Anda di halaman 1dari 96

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Plasenta previa didefinisikan sebagai suatu keadaan seluruh atau sebagian plasenta ber-insersi di ostium uteri internum, sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari jalan lahir yang merupakan salah satu risiko dalam kehamilan. Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Umur tua, paritas tinggi, dan endometrium yang cacat merupakan faktor-faktor yang dapat mempertinggi risiko terjadinya plasenta previa. Apabila plasenta previa ini tidak ditangani dengan baik, maka akan menyebabkan perdarahan yang dapat membahayakan jiwa ibu maupun janin. (Nugraheny, Esti, 2009). Plasenta adalah bagian dari kehamilan yang penting. Dimana plasenta memiliki peranan berupa transport zat dari ibu ke janin, penghasil hormon yang berguna selama kehamilan. Melihat pentingnya peranan dari plasenta maka bila terjadi kelainan pada plasenta akan menyebabkan kelainan pada janin ataupun mengganggu proses persalinan. Kelainan pada plasenta dapat berupa gangguan fungsi dari plasenta ataupun gangguan implantasi dari plasenta. Gangguan dari implantasi plasenta dapat berupa kelainan letak implantasinya ataupun kelainan dari kedalaman implantasinya. Penyebab plasenta previa secara pasti sulit ditentukan, tetapi ada beberapa faktor yang 1

meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa, misalnya bekas operasi rahim (bekas sesar atau operasi mioma), sering mengalami infeksi rahim (radang panggul), kehamilan ganda, pernah plasenta previa, atau kelainan bawaan rahim. Biasanya ibu pada plasenta previa ini mengalami perdarahan dari sedikit hingga banyak tanpa diserta nyeri, perdarahan terjadi pada saat pagi hari setelah bangun tidur dan pada saat beristirahat biasa. Perdarahan pada kehamilan Trimester ketiga pada umumnya merupakan perdarahan yang berat, dan jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat bisa mendatangkan syok dan kematian. Salah satu penyebabnya adalah plasenta previa. Plasenta previa selain menimbulkan penyulit pada ibu, dapat juga menimbulkan penyulit pada janin, yaitu asfiksia sampai kematian janin dalam rahim. Oleh sebab itu, perlulah keadaan ini diantisipasi seawalawalnya selagi perdarahan belum sampai ketahap yang membahayakan ibu dan janinnya (Chalik, 1997). Menurut data World Health Organization (WHO), di berbagai negara paling sedikit seperempat dari seluruh kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, proporsinya berkisar antara kurang dari 10% sampai hampir 60%. Pada tahun 2010 angka kejadian pasenta previa menurut World Health Organization (WHO), memperkirakan prevalensi plasenta previa pada tahun 2008, sekitar 458 dari 100.000 kelahiran setiap tahunnya, prevalensi plasenta previa pada tahun 2009, sekitar 320 dari 100.000 kelahiran, sedangkan prevalensi plasenta previa pada tahun 2010, sekitar 375 dari 100.000 kelahiran (WHO, 2010).

Di Indonesia diperkirakan ada 14 juta kasus perdarahan dalam kehamilan. Setiap tahunnya paling sedikit 128.000 perempuan mengalami perdarahan sampai meninggal. Angka kematian ibu di Indonesia pada tahun 2011 tergolong masih cukup tinggi, mencapai 228 per 100.000 kelahiran. Walaupun sebelumnya Indonesia telah mampu melakukan penurunan dari angka 300 per 100.000 kelahiran pada tahun 2004. Pada tahun 2010 angka kematian ibu ditetapkan pada angka 103 per 100.000 kelahiran (Sutanto, 2011). Menurut Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) tahun 2010, tiga faktor utama kematian ibu melahirkan adalah perdarahan (28%), eklampsia (24%), dan infeksi (11%). Anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya perdarahan yang merupakan faktor utama kematian ibu. Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia merupakan angka tertinggi dibandingkan dengan negaranegara ASEAN lainnya. Berbagai faktor yang terkait dengan resiko terjadinya komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan dan cara

pencegahannya telah diketahui, namun demikian jumlah kematian ibu dan bayi masih tetap tinggi. Perdarahan merupakan penyebab kematian nomor satu (40% s/d 60%) kematian ibu melahirkan di Indonesia. Angka Kematian Ibu (AKI) tahun 2010 sebanyak 305 per 100.000 kelahiran hidup, dari jumlah 3509 ibu yang mengalami plasenta previa pada tahun 2010 didapati ibu yang meninggal 34 orang akibat plasenta previa. Pada tahun 2011 dari jumlah 4012 ibu yang mengalami plasenta previa pada tahun 2011 didapati ibu yang meninggal 44 orang meninggal akibat plasenta previa (Depkes RI, 2011).

Salah satu sasaran strategis dalam pembangunan kesehatan tahun 20102014 yaitu meningkatnya status kesehatan dan gizi masyarakat antara lain dengan meningkatkan umur harapan hidup dari 70,7 tahun menjadi 72 tahun, menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 228 menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup, dan menurunnya angka kematian bayi dari 34 menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup (Kemkes RI, 2010). Prevalensi plasenta previa di negara berkembang seperti Indonesia berkisar antara 0,26 - 2,00% dari seluruh jumlah kehamilan. Angka kejadian dari plasenta previa adalah 0,5% atau 1 diantara 200 persalinan. Di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo terjadi 42 kasus plasenta previa di antara 6587 persalinan yang terdaftar, atau kira-kira 2 di antara 250 persalinan terdaftar (RSCM, 2009). Di Kota Semarang sendiri, berdasarkan laporan Puskesmas jumlah kematian ibu maternal pada tahun 2008 sebanyak 27 kasus dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 25.160. Kejadian kematian ibu maternal paling banyak terjadi pada masa nifas sebesar 11 kasus, kemudian pada persalinan 6 kasus dan masa kehamilan 10 kasus (Profil Kesehatan Kota Semarang 2008). Untuk kasus plasenta previa, di RSUD Kota Semarang selama 2 tahun terakhir (2008-2009) telah terjadi 44 kasus ibu hamil dengan plasenta previa. Dari 20 pasien tersebut, 17 diantaranya adalah multipara (melahirkan lebih dari 1 kali), atau sebanyak 85% pasien dengan plasenta previa pernah melahirkan lebih dari 1 kali. Kasus ini masih menarik dipelajari terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, karena faktor predisposisi yang masih sulit dihindari,

serta karena kurangnya pengawasan ataupun ketidaktahuan ibu tentang faktor yang bisa menyebabkan terjadinya plasenta previa. Dampak yang terjadi akibat plasenta previa itu sendiri adalah perdarahan yang hebat sebelum atau selama persalinan, yang dapat mengancam kehidupan ibu dan janinnya, persalinan prematur atau preterm (sebelum usia kehamilan 37 minggu), yang mana merupakan resiko terbesar bagi janin (Nugraheny, Esti, 2009). Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat penyebab utama kematian ibu belum ada survei khusus, tetapi secara nasional disebabkan karena komplikasi persalinan (55%), retensio plasenta (15%), robekan jalan lahir (19%), plasenta previa (21%), perdarahan dan eklampsia masingmasing (10%), dan komplikasi selama nifas (5%). Berdasarkan data

Departemen Kesehatan Sumatra Barat (Depkes Sumbar, 2011). Sementara di Provinsi Sumatera Barat Angka Kematian Ibu (AKI) sebanyak 34% diakibatkan perdarahan. Penderita plasenta previa setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 prevalensi plasenta previa terjadi sekitar 29 dari 250 kelahiran setiap tahun, pada tahun 2009 prevalensi plasenta previa terjadi sekitar 40 dari 250 kelahiran setiap tahun, pada tahun 2010 prevalensi plasenta previa terjadi sekitar 48 dari 253 kelahiran setiap tahun, pada tahun 2011 prevalensi plasenta previa terjadi sekitar 53 dari 253 kelahiran setiap tahunnya (Depkes, 2009). Untuk mengetahui gambaran penderita plasenta previa berdasarkan faktor resiko di RS.Dr.M.Djamil Padang pada periode Januari 2005-Desember 2006. Ditemukan 75 kasus plasenta previa dari 2967 persalinan. Berdasarkan paritas

penderita kejadian terbanyak ditemukan pada grande mulipara (17.39%). Berdasarkan umur penderita kejadian terbanyak ditemukan pada ibu berusia 21-34 tahun (56%). Berdasarkan adanya riwayat seksio sesaria kejadian terbanyak pada ibu yang tidak mempunyai riwayat seksio sesaria (90,67%). Berdasarkan jenis kehamilan, kejadian terbanyak pada ibu dengan jenis kehamilan tunggal (98,7%). Berdasarkan adanya riwayat abortus, kejadian terbanyak pada ibu dengan tidak ada riwayat abortus (89,33%). Dilihat dari angka kejadian yang meningkat setiap tahunnya diketahui bahwa terdapat kesenjangan pada ibu pariatis beresiko tinggi. Faktor-faktor risiko terjadinya plasenta previa termasuk umur ibu, banyaknya jumlah kehamilan dan kelahiran, merokok selama hamil dan riwayat operasi sesar. Pengaruh paritas terhadap terjadinya plasenta previa cukup besar, hal ini mungkin disebabkan terjadinya respon inflamasi dan perubahan atrofi di permukaan endometrium. Namun ternyata efek dari paritas kurang mempengaruhi terjadinya plasenta previa dibandingkan faktor risiko yang lain (Clark SL, 1985). Pravelensi meningkat setiap tahun sehingga menjadi perhatian yang lebih dalam menangani plasenta previa sangat penting dilakukan untuk mempertahankan kesehatan dan kesejahteraan bayi dan janin. Maka dari itu, penulis tertarik untuk menganalisis asuhan keperawatan pada klien plasenta previa di bangsal kebidanan RSUP.DR.M.DJAMIL Padang.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan dari latar belakang tersebut maka peneliti merumuskan masalah yang diangkat adalah Bagaimanakah Cara Penerapan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Plasenta Previa Mulai Dari Pengkajian Sampai Dokumentasi di Bangsal Kebidanan RSUP. Dr.M.DJAMIL Padang Tahun 2013 C. Tujuan Studi Kasus 1. Tujuan Umum Agar penulis mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami Plasenta Previa di Bangsal Kebidanan RSUP. Dr.M.DJAMIL Padang Tahun 2013 2. Tujuan Khusus a. Untuk dapat melakukan Pengkajian terhadap klien dengan Plasenta Previa. b. Untuk dapat merumuskan Diagnosa Keperawatan terhadap klien dengan Plasenta Previa. c. Untuk dapat menyusun Intervensi Keperawatan terhadap klien dengan Plasenta Previa. d. Untuk dapat melakukan Implementasi Keperawatan yang telah disusun atau direncanakan terhadap klien dengan Plasenta Previa. e. Untuk dapat mengevaluasi Tindakan Keperawatan yang telah diberikan terhadap klien dengan Plasenta Previa.

f. Untuk dapat melakukan Dokumentasi Keperawatan terhadap klien dengan Plasenta Previa. D. Manfaat Studi Kasus 1. Bagi Perkembangan Keperawatan Agar studi kasus ini dapat dijadikan sebagai bahan dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien plasenta previa, sehingga dapat dilakukan dengan segera untuk mengatasi masalah yang terjadi pada pasien plasenta previa. 2. Bagi Instalasi Rawat Inap RSUP M. Djamil Padang. Bagi tempat penelitian di harapkan dapat menjadi bahan evaluasi tenaga kesehatan dan tenaga kesehatan lebih memikirkan bagaimana cara agar angka kejadian plasenta previa menurun. 3. Bagi Klien Bagi klien diharapkan agar ibu dapat lebih memperhatikan

kandungannya sehingga tidak terjadi peningkatan kematian pada ibu hamil yang mengalami plasenta previa serta klien dapat mengetahui tanda dan cara penanganannya.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar 1. Pengertian Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Sarwono Prawirohardjo : 2009 : 365 ) Plasenta previa adalah implantasi plasenta disekitar pembukaan jalan lahir (ostium uteri internum) yang dapat berakibat perdarahan pada kehamilan di atas 22 minggu (Pengantar Kuliah Obsetric:2007:481) Plasenta Previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus (rahim) sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internum) yang berakibat perdarahan pada kehamilan diatas 22 minggu (Ilmu Kebidanan:2009). Plasenta Previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Kapita Selekta Kedokteran:Edisi ketiga:2010). Plasenta previa merupakan keadaan plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir (Asuhan Keperawatan Maternitas:2011:14).

10

Sejalan dengan bertambah membesarnya segmen bawah rahim ke arah proksimal memungkinkan plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim ikut berpindah mengikuti perluasan segmen bawah rahim seolah plasenta tersebut berimigrasi. Ostium uteri yang secara dinamik mendatar dan meluas dalam persalinan kala satu bisa mengubah luas permukaan servik yang tertutup oleh plasenta. 2. Anatomi Fisiologi Plasenta Normal

Gambar 1. Bentuk Plasenta Normal Sumber : http://www.umm.edu/graphics/images/en/17010.jpg a. Bentuk dan ukuran plasenta Uri atau plasenta berbentuk bundar atau oval dengan diameter 15 - 20 cm, tebal 2-3 cm, dan beratnya rata-rata 500 gram. Umumnya plasenta atau uri terbentuk lengkap pada kehamilan 16 minggu dengan ruang amnion membesar sehingga amnion mengisi seluruh rongga rahim.

11

b. Letak plasenta dalam rahim Letak plasenta yang normal umumnya pada korpus uteri didepan atau belakang agak ke atas ke arah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi. Di tempat-tempat tertentu pada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk menampung darah kembali. Pada pinggir plasenta di beberapa tempat terdapat suatu ruang vena yang luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang interviller di atas. Darah ibu yang mengalir di seluruh plasenta diperkirakan naik dari 300 ml tiap menit pada kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan 40 minggu. Perubahan-perubahan terjadi pula pada jonjotjonjot selama kehamilan berlangsung. Pada kehamilan 24 minggu lapisan sinsitium dari vili tidak berubah akan tetapi dari lapisan sitotropoblast sel-sel berkurang dan hanya ditemukan sebagai kelompok-kelompok sel-sel; stroma jonjot menjadi lebih padat, mengandung fagosit-fagosit, dan pembuluh-pembuluh darahnya lebih besar dan lebih mendekati lapisan tropoblast. c. Fungsi Plasenta Supaya janin dapat tumbuh dengan sempurna dibutuhkan penyaluran darah yang baik membawa zat asam, asam amino, vitamin dan mineral dari ibu kepada janin. Begitu pula pembuangan karbondioksida dan limbah metabolisme janin disirkulasi ibu.

12

Fungsi plsenta : 1) Nutrisasi yaitu alat pemberi makanan pada janin. 2) Respirasi yaitu alat penyalur zat asam dan pembuang Karbodioksida (CO2). 3) Ekskresi yaitu alat pengeluaran sampah metabolisme. 4) Produksi yaitu alat yang menghasilkan hormon-hormon. 5) Imunisasi yaitu alat penyalur bermacam-macam antibodi ke janin. 6) Pertahanan alat yang menyaring obat-obatan dan kuman-kuman yang bisa atau tidak melewati plasenta. Hormon yang dihasilkan plasenta adalah : 1) Human Chorionic Gonadotropin (HCG) 2) Chorionic somato-mamotropin (plasental lactogen) 3) Estrogen 4) Progesteron 5) Chorionic thyrotropin dan relaxin (Sinopsis Obsetri) 3. Etiologi Penyebab blastokista berimplantasi pada semen bawah rahim belumlah diketahui dengan pasti. Teori lain mengemukakan sebagai salah satu penyebabnya adalah vaskularisas desidua yang tidak memadai mungkin sebagai akibat dari proses radang atau atrofi. Pariatis tinggi, usia lanjut, dan cacat rahim misalnya bekas bedah sesar, miomektomi

13

berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di endometrium yang semuanya dapat dipandang sebagai faktor risiko terjadinya plasenta previa. Cacat bekas bedah sesar dan pada perempuan perokok berperan menaikan insiden plasenta previa. Penyebab plasenta previa belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya plasenta previa, antara lain : a. Umur Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa umur aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun. Wanita pada umur kurang dari 20 tahun mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami plasenta previa karena endometrium masih belum matang, dan kejadian plasenta previa juga sering terjadi pada ibu yang berumur di atas 35 tahun karena tumbuh endometrium yang kurang subur (Prawirohardjo, 2008). b. Banyaknya jumlah kehamilan dan persalinan (paritas) Plasenta previa lebih sering pada paritas tinggi dari paritas rendah (Manuaba, 2004). Paritas 1-3 merupakan paritas paling aman bila ditinjau dari sudut kematian ibu. Paritas lebih dari 3 dapat menyebabkan angka kematian ibu tinggi (Mochtar, 2002). Menurut Wardana (2007) plasenta previa terjadi 1,3 kali lebih sering pada ibu yang sudah beberapa kali melahirkan dari pada ibu yang baru sekali melahirkan (Primipara)

14

c.

Multipara Terutama jika jarak antara kehamilannya pendek karena endometrium belum sempat tumbuh dengan sempurna.

d.

Mioma uteri Karena menghambat lengketnya pada endometrium.

e.

Kuretasi yang berulang Dapat menyebabkan pelapisan endometrium. (Sulaiman sastra winata : 2005 ).

4.

Klasifikasi a. Plasenta previa totalis Bila plasenta menutupi seluruh jalan lahir. Pada posisi ini, jelas tidak mungkin bayi dilahirkan per-vaginam (norma/ spontan/

biasa), karena risiko perdarahan sangat hebat. Gambar 2. Plasenta previa totalis b. Plasenta previa partialis Bila hanya sebagian/separuh plasenta yang menutupi jalan lahir. Pada posisi inipun risiko perdarahan masih besar, dan biasanya tetap tidak dilahirkan melalui per-vaginam.

Gambar 3. Plasenta previa partialis

15

c.

Plasenta previa marginalis Bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir. Bisa dilahirkan

pervaginam tetapi risiko perdarahan tetap besar. Gambar 4. Plasenta previa marginalis d. (Plasenta letak rendah, lateralis plasenta atau kadang disebut juga dangerous plasenta) Posisi plasenta beberapa mm atau cm dari tepi jalan lahir. Risiko perdarahan tetap ada, namun bisa dibilang kecil, dan bisa dilahirkan per-vaginam dengan aman, asal hati-hati. (Ilmu Kebidanan : 2009) Gambar 5. Plasenta previa letak rendah atau lateralis

5.

Patofisiologi

Terjadinya plasenta previa belum diketahui tetapi ada beberapa faktor yang dapat mengakibatkan terjadinya plasenta previa. Pada usia kehamilan yang lanjut dengan bertambah tuanya kehamilan umumnya pada trisemester tiga atau lebih awal dan mungkin juga lebih awal, karena telah terbentuknya segmen bawah rahim, selaput plasenta akan mengalami pelepasan. Selaput plasenta terbentuk dari jaringan maternal yaitu bagian desidua basalis yang bertumbuh menjadi bagian dari uri. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim, maka

16

plasenta yang berimplantasi akan mengalami laserasi akibat pelepasan pada desidua sebagai selaput plasenta. Pada waktu servik mendatar dan lebih membuka ada bagian selaput plasenta yang terlepas melekat disitu tanpa terlepasnya sebagian dari plasenta dari dinding uterus. Pada perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu dari ruangan intervillus dari plasenta, karena fenomena pembentukan bawah rahim itu mulai terjadi perdarahan pada plasenta previa. Darahnya berwarna merah segar, berbeda dengan darah yang disebabkan solusio plasenta yang berwarna merah kehitam-hitaman. Sumber perdarahannya disebabkan sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan ditempat itu relatif mudah, banyak, dan tidak dapat dihindarkan karena segmen bawah rahim dan serviks tidak mampu berkontraksi dengan kuat karena elemen otot sangat minimal akibat pembuluh darah pada tempat itu tidak minimal, dan ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterua yang berkontraksi menghentikan perdarahan pada kala III pada plasenta yang letaknya abnormal. Perdarahan akan berhenti karena terjadi pembekuan kecuali jika ada laserasi mengenai sinus yang besar dari plasenta mengalami perdarahan yang banyak dan lebih lama. Perdarahan keluar berwarna merah segar tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan pertama dari plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur atau bekerja biasa. Perdarahan pertama biasanya tidak banyak sehingga tidak

17

akan berakibat fatal. Pada plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum perdarahan terjadi kehamilan dan tidak jarang pula pula

dimulai sejak kehamilan 20 minggu karena segmen bawah rahim terbentuk lebih dahulu pada bagian terbawah ostium uteri internum dan mulai melebar dan menipis. Perdarahan diperhebat terhubung dengan segmen bawah rahim tidak mampu berkontraksi sekuat segmen atas rahim. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini. Pada plasenta previa parsialis atau letak rendah perdarahan baru terjadi pada waktu mendekati atau mulai persalinan. Perdarahan pertama sudah bisa terjadi pada kehamilan > 30 minggu tetapi separuh kejadian terjadi pada umur 34 minggu keatas. (Ilmu Kebidanan : 2009)

18

6.

WOC Plasenta Previa

Usia ibu < 20 th

Usia ibu > 35 th

6. WOC Plasenta Previa

Gaya Hidup ( Merokok, Minum alkohol, Malnutrisi ) Mempengaruhi kesiapan lapisan rahim untuk konsepsi

Jarak Kehamilan < 2 th endometrium belum sempat tumbuh sempuna

Riwayat Sesar

Kuretasi yang berulang

Mempengaruhi kekuatan Penipisan lapisan plasenta lapisan rahim

Mempengaruhi lapisan rahim,

penipisan endometrium

Kehamilan lanjut dan tuanya kehamilan ( Trisemester 3 )

Selaput plasenta terbentuk dari jaringan maternal

Bagian desidua basalis yang tumbuh menjadi uri

Kehamilan 20 minggu segmen bawah uterus terbentuk mulai melebar dan menipis

Pelepasan pada desidua sebagai selaput plasenta plasenta yang berimplantasi mengalami lasersi

saat servik lebih mendatar dan lebih membuka

18

serabut otot segmen uterus tidak mampu berkontraksi

Pembuluh darah tidak akan menutup sempurna

19

Elemen otot tidak minimal Segmen bawah rahim dan serviks tidak berontraksi dengan kuat

Segmen bawa rahim tidak mampu berkontraksi sekuat segmen atas rahim Makin rendah plasenta Perdarahan

Robekan sinus marginalis pada plasenta Lepasnya plasaenta pada dinding uterus Menyebabkan sinus uterus robek

Tidak ada nyeri Akral dingin Tekanan Darah menurun Kapilar refil < 3 detik sianosis Pucat Nadi teraba cepat tetapi lemah MK : Syok Hipovolemik

Eritrosit menurun Hemoglobin menurun Oksigen kejanin Menurun Aliran darah terganggu suplai oksigen terganggu ke jaringan MK : Resiko Tinggi Distres Janin Pucat Lemah Tekanan Darah menurun Konjungtiva anemis

Pucat Lemah Mukosa kering Turgor kulit jelek Kulit kering Tekanan Darah menurun

MK : Kekurangan volume cairan

Aktivitas terganggu Pucat Tidak banyak bergerak Aktivitas dibantu lemah

MK : Resiko Tinggi Anemia Kematian

Prematur Takut Cemas Gelisah Banyak bertanya

19

MK : Intoleransi Aktivitas

MK : Cemas

20

7.

Manifestasi Klinis Manifestasi klinis dalam hal ini adalah gejala utama dan gejala klinik. a. Gejala Utama Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang berwarna merah segar, tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri. b. Gejala Klinik 1) Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal dan masih dapat diatasi dengan baik sampai janin mencapai aterm atau paling tidak berusia 37-38 minggu. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada trimester ketiga. Perdarahan pervaginam warna merah segar. 2) Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa, tidak mengeluh adanya rasa sakit atau nyeri. 3) Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang. 4) Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul 5) Tidak jarang terjadi kelainan letak janin (letak lintang atau letak sungsang)

8.

Komplikasi Komplikasi yang terjadi pada plasenta previa yaitu : a. Karena pembentukan segmen rahim terjadi secara ritmik, maka pelepasan plasenta dari tempat melekatnya di uterus dapat berulang

21

dan semakin banyak, dan perdarahan yang terjadi tidak dapat dicegah sehingga penderita menjadi anemia bahkan syok. b. Karena plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan sifat segmen ini yang tipis, maka jaringan trofoblas dengan kemampuan invasinya menerobos ke dalam miometrium bahkan sampai ke perimetrium dan menjadi sebab dari kejadian plasenta inkreta dan bahkan plasenta perkreta. c. Serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan kaya pembuluh darah sangat potensial untuk robek disertai perdarahan yang banyak. Oleh karena itu, harus sangat berhati-hati pada semua tindakan manual di tempat ini misalnya pada waktu mengeluarkan anak melalui insisi pada segmen bawah rahim ataupun waktu

mengeluarkan plasenta dengan tangan pada retensio plasenta. d. Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi. Hal ini memaksa lebih sering diambil tindakan operasi dengan segala konsekuensinya. e. Kelahiran premature dan gawat janin sering tidak terhindarkan sebagian oleh karena tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan dalam kehamilan belum aterm. f. Berisiko tinggi untuk solusio plasenta (risiko relative 13,8), seksio sesarea (risiko relative 1,7), kematian maternal akibat perdarahan (50 %), dan disseminated intravascular coagulation (DIC) 15,9 %. (Sarwono Prawirohardjo:2009:Jakarta).

22

9.

Pengaruh Plasenta Previa Terhadap Kehamilan Karena dihalangi oleh plasenta maka bagian terbawah janin tidak terfiksir kedalam pintu atas panggul, sehingga terjadilah kesalahankesalahan letak janin, letak kepala mengapung, letak sungsang letak lintang. Sering terjadi partus prematurus karena adanya rangsangan koagulan darah pada serviks. Selain itu jika banyak plasenta yang lepas kadar progesterone turun dan dapat terjadi His. Juga lepasnya plasenta sendiri dapat merangsang his.

10. Pengaruh Plasenta Previa Terhadap Persalinan a. Letak janin yang tidak normal, menyebabkan partus akan menjadi patologis. b. Bila pada plasenta previa lateralis, ketuban pecah atau dipecahkan dapat terjadi prolaps funikuli. c. Pardarahan.

11. Pemeriksaan Diagnostik a. Pemeriksaan penunjang sangat penting untuk: 1) Memastikan diagnosa 2) Sinar X Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian tubuh janin. 3) Pemeriksan USG, sangat banyak digunakan serta untuk membantu menegakkan diagnosa dan letak plasenta previa sehingga rencana pertolongan persalianan dapat ditetapkan. Bahkan diagnosisnya

23

sudah dapat ditegakkan usia kehamilan 20 minggu sehingga ibu hamil dapat diberikan nasihat untuk memperhatikan kemungkinan perdarahan antepartum. Terminasi kehamilan juga sudah dapat direncanakan sebelum terjadi perdarahan. Pemeriksaan USG ini dilakukan empat kali selama kehamilan agar implantasi plasenta dengan plasenta previa sudah dapat diketahui. 4) Sitografi, mula-mula kandungan kemih dikosongkan, lalu 40cc larutan NaCl 12,5% kepala janin ditekan kearah pintu atas panggul. Bila jarak kepala dan kemih berselisih dari 1 cm, kemungkinan terdapat plasenta previa. 5) Doppler, Laennec untuk mengetahui keadaan denyut jantung janin, apakah janin mengalami fetal distress atau tidak. b. Pemeriksaan laboratorium Pada kasus perdarahan antepartum sangat penting dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan darah lengkap yaitu : 1) Untuk mendapatkan gambaran keadaan darah 2) Persiapan untuk memberikan transfusi 12. Penatalaksanaan Medik a. Penatalaksanaan Medik : 1) Pasang infus NaCl 2) Berikan cairan peroral seperti air putih dan teh manis. 3) Berikan tablet Fe seperti sangobion.

24

4) Pantau tanda-tanda vital seperti tekanan darah, nadi, suhu. pernafasan secara teratur setiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat perdarahan. 5) Sebelum penderita syok, pasang infus NaCl/RL sebanyak 2-3 kali jumlah darah yang hilang. 6) Lakukan pemeriksaan Hemoglobin, leukosit, dan golongan darah, siapkan darah. 7) Bila terjadi rejatan segera lakukan resusitasi cairan dan transfusi darah. 8) Persiapan Seksio sesarea. b. Penatalaksanaan Non Medik. 1) Istirahat baring (bedrest total). 2) Tidak melakukan sanggama. 3) Menghindari tekanan rongga perut misalnya batuk, mengedan karena sulit buang air besar. 4) Tidak boleh melakukan aktivitas yang berat seperti mencuci pakaian, mengangkat air, dan membersihkan rumah terlalu berlebihan. 5) Banyak makanan yang bergizi seperti banyak mengandung protein, karbohidrat, dan mengkonsumsi susu yang cukup. ( Kapita Selekta Kedokteran : 2009 )

25

B. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS 1. Pengkajian a. Identitas Klien Identitas klien yang meliputi nama, nomer Rekam Medik (RM), umur, pekerjaan, pendidikan, agama, jenis kelamin, suku bangsa, alamat, penanggung jawa. Identitas suami yang meliputi nama, pekerjaan, umur, pendidikan, agama, suku bangsa dan alamat. b. Riwayat Kesehatan 1) Keluhan Utama Biasanya yang ditemui pada plasenta previa ibu mengalami perdarahan pervaginam tanpa rasa sakit, tanpa alasan. Darah yang keluar berwarna merah segar. 2) Riwayat Kesehatan Dahulu Biasanya mempunyai riwayat plasenta previa, biasanya

mempunyai riwayat bedah sesar, biasanya mempunyai riwayat merokok selama hamil, biasanya jarak kehamilan dengan sebelumnya terlalu dekat, biasanya terjadi pada grand mulipara, biasanya terjadi pada paritas tinggi, biasanya riwayat mioma uteri, biasanya sering mengalami infeksi rahim (radang panggul), biasanya kehamilan ganda 3) Riwayat Kesehatan Sekarang Biasanya klien mengalami perdarahan yang sedikit atau banyak berwarna merah segar tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri, biasanya

26

klien mengalami perdarahan pada trisemester tiga, biasanya klien datang dengan perdarahan tidak mengeluh adanya rasa sakit, biasanya pada dinding abdomen tidak tegang atau kaku, biasanya terdapat kelainan letak janin (letak sungsang). 4) Riwayat Kesehatan Keluarga. Penyakit ini bukanlah suatu penyakit keturunan melainkan suatu kelainan pada letak plasenta yang abnormal. c. Riwayat Obsetric 1) Riwayat Perkawinan. a) Kemungkinan diketahui status perkawinan, umur waktu kawin, berapa lama kawin baru hamil (a) Umur Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa umur aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun. Wanita pada umur kurang dari 20 tahun mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami plasenta previa karena endometrium masih belum matang, dan kejadian plasenta previa juga sering terjadi pada ibu yang berumur di atas 35 tahun karena tumbuh endometrium yang kurang subur (Prawirohardjo, 2008). (b) Status perkawinan Pengaruh riwayat perkawinan terhadap permasalahan kesehatan klien, berapa kali kawin dan berapa lamanya

27

untuk membantu menentukan bagaimana keadaan alat kelamin ibu b) Biasanya ditemui antara wanita-wanita yang berusia kurang dari 19 tahun, hanya 1 dari 1500 yang mengalami plasenta previa. Satu dari 100 wanita yang berusia lebih dari 35 tahun akan mengalami plasenta previa. Wanita lebih dari 35 tahun, 3 kali lebih berisiko. 2) Riwayat Obstetric Yang Lalu a) Kemungkinan klien pernah mengalami riwayat tindakan medis yang dilakukan pada uterus, seperti dilatasi dan kuretase sehingga dapat menyebabkan pelapisan endometrium dan ibu mengalami perdarahan (Sulaiman sastra winata : 2005 ). b) Kemungkinan klien pernah operasi sesar sebelumnya, pada wanita-wanita yang pernah menjalani operasi sesar

sebelumnya maka sekitar 4 dari 100 wanita tersebut akan mengalami plasenta previa. Resiko akan makin meningkat setelah mengalami empat kali operasi sesar pada wanita wanita yang pernah menjalani operasi sesar, maka 1 dari 10 wanita akan mengalami plasenta previa. c) Pada multipariati apalagi bila jaraknya terlalu singkat secara teori plasenta yang baru berusaha mencari tempat selain bekas plasenta sebelumnya.

28

d) Kemungkinan klien pernah mengalami riwayat plasenta previa sebelumnya, beresiko 12 kali lebih besar. 3) Riwayat Kehamilan Saat Ini Biasanya klien merasakan mual, muntah seperti kehamilan biasanya pada kehamilan tua yaitu pada saat trisemester 3 dan mengalami perdarahan berwarna merah segar. Biasanya klien kurang memperhatikan janin yang ada didalam kandugannya dan biasanya belum adanya tanda-tanda persalinan. d. Pemeriksaan Fisik 1) Keadaan Umum Klien a) Tingkat Kesadaran Jika klien tidak mengalami syok biasanya kesadaran klien compos metis, tetapi jika klien yang mengalami syok maka klien akan terlihat gelisah, bingung atau hilangnya kesadaran (Saifuddin, 2002). b) Tanda tanda vital 1) Tekanan darah : Pada kasus plasenta previa tekanan darah rendah ( 90/70 mmHg 120/80 mmHg ). 2) Nadi : Pada kasus plasenta previa nadi normal (60 80 kali/ menit), kecuali apabila pasien mengalami syok maka nadinya akan cepat atau lambat (110 kali per menit atau lebih)

29

3) Pernafasan

: Pada kasus plasenta previa pernafasan ibu masih normal (16-20 kali/menit), kecuali apabila pasien mengalami syok maka pernapasan akan cepat (30 kali per menit atau lebih) (Saifuddin, 2002).

4) Suhu

: Pada kasus plasenta previa suhu normal (36oC- 37oC). ) (Saifuddin, 2002).

2) Kepala. a) Wajah. Pada pasien plasenta previa biasanya wajah terlihat pucat. b) Mata. (a) Scelera biasanya pada pasien plasenta previa sedikit ikterik. (b) Konjungtiva biasanya terlihat anemis, ini dikarenakan perdarahan yang dialami oleh ibu sehingga menyebabkan ibu biasanya terlihat anemis. (c) Mata biasanya terlihat lelah dikarenakan perdarahan. (d) Palpebra biasanya tidak terlihat edema. (e) Biasanya klien terlihat lingkaran hitam pada matanya akbat klien terlalu lelah.

30

c) Hidung Biasanya pasien dengan plasenta previa tidak

menggunakan alat bantu pernafasan seperti cuping hidung, dan tidak adannya sekret, darah yang menghambat jalannya pernafaan. d) Bibir Biasanya pasien dengan plasenta previa bibir terlihat kering, pecahpecah, dan pucat akibat dari perdarahan yang terjadi. e) Gigi Biasanya pasien dengan plasenta previa terdapat caries dan kebersihan gigi kurang karena klien tidak dapat melakukan aktivitas dengan baik. f) Lidah Biasanya pasien dengan plasenta previa kebersihan lidah kurang baik dan lidah terlihat kotor akibat klien tidak melakukan oral hygiene seperti biasa. 3) Leher Biasanya pasien dengan plasenta previa tidak adanya pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar limfe, dan kelenjar getah bening.

31

4) Dada / Thorak a) Inspeksi : Biasanya rongga dada simetris, jenis pernafasan menggunakan perut, biasanya mammae mengalami

pembesaran adanya hiperpigmentasi pada areola mammae. b) Palpasi : biasanya terdapat colostrums karena tidak adanya kelainan pada payudara ibu. c) Perkusi : Biasanya bunyi yang dihasikan normal dan tidak adanya massa. d) Auskultasi : Biasanya tidak terdapat nafas tambahan seperti weezing, ronkhi. 5) Jantung. Inspeksi : Biasanya ictus tidak terlihat karena tidak ada kelainan. Palpasi Perkusi : Biasanya ictus tidak teraba karena tidak ada kelainan. :Biasanya sonor karena tidak ada kelainan pada jantung

Auskultasi :Bisanya kekuatan otot kuat karena tidak ada kelainan 6) Abdomen. Inspeksi : perut klien biasanya membuncit seperti orang hamil Palpasi : a) Karena plasenta disegmen bawah uterus dapat dijumpai kelainan letak janin dalam rahim dan bagian terendah masih tinggi. b) Biasanya saat palpasi tidak membuat ibu hamil merasa nyeri dan perut tidak tegang.

32

c)

Cara palpasi menurut Leopold dengan variasi Leopold 1: (a) Pemeriksaan mennghadap ke arah muka ibu hamil. (b) Menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin dalam fundus. (c) Konsistensi uterus Variasi menurut Knebel : Gambar6. Leopold I

Menentukan letak kepala atau bokong dengan satu tangan difundus dan tangan lain diatas simfisis. Leopold II: (a) Menentukan rahim kanan kiri (b) Menentukan janin. (c) Pada letak lintang, tentukan Gambar7. Leopold II letak punggung batas samping

dimana kepala janin. Variasi menurut Budin :

Menentukan letak punggung dengan satu tangan menekan funndus. Leopold III: (a) Menentukan bagian terbawah janin.

33

(b) Apakah bagian terbawah tersebut sudah masuk pintu atas panggung (PAP) atau masih goyang. Variasi menurut Ahlfeld : Menentukan letak punggung dengan pinggir tangan kiri diletakkan tegak ditengah perut. Leopold IV: (a) Pemeriksaan menghadap ke arah kaki ibu hamil. (b) Bisa juga menentukan bagian terbawah janin apa dan berapa jauh sudah masuk pintu atas pangggul (PAP). Auskultasi : denyut jantung janin bervariasi. 7) Genitourinaria. a) Gambar 9. Leopold IV Gambar8. Leopold III

Biasanya terdapat perdarahan bervaginam encer sampai menggumpal.

b) Biasanya darah yang keluar berwarna merah segar. c) Biasanya urine tidak mengalami gangguan dan berwarna kekuning-kuningan. (FK UNPAD, 2005).

34

8) Ekstremitas. Biasanya pada pasien dengan plasenta previa ekstremitas tidak terjadi edema, dan kekuatan otot berkurang akibat cairan yang keluar. 9) Sistem Integumen Biasanya pada pasien dengan plasenta previa keadaan turgor kulit terlihat kering, suhu kulit hangat. e. Data Aktivitas Sehari Hari. 1) Nutrisi. a) Makanan. Biasanya pada pasien dengan plasenta previa pola makan yang kuarang baik, biasanya klien pernah merokok yang dapat mengakibatkan menipisan pada endometrium. Wanita hamil sebaiknya mengkonsumsi makanan yang gizinya seimbang, termasuk buah-buahan dan sayur-sayuran (Mochtar, 2008:59). b) Cairan. Biasanya klien sering mengkonsumsi alkohol. c) Istirahat dan tidur. Biasanya pada pasien dengan plasenta previa pola tidur terganggu, kondisinya. d) Kebersihan diri. Akibat kelemahan yang terjadi sehingga biasanya pada pasien dengan plasenta previa personal hygiene pada dirinya kurang baik. biasanya sulit tidur. akibat cemas dengan

35

f. Data Psikososial. Biasanya klien mengharapkan selalu adanya respon orang tua dan keluarga terhadap kehamilannya, dukungan keluarga, pengambil keputusan dalam keluarga, kebiasaan hidup sehat meliputi kebiasaan merokok, minum obat atau alcohol, beban kerja dan kegiatan seharihari, tempat melahirkan dan penolong yang diinginkan (Pusdiknakes, 2004:39). g. Pemeriksaan Diagostik. Pemeriksaan penunjang sangat penting untuk: 1) Memastikan diagnosa. 2) Sinar X. Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian tubuh janin. 3) Pemeriksaan USG, sangat banyak digunakan serta untuk membantu menegakkan diagnosa dan letak plasenta previa sehingga rencana pertolongan persalianan dapat ditetapkan. Bahkan diagnosisnya sudah dapat ditegakkan usia kehamilan 20 minggu sehingga ibu hamil dapat diberikan nasihat untuk memperhatikan kemungkinan perdarahan antepartum. Terminasi kehamilan juga sudah dapat direncanakan sebelum terjadi perdarahan. Pemeriksaan USG ini dilakukan empat kali selama kehamilan agar implantasi plasenta dengan plasenta previa sudah dapat diketahui.

36

4) Sitografi, mula-mula kandungan kemih dikosongkan, lalu 40cc larutan NaCl 12,5% kepala janin ditekan kearah pintu atas panggul. Bila jarak kepala dan kemih berselisih dari 1 cm, kemungkinan terdapat plasenta previa. 5) Doppler, Laennec untuk mengetahui keadaan denyut jantung janin, apakah janin mengalami fetal distress atau tidak. 6) Pemeriksaan laboratorium. Pada kasus perdarahan antepartum sangat penting dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan darah lengkap yaitu : a) Untuk mendapatkan gambaran keadaan darah.

b) Persiapan untuk memberikan transfusi. 2. Diagnosa Keperawatan a. b. Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan adanya perdarahan. Resiko terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan banyak. c. Resiko tinggi terjadinya fetal distres berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang. d. Resiko tinggi anemia berhubungan dengan hemoglobin yang menurun akibat perdarahan. e. f. Ansietas berhubungan dengan masalah kesehatan perdarahan Intoleransi aktivitas berhubungan dengan respon tubuh terhadap aktivitas.

37

3. Intervensi Keperawatan Tujuan dan Kriteria No 1. Diagnosa Keperawatan Hasil Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan adanya perdarahan. Tujuan : Mandiri 1. Mengantisipasi terjadinya syok hipovolemik Intervensi Keperawatan Rasional

Setelah di berikan asuhan 1. Kaji tentang banyaknya keperawatan ... x 24 jam klien menunjukkan ada keseimbangan cairan. Kriteria Hasil : - Tidak ada perdarahan berulang - Turgor kulit baik - Pengisian kapiler cepat pengeluaran cairan (perdarahan). 2. Kaji tanda-tanda vital seperti tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu, bandingkan dengan hasil normal klien sebelumnya.

2. Perubahan tekanan darah dan nadi dapat digunakan untuk perkiraan kehilangan darah ( misalnya : TD < 90 mmHg, dan nadi > 110, diduga 25 % penurunan volume atau kurang lebih 1000 ml). Hipotensi

- Tanda tanda vital postural menunjukkan

37

38

stabil - Membran lembab. mukosa 3. Observasi tanda-tanda kekurangan cairan seperti pucat, turgor kulit jelek dan monitor perdarahan dengan cara melihat berapa banyak output yang keluar pervaginam. 4. Awasi tekanan darah dan frekuensi jantung

penurunan volume sirkulasi. 3. agar tidak terjadi kekurangan cairan lebih banyak lagi

4. Perubahan darah menunjukkan efek hipovolemia (perdarahan / dehidrasi )

5. Catat respon fisiologis individual klien terhadap perdarahan, misalnya

5. Memburuknya menunjukkan perdarahan

gejala

dapat

berlanjutnya atau tidak

38

39

perubahan mental, kelemahan, gelisah, ansietas, pucat, takipnea. 6. Jelaskan pada klien untuk mempertahankan cairan yang masuk dengan banyak minum. Kolaborasi 7. Berikan cairan IV sesuai indikasi seperti cairan NaCl.

adekuatnya cairan.

penggantian

6. Memberikan pedoman untuk pengganti cairan yang hilang.

7. Untuk mengganti cairan yang hilang agar tidak terjadi

hipovolemik 8. Berikan tranfusi darah bila perlu sesuai dengan indikasi yang diberikan. 8. Untuk anemia mencegah terjadinya

39

40

2.

Resiko

terjadinya

syok

Tujuan :

9. Periksa golongan darah Mandiri

9. Untuk antisipasi transfusi memonitor tanda-

hipovolemik berhubungan dengan perdarahan banyak.

Setelah di berikan asuhan 1. Monitor tanda tanda syok 1. Dengan keperawatan ... x 24 jam tidak terjadi syok seperti : akral dingin, tekanan darah menurun, kapilar refil < 3 detik, sianosis, pucat, nadi lemah. teraba cepat tetapi

tanda syok dapat diketahui secara dini kemungkinan

hipovolemik Kriteria Hasil : - Tidak ada perdarahan lagi - Tanda tanda vital dalam keadaan normal

terjadinya syok

2. Monitor tanda tanda vital 2. Diharapkan dapat mengetahui seperti tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu setiap 15 menit sekali perdarahan perdarahan yang terjadi pada klien hipotensi atau syok akibat perdarahan

40
3. Monitor perdarahan seperti 3. Memonitor perdarahan dapat melihat berapa banyak duk diketahui berapa banyak klien

41

atau pembalut yang telah diganti atau alat yang dipakai untuk perdarahan.

telah kehilangan darah dan memudahkan menentukan selanjutnya. klien untuk tindakan

4. Berikan cairan infus sesuai 4. Berikan dengan indikasi yang

cairan

infus

diharapkan dapat mengganti cairan dan zat yang hilang akibat perdarahan.

diberikan seperti NaCl.

5. Berikan tranfusi darah sesuai 5. pemberian program dokter.

tranfusi

darah

diharapkan dapat mengganti darah dengan cepat sehingga kemungkinan diatasi. syok dapat

41

3.

Resiko tinggi terjadinya fetal distres berhubungan

Tujuan :

Mandiri resiko terjadinya 1. Kooperatif pada tindakan

Setelah di berikan asuhan 1. Jelaskan

42

dengan perfusi darah ke plasenta berkurang.

keperawatan ... X 24 jam diharapkan tidak terjadi fetal distress Kriteria hasil : - DJJ normal / terdengar - Adanya bayi - Bayi lahir selamat. pergerakan

dister janin / kematian janin pada ibu 2. Hindari tidur terlentang dan anjurkan tidur ke posisi kiri 2. Tekanan uterus pada vena cava, darah sehingga menyebabkan kejantung terjadi aliran menurun gangguan

perfusi jaringan. 3. Observasi tekanan darah dan nadi klien 3. Penurunan dan peningkatan denyut nadi terjadi pad

sindroma vena cava sehingga klien harus di monitor secara teliti. 4. Oservasi perubahan frekuensi dan pola Denyut Jantung 4. Penurunan frekuensi plasenta mengurangi kadar oksigen

42

43

janin

dalam

janin

sehingga perubahan

menyebabkan

frekuensi jantung janin. 5. Berikan O2 10 12 liter dengan masker jika terjadi 4. Resiko tinggi anemia Tujuan : tanda-tanda fetal distress Intervensi 1. Perdarahan yang banyak dapat mengakibatkan ibu mengalami syok. 5. Meningkat oksigen pada janin.

berhubungan

dengan Setelah di berikan asuhan 1. Monitor tingkat perdarahan klien.

hemoglobin yang menurun keperawatan 2 x 24 jam akibat perdarahan. klien menunjukkan klien akan terhindar dari anemia Kriteria hasil: - Konjungtiva muda. - Hemoglobin dalam batas merah

43

2. Kaji tanda-tanda vital seperti tekanan darah, nadi,

2. Mengetahui keadaan umum dan menentukan pengobatan selanjutnya

pernafasan, dan suhu setiap 15 detik.

44

normal - Kapilary refill < 3 detik

3. Berikan

diit

tinggi

kalori

3. Nutrisi yang cukup dapat membantu pemulihan anemis 4. Tanda-tanda yang diketahui sejak dini akan mempermudah pengobatan dan mempercepat penyembuhan.

tinggi protein. 4. Monitor tanda-tanda anemia: tampak lelah, tidak

bersemangat, kulit pucat.

Kolaborasi 5. Bila anemia berat pemberian cairan dan transfusi darah 5. Ansietas berhubungan dengan masalah kesehatan perdarahan Tujuan : Mandiri dapat mengetahui 5. Pemberian RL dengan di grojok akan merehidrasi dan mengembalikan Hb ke normal

44

Setelah di berikan asuhan 1. Kaji tingkat dan penyebab 1. Agar keperawatan ... X 24 jam diharapkan klien teratasi kecemasan kecemasan

tingkatan cemas dan penyebab cemas sehingga dapat

mengatasi masalah tersebut

45

Kriteria Hasil : - Klien terlihat tenang. - Klien kooperatif. - Klien sudah bersifat

2. Orientasikan lingkungan penjelasan sederhana.

pada 2. Agar dengan

klien

lebih

bisa

beradaptasi dengan lingkungan yang baru sehingga klien lebih rileks

tidak 3. Libatkan terdekat perawatan

klien dalam dan

orang rencana dorong

3. Keterlibatan akan memfokuskan perhatian klien dalam arti positif dan memberikan rasa kontrol.

banyak bertanya.

partisipasi maksimum pada rencana pengobatan

45

4. Anjurkan klien melakukan teknik relaksasi, misalnya

4. Memberikan arti penghilang respons ansietas, menurunkan perhatian, meningkatkan relaksasi meningkatkan kemampuan koping.

nafas dalam, membaca.

46

5. Berikan dorongan pada klien untuk perasaan. mengekspresikan

5. Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk

Kolaborasi 6. Berikan indikasi sedatif dan awasi sesuai efek

mengatasi. 6. Untuk menangani ansietas dan meningkatkan istirahat.

46

merugikan. 5 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan respon tubuh terhadap aktivitas perdarahan Tujuan : Setelah di berikan asuhan 1. keperawatan ... x 24 jam klien dapat melakukan Mandiri Observasi tekanan darah, 1. Manifestasi kardiopulmonal

nadi, pernafasan selama dan sesudah aktivitas. Catat

dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah

47

aktivitas dengan baik. Kriteria Hasil : - Klien dapat melakukan

respon aktivitas

terhadap

tingkat (misalnya

oksigen adekuat ke jaringan.

peningkatan tekanan darah ) kemampuan pasien 2. Mempengaruhi intervensi atau bantuan pilihan

aktivitas secara mandiri 2. Kaji - Saat klien melakukan aktivitas perdarahan

dalam melakukan aktivitas normal 3. Berikan nyaman lingkungan dan

tidak terjadi lagi

yang 3. Meningkatkan istirahat untuk tenang, menurunkan oksigen tubuh. kebutuhan

pertahankan tirah baring bila diindikasikan. 4. Berikan bantuan

dalam 4. Untuk meringankan aktivitas yang dilakukan pasien.

aktivitas bila perlu.

48

48

4. Implementasi Merupakan proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan ( tindakan keperawatan ) yang telah direncanakan dalam rencana tindakan keperawatan. 5. Evaluasi Mengevaluasi proses keperawatan dengan cara melakukan klasifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan yang tercapai atau tidak.

49

BAB III TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian Tanggal Pengkajian Ruangan : 8 April 2013 : Kebidanan

1. Identitas Klien Nama Umur No. Rekam Medik Agama Pekerjaan Pendidikan Suku Bangsa Jenis Kelamin Alamat : Ny. N : 34 Tahun : 82.31.11 : Islam : Ibu Rumah Tangga : Tamat SD : Minang : Perempuan : Jorong Pulau Panjang Kel. Air Bangis Pasaman Barat Tanggal Masuk Diagnosa Medik Tanggal Operasi Sumber Informasi Ruang Rawat : 6 April 2013 : Plasenta Previa Totalis : 10 April 2013 : Klien dan keluarga klien. : Kamar Rawat RSUP. Dr. M. Djamil Padang

50

50

Penanggung Jawab Nama Hubungan Pekerjaan Umur Pendidikan Agama Suku bangsa Alamat : Nafai : Suami : Buruh : 35 Tahun : Tamat SMA : Islam : Minang : Jorong Pulau Panjang Kel. Air Bangis Pasaman Barat 2. Riwayat Kesehatan a. Keluhan Utama Ny. N dengan umur 34 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. M.Djamil Padang tanggal 6 April 2013 jam 20.30 WIB dengan keluhan keluar darah pervaginam tanpa rasa sakit sejak 2 jam yang lalu dan tanpa alasan, klien mengatakan darah yang keluar berwarna merah segar. b. Riwayat Kesehatan Dahulu Klien mengatakan belum pernah mengalami penyakit yang sama, klien mengatakan tidak pernah melahirkan secara sesar, klien mengatakan tidak mempunyai riwayat merokok, Klien mengatakan tidak pernah melakukan pekerjaan yang berat selama hamil, klien mengatakan jarak kehamilannya kurang lebih 3 tahun, klien mengatakan sudah 4 kali melahirkan secara normal dan tidak ada kelainan pada kehamilannya.

51

c. Riwayat Kesehatan Sekarang Keluhan saat masuk tanggal 6 April 2013 Klien mengatakan mengalami perdarahan pada trisemester 3, klien mengatakan keluar darah yang banyak dari kemaluannya sejak 2 jam yang lalu, klien mengatakan darah yang keluar berwarna merah terang/segar tanpa alasan, klien mengatakan darah yang keluar tanpa ada rasa nyeri, klien mengatakan tidak ada keluar lendir yang bercampur darah dari kemaluannya. Keluhan saat pengkajian 8 April 2013 Pada saat pengkajian klien terlihat hanya berbaring ditempat tidur dan tidak dapat banyak beraktifitas karena badan klien terasa lemas seperti tidak berenergi, klien mengatakan masih keluar darah dari kemaluannya sejak 2 hari yang lalu, klien mengatakan darah yang keluar berwarna merah terang, klien mengatakan darah yang keluar tanpa ada rasa nyeri, klien mengatakan cemas dengan kehamilannya sekarang karena klien takut terjadi sesuatu pada kandungannya. d. Riwayat Kesehatan Keluarga. Klien mengatakan tidak ada keluarga yang mempunyai riwayat kesehatan yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan, klien juga mengatakan tidak ada keluarganya yang mempunyai keturunan seperti riwayat hipertensi, riwayat diabetes militus (DM), riwayat jantung, dan riwayat alergi

52

3. Riwayat Obsetric a. Riwayat Menarche Usia menarche Siklus : 13 tahun

: Teratur

Banyaknya : 1 sampai 2 kali ganti pembalut atau duk Lamanya : 3 sampai 4 hari

b. Riwayat Perkawinan. Klien menikah pada tahun 2000 saat usia 21 tahun. Ini merupakan pernikahan pertama bagi klien dan suami, klien hamil anak pertama setelah usia pernikahan 4 bulan, klien mengatakan tidak mempunyai keluhan pada kehamilan sebelumnya, klien mengatakan anak

pertamanya lahir pada tahun 2001. c. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu Kehamilan aterem 34-35 minggu. Pergerakan janin ada dirasakan pertama kali pada usia kehamilan 4 bulan. Nutrisi klien baik, nafsu makan klien baik dan klien menambah nutrisinya dengan minum susu ibu hamil, klien selalu memeriksakan kandungannya 3 bulan sekali kebidan terdekat rumah. Klien mengatakan tidak pernah mengalami keluhan pada kehamilan sebelumnya, klien mengatakan tidak pernah dilakukan kuretase atau tindakan bedah lainnya, tidak pernah melahirkan secara caesarea, tidak pernah mengalami plasenta previa, klien mengatakan jarak kehamilannya kurang lebih 3 tahun.

53

4) Riwayat Kehamilan Yang Lalu Persalinan dilakukan dirumah praktek bidan. Tabel :1.1 Riwayat Persalinan dan Nifas yang lalu

d. Riwayat Kehamilan Saat Ini Kehamilan aterem 34-35 minggu. Pergerakan janin ada dirasakan pertama kali pada usia kehamilan 4 bulan. pada trisemester pertama klien mengatakan terasa mual, muntah seperti kehamilan biasanya tetapi pada saat kehamilan 4 bulan nafsu makan klien kembali membaik, klien menambah nutrisinya dengan minum susu ibu hamil, klien selalu memeriksakan kandungannya 3 bulan sekali kebidan terdekat rumah. 4. Pemeriksaan Fisik 1) Keadaan Umum Klien Saat Pengkajian a) Tingkat Kesadaran : Compos Mentis Glasgow coma scale (GCS) = 15 Respon mata Respon motorik Respon verbal =4 =6 =5

54

b) Tanda tanda vital (a) Tekanan darah: 130 per 80 milimeterHektogram. (b) Nadi (c) Pernafasan (d) Suhu 2) Kepala. a) Wajah Terlihat sedikit pucat. b) Mata. Scelera Konjungtiva Mata Palpebra c) Hidung Kien tidak menggunakan alat bantu pernafasan seperti cuping hidung, dan tidak adannya sekret, darah yang menghambat jalannya pernafaan. d) Bibir Bibir klien terlihat kurang lembab dan tidak terlihat pecahpecah. e) Gigi Gigi klien tampak sedikit caries. f) Lidah Lidah klien terlihat sedikit kotor. : tidak ikterik. : terlihat anemis. : terlihat lelah, tampak lingkar hitam : terlihat tidak terjadi edema. : 64 kali permenit : 25 kali permenit : 36,8 derajat celcius

55

3) Leher Leher klien tidak tampak adanya pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar limfe, dan kelenjar getah bening. 10) Dada / Thorak 1) Inspeksi : Rongga dada simetris kiri samadengan kanan, jenis pernafasan menggunakan perut.. 2) Palpasi : Premitus kiri samadengan kanan dan tidak adanya kelainan pada payudara ibu. 3) Perkusi : Sonor

4) Auskultasi : Tidak terdapat bunyi nafas tambahan seperti weezing, ronkhi. 11) Payudara 1) Inspeksi : Payudara simetris kiri samadengan kanan, puting susu terlihat menonjol, aerola tampak bersih dan hiperpigmentasi, papilla mamae menonjol. 2) Palpasi 12) Jantung. 1) Inspeksi 2) Palpasi 3) Perkusi 4) Auskultasi 13) Abdomen. 1) Inspeksi 2) Palpasi : Perut klien membuncit : Tidak terdapat nyeri tekan : Ictus tidak terlihat. : Ictus cordi teraba : Jantung dalam batas normal. : irama jantung teratur : Tidak terdapat massa dan tidak ada nyeri tekan.

56

Leopold I

: Fundus uteri teraba tiga jari diatas pusat, teraba massa lunak.

Leopold II

: Teraba keras seperti papan disebelah kiri, dan teraba bagian bagian kecil dikanan.

Leopold III Leopold IV 3) Perkusi 4) Auskultasi 14) Genitourinaria : 1) Genital

: Teraba massa keras, dan bulat. : Tidak dilakukan. : : Tympani Bising usus ada

Pada genital klien terdapat darah berwarna merah terang dan terlihat ada sedikit gumpalan darah yang sudah membeku. 2) Urinaria Klien mengatakan tidak ada keluhan pada BAK, dan BAK berwarna kekuning-kuningan. 15) Ekstremitas. Ekstremitas kanan atas: Tidak terlihat edema, tidak terasa nyeri Ekstremitas kiri atas : Tampak sedikit edema dan terpasang infus RL 0,9 % dengan 20 tetes/menit. Ekstremitas kanan dan kiri bawah : Tampak sedikit edema. Kekuatan otot : 5555 5555 5555 5555

57

16) Sistem Integumen Turgor kulit klien terlihat sedikit kering, suhu kulit teraba hangat, warna kulit sawo matang, dan keadaan kulit bersih. 5. Data Aktivitas Sehari Hari. 1) Nutrisi. a) Makanan. - Sehat - Sakit : Klien mengatakan makan 3 kali sehari, porsi biasa. : Klien mengatakan makan 3 kali dalam sehari, makanan yang diberikan makanan dari rumah sakit yaitu diet TKTP dan makanan lunak lainnya. Klien mengatakan tidak pernah merokok. - Keluhan : tidak ada. b) Cairan. - Sehat - Sakit : 5 7 gelas/hari : 3 6 gelas / hari, klien mengatakan tidak pernah mengkonsumsi alkohol.

- Keluhan : Minum kurang dari kebutuhan tubuh. 2) Eliminasi BAB Sehat : 1 kali perhari, konsistensi lembek, warna coklat kekuningan Sakit : 1 kali perhari, konsistensi lembek, warna coklat kekuningan Keluhan : Tidak ada

58

BAK Sehat Sakit Keluhan : 6 sampai 7 kali perhari : 6 sampai 7 kali perhari : Tidak ada

3) Istirahat dan tidur. Siang Sehat Sakit Malam Sehat Sakit : 7 jam : Klien mengatakan sulit untuk tidur dikarenakan cemas dengan kondisinya. 4) Kebersihan diri. Kebersihan diri klien baik. 6. Data Sosial Ekonomi Klien merupakan seorang ibu rumah tangga yang mengurus anak anaknya dirumah, selama klien sakit tidak ada yang mengurusi anakanaknya dirumah, biaya rumah sakit ditanggung oleh Jamkesmas, penghasilan dari suami klien 2 juta/bulan. 7. Data Psikososial. Klien mengatakan sangat bahagia dengan kehidupannya, klien selalu diperhatikan dengan keluarganya terutama dengan suaminya, klien berharap klien cepat sembuh dan dapat melahirkan dengan lancar, klien tetap senang dengan keadaannya yang sekarang karena klien sangat menantikan kelahiran anaknya. : 2 jam : 1 jam

59

8. Data Spiritual Saat sebelum hamil klien mengatakan beribadah shalat 5 waktu, tetapi saat klien mengalami perdarahan klien sulit untuk beribadah karena klien takut untuk melakuka aktivitas. 9. Pemeriksaan Diagostik. 1) Pemeriksaan Ultrasonografi Saat dilakukan ultrasonografi didapatkan hasil plasenta yang letaknya totalis atau menutupi seluruh jalannya lahir sehingga terjadi

perdarahan yang mengharuskan klien dioperasi caesarea. 2) Pemeriksaan laboratorium Tanggal Order Waktu : 09 April 2013 : 20:02 WIB

Tabel 1.2 Pemeriksaan Labortorium NO 1 2 3 4 5 Parameter Hemoglobin Heritrosit Leukosit Eritrosit Trombosit Hasil 8 23 15,5 2,9 197 Satuan g/dl % 10,3/ui 6/ui 103/ui Reamarks Nilai Rujukan Rendah Rendah Tinggi Rendah 12,00-14,00 37,00-43,00 5,00-10,00 4,50-4,50 150,00-400,00

Tanggal Order Waktu

: 10 April 2013 : 12.09 WIB

Tabel 1.2 Pemeriksaan Labortorium

60

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 10.

Parameter Hemoglobin Heritrosit Leukosit Eritrosit Trombosit MCH MCV MCHC

Hasil 9 27 15,1 3,2 217 28,1 83 33,7

Satuan g/dl % 10,3/ui 6/ui 103/ui Pg Fi g/dl

Reamarks Nilai Rujukan Rendah Rendah Tinggi Rendah 12,00-14,00 37,00-43,00 5,00-10,00 4,50-4,50 150,00-400,00 27,00-31,00 82,00-92,00 32,00-36,00

Program Terapi a. Terapi yang diberikan pada klien yaitu : Tanggal 8 dan 9 April 2013 Injeksi - Ceftriaxon 2 x 1 gr - Transamin 3 x 1gr - Vitamin K 3 x 1gr - Vitamin C 3 x 1gr Infus - Infus Nattrium Clorida 0,9 % 28 tetes per menit Tanggal 10 April 2013 Injeksi - Ceftriaxon 2 x 1 gr - Transamin 3 x 1gr - Vitamin K 3 x 1gr - Vitamin C 3 x 1gr Infus - Infus Nattrium Clorida 0,9 % 28 tetes per menit - Metronidazole 30 tetes permenit

61

b.

Diet

: Tinggi Kalori Tnggi Protein (TKTP)

62

ANALISA DATA Nama : Ny. N Tanggal 08 April 2013 Hari ke 2 klien masuk rumah sakit NO 1. Ds : DATA ETIOLOGI Resiko terjadinya MASALAH Perdarahan banyak

- Klien mengatakan masih keluar syok hipovolemik darah dari kemaluannya sejak 2 hari yang lalu. - Klien mengatakan sudah megganti pembalut sampai 3 kali sehari kira-kira 800 cc - Klien mengatakan darah yang

keluar berwarna merah terang - Klien mengatakan darah yang

keluar tanpa ada rasa nyeri. - Klien mengatakan darah yang

keluar seperti gumpalan kecil. Do : - Wajah klien terlihat sedikit pucat. - Sclera mata klien terlihat sedikit ikterik. - Konjungtiva terlihat anemis. - Akral klien teraba hangat. - Tanda-tanda vital klien :

63

Tekanan darah : 130 / 80 milimeterHektogram Nadi : 82 kali/menit

Pernafasan : 25 kali/menit Suhu : 36,8 0C

- Tanggal 09 April 2013 Hemoglobin 8 g/dl - Tanggal 10 April 2013 Hemoglobin 9 g/dl - Klien dilakukan transfusi darah 2. sebanyak 1 kali. Ds : - Klien mengatakan sulit untuk tidur dikarenakan cemas dengan Ansietas Masalah kesehatan perdarahan

kondisinya saat sekarang ini. - Klien mengatakan cemas dengan kehamilannya sekarang karena klien takut terjadi sesuatu pada kandungannya. Do : - Klien tampak banyak bertanya tentang persalinan yang akan dilakukan oleh tim medis. - Tampak lingkaran hitam dimata

64

klien karena klien sulit untuk tidur. - Mata klien tampak terlihat lelah akibat kurng tidur. - Klien tampak berhati-hati saat

melakukan aktivitas seperti saat berjalan klien dituntun dengan suaminya. B. Diagnosa Keperawatan Tanggal NO 1. Diagnosa Keperawatan Resiko terjadinya syok hipovolemik berhubungan 2. dengan perdarahan banyak Ansietas berhubungan dengan masalah kesehatan perdarahan. Tegakkan Tangan Senin 08 April 2013 Senin 08 April 2013 Teratasi Rabu 10 April 2013 Rabu 10 April 2013 Tangan Tanda Tanggal Tanda

65

C. Intervensi Keperawatan Tujuan dan Kriteria No 1. Diagnosa Keperawatan Hasil Resiko terjadinya syok Tujuan : Mandiri Intervensi Keperawatan Rasional

hipovolemik berhubungan dengan perdarahan

Setelah di berikan asuhan 1. Monitor tanda tanda syok 6. Dengan memonitor tanda-tanda keperawatan tidak 3x24 jam syok seperti : akral dingin, tekanan darah menurun, kapilar refil < 3 detik, sianosis, pucat nadi lemah. 2. Monitor tanda tanda vital 7. Diharapkan dapat mengetahui seperti tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu perdarahan perdarahan yang terjadi pada klien hipotensi atau syok akibat perdarahan 3. Monitor perdarahan seperti 8. Memonitor perdarahan dapat teraba cepat tetapi syok dapat diketahui secara dini kemungkinan terjadinya syok

terjadi

hipovolemi Kriteria Hasil : - Tidak ada perdarahan lagi - Tanda tanda vital dalam keadaan normal

67

66

melihat berapa banyak duk atau pembalut yang telah diganti atau alat yang dipakai untuk perdarahan.

diketahui berapa banyak klien telah kehilangan darah dan untuk tindakan

memudahkan menentukan selanjutnya.

klien

4. Berikan cairan infus sesuai 9. Berikan cairan infus diharapkan dengan diberikan Clorida. 5. Berikan tranfusi darah sesuai 10. pemberian program dokter. diharapkan tranfusi dapat darah indikasi seperti yang Natrium dapat mengganti cairan dan zat yang hilang akibat perdarahan.

mengganti

darah dengan cepat sehingga kemungkinan syok dapat diatasi. 2. Ansietas berhubungan dengan masalah kesehatan Tujuan : Mandiri Setelah di berikan asuhan 1. Kaji tingkat dan penyebab 1. Agar dapat mengetahui

68

67

perdarahan

keperawatan 3 x 24 jam diharapkan klien teratasi Kriteria Hasil : - Klien terlihat tenang. - Klien kooperatif. - Klien sudah bersifat kecemasan

kecemasan

tingkatan cemas dan penyebab cemas sehingga dapat mengatasi masalah tersebut

2. Orientasikan lingkungan penjelasan sederhana.

pada 2. Agar klien lebih bisa beradaptasi dengan dengan lingkungan yang baru sehingga klien lebih rileks 3. Keterlibatan akan memfokuskan

tidak 3. Libatkan klien/orang terdekat dalam rencana perawatan dan dorong partisipasi maksimum pada rencana pengobatan

perhatian klien dalam arti positif dan memberikan rasa kontrol.

banyak bertanya.

69

4. Memberikan 4. Anjurkan klien melakukan perhatian, teknik relaksasi, misalnya

arti

penghilang

respons ansietas, menurunkan meningkatkan

68

nafas dalam, membaca.

relaksasi

meningkatkan

kemampuan koping. 5. Langkah awal dalam mengatasi 5. Berikan dorongan pada klien untuk perasaan. mengekspresikan perasaan identifikasi adalah dan terhadap ekspresi.

Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk

mengatasi.

70

69

D. Implementasi Diagnosa NO 1. Keperawatan Resiko terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan Tanggal Senin 8 April 2013 Mandiri 1. Memonitor tanda tanda Hari Implementasi Ds : syok - Klien mengatakan masih keluar darah dari kemaluannya sejak 2 hari yang lalu. - Klien mengatakan sudah megganti Evaluasi Tangan Tanda

seperti : akral dingin, tekanan darah menurun, kapilar refil < 3 detik, sianosis, pucat nadi teraba cepat tetapi lemah. 2. Memonitor tanda tanda vital seperti

pembalut sampai 3 kali sehari kira-kira 800 cc

tekanan darah, nadi, pernafasan, dan - Klien mengatakan darah yang keluar suhu berwarna merah terang

3. Memonitor perdarahan seperti melihat - Klien mengatakan darah yang keluar berapa banyak duk atau pembalut yang telah diganti. tanpa ada rasa nyeri. - Klien mengatakan darah yang keluar

71

70

4. Memberikan

cairan

infus

sesuai

seperti gumpalan kecil.

dengan indikasi yang diberikan seperti O : Natrium Clorida 0,9 %. - Wajah klien terlihat sedikit pucat.

5. Memberikan transfusi darah golongan - Sclera mata klien terlihat sedikit ikterik. darah O sesuai program dokter. - Konjungtiva terlihat anemis. - Akral klien teraba hangat - Tanda-tanda vital klien : Tekanan darah : 130 / 80

milimeterHektogram Nadi : 82 kali permenit

Pernafasan : 25 kali permenit Suhu : 36,8 derajat celcius

- Tanggal 09 April 2013 Hemoglobin 8 g/dl

72

71

- Tanggal 10 April 2013 Hemoglobin 9 g/dl - Klien dilakukan transfusi darah sebanyak 1 kali - Klien mendapatkan Natrium Clorida 0,9% kolf ke tiga A : Masalah belum teratasi P : Intervensi dilanjutkan S: Selasa 09 April 2013 Mandiri 1. Memonitor tanda tanda syok seperti : akral dingin, tekanan - Klien mengatakan masih keluar darah dari kemaluannya sejak 3 hari yang lalu. mengatakan sudah megganti

darah - Klien

73

menurun, kapilar refil < 3 detik,

pembalut sampai 2 kali sehari 900 cc

72

sianosis, pucat nadi teraba cepat tetapi lemah.

- Klien mengatakan darah yang keluar berwarna merah terang

2. Memonitor tanda tanda vital seperti - Klien mengatakan darah yang keluar tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu 3. Memonitor perdarahan seperti melihat tanpa ada rasa nyeri. - Klien mengatakan darah yang keluar seperti gumpalan kecil.

berapa banyak duk atau pembalut O : yang telah diganti. 4. Memberikan cairan infus - Wajah klien terlihat sedikit pucat. sesuai - Sclera mata klien terlihat sedikit ikterik.

dengan indikasi yang diberikan seperti - Konjungtiva terlihat anemis. Natrium Clorida 0,9 %. - Akralklien teraba hangat

5. Memberikan transfusi darah golongan - Tanda-tanda vital klien : darah O sesuai program dokter. Tekanan darah : 120 / 90

74

milimeterHektogram

73

Nadi

: 83 kali permenit

Pernafasan : 23 kali permenit Suhu : 36,5 derajat celcius

- Tanggal 09 April 2013 Hemoglobin 8 g/dl - Tanggal 10 April 2013 Hemoglobin 9 g/dl - Klien dilakukan transfusi darah sebanyak 1 kali. - Klien mendapatkan natrium Clorida 0,9% kolf ke empat A : Masalah belum teratasi P : Intervensi dilanjutkan

75

S:

74

- Klien mengatakan masih keluar darah Rabu 10 April 2013 Mandiri dari kemaluannya sejak 4 hari yang lalu. mengatakan sudah megganti

1. Memonitor tanda tanda syok seperti - Klien : akral dingin, tekanan darah

pembalut sampai 3 kali sehari 700 cc

menurun, kapilar refil < 3 detik, - Klien mengatakan darah yang keluar sianosis, pucat nadi teraba cepat tetapi lemah. 2. Memonitor tanda tanda vital seperti berwarna merah terang - Klien mengatakan darah yang keluar tanpa ada rasa nyeri.

tekanan darah, nadi, pernafasan, dan - Klien mengatakan darah yang keluar suhu seperti gumpalan kecil.

3. Memonitor perdarahan seperti melihat O : berapa banyak duk atau pembalut - Wajah klien terlihat sedikit pucat. yang telah diganti. - Sclera mata klien terlihat tidak ikterik.

76

75

4. Memberikan

cairan

infus

sesuai - Konjungtiva terlihat sedikit anemis.

dengan indikasi yang diberikan seperti - Tanda-tanda vital klien : Natrium Clorida 0,9 %. 5. Memberikan transfusi darah golongan darah O sesuai program dokter. Tekanan darah : 130 / 70

milimeterHektogram Nadi : 79 kali permenit

Pernafasan : 24 kali permenit Suhu : 36,5 derajat celsius

- Tanggal 09 April 2013 Hemoglobin 8 g/dl - Tanggal 10 April 2013 Hemoglobin 9 g/dl - Klien dilakukan transfusi darah sebanyak 1 kali. - Klien mendapatkan natrium Clorida

77

76

0,9% kolf ke lima A : Masalah sudah teratasi sebagian P : Intervensi diberhentikan dan klien dilakukan operasi caesarea sekitar pukul 13.00 WIB

2.

Ansietas berhubungan dengan kesehatan perdarahan masalah

Senin

Mandiri Mengkaji kecemasan 2. Mengorientasikan pada lingkungan dengan penjelasan sederhana. 3. Melibatkan klien / orang terdekat tingkat dan

S: penyebab - Klien mengatakan sulit untuk tidur dikarenakan cemas dengan kondisinya saat sekarang ini. - Klien mengatakan cemas dengan

8 April 1. 2013

kehamilannya sekarang karena klien

78

77

dalam rencana perawatan 4. Anjurkan klien melakukan teknik relaksasi, membaca. 5. Berikan dorongan pada klien untuk mengekspresikan perasaan. misalnya nafas

takut

terjadi

sesuatu

pada

kandungannya.

dalam, O : - Klien masih banyak bertanya tentang persalinan yang akan dilakukan oleh tim medis. - Terlihat lingkaran hitam dimata klien karena klien sulit untuk tidur. - Mata klien terlihat lelah akibat kurang tidur. - Klien tampak berhati-hati seperti saat saat

melakukan berjalan suaminya.

aktivitas klien

dituntun

dengan

79

78

A : Masalah belum teratasi P : Intervensi dilanjutkan Selasa Mandiri Mengkaji kecemasan 2. Mengorientasikan pada lingkungan dengan penjelasan sederhana. 3. Melibatkan klien / orang terdekat dalam rencana perawatan 4. Anjurkan klien melakukan teknik relaksasi, membaca. 5. Berikan dorongan pada klien untuk mengekspresikan perasaan. misalnya nafas tingkat dan S: penyebab - Klien mengatakan sudah bisa tidur setelah diberikan penjelasan mengenai kondisi kandungannya. - Klien mengatakan masih sedikit takut dengan kehamilannya sekarang karena klien takut terjadi sesuatu pada

09 April 1. 2013

kandungannya.

dalam, O : - Klien masih ada bertanya mengenai keadaannya - Tampak lingkaran hitam dimata klien

80

79

karena klien sulit untuk tidur. - Mata klien tampak terlihat lelah akibat kurang tidur. - Klien tampak berhati-hati seperti saat saat

melakukan berjalan suaminya.

aktivitas klien

dituntun

dengan

A : Masalah sudah teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan Rabu 10 April 2013 Mandiri 1. Mengkaji kecemasan tingkat dan S : penyebab - Klien mengatakan sudah dapat untuk

tidur walaupun tidak terlalu pulas.

2. Mengorientasikan pada lingkungan O : dengan penjelasan sederhana. - Klien tampak lebih tenang.

81

80

3. Melibatkan klien / orang terdekat - Klien sudah tidak banyak bertanya dalam rencana perawatan - Tampak lingkaran hitam dimata klien.

4. Anjurkan klien melakukan teknik A : Masalah sudah teratasi relaksasi, membaca. 5. Berikan dorongan pada klien untuk mengekspresikan perasaan. misalnya nafas dalam, P : Intervensi diberhentikan

82

81

BAB IV PEMBAHASAN

Setelah penulis melaksanakan Asuhan Keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, menegakkan diagnosa

keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi maka pada BAB ini penulis akan membahas mengenai kesenjangan antara teori dengan kenyataan yang di temukan dalam perawatan kasus Plasenta Previa pada Ny. N yang dirawat oleh penulis 8 April 2013 di Ruang Rawat Inap Kebidanan RSUP. Dr. M.Djamil Padang Tahun 2013 yang dapat diuraikan sebagai berikut : A. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap pertama dan merupakan landasan dari proses keperawatan, dari pengkajian ini dapat kita lihat perbandingan kasus nyata yang dapat dengan teori yaitu : 1. Identitas Klien Identitas menurut teori terbagi 2 yaitu identitas klien dan suami dapat dibandingkan dengan kasus yang ditemukan identitas klien diperoleh melalui klien sendiri dan keluarga begitu juga identitas suami. Penulis mendapatkan respon yang baik dari komunikasi yang dilakukan, hal ini tidak lepas dari pendekatan yang telah dilakukan terlebih dahulu.

83

82

2. Riwayat Kesehatan a. Keluhan Utama Berdasarkan teori yang telah dibahas di Bab II studi kasus ini, dijelaskan biasanya ibu mengalami perdarahan pervaginam tanpa rasa sakit, tanpa alasan dan darah yang keluar berwarna merah segar. Pada kasus yang dialami Ny. N didapati keluhan utama yang sama dengan teori yaitu, perdarahan pervaginam tanpa rasa sakit, tanpa alasan dan darah yang keluar berwarna merah segar. b. Riwayat Kesehatan Sekarang Berdasarkan teori yang telah dibahas di Bab II studi kasus ini. Menjelaskan mengenai kondisi klien saat ini, mulai dari serangan awal, klien dibawa kerumah sakit, dan penanganan klien. Pada kasus Ny. N didapatkan data riwayat kesehatan sekarangnya klien masuk melalui IGD dengan keluhan klien mengalami perdarahan, klien mengatakan keluar darah yang banyak dari kemaluannya sejak 2 jam yang lalu, klien mengatakan darah yang keluar berwarna merah terang/segar tanpa alasan, klien mengatakan darah yang keluar tanpa ada rasa nyeri, klien mengatakan tidak ada keluar lendir yang bercampur darah dari kemaluannya. c. Riwayat Kesehatan Dahulu Berdasarkan teori yang telah dibahas di Bab II studi kasus ini, pada kasus dengan plasenta previa sebelumnya klien memilik riwayat plasenta previa, bedah sesar, merokok selama hamil, kehamilan ganda.

83

Tetapi pada kasus yang dibahas didalam Bab III pada Ny. N didapati dahulu klien hamil dalam jarak kehamilan dengan sebelumnya terlalu dekat dan klien tidak memiliki riwayat yang seperti dalam teori misalnya memilik riwayat plasenta previa, bedah sesar, merokok selama hamil, kehamilan ganda. d. Riwayat Kesehatan Keluarga Pada riwayat kesehatan keluarga data yang ditemukan pada teori dan pada Ny. N sama yaitu tidak ada keluarga yang mempunyai riwayat kesehatan yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan, klien juga mengatakan tidak ada keluarganya yang mempunyai keturunan seperti riwayat hipertensi, riwayat diabetes militus (DM), riwayat jantung, dan riwayat alergi 3. Pemeriksaan Fisik Pada teori yang telah dibahas didalam Bab II studi kasus ini penulis menggunakan metode Haed To Toe dalam pemeriksaan fisiknya, hal ini dikarenakan penulis lebih terpapar dalam pemeriksaan secara Haed To Toe, pemeriksaan Head To Toe dapat diterapkan langsung pada kasus yang ditemukan dan meemukan beberapa perbedaan dari hasil yang diperiksa penulis dengan teori yang ada sebagai berikut : a. Keadaan Umum Pada teori yang ada di BAB II dikaji tingkat kesadaran klien, tekanan darah rendah, nadi biasanya norma tetapi jika terjadi syok maka nadi akan cepat atau lambat, pernafasan klien normal dan suhu klien

84

normal. Sedangkan pada kasus yang dikelola didapatkan kesadaran Ny. N Compos Mentis, GCS 15, tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 64 kali/menit, pernafasan 25 kali/menit, suhu 36,8 0C. Dari hasil pemeriksaan tersebut ada beberapa data yanng sama dengan teori dan ada juga yang berbeda. b. Kepala Pada teori yang ada di BAB II pada wajah biasanya terlihat pucat, scelera biasanya pada pasien plasenta previa sedikit ikterik, sedangkan pada Ny. N didapatkan wajah terlihat sedikit pucat, scelera tidak ikterik, konjungtiva terlihat anemis, palpebra terlihat tidak edema. c. Leher Hasil yang didapatkan sesuai dengan teori pada BAB II yaitu tidak adanya pembesaran kelenjar tiroid, dan kelenjar getah bening hal ini dikarenakan pross terjadi perdarahan tidak berpengaruh pada pembesaran kedua kelenjar tersebut. d. Dada/thorax Pada bagian ini dalam teori pemeriksaan fisik dilakukan dengan empat cara yaitu dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi tidak berbeda dengan cara pemeriksaan fisik yang dilakukan pada kasus ini sedikit berbeda pemeriksaan dada dan payudara dipisahkan untuk mempermudah observasi keadaan klien. Pada hasil pemeriksaan inspeksi rongga dada simetris kiri samadengan kanan, jenis pernafasan

85

menggunakan perut, palpasi premitus kiri samadengan kanan, perkusi terdengar sonor, auskultasi vaskuler. e. Payudara Pada teori pemeriksaan payudara digabungkan dengan pemeriksaan thorax tetapi pada kasus dikhususkan dan diperoleh hasil pada inspeksi payudara simetris kiri samadengan kanan, puting susu terlihat menonjol, aerola tampak bersih dan hiperpigmentasi, papilla mamae menonjol dan palpasi tidak terdapat massa dan tidak ada nyeri tekan. f. Jantung Pada prinsipnya cara pemeriksaan jantung sama dengan pemeriksaan thorax yaitu dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi. Dari hasil pemeriksaan didapatkan hasil inspeksi ictus tidak terlihat, palpasi, ictus cordi teraba, perkusi jantung dalam batas normal dan auskultasi irama jantung teratur. g. Abdomen Hasil yang didapatkan pada Ny. N sudah sesuai dengan teori pada BAB II yaitu pemeriksaan abdomen biasanya inspeksi perut klien tampak membuncit, palpasi tidak terdapat nyeri tekan, dan perkusi tympani. h. Genitalurinaria Hasil yang didapatkan pada Ny. N sudah sesuai dengan teori pada BAB II yaitu keadaan genital terdapat perdarahan bervaginam encer sampai menggumpal, darah yang keluar berwarna merah segar dan

86

pada urine tidak mengalami gangguan dan berwarna kekuningkuningan. i. Ekstremitas Pemeriksaan fisik bagian ini pada asuhan keperawatan teoritis menjelaskan pengamatan pada ektremitas apakah ada edema atau tidak, dan kekuatan otot biasanya berkurang, hal ini menjadi perbandingan dengan kasus yang ditemukan yaitu didapatkan pada ekstremitas kanan atas tidak terlihat edema, tidak terasa nyeri, pada ekstremitas kiri atas tampak sedikit edema dan terpasang infus Natrium Clorida 0,9 % dengan 20 tetes permenit, pada ekstremitas kanan dan kiri bawah tampak sedikit edema, dan kekuatan otot 5. Klien mengatakan mampu untuk berjalan tetapi klien tidak boleh melakukan aktivitas (bedrest total). j. Sistem Integumen Hasil yang didapatkan ada yang sudah sesuai teori pada BAB II yaitu keadaan turgor kulit terlihat kering, suhu kulit hangat. Hal ini dikarenakan masalah perdarahan yang terjadi pada klien. k. Pola Kebiasaan Sehari hari a. Nutrisi Pada nutrisi yang dibandingkan antara sehat dan sakit saat sehat klien makan tiga kali sehari dengan porsi yang diinginkan dan dengan nasi, lauk dan sayur, sedangkan saat sakit klien tetap makan tiga kali sehari dengan makanan yang diberikan dari rumah sakit

87

yaitu diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) lunak lainnya. b. Eliminasi

dan makanan

Pada eliminasi tidak ada pebedaan antara yang sehat dengan yang sakit karena klien tidak mengalami gangguan pada eliminasinya. c. Istirahat dan tidur Pada klien dengan plesanta previa istirahat dan tidur teranggu, istirahat saat sehat kurang lebih 2 jam perhari, waktu sakit 1 jam perhari, diwaktu malam saat sehat 7 jam perhari, saat sakit klien mengatakan kondisinya. B. Diagnosa Keperawatan Dari asuhan keperawatan teoritis diperkirakan ada enam diagnosa yang mungkin muncul seperti : 1) Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan adanya perdarahan. 2) Resiko terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan perdarah banyak. 3) Resiko tinggi terjadinya fetal distres berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang. 4) Resiko tinggi anemia berhubungan dengan hemoglobin yang menurun akibat perdarahan. 5) Ansietas berhubungan dengan masalah kesehatan perdarahan. sulit untuk tidur dikarenakan cemas dengan

88

6) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan respon tubuh terhadap aktivitas. Dari beberapa diagnosa yang ada dan data yang telah diperoleh dari hasil pengkajian dan perumusan masalah yang ditemukan pada klien maka penulis memunculkan 2 diagnosa yaitu : 1) Resiko terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan

perdarahan banyak. Diagnosa ini penulis tegakkan pada tanggal 8 Juli 2013 karena data-data yang diperoleh dari pengkajian seperti klien banyak mengeluarkan darah dari kemaluannya sekitar 3 kali sehari megganti pembalut kira-kira 800 cc, wajah klien terlihat sedikit pucat, sclera mata klien terlihat sedikit ikterik, konjungtiva terlihat anemis, hemoglobin menurun. 2) Ansietas berhubungan dengan masalah kesehatan perdarahan. Diagnosa ini penulis tegakkan pada tanggal 8 Juli 2013 karena data-data yang diperoleh dari pengkajian seperti klien banyak bertanya tentang pesalinan yang akan dilakukan, klien mengatakan sulit untuk tidur dikarenakan cemas dengan kondisinya saat sekarang ini. Dari uraian diagnosa diatas ada 4 diagnosa keperawatan yang ada dalam teori tetapi tidak ditemukan dalam pelaksanaan studi kasus yaitu : 1) Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan adanya perdarahan. Diagnosa ini penulis tidak tegakkan karena kekurangan cairan akan lebih spesifik pada cairan elektrolit sedangkan klien tidak mengeluhkan

89

tentang adanya dehidrasi tetapi mengeluhkan banyaknya darah yang keluar.

2)

Resiko tinggi terjadinya fetal distres berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang. Diagnosa ini penulis tidak tegakkan karena kehamilan sudah cukup bulan, perfusi darah ke plasenta tidak mengalami gangguan dan keadaan janin cukup baik.

3)

Resiko tinggi anemia berhubungan dengan hemoglobin yang menurun akibat perdarahan. Diagnosa ini penulis tidak tegakkan karena jika penulis tegakkan Ny. N sudak masuk kedalam diagnosa medis yaitu anemia.

4)

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan respon tubuh terhadap aktivitas. Diagnosa ini penulis tidak tegakkan karena pada kasus Ny. N masih mampu untuk melakukan aktivitas walaupun tidak melakukan aktivitas seperti normal, klien juga masih dapat berjalan kekamar mandi dan kekuatan otot klien masih cukup baik.

Teori pendukung yang didapatkan menurut Bobak tahun 2009 diagnosa keperawatan pada plasenta previa ada 3 diagnosa yaitu : 1) Penuruhan curahan jantung berhubungan dengan perdarahan hebat 2) Resiko tinggi infeksiberhubungan dengan anemia dan perdarahan

90

3) Resiko tinggi cidera (janin) berhubungan dengan peurunan perfusi plasenta / uterin.

C. Intervensi Keperawatan Dalam proses tahap penyusunan intervensi sesuai dengan diagnosa yang ditemukan. Beberapa intervensi yang berdasarkan asuhan keperawatan teoritis yang tidak dapat dimasukkan dalam daftar intervensi keperawatan seperti pada diagnosa ansietas berhubungan dengan masalah kesehatan perdarahan, pada intervensi teoritis terdapat kolaborasi dalam berikan sedatif sesuai indikasi dan awasi efek merugikan, tetapi pada saat penulis merencanakan intervensi tidak penulis masukkan berhubungan dengan situasi dan kondisi diruangan pada saat itu karena tidak dapat memperoleh hasil perawatan yang maksimal pada klien. D. Implementasi Keperawatan Dalam melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan plasenta previa diruang Kebidanan RSUP. Dr. M. Djamil Padang, penulis tidak mendapatkan hambatan dalam pelaksanaannya, maka penulis dapat menerapkan asuhan keperawatanpada klien dengan plasenta previa. 1. Resiko terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan banyak. Untuk diagnosa diatas ini, penulis melakukan semua rencana keperawatan yang telah direncanakan sebelumnya, sehingga didalam

91

penerapan implementasi yang berlandasan pada intervensi keperawatan dapat dilakukan keseluruhannya. Dari 5 (lima) intervensi keperawatan yang direncanakan, penulis dapat melakukan implementasi dari ke lima intervensi tersebut. 2. Ansietas berhubungan dengan masalah kesehatan perdarahan. Untuk diagnosa diatas ini, penulis melakukan semua rencana keperawatan yang telah direncanakan sebelumnya, sehingga didalam penerapan implementasi yang berlandasan pada intervensi keperawatan dapat dilakukan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Dari 5 (lima) intervensi keperawatan yang direncanakan, penulis dapat melakukan implementasi dari ke lima intervensi tersebut. E. Evaluasi Berdasarkan penilaian yang dilakukan pada dasarnya semua tujuan dapat dicapai. Hal ini didukung dengan adanya kerja sama antara penulis dengan klien, keluarga, perawat, dan tim kesehatan lainnya, serta adanya partisipasi keluarga yang cukup besar dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Pada evaluasi yang dilakukan pada kasus diobservasi sesuai tingkat kemauan status kesehatan klien yang dinilai berdasarkan metode SOAP diperoleh dari hasil dua diagnosa yang muncul setelah dilakukan implementasi diperoleh hasil evaluasi sebagai berikut : 1) Resiko terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan banyak.

92

Pada diagnosa diatas, penulis melakukan asuhan keperawatan selama tiga hari yaitu dimulai dari hari Senin tanggal 8 April 2013 telah dilakukan implementasi sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat agar klien tidak ada perdarahan lagi dan tanda tanda vital dalam keadaan normal. Dari catatan perkembangan pada kasus Ny. N dapat dievaluasi klien mengatakan masih ada darah yang keluar dari kemaluannya, pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan hemoglobin, sklera klien sudah tidak tampak ikterik, konjungtiva masih sedikit anemis, Hal ini menandakan implementasi yang dilakukan sudah teratasi sebagian. 2) Ansietas berhubungan dengan masalah kesehatan perdarahan. Pada diagnosa diatas, penulis melakukan asuhan keperawatan selama tiga hari yaitu dimulai dari hari Senin tanggal 8 April 2013 telah dilakukan implementasi sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat agar klien terlihat tenang, bersifat kooperatif, dan tidak banyak bertanya. Dari catatan perkembangan pada kasus Ny. N dapat dievaluasikan yaitu masalah ansietas yang terjadi pada klien dapat teratasi yang ditandai dengan klien terlihat tenang, tidak banyak bertanya, klien mengatakan sudah dapat mengerti tentang sesuatu yang terjadi dan klien mengatakan sudah tidak terlalu takut dengan operasi yang akan dijalankannya. Hal ini menandakan implementasi yang dilakukan sudah teratasi. F. Dokumentasi Dalam pendokumentasi keperawatan penulis mendokumentasikan semua kegiatan dan hasil yang diperoleh dari pengkajian sampai evaluasi,

93

penulis mencatat kedalam status klien dan proses hasil sebagai bukti tanggung jawab dan tanggung gugat dikemudian hari. BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Dari hasil keperawatan yang telah dilakukan terhadap klien dengan asuhan keperawatan pada Ny. N dengan plasenta previa di Ruang Rawat Inap Kebidanan RSUP. DR. M.DJAMIL berikut : 1. Dalam melakukan pengkajian terhadap klien dengan plasenta previa, data yang dikumpulkan adalah identitas klien, identitas suami, riwayat kesehatan yang meliputi (keluhan utama, riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan dahulu, dan riwayat kesehatan keluarga), riwayat obstetri, riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu, riwayat kehamilan saat ini, keadaan umum, tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik, data aktivitas sehari-hari, data sosial ekonomi, psikologis, spiritual, serta data hasil pemeriksaan laboratorium, dan program terapi yang diberikan. 2. Perumusan diagnosa keperawatan didapatkan berdasarkan hasil PADANG, yang dapat ditarik kesimpulan sebagai

pengkajian dan analisa data yang didapatkan, maka penulis menegakkan beberapa diagnosa antara lain : a. Resiko terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan

perdarahan banyak.

94

Diagnosa ini penulis tegakkan pada tanggal 8 Juli 2013 karena datadata yang diperoleh dari pengkajian seperti klien banyak mengeluarkan darah dari kemaluannya sekitar 3 kali sehari megganti pembalut kira-kira 800 86 cc, wajah klien terlihat sedikit pucat, sclera mata klien terlihat sedikit ikterik, konjungtiva terlihat anemis, hemoglobin menurun. b. Ansietas berhubungan dengan masalah kesehatan perdarahan. Diagnosa ini penulis tegakkan pada tanggal 8 Juli 2013 karena datadata yang diperoleh dari pengkajian seperti klien banyak bertanya tentang pesalinan yang akan dilakukan, klien mengatakan sulit untuk tidur dikarenakan cemas dengan kondisinya saat sekarang ini 3. Dari beberapa perencanaan tindakan yang berpedoman pada asuhan keperawatan sudah dapat dilakukan sesuai dengan teoritis. 4. Dari semua perencanaan sudah dapat dilakukan dan disesuaikan dengan diagnosa sehingga pelaksanaan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. 5. Dari hasil implemantasi yang telah diterapkan maka penulis

mendapatkan evaluasi diantaranya sebagai berikut : a. Pada diagnosa resiko terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan banyak masalah yang terjadi pada Ny. N sudah teratasi sebagian. a. Pada diagnosa ansietas berhubungan dengan masalah kesehatan perdarahan masalah yang terjadi pada Ny. N sudah teratasi dan kecemasan klien hilang

95

6.

Dalam pendokumentasi keperawatan penulis mendokumentasikan semua kegiatan dan hasil yang diperoleh dari pengkajian sampai evaluasi, penulis mencatat kedalam status klien dan proses hasil sebagai bukti tanggung jawab dan tanggung gugat dikemudian hari.

B. Saran 1. Bagi Perkembangan Keperawatan Agar studi kasus ini dapat dijadikan sebagai bahan dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien plasenta previa, sehingga dapat dilakukan dengan segera untuk mengatasi masalah yang terjadi pada pasien plasenta previa. 2. Bagi Instalasi Rawat Inap RSUP M. Djamil Padang. Bagi tempat penelitian di harapkan dapat menjadi bahan evaluasi tenaga kesehatan dan tenaga kesehatan lebih memikirkan bagaimana cara agar angka kejadian plasenta previa menurun. 3. Bagi Klien Bagi klien diharapkan agar ibu dapat lebih memperhatikan kandungannya sehingga tidak terjadi peningkatan kematian pada ibu hamil yang mengalami plasenta previa serta klien dapat mengetahui tanda dan cara penanganannya.

96

DAFTAR PUSTAKA

http://ningrumwahyuni.wordpress.com/2009/09/08/plasenta-previa/ http://uvhik.wordpress.com/2012/11/15/plasenta-previa/ http://www.umm.edu/graphics/images/en/17010.jpg Manuaba, Ida Bgus dkk. 2007. Pengantar Kuliah Obstetric. Jakarta : EGC. Mansjoer, arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Kedua. Jakarta : Media Aesculapius. Mochtar, Rustam. 1995. Sinopsis Obstetri. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Nugroho, Taufan. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah, Penyakit dalam. Yogyakarta : Mulia Medika. Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Buku Ilmu Kebidanan. Jakarta PUSTAKA. : PT BINA

Rukiyah, Ali Yeyeh dan Lia Yulianti. 2010. Asuhan kebidanan IV ( Patologi kebidanan ). Jakarta Timur : CV.Trans Info Media