYA Pendekatan-pendekatan interaksional berhubungan dengan cara-cara pemahaman, pengertian, norma, peran, dan aturan, bekerja secarainteraktif dalam komunikasi. Pemikiran tentang kontruksi social dari realita merupakan sebuah tradisi intelektual dari abad kita, sebuah tradisi yang memberikan kerangka konseptual bagi kebanyakan teori yang diliput. KONSTRUKSI SOSIAL DARI REALITA Pemikiran tentang konstruksi social dari realita diungkapkan oleh filsuf Alfred Schutz sebagai berikut:

Dunia kehidupan saya sehari-hari sama sekali bukanlah dunia saya pribadi tetapi adalah sebuah dunia yang intersubyektif sejak awalnya, dibagi dengan sesame saya, dialami dan diinterpretasikan oleh orang lain, singkatnya, ini merupakan sebuah dunia bagi kita semua. Situasi biografis yang unik di mana saya menemukan diri saya di dalam dunia itu di setiap saat dari eksistensi saya hanyalah sebatas kecil dari yang saya buat sendiri. Singkatnya, pengertian dan pemahaman kita muncul dari komunikasi dengan orang lain, suatu pemikiran tentang realita yang tertanam kuat dalam pemikiran sosiologis.Para pengunjungnya yang terkemuka adalah Peter Berger dan Thomas Luckmann dalam tulisan mereka The Social Construction of Reality.Berawal dari interaksionisme simbolis dan pondasi dari karya Schutz dan Berger dan Luckmann, konstruksi social dari realita telah menjadi sebuah pemikiran yang popular dan disegani dalam ilmu-ilmu social.Kenneth Gergen menyebutnya sebagai gerakan konstruksionis social. Ada jumlah cara yang tidak terhingga banyaknya untuk memahami setiap obyek. Anda dapat melihat bahwa bahasa kita memberi sebutan-sebutan yang kita pakai untuk membedakan obyekobyek di dunia kita dan bagaimana kita memahami obyek-obyek tersebut. Seperti semua gerakan, konstruksionisme social tidak sepenuhnya konsisten dan mempunyai beragam versi. Meskipun demikian, sebagian besar mempunyai serangkaian asumsi yang sama. Robbyn penman merangkumnya sebagai berikut: 1. Tindakan komunikatif sifatnya sukarela. 2. Pengetahuan adalah sebuah produk social. 3. Pengetahuan bersifat kontekstual. 4. Teori-teori menciptakan dunia. 5. Pengetahuan bersifat sarat nilai. Dalam melanjutkan analisis ini lebih jauh,Penmann menguraikan empat kualitas komunikasibila dilihat dari sudut pandang konstruksionis social. Pertama, ia bersifat konstitutif. Komunikasi itu sendiri menciptakan dunia kita. Kedua,ia bersifat kontekstual. Komunikasi hanya dapat dipahami dalam batas-batas waktu dan tempat tertentu. Ketiga,iabersifat beragam. Komunikasi terjadi dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Akhirnya, ia bersifat tidaklengkap. Komunikasi selalu berada di dalamproses,selalu berjalan dan berubah. KONSTRUKSI SOSIAL DARI DIRI Di antara para ilmuwan sosial kontemporer yang telah menjadikan asumsi-asumsi konstruksionis sebagai sentral dari penelitian mereka adalah Ron Harre. Dengan pengetahuan bahwa diri bersifat individual maupun sosial, Harre menekankan cara-cara individu membenarkan dan menjelaskan perilaku mereka dalam episode-episode tertentu.

Harre dan koleganya Paul Secord merupakan pencentus ethogeny studi tentang bagaimana orang memahami tindakan-tindakan mereka di dalam episode-episode khusus. Sebuah episode adalah sebuah urusan tindakan yang dapat diramalkan yang oleh semua pihak didefinisikan sebagai suatu peristiwa dengan sebuah awal dan sebuah akhir. Ethogeny melibatkan pengertian dari episode dan bagaimana para pesertanya memahami berbagai tindakan di dalamnya.Di samping itu, bahasa biasa yang digunakan orang untuk menggambarkan dan menjelasakan sebuah episode mencerminkan pengertian mereka tentangnya. Kelompok sosial atau komunitas, melalui interaksi, menciptakan teori-teori untuk menjelaskan pengalaman mereka tentang realita. Teori suatu kelompok menjadi ciri sebuah episode dan memprediksi hasil tindakan logs di dalamnya. Teori-teori ini adalah pola struktural dari arah tindakan yang diantisipasi di dalam episode tersebut. Arti-arti yang dilekatkan pada peristiwa-peristiwa dari sebuah episode memunculkan aturanaturan yang menuntun tindakan para peserta di dalam episode tersebut.Para peserta tahu bagaimana bertindak karena adanya aturan-aturan yang mengikat pada suatu saat tertentu. Konsep diri, yang sangat penting dalam interaksionisme simbolis, merupakan kepedulian utama dari Harre dalam kebanyakan penelitian teoritisnya.Harre mengatakan bahwa seperti pengalaman lainnya, diri distrukturkan oleh sebuah teori pribadi.Artinya, individu belajar untuk memahami diri dengan menggunakan sebuah teori yang mendefinisikannya. Harre membedakan antara person dan diri.Person adalah makhluk yang terlihat secara pablik dan membawa semua atribut dan karakteristik orang-orang secara umum di dalam kelompok sosial atau budaya.Diri adalah pemikiran pribadi seseorang tentang kesatuannya sendiri sebagai person.Personhood bersifat public, sementara diri, meskipun dapat diungkapakan pada orang lain, betul-betul bersifat pribadi.Karakter orang ditentukan melalui teori kelompok tentang personhood, diri ditentukan oleh teori individu tentang dirinya sendiri sebagai anggota dari budaya tersebut. Teori diri seseorang, seperti teori personhood, dipelajari melalui sejarah interaksi dengan orang lain. Semua pemikiran, maksud, dan emosi kita muncul dalam artian dipelajari melaui interaksi sosial. Pemikiran-pemikiran tentang selfhood atas mana persepsi-persepsi ini didasarkan sangat beragam pada satu budaya dan budaya lain. Perspektik pribadi seseorang individu dan tingkat serta karakter dari kekuatan pribadi seseorang bergantung pada teori diri pribadi ini. Diri terdiri dari serangkaian elemen yang dapat dipandang secara spasial di sepanjang tiga dimensi.Dimensi yang pertama adalah display, apakah suatu aspek diri ditampakkan secara public atau tetap bersifat pribadi.Dimensi yang kedua adalah kesadaran, tingkatan sejauh mana sesuatu dari diri diyakini berasal dari individu atau kelompok.Elemen-elemen diri yang diyakini berasal dari orang itu disadari secara individual, sementara elemen-elemen yang diyakini berasal dari hubungan orang tersebut dengan kelompok didasari secara kolektif.Dimensi yang ketiga

adalah agency yang berarti tingkatan kekuatan aktif yang dihubungkan dengan diri.Elemenelemen aktif berlawan dengan elemen pasif. Semua teori tentang diri memiliki tiga elemen yang sama. Pertama, mereka semua mengandung sebuah sense self-consciousness (rasa kesadaran diri).Ini berarti bahwa seseorang berfikir tentang dirinya sendiri sebagai sebuah obyek.Elemen kedua dari semua teori tentang diri adalah agency.Diri selalu dilihat sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan-kekuatan tertentu untuk berbuat sesuatu.Orang memandang diri mereka sebagai agen yang mampu berniat dan bertindak. Elemen ketiga dari diri adalah otobiografi, atau identitas sebagai orang dengan sejarah dan masa depan. KONTRUKSI SOSIAL DARI EMOSI Harre menyatakan bahwa emosi konsep-konsep yang dibangun, seperti halnya aspek lainnya dari pengalaman manusia, karena emosi ditentukan oleh bahasa local dan tatanan moral dari budaya atau kelompok social. Menurut James Averill, emosi adalah system-sistem keyakinan yang memandu yang memandu definisi seseorang tentang situasi. Oleh sebab itu, emosi terdiri dari norma-norma social dan aturan-aturan yang sifatnya internal yang mengendalikan perasaan. Averill menyebut emosi sebagai sindrom, yang merupakan kumpulan respon-respon yang berjalan bersama-sama.Tidak ada satu respon tertentu yang memadai untuk mendifinisikan suatu emosi, tetapi semuanya harus dipandang bersama-sama. Sindrom-sindrom emosional dibangun secara social karena orang belajar melalui interaksi, kumpulan perilaku apa yang harus diambil dan bagaimana menampilkan suatu emosi tertentu. Setiap pengalaman dari suatu emosi mempunyai sebuah obyek, yang merupakan arah dari emosi, dan setiap emosi memiliki jarak yang terbatas untuk kemungkinan-kemungkinan obyeknya.Seperti ditunjukkan oleh Averill, Anda tidak bisa merasa bangga atas bintang-bintang karena kebanggan adalah sesuatu yang disimpan untuk suatu keberhasilan. Ada empat aturan yang mengendalikan emosi.Aturan-aturan penilaian memberitahu Anda apa itu emosi, kemana ia diarahkan, dan apakah ia positif atau negative. Aturan-aturan perilaku memberitahu Anda bagaiamana merespon perasaan, apakah akan menyembunyikannya, mengungkapkannya secara pribadi , atau membukanya secara public. Aturan-aturan perkiraan mendefinisikan gerak dan arah dari emosi. Berapa lama ia harus berlangsung, apa-apa saja tahapannya, bagaimana mulainya, dan bagaimana berakhirnya. Aturan-aturan penghubungan menunjukkan bagaimana suatu emosi dijelaskan atau dibenarkan.Apa yang akan Anda katakana pada orang lain tentangnya? Bagaimana Anda mengungkapkannya secara public?

Jadi, emosi bukan sekedar sesuatu yang muncul begitu saja. Mereka didefinisikan dan ditangani sesuai dengan apa yang sudah dipelajari dalam interaksi social dengan orang lain. Averill yakin bahwa orang dapat berbuat dan berubah secara emosional. Averill melakukan sebuah studi yang menarik di mana ia mengisolasi lebih dari 500 istilah untuk berbagai emosi, sebuah daftar yang reprensentatif untuk istilah-istilah emosional dalam bahasa inggris. Para subyeknya kemudian memberi peringkat pada istilah-istilah ini pada sejumlah dimensi, termasuk evaluasi. Ia menemukan bahwa jauh lebih banyak istilah emosional yang dievaluasi sebagai negative daripada positif. Emosi yang negative dapat mengalahkan emosi yang positif karena emosi tidak dari awalnya terbungkus sebagai positif dan negative, tapi kita mendefinisikan mereka berdasarkan pada konstruksi-konstruksi social kita.Dalam sampel Averill, hasil-hasil yang positif cenderung berorientasi tindakan, sementara hasil-hasil yang negative cenderung dipandang sebagai di luar kendali seseorang.Jadi, sebagai contoh, keberanian adalah hasil dari tindakan-tindakan berani seseorang, sementara rasa iri adalah konsekuensi dari suatu situasi yang tidak menguntungkan. Di samping itu, emosi pada umumnya cenderung untuk dipandang dalam masyarakat kita sebagai di luar kendali, sesuatu yang terjadi begitu saja pada kita. Jadi adalah logis, bahwa hasilhasil yang positif lebih didefinisikan sebagai tindakan daripada sebagai emosi, sementara hasilhasil yang negative lebih sering dilihat sebagai emosi, yang mengarah pada gagasan bahwa istilah-istilah emosional lebih sering negative daripada positif. Pada budaya-budaya yang lain hasilnya mungkin akan berebeda.

Alasan dalam Konstruksi Sosial Salah satu cara orang membangun realita-realita sosial adalah dengan membuat alasan atau menjelaskan dan membenarkan perilaku mereka. John Shotter memberikan sebuah perluasan yang bermanfaat dari pemikiran konstruksionis ke dalm subyek-subyek tanggung jawab dan moralitas. Shotter berpendapat bahwa pengalaman kita akan realita. Yang menjadi

pusat dari mata rantai antara komunikasi dan pengalaman adalah proses pembuatan alasan. Shotter berpendapat bahwa orang senantiasa memberi pengartian pada dan memahami pengalaman mereka.Pengertian-pengertian yang diberikan pada suatu peristiwa sangat terikat pada bahasa yang digunakan untuk mempertanggungjawabkan peristiwa dalam komunikasi antar partisipan.Richard Buttny menyatakan bahwa dalam setiap kegagalan dari suatu peristiwa, para partisipan mempunyai kepentingan dalam mengendalikan pengartian bagi peristiw, para partisipan mempunyai kepentingan dalam mengendalikan pengartian bagi peristiwa itu.Fungsi inilah persisnya yang dijalankan oleh alasan. Alasan adalah sebuah cara untuk mencapai tujuan, seperti menyelamatkan muka dan mempertahankan hubungan.Buttny mengatakan bahwa alasan secara esensial membentuk kembali kerangka peristiwa dengan menciptakan sebuah konteks untuk menginterpetasikan peristiwa tersebut. Shotter menunjukan bahwa hubugan antara komunikasi dan pengalaman akan realita Membentuk sebuah putaran. Komunikasi membentuk bagaimana realita dialami, dan pengalaman aka memengaruhi realita komunikasi. Shotter percaya bahwa indivisu dan masyarakat tidak dapat dipisahkan. Orang-orang tidaknya Independen: Perhatian tidak terkonsentrasi pada hubungan yang diangap ada antara perilaku luar seseorang dan pekerjaan dalam mereka,karena ia sama seali tidak terfokus pada individu, tapi pada hubungan antar orang-orang. Lingkungan keseluruhannya pada dasarnya merupakan sebuah dunia moral yang terdiri dari hak, tugas, keistimewaan, dan kewajiban. Kerangka moral dari pengalaman manusia diungkapkan di alam dan melalui komunikasi: Untuk mempertahankn otonomi mereka, orang harus mampu memberikan alasan, tidak hanya untuk tindakan-tindakan mereka, tetapi juga untuk diri mereka sendiri, yaitu siapa, dan apa mereka.

ATURAN-ATURAN DAN TINDAKAN SOSIAL Aturan-aturan merupakan bagian penting dari realita sosial dan budaya. Mereka tidak hanya terbentuk dalam proses interaksi, tetapi juga menatur interaksi itu sendiri. Aturan didefinisikan sebagai panduan untuk tindakan dan pengertian, dan diuraikan tiga buah pendekatan.Pertama,

mengikuti aturan (rule-following), menganggap bawa aturan sebagai sesuatu yang tertanam dalam struktur bahasa dan budaya.Dalam tradisi mengikuti mengikuti aturan, aturan-aturan memiliki kekuatan hampir seperti hukum di mana orang tidak memiliki banyak pilihan apakah untuk mengikutinya atau tidak.Aturan-aturan tata bahasa contohnya. Dua tradisi lainna, pendekatan diatur oleh aturan (rule-governed) dan menggunakan aturan (rule-using), memberi individu lebih banyak ruang untuk menciptakan, menggunakan, dan bahkan menolak aturan-aturab.Di sini, aturan dipandang sebagai konvensi-konvensi yang ditetapkan sebagai bagian dari konstruksi sosial dan realita.Pendekatan rule-governed memandang aturan-aturan sebagai tuntutan yang bisa dan memang dilanggar. Pendekatan rule-using menyatakan bahwa aktor-aktor memiliki berbagai aturan yang tersedia dalam sebuah situasi dan memilih aturanaturan yang mereka yakini paling sesuai untuk mencapai tujuan mereka. Pada bagian ini kita akan meneliti sejumlah teori tentang aturan dari realita sosial dan budaya. Yang pertama adalah teori yang diajukan oleh Susan Shimanoff. Pendekatan Rule-Governing dari Shimanoff Shimanoff melakukan survei atas literatur tentag aturan dan merumuskan sebuah tinjauan yang menggunakan apa yang ia nilai sebagai pemikiran yang terbaik dalam bidang ini. Ia memberi tambahan pada teori aturan dengan cara sedemikian rupa untuk menjadikannya applicable khususnya pada komunikasi. Penelitiannya bersifat integratif dan secara kritis menganalisis aturan sebagai sebuah perskripsi yang dapat diikuti yang menunjukkan perilaku apa yang diharuskan, lebih disukai, dan dilarang dalam konteks-konteks tertentu. Definisi ini menggunakan empat elemen berikut: 13. Aturan harus bisa diikuti. Aktor dapat memilih apakah akan mengikuti atau melanggar suatu aturan. Jika seseorang tidak punya pilihan dalam suatu tindakan, maka sebuah aturan tidak sedang diikuti karena tidak ada pilihan. 14. Aturan yang sifatnya preskripif. Maksud Shimanoff di sini adalah bahwa ada suatu tindakan dibutuhkan dan bahwa kegagalan untuk mengikuti aturan dapat dikritik. Preskripsi bisa menyatakan apa yang diwajibkan, lebih disukai, atau dilarang, dan evaluasi negative meungkin muncul bila aturan tersebut tidak diikuti.

15. Aturan sifatnya kontekstual.Sebuah aturan harus melakukan lebih dari sekedar mengatur satu peristiwa, dan ia tidak bisa demikian luas sehingga ia mengatur segalanya. 16. Aturan merinci perilaku yang sesuai. Aturan memberitahu kita apa yang harus dilakukan atau jangan dilakukan, bukan bagaimana harus berpikir, merasa, atau menafsirkan. Shimanoff meyakini bahwa format jika-maka adalah yang terbaik untuk meyakinkan sebuah aturan; jika, makaseseorang (harus, jangan, sebaiknya) Klausa jika merinci konteksnya, dan klause maka merinci perilakunya. Untuk menguji sebuah teori aturan, seorang peneliti harus mampu mengamati aturan-aturan yang bekerja dalam interaksi sehari-hari.Jika model aturan Shimanoff akurat, maka akan bias menerapkan kriterianya pada episode apapun dan mengidentifikasi aturan-aturan yang berlaku. Kadang-kadang ini mudah karena aturan-aturannya eksplisit.Dalam situasi demikian diumumkan pada sebuah tanda atau di dalam sebuah buku tentang aturan permainan.Yang paling sering, mengidentifikasikan atauran lebih sulit dilakukan karena sifatnya yang implisit, dan aturan-aturan itu harus disimpulkan dari perilaku para partisipannya.Shimanoff menunjukkan bagaimana melakukan hal ini. Aturan-aturan dapat ditemukan penfertian tiga kriteria berikut: dengan meneliti pelaku dalam

1. Apakah perilaku itu dapat dikendalikan (untuk memperkirakan tingkatan sejauh mana aturan yang menjadi dasar tersebut dapat diikuti)? 2. Apakah perilaku itu dapat dkritik (untuk memperlihatkan apakah aturan yang menjadi dasar tersebut bersifat preskriptif)? 3. Apakah perilaku itu bersifat kontekstual (untuk memperkirakan apakah orang berperilakua berbeda dalam berbagai situasi)? Jika ketiganya dijawab ya, maka sebuah aturan sudah ditemukan. Orang menggunakan aturan dengan berbagai cara. Empat di antaranya bersifat ruleconforming (sesuai dengan aturan).Dan empat lainnya bersifat rule-deviating (menyimpang dari aturan.

PERILAKU YANG BERKAITAN DENGAN ATURAN Perilaku yang memenuhi aturan dan perilaku yang tidak memenuhi aturan meliputi tindakan tanpa mengetahui aturannya. Perilaku yang sesuai dan perilaku yang salah jelas dikendalikan oleh aturan, meskipun individu tidak sadar pada saat aturan itu diikuti atau tidak diikuti. Perilaku yang mengikuti aturan adalah kesesuaian yang didasari dengan aturan, di lain pihak pelanggaran aturan adalah pelanggaran aturan yang disengaja. Perilaku reflektif meliputi refleksi positif dan refleksi negative (mengikuti atau melanggar). Shimanoff, menemukan adanya sebuah kecenderungan yang kuat untuk mengungkapakan perasaan dengan cara-cara yang membantu salah satunya menyelamatkan muka dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Maka, ia mengemukakan aturan-aturan sebagai berikut. 1. Ketika berbicara dengan suami/istri, orang harus mengungkapkan emosi yang sifatnya menghargai, mengkopensasi, dan netral serta menyenangkan daripada emosiemosi yang mengancam 2. Ketika berbicara dengan suami/istri, orang harus mengungkapkan emosi-emosi netral yang tidak menyenangkan lebih sering daripada emosi-emosi yang sifatnya bermusuhan terhadap suami/istri atau menyesali pelanggaran-pelanggaran aturan lainnya.

Teori Aturan-aturan Kontingensi Teori aturan-aturan kontingensi, dirumuskan oleh Mary John Smith, menerapkan pendekatan rule-using untuk situasi-situasi yang sifatnya compliance-gaining (mencapai kesesuaian). Ada tiga asumsi pada teori ini: 1. Orang bertindak dengan maksud dan dalam tindakan mereka dipengaruhi oleh apa yang mereka yakini apa hasilnya nanti. 2. Persuasi dikendalikan lebih oleh pilihan pribadi sesorang daripada oleh pengaruh dari orang lain. 3. Ancaman-ancaman dan imbalan-imbalan eksternal hanya berarti jika mereka berlaku bagi tujuan dan standar pribadi seseorang.

Aturan-aturan yang memandu tindakan orang ada dua jenis yaitu self evaluative dan adaptif. 1. Aturan-aturan yang self evaluative terikat pada standar pribadi dan berasosiasi erat dengan konsep diri. Beberapa aturan yang self evaluative melibatkan self identity dalam hal bahwa mereka dipandu oleh apa yang diyakini sebagai karakteristikkarakteristik pribadi, yang lain meliputi pemeliharaan citra. Tindakan-tindakan yang dipandu oleh aturan-aturan self identity berfungsi untuk memelihara konsep diri sementara tindakan-tindakan yang dipandu oleh aturan-aturan pemeliharaan citra berfungsi untuk memelihara citra publik. 2. Aturan-aturan adaptif, aturan ini memberitahukan tindakan-tindakan apa yang akan efektif atau menguntungkan dalam sebuah situasi tertentu. Aturan-aturan kontingensi lingkungan berfungsi untuk memilih perilaku yang akan mengarah pada hasil positif. Aturan-aturan hubungan interpersonal diciptakan untuk membantu orang berperilaku dengan cara-cara memelihara hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Aturanaturan soial-normatifmemberitahu seorang komunikator apa yang sesuai menurut norma-norma social standar seperti ketimbalbalikan. Aturan-aturan bersifat contingent, atau context-spesific, karena mereka bergantung pada situasi di mana persuasi terjadi.Banyak aspek dari konteks berada di luar kendali komunikator, meskipun aspek-aspek lainnya diciptakan melalui tindakan-tindakan komunikator itu sendiri. Factor-faktor kontekstual ini meliputi sifat hubungan di antara para komunikator, maksud mereka, dan sejauh mana mereka setuju atau tidak setuju dengan subyek yang sedang dibahas

Manajemen Pengertian yang Terkoordinasi


Teori tentang manajemen pengertian yang terkoordinasi (CMM), dikembangkan oleh Barnett Pearce, Vernon Cronen, dan para kolega mereka.Teori ini mengintregasikan hasil penelitian dari interaksionisme simbolis, ethnogeny, teori sistem, tindakan perkataan dan komunikasi rekasional.Teori ini menyatakan bahwa orang membuat interpretasi dan bertindak berdasarkan aturan-aturan. 1. Aturan Konstitutif Aturan kontitutif pada dasarnya merupakan aturan-aturan pengertian, digunakan oleh komunikator untuk menafsirkan atau memahami suatu peristiwa atau pesan.

2. Aturan Regulatif Aturan regulatif pada dasarnya merupakan aturan-aturan tindakan, digunakan untuk menentukan bagaimana cara merespon dan berperilaku.

Sebagai contoh, jika seorang teman mengatakan sesuatu kepada anda, anda mencerna pengertian dari pesan tersebut.Anda menafsirkan, anda berusaha mencari artinya. Begitu anda merasa telah mengetahui dan memahami apa yang dikatakan, anda kemudian merespon dengan suatu cara, dan aturan-aturan tindakan anda membantu anda memutuskan apa yang harus dikatakan dalam prespon tersebut.

Aturan-aturan pengertian dan tindakan selalu dipilih di dalam sebuah konteks. Konteks merupakan kerangka acuan untuk menafsirkan sebuah tindakan, dan respon anda akan berbeda dari satu konteks ke konteks lainnya. Setiap konteks merupakan bagian dari sebuah konteks lain yang lebih besar. Pearce dan Cronen menggambarkan empat konteks yang khas, yaitu:

Archetype

Konsep diri

Episode

Hubungan

Tindakan
Konteks hubungan meliputi hubungan timbal balik antara anggota-anggota sebuah kelompok.Konteks episode adalah sebuah peristiwa.Konteks self-concept adalah sense seseorang tentang definisi pribadi.Akhirnya, konteks archetype adalah sebuah imej dari kebenaran umum.Dan suatu tindakan sering dikenal sebagai sebuah teks.Namun untuk urusan konteks seperti ditunjukan pada gambar diatas tidaklah universal dan seringkali bergeser. Teks dan konteks membentuk sebuah putaran

sedemikian rupa sehingga masing-masingnya digunakan dari waktu ke waktu untuk menginterpretasikan yang lain. Situasi ini disebut refleksifitas. Sebagai contoh, anda mungkin menafsirkan pernyataan kasar anak perempuan anda sebagai sebuah penghinaan dalam konteks hubungan anda yang negative.Hunbungan tersebut pada gilirannya mungkin dinilai negative dalam pengertian episode sebuah perdebatan, yang anda lihat sebagai sesuatu yang biasa sesuai dengan konsep diri anda sebagai seorang yang keras kepala.Dan refleksifitas terjadi saat pengertian anda untuk komentar kasar itu dipengaruhi oleh hubungan anda dengan anak perempuan anda. Untuk mendemonstrasikan operasi aturan-aturan, Pearce dan Cronen menggunakan sekumpulan symbol yang melambangkan srtuktur-struktur aturan. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan disini, yaitu: = Dalam konteks = Dianggap sebagai = Jika, maka

Simbol yang pertama melambangkan konteks sebagai sebuah tindakan, yang kedua berlaku untuk sebuah aturan pengertian, dan ketiga digunakan untuk berfungsi sebagai aturan tindakan. Perhatikan contoh-contoh berikut: 1. Penghinaan Bermain lelucon

Dalam konteks bermain, sebuah penghinaan akan diterimasebagai sebuah lelucon.

2. Penghinaan

Konflik penjatuhan

Dalam konteks konflik, sebuah penghinaan akan diterimasebagai sebuah penjatuhan.

3.

Pertengkaran

Suami mengina keluarga istri

istri menangis

Dalam konteks pertengkaran, bila suami menghina keluarga istri, maka itu akan menyebabkan istri menangis.

4. Godaan main-main

Suami menghina Keluarga istri

istri dengan bercanda memukul suami

keriangan

Dalam bermain, dianggap menyenangkan bagi istri untuk memukul canda suami setelah ia menghina keluarganya.

Aturan-aturan member kita sebuah rasa bagaimana interpretasi dan tindakan tampak logis atau sesuai dalam situasi tertentu.Rasa ini disebut daya logika. Ada empat jenis gaya logika yang bekerja dalam komunikasi. Pertama, prefigurative atau daya kausal, sebuah perkaitan pendahuluan dengan tindakan dimana anda memandang anda tengah ditekan untuk berprilaku dengan cara tertentu. Contonya, anda mungkin mengatakan pada teman anda bahwa anda bersekolah karena keinginan orang tua. Kedua adalah daya praktis, sebuah perkaitan tindakan dengan konsekuensi dimana anda melakukan sesuatu untuk mencapai suatu kondisi dimasa depan. Misalnya anda kuliah di jurusan ilmu komunikasi akan mempunyai peluang lebih besar untuk menjadi seorang reporter dibandingkan dengan mahasiswa jurusan lain. Jenis daya logika ketiga adalah kontekstual.Disini anda percaya bahwa tindakan adalah sebuah bagian alamiah dari konteks.Misalnya, anda mungkin merasa bahwa kuliah tidak diperlukan, hanya sekedar bagian dari siapa diri anda. Akhirnya masuk kepada logika implikatif, tekanan untuk menjalani sebuah transformasi atau merubah sebuah konteks dengan cara tertentu. Masalah terbesar dalam komunikasi adalah bahwa ketika seseorang memasuki sebuah interaksi, orang itu tidak menpunyai cara untuk mengetahui persis aturan-aturan yang akan digunakan oleh partisipan lainnya. Oleh karena itu, tugas utama dalam semua komunikasi adalah untuk mencapai dan kemudian mempertahankan suatu bentuk koordinasi. Koordinasi meliputi pengkaitan tindakan seseorang dengan tindakan-tindakan orang lain dengan tujuan merasakan bahwa urutan tindakan yang dilakukan adalah logis. Sebuah kontribusi penting dari CMM adalah gagasan bahwa orang bisa mencapai koordinasi yang betul-betul memuaskan tanpa saling memahami satu sama lain, tapi mereka memahami apa yang sedang terjadi dengan berbagai cara yang berbeda. Sebagai contoh, seorang pembicara yang dinamis dan lincah berpikir dia telah mendidik dan mempengaruhi pendengarnya, tetapi si pendengar hanya merasa sekedar

terhibur dan melupakan maksud dari pesan dalam beberapa jam. Disini, kedua belah pihak telah merasa puas, dan masing-masing berpikir bahwa apa yang baru berlangsung adalah sesuai, meskipun tujuan pembicara tidaklah terjadi.

Bahasa dan Budaya

Studi tentang bahasa dan budaya dikenal dengan sosiolinguistik.Sosiolinguistik adalah sebuah istilah luas yang meliputi setiap studi tentang bahasa yang banyak menggunakan data sosial atau sebaliknya, data tentang kehidupan sosial yang memanfaatkan data linguistik.Sosiolinguistik sangat bertentangan dengan pendekatan-pendekatan sosial yang memandang bahasa dipengaruhi baik oleh hal-hal structural yang sifatnya tertanam maupun faktor-faktor sosiokultural. Relativitas Linguistik Hipotesis Sapir Whorf atau teori relativitas linguistik didasarkan pada penelitian Edward Sapir dan benjamin Lee Whorf. Penelitiannya yang paling terkenal adalah tentang bahasa Hopi. Hipotesis Whorfian mengatakan bahwa struktur bahasa sebuah budaya menentukan perilaku dan kebiasaan dalam berfikir pada budaya tersebut. Tata bahasa Hopi mengenal peristiwa sebagai sesuatu yang dijamin telah terjadi, akan terjadi, atau diharapkan akan terjadi budaya hopi lebih mementingkan makna daripada waktu, tidak seperti bahasa Inggris, dimana waktu dapat disekat-sekat dengan pasti: lampau (past), kini (present), nanti (future). Menurut Whorf, tata bahasa ini membuat penutur bahasa Hopi melihat dan memahami peristiwa/objek sebagai sebuah proses yang berkelanjutan, berbeda dengan penutur bahasa Inggris yang memahaminya sebagai sebuah satuan jadi yang dapat dihitung dan dapat diukur. Budaya Hopi dan SAE (Standard Average European) akan memikirkan memandang dan berperilaku terhadap waktu dengan cara yang berbeda. Sebagai contoh orang Hopi cenderung untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang butuh persiapan lama.penekannya adalah pada pengalaman yang terakumulasi selama berjalannya waktu. Berbeda dengan SAE pengalaman tidak diakumulasikan dengan cara yang sama. persiapan yang rinci dan lama tidak sering

dijumpai. Adat kebiasaan budaya SAE adalah merekam peristiwa sehingga apa yang terjadi di waktu lampau dapat di objektifkan. Teori relativitas linguistik Whorfian menunjukkan suatu dunia simbolik yang khas yang melukiskan realitas pikiran, pengalaman batin dan kebutuhan si pemakainya. Jadi bahasa bukan hanya menentukan corak budaya, tetapi juga menentukan cara dan jalan pikiran manusia; oleh karena itu, mempengaruhi pula tindak lakunya. Dengan kata lain, suatu bangsa yang berbeda bahasanya dari bangsa lain, akan mempunyai corak budaya dan jalan pikiran yang berbeda pula. Jadi, perbedaan-perbedaan budaya dan jalan pikiran manusia itu bersumber dari pebedaan bahasa, atau tanpa adanya bahasa, manusia tidak memiliki pikiran sama sekali. Kalau bahasa itu mempengaruhi kebudayaan dan jalan pikiran manusia, maka cirri-ciri yang ada dalam suatu bahasa akan tercermin pada sikap dan budanya penuturnya.

Kode-kode yang Terperinci dan Kode-kode yang Terbatas Salah satu teori sosiolinguistik terpenting adalah yang dikemukakan oleh Basil Brenstein tentang kode-kode terperinci dan terbatas. Asumsi dasar teori ini adalah bahwa hubungan yang terbentuk dalam sebuah kelompok sosial mempengaruhi jenis pembicaraan yang digunakan oleh kelompok itu. Pada saat yang bersamaan, struktur pembicaraan yang digunakan oleh kelompok membuat hal-hal berbeda menjadi relevan. Orang mengetahui tempat mereka didunia melalui nilai kode-kode bahasa yang mereka gunakan Teori Brenstein memusatkan pada dua kode terperinci dan terbatas. Kode yang terperinci ini menekankan sifat khas individu. Pembicaraan disampaikan secara eksplisit dan jelas. Sifatnya lebih kompleks. Kode-kode yang terbatas memiliki ragam pilihan sedikit dan lebih mudah memperkirakan apa yang akan digunakan. Kode-kode ini tidak memungkinkan pembicara untuk menguraikan terlalu banyak apa yang mereka maksud. Perbedaan utama diantara jenis kelompok yang memakai kedua kode ini adalah tingkat keterbukaan mereka. Sistem peran tertutup tidak dibutuhkan bahasa terperinci karena adanya pengertian yang sama dan pemahaman tentang apa dan bagaimana mereka harus berperilaku secara umum. Sistem peran terbuka memerlukan kode terperinci untuk kelangsungan komunikasi

dalam sistem ini. Karena dalam sistem ini pemahaman tidak banyak pemahaman yang sama tentang identitas. Ada faktor utama yang memberi kontribusi bagi pengembangan sebuah kode terperinci dan terbatas. Yang pertama adalah agen-agen sosialisasi utama di dalam sistem, termasuk keluarga, kelompok sebaya, sekolah dan tempat bekerja. Yang kedua adalah nilai- nilai. Kode-kode sangat erat dikaitakan dengan kelas sosial. Brenstein mengatakan bahwa kelas menengah menggunakan menggunakan kedua jenis sistem. Namun demikian kelas pekerja kemungkinan menggunakan kode terperinci lebih kecil. Para pembicara dari kelas menengah menggunakan menurut saya jauh lebih sering dibanding kelas pekerja. Mereka memakai frase kata kerja yang lebih kompleks terperincidan kata kerja pasif serta pemakaian kata ganti orang Saya. Kelas pekerja cenderung memakai frasefrase singkat diakhir kalimat untuk memastikan pemahaman umum orang lain, misalnya Ya kan?, Tahukah anda??. Ada dua tipe keluarga yang berhubungan dengan kedua jenis kode. Yang pertama keluarga-keluarga posisi memiliki sebuah struktur peran yang jelas dan ditentukan secara formal. Yang kedua adalah keluarga yang memusatkan pada orang menetapkan lebih berdasar pada orientasi pribadi individu daripada mendefinisikan divisi-divisi secara formal. Kode yang dipakai bisa terbatas atau terperinci, tergantung pada tingkat pemahaman bersama dalam individu.

KOMENTAR DAN KRITIK Bab ini sebagaian besar mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh interaksi sionisme simbolik dalam bab 8. Semua teori dalam bab ini memandang adanya hubungan yang erat antara bahasa dan realita.kita melihat dari teori-teori ini bahwa semua aspek realita dibangun secara sosial termasuk diri dan emosi. Interaksi simbolis dibangun melalui komunikasi. mengasumsikan bahasa merupakan hasil interaksi. Para

konstruksionis sosial mengggunakan asumsi tersebut sebagai dasar pemikiran bahwa realita

Sapir dan whorf dilain pihak mengasumsikan bahwa bahasa lebih dulu daripada interaksi dan pola-pola interaksi kita merupakan hasil, bukan penyebab, dari struktur bahasa. Dalam tinjauan atas literatur tentang bahasa, bilingualisme dan sensori neuroscience, Thomas Steinfatt menyimpulkan bahwa meskipun hipotesis Whorfian tidak dapat di uji, bukti atasnya adalah lemah. Meskipun tesis konstruksionis menarik, juga terdapat hambatan besar pada pemikiran ini dari berbagai pihak. Konstruksionisme sosial tetap kontroversial karena ia bertentangan dengan pemikiran akal sehat bahwa realita bersifat objektif dan independen. Sebuah pemikiran yang tertanam dalam pemikiran barat. Meskipun kelihatannya sungguh jelas bagi para konstruksionis bahwa pengalaman manusia dibentuk sebagian besar di dalam dan melalui budaya.banyak ilmuwan sosiobehavioral sama sekali belum mengadopsi asumsi ini. Kebanyakan ilmu sosial masih bersandar pada asumsi bahwa pengalaman manusia bersifat universal, berasal dari warisan biologis dan struktur kognitif umum. Chewitz dan Hikins mengemukakan empat argumentasi melawan tesis konstruksionis. Pertama Argumentasi naif, tidak ada orang yang benar-benar bertindak seolah-olah realita dibangun secara sosial. Kedua Argumentasi evolusioner, jika seorang meyakini pengalaman manusia telah berevolusi , dibutuhkan sense of reality yang obyektif sebagai acuan mengukur evolusi ini. Ketiga Chewitz dan Hikins berdebat dari konsistensi, bahwa tanpa sebuah realita luar, kita tidak bisa mengujji kualitas pengetahuan yang dibangun secara sosial. Keempat argumentasi antropologis menyatakan manusia pada kenyataannya diantara budaya-budaya. Kumpulan teori lain dalam bab ini adalah teori aturan, yang menambahkan lebih jauh tentang pemahaman kita tentang realita sosial dan budaya. Kurangnya konsistensi dalam penggunaan aturan-aturan ini telah mengarah pada kebingungan. David Brenders mengkritik CMM bersandar pada gagasan-gagasan tradisi yang mengikuti aturan untuk menunjukkan bahwa Pearce dan Cronen telah mengaburkan pembedaan-pembedaan yang menurut Austin,Searle, dan yang lainnya(bab 5) adalah penting. Cronen, Pearce dan Changseng berargumen bahwa gagasanada banyak kesamaan

gagasan yang disiratkan oleh tradisi ini tidak sesuai untuk memahami komunikasi sebagai proses melalui mana orang membentuk pengalaman mereka. Analisis Brender dan tanggapan CMM membawa kita berbalik sepenuhnya pada

permasalahan dasar yayng melingkupi konstruksionisme sosial: apakah komunikasi merupakan alat komunikasi secara akurat tentang dunia, atau apakah ia merupakan sarana melalui mana dunia itu ditemukan?

Anda mungkin juga menyukai