Anda di halaman 1dari 0

351.

770 212
Ind
p






PROFI L
KESEHATAN I NDONESI A
2004
















DEPARTEMEN KESEHATAN R.I.
JAKARTA
2006



TI M PENYUSUN


Pengarah
Dr. H. Sjafii Ahmad, MPH
Sekretaris J enderal Depkes

Ketua
Dr. Doti Indrasanto
Kepala Pusat Data dan Informasi Depkes

Sekretaris
Dra. Rahmaniar Brahim, Apt, MKes

Anggota
Bob Susilo, SKM, MPH
Boga Hardhana, SSi, MM
Dian Sulistiyowati, SKM
Dwiari, SKM
Fetty Ismandari, Dr
Hary Purwanto, SKM, MKes, MMSI
Machyati, SKM, MKes
Nuning Kurniasih, SSi, Apt
Sugito, SKM, MKes
Sunaryadi, SKM, MKes
Yudianto, SKM

Kontributor
Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat
Ditjen Pelayanan Medik
Ditjen PPM-PL
Ditjen Yanfar & Alkes
Badan Litbangkes
Badan PPSDMKes
Biro Perencanaan dan Anggaran
Biro Kepegawaian
Biro Umum dan Humas
Pusat Promosi Kesehatan
Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan

Penyunting
Dian Sulistiyowati, SKM
Fetty Ismandari, Dr
Hadi Nuramsyah
Nuning Kurniasih, SSi, Apt

































Katalog Dalam Terbitan. Departemen Kesehatan RI
351.770 212
Ind
p
Indonesia. Departemen Kesehatan. Pusat Data Kesehatan
Profil Kesehatan Indonesia 2003. - - J akarta :
Departemen Kesehatan RI 2005

I. J udul 1. HEALTH STATISTICS



Buku ini diterbitkan oleh
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
J alan HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav 4-9, Jakarta 12950
Telepon no: 62-21-5229590, 5221432
Fax no: 622-21-5203874
E-mail: pusdatin@depkes.go.id
Web site: http://www.depkes.go.id



KATA PENGANTAR


Profil Kesehatan Indonesia 2004 merupakan kelanjutan dari profil tahun-tahun
sebelumnya. Profil Kesehatan juga merupakan salah satu wujud akuntabilitas dari Pusat Data
dan Informasi. Supaya profil kesehatan ini tidak membingungkan dan dianggap tertinggal,
maka data dan informasi yang disajikan adalah sesuai dengan tahun yang tercantum.

Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia 2004 ini lebih lancar dibandingkan dengan
tahun-tahun sebelumnya karena komunikasi data dengan kabupaten/kota dan provinsi relatif
lebih baik serta dukungan para pengelola data dan informasi di unit utama Departemen
Kesehatan. Pada tahun anggaran 2005 ini secara maksimal dapat dihasilkan Profil Kesehatan
Indonesia 2003 dan edisi bahasa Inggris, serta Profil Kesehatan Indonesia 2004.

Profil Kesehatan Indonesia 2004 selain memuat informasi seperti profil kesehatan
sebelumnya dan juga memuat kejadian-kejadian penting pada tahun 2004, antara lain
Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue, gempa bumi di Nabire, gempa bumi dan
gelombang tsunami yang terjadi di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara,
serta upaya pencegahan SARS yang belum dimuat pada profil sebelumnya. Namun demikian
Profil Kesehatan Indonesia 2004 masih terdapat keterbatasan karena ada beberapa data
yang masih belum bisa terkumpul, untuk itu akan kami masukan ke Profil Kesehatan
berikutnya. Profil Kesehatan Indonesia 2004 ini dapat juga diakses melalui
http://www.depkes.go.id.

Profil Kesehatan Indonesia dengan segala keterbatasan dalam hal pengumpulan
datanya tetap diupayakan agar dapat terbit lebih cepat daripada tahun-tahun sebelumnya.
Mudah-mudahan Profil Kesehatan Indonesia 2004 ini bermanfaat dalam mengisi
kebutuhan data dan informasi kesehatan yang terkini sesuai dengan harapan kita semua.


J akarta, Februari 2006

Kepala Pusat Data dan Informasi




Dr. Doti Indrasanto
NIP. 140 074 462






i
























































ii


SAMBUTAN
SEKRETARI S J ENDERAL DEPKES


Saya menyambut gembira terbitnya Profil Kesehatan Indonesia 2004 yang lebih
cepat bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Meskipun berat dan banyak
tantangan di dalam proses pengumpulan data untuk mengisi profil kesehatan ini, akhirnya
Pusat Data dan Informasi berhasil menghimpun data tahun 2004 dan menyusunnya menjadi
Profil Kesehatan Indonesia 2004.

Tantangan dalam penyediaan data dan informasi yang tepat waktu ternyata banyak
kendala sehingga data dan informasi dari setiap provinsi maupun program masih belum terisi
secara lengkap. Dengan telah terbitnya Profil Kesehatan Indonesia 2004 yang juga memuat
kejadian-kejadian penting di tahun 2004, saya harapkan profil ini dimanfaatkan dalam
pengambilan keputusan yang didasari kepada data dan informasi (evidence based) serta
digunakan sebagai salah satu rujukan data dan informasi.

Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-
tingginya kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan kontribusi sehingga
memungkinkan tersusunnya Profil Kesehatan Indonesia 2004.






J akarta, Februari 2006

Sekretaris J enderal
Departemen Kesehatan




Dr. H. Sjafii Ahmad, MPH
NIP. 140 086 897










iii
















































iv
DAFTAR I SI



KATA PENGANTAR i

SAMBUTAN SEKRETARIS J ENDERAL iii

DAFTAR ISI v

DAFTAR LAMPIRAN vii

BAB I: PENDAHULUAN 1

BAB II: GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK 3
A. Keadaan Penduduk 3
B. Keadaan Ekonomi 5
C. Keadaan Pendidikan 5
D. Keadaan Lingkungan 7
E. Keadaan Perilaku Masyarakat 10

BAB III: SITUASI DERAJ AT KESEHATAN 13
A. Mortalitas 13
B. Morbiditas 22
C. Status Gizi 48

BAB IV: SITUASI UPAYA KESEHATAN 55
A. Pelayanan Kesehatan Dasar 55
B. Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Penunjang 69
C. Pemberantasan Penyakit Menular 72
D. Pembinaan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar 84
E. Perbaikan Gizi Masyarakat 87
F. Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan 90
G. Pelayanan Kesehatan dalam Situasi Bencana 94

BAB V: SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN 97
A. Sarana Kesehatan 97
B. Tenaga Kesehatan 107
C. Pembiayaan Kesehatan 116



v

BAB VI: PERBANDINGAN INDONESIA DENGAN BEBERAPA NEGARA 122
A. Kependudukan 122
B. Derajat Kesehatan 128

BAB VII: PENUTUP 132


DAFTAR PUSTAKA 133

LAMPIRAN 136



***































vi
DAFTAR LAMPI RAN



Lampiran 2.1 Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan per Provinsi Tahun
2004
Lampiran 2.2 Luas Wilayah, J umlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut
Provinsi, Februari 2004
Lampiran 2.3 J umlah Penduduk Indonesia Menurut Kelompok Umur serta Angka
Beban Tanggungan per Provinsi Tahun 2004
Lampiran 2.4 J umlah Penduduk Menurut Tipe Daerah, J enis Kelamin, dan Provinsi
Tahun 2004
Lampiran 2.5 J umlah dan Persentase Daerah Tertinggal Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 2.6 J umlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut J enis Kelamin dan
Provinsi Tahun 2004 (persentase terhadap total penduduk provinsi)
Lampiran 2.7 J umlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah dan Provinsi
Tahun 2004 (persentase terhadap total penduduk miskin nasional)
Lampiran 2.8 J umlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah dan Provinsi
Tahun 2004 (persentase terhadap total penduduk provinsi)
Lampiran 2.9 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan
(P2) Menurut Provinsi Tahun 2002-2004
Lampiran 2.10 Persentase Keluarga Menurut Tahapan Keluarga Sejahtera dan Provinsi
(Hasil Pendataan Keluarga Tahun 2004)
Lampiran 2.11 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut J enis
Kelamin, Status Perkawinan, dan Provinsi Tahun 2004
(Perkotaan+Perdesaan)
Lampiran 2.11.a Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut J enis
Kelamin, Status Perkawinan, dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan)
Lampiran 2.11.b Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut J enis
Kelamin, Status Perkawinan, dan Provinsi Tahun 2004 (Perdesaan)
Lampiran 2.12 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut J enis
Kelamin, Kepandaian Membaca dan Menulis, dan Provinsi Tahun 2004
(Perkotaan+Perdesaan)
Lampiran 2.12.a Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut J enis
Kelamin, Kepandaian Membaca dan Menulis, dan Provinsi Tahun 2004
(Perkotaan)
Lampiran 2.12.b Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut J enis
Kelamin, Kepandaian Membaca dan Menulis, dan Provinsi Tahun 2004
(Perdesaan)
Lampiran 2.13 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut Status
Pendidikan dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan+Perdesaan)
Lampiran 2.13.a Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut Status
Pendidikan dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan)
Lampiran 2.13.b Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut Status
Pendidikan dan Provinsi Tahun 2004 (Perdesaan)
vii
Lampiran 2.14 Persentase Penduduk Indonesia Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut
Ijazah/STTB Tertinggi yang Dimiliki dan Provinsi Tahun 2004
(Perkotaan+Perdesaan)
Lampiran 2.14.a Persentase Penduduk Indonesia Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut
Ijazah/STTB Tertinggi yang Dimiliki dan Provinsi Tahun 2004
(Perkotaan)
Lampiran 2.14.b Persentase Penduduk Indonesia Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut
Ijazah/STTB Tertinggi yang Dimiliki dan Provinsi Tahun 2004
(Perdesaan)
Lampiran 2.15 Persentase Rumah Tangga Sehat Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 2.16 Persentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat
Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 2.16.a J umlah Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) Diperiksa dan Persentase
TPM Memenuhi Syarat Menurut Provinsi Tahun 2003
Lampiran 2.17 Persentase Rumah Tangga Menurut Luas Lantai Tempat Tinggal (m
2
)
dan Provinsi Tahun 2004
Lampiran 2.18 Persentase Rumah Tangga Menurut J enis Lantai Terluas dan Provinsi
Tahun 2004
Lampiran 2.19 Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum dan Provinsi
Tahun 2004 (Perkotaan+Perdesaan)
Lampiran 2.19.a Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum dan Provinsi
Tahun 2004 (Perkotaan)
Lampiran 2.19.b Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum dan Provinsi
Tahun 2004 (Perdesaan)
Lampiran 2.20 Persentase Rumah Tangga Menurut Tempat Pembuangan Air Besar dan
Provinsi Tahun 2004
Lampiran 2.21 Persentase Rumah Tangga Menurut Tempat Penampungan Akhir
Kotoran/Tinja dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan+Perdesaan)
Lampiran 2.21.a Persentase Rumah Tangga Menurut Tempat Penampungan Akhir
Kotoran/Tinja dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan)
Lampiran 2.21.b Persentase Rumah Tangga Menurut Tempat Penampungan Akhir
Kotoran/Tinja dan Provinsi Tahun 2004 (Perdesaan)
Lampiran 2.22 Persentase Rumah Tangga Menurut Golongan Pengeluaran Perkapita
Sebulan dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan+Perdesaan)
Lampiran 2.22.a Persentase Rumah Tangga Menurut Golongan Pengeluaran Perkapita
Sebulan dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan)
Lampiran 2.22.b Persentase Rumah Tangga Menurut Golongan Pengeluaran Perkapita
Sebulan dan Provinsi Tahun 2004 (Perdesaan)
Lampiran 2.23 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Kartu Sehat Menurut Tipe
Daerah dan Provinsi Tahun 2004
Lampiran 2.24 Persentase Penduduk yang Menggunakan/Memanfaatkan Kartu Sehat
pada J anuari Desember 2003 Menurut Pemanfaatan/Penggunaannya
dan Provinsi, Tahun 2004 (Perkotaan+Perdesaan)
Lampiran 2.24.a Persentase Penduduk yang Menggunakan/Memanfaatkan Kartu Sehat
pada J anuari Desember 2003 Menurut Pemanfaatan/Penggunaannya
dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan)
viii
Lampiran 2.24.b Persentase Penduduk yang Menggunakan/Memanfaatkan Kartu Sehat
pada J anuari Desember 2003 Menurut Pemanfaatan/Penggunaannya
dan Provinsi Tahun 2004 (Perdesaan)
Lampiran 2.25 Persentase Penduduk yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama
Sebulan yang Lalu Menurut J enis Keluhan Kesehatan yang Dialami dan
Provinsi Tahun 2004
Lampiran 2.26 Persentase Penduduk yang Berobat J alan dan Mengobati Sendiri Selama
Sebulan yang Lalu Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Provinsi Tahun
2004
Lampiran 2.27 Persentase Penduduk yang Berobat J alan Selama Sebulan yang Lalu
Menurut Tempat/Cara Berobat dan Provinsi Tahun 2004
Lampiran 2.28 Persentase Penduduk yang Berobat J alan Selama 1 Tahun Terakhir
Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Provinsi Tahun 2004
Lampiran 2.29 Persentase Anak Usia 2-4 Tahun yang Pernah Disusui Menurut Lamanya
Disusui dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan+Perdesaan)
Lampiran 2.29.a Persentase Anak Usia 2-4 Tahun yang Pernah Disusui Menurut Lamanya
Disusui dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan)
Lampiran 2.29.b Persentase Anak Usia 2-4 Tahun yang Pernah Disusui Menurut Lamanya
Disusui dan Provinsi Tahun 2004 (Perdesaan)
Lampiran 2.30 J umlah Bayi yang Diberi ASI Eksklusif Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 2.31 Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Kebiasaan
Merokok Satu Bulan Terakhir, Daerah Tempat Tinggal dan Provinsi
Tahun 2004 (Perkotaan+Perdesaan)
Lampiran 2.31.a Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Kebiasaan
Merokok Satu Bulan Terakhir, Daerah Tempat Tinggal dan Provinsi
Tahun 2004 (Perkotaan)
Lampiran 2.31.b Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Kebiasaan
Merokok Satu Bulan Terakhir, Daerah Tempat Tinggal dan Provinsi
Tahun 2004 (Perdesaan)
Lampiran 2.32 Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Merokok Selama
1 Bulan Terakhir Menurut Kelompok Umur Pertama Kali Merokok,
Daerah Tempat Tinggal dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan+
Perdesaan)
Lampiran 2.32.a Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Merokok Selama
1 Bulan Terakhir Menurut Kelompok Umur Pertama Kali Merokok,
Daerah Tempat Tinggal dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan)
Lampiran 2.32.b Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Merokok Selama
1 Bulan Terakhir Menurut Kelompok Umur Pertama Kali Merokok,
Daerah Tempat Tinggal dan Provinsi Tahun 2004 (Perdesaan)
Lampiran 2.33 Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Merokok
Menurut Kelompok Umur Mulai Merokok Setiap Hari, Daerah Tempat
Tinggal dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan+Perdesaan)
Lampiran 2.33.a Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Merokok
Menurut Kelompok Umur Mulai Merokok Setiap Hari, Daerah Tempat
Tinggal dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan)
ix
Lampiran 2.33.b Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Merokok
Menurut Kelompok Umur Mulai Merokok Setiap Hari, Daerah Tempat
Tinggal dan Provinsi Tahun 2004 (Perdesaan)
Lampiran 2.34 Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Merokok
Menurut J umlah Batang yang Dihisap per Hari, Daerah Tempat Tinggal
dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan+Perdesaan)
Lampiran 2.34.a Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Merokok
Menurut J umlah Batang yang Dihisap per Hari, Daerah Tempat Tinggal
dan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan)
Lampiran 2.34.b Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Merokok
Menurut J umlah Batang yang Dihisap per Hari, Daerah Tempat Tinggal
dan Provinsi Tahun 2004 (Perdesaan)
Lampiran 2.35 Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Melakukan
Aktivitas Fisik Selama Seminggu yang Lalu Menurut J enis Aktivitas
Fisik, Daerah Tempat Tinggal, dan Provinsi Tahun 2004
Lampiran 2.36 Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Konsumsi
Sayur-sayuran per hari, Porsi Rata-rata per hari dan Provinsi Tahun 2004
Lampiran 2.37 Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Konsumsi
Buah-buahan per hari, Porsi Rata-rata per hari dan Provinsi Tahun 2004
Lampiran 3.1 Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Balita, Angka Harapan Hidup,
dan Angka Fertilitas Total Menurut Provinsi Tahun 2002-2003
Lampiran 3.2 Persentase 10 Penyakit Utama pada Pasien Rawat J alan di Rumah Sakit
di Indonesia Tahun 2004
Lampiran 3.3 Persentase 10 Penyakit Utama pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit
di Indonesia Tahun 2004
Lampiran 3.4 J umlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Malaria Menurut Provinsi
Tahun 2004
Lampiran 3.5 Annual Parasite Incidence (API) Malaria di J awa-Bali Tahun 1997-2004
Lampiran 3.6 Hasil Cakupan Penemuan Kasus dan Evaluasi Hasil Pengobatan
Penyakit TB Paru Tahun 2004
Lampiran 3.7 J umlah Kumulatif Kasus AIDS, Meninggal, dan Angka Kumulatif Kasus
Per 100.000 Penduduk Menurut Provinsi sampai dengan 31 Desember
2004
Lampiran 3.8 J umlah dan Persentase Kasus AIDS Yang Menggunakan NAPZA
Suntikan (IDU) Menurut Provinsi sampai dengan 31 Desember 2004
Lampiran 3.9 Situasi Penyakit Kusta Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 3.10 J umlah Kasus Penyakit Campak Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 3.11 J umlah Kasus Penyakit Difteri Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 3.12 J umlah Kasus Penyakit Batuk Rejan Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 3.13 J umlah Kasus Penyakit Hepatitis Klinis Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 3.14 Frekuensi KLB Menurut Penyakit di Indonesia Tahun 2004
Lampiran 3.15 J umlah Penderita, Case Fatality Rate (%), dan Incidence Rate Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD/DHF) Menurut Provinsi Tahun 2000-
2004
Lampiran 3.16 J umlah Kabupaten/Kota yang Terjangkit Penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD/DHF) Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 1998 2004
x
Lampiran 3.17 J umlah dan Persentase Kabupaten Terjangkit dan J umlah Kasus Gigitan
Hewan Tertular Rabies serta Hasil Pemeriksaan Spesimen Hewan
Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 3.18 J umlah Penderita Filariasis Menurut Provinsi Tahun 2000 2004
Lampiran 3.19 J umlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas dan Rasio Korban Luka dan
Meninggal Terhadap J umlah Penduduk Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 3.20 J umlah dan Persentase Penyalahguna NAPZA Menurut Kelompok Umur
dan J enis Kelamin pada Institusi yang Melapor Tahun 2004
Lampiran 3.21 J umlah dan Persentase Penyalahguna NAPZA Menurut Zat yang
Digunakan pada Institusi yang Melapor Tahun 2004
Lampiran 3.22 J umlah dan Persentase Penyalahguna NAPZA Menurut Cara yang
Digunakan pada Institusi yang Melapor Tahun 2004
Lampiran 3.23 Persentase Penyalahguna NAPZA Menurut Kelompok Umur, J enis
Kelamin, Tingkat Pendidikan, Pekerjaan, Status Perkawinan, Pekerjaan
Orang tua, dan Status Penggunaan pada Institusi yang Melapor Tahun
2004
Lampiran 3.24 Persentase Batita (0-35 Bulan) Menurut Status Gizi dan Provinsi Tahun
2003
Lampiran 3.25 Persentase Balita (0-59 Bulan) Menurut Status Gizi dan Provinsi Tahun
2003
Lampiran 3.26 Persentase Desa/Kelurahan dengan Garam Beryodium yang Baik
Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.1 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1 dan K4, Persalinan Ditolong Tenaga
Kesehatan, dan Kunjungan Neonatus Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.2 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4, Ibu Hamil Risiko Tinggi dan
Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.3 Cakupan Kunjungan Neonatus dan Bayi Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.4 Cakupan Bayi, Balita dan Ibu Hamil yang Mendapat Pelayanan
Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.5 Cakupan Deteksi Tumbuh Kembang Anak Balita, Pemeriksaan Siswa
SD, dan Pelayanan Kesehatan Remaja Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.6 Cakupan Peserta KB Aktif Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.8 Proporsi Wanita Berumur 15-49 Tahun dan Berstatus Kawin yang
Pernah Menggunakan/Memakai Alat KB Menurut Daerah Tempat
Tinggal dan Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.9 Persentase Wanita Berumur 15-49 Tahun dan Berstatus Kawin Menurut
Alat/Cara KB yang Sedang Digunakan/Dipakai dan Provinsi, Tahun
2004 (Perkotaan+Perdesaan)
Lampiran 4.9.a Persentase Wanita Berumur 15-49 Tahun dan Berstatus Kawin Menurut
Alat/Cara KB yang Sedang Digunakan/Dipakai dan Provinsi, Tahun
2004 (Perkotaan)
Lampiran 4.9.b Persentase Wanita Berumur 15-49 Tahun dan Berstatus Kawin Menurut
Alat/Cara KB yang Sedang Digunakan/Dipakai dan Provinsi, Tahun
2004 (Perdesaan)
Lampiran 4.10 J umlah dan Proporsi Peserta KB Baru Kumulatif Menurut Tempat
Pelayanan dan Provinsi Tahun 2003
Lampiran 4.11 Pencapaian Desa UCI Menurut Provinsi Tahun 2004
xi
Lampiran 4.12 Persentase Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization
(UCI) Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.13 Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.14 Cakupan Imunisasi Hepatitis B pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.15 Angka Drop Out Cakupan Imunisasi (DPT1-Campak) pada Bayi
Menurut Provinsi Tahun 1998-2004
Lampiran 4.16 Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.17 Cakupan Pelayanan Kesehatan Pra Usila dan Usila Menurut Provinsi
Tahun 2004
Lampiran 4.18 Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas serta UKGS Murid
SD Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.19 J umlah Kunjungan Rawat J alan dan Rawat Inap di Sarana Pelayanan
Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.20 Indikator Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Menurut Provinsi Tahun
2004
Lampiran 4.21 J umlah dan Persentase Ibu Hamil dan Neonatal Risiko
Tinggi/Komplikasi Ditangani Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.22 Persentase Akses Ketersediaan Darah Untuk Bumil dan Neonatus yang
Dirujuk Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.23 J umlah dan Persentase Penulisan Resep Obat Generik Menurut Provinsi
Tahun 2004
Lampiran 4.24 Persentase Kecamatan Bebas Rawan Gizi dan Desa/Kelurahan dengan
KLB Ditangani <24 J am Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.25 J umlah dan Persentase TB Paru Sembuh, dan Pneumonia Balita
Ditangani Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.25.a Hasil Cakupan Penemuan Kasus dan Evaluasi Hasil Pengobatan
Penyakit TB Paru Tahun 2004
Lampiran 4.26 HIV/AIDS Ditangani, Infeksi Menular Seksual Diobati, DBD dan Diare
pada Balita yang Ditangani Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.27 Persentase Donor Darah Diskrining terhadap HIV/AIDS Menurut
Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.28 Persentase Penderita Malaria Diobati Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.29 Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat (RFT) Menurut Provinsi
Tahun 2004
Lampiran 4.30 Kasus Penyakit Filariasis Ditangani Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.31 Cakupan Pemberian Obat-obatan pada Penderita Diare di Puskesmas
MTBS dan Non MTBS Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.31.a Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare Tahun 2001-2004
Lampiran 4.32 Persentase Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Menurut Provinsi
Tahun 2004
Lampiran 4.33 Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiksa J entik Nyamuk Aedes dan
Persentase Rumah/Bangunan Bebas J entik Nyamuk Aedes Menurut
Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.34 J umlah dan Persentase Balita yang Naik Berat Badannya dan Balita
Bawah Garis Merah Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.35 Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Menurut Provinsi Tahun 2004
xii
Lampiran 4.36 Cakupan Distribusi Tablet Besi pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun
2004
Lampiran 4.37 Cakupan Wanita Usia Subur (WUS) Mendapat Kapsul Yodium Menurut
Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.38 Proporsi Kegiatan Penyuluhan P3 NAPZA terhadap Seluruh Kegiatan
Penyuluhan Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.39 Cakupan Pelayanan Kesehatan Keluarga Miskin dan J PKM Gakin
Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.39.a Persentase Keluarga Miskin Mendapat Pelayanan Kesehatan Menurut
Provinsi Tahun 2004
Lampiran 4.40 Persentase Pelayanan Kesehatan Kerja pada Pekerja Formal Menurut
Provinsi Tahun 2004
Lampiran 5.1 J umlah Puskesmas serta Sarana Lainnya Keadaan Tahun 2004
Lampiran 5.2 J umlah Puskesmas, Puskesmas Pembantu, dan Rasionya terhadap
Penduduk, serta Rasio Pustu per Puskesmas Menurut Provinsi Tahun
2000-2004
Lampiran 5.3 J umlah Puskesmas dan Puskesmas Perawatan Menurut Provinsi di
Indonesia Tahun 2000-2004
Lampiran 5.4 J umlah Puskesmas Keliling dan Rasio Puskesmas Keliling per
Puskesmas Menurut Provinsi, Tahun 2000-2004
Lampiran 5.5 J umlah Rumah Sakit di Indonesia Menurut Pengelola dan Provinsi
Tahun 2004
Lampiran 5.6 J umlah Rumah Sakit Umum Menurut Pengelola Tahun 1995-2004
Lampiran 5.7 J umlah Tempat Tidur Rumah Sakit Umum Menurut Pengelola Tahun
1995-2004
Lampiran 5.8 J umlah Rumah Sakit Khusus dan Tempat Tidurnya Menurut J enis
Rumah Sakit Tahun 1997 2004
Lampiran 5.9 J umlah Sarana Pelayanan Kesehatan yang Memiliki Laboratorium
Kesehatan dan 4 Spesialis Dasar Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 5.10 Persentase Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Gawat Darurat
Menurut Provinsi Tahun 2004
Lampiran 5.11 J umlah Sarana Produksi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Menurut
J enis dan Provinsi Tahun 2001 2004
Lampiran 5.12 J umlah Sarana Distribusi dan Pelayanan Kefarmasian Menurut Provinsi
Tahun 2001 2004
Lampiran 5.13 J umlah Unit Pengelola Obat (eks Gudang Farmasi) Kabupaten/Kota
Menurut Provinsi Tahun 2002-2004
Lampiran 5.14 J umlah Sarana UKBM Menurut Provinsi Keadaan Tahun 2004
Lampiran 5.15 J umlah Posyandu Menurut Tingkat Perkembangannya dan Provinsi
Tahun 2004
Lampiran 5.16 J umlah Pos Obat Desa (POD) Menurut Tingkat Perkembangannya dan
Provinsi Tahun 2004
Lampiran 5.17 J umlah Pos UKK Menurut Tingkat Perkembangannya dan Provinsi
Tahun 2004
Lampiran 5.18 J umlah TOGA Menurut Tingkat Perkembangannya dan Provinsi Tahun
2004
xiii
Lampiran 5.19 Rekapitulasi Institusi Politeknik Kesehatan Menurut J urusan dan
Provinsi per Maret 2005
Lampiran 5.20 J umlah Lulusan Politeknik Kesehatan Menurut J urusan/Program Studi
Tahun 2004
Lampiran 5.21 J umlah Institusi Diknakes Non Politeknik Kesehatan Menurut
J urusan/Program Studi dan Provinsi Tahun 2004
Lampiran 5.22 Data Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan Menurut Provinsi dan
J enis Ketenagaan Tahun 2003
Lampiran 5.23 Data Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan yang Bekerja di Rumah
Sakit Menurut Profesi dan Provinsi Tahun 2003
Lampiran 5.24 Situasi J umlah dan J enis Ketenagaan Puskesmas Menurut Provinsi
Keadaan Tahun 2004
Lampiran 5.25 J umlah Tenaga Kesehatan Menurut J enis dan Provinsi Tahun 2004
Lampiran 5.26 Realisasi Pengangkatan Dokter Umum Sebagai Pegawai Tidak Tetap
Menurut Provinsi Angkatan I XXXVIII Tahun 1992 2004
Lampiran 5.27 Rekapitulasi Dokter Umum PTT yang Masih Aktif Dirinci Menurut
Kriteria Penempatan Keadaan sampai April 2004
Lampiran 5.28 Realisasi Pengangkatan Dokter Gigi Sebagai Pegawai Tidak Tetap
Menurut Provinsi Angkatan I XXXI
Lampiran 5.29 Rekapitulasi Dokter Gigi PTT yang Masih Aktif Dirinci Menurut
Kriteria Penempatan Keadaan sampai April 2004
Lampiran 5.30 Keadaan Bidan (Sebagai Pegawai Tidak Tetap) Menurut Provinsi Tahun
1994 2003
Lampiran 5.31 Realisasi Pengangkatan dan Penempatan Bidan PTT Menurut Provinsi
sampai dengan Tahun 2003
Lampiran 5.32 J umlah Peserta Didik Tahun Ajaran 2004/2005 di Politeknik Kesehatan
Menurut Profesi
Lampiran 5.33 J umlah Peserta Didik Tahun Ajaran 2004/2005 di Non Politeknik
Kesehatan Menurut Profesi
Lampiran 5.34 Data Produksi Tenaga Kesehatan Tahun 2003 dan Rencana Kebutuhan
Tambahan Tenaga Tahun 2004
Lampiran 5.35 Perkiraan Kebutuhan Tenaga Kesehatan Tahun 2004 2010 untuk
Mencapai Indonesia Sehat 2010 Berdasarkan Indikator Sumber Daya
Tenaga Kesehatan
Lampiran 5.36 J umlah Pelatihan yang Dilaksanakan Pusdiklatkes dan Bapelkes
Nasional Tahun 2004
Lampiran 5.37 Alokasi dan Realisasi Anggaran Rutin Tahun Anggaran 2004
Lampiran 5.38 Realisasi Anggaran Pembangunan dan PHLN Departemen Kesehatan
Menurut Program Tahun Anggaran 2004
Lampiran 5.39 Realisasi Anggaran Pembangunan dan PHLN Departemen Kesehatan
Menurut Eselon I Pusat Tahun Anggaran 2004
Lampiran 5.40 Alokasi dan Realisasi Anggaran Pembangunan Departemen Kesehatan
Menurut Provinsi Tahun Anggaran 2003
Lampiran 5.41 Persentase APBD untuk Kesehatan terhadap APBD Kabupaten/Kota
Menurut Provinsi Tahun 2001 - 2003
Lampiran 5.42 Rata-rata Besarnya Biaya Kesehatan yang Dikeluarkan Rumah Tangga
Menurut J enis Biaya Kesehatan dan Provinsi Tahun 2004
xiv
Lampiran 5.43 Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Dana yang Digunakan
untuk Pembiayaan Kesehatan Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan+
Perdesaan)
Lampiran 5.43a Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Dana yang Digunakan
untuk Pembiayaan Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2004 (Perkotaan)
Lampiran 5.43b Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Dana yang Digunakan
untuk Pembiayaan Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2004 (Perdesaan)
Lampiran 5.44 J umlah dan Persentase Kepesertaan Penduduk dalam J aminan
Pemeliharaan Kesehatan (J PK) Menurut J enis dan Provinsi Tahun 2004
Lampiran 5.45 Distribusi Peserta J aminan Pemeliharaan Kesehatan (J PK) Menurut J enis
dan Provinsi Tahun 2004
Lampiran 5.46 J umlah Tenaga Kesehatan Menurut 7 Kategori dan Provinsi Tahun 2004
Lampiran 5.47 J umlah dan Persentase Tenaga Kesehatan Menurut 7 Kategori dan Unit
Kerja Tahun 2004
Lampiran 6.1 Perbandingan Beberapa Data Kependudukan di Negara ASEAN Tahun
2003
Lampiran 6.2 Perbandingan Beberapa Data Indikator Derajat Kesehatan di Negara
ASEAN Tahun 2003
Lampiran 6.3 Perbandingan Data Cakupan Imunisasi di Negara ASEAN Tahun 2003
Lampiran 6.4 Perbandingan Penduduk yang Menggunakan Sumber Air Bersih dan
yang Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat di Negara ASEAN Tahun
2003







***









xv
BAB I
PENDAHULUAN


Pembangunan kesehatan secara berkesinambungan telah dimulai sejak di
canangkannya Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama pada tahun 1969 yang secara
nyata telah berhasil mengembangkan berbagai sumber daya kesehatan, serta melaksanakan
upaya kesehatan yang berdampak pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Menurut Undang-undang Nomor 26 tahun 2004, disebutkan bahwa sampai dengan
tahun 2004 jumlah provinsi adalah sebanyak 33, juga menurut Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 18 tahun 2005 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
disebutkan bahwa jumlah provinsi adalah sebanyak 33 per Desember 2004. Namun demikian,
sumber data dalam penyusunan Profil Kesehatan Indonesia 2004 ini berasal dari berbagai
program baik di lingkungan Departemen Kesehatan maupun berasal dari luar Departemen
Kesehatan, sehingga jumlah provinsi dalam lampiran terdiri dari berbagai versi, ada lampiran
yang sudah membagi menjadi 33 provinsi dan ada pula lampiran yang masih membagi
menjadi 30 provinsi.
Di dalam penyusunan narasi Profil Kesehatan Indonesia 2004 ini, kami menyajikan
berbagai informasi, terutama kejadian dan masalah kesehatan yang bersifat nasional, seperti
terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue pada awal tahun 2004 juga
kejadian bencana nasional Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004.
Di dalam buku Sistem Kesehatan Nasional yang diterbitkan berdasarkan Keputusan
Menteri Kesehatan Indonesia Nomor 131/MENKES/SK/II/2004 disebutkan bahwa untuk
mengantisipasi berbagai perubahan dan tantangan strategis, baik internal maupun eksternal,
perlu disusun Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang baru, yang ditetapkan dengan Surat
Keputusan Menteri Kesehatan. Dengan berlakunya Sistem Kesehatan Nasional tersebut
Pusat Data dan Informasi dalam penyusunan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2004 ini
berupaya untuk menyesuaikan dengan indikator pencapaian SKN yang ditentukan oleh dua
determinan. Pertama, status kesehatan dan kedua tentang tingkat ketanggapan
(responsiveness).
Di dalam SKN disebutkan bahwa keberhasilan manajemen kesehatan sangat
ditentukan antara lain oleh tersedianya data dan informasi kesehatan, dukungan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan, dukungan hukum kesehatan serta administrasi
kesehatan. Lebih lanjut di dalam SKN disebutkan bahwa SKN terdiri dari enam subsistem,
yakni (1) Subsistem Upaya Kesehatan, (2) Subsistem Pembiayaan Kesehatan, (3) Subsistem
Sumber Daya Manusia Kesehatan, (4) Subsistem Obat dan Perbekalan Kesehatan, (5)
Subsistem Pemberdayaan Masyarakat, dan (6) Subsistem Manajemen Kesehatan.
Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2004 ini berupaya untuk mengacu
kepada SKN yang baru tersebut. Subsistem upaya kesehatan akan digambarkan tersendiri
pada Bab IV, sedangkan subsistem pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan,
obat dan perbekalan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat akan digambarkan pada Bab V
dan subsistem manajemen kesehatan akan digambarkan pada Bab III, sehingga Profil
Kesehatan Indonesia 2004 ini akan terdiri dari 7 (tujuh) bab, yaitu:

1
Bab I - Pendahuluan. Bab ini menyajikan tentang sejarah serta tujuan diterbitkannya Profil
Kesehatan Indonesia 2004 ini serta sistimatika penyajiannya.

Bab II - Situasi Umum dan Lingkungan. Bab ini menyajikan tentang gambaran umum
Indonesia. Selain uraian tentang letak geografis, demografis, pendidikan, ekonomi dan
informasi umum lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor lingkungan dan perilaku.

Bab III - Situasi Derajat Kesehatan. Bab ini berisi uraian tentang hasil-hasil pembangunan
kesehatan sampai dengan tahun 2004 yang mencakup tentang angka kematian, umur harapan
hidup, angka kesakitan dan keadaan status gizi, yang akan disoroti adalah masalah status gizi
balita dan ibu hamil.

Bab IV - Situasi Upaya Kesehatan. Bab ini berisi uraian tentang upaya-upaya kesehatan yang
telah dilaksanakan oleh bidang kesehatan sampai tahun 2004, untuk tercapainya dan
berhasilnya program-program pembangunan di bidang kesehatan. Gambaran tentang upaya
kesehatan yang telah dilakukan itu meliputi persentase pencapaian cakupan pelayanan
kesehatan dasar, persentase pencapaian cakupan pelayanan kesehatan rujukan, upaya-upaya
yang dilakukan oleh masyarakat dengan Posyandu Purnama dan Mandiri, yang disebut
dengan Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat (UKBM), dan berbagai upaya lain
yang berupa gambaran pelayanan program kesehatan lainnya.

Bab V - Situasi Sumber Daya Kesehatan. Bab ini menguraikan tentang sumber daya
pembangunan bidang kesehatan sampai tahun 2004 ini. Gambaran tentang keadaan sumber
daya sampai dengan tahun 2004 ini mencakup tentang keadaan tenaga, sarana dan fasilitas
kesehatan yang ada sampai tahun 2004. Pada bab ini juga akan dijelaskan tentang jumlah
serta distribusi tenaga per provinsi di Indonesia, serta jumlah dan penyebaran sarana
pelayanan kesehatan yang terdiri dari rumah sakit dan puskesmas termasuk puskesmas
pembantu dan puskesmas keliling. J uga akan digambarkan tentang perkembangan penyediaan
obat generik, produsen obat yang terdiri dari importir bahan baku, pabrik obat, juga tentang
distributor obat yang terdiri dari Pedagang Besar Farmasi, Apotik dan Toko Obat.

Bab VI - Perbandingan Indonesia dengan Negara Lain. Bab ini menyajikan perbandingan
beberapa indikator tertentu seperti IMR, MMR, CDR, TFR, LE, CBR dan HDI, juga tentang
beberapa prevalensi penyakit tertentu, seperti HIV/AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria antara
Indonesia dengan beberapa negara di Asia.

Bab VII - Penutup.


***
2
BAB I I
GAMBARAN UMUM DAN PERI LAKU PENDUDUK

Indonesia terdiri atas banyak pulau dan kepulauan dengan karakteristik budaya
penduduk yang beragam, mempunyai kebiasaan/adat-istiadat yang berbeda, termasuk
perilaku yang berkaitan dengan kesehatan.
Sejak tahun 2001 Indonesia melaksanakan kebijakan desentralisasi yang antara lain
berimplikasi pada terus bertambahnya jumlah provinsi dan kabupaten/kota. Pada tahun 2004
secara administratif wilayah Indonesia terbagi atas 33 provinsi, 349 kabupaten, dan 91 kota.
Wilayah tersebut meliputi 5.263 kecamatan, 62.806 desa, dan 7.123 kelurahan. Sesuai dengan
rincian data yang tersedia, maka jumlah provinsi yang ada pada uraian bab ini sebanyak 30
provinsi. Tiga provinsi yang belum tersedia datanya adalah Provinsi Kepulauan Riau,
Sulawesi Barat, dan Irian J aya Barat. Rincian pembagian wilayah administrasi pemerintahan
per provinsi tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 2.1.
Adapun gambaran umum Indonesia dan perilaku penduduk pada tahun 2004 yang
diuraikan meliputi: keadaan penduduk, keadaan ekonomi, keadaan pendidikan, keadaan
lingkungan, dan perilaku penduduk yang berkaitan dengan kesehatan.

A. KEADAAN PENDUDUK

Sesuai dengan hasil Susenas 2004, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2004
tercatat sebesar 217.072.346 jiwa, dengan tingkat kepadatan 115 jiwa per km
2
dan angka
pertumbuhan penduduk sebesar 1,26% (jumlah penduduk tahun 2003 dilaporkan sebesar
214.374.096 jiwa). Provinsi-provinsi di Pulau J awa memiliki kepadatan penduduk yang
tinggi dibandingkan di luar J awa. Provinsi yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi
adalah DKI J akarta, yaitu sebesar 13.141 jiwa per km
2
. Provinsi-provinsi lain di Pulau J awa
memiliki kepadatan sekitar 1.000 jiwa per km
2
, kecuali Provinsi J awa Timur yang memiliki
kepadatan 759 jiwa per km
2
. Provinsi-provinsi di Pulau Kalimantan, Kepulauan Maluku, dan
Papua memiliki kepadatan penduduk yang relatif rendah. Kepadatan penduduk terendah di
Provinsi Papua, yaitu hanya 7 jiwa per km
2
, menyusul Kalimantan Tengah dan Kalimantan
Timur, yang keduanya mempunyai kepadatan penduduk 12 jiwa per km
2
.
Persebaran penduduk sampai dengan tahun 2004, baik antar pulau maupun antar
provinsi masih sangat timpang. Hal ini dapat dilihat dari persentase penduduk antar pulau
yang menunjukkan lebih dari separuh penduduk Indonesia (59,10%) berada di Pulau J awa
(yang luas wilayahnya hanya 6,75% wilayah Indonesia); 20,80% berada di Pulau Sumatera;
7,16% di Pulau Sulawesi; 5,46% di Kalimantan; 5,35% di Kepulauan Nusa Tenggara; dan
hanya 2,12% yang berada di Kepulauan Maluku, dan Papua. J umlah penduduk dan angka
kepadatan penduduk per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.2.
Persentase penduduk menurut tipe wilayah menunjukkan bahwa jumlah penduduk
yang tinggal di wilayah perdesaan masih lebih besar daripada yang tinggal di wilayah
perkotaan, yaitu sebesar 56,76% di wilayah perdesaan dan yang bertempat tinggal di wilayah
perkotaan sebesar 43,24%. Provinsi dengan proporsi penduduk yang tinggal di perkotaan
tertinggi adalah di DKI J akarta, yaitu sebesar 100%, menyusul DI Yogyakarta (58,67%), dan
3
Kalimantan Timur (54,58%). Sedangkan yang terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur
(16,45%), Sulawesi Tengah (20,60%), dan Sulawesi Tenggara (21,77%).
Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur, menunjukkan bahwa
penduduk yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 29,61%, yang berusia produktif (15-64
tahun) sebesar 65,68%, dan yang berusia tua (>65 tahun) sebesar 4,71%. Dengan demikian
maka Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio) penduduk Indonesia pada tahun 2004
sebesar 52,26, dengan kisaran antara 36,58 di DKI J akarta dan 70,12 di Nusa Tenggara
Timur. Angka Beban Tanggungan ini sedikit meningkat bila dibandingkan tahun 2003 yang
sebesar 51,75. Rincian jumlah penduduk menurut kelompok umur dan Angka Beban
Tanggungan per provinsi tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 2.3.
J umlah penduduk laki-laki relatif seimbang dibandingkan penduduk perempuan, yaitu
masing-masing sebesar 108.876.089 jiwa penduduk laki-laki dan 108.196.257 jiwa penduduk
perempuan (rasio penduduk menurut jenis kelamin sebesar 100,6). Rasio penduduk menurut
jenis kelamin yang tertinggi di Provinsi Papua (yaitu sebesar 110,8), Kalimantan Timur
(108,51), dan Lampung (108,3). Sedangkan yang terendah di Provinsi Nusa Tenggara Barat
(yaitu sebesar 90,9), Gorontalo (96,4), dan Sumatera Barat serta Sulawesi Selatan (keduanya
sebesar 96,7).
Komposisi penduduk Indonesia dirinci menurut kelompok umur dan jenis kelamin,
menunjukkan penduduk laki-laki maupun perempuan proporsi terbesar berada pada
kelompok umur 10 14 tahun dan umur 5 9 tahun. Gambaran komposisi penduduk secara
lebih rinci dapat dilihat dari gambar berikut.
GAMBAR 2.1
PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2004

75 +
70 - 74
65 - 69
60 - 64
55 - 59
50 - 54
45 - 49
40 - 44
35 - 39
30 - 34
25 - 29
20 - 24
15 - 19
10 - 14
5 - 9
0 - 4
Kel. Umur
0 2 4 6 8 10 12
Laki-laki
0 2 4 6 8 10 12
Perempuan
persen

Sumber : BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat 2004
4
B. KEADAAN EKONOMI

Kondisi perekonomian Indonesia pada tiga tahun terakhir relatif stabil dan
menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Kinerja ekonomi pada tahun
2002 tumbuh sebesar 4,38% dan tahun 2003 meningkat menjadi 4,88%. Pada tahun 2004
kondisi perekonomian semakin stabil yang diperlihatkan oleh pertumbuhan ekonomi yang
terus meningkat yang mencapai 5,13%. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi selama tahun
2004 juga diimbangi oleh masih relatif rendahnya laju inflasi, yaitu sebesar 6,40%.
Sementara itu, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita pada tahun 2004 dilaporkan sebesar
10,64 juta rupiah, lebih tinggi dibandingkan tahun 2003 yang sebesar 8,3 juta rupiah.
Pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin (berdasarkan data hasil Susenas Kor)
tercatat sebesar 36,1 juta jiwa atau 16,66% dari total penduduk. Angka tersebut lebih rendah
dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin tahun 2003 yang sebesar 37,3 juta jiwa atau
turun sebesar 3,19%. Persentase penduduk miskin di daerah perdesaan lebih tinggi daripada
di daerah perkotaan, yaitu sebesar 20,11% di perdesaan dan 12,13% di perkotaan. Provinsi
dengan persentase tertinggi penduduk miskin (terhadap total penduduk provinsi) adalah
Papua, yaitu sebesar 38,69%. Menyusul Maluku (32,13%), dan Sulawesi Tenggara (29,01%).
Sedangkan yang terendah di Provinsi DKI J akarta (3,18%), Bali (6,85%), dan Kalimantan
Selatan (7,19%). Provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak adalah Provinsi J awa
Timur, yaitu sebanyak 7,3 juta jiwa atau 20,23% dari total penduduk miskin. Menyusul J awa
Tengah (sebanyak 6,8 juta jiwa atau 18,93%) dan J awa Barat (sebanyak 4,6 juta jiwa atau
12,88%). Rincian jumlah dan persentase penduduk miskin menurut jenis kelamin, daerah dan
provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.6, Lampiran 2.7 dan Lampiran 2.8.


C. KEADAAN PENDIDIKAN

Uraian tentang keadaan pendidikan berikut ini merupakan hasil Susenas 2004 yang
diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik.
Kemampuan baca-tulis penduduk tercermin dari Angka Melek Huruf, yaitu persentase
penduduk umur 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf
lainnya. Secara nasional persentase penduduk yang dapat membaca huruf latin pada tahun
2004 sebesar 90,53%. Sedangkan mereka yang dapat membaca huruf lainnya sebesar 0,93%
dan yang buta huruf sebesar 8,53%. Di perdesaan, penduduk yang buta huruf lebih besar
dibanding di perkotaan (11,45 % berbanding 4,79 %). Persentase penduduk yang buta huruf
pada perempuan, yaitu sebesar 11,71% lebih tinggi dibanding pada laki-laki yang hanya
sebesar 5,34%. Provinsi dengan persentase tertinggi penduduk yang buta huruf adalah di
Papua, yaitu sebesar 23,56%, menyusul NTB (19,94%), dan J awa Timur (13,94%).
Sedangkan yang terendah adalah di Provinsi Sulawesi Utara (0,86%), menyusul DKI J akarta
(1,56%), dan Maluku (1,91%). Persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas menurut
kepandaian membaca dan menulis per provinsi tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 2.12.
Pada tahun 2004, persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang tidak/belum
pernah bersekolah sebesar 7,92%. Sedangkan yang masih bersekolah sebesar 19,26%, terdiri
atas 7,94% bersekolah di SD/MI, sebesar 5,99% di SLTP/MTs, sebesar 3,89% di SMU/SMK,
5
dan 1,44% di Akademi/Universitas. Selebihnya, sebesar 72,83% sudah tidak bersekolah lagi.
Secara nasional persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah
sekolah di perdesaan (10,56%) lebih tinggi daripada yang tinggal di perkotaan (4,52%).
Secara umum Angka Partisipasi Sekolah (APS) perempuan lebih besar dibanding
APS laki-laki pada kelompok umur 7-12 tahun dan 13-15 tahun. Sementara pada kelompok
umur 16-18 tahun, APS laki-laki lebih tinggi dibanding APS perempuan. Sedangkan dari segi
tempat tinggal, terlihat bahwa APS penduduk perkotaan lebih besar bila dibanding dengan
APS penduduk perdesaan. Hal ini terjadi untuk semua kelompok umur, baik pada laki-laki
maupun pada perempuan. Perbedaan menjadi semakin besar pada kelompok umur 16 18
tahun. Rincian APS penduduk usia 7-18 tahun menurut kelompok umur, tipe daerah, dan
jenis kelamin pada tahun 2004 dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini.

TABEL 2.1
ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH (APS) PENDUDUK USIA 7-18 TAHUN
MENURUT KELOMPOK UMUR, TIPE DAERAH, DAN JENIS KELAMIN
TAHUN 2004
Kelompok Umur (tahun)
Daerah/J enis Kelamin
7-12 13-15 16-18
Perkotaan
Laki-laki 97,70 89,67 68,13
Perempuan 97,78 89,50 65,47
Laki-laki +Perempuan 97,74 89,59 66,82

Perdesaan
Laki-laki 95,90 78,57 43,41
Perempuan 96,35 80,08 42,48
Laki-laki +Perempuan 96,12 79,29 42,98

Perkotaan + Perdesaan
Laki-laki 96,62 83,05 53,94
Perempuan 96,92 83,97 52,97
Laki-laki +Perempuan 96,77 83,49 53,48
Sumber : BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat 2004

Sebagaimana APS, Angka Partisipasi Murni (APM) di daerah perkotaan juga lebih
tinggi dibanding APM di daerah perdesaan untuk kelompok umur sekolah SLTP dan
SMU/SMK. Angka Partisipasi Murni menyatakan banyaknya penduduk usia sekolah yang
masih bersekolah pada jenjang pendidikan yang sesuai. APM untuk jenjang SD di perkotaan
sebesar 92,73%, sementara di perdesaaan sedikit lebih tinggi, yaitu sebesar 93,25%.
Sedangkan APM untuk jenjang SLTP di perkotaan sebesar 72,67% dan di perdesaan hanya
sebesar 60,11%. Sementara itu APM untuk jenjang SMU/SMK adalah sebesar 56,75% di
perkotaan dan 32,11% di perdesaan.
Di Indonesia pada tahun 2004, persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang
tidak/belum memiliki ijazah/STTB sebanyak 29,40%. Sedangkan yang sudah memiliki ijazah
terdiri atas tamat SD/MI sebanyak 32,27%, tamat SLTP/MTs sebanyak 17,62%, tamat
SMU/SMK sebanyak 17,13%, dan tamat Diploma I sampai dengan Universitas sebesar
6
3,58%. Dengan demikian maka persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang memiliki
ijazah SMU/SMK atau pendidikan yang lebih tinggi sebesar 20,71%. Provinsi dengan
persentase tertinggi penduduknya berpendidikan SMU/SMK atau lebih tinggi adalah DKI
J akarta (46,14%), DI Yogyakarta (33,98%), dan Kalimantan Timur (30,21%). Sedangkan
yang terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (13,76%), Kalimantan Barat (13,98%), dan
Nusa Tenggara Barat (14,90%). Persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas menurut
ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.14.
Dilihat dari segi jenis kelamin, ijazah/STTB yang dimiliki oleh penduduk laki-laki
ternyata masih lebih baik bila dibanding yang dimiliki perempuan. Hal ini dapat dilihat dari
persentase penduduk yang mempunyai ijazah SMU/SMK atau lebih tinggi pada laki-laki
sebesar 23,72% dan pada perempuan sebesar 17,71%. Sementara bila dilihat dari segi tempat
tinggal, ijazah/STTB setingkat SMU/SMK atau lebih tinggi yang dimiliki penduduk yang
tinggal di perkotaan lebih tiga kali lipat daripada yang dimiliki oleh mereka yang tinggal di
perdesaan (33,89% berbanding 10,46%). Rincian persentase penduduk 10 tahun ke atas
menurut tipe daerah, jenis kelamin, dan status pendidikan tahun 2004 dapat dilihat pada
Tabel 2.2 berikut ini.

TABEL 2.2
PERSENTASE PENDUDUK 10 TAHUN KE ATAS
MENURUT TIPE DAERAH, JENIS KELAMIN,
DAN IJAZAH TERTINGGI YANG DIMILIKI, 2004
Ijazah/STTB Tertinggi yang Dimiliki
Daerah/
J enis Kelamin
Tidak
memiliki
SD/
MI
SLTP/
MTs
SMU/
SMA
SMK/
Kejuruan
Dipl.I/
Dipl.II
Akademi/
Dipl.III
Dipl.IV/
S1/S2/S3
J umlah

Perkotaan
Laki-laki 17,49 24,52 20,02 22,49 8,11 0,75 1,90 4,72 100,00
Perempuan 23,29 27,00 19,84 19,40 4,91 1,00 1,66 2,89 100,00
Laki-laki +Perempuan 20,41 25,77 19,93 20,94 6,50 0,88 1,78 3,79 100,00

Perdesaan
Laki-laki 32,18 37,63 17,44 8,32 2,84 0,45 0,33 0,81 100,00
Perempuan 40,62 37,03 14,20 5,56 1,49 0,45 0,24 0,43 100,00
Laki-laki +Perempuan 36,39 37,33 15,82 6,94 2,17 0,45 0,28 0,62 100,00

Perkotaan + Perdesaan
Laki-laki 25,79 31,92 18,57 14,49 5,13 0,58 1,01 2,51 100,00
Perempuan 32,99 32,61 16,68 11,65 3,00 0,69 0,86 1,51 100,00
Laki-laki +Perempuan 29,40 32,27 17,62 13,07 4,06 0,64 0,94 2,00 100,00

Sumber : BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat 2004

D. KEADAAN LINGKUNGAN

Untuk menggambarkan keadaan lingkungan, akan disajikan indikator-indikator
persentase rumah sehat dan persentase Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan
7
(TUPM) sehat. Selain itu disajikan pula beberapa indikator tambahan yang dianggap masih
relevan, yaitu persentase rumah tangga menurut sumber air minum, persentase rumah tangga
menurut Sarana Pembuangan Air Besar, dan persentase rumah tangga menurut Tempat
Penampungan Akhir Kotoran/Tinja.

1. Rumah Sehat
Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu
rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah,
sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang
sesuai dan lantai rumah tidak terbuat dari tanah.
Menurut data/indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan
yang dikumpulkan oleh Pusdatin, Depkes pada tahun 2004, persentase rumah sehat sebesar
55,29%. Rinciannya dapat dilihat pada Lampiran 2.15.

2. Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat
Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) merupakan suatu sarana
yang dikunjungi oleh banyak orang, dan dikhawatirkan dapat menjadi tempat penyebaran
penyakit. TUPM meliputi hotel, restoran, bioskop, pasar, terminal dan lain-lain. Sedangkan
TUPM sehat adalah tempat umum dan tempat pengelolaan makanan yang memenuhi syarat
kesehatan yaitu yang memiliki sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana
pembuangan air limbah, ventilasi yang baik, luas lantai (luas ruang) yang sesuai dengan
banyaknya pengunjung, dan memiliki pencahayaan ruang yang sesuai.
Data yang diperoleh dari Profil Kesehatan Provinsi pada tahun 2004, memperlihatkan
bahwa persentase TUPM sehat mencapai 68,9%. Rinciannya dapat dilihat pada Lampiran
2.16.

3. Akses terhadap Air Minum
Hasil Susenas 2004 menunjukkan bahwa 55,31% rumah tangga mempunyai fasilitas
air minum sendiri, dengan persentase terbesar di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
(79,43%) dan yang terendah di Nusa Tenggara Timur (17,03%). Sebesar 20,54% yang
menggunakan fasilitas air minum milik bersama dan 12,04% menggunakan fasilitas milik
umum. Selebihnya, sebesar 12,11% rumah tangga yang tidak mempunyai fasilitas air minum,
dengan persentase tertinggi di Provinsi Kalimantan Barat (74,16%).
Sumber air minum yang digunakan rumah tangga dibedakan menurut air kemasan,
ledeng, pompa, sumur terlindung, sumur tidak terlindung, mata air terlindung, mata air tidak
terlindung, air sungai, air hujan, dan lainnya. Data dari Statistik Kesejahteraan Rakyat (BPS)
tahun 2004 menunjukkan bahwa rumah tangga di Indonesia yang menggunakan air minum
dari air kemasan sebesar 2,45%, ledeng 17,96%, pompa 14,37%, sumur terlindung 35,95%,
sumur tidak terlindung 11,16%, mata air terlindung 8,07%, mata air tidak terlindung 4,04%,
air sungai 2,87%, air hujan 2,66%, dan sumber lainnya 0,46%. Ini berarti bahwa rumah
tangga di Indonesia yang sudah menggunakan sumber air minum terlindung sebesar 81,46%
(air kemasan, ledeng, pompa, sumur terlindung, mata air terlindung, air hujan) dan yang
masih menggunakan sumber air minum tidak terlindung sebesar 18,54% (sumur tidak
terlindung, mata air tidak terlindung, air sungai, lainnya). Persentase rumah tangga yang
menggunakan sumber air minum terlindung di wilayah perkotaan (sebesar 93,02%) lebih
tinggi daripada di wilayah perdesaan (yang sebesar 72,93%).
8
Provinsi dengan persentase tertinggi rumah tangga yang menggunakan sumber air
minum terlindung adalah DKI J akarta, yaitu sebesar 99,62%, Bali (93,97%), dan DI
Yogyakarta (90,31%). Sedangkan yang terendah adalah Provinsi Kalimantan Tengah, yaitu
sebesar 50,56%, Bengkulu (55,99%), dan Papua (56,19%).
Persentase rumah tangga menurut sumber air minum per provinsi dapat dilihat pada
Lampiran 2.19.

4. Sarana Pembuangan Air Besar pada Rumah Tangga
Persentase rumah tangga yang mempunyai sarana pembuangan air besar milik sendiri
sebesar 61,62%, milik bersama sebesar 11,05%, milik umum sebesar 5,25%, dan yang tidak
mempunyai sarana sebesar 22,08%. Sarana pembuangan air besar yang digunakan penduduk
dibedakan ke dalam empat macam, yaitu jamban leher angsa, jamban plengsengan, jamban
cemplung/cubluk, dan tidak menggunakan jamban. Statistik Kesejahteraan Rakyat (BPS)
tahun 2004 memberikan gambaran tentang sarana pembuangan air besar di daerah perkotaan
dan daerah perdesaan. Persentase rumah tangga yang memakai jamban leher angsa di daerah
perkotaan sebesar 80,25% dan di daerah perdesaan sebesar 48,01%. Rumah tangga yang
menggunakan jamban plengsengan, di daerah perkotaan 11,90% dan di daerah perdesaan
12,04%. Sedangkan rumah tangga yang menggunakan jamban cemplung/cubluk di daerah
perkotaan 6,14% dan di daerah perdesaan 31,35%. Selebihnya, yang tidak menggunakan
jamban di daerah perkotaan 1,72% dan di daerah perdesaan 8,6%.
Bila dilihat secara keseluruhan (perkotaan dan perdesaan) rumah tangga yang
memakai jamban leher angsa sebesar 63,85%, jamban plengsengan 11,97%, jamban
cemplung/cubluk 18,96%, dan yang tidak menggunakan jamban 5,22%. Provinsi dengan
persentase tertinggi dengan rumah tangga yang menggunakan jamban leher angsa adalah
Bali, yaitu sebesar 91,89%, menyusul DKI J akarta (82,90%), dan Maluku Utara (81,22%).
Sedangkan yang terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (30,05%), Kalimantan Tengah
(41,91%), dan Sumatera Selatan (44,16%). Gambaran persentase rumah tangga di Indonesia
menurut sarana pembuangan air besar dapat dilihat pada Gambar 2.2 berikut ini.

GAMBAR 2.2
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT
SARANA PEMBUANGAN AIR BESAR TAHUN 2004
L. Angsa
64%
Plengsengan
12%
Cemplung
19%
Tdk. Pakai
5%

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2004

Data persentase rumah tangga menurut sarana pembuangan air besar per provinsi
dapat dilihat pada Lampiran 2.20.

9


5. Tempat Penampungan Akhir Kotoran/Tinja pada Rumah Tangga
Menurut Statistik Kesejahteraan Rakyat (BPS) tahun 2004, rumah tangga di Indonesia
menggunakan tempat penampungan akhir kotoran/tinja berupa tangki septik, kolam/sawah,
sungai/danau, lobang tanah, pantai/tanah terbuka, dan lainnya.
Persentase rumah tangga yang sudah menggunakan tangki septik sebesar 42,71% (di
wilayah perkotaan sebesar 66,01% dan di wilayah perdesaan sebesar 25,47%). Sebesar 5,16%
yang menggunakan kolam/sawah, menggunakan sungai/danau sebesar 20,22%, menggunakan
lubang tanah sebesar 24,41%, memanfaatkan pantai/tanah terbuka sebesar 5,38%, dan lainnya
2,12%. Persentase rumah tangga menurut tempat penampungan akhir kotoran/tinja dapat
dilihat pada Gambar 2.3 berikut ini.
GAMBAR 2.3
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT
TEMPAT PENAMPUNGAN AKHIR KOTORAN/TINJA, TAHUN 2004
Tangki S eptik
44%
Kolam/sawah
5%
Sungai/danau
20%
Lubang tanah
24%
P antai/tanah terbuka
5%
Lainnya
2%

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2004
Persentase rumah tangga menurut tempat pembuangan akhir kotoran/tinja per provinsi
pada tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 2.21.

E. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT

Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap
derajat kesehatan, akan disajikan beberapa indikator yaitu : persentase penduduk yang
mempunyai keluhan kesehatan menurut cara pengobatan, persentase penduduk yang berobat
jalan menurut tempat berobat, persentase anak 2-4 tahun yang pernah disusui, kebiasaan
merokok, persentase penduduk yang melakukan aktivitas fisik, dan kebiasaan mengkonsumsi
jenis makanan berserat. Indikator yang disajikan merupakan hasil SUSENAS 2004 yang
diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS).

1. Cara Pengobatan bagi Penduduk yang Mempunyai Keluhan Kesehatan
Hasil SUSENAS 2004 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang mempunyai
keluhan kesehatan selama sebulan yang lalu (waktu survei) sebesar 26,51%. Dari
penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan, sebesar 38,21% di antaranya berobat jalan
10
(40,36% di perkotaan dan 36,59% di perdesaan). Sebesar 72,44% dari penduduk yang
mempunyai keluhan berupaya untuk mengobati sendiri (71,98% di perkotaan dan 72,93%
di perdesaan). Provinsi dengan persentase tertinggi penduduk yang berobat jalan untuk
mengatasi keluhan kesehatannya adalah Provinsi Bali, yaitu sebesar 52,89%, menyusul
Nusa Tenggara Timur (48,58%), dan Papua (46,49%). Sedangkan provinsi dengan
persentase terendah adalah Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu sebesar 24,54%, menyusul
Kalimantan Tengah (27,01%), dan Riau (27,290%). Untuk cara pengobatan sendiri,
provinsi dengan persentase tertinggi adalah Maluku Utara, yaitu sebesar 87,62%,
menyusul Lampung (82,66%), dan Riau (82,29%). Sedangkan yang terendah adalah di
Provinsi Papua, yaitu sebesar 50,57%, menyusul Bali (56,98%), dan Nusa Tenggara
Timur (58,07%). Rincian per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.26.

2. Tempat Penduduk Berobat Jalan
Hasil survei yang sama juga menunjukkan bahwa puskesmas/puskesmas pembantu
masih merupakan tempat berobat yang paling banyak dikunjungi oleh penduduk untuk
berobat jalan, yaitu sebesar 37,26%. Tempat berobat jalan dengan persentase tertinggi
berikutnya adalah praktek dokter (24,39%), dan petugas kesehatan (18,51%). Sedangkan
rumah sakit pemerintah hanya 6,01%, dukun/tabib/sinse (1,78%), poliklinik (3,86%),
rumah sakit swasta (3,32%), dan lainnya (4,86%). Provinsi dengan persentase tertinggi
penduduk berobat jalan ke puskesmas/puskesmas pembantu adalah Papua (67,82%), Nusa
Tenggara Timur (63,46%), dan Nanggroe Aceh Darussalam (62,92%). Sedangkan
persentase terendah di Provinsi Bali ( 27,83%), Sumatera Utara (27,62%), dan DI
Yogyakarta (24,08%). Rincian per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.27.

3. Anak 2-4 Tahun yang Pernah Disusui
Hasil SUSENAS 2004 yang diselenggarakan BPS juga menyajikan informasi
mengenai persentase anak usia 2-4 tahun yang pernah disusui (mendapat air susu
ibu/ASI). Sebanyak 41,36% anak usia 2-4 tahun ternyata pernah disusui selama >=24
bulan. Provinsi dengan persentase tertinggi anak usia 2-4 tahun yang pernah disusui >=
24 bulan adalah DI Yogyakarta (58,74%), J awa Tengah (53,93%), dan Kalimantan
Selatan (54,85%). Sedangkan persentase terendah di Provinsi Maluku (10,81%), Maluku
Utara (20,89%), dan Sumatera Utara (18,39%). Rincian per provinsi dapat dilihat pada
Lampiran 2.29.

4. Kebiasaan Merokok
Persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang merokok setiap hari sebesar
28,35%, yang merokok kadang-kadang (tidak setiap hari) sebesar 6,09%, dan selebihnya
sebesar 65,56% tidak merokok. Provinsi dengan persentase tertinggi penduduk berumur
15 tahun ke atas yang merokok setiap hari adalah Riau (34,25%), Bengkulu (33,83%),
dan Lampung (32,71%). Sedangkan yang terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur
(19,52%), Bali (20,33%), dan Maluku (21,66%). Rincian per provinsi dapat dilihat pada
Lampiran 2.31.
Dari kelompok penduduk yang merokok, sebanyak 47,75% di antaranya menghisap
rokok sebanyak 10 14 batang per hari, sebanyak 25,17% menghisap rokok sebanyak 5 -
9 batang per hari, sebanyak 15,71% merokok 15 batang atau lebih per hari, dan
selebihnya sebesar 11,37% merokok 4 batang atau kurang per hari. Rincian per provinsi
dapat dilihat pada Lampiran 2.34.
11


5. Aktivitas Fisik Penduduk
SUSENAS 2004 juga menghasilkan informasi mengenai kebiasaan penduduk usia 15
tahun ke atas dalam melakukan aktivitas fisik. Dalam survei ini aktivitas fisik
dikelompokkan dalam 3 tingkat, yaitu aktivitas berat, aktivitas sedang, dan aktivitas
ringan. Persentase penduduk yang melakukan aktivitas berat sebesar 36,02%, aktivitas
sedang sebesar 77,44%, dan aktivitas ringan sebesar 66,67%. Rincian menurut provinsi
dapat dilihat pada Lampiran 2.35.

6. Kebiasaan Mengkonsumsi Jenis Makanan Berserat

a. Sayur-sayuran
Untuk konsumsi makanan berserat jenis sayur-sayuran, rata-rata penduduk Indonesia
mengkonsumsi sebanyak 2 porsi per hari. Sebesar 20,22% penduduk yang
mengkonsumsi 3 porsi atau lebih per hari, 71,91% mengkonsumsi 1-2 porsi perhari,
dan 7,65% kurang dari 1 porsi per hari. Provinsi dengan persentase tertinggi
penduduknya mengkonsumsi sayur-sayuran sebanyak 3 porsi atau lebih per hari
adalah Sulawesi Utara (35,38%), Bengkulu (34,00%), dan Maluku Utara (32,57%).
Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi penduduknya mengkonsumsi sayur 2
porsi atau kurang per hari adalah Kalimantan Selatan (88,63%), Maluku Utara
(85,85%), dan Sumatera Barat (84,71%).
Rincian per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.36.

b. Buah-buahan
Untuk konsumsi makanan berserat jenis buah-buahan, rata-rata penduduk Indonesia
mengkonsumsi sebanyak 1,60 porsi per hari. Sebesar 39,18% penduduk yang
mengkonsumsi 2 porsi atau lebih per hari, 51,19% mengkonsumsi 1 porsi perhari, dan
9,44% kurang dari 1 porsi per hari. Provinsi dengan persentase tertinggi
penduduknya mengkonsumsi sayur-sayuran sebanyak 2 porsi atau lebih per hari
adalah Sulawesi Tengah (60,48%), Papua (54,48%), dan Bangka Belitung (52,55%).
Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi penduduknya mengkonsumsi buah-
buahan 1 porsi atau kurang per hari adalah Kalimantan Selatan (68,64%), J awa Barat
(66,62%), dan Sumatera Barat (65,88%).
Rincian per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.37.

Demikian gambaran umum negara Indonesia tahun 2004 secara ringkas. Gambaran
yang disajikan meliputi aspek-aspek kependudukan, perekonomian, pendidikan, kesehatan
lingkungan, dan beberapa perilaku penduduk yang terkait dengan kesehatan.



***

12
BAB I I I
SI TUASI DERAJ AT KESEHATAN



Untuk menggambarkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia berikut ini disajikan
situasi mortalitas, morbiditas, dan status gizi masyarakat.


A. MORTALITAS

Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian
kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Di samping itu kejadian kematian juga
dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan
program pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung
dengan melakukan berbagai survei dan penelitian. Perkembangan tingkat kematian dan
penyakit-penyakit penyebab utama kematian yang terjadi pada periode terakhir akan
diuraikan di bawah ini.

1. Angka Kematian Bayi (AKB)
Data kematian yang terdapat pada suatu komunitas dapat diperoleh melalui survei,
karena sebagian besar kematian terjadi di rumah, sedangkan data kematian di fasilitas
kesehatan hanya memperlihatkan kasus rujukan. AKB di Indonesia berasal dari berbagai
sumber, yaitu Sensus Penduduk, Surkesnas/Susenas, dan Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI).
Dalam beberapa tahun terakhir AKB telah banyak mengalami penurunan yang cukup
besar meskipun pada tahun 2001 meningkat kembali sebagai dampak dari berbagai krisis
yang melanda Indonesia. Pada tahun 1995 AKB diperkirakan sebesar 55 per 1.000 kelahiran
hidup, kemudian turun menjadi 52 pada tahun 1997, dan turun lagi menjadi 44 per 1.000
kelahiran hidup pada tahun 1999, kemudian naik menjadi menjadi 47 per 1.000 kelahiran
hidup pada tahun 2000. AKB menurut hasil Surkesnas/Susenas berturut-turut pada tahun
2001 sebesar 50 per 1.000 kelahiran hidup dan pada tahun 2002 sebesar 45 per 1.000
kelahiran hidup. Sedangkan AKB menurut hasil SDKI 2002-2003 terjadi penurunan yang
cukup besar dari tahun 1997 sebesar 52 per 1.000 kelahiran hidup menjadi 35 per 1.000
kelahiran hidup pada tahun 2002-2003. Provinsi dengan AKB terendah adalah Bali (14 per
1.000 kelahiran hidup), DI Yogyakarta (20 per 1.000 kelahiran hidup), dan Sulawesi Utara
(25 per 1.000 kelahiran hidup). Sedangkan AKB tertinggi di Provinsi Gorontalo (77 per 1.000
kelahiran hidup), Nusa Tenggara Barat (74 per 1.000 kelahiran hidup), dan Sulawesi
Tenggara (67 per 1.000 kelahiran hidup). Gambaran perkembangan estimasi AKB dari
beberapa sumber dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut ini.






13
TABEL 3.1
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA MENURUT SUPAS 1995 DAN SUSENAS
TAHUN 1995 S.D TAHUN 2003

Tahun
Estimasi
SUPAS 1995
[a]
Estimasi
SUSENAS
[b]
SDKI
[c]
1995 55 56 -
1996 54 - -
1997 52 - 52
1998 50 49 -
1999 44 - -
2000 47 - -
2001 - 50 -
2002 - 45 35
2003 - - 35

Sumber:
[a]
Indikator Kesejahteraan Anak 2001 (estimasi SUPAS 1995),
[b]
estimasi Susenas 2002-2003, dan
[c]
SDKI 2002-2003
Keterangan: National Human Development Report 2004 menyebutkan AKB tahun 2002
sebesar 43,5 per 1.000 kelahiran hidup

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003 dinyatakan pula
AKB menurut berbagai karakteristik latar belakang, yaitu menurut tempat tinggal di
perkotaan dan di perdesaan, tingkat pendidikan, dan menurut indeks kekayaan. AKB menurut
ketiga karakteristik latar belakang tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

GAMBAR 3.1
ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) MENURUT
LATAR BELAKANG TEMPAT TINGGAL, 2002-2003
GAMBAR 3.2
ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) MENURUT
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN, 2002-2003
32
52
0 10 20 30 40 50 60
Perkotaan
Perdesaan

67
65
43
36
23
0 20 40 60 8
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tidak tamat SMP
SMP+
0
GAMBAR 3.3
ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) MENURUT
LATAR BELAKANG INDEKS KEKAYAAN, 2002-2003
61
50
44
36
17
0 10 20 30 40 50 60 70
Terendah
Tengah bawah
Tengah
Tengah atas
Atas

14
Tabel 3.2 di bawah ini merupakan data kematian bayi di rumah sakit selama tahun
20012004. Pada tahun 2000 AKB di rumah sakit adalah 15,8 per 1.000 kelahiran hidup,
kemudian meningkat cukup tinggi tahun 2001 dan 2002 yaitu 42,9 dan 40,6 per 1.000
kelahiran hidup. Tahun 2003 AKB di rumah sakit mengalami penurunan cukup banyak yaitu
sebesar 22,9 per 1.000 kelahiran hidup, kemudian pada tahun 2004 mengalami sedikit
kenaikan menjadi 29,4 per 1.000 kelahiran hidup.

TABEL 3.2
ANGKA KEMATIAN BAYI DI RUMAH SAKIT
DI INDONESIA TAHUN 2000 - 2004

No. Tahun J umlah RS J umlah Lahir Mati
J umlah Kelahiran Hidup
di Rumah Sakit
AKB
per 1000 KH
1 2000 1.145 2.546 158.972 15,8
2 2001 1.178 7.226 161.073 42,9
3 2002 1.215 5.381 127.053 40,6
4 2003 1.234 3.160 135.094 22,9
5 2004 1.246 3.321 109.297 29,4
Sumber : Ditjen Yanmedik, Depkes RI, 2005

Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat AKB tetapi tidak mudah untuk
menentukan faktor yang paling dominan dan faktor yang kurang dominan. Tersedianya
berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang
terampil, serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma
kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor-faktor yang sangat
berpengaruh terhadap tingkat AKB. Menurunnya AKB dalam beberapa waktu terakhir
memberi gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan
masyarakat.
Beberapa penyebab kematian bayi dapat bermula dari masa kehamilan 28 minggu
sampai hari ke-7 setelah persalinan (masa perinatal). Penyebab kematian bayi yang terbanyak
adalah karena pertumbuhan janin yang lambat, kekurangan gizi pada janin, kelahiran
prematur dan berat badan bayi lahir yang rendah, yaitu sebesar 40,68%. Sedangkan penyebab
lainnya yang cukup banyak terjadi adalah kejadian kurangnya oksigen dalam rahim (hipoksia
intrauterus) dan kegagalan nafas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat
setelah lahir (asfiksia lahir), yaitu 25,13%. Hal ini dapat diartikan bahwa 65,8% kematian
bayi pada masa perinatal dipengaruhi pada kondisi ibu saat melahirkan. Penyebab kematian
bayi di rumah sakit secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3.3 berikut ini.










15
TABEL 3.3
DISTRIBUSI PASIEN KELUAR MATI DI RUMAH SAKIT
YANG BERMULA PADA MASA PERINATAL
DI INDONESIA TAHUN 2004

NO DTD ICD -10 Golongan Sebab Sakit Mati

%
1 0.12 A33 Tetanus neonatorum 42 0.81
2 245 P00 - P04 J anin dan bayi baru lahir yang dipengaruhi oleh faktor
dan penyulit kehamilan persalinan dan kelahiran
362 7.01
3 246 P05 - P 07 Pertumbuhan janin lamban, malnutrisi janin dan
gangguan yang berhubungan dengan kehamilan pendek
dan berat badan lahir rendah
2.100 40.68
4 247 P10 - P 15 Cedera lahir 23 0.45
5 248 P20 - P 21 Hipoksia intrauterus dan asfiksia lahir 1.297 25.13
6 249 P22 - P 28 Gangguan saluran napas lainnya yang berhubungan
dengan masa perinatal
548 10.62
7 250 P35 - P 37 Penyakit infeksi dan parasit kongenital 466 9.03
8 251 P38 - P39 Infeksi khusus lainnya pada masa perinatal 137 2.65
9 252 P55 Penyakit hemolitik pada janin dan bayi baru lahir 17 0.33
10 253.9 P08,P29,P50-P54,
P56-P94, P96
Kondisi lain yang bermula pada masa perinatal 170 3.29
Jumlah 5.162
Sumber : Ditjen Yanmedik, Depkes RI, 2005

2. Angka Kematian Balita (AKABA)
AKABA berdasarkan estimasi SUPAS 1995 menunjukkan penurunan dari 64,28 per
1.000 kelahiran hidup pada tahun 1998 menjadi 44,71 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun
2000. Selain itu, tingkat kematian anak balita laki-laki lebih besar daripada tingkat kematian
anak balita perempuan.
Berdasarkan estimasi Susenas, AKABA di Indonesia yang pada tahun 1995 sebesar
73 per 1.000 kelahiran hidup, turun menjadi 64 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1998.
Ternyata pada tahun 2001 AKABA tersebut tidak mengalami perubahan yaitu tetap 64 per
1.000 kelahiran hidup. Hal ini diperkirakan karena menurunnya akses terhadap pelayanan
kesehatan, salah satunya sebagai akibat dari krisis ekonomi. Hasil SDKI menyatakan bahwa
AKABA pada tahun 2002-2003 telah turun menjadi 46 per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun
2002-2003 provinsi dengan AKABA terendah adalah Bali (19 per 1.000 kelahiran hidup), DI
Yogyakarta (23 per 1.000 kelahiran hidup), dan Sulawesi Utara (33 per 1.000 kelahiran
hidup). Sedangkan AKABA tertinggi di Nusa Tenggara Barat (103 per 1.000 kelahiran
hidup), Gorontalo (97 per 1.000 kelahiran hidup), dan Sulawesi Tenggara (92 per 1.000
kelahiran hidup). Gambaran perkembangan AKABA pada tahun 1995 2003 disajikan pada
Tabel 3.4 berikut ini.



16

TABEL 3.4
ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA) PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA TAHUN 1995 2003

Estimasi SUPAS 1995
Tahun
Laki-laki Perempuan Laki-laki +Perempuan
Estimasi
SUSENAS
SDKI
2002-2003
1995 - 73
1998 71,36 57,61 64,28 64
1999 66,44 53,05 59,55 -
2000 50,77 39,00 44,71 -
2001 - 64
2002-2003 46

Sumber: Indikator Kesejahteraan Anak 2001 (Estimasi SUPAS 1995),
Estimasi SUSENAS 1995, 1998, dan 2001, SDKI 2002-2003

Dari hasil penelitian terhadap semua kasus kematian balita yang disurvei pada SKRT
1995 dan Surkesnas 2001 diperoleh gambaran besarnya proporsi sebab utama kematian
balita, yang dapat dilihat pada Tabel 3.5 di bawah ini.

TABEL 3.5
POLA PENYAKIT PENYEBAB KEMATIAN BALITA DI INDONESIA
HASIL SKRT 1995 DAN SURKESNAS 2001

SKRT 1995 SURKESNAS 2001
J enis penyakit % J enis penyakit %
1. Gangguan sistem pernafasan
2. Gangguan perinatal
3. Diare
4. Infeksi dan parasit lain
5. Saraf
6. Tetanus
30,8 %
21,6 %
15,3 %
6,3 %
5,5 %
3,6 %
1. Sistem Pernafasan (Pneumonia)
2. Diare
3. Saraf
4. Tifus
5. Sistem pencernaan
6. Infeksi lain
22,8 %
13,2 %
11,8 %
11,0 %
5,9 %
5,1 %
Sumber: Badan Litbangkes, Publikasi hasil SKRT 1995 dan Surkesnas 2001

Tabel di atas menunjukkan bahwa pola penyakit penyebab kematian balita menurut
hasil SKRT 1995 dan Surkesnas 2001 tidak terlalu banyak mengalami perubahan, penyakit
infeksi masih merupakan penyebab kematian terbanyak. Pada tahun 2001, kematian balita
yang tertinggi adalah kematian akibat Pneumonia (4,6 per 1.000 balita), disusul oleh
kematian akibat Diare (2,3 per 1.000 balita).

3. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI)
AKI diperoleh melalui berbagai survei yang dilakukan secara khusus, seperti survei di
rumah sakit dan beberapa survei di masyarakat dengan cakupan wilayah yang terbatas.
Dengan dilaksanakannya Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survei Demografi
dan Kesehatan Indonesia (SDKI), maka cakupan wilayah penelitian AKI menjadi lebih luas
dibanding survei-survei sebelumnya.
17
Untuk melihat kecenderungan AKI di Indonesia secara konsisten, digunakan data hasil
SKRT. Menurut SKRT, AKI menurun dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986
menjadi 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1992, kemudian menurun lagi menjadi 373 per
100.000 kelahiran hidup pada tahun 1995. Pada SKRT 2001 tidak dilakukan survei mengenai AKI.
Pada tahun 2002-2003 AKI sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup diperoleh dari hasil SDKI. Hal
ini menunjukkan AKI cenderung terus menurun. Tetapi bila dibandingkan dengan target yang ingin
dicapai secara nasional pada tahun 2010, yaitu sebesar 125 per 100.000 kelahiran hidup, maka apabila
penurunannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya, diperkirakan target tersebut di masa mendatang
sulit tercapai. Angka yang didapat dari berbagai survei tersebut disajikan pada Tabel 3.6 berikut ini.

TABEL 3.6
ANGKA KEMATIAN IBU MATERNAL (PER 100.000 KELAHIRAN HIDUP)
HASIL SDKI DAN SKRT, TAHUN 1982 2003
No J enis Penelitian/Survei Tahun Perkiraan AKI
1 SDKI 1982 450
2 SKRT 1986 450
3 SKRT 1992 425
4 SDKI 1994 390
5 SKRT 1995 373
5 SDKI 1997 334
6 SDKI 2002-2003 307

AKI yang dihasilkan oleh SKRT dan SDKI hanya menggambarkan angka nasional,
tidak dirancang untuk mengukur angka kematian ibu menurut provinsi.
Kematian maternal di rumah sakit untuk tahun 2001 mengalami penurunan cukup
besar yaitu dari 16 kematian per 1.000 kelahiran hidup (tahun 2000) menjadi 7,5 kematian
per 1.000 kelahiran hidup. Penurunan angka kematian maternal tersebut disebabkan karena
jumlah kelahiran hidup juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Kemudian dua (2 tahun)
berikutnya juga angka kematian maternal di rumah sakit cenderung menurun, yaitu 5,1 per
1.000 kelahiran hidup (2002) dan 1,1 per 1.000 kelahiran hidup (2003). Tahun 2004 jumlah
kelahiran hidup mengalami penurunan sekitar 25.797 sehingga kematian maternal mengalami
kenaikan yang sangat berarti yaitu 8,6 per 1.000 kelahiran hidup. Hal ini menunjukkan
adanya penurunan pemeriksaan rutin pada ibu hamil di rumah sakit, sehingga angka kematian
ibu tinggi dan angka kelahiran rendah. Data AKI tahun 2000 - 2004 di rumah sakit dapat
dilihat pada Tabel 3.7 berikut.

TABEL 3.7
ANGKA KEMATIAN IBU MATERNAL DI RUMAH SAKIT
DI INDONESIA TAHUN 2000 2004
No Tahun J umlah Kematian Ibu J umlah Lahir Hidup Kematian Per 1000 KH
1 2000 2.546 158.972 16
2 2001 1.203 161.073 7,5
3 2002 649 127.053 5,1
4 2003 153 135.094 1,1
5 2004 956 109.297 8,6
Sumber : Ditjen Yanmedik, Depkes RI, 2005

18
Data AKI di rumah sakit yang bersumber dari Ditjen Yanmedik, menggambarkan
jumlah kematian maternal di rumah sakit yang terjadi per 1.000 kelahiran hidup dan
penyebab kematian maternal tersebut dijelaskan pada Tabel 3.8 di bawah ini.

TABEL 3.8
DISTRIBUSI PASIEN KEHAMILAN, PERSALINAN DAN MASA NIFAS KELUAR MATI
MENURUT GOLONGAN SEBAB SAKIT DI RUMAH SAKIT
DI INDONESIA TAHUN 2004

No DTD ICD-10 Golongan sebab sakit Kasus % Mati CFR
1 234 - 236.9 O00 - O09 Kehamilan yang berakhir abortus 37.055 21,95 499 1,3
2 237.0 - .1 O14 - O15 Eklamsia dan preeklamsia 8.140 4,82 145 1,8
3 238.0 O44 Plasenta previa 3.798 2,25 30 0,8
4 238.9 O46 Perdarahan antepartum 1.861 1,1 11 0,6
5 241 O72 Perdarahan pasca persalinan 8.813 5,22 43 0,5
6 242.1 O60 Persalinan prematur 2.932 1,74 23 0,8
7 242.2 O68 Persalinan dengan penyulit gawat
janin
3.044 1,8 11 0,8
8 237.9,238.1,
239.0-240,
242.0,242.3,
242.9,244
O10-
O3,O16,O20-
O25, O29-
O30,O40-O43,
O45,O47,064-
O67, O69,074-
O75,O81-O99
Penyulit kehamilan, persalinan dan
masa nifas lainnya
103.158 61,11 1.508 1,5
Jumlah 168.801 2.270 1,4
Sumber : Ditjen Yanmedik, Depkes RI, 2005

J ika dilihat dari golongan sebab sakit, kasus obstetri terbanyak pada tahun 2004
adalah disebabkan penyulit kehamilan, persalinan dan masa nifas lainnya yaitu, 61,1%. J ika
dilihat dari nilai CFR (Case Fatality Rate), penyebab kematian terbesar adalah disebabkan
karena eklamsia dan preeklamsia dengan CFR 1,8%, walaupun persentase kasusnya tidak
tinggi yaitu 4,8%.

4. Angka Kematian Kasar (AKK)
Estimasi AKK berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995
menunjukkan AKK sebesar 7,7 per 1.000 penduduk pada tahun 1995, turun menjadi 7,6 per
1.000 penduduk pada tahun 1996 dan tidak berubah sampai dengan tahun 1998. Kemudian
pada tahun 1999 AKK turun menjadi 7,5 per 1.000 penduduk dan turun lagi menjadi 7,4 per
1.000 penduduk pada tahun 2000. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan angka
kematian kasar dalam kurun waktu tahun 1995 2000 relatif stabil dengan penurunan yang
sangat kecil. Sedangkan angka kematian kasar menurut provinsi sangat bervariasi dengan
rentangan angka terendah sebesar 4,26 per 1.000 penduduk di Provinsi Riau dan tertinggi
sebesar 9,43 di Provinsi DI Yogyakarta.
Sementara itu, dari hasil penelitian terhadap semua kasus kematian yang ditemukan
dalam SKRT 1995 dan Surkesnas 2001 diperoleh gambaran proporsi penyebab utama
kematian dapat dilihat pada Tabel 3.9 berikut ini.

19
TABEL 3.9
POLA PENYAKIT PENYEBAB KEMATIAN UMUM DI INDONESIA
HASIL SKRT 1992 DAN 1995 SERTA SURKESNAS 2001

SKRT 1992 SKRT 1995 SURKESNAS 2001
J enis Penyakit % J enis Penyakit % J enis Penyakit %
1. Penyakit sistem sirkulasi
2. Tuberkulosis
3. Keadaan tidak jelas
4. Infeksi saluran pernafasan
5. Diare
6. Penyakit infeksi lain
7. Bronchitis,asma/empisema
8.Trauma, keracunan, kecelakaan
9. Penyakit sistem pencernaan
10. Neoplasma
16,0 %
11,0 %
9,8 %
9,5 %
8,0 %
7,8 %
5,6 %
5,3 %
5,1%
4,0%
1. Penyakit sistem sirkulasi
2. Sistempernafasan
3. Tuberkulosis
4. Infeksi parasit lain
5. Diare
6. Penyakit sistem pencernaan
7. Gangguan perinatal
8. Sebab lain/kecelakaan
9. Neoplasma
10. Penyakit saraf
18,9 %
15,7 %
9,6 %
7,9 %
7,4 %
6,6 %
5,2 %
5,2 %
5,0 %
2,5 %
1. Penyakit sistem sirkulasi
2. Penyakit sistem pernafasan
3. Tuberkulosis
4. Penyakit sistem pencernaan
5. Neoplasma
6. Kecelakaan
7. Perinatal
8. Tifus
9. Diare
10.Endokrin & metabolik
26,4 %
12,7 %
9,4 %
7,0 %
6,0 %
5,6 %
4,9 %
4,3 %
3,8 %
2,7 %
Sumber: Badan Litbangkes, Publikasi hasil SKRT 1992 dan 1995 serta Surkesnas 2001

Dilihat dari Tabel 3.10 di bawah ini, AKK di rumah sakit tahun 2001 mengalami
penurunan menjadi 3,17% karena menurunnya jumlah kasus mati sebanyak 45.135; demikian
pula jumlah kasus juga mengalami penurunan sebesar 15.721. Sedangkan pada tahun 2002
meskipun jumlah kasus mengalami penurunan sebanyak 251.376 kasus tetapi angka kematian
mengalami kenaikan yang tajam yaitu 6.001 kasus (mati). Pada tahun 2004 AKK di rumah
sakit (5,09%) menunjukkan adanya kenaikan yaitu 27.941 kasus.
TABEL 3.10
ANGKA KEMATIAN KASAR DI RUMAH SAKIT INDONESIA
TAHUN 2004
No Tahun Jumlah Kasus Jumlah Mati %
1 2000 2.613.233 127.575 4,88
2 2001 2.597.512 82.440 3,17
3 2002 2.346.136 88.441 3,77
4 2003 2.270.657 81.943 3,60
5 2004 2.156.797 109.884 5,09
Sumber: Ditjen Yanmedik, Depkes RI, 2005

Sedangkan penyebab kematian terbanyak dari penderita rawat inap di rumah sakit
pada tahun 2004 dapat dilihat pada Tabel 3.11 berikut ini.

TABEL 3.11
10 PENYAKIT UTAMA PENYEBAB KEMATIAN MENURUT DTD
DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2004
No. DTD Sebab sakit J umlah Mati %
[a]
1. 167 Infeksi saluran nafas bagian atas akut lainnya 5.532 4,9
2. 155 Stroke tidak menyebut perdarahan atau infark 4.215 3,8
3. 005 Diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi
tertentu (kolitis infeksi)
3.941 3,6
4. 117.0-1 Tuberkulosis paru 3.852 3,5
5. 043 Malaria (termasuk semua malaria) 3.578 3,2
6. 169 Pneumonia 3.103 2,8
7. 153 Perdarahan intrakranial 2.868 2,6
8. 002 Demam tifoid dan paratifoid 2.619 2,4
9. 278 Cedera intrakranial 2.554 2,3
10. 017 Septisemia 2.369 2,1
Sumber: Ditjen Yanmedik, Depkes RI, 2005
Keterangan:
[a]
persen terhadap total kematian di rumah sakit

20
5. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH)
Penurunan AKB sangat berpengaruh pada kenaikan UHH waktu lahir. Angka
kematian bayi sangat peka terhadap perubahan derajat kesehatan dan kesejahteraan
masyarakat, sehingga perbaikan derajat kesehatan tercermin pada penurunan AKB dan
kenaikan UHH pada waktu lahir. Meningkatnya umur harapan hidup ini secara tidak
langsung juga memberi gambaran tentang adanya peningkatan kualitas hidup dan derajat
kesehatan masyarakat.
Umur Harapan Hidup waktu lahir penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus
mengalami peningkatan yang bermakna terutama pada periode tahun 1980-1995. Estimasi
UHH yang sebesar 52,41 tahun 1980 (SP 1980) meningkat menjadi 63,48 tahun 1995
(SUPAS 1995), dan diperkirakan menjadi 66,2 tahun pada 2002 (SDKI 2002-2003). Pada
tahun 2002 provinsi dengan UHH waktu lahir tertinggi adalah DI Yogyakarta (72,4 tahun),
DKI J akarta (72,3 tahun), dan Sulawesi Utara (70,9 tahun). Sedangkan UHH waktu lahir
terendah di Nusa Tenggara Barat (59,3 tahun), Kalimantan Selatan (61,3 tahun), dan Banten
(62,4 tahun). Gambaran perkembangan umur harapan hidup waktu lahir dalam 12 tahun
terakhir dapat dilihat pada Tabel 3.12 berikut.

TABEL 3.12
UMUR HARAPAN HIDUP WAKTU LAHIR (Eo)
MENURUT JENIS KELAMIN TAHUN 1990 2002

Tahun Laki-laki Perempuan Laki-laki +Perempuan
1990 50.59 63.28 61.49
1991 60.00 63.71 61.91
1992 60.42 64.15 62.34
1993 60.79 64.54 62.72
1994 61.16 64.92 63.10
1995 61.54 65.31 63.48
1996 61.91 65.71 63.86
1997 62.29 65.71 63.86
1998 62.63 66.45 64.59
1999 63.55 67.41 65.54
2000 63.45 67.30 65.43
2002
[a]
- - 66,20
Sumber: Indikator Kesejahteraan Anak 2001 (hasil SP 1990, 2000 dan estimasi SUPAS 1995)

[a]
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003

Tabel di atas menunjukkan bahwa umur harapan hidup waktu lahir untuk kelompok
penduduk perempuan dari waktu ke waktu relatif lebih tinggi daripada umur harapan hidup
waktu lahir untuk kelompok penduduk laki-laki. Rincian angka kematian bayi, angka
kematian balita, dan umur harapan hidup waktu lahir menurut provinsi tahun 2002 2003
dapat dilihat pada Lampiran 3.1.





21
B. MORBIDITAS

Data angka kesakitan penduduk yang berasal dari masyarakat (community based data)
yang diperoleh melalui studi morbiditas, dan hasil pengumpulan data dari Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota serta dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh
melalui sistem pencatatan dan pelaporan. Gambaran/pola 10 penyakit terbanyak pada pasien
rawat jalan di rumah sakit adalah data tahun 2004 disajikan pada Tabel 3.13 berikut ini.

TABEL 3.13
POLA 10 PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT JALAN
DI RUMAH SAKIT TAHUN 2004
No Golongan Sebab Sakit
J umlah
Kunjungan
%
1 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 1. 040.505 7,3
2 Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya 419.724 2,9
3 Hipertensi esensial (primer) 411.355 2,9
4 Cedera YDT lainnya , YTT dan daerah badan multipel 339.885 2,4
5 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu ( kolitis infeksi ) 336.263 2,4
6 Tuberkulosis paru 328.739 2,3
7 Diabetes melitus 326.462 2,3
8 Penyakit pulpa dan periapikal 288.025 2
9 Gastritis dan duodenitis 218.508 1,5
10 Faringitis akut 214.781 1,5
Sumber: Ditjen Yanmedik, Depkes RI

Sedangkan pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit tahun
2004 dapat dilihat pada Tabel 3.14 di bawah ini.

TABEL 3.14
POLA 10 PENYAKIT TERBANYAK PASIEN RAWAT INAP
DI RUMAH SAKIT TAHUN 2004
No Golongan Sebab Sakit J umlah Pasien %
1 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu ( kolitis infeksi ) 166.538 7,7
2 Demam tifoid dan paratifoid 77.555 3,6
3 Penyulit kehamilan dan persalinan lainnya 59.908 2,8
4 Demam berdarah dengue 49.644 2,3
5 Cedera intrakranial 48.665 2,3
6 Cedera YDT lainnya, YTT dan daerah badan multipel 39.620 1,8
7 Demam yang sebabnya tidak diketahui 38.696 1,8
8 Pneumonia 37.873 1,8
9 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 35.321 1,6
10 Malaria (termasuk semua malaria) 33.672 1,6
Sumber: Ditjen Yanmedik, Depkes RI

Kedua tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa penyakit infeksi masih merupakan
penyakit terbanyak yang ditemukan pada pasien rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit,
walaupun beberapa penyakit tidak menular seperti Diabetes Melitus, Hipertensi, dan cedera
juga berada di peringkat atas.
22
Selanjutnya berikut ini akan diuraikan situasi beberapa penyakit menular yang perlu
mendapatkan perhatian, termasuk situasi penyakit menular yang dapat dicegah dengan
imunisasi (PD3I), penyakit potensial KLB/wabah, situasi penyakit tidak menular, dan situasi
penyalahgunaan NAPZA.

1. Penyakit Menular
Penyakit menular yang disajikan dalam bagian ini antara lain penyakit Malaria, TB
Paru, HIV/AIDS, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), Kusta, penyakit menular yang
dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), penyakit potensial wabah, Rabies, Filariasis,
Frambusia, dan Antraks.

a. Penyakit Malaria
Penyakit Malaria masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Perkembangan penyakit Malaria dipantau melalui Annual Parasite Incidence (API) untuk Jawa-Bali
dan Annual Malaria Incidence (AMI) untuk luar Jawa-Bali, yang dapat dilihat pada Gambar 3.4
berikut ini.
GAMBAR 3.4
ANNUAL PARASITE INCIDENCE MALARIA ()
DAN ANNUAL MALARIA INCIDENCE (), TAHUN 1989 2004
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
0
5
10
15
20
25
30
35
API
0.21 0.17 0.14 0.12 0.19 0.17 0.07 0.08 0.12 0.3 0.52 0.81 0.62 0.47 0.22 0.15
AMI
28.06 24.1 27 22.79 20.51 22.22 19.38 21.72 16.06 21.97 24.9 31.09 26.2 22.3 21.8 21.2
1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen PPM-P, Depkes RI

Gambar di atas menunjukkan bahwa peningkatan insidens Malaria terjadi dalam periode
1997 2000. Pada bulan April tahun 2000 mulai dilaksanakan Gerakan Berantas Kembali Malaria
(Gebrak Malaria). Pada tahun 2001 2004 angka kesakitan Malaria kembali menurun. Pada tahun
2001 angka kesakitan Malaria untuk pulau Jawa dan Bali sebesar 0,62 per 1.000 penduduk, pada
tahun 2002 menjadi 0,47, tahun 2003 menjadi 0,22 per 1.000 penduduk dan tahun 2004 menjadi
0,15 per 1.000 penduduk. Sedangkan untuk luar Jawa-Bali, angka kesakitan Malaria (termasuk
penderita klinis) pada tahun 2001 sebesar 26,20 per 1.000 penduduk menjadi 22,30 pada tahun
2002, 21,80 per 1.000 penduduk pada tahun 2003 dan menjadi 21,20 per 1.000 penduduk pada
tahun 2004.
Pada tahun 2004, terjadi KLB Malaria di 6 kabupaten yang berada di 5 provinsi dengan
1.959 kasus dan 33 kasus di antaranya meninggal. (sumber: Profil PPM-PL 2004)
Target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010, yaitu sebesar 5 per 1.000
penduduk. Untuk wilayah Jawa dan Bali dapat dikatakan target sudah tercapai. Sedangkan untuk
wilayah di luar Jawa dan Bali, diperkirakan masih belum mencapai target. Bahkan beberapa
23
wilayah di Indonesia, terutama di Kawasan Timur Indonesia masih merupakan daerah endemis
tinggi, antara lain Papua, Maluku, NTT, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah,
Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Untuk Kawasan Barat Indonesia
beberapa daerah endemis tinggi antara lain di Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung dan
Riau. Dibandingkan dengan tahun 2003 terjadi peningkatan endemisitas di wilayah Sumatera.
Jumlah kasus dan API/AMI penyakit Malaria menurut provinsi tahun 2004 dapat dilihat pada
Lampiran 3.4 dan Lampiran 3.5.

b. Penyakit TB Paru
Pada tahun 2003, TB Paru menjadi penyakit nomor dua terbanyak pada pasien rawat
jalan dan penyakit terbanyak nomor enam pada pasien rawat inap di RSU. Pada tahun 2004
TB Paru merupakan penyebab kematian terbanyak nomor 4 di rumah sakit di Indonesia.
Menurut Surkesnas 2001, TB Paru menempati urutan ke-3 penyebab kematian umum (9,4%).
Menurut Surkesnas/Susenas 2004, 55% penduduk usia >15 tahun yang pernah menjalani tes
dahak/rontgen paru melaporkan hasil tes positif, 19% tidak mengetahui hasil
pemeriksaannya. Berdasarkan hasil konfirmasi pemeriksaan dahak/rontgen paru diperkirakan
prevalensi TB Paru di Indonesia sekitar 240/100.000 penduduk umur >15 tahun.
Pelaksanaan penanggulangan penyakit TB Paru telah dapat menurunkan prevalensi
dari 130/100.000 penduduk pada tahun 2001 menjadi 122/100.000 penduduk pada tahun
2002 dan 115/100.000 penduduk pada tahun 2003.
Selain menyerang paru, Tuberkulosis dapat menyerang organ lain (extra pulmonary
TB). J umlah kasus TB yang terdeteksi pada tahun 2004 sebanyak 214.658 kasus terdiri dari
133.410 kasus dengan BTA(+) (128.981 kasus baru, 4.429 kasus kambuh), 68.848 kasus
BTA(-) dengan rontgen positif, dan 4.267 kasus ekstra pulmoner. Angka kesembuhan untuk
kasus baru BTA(+) pada tahun 2003 mencapai 86% (data tahun 2004 belum ada). Target
angka kesembuhan TB Paru BTA(+) yang ingin dicapai sebesar 85%.

c. Penyakit HIV/AIDS
Perkembangan penyakit HIV/AIDS terus menunjukkan peningkatan, meskipun
berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya
mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di
Indonesia, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman, dan meningkatnya
penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) melalui suntikan,
secara simultan telah memperbesar tingkat risiko penyebaran HIV/AIDS. Saat ini Indonesia
telah digolongkan sebagai negara dengan tingkat epidemi yang terkonsentrasi (concentrated
level epidemic), yaitu adanya prevalensi lebih dari 5% pada sub populasi tertentu misalnya
pada kelompok penjaja seks dan pada para penyalahguna NAPZA. Tingkat epidemi ini
menunjukkan tingkat perilaku berisiko yang cukup aktif menularkan di dalam suatu sub
populasi tertentu. Selanjutnya perjalanan epidemi akan ditentukan oleh jumlah dan sifat
hubungan antara kelompok berisiko tinggi dengan populasi umum.
J umlah penderita HIV/AIDS dapat digambarkan sebagai fenomena gunung es
(iceberg phenomena), yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil daripada
jumlah penderita yang sebenarnya. Hal ini berarti bahwa jumlah penderita HIV/AIDS di
Indonesia yang sebenarnya belum diketahui dengan pasti. J umlah kumulatif kasus HIV/AIDS
yang dilaporkan sampai dengan 31 Desember 2004 sebanyak 6.050 kasus terdiri dari 3.368
kasus infeksi HIV dan 2.682 kasus AIDS, 740 kasus di antaranya telah meninggal dunia.
24
Kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari Provinsi DKI J akarta disusul Papua, J awa
Timur dan Bali. Sesuai data penduduk hasil sensus tahun 2000 kumulatif kasus AIDS per
100.000 penduduk secara nasional sebesar 1,33. Rate tertinggi terjadi di Papua diikuti DKI
J akarta, Bali, Maluku dan Sulawesi Utara. Cara penularan AIDS yang terbesar pada tahun
2003 adalah melalui hubungan heteroseksual, namun hingga akhir tahun 2004 cara penularan
terbanyak yang dilaporkan adalah penularan pada penyalahguna NAPZA suntik (Intravenous
Drug User =IDU). Penularan yang terkait dengan IDU terjadi pada 44,1% kasus AIDS
disusul penularan melalui hubungan heteroseksual 43,7%, melalui hubungan homoseksual
5,5%, melalui perinatal 1,8%, melalui transfusi 0,1% dan 4,7% tidak diketahui cara
penularannya.
GAMBAR 3.5
PROPORSI PENDERITA AIDS SECARA KUMULATIF
MENURUT CARA PENULARAN S.D. TAHUN 2004
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI
43,7
5,5
4,7
1,8
44,1
0,1
IDU Heteroseks Homoseks Tak diketahui Perinatal Transfusi

Berikut ini gambaran mengenai perkembangan penderita HIV/AIDS sampai dengan
Desember 2004.

GAMBAR 3.6
JUMLAH KASUS BARU DAN KUMULATIF
PENGIDAP HIV YANG TERDETEKSI DARI
BERBAGAI SARANA KESEHATAN
TAHUN 2000 2004
0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
Tahun
J
u
m
l
a
h

k
a
s
u
s
Kasus baru
403 732 648 168 649
Kasus
kumulatif
1172 1904 2552 2720 3368
2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI
GAMBAR 3.7
JUMLAH KASUS BARU DAN KUMULATIF
PENDERITA AIDS YANG TERDETEKSI DARI
BERBAGAI SARANA KESEHATAN
TAHUN 2000 2004
0
500
1000
1500
Tahun
J
u
m
l
a
h

k
a
s
u
s
Kasus baru
74 47 178 219 345 355
Kasus kumulatif
227 274 452 671 1016 1371
1998 1999 2000 2001 2002 2003

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

25
Karakteristik penderita AIDS dapat digambarkan bahwa sebagian besar penderita
AIDS adalah laki-laki yaitu 2.193 penderita (81,77%), sedangkan pada perempuan sebanyak
443 penderita (16,52%), dan 46 penderita (1,71%) selebihnya tidak diketahui jenis
kelaminnya. Bila dilihat menurut kelompok umur, penderita berumur 20-29 tahun sebanyak
1.418 penderita (52,87%), kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 686 penderita (25,58%),
kelompok umur 40-49 tahun sebanyak 235 penderita (8,76%), kelompok umur 15-19 tahun
sebanyak 119 penderita (4,44%), kelompok umur >60 tahun sebanyak 85 penderita (3,17%),
kelompok umur 50-59 tahun sebanyak 56 penderita (2,09%), umur <1 tahun sebanyak 17
penderita (0,63%) kelompok umur 1-4 tahun sebanyak 14 penderita (0,52%), kelompok umur
5-14 tahun 5 penderita (0,19%) dan tidak diketahui kelompok umurnya sebanyak 47
penderita (1,75%), sebagaimana disajikan pada Gambar 3.8 berikut ini.

GAMBAR 3.8
PROPORSI PENDERITA AIDS SECARA KUMULATIF
MENURUT KELOMPOK UMUR S.D. TAHUN 2004

50-59 th
2%
1-4 th
1% Tak Diket.
5% <1 th
1%
15-19 th
5%
40-49 th
9%
30-39 th
20-29 th
54%


Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Gambar di atas menunjukkan bahwa secara kumulatif sebagian besar penderita AIDS
di Indonesia merupakan kelompok umur 20-49 tahun (87.21%). Seperti diketahui bahwa
penularan HIV/AIDS terbanyak adalah melalui hubungan seksual dan penggunaan jarum
suntik bersama pada IDU. Kelompok umur 20-49 tahun merupakan kelompok umur yang
aktif dalam aktivitas seksual. IDU juga didominasi oleh kelompok umur produktif. Dapat
diperkirakan hal ini saling terkait. Bila perkembangan kondisi ini terus terjadi, maka dalam
jangka panjang di samping akan menjadi beban anggaran keluarga dan pemerintah juga akan
menjadi ancaman bagi produktivitas tenaga kerja di Indonesia. J umlah kumulatif kasus AIDS
menurut provinsi sampai dengan 31 Desember 2004 dapat dilihat pada Lampiran 3.7.
Dari Gambar 3.9 berupa peta wilayah Indonesia berikut ini, dapat dilihat Case Rate
AIDS menurut provinsi tahun 2004.





26
GAMBAR 3.9
PROPORSI PENDERITA AIDS SECARA KUMULATIF
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004



d. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
Pola 10 penyakit terbanyak di rumah sakit umum, peringkat utama penyebab
kematian di rumah sakit maupun data survei (SDKI, Surkesnas) menunjukkan tingginya
kasus ISPA. Prevalensi ISPA dalam beberapa tahun menurut hasil SDKI dapat dilihat pada
Tabel 3.15 berikut ini.

TABEL 3.15
INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT
MENURUT KELOMPOK UMUR DENGAN PREVALENSI TERTINGGI
TAHUN 1991, 1994, 1997, DAN 2002-2003

Tahun Prevalensi
Kelompok Umur dengan
Prevalensi Tertinggi
1991 9,8% 12 - 23 bulan
1994 10% 6 - 35 bulan
1997 9% 6 - 11 bulan
2002-2003 8% 6 - 23 bulan
Sumber: Hasil SDKI tahun 1991, 1994, 1997, dan 2002-2003

ISPA juga masih merupakan penyakit utama penyebab kematian bayi dan balita di
Indonesia. Tabel berikut ini menyajikan proporsi penyebab kematian bayi dan balita yang
disebabkan oleh penyakit sistem pernafasan.

27


TABEL 3.16
PROPORSI DAN PERINGKAT ISPA/SISTEM PERNAFASAN SEBAGAI PENYEBAB KEMATIAN
BAYI DAN BALITA BERDASARKAN HASIL SKRT 1986, 1992, DAN 1995,
SERTA SURKESNAS 2001

Penyebab Kematian Bayi Penyebab Kematian Balita
Tahun SKRT/
Surkesnas
Penyakit Proporsi
Pering-
kat
Penyakit Proporsi
Pering-
kat
SKRT 1986 Penyakit Sistem pernafasan 12,4% 4 Sistem Pernafasan 22,88% 1
SKRT 1992 Penyakit Sistem Pernafasan 36,0% 1 Sistem Pernafasan 18,2% 1
SKRT 1995 Penyakit Sistem Pernafasan 29,5% 1 Gangguan sistem pernafasan 38,8% 1
Surkesnas 2001 Sistem Pernafasan 27,6% 2 Sistem Pernafasan Pneumonia 22,8% 1

Dari Tabel 3.16 di atas menurut hasil beberapa SKRT penyakit ISPA dan Sistem
Pernafasan merupakan penyebab utama kematian bayi dan balita. Diketahui bahwa 80%
90% dari seluruh kasus kematian ISPA disebabkan Pneumonia dan Pneumonia merupakan
penyebab kematian balita peringkat pertama pada Surkesnas 2001. ISPA sebagai penyebab
utama kematian pada bayi dan balita ini diduga karena penyakit ini merupakan penyakit yang
akut dan kualitas penatalaksanaannya belum memadai.
Sementara itu, pada tahun 2004 didapatkan 625.611 kasus Pneumonia pada balita,
meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Hasil penemuan penderita Pneumonia balita
dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 3.17 berikut ini.

TABEL 3.17
HASIL PENEMUAN PENDERITA PNEUMONIA BALITA
TAHUN 2000 2004

Tahun
Penderita
2000 479.283
2001 619.107
2002 549.035
2003 502.275
2004 625.611
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

e. Penyakit Kusta
Dalam kurun waktu 10 tahun (19912001), angka prevalensi penyakit Kusta secara
nasional telah turun dari 4,5 per 10.000 penduduk pada tahun 1991 menjadi 0,85 per 10.000
penduduk pada tahun 2001. Pada tahun 2002 prevalensi sedikit meningkat menjadi 0,95, pada
tahun 2003 kembali menurun menjadi 0,8 per 10.000 penduduk dan pada tahun 2004
28
meningkat lagi menjadi 0,93 per 10.000 penduduk. Secara nasional, Indonesia sudah dapat
mencapai eliminasi Kusta pada bulan J uni 2000.
J ika ditinjau dari situasi global, Indonesia merupakan negara penyumbang jumlah
penderita Kusta ketiga terbanyak setelah India dan Brazil. Masalah ini diperberat dengan
masih tingginya stigma di kalangan masyarakat dan sebagian petugas. Akibat dari kondisi ini
sebagian besar penderita dan mantan penderita Kusta dikucilkan sehingga tidak mendapatkan
akses pelayanan kesehatan serta pekerjaan yang berakibat pada meningkatnya angka
kemiskinan. Perkembangan penyakit Kusta yang diindikasikan dengan prevalensi dan
penemuan penderita baru menunjukkan adanya penurunan prevalensi Kusta yang sangat
tajam pada tahun 1991, di mana Multiple Drug Therapy (MDT) 24 dosis mulai digunakan.
J umlah penderita menurun dari 120.000 pada tahun 1990 menjadi 19.666 pada tahun 2004
(sedangkan berdasarkan hasil pengumpulan dan pengolahan Indikator Kinerja SPM pada
Lampiran 3.9, dilaporkan adanya 19,283 kasus Kusta). Maka dengan sendirinya angka
prevalensi menurun dari 5,9 menjadi 0,93 per 10.000 penduduk. Angka penemuan penderita
baru menunjukkan adanya peningkatan penemuan penderita baru tahun 1997, 1998, 1999,
yang kemungkinan disebabkan adanya intensifikasi penemuan penderita karena Leprosy
Elimination Campaign (LEC) yang dilaksanakan di 109 kabupaten endemik pada tahun
tersebut.
Meskipun Indonesia sudah mencapai eliminasi Kusta pada pertengahan tahun 2000,
sampai saat ini penyakit Kusta masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat. Hal
ini terbukti dari masih tingginya jumlah penderita Kusta di Indonesia. Pada tahun 2004
jumlah penderita baru yang ditemukan sebanyak 16.672 kasus dengan 12.957 kasus (78%) di
antaranya merupakan penderita tipe Multi Basiler (MB) yang diketahui merupakan tipe yang
menular.
Gambaran penderita Kusta dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dapat dilihat pada
Tabel 3.18 berikut.
TABEL 3.18
JUMLAH PENDERITA KUSTA MENURUT TIPE
DAN ANGKA PENEMUAN PENDERITA (CDR) PER 100.000 PENDUDUK
TAHUN 1999 2004

J umlah Penderita Kusta
Tahun
Tipe MB Tipe PB Semua Tipe
CDR /100.000
Penduduk
2000 11.267 3.430 14.697 7,22
2001 10.768 3.293 14.061 6,91
2002 12.376 3.853 16.229 7,77
2003 11.956 3.594 15.549 7,29
2004 12.957 3.715 16.672 -
CDR =Case Detection Rate, MB = Multi Basiler, PB = Pausi Basiler
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Di antara penderita baru yang ditemukan, 8,6% sudah mengalami kecacatan tingkat 2
(kecacatan yang dapat dilihat dengan mata). Angka ini masih di atas indikator program yaitu
5%. Sedangkan proporsi penderita anak di antara penemuan kasus baru Kusta adalah 10,6%,
juga masih di atas indikator program (5%). Keadaan ini menggambarkan masih berlanjutnya
penularan dan kurangnya kesadaran masyarakat akan penyakit Kusta sehingga ditemukan
29
sudah dalam keadaan cacat. Perkembangan proporsi kecacatan tingkat 2 dan perkembangan
proporsi anak pada penderita Kusta baru selama 5 tahun terakhir terlihat pada Gambar 3.10
dan Gambar 3.11 di bawah ini.

GAMBAR 3.10
PROPORSI KECACATAN TINGKAT 2
PADA PENDERITA BARU KUSTA TAHUN 2000 - 2004

8.4
8.9
7.7
8
8.6
7
7.5
8
8.5
9
2000 2001 2002 2003 2004
Tahun
%

C
a
c
a
t

d
e
r
a
j
a
t

I
I

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI



GAMBAR 3.11
PROPORSI PENDERITA ANAK PADA PENDERITA KUSTA BARU
TAHUN 2000-2004
10.2
10.05
8.9
10.6
10.7
0
2
4
6
8
10
12
2000 2001 2002 2003 2004
Tahun

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Sementara itu, dari peta berikut ini terlihat bahwa Indonesia masih banyak
menyimpan kantong-kantong Kusta yang kebanyakan berada di Kawasan Timur Indonesia.
30
Pada tahun 2004 ada 12 provinsi yang masih belum mencapai eliminasi Kusta, yaitu Provinsi
Nanggroe Aceh Darusalam, J awa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo,
Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, Maluku,
Maluku Utara, dan Papua.

GAMBAR 3.12
SITUASI KUSTA TAHUN 2004

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI


f. Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I)
PD3I (penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi) merupakan penyakit
yang diharapkan dapat diberantas/ditekan dengan pelaksanaan program imunisasi. PD3I yang
dibahas dalam bab ini mencakup penyakit Tetanus Neonatorum, Campak, Difteri, Pertusis,
dan Hepatitis B. Sedangkan untuk Polio akan diuraikan dalam Bab IV.

1) Tetanus Neonatorum
J umlah kasus Tetanus Neonatorum pada tahun 2003 sebanyak 175 kasus dengan
angka kematian (CFR) 56%. Angka ini sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal
ini diduga karena meningkatnya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan. Namun secara
keseluruhan CFR masih tetap tinggi. Penanganan Tetanus Neonatorum memang tidak mudah,
sehingga yang terpenting adalah usaha pencegahan yaitu pertolongan persalinan yang
higienis ditunjang dengan imunisasi TT pada ibu hamil.








31


GAMBAR 3.13
JUMLAH KASUS DAN CFR TETANUS NEONATORUM
DI INDONESIA TAHUN 2000 2003

0
50
100
150
200
250
300
J
u
m
l
a
h

k
a
s
u
s
/
k
e
m
a
t
i
a
0,00
20,00
40,00
60,00
80,00
C
F
R

(
%
Kasus
281 183 147 175
Meninggal
183 100 91 98
CFR (%)
48,04 54,64 61,90 56,00
2000 2001 2002 2003

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI


J umlah kasus Tetanus Neonatorum pada tahun 2003 terbanyak dijumpai di Provinsi
Banten (46 penderita), J awa Timur (38 penderita), dan Lampung (16 penderita).

2) Campak
Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa
(KLB). Sepanjang tahun 2004 frekuensi KLB Campak menempati urutan kedua, setelah
DBD. KLB Campak 2004 terjadi sebanyak 97 kali dengan jumlah kasus sebanyak 2.818 dan
44 kematian (CFR: 1,56%). Perkembangan frekuensi KLB Campak dalam 5 tahun terakhir
dapat dilihat pada Tabel 3.19 berikut.




TABEL 3.19
FREKUENSI, JUMLAH PENDERITA, DAN CFR KLB CAMPAK
TAHUN 1999 2004
Tahun
Frekuensi
KLB
J umlah
Penderita
CFR (%)
2000 101 1.259 0,3
2001 32 85 1,6
2002 247 5.509 1,45
2003 89 2.914 0,3
2004 97 2.818 1,56
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI


32
Sementara itu, jumlah kasus Campak menurut kelompok umur pada tahun 2004 dapat
dilihat pada Tabel 3.20 di bawah ini.
TABEL 3.20
JUMLAH KASUS DAN ANGKA INSIDEN CAMPAK PER 10.000 PENDUDUK
TAHUN 2004
Umur Kasus
<1 th 1.559
1-4 th 4.252
5-9 th 2.761
10-14 th 2.016
>15 th 1.774
Tidak diketahui 16.809
J umlah 29.171
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Data jumlah kasus baru Campak yang ditangani di puskesmas dan rumah sakit pada tahun
1997 2002 bersumber dari kegiatan sistem surveilans terpadu disajikan pada Tabel 3.21 berikut
ini.
TABEL 3.21
JUMLAH KASUS CAMPAK DI RUMAH SAKIT DAN PUSKESMAS
TAHUN 1997 2002
Penderita Dirawat di Rumah Sakit
Tahun
Rawat Inap Rawat J alan
Penderita Rawat J alan
di Puskesmas
1997 1.498 2.842 23.541
1998 4.958 6.601 41.465
1999 8.599 10.063 55.301
2000 2.735 5.995 39.059
2001 2.735 5.995 39.059
2002 581 4.951 14.591
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

J umlah kasus penyakit Campak menurut provinsi pada tahun 2004 disajikan pada
Lampiran 3.10. Didapatkan 29.171 kasus Campak, terbanyak di Provinsi J awa Barat diikuti
Banten dan DKI J akarta.

3) Difteri
Difteri termasuk penyakit menular yang jumlah kasusnya relatif rendah. Rendahnya
kasus Difteri sangat dipengaruhi adanya program imunisasi. Namun KLB Difteri masih
sering terjadi dan CFRnya tinggi. Pada tahun 2004 terjadi 34 kali KLB dengan jumlah kasus
sebanyak 106 dan CFR sebesar 9,4%. Frekuensi KLB, jumlah kasus dan CFR Difteri pada
tahun 2000-2004 disajikan pada Tabel 3.22 berikut ini.

33
TABEL 3.22
FREKUENSI KLB, JUMLAH KASUS DAN CFR DIFTERI
TAHUN 2000 2004

Tahun Frekuensi KLB Kasus CFR (%)
2000 34 38 26
2001 29 29 21
2002 43 60 13
2003 54 86 23
2004 34 106 9,4
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Berdasarkan laporan dari data rutin STP tahun 2003 jumlah kasus Difteri sebanyak
195 kasus dengan angka insiden tertinggi pada anak berumur kurang dari 1 tahun,
sebagaimana disajikan pada Tabel 3.23 berikut ini.

TABEL 3.23
KASUS DAN ANGKA INSIDEN DIFTERI PER 10.000 PENDUDUK
TAHUN 2003

Umur Kasus
Angka Insiden per 10.000
Penduduk
<1 Th 31 0.07
1-4 th 70 0.05
5-14 th 94 0.02
J umlah 195
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

J umlah kasus penyakit Difteri menurut provinsi pada tahun 2004 disajikan pada
Lampiran 3.11.

4) Pertusis/Batuk Rejan
Pada tahun 2004, jumlah kasus Pertusis yang dirawat jalan di rumah sakit sebanyak
355 kasus, yang dirawat inap di rumah sakit sebanyak 17 kasus dan yang dirawat di
puskesmas sebanyak 1.204 kasus. Terdapat 4 kasus meninggal, dengan angka insiden
tertinggi pada anak berumur kurang dari 1 tahun.

TABEL 3.24
KASUS PERTUSIS MENURUT UMUR TAHUN 2004

Umur Kasus
<1 Th 173
1-4 th 367
5-14 th 309
15-44 th 398
>45 th 329
J umlah 1.576
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI
34
Pada tahun 2004 terjadi 2 kali KLB Pertusis dengan jumlah kasus sebanyak 2.

TABEL 3.25
FREKUENSI, JUMLAH KASUS DAN CFR KLB PERTUSIS
TAHUN 2000 2004

Tahun Frekuensi Kasus CFR (%)
2000 2 5 0
2001 3 3 33.3
2002 4 4 0
2003 5 124 0
2004 2 2 0
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

J umlah kasus dan angka insiden penyakit Pertusis/Batuk Rejan menurut provinsi pada
tahun 2004 disajikan pada Lampiran 3.12.

5) Hepatitis
Pada tahun 2004, jumlah kasus Hepatitis klinis yang dirawat jalan di rumah sakit
sebanyak 1.412 kasus, yang dirawat inap di rumah sakit sebanyak 1.038 dan dirawat di
puskesmas 6.330 kasus dengan kematian pada 7 kasus.
Pada periode tahun 2000 2003 angka insiden ini berfluktuasi, namun pada tahun
2003 terjadi sedikit peningkatan.
GAMBAR 3.14
JUMLAH KASUS DAN ANGKA INSIDEN HEPATITIS PER 10.000 PENDUDUK
TAHUN 2000 2003
0
10,000
20,000
30,000
40,000
0.00
0.50
1.00
1.50
2.00
Jumlah kasus
17,539 26,754 13,123 29,597
Angka insiden
0.83 1.30 0.60 1.40
2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

J umlah kasus penyakit Hepatitis klinis menurut provinsi pada tahun 2004 disajikan
pada Lampiran 3.13.

g. Penyakit Potensial KLB/Wabah
Beberapa penyakit menular berpotensi menimbulkan KLB maupun wabah. Frekuensi
KLB tertinggi adalah Demam Berdarah Dengue, Campak, Tetanus Neonatorum, keracunan
makanan dan Diare. Sedangkan CFR tertinggi adalah Dengue Shock Sydrome (100%, yaitu 7
kematian dari 7 kasus), Leptospirosis (100%, yaitu 1 kematian dari 1 kasus) dan Tetanus
Neonatorum (53%, yaitu 39 kematian dari 73 kasus). Data penyakit yang menyebabkan KLB
di Indonesia pada tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 3.14.
35

1) Demam Berdarah Dengue
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menyebar luas ke seluruh wilayah
provinsi dengan jumlah kabupaten/kota terjangkit sampai dengan tahun 2004 sebanyak 326
kabupaten/kota. Penyakit ini sering muncul sebagai KLB dengan angka kesakitan dan
kematian yang relatif tinggi. Angka insiden DBD secara nasional berfluktuasi dari tahun ke
tahun. Pada awalnya pola epidemik terjadi setiap lima tahunan, namun dalam kurun waktu
lima belas tahun terakhir mengalami perubahan dengan periode antara 2 5 tahunan.
Sedangkan angka kematian cenderung menurun. Pada tahun 2004, jumlah penderita DBD
dilaporkan sebanyak 79.462 kasus dengan angka kematian (CFR) sebesar 1,2% dan angka
insiden sebesar 37,11 kasus per 100.000 penduduk. (sumber: Profil P2M-PL 2004)
Perkembangan angka insiden dan angka kematian karena DBD pada tahun 2000 2004 dapat
dilihat pada Gambar 3.15 di bawah ini.

GAMBAR 3.15
ANGKA INSIDEN (PER 100.000 PENDUDUK) DAN CFR (%)
PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE TAHUN 2000 2004

0,00
5,00
10,00
15,00
20,00
25,00
30,00
35,00
40,00
0,0
0,5
1,0
1,5
2,0
2,5
3,0
Angka insiden
10,17 15,99 19,24 23,87 37,11
CFR (%)
2,0 1,4 1,3 1,5 1,2
2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Provinsi dengan angka insiden DBD tertinggi pada tahun 2004 adalah di Provinsi DKI
J akarta (260,08 per 100.000 penduduk), Kalimantan Timur (91,37 per 100.000 penduduk),
dan DI Yogyakarta (66,89 per 100.000 penduduk). J umlah penderita, angka kematian, dan
angka insiden DBD menurut provinsi pada tahun 2000 2004 dapat dilihat pada Lampiran
3.5, sedangkan jumlah kabupaten/kota yang terjangkit penyakit DBD menurut provinsi tahun
2001 2004 dapat dilihat pada Lampiran 3.15.
Pada tahun 2004 terjadi KLB DBD di Indonesia. Pemerintah melalui Departemen
Kesehatan dalam press release tanggal 16 Februari 2004 menetapkan bahwa telah terjadi
KLB DBD dan pada tanggal 24 Februari 12 provinsi dikategorikan sebagai provinsi KLB
yaitu seluruh provinsi di pulau J awa, NAD, Bali, Kalsel, Sulsel, NTB dan NTT. Insidence
Rate tertinggi terjadi di DKI J akarta yaitu 60,29 per 100.000 penduduk dengan CFR 0,8%
disusul NTT (IR 12,47 per 100.000 penduduk, CFR 4,1%) dan DI Yogyakarta (IR 11,94 per
100.000 penduduk, CFR 3,8%). Beberapa daerah lainnya juga menunjukkan adanya
peningkatan kasus yaitu di Provinsi Riau, Sumsel, Sumbar, Lampung, Kaltim, Kalteng,
Kalbar, Sulut dan Papua. Puncak KLB terjadi pada bulan Maret dan pada bulan April kasus
36
di semua daerah cenderung sudah menurun dan berangsur-angsur kasus di daerah KLB
maupun non KLB kembali pada kondisi normal.


TABEL 3.26
KASUS DAN KEMATIAN PADA KLB DBD TAHUN 2004

Bulan
Insidence Rate per
100.000 penduduk
Case Fatality Rate
(%)
J anuari 5,4 2,0
Februari 11,4 1,2
Maret 27,3 1,1
April 1,4 0,6
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI


2). Penyakit Diare
Angka kesakitan Diare tahun 2000 (survei oleh Subdit Diare, Ditjen PPM-PL) adalah
301 per 1.000 penduduk dan episode pada balita 1,3 kali per tahun. Pada tahun 2003 angka
kesakitan Diare meningkat menjadi 374 per 1.000 penduduk dan episode pada balita 1,08 kali
per tahun. Angka kesakitan ini meningkat bila dibandingkan dengan hasil survei tahun 1996
yaitu 280 per 1.000 penduduk dan episode pada balita 1,08 kali per tahun. Cakupan penderita
Diare yang dilayani dan dilaporkan selama lima tahun terakhir cenderung menurun. Pada
tahun 2000 dilaporkan sebanyak 4.771.340 penderita, tahun 2001 sebanyak 2.873.414
penderita, tahun 2002 sebanyak 1.788.492 penderita, tahun 2003 sebanyak 1.950.745
penderita dan pada tahun 2004 hanya 596.050 penderita. Penurunan ini tidak dapat kita
sebutkan sebagai insiden Diare menurun, tetapi karena cakupan penerimaan laporan juga
menurun.
Menurut hasil SKRT dalam beberapa survei dan Surkesnas 2001, penyakit Diare
masih merupakan penyebab utama kematian bayi dan balita sebagaimana disajikan pada
Tabel 3.27 berikut.

TABEL 3.27
PROPORSI DAN PERINGKAT PENYAKIT DIARE SEBAGAI
PENYEBAB KEMATIAN BAYI DAN BALITA, TAHUN 1986, 1992, 1995, DAN 2001

Penyebab Kematian Bayi Penyebab Kematian Balita
Tahun Survei
Proporsi Peringkat Proporsi Peringkat
SKRT 1986 15,5% 3 - -
SKRT 1992 11% . 2 - -
SKRT 1995 13,9% 3 15,3 % 3
Surkesnas 2001 9,4 % 3 13,2 % 2
Sumber: SKRT dan Surkesnas

37
Pada tahun 2004, Diare merupakan penyakit dengan frekuensi KLB kelima terbanyak
setelah DBD, Campak, Tetanus Neonatorum dan keracunan makanan. Perkembangan KLB Diare
lima tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 3.28 di bawah ini.

TABEL 3.28
KLB DIARE MENURUT JUMLAH PROVINSI DENGAN KLB,
JUMLAH KASUS, MENINGGAL, DAN CFR TAHUN 2000 2004

Tahun
J umlah Provinsi
dengan KLB
J umlah Kasus Meninggal CFR (%)
2000 16 5.680 109 1,92
2001 12 4.428 100 2,26
2002 15 5.789 94 1,62
2003 22 4.622 128 2,77
2004* 17 1.315 53 1,60
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI
* Profil PPM-PL 2004

h. Penyakit Rabies
Pada tahun 2004, jumlah kabupaten/kota terjangkit Rabies sebanyak 123
kabupaten/kota. Kasus gigitan hewan tertular Rabies sebanyak 12.559 orang. J umlah
spesimen yang diperiksa sebanyak 1.378 dan yang positif 1.122 (81,42%).
Pada tahun 2004 terjadi 40 kali KLB Rabies dengan 132 kasus dan 13 kasus
meninggal (CFR 10%).
J umlah dan persentase kabupaten terjangkit dan jumlah kasus gigitan hewan tertular
Rabies serta hasil pemeriksaan spesimen hewan menurut provinsi tahun 2004 dapat dilihat
pada Lampiran 3.17.

i. Filariasis
Program eliminasi Filariasis dilaksanakan atas dasar kesepakatan global WHO tahun
2000 yaitu The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health
Problem The Year 2020.
J umlah kasus Filariasis kronis pada tahun 2004 sebanyak 8.243 orang yang tersebar di
231 kabupaten pada 30 provinsi. Terdapat 88 kab/kota yang berstatus endemis Filariasis,
tersebar di 22 provinsi. Sampai saat ini di Indonesia telah ditemukan 3 spesies cacing Filaria,
yaitu Wucherecia bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. J umlah penderita Filariasis
menurut provinsi pada tahun 2000 2004 dapat dilihat pada Lampiran 3.3.

j. Frambusia
Penyakit Frambusia sampai saaat ini belum dapat dieliminasi dari seluruh wilayah
Indonesia, meskipun secara nasional angka prevalensinya sudah kurang dari 1 per 10.000
penduduk. Prevalensi rate secara nasional pada tahun 2003/2004 adalah 0,26 per 10.000
penduduk. Daerah yang angka prevalensinya masih cukup tinggi, terutama di daerah-daerah
38
wilayah Indonesia bagian timur seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, dan
Papua. Tingginya angka prevalensi di daerah tersebut disebabkan karena penderita Frambusia
banyak tinggal di daerah pedalaman yang sulit mendapatkan pelayanan kesehatan serta
keadaan lingkungan yang kurang menguntungkan. Perkembangan angka prevalensi
Frambusia di Indonesia tahun 1984-2004 dapat dilihat pada Gambar 3.16 di bawah ini.

GAMBAR 3.16
PREVALENSI FRAMBUSIA DI INDONESIA TAHUN 1984-2004

19.3
22.1
13.3
8.2
6.6
9.5
2.2
7
3
1 1
0
0.8 0.8
2
4
0.1
0.24 0.150.26
0
5
10
15
20
25
8
4
/
8
5
8
5
/
8
6
8
6
/
8
7
8
7
/
8
8
8
8
/
8
9
8
9
/
9
0
9
0
/
9
1
9
1
/
9
2
9
2
/
9
3
9
3
/
9
4
9
4
/
9
5
9
5
/
9
6
9
6
/
9
7
9
7
/
9
8
9
8
/
9
9
9
9
/
0
0
0
0
/
0
1
0
1
/
0
2
0
2
/
0
3
0
3
/
0
4
Tahun
P
R
/
1
0
.
0
0
0

p
e
n
d
u
d
u
k
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI


k. Antraks
Penyakit Antraks pada manusia pada tahun 2004 dilaporkan dari 4 provinsi, yaitu
Provinsi J awa Barat, J awa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. J umlah
kasus Antraks pada manusia (tipe kulit dan pencernaan) selama tahun 2004 tercatat sebanyak
109 kasus dan 8 orang di antaranya meninggal dunia (CFR = 7,3%). Kasus kematian
dilaporkan dari Kabupaten Bogor 6 orang dan 2 orang dari Ende.

TABEL 3.29
JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN ANTRAKS 2000 2004

Tahun J umlah Kasus Meninggal CFR (%)
2000 34 0 0%
2001 25 2 8%
2002 35 8 22,9%
2003 40 2 5%
2004 109 8 7,3%
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI
39

2. Penyakit Tidak Menular
Semakin meningkatnya arus globalisasi di segala bidang, perkembangan teknologi
dan industri telah banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat,
serta situasi lingkungan misalnya perubahan pola konsumsi makanan, berkurangnya aktivitas
fisik dan meningkatnya polusi lingkungan. Perubahan tersebut tanpa disadari telah memberi
pengaruh terhadap terjadinya transisi epidemiologi dengan semakin meningkatnya kasus-
kasus penyakit tidak menular seperti Penyakit J antung, Tumor, Diabetes, Hipertensi, Gagal
Ginjal, dan sebagainya. Berdasarkan laporan rumah sakit tahun 2004, diperoleh gambaran
penyebab utama kematian di rumah sakit yang disebabkan penyakit tidak menular
sebagaimana terlihat pada Tabel 3.30 berikut ini.

TABEL 3.30
PROPORSI PENYAKIT TIDAK MENULAR
SEBAGAI PENYEBAB KEMATIAN TERBANYAK DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA
TAHUN 2004

No Golongan Sebab Sakit J umlah Kematian
% dari Seluruh
Kematian di RS
1 Strok tak menyebut pendarahan atau infark 4.215 3,8
2 Pendarahan intrakranial 2.868 2,6
3 Cedera intrakranial 2.554 2,3
4 Diabetes melitus 2.353 2,1
5 Gagal ginjal lainnya 2.317 2,1
6 Penyakit jantung lainnya 2.257 2,0
7 Pertumbuhan janin lamban, malnutrisi janin
dan gangguan yang berhubungan dengan
kehamilan pendek dan berat badan lahir
Sumber: Ditjen Yanmed, Depkes RI
rendah
2.257 2,0
8 Gagal jantung 1.552 1,4
9 Hipertensi esensial (primer) 1.510 1,4
10 Kecelakaan angkutan darat 1.430 1,3

a. Penyakit Jantung dan Sistem Sirkulasi
Penyakit sistem sirkulasi merupakan penyebab kematian umum nomor satu di
Indonesia berdasarkan SKRT 1992, SKRT 1995, dan Surkesnas 2001. Stroke tidak menyebut
perdarahan atau infark merupakan penyebab kematian nomor 2 di RSU di Indonesia tahun
2004 (Tabel 3.11). Stroke, Penyakit J antung dan Hipertensi menempati peringkat utama
proporsi penyakit tidak menular penyebab kematian di rumah sakit pada tahun 2004 (Tabel
3.30). Hipertensi juga merupakan penyakit terbanyak nomor 3 pada pasien rawat jalan di
rumah sakit di Indonesia tahun 2004 (Tabel 3.13).
Berdasarkan SKRT 2004 diperoleh data bahwa berdasarkan diagnosis tenaga
kesehatan, 2,2% penduduk berumur 15 tahun atau lebih pernah menderita penyakit jantung.
Hasil Susenas 2004 diperoleh data 1,3% penduduk Indonesia berumur 15 tahun atau lebih
pernah didiagnosa sakit jantung angina pectoris (nyeri/sesak di bagian dada yang dapat
menjalar ke tubuh bagian atas terutama ke lengan kiri yang merupakan gejala serangan
jantung).


40
TABEL 3.31
PERSENTASE PENDUDUK > 15 TAHUN YANG PERNAH DIDIAGNOSIS SAKIT JANTUNG
(ANGINA PECTORIS) OLEH TENAGA KESEHATAN

Kawasan Persentase
Sumatera 1,3
J awa-Bali 1,3
Kaw. Timur Indonesia 1,2
Indonesia 1,3
Sumber: Surkesnas/Susenas 2004

b. Sakit Persendian/Rematik
Sakit persendian/rematik adalah penyakit radang kronis yang menyerang persendian
dan mengganggu fungsi persendian. Hasil Surkesnas/Susenas 2004, di antara penduduk
Indonesia umur >15 tahun sebanyak 6% pernah didiagnosa sakit persendian oleh tenaga
kesehatan. Sedangkan hasil Surkesnas/SKRT 2004, berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan,
11% penduduk berumur 15 tahun atau lebih pernah menderita penyakit persendian.

TABEL 3.32
PERSENTASE PENDUDUK > 15 TAHUN YANG PERNAH DIDIAGNOSIS SAKIT PERSENDIAN
OLEH TENAGA KESEHATAN

Kawasan Persentase
Sumatera 6,1
J awa-Bali 6,3
Kaw. Timur Indonesia 5,0
Indonesia 6,0
Sumber: Surkesnas/Susenas 2004


c. Diabetes Melitus
Diabetes Melitus merupakan penyakit nomor 7 terbanyak pada pasien rawat jalan
rumah sakit tahun 2004 (Tabel 3.13) dan peringkat 4 penyakit tidak menular penyebab
kematian di rumah sakit tahun 2004 (Tabel 3.30). Berdasarkan Surkesnas/SKRT 2004,
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan, 1% penduduk berumur 15 tahun atau lebih pernah
menderita Diabetes.

d. Neoplasma/Tumor
Neoplasma/Tumor menunjukkan peningkatan peringkat pada pola penyakit penyebab
kematian umum di Indonesia. Pada SKRT 1992, Neoplasma menempati urutan ke-10, pada
SKRT 1995 menempati urutan ke-9, dan pada Surkesnas 2001 menduduki urutan ke-5.
Peringkat penyakit Neoplasma ganas di rumah sakit di Indonesia tahun 2004 dapat dilihat
pada dua tabel berikut ini:

41
TABEL 3. 33
10 PERINGKAT UTAMA PENYAKIT NEOPLASMA GANAS
PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2004

No Golongan Sebab Sakit J umlah Kunjungan %
1 Neoplasma ganas payudara 24.544 28,4
2 Neoplasma ganas leher rahim 11.254 13
3 Neoplasma ganas nasofaring 4.854 5,6
4 Neoplasma ganas kulit lainnya 4.534 5,1
5 Limfoma non Hodgskin 4.516 5,2
6 Leukemia 3.644 4,2
7 Neoplasma ganas daerah rektosigmoid, rektum
dan anus 3.280 3,8
8 Neoplasma ganas kolon 3.217 3,7
9 Neoplasma ganas Bronkus & Paru - paru 2.757 3,2
10 Neoplasma ganas Ovarium 2.650 3,1

TABEL 3.34
10 PERINGKAT UTAMA PENYAKIT NEOPLASMA GANAS
PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA
TAHUN 2004

No Golongan Sebab Sakit J umlah Pasien Keluar %
1
Neoplasma ganas payudara
5.196 15,1
2
Neoplasma ganas leher rahim
3.818 11
3
Neoplasma ganas hati dan saluran empedu intrahepatik
3.574 10,3
4
Leukemia
2.648 7,6
5
Limfoma non Hodgskin
2.390 6,9
6
Neoplasma ganas bronkus dan paru
2.124 6,1
7
Neoplasma ganas ovarium (indung telur)
1.680 4,8
8
Neoplasma ganas kolon
1.382 3,9
9
Neoplasma ganas daerah rektosigmoid, rektum dan anus
1.354 3,9
10
Neoplasma ganas nasofaring
1.037 3

e. Cedera dan Kecelakaan Lalu Lintas
Pada tabel proporsi penyakit tidak menular sebagai penyebab kematian terbanyak di
rumah sakit (Tabel 3.11) maupun pola 10 penyakit terbanyak pasien rawat jalan/inap rumah
sakit (Tabel 3.13 dan 3.14), cedera/perdarahan intrakranial dan cedera badan multiple
menempati peringkat 10 terbanyak. Cedera intrakranial juga menempati peringkat 8 dari
penyakit utama penyebab kematian di rumah sakit tahun 2004 (Tabel 3.11). Sedangkan
kecelakaan angkutan darat merupakan 1,3% dari penyebab kematian di rumah sakit atau
peringkat 10 penyakit tidak menular sebagai penyebab kematian terbanyak di rumah sakit
(Tabel 3.30).
Kecelakaan Lalu Lintas (KLL) dapat menyebabkan luka ringan, luka berat maupun
kematian. Selama tahun 2004, tercatat 17.732 kasus KLL dengan korban sebanyak 32.271
orang, terdiri dari korban meninggal sebanyak 11.204 orang (34,72%), luka berat 8.983 orang
42
(27,84%), dan luka ringan 12.084 orang (37,45%). Kejadian KLL terbanyak terjadi di
wilayah DKI J akarta disusul Provinsi J awa Timur dan J awa Barat. Sedangkan persentase
korban meninggal terbesar di Provinsi Kalimantan Selatan, Bangka Belitung dan Sumatera
Barat. Data kejadian KLL menurut provinsi tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 3.19.
Berdasarkan Surkesnas/Susenas 2004, prevalensi cedera karena KLL di Indonesia
pada penduduk berumur >15 tahun adalah 1,02%, tertinggi di DI Yogyakarta (3,04%) dan
terendah di Maluku Utara (0,28%). Prevalensi cedera karena KLL di perkotaan 1,3%
sedangkan di perdesaan 0,8%. Sedangkan prevalensi cedera bukan karena KLL (jatuh,
terbakar, keracunan, tenggelam, kekerasan, dan lain-lain) pada penduduk berumur >15 tahun
adalah 0,4%.
Berdasarkan Surkesnas/SKRT 2004, prevalensi penduduk berumur >15 tahun yang
mengalami KLL 1 tahun terakhir adalah 2,9% dengan prevalensi tertinggi pada kelompok
umur 15-24 tahun. Sedangkan prevalensi penduduk berumur >15 tahun yang mengalami
cedera bukan karena KLL adalah 2,8% dengan prevalensi tertinggi pada kelompok umur 65
tahun ke atas.

f. Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut
Berdasarkan Surkesnas/SKRT 2004, 38,5% penduduk > 15 tahun mempunyai
masalah kesehatan gigi dan mulut, dan persentase penduduk >15 tahun yang kehilangan
seluruh gigi adalah 6,5%.

TABEL 3.35
PERSENTASE PENDUDUK > 15 TAHUN YANG MEMPUNYAI MASALAH KESEHATAN GIGI
DAN MULUT, KEHILANGAN SELURUH GIGI
Persentase Penduduk > 15 yang
Kelompok Umur
Mempunyai masalah
kesehatan gilut
Kehilangan seluruh
gigi
15-24 33,9 1,0
25-34 38,9 1,4
35-44 39,3 1,7
45-54 43,4 7,3
55-64 39,3 18,2
>65 34,9 29,6
Indonesia 38,5 6,5
Sumber: Surkesnas/Susenas 2004

3. Penyalahgunaan NAPZA/Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya)
Ditinjau dari jenisnya, ketergantungan NAPZA merupakan penyakit mental dan
perilaku, yang dapat berdampak pada kondisi kejiwaan yang bersangkutan dan masalah
lingkungan sosial. Walaupun tidak ada data yang pasti mengenai jumlah kasus penyalahguna
NAPZA, namun diperkirakan dalam beberapa tahun terakhir ini jumlah kasus penyalahguna
NAPZA cenderung semakin meningkat, bahkan jumlah yang sebenarnya ada di masyarakat
diperkirakan jauh lebih besar daripada kasus yang dilaporkan, seperti fenomena gunung es.
Menurut laporan Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) J akarta, dalam tujuh
tahun terakhir ini (1997 2004), jumlah kunjungan pasien penyalahguna NAPZA baik rawat
jalan maupun rawat inap di RSKO, menunjukkan angka yang berfluktuasi. Pada tahun 1997
untuk unit rawat jalan RSKO tercatat 3.652 kunjungan, tahun 1998 naik menjadi 5.008
43
kunjungan, tahun 1999 meningkat mencapai 8.823 kunjungan, tahun 2000 ada 4.667
kunjungan, tahun 2001 mencapai 5.683 kunjungan dan tahun 2002 jumlah kunjungan
menurun menjadi 4.160. Tahun 2003-2004 jumlah kunjungan rawat jalan RSKO meningkat
lagi menjadi 4.420 kunjungan dan 4.515 kunjungan. J umlah kunjungan pasien NAPZA ke
RSKO dalam kurun waktu 1997 2004 dapat dilihat dalam Gambar 3.17 dan Tabel 3.36 di
bawah ini. Perlu diketahui bahwa jumlah kunjungan RSKO baik rawat jalan maupun rawat
inap tidak menggambarkan jumlah penyalahguna sesungguhnya, dimana seorang pasien
NAPZA dapat berkunjung ke RSKO lebih dari satu kali.
GAMBAR 3.17
JUMLAH KUNJUNGAN PASIEN RSKO (RAWAT JALAN + RAWAT
INAP)
TAHUN 1997 - 2004
0
5,000
10,000
Kunjungan Pasien Rawat J alan
3,652 5,008 8,823 4,667 5,683 4,160 4,420 4,515
Kunjungan Pasien Rawat Inap
655 733 891 753 712 534 506 379
1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Data rinci mengenai jumlah pasien rawat jalan dan rawat inap di RSKO tahun 1997-
2004 disajikan pada Tabel 3.36.


TABEL 3.36
JUMLAH KUNJUNGAN PASIEN RAWAT JALAN DAN RAWAT INAP DI RSKO JAKARTA
TAHUN 1997 2004
1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
Rawat J alan 3.652 5.008 8.823 4.667 5.683 4.160 4.420 4.515
Rawat Inap 655 733 891 753 712 534 506 379
Sumber: RSKO J akarta, 2005


Selanjutnya, dari pengumpulan data SIP2NAPZA Pusdatin Depkes, jumlah
penyalahguna NAPZA di institusi yang menangani NAPZA pada tahun 2001 adalah 5.321
orang (dari 10 institusi) dan pada tahun 2002 adalah 3.860 orang dari 28 institusi (RS, RSU,
RSJ , Puskesmas, Panti Rehabilitasi, Lapas dan Ponpes) serta 881 orang dari 2 LSM. J umlah
penyalahguna tahun 2003 adalah 3.583 orang dari 42 institusi dan 727 orang dari 2 LSM.
Kemudian tahun 2004 jumlah penyalahguna NAPZA yang tercatat di 70 institusi 6.218 orang
dan 484 orang di 1 LSM.
Data jumlah penyalahguna NAPZA dari SIP2NAPZA tahun 2001 2004 disajikan
pada Tabel 3.37.

44
TABEL 3.37
JUMLAH PENYALAHGUNA NAPZA
TAHUN 2001 2004
J umlah Penyalahguna NAPZA
Tahun
Institusi LSM Keterangan
2001 5.321 10 institusi
2002 3.860 881 28 inst.+2 LSM
2003 3.583 727 42 inst.+2 LSM
2004 6.218 484 70 inst.+1 LSM

Bila dilihat pola penyalahgunaan NAPZA menurut jenis kelamin dan jenis NAPZA
yang digunakan (Tabel 3.38), dari 2.530 penyalahguna NAPZA berjenis kelamin laki-laki
pada tahun 2003 hampir separuhnya (40,6%) menggunakan opiat/heroin/putau, kemudian
24,6% menggunakan ganja/cannabis, 6,9% menggunakan amphetamin/sabu-sabu/ecstasy,
6,8% menggunakan alkohol, dan selebihnya menggunakan sedative/hipnotika, inhalasi,
multipel/campuran, dan lain-lain. Demikian juga dari 210 penyalahguna NAPZA berjenis
kelamin perempuan pada tahun yang sama hampir separuhnya (45,2%) juga menggunakan
opiat/heroin/putau, namun proporsi penyalahguna NAPZA perempuan terbesar kedua adalah
pengguna amphetamin/sabu-sabu/ecstasy (13,8%), kemudian 5,2% ganja/cannabis, dan
selebihnya menggunakan sedative/hipnotika, inhalasi, alkohol, multipel/campuran, dan lain-
lain.
Tahun 2004, dari 3.686 penyalahguna NAPZA berjenis kelamin laki-laki, 29,1 %
menggunakan opiat/heroin/putau, kemudian 20,3% menggunakan ganja/cannabis, 12,2%
menggunakan amphetamin/sabu-sabu/ecstasy dan 13,9% menggunakan multipel/campuran.
Kemudian dari 323 penyalahguna perempuan 45,2% merupakan pengguna amphetamin/sabu-
sabu/ecstasy, 17% menggunakan opiat/heroin/putau dan 10,5% menggunakan
multipel/campuran.
Selanjutnya pada Tabel 3.39 juga dapat dilihat lebih dalam pola pengguna NAPZA
dari masing jenis zat NAPZA yang digunakan menurut proporsi laki-laki dan perempuan.
Tahun 2003, sebagian besar penyalahguna NAPZA adalah laki-laki (92,3%) dan hanya
sebagian kecil adalah perempuan (7,7%). Namun bila dilihat menurut masing-masing jenis
zat NAPZA yang digunakan, proporsi pengguna NAPZA perempuan untuk beberapa jenis zat
NAPZA cukup besar, di antaranya proporsi pengguna NAPZA perempuan untuk jenis zat
inhalasi sebesar 50% atau seimbang/sama antara laki-laki dan perempuan, kemudian
penggunaan zat amphetamin/shabu-shabu/ecstasy (14,2%) dan jenis zat NAPZA lainnya
(35,1%).
45
Tahun 2004, perbandingan yang cukup besar menurut jenis kelamin adalah
penggunaan amphetamin/sabu-sabu/ecstasy yang proporsinya antara penyalahguna laki-laki
dan penyalahguna perempuan adalah 3:1 (75,5% penyalahguna laki-laki dan 24,5%
penyalahguna perempuan). (Gambar 3.18)
0% 25% 50% 75% 100%
Opiat/Heroin/Putau
Ganja/Cannabis
Amphet/Sabu/Ecstasy
Sedative/Hipnotika
Campuran/Multiple
GAMBAR 3.18
PROPORSI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM PENYALAHGUNAAN NAPZA
TAHUN 2004
Perempuan
4.88 1.32 24.5 2.34 6.24
Laki-laki
95.12 98.68 75.5 97.66 93.76
Opiat/Heroin/Putau Ganja/Cannabis Amphet/Sabu/Ecstasy Sedative/Hipnotika Campuran/Multiple

TABEL 3.38
PENYALAHGUNA NAPZA MENURUT JENIS KELAMIN DAN JENIS NAPZA YANG DIGUNAKAN
TAHUN 2003 - 2004

J umlah Penyalahguna NAPZA
di 42 institusi (tanpa RSKO dan YPI)
J umlah Penyalahguna NAPZA
di 69 institusi (tanpa RSKO dan KI Atmajaya)
2003 2004
Laki-laki Perempuan
Laki-laki+
Perempuan
Laki-laki Perempuan
Laki-laki+
Perempuan
Zat
J ml % J ml % J ml % J ml % J ml % J ml %
Opiat/Heroin/Putau 1.028 40,6 95 45,2 1.123 41,0
1.073 29.1 55 17.0 1.128 28.1
Ganja/Cannabis 622 24,6 11 5,2 633 23,1
747 20.3 10 3.1 757 18.9
Amphetamin/
Sabu- sabu/Ecstasy 175 6,9 29 13,8 204 7,4 450 12.2 146 45.2 596 14.9
Sedative/Hipnotika 84 3,3 2 1,0 86 3,1
167 4.5 4 1.2 171 4.3
Inhalasia 2 0,1 2 1,0 4 0,1
4 0.1 0 0.0 4 0.1
Alkohol 171 6,8 2 1,0 173 6,3
179 4.9 6 1.9 185 4.6
Kokain 0 0,0 0 0,0 0 0,0
1 0.0 1 0.3 2 0.0
Multipel/Campuran 398 15,7 42 20,0 440 16,1
511 13.9 34 10.5 545 13.6
Lain-lain 50 2,0 27 12,9 77 2,8
554 15.0 67 20.7 621 15.5
J umlah 2.530 100 210 100 2.740 100
3.686 100 323 100 4.009 100
Catatan: Data RSKO, YPI dan Kios Informasi Atmajaya merupakan data rekapitulasi dan tidak memisahkan laki-laki dan
perempuan pada setiap jenis NAPZA

46


TABEL 3.39
PENYALAHGUNA NAPZA MENURUT PROPORSI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
DAN JENIS NAPZA YANG DIGUNAKAN
TAHUN 2003 - 2004

J umlah Penyalahguna NAPZA
di 42 institusi (tanpa RSKO dan YPI)
J umlah Penyalahguna NAPZA
di 69 institusi (tanpa RSKO dan KI Atmajaya)
2003 2004
Laki-laki Perempuan
Laki-laki+
Perempuan
Laki-laki Perempuan
Laki-laki+
Perempuan
Zat
J ml % J ml % J ml % J ml % J ml % J ml %
Opiat/Heroin/Putau 1.028 91,5 95 8,5 1.123 100 1.073 95.12 55 4.88 1.128 100
Ganja/Cannabis 622 98,3 11 1,7 633 100 747 98.68 10 1.32 757 100
Amphetaminn/
Sabu- sabu/Ecstasy 175 85,8 29 14,2 204 100 450 75.5 146 24.5 596 100
Sedative/Hipnotika 84 97,7 2 2,3 86 100 167 97.66 4 2.34 171 100
Inhalasia 2 50,0 2 50,0 4 100 4 100 0 0 4 100
Alkohol 171 98,8 2 1,2 173 100 179 96.76 6 3.24 185 100
Kokain 0 0,0 0 0,0 0 0 1 50.00 1 50.00 2 100
Multipel/Campuran 398 90,5 42 9,5 440 100 511 93.76 34 6.24 545 100
Lain-lain 50 64,9 27 35,1 77 100 554 89.21 67 10.79 621 100
J umlah 2.530 92,3 210 7,7 2.740 100 3.686 91.94 323 8.06 4.009 100
Catatan : Data RSKO, YPI dan Kios Informasi Atmajaya merupakan data rekapitulasi dan tidak memisahkan laki laki dan perempuan
pada setiap jenis NAPZA

Faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA sangat kompleks yang diakibatkan
interaksi antara faktor-faktor yang terkait dengan individu, lingkungan dan tersedianya zat
(NAPZA). Tidak ada penyebab tunggal (single cause) yang mempengaruhi terjadinya
penyalahgunaan NAPZA.
Gambaran penyalahguna NAPZA tahun 2004 dari 71 institusi yang berhasil
dikumpulkan selama tahun 2005 dapat dilihat dalam lampiran 3.20, lampiran 3.21, lampiran
3.22, dan lampiran 3.23. Gambaran penyalahguna NAPZA tersebut meliputi umur, jenis
kelamin, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan dan status penggunaan.








47
C. STATUS GIZI

Status gizi masyarakat dapat diukur melalui indikator-indikator, antara lain bayi
dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), status gizi balita, status gizi wanita usia subur
Kurang Energi Kronis (KEK), dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY),
sebagaimana diuraikan berikut ini.

1. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Angka BBLR secara nasional belum tersedia, walaupun demikian proporsi BBLR
dapat diketahui berdasarkan hasil estimasi dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI). Tabel di bawah ini menunjukkan bahwa proporsi BBLR pada periode tahun 1992-
1997 dan 2002-2003.

TABEL 3.40
PROPORSI BAYI DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH
TAHUN 1992-1997 DAN 2002-2003
1992-1997 2002-2003
Nasional 7,7 7,6
Perkotaan 6,6
Perdesaan 8,4
Provinsi 3,6 - 15,6
Sumber: SDKI

Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor
utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2
kategori yaitu: BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR
karena intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat
badannya kurang. Di negara berkembang banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus
gizi buruk, Anemia, Malaria, dan menderita Penyakit Menular Seksual (PMS) sebelum
konsepsi atau pada saat hamil.
Sementara itu data BBLR di rumah sakit pada tahun 2002 memberikan gambaran
bahwa persentase bayi lahir hidup dengan BBLR di rumah sakit rata-rata secara nasional
sebesar 13% dengan kisaran antara 8,53% di Provinsi J ambi dan 27,51% di Sulawesi
Tenggara.

2. Gizi Balita
Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat
kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah dengan
anthropometri yang menggunakan indeks Berat Badan Umur (BB/U). Kategori yang
digunakan adalah: gizi lebih (z-score >+2 SD); gizi baik (z-score 2 SD sampai +2 SD); gizi
kurang (z-score <-2 SD sampai 3 SD); gizi buruk (z-score <-3SD).
Dari hasil Susenas dan SKRT yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir,
diperoleh gambaran perkembangan status gizi balita seperti terlihat pada Gambar 3.19
berikut.


48
GAMBAR 3.19
PERSENTASE BALITA GIZI BURUK, GIZI KURANG, GIZI BAIK
DAN GIZI LEBIH, TAHUN 1998 2003
0
20
40
60
80
100
p
e
r
s
e
n
Gizi lebih
3,15 4,58 3,25 2,7 2,3 2,24
Gizi baik
67,33 69,06 72,09 71,1 71,88 69,59
Gizi kurang
19 18,25 17,13 19,8 18,35 19,62
Gizi buruk
10,51 8,11 7,53 6,3 7,47 8,55
1998 1999 2000 2001 2002 2003

Sumber: Susenas/Survei Garam Yodium Rumah Tangga dan SKRT

Dari laporan hasil Survei Konsumsi Garam Yodium Rumah Tangga tahun 2002 dan
2003 diketahui bahwa persentase balita yang bergizi baik/normal sebesar 71,88% pada tahun
2002 dan 69,59% pada tahun 2003. Balita yang bergizi kurang/buruk atau dikenal dengan
istilah Kurang Kalori Protein (KKP) sebesar 25,82% pada tahun 2002 dan 28,17% pada tahun
2003, dan selebihnya yaitu balita yang bergizi lebih sebesar 2,30% pada tahun 2002 dan
2,24% pada tahun 2003.
Dari SKRT tahun 2004, persentase balita yang bergizi baik/normal sebesar 74,8%.
Balita yang bergizi kurang/buruk atau KKP sebesar 22%. Persentase balita menurut status
gizi dan jenis kelamin pada tahun 2002 - 2004 disajikan pada Tabel 3.41 berikut ini.

TABEL 3.41
PERSENTASE BALITA MENURUT STATUS GIZI DAN JENIS KELAMIN
TAHUN 2002 - 2004

2002 2003 2004
Laki-
laki
Perempuan
Laki-laki +
Perempuan
Laki-
laki
Perempuan
Laki-laki +
Perempuan
Laki-
laki
Perempuan
Laki-laki +
Perempuan
BPS, 2002-2003 SKRT 2004
Lebih 2,04 2,58 2,3 2,03 2,47 2,24 3.5 2.8 3.2
Normal 70,46 73,37 71,88 67,89 71,41 69,59 74.5 75.2 74.8
Kurang 19,46 17,18 18,35 20,73 18,43 19,62 18.9 18.5 18.8
Buruk 8,03 6,88 7,47 9,35 7,69 8,55 3.0 3.4 3.2
Sumber: BPS, Survei Garam Konsumsi Yodium Rumah Tangga, 2002-2003 dan SKRT 2004

Dari tabel di atas dapat diketahui persentase balita perempuan yang bergizi baik relatif
lebih tinggi daripada balita laki-laki.
Sementara itu, untuk persentase balita dengan status gizi buruk menurut provinsi
dapat dilihat pada Gambar 3.20 berikut ini, sedangkan data selengkapnya dapat dilihat pada
Lampiran 3.25.




49
GAMBAR 3.20
PERSENTASE BALITA STATUS GIZI BURUK
MENURUT PROVINSI, TAHUN 2003
Gorontalo
Papua
Kalimantan Barat
Sumatera Utara
Nusa Tenggara Timur
Riau
Nusa Tenggara Barat
Sumatera Selatan
Sulawesi Selatan
Sulawesi Utara
Kalimantan Selatan
Sulawesi Tengah
Kalimantan Tengah
Kepulauan Bangka Belitung
Maluku Utara
Kalimantan Timur
Maluku
Banten
Lampung
Bengkulu
Sumatera Barat
DKI J akarta
J awa Tengah
J awa Timur
Sulawesi Tenggara
J awa Barat
DI Yogyakarta
Bali
J ambi
0 5 10 15 20 25
Indonesia (8,55%)


Persentase balita dengan status gizi buruk menurut provinsi dalam bentuk peta
wilayah Indonesia dapat dilihat pada Gambar 3.21 berikut ini.


GAMBAR 3.21
PERSENTASE BALITA STATUS GIZI BURUK
MENURUT PROVINSI, TAHUN 2003





















50
Persentase balita dengan status gizi buruk dan kurang menurut provinsi dalam bentuk
peta wilayah Indonesia dapat dilihat pada Gambar 3.22 di bawah ini.

GAMBAR 3.22
PERSENTASE BALITA STATUS GIZI BURUK DAN KURANG
MENURUT PROVINSI, TAHUN 2003
















3. Status Gizi Wanita Usia Subur Kurang Energi Kronik (KEK)
Salah satu cara untuk mengetahui status gizi Wanita Usia Subur (WUS) umur 15-49
tahun adalah dengan melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Hasil pengukuran
ini bisa digunakan sebagai salah satu cara dalam mengidentifikasi seberapa besar seorang
wanita mempunyai risiko untuk melahirkan bayi BBLR. Indikator Kurang Energi Kronik
(KEK) menggunakan standar LILA <23,5cm. Dari hasil survei BPS tahun 2000-2003
diperoleh gambaran risiko KEK yang diukur berdasarkan LILA menurut kelompok umur,
seperti terlihat dalam Gambar 3.23 berikut.

GAMBAR 3.23
PERSENTASE WANITA USIA SUBUR DENGAN
LILA <23,5 CM (BERISIKO KEK), TAHUN 2000 2003
0
10
20
30
40
50
p
e
r
s
e
n
2000 38.04 26.59 19.01 15.11 14.04 13.16 13.16
2001 40.85 27.53 19.12 14.59 12.9 13.18 13.18
2002 35.7 23.7 18.7 18 10.4 11 11
2003 35.1 21.43 13.82 10.17 8.6 9.62 10.1
2004
15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49

Sumber: BPS, Survei Konsumsi Garam Yodium Rumah Tangga
51

Persentase WUS yang berstatus gizi baik dalam 4 tahun (2001-2004) mengalami
peningkatan. Persentase WUS yang berstatus gizi baik lebih tinggi di perkotaan daripada
WUS di perdesaan. Persentase WUS berstatus gizi baik menurut daerah tempat tinggal pada
tahun 2001 2004 dapat dilihat pada Gambar 3.24 di bawah ini.

GAMBAR 3.24
PERSENTASE WUS BERSTATUS GIZI BAIK
MENURUT DAERAH TEMPAT TINGGAL 2001 2004
70
75
80
85
90
p
e
r
s
e
n
Perkotaan
80.61 83.57 84.28 82.1
Perdesaan
76.64 81.39 82.35 78.7
Perkotaan+Perdesaan
78.47 82.42 83.3 80.3
2001 2002 2003 2004*

Sumber: BPS, Survei Konsumsi Garam Yodium Rumah Tangga 2001-2003, dan
SKRT 2004

Hasil Survei GAKY 2003 menunjukkan sebesar 16,7% WUS mempunyai risiko KEK,
sedangkan SKRT 2004 menunjukkan sebesar 19,7% mempunyai risiko KEK. Di perkotaan
persentase WUS yang mempunyai risiko KEK lebih rendah dibandingkan di perdesaan yaitu
masing-masing 15,72% dan 17,65%. Persentase WUS yang mempunyai risiko KEK terbesar
di Provinsi Nusa Tenggara Timur (29,63%) dan yang terendah di Provinsi Kalimantan
Tengah (7,56%). Persentase WUS yang mempunyai risiko KEK menurut provinsi dapat
diuraikan dalam Gambar 3.25 berikut.
GAMBAR 3.25
PERSENTASE WANITA USIA SUBUR (WUS) YANG MEMPUNYAI RISIKO KEK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2003

29.63
24.88
24.04
22.38
20.21
20.1
19.58
18.36
17.5
16.85
16.61
16.09
15.67
15.61
15.44
14.95
14.7
14.43
14.3
13.97
13.91
13.12
12.42
12.41
11.98
10.97
10.01
8.04
7.56
Nusa Tenggara Timur
Maluku
Nusa Tenggara Barat
DI Yogyakarta
J awa Tengah
Papua
J awa Timur
Banten
Sumatera Selatan
Sulawesi Selatan
Bangka Belitung
Maluku Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Kalimantan Barat
Kalimantan Selatan
Lampung
J awa Barat
Bengkulu
DKI J akarta
J ambi
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Bali
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Kalimantan Tengah
0 5 10 15 20 25 30 35

Sumber: BPS, Survei Konsumsi Garam Yodium Rumah Tangga
52

4. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium
Salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian adalah masalah Gangguan
Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). GAKY dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan
fisik dan keterbelakangan mental. Gangguan pertumbuhan fisik meliputi pembesaran kelenjar
tiroid (gondok), kretin (badan kerdil), gangguan motorik (kesulitan berdiri atau berjalan
normal), bisu, tuli, dan mata juling. Sedangkan keterbelakangan mental termasuk
berkurangnya tingkat kecerdasan anak.
Angka prevalensi gondok atau Total Goiter Rate (TGR) dihitung berdasarkan seluruh
stadium pembesaran kelenjar, baik yang teraba (pallable) maupun yang terlihat (visible).
Pada tahun 1980, TGR didapatkan dari survei GAKY sebesar 37,2%. Prevalensi ini menurun
menjadi 27,7% pada tahun 1990 dan turun drastis menjadi 9,8% pada tahun 1998. Walaupun
terjadi penurunan yang cukup berarti, GAKY masih dianggap masalah kesehatan masyarakat,
karena secara umum prevalensinya masih di atas 5%.
Dalam dekade terakhir, ada 3 (tiga) survei: 1993,1996/1998 dan 2003. Tahun1993,
survei dilakukan di 5 provinsi yang dikenal sebagai endemik gondok tinggi. Tahun
1996/1998, survei nasional kedua GAKY dilakukan di 27 provinsi, TGR anak sekolah tingkat
nasional 9,8 %. Tahun 2003, survei evaluasi di seluruh kabupaten/kota kecuali Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam dan Papua.
WHO/UNICEF/ICCID mengkategorikan endemisitas daerah dalam 4 (empat)
kategori menurut besar TGR. TGR digunakan untuk menilai status GAKY masyarakat
sekaligus untuk evaluasi dampak program terhadap perbaikan status GAKY. Dalam survei
data dasar 1996/1998 TGR diperoleh dari hasil palpasi anak sekolah umur 6-12 tahun,
sedangkan survei evaluasi 2003, TGR diperoleh dari hasil palpasi anak sekolah umur 8-10
tahun. Hasil kedua survei tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.42 sebagai berikut ini.

TABEL 3.42
PERUBAHAN ENDEMISITAS GAKY KABUPATEN/KOTA
TAHUN 1996/1998 DAN 2003

Kabupaten/Kota
Endemisitas
1996/1998 2003
Kategori TGR N % N %
Non-endemik <5% 123 44,7 148 43,3
Endemik ringan 5,0 19,9% 106 38,6 122 35,7
Endemik sedang 20,0 29,9% 30 10,9 42 12,2
Endemik berat >=30 % 16 5,8 30 8,8
Total 275 100 342 100
Sumber: Dit. Gizi Masyarakat, Ditjen Bina Kesmas

Status TGR dari 2 survei terakhir pada tingkat kabupaten bervariasi dari yang
terendah 0,0% hingga yang tertinggi 58,1%. Tahun 1996/1998, 5,8% kabupaten/kota
termasuk kategori endemik berat, 10,9% kab/kota termasuk dalam kategori endemik sedang,
38,6% termasuk kategori endemik ringan, dan 44,7% termasuk dalam kategori non-endemik.
Pada tahun 2003, 8,8% kabupaten/kota termasuk kategori endemik berat, 12,2%
kabupaten/kota termasuk dalam kategori endemik sedang, 35,7% termasuk kategori endemik
ringan, dan 43,3% termasuk dalam kategori non-endemik.
53
Secara keseluruhan, proporsi kabupaten/kota dengan kategori non-endemik dan
endemik ringan sedikit menurun dari tahun 1996/1998 dibanding tahun 2003. Sebaliknya,
proporsi kabupaten kategori sedang dan berat sedikit meningkat. Dengan meningkatkan
program penanggulangan GAKY diharapkan proporsi kabupaten/kota dengan kategori non-
endemik dan endemik ringan meningkat, dan proporsi kabupaten/kota dengan kategori
sedang dan berat diharapkan menurun. Persentase desa/kelurahan yang dilaporkan dengan
garam beryodium yang baik menurut provinsi tahun 2003 dapat dilihat pada Lampiran 3.26.
Demikian gambaran singkat mengenai situasi derajat kesehatan di Indonesia sampai
dengan tahun 2004.



***

54

BAB I V
SI TUASI UPAYA KESEHATAN


Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat, telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan masyarakat.
Berikut ini diuraikan gambaran situasi upaya kesehatan khususnya untuk tahun 2004.

A

. PELAYANAN KESEHATAN DASAR
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting
dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan pemberian pelayanan
kesehatan dasar secara tepat dan cepat, diharapkan sebagian besar masalah kesehatan
asyarakat sudah dapat diatasi. m
Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan
adalah sebagai berikut.

1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi
Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan
perkembangan anak. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu yang sedang hamil bisa
berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungan hingga kelahiran dan masa pertumbuhan
bayi dan anaknya.

a. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4)
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan
profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan, dan perawat)
kepada ibu hamil selama masa kehamilannya sesuai pedoman pelayanan antenatal yang ada
dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat
dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4.
Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran
besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan
untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil
yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat
kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan
dua kali pada trimester ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas
pelayanan kesehatan kepada ibu hamil. Gambaran cakupan K1 dan K4 dalam 10 tahun
terakhir dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut ini.







55
GAMBAR 4.1
PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K1 DAN K4 IBU HAMIL
TAHUN 1993 2004
0
20
40
60
80
100
K1
74,04 81,94 84,99 87,75 89,08 87,55 92,72 88,3 93,03 88,56 87,73 88,09
K4
50,69 55,03 64,82 68,52 71,32 71,85 75,66 74,98 77,38 73,01 76,29 77
1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004


Sumber : Hasil Pemutahiran Data Tingkat Pusat, Data Indikator SPM Kabupaten/Kota, dan
Subdit. Kebidanan & Kandungan Dit. Kesehatan Keluarga

Gambaran persentase cakupan pelayanan K4 menurut provinsi pada tahun 2004, dapat
dilihat pada Gambar 4.2 berikut ini.

GAMBAR 4.2
PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K4 IBU HAMIL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004

KEPRI
SULUT
BALI
BABEL
LAMPUNG
SUMSEL
RIAU
J ABAR
J ATENG
SUMBAR
SULTENG
NTB
KALBAR
DKI
GORONTALO
J ATIM
KALTENG
BENGKULU
KALSEL
DIY
BANTEN
MALUT
SULTRA
KALTIM
J AMBI
NAD
SULSEL
SUMUT
NTT
MALUKU
SULBAR
PAPUA
IRJ ABAR
0 20 40 60 80 100 120


Sumber: Dit. Kesga, Ditjen Binkesmas

Gambar di atas menunjukkan bahwa provinsi dengan persentase cakupan pelayanan K4
tertinggi adalah di Provinsi Kepulauan Riau (97,49%), Sulut (89,27%) dan Bali (89,27%),
sedangkan cakupan terendah adalah di Provinsi Papua (37,12%), Sulawesi Barat (46,30%) dan
Maluku (49,59%). Gambaran cakupan K4 menurut provinsi dibandingkan angka nasional dapat
dilihat pada Gambar 4.3, sedangkan data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.1.


56
GAMBAR 4.3
PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K4 IBU HAMIL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004














Data cakupan kunjungan ibu hamil K4 berdasarkan pengumpulan data SPM dari
kabupaten/kota tahun 2004 menurut provinsi disajikan pada Lampiran 4.2.
Sementara hasil penelitian yang dilakukan BPS dan dimuat dalam publikasi Statistik
Kesehatan memberi gambaran bahwa dari ibu balita yang diamati secara rata-rata nasional
mengaku telah melakukan 6 kali pemeriksaan kehamilannya dimana ibu balita di perkotaan
lebih besar (7 kali) dibanding perdesaan (5,4 kali).

b. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan
Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada
masa di sekitar persalinan, hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional). Dalam kurun waktu
lima tahun terakhir, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, termasuk
pendampingan, meningkat sekitar 10%, yaitu dari 60,75% pada tahun 1998 menjadi 70,62%
pada tahun 2003, dan 71,52 pada tahun 2004 (menurut Statistik Kesra 2004, tentang penolong
kelahiran terakhir pada balita). Gambaran cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun
1993 2004 dapat dilihat pada Gambar 4.4 berikut ini.

GAMBAR 4.4
PERSENTASE CAKUPAN PERSALINAN DENGAN PERTOLONGAN OLEH DAN MELALUI
PENDAMPINGAN TENAGA KESEHATAN TAHUN 1993 2004
74.27
70.62
69.16
67.56
74.47
66.15
60.75
59.85
55.04
49.74
43.12
39.56
0
10
20
30
40
50
60
70
80
1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Sumber : Hasil Pemutahiran Data Tingkat Pusat, Subdit. Kebidanan & Kandungan Dit. Kesga dan data indikator
Kabupaten/Kota
57
Hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM bidang kesehatan dari kabupaten/kota
pada tahun 2003 menunjukkan bahwa persentase cakupan persalinan dengan pertolongan
oleh tenaga kesehatan sebesar 73,14%. Sedangkan hasil pengumpulan data/indikator kinerja
SPM dari kabupaten/kota pada tahun 2004 menunjukkan bahwa persentase cakupan
persalinan dengan pertolongan oleh tenaga kesehatan sebesar 68,46 %. Data selengkapnya
dapat dilihat pada Lampiran 4.2
GAMBAR 4.5
PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
BALI
J ATIM
BABEL
SULUT
SUMSEL
KEPRI
J ATENG
SULTENG
SUMBAR
KALSEL
DIY
LAMPUNG
NTB
KALTENG
BENGKULU
RIAU
GORONTALO
J ABAR
BANTEN
DKI
KALBAR
SULSEL
J AMBI
SUMUT
KALTIM
SULTRA
NAD
MALUT
NTT
MALUKU
SULBAR
PAPUA
IRJ ABAR
0 20 40 60 80 100

Sumber: Dit. Kesehatan Keluarga, Ditjen Binkesmas Depkes RI

Adapun dalam Gambar 4.5 terlihat bahwa beberapa provinsi dengan cakupan tertinggi
adalah Bali (92,81 %), J awa Timur (88,06 %) sedangkan provinsi dengan cakupan terendah
adalah Papua (39,70 %) dan Sulawesi Barat (42,10 %), untuk data secara lengkap dapat
dilihat dalam Lampiran 4.1.
Gambaran cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menurut provinsi dibandingkan
angka nasional dapat dilihat pada Gambar 4.6 berikut:
GAMBAR 4.6
PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
















58
c. Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk
Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh tenaga bidan di desa dan Puskesmas,
beberapa ibu hamil yang memiliki risiko tinggi (Risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan
karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan, maka kasus tersebut perlu
dilakukan upaya rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Dalam hal ini
persentase ibu hamil dengan kondisi risiko tinggi yang dirujuk secara nasional pada tahun
2004 mengalami peningkatan menjadi 23,83 % bila dibandingkan dengan keadaan tahun
2003 sebesar 16,43 %. Persentase cakupan ibu hamil dengan Risti yang telah dirujuk
menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.7 berikut ini.

GAMBAR 4.7
PERSENTASE BUMIL RISTI YANG DIRUJUK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
DKI J akarta
Sulawesi Tenggara
Sumatera Selatan
J awa Timur
Riau
Sulawesi Utara
Nusa Tenggara Barat
Sumatera Barat
Sulawesi Selatan
Kalimantan Tengah
Maluku Utara
Kalimantan Timur
DI Yogyakarta
Kalimantan Selatan
Sumatera Utara
Nusa Tenggara Timur
Kep.Riau
J awa Tengah
Sulawesi Tengah
Papua
Bali
J awa Barat
Banten
Kalimantan Barat
Lampung
J ambi
Gorontalo
Nanggroe Aceh Darussalam
Irian J aya Barat
Bengkulu
Kep.Bangka Belitung
Maluku
Sulawesi Barat
0 20 40 60 80 100

Sumber: Hasil pengumpulan dan pengolahan Indikator Kinerja SPM

Dari gambar di atas terlihat bahwa provinsi dengan cakupan tertinggi adalah di
Provinsi DKI J akarta (95,5%), Sultra (49,92 %), Sumsel ( 45,71 % ) dan J awa Timur (41,17
%). Sedangkan 7 provinsi memiliki cakupan <10 % dengan angka terendah di Provinsi
Bangka Belitung (3,53 % ), Bengkulu (5,29 %) dan Irjabar (5,46 %). Untuk Provinsi Maluku
dan Sulawesi Barat, data tidak tersedia. Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.2.

d. Kunjungan Neonatus
Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko
gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko
tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan
pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal dua kali, satu kali pada umur 0-7 hari
dan satu kali lagi pada umur 8-28 hari. Dalam melaksanakan pelayanan neonatus, petugas
kesehatan di samping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling
perawatan bayi kepada ibu. Cakupan kunjungan neonatal (KN) selama periode tahun 2000
2004 dapat dilihat pada Gambar 4.8 berikut ini.




59
GAMBAR 4.8
PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS
TAHUN 2000 2004
75,73
68,89
83,72
76,26
78,44
50
60
70
80
90
100
2000 2001 2002 2003 2004
persen

Sumber: Subdit. Kebidanan & Kandungan Dit. Kesga
dan data indikator Kabupaten/Kota

Dalam tahun 2004 terdapat empat provinsi yang tidak ada datanya yaitu Sumatera
Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat dan Papua, sedangkan
provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Provinsi Bali (96,40 %) dan Kepulauan Riau
(94,10 %) seperti terlihat pada gambar 4.9. Cakupan kunjungan neonatus menurut provinsi
dibandingkan angka nasional dapat dilihat pada gambar 4.10. Data selengkapnya dapat dilihat
pada Lampiran 4.1.

GAMBAR 4.9
PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004

BALI
KEPRI
SUMBAR
J ABAR
J ATIM
NTB
DKI
KALTENG
BANTEN
RIAU
SULTENG
SULTRA
J ATENG
DIY
LAMPUNG
BENGKULU
MALUT
KALTIM
GORONTALO
J AMBI
KALBAR
SUMUT
NAD
MALUKU
SULUT
NTT
SULSEL
BABEL
SUMSEL
KALSEL
SULBAR
PAPUA
IRJ ABAR
0 20 40 60 80 100


Sumber: Subdit. Kebidanan & Kandungan Dit. Kesga







60
GAMBAR 4.10
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS MENURUT PROVINSI TAHUN 2004


















Sedangkan data kunjungan neonatus berdasarkan hasil pengumpulan data indikator
kinerja SPM tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 4.3

e. Kunjungan Bayi
Hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan
Provinsi tahun 2004 menunjukkan bahwa persentase cakupan kunjungan bayi pada tahun
2004 sebesar 78%. Provinsi dengan cakupan kunjungan bayi tertinggi adalah di Provinsi
Papua (99,90%) dan DKI J akarta (97,65%). Sedangkan yang terendah adalah di Provinsi
Irian J aya Barat (55,20%) dan Gorontalo (58,42%). Rincian cakupan kunjungan bayi menurut
provinsi pada tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 4.3.

2. Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah, Usia Sekolah, dan Remaja
Pelayanan kesehatan pada kelompok ini dilakukan dengan pelaksanaan pemantauan
dini terhadap tumbuh kembang dan pemantauan kesehatan anak prasekolah, pemeriksaan
anak Sekolah Dasar/sederajat, serta pelayanan kesehatan pada remaja, baik yang dilakukan
oleh tenaga kesehatan maupun peran serta tenaga terlatih lainnya seperti kader kesehatan,
guru UKS, dan dokter kecil.
Menurut hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM bidang kesehatan dari
Kabupaten/kota, dibandingkan dengan tahun 2003, cakupan pelayanan kesehatan anak balita
dan pra-sekolah serta pelayanan kesehatan anak remaja selama tahun 2004 mengalami
peningkatan. Sedangkan untuk pelayanan kesehatan anak Sekolah Dasar/MI mengalami
penurunan sebagaimana terlihat dalam Gambar 4.11 berikut.





61

GAMBAR 4.11
PERSENTASE CAKUPAN DETEKSI TUMBUH KEMBANG
ANAK PRA SEKOLAH, PEMERIKSAAN SISWA SEKOLAH DASAR/SEDERAJAT,
DAN PELAYANAN KESEHATAN REMAJA, TAHUN 2003-2004

45,43
46,48
56,13
39,59
20,74
33,61
0,00
10,00
20,00
30,00
40,00
50,00
60,00
Balita-prasek Siswa SD/MI Remaja
2003
2004

Sumber: Data/Informasi indikator kinerja SPM


Dalam pelayanan kesehatan kelompok balita dan anak pra sekolah selama tahun 2004,
provinsi dengan cakupan tertinggi adalah di Provinsi Sumatera Selatan (76,08%), Bangka
Belitung (66,95%) dan Maluku Utara (65,21%); Cakupan terendah Provinsi Papua, (9,74 %)
dan Banten (9,1%) sedangkan 3 provinsi tidak tersedia data informasinya yaitu Provinsi DKI
J akarta, Irian J aya Barat dan Sulawesi Barat.
Untuk pelayanan kesehatan kelompok anak Sekolah Dasar/MI, Cakupan tertinggi di
capai Provinsi Bangka Belitung (85,45%), Sulawesi Selatan (81,23%) dan Kalimantan
Tengah (80,32%); cakupan terendah dicapai Provinsi Maluku Utara (6,41 %) dan
Lampung (7,69%) terdapat 2 provinsi yang tidak terdapat data/informasi terkait yaitu
Provinsi Papua dan Sulawesi Barat.
Sedangkan pelayanan kesehatan untuk kelompok usia remaja, cakupan tertinggi
dicapai Provinsi Irian J aya Barat (96,69%), Bangka Belitung (79,99%); cakupan terendah
dicapai Provinsi NAD (2,82%), Maluku Utara(3,27%) dan Kalimantan Barat (8,55%); dalam
kaitan ini terdapat 5 provinsi yang datanya tidak tersedia yaitu Papua, DKI J akarta, DI
Yogyakarta, Gorontalo dan Sulawesi Barat
Data lengkap terkait dengan pelayanan kesehatan kelompok anak balita/pra sekolah,
kelompok anak sekolah dasar/ MI dan kelompok anak usia remaja dapat dilihat pada
Lampiran 4.5

3. Pelayanan Keluarga Berencana
Tingkat pencapaian Pelayanan Keluarga Berencana dapat digambarkan melalui
cakupan peserta KB yang ditunjukkan melalui peserta KB aktif, kelompok sasaran program
yang sedang menggunakan alat kontrasepsi, tempat pelayanan serta jenis kontrasepsi yang
digunakan akseptor. Berdasarkan pengumpulan data/indikator kinerja SPM selama dua tahun
terakhir, hasil cakupan pelayanan Keluarga Berencana tidak mengalami perubahan yang
berarti sebagaimana terlihat dalam Gambar 4.12 berikut.


62

GAMBAR 4.12
PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN KELUARGA BERENCANA
TAHUN 2003-2004

68,49
64,24
54,54
56,71
71,97
71,97
0
10
20
30
40
50
60
70
80
PUS KB AKTIF WUS SEDANG KB WUS PERNAH KB

Sumber: Data/Informasi Indikator Kinerja SPM, BPS Statistik Kesra


Cakupan secara lengkap menurut provinsi dari pelayanan Keluarga Berencana (KB)
dapat dilihat pada Lampiran 4.6, Lampiran 4.7 dan Lampiran 4.8.
Berdasarkan hasil pengumpulan data indikator kinerja SPM, diperoleh gambaran
beberapa informasi terkait dalam pelayanan Keluarga Berencana cakupan Pasangan Usia
Subur sebagai peserta KB Aktif pencapaian tahun 2004 mengalami penurunan menjadi
64,24% dibandingkan dengan pencapaian tahun 2003 sebesar 68,49 %. Cakupan tertinggi
selama 2004 dicapai Provinsi Papua (90,58%) dan Kalimantan Barat (90,16%); cakupan
terendah dicapai Provinsi Kepulauan Riau (36,56%) dan Provinsi Maluku Utara (33,11 %).
Rincian persentase peserta KB aktif menurut provinsi tahun 2004 dapat dilihat pada
Lampiran 4.6
Proporsi wanita usia 15-49 berstatus menikah yang sedang menggunakan alat KB
pada tahun 2004 mengalami peningkatan menjadi 56,71 % dibandingkan dengan cakupan
tahun 2003 sebesar 54,54%. Terdapat empat provinsi memiliki cakupan 65 % dengan
angka tertinggi dicapai Provinsi Sulawesi Utara (71,42 %), Bengkulu (67,74 %), Bali
(66,68%) dan Babel (65,41 %), lima provinsi memiliki cakupan 40 % dengan cakupan
terendah Provinsi Maluku (26,05 %), sedangkan Provinsi Kepulauan Riau, Sulawesi Barat
dan Irian J aya Barat tidak diperoleh datanya. Rincian persentase PUS yang sedang
menggunakan alat KB menurut provinsi tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 4.7.
Proporsi wanita berumur 15-49 tahun yang berstatus kawin yang pernah
menggunakan/memakai alat KB dalam tahun 2004 tidak mengalami perubahan dibandingkan
dengan tahun 2003 yaitu sebesar 71,97 %. Terdapat sebelas provinsi memiliki cakupan 75
% dengan angka tertinggi dicapai Provinsi Sulawesi Utara (84,74 %), Tiga provinsi dengan
cakupan 50 % meliputi Papua (48,25%), Maluku Utara (44,49 %) dan Maluku (35,05 %).
sedangkan Provinsi Kepulauan Riau, Sulawesi Barat dan Irian J aya Barat tidak diperoleh
datanya. Rincian persentase PUS yang pernah menggunakan alat KB menurut provinsi tahun
2004 dapat dilihat pada Lampiran 4.8.
63
J enis alat kontrasepsi yang digunakan peserta KB selama tahun 2004 tidak jauh
berbeda bila dibandingkan dengan tahun 2003 sebagaimana terlihat dalam Gambar 4.13
berikut.


GAMBAR 4.13
PROPORSI JENIS ALAT KONTRASEPSI YANG DIGUNAKAN
TAHUN 2003-2004

58. 16
54. 92
29. 02
24. 52
4. 88
5. 55
4. 64
9. 64
3. 30
5. 37
0
10
20
30
40
50
60
Sunt ik Pil Susuk AKDR Lain-lain

Sumber: BPS Statistik Kesra dan BKKBN

Dari gambar di atas masih menunjukkan bahwa selama tahun 2003 dan 2004 alat
kontrasepsi yang paling banyak diminati adalah suntikan dan pil KB. Pada tahun 2004 jenis
kontrasepsi lain seperti susuk, AKDR dan jenis lainnya mengalami peningkatan, yang berarti
ada pergeseran walaupun peningkatannya tidak terlalu berarti. Rincian persentase alat/cara
KB yang dipakai peserta KB aktif menurut provinsi tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran
4.9.
Tempat pelayanan untuk peserta KB baru adalah di klinik KB pemerintah (59,45%),
bidan praktek swasta (30,77%), dan klinik KB swasta (6,98%), serta selebihnya di dokter
praktek swasta (2,80%). J umlah dan proporsi peserta KB baru kumulatif menurut tempat
pelayanan dan provinsi tahun 2003 dapat dilihat pada Lampiran 4.10.

4. Pelayanan Imunisasi
Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proksi
terhadap cakupan atas imunisasi secara lengkap pada sekelompok bayi. Bila cakupan UCI
dikaitkan dengan batasan suatu wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut tergambarkan
besarnya tingkat kekebalan masyarakat atau bayi (herd immunity) terhadap penularan
penyakit yang dapat dicegah dengan Immunisasi (PD3I). Dalam hal ini Pemerintah
mentargetkan pencapaian UCI pada wilayah administrasi desa/ kelurahan.
Secara Nasional , pencapaian UCI tingkat Desa/Kelurahan tahun 2004 masih dibawah
target 83 %. Dari 30 Provinsi yang dipantau terdapat 6 provinsi yang telah mencapai target (
83 %) UCI Desa/Kelurahan yaitu pencapaian tertinggi Provinsi Bali, DIY, Lampung, NTB,
J awa Tengah dan J ambi.

64

GAMBAR 4.14
PERSENTASE PENCAPAIAN UCI DI TINGKAT DESA/KELURAHAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2003-2004
0
20
40
60
80
100
2003 84,42 79,89 72,53
2004 69,43
UCI-KAB UCI-KEC UCI-DESA

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Sedangkan gambaran pencapaian UCI tingkat Desa/Kelurahan menurut provinsi pada
tahun 2004 dapat dilihat pada Gambar 4.15 berikut ini.

GAMBAR 4.15
PERSENTASE PENCAPAIAN UCI DI TINGKAT DESA/KELURAHAN
MENURUT PROVINSI PADA TAHUN 2004



















Pelayanan imunisasi bayi mencakup vaksinasi BCG, DPT (3 kali), Polio (4 kali),
Hepatitis-B (3 kali) dan Imunisasi Campak (1 kali), yang dilakukan melalui pelayanan rutin
di Posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Gambaran cakupan imunisasi bayi
pada tahun 2000 2004 dapat dilihat pada Gambar 4.16 berikut ini.



65



GAMBAR 4.16
PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI DPT-1 DAN CAMPAK
SERTA ANGKA DROP OUT (DO)
TAHUN 2000 2004
0
20
40
60
80
100
DPT-1
100,7 96,3 96,4 96,6 97,2
Campak
93,9 87,3 90,6 89,2 91,8
DO
7,4 10,1 5,8 7,7 5,6
2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Pada gambar di atas menunjukkan bahwa angka drop out (DO) DPT1-Campak selama
5 tahun terakhir tidak melewati angka 5,8 % - 10,1 %.
Gambaran imunisasi dasar bayi selama tahun 2004 yang diukur dari imunisasi
Campak, cakupan tertinggi dicapai Provinsi DKI J akarta (104 %), Bali (99,3%) dan Provinsi
J ambi (95,4 %); sedangkan yang mencapai cakupan terendah adalah Papua (56%) dan
Provinsi NAD (67 %). Gambaran cakupan imunisasi campak tahun 2004 dapat dilihat pada
Gambar 4.17 berikut.

GAMBAR 4.17
PERSENTASE PENCAPAIAN IMUNISASI CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004




















66
Sedangkan rincian cakupan imunisasi bayi untuk masing-masing jenis vaksin
menurut provinsi selama tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 4.13 dan Lampiran 4.14.
Untuk cakupan imunisasi TT ibu hamil pada tahun 2000 2004 dapat dilihat pada
Gambar 4.18 berikut ini.

GAMBAR 4.18
PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL
TAHUN 2000 2004
0
20
40
60
80
100
TT-1 83,6 78,5 72,2 71,71 70,1
TT-2 76,7 71,6 68,4 66,12 63,9
2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Pada kurun waktu 2000-2004 cakupan imunisasi TT-1 dan TT-2 pada ibu hamil
mengalami penurunan. Cakupan TT2 pada tahun 2000 sebesar 76,7 % menurun menjadi 63,9
pada tahun 2004. Provinsi dengan cakupan tertinggi adalah di Provinsi Bangka Belitung (83
%), Lampung (82,4), Sulawesi Selatan (82,4 %) dan J awa Barat (81,5 %); adapun yang
terendah adalah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (21,5%), Sulawesi Tenggara (35,8%),
sedangkan Provinsi Papua tidak ada data. Gambaran cakupan imunisasi TT2 pada ibu hamil
menurut provinsi tahun 2004 dapat dilihat pada Gambar 4.19. Sedangkan data selengkapnya
dapat dilihat pada Lampiran 4.16.

GAMBAR 4.19
CAKUPAN IMUNISASI TT2 PADA IBU HAMIL TAHUN 2004
















Upaya meningkatkan kekebalan pada masyarakat juga dilakukan pada kelompok-
kelompok sasaran khusus lainnya, misalnya pemberian imunisasi DT dan TT pada anak
67
sekolah melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) atau pelaksanaan Crash
Program imunisasi Campak pada anak Balita di lokasi pengungsian atau Catch Up Campaign
imunisasi campak pada anak sekolah kelas 1 sampai VI SD. Sebagaimana terlihat dalam
Gambar 4.20 berikut ini.
GAMBAR 4.20
PERSENTASE PENCAPAIAN BIAS DT DAN TT
DAN PENCAPAIAN CRASH PROGRAM IMUNISASI CAMPAK
SECARA NASIONAL TAHUN 2004
0
20
40
60
80
100
BIAS DT BIAS TT CP.CAMPAK


Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

5. Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut dan Usia Lanjut

Pelayanan kesehatan juga dilakukan secara khusus kepada kelompok Pra Usia Lanjut
dan Usia Lanjut, dimana pada kelompok ini biasanya banyak mengalami gangguan kesehatan
degeneratif dan fungsi tubuh lainnya.Gambaran pencapaian pelayanan kesehatan kelompok
Pra Usila dan Usila hasil pengumpulan data/informasi kinerja SPM dalam dua tahun terakhir
dapat dilihat pada Gambar 4.21 berikut.
GAMBAR 4.21
PERSENTASE KELOMPOK PRA USILA DAN USILA
YANG MENDAPAT PELAYANAN KESEHATAN
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004

25.3
20.8
0
10
20
30
40
50
2003 2004

Sumber: data indikator kinerja SPM Kab/Kota

68
Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa persentase kelompok Pra Usila dan
Kelompok Usila yang mendapatkan pelayanan kesehatan selama tahun 2004 mengalami
penurunan menjadi 20,79 % dibandingkan cakupan tahun 2003 sebesar 25,34 %.
Persentase cakupan pelayanan kesehatan Pra Usila dan Usila menurut provinsi tahun
2003 disajikan pada Lampiran 4.17.


B. PEL YANAN KESEHATAN RUJUKAN DAN PENUNJANG A

Upaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilakukan secara rawat jalan bagi
masyarakat yang mendapat gangguan kesehatan ringan dan pelayanan rawat inap baik secara
langsung maupun melalui rujukan pasien bagi masyarakat yang mendapatkan gangguan
kesehatan sedang hingga berat. Sebagian besar sarana pelayanan Puskesmas dipersiapkan
untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi kunjungan rawat jalan sedangkan RS
yang dilengkapi berbagai fasilitas di samping memberikan pelayanan pada kasus rujukan
untuk rawat inap juga melayani untuk kunjungan rawat jalan.
Gambaran pencapaian pelayanan kunjungan rawat jalan dan pasien rawat inap hasil
pengumpulan data/informasi kinerja SPM dalam dua tahun terakhir dapat dilihat pada
Gambar 4.22 berikut.

GAMBAR 4.22
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN DAN
PASIEN RAWAT INAP DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004
61.966.469
3.149.589
73.596.201
4.992.218
0
15000000
30000000
45000000
60000000
75000000
2003 2004
RAWAT J ALAN RAWAT INAP

Sumber: Data Indikator Kinerja SPM Kab/Kota

Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa pelayanan kesehatan untuk rawat jalan dan rawat
inap selama tahun 2004 menunjukkan peningkatan, dengan proporsi pasien rawat inap 6,8 %
tahun 2004 dan 5,1 % pada tahun 2003.
Sedangkan secara rinci jumlah kunjungan rawat jalan dan pasien rawat inap menurut
provinsi selama tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 4.19.

1. Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit yang
dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (BOR), rata-rata lama hari perawatan (LOS),
rata-rata tempat tidur dipakai (BTO), rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (TOI),
69
persentase pasien keluar yang meninggal (GDR) dan persentase pasien keluar yang
meninggal <24 jam perawatan (NDR).
Pencapaian indikator pelayanan kesehatan di RS selama dua tahun terakhir dapat
dilihat dalam Gambar 4.23 berikut ini.



GAMBAR 4.23
PENCAPAIAN INDIKATOR B0R , GDR, NDR, LOS, BTO DAN TOI
RUMAH SAKIT SECARA NASIONAL
TAHUN 2003 S/D 2004

55,5
35,0
18,0
55,2
47,9
22,8
0
20
40
60
80
100
2003 2004
% BOR % GDR % NDR

42,0
4,0
4,0
38,7
4,4
3,4
0
10
20
30
40
50
2003 2004
BTO LOS TOI

Sumber: Ditjen Pelayanan Medik, Depkes RI

Berdasarkan gambar di atas menunjukkan bahwa pemakaian tempat tidur di rumah
sakit selama dua tahun terakhir tidak banyak mengalami perubahan dan masih di bawah
angka ideal yang diharapkan, tahun 2003 sebesar 55,5 % dan tahun 2004 sebesar 55,2 %.
Banyak faktor yang mempengaruhi angka BOR suatu rumah sakit, di antaranya semakin
meningkatnya jumlah RS dan tempat tidur yang tersedia sedangkan jumlah populasi yang
mencari pelayanan tidak terlalu tinggi perkembangannya atau perlu adanya pemisahan
penghitungan BOR pada Rumah Sakit Khusus.
Meningkatnya angka GDR dan NDR pada tahun 2004, perlu ditindaklanjuti dengan
strategi baru dalam pelayanan kesehatan yang dikaitkan dengan peningkatan kemampuan
tenaga kesehatan termasuk prosedur rujukan.
Sedangkan indikator pemakaian tempat tidur, lamanya hari rawatan dan selang waktu
dalam pemakaian tempat tidur tidak banyak mengalami perubahan.
Gambaran secara rinci indikator pelayanan kesehatan di RS menurut provinsi selama
tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 4.20.

2. Pelayanan Ibu Hamil dan Neonatus Risiko Tinggi

Hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM bidang kesehatan dari Kabupaten/
Kota menunjukkan bahwa persentase ibu hamil risiko tinggi dan neonatal risiko tinggi yang
dirujuk dan mendapat pelayanan kesehatan dalam dua tahun terakhir dapat dilihat pada
Gambar 4.24 berikut.


70

GAMBAR 4.24
PERSENTASE IBU HAMIL DAN NEONATUS RISIKO TINGGI
DIRUJUK YANG MENDAPAT PENANGANAN KESEHATAN
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004

20,44
26,20
19,87
18,79
0
5
10
15
20
25
30
bumil risti dirujuk &
ditangani
Neonatus risti dirujuk &
ditangani
2003 2004


Sumber: Data Indikator Kinerja SPM Kab/Kota

Cakupan pelayanan ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk dan mendapatkan
penanganan kesehatan selama tahun 2004 menunjukkan peningkatan menjadi 26,20 %
dibandingkan cakupan tahun 2003 sebesar 20,44 %. Sebanyak tiga provinsi memiliki
cakupan 80 % dengan angka tertinggi Provinsi Kepulauan Riau (96 %), Maluku Utara (86,8
%) dan Bali (83,3 %), tiga provinsi dengan pencapaian 10 % yaitu Lampung (9,8 %),
Sumsel (8,9 %) dan Kalbar (2,2 %), sedangkan Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat
dan DKI J akarta tidak ada data.
Untuk pelayanan neonatus memiliki risiko tinggi yang dirujuk dan mendapatkan
penanganan kesehatan selama tahun 2004 menunjukkan penurunan menjadi 18,79 %
dibandingkan cakupan tahun 2003 sebesar 19,87 %. Sebanyak empat provinsi memiliki
cakupan 90 % dengan angka tertinggi dicapai NAD, DI Yogyakarta dan Gorontalo (100
%), Sumatera Selatan (92,43 %), sembilan provinsi dengan cakupan 10 % dengan cakupan
terendah Provinsi Kalteng (0,40 %) Lampung (2,47 %) dan Kalbar (2,56 %). Sedangkan
Provinsi Sulawesi Barat dan DKI J akarta tidak ada data. Persentase cakupan pelayanan
kesehatan pada kelompok ibu hamil dan neonatus dengan risiko tinggi yang dirujuk menurut
provinsi selama tahun 2004 disajikan pada Lampiran 4.21.
Adapun persentase ibu hamil dan neonatus risiko tinggi yang dirujuk dan memiliki
akses terhadap ketersediaan darah selama tahun 2004 dilaporkan meningkat menjadi 36,18 %
dibandingkan cakupan tahun 2003 sebesar 19,87%. Rincian persentase ibu hamil dan
neonatus risiko tinggi yang dirujuk yang memiliki akses terhadap ketersediaan darah menurut
provinsi tahun 2004 disajikan pada Lampiran 4.22.



71
3. Pemanfaatan Obat Generik

Penggunaan obat generik merupakan salah satu langkah dalam upaya meningkatkan
kemampuan masyarakat menjangkau obat yang berkualitas. Keberhasilan dalam sosialisasi
pemanfaatan obat generik sangat dipengaruhi oleh keseriusan tenaga kesehatan dan
terjaminnya ketersediaan obat generik di fasilitas kesehatan.

Berdasarkan hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM bidang kesehatan
Kabupaten/kota penulisan resep obat generik selama dua tahun terakhir dapat dilihat pada
Gambar 4.25 berikut.
GAMBAR 4.25
PERSENTASE PEMBUATAN RESEP OBAT GENERIK
DI SARANA PELAYANAN KESEHATAN
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004

28.389.957
20.810.557
35.821.800
26.651.053
0
8000000
16000000
24000000
32000000
40000000
2003 2004
TOTAL RESEP OBAT GENERIK


Sumber: Data Indikator Kinerja SPM Kab/Kota

Dari gambar di atas terlihat bahwa proporsi penulisan resep obat generik di sarana
pelayanan kesehatan selama dua tahun terakhir tidak banyak mengalami perubahan yaitu
74,4% pada tahun 2004 dan 73,3 % pada tahun 2003.
Sebanyak sebelas provinsi melaporan cakupan penulisan obat generik 90 % dengan
cakupan tertinggi Provinsi Gorontalo dan Banten (100%) J ambi (99,95 %) Babel (99,76%),
enam provinsi memiliki cakupan 50 % dengan angka terendah dilaporkan Provinsi Irjabar
(5,85%), Lampung (27,3%), Kaltim (28,87%) dan DI Yogyakarta (35,91 %). Sedangkan
provinsi dengan persentase tertinggi dilaporkan Provinsi Nusa Tenggara Barat (95,17%),
J ambi (94,77%), dan Sulawesi Utara (92,29%); sedangkan Provinsi Sulawesi Barat dan DKI
J akarta tidak ada data.
Rincian persentase penulisan resep obat generik menurut provinsi tahun 2004
disajikan pada Lampiran 4.23.


C. PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR

Upaya pemberantasan penyakit menular lebih ditekankan pada pelaksanaan surveilans
epidemiologi dengan upaya penemuan penderita secara dini yang ditindaklanjuti dengan
penanganan secara cepat melalui pengobatan penderita. Di samping itu pelayanan lain yang
72
diberikan adalah upaya pencegahan dengan pemberian imunisasi, upaya pengurangan faktor
risiko melalui kegiatan untuk peningkatan kualitas lingkungan serta peningkatan peran serta
masyarakat dalam upaya pemberantasan penyakit menular yang dilaksanakan melalui
berbagai kegiatan. Uraian singkat berbagai upaya tersebut seperti berikut ini.

1. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa

Upaya penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)
merupakan tindak lanjut dari penemuan dini kasus-kasus penyakit berpotensi wabah yang
terjadi pada masyarakat. Upaya penanggulangan yang dilakukan dimaksudkan untuk
mencegah penyebaran lebih luas dan mengurangi dampak negatif yang dapat ditimbulkan.
Berdasarkan hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM bidang kesehatan dari
kabupaten/Kota selama tahun 2003-2004 jumlah desa/kelurahan yang melaporkan terkena
KLB dan yang mendapatkan penanganan kurang dari 24 jam dapat dilihat pada Gambar 4.26
berikut.
GAMBAR 4.26
JUMLAH DESA/KELURAHAN YANG TERKENA KLB DAN
YANG MENDAPATKAN PENANGANAN < 24 JAM
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004
7,794
3,166
5,541
3,323
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
7000
8000
2003 2004
Ds KLB DITANGANI < 24 JAM

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Persentase desa/kelurahan yang terkena KLB dan mendapat penanganan dalam kurun
waktu < 24 jam selama tahun 2004 terlihat mengalami peningkatan menjadi 59,97 %
dibandingkan laporan pada tahun 2003 sebesar 40,62 %. Gambaran desa terkena KLB dan
enanganan<24 jam menurut provinsi selama tahun 2004 disajikan dalam Lampiran 4.24. p

Sedangkan Ditjen PPM-PL mencatat, frekuensi KLB pada tahun 2004 sebanyak 546
kali dengan jumlah kasus sebanyak 15.805 penderita dan 275 kematian (CFR 1,7%).
Beberapa penyakit dengan frekuensi KLB dan jumlah kasus yang tinggi adalah penyakit
DBD (87 kali, 6.195 penderita dengan 87 kematian), Campak (97 kali, 2.818 penderita
dengan 44 kematian), Tetanus Neonatorum (71 kali, 73 penderita dengan 39 kematian),
keracunan makanan (65 kali, 3.748 penderita dengan 23 kematian), dan Diare (46 kali, 1.827
penderita dengan 29 kematian). Frekuensi KLB menurut jenis penyakit pada tahun 2004
dapat dilihat pada Lampiran 3.14.

2

. Pemberantasan Penyakit Polio
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit Polio telah dilakukan melalui
gerakan imunisasi Polio. Upaya ini juga ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans
73
epidemiologi secara aktif terhadap kasus-kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP) kelompok
umur <15 tahun hingga dalam kurun waktu tertentu, untuk mencari kemungkinan adanya
virus Polio liar yang berkembang di masyarakat dengan pemeriksaan spesimen tinja dari
kasus AFP yang dijumpai. Berdasarkan kegiatan surveilans AFP pada penduduk <15 tahun
selama tahun 1997 2004, secara nasional diperoleh gambaran sebagaimana terlihat pada
Gambar 4.27 berikut.

GAMBAR 4.27
PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT
DAN NON POLIO AFP RATE
TAHUN 1997 2004
1.19
1.26
1.00
0.90
1.02
1.31
1.21
1.26
48.30
71.40
80.10
79.50
78.10
82.40
90.1 88.10
0
20
40
60
80
100
1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
%
0
1
2
3
4
5
per 100.000 anak <15
th
Non Polio AFP Rate Spesimen Adekuat

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Setiap kasus AFP yang ditemukan dalam kegiatan intensifikasi surveilans, akan
dilakukan pemeriksaan spesimen tinja untuk mengetahui ada tidaknya virus Polio Liar yang
menyerang masyarakat. Dari gambar di atas menunjukan bahwa persentase spesimen adekuat
yang dikirim untuk pemeriksaan virus Polio menjadi semakin meningkat, dengan demikian
hasil pemeriksaan yang dilakukan menjadi semakin mewakili kondisi di lapangan. Dari hasil
pemeriksaan selama tujuh tahun terakhir tidak ditemukan adanya infeksi virus Polio Liar
pada kasus AFP yang ditemukan. Besaran Non Polio AFP Rate selama tahun 1997 2004
relatif stabil.
Sementara itu, cakupan imunisasi Polio-3 pada bayi pada tahun 2004 sebesar 92,5 %.
Provinsi dengan cakupan tertinggi adalah di DKI J akarta (109,6 %), Bali (99,7 %), J awa
Timur (98,7 %), dan J ambi (97 %). Sedangkan yang terendah adalah di Provinsi Papua (56,4
%), Maluku (66,4 %), dan Nanggroe Aceh Darussalam (71,5%). Rincian cakupan imunisasi
Polio-3 menurut provinsi tahun 2003 dapat dilihat pada Lampiran 4.13.


3

. Pemberantasan TB-Paru
Upaya Pencegahan dan pemberantasan TB-Paru dilakukan dengan pendekatan DOTS
(Directly Observe Treatment Shortcource) atau pengobatan TB-Paru dengan pengawasan
74
langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). Kegiatan ini meliputi upaya penemuan
penderita dengan pemeriksaan dahak di sarana pelayanan kesehatan yang ditindaklanjuti
dengan paket pengobatan. Dari upaya penemuan penderita TB selama tahun 2004 ditemukan
gambaran kasus sebagaimana terlihat pada Gambar 4.28 berikut.

GAMBAR 4.28
JUMLAH PENDERITA TB BTA+ DAN TB LAIN
TAHUN 2000 2004
0
40,000
80,000
120,000
160,000
200,000
240,000
BTA+ 54,816 56,787 81,465 104,138 128961
TB Lain 29,775 33,104 76,798 72,623 85677
Total 84,591 89,891 158,263 176,761 214658
2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Berdasarkan penemuan kasus TB BTA+ maka dapat digambarkan angka Case
Detection Rate (CDR) selama empat tahun terakhir seperti Gambar 4.29 berikut.

GAMBAR 4.29
CASE DETECTION RATE KASUS BARU TB-BTA+
TAHUN 2000 2004
51.8
41.6
29
21
20
0
20
40
60
80
100
2000 2001 2002 2003 2004
p
e
r
s
e
n

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Dalam penanganan program, semua penderita TB yang ditemukan ditindaklanjuti
dengan paket-paket pengobatan intensif. Melalui paket pengobatan yang diminum secara
teratur dan lengkap, diharapkan penderita akan dapat disembuhkan dari penyakit TB yang
dideritanya. Namun demikian dalam proses selanjutnya tidak tertutup kemungkinan
terjadinya kegagalan pengobatan akibat dari paket pengobatan yang tidak terselesaikan atau
drop out (DO), terjadinya resistensi obat atau kegagalan dalam penegakan diagnosa di akhir
pengobatan. Tingkat kesembuhan dari penderita pasca pengobatan biasanya sangat sulit
ditegakkan oleh karena kendala dari penderita dalam mengeluarkan dahak yang memenuhi
persyaratan, sehingga dalam pemantauan hasil akhir lebih diarahkan pada tingkat
75
kelengkapan pengobatan atau succes rate (SR). Pada Gambar 4.30 dapat dilihat
perkembangan succes rate dan tingkat kekambuhan penderita TB BTA+selama beberapa
tahun terakhir.

GAMBAR 4.30
ANGKA SUCCES RATE (SR) DAN PERSENTASE
PENDERITA TB YANG KAMBUH
TAHUN 2000 2004
0
20
40
60
80
100
% SR 20 2 29 38 51.8
% Kambuh 2.8 3.7 4.1 4.4
2000 2001 2002 2003 2004


Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI


4. Pemberantasan Penyakit ISPA
Upaya dalam rangka Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (P2 ISPA)
lebih difokuskan pada upaya penemuan secara dini dan tata laksana kasus yang cepat dan tepat
terhadap penderita Pneumonia balita yang ditemukan. Upaya ini dikembangkan melalui suatu
manajemen terpadu dalam penanganan balita sakit yang datang ke unit pelayanan kesehatan atau
lebih dikenal dengan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Dengan pendekatan MTBS
semua penderita ISPA langsung ditangani di unit yang menemukan, namun bila kondisi balita
sudah berada dalam Pneumonia berat sedangkan peralatan tidak mencukupi maka penderita
langsung dirujuk ke fasilitas pelayanan yang lebih lengkap.
Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir hasil penemuan dan pengobatan Pneumonia
dapat dilihat pada gambar berikut ini, yang mana terlihat bahwa cakupan penemuan penderita
dari target (perkiraan penderita) masih relatif rendah. Seperti terlihat pada Gambar 4.31 berikut.
GAMBAR 4.31
PERSENTASE PENEMUAN DAN PENANGANAN (PENGOBATAN)
KASUS PNEUMONIA PADA BALITA, TAHUN 1995/1996 2004
33 . 5
3 1
34 . 5
30. 5
34 . 5
29. 5
2 3 2 2. 1
21
36
0
10
20
30
40
50
95/96 96/97 97/98 98/99 99/00 2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

76
Dari pantauan yang dilakukan hasil penemuan tersebut belum menggambarkan
kondisi yang sebenarnya oleh karena masih ada beberapa wilayah yang belum
menyampaikan laporannya sebagaimana terlihat pada Tabel 4.1 berikut.

TABEL 4.1
KELENGKAPAN LAPORAN PENEMUAN DAN PENANGANAN
BALITA PENDERITA PNEUMONIA TAHUN 1999 S/D 2004

Tahun Provinsi
Melapor
Kab./Kota
Melapor
Penderita
Ditemukan
Cakupan Penemuan
Penderita (%)
Kelengkapan
Laporan
1999 24 298 804.937 34,2 -
2000 25 258 479.283 30,1 93%
2001 27 269 619.107 25,0 86%
2002 29 293 549.035 22,1 80%
2003 24 323 502.275 30,, 34%
2004 23 296 625.611 36,, 83%


Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI
Sedangkan gambaran cakupan penemuan dan penanganan balita Pneumonia dalam
ahun 2004 dapat dilihat dalam Gambar 4.32 berikut. t


GAMBAR 4.32
CAKUPAN PENEMUAN DAN PENANGANAN BALITA
PENDERITA PNEUMONIA MENURUT PROVINSI TAHUN 2004


Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

5

. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS
Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS, di
samping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan juga diarahkan pada upaya
pencegahan melalui penemuan penderita secara dini yang dilanjutkan dengan kegiatan
konseling.
77
Upaya penemuan penderita dilakukan melalui skrining HIV/AIDS terhadap darah
donor, pemantauan pada kelompok berisiko penderita Penyakit Menular Seksual (PMS)
seperti Wanita Penjaja Seks (WPS), penyalahguna obat dengan suntikan (IDUs), penghuni
Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) atau sesekali dilakukan penelitian pada kelompok berisiko
rendah seperti ibu rumah tangga dan sebagainya. Hasil pelaksanaan surveilans HIV/AIDS
selama tahun 2004 menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna sebagaimana terlihat
dalam Tabel 4.2 berikut.
TABEL 4.2
PENEMUAN PENDERITA HIV/AIDS
TAHUN 2000 2004

Pengidap HIV Penderita AIDS Pdrt AIDS Meninggal
Tahun
Per tahun Kumulatif Per tahun Kumulatif Per tahun Kumulatif

2000 403 1.172 255 607 47 233
2001 732 1.904 219 826 99 280
2002 648 2.552 345 1.171 100 379
2003 168 2.720 316 1.487 261 479
2004 649 3.368 1.195 2.682 361 740

Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI

Walaupun jumlah penderita AIDS secara kumulatif relatif kecil (Case Rate 1,33 per
100.000 penduduk), namun dalam perjalanan penyakit dari HIV +menjadi AIDS dikenal
istilah windows periods yang tidak diketahui dengan pasti periodisasinya sehingga
kelompok ini menjadi sangat potensial dalam menularkan penyakit. Pada kelompok ini
disamping dilakukan pengobatan yang lebih utama adalah dilakukan konseling untuk
menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam ikut aktif mencegah terjadinya penularan lebih
lanjut
Upaya pemantauan yang dilakukan pada kelompok berisiko melalui kegiatan survei
dan kegiatan rutin serta skrining darah donor selama 5 tahun terakhir dapat dilihat dalam
Tabel 4.3 berikut.

TABEL 4.3
HASIL PELAKSANAAN PROGRAM HIV/AIDS & PMS
TAHUN 2000 2004

Kegiatan Satuan 2000 2001 2002 2003 2004
Pemeriksaan STS Spesimen 9.567 50.000 100.000 175.000 150.000
Survei HIV/AIDS & Syphilis Sample 9.567 50.000 100.000 175.000 150.000
Screening darah donor Kolf 395.098 585.726 1.200.000 1.300.000 1.300.000

Sumber: Ditjen PPM-PL, Profil PPM-PL 2004

Sedangkan gambaran penemuan dana penanganan penderita HIV/AIDS menurut hasil
pengumpulan data/indikator kinerja SPM dari kabupaten/kota selama dua tahun terakhir
dapat dilihat dalam Gambar 4.33 berikut.

78

GAMBAR 4.33
JUMLAH KASUS HIV/AIDS DITEMUKAN DAN DITANGANI
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004

2.157
1.419
4.605
3.801
0
1000
2000
3000
4000
5000
2003 2004
KASUS DITEMUKAN KASUS DITANGANI


Sumber: Data Indikator Kinerja SPM Kab/Kota

Dari gambar di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2004 terlihat adanya peningkatan
persentase kasus yang ditangani oleh institusi pelayanan kesehatan (82,5%) bila
dibandingkan dengan cakupan tahun 2003 (65,8 %). Rincian penemuan dan penanganan
kasus HIV/AIDS oleh institusi pelayanan kesehatan selama tahun 2004 dapat dilihat pada
Lampiran 4.26.

6

. Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Upaya pemberantasan DBD dititik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat
untuk dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3 M+), J uru
Pemantauan J entik (J umantik) untuk memantau Angka Bebas J entik (ABJ ), serta pengenalan
gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga.
Pada awal tahun 2004 di beberapa wilayah provinsi telah terjadi KLB dengan jumlah
kasus yang cukup tinggi, Insiden Rate berkisar antara 11,94 per 100.000 penduduk (DI
Yogyakarta) hingga 60,29 (DKI J akarta). Sedangkan angka kematian (Case Fatality Rate)
berkisar antara 0,8 % (DKI J akarta) hingga 4,1 % (Provinsi NTT).
Upaya kesehatan yang telah dilakukan dalam rangka penanggulangan DBD selama
tahun 2004 tersebut antara lain adalah penemuan penderita secara dini melalui sistem
surveilans, penegakan diagnosa secara cepat dan penanganan penderita secara tepat, serta
gerakan pemantauan dan pengendalian vektor melalui gerakan 3 M.
Sedangkan gambaran penemuan dana penanganan penderita DBD menurut hasil
pengumpulan data/indikator kinerja SPM dari kabupaten/kota selama dua tahun terakhir
dapat dilihat dalam Gambar 4.34 berikut.




79
GAMBAR 4.34
JUMLAH KASUS DBD DITEMUKAN DAN DITANGANI
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004
89 , 27 2
80, 454
7 2, 4 88
61, 912
0
15 000
300 00
450 00
600 00
750 00
900 00
200 3 2 004
KA SUS DI TEM UKA N KA SUS DI TA NGA NI

Sumber: data indikator kinerja SPM Kab/Kota

Dari gambar di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2004 terlihat adanya penurunan
persentase kasus DBD yang ditangani oleh institusi pelayanan kesehatan menjadi (85,4 %)
bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2003 (90,12 %). Rincian penemuan dan
penanganan kasus DBD oleh institusi pelayanan kesehatan selama tahun 2004 dapat dilihat
pada Lampiran 4.26.

7. Pemberantasan Penyakit Malaria
Penegakan diagnosa penderita secara cepat dan pengobatan yang tepat merupakan
salah satu upaya penting dalam rangka pemberantasan penyakit Malaria di samping
pengendalian vektor potensial.
Terdapat dua model pendekatan dalam upaya penegakan diagnosa penderita, yaitu
wilayah J awa Bali dilakukan secara aktif (Active Case Detection) oleh J uru Malaria Desa
dengan mendatangi warga yang mengeluh gejala klinis Malaria, sedangkan untuk wilayah
luar J awa Bali dilakukan secara pasif dengan menunggu pasien datang berobat ke pelayanan
kesehatan. Upaya pengobatan tidak hanya diberikan kepada penderita klinis atau penderita
dengan konfirmasi laboratorium namun juga diberikan pada kelompok tertentu untuk tujuan
profilaksis.
Berdasarkan hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM bidang kesehatan dari
kabupaten/kota data penderita ditemukan dan diobati selama dua tahun terakhir dapat dilihat
pada Gambar 4.35 berikut.













80
GAMBAR 4.35
JUMLAH KASUS MALARIA KLINIS DAN KONFIRMASI LAB +
DITEMUKAN DAN DITANGANI DENGAN PENGOBATAN
SECARA NASIONAL AHUN 2003 S/D 2004 T

1,372,680
1,033,945
3,353,872
1,266,235
0
500000
1000000
1500000
2000000
2500000
3000000
3500000
4000000
2003 2004
KASUS DITEMUKAN KASUS DITANGANI


Sumber: data indikator kinerja SPM Kab/Kota

Dari gambar di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2004 terlihat adanya penurunan
persentase kasus yang ditangani oleh institusi pelayanan kesehatan (37,75 %) bila
dibandingkan dengan cakupan tahun 2003 (75,32 %). Gambaran persentase penderita malaria
yang diobati menurut provinsi tahun 20004 dapat dilihat pada Gambar 4.36 berikut.

GAMBAR 4.36
PERSENTASE PENDERITA MALARIA DIOBATI TAHUN 2004















Rincian penemuan dan penanganan kasus malaria oleh institusi pelayanan kesehatan
selama tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 4.28.

8. Pemberantasan Penyakit Kusta
Upaya pelayanan terhadap penderita penyakit Kusta antara lain adalah melakukan
penemuan penderita melalui berbagai survei anak sekolah, survei kontak dan pemeriksaan
intensif penderita yang datang ke pelayanan kesehatan dengan keluhan atau kontak dengan
penderita penyakit Kusta.
Semua penderita yang ditemukan langsung diberikan pengobatan paket MDT yang
terdiri atas Rifampicin, Lampren, dan DDS selama kurun waktu tertentu. Sedangkan untuk
81
penderita yang ditemukan sudah dalam kondisi parah akan dilakukan rehabilitasi melalui
institusi pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas pelayanan lebih lengkap. Hasil dari
berbagai kegiatan penemuan kasus baru penderita Kusta yang dilakukan selama dua tahun
terakhir dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut.
TABEL 4.4
PEMERIKSAAN PENDUDUK, PENEMUAN KASUS BARU ,
PENDERITA CACAT DAN PENDERITA DIOBATI
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004


Suspek Positif
Tahun
Suspek
Diperiksa
PB MB
CDR
Penderita
Cacat(%)
Penderita
Diobati
2003 163.781 3.594 11.956 7,3 8,0
2004 212.462 3.615 12.957 7,8 8,6 17.519
Catatan : MB =Multi Basiller, PB =Pausi Basiller
Sumber: Ditjen PPM & PL, Depkes RI




Gambaran persentase penderita Kusta yang selesai berobat menurut provinsi
dibandingkan angka nasional, dapat dilihat pada Gambar 4.37 berikut.

GAMBAR 4.37
PERSENTASE PENDERITA KUSTA SELESAI BEROBAT
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004



















Sedangkan berdasarkan hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM bidang
kesehatan di kabupaten/kota dilaporkan bahwa jumlah penemuan dan pengobatan penderita
Kusta pada dua tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 4.38 berikut.




82
GAMBAR 4.38
JUMLAH KASUS BARU KUSTA
DITEMUKAN DAN DITANGANI DENGAN PENGOBATAN
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004
12.129
7.953
19.283
14.717
0
4000
8000
12000
16000
20000
2003 2004
KASUS DITEMUKAN KASUS DITANGANI

Sumber: Data Indikator Kinerja SPM Kab/Kota

Dari gambar di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2004 terlihat adanya peningkatan
persentase kasus yang ditangani oleh institusi pelayanan kesehatan menjadi 76,3 %, bila
dibandingkan dengan cakupan tahun 2003 (65,57 %). Rincian penemuan dan penanganan
kasus Kusta oleh institusi pelayanan kesehatan selama tahun 2004 dapat dilihat pada
Lampiran 4.29.

9. Pemberantasan Penyakit Filaria
Upaya kesehatan dalam rangka pemberantasan penyakit Filaria difokuskan pada
kegiatan penemuan penderita, pengobatan dan pengendalian vektor potensial di wilayah-
wilayah endemis. Upaya penemuan penderita yang dilakukan pada 10 desa sentinel di 10
provinsi selama tahun 2003 dan 2004 dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut.
TABEL 4.5
HASIL PENATALAKSANAAN KASUS FILARIASIS
SAMPAI DENGAN TAHUN 2004

2004 2003
No Provinsi Desa Sentinel
Diperiksa Positif Mf Rate Mf Rate
1 NAD Cot Preh 645 25 4,08 18,50
2 SUMUT Kuala Tanjung 634 13 2,13 3,21
3 SUMBAR Koto Pulai 712 17 2,42 3,12
4 RIAU Lab.Tangga Kecil 559 10 2,04 5,15
5 J AMBI Tungkal Hilir 551 6 1,53 2,12
6 BENGKULU Tanggo raso 501 6 1,19 2,36
7 BABEL I r a t 1.205 24 2,79 3,41
8 KALBAR Mensere 715 15 1,90 2,22
9 KALTENG Batin Tikal 652 12 2,77 5,23
10 J ABAR Sejati Mulya 1.025 11 1,14 1,54

Sumber: Ditjen PPM & PL, Depkes RI

Berdasarkan data pada tabel di atas dapat dikatakan bahwa Mf Rate (Mikrofilaria
Rate) di wilayah sentinel selama tahun 2004 mengalami penurunan dibandingkan pada
keadaan tahun 2003. Penurunan tersebut sangat erat kaitannya dengan upaya pengobatan
yang dilakukan secara intensif pada setiap kasus yang ditemukan.
83
Sedangkan cakupan pengobatan masal yang dilakukan selama tiga tahun terakhir
dapat dilihat pada Gambar 4.39 berikut.
GAMBAR 4.39
REALISASI PENGOBATAN FILARIASIS SECARA MASSAL
SECARA NASIONAL TAHUN 2002 S/D 2004
-
5,000,000
10,000,000
15,000,000
0
4
8
12
16
20
TARGET
3,793,488 6,351,961 11,539,682
REALISASI
375,547 876,787 2,126,105
%CAKUPAN
9.90 13.80 18.42
2002 203 2004

Sumber: Ditjen PPM & PL, DepkesRI

Dari gambar di atas terlihat bahwa target dan realisasi pengobatan selama tiga tahun
terakhir mengalami peningkatan, dimana cakupan pengobatan tahun 2002 sebesar 9,9 %
meningkat menjadi 18,42 % pada tahun 2004.
Sedangkan dalam tahun 2004 juga telah dilakukan Hydrocelectomy pada 24 penderita
di Kabupaten Alor yang telah mengalami hydrocele.
Perincian penemuan dan penanganan kasus Filariasis oleh institusi pelayanan
kesehatan selama tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 4.30.

D

. PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI DASAR
Faktor lingkungan mempunyai peran yang sangat besar dalam proses timbulnya
gangguan kesehatan baik secara individual maupun masyarakat umum. Upaya pembinaan
kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar pada prinsipnya dimaksudkan untuk memperkecil
atau meniadakan faktor risiko terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan akibat dari
lingkungan yang kurang sehat. Bentuk upaya yang dilakukan dalam peningkatan kualitas
lingkungan, antara lain melakukan pembinaan kesehatan lingkungan pada masyarakat dan
nstitusi, surveilans vektor dan pengawasan Tempat-Tempat Umum (TTU). i


1

. Pembinaan Kesehatan Lingkungan
Upaya pembinaan kesehatan lingkungan diarahkan pada masyarakat dan institusi
yang memiliki potensi mengancam kesehatan masyarakat yang dilakukan secara berkala.
Kegiatan pembinaan dimaksud mencakup upaya pemantauan, penyuluhan dan pemberian
rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas sanitasi dasar (air bersih dan jamban),
pengelolaan sampah, sirkulasi udara, pencahayaan, dan lain-lain.
Hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM bidang kesehatan dari kabupaten/kota
selama dua tahun terakhir dalam kaitan pembinaan kesehatan lingkungan pada institusi dapat
dilihat pada Gambar 4.40 berikut.


84
GAMBAR 4.40
JUMLAH INSTITUSI TERDAFTAR
DAN DIBINA KESEHATAN LINGKUNGANNYA
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004
531.433
277.153
2.014.384
548.733
0
400000
800000
1200000
1600000
2000000
2003 2004
TERDAFTAR DIBINA

Sumber: data indikator kinerja SPM Kab/Kota

Dari gambar di atas terlihat bahwa jumlah institusi yang terdaftar dan dibina selama
tahun 2004 mengalami peningkatan, namun demikian secara proporsional cakupan institusi
yang dibina mengalami penurunan menjadi 27,24 % dibandung cakupan tahun 2003 sebesar
52,15 %. Persentase institusi yang dibina kesehatan lingkungannya menurut provinsi tahun
2004 dapat dilihat pada Lampiran 4.32.


2. Surveilans Vektor
Upaya surveilans vektor dilakukan untuk mengendalikan vektor potensial dalam
menularkan penyakit antara lain nyamuk. Kegiatan yang dilakukan meliputi survei vektor
untuk mengetahui jenis potensial, bionomik serta strategi pengendaliannya.
Pada tahun 2003, telah dilakukan survei vektor pada 8 kabupaten/kota yaitu
Kabupaten Deli Serdang, Musi Banyuasin, Minahasa, Maros, Padang, Balikpapan, Kupang,
dan J ayapura. Hasil survei menunjukkan bahwa container index positif (jentik) untuk rumah
yang tertata sebesar 15,8%, sedangkan untuk rumah yang tidak tertata container index-nya
sebesar 23,06%, serta container index di tempat-tempat umum sebesar 24%.
Sedangkan hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM bidang kesehatan dari
kabupaten/kota dalam kaitan pengamatan vektor penyakit (nyamuk) pada rumah/ bangunan
selama dua tahun terakhir dapat dilihat dalam Gambar 4.41 berikut.












85
GAMBAR 4.41
JUMLAH RUMAH DAN BANGUNAN YANG DIAMATI
DAN DINYATAKAN BEBAS JENTIK
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004
8,809,542
6,004,806
10,468,650
6,463,787
0
2000000
4000000
6000000
8000000
10000000
12000000
2003 2004
DIPERIKSA BEBAS JENTIK

Sumber: Data Indikator Kinerja SPM Kab/Kota

Dari gambar di atas terlihat bahwa jumlah rumah/bangunan yang diperiksa dan yang
dinyatakan bebas jentik selama tahun 2004 mengalami peningkatan, namun secara
proporsional mengalami sedikit penurunan menjadi 61,74 % dibanding cakupan tahun 2003
sebesar 68,16 %. Gambaran persentase rumah/bangunan bebas jentik menurut provinsi dapat
dilihat pada Gambar 4.42, sedangkan data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.33.

GAMBAR 4.42
PERSENTASE RUMAH DAN BANGUNAN YANG DIAMATI
DAN DINYATAKAN BEBAS JENTIK MENURUT PROVINSI TAHUN 2004




















86
3. Pengawasan Tempat-tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan

Pengawasan terhadap Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengelolaan
Makanan (TUPM) dilakukan untuk meminimalkan faktor risiko sumber penularan bagi
masyarakat yang memanfaatkan TTU dan TUPM. Bentuk kegiatan yang dilakukan antara
lain meliputi pengawasan kualitas lingkungan TTU dan TUPM secara berkala, bimbingan,
penyuluhan dan saran perbaikan dalam pengelolaan lingkungan yang sehat, hingga
pemberian rekomendasi untuk penerbitan izin usaha.
Menurut hasil rekapitulasi Profil Kesehatan Provinsi tahun 2004, dari 171.181
TUPM yang diperiksa sebanyak 117.903 TUPM (68,88%) memenuhi syarat kesehatan.
Angka ini sedikit menurun dibandingkan tahun 2003, dimana persentase TUPM sehat adalah
69,97%. Provinsi dengan persentase tertinggi TUPM sehat adalah di Provinsi Kepulauan
Riau (89,79%), DI Yogyakarta (86,30%), dan Kalimantan Timur (84,92%). Sedangkan yang
terendah adalah di Provinsi Kalimantan Tengah (49,03%), Sulawesi Selatan (52,82%), dan
DKI J akarta (52,94%). J umlah dan persentase TUPM sehat menurut provinsi tahun 2004
dapat dilihat pada Lampiran 2.16.a.
Hasil pemantauan selama tahun 2003, dari 484.667 fasilitas TTU yang dilaporkan,
sebanyak 292.363 (60,3%) telah dilakukan pemeriksaan. Angka cakupan pemeriksaan antar
provinsi sangat bervariasi dengan kisaran antara 27% - 85,4%, yang mana cakupan tertinggi
dilaporkan oleh Provinsi Bangka Belitung (85,4%) dan Bali (82,2%) sedangkan cakupan
terendah dilaporkan oleh Provinsi DKI J akarta (27%), Papua (41,3%), dan Maluku (41,8%).
Persentase TPM memenuhi syarat kesehatan menurut provinsi tahun 2003 dapat dilihat pada
Lampiran 2.16.b.

E

. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
Upaya perbaikan gizi masyarakat pada hakikatnya dimaksudkan untuk menangani
permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan
ditemukan beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada kelompok masyarakat
adalah Kekurangan Kalori Protein, kekurangan vitamin A, Gangguan Akibat Kekurangan
odium, dan anemia gizi besi. Y

1

. Pemantauan Pertumbuhan Balita
Upaya pemantauan status gizi pada kelompok balita difokuskan melalui pemantauan
terhadap pertumbuhan berat badan yang dilakukan melalui kegiatan penimbangan di Posyandu
secara rutin setiap bulan, serta pengamatan langsung terhadap penampilan fisik balita yang
berkunjung di fasilitas pelayanan kesehatan.
Berdasarkan hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM bidang kesehatan dari
kabupaten/kota gambaran dari pemantauan balita dapat dilihat dalam Gambar 4.43 berikut.








87
GAMBAR 4.43
JUMLAH BALITA DITIMBANG, BERAT BADAN NAIK DAN BALITA BGM
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004
15.556.819
10.291.431
604.019
15.590.931
10.268.802
1.818.759
0
3000000
6000000
9000000
12000000
15000000
18000000
2003 2004
BALITA DITIMBANG BALITA BB NAIK BALITA BGM

Sumber: Data Indikator Kinerja SPM Kab/Kota

Melihat gambar di atas, cakupan terhadap balita yang ditimbang selama tahun 2004
mengalami peningkatan walaupun sangat kecil (0,22 %). Dari balita ditimbang hanya 65,86%
yang menunjukkan kenaikan berat badan, kondisi tersebut mengalami penurunan bila
dibandingkan dengan tahun 2003 (66,15 %). Sedangkan untuk balita dengan berat badan di Bawah
Garis Merah (BGM) terlihat mengalami peningkatan yang perlu mendapat perhatian yaitu tahun
2004 sebesar 11,67 % dan tahun 2003 sebesar 3,88 %. Gambaran secara rinci hasil penimbangan
balita menurut provinsi selama tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 4.34.

2

. Pemberian Kapsul Vitamin A
Upaya perbaikan gizi juga dilakukan pada beberapa sasaran yang diperkirakan banyak
mengalami kekurangan terhadap vitamin A, yang dilakukan melalui pemberian kapsul
vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita yang diberikan sebanyak 2 kali dalam satu tahun
(Februari dan Agustus) dan pada ibu nifas diberikan 1 kali .
Gambaran pemberian kapsul vitamin A selama dua tahun terakhir dapat dilihat pada
Gambar 4.44 berikut.
GAMBAR 4.44
PERSENTASE PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A
MENURUT SASARAN DAN PERIODISASI PEMBERIAN
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004
61,5
39,8
73,1
50,8
80,7
81,2
80,4
82,9
0
20
40
60
80
100
2003 2004
% CKP BAYI FEB
% CKP BAYI AGSTK
% CKP BALITA FEB
% CKP BALITA AGST

Sumber: Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Depkes RI
88

Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa cakupan terhadap semua sasaran dan
menurut periode pemberian menunjukkan adanya peningkatan.
Persentase cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi, anak balita, selama tahun
2004 menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4.35.

3. Pemberian Tablet Besi

Pelayanan pemberian tablet besi dimaksudkan untuk mengatasi kasus Anemia serta
meminimalisasi dampak buruk akibat kekurangan Fe khususnya yang dialami ibu hamil.
Perkembangan cakupan pemberian tablet besi pada ibu hamil (Fe-1 dan Fe-3) pada tahun
2000 2004 dapat dilihat pada Gambar 4.45 di bawah ini.

GAMBAR 4.45
PERSENTASE CAKUPAN PEMBERIAN TABLET BESI
PADA IBU HAMIL TAHUN 2000 2004

0
20
40
60
80
100
Fe1
66,8 67,5 64,6 69,14 80,02
Fe3
59,4 63,1 54,9 59,62 71,32
2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI


Pada gambar di atas terlihat bahwa tren cakupan pemberian tablet besi (Fe-1 dan Fe-
3) dari tahun 2000 hingga 2004 menunjukkan peningkatan, walaupun pada tahun 2002 sedikit
mengalami penurunan. Cakupan pemberian tablet besi kepada ibu hamil menurut provinsi
tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 4.36.

4. Pemberian Kapsul Minyak Beryodium

Pemberian kapsul beryodium dimaksudkan untuk menanggulangi kekurangan yodium
secara cepat pada kelompok yang menderita kekurangan yodium dan untuk mencegah
dampak negatif akibat kekurangan yodium pada kelompok khusus baik diberikan secara
individual maupun secara massal.
Hasil pemberian kapsul beryodium pada kelompok wanita usia subur di
desa/kelurahan endemis sedang dan berat selama dua tahun terakhir dapat dilihat pada
Gambar 4.46 berikut.



89

GAMBAR 4.46
PERSENTASE PEMBERIAN KAPSUL BERYODIUM
PADA WANITA USIA SUBUR DI DESA/KELURAHAN ENDEMIS
SECARA NASIONAL TAHUN 2003 S/D 2004
19,81
48,63
0
10
20
30
40
50
60
2003 2004

Sumber: Data Indikator Kinerja SPM Kab/Kota
Pada gambar di atas terlihat bahwa cakupan pemberian pemberian kapsul beryodium
pada WUS di desa/kelurahan endemis sedang dan berat selama tahun 2004 mengalami
peningkatan menjadi 48,63 % dibandingkan pada tahun 2003 (19,81 %). Gambaran secara
rinci hasil pemberian kapsul beryodium menurut provinsi selama tahun 2004 dapat dilihat pada
Lampiran 4.37.
Sedangkan hasil pemberian kapsul beryodium pada kelompok lain selama tahun 2003
yang dilaporkan oleh 15 provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.47 berikut.

GAMBAR 4.47
PERSENTASE CAKUPAN PEMBERIAN KAPSUL MINYAK BERYODIUM
PADA IBU HAMIL, IBU NIFAS DAN ANAK SD
SECARA NASIONAL TAHUN 2003

60,7
31,2
26,11
0
20
40
60
80
Ibu Hamil Ibu Nifas Anak SD
persen

Sumber: Data Indikator Kinerja SPM Kab/Kota


F. PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN

Upaya pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara paripurna. Upaya tersebut dimaksudkan
untuk (1) menjamin ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan obat generik dan obat esensial
yang bermutu bagi masyarakat, (2) mempromosikan penggunaan obat yang rasional dan obat
90
generik, (3) meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di farmasi komunitas dan farmasi
klinik serta pelayanan kesehatan dasar, serta (4) melindungi masyarakat dari penggunaan alat
kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan, mutu, dan keamanan.

1. Peningkatan Penggunaan Obat Rasional
Upaya peningkatan penggunaan obat rasional, diarahkan kepada peningkatan cakupan
dan kualitas pelayanan pembinaan penggunaan obat yang rasional melalui pelaksanaan advokasi
secara lebih intensif agar terwujud dukungan masyarakat yang kondusif serta terbangunnya
kemitraan dengan unit pelayanan kesehatan formal. Sampai dengan akhir tahun 2003,
penggunaan obat rasional baru mencapai 60%. Angka tersebut belum menunjukkan target yang
hendak dicapai yang idealnya penggunaan obat yang rasional mencapai 100%. Berkaitan dengan
hal tersebut perlu terus diupayakan meningkatan obat esensial nasional di setiap fasilitas
kesehatan masyarakat dan melindungi masyarakat dari risiko pengobatan irasional.

2. Pelayanan Farmasi Komunitas dan Farmasi Klinik
Upaya ini dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme tenaga farmasi dalam
rangka meningkatkan kualitas pelayanan farmasi komunitas dan pelayanan farmasi klinik,
yang dilaksanakan antara lain mencakup penyusunan standar/pedoman pelayanan farmasi
komunitas dan pelayanan farmasi di rumah sakit, standar/pedoman pengelolaan perbekalan
farmasi di rumah sakit, serta peningkatan kapasitas dan kompetensi SDM farmasi. Berikut ini
hasil survei pelayanan farmasi di 28 rumah sakit dalam rangka pembinaan dan evaluasi
komite farmasi.


GAMBAR 4.48
HASIL SURVEI PELAYANAN FARMASI DI 28 RUMAH SAKIT
TAHUN 2003
55
41
22
20
0
20
40
60
80
100
PIO RS ber-SOP RS ber-KFT RS DOEN


Gambar 4.48 di atas adalah hasil survei di 28 rumah sakit (RSUD provinsi, RSUD
kabupaten, dan RS swasta) di 7 provinsi yaitu Riau, Bengkulu, Lampung, J awa Timur, Nusa
Tenggara Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara dengan hasil bahwa 55% rumah sakit
melaksanakan pelayanan informasi obat, 41% mempunyai SOP untuk pelayanan farmasi di
rumah sakit, 22% mempunyai KFT, dan baru 20% rumah sakit mempunyai formularium.
Sementara itu, hasil survei pelayanan farmasi di 31 Puskesmas diperoleh hasil bahwa 87,1%
91
pelayanan farmasi dilakukan oleh Asisten Apoteker, 32,2% dilakukan oleh Apoteker, dan
33,5% Puskemas memiliki formularium, sebagaimana disajikan pada Gambar 4.49 berikut
ini.
GAMBAR 4.49
HASIL SURVEI PELAYANAN FARMASI DI 31 PUSKESMAS
TAHUN 2003
3.2%
87.1%
33.5%
0 20 40 60 80 10
Asisten
Apoteker
Apoteker
Formularium
Puskesmas
0


Sedangkan hasil survei pelayanan farmasi di apotik, menunjukkan bahwa secara
umum dalam pelayanan farmasi di apotik sudah memberikan informasi tentang pemakaian
obat, tetapi yang mempunyai jadwal konseling dengan pasien hanya 28,5%.

3. Penerapan Penggunaan Obat Esensial Generik

Kegiatan ini dimaksudkan agar terjaminnya ketersediaan, keterjangkauan, dan
pemerataan obat dalam pelayanan kesehatan, yang pelaksanaannya mencakup pengadaan
buffer stock obat generik esensial, revitalisasi pemasyarakatan konsepsi obat esensial dan
penerapan penggunaan obat esensial generik pada fasilitas pelayanan pemerintah maupun
swasta. Pada tahun 2003 ketersediaan obat esensial nasional sudah mencapai 90%.

4. Pemberdayaan Masyarakat dalam Penggunaan Alat Kesehatan dan Perbekalan
Kesehatan Rumah Tangga (PKRT)

Kegiatan ini dimaksudkan agar masyarakat terlindungi dari penggunaan alat
kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga yang tidak memenuhi persyaratan, mutu
dan keamanan, yang dilaksanakan melalui antara lain monitoring sarana produksi dan
distribusi alat kesehatan dalam rangka Cara Pembuatan Alat Kesehatan (CPAK), sampling
terhadap alat kesehatan dan PKRT yang beredar di pasar dan dijumpai 4,2% dari yang
disampling tidak memenuhi syarat mutu.

5. Pelayanan Masyarakat

Dalam rangka pemberian pelayanan kepada masyarakat selama tahun 2003 telah
dikeluarkan izin di bidang Alat Kesehatan dan PKRT meliputi izin produksi sebanyak 116
buah, izin edar sebanyak 4.519 buah, dan izin penyalur sebanyak 113 buah. Perbandingan
antara izin produksi, distribusi, dan penyalur yang telah diberikan, sebagaimana disajikan
pada Gambar 4.50 berikut.
92

GAMBAR 4.50
PERIZINAN PRODUKSI, DISTRIBUSI, DAN
PENYALUR ALAT KESEHATAN, TAHUN 2003
Penyalur;
113
Produksi;
116
Distribusi;
4519












Gambar 4.51 berikut ini menunjukkan realisasi perizinan usaha Pedagang Besar
Farmasi (PBF) yang diproses dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan
sampai dengan bulan November tahun 2003, yang mana 200 usulan yang diterima dari 197
PBF umum dan 3 PBF bahan baku, 198 di antaranya telah diterbitkan izinnya dan selebihnya
sedang dalam proses.

GAMBAR 4.51
REALISASI PERIZINAN PBF TAHUN 2003
150
160
170
180
190
200
PBF Bahan Baku
3 3
PBF Umum
197 195
Usulan SK MENKES


Izin impor diberikan sesuai dengan persyaratan dari Bea Cukai terhadap barang yang
masuk (alat kesehatan) ke Indonesia, sedangkan izin ekspor berupa Certificate of Free Sale
yang menyatakan bahwa alat kesehatan tersebut telah mendapat izin edar dan diawasi sesuai
dengan sistem yang berlaku di Indonesia.





93
G. PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA

Setiap kejadian bencana yang melanda suatu kawasan selalu menimbulkan berbagai
masalah kehidupan masyarakat hingga menimbulkan banyak korban termasuk gangguan
kesehatan dan kematian.
Bencana alam Tsunami yang terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada
tanggal 26 Desember 2004 yang lalu telah banyak menimbulkan korban meninggal, hilang
dan gangguan kesehatan serta memporakporandakan fasilitas umum dan sosial di wilayah
NAD dan Sumatera Utara. Banyaknya korban tenaga kesehatan dan keluarganya yang
meninggal dan hilang serta hancurnya fasilitas kesehatan telah melumpuhkan fungsi
pelayanan kesehatan pada masyarakat yang seharusnya menjadi ujung tombak dalam
memberikan pertolongan pada korban bencana.
J umlah penduduk dan tenaga kesehatan yang menjadi korban Tsunami dan fasilitas
kesehatan yang mengalami kerusakan dapat dilihat dalam Tabel 4.6 berikut.

TABEL 4.6
JUMLAH KORBAN MENINGGAL DAN HILANG
AKIBAT TSUNAMI DI NAD DAN SUMUT
TANGGAL 26 DESEMBER 2004

No Korban NAD Sumut Tenaga Kes
1 Meninggal 128.803 128 240
2 Hilang 37.066 25 436
Total 165.869 153 676



Sumber : Jurnal Penanggulangan Bencana Tsunami, Depkes RI
Selain tenaga kesehatan yang menjadi korban meninggal/hilang dan hancurnya tempat
tinggal mereka, diantara masyarakat umum terdapat keluarga dari tenaga kesehatan sehingga
secara fisik tenaga tersebut tidak bisa menjalankan kewajibannya secara maksimal yang pada
muaranya berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan.
Bagi masyarakat yang selamat dari bencana, melakukan pengungsian di beberapa
tempat baik di rumah keluarga maupun di tempat-tempat pengungsian baik yang disediakan
oleh masyarakat atau atas inisiatif masyarakat sendiri. Dalam hal ini jumlah pengungsi yang
terdeteksi sebanyak 824.720 jiwa dengan rincian seperti terlihat pada Tabel 4.7 berikut.

TABEL 4.7
PERKIRAAN JUMLAH PENGSUNGSI DAN LOKASI/
BARAK PENGUNGSIAN KORBAN TSUNAMI
DI NAD DAN SUMUT TGL 26 DESEMBER 2004

No Pengungsian
Prov
NAD
Prov
Sumut
Prov
Lain
Total
1 Pengungsi di Kamp Pengungsian 539.385 23.620 1.615 777.620
2 Pengungsi di Rumah Keluarga ... ... ... 260.000
3 Lokasi Pengungsian 61 ... ... 61
4 Barak Pengungsian 854 ... ... 854

Sumber : Jurnal Penanggulangan Bencana Tsunami, Depkes RI

Sedangkan jumlah korban luka parah dan ringan yang telah mendapat pelayanan
kesehatan rawat inap dan rawat jalan dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut.
94

TABEL 4.8
JUMLAH KORBAN YANG DIRAWAT DI FASILITAS KESEHATAN
AKIBAT TSUNAMI DI NAD DAN SUMUT
TGL 26 DESEMBER 2004

Jumlah Korban di Fasilitas Kesehatan
No Korban
NAD Sumut Di Luar NAD&Sumut
1 Rawat Inap 6.894 1.225 233
2 Rawat jalan 148433 1.713 120
Total 155.327 2.938 353

Sumber : J urnal Penanggulangan Bencana Tsunami, Depkes RI

Di samping itu juga dilaporkan beberapa fasilitas pelayanan kesehatan yang hancur dan
mengalami kerusakan ringan hingga berat sebagaimana terlihat dalam Tabel 4.9 sebagai
berikut.
TABEL 4.9
DAFTAR FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN YANG HANCUR DAN
MENGALAMI KERUSAKAN RINGAN-BERAT AKIBAT TSUNAMI
DI NAD DAN SUMUT, TANGGAL 26 DESEMBER 2004

No Korban Hancur
Rusak Ringan s/d
Berat
1 Rumah Sakit 3 3
2 Puskesmas 26 15
3 Klinik Swasta 2 4
4 Pustu 37 22
5 Polindes 172 218
6 Pusling 39 -
7 Ambulan 14 -
Sumber : Jurnal Penanggulangan Bencana Tsunami, Depkes RI

Dengan hancurnya beberapa fasilitas pelayanan kesehatan tersebut serta hilangnya
beberapa tenaga kesehatan, dapat dikatakan bahwa pelayanan kesehatan di wilayah NAD
mengalami kelumpuhan total, sehingga Departemen Kesehatan sebagai institusi yang
bertanggung jawab dalam pelayanan kesehatan menyelenggarakan upaya penanganan
masalah kesehatan akibat bencana dengan kegiatan sebagai berikut.

1. Pembentukan Tempat Pelayanan Kesehatan
Dalam situasi bencana pada umumnya penduduk terkonsentrasi di kamp penampungan
yang biasanya dalam kondisi darurat atau kurang layak menjadi tempat tinggal bagi
masyarakat.
Beberapa saat setelah bencana terjadi jajaran kesehatan segera menata kembali tempat-
tempat pelayanan kesehatan dengan membentuk Pos Pelayanan Kesehatan di tempat
pengungsian, Rumah Sakit Lapangan dan membentuk jaringan untuk rujukan pelayanan
kesehatan lebih lanjut. Tempat pelayanan kesehatan dimaksud dikelola tidak hanya oleh
jajaran kesehatan namun juga atas partisipasi dari lembaga swadaya Nasional dan
Internasional, Organisasi Profesi, Pemerintah Daerah, TNI, negara sahabat dan badan-
95
badan dunia lainnya. Dalam waktu singkat telah dibentuk beberapa Pos Pelayanan
Kesehatan di tempat pengungsian dan Rumah Sakit Lapangan.

2. Mobilisasi Tenaga Kesehatan
Dalam upaya meningkatkan pelayanan sesuai dengan standar, di samping menggerakkan
Brigade Bencana, Departemen Kesehatan juga melakukan mobilisasi tenaga profesional
melalui Organisasi Profesi, Pemerintah Daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga
Pendidikan, TNI, negara sahabat dan badan dunia untuk bekerja di tempat pelayanan
kesehatan baik di pos-pos pengungsian atau Rumah Sakit Lapangan.
Beberapa saat setelah bencana terjadi jajaran kesehatan telah dapat memobilisasi tenaga
medis (dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi), tenaga paramedis perawatan (perawat,
bidan), paramedis non perawatan (nutrisionis, sanitarian, tenaga kesehatan masyarakat,
tenaga farmasi dan lain-lain).
Di samping itu Departemen Kesehatan juga membentuk Tim Lapangan yang diketuai oleh
pejabat eselon I dengan anggota para eselon II dan pelaksana lapangan eselon III dan IV,
untuk membantu dalam penataan manajemen Dinas Kesehatan Provinsi NAD dan Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.

3. Mobilisasi Peralatan dan Bahan Penunjang
Dalam mendukung pelayanan kesehatan yang optimal jajaran kesehatan juga memobilisasi
bantuan peralatan dan bahan penunjang pelayanan kesehatan seperti peralatan medik,
obat-obatan, sarana transportasi dan peralatan pendukung lainya.
Bantuan yang dapat dimobilisasi langsung dikirim oleh donor melalui Departemen
Kesehatan atau langsung kepada Satkorlak di Provinsi NAD/Sumut atau digunakan
langsung di fasilitas pelayanan yang dibangun oleh masing-masing donor.

4. Biaya Operasional
Departemen Kesehatan juga melakukan mobilisasi anggaran untuk mendukung
operasionalisasi dalam pelayanan kesehatan dan penataan manajemen kesehatan di semua
jenjang pelayanan, dan institusi.

Demikian gambaran singkat mengenai situasi upaya kesehatan di Indonesia sampai
dengan tahun 2004.



***


96
BAB V
SI TUASI SUMBER DAYA KESEHATAN


Gambaran mengenai situasi sumber daya kesehatan dikelompokkan menjadi sarana
kesehatan, tenaga kesehatan, dan pembiayaan kesehatan, yang dapat dilihat pada bab ini,
adalah sebagai berikut :

A. SARANA KESEHATAN

Pada bagian ini diuraikan tentang sarana kesehatan di antaranya Puskesmas, rumah
sakit, sarana produksi dan distribusi farmasi dan alat kesehatan, sarana Upaya Kesehatan
Bersumber daya Masyarakat (UKBM), dan institusi pendidikan tenaga kesehatan.

1. Puskesmas

Pada periode tahun 2000 2004, jumlah Puskesmas (termasuk Puskesmas Perawatan)
terus meningkat dari 7.237 unit pada tahun 2000 menjadi 7.540 unit pada tahun 2004. Namun
pada periode tahun itu, rasio Puskesmas terhadap 100.000 penduduk cenderung menurun dari
3,56 per 100.000 penduduk pada tahun 2000 dan 3,49 per 100.000 penduduk pada tahun 2001
menjadi 3,46 per 100.000 penduduk pada tahun 2002 dan tahun 2003, kemudian menjadi
3,47 per 100.000 penduduk pada tahun 2004. Ini berarti bahwa pada periode tahun itu setiap
100.000 penduduk rata-rata dilayani oleh 3-4 unit Puskesmas. J umlah Puskesmas dan rasio
Puskesmas terhadap 100.000 penduduk pada tahun 2000 2004 disajikan pada Gambar 5.1,
gambaran jumlah Puskesmas per 100.000 penduduk menurut provinsi dibandingkan angka
nasional disajikan pada Gambar 5.2. Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.1.
GAMBAR 5.1
JUMLAH PUSKESMAS DAN RASIONYA TERHADAP 100.000 PENDUDUK
TAHUN 2000 2004
7.000
7.100
7.200
7.300
7.400
7.500
7.600
2000 2001 2002 2003 2004
0,00
0,80
1,60
2,40
3,20
4,00
Jumlah Puskesmas Rasio Puskesmas

J ml Puskesmas 7.237 7.277 7.309 7.413 7.540
J ml. Penduduk 203.456.005 208.405.944 211.000.598 214.374.096 217.072.346
RasioPuskesmas 3,56 3,49 3,46 3,46 3,47
Sumber: J umlah Puskesmas : Ditjen Binkesmas, Depkes RI
J umlah Penduduk : BPS/Profil Kesehatan Indonesia, Pusdatin
97

GAMBAR 5.2
JUMLAH PUSKESMAS PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2004





















Sementara itu, bila dibandingkan dengan konsep wilayah kerja Puskesmas, dimana
sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah Puskesmas rata-rata 30.000 penduduk, maka
jumlah Puskesmas per 30.000 penduduk pada tahun 2004 rata-rata 1,04 unit tidak mengalami
perubahan dibandingkan data tahun 2003 yaitu 1,04 unit per 30.000 penduduk.
Pada periode yang sama, jumlah Puskesmas Pembantu juga cenderung meningkat dari
21.267 unit pada tahun 2000 menjadi 22.002 unit pada tahun 2004. Sementara itu, rasio
Puskesmas Pembantu terhadap 100.000 penduduk ada cenderung menurun dari 10,45 per
100.000 penduduk pada tahun 2000 menjadi 10,36 per 100.000 penduduk pada tahun 2001
menjadi 10,29 per 100.000 penduduk pada tahun 2002 dan 10,15 per 100.000 penduduk pada
tahun 2003, kemudian menjadi 10,14 per 100.000 penduduk pada tahun 2004. Ini berarti
bahwa setiap 100.000 penduduk rata-rata dilayani oleh 10-11 unit Puskesmas Pembantu.
J umlah Puskesmas Pembantu dan rasio Puskesmas Pembantu terhadap 100.000 penduduk
pada tahun 2000 2004 disajikan pada Gambar 5.3 berikut ini, sedangkan menurut provinsi
disajikan pada Lampiran 5.2.












98

GAMBAR 5.3
JUMLAH PUSKESMAS PEMBANTU DAN RASIONYA TERHADAP 100.000 PENDUDUK
TAHUN 2000 2004
21.000
21.200
21.400
21.600
21.800
22.000
22.200
2000 2001 2002 2003 2004
J
u
m
l
a
h

P
u
s
k
e
s
m
a
s

P
e
m
b
a
n
t
u
6,00
7,00
8,00
9,00
10,00
11,00
R
a
s
i
o

P
u
s
t
u

/
1
0
0
.
0
0
0

p
e
n
d
J umlah Pustu Rasio Pustu

J ml Pustu 21.267 21.587 21.706 21.762 22.002
J ml. Penduduk 203.456.005 208.405.944 211.000.598 214.374.096 217.072.346
Rasio Pustu 10,45 10,36 10,29 10,15 10,14
Sumber: J umlah Puskesmas : Ditjen Binkesmas, Depkes RI
J umlah Penduduk : BPS/Profil Kesehatan Indonesia, Pusdatin

Berdasarkan jumlah Puskesmas dan Puskesmas Pembantu pada tahun 2000 2004,
maka rasio Puskesmas pembantu terhadap Puskesmas rata-rata 3:1, artinya setiap Puskesmas
rata-rata didukung oleh 3 Puskesmas Pembantu dalam memberikan pelayanan kesehatan
kepada masyarakat. Rasio Puskesmas Pembantu terhadap Puskesmas menurut provinsi pada
tahun 2000 2004 secara rinci disajikan pada Lampiran 5.2.
Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas, sejak Pelita III
sejumlah Puskesmas telah ditingkatkan menjadi Puskesmas dengan tempat perawatan.
Puskesmas Perawatan ini berlokasi jauh dari rumah sakit, di jalur-jalur jalan raya yang rawan
kecelakaan, serta di wilayah atau pulau-pulau yang terpencil. Pada tahun 2000 2004
perkembangan jumlah Puskesmas Perawatan cenderung bertambah, yaitu dari 1.785 unit pada
tahun 2000 dan 1.818 unit pada tahun 2001 menjadi 1.926 unit pada tahun 2002 dan 1.924 unit
pada tahun 2003, dan bertambah lagi menjadi 2.010 unit pada tahun 2004. Perkembangan
jumlah Puskesmas dan Puskesmas Perawatan pada tahun 1998 2004 disajikan pada Gambar
5.3 berikut ini, sedangkan jumlah menurut provinsi disajikan pada Lampiran 5.4.
GAMBAR 5.4
JUMLAH PUSKESMAS DAN PUSKESMAS PERAWATAN
TAHUN 1998 2004
0
2,000
4,000
6,000
8,000
10,000
J
u
m
l
a
h
Puskesmas
7,181 7,195 7,237 7,277 7,309 7,413 7,540
Puskes Perawatan
1,762 1,785 1,785 1,818 1,926 1,924 2,010
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen Binkesmas, Depkes RI

99
Sementara itu, jumlah Puskesmas Keliling baik puskesmas keliling kendaraan
bermotor roda empat (R4/mobil) maupun puskesmas keliling perahu bermotor (PB) pada
tahun 1999 2004 mengalami penurunan. Untuk Puskesmas Keliling R4, jumlahnya
menurun dari 5.541 unit pada tahun 1999 dan 5.551 unit pada tahun 2000 menurun menjadi
5.084 unit pada tahun 2001 dan 4.984 unit pada tahun 2002. Pada tahun 2003 jumlah
Puskesmas Keliling R4 tercatat sebanyak 2.795 unit dan pada tahun 2004 tercatat sebanyak
5.358 unit. Untuk Puskesmas Keliling PB, jumlahnya menurun dari 899 unit pada tahun 1999
menjadi 841 pada tahun 2000, 716 unit pada tahun 2001, 654 unit pada tahun 2002 dan pada
tahun 2003 hanya terdapat 317 unit. Pada tahun 2004 tercatat kenaikan jumlah Puskesmas
Keliling PB menjadi sebanyak 805 unit. J umlah Puskesmas Keliling dan rasionya terhadap
Puskesmas pada tahun 1999 2004 disajikan pada Gambar 5.5 berikut ini, sedangkan jumlah
dan rasionya menurut provinsi disajikan pada Lampiran 5.4.

GAMBAR 5.5
JUMLAH PUSKESMAS KELILING DAN RASIONYA TERHADAP PUSKESMAS
TAHUN 1999 2004
0
2,000
4,000
6,000
8,000
10,000
J
u
m
l
a
h

P
u
s
l
i
n
g

(
R
4

&

R
B
)
0.00
0.20
0.40
0.60
0.80
1.00
R
a
s
i
o

P
u
s
l
i
n
g

p
e
r

P
u
s
k
e
s
m
a
s
Pusling PB 899 841 716 654 317 805
Pusling R4 5,541 5,551 5,084 4,984 2,795 5,358
Rasio Pusling 0.9 0.88 0.8 0.77 0.42 0.82
1999 2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen Binkesmas, Depkes RI

Demikian pula rasio Puskesmas Keliling terhadap Puskesmas pada periode itu juga
cenderung menurun dari 0,9 pada tahun 1999 dan 0,88 pada tahun 2000 menurun menjadi 0,8
pada tahun 2001 dan 0,77 pada tahun 2002. Rasio Puskesmas Keliling terhadap Puskesmas
pada tahun 2003 sebesar 0,42 dan pada tahun 2004 sebesar 0,82.

2. Rumah Sakit

Indikator yang digunakan untuk menilai perkembangan sarana rumah sakit antara lain
dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan yang biasanya diukur dengan jumlah
rumah sakit dan tempat tidurnya serta rasionya terhadap jumlah penduduk.
Pada tahun 1999 2004, perkembangan jumlah rumah sakit (umum dan khusus) di
Indonesia terus meningkat, yaitu dari 1.111 unit pada tahun 1999 naik dan 1.145 unit pada
tahun 2000 menjadi 1.178 unit pada tahun 2001 dan 1.215 unit pada tahun 2002, kemudian
meningkat lagi menjadi 1.234 unit pada tahun 2003 dan 1.246 unit pada tahun 2004. Bila
dilihat menurut kepemilikannya, pada periode itu jumlah rumah sakit pemerintah kira-kira
100
separuh dari seluruh jumlah rumah sakit yang ada. Perkembangan jumlah rumah sakit (umum
dan khusus) di Indonesia tahun 1999 2004 disajikan pada Tabel 5.1 di bawah ini,
sedangkan jumlahnya menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.5.

TABEL 5.1
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT (UMUM & KHUSUS)
DI INDONESIA TAHUN 1999 2004
No. Pengelola/Kepemilikan 1999 2000 2001 2002 2003 2004
1 Departemen Kesehatan 59 59 31 31 31 31
2 Pemerintah Provinsi/Kab/Kota 355 357 386 389 396 404
4 TNI/POLRI 111 111 111 112 112 112
5 BUMN/Departemen Lain 68 68 70 78 78 78
6 Swasta 518 550 580 605 617 621
J umlah 1.111 1.145 1.178 1.215 1.234 1.246
Sumber: Ditjen Yanmedik, Depkes RI

Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap fasilitas pelayanan kesehatan,
jumlah rumah sakit umum (pemerintah dan swasta) pada periode tahun 1995 2004 juga
cenderung meningkat, yaitu dari 850 unit pada tahun 1995 dan 858 unit pada tahun 1996
menjadi 873 unit pada tahun 1997 dan 888 unit pada tahun 1998, kemudian naik lagi menjadi
887 unit pada tahun 1999 dan 910 unit pada tahun 2000, dan terus naik menjadi 935 unit pada
tahun 2001, 953 unit pada tahun 2002, 966 unit pada tahun 2003, dan 976 unit pada tahun
2004. Bila dilihat berdasarkan kepemilikannya, walaupun jumlah rumah sakit umum milik
pemerintah yang mencakup milik Departemen Kesehatan, Pemerintah Provinsi, Pemerintah
Kabupaten/Kota, TNI/POLRI, dan Departemen Lain / BUMN pada periode itu ada kenaikan
namun relatif stabil, sedangkan jumlah rumah sakit umum milik swasta kenaikannya cukup
berarti. Perkembangan jumlah rumah sakit umum di Indonesia tahun 1995 2004 disajikan
pada Gambar 5.6 berikut ini, sedangkan jumlahnya menurut provinsi dan pengelolanya dapat
dilihat pada Lampiran 5.5.
GAMBAR 5.6
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM
TAHUN 1995 2004
0
200
400
600
800
1000
1200
J
u
m
l
a
h

R
S
U
RSU Pemerintah
521 523 522 525 517 520 524 526 534 542
RSU Swasta
329 335 351 363 370 390 411 427 432 434
J umlah RSU
850 858 873 888 887 910 935 953 966 976
1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen Yanmedik, Depkes RI

101
Jumlah rumah sakit khusus (pemerintah dan swasta) pada periode tahun 1997 2004
juga meningkat, dari 217 unit pada tahun 1997 dan 224 unit pada tahun 1998 dan 1999 menjadi
235 unit pada tahun 2000 dan 244 unit pada tahun 2001, kemudian naik lagi menjadi 267 unit
pada tahun 2002, 268 unit pada tahun 2003, dan 270 unit pada tahun 2004. Bila dilihat
berdasarkan kepemilikannya, jumlah rumah sakit khusus milik pemerintah yang mencakup
milik Departemen Kesehatan, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, TNI/POLRI,
dan Departemen Lain / BUMN pada periode itu relatif stabil, sedangkan jumlah rumah sakit
khusus milik swasta kenaikannya cukup bermakna. Perkembangan jumlah rumah sakit khusus
di Indonesia tahun 1997 2004 disajikan pada Gambar 5.7 di bawah ini, sedangkan jumlahnya
menurut jenis rumah sakit, provinsi, dan kepemilikan dapat dilihat pada Lampiran 5.5, dan
Lampiran 5.8.
GAMBAR 5.7
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS
TAHUN 1997 2004
0
100
200
300
400
500
J
u
m
l
a
h

R
S

K
h
u
s
u
s
RSK Pemerintah 77 76 76 75 74 76 83 83
RSK Swasta 140 148 148 160 170 191 185 187
J umlah RSK 217 224 224 235 244 267 268 270
1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen Yanmedik, Depkes RI

Selain jumlah rumah sakit, untuk menggambarkan ketersediaan sarana pelayanan
kesehatan perlu pula disajikan data jumlah tempat tidur rumah sakit. Pada tahun 1997 2004
ada kenaikan jumlah tempat tidur rumah sakit (umum dan khusus), yang mana untuk tempat
tidur rumah sakit umum kenaikannya cukup berarti, sedangkan untuk tempat tidur rumah
sakit khusus relatif sedikit. Situasi perkembangan jumlah tempat tidur rumah sakit secara
ringkat dapat dilihat pada Gambar 5.8 di bawah ini, tetapi gambaran yang lebih rinci untuk
dapat dilihat pada Lampiran 5.7, Lampiran 5.8.
GAMBAR 5.8
PERKEMBANGAN JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT
TAHUN 1997 2004
50,000
75,000
100,000
125,000
150,000
J
u
m
l
a
h

T
e
m
p
a
t

T
i
d
u
r

R
S
TT RSK 18,110 17,894 17,815 17,970 17,269 18,675 18,750 19,591
TT RSU 103,886 105,292 105,783 107,537 109,948 111,539 112,379 112,640
1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen Yanmedik, Depkes RI
102

Selanjutnya, untuk menggambarkan cakupan ketersediaan sarana pelayanan kesehatan
berikut ini disajikan rasio tempat tidur rumah sakit per 100.000 penduduk yang dihitung
berdasarkan jumlah keseluruhan tempat tidur baik rumah sakit umum maupun rumah sakit
khusus. Pada tahun 2000 2004, rasio tempat tidur rumah sakit per 100.000 penduduk relatif
tidak berubah, yaitu berkisar antara 60 62 per 100.000 penduduk atau rata-rata setiap
tempat tidur rumah sakit melayani 1.641 penduduk. J umlah tempat tidur rumah sakit dan
rasionya per 100.000 penduduk pada tahun 2000 2004 disajikan pada Gambar 5.9 di bawah
ini.
GAMBAR 5.9
JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT DAN RASIONYA PER 100.000 PENDUDUK
TAHUN 2000 2004
115,000
120,000
125,000
130,000
135,000
140,000
J
u
m
l
a
h

T
e
m
p
a
t

T
i
d
u
r

R
S
55
57
59
61
63
65
R
a
s
i
o

T
T

R
S

p
e
r

1
0
0
.
0
0
0
P
e
n
d
u
d
u
k
J umlah TT RS 125,504 127,588 130,214 131,129 132,231
Rasio TT 60.97 61.22 61.71 61.17 60.92
2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen Yanmedik, Depkes RI

3

. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
Salah satu indikator penting untuk menggambarkan ketersediaan sarana pelayanan
kesehatan adalah jumlah sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan.
J umlah sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan dari tahun ke tahun
cenderung meningkat. J umlah sarana produksi sediaan farmasi dan alat kesehatan menurut
jenis tahun 1997 2004 disajikan pada Gambar 5.10 di bawah ini, sedangkan jumlahnya
menurut provinsi pada tahun 2001 2004 dapat dilihat pada Lampiran 5.11.
GAMBAR 5.10
JUMLAH SARANA PRODUKSI SEDIAAN FARMASI DAN ALAT KESEHATAN
MENURUT JENIS TAHUN 1997 2004
0
200
400
600
800
1,000
1,200
J
u
m
l
a
h

S
a
r
a
n
a

P
r
o
d
u
k
s
i
Industri Farmasi
235 205 195 198 205 226 229 295
Industri Obat Tradisional
77 79 87 93 81 86 86 89
Industri Kecil Obat Tradisional
559 608 722 872 794 811 1,130 1,134
Industri Alat Kesehatan
198 173 163 272 400 727
Industri Perbkl Kes RT
413 483 554 1,015
Industri Kosmetika
506 541 569 1 088
1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen POM dan Ditjen Yanfar-Alkes, Depkes RI dan Hasil pemutakhiran data
103

J umlah sarana distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan menurut jenis tahun 1997
2004 disajikan pada Gambar 5.11 di bawah ini, sedangkan jumlahnya menurut provinsi
pada tahun 2001 2004 dapat dilihat pada Lampiran 5.12.

GAMBAR 5.11
JUMLAH SARANA DISTRIBUSI SEDIAAN FARMASI DAN ALAT KESEHATAN
MENURUT JENIS TAHUN 1997 2004
0
2,000
4,000
6,000
8,000
10,000
Pedagang Besar Farmasi
1,631 1,718 1,819 2,026 2,082 2,249 2,478 2,432
Apotek
6,903 7,467 7,794 6,196 6,391 7,767 8,364 8,456
Toko Obat
7,101 5,028 7,000 5,246 4,518 5,405 6,610 6,843
Penyalur Perbekalan Alkes
555 574 1,061 1,152 1,639 1,982
Subpenyalur Perbekalan Alkes
621 722 291 343 711 819
1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen POM dan Ditjen Yanfar-Alkes, Depkes RI

Di kabupaten/kota, distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan milik pemerintah
dikelola oleh unit pengelola obat, dahulu disebut sebagai gudang farmasi kabupaten.
Perkembangan jumlah unit pengelola obat (eks gudang farmasi) kabupaten/kota pada tahun
2001 2004 dapat dilihat pada Gambar 5.12 di bawah ini, sedangkan jumlahnya menurut
provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.13.
GAMBAR 5.12
JUMLAH UNIT PENGELOLA OBAT KABUPATEN/KOTA
TAHUN 2001 2004
307
319
332
351
200
250
300
350
400
2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen Yanfar-Alkes, Depkes RI


104
4. Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat

Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di
masyarakat. Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat (UKBM) di antaranya adalah
Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), Polindes (Pondok Bersalin Desa), Toga (Tanaman Obat
Keluarga), POD (Pos Obat Desa), dan sebagainya.
Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal di masyarakat.
Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas, yaitu kesehatan ibu dan anak,
keluarga berencana, perbaikan gizi, imunisasi, dan penanggulangan Diare. Untuk memantau
perkembangannya, Posyandu dikelompokan ke dalam 4 strata, yaitu Posyandu Pratama,
Posyandu Madya, Posyandu Purnama, dan Posyandu Mandiri. Pada tahun 2004 jumlah
Posyandu sebanyak 238.699 buah. J umlah Posyandu ini menurun dibandingkan jumlah
Posyandu tahun 2003, seperti terlihat pada Gambar 5.13 berikut ini.

GAMBAR 5.13
JUMLAH POSYANDU DI INDONESIA
TAHUN 2000-2004
234526
234843
220198
242221
238699
205000
210000
215000
220000
225000
230000
235000
240000
245000
1999/2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Ditjen Binkesmas, Depkes RI

Rasio Posyandu terhadap desa/kelurahan adalah 3,47 atau rata-rata pada tiap
desa/kelurahan terdapat 3-4 Posyandu. Rasio Posyandu terhadap desa/kelurahan terbesar
adalah di DKI J akarta (13,41) dan DI Yogyakarta (12,27). Sedangkan rasio terkecil di Irian
NAD (0,86) dan Sulawesi Tenggara (1,20). Empat provinsi datanya tidak tersedia, yaitu
Kepulauan Riau, Sulawesi Barat, Maluku Utara dan Irian J aya Barat
Polindes merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam rangka
mendekatkan pelayanan kebidanan, melalui penyediaan tempat pertolongan persalinan dan
pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk Keluarga Berencana. Polindes ini juga
dikelompokkan ke dalam 4 strata atau tingkat perkembangannya yaitu Polindes Pratama,
Polindes Madya, Polindes Purnama, dan Polindes Mandiri. Pada tahun 2004, jumlah Polindes
sebanyak 26.975 buah. Rasio Polindes terhadap desa/kelurahan adalah 0,39. Rasio Polindes
terhadap desa/kelurahan terbesar adalah di Kalimantan Barat (0,84), Kepulauan Riau (0,77)
dan NTB (0,67). Sedangkan rasio terkecil di DKI J akarta (di DKI J akarta tidak ada Polindes),
Banten (0,03) dan Maluku (0,08).
105
Pos Obat Desa (POD) merupakan wujud peran serta masyarakat dalam hal
pengobatan sederhana, terutama untuk penyakit yang sering terjadi pada masyarakat
setempat. Pos Obat Desa ini juga dikelompokkan ke dalam 4 strata atau tingkat
perkembangannya yaitu Pos Obat Desa Pratama, Madya, Purnama, dan Mandiri. Pada tahun
2004, jumlah Pos Obat Desa sebanyak 6.596 buah. Rasio POD terhadap desa/kelurahan
adalah 0,10. Rasio POD terhadap desa/kelurahan terbesar adalah di NTB (0,27), J awa Tengah
dan Sulawesi Tengah (masing-masing 0,25). Sedangkan rasio terkecil di DKI J akarta (tidak
ada POD), Bali (hanya terdapat 1 POD atau rasio 0,00) dan Maluku Utara (terdapat 2 POD
atau rasio 0,00). Data selengkapnya mengenai Sarana UKBM tahun 2004 dapat dilihat pada
Lampiran 5.14.

5. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan

Pendidikan tenaga kesehatan dimaksudkan untuk meningkatkan ketersediaan dan
kualitas tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.
Pendidikan tenaga kesehatan diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta melalui berbagai
institusi pendidikan dan jenjang pendidikan. Dari seluruh institusi pendidikan tenaga
kesehatan (Diknakes) yang ada hanya sebagian yang menjadi tanggung jawab Departemen
Kesehatan dalam koordinasi dan pembinaannya, yang dikelompokkan ke dalam institusi
Politeknik Kesehatan (Poltekkes) dan institusi Diknakes Non Poltekkes.
Pada tahun 2004 jumlah Poltekkes di seluruh Indonesia sebanyak 32 buah yang
menyelenggarakan 14 jenis jurusan atau program studi, yaitu Keperawatan, Kebidanan,
Kesehatan Lingkungan, Gizi, Kesehatan Gigi, Farmasi, Analis Kesehatan, Teknik Elektro,
Teknik Radio Diagnostik, Teknik Gigi, Analis Farmasi dan Makanan, Fisioterapi, Okupasi
Terapi dan Ortotik Prostetik. Oleh karena pada umumnya setiap Poltekkes menyelenggarakan
lebih dari satu jenis jurusan atau program studi, maka pada tahun 2004 jumlah jurusan atau
program studi yang diselenggarakan oleh 32 Poltekkes tersebut sebanyak 199 jurusan. Dari
199 jurusan yang diselenggarakan, jurusan terbanyak adalah jurusan Keperawatan (31,66%)
dan Kebidanan (23,62%), selebihnya adalah Gizi (11,56%), Kesehatan Lingkungan
(10,05%), Kesehatan Gigi (9,05%), Analis Kesehatan (6,03%), Farmasi (3,02%), Teknik
Elektro Medik (1,01%), Teknik Radio Diagnostik (1,01%), Fisioterapi (1,01%), Teknik Gigi
(0,50%), Analis Farmasi dan Makanan (0,50%), Okupasi Terapi (0,50%), dan Ortotik
Prostetik (0,50%). J umlah institusi Poltekkes menurut jenis jurusan atau program studi dan
provinsi pada tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 5.19.
Sementara itu, jumlah institusi di luar Poltekkes pada tahun yang sama sebanyak 647
institusi yang mana terbanyak adalah jurusan Keperawatan (70,63%), sedangkan selebihnya
adalah jurusan Kefarmasian (11,28%), Keteknisian Medis (10,82%), Kesehatan Masyarakat
(2,94%), Keterapian Fisik (2,63%), dan Gizi (1,73%). Bila dilihat menurut kepemilikannya,
jumlah institusi Diknakes Non Poltekkes pada tahun 2004, 78,21% adalah milik swasta,
sedangkan selebihnya adalah milik Pemerintah Daerah (15,76%), TNI/POLRI (5,26%), dan
Departemen Kesehatan (Pusat) (0,77%). J umlah institusi Diknakes Non Poltekkes milik Pusat
mengalami penurunan karena institusi milik pusat bergabung dengan Poltekkes. J umlah
institusi Diknakes Non Poltekkes menurut jenis jurusan atau program studi dan status
kepemilikan pada tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 5.21.



106
B. TENAGA KESEHATAN

1. Ketersediaan Tenaga Kesehatan

Sebagaimana diketahui bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan tidak hanya dilakukan
pemerintah, tetapi juga diselenggarakan oleh swasta. Oleh karena itu gambaran situasi
ketersediaan tenaga kesehatan baik yang bekerja di sektor pemerintah maupun sektor swasta
perlu diketahui. Namun sampai saat ini data tenaga kesehatan baik yang bekerja di sektor
pemerintah maupun sektor swasta sangat sulit diperoleh. Data yang tersedia adalah data
PUPNS tahun 2003, data tenaga PTT, data SDM (Sumber Daya Manusia) di rumah sakit dan
data SDM di Puskesmas.
Berdasarkan jumlah PUPNS, PTT dan SDM rumah sakit swasta, jumlah SDM
kesehatan adalah 327.078 orang, terdiri dari 301.215 orang (92,09%) tenaga kesehatan dan
25.863 orang (7,91%) tenaga non kesehatan. Provinsi dengan jumlah SDM kesehatan
terbanyak adalah Jawa Tengah (62.837 orang), diikuti Jawa Timur (34.331 orang) dan Jawa
Barat (31.411 orang). Sedangkan provinsi dengan jumlah SDM kesehatan terendah adalah
Bangka Belitung (1.131 orang), Gorontalo (1.232 orang) dan Maluku Utara (1.794 orang).
Berdasarkan profesinya, dari 301.215 tenaga kesehatan, terbanyak adalah perawat 141.196
orang (46,9%) dan bidan 61.947 orang (20,6%). Jumlah dan persentase tenaga kesehatan
menurut jenisnya disajikan pada Tabel 5.2 di bawah ini.

TABEL 5.2
JUMLAH, PERSENTASE DAN RASIO PER 100.000 PENDUDUK
TENAGA KESEHATAN MENURUT JENISNYA
(DATA PUPNS, TENAGA PTT DAN TENAGA RUMAH SAKIT TAHUN 2003)

No. J enis Tenaga J umlah Persentase Rasio per 100.000 penduduk
1 Dokter Umum 23.904 7,93
11.01
2 Dokter Gigi 7.324 2,43
3.37
3 Dokter Spesialis 9.377 3,11
4.32
4 Dokter Gigi Spesialis 607 0,20
0.28
5 Perawat 141.196 46,88
65.05
6 Perawat Gigi 5.796 1,92
2.67
7 Bidan 61.947 20,57
28.54
8 S1 Farmasi dan Apoteker 1.811 0,60
0.83
9 Analis Farmasi 948 0,31
0.44
10 Asisten Apoteker 7.714 2,56
3.55
11 Administrator Kesmas 7.778 2,58
3.58
12 Sanitarian 13.761 4,57
6.34
13 Gizi 6.857 2,28
3.16
14 Keterapian Fisik 1.433 0,48
0.66
15 Keteknisan Medis 10.762 3,57
4.96
J umlah 301.215 138.76
Jumlah penduduk Indonesia =217.072.346 (Sumber: BPS, Statistik Kesra 2004)
Sumber: Profil Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Indonesia 2004

107
Rasio tenaga kesehatan per 100.000 penduduk sebesar 138,76. Ini berarti bahwa
setiap 100.000 penduduk dilayani oleh 138-139 tenaga kesehatan. Rasio masing-masing jenis
tenaga kesehatan per 100.000 penduduk menunjukkan bahwa rasio jenis tenaga kesehatan per
100.000 penduduk terbesar adalah rasio tenaga keperawatan dan rasio bidan yaitu masing-
masing sebesar 65,05 per 100.000 penduduk dan 28,54 per 100.000 penduduk.
Provinsi dengan jumlah tenaga kesehatan terbanyak adalah J awa Tengah (60,123
orang), diikuti J awa Timur (29,815orang) dan J awa Barat (28,591orang). Sedangkan provinsi
dengan jumlah tenaga kesehatan terendah adalah Bangka Belitung (1,054 orang), Gorontalo
(1,147 orang) dan Maluku Utara (1,669 orang). Namun, jika dilihat rasio jumlah tenaga
kesehatan per 100.000 penduduk, rasio tertinggi adalah Provinsi DKI J akarta diikuti Papua
dan NAD dan terendah adalah Banten, Lampung dan J awa Barat. J umlah dan rasio tenaga
kesehatan per 100.000 penduduk menurut provinsi tahun disajikan pada Gambar 5.15 berikut
ini. Sedangkan data selengkapnya disajikan pada Lampiran 5.22.

GAMBAR 5.14
JUMLAH TENAGA KESEHATAN MENURUT MENURUT PROVINSI
TAHUN 2003

60.123
29.815
28.591
26.991
22.065
11.535
11.299
9.314
8.463
7.174
7.095
6.530
6.142
5.659
5.492
5.236
4.953
4.924
4.845
4.512
4.425
4.317
4.211
3.897
3.443
3.252
3.042
1.669
1.147
1.054
J ATENG
J ATIM
J ABAR
DKI J AKARTA
SUMUT
SULSEL
NAD
SUMSEL
SUMBAR
PAPUA
RIAU
N T T
BALI
SULTENG
KALTIM
J AMBI
D I Y
BANTEN
SULUT
KALSEL
KALTENG
N T B
SULTRA
LAMPUNG
KALBAR
BENGKULU
MALUKU
MALUT
GORONTALO
BABEL
0 5.000 10.00015.00020.00025.00030.00035.00040.00045.00050.00055.00060.00065.00070.000
Sumber: Badan PPSDM, Depkes RI










108
GAMBAR 5.15
RASIO TENAGA KESEHATAN PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2003
333
298
281
272
242
234
223
222
213
212
211
199
195
188
188
185
163
155
147
137
128
127
126
112
106
85
81
76
57
53
DKI J AKARTA
PAPUA
NAD
MALUKU
SULTENG
SULUT
MALUT
KALTENG
SULTRA
KALTIM
J AMBI
SUMBAR
BENGKULU
J ATENG
BALI
SUMUT
N T T
D I Y
KALSEL
SULSEL
GORONTALO
SUMSEL
RIAU
BABEL
N T B
J ATIM
KALBAR
J ABAR
LAMPUNG
BANTEN
0 50 100 150 200 250 300 350
Indonesia (141per 100.000 penduduk)
per 100.000 penduduk


Sumber: Badan PPSDM, Depkes RI

Jumlah SDM Kesehatan yang bertugas di rumah sakit tahun 2003 sebanyak 145.009
orang, terdiri dari tenaga kesehatan 133.820 orang (92,28%) dan non tenaga kesehatan 11.189
orang (7,72%). Provinsi dengan jumlah SDM Kesehatan yang bekerja di rumah sakit terbanyak
adalah DKI Jakarta (25.672 orang) diikuti Jawa Timur (19.391 orang) dan Jawa Tengah
(18.761 orang). Sedangkan jumlah terendah adalah Provinsi Gorontalo, Maluku Utara, dan
Irian Jaya Tengah. Data SDM Kesehatan yang bekerja di rumah sakit menurut profesi dan
provinsi disajikan pada Lampiran 5.23.
Jumlah SDM Kesehatan yang bertugas di Puskesmas tahun 2004 adalah 141.566 orang,
7.550 orang bekerja di Puskesmas induk dan 22.002 orang bertugas di Puskesmas Pembantu.
Jumlah dokter umum yang bekerja di Puskesmas sebanyak 8.934 orang (PNS maupun PTT).
Dengan jumlah Puskesmas sebanyak 7.540, maka rata-rata tiap Puskesmas dilayani oleh 1-2
orang dokter umum. J umlah dokter gigi yang bekerja di Puskesmas sebanyak 3.778 orang yang
berarti belum semua Puskesmas memiliki dokter gigi. Jumlah perawat sebanyak 40.070 orang
sehingga setiap Puskesmas dilayani 5-6 orang perawat. Jumlah bidan sebanyak 48.252 orang
sehingga setiap Puskesmas dilayani 6-7 orang bidan. Tenaga kesehatan lain di Puskesmas yaitu
Sarjana Kesehatan Masyarakat, Apoteker, Asisten Apoteker, Perawat gigi, Sanitarian,
Pelaksana gizi, Analis Medis, tidak terdapat di setiap Puskesmas. Data selengkapnya dapat
dilihat dalam Lampiran 5.24.
Jumlah tenaga kesehatan menurut jenis dan provinsi (di luar tenaga kesehatan di Pusat)
tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 5.25. Sedangkan gambaran rasio dokter per 100.000
penduduk dapat dilihat pada gambar 5.16 dan rasio perawat/SKp (Sarjana Keperawatan) per
100.000 penduduk dapat dilihat pada gambar 5.17.
109

GAMBAR 5.16
RASIO DOKTER PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2004




















GAMBAR 5.17
RASIO PERAWAT PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2004

















2. Dokter, Dokter Gigi, dan Bidan sebagai Pegawai Tidak Tetap

Dalam rangka memenuhi kebutuhan dokter di Puskesmas, sejak tahun 1991 telah
dilaksanakan pengangkatan dokter sebagai pegawai tidak tetap (dokter PTT). Sampai dengan
110
April 2004 penempatan dokter PTT di Puskesmas telah dilaksanakan sebanyak 36 angkatan.
Daerah penempatannya dikategorikan menjadi 3 wilayah, yaitu daerah biasa, daerah
terpencil, dan sangat terpencil. Namun sejak mulai angkatan ke-27, kebijakan kategori daerah
penempatan diserahkan kepada daerah.
J umlah kumulatif penempatan dokter PTT mulai dari angkatan I (Agustus 2001)
sampai dengan angkatan XXXVIII (April 2004) sebanyak 33.419 orang. Provinsi yang paling
banyak penempatan dokter PTT adalah Provinsi J awa Barat, J awa Tengah, dan J awa Timur.
Sedangkan yang paling sedikit adalah provinsi-provinsi baru, yaitu Provinsi Maluku Utara,
Gorontalo, dan Kepulauan Bangka Belitung. J umlah dokter PTT menurut provinsi dan
angkatan disajikan pada Lampiran 5.26.
Dokter PTT yang masih aktif sampai April 2004 jumlahnya 9.016 orang yaitu
angkatan XXVIII (Agustus 2001) sampai dengan angkatan XXXVIII (April 2004). Sebanyak
5.705 orang (63,28%) ditempatkan di daerah biasa, 2.328 orang (25,82%) di daerah terpencil
dan 983 orang (10%) di daerah sangat terpencil. Provinsi dengan jumlah dokter PTT yang
masih aktif terbanyak adalah J awa Tengah, J awa Barat dan J awa Timur, sedangkan yang
terendah adalah Bali, Maluku Utara, dan Bangka Belitung. J umlah dokter PTT yang masih
aktif menurut kriteria penempatan dan provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.27.

GAMBAR 5.18
JUMLAH DOKTER PTT YANG MASIH AKTIF
MENURUT PROVINSI S/D APRIL 2004

100
895
683
605
446
379
345
334
329
324
308
303
294
290
271
252
228
225
203
199
187
143
142
129
110
104
79
73
66
64
J ATEN
J ABA
J ATI
SUMU
LAMPUN
J AMB
SULSE
N T
N A
RIA
N T
KALTI
KALSE
SUMSE
SUMBA
BANTE
SUL.TENGGA
BENGKU
PAPU
KALTEN
D I
KALBA
SULTEN
MALUK
DKI
SULU
BA-
GORONTA
MALUKU
BAL
0 200 400 600 800 100 120


Sumber: Badan PPSDM, Depkes RI



111
Sebagaimana dokter PTT, untuk memenuhi kebutuhan tenaga dokter gigi di
Puskesmas dalam upaya meningkatkan kesehatan gigi, sejak tahun 1994 juga dilakukan
penempatan dokter gigi sebagai pegawai tidak tetap (dokter gigi PTT). Sampai dengan April
2004 penempatan dokter gigi PTT di Puskesmas telah dilaksanakan sebanyak 31 angkatan.
J umlah kumulatif pengangkatan dokter gigi PTT mulai dari angkatan I sampai dengan
angkatan XXXI sebanyak 8.258 orang, terbanyak di Provinsi J awa Barat yaitu 1.147 orang,
J awa Timur 985 orang dan J awa Tengah 848 orang. Data selengkapnya disajikan pada
Lampiran 5.28.
J umlah dokter gigi PTT yang masih aktif sampai dengan April 2004 sebanyak 2.854
orang, ditempatkan di daerah biasa 1.930 orang (67,62%), di daerah terpencil 763 orang
(26,74%) dan di daerah sangat terpencil 161 orang (5,64%). Provinsi dengan dokter gigi PTT
yang masih aktif terbanyak adalah J awa Timur, J awa Barat dan J awa Tengah, sedangkan
yang terendah adalah Maluku Utara, Bangka Belitung dan Bali. Data selengkapnya disajikan
pada Lampiran 5.29.

GAMBAR 5.19
JUMLAH DOKTER GIGI PTT YANG MASIH AKTIF
MENURUT PROVINSI S/D APRIL 2004
384
358
246
221
205
122
121
109
108
95
91
89
88
62
62
56
53
50
48
41
36
35
33
31
29
26
15
15
13
12
J ATIM
J ABAR
J ATENG
SULSEL
SUMUT
BANTEN
RIAU
LAMPUNG
SUL.TENGGARA
N T T
SUMBAR
KALTIM
J AMBI
BENGKULU
KALSEL
D I Y
MALUKU
KALBAR
SUMSEL
N T B
N A D
DKI J AKARTA
SULTENG
PAPUA
SULUT
KALTENG
BALI
GORONTALO
BA-BEL
MAL. UTARA
0 100 200 300 400 500


Sumber: Badan PPSDM, Depkes RI

Sementara itu, dalam rangka memenuhi kebutuhan bidan khususnya untuk wilayah
perdesaan termasuk daerah terpencil dalam rangka untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu
dan anak di daerah perdesaan juga dilaksanakan pengangkatan bidan sebagai pegawai tidak tetap
(Bidan PTT) yang ditempatkan di desa. Perkembangan jumlah bidan sebagai pegawai tidak tetap
pada tahun 1999/2000 2002/2003 dapat dilihat pada Gambar 5.20 di bawah ini, sedangkan
jumlahnya menurut provinsi pada tahun 1994 2003 disajikan pada Lampiran 5.30 dan Lampiran
5.31.

112
GAMBAR 5.20
JUMLAH BIDAN SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP
TAHUN 1999/2000 2002/2003
37,319
35,164
33,430
30,096
0
10,000
20,000
30,000
40,000
50,000
1999/2000 2000/2001 2001/2002 2002/2003

Sumber: Biro Kepegawaian, Depkes RI

3. Peserta Didik pada Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan

Pada tahun 2001 2004, jumlah peserta didik pada semua institusi pendidikan tenaga
kesehatan (Diknakes) tidak banyak berubah. J umlah peserta didik pada tahun 2001 sebanyak
133.243 orang yang terdiri atas peserta didik Poltekkes sebanyak 25.780 orang dan peserta
didik non Poltekkes sebanyak 107.463 orang. J umlah peserta didik pada tahun 2002 sebanyak
124.043 orang terdiri dari peserta didik Poltekkes sebanyak 26.684 orang dan peserta didik
non Poltekkes sebanyak 97.359 orang. J umlah peserta didik pada tahun 2003 sebanyak
134.271 orang terdiri dari peserta didik Poltekkes sebanyak 28.412 orang dan peserta didik
non Poltekkes sebanyak 105.859 orang. J umlah peserta didik pada tahun 2004 sebanyak
146.220 orang terdiri dari peserta didik Poltekkes sebanyak 36.387 orang dan peserta didik
non Poltekkes sebanyak 109.833 orang. Perkembangan jumlah peserta didik pada institusi
pendidikan tenaga kesehatan pada tahun 2001 2004 disajikan pada Gambar 5.21 di bawah
ini.

GAMBAR 5.21
JUMLAH PESERTA DIDIK PADA INSTITUSI DIKNAKES
TAHUN 2001 2004
0
50,000
100,000
150,000
200,000
Peserta didik NonPoltekkes
107,463 97,359 105,859 109,833
Peserta didik Poltekkes
25,780 26,684 28,412 36,387
2001 2002 2003 2004

Sumber: Pusdiknakes, Depkes RI
113

Selanjutnya jumlah peserta didik tahun ajaran 2003/2004 dan jumlah lulusan tahun
2003 di Poltekkes dan non Poltekkes menurut sekolah/jurusan/program studi lebih rinci dapat
dilihat pada Lampiran 5.32 dan Lampiran 5.33.
J umlah lulusan Diknakes pada tahun 2001 2004 juga relatif tidak banyak berubah.
J umlah lulusan Diknakes pada tahun 2001 sebanyak 42.057 orang yang terdiri atas lulusan
jenjang pendidikan tinggi setingkat diploma III (J PTD-III) sebanyak 29.974 orang (71,27%),
jenjang pendidikan tinggi setingkat D-I (J PTD-I) sebanyak 167 orang (0,40%), dan jenjang
pendidikan menengah (J PM) sebanyak 11.916 orang (28,33%). J umlah lulusan Diknakes
pada tahun 2002 sebanyak 44.057 orang, yang terdiri atas lulusan J PTD-III sebanyak 32.021
orang (72,68%), J PTD-I sebanyak 257 orang (0,58%), dan J PM sebanyak 11.779 orang
(26,74%). J umlah lulusan Diknakes pada tahun 2003 sebanyak 37.733 orang, yang terdiri atas
lulusan J PTD-III sebanyak 31.927 orang (84.61%), J PTD-I sebanyak 70 orang (0.19%), dan
J PM sebanyak 5736 orang (15.2%). J umlah lulusan Diknakes pada tahun 2004 sebanyak
45.562 orang, yang terdiri atas lulusan J PTD-III sebanyak 41.014 orang (90,02%), J PTD-I
sebanyak 87 orang (0,20%), dan J PM sebanyak 4.461 orang (9,79%). Perkembangan jumlah
lulusan institusi pendidikan tenaga kesehatan pada tahun 2001 2004 disajikan pada Gambar
5.22 di bawah ini.

GAMBAR 5.22
JUMLAH LULUSAN INSTITUSI DIKNAKES
TAHUN 2001 2004
29,974
32,021 31,927
41,014
167 257 70 87
11,916 11,779
5,736
4,461
0
10,000
20,000
30,000
40,000
50,000
2001 2002 2003 2004
JPTD-III
JPTD-I
JPM

Sumber: Pusdiknakes, Depkes RI


4. Produksi Tenaga Kesehatan dan Kebutuhan Tenaga kesehatan

Produksi tenaga kesehatan di Indonesia masih belum memenuhi kebutuhan, kecuali
untuk tenaga perawat. Produksi tenaga perawat gigi, sanitarian dan bidan tahun 2003 masing-
masing hanya mencapai 11,48%,15,98% dan 18,21% dari kebutuhan tambahan tenaga tahun
2004. Untuk dokter umum, kebutuhan tambahan tenaga tahun 2004 telah terpenuhi 65,49%,
dokter gigi 49,77%, dokter spesialis 92,65%, apoteker 35,75%, asisten apoteker 40,80%,
tenaga gizi 32,82%, tenaga kesehatan masyarakat 28,32%. Untuk tenaga perawat, pada tahun
2003 dihasilkan 22.484 orang perawat atau 388,93% dari kebutuhan tambahan tenaga
perawat tahun 2004 yang hanya 5.781 orang. Data produksi tenaga kesehatan tahun 2003 dan
114
rencana kebutuhan tambahan tenaga tahun 2004 selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran
5.34.
Berpedoman pada Indikator Indonesia Sehat 2010, telah disusun perkiraan kebutuhan
tenaga kesehatan per tahun, sehingga pada tahun 2010 target tersebut diharapkan tercapai.
Perkiraan kebutuhan tenaga kesehatan tahun 2004-2010 dapat dilihat pada Lampiran 5.35.

5. Peserta Pendidikan dan Pelatihan Pegawai

Pendidikan dan pelatihan dimaksudkan untuk membina profesionalitas pegawai dalam
rangka meningkatkan kualitas tenaga kesehatan. Pelatihan bagi tenaga kesehatan terdiri atas
pelatihan pra/jabatan atau pra/tugas, pelatihan struktural, pelatihan fungsional, dan pelatihan
teknis. Data pelatihan bagi tenaga kesehatan didapat dari laporan kegiatan Bapelkes dan dari
permintaan sertifikat pelatihan ke Pusdiklat. Sedangkan data pelatihan lainnya yang tidak
dilaksanakan di Bapelkes dan sertifikatnya tidak diperoleh melalui Pusdiklat, tidak tersedia.
Pada tahun 2004 jumlah peserta Diklat yang dilaporkan sebanyak 9.461 orang, dengan
rincian Diklat Pra/J abatan sebanyak 978 orang (10,34%), Diklat Pimpinan sebanyak 343
orang (3,62%), Diklat Fungsional sebanyak 528 orang (5,58%), dan Diklat Teknis sebanyak
7.612 orang (80,46%), sebagaimana disajikan pada Gambar 5.23 berikut ini.


GAMBAR 5.23
PROPORSI TENAGA KESEHATAN YANG MENGIKUTI
PELATIHAN MENURUT JENISNYA TAHUN 2004
Pelatihan Pra-
Jabatan
10.3%
Pelatihan
Pimpinan
3.6%
Pelatihan
Teknis
80.5%
Pelatihan
Fungsional
5.6%


Selanjutnya berikut ini disajikan perkembangan jumlah tenaga kesehatan yang
mengikuti berbagai jenis pelatihan dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2004.









115
TABEL 5.3
JUMLAH DAN PROPORSI TENAGA KESEHATAN YANG MENGIKUTI
BERBAGAI JENIS PELATIHAN TAHUN 1999 2004

1999 2000 2001 2002 2003 2004
J enis Pelatihan
J umlah % J umlah % J umlah % J umlah % J umlah % J umlah %
Pelatihan Pra-J abatan 5.196 17 4.368 25 2.465 22 206 5,5 428 4,8 978 10,3
Pelatihan Pimpinan 1.239 4 349 3 220 2 181 4,8 235 2,6 343 3,6
Pelatihan Fungsional 8.609 29 1.730 9 1.060 10 708 19,0 1.448 16,3 528 5,6
Pelatihan Teknis 14.929 50 16.336 63 7.228 66 2.640 70,7 6.793 76,3 7.612 80,5
J umlah 29.973 100 22.783 100 10.973 100 3.735 100 8.904 100 9.461 100
Sumber : Pusdiklat, Depkes RI

Dari Tabel 5.3 di atas, terlihat bahwa jumlah peserta diklat mengalami penurunan
sejak tahun 2001. Hal ini disebabkan karena adanya penyerahan sebagian besar Bapelkes
milik Departemen Kesehatan kepada Pemerintah Daerah. Sejak saat itu kegiatan pendidikan
dan pelatihan yang dilaksanakan oleh Bapelkes milik Daerah tidak terpantau oleh Pusdiklat
Departemen Kesehatan. J umlah pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan Pusdiklat dan
Bapelkes nasional serta jumlah pesertanya pada tahun 2004 dapat pula dilihat pada Lampiran
5.36.


C. PEMBIAYAAN KESEHATAN

Sesuai dengan data yang berhasil dikumpulkan, untuk menggambarkan situasi
pembiayaan kesehatan di Indonesia, berikut ini uraian tentang pembiayaan kesehatan oleh
pemerintah yaitu mengenai alokasi anggaran Departemen Kesehatan (APBN) baik rutin
maupun pembangunan, alokasi anggaran bersumber APBN per kapita, dan alokasi APBD
Kabupaten/Kota untuk kesehatan, dan juga uraian mengenai pembiayaan kesehatan oleh
masyarakat yaitu mengenai pengeluaran rumah tangga untuk kesehatan dan jaminan
pemeliharaan kesehatan.

1. Pembiayaan Kesehatan oleh Pemerintah

Berikut ini gambaran situasi pembiayaan kesehatan oleh pemerintah yang mencakup
anggaran Departemen Kesehatan baik rutin maupun pembangunan dan anggaran kesehatan
yang bersumber dari APBD Kabupaten/Kota.
J umlah alokasi anggaran (rutin, pembangunan dan PHLN) Departemen Kesehatan
pada tahun 2004 sebesar 7.0122,54 milyar rupiah sedangkan realisasinya sebesar 3.827,71
milyar rupiah.
Anggaran rutin dialokasikan sebesar 1.372,51 milyar rupiah, sedangkan realisasinya
sebesar 1.436,45 milyar rupiah (105%).



116
GAMBAR 5.24
ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN RUTIN DEPKES
TAHUN 2000 2004
0
500,000,000
1,000,000,000
1,500,000,000
2,000,000,000
2,500,000,000
3,000,000,000
Ribuan rupiah
Alokasi
1,380,694,850 1,511,095,708 989,069,545 1,372,514,222
Realisasi
1,950,127,181 2,613,060,056 938,407,224 1,436,450,393
2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Biro Keuangan dan Perlengkapan, Depkes RI

Pada tahun 2004, jumlah alokasi anggaran rutin Departemen Kesehatan sebesar
1.372,51 milyar rupiah. Alokasi terbesar adalah untuk Sekretariat J enderal (922,13 milyar
rupiah), Badan PPSDM Kesehatan (192,03 milyar rupiah), dan Ditjen Pelayanan Medik
(147,81 milyar rupiah). Sedangkan yang terendah adalah untuk Ditjen Pelayanan
Kefarmasian dan Alkes (7,87 milyar rupiah), Inspektorat J enderal (10,54 milyar rupiah), dan
Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat (18,82 milyar rupiah).
Dari jumlah alokasi anggaran rutin Departemen Kesehatan pada tahun 2004 sebesar
itu, telah berhasil digunakan (realisasi) sebesar 1.436,45 milyar rupiah atau sebesar 104,7%.
Persentase realisasi terbesar adalah Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
(129,5%), Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat (117,5%), dan Inspektorat J enderal (111,4%).
Sedangkan yang terkecil adalah Ditjen Pelayanan Medik dan Ditjen PPMPL (96,1%).
Alokasi dan realisasi anggaran rutin Departemen Kesehatan menurut unit kerja pada tahun
2004 disajikan pada Lampiran 5.37.
Pada periode tahun 2000 2004, jumlah alokasi anggaran pembangunan Departemen
Kesehatan (yang terdiri atas rupiah murni dan PHLN) baik yang dikelola oleh unit pusat
maupun yang didistribusikan untuk seluruh provinsi sebagai dana dekonsentrasi, cenderung
meningkat yaitu dari 1.532,62 milyar rupiah pada tahun 2000 menjadi 1.841,28 milyar rupiah
pada tahun 2001 atau naik sebesar 20,14%, naik lagi menjadi 2.451,85 milyar rupiah pada
tahun 2002 atau naik sebesar 33,16%, dan kemudian menjadi 5.138,55 milyar rupiah pada
tahun 2003 atau naik sebesar 109,58%, dan pada tahun 2004 juga sedikit turun menjadi
4.784,19 milyar rupiah atau turun sebesar 6,9%. Sedangkan realisasinya pada tahun 2000
sebesar 853,05 milyar rupiah (55,7%), pada tahun 2001 sebesar 966,04 milyar rupiah
(52,1%), pada tahun 2002 sebesar 2.287,13 milyar rupiah (93,3%), pada tahun 2003 sebesar
4.290,4 milyar rupiah (83,5%), dan pada tahun 2004 sebesar 3.767,26 milyar rupiah (78,7%).
Alokasi dan realisasi anggaran pembangunan Departemen Kesehatan dapat dilihat pada
Gambar 5.25 di bawah ini.




117
GAMBAR 5.25
ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN PEMBANGUNAN DEPKES
TAHUN 2000 2004
0
1,000,000,000
2,000,000,000
3,000,000,000
4,000,000,000
5,000,000,000
6,000,000,000
Ribuan rupiah
Alokasi
1,532,617,719 1,853,250,242 2,451,846,085 5,138,546,085 4,784,192,194
Realisasi
853,050,987 966,038,873 2,287,134,804 4,290,402,595 3,767,260,566
2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Biro Keuangan dan Perlengkapan, Depkes RI

Dari jumlah alokasi anggaran pembangunan Departemen Kesehatan pada tahun 2004
sebesar 4.784,19 milyar rupiah, alokasi terbesar adalah untuk Program Upaya Kesehatan
(4,200,59 milyar rupiah), sedangkan alokasi terkecil untuk Program Obat, Makanan dan
Bahan Berbahaya (11,97 milyar rupiah). Persentase realisasi anggaran pembangunan
Departemen Kesehatan pada tahun 2004 sebesar 78,7%, dengan persentase realisasi terbesar
adalah Program Obat, Makanan, dan Bahan Berbahaya (98,7%), Program Upaya Kesehatan
(81,6%), dan Program Perbaikan Gizi (68,6%), sedangkan yang terkecil adalah Program
Sumber Daya Kesehatan (49%) dan Program Lingkungan Sehat, Perilaku Sehat, dan
Pemberdayaan Masyarakat (52,3%). Alokasi dan realisasi anggaran rutin Departemen
Kesehatan menurut program pada tahun 2004 disajikan pada Lampiran 5.38.
Sementara itu, bila dilihat menurut Eselon I Pusat, dari alokasi anggaran Departemen
Kesehatan yang dialokasikan pada unit pusat sebesar 2.228,06 milyar rupiah pada tahun
2004, alokasi terbesar adalah untuk Sekretariat J enderal (1.306,79 milyar rupiah), Direktorat
J enderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (525,97 milyar
rupiah), dan untuk Direktorat J enderal Bina Kesehatan Masyarakat (167,58 milyar rupiah),
sedangkan alokasi terkecil adalah untuk Direktorat J enderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat
Kesehatan (11,97 milyar rupiah), sedangkan untuk Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan (26,96 milyar rupiah), dan untuk Badan Pengembangan dan Pemberdayaan
Sumber Daya Manusia Kesehatan (76,5 milyar rupiah). Persentase anggaran pembangunan
Departemen Kesehatan yang dialokasikan pada unit pusat pada tahun 2004 sebesar 87,4%,
dengan persentase realisasi terbesar adalah Ditjen Pelayanan Kefarmasian dan Alkes (98,7%),
Sekretariat J enderal (91,4%), dan Ditjen Pelayanan Medik (90,9%), sedangkan yang terkecil
adalah Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (54%), Ditjen Bina Kesehatan
Masyarakat (63,4%), dan Badan PPSDM Kesehatan (69%). Alokasi dan realisasi angagaran
rutin Departemen Kesehatan menurut Eselon I Pusat pada tahun 2004 disajikan pada
Lampiran 5.39.
Untuk daerah, data terakhir adalah data tahun 2003. Pada tahun 2003 alokasi terbesar
adalah untuk Provinsi J awa Timur (223,58 milyar rupiah), J awa Tengah (191,71 milyar
rupiah), dan untuk J awa Barat (189,6 milyar rupiah). Sedangkan alokasi terkecil adalah untuk
Provinsi Banten (45 milyar rupiah), Maluku Utara (45,03 milyar rupiah), dan untuk
Kepulauan Bangka Belitung (47,4 milyar rupiah). Realisasi anggaran pembangunan yang
dialokasikan ke daerah pada tahun 2003 sebesar 80,41%. Provinsi dengan realisasi anggaran
118
terbesar adalah Provinsi Banten (99,88%), Maluku Utara (99,49%), dan J ambi (99,37%).
Sedangkan realisasi terkecil adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (40,11%), Bali (50,32%),
dan J awa Timur (64,24%). Realisasi anggaran pembangunan menurut provinsi pada tahun
2003 dapat dilihat pada Lampiran 5.40. Perkembangan alokasi anggaran pembangunan
Departemen Kesehatan tahun 2000 2004 disajikan pada Gambar 5.26 di bawah ini.

GAMBAR 5.26
ALOKASI ANGGARAN PEMBANGUNAN DEPKES
MENURUT PUSAT DAN DAERAH TAHUN 2000 2004
0
1,000,000,000
2,000,000,000
3,000,000,000
4,000,000,000
5,000,000,000
6,000,000,000
Ribuan rupiah
Daerah
789,402,923 1,081,510,18 1,010,677,64 2,477,564,59 Tdk ada data
Pusat
743,214,796 759,768,930 1,441,168,43 2,660,981,48 2,228,061,74
2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Biro Keuangan dan Perlengkapan, Depkes RI

Sesungguhnya salah satu indikator yang cukup sensitif untuk mengetahui situasi
pembiayaan kesehatan adalah pembiayaan kesehatan per kapita, namun sampai saat ini data
pembiayaan kesehatan per kapita sangat sulit diperoleh, karena melibatkan data pembiayaan
dari berbagai sumber seperti pemerintah (pusat dan daerah), swasta, dan masyarakat. Data yang
tersedia adalah alokasi anggaran pembangunan kesehatan per kapita per tahun yang dihitung
berdasarkan alokasi anggaran pembangunan Departemen Kesehatan untuk pusat dan untuk
daerah (dana dekonsentrasi), tidak termasuk anggaran kesehatan yang bersumber dari APBD
provinsi dan APBD kabupaten/kota. Pada tahun 2000 alokasi anggaran pembangunan
bersumber APBN per kapita per tahun hanya 7.450 rupiah, untuk tahun 2001 hanya 8.840
rupiah, untuk tahun 2002 hanya 11.620 rupiah, dan untuk tahun 2003 hanya 23.970 rupiah.
Alokasi anggaran pembangunan bersumber APBN per kapita tahun 2000 2003 dapat dilihat
pada Gambar 5.27 berikut ini.
GAMBAR 5.27
ALOKASI ANGGARAN PEMBANGUNAN BERSUMBER APBN PERKAPITA
TAHUN 2000 2003
7,450
4,088
11,620
23,970
0
5,000
10,000
15,000
20,000
25,000
30,000
2000 2001 2002 2003

119
Pada tahun 2000, dalam pertemuan antara Departemen Kesehatan dengan seluruh
Bupati/Walikota se-Indonesia, disepakati bahwa pemerintah daerah akan mengalokasikan
15% dari APBD-nya untuk pembiayaan kesehatan. Walaupun sampai saat ini data mengenai
alokasi biaya kesehatan di kabupaten/kota secara lengkap relatif sulit dapat diperoleh, namun
demikian berdasarkan hasil pengumpulan data sumber daya dari Dinas Kesehatan
Kabupaten/kota, menunjukkan bahwa persentase APBD untuk kesehatan terhadap total
APBD kabupaten/kota untuk tahun 2001 2003 relatif tidak banyak berubah dan masih
terlalu kecil bila dibandingkan dengan alokasi yang telah disepakati, yaitu berkisar antara
1,3% 8%. Persentase APBD untuk kesehatan terhadap APBD Kabupaten/Kota menurut
provinsi tahun 2001 2003 dapat dilihat pada Lampiran 5.41.

2. Pembiayaan Kesehatan oleh Masyarakat

Untuk melihat gambaran biaya kesehatan yang dikeluarkan rumah tangga menurut
jenis biayanya, biaya kesehatan dikelompokkan ke dalam biaya pengobatan tradisional, biaya
mengobati sendiri, dan biaya produk dan jasa kesehatan lainnya. Untuk pengobatan
tradisional, rata-rata tertinggi besarnya biaya kesehatan yang dikeluarkan rumah tangga untuk
adalah di Provinsi DKI J akarta (Rp. 5.871,02), J ambi (Rp. 3.791,70), dan Bali (Rp. 3.710,31),
sedangkan yang terendah adalah di Provinsi Gorontalo (Rp. 849,68), Papua (Rp. 904,53), dan
Nusa Tenggara Barat (Rp.1.137,08). Untuk mengobati sendiri, rata-rata tertinggi besarnya
biaya kesehatan yang dikeluarkan rumah tangga adalah di Provinsi Maluku Utara (Rp.
12.857,14), Papua (Rp. 10.251,98), dan DKI J akarta (Rp. 8.860,30), sedangkan yang terendah
adalah di Provinsi Bengkulu (Rp. 4.051,99), Sulawesi Selatan (Rp. 4.136,14), dan Nusa
Tenggara Timur (Rp. 4.442,28). Untuk biaya produk dan jasa kesehatan lainnya, rata-rata
tertinggi besarnya biaya kesehatan yang dikeluarkan rumah tangga adalah di Provinsi DKI
J akarta (Rp. 7.647,98), Papua (Rp. 6.441,40), dan J ambi (Rp. 4.445,97), sedangkan yang
terendah adalah di Provinsi Sulawesi Tenggara (Rp. 375,19), Sulawesi Selatan (Rp. 407,45),
dan Gorontalo (Rp. 526,18). Rata-rata besarnya biaya kesehatan yang dikeluarkan rumah
tangga menurut provinsi, jenis biaya kesehatan, dan daerah tempat tinggal pada tahun 2004
dapat dilihat pada Lampiran 5.42.
Persentase rumah tangga menurut sumber dana yang digunakan untuk pembiayaan
kesehatan, dan daerah tempat tinggal pada tahun 2004 dapat dilihat pada Lampiran 5.43,
Lampiran 5.43.a, dan Lampiran 5.43.b.
Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembiayaan kesehatannya,
sejak lama sudah dikembangkan berbagai cara untuk memberikan jaminan kesehatan bagi
masyarakat. Tingkat kesertaan masyarakat dalam upaya jaminan pemeliharaan kesehatan selama
beberapa tahun terakhir dapat dilihat dalam Gambar 5.28 berikut ini.










120
GAMBAR 5.28
PROPORSI PEMBIAYAAN KESEHATAN MASYARAKAT
BERDASARKAN SUMBER PEMBIAYAAN
TAHUN 1993, 2001 - 2004
0
20
40
60
80
100
Non JPK
84.5 79.8 78.9 76.4 73.7
JPK
15.5 20.2 21.1 23.6 26.3
1993 2001 2002 2003 2004

Sumber: - data 1993, Laporan Bank Dunia
- data 2001, Hasil analisis lanjut data SUSENAS
- data 2002-2004, Laporan Dinkes Provinsi

Rincian jumlah dan persentase kepesertaan penduduk dalam jaminan pemeliharaan
kesehatan dapat dilihat pada Lampiran 5.44.
Pada saat ini berkembang berbagai cara pembiayaan kesehatan pra upaya, yaitu Dana
Sehat, Asuransi Kesehatan (Askes), Asuransi Tenaga Kerja (Astek)/Jaminan Sosial Tenaga
Kerja (Jamsostek), Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (J PKM), dan asuransi
kesehatan lainnya, serta Kartu Sehat untuk penduduk miskin. Perkembangan kepesertaan
masyarakat dalam jaminan pemeliharaan kesehatan pada tahun 2002 2004 dapat dilihat pada
gambar di bawah ini. Rincian distribusi kepesertaan penduduk dalam jaminan pemeliharaan
kesehatan dapat dilihat pada Lampiran 5.45.
GAMBAR 5.29
PERSENTASE KEPESERTAAN JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN
TAHUN 2002 2004
0
2
4
6
8
10
12
14
%
2002
7.15 1.75 1.07 1.09 9.45 0.57
2003
7.19 3.59 2.18 1.04 8.31 1.3
2004
7.0 2.5 1.5 1.03 12.6 2.3
Askes Jamsostek Dana Sehat JPKM Kartu Sehat Lain-lain

Sumber: Laporan Dinkes Provinsi

121
BAB VI
PERBANDI NGAN I NDONESI A DENGAN NEGARA LAI N


Indonesia dengan beberapa negara di Asia Tenggara tergabung dalam sebuah
perkumpulan antar negara yang biasa dikenal dengan Association of South East Asian
Nations (ASEAN). Perkumpulan ini mulai terbentuk pada tahun 1967, yang pada awalnya
hanya terdiri dari lima negara dan saat ini sudah berkembang menjadi sepuluh negara anggota
di dalamnya. Di antara ke-sepuluh negara anggota ASEAN ada yang termasuk dalam
kategori negara maju sedangkan secara umum anggota lainnya termasuk ke dalam kategori
negara berkembang.

A. KEPENDUDUKAN

1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Berdasarkan data yang disampaikan dalam WHO Health Report 2005, tercatat
bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak di antara negara anggota
ASEAN. Vietnam merupakan negara berpenduduk terbanyak kedua di ASEAN dengan
jumlah sekitar 81 juta jiwa dan yang paling sedikit penduduknya adalah Brunei Darussalam
(sekitar 358 ribu jiwa). Sementara bila dilihat berdasarkan kepadatan penduduknya,
Singapura tercatat sebagai negara yang paling padat yaitu sekitar 6.004 penduduk per km
2
,
kemudian Philipina dengan 270 penduduk per km
2
dan terakhir adalah Laos (24 penduduk
per km
2
).

2. Laju Pertumbuhan Penduduk

Selama kurun waktu 1993 2003, laju pertumbuhan penduduk yang tertinggi di
antara negara anggota ASEAN terjadi di negara Kamboja dengan pertumbuhan sebesar 2,7
%. Sementara itu, meski Singapura tingkat kepadatan penduduknya cukup tinggi ternyata laju
pertumbuhan penduduknya pun merupakan tertinggi kedua di antara negara ASEAN (2,6%).
Untuk kurun waktu tersebut, Indonesia memiliki laju pertumbuhan penduduk 1,4 persen,
sedangkan yang terendah terjadi di Thailand dengan angka sebesar 1,1 persen.

3. Penduduk Menurut Kelompok Usia

Dilihat dari persentase penduduk menurut kelompok usia 014 tahun untuk keadaan
tahun 2003, Laos dan Kamboja merupakan negara yang terbesar dengan kelompok usia
tersebut, masing-masing adalah 44,1% dan 42%. Sementara itu di Indonesia sebesar 29,7%,
sedangkan Thailand dan Singapura merupakan negara dengan komposisi penduduk kelompok
usia 0 14 tahun terendah, masing-masing 21,3% dan 20,8%.
122
Keadaan sebaliknya terjadi pada persentase penduduk usia 65 tahun ke atas, dimana
Singapura dan Thailand yang terbesar (masing masing 7,7% dan 6,6%). Sedangkan di
Indonesia sebesar 5% dan terendah adalah Brunei Darussalam yaitu 2,4%.

GAMBAR 6.1
RASIO BEBAN TANGGUNGAN TAHUN 2003
40
46
50
53
57
58
60
66
80
82
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Per sentase
Singapura
Thailand
Brunei Darussalam
Indonesia
Viet Nam
Myanmar
Malaysia
Philipina
Kamboja
Laos

Sumber: WHO Health Report 2005

Persentase penduduk kelompok usia 0 14 tahun dan kelompok usia 65 tahun ke atas
tersebut memberikan pengaruh pada Rasio Beban Tanggungan (Dependency Ratio). Negara-
negara ASEAN dengan rasio beban tanggungan tertinggi adalah Laos (82%) dan Kamboja
(80%). Singapura merupakan negara dengan rasio beban tanggungan terendah (40%), dan
untuk Indonesia angka tersebut sebesar 53%.

4. Angka Kesuburan Wanita

Angka Kesuburan Wanita atau Total Fertility Rate (TFR) di negara-negara ASEAN
pada tahun 2003 menurut WHO dalam WHO Health Report 2005, yang tertinggi terdapat di
Negara Philipina dengan angka 5,9 yang berarti untuk setiap wanita di negara tersebut rata-
rata memiliki anak 5 sampai dengan 6 orang selama hidupnya, sedangkan Angka Kesuburan
Wanita yang terendah terdapat di Negara Singapura dengan angka 1,3 diikuti Thailand
dengan 1,9. Angka Kesuburan Wanita di Indonesia bila dibandingkan dengan negara ASEAN
lainnya berada di tingkat sedang dengan 2,3. Perbandingan Angka Kesuburan Wanita (Total
Fertility Rate) secara keseluruhan di berbagai negara ASEAN dapat di lihat pada lampiran
6.2.

123
GAMBAR 6.2
ANGKA KESUBURAN WANITA TAHUN 2003

























Sumber: WHO Health Report 2005


5. Angka Kelahiran Kasar

Pada Gambar 6.3, dapat dilihat bahwa Angka Kelahiran Kasar tertinggi di kawasan
Asia Tenggara pada tahun 2003 masih diduduki oleh Laos dengan angka 35 dan diikuti oleh
Kamboja dengan angka 34, sedangkan Angka Kelahiran Kasar terendah terdapat di Singapura
dengan 10 kematian per 1.000 penduduk. Indonesia, Myanmar, Vietnam, Thailand, Filipina,
Malaysia, dan Brunei berada di tingkat sedang. Indonesia sendiri memiliki Angka Kelahiran
Kasar sebesar 21 kelahiran untuk setiap 1.000 penduduk.


124
GAMBAR 6.3
ANGKA KELAHIRAN KASAR TAHUN 2003



Sumber: SOWC UNICEF, 2005

6. Sosial Ekonomi

Salah satu indikator yang menunjukkan tinggi rendahnya status sosial ekonomi suatu
negara adalah Pendapatan Nasional Bruto (PNB) per kapita. Merujuk pada WHO, dalam
Human Development Report 2005, di antara negara-negara anggota ASEAN yang PNB-nya
paling tinggi pada tahun 2003 adalah Brunei Darussalam dengan US$ 24.100 kemudian
diikuti oleh Singapura dengan PNB sebesar US$ 21.230, sedangkan Indonesia berada di
urutan keempat dari bawah dengan US$ 810, setelah Myanmar, Kamboja, dan Laos dengan
PNB masing-masing US$ 220, US$ 310, dan US$ 320.
Dari peta di bawah ini dapat di lihat bahwa Brunei Darussalam dan Singapura berada
di tingkat negara dengan pendapatan tinggi (pendapatan di atas US$ 9.386), sedangkan
Malaysia, Thailand, Filipina dan Indonesia berada di kelompok negara-negara dengan
125
pendapatan sedang (pendapatan berada di antara US$ 760 - US$ 9.386) dan Myanmar,
Vietnam, Laos, serta Kamboja berada di kelompok negara-negara dengan pendapatan
terendah (pendapatan kurang dari US$ 766).
GAMBAR 6.4
PENDAPATAN NASIONAL BRUTO/KAPITA TAHUN 2003

























Sumber: Human Development Report 2005

7. Pembiayaan Kesehatan

Beberapa indikator penting yang digunakan untuk melihat dan menganalisis
pembiayaan kesehatan adalah Persentase Keseluruhan Pengeluaran di Bidang Kesehatan
terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), Persentase Pengeluaran Pemerintah di Bidang
Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran di Bidang Kesehatan, Persentase Pengeluaran
Sektor Swasta di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran di Bidang Kesehatan, dan
Persentase Pengeluaran di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran Pemerintah.
126


TABEL 6.1
INDIKATOR PEMBIAYAAN KESEHATAN TERPILIH
DI BERBAGAI NEGARA ASEAN TAHUN 2003
Persentase
Keseluruhan
Pengeluaran di Bidang
Kesehatan terhadap
Produk Domestik Bruto
Persentase
Pengeluaran
Pemerintah di Bidang
Kesehatan terhadap
Seluruh Pengeluaran
di Bidang Kesehatan
Persentase
Pengeluaran Sektor
Swasta di Bidang
Kesehatan terhadap
Seluruh
Pengeluaran di
Bidang Kesehatan
Persentase
Pengeluaran
Pemerintah di
Bidang Kesehatan
terhadap Seluruh
Pengeluaran
Pemerintah
No Negara
2002 2002 2002 2002
1 Brunei Darussalam 3.5 78.2 21.8 4.7
2 Kamboja 12 17.1 82.9 18.6
3 Indonesia 3.2 36 64 5.4
4 Laos 2.9 50.9 49.1 8.7
5 Malaysia 3.8 53.8 46.2 6.9
6 Myanmar 2.2 18.5 81.5 2.3
7 Philipina 2.9 39.1 60.9 4.7
8 Singapura 4.3 30.9 69.1 5.9
9 Thailand 4.4 69.7 30.3 17.1
10 Vietnam 5.2 29.2 70.8 6.1
Sumber: WHO Health Report 2005
Pada tahun 2002, Kamboja merupakan negara yang persentase keseluruhan
pengeluaran di bidang kesehatan terhadap PDB paling tinggi dengan 12% dikuti oleh
Thailand dan Singapura dengan masing-masing 4,4% dan 4,3%. Untuk persentase
pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan terhadap seluruh pengeluaran di bidang
kesehatan yang paling tinggi adalah Brunei Darussalam dengan 78,2% baru kemudian
Thailand dengan 69,7%, sedangkan yang paling rendah adalah Kamboja dengan 17,1%
diikuti oleh Myanmar dengan 18,5% dan secara otomatis persentase biaya yang dikeluarkan
oleh sektor swasta lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Indonesia sendiri termasuk negara yang persentase pengeluaran pemerintah di bidang
kesehatannya lebih rendah dibandingkan biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh sektor
swasta dengan perbandingan 36:64.
Untuk indikator yang terakhir, yakni persentase pengeluaran pemerintah di bidang
kesehatan terhadap seluruh pengeluaran pemerintah, negara yang persentasenya paling tinggi
adalah Kamboja dengan 18,6% dan diikuti oleh Thailand dengan 17,1%. Indonesia sendiri
persentase pengeluaran pemerintahnya di bidang kesehatan terhadap seluruh pengeluaran
127
pemerintah hanya 5,4% dan berada di urutan ke-empat terendah setelah Myanmar (2,3%),
Philipina (4,7%), dan Brunei Darussalam (4,7%).

B. DERAJAT KESEHATAN

1. Angka Kematian Bayi

Berdasarkan laporan UNICEF dalam The State of The Worlds Children 2005, Angka
Kematian Bayi tertinggi pada tahun 2003 di antara negara-negara di ASEAN adalah Kamboja
diikuti dengan Laos dan Myanmar dengan AKB berturut-turut adalah 97, 82, dan 76 untuk
setiap 1.000 kelahiran hidup, sedangkan yang terendah adalah Singapura dengan angka 3
untuk setiap 1.000 kelahiran hidup, diikuti oleh Brunei Darussalam, dan Malaysia dengan
angka 5 dan 7 kematian untuk setiap 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan AKB untuk Vietnam,
Thailand, Filipina, dan Indonesia berada di tengah-tengah AKB berturut-turut 19, 23, 27 dan
31 kematian untuk setiap 1.000 kelahiran hidup.

GAMBAR 6.5
ANGKA KEMATIAN BAYI, 2003

Sumber: SOWC UNICEF, 2005
128
2. Angka Kematian Balita

Pada tahun 2003, Myanmar dan Kamboja berturut-turut merupakan negara dengan
Angka Kematian Balita tertinggi di antara negara-negara di ASEAN berdasarkan laporan
UNICEF dalam The State of The Worlds Children 2005. AKABA di kedua negara tersebut
berada pada angka di atas seratus, yakni 140 untuk Kamboja dan 107 untuk Myanmar,
sedangkan Laos menduduki urutan ketiga dengan AKABA sebesar 91 kematian untuk setiap
1.000 kelahiran hidup. Indonesia, Philipina, Thailand, dan Vietnam berturut-turut menduduki
peringkat ke 4, 5, 6, dan 7 dengan AKABA sebesar 41, 36, 26, dan 23. Sedangkan Singapura,
Malaysia, dan Brunei Darussalam merupakan negara-negara dengan AKABA terendah
dengan AKABA masing-masing sebesar 3, 6, dan 7 kematian untuk setiap 1.000 kelahiran
hidup.

GAMBAR 6.6
ANGKA KEMATIAN BALITA, 2003


Sumber: SOWC UNICEF, 2005


129
3. Angka Kematian Kasar

Di antara negara-negara anggota ASEAN, pada tahun 2003 Laos merupakan negara
dengan Angka Kematian Kasar atau Crude Death Rate (CDR) tertinggi, yakni sebesar 12
diikuti oleh Myanmar CDR sebesar 11 untuk setiap 1.000 penduduk. Sementara itu, Vietnam,
Thailand, Indonesia dan Kamboja berada memiliki CDR sedang dengan range antara 6
sampai 10 kematian per 1.000 penduduk. Sedangkan Malaysia, Phlipina, Singapura masing-
masing memiliki nilai CDR sebesar 5 dan Brunei Darussalam memiliki nilai CDR terendah
dengan 3 kematian untuk setiap 1.000 penduduk.

GAMBAR 6.7
ANGKA KEMATIAN KASAR, 2003


Sumber: SOWC UNICEF, 2005





130
4. Usia Harapan Hidup

Pada tahun 2003, menurut WHO dalam WHO Health Report Tahun 2005, di antara
kesepuluh negara-negara anggota ASEAN, Singapura merupakan negara dengan Usia
Harapan Hidup waktu lahir (Expectation of Life at Birth) paling tinggi dengan 80 tahun,
diikuti oleh Brunei Darussalam darussalam dan Malaysia dengan masing-masing memiliki
Usia Harapan Hidup (UHH) sebesar 77 dan 72 tahun seperti terlihat pada gambar di bawah
ini. Negara yang memiliki Usia Harapan Hidup waktu lahir terendah adalah Kamboja dengan
54 tahun diikuti oleh Myanmar dan Laos dengan UHH 59 tahun. Sedangkan Indonesia berada
di urutan keempat terendah dengan 67 tahun.

5. Cakupan Imunisasi dan Vitamin A
Berdasarkan data yang didapatkan oleh UNICEF dalam WHO Health Report Tahun
2005, pada tahun 2003, Brunei Darussalam merupakan negara dengan cakupan imunisasi
BCG, DPT, Polio, Hepatitis B, dan Campak paling tinggi dengan cakupan sebesar 99%,
sedangkan Laos merupakan negara dengan cakupan imunisasi BCG, DPT, Polio, dan
Campak paling rendah. Untuk Hepatitis B, negara yang cakupan imunisasinya terendah
adalah Philipina. Untuk Imunisasi BCG selain Brunei Darussalam yang cakupannya
mencapai 99%, Malaysia dan Thailand juga mencapai cakupan imunisasi BCG sebesar 99%,
sedangkan untuk imunisasi DPT selain Brunei Darussalam, Vietnam juga tercatat memiliki
cakupan imunisasi sebesar 99%. Indonesia sendiri, untuk cakupan imunisasi BCG berada
diurutan ke-empat terendah dengan 82%, untuk imunisasi DPT, Polio, dan Campak berada di
urutan ke-tiga terendah dengan 70% untuk DPT dan Polio, sedangkan untuk Campak
cakupan imunisasinya adalah 72%.

6. Sumber Air Bersih dan Sanitasi
Negara di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2002 yang memiliki persentase
tertinggi untuk cakupan penggunaan air bersih adalah Malaysia dengan 95% (di luar Brunei
Darussalam dan Singapura). Negara yang cakupan penggunaan air bersihnya paling rendah
adalah Kamboja dengan 34% diikuti oleh Laos dengan 43%, sedangkan Indonesia berada di
posisi tengah dengan cakupan penggunaan air bersih sebesar 78%.
Untuk cakupan penggunaan sarana sanitasi sehat, Thailand merupakan negara yang
cakupan penggunaan sarana sanitasi sehat tertinggi dengan 99%, sedangkan yang terendah
adalah Laos dengan hanya 24%. Indonesia sendiri masih berada di posisi tengah dengan 52%.

131

BAB VI I
P E N U T U P


Sesungguhnya data dan informasi sangat dibutuhkan bagi para penentu kebijakan dan
perencana pembangunan kesehatan di segala tingkat administrasi. Profil Kesehatan Indonesia
ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan untuk menilai pencapaian program di setiap
provinsi. Dengan adanya penyajian data dan informasi di dalam Profil Kesehatan Indonesia
dalam bentuk narasi dan lampiran diharapkan dapat digunakan untuk mengambil langkah
langkah perbaikan dari setiap program, sehingga hasilnya dapat lebih dirasakan oleh
masyarakat dalam bentuk pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau.
Data dan informasi yang terdapat dalam Profil Kesehatan Indonesia ini adalah
berdasarkan pencapaian Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Indikator Standar Pelayanan
Minimal (SPM) Bidang Kesehatan sebagai penilaian kinerja kabupaten/kota di provinsi
masing-masing. Dengan adanya berbagai terobosan dalam rangka pengadaan data dan
informasi di setiap provinsi baik moril maupun materiil yang dilakukan Pusat Data dan
Informasi diharapkan Profil Kesehatan tahun-tahun yang akan datang dapat lebih cepat dan
tepat. Ada beberapa data dan informasi yang tidak termasuk dalam kedua indikator tersebut,
tetapi menjadi bencana nasional pada tahun 2004 juga telah kami sajikan data dan
informasinya untuk menambah kayanya penyajian Profil Kesehatan Indonesia 2004 ini.
Untuk perbaikan ke depan terhadap substansi penyajian ataupun waktu terbit dari
Profil Kesehatan Indonesia ini dibutuhkan adanya komitmen bersama, keseriusan dan
dukungan dari segala pihak khususnya unit-unit di lingkungan Departemen Kesehatan agar
penyajian Profil Kesehatan Departemen Kesehatan ini baik substansi penyajian maupun
waktu terbitnya menjadi lebih baik dan lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya, sehingga
tujuan agar Profil Kesehatan Indonesia dapat menjadi salah satu sumber data dan informasi
dapat tercapai.
Demikianlah penyajian Profil Kesehatan Indonesia tahun 2004, tak ada gading yang
tak retak walaupun masih jauh dari yang diharapkan semoga narasi dan lampiran ini dapat
memenuhi kebutuhan akan data dan informasi kesehatan untuk melihat seberapa jauh
perubahan yang telah dicapai dari tahun ke tahun terhadap pembangunan kesehatan secara
menyeluruh.


***
132
DAFTAR PUSTAKA


Badan Pusat Statistik. 1995. Estimasi Parameter Demografi SUPAS 1995. BPS, J akarta

___________. 2000. Gender Statistics and Indicators. BPS, J akarta

___________. 2001. Indonesia, Laporan Pembangunan Manusia 2001, Menuju Konsensus
Baru: Demokrasi dan Pembangunan Manusia di Indonesia. BPS-Bappenas-
UNDP, J akarta

___________. 2000. Indikator Kesejahteraan Anak 2000. BPS, J akarta

___________. 2001. Indikator Kesejahteraan Anak 2001. BPS, J akarta

___________. 2004. Indikator Kesejahteraan Rakyat 2003. BPS, J akarta

___________. 2000. Penduduk Indonesia, Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000. BPS, J akarta

___________. 2002. Profil Kesehatan Ibu dan Anak 2001. BPS, J akarta

___________. 2002. Statistik Indonesia 2002. BPS, J akarta

___________. 2003. Statistik Indonesia 2003. BPS, J akarta

___________. 2004. Statistik Indonesia 2003. BPS, J akarta

___________. 2005. Statistik Indonesia 2004. BPS, J akarta

___________. 2002. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2002. BPS, J akarta

___________. 2003. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2002. BPS, J akarta

___________. 2004. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2003. BPS, J akarta

___________. 2004. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2004. BPS, J akarta

___________. 2004. Statistik Kesehatan 2004. BPS, J akarta

___________. 1998. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1997. ORC Macro.
Calverton, Maryland, USA

___________. 2003. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003. ORC
Macro. Calverton, Maryland, USA

133
BPS, Depkes, dan Bank Dunia. 2003. Laporan Hasil Survei Konsumsi Garam Yodium Rumah
Tangga 2003. BPS, J akarta

BPS, Bappenas, dan UNDP. 2004. National Human Development Report 2004, The Economics
of Democracy, Financing Human Development in Indonesia. BPS, Jakarta

___________. 2003. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator
Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat; Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 1202/MENKES/SK/VIII/2003. Depkes, J akarta

___________. 2003. Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota:
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1457/MENKES/SK/X/2003. Depkes,
J akarta

___________. 2004. Pedoman Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota: Keputusan
Menteri Kesehatan RI Nomor HK.00SJ.SK.VI.1797. Depkes, J akarta

___________. 2004. Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di
Kabupaten/Kota: Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1091/MENKES/SK/
X/2004. Depkes, J akarta

___________. 2002. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan
Nasional (SIKNAS): Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
511/MENKES/SK/V/2002. Depkes, J akarta

___________. 2005. Profil Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan
2004. Ditjen PPM-PL, J akarta

___________. 2005. Profil Kesehatan Indonesia 2003, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
2005

___________. 2005. Profil Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya
Manusia Kesehatan Indonesia 2004, Badan PPSDM, Depkes RI, Jakarta

___________. 1996. Publikasi Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995. Badan
Litbangkes, J akarta

___________. 2005. Publikasi Hasil Analisis Data Survei Kesehatan Nasional 2004. Badan
Litbangkes, Depkes RI, J akarta

___________. 2002. Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Indikator Menuju Indonesia Sehat
2010: Rancangan Keputusan Menteri Kesehatan RI. Depkes, J akarta

___________. 1999. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. Depkes, Jakarta

___________. 2001. Rencana Strategis Pembangunan Kesehatan 2001-2004. Depkes, J akarta

134
___________. 2001. Survei Kesehatan Nasional 2001, Laporan Data Susenas 2001: Status
Kesehatan, Pelayanan Kesehatan, Perilaku Hidup Sehat, dan Kesehatan
Lingkungan. Badan Litbangkes, J akarta

___________. 2001. Survei Kesehatan Nasional 2001, Laporan Studi Mortalitas 2001: Pola
Penyakit Penyebab Kematian di Indonesia. Badan Litbangkes, J akarta

___________. 2004. Sistem Kesehatan Nasional, Departemen Kesehatan RI, J akarta

Departemen Dalam Negeri dan Otonomi Daerah. 2001. Keputusan Menteri Dalam Negeri
dan Otonomi Daerah Nomor 13 Tahun 2001. Depdagri-Otda, J akarta

Departemen Dalam Negeri. 2003. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 109 A Tahun
2003 Tentang Data Wilayah Administrasi Pemerintahan. Depdagri, J akarta

Departemen Dalam Negeri RI 2005, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 tahun 2005
tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, Depdagri, J akarta

Dinas Kesehatan Provinsi se Indonesia. 2004. Profil Kesehatan Provinsi 2003. Dinkes Provinsi

Indonesia. 2001. Undang-undangan Nomor 25 Tahun 2001 Tentang Program Pembangunan
Nasional (Propenas) Tahun 2001-2004. Bappenas, J akarta

SEAMIC. 2003. SEAMIC Health Statistic 2003. SEAMIC/IMFJ , Tokyo

UNICEF. 2004. The State of The Worlds Children 2004, Girls, Education and Development.

WHO. 2000. The World Health Report 1999. WHO-Geneva

___________. 2001. The World Health Report 2000. WHO-Geneva

___________. 2002. The World Health Report 2001. WHO-Geneva

___________. 2003. The World Health Report 2002. WHO-Geneva


***
135
Lampiran 2.1
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 17 4 21 241 112 5.853 5.965
2 Sumatera Utara 18 7 25 326 547 4.924 5.471
3 Sumatera Barat 12 7 19 158 256 634 890
4 Riau 9 2 11 124 190 1.236 1.426
5 J ambi 9 1 10 76 117 1.072 1.189
6 Sumatera Selatan 10 4 14 149 294 2.428 2.722
7 Bengkulu 8 1 9 73 123 1.071 1.194
8 Lampung 8 2 10 164 164 1.967 2.131
9 Kepulauan Bangka Belitung 6 1 7 36 54 266 320
10 Kepulauan Riau 4 2 6 41 105 144 249
11 DKI J akarta 1 5 6 44 267 - 267
12 J awa Barat 16 9 25 568 547 5.231 5.778
13 J awa Tengah 29 6 35 564 744 7.817 8.561
14 DI Yogyakarta 4 1 5 78 47 391 438
15 J awa Timur 29 9 38 654 785 7.682 8.467
16 Banten 4 2 6 130 144 1.340 1.484
17 Bali 8 1 9 56 89 602 691
18 Nusa Tenggara Barat 7 2 9 100 91 711 802
19 Nusa Tenggara Timur 15 1 16 194 299 2.300 2.599
20 Kalimantan Barat 10 2 12 149 80 1.409 1.489
21 Kalimantan Tengah 13 1 14 93 133 1.179 1.312
22 Kalimantan Selatan 11 2 13 119 121 1.835 1.956
23 Kalimantan Timur 9 4 13 122 177 1.201 1.378
24 Sulawesi Utara 6 3 9 105 253 984 1.237
25 Sulawesi Tengah 9 1 10 99 133 1.369 1.502
26 Sulawesi Selatan 20 3 23 244 616 1.964 2.580
27 Sulawesi Tenggara 8 2 10 117 271 1.342 1.613
28 Gorontalo 4 1 5 46 83 364 447
29 Sulawesi Barat 5 5 44 47 312 359
30 Maluku 7 1 8 57 32 842 874
31 Maluku Utara 6 2 8 45 80 676 756
32 Papua 19 1 20 173 81 2.506 2.587
33 Irian J aya Barat 8 1 9 74 41 1.154 1.195
349 91 440 5.263 7.123 62.806 69.929
Sumber : Lampiran Peraturan Menteri DalamNegeri Nomor 18 tahun 2005, tanggal 28 April 2005
Keterangan : *) Nama Provinsi diurutkan sesuai dengan Kode Wilayah Administrasi Pemerintahan
**) J umlah penduduk mengacu pada data P4B (hasil pemutakhiran dalamrangka PILPRES 2004)
Khusus untuk Provinsi NAD, kode wilayah administrasi Pemerintahan diinput sebelumterjadinya gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004
(6)
Kelurahan Kelurahan + Desa
(9) (8) (7)
Kabupaten Kota Kabupaten + Kota Kecamatan
TAHUN 2004
PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN PER PROVINSI
Indonesia
No. Provinsi*)
Desa
(5) (4) (3)
J u m l a h
Lampiran 2.2
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 51.937 4.075.599 78
2 Sumatera Utara 73.587 12.068.731 164
3 Sumatera Barat 42.899 4.528.242 106
4 Riau 94.560 5.679.643 60
5 J ambi 53.437 2.619.553 49
6 Sumatera Selatan 93.083 6.596.057 71
7 Bengkulu 19.789 1.541.551 78
8 Lampung 35.384 7.028.388 199
9 Kepulauan Bangka Belitung 16.171 1.012.655 63
10 DKI J akarta 664 8.725.630 13.141
11 J awa Barat 34.597 38.472.185 1.112
12 J awa Tengah 32.549 32.397.431 995
13 DI Yogyakarta 3.186 3.220.808 1.011
14 J awa Timur 47.922 36.396.345 759
15 Banten 8.651 9.083.144 1.050
16 Bali 5.633 3.393.620 602
17 Nusa Tenggara Barat 20.153 4.076.040 202
18 Nusa Tenggara Timur 47.351 4.139.206 87
19 Kalimantan Barat 146.807 4.010.338 27
20 Kalimantan Tengah 153.564 1.867.231 12
21 Kalimantan Selatan 43.546 3.219.398 74
22 Kalimantan Timur 230.277 2.761.575 12
23 Sulawesi Utara 15.273 2.154.235 141
24 Sulawesi Tengah 63.678 2.245.242 35
25 Sulawesi Selatan 62.365 8.342.083 134
26 Sulawesi Tenggara 38.140 1.911.103 50
27 Gorontalo 12.215 896.004 73
28 Maluku 46.975 1.238.812 26
29 Maluku Utara 30.895 869.235 28
30 Papua 365.466 2.502.262 7
1.890.754 217.072.346 115
Sumber : BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat 2004
LUAS WILAYAH, JUMLAH PENDUDUK DAN KEPADATAN PENDUDUK
MENURUT PROVINSI, PEBRUARI 2004
No. Provinsi Luas Wilayah (Km2) Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk per Km2
(3) (4) (5)
Indonesia
Lampiran 2.3
Angka Beban
<4 5-9 10-14 15-49 50-64 65+ Tanggungan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 352.493 479.573 479.214 2.238.073 383.424 142.822 4.075.599 55,47
2 Sumatera Utara 1.286.239 1.376.628 1.408.862 6.499.220 1.056.505 441.277 12.068.731 59,73
3 Sumatera Barat 464.769 507.357 494.925 2.328.053 468.673 264.465 4.528.242 61,91
4 Riau 620.383 659.301 576.960 3.303.591 398.453 120.955 5.679.643 53,42
5 J ambi 248.348 287.420 276.256 1.501.148 226.918 79.463 2.619.553 51,59
6 Sumatera Selatan 578.431 719.371 748.100 3.733.418 596.606 220.131 6.596.057 52,33
7 Bengkulu 149.963 169.155 172.883 883.581 115.313 50.656 1.541.551 54,33
8 Lampung 640.694 755.291 797.350 3.873.145 667.295 294.613 7.028.388 54,80
9 Kepulauan Bangka Belitung 105.801 93.540 105.631 566.340 104.362 36.981 1.012.655 50,98
10 DKI J akarta 709.642 691.059 691.346 5.506.296 882.352 244.935 8.725.630 36,58
11 J awa Barat 3.486.197 4.005.017 4.083.414 21.299.306 3.929.630 1.668.621 38.472.185 52,49
12 J awa Tengah 2.737.737 3.032.124 3.275.325 17.387.608 3.846.299 2.118.338 32.397.431 52,57
13 DI Yogyakarta 224.643 230.690 241.659 1.784.158 432.970 306.688 3.220.808 45,27
14 J awa Timur 2.860.764 3.189.236 3.147.126 20.237.176 4.599.830 2.362.213 36.396.345 46,54
15 Banten 871.924 1.084.774 1.025.384 5.189.553 695.715 215.794 9.083.144 54,34
16 Bali 314.085 298.059 268.813 1.889.922 414.745 207.996 3.393.620 47,25
17 Nusa Tenggara Barat 435.543 437.578 480.263 2.146.112 404.536 172.008 4.076.040 59,80
18 Nusa Tenggara Timur 514.048 534.984 471.443 2.033.204 399.928 185.599 4.139.206 70,12
19 Kalimantan Barat 405.848 464.797 450.035 2.210.660 355.378 123.620 4.010.338 56,29
20 Kalimantan Tengah 170.085 227.149 211.933 1.070.879 140.081 47.104 1.867.231 54,19
21 Kalimantan Selatan 321.713 329.392 332.172 1.839.747 298.249 98.125 3.219.398 50,58
22 Kalimantan Timur 280.266 297.388 272.794 1.639.549 213.828 57.750 2.761.575 49,00
23 Sulawesi Utara 185.535 212.191 202.756 1.197.194 245.251 111.308 2.154.235 49,35
24 Sulawesi Tengah 265.285 246.905 230.947 1.239.450 192.104 70.551 2.245.242 56,84
25 Sulawesi Selatan 840.135 935.975 910.225 4.368.661 892.317 394.770 8.342.083 58,57
26 Sulawesi Tenggara 229.226 231.533 226.450 1.005.595 157.918 60.381 1.911.103 64,25
27 Gorontalo 95.398 103.329 97.216 490.828 82.015 27.218 896.004 56,41
28 Maluku 147.645 157.196 145.558 634.571 103.781 50.061 1.238.812 67,78
29 Maluku Utara 101.010 105.980 99.862 463.950 69.793 28.640 869.235 62,86
30 Papua 240.403 321.678 289.627 1.468.488 159.082 22.984 2.502.262 53,74
19.884.253 22.184.670 22.214.529 120.029.476 22.533.351 10.226.067 217.072.346 52,26
Sumber: BPS, Statistik Kesra 2004
Indonesia
JUMLAH PENDUDUK MENURUT KELOMPOK UMUR SERTA ANGKA BEBAN TANGGUNGAN PER PROVINSI
TAHUN 2004
No. Provinsi
Kelompok Umur (tahun)
Total
Lampiran 2.4

Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-Laki Perempuan Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 571.808 564.163 1.135.971 1.460.047 1.479.581 2.939.628 2.031.855 2.043.744 4.075.599
2 Sumatera Utara 2.619.830 2.657.801 5.277.631 3.416.250 3.374.850 6.791.100 6.036.080 6.032.651 12.068.731
3 Sumatera Barat 682.840 694.900 1.377.740 1.543.007 1.607.495 3.150.502 2.225.847 2.302.395 4.528.242
4 Riau 1.263.314 1.249.405 2.512.719 1.638.333 1.528.591 3.166.924 2.901.647 2.777.996 5.679.643
5 J ambi 376.195 381.795 757.990 956.509 905.054 1.861.563 1.332.704 1.286.849 2.619.553
6 Sumatera Selatan 1.107.736 1.156.272 2.264.008 2.214.557 2.117.492 4.332.049 3.322.293 3.273.764 6.596.057
7 Bengkulu 220.975 224.258 445.233 565.001 531.317 1.096.318 785.976 755.575 1.541.551
8 Lampung 806.834 771.626 1.578.460 2.847.041 2.602.887 5.449.928 3.653.875 3.374.513 7.028.388
9 Kepulauan Bangka Belitung 220.086 209.237 429.323 302.907 280.425 583.332 522.993 489.662 1.012.655
10 DKI J akarta 4.372.337 4.353.293 8.725.630 - - - 4.372.337 4.353.293 8.725.630
11 J awa Barat 10.102.270 9.936.917 20.039.187 9.351.231 9.081.767 18.432.998 19.453.501 19.018.684 38.472.185
12 J awa Tengah 6.605.986 6.762.770 13.368.756 9.578.265 9.450.410 19.028.675 16.184.251 16.213.180 32.397.431
13 DI Yogyakarta 928.547 961.211 1.889.758 655.874 675.176 1.331.050 1.584.421 1.636.387 3.220.808
14 J awa Timur 7.511.563 7.731.346 15.242.909 10.469.700 10.683.736 21.153.436 17.981.263 18.415.082 36.396.345
15 Banten 2.515.606 2.403.928 4.919.534 2.091.989 2.071.621 4.163.610 4.607.595 4.475.549 9.083.144
16 Bali 875.203 853.968 1.729.171 837.527 826.922 1.664.449 1.712.730 1.680.890 3.393.620
17 Nusa Tenggara Barat 719.323 794.577 1.513.900 1.221.552 1.340.588 2.562.140 1.940.875 2.135.165 4.076.040
18 Nusa Tenggara Timur 335.858 345.154 681.012 1.714.075 1.744.119 3.458.194 2.049.933 2.089.273 4.139.206
19 Kalimantan Barat 547.352 537.088 1.084.440 1.511.501 1.414.397 2.925.898 2.058.853 1.951.485 4.010.338
20 Kalimantan Tengah 278.052 265.559 543.611 690.181 633.439 1.323.620 968.233 898.998 1.867.231
21 Kalimantan Selatan 597.636 620.035 1.217.671 999.912 1.001.815 2.001.727 1.597.548 1.621.850 3.219.398
22 Kalimantan Timur 779.021 728.237 1.507.258 658.146 596.171 1.254.317 1.437.167 1.324.408 2.761.575
23 Sulawesi Utara 417.307 407.395 824.702 680.711 648.822 1.329.533 1.098.018 1.056.217 2.154.235
24 Sulawesi Tengah 230.089 232.430 462.519 922.692 860.031 1.782.723 1.152.781 1.092.461 2.245.242
25 Sulawesi Selatan 1.220.522 1.278.482 2.499.004 2.880.165 2.962.914 5.843.079 4.100.687 4.241.396 8.342.083
26 Sulawesi Tenggara 203.892 212.240 416.132 745.671 749.300 1.494.971 949.563 961.540 1.911.103
27 Gorontalo 113.197 122.863 236.060 326.555 333.389 659.944 439.752 456.252 896.004
28 Maluku 168.176 175.465 343.641 450.068 445.103 895.171 618.244 620.568 1.238.812
29 Maluku Utara 116.160 112.282 228.442 323.476 317.317 640.793 439.636 429.599 869.235
30 Papua 317.274 290.358 607.632 998.157 896.473 1.894.630 1.315.431 1.186.831 2.502.262
46.824.989 47.035.055 93.860.044 62.051.100 61.161.202 123.212.302 108.876.089 108.196.257 217.072.346
Sumber : BPS, Statistik Kesra, 2004
Indonesia
JUMLAH PENDUDUK MENURUT TIPE DAERAH, JENIS KELAMIN, DAN PROVINSI
TAHUN 2004
No. Provinsi
Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan
Lampiran 2.5
(2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 21 16 76,19
2 Sumatera Utara 25 6 24,00
3 Sumatera Barat 19 9 47,37
4 Riau 17 3 17,65
5 J ambi 10 2 20,00
6 Sumatera Selatan 14 6 42,86
7 Bengkulu 9 8 88,89
8 Lampung 10 5 50,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 7 3 42,86
10 DKI J akarta 6 0 0,00
11 J awa Barat 25 2 8,00
12 J awa Tengah 35 3 8,57
13 Daerah Istimewa Yogyakarta 5 2 40,00
14 J awa Timur 38 8 21,05
15 Banten 6 2 33,33
16 Bali 9 1 11,11
17 Nusa Tenggara Barat 9 7 77,78
18 Nusa Tenggara Timur 16 15 93,75
19 Kalimantan Barat 12 9 75,00
20 Kalimantan Tengah 14 7 50,00
21 Kalimantan Selatan 13 2 15,38
22 Kalimantan Timur 13 3 23,08
23 Sulawesi Utara 9 2 22,22
24 Sulawesi Tengah 10 9 90,00
25 Sulawesi Selatan 28 18 64,29
26 Sulawesi Tenggara 10 8 80,00
27 Gorontalo 5 4 80,00
28 Maluku 8 7 87,50
29 Maluku Utara 8 6 75,00
30 Papua 29 26 89,66
440 199 45,23
JUMLAH DAN PERSENTASE DAERAH TERTINGGAL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
(3)
Jumlah (%)
Kabupaten Tertinggal
(5) (4)
Sumber: Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal
Provinsi
Jumlah
No.
(1)
Jumlah Kabupaten/Kota
Lampiran 2.6
No Provinsi
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 583,8 28,81 573,4 28,14 1.157,2 28,47
2 Sumatera Utara 885,8 14,69 914,3 15,17 1.800,1 14,93
3 Sumatera Barat 234,2 10,66 238,2 10,37 472,4 10,46
4 Riau 382,2 13,19 362,2 13,05 744,4 13,12
5 J ambi 163,4 12,30 161,7 12,61 325,1 12,45
6 Sumatera Selatan 694,6 20,92 684,7 20,93 1.379,3 20,92
7 Bengkulu 176,3 22,44 168,8 22,35 345,1 22,39
8 Lampung 803,0 21,97 758,7 22,48 1.561,7 22,22
9 Kepulauan Bangka Belitung 46,5 8,90 45,3 9,26 91,8 9,07
10 DKI J akarta 153,9 2,52 123,2 2,83 277,1 3,18
11 J awa Barat 2.350,8 12,09 2.303,4 12,12 4.654,2 12,10
12 J awa Tengah 3.425,5 21,15 3.418,3 21,07 6.843,8 21,11
13 DI Yogyakarta 301,1 19,01 315,1 19,26 616,2 19,14
14 J awa Timur 3.577,2 19,89 3.735,3 20,28 7.312,5 20,08
15 Banten 401,2 8,71 378,0 8,44 779,2 8,58
16 Bali 115,9 6,78 116,0 6,92 231,9 6,85
17 Nusa Tenggara Barat 479,2 24,76 552,4 25,95 1.031,6 25,38
18 Nusa Tenggara Timur 572,2 27,94 579,9 27,78 1.152,1 27,86
19 Kalimantan Barat 283,5 13,77 274,7 14,07 558,2 13,91
20 Kalimantan Tengah 98,9 10,26 95,2 10,63 194,1 10,44
21 Kalimantan Selatan 113,6 7,12 117,4 7,25 231,0 7,19
22 Kalimantan Timur 159,9 11,17 158,3 12,00 318,2 11,57
23 Sulawesi Utara 101,3 9,24 90,9 8,62 192,2 8,94
24 Sulawesi Tengah 250,4 21,78 235,9 21,63 486,3 21,69
25 Sulawesi Selatan 620,4 15,15 621,1 14,66 1.241,5 14,90
26 Sulawesi Tenggara 209,4 22,06 209,0 21,74 418,4 21,90
27 Gorontalo 129,6 29,56 129,5 28,47 259,1 29,01
28 Maluku 199,3 32,28 198,3 31,99 397,6 32,13
29 Maluku Utara 55,3 12,60 52,5 12,24 107,8 12,42
30 Papua 501,6 38,18 465,2 39,25 966,8 38,69
18.070,0 16,61 18.076,9 16,72 36.146,9 16,66
% % %
(4) (6) (8)
(dalam ribuan) (dalam ribuan)
JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2004
(PERSENTASE TERHADAP TOTAL PENDUDUK PROVINSI )
Laki-laki+Perempuan Perempuan Laki-laki
Sumber : Diolah dari Susenas Kor 2004
(3) (5) (7)
I n d o n e s i a
Jumlah Jumlah Jumlah
(dalam ribuan)
Lampiran 2.7
No Provinsi
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 198,4 1,75 958,8 0,00 1.157,2 3,20
2 Sumatera Utara 633,4 5,57 1.166,7 4,71 1.800,1 4,98
3 Sumatera Barat 167,8 1,48 304,6 1,23 472,4 1,31
4 Riau 160,5 1,41 583,9 2,36 744,4 2,06
5 J ambi 130,8 1,15 194,3 0,78 325,1 0,90
6 Sumatera Selatan 455,1 4,00 924,2 3,73 1.379,3 3,82
7 Bengkulu 112,8 0,99 232,3 0,94 345,1 0,95
8 Lampung 317,3 2,79 1.244,4 5,02 1.561,7 4,32
9 Kepulauan Bangka Belitung 33,0 0,29 58,8 0,24 91,8 0,25
10 DKI J akarta 277,1 2,44 - - 277,1 0,77
11 J awa Barat 2.243,2 19,73 2.411,0 9,73 4.654,2 12,88
12 J awa Tengah 2.346,5 20,64 4.497,3 18,15 6.843,8 18,93
13 DI Yogyakarta 301,4 2,65 314,8 1,27 616,2 1,70
14 J awa Timur 2.230,6 19,62 5.081,9 20,51 7.312,5 20,23
15 Banten 279,9 2,46 499,3 2,02 779,2 2,16
16 Bali 87,0 0,77 144,9 0,58 231,9 0,64
17 Nusa Tenggara Barat 492,5 4,33 539,1 2,18 1.031,6 2,85
18 Nusa Tenggara Timur 122,7 1,08 1.029,4 4,15 1.152,1 3,19
19 Kalimantan Barat 173,8 1,26 414,4 1,67 558,2 1,54
20 Kalimantan Tengah 33,0 0,29 161,1 0,65 194,1 0,54
21 Kalimantan Selatan 63,5 0,56 167,5 0,68 231,0 0,64
22 Kalimantan Timur 84,3 0,74 233,9 0,94 318,2 0,88
23 Sulawesi Utara 35,9 0,32 156,3 0,63 192,2 0,53
24 Sulawesi Tengah 70,5 0,62 415,8 1,68 486,3 1,35
25 Sulawesi Selatan 152,2 1,34 1.089,3 4,40 1.241,5 3,43
26 Sulawesi Tenggara 38,0 0,33 380,4 1,54 418,4 1,16
27 Gorontalo 43,7 0,38 215,4 0,87 259,1 0,72
28 Maluku 41,1 0,36 356,5 1,44 397,6 1,10
29 Maluku Utara 23,9 0,21 83,9 0,34 107,8 0,30
30 Papua 49,1 0,43 917,7 3,70 966,8 2,67
11.369,0 100,00 24.777,9 100,00 36.146,9 100,00
JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT DAERAH DAN PROVINSI TAHUN 2004
(PERSENTASE TERHADAP TOTAL PENDUDUK MISKIN NASIONAL)
(8) (6) (4)
Perkotaan Perdesaan
% % %
Perkotaan+Perdesaan
(dalam ribuan) (dalam ribuan) (dalam ribuan)
Jumlah Jumlah Jumlah
(3) (5) (7)
Sumber : Diolah dari Susenas Kor 2004
Indonesia
Lampiran 2.8
No Provinsi
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 198,4 17,58 958,8 32,66 1.157,2 28,47
2 Sumatera Utara 633,4 12,02 1.166,7 17,19 1.800,1 14,93
3 Sumatera Barat 167,8 12,28 304,6 9,67 472,4 10,46
4 Riau 160,5 6,44 583,9 18,36 744,4 13,12
5 J ambi 130,8 17,34 194,3 10,46 325,1 12,45
6 Sumatera Selatan 455,1 20,13 924,2 21,33 1.379,3 20,92
7 Bengkulu 112,8 25,43 232,3 21,16 345,1 22,39
8 Lampung 317,3 20,17 1.244,4 22,81 1.561,7 22,22
9 Kepulauan Bangka Belitung 33,0 7,73 58,8 10,06 91,8 9,07
10 DKI J akarta 277,1 3,18 - - 277,1 3,18
11 J awa Barat 2.243,2 11,21 2.411,0 13,08 4.654,2 12,10
12 J awa Tengah 2.346,5 17,52 4.497,3 23,64 6.843,8 21,11
13 DI Yogyakarta 301,4 15,96 314,8 23,65 616,2 19,14
14 J awa Timur 2.230,6 14,62 5.081,9 24,02 7.312,5 20,08
15 Banten 279,9 5,69 499,3 11,99 779,2 8,58
16 Bali 87,0 5,05 144,9 8,71 231,9 6,85
17 Nusa Tenggara Bara 492,5 32,66 539,1 21,09 1.031,6 25,38
18 Nusa Tenggara Timur 122,7 18,11 1.029,4 29,77 1.152,1 27,86
19 Kalimantan Bara 143,8 13,29 414,4 14,15 558,2 13,91
20 Kalimantan Tengah 33,0 6,13 161,1 12,20 194,1 10,44
21 Kalimantan Selatan 63,5 5,28 167,5 8,33 231,0 7,19
22 Kalimantan Timur 84,3 5,63 233,9 18,68 318,2 11,57
23 Sulawesi Utara 35,9 4,37 156,3 11,76 192,2 8,94
24 Sulawesi Tengah 70,5 15,33 415,8 23,33 486,3 21,69
25 Sulawesi Selatan 152,2 6,11 1.089,3 18,65 1.241,5 14,90
26 Sulawesi Tenggara 38,0 9,21 380,4 25,39 418,4 21,90
27 Gorontalo 43,7 18,63 215,4 32,70 259,1 29,01
28 Maluku 41,1 11,99 356,5 39,86 397,6 32,13
29 Maluku Utara 23,9 10,50 83,9 13,10 107,8 12,42
30 Papua 49,1 7,71 917,7 49,28 966,8 38,69
11.369,0 12,13 24.777,9 20,11 36.146,9 16,66
(8)
JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT DAERAH DAN PROVINSI TAHUN 200
(PERSENTASE TERHADAP TOTAL PENDUDUK PROVINS
%
Perkotaan+Perdesaan Perdesaan Perkotaan
% %
(dalam ribuan)
Sumber : Diolah dari Susenas Kor 2004
(3) (5) (7)
Indonesia
(4) (6)
(dalam ribuan)
Jumlah Jumlah Jumlah
(dalam ribuan)
Lampiran 2.9
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 4,32 1,00 6,73 2,12 6,32 1,98
2 Sumatera Utara 2,63 0,65 2,63 0,66 2,32 0,59
3 Sumatera Barat 1,81 0,43 1,74 0,43 1,52 0,37
4 Riau 2,01 0,48 2,46 0,66 2,28 0,70
5 J ambi 2,38 0,71 2,09 0,55 2,04 0,54
6 Sumatera Selatan 3,60 0,95 4,16 1,16 3,98 1,09
7 Bengkulu 3,39 0,83 4,03 1,03 3,82 0,98
8 Lampung 4,18 1,12 4,26 1,17 4,12 1,12
9 Kepulauan Bangka Belitung 1,44 0,31 1,53 0,34 1,35 0,31
10 DKI J akarta 0,39 0,07 0,49 0,11 0,42 0,09
11 J awa Barat 2,21 0,56 2,20 0,56 1,91 0,48
12 J awa Tengah 4,00 1,05 3,93 1,07 3,58 0,97
13 DI Yogyakarta 3,81 1,07 3,91 1,09 3,52 0,96
14 J awa Timur 3,88 1,03 3,80 1,02 3,42 0,92
15 Banten 1,27 0,29 1,49 0,36 1,26 0,30
16 Bali 0,95 0,21 1,05 0,24 0,92 0,21
17 Nusa Tenggara Bara 5,01 1,28 4,87 1,32 4,35 1,16
18 Nusa Tenggara Timur 6,48 1,97 5,61 1,64 5,12 1,48
19 Kalimantan Bara 2,39 0,60 2,62 0,71 2,28 0,60
20 Kalimantan Tengah 2,04 0,57 2,15 0,70 1,98 0,68
21 Kalimantan Selatan 1,11 0,23 1,22 0,28 1,04 0,24
22 Kalimantan Timur 1,90 0,46 2,27 0,63 2,06 0,60
23 Sulawesi Utara 1,54 0,36 1,81 0,56 1,80 0,54
24 Sulawesi Tengah 4,46 1,21 4,58 1,32 4,03 1,14
25 Sulawesi Selatan 2,78 0,75 2,73 0,73 2,42 0,63
26 Sulawesi Tenggara 4,81 1,44 4,13 1,06 3,80 0,98
27 Gorontalo 6,20 1,79 7,02 2,43 6,95 2,32
28 Maluku 6,78 1,96 6,76 1,96 6,32 1,82
29 Maluku Utara 2,63 0,75 2,08 0,50 2,06 0,45
30 Papua 7,91 2,25 10,69 4,00 10,56 5,01
3,01 0,79 3,13 0,85 2,89 0,78 Indonesia
Sumber : Diolah dari Susenas Kor 2004
P1 (%)
(3) (4) (5) (6) (7)
INDEKS KEDALAMAN KEMISKINAN (P1) DAN INDEKS KEPARAHAN KEMISKINAN (P
MENURUT PROVINSI, TAHUN 2002 - 2004
2002 2003 2004
No Provinsi
P2 (%) P1 (%)
(8)
P2 (%) P1 (%) P2 (%)
Lampiran 2.10
Alasan
Ekonomi
Bukan
Alasan
Ekonomi
Jumlah
Alasan
Ekonomi
Bukan
Alasan
Ekonomi
Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
09 DKI J akarta 1.492.090 7.109 1.930 9.039 125.148 246.975 372.123 466.711 504.896 139.321
10 J awa Barat 9.828.448 970.874 297.560 1.268.434 1.700.719 1.675.464 3.376.183 2.909.975 1.889.094 384.762
11 J awa Tengah 8.626.258 1.908.902 1.263.016 3.171.918 815.129 971.044 1.786.173 1.901.727 1.457.989 308.451
12 D.I. Yogyakarta 860.437 109.470 41.017 150.487 126.587 106.744 233.331 234.807 195.059 46.753
13 J awa Timur 10.047.266 1.833.255 974.941 2.808.196 1.079.836 1.201.854 2.281.690 2.265.892 2.255.307 436.181
14 Bali 803.515 43.873 7.251 51.124 76.020 29.140 105.160 94.549 499.748 52.934
28 Banten 1.974.042 212.530 101.693 314.223 268.967 308.713 577.680 574.340 382.688 125.111
33.632.056 5.086.013 2.687.408 7.773.421 4.192.406 4.539.934 8.732.340 8.448.001 7.184.781 1.493.513
01 Nanggroe Aceh Darussalam 827.695 225.893 38.349 264.242 217.381 66.531 283.912 171.193 78.644 29.704
02 Sumatera Utara 2.553.618 202.383 38.487 240.870 443.413 339.674 783.087 841.663 578.711 109.287
03 Sumatera Barat 1.006.880 14.073 7.730 21.803 136.093 227.140 363.233 365.788 230.065 25.991
06 Sumatera Selatan 1.575.574 281.825 76.355 358.180 322.975 165.148 488.123 496.942 205.645 26.684
08 Lampung 1.707.646 510.885 152.276 663.161 309.009 213.182 522.191 340.081 159.932 22.281
15 Nusa Tenggara Barat 1.168.021 334.709 53.319 388.028 350.241 156.585 506.826 170.851 97.166 5.150
17 Kalimantan Barat 903.015 9.604 7.283 16.887 185.919 170.811 356.730 334.760 139.360 55.278
19 Kalimantan Selatan 844.673 43.071 12.001 55.072 154.184 145.978 300.162 337.108 137.941 14.390
21 Sulawesi Utara 551.102 80.734 19.883 100.617 91.764 62.408 154.172 139.363 124.214 32.736
23 Sulawesi Selatan 1.908.096 210.849 62.106 272.955 319.838 374.555 694.393 558.105 316.868 65.775
29 Bangka Belitung 245.382 22.164 6.399 28.563 34.702 32.637 67.339 92.155 54.294 3.031
30 Gorontalo 231.052 30.726 16.454 47.180 46.185 45.832 92.017 48.634 31.962 11.259
13.522.754 1.966.916 490.642 2.457.558 2.611.704 2.000.481 4.612.185 3.896.643 2.154.802 401.566
04 Riau 958.002 71.270 37.330 108.600 152.118 135.466 287.584 357.380 153.450 50.988
05 J ambi 636.229 43.145 27.951 71.096 91.911 82.753 174.664 232.065 129.164 29.240
07 Bengkulu 367.206 47.528 13.150 60.678 79.970 49.644 129.614 117.683 53.109 6.122
16 Nusa Tenggara Timur 962.961 484.439 82.238 566.677 188.559 91.528 280.087 85.646 25.971 4.580
18 Kalimantan Tengah 438.289 30.062 11.049 41.111 83.780 82.416 166.196 164.902 49.253 16.557
20 Kalimantan Timur 619.238 40.101 13.449 53.550 97.606 86.942 184.548 168.993 143.582 68.565
22 Sulawesi Tengah 547.155 114.621 31.791 146.412 121.311 74.757 196.068 132.882 62.979 17.704
24 Sulawesi Tenggara 449.019 145.827 24.300 170.127 85.602 59.369 144.971 91.251 36.560 6.110
25 Maluku 287.391 81.179 25.817 106.996 52.024 39.059 91.083 59.214 19.923 10.175
26 Papua 322.863 159.553 13.043 172.596 64.124 23.889 88.013 35.397 19.014 7.837
31 Maluku Utara 189.883 58.071 23.289 81.360 30.059 24.360 54.419 34.487 15.956 3.661
32 Irian J aya Barat 118.671 45.853 4.936 50.789 25.999 16.834 42.833 17.757 5.743 1.549
33 Kepulauan Riau 228.118 6.569 2.664 9.233 20.581 33.057 53.638 63.721 75.910 25.616
6.125.025 1.328.218 311.007 1.639.225 1.093.644 800.074 1.893.718 1.561.378 790.614 248.704
53.279.835 8.381.147 3.489.057 11.870.204 7.897.754 7.340.489 15.238.243 13.906.022 10.130.197 2.143.783
Sumber: BKKBN
NASIONAL
Jumlah
Keluarga
Sejahtera III +
JAWA BALI
LUAR JAWA BALI
LUAR JAWA BALI
JUMLAH KELUARGA MENURUT TAHAPAN KELUARGA SEJAHTERA DAN PROVINSI
(HASIL PENDATAAN KELUARGA TAHUN 2004)
No
Kode
Prov
Provinsi
Jumlah
Kepala
Keluarga
Jumlah Keluarga Prasejahtera Jumlah Keluarga Sejahtera I
Jumlah
Keluarga
Sejahtera II
Jumlah
Keluarga
Sejahtera III
Lampiran 2.11
Perkotaan+perdesaan
Belum
kawin
Kawin
Cerai
hidup
Cerai mati
Belum
kawin
Kawin
Cerai
hidup
Cerai mati
Belum
kawin
Kawin
Cerai
hidup
Cerai mati
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 49,14 49,30 0,23 1,32 100,00 39,07 48,38 1,79 10,76 100,00 44,03 48,84 1,02 6,11 100,00
2 Sumatera Utara 46,29 51,65 0,39 1,66 100,00 39,19 51,45 1,28 8,09 100,00 42,71 51,55 0,84 4,90 100,00
3 Sumatera Barat 42,95 54,43 0,92 1,70 100,00 34,31 51,39 3,51 10,79 100,00 38,48 52,85 2,26 6,41 100,00
4 Riau 42,49 55,89 0,49 1,13 100,00 36,48 57,30 1,26 4,96 100,00 39,52 56,59 0,87 3,02 100,00
5 J ambi 40,69 57,27 0,54 1,50 100,00 31,85 59,41 1,67 7,08 100,00 36,33 58,32 1,10 4,25 100,00
6 Sumatera Selatan 42,38 55,44 0,56 1,61 100,00 35,27 56,32 1,28 7,13 100,00 38,85 55,88 0,92 4,36 100,00
7 Bengkulu 40,29 56,83 0,96 1,92 100,00 33,61 58,93 1,72 5,74 100,00 37,02 57,86 1,33 3,80 100,00
8 Lampung 42,31 55,50 0,65 1,55 100,00 31,65 59,90 1,44 7,01 100,00 37,20 57,61 1,03 4,16 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 42,81 54,66 0,87 1,67 100,00 32,30 57,56 2,13 8,01 100,00 37,69 56,07 1,48 4,76 100,00
10 DKI J akarta 44,44 53,42 0,63 1,50 100,00 38,90 52,71 1,96 6,43 100,00 41,66 53,07 1,30 3,97 100,00
11 J awa Barat 38,07 59,75 0,95 1,23 100,00 28,79 60,47 2,80 7,95 100,00 33,46 60,11 1,86 4,57 100,00
12 J awa Tengah 38,18 58,98 0,74 2,10 100,00 27,75 58,78 2,26 11,21 100,00 32,93 58,88 1,50 6,69 100,00
13 DI Yogyakarta 40,55 56,44 0,54 2,47 100,00 31,44 55,37 2,01 11,18 100,00 35,90 55,89 1,29 6,92 100,00
14 J awa Timur 35,06 61,88 0,94 2,12 100,00 24,41 60,17 2,66 12,76 100,00 29,63 61,01 1,82 7,55 100,00
15 Banten 42,17 56,27 0,56 1,01 100,00 33,43 57,23 2,50 6,84 100,00 37,85 56,74 1,52 3,89 100,00
16 Bali 34,77 62,09 0,64 2,50 100,00 27,81 63,55 1,15 7,49 100,00 31,31 62,82 0,90 4,98 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 39,23 57,65 1,11 2,01 100,00 32,18 54,57 4,72 8,53 100,00 35,48 56,01 3,03 5,48 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 44,15 52,53 0,39 2,93 100,00 37,74 52,03 1,75 8,48 100,00 40,87 52,27 1,09 5,77 100,00
19 Kalimantan Barat 44,40 52,93 0,52 2,15 100,00 34,93 56,71 1,30 7,06 100,00 39,81 54,76 0,90 4,53 100,00
20 Kalimantan Tengah 40,54 56,95 0,77 1,74 100,00 31,15 61,44 1,60 5,82 100,00 36,04 59,10 1,17 3,69 100,00
21 Kalimantan Selatan 38,27 58,97 1,23 1,52 100,00 30,11 57,42 2,77 9,70 100,00 34,13 58,19 2,01 5,67 100,00
22 Kalimantan Timur 41,77 56,21 0,66 1,36 100,00 32,75 60,74 1,62 4,89 100,00 37,47 58,37 1,12 3,04 100,00
23 Sulawesi Utara 37,42 59,88 0,66 2,04 100,00 29,42 61,90 1,22 7,46 100,00 33,49 60,87 0,94 4,70 100,00
24 Sulawesi Tengah 40,16 56,94 0,77 2,13 100,00 31,66 59,84 1,94 6,56 100,00 36,01 58,36 1,34 4,29 100,00
25 Sulawesi Selatan 42,99 53,57 1,05 2,39 100,00 36,74 51,01 2,56 9,69 100,00 39,76 52,25 1,83 6,16 100,00
26 Sulawesi Tenggara 41,76 56,21 0,61 1,42 100,00 34,32 56,43 1,83 7,42 100,00 37,99 56,32 1,23 4,47 100,00
27 Gorontalo 36,82 61,01 0,62 1,56 100,00 32,62 58,15 1,93 7,30 100,00 34,66 59,54 1,29 4,51 100,00
28 Maluku 44,35 52,62 0,41 2,63 100,00 39,58 51,34 1,87 7,21 100,00 41,93 51,97 1,15 4,95 100,00
29 Maluku Utara 41,07 55,93 0,86 2,14 100,00 34,97 56,78 2,14 6,11 100,00 38,02 56,35 1,50 4,12 100,00
30 Papua 40,87 56,63 0,54 1,96 100,00 31,60 62,88 1,23 4,29 100,00 36,45 59,61 0,87 3,07 100,00
39,80 57,66 0,76 1,77 100,00 30,85 57,71 2,27 9,17 100,00 35,31 57,68 1,52 5,48 100,00
Sumber: BPS, Statistik Kesra 2004
Indonesia
Status Perkawinan
Jumlah
Status Perkawinan
Jumlah Jumlah
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS
MENURUT JENIS KELAMIN, STATUS PERKAWINAN, DAN PROVINSI TAHUN 2004
No. Provinsi
Laki-laki Perempuan Laki-laki+Perempuan
Status Perkawinan
Lampiran 2.11.a
Perkotaan
Belum
kawin
Kawin
Cerai
hidup
Cerai mati
Belum
kawin
Kawin
Cerai
hidup
Cerai mati
Belum
kawin
Kawin
Cerai
hidup
Cerai mati
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 50,55 48,01 0,18 1,26 100,00 42,23 48,12 1,37 8,28 100,00 46,38 48,06 0,78 4,78 100,00
2 Sumatera Utara 48,37 50,05 0,41 1,17 100,00 42,07 49,16 1,38 7,39 100,00 45,18 49,60 0,90 4,32 100,00
3 Sumatera Barat 47,15 50,85 0,61 1,39 100,00 39,42 48,32 2,80 9,46 100,00 43,15 49,54 1,74 5,56 100,00
4 Riau 42,53 56,40 0,23 0,84 100,00 39,20 55,36 1,26 4,19 100,00 40,84 55,87 0,75 2,54 100,00
5 J ambi 43,41 55,50 0,22 0,88 100,00 37,06 54,90 1,31 6,73 100,00 40,21 55,20 0,77 3,83 100,00
6 Sumatera Selatan 45,58 52,68 0,54 1,20 100,00 40,85 50,46 1,04 7,65 100,00 43,15 51,54 0,80 4,51 100,00
7 Bengkulu 44,39 53,70 0,48 1,43 100,00 40,80 53,28 0,87 5,05 100,00 42,57 53,49 0,68 3,26 100,00
8 Lampung 44,82 53,40 0,59 1,19 100,00 35,84 55,19 1,46 7,50 100,00 40,42 54,28 1,02 4,28 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 44,34 53,11 0,83 1,72 100,00 33,96 55,83 1,46 8,75 100,00 39,27 54,44 1,14 5,15 100,00
10 DKI J akarta 44,44 53,42 0,63 1,50 100,00 38,90 52,71 1,96 6,43 100,00 41,66 53,07 1,30 3,97 100,00
11 J awa Barat 40,48 57,48 0,86 1,19 100,00 32,60 57,80 2,41 7,19 100,00 36,55 57,64 1,63 4,18 100,00
12 J awa Tengah 40,74 56,48 0,69 2,09 100,00 31,73 54,90 2,12 11,25 100,00 36,14 55,68 1,42 6,76 100,00
13 DI Yogyakarta 45,24 51,89 0,51 2,36 100,00 37,17 50,94 1,79 10,10 100,00 41,12 51,40 1,16 6,31 100,00
14 J awa Timur 38,88 58,52 0,79 1,81 100,00 29,27 56,48 2,44 11,82 100,00 33,97 57,48 1,63 6,92 100,00
15 Banten 43,31 55,57 0,32 0,80 100,00 35,57 57,16 2,03 5,23 100,00 39,50 56,35 1,16 2,98 100,00
16 Bali 36,01 61,42 0,66 1,92 100,00 30,37 62,12 1,35 6,15 100,00 33,21 61,76 1,00 4,03 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 41,64 55,47 1,11 1,79 100,00 34,74 52,26 4,71 8,29 100,00 37,99 53,77 3,01 5,22 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 50,43 48,07 0,22 1,28 100,00 45,68 47,25 0,91 6,16 100,00 48,02 47,65 0,57 3,75 100,00
19 Kalimantan Barat 46,43 51,15 0,65 1,78 100,01 38,57 52,49 1,14 7,80 100,00 42,53 51,81 0,89 4,76 100,00
20 Kalimantan Tengah 42,32 56,22 0,57 0,90 100,01 35,30 58,58 1,33 4,79 100,00 38,89 57,37 0,94 2,80 100,00
21 Kalimantan Selatan 39,78 58,11 1,02 1,10 100,00 33,20 55,45 2,42 8,92 100,00 36,41 56,75 1,74 5,10 100,00
22 Kalimantan Timur 43,59 55,07 0,45 0,89 100,00 35,60 58,19 1,59 4,63 100,00 39,73 56,58 1,00 2,70 100,00
23 Sulawesi Utara 38,38 58,66 0,58 2,37 100,00 32,66 58,16 1,19 7,99 100,00 35,51 58,41 0,89 5,19 100,00
24 Sulawesi Tengah 43,66 54,25 0,43 1,66 100,00 40,18 52,63 1,77 5,42 100,00 41,90 53,43 1,11 3,56 100,00
25 Sulawesi Selatan 47,49 50,42 0,73 1,36 100,00 42,07 47,60 2,09 8,23 100,00 44,69 48,96 1,43 4,92 100,00
26 Sulawesi Tenggara 45,82 53,26 0,30 0,62 100,00 42,34 51,57 1,19 4,90 100,00 44,03 52,39 0,75 2,83 100,00
27 Gorontalo 39,33 58,26 0,52 1,89 100,00 37,61 53,68 1,50 7,21 100,00 38,44 55,88 1,03 4,65 100,00
28 Maluku 46,91 51,39 0,50 1,20 100,00 43,20 48,27 2,34 6,19 100,00 44,99 49,78 1,45 3,78 100,00
29 Maluku Utara 44,07 51,63 0,98 3,32 100,00 39,65 52,55 1,75 6,05 100,00 41,88 52,08 1,36 4,67 100,00
30 Papua 41,62 57,08 0,29 1,01 100,00 34,17 61,54 0,94 3,35 100,00 38,06 59,21 0,60 2,13 100,00
42,20 55,65 0,67 1,49 100,00 34,63 54,90 2,07 8,40 100,00 38,38 55,27 1,37 4,98 100,00
Sumber: BPS, Statistik Kesra 2004
Jumlah
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS
MENURUT JENIS KELAMIN, STATUS PERKAWINAN, DAN PROVINSI TAHUN 2004
No. Provinsi
Laki-laki Perempuan Laki-laki+Perempuan
Status Perkawinan
Indonesia
Status Perkawinan
Jumlah
Status Perkawinan
Jumlah
Lampiran 2.11.b
Perdesaan
Belum
kawin
Kawin
Cerai
hidup
Cerai mati
Belum
kawin
Kawin
Cerai
hidup
Cerai mati
Belum
kawin
Kawin
Cerai
hidup
Cerai mati
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 48,58 49,82 0,26 1,35 100,00 37,86 48,49 1,95 11,70 100,00 43,11 49,14 1,12 6,63 100,00
2 Sumatera Utara 44,62 52,94 0,38 2,06 100,00 36,82 53,32 1,20 8,66 100,00 40,71 53,13 0,79 5,37 100,00
3 Sumatera Barat 41,07 56,04 1,06 1,83 100,00 32,02 52,76 3,83 11,38 100,00 36,38 54,34 2,50 6,78 100,00
4 Riau 42,47 55,50 0,69 1,34 100,00 34,19 58,93 1,26 5,62 100,00 38,45 57,16 0,97 3,41 100,00
5 J ambi 39,61 57,97 0,67 1,75 100,00 29,63 61,33 1,82 7,22 100,00 34,73 59,61 1,23 4,42 100,00
6 Sumatera Selatan 40,74 56,87 0,58 1,82 100,00 32,09 59,65 1,41 6,84 100,00 36,51 58,23 0,99 4,27 100,00
7 Bengkulu 38,67 58,06 1,15 2,12 100,00 30,53 61,35 2,08 6,04 100,00 34,74 59,65 1,60 4,02 100,00
8 Lampung 41,60 56,09 0,67 1,64 100,00 30,40 61,30 1,43 6,87 100,00 36,27 58,57 1,03 4,13 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 41,66 55,82 0,89 1,63 100,00 31,05 58,86 2,63 7,45 100,00 36,50 57,30 1,74 4,46 100,00
10 DKI J akarta - - - - - - - - - - - - - - -
11 J awa Barat 35,48 62,20 1,04 1,28 100,00 24,58 63,41 3,22 8,79 100,00 30,10 62,80 2,12 4,98 100,00
12 J awa Tengah 36,41 60,72 0,77 2,11 100,00 24,87 61,59 2,36 11,18 100,00 30,65 61,15 1,56 6,63 100,00
13 DI Yogyakarta 33,83 62,95 0,57 2,64 100,00 23,24 61,71 2,32 12,74 100,00 28,42 62,32 1,46 7,80 100,00
14 J awa Timur 32,31 64,30 1,05 2,35 100,00 20,90 62,84 2,82 13,44 100,00 26,49 63,56 1,95 8,00 100,00
15 Banten 40,72 57,15 0,86 1,27 100,00 30,80 57,32 3,07 8,82 100,00 35,78 57,24 1,96 5,02 100,00
16 Bali 33,51 62,78 0,63 3,08 100,00 25,17 65,02 0,94 8,86 100,00 29,37 63,89 0,79 5,95 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 37,75 59,00 1,10 2,15 100,00 30,64 55,97 4,72 8,67 100,00 33,95 57,38 3,04 5,64 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 42,84 53,46 0,43 3,28 100,00 36,11 53,01 1,92 8,95 100,00 39,39 53,23 1,19 6,18 100,00
19 Kalimantan Barat 43,64 53,60 0,47 2,29 100,00 33,47 58,40 1,36 6,76 100,00 38,76 55,91 0,90 4,44 100,00
20 Kalimantan Tengah 39,81 57,26 0,85 2,09 100,00 29,33 62,68 1,71 6,27 100,00 34,83 59,84 1,26 4,07 100,00
21 Kalimantan Selatan 37,35 59,50 1,37 1,78 100,00 28,17 58,66 2,98 10,19 100,00 32,72 59,08 2,18 6,02 100,00
22 Kalimantan Timur 39,59 57,59 0,91 1,91 100,00 29,14 63,96 1,67 5,22 100,00 34,68 60,58 1,27 3,47 100,00
23 Sulawesi Utara 36,83 60,62 0,72 1,84 100,00 27,29 64,36 1,24 7,11 100,00 32,21 62,43 0,97 4,39 100,00
24 Sulawesi Tengah 39,27 57,63 0,86 2,25 100,00 29,28 61,85 1,98 6,88 100,00 34,44 59,67 1,40 4,49 100,00
25 Sulawesi Selatan 41,02 54,94 1,20 2,84 100,00 34,39 52,51 2,77 10,33 100,00 37,60 53,69 2,01 6,70 100,00
26 Sulawesi Tenggara 40,62 57,04 0,69 1,65 100,00 31,97 57,85 2,02 8,16 100,00 36,25 57,45 1,36 4,94 100,00
27 Gorontalo 35,90 62,02 0,65 1,43 100,00 30,73 59,84 2,09 7,34 100,00 33,25 60,90 1,39 4,46 100,00
28 Maluku 43,33 53,10 0,37 3,19 100,00 38,06 52,62 1,67 7,65 100,00 40,68 52,86 1,03 5,43 100,00
29 Maluku Utara 39,91 57,58 0,82 1,69 100,00 33,22 58,37 2,29 6,13 100,00 36,55 57,98 1,56 3,91 100,00
30 Papua 40,62 56,49 0,62 2,26 100,00 30,78 63,31 1,32 4,59 100,00 35,93 59,74 0,95 3,37 100,00
37,96 59,21 0,84 1,99 100,00 27,88 59,91 2,43 9,78 100,00 32,93 59,56 1,63 5,88 100,00
Sumber: BPS, Statistik Kesra 2004
Jumlah
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS
MENURUT JENIS KELAMIN, STATUS PERKAWINAN, DAN PROVINSI TAHUN 2004
No. Provinsi
Laki-laki Perempuan Laki-laki+Perempuan
Status Perkawinan
Indonesia
Status Perkawinan
Jumlah
Status Perkawinan
Jumlah
Lampiran 2.12
Laki-laki+Perempuan
No Provinsi Huruf Huruf Buta Huruf Huruf Buta Huruf Huruf Buta
Latin lainnya huruf Latin lainnya huruf Latin lainnya huruf
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 97,28 0,54 2,18 100,00 92,84 1,53 5,63 100,00 95,03 1,04 3,93 100,00
2 Sumatera Utara 98,28 0,18 1,54 100,00 95,18 0,47 4,34 100,00 96,72 0,33 2,95 100,00
3 Sumatera Barat 97,58 0,37 2,06 100,00 93,81 0,78 5,41 100,00 95,62 0,58 3,79 100,00
4 Riau 96,96 0,65 2,39 100,00 94,69 1,29 4,03 100,00 95,83 0,97 3,20 100,00
5 J ambi 96,80 1,26 1,94 100,00 91,80 2,51 5,69 100,00 94,33 1,88 3,79 100,00
6 Sumatera Selatan 97,13 0,48 2,40 100,00 93,76 0,99 5,25 100,00 95,46 0,73 3,81 100,00
7 Bengkulu 96,99 0,15 2,86 100,00 92,14 0,33 7,53 100,00 94,61 0,24 5,15 100,00
8 Lampung 95,32 0,94 3,75 100,00 89,99 1,42 8,59 100,00 92,76 1,17 6,07 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 95,93 0,43 3,64 100,00 90,92 0,81 8,27 100,00 93,49 0,62 5,90 100,00
10 DKI J akarta 98,91 0,31 0,78 100,00 97,00 0,68 2,33 100,00 97,95 0,49 1,56 100,00
11 J awa Barat 96,28 0,63 3,08 100,00 91,11 1,33 7,57 100,00 93,71 0,98 5,31 100,00
12 J awa Tengah 92,52 0,52 6,96 100,00 82,75 0,83 16,42 100,00 87,60 0,68 11,72 100,00
13 DI Yogyakarta 92,20 0,36 7,43 100,00 81,07 0,48 18,45 100,00 86,52 0,42 13,06 100,00
14 J awa Timur 90,23 1,19 8,57 100,00 79,26 1,65 19,10 100,00 84,63 1,42 13,94 100,00
15 Banten 96,03 0,86 3,10 100,00 91,06 1,43 7,51 100,00 93,58 1,14 5,28 100,00
16 Bali 92,01 0,38 7,61 100,00 81,01 0,19 18,80 100,00 86,54 0,29 13,17 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 84,18 1,86 13,96 100,00 72,80 2,01 25,20 100,00 78,12 1,94 19,94 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 89,10 0,23 10,67 100,00 84,31 0,23 15,45 100,00 86,65 0,23 13,12 100,00
19 Kalimantan Barat 93,18 0,72 6,10 100,00 83,83 1,33 14,84 100,00 88,65 1,02 10,33 100,00
20 Kalimantan Tengah 97,01 0,74 2,25 100,00 94,43 1,13 4,44 100,00 95,77 0,93 3,30 100,00
21 Kalimantan Selatan 96,99 0,51 2,49 100,00 91,47 1,80 6,73 100,00 94,19 1,17 4,64 100,00
22 Kalimantan Timur 96,86 0,32 2,82 100,00 93,07 0,62 6,31 100,00 95,05 0,47 4,49 100,00
23 Sulawesi Utara 99,17 0,09 0,74 100,00 98,81 0,22 0,98 100,00 98,99 0,15 0,86 100,00
24 Sulawesi Tengah 95,73 0,43 3,84 100,00 92,89 0,80 6,31 100,00 94,34 0,61 5,05 100,00
25 Sulawesi Selatan 87,43 1,20 11,37 100,00 82,04 1,70 16,26 100,00 84,65 1,46 13,90 100,00
26 Sulawesi Tenggara 93,39 1,29 5,33 100,00 87,06 1,98 10,96 100,00 90,17 1,64 8,19 100,00
27 Gorontalo 93,79 0,32 5,88 100,00 95,32 0,52 4,15 100,00 94,58 0,43 4,99 100,00
28 Maluku 98,65 0,24 1,11 100,00 97,09 0,23 2,68 100,00 97,86 0,23 1,91 100,00
29 Maluku Utara 97,27 0,33 2,41 100,00 93,00 0,57 6,43 100,00 95,14 0,45 4,41 100,00
30 Papua 80,99 0,26 18,75 100,00 70,81 0,35 28,84 100,00 76,14 0,30 23,56 100,00
93,96 0,70 5,34 100,00 87,13 1,17 11,71 100,00 90,53 0,93 8,53 100,00
`
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
Indonesia
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KEATAS MENURUT JENIS KELAMIN, KEPANDAIAN MEMBACA DAN MENULIS,
DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Perkotaan+Perdesaan
Laki-laki Perempuan
Jumlah Jumlah Jumlah
Lampiran 2.12.a
Perkotaan
Laki-laki+Perempuan
No
Provinsi Huruf Huruf Buta Huruf Huruf Buta Huruf Huruf Buta
Jumlah
Latin lainnya huruf Latin lainnya huruf Latin lainnya huruf
(1)
(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 98,84 0,13 1,03 100,00 96,38 0,80 2,82 100,00 97,60 0,47 1,93 100,00
2
Sumatera Utara 99,36 0,10 0,53 100,00 97,10 0,48 2,42 100,00 98,22 0,29 1,49 100,00
3
Sumatera Barat 99,11 0,11 0,78 100,00 98,22 0,23 1,55 100,00 98,65 0,17 1,18 100,00
4
Riau 98,90 0,12 0,98 100,00 97,74 0,18 2,08 100,00 98,31 0,15 1,54 100,00
5
J ambi 98,01 1,05 0,95 100,00 95,39 1,58 3,03 100,00 96,69 1,31 2,00 100,00
6
Sumatera Selatan 98,74 0,22 1,04 100,00 96,29 0,88 2,84 100,00 97,48 0,56 1,96 100,00
7
Bengkulu 99,07 - 0,93 100,00 97,27 0,20 2,53 100,00 98,16 0,10 1,74 100,00
8
Lampung 96,83 0,63 2,53 100,00 93,90 0,75 5,36 100,00 95,40 0,69 3,92 100,00
9
Kepulauan Bangka Belitung 97,53 0,35 2,12 100,00 93,74 0,99 5,27 100,00 95,68 0,66 3,66 100,00
10
DKI J akarta 98,91 0,31 0,78 100,00 97,00 0,68 2,32 100,00 97,95 0,49 1,56 100,00
11
J awa Barat 97,72 0,46 1,83 100,00 93,95 1,10 4,95 100,00 95,84 0,78 3,38 100,00
12
J awa Tengah 95,15 0,39 4,46 100,00 86,79 0,52 12,70 100,00 90,89 0,45 8,66 100,00
13
DI Yogyakarta 95,72 0,13 4,14 100,00 87,34 0,30 12,36 100,00 91,44 0,22 8,34 100,00
14
J awa Timur 95,54 0,72 3,74 100,00 87,89 1,30 10,81 100,00 91,63 1,02 7,35 100,00
15
Banten 97,51 0,42 2,07 100,00 93,84 0,68 5,47 100,00 95,71 0,55 3,74 100,00
16
Bali 95,15 0,21 4,64 100,00 87,58 0,21 12,22 100,00 91,39 0,21 8,40 100,00
17
Nusa Tenggara Barat 88,16 1,96 9,88 100,00 78,32 2,94 18,74 100,00 82,96 2,48 14,56 100,00
18
Nusa Tenggara Timur 97,67 0,05 2,28 100,00 94,97 0,13 4,90 100,00 96,30 0,09 3,61 100,00
19
Kalimantan Barat 95,13 0,74 4,13 100,00 87,75 1,03 11,23 100,00 91,47 0,88 7,64 100,00
20
Kalimantan Tengah 98,87 0,25 0,87 100,00 97,20 0,61 2,19 100,00 98,05 0,43 1,52 100,00
21
Kalimantan Selatan 98,64 0,21 1,15 100,00 95,33 1,38 3,28 100,00 96,95 0,81 2,24 100,00
22
Kalimantan Timur 98,71 0,14 1,15 100,00 96,28 0,32 3,40 100,00 97,53 0,23 2,24 100,00
23
Sulawesi Utara 99,43 0,02 0,55 100,00 99,04 0,24 0,71 100,00 99,23 0,13 0,63 100,00
24
Sulawesi Tengah 99,15 0,06 0,79 100,00 97,91 0,37 1,72 100,00 98,52 0,21 1,26 100,00
25
Sulawesi Selatan 95,34 0,43 4,23 100,00 91,44 0,94 7,63 100,00 93,32 0,69 5,99 100,00
26
Sulawesi Tenggara 98,02 0,19 1,80 100,00 94,39 0,65 4,96 100,00 96,14 0,43 3,43 100,00
27
Gorontalo 97,65 0,57 1,78 100,00 98,90 0,06 1,04 100,00 98,30 0,31 1,39 100,00
28
Maluku 98,61 - 1,39 100,00 98,00 0,03 1,97 100,00 98,29 0,02 1,69 100,00
29
Maluku Utara 99,14 0,29 0,57 100,00 95,42 1,50 3,08 100,00 97,30 0,89 1,81 100,00
30
Papua 98,67 0,05 1,28 100,00 97,52 0,22 2,26 100,00 98,12 0,13 1,75 100,00
97,01 0,43 2,56 100,00 92,16 0,85 6,99 100,00 94,56 0,64 4,79 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
Indonesia
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KEATAS MENURUT JENIS KELAMIN, KEPANDAIAN MEMBACA DAN MENULIS
DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Laki-laki Perempuan
Jumlah Jumlah
Lampiran 2.12.b
Perdesaan
Laki-laki+Perempuan
No Provinsi Huruf Huruf Buta Huruf Huruf Buta Huruf Huruf Buta
Latin lainnya huruf Latin lainnya huruf Latin lainnya huruf
(1)
(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 96,66 0,70 2,63 100,00 91,49 1,81 6,71 100,00 94,02 1,26 4,71 100,00
2 Sumatera Utara 97,40 0,24 2,35 100,00 93,61 0,47 5,92 100,00 95,50 0,36 4,14 100,00
3 Sumatera Barat 96,89 0,49 2,63 100,00 91,84 1,03 7,13 100,00 94,27 0,77 4,96 100,00
4 Riau 95,46 1,07 3,47 100,00 92,12 2,22 5,66 100,00 93,84 1,63 4,53 100,00
5 J ambi 96,32 1,35 2,33 100,00 90,27 2,91 6,82 100,00 93,37 2,11 4,52 100,00
6 Sumatera Selatan 96,30 0,61 3,10 100,00 92,33 1,05 6,62 100,00 94,36 0,82 4,82 100,00
7 Bengkulu 96,17 0,21 3,62 100,00 89,94 0,38 9,67 100,00 93,16 0,29 6,55 100,00
8 Lampung 94,89 1,03 4,09 100,00 88,82 1,62 9,55 100,00 92,00 1,31 6,69 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 94,73 0,49 4,78 100,00 88,80 0,68 10,52 100,00 91,85 0,58 7,57 100,00
10 DKI J akarta 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
11 J awa Barat 94,74 0,82 4,44 100,00 87,97 1,57 10,46 100,00 91,40 1,19 7,41 100,00
12 J awa Tengah 90,69 0,62 8,69 100,00 79,83 1,05 19,12 100,00 85,27 0,84 13,89 100,00
13 DI Yogyakarta 87,17 0,69 12,14 100,00 72,09 0,74 27,17 100,00 79,47 0,72 19,81 100,00
14 J awa Timur 86,41 1,53 12,05 100,00 73,01 1,90 25,09 100,00 79,58 1,72 18,70 100,00
15 Banten 94,16 1,43 4,42 100,00 87,62 2,36 10,02 100,00 90,90 1,89 7,21 100,00
16 Bali 88,79 0,55 10,66 100,00 74,29 0,17 25,54 100,00 81,59 0,36 18,05 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 81,72 1,80 16,48 100,00 69,47 1,45 29,08 100,00 75,17 1,61 23,22 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 87,31 0,27 12,43 100,00 82,13 0,25 17,61 100,00 84,66 0,26 15,08 100,00
19 Kalimantan Barat 92,45 0,71 6,84 100,00 82,26 1,46 16,28 100,00 87,56 1,07 11,37 100,00
20 Kalimantan Tengah 96,24 0,94 2,82 100,00 93,22 1,35 5,43 100,00 94,80 1,14 4,06 100,00
21 Kalimantan Selatan 95,99 0,70 3,31 100,00 89,04 2,06 8,89 100,00 92,49 1,39 6,12 100,00
22 Kalimantan Timur 94,64 0,54 4,82 100,00 88,99 0,99 10,01 100,00 91,99 0,75 7,26 100,00
23 Sulawesi Utara 99,01 0,13 0,86 100,00 98,65 0,20 1,15 100,00 98,84 0,16 1,00 100,00
24 Sulawesi Tengah 94,86 0,52 4,62 100,00 91,48 0,92 7,59 100,00 93,23 0,72 6,06 100,00
25 Sulawesi Selatan 83,97 1,54 14,49 100,00 77,91 2,03 20,06 100,00 80,84 1,80 17,37 100,00
26 Sulawesi Tenggara 92,09 1,60 6,32 100,00 84,91 2,37 12,72 100,00 88,46 1,99 9,55 100,00
27 Gorontalo 92,37 0,23 7,39 100,00 93,97 0,70 5,33 100,00 93,19 0,47 6,33 100,00
28 Maluku 98,66 0,33 1,00 100,00 96,71 0,31 2,98 100,00 97,68 0,32 2,00 100,00
29 Maluku Utara 96,55 0,34 3,11 100,00 92,09 0,23 7,68 100,00 94,31 0,28 5,40 100,00
30 Papua 75,34 0,32 24,34 100,00 62,21 0,39 37,40 100,00 69,08 0,35 30,56 100,00
91,61 0,91 7,48 100,00 83,17 1,42 15,42 100,00 87,39 1,16 11,45 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
Indonesia
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KEATAS MENURUT JENIS KELAMIN, KEPANDAIAN MEMBACA DAN MENULIS
DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Laki-laki Perempuan
Jumlah Jumlah Jumlah
Lampiran 2.13
Perkotaan+Perdesaan
Tidak/Belum Jumlah Tidak
No. Provinsi Pernah SLTP/ SMU/ yang Masih Bersekolah Jumlah
Sekolah MTs. SMK/MA Sekolah Lagi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 3,96 9,18 8,47 6,69 2,28 26,62 69,43 100,00
2 Sumatera Utara 2,49 9,08 7,96 6,24 1,22 24,50 73,02 100,00
3 Sumatera Barat 2,74 8,95 7,02 5,19 2,63 23,79 73,48 100,00
4 Riau 3,76 8,68 6,39 4,37 1,36 20,80 75,45 100,00
5 J ambi 4,56 8,62 6,69 4,19 1,01 20,51 74,94 100,00
6 Sumatera Selatan 3,67 8,73 6,99 4,35 1,31 21,38 74,95 100,00
7 Bengkulu 4,35 9,08 7,06 5,13 1,55 22,82 72,83 100,00
8 Lampung 5,48 9,10 6,86 3,64 0,84 20,44 74,07 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 6,32 7,81 5,91 4,25 0,29 18,26 75,42 100,00
10 DKI J akarta 1,76 5,33 5,37 5,39 3,42 19,51 78,72 100,00
11 J awa Barat 5,05 8,32 5,46 3,16 1,11 18,05 76,90 100,00
12 J awa Tengah 10,38 7,38 6,04 3,55 1,06 18,03 71,58 100,00
13 DI Yogyakarta 12,25 4,74 5,24 4,60 7,90 22,48 65,26 100,00
14 J awa Timur 12,73 6,43 5,04 3,21 1,26 15,94 71,34 100,00
15 Banten 5,50 9,47 6,66 4,03 1,36 21,52 72,98 100,00
16 Bali 13,41 5,89 4,71 3,72 1,24 15,56 71,03 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 19,82 9,47 6,48 3,88 0,98 20,81 59,37 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 11,34 11,37 5,29 3,01 0,86 20,53 68,13 100,00
19 Kalimantan Barat 10,35 10,24 6,07 3,56 0,79 20,66 68,98 100,00
20 Kalimantan Tengah 3,70 9,85 6,69 3,79 0,90 21,23 75,08 100,00
21 Kalimantan Selatan 4,52 8,41 5,62 3,29 1,09 18,41 77,07 100,00
22 Kalimantan Timur 3,89 7,56 6,64 5,03 1,54 20,77 75,34 100,00
23 Sulawesi Utara 0,37 5,75 6,14 4,42 1,85 18,16 81,47 100,00
24 Sulawesi Tengah 3,42 8,28 5,97 3,61 1,46 19,32 77,26 100,00
25 Sulawesi Selatan 12,95 8,43 5,73 3,68 1,85 19,69 67,36 100,00
26 Sulawesi Tenggara 8,72 9,09 7,70 4,16 1,55 22,50 68,79 100,00
27 Gorontalo 2,97 8,87 4,68 2,45 1,11 17,11 79,92 100,00
28 Maluku 1,71 9,40 8,26 5,93 1,65 25,24 73,06 100,00
29 Maluku Utara 3,71 10,08 6,96 4,53 1,31 22,88 73,41 100,00
30 Papua 22,52 10,79 5,87 3,52 0,55 20,73 56,75 100,00
7,92 7,94 5,99 3,89 1,44 19,26 72,83 100,00
Sumber: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2004
PERSENTASE PENDUDUK INDONESIA BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS
MENURUT STATUS PENDIDIKAN DAN PROVINSI TAHUN 2004
Masih Sekolah
Indonesia
SD/MI D-I/Univ.
Lampiran 2.13.a
Perkotaan
Tidak/Belum Jumlah Tidak
No. Provinsi Pernah SLTP/ SMU/ yang Masih Bersekolah Jumlah
Sekolah MTs. SMK/MA Sekolah Lagi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 1,70 7,64 8,41 7,83 4,87 28,75 69,55 100,00
2 Sumatera Utara 1,43 7,67 7,63 7,33 2,20 24,83 73,73 100,00
3 Sumatera Barat 0,60 7,21 7,04 7,12 6,63 28,00 71,40 100,00
4 Riau 1,56 6,83 5,66 5,39 2,57 20,45 78,00 100,00
5 J ambi 2,57 6,85 7,17 6,07 2,56 22,65 74,78 100,00
6 Sumatera Selatan 1,94 6,93 7,61 7,40 3,16 25,10 72,96 100,00
7 Bengkulu 1,47 7,16 8,10 8,11 4,28 27,65 70,87 100,00
8 Lampung 3,92 7,78 6,59 5,83 2,74 22,94 73,14 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 4,11 7,28 6,80 6,50 0,64 21,22 74,67 100,00
10 DKI J akarta 1,76 5,33 5,37 5,39 3,42 19,51 78,72 100,00
11 J awa Barat 3,37 7,72 5,98 4,19 1,83 19,72 76,92 100,00
12 J awa Tengah 7,71 6,90 6,15 4,74 1,98 19,77 72,52 100,00
13 DI Yogyakarta 7,59 4,34 4,90 4,80 12,50 26,54 65,87 100,00
14 J awa Timur 6,73 5,90 5,49 4,46 2,47 18,32 74,96 100,00
15 Banten 3,80 7,92 7,38 5,60 2,31 23,21 73,00 100,00
16 Bali 8,54 5,79 4,91 4,29 1,90 16,89 74,56 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 15,06 9,09 6,86 4,70 1,99 22,64 62,31 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 3,05 7,24 9,19 9,59 3,90 29,92 67,03 100,00
19 Kalimantan Barat 7,49 7,86 6,23 5,72 2,23 22,04 70,47 100,00
20 Kalimantan Tengah 1,70 7,87 7,56 6,47 2,55 24,45 73,86 100,00
21 Kalimantan Selatan 2,21 6,95 5,87 4,87 2,31 20,00 77,80 100,00
22 Kalimantan Timur 1,64 6,51 6,99 6,21 2,28 21,99 76,37 100,00
23 Sulawesi Utara 0,46 5,54 6,19 5,53 3,89 21,15 78,38 100,00
24 Sulawesi Tengah 0,83 7,12 6,99 7,73 5,25 27,09 72,08 100,00
25 Sulawesi Selatan 5,41 7,17 6,26 5,93 5,19 24,55 70,04 100,00
26 Sulawesi Tenggara 3,60 6,54 8,39 6,78 5,80 27,51 68,89 100,00
27 Gorontalo 0,49 6,29 6,46 4,45 3,03 20,23 79,29 100,00
28 Maluku 1,48 6,57 8,06 8,43 5,07 28,13 70,40 100,00
29 Maluku Utara 1,45 6,29 8,42 7,46 4,28 26,45 72,08 100,00
30 Papua 1,47 7,02 7,61 6,89 1,65 23,17 75,36 100,00
4,52 6,84 6,20 5,20 2,76 21,00 74,47 100,00
Sumber: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2004
PERSENTASE PENDUDUK INDONESIA BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS
MENURUT STATUS PENDIDIKAN DAN PROVINSI TAHUN 2004
Masih Sekolah
Indonesia
SD/MI D-I/Univ.
Lampiran 2.13.b
Perdesaan
Tidak/Belum Jumlah Tidak
No. Provinsi Pernah SLTP/ SMU/ yang Masih Bersekolah Jumlah
Sekolah MTs. SMK/MA Sekolah Lagi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 4,84 9,78 8,49 6,24 1,27 25,78 69,38 100,00
2 Sumatera Utara 3,34 10,23 8,22 5,36 0,41 24,22 72,43 100,00
3 Sumatera Barat 3,69 9,73 7,00 4,32 0,84 21,89 74,41 100,00
4 Riau 5,52 10,17 6,97 3,55 0,38 21,07 73,39 100,00
5 J ambi 5,38 9,34 6,49 3,41 0,37 19,61 75,00 100,00
6 Sumatera Selatan 4,61 9,71 6,65 2,69 0,31 19,36 76,03 100,00
7 Bengkulu 5,53 9,87 6,64 3,90 0,42 20,83 73,63 100,00
8 Lampung 5,94 9,48 6,94 3,01 0,30 19,73 74,33 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 7,97 8,21 5,24 2,57 0,02 16,04 75,98 100,00
10 DKI J akarta - - - - - - - -
11 J awa Barat 6,89 8,98 4,89 2,03 0,34 16,24 76,88 100,00
12 J awa Tengah 12,27 7,72 5,97 2,71 0,42 16,82 70,91 100,00
13 DI Yogyakarta 18,91 5,32 5,73 4,32 1,32 16,69 64,40 100,00
14 J awa Timur 17,05 6,82 4,71 2,30 0,39 14,22 68,73 100,00
15 Banten 7,63 11,41 5,77 2,07 0,17 19,42 72,94 100,00
16 Bali 18,39 5,99 4,50 3,13 0,56 14,18 67,42 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 22,73 9,69 6,25 3,38 0,37 19,69 57,58 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 13,06 12,23 4,48 1,64 0,23 18,58 68,36 100,00
19 Kalimantan Barat 11,46 11,17 6,01 2,72 0,23 20,13 68,41 100,00
20 Kalimantan Tengah 4,54 10,69 6,32 2,65 0,20 19,86 75,60 100,00
21 Kalimantan Selatan 5,96 9,31 5,47 2,31 0,33 17,42 76,61 100,00
22 Kalimantan Timur 6,66 8,86 6,20 3,58 0,63 19,27 74,07 100,00
23 Sulawesi Utara 0,32 5,87 6,10 3,72 0,56 16,25 83,43 100,00
24 Sulawesi Tengah 4,11 8,59 5,70 2,51 0,45 17,25 78,64 100,00
25 Sulawesi Selatan 16,26 8,99 5,49 2,69 0,39 17,56 66,18 100,00
26 Sulawesi Tenggara 10,18 9,82 7,50 3,41 0,33 21,06 68,76 100,00
27 Gorontalo 3,90 9,83 4,01 1,70 0,40 15,94 80,16 100,00
28 Maluku 1,80 10,55 8,35 4,90 0,25 24,05 74,15 100,00
29 Maluku Utara 4,57 11,52 6,40 3,42 0,18 21,52 73,91 100,00
30 Papua 29,27 12,00 5,32 2,44 0,20 19,96 50,78 100,00
10,56 8,79 5,81 2,87 0,40 17,87 71,55 100,00
Sumber: BPS, Statistik Kesra 2004
PERSENTASE PENDUDUK INDONESIA BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS
MENURUT STATUS PENDIDIKAN DAN PROVINSI TAHUN 2004
Masih Sekolah
Indonesia
SD/MI D-I/Univ.
Lampiran 2.14
PERSENTASE PENDUDUK INDONESIA BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS
MENURUT IJAZAH/STTB TERTINGGI YANG DIMILIKI DAN PROVINSI TAHUN 2004
Perkotaan+Perdesaan
Tidak Ijazah/STTB Tertinggi yang Dimiliki
No. Provinsi Mempunyai SLTP/ Ak/ S1/ Jumlah
Ijazah MTs. D-III D-IV
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 21,48 29,37 23,44 19,67 2,40 0,62 0,97 2,01 0,04 25,71 100,00
2 Sumatera Utara 21,92 28,03 23,94 18,14 4,85 0,52 0,82 1,71 0,08 26,12 100,00
3 Sumatera Barat 28,92 27,16 18,99 16,02 4,31 0,85 1,34 2,3 0,11 24,93 100,00
4 Riau 23,11 28,94 20,00 19,13 5,36 0,63 1,04 1,73 0,07 27,96 100,00
5 J ambi 27,56 33,09 19,94 12,89 3,45 0,76 0,73 1,53 0,04 19,40 100,00
6 Sumatera Selatan 27,82 35,10 18,05 13,15 3,09 0,64 0,71 1,42 0,02 19,03 100,00
7 Bengkulu 27,74 29,37 19,73 14,87 3,98 1,23 0,90 2,11 0,05 23,14 100,00
8 Lampung 31,46 33,43 19,10 10,43 3,46 0,49 0,53 1,04 0,06 16,01 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 37,46 31,94 14,33 8,56 5,25 0,79 0,78 0,84 0,04 16,26 100,00
10 DKI J akarta 12,02 20,29 21,53 27,01 9,14 1,02 3,44 5,22 0,31 46,14 100,00
11 J awa Barat 26,63 37,86 16,84 12,06 3,39 0,58 1,02 1,52 0,10 18,67 100,00
12 J awa Tengah 32,27 35,78 16,47 8,59 4,04 0,61 0,85 1,35 0,04 15,48 100,00
13 DI Yogyakarta 26,58 22,30 17,13 18,38 7,70 1,19 1,97 4,44 0,30 33,98 100,00
14 J awa Timur 34,07 31,98 16,02 10,58 4,15 0,44 0,54 2,16 0,07 17,94 100,00
15 Banten 26,85 32,18 17,54 15,84 3,89 0,68 1,23 1,72 0,08 23,44 100,00
16 Bali 30,61 27,95 13,89 17,95 4,15 1,52 1,01 2,78 0,14 27,55 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 45,19 26,36 13,55 10,60 1,63 0,59 0,52 1,52 0,04 14,90 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 41,24 33,32 11,69 8,66 2,68 0,47 0,65 1,26 0,04 13,76 100,00
19 Kalimantan Barat 39,48 29,16 17,37 9,33 2,51 0,56 0,53 0,97 0,08 13,98 100,00
20 Kalimantan Tengah 22,64 35,86 23,35 12,36 2,70 0,90 0,76 1,41 0,02 18,15 100,00
21 Kalimantan Selatan 29,65 34,08 17,39 12,74 3,02 0,83 0,53 1,73 0,03 18,88 100,00
22 Kalimantan Timur 22,39 26,74 20,66 19,41 5,83 0,89 1,26 2,66 0,16 30,21 100,00
23 Sulawesi Utara 20,18 28,09 23,01 19,93 4,93 0,73 0,73 2,25 0,15 28,72 100,00
24 Sulawesi Tengah 26,41 36,44 18,77 11,51 3,27 0,92 0,51 2,10 0,06 18,37 100,00
25 Sulawesi Selatan 35,68 28,68 15,75 12,58 3,13 0,67 0,77 2,65 0,08 19,88 100,00
26 Sulawesi Tenggara 28,96 31,05 18,68 14,34 3,04 0,68 0,61 2,56 0,08 21,31 100,00
27 Gorontalo 35,28 35,78 12,25 10,46 3,73 0,74 0,63 1,04 0,10 16,70 100,00
28 Maluku 20,72 33,39 21,22 17,40 3,47 1,31 0,65 1,72 0,12 24,67 100,00
29 Maluku Utara 30,11 30,88 20,40 13,38 2,62 0,59 0,38 1,61 0,03 18,61 100,00
30 Papua 44,27 23,66 14,38 11,24 3,97 0,43 0,58 1,40 0,08 17,70 100,00
29,40 32,27 17,62 13,07 4,06 0,64 0,94 1,92 0,08 20,71 100,00
Sumber: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2004
SMU +
Indonesia
S2-S3 SD/MI
SMU/
MA
SMK D-I/D-II
Lampiran 2.14.a
Perkotaan
Tidak
No. Provinsi Mempunyai SLTP/ Ak/ S1/ Jumlah
Ijazah MTs. D-III D-IV
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 14,51 19,61 22,24 31,33 4,51 1,04 1,85 4,81 0,10 100,00
2 Sumatera Utara 15,70 22,22 24,36 25,50 6,77 0,75 1,47 3,11 0,14 100,00
3 Sumatera Barat 16,69 19,31 19,99 28,66 6,52 0,90 2,76 4,86 0,32 100,00
4 Riau 13,67 18,59 19,86 31,63 9,69 0,94 2,05 3,42 0,15 100,00
5 J ambi 17,69 25,74 20,92 21,61 7,26 1,13 1,90 3,62 0,12 100,00
6 Sumatera Selatan 17,75 24,55 20,64 25,12 5,67 1,03 1,59 3,59 0,05 100,00
7 Bengkulu 14,46 19,61 22,47 25,05 7,87 1,90 2,41 6,04 0,19 100,00
8 Lampung 22,19 24,98 20,11 19,07 7,43 0,92 1,62 3,44 0,24 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 26,15 28,22 19,29 14,39 8,07 0,92 1,34 1,53 0,10 100,00
10 DKI J akarta 12,02 20,29 21,53 27,01 9,14 1,02 3,44 5,22 0,31 100,00
11 J awa Barat 20,41 30,89 19,85 18,37 5,21 0,75 1,77 2,57 0,18 100,00
12 J awa Tengah 26,14 29,93 18,74 13,95 6,29 0,79 1,57 2,49 0,09 100,00
13 DI Yogyakarta 19,82 17,87 16,81 25,79 8,66 1,26 3,03 6,28 0,48 100,00
14 J awa Timur 23,37 26,77 19,32 17,64 6,93 0,66 0,97 4,19 0,13 100,00
15 Banten 19,62 23,69 20,43 24,48 5,89 0,94 2,06 2,75 0,14 100,00
16 Bali 22,95 23,85 15,86 24,21 5,08 2,01 1,56 4,24 0,25 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 40,18 24,37 13,91 14,52 2,41 0,75 0,94 2,82 0,10 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 16,74 23,59 20,86 24,60 6,40 0,99 1,94 4,72 0,16 100,00
19 Kalimantan Barat 28,17 21,87 19,48 19,46 5,30 0,91 1,55 2,96 0,30 100,00
20 Kalimantan Tengah 15,91 25,27 24,22 22,12 5,15 1,61 1,92 3,73 0,06 100,00
21 Kalimantan Selatan 20,64 25,83 19,92 22,70 5,05 1,11 1,05 3,62 0,07 100,00
22 Kalimantan Timur 15,28 22,32 21,22 25,78 7,96 1,10 1,96 4,14 0,25 100,00
23 Sulawesi Utara 14,61 19,96 22,61 29,13 7,28 0,67 1,26 4,1 0,38 100,00
24 Sulawesi Tengah 14,53 21,33 22,07 25,67 6,55 1,36 1,65 6,53 0,31 100,00
25 Sulawesi Selatan 20,96 22,44 18,39 23,87 4,91 1,03 1,89 6,25 0,25 100,00
26 Sulawesi Tenggara 16,75 20,49 17,50 29,40 5,26 1,20 1,61 7,52 0,27 100,00
27 Gorontalo 20,21 27,25 17,55 22,37 6,75 1,22 1,24 3,12 0,31 100,00
28 Maluku 11,49 20,34 21,17 32,54 6,35 1,87 1,64 4,22 0,38 100,00
29 Maluku Utara 18,06 18,56 20,76 28,94 6,35 0,81 1,38 5,02 0,11 100,00
30 Papua 12,82 17,89 21,74 30,22 9,99 0,89 1,59 4,67 0,18 100,00
20,41 25,77 19,93 20,94 6,50 0,88 1,78 3,61 0,18 100,00
Sumber: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2004
Indonesia
PERSENTASE PENDUDUK INDONESIA BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS
MENURUT IJAZAH/STTB TERTINGGI YANG DIMILIKI DAN PROVINSI TAHUN 2004
Ijazah/STTB Tertinggi yang Dimiliki
SD/MI SMU/MA SMK D-I/D-II S2-S3
Lampiran 2.14.b
Perdesaan
Tidak
No. Provinsi Mempunyai SLTP/ Ak/ S1/ Jumlah
Ijazah MTs. D-III D-IV
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 24,20 33,19 23,90 15,11 1,58 0,46 0,62 0,92 0,02 100,00
2 Sumatera Utara 26,96 32,74 23,60 12,17 3,29 0,34 0,3 0,57 0,03 100,00
3 Sumatera Barat 34,40 30,69 18,55 10,34 3,32 0,82 0,71 1,15 0,02 100,00
4 Riau 30,70 37,28 20,11 9,06 1,87 0,37 0,22 0,37 0,01 100,00
5 J ambi 31,62 36,12 19,54 9,31 1,88 0,60 0,25 0,67 0,01 100,00
6 Sumatera Selatan 33,28 40,82 16,65 6,66 1,70 0,43 0,22 0,24 - 100,00
7 Bengkulu 33,19 33,38 18,61 10,70 2,38 0,95 0,28 0,5 - 100,00
8 Lampung 34,14 35,87 18,80 7,93 2,31 0,36 0,21 0,35 0,01 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 45,94 34,73 10,61 4,19 3,14 0,69 0,36 0,33 - 100,00
10 DKI J akarta - - - - - - - - - -
11 J awa Barat 33,41 45,47 13,55 5,17 1,41 0,39 0,21 0,38 0,00 100,00
12 J awa Tengah 36,61 39,91 14,87 4,79 2,44 0,49 0,33 0,55 0,01 100,00
13 DI Yogyakarta 36,25 28,64 17,59 7,79 6,33 1,09 0,45 1,81 0,05 100,00
14 J awa Timur 41,79 35,73 13,64 5,48 2,14 0,27 0,23 0,7 0,02 100,00
15 Banten 35,89 42,80 13,93 5,03 1,39 0,34 0,20 0,43 0,00 100,00
16 Bali 38,46 32,14 11,87 11,55 3,20 1,01 0,45 1,3 0,02 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 48,24 27,57 13,33 8,21 1,16 0,49 0,27 0,72 0,01 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 46,32 35,33 9,79 5,36 1,92 0,36 0,38 0,54 0,01 100,00
19 Kalimantan Barat 43,87 31,99 16,56 5,40 1,43 0,42 0,14 0,2 - 100,00
20 Kalimantan Tengah 25,51 40,37 22,98 8,20 1,65 0,60 0,26 0,42 - 100,00
21 Kalimantan Selatan 35,23 39,20 15,82 6,56 1,77 0,65 0,21 0,56 - 100,00
22 Kalimantan Timur 31,16 32,20 19,98 11,56 3,21 0,64 0,40 0,83 0,03 100,00
23 Sulawesi Utara 23,71 33,25 23,26 14,09 3,43 0,78 0,40 1,08 0,01 100,00
24 Sulawesi Tengah 29,58 40,47 17,89 7,73 2,40 0,80 0,21 0,92 - 100,00
25 Sulawesi Selatan 42,15 31,42 14,59 7,63 2,35 0,51 0,28 1,06 0,01 100,00
26 Sulawesi Tenggara 32,46 34,08 19,02 10,02 2,40 0,54 0,32 1,13 0,03 100,00
27 Gorontalo 40,89 38,96 10,27 6,02 2,60 0,56 0,40 0,27 0,02 100,00
28 Maluku 24,50 38,73 21,23 11,21 2,29 1,08 0,25 0,69 0,02 100,00
29 Maluku Utara 34,70 35,57 20,26 7,45 1,20 0,51 - 0,31 - 100,00
30 Papua 54,36 25,51 12,01 5,15 2,04 0,28 0,26 0,35 0,04 100,00
36,39 37,33 15,82 6,94 2,17 0,45 0,28 0,61 0,01 100,00
Sumber: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2004
Indonesia
PERSENTASE PENDUDUK INDONESIA BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS
MENURUT IJAZAH/STTB TERTINGGI YANG DIMILIKI DAN PROVINSI TAHUN 2004
Ijazah/STTB Tertinggi yang Dimiliki
SD/MI SMU/SM SMK D-I/D-II S2-S3
Lampiran 2.15
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 572.625 164.263 28,69 98.839 60,17
2 Sumatera Utara 2.194.168 792.832 36,13 558.925 70,50
3 Sumatera Barat 541.308 177.808 32,85 113.949 64,09
4 R i a u 747.584 366.587 49,04 278.700 76,03
5 J ambi 535.416 152.671 28,51 96.633 63,29
6 Sumatera Selatan 1.309.545 1.309.545 100,00 433.856 33,13
7 Bengkulu 375.333 211.512 56,35 121.699 57,54
8 Lampung 1.615.939 858.868 53,15 540.755 62,96
9 Kepulauan Bangka Belitung - -
10 Kepulauan Riau 177.874 10.607 5,96 7.753 73,09
11 DKI J akarta 136.397 3.680 2,70 1.151 31,28
12 J awa Barat 10.623.935 3.156.110 29,71 1.749.413 55,43
13 J awa Tengah 6.997.108 2.219.885 31,73 1.573.488 70,88
14 DI Yogyakarta 687.877 301.206 43,79 195.616 64,94
15 J awa Timur 8.775.972 2.677.880 30,51 984.875 36,78
16 Banten - -
17 Bali 690.892 262.037 37,93 213.110 81,33
18 Nusa Tenggara Barat 701.716 369.973 52,72 182.446 49,31
19 Nusa Tenggara Timur
20 Kalimantan Barat 482.746 112.942 23,40 47.930 42,44
21 Kalimantan Tengah 324.622 115.131 35,47 54.289 47,15
22 Kalimantan Selatan 343.557 230.359 67,05 100.004 43,41
23 Kalimantan Timur 685.965 166.821 24,32 101.283 60,71
24 Sulawesi Utara 464.148 358.076 77,15 219.189 61,21
25 Sulawesi Tengah 438.016 230.678 52,66 139.541 60,49
26 Sulawesi Selatan 1.433.155 682.523 47,62 432.302 63,34
27 Sulawesi Tenggara 407.338 274.276 67,33 150.329 54,81
28 Gorontalo - -
29 Maluku 61.494 55.329 89,97 40.565 73,32
30 Maluku Utara 159.140 68.454 43,01 39.024 57,01
31 Papua - - -
41.483.870 15.330.053 36,95 8.475.664 55,29
Sumber: Profil Kesehatan Provinsi tahun 2004
Keterangan : (-) data belumditerima
Indonesia
No Provinsi
% Sehat
(7)
Rumah Tangga Sehat
Jumlah Seluruhnya
(6)
Jumlah Sehat
PERSENTASE RUMAH TANGGA SEHAT MENURUT PROVINSI
TAHUN 2004
(3) (4)
Jumlah Diperiksa % Diperiksa
(5)
Lampiran 2.16
Jumlah
yang ada
Jumlah
diperiksa
Jumlah
sehat
% sehat
Jumlah
yang ada
Jumlah
diperiksa
Jumlah
sehat
% sehat
Jumlah
yang ada
Jumlah
diperiksa
Jumlah
sehat
% sehat
Jumlah
yang ada
Jumlah
diperiksa
Jumlah
sehat
% sehat
Jumlah
yang ada
Jumlah
diperiksa
Jumlah
sehat
% sehat
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 5 5 5 100,00 82 52 42 80,77 19 18 18 100,00 143 102 77 75,49 143 102 77 75,49
2 Sumatera Utara 826 648 528 81,48 3.001 2.238 1.559 69,66 337 300 184 61,33 4.518 3.116 2.247 72,11 8.682 6.302 4.518 71,69
3 Sumatera Barat 89 55 45 81,82 1.241 947 540 57,02 674 477 228 47,80 6.621 3.820 2.187 57,25 8.760 6.322 3.733 59,05
4 Riau 174 147 94 63,95 1.777 1.189 759 63,84 335 193 58 30,05 4.551 1.544 860 55,70 6.312 2.030 1.631 80,34
5 J ambi 122 84 66 78,57 782 561 355 63,28 188 102 57 55,88 4.488 1.776 982 55,29 6.850 3.102 1.711 55,16
6 Sumatera Selatan - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
7 Bengkulu 86 74 62 83,78 399 328 240 73,17 157 134 35 26,12 1.963 1.689 1.081 64,00 2.833 2.419 1.529 63,21
8 Lampung 130 101 90 89,11 3.740 2.293 1.489 64,94 522 461 299 64,86 2.846 1.786 1.100 61,59 7.238 4.641 2.978 64,17
9 Kepulauan Bangka Belitung - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
10 Kepulauan Riau 13 125 44 35,20 51 68 27 39,71 6 42 7 16,67 11 161 157 97,52 568 510 89,79
11 DKI J akarta 102 59 57,84 135 58 42,96 23 8 34,78 48 30 62,50 34 18 52,94
12 J awa Barat 688 568 453 79,75 3.904 3.559 2.089 58,70 557 480 265 55,21 13.905 9.361 6.735 71,95 19.054 13.968 9.542 68,31
13 J awa Tengah 1.021 643 527 81,96 6.685 5.177 3.721 71,88 1.675 1.331 679 51,01 68.881 41.256 32.189 78,02 48.262 48.407 37.115 76,67
14 DI Yogyakarta 279 275 271 98,55 845 654 545 83,33 204 174 129 74,14 757 692 604 87,28 2.085 1.795 1.549 86,30
15 J awa Timur 638 488 448 91,80 4.270 2.311 1.540 66,64 1.590 1.338 710 53,06 8.989 19.291 4.033 20,91 31.585 18.885 10.765 57,00
16 Banten - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
17 Bali 1.220 824 786 95,39 3.519 2.437 1.723 70,70 340 254 177 69,69 25.602 15.212 11.635 76,49 30.681 18.727 14.321 76,47
18 Nusa Tenggara Barat 154 134 122 91,04 648 370 295 79,73 103 99 45 45,45 5.979 3.287 2.123 64,59 6.884 3.890 2.585 66,45
19 Nusa Tenggara Timur - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
20 Kalimantan Barat 120 60 56 93,33 885 526 328 62,36 379 272 99 36,40 7.252 2.966 2.017 68,00 8.636 3.824 2.500 65,38
21 Kalimantan Tengah 80 61 38 62,30 714 637 429 67,35 88 68 14 20,59 1.195 687 452 65,79 4.497 2.525 1.238 49,03
22 Kalimantan Selatan 90 90 79 87,78 3.123 2.835 2.254 79,51 363 314 64 20,38 11.489 10.688 7.259 67,92 15.065 13.275 9.157 68,98
23 Kalimantan Timur 372 349 284 81,38 1.377 1.077 903 83,84 170 157 61 38,85 6.532 4.739 3.423 72,23 3.578 2.315 1.966 84,92
24 Sulawesi utara 109 119 105 88,24 1.118 935 620 66,31 153 148 88 59,46 1.737 1.898 985 51,90 3.552 3.124 1.945 62,26
25 Sulawesi Tengah 132 114 107 93,86 368 290 238 82,07 213 204 123 60,29 993 993 576 58,01 2.181 2.081 1.381 66,36
26 Sulawesi Selatan 510 389 243 62,47 1.954 1.543 828 53,66 668 574 234 40,77 8.898 5.557 2.954 53,16 12.030 8.063 4.259 52,82
27 Sulawesi Tenggara 101 83 69 83,13 636 474 232 48,95 302 286 82 28,67 2.707 2.417 1.544 63,88 4.063 3.648 2.104 57,68
28 Gorontalo - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
29 Sulawesi Barat - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
30 Maluku 54 45 42 93,33 389 363 232 63,91 39 30 16 53,33 256 172 132 76,74 336 324 242 74,69
31 Maluku Utara 66 59 44 74,58 288 230 149 64,78 47 30 19 63,33 622 491 317 64,56 1.023 810 529 65,31
32 Papua - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
33 Irian J aya Barat - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
7.079 5.642 4.667 82,72 41.796 31.229 21.195 67,87 9.129 7.509 3.699 49,26 190.935 133.749 85.699 64,07 234.330 171.181 117.903 68,88
Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2004
Keterangan : (-) data belumditerima
Indonesia
PERSENTASE TEMPAT UMUM DAN PENGELOLAAN MAKANAN (TUPM) SEHAT
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi
Hotel Restoran/Rumah Makan Pasar TUPM Lainnya Jumlah TUPM
Lampiran 2.16.a
JUMLAH TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN (TPM) DIPERIKSA DAN PERSENTASE TPM MEMENUHI SYARAT
MENURUT PROVINSI TAHUN 2003

(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 9.516 3.295 34,63 2.124 64,46
2 Sumatera Utara 6.471 2.155 33,30 1.040 48,26
3 Sumatera Barat 5.004 3.237 64,69 1.839 56,81
4 Riau 3.536 2.838 80,26 1.730 60,96
5 J ambi 3.058 1.628 53,24 838 51,47
6 Sumatera Selatan 5.404 4.345 80,40 3.106 71,48
7 Bengkulu 1.224 643 52,53 375 58,32
8 Lampung 3.668 2.604 70,99 1.664 63,90
9 Kepulauan Bangka Belitung 1.199 1.069 89,16 892 83,44
10 DKI J akarta 6.888 278 4,04 44 15,83
11 J awa Barat 26.937 15.516 57,60 8.108 52,26
12 J awa Tengah 3.804 2.304 60,57 1.389 60,29
13 DI Yogyakarta 3.579 2.098 58,62 1.728 82,36
14 J awa Timur 14.610 9.583 65,59 5.799 60,51
15 Banten 5.365 392 7,31 148 37,76
16 Bali 13.050 3.802 29,13 1.455 38,27
17 Nusa Tenggara Barat 4.487 4.894 109,07 2.854 58,32
18 Nusa Tenggara Timur 947 951 100,42 585 61,51
19 Kalimantan Barat 3.644 3.328 91,33 2.503 75,21
20 Kalimantan Tengah 3.558 2.051 57,64 856 41,74
21 Kalimantan Selatan 8.403 7.011 83,43 4.830 68,89
22 Kalimantan Timur 4.073 2.728 66,98 1.697 62,21
23 Sulawesi Utara 3.017 2.246 74,44 1.271 56,59
24 Sulawesi Tengah 1.744 1.692 97,02 1.263 74,65
25 Sulawesi Selatan 4.197 2.787 66,40 1.842 66,09
26 Sulawesi Tenggara 1.488 1.289 86,63 661 51,28
27 Gorontalo 1.753 1.325 75,58 773 58,34
28 Maluku 249 243 97,59 113 46,50
29 Maluku Utara 1.206 896 74,30 358 39,96
30 Papua 2.392 2.116 88,46 1.936 91,49
154.471 89.344 57,84 53.821 60,24
Sumber: Ditjen PPM-PL Depkes RI, Profil PPM-PL Tahun 2003
(7)
Indonesia
(3) (4) (5) (6)
Memenuhi Syarat
Jumlah % Jumlah %
No. Provinsi TPM Terdaftar
Diperiksa
Lampiran 2.17
<19 20 - 49 50 - 99 100 - 149 150+ Jumlah < 19 20 - 49 50 - 99 100 -149 150 + Jumlah < 19 20 - 49 50 - 99 100 -149 150 + Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 1,88 33,44 50,13 9,70 4,86 100,00 1,06 40,27 53,41 4,49 0,78 100,00 1,28 38,43 52,53 5,89 1,87 100,00
2 Sumatera Utara 1,37 32,66 48,98 10,99 6,00 100,00 2,17 47,72 44,49 4,03 1,59 100,00 1,84 41,35 46,39 6,97 3,45 100,00
3 Sumatera Barat 5,26 24,83 40,43 16,42 13,05 100,00 3,37 37,72 49,47 7,58 1,85 100,00 3,93 33,91 46,8 10,20 5,16 100,00
4 Riau 4,01 34,02 46,12 11,35 4,51 100,00 1,32 44,82 46,32 5,70 1,85 100,00 2,50 40,07 46,23 8,18 3,02 100,00
5 J ambi 1,53 31,26 48,34 13,45 5,42 100,00 2,37 44,90 48,03 3,53 1,17 100,00 2,14 41,19 48,12 6,23 2,33 100,00
6 Sumatera Selatan 4,24 47,23 37,46 6,56 4,51 100,00 2,60 46,95 45,28 3,80 1,37 100,00 3,13 47,04 42,74 4,70 2,39 100,00
7 Bengkulu 7,85 36,98 41,21 9,10 4,87 100,00 1,90 42,87 51,12 2,99 1,11 100,00 3,59 41,20 48,31 4,73 2,18 100,00
8 Lampung 2,18 26,09 55,64 10,70 5,39 100,00 1,39 30,81 60,41 5,64 1,76 100,00 1,56 29,79 59,38 6,73 2,54 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 0,99 41,84 50,02 5,65 1,51 100,00 0,86 43,10 44,68 8,38 2,98 100,00 0,91 42,55 47,01 7,19 2,34 100,00
10 DKI J akarta 16,00 32,30 29,03 10,54 12,13 100,00 - - - - - - 16,00 32,30 29,03 10,54 12,13 100,00
11 J awa Barat 4,41 36,02 44,65 9,30 5,62 100,00 1,68 46,23 45,18 5,00 1,92 100,00 3,03 41,19 44,92 7,12 3,75 100,00
12 J awa Tengah 2,42 18,11 54,44 16,48 8,54 100,00 0,34 14,17 59,87 17,09 8,54 100,00 1,18 15,77 57,67 16,84 8,54 100,00
13 DI Yogyakarta 21,39 12,88 38,46 14,44 12,82 100,00 0,37 9,37 52,3 22,26 15,69 100,00 13,30 11,53 43,79 17,45 13,93 100,00
14 J awa Timur 6,96 26,03 47,88 12,00 7,13 100,00 0,60 26,90 55,24 11,34 5,92 100,00 3,20 26,54 52,23 11,61 6,41 100,00
15 Banten 7,99 24,23 47,43 13,77 6,58 100,00 1,17 44,76 46,67 6,37 1,04 100,00 4,93 33,44 47,09 10,45 4,09 100,00
16 Bali 18,53 30,43 31,75 11,16 8,13 100,00 7,42 51,14 32,93 6,33 2,18 100,00 13,10 40,56 32,33 8,79 5,22 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 12,84 52,70 27,34 4,99 2,13 100,00 10,59 65,51 20,48 2,69 0,73 100,00 11,41 60,88 22,96 3,52 1,24 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 6,64 54,94 30,28 5,20 2,94 100,00 3,43 67,42 27,00 1,65 0,51 100,00 3,94 65,43 27,52 2,21 0,89 100,00
19 Kalimantan Barat 1,16 34,25 48,24 9,68 6,68 100,00 1,92 56,87 36,93 3,14 1,13 100,00 1,73 51,11 39,81 4,81 2,54 100,00
20 Kalimantan Tengah 4,29 42,28 44,56 6,14 2,73 100,00 0,81 49,31 44,74 4,29 0,84 100,00 1,82 47,27 44,69 4,83 1,39 100,00
21 Kalimantan Selatan 5,87 36,96 39,74 11,05 6,37 100,00 4,03 44,10 45,68 5,01 1,19 100,00 4,71 41,47 43,49 7,23 3,10 100,00
22 Kalimantan Timur 3,73 38,77 38,00 11,34 8,15 100,00 1,27 42,27 44,23 8,48 3,75 100,00 2,59 40,40 40,9 10,01 6,10 100,00
23 Sulawesi Utara 6,18 40,93 39,94 6,67 6,28 100,00 2,07 55,57 36,65 4,46 1,26 100,00 3,65 49,92 37,92 5,31 3,20 100,00
24 Sulawesi Tengah 3,30 41,51 34,38 10,53 10,28 100,00 1,78 50,74 39,41 5,77 2,30 100,00 2,08 48,91 38,42 6,71 3,87 100,00
25 Sulawesi Selatan 5,91 30,47 45,13 12,68 5,80 100,00 1,42 32,09 54,96 9,52 2,02 100,00 2,75 31,61 52,05 10,45 3,14 100,00
26 Sulawesi Tenggara 9,02 31,08 39,60 11,14 9,16 100,00 1,34 39,81 49,10 7,65 2,10 100,00 3,00 37,92 47,05 8,40 3,63 100,00
27 Gorontalo 2,82 44,70 37,54 9,46 5,48 100,00 8,07 68,29 18,24 2,93 2,47 100,00 6,68 62,06 23,34 4,65 3,26 100,00
28 Maluku 3,85 47,04 36,53 11,00 1,59 100,00 0,67 52,20 42,89 3,56 0,69 100,00 1,60 50,69 41,04 5,72 0,95 100,00
29 Maluku Utara 3,29 17,66 54,69 21,53 2,83 100,00 0,57 27,05 64,81 7,49 0,07 100,00 1,29 24,58 62,15 11,18 0,80 100,00
30 Papua 10,04 52,84 29,01 4,63 3,48 100,00 15,62 68,56 13,83 1,50 0,49 100,00 14,32 64,90 17,36 2,22 1,19 100,00
6,50 30,23 44,52 11,55 7,20 100,00 1,87 37,19 48,94 8,35 3,65 100,00 3,84 34,23 47,06 9,71 5,16 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
Indonesia
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT LUAS LANTAI TEMPAT TINGGAL (M
2
) DAN PROVINSI
No. Provinsi
Luas Lantai ( M
2
)
Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan
TAHUN 2004
Lampiran 2.18
Bukan Bukan Bukan
tanah tanah tanah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 97,09 2,91 100,00 87,51 12,49 100,00 90,09 9,91 100,00
2 Sumatera Utara 97,97 2,03 100,00 93,98 6,02 100,00 95,67 4,33 100,00
3 Sumatera Barat 98,61 1,39 100,00 96,89 3,11 100,00 97,40 2,60 100,00
4 Riau 97,47 2,53 100,00 94,78 5,22 100,00 95,96 4,04 100,00
5 J ambi 96,31 3,69 100,00 92,14 7,86 100,00 93,28 6,72 100,00
6 Sumatera Selatan 96,71 3,29 100,00 84,28 15,72 100,00 88,33 11,67 100,00
7 Bengkulu 98,08 1,92 100,00 96,60 13,40 110,00 89,86 10,14 100,00
8 Lampung 93,61 6,39 100,00 70,33 29,67 100,00 75,34 24,66 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 99,34 0,66 100,00 95,66 4,34 100,00 97,26 2,74 100,00
10 DKI J akarta 96,15 3,85 100,00 - - - 96,15 3,85 100,00
11 J awa Barat 95,13 4,87 100,00 89,86 10,14 100,00 92,46 7,54 100,00
12 J awa Tengah 84,62 15,38 100,00 57,51 42,49 100,00 68,52 31,48 100,00
13 DI Yogyakarta 94,62 5,38 100,00 77,78 22,22 100,00 88,14 11,86 100,00
14 J awa Timur 91,50 8,50 100,00 67,60 32,40 100,00 77,36 22,64 100,00
15 Banten 93,77 6,23 100,00 84,92 15,08 100,00 89,80 10,20 100,00
16 Bali 96,76 3,24 100,00 89,51 10,49 100,00 93,21 6,79 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 88,42 11,58 100,00 81,33 18,67 100,00 83,89 16,11 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 88,63 11,37 100,00 47,70 52,30 100,00 54,21 45,79 100,00
19 Kalimantan Barat 97,09 2,91 100,00 96,49 3,51 100,00 96,64 3,36 100,00
20 Kalimantan Tengah 96,91 3,09 100,00 96,18 3,82 100,00 96,39 3,61 100,00
21 Kalimantan Selatan 97,04 2,96 100,00 96,53 3,47 100,00 96,71 3,29 100,00
22 Kalimantan Timur 96,59 3,41 100,00 93,85 6,15 100,00 95,31 4,69 100,00
23 Sulawesi Utara 97,04 2,96 100,00 90,75 9,25 100,00 93,18 6,82 100,00
24 Sulawesi Tengah 96,87 3,13 100,00 83,39 16,61 100,00 86,05 13,95 100,00
25 Sulawesi Selatan 96,54 3,46 100,00 95,07 4,93 100,00 95,51 4,49 100,00
26 Sulawesi Tenggara 90,32 9,68 100,00 88,03 11,97 100,00 88,53 11,47 100,00
27 Gorontalo 96,98 3,02 100,00 83,80 16,20 100,00 87,28 12,72 100,00
28 Maluku 93,39 6,61 100,00 77,80 22,20 100,00 82,33 17,67 100,00
29 Maluku Utara 91,97 8,03 100,00 77,06 22,94 100,00 80,98 19,02 100,00
30 Papua 94,89 5,11 100,00 73,05 26,95 100,00 78,13 21,87 100,00
93,30 6,7 100,00 78,68 21,32 100,00 84,90 15,10 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
Jumlah Tanah Jumlah Tanah Jumlah
Indonesia
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT JENIS LANTAI TERLUAS DAN PROVINSI
No. Provinsi
Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan
Tanah
TAHUN 2004
Lampiran 2.19
Perkotaan+Perdesaan
Jumlah Jumlah
Sumber Sumber
air minum air minum
terlindung tak terlindung
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 1,12 14,66 2,33 48,90 2,70 0,79 70,50 24,43 2,87 2,07 0,15 29,52
2 Sumatera Utara 0,81 22,60 10,95 34,36 7,19 1,64 77,55 12,29 6,16 3,25 0,74 22,44
3 Sumatera Barat 0,66 19,95 3,78 36,03 9,31 2,37 72,10 15,51 7,38 4,18 0,83 27,90
4 Riau 2,18 11,70 3,12 34,66 1,55 22,46 75,67 20,30 0,74 2,36 0,92 24,32
5 J ambi 0,40 16,80 1,30 37,14 1,14 12,74 69,52 20,06 1,00 9,33 0,08 30,47
6 Sumatera Selatan 0,97 16,87 2,06 40,40 0,78 5,49 66,57 19,59 0,97 12,53 0,34 33,43
7 Bengkulu 0,19 12,32 1,96 36,06 5,46 - 55,99 39,63 2,20 2,16 0,03 44,02
8 Lampung 1,83 5,30 1,60 54,81 2,62 0,66 66,82 28,55 2,93 1,35 0,35 33,18
9 Bangka Belitung 0,64 5,28 7,48 55,06 1,53 0,60 70,59 26,76 1,92 0,16 0,57 29,41
10 DKI J akarta 11,25 48,60 32,91 6,46 0,06 0,34 99,62 0,16 - 0,02 0,20 0,38
11 J awa Barat 2,25 11,91 26,24 34,73 9,73 0,13 84,99 8,95 4,82 0,62 0,61 15,00
12 J awa Tengah 1,16 14,00 10,99 46,97 12,25 0,80 86,17 9,06 3,77 0,68 0,33 13,84
13 DI Yogyakarta 6,69 9,61 8,91 57,07 2,56 5,47 90,31 8,04 1,49 - 0,17 9,70
14 J awa Timur 3,58 18,86 15,48 41,06 8,59 0,65 88,22 7,53 3,17 0,44 0,65 11,79
15 Banten 3,84 16,10 38,02 21,97 4,16 1,19 85,28 9,23 3,39 1,61 0,48 14,71
16 Bali 8,58 42,96 3,72 21,51 13,39 3,81 93,97 1,79 3,48 0,70 0,04 6,01
17 Nusa Tenggara Barat 1,80 12,26 6,35 54,32 11,26 - 85,99 10,87 1,84 0,95 0,34 14,00
18 Nusa Tenggara Timur 0,14 18,15 0,91 19,03 22,84 1,77 62,84 9,35 22,79 4,64 0,38 37,16
19 Kalimantan Barat 1,08 9,76 0,99 6,07 2,56 40,17 60,63 8,14 3,18 28,00 0,05 39,37
20 Kalimantan Tengah 0,50 16,29 10,70 16,85 0,47 5,75 50,56 7,14 0,80 41,46 0,04 49,44
21 Kalimantan Selatan 0,70 33,63 13,17 14,48 0,31 2,96 65,25 17,25 0,96 16,43 0,12 34,76
22 Kalimantan Timur 1,40 49,00 3,93 11,15 2,49 7,62 75,59 9,57 0,70 13,69 0,45 24,41
23 Sulawesi Utara 1,31 27,81 3,38 33,79 17,34 1,71 85,34 12,70 1,84 0,03 0,09 14,66
24 Sulawesi Tengah 0,38 15,51 16,43 24,04 15,41 1,26 73,03 14,71 5,81 6,35 0,10 26,97
25 Sulawesi Selatan 0,48 22,52 9,56 31,33 9,65 1,82 75,36 15,55 5,94 2,98 0,17 24,64
26 Sulawesi Tenggara 0,13 25,74 3,23 32,04 8,24 2,78 72,16 19,84 4,16 3,44 0,40 27,84
27 Gorontalo 0,27 16,97 1,92 53,50 0,57 - 73,23 18,54 4,75 3,46 0,03 26,78
28 Maluku 0,08 22,04 2,00 31,99 21,97 0,45 78,53 14,47 5,89 0,16 0,95 21,47
29 Maluku Utara 0,32 18,98 2,98 36,22 2,98 4,75 66,23 26,94 3,10 3,68 0,06 33,78
30 Papua 1,06 15,45 2,32 14,52 10,60 12,24 56,19 14,20 21,73 7,41 0,47 43,81
2,45 17,96 14,37 35,95 8,07 2,66 81,46 11,16 4,04 2,87 0,46 18,53
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
TAHUN 2004
Air sungai Lainnya
Mata air
terlindung
Sumur
terlindung
Air hujan
Sumur tak
terlindung
Indonesia
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT SUMBER AIR MINUM DAN PROVINSI
No. Provinsi
Sumber Air Minum Terlindung Sumber Air Minum Tak Terlindung
Air Kemasan Ledeng Pompa
Mata air tak
terlindung
Lampiran 2.19.a
Perkotaan
Jumlah Jumlah
Sumber Sumber
air minum air minum
terlindung tak terlindung
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 3,53 43,06 3,88 2,38 36,88 1,03 90,76 8,64 0,30 0,01 0,29 9,24
2 Sumatera Utara 1,31 45,93 9,89 1,13 35,23 0,05 93,54 5,24 0,29 0,22 0,70 6,45
3 Sumatera Barat 1,74 40,95 5,56 4,91 35,82 0,79 89,77 7,45 1,26 1,36 0,16 10,23
4 Riau 4,51 24,45 5,01 1,62 40,25 13,95 89,79 7,64 0,33 0,27 1,98 10,22
5 J ambi 1,24 38,24 1,88 - 33,77 15,81 90,94 8,65 - 0,31 0,09 9,05
6 Sumatera Selatan 1,29 46,43 2,59 0,30 32,84 0,73 84,18 7,14 0,33 7,65 0,69 15,81
7 Bengkulu 0,49 27,72 4,49 2,73 44,99 - 80,42 19,49 - - 0,10 19,59
8 Lampung 3,22 20,58 5,34 1,02 53,08 - 83,24 15,91 0,67 - 0,19 16,77
9 Kepulauan Bangka Belitung 0,92 10,46 9,12 0,83 58,97 1,16 81,46 17,84 0,45 0,05 0,19 18,53
10 DKI J akarta 11,25 48,60 32,91 0,06 6,46 0,34 99,62 0,16 - 0,02 0,20 0,38
11 J awa Barat 3,82 18,77 34,22 3,20 31,92 - 91,93 5,48 1,74 0,02 0,82 8,06
12 J awa Tengah 2,44 26,58 14,11 2,83 45,51 0,03 91,50 6,87 1,26 0,11 0,25 8,49
13 DI Yogyakarta 10,66 6,57 13,64 0,03 63,84 - 94,74 4,97 - - 0,28 5,25
14 J awa Timur 7,37 35,19 17,78 2,60 32,38 0,20 95,52 3,41 0,28 0,35 0,44 4,48
15 Banten 5,87 22,79 55,19 0,88 10,65 0,60 95,98 3,56 0,28 0,03 0,15 4,02
16 Bali 14,82 47,02 5,98 5,04 23,48 0,18 96,52 2,00 0,88 0,52 0,09 3,49
17 Nusa Tenggara Barat 4,33 19,65 7,31 4,68 52,48 - 88,45 8,62 2,32 0,44 0,18 11,56
18 Nusa Tenggara Timur 0,57 63,37 0,86 2,20 20,72 - 87,72 8,41 2,31 0,82 0,75 12,29
19 Kalimantan Barat 3,59 22,33 0,89 0,75 4,29 59,58 91,43 5,12 0,09 3,29 0,08 8,58
20 Kalimantan Tengah 1,22 40,31 28,18 0,02 15,23 1,75 86,71 3,26 0,04 9,91 0,08 13,29
21 Kalimantan Selatan 1,59 67,34 5,15 - 12,89 0,22 87,19 7,95 0,06 4,59 0,22 12,82
22 Kalimantan Timur 2,47 73,44 2,15 0,67 7,72 5,58 92,03 3,01 0,18 4,11 0,66 7,96
23 Sulawesi Utara 0,74 49,98 5,61 1,57 32,39 0,68 90,97 8,79 0,03 - 0,20 9,02
24 Sulawesi Tengah 1,32 41,70 38,95 5,29 7,30 - 94,56 3,17 2,02 - 0,25 5,44
25 Sulawesi Selatan 1,42 63,87 8,26 0,91 20,37 0,05 94,88 3,93 0,16 0,69 0,33 5,11
26 Sulawesi Tenggara 0,40 60,36 8,37 2,77 19,77 - 91,67 4,94 0,96 1,31 1,11 8,32
27 Gorontalo 0,69 36,34 4,24 - 45,73 - 87,00 12,90 - - 0,10 13,00
28 Maluku 0,26 55,82 4,62 10,03 19,39 - 90,12 6,35 0,45 - 3,07 9,87
29 Maluku Utara 0,68 61,64 7,10 - 21,98 5,19 96,59 3,40 - - - 3,40
30 Papua 4,10 51,58 6,21 1,37 19,32 9,48 92,06 3,80 1,84 1,07 1,24 7,95
4,94 32,84 20,75 2,15 30,94 1,40 93,02 5,14 0,79 0,55 0,49 6,97
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
TAHUN 2004
Sumber Air Minum Terlindung Sumber Air Minum Tak Terlindung
Lainnya Air sungai
Mata air tak
terlindung
Sumur tak
terlindung
Indonesia
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT SUMBER AIR MINUM DAN PROVINSI
Air Kemasan Ledeng Pompa
Mata air
terlindung
Sumur
terlindung
Air hujan
No. Provinsi
Lampiran 2.19.b
Perdesaan
Jumlah Jumlah
Sumber Sumber
air minum air minum
terlindung tak terlindung
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 0,23 4,21 1,76 2,81 53,32 0,70 63,03 30,24 3,81 2,82 0,09 36,96
2 Sumatera Utara 0,45 5,52 11,73 11,62 33,73 2,79 65,84 17,45 10,46 5,47 0,77 34,15
3 Sumatera Barat 0,21 11,13 3,03 11,16 36,11 3,04 64,68 18,90 9,94 5,36 1,11 35,31
4 Riau 0,35 1,68 1,64 1,50 30,27 29,15 64,59 30,26 1,06 4,00 0,09 35,41
5 J ambi 0,08 8,79 1,09 1,57 38,40 11,60 61,53 24,32 1,37 12,70 0,08 38,47
6 Sumatera Selatan 0,81 2,60 1,80 1,00 44,05 7,78 58,04 25,60 1,28 14,89 0,18 41,95
7 Bengkulu 0,07 6,21 0,95 6,54 32,53 - 46,30 47,61 3,07 3,02 - 53,70
8 Lampung 1,45 1,12 0,57 3,06 55,29 0,84 62,33 32,01 3,55 1,72 0,39 37,67
9 Kepulauan Bangka Belitung 0,42 1,28 6,22 2,07 52,04 0,17 62,20 33,63 3,06 0,25 0,86 37,80
10 DKI J akarta - - - - - - - - - - - -
11 J awa Barat 0,73 5,23 18,46 16,09 37,46 0,27 78,24 12,32 7,82 1,21 0,40 21,75
12 J awa Tengah 0,29 5,40 8,85 18,68 47,96 1,32 82,50 10,56 5,49 1,06 0,38 17,49
13 DI Yogyakarta 0,34 14,45 1,34 6,61 46,24 14,21 83,19 12,95 3,87 - - 16,82
14 J awa Timur 0,97 7,60 13,88 12,72 47,05 0,95 83,17 10,38 5,16 0,50 0,79 16,83
15 Banten 1,35 7,88 16,93 8,18 35,88 1,92 72,14 16,20 7,22 3,56 0,89 27,87
16 Bali 2,06 38,73 1,36 22,13 19,45 7,60 91,33 1,58 6,19 0,89 - 8,66
17 Nusa Tenggara Barat 0,37 8,08 5,81 14,99 55,36 - 84,61 12,14 1,57 1,24 0,43 15,38
18 Nusa Tenggara Timur 0,05 9,59 0,92 26,74 18,71 2,11 58,12 9,53 26,67 5,37 0,31 41,88
19 Kalimantan Barat 0,22 5,46 1,03 3,17 6,68 33,53 50,09 9,18 4,24 36,46 0,04 49,92
20 Kalimantan Tengah 0,20 6,45 3,55 0,66 17,52 7,38 35,76 8,72 1,12 54,37 0,03 64,24
21 Kalimantan Selatan 0,18 14,01 17,84 0,49 15,40 4,55 52,47 22,66 1,48 23,33 0,05 47,52
22 Kalimantan Timur 0,18 20,92 5,98 4,58 15,08 9,97 56,71 17,10 1,30 24,69 0,20 43,29
23 Sulawesi Utara 1,66 13,86 1,98 27,26 34,66 2,36 81,78 15,17 2,98 0,05 0,02 18,22
24 Sulawesi Tengah 0,15 9,06 10,88 17,90 28,17 1,58 67,74 17,55 6,74 7,91 0,06 32,26
25 Sulawesi Selatan 0,08 5,14 10,11 13,33 35,94 2,56 67,16 20,43 8,37 3,94 0,10 32,84
26 Sulawesi Tenggara 0,05 16,20 1,82 9,75 35,43 3,54 66,79 23,95 5,04 4,03 0,20 33,22
27 Gorontalo 0,12 10,01 1,08 0,77 56,29 - 68,27 20,57 6,45 4,71 - 31,73
28 Maluku - 8,18 0,93 26,87 37,16 0,63 73,77 17,81 8,13 0,22 0,08 26,24
29 Maluku Utara 0,19 3,75 1,51 4,04 41,30 4,59 55,38 35,33 4,21 5,00 0,07 44,61
30 Papua 0,14 4,50 1,14 13,40 13,06 13,08 45,32 17,35 27,75 9,33 0,24 54,67
0,60 6,95 9,66 12,46 39,66 3,60 72,93 15,62 6,44 4,59 0,43 27,08
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT SUMBER AIR MINUM DAN PROVINSI
Air
Kemasan
Ledeng Pompa
Mata air
terlindung
Sumur
terlindung
Air hujan
TAHUN 2004
Indonesia
Mata air tak
terlindung
Air sungai Lainnya
Sumur tak
terlindung
Provinsi No.
Sumber Air Minum Terlindung Sumber Air Minum Tak Terlindung
Lampiran 2.20
Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan
No. Provinsi Leher 'Pleng- Cemplung/ Tidak Leher 'Pleng- Cemplung/ Tidak Leher 'Pleng- Cemplung/ Tidak
Angsa sengan' Cubluk pakai Angsa sengan' Cubluk pakai Angsa sengan' Cubluk pakai
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 80,72 10,09 8,08 1,11 100,00 46,16 12,13 30,24 11,48 100,00 57,15 11,48 23,19 8,18 100,00
2 Sumatera Utara 75,63 13,70 8,80 1,86 100,00 36,00 14,21 35,98 13,81 100,00 54,91 13,97 23,01 8,11 100,00
3 Sumatera Barat 78,98 9,66 8,98 2,38 100,00 42,45 11,30 34,18 12,06 100,00 56,33 10,68 24,61 8,38 100,00
4 Riau 80,43 12,59 6,18 0,80 100,00 36,48 17,24 36,29 9,98 100,00 57,26 15,04 22,06 5,64 100,00
5 J ambi 73,20 10,04 14,24 2,52 100,00 37,88 12,48 38,96 10,67 100,00 49,38 11,69 30,92 8,02 100,00
6 Sumatera Selatan 62,70 23,67 11,21 2,42 100,00 31,79 12,54 46,19 9,48 100,00 44,16 17,00 32,19 6,65 100,00
7 Bengkulu 88,63 10,60 0,77 - 100,00 55,83 6,71 29,86 7,60 100,00 68,26 8,19 18,84 4,72 100,00
8 Lampung 80,06 9,40 9,39 1,14 100,00 39,84 8,98 48,02 3,16 100,00 49,03 9,07 39,19 2,70 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 84,31 8,61 3,97 3,10 100,00 70,97 5,81 13,39 9,83 100,00 78,48 7,39 8,09 6,05 100,00
10 DKI J akarta 82,90 14,86 2,08 0,16 100,00 - - - - 0,00 82,90 14,86 2,08 0,16 100,00
11 J awa Barat 75,06 16,22 5,27 3,45 100,00 54,47 12,69 18,73 14,11 100,00 65,53 14,58 11,50 8,39 100,00
12 J awa Tengah 83,83 7,09 7,65 1,43 100,00 54,55 9,31 29,89 6,25 100,00 67,59 8,32 19,99 4,10 100,00
13 DI Yogyakarta 91,61 6,13 2,02 0,24 100,00 54,85 3,68 40,79 0,68 100,00 77,21 5,17 17,21 0,42 100,00
14 J awa Timur 81,27 8,44 9,11 1,18 100,00 42,15 10,80 44,74 2,31 100,00 60,88 9,67 27,68 1,77 100,00
15 Banten 87,27 8,85 3,44 0,43 100,00 62,18 12,59 18,08 7,15 100,00 79,04 10,08 8,24 2,63 100,00
16 Bali 94,22 4,59 0,98 0,21 100,00 88,36 9,24 1,70 0,70 100,00 91,89 6,44 1,26 0,40 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 82,84 11,49 3,07 2,60 100,00 69,52 16,01 8,45 6,02 100,00 75,81 13,88 5,91 4,41 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 65,09 22,32 9,16 3,43 100,00 21,14 20,08 47,37 11,41 100,00 30,05 20,53 39,62 9,79 100,00
19 Kalimantan Barat 82,36 13,87 2,74 1,04 100,00 41,31 21,77 26,17 10,76 100,00 55,30 19,08 18,18 7,44 100,00
20 Kalimantan Tengah 72,47 11,23 9,57 6,72 100,00 25,58 13,69 34,49 26,24 100,00 41,91 12,83 25,81 19,44 100,00
21 Kalimantan Selatan 71,72 14,04 8,81 5,44 100,00 39,87 14,72 27,23 18,17 100,00 53,11 14,44 19,57 12,88 100,00
22 Kalimantan Timur 72,81 18,58 7,58 1,03 100,00 47,81 18,09 27,47 6,63 100,00 62,16 18,37 16,06 3,42 100,00
23 Sulawesi Utara 87,41 9,51 2,64 0,44 100,00 74,04 15,03 8,14 2,79 100,00 79,92 12,60 5,72 1,75 100,00
24 Sulawesi Tengah 89,35 6,67 2,44 1,54 100,00 63,92 9,81 19,20 7,07 100,00 71,55 8,87 14,17 5,41 100,00
25 Sulawesi Selatan 86,74 9,83 2,72 0,72 100,00 60,39 14,22 20,34 5,05 100,00 71,07 12,44 13,20 3,29 100,00
26 Sulawesi Tenggara 89,44 4,09 5,02 1,45 100,00 51,91 5,08 31,40 11,61 100,00 62,24 4,81 24,14 8,82 100,00
27 Gorontalo 90,90 3,11 1,86 4,13 100,00 73,95 5,26 10,01 10,78 100,00 81,13 4,35 6,56 7,96 100,00
28 Maluku 82,41 8,05 6,91 2,63 100,00 60,62 7,13 18,05 14,19 100,00 69,57 7,51 13,48 9,44 100,00
29 Maluku Utara 98,20 0,83 0,69 0,28 100,00 71,30 13,41 7,20 8,10 100,00 81,22 8,77 4,80 5,21 100,00
30 Papua 70,89 24,39 4,66 0,06 100,00 29,90 16,16 29,60 24,35 100,00 45,20 19,23 20,29 15,28 100,00
80,25 11,9 6,14 1,72 100,00 48,01 12,04 31,35 8,6 100,00 63,85 11,97 18,96 5,22 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT TEMPAT PEMBUANGAN AIR BESAR DAN PROVINSI
Indonesia
Jumlah Jumlah Jumlah
TAHUN 2004
Lampiran 2.21
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 42,95 2,24 15,83 27,10 7,72 4,16 100,00
2 Sumatera Utara 45,21 1,12 13,86 28,79 5,23 5,79 100,00
3 Sumatera Barat 31,04 16,60 28,98 17,82 3,10 2,46 100,00
4 Riau 40,97 1,20 12,76 39,58 4,01 1,48 100,00
5 J ambi 32,67 1,64 29,09 30,63 4,59 1,38 100,00
6 Sumatera Selatan 33,88 2,26 26,72 33,44 1,57 2,13 100,00
7 Bengkulu 31,45 1,44 21,89 34,93 7,65 2,64 100,00
8 Lampung 28,92 2,63 9,47 54,25 2,67 2,05 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 44,36 0,32 5,65 18,57 25,17 5,93 100,00
10 DKI J akarta 85,30 1,11 4,23 8,06 0,18 1,12 100,00
11 J awa Barat 44,56 15,50 22,26 14,32 1,69 1,67 100,00
12 J awa Tengah 41,64 5,29 25,68 24,57 1,69 1,12 100,00
13 DI Yogyakarta 65,31 0,89 9,56 22,82 1,01 0,40 100,00
14 J awa Timur 39,17 1,21 25,66 29,56 3,51 0,89 100,00
15 Banten 55,21 8,69 11,69 12,14 10,98 1,30 100,00
16 Bali 65,69 0,22 6,03 11,53 15,18 1,34 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 31,14 2,71 32,65 11,06 19,25 3,19 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 13,15 0,26 0,51 55,53 17,99 12,56 100,00
19 Kalimantan Barat 27,60 1,54 25,85 31,57 9,03 4,41 100,00
20 Kalimantan Tengah 24,05 0,57 45,22 27,81 1,43 0,91 100,00
21 Kalimantan Selatan 30,57 1,09 31,79 34,62 1,36 0,57 100,00
22 Kalimantan Timur 48,14 0,87 18,44 29,51 1,65 1,39 100,00
23 Sulawesi Utara 53,30 0,48 12,07 28,53 3,38 2,24 100,00
24 Sulawesi Tengah 32,64 1,43 19,49 23,11 16,99 6,34 100,00
25 Sulawesi Selatan 44,11 1,75 11,68 20,49 19,51 2,46 100,00
26 Sulawesi Tenggara 30,76 0,42 6,15 35,31 20,57 6,80 100,00
27 Gorontalo 31,47 0,78 14,93 18,69 30,66 3,46 100,00
28 Maluku 30,57 0,75 14,56 18,70 29,62 5,80 100,00
29 Maluku Utara 52,05 0,62 13,97 8,32 22,24 2,80 100,00
30 Papua 31,24 1,83 8,96 22,72 28,62 6,63 100,00
42,71 5,16 20,22 24,41 5,38 2,12 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT TEMPAT PENAMPUNGAN AKHIR KOTORAN/TINJA DAN PROVINSI
Perkotaan+Perdesaan
Indonesia
TAHUN 2004
Provinsi No Jumlah
(9)
Sungai/
Danau
Lainnya
Pantai/
tanah terbuka
Lobang
tanah
(8) (7) (6) (5)
Sawah
Tangki
septik
(4) (3)
Kolam/
Lampiran 2.21.a
Perkotaan
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 74,49 1,32 6,83 14,85 1,74 0,77 100,00
2 Sumatera Utara 73,44 0,65 6,32 16,70 0,62 2,28 100,00
3 Sumatera Barat 60,89 7,87 9,26 17,25 2,09 2,65 100,00
4 Riau 68,36 1,02 4,45 25,19 0,70 0,28 100,00
5 J ambi 67,14 1,77 11,03 18,03 0,33 1,70 100,00
6 Sumatera Selatan 65,14 2,69 10,73 20,16 0,47 0,81 100,00
7 Bengkulu 60,70 1,52 4,46 32,78 0,39 0,15 100,00
8 Lampung 61,10 1,59 9,27 25,19 0,36 2,50 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 64,69 0,44 5,53 14,23 12,37 2,74 100,00
10 DKI J akarta 85,30 1,11 4,23 8,06 0,18 1,12 100,00
11 J awa Barat 57,52 6,57 21,78 11,28 0,83 2,02 100,00
12 J awa Tengah 61,01 2,86 21,15 13,37 0,85 0,77 100,00
13 DI Yogyakarta 80,23 0,84 12,03 6,61 0,03 0,27 100,00
14 J awa Timur 63,38 0,91 17,46 16,88 0,87 0,50 100,00
15 Banten 76,38 6,39 3,03 9,62 3,79 0,80 100,00
16 Bali 78,35 0,15 4,18 13,41 3,49 0,42 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 43,01 1,16 32,95 13,46 7,17 2,23 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 40,38 0,55 0,29 55,76 1,42 1,59 100,00
19 Kalimantan Barat 67,61 1,59 5,45 22,91 1,55 0,90 100,00
20 Kalimantan Tengah 55,73 0,50 17,06 25,72 0,34 0,65 100,00
21 Kalimantan Selatan 52,08 0,99 19,70 26,28 0,48 0,47 100,00
22 Kalimantan Timur 67,12 1,16 10,31 19,65 0,46 1,30 100,00
23 Sulawesi Utara 79,21 0,43 2,37 16,90 0,74 0,35 100,00
24 Sulawesi Tengah 65,84 0,44 10,25 17,63 3,58 2,25 100,00
25 Sulawesi Selatan 78,59 1,02 5,12 11,11 3,32 0,84 100,00
26 Sulawesi Tenggara 58,73 0,50 4,23 25,88 7,02 3,64 100,00
27 Gorontalo 61,23 1,26 11,36 22,13 2,79 1,24 100,00
28 Maluku 58,82 1,13 8,06 20,57 9,82 1,60 100,00
29 Maluku Utara 90,18 0,27 - 8,05 1,22 0,27 100,00
30 Papua 81,99 3,02 2,78 11,36 0,79 0,05 100,00
66,01 2,86 14,27 14,44 1,24 1,18 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
(6) (5) (4) (3)
Pantai/
tanah terbuka
Lainnya
(9) (8) (7)
Sungai/
Danau
Lobang
tanah
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT TEMPAT PENAMPUNGAN AKHIR KOTORAN/TINJA DAN PROVINSI
Indonesia
TAHUN 2004
No Provinsi Jumlah
Tangki
septik
Kolam/
Sawah
Lampiran 2.21.b
Perdesaan
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 31,35 2,57 19,14 31,61 9,93 5,40 100,00
2 Sumatera Utara 24,55 1,47 19,39 37,63 8,60 8,36 100,00
3 Sumatera Barat 18,51 20,27 37,26 18,05 3,53 2,38 100,00
4 Riau 19,44 1,34 19,29 50,89 6,61 2,43 100,00
5 J ambi 19,80 1,59 35,83 35,34 6,19 1,26 100,00
6 Sumatera Selatan 18,80 2,06 34,43 39,85 2,10 2,76 100,00
7 Bengkulu 19,86 1,40 28,80 35,79 10,52 3,62 100,00
8 Lampung 20,10 2,91 9,53 62,22 3,30 1,93 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 28,69 0,22 5,74 21,92 35,04 8,40 100,00
10 DKI J akarta - - - - - - 0,00
11 J awa Barat 31,92 24,21 22,73 17,29 2,54 1,32 100,00
12 J awa Tengah 28,41 6,95 28,78 32,23 2,27 1,36 100,00
13 DI Yogyakarta 41,46 0,98 5,62 48,73 2,59 0,62 100,00
14 J awa Timur 22,46 1,42 31,32 38,32 5,33 1,15 100,00
15 Banten 29,20 11,53 22,32 15,23 19,81 1,91 100,00
16 Bali 52,46 0,30 7,97 9,57 27,41 2,30 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 24,42 3,59 32,48 9,68 26,09 3,74 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 7,99 0,20 0,55 55,49 21,13 14,64 100,00
19 Kalimantan Barat 13,92 1,52 32,82 34,54 11,59 5,61 100,00
20 Kalimantan Tengah 11,09 0,60 56,74 28,67 1,88 1,02 100,00
21 Kalimantan Selatan 18,05 1,15 38,83 39,47 1,87 0,63 100,00
22 Kalimantan Timur 26,33 0,53 27,78 40,84 3,02 1,51 100,00
23 Sulawesi Utara 37,00 0,52 18,17 35,84 5,05 3,42 100,00
24 Sulawesi Tengah 24,46 1,68 21,76 24,46 20,30 7,34 100,00
25 Sulawesi Selatan 29,62 2,05 14,43 24,44 26,32 3,14 100,00
26 Sulawesi Tenggara 23,04 0,39 6,67 37,91 24,30 7,68 100,00
27 Gorontalo 20,79 0,61 16,22 17,46 40,66 4,26 100,00
28 Maluku 18,97 0,60 17,23 17,93 37,74 7,53 100,00
29 Maluku Utara 38,44 0,75 18,96 8,41 29,74 3,70 100,00
30 Papua 15,85 1,47 10,83 26,17 37,05 8,63 100,00
25,47 6,87 24,63 31,79 8,44 2,80 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
Indonesia
Provinsi
No.
TAHUN 2004
Lobang
tanah tanah terbuka
Pantai/
Lainnya
(9)
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT TEMPAT PENAMPUNGAN AKHIR KOTORAN/TINJA DAN PROVINSI
Jumlah
Tangki
septik
Kolam/
Sawah
Sungai/
Danau
(4) (3) (8) (7) (6) (5)
Lampiran 2.22
Golongan Pengeluaran per Kapita Sebulan (Rp)
60.000 80.000 100.000 150.000 200.000 300.000 500.000
No Provinsi - - - - - - dan lebih Jumlah
79.999 99.999 149.999 199.999 299.999 499.999
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 1,84 4,40 8,79 33,16 24,39 18,67 7,25 1,49 100,00
2 Sumatera Utara 0,76 2,71 6,66 30,21 25,45 22,66 9,56 2,00 100,00
3 Sumatera Barat 0,61 2,30 5,72 29,93 24,94 23,30 10,01 3,17 100,00
4 Riau 0,18 0,62 2,17 16,04 20,69 28,73 23,57 8,01 100,00
5 J ambi 0,30 1,84 6,13 29,04 29,00 24,67 7,72 1,31 100,00
6 Sumatera Selatan 1,93 5,79 12,85 34,02 20,94 16,80 6,71 0,94 100,00
7 Bengkulu 1,25 5,01 11,66 37,62 22,39 14,05 6,73 1,28 100,00
8 Lampung 3,93 9,10 15,38 37,71 18,01 10,66 4,18 1,03 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 0,66 1,06 2,95 16,38 23,45 33,37 18,62 3,52 100,00
10 DKI J akarta - - 0,07 1,23 5,52 25,74 40,83 26,60 100,00
11 J awa Barat 0,70 2,39 6,35 26,18 24,58 24,26 11,75 3,79 100,00
12 J awa Tengah 0,87 4,34 10,37 35,43 23,79 17,39 6,17 1,64 100,00
13 DI Yogyakarta 0,48 2,92 6,64 25,08 20,47 19,43 14,09 10,89 100,00
14 J awa Timur 1,32 5,19 11,00 35,62 21,23 16,20 7,28 2,17 100,00
15 Banten 0,72 1,40 4,73 20,82 21,54 29,93 16,22 4,65 100,00
16 Bali - 0,79 2,39 15,01 22,02 32,40 21,10 6,28 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 2,53 9,40 16,52 36,06 17,86 12,42 4,22 0,98 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 7,27 17,59 21,28 30,28 11,86 7,99 2,87 0,86 100,00
19 Kalimantan Barat 1,57 5,19 9,94 32,53 23,13 17,25 8,16 2,24 100,00
20 Kalimantan Tengah 0,72 2,56 5,31 26,28 26,62 25,83 10,76 1,91 100,00
21 Kalimantan Selatan 0,66 2,62 5,22 27,05 25,48 23,98 11,52 3,47 100,00
22 Kalimantan Timur 0,43 0,85 1,73 12,08 17,78 31,24 23,71 12,20 100,00
23 Sulawesi Utara 0,54 1,55 3,88 22,29 24,93 29,53 14,50 2,78 100,00
24 Sulawesi Tengah 1,95 6,11 12,36 33,22 21,83 15,53 7,02 1,99 100,00
25 Sulawesi Selatan 2,31 7,24 13,28 34,78 20,45 14,46 5,65 1,83 100,00
26 Sulawesi Tenggara 2,30 6,44 11,47 32,10 22,19 18,18 6,21 1,12 100,00
27 Gorontalo 5,21 9,21 16,48 32,55 17,02 12,61 6,00 0,93 100,00
28 Maluku 1,70 5,25 7,79 30,02 26,61 20,66 7,07 0,90 100,00
29 Maluku Utara 0,34 6,39 12,04 32,01 20,24 19,83 8,60 0,55 100,00
30 Papua 3,12 5,68 8,51 25,79 19,13 20,75 12,81 4,21 100,00
1,25 4,14 8,71 29,27 21,81 20,29 10,73 3,81 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT GOLONGAN PENGELUARAN PERKAPITA SEBULAN DAN PROVINSI
Perkotaan + Perdesaan
Indonesia
<60.000
TAHUN 2004
Lampiran 2.22.a
Perkotaan
Golongan Pengeluaran per Kapita Sebulan (Rp)
60.000 80.000 100.000 150.000 200.000 300.000 500.000
- - - - - - dan lebih Jumlah
79.999 99.999 149.999 199.999 299.999 499.999
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 0,82 1,56 3,30 19,09 22,09 30,11 18,68 4,36 100,00
2 Sumatera Utara 0,40 1,34 3,42 19,50 24,00 31,04 16,30 4,01 100,00
3 Sumatera Barat 0,03 0,73 1,69 15,83 21,58 33,32 18,99 7,84 100,00
4 Riau 0,23 0,16 0,60 4,43 10,85 30,50 37,63 15,59 100,00
5 J ambi 0,15 0,59 4,21 17,10 24,81 32,85 17,19 3,09 100,00
6 Sumatera Selatan 0,22 1,86 5,21 20,84 24,41 29,90 15,69 1,87 100,00
7 Bengkulu 1,44 1,58 3,83 22,52 22,83 27,32 16,80 3,67 100,00
8 Lampung 2,28 2,80 6,54 26,65 24,29 20,76 13,31 3,38 100,00
9 Bangka Belitung 0,08 0,71 1,50 9,92 17,81 38,25 26,90 4,82 100,00
10 DKI J akarta - - 0,07 1,23 5,52 25,74 40,83 26,60 100,00
11 J awa Barat 0,32 1,31 3,32 18,54 21,73 29,93 18,19 6,66 100,00
12 J awa Tengah 0,31 1,86 5,26 25,88 27,00 25,79 10,83 3,06 100,00
13 DI Yogyakarta 0,26 1,30 2,81 16,32 19,46 22,96 20,21 16,67 100,00
14 J awa Timur 0,35 2,15 5,39 25,43 23,18 25,32 13,89 4,29 100,00
15 Banten 0,22 0,59 1,46 8,73 16,56 38,59 25,52 8,33 100,00
16 Bali - 0,15 0,79 9,01 16,67 34,01 28,64 10,73 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 1,72 4,23 10,91 33,97 20,56 19,08 7,54 1,99 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 0,80 2,93 6,25 24,43 23,81 25,95 11,43 4,40 100,00
19 Kalimantan Barat - 0,56 2,99 15,52 23,02 29,82 20,84 7,25 100,00
20 Kalimantan Tengah 0,22 1,32 2,14 11,45 21,37 36,44 22,32 4,74 100,00
21 Kalimantan Selatan 0,21 0,75 2,27 13,74 22,34 32,87 20,96 6,85 100,00
22 Kalimantan Timur 0,25 0,67 0,91 7,04 13,11 31,78 28,37 17,86 100,00
23 Sulawesi Utara 0,13 0,47 1,77 8,87 16,78 39,23 26,23 6,52 100,00
24 Sulawesi Tengah 0,20 1,85 2,78 17,88 25,77 29,23 17,24 5,06 100,00
25 Sulawesi Selatan 0,38 2,30 5,41 23,59 23,67 26,08 13,52 5,04 100,00
26 Sulawesi Tenggara 0,44 1,29 3,95 17,63 25,24 30,66 16,69 4,11 100,00
27 Gorontalo 0,34 0,90 6,02 25,91 23,24 25,36 15,44 2,80 100,00
28 Maluku - 0,24 0,48 10,64 29,29 38,21 18,39 2,74 100,00
29 Maluku Utara - 1,84 1,72 10,46 16,42 39,01 28,83 1,72 100,00
30 Papua - 0,39 0,40 6,44 13,88 37,41 31,03 10,46 100,00
0,34 1,38 3,58 18,07 20,65 28,58 19,55 7,85 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT GOLONGAN PENGELUARAN PERKAPITA SEBULAN DAN PROVINSI
Indonesia
<60.000
TAHUN 2004
Provinsi No
Lampiran 2.22.b
Perdesaan
Golongan Pengeluaran per Kapita Sebulan (Rp)
60.000 80.000 100.000 150.000 200.000 300.000 500.000
No Provinsi - - - - - - dan lebih Jumlah
79.999 99.999 149.999 199.999 299.999 499.999
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 2,24 5,49 10,91 38,60 25,28 14,25 2,84 0,39 100,00
2 Sumatera Utara 1,05 3,77 9,17 38,54 26,57 16,15 4,31 0,44 100,00
3 Sumatera Barat 0,87 2,99 7,48 36,10 26,42 18,93 6,09 1,13 100,00
4 Riau 0,14 0,98 3,41 25,25 28,49 27,32 12,41 2,00 100,00
5 J ambi 0,37 2,34 6,91 33,90 30,70 21,34 3,86 0,58 100,00
6 Sumatera Selatan 2,84 7,85 16,84 40,92 19,12 9,96 2,02 0,45 100,00
7 Bengkulu 1,16 6,41 14,84 43,76 22,21 8,66 2,64 0,31 100,00
8 Lampung 4,41 10,92 17,94 40,92 16,20 7,73 1,54 0,35 100,00
9 Bangka Belitung 1,09 1,31 4,01 21,13 27,60 29,78 12,52 2,55 100,00
10 DKI J akarta - - - - - - - - -
11 J awa Barat 1,11 3,56 9,65 34,49 27,68 18,09 4,76 0,66 100,00
12 J awa Tengah 1,26 6,08 13,96 42,13 21,53 11,49 2,90 0,65 100,00
13 DI Yogyakarta 0,79 5,22 12,07 37,51 21,89 14,43 5,41 2,69 100,00
14 J awa Timur 2,01 7,38 15,04 42,96 19,83 9,63 2,52 0,64 100,00
15 Banten 1,30 2,36 8,59 35,09 27,42 19,70 5,23 0,30 100,00
16 Bali - 1,47 4,04 21,24 27,58 30,73 13,26 1,67 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 3,01 12,46 19,84 37,30 16,27 8,48 2,26 0,38 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 8,54 20,47 24,24 31,43 9,51 4,45 1,19 0,16 100,00
19 Kalimantan Barat 2,15 6,90 12,51 38,83 23,17 12,59 3,45 0,39 100,00
20 Kalimantan Tengah 0,94 3,07 6,62 32,37 28,77 21,47 6,01 0,75 100,00
21 Kalimantan Selatan 0,94 3,75 7,02 35,15 27,39 18,57 5,77 1,42 100,00
22 Kalimantan Timur 0,63 1,05 2,71 18,14 23,38 30,58 18,12 5,39 100,00
23 Sulawesi Utara 0,80 2,22 5,18 30,62 29,98 23,51 7,23 0,46 100,00
24 Sulawesi Tengah 2,40 7,21 14,85 37,20 20,80 11,98 4,36 1,20 100,00
25 Sulawesi Selatan 3,12 9,35 16,65 39,56 19,08 9,49 2,28 0,46 100,00
26 Sulawesi Tenggara 2,82 7,87 13,56 36,12 21,34 14,70 3,29 0,29 100,00
27 Gorontalo 6,94 12,19 20,22 34,93 14,80 8,05 2,62 0,26 100,00
28 Maluku 2,36 7,17 10,59 37,45 25,59 13,91 2,72 0,19 100,00
29 Maluku Utara 0,46 8,01 15,72 39,70 21,60 12,99 1,39 0,13 100,00
30 Papua 4,12 7,37 11,11 32,00 20,82 15,41 6,97 2,21 100,00
1,94 6,23 12,61 37,81 22,70 13,97 4,01 0,73 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
PERSENTASE RUMAH TANGGA MENURUT GOLONGAN PENGELUARAN PERKAPITA SEBULAN DAN PROVINSI
Indonesia
<60.000
TAHUN 2004
Lampiran 2.23
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 20,60 38,83 33,92
2 Sumatera Utara 7,44 11,07 9,53
3 Sumatera Barat 8,12 10,94 10,11
4 Riau 6,33 12,65 9,87
5 J ambi 8,90 8,88 8,88
6 Sumatera Selatan 11,95 7,22 8,76
7 Bengkulu 4,99 11,49 9,64
8 Lampung 17,25 16,76 16,87
9 Kepulauan Bangka Belitung 4,88 6,05 5,54
10 DKI J akarta 7,64 - 7,64
11 J awa Barat 9,80 12,48 11,16
12 J awa Tengah 17,18 23,45 21,15
13 DI Yogyakarta 11,31 24,53 16,40
14 J awa Timur 11,68 14,66 13,44
15 Banten 7,41 14,22 10,47
16 Bali 5,68 10,33 7,95
17 Nusa Tenggara Barat 30,81 35,37 33,72
18 Nusa Tenggara Timur 24,24 40,80 38,16
19 Kalimantan Barat 7,28 10,21 9,46
20 Kalimantan Tengah 6,02 8,89 8,05
21 Kalimantan Selatan 6,58 14,18 11,38
22 Kalimantan Timur 8,87 16,48 12,41
23 Sulawesi Utara 13,99 10,14 11,62
24 Sulawesi Tengah 11,68 14,92 14,28
25 Sulawesi Selatan 11,93 10,71 11,07
26 Sulawesi Tenggara 7,86 17,87 15,71
27 Gorontalo 17,46 22,57 21,22
28 Maluku 8,26 8,96 8,76
29 Maluku Utara 7,83 13,50 12,01
30 Papua 13,33 23,30 20,98
11,29 16,58 14,33
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
No Provinsi
PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MEMILIKI KARTU SEHAT
Perkotaan+
MENURUT TIPE DAERAH DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Indonesia
Perdesaan
(3) (4) (5)
Perdesaan Perkotaan
Lampiran 2.24
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 85,72 9,53 14,27
2 Sumatera Utara 73,12 9,99 11,25
3 Sumatera Barat 80,23 16,12 22,64
4 Riau 75,41 16,13 33,23
5 J ambi 73,30 15,16 20,98
6 Sumatera Selatan 78,02 15,31 22,93
7 Bengkulu 58,25 7,70 15,94
8 Lampung 66,23 5,96 14,42
9 Kepulauan Bangka Belitung 79,80 4,30 23,69
10 DKI J akarta 75,77 8,65 19,57
11 J awa Barat 65,22 6,96 15,66
12 J awa Tengah 55,82 4,82 8,06
13 DI Yogyakarta 57,41 3,00 7,21
14 J awa Timur 51,52 6,30 11,20
15 Banten 57,24 6,75 17,26
16 Bali 71,19 7,78 12,82
17 Nusa Tenggara Barat 62,74 10,78 12,27
18 Nusa Tenggara Timur 92,28 21,20 16,86
19 Kalimantan Barat 69,28 16,14 26,86
20 Kalimantan Tengah 82,21 8,60 25,92
21 Kalimantan Selatan 71,18 8,41 13,57
22 Kalimantan Timur 72,12 14,89 22,44
23 Sulawesi Utara 80,95 16,01 19,42
24 Sulawesi Tengah 78,45 18,03 23,10
25 Sulawesi Selatan 70,13 15,87 15,74
26 Sulawesi Tenggara 71,52 17,04 23,44
27 Gorontalo 75,02 13,21 19,77
28 Maluku 70,30 28,47 22,35
29 Maluku Utara 91,06 20,32 16,25
30 Papua 93,21 31,79 18,25
66,57 9,04 13,84
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN/MEMANFAATKAN KARTU SEHAT PADA JANUARI - DESEMBER 2003
MENURUT PEMANFAATAN/PENGGUNAANNYA DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Perkotaan + Perdesaan
Periksa
Provinsi
(5)
Keperluan KB Berobat No
Indonesia
Kehamilan/Melahirkan
(3) (4)
Lampiran 2.24.a
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 76,56 14,57 16,09
2 Sumatera Utara 72,28 9,48 9,79
3 Sumatera Barat 81,34 16,53 20,95
4 Riau 77,45 20,21 29,43
5 J ambi 84,87 22,64 23,11
6 Sumatera Selatan 82,72 19,59 29,22
7 Bengkulu 61,64 9,75 21,45
8 Lampung 80,72 9,80 16,98
9 Kepulauan Bangka Belitung 79,25 6,63 10,04
10 DKI J akarta 75,77 8,65 19,57
11 J awa Barat 68,69 8,01 16,77
12 J awa Tengah 55,24 5,24 6,94
13 DI Yogyakarta 56,09 5,93 8,25
14 J awa Timur 67,36 7,16 13,06
15 Banten 66,30 9,50 12,43
16 Bali 72,55 9,37 13,12
17 Nusa Tenggara Barat 62,70 9,13 10,16
18 Nusa Tenggara Timur 82,40 16,72 15,65
19 Kalimantan Barat 76,04 13,69 18,55
20 Kalimantan Tengah 73,06 10,53 26,70
21 Kalimantan Selatan 76,64 11,34 19,09
22 Kalimantan Timur 62,82 16,16 17,30
23 Sulawesi Utara 86,25 10,01 10,82
24 Sulawesi Tengah 86,77 16,64 30,92
25 Sulawesi Selatan 75,59 20,53 17,53
26 Sulawesi Tenggara 63,45 11,17 16,22
27 Gorontalo 89,85 16,98 28,48
28 Maluku 83,41 12,27 9,77
29 Maluku Utara 95,15 15,91 30,08
30 Papua 94,64 15,36 27,01
67,56 8,97 13,91
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN/MEMANFAATKAN KARTU SEHAT PADA JANUARI - DESEMBER 2003
MENURUT PEMANFAATAN/PENGGUNAANNYA DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Perkotaan
Periksa
Keperluan KB
(5)
Provinsi No Berobat
Indonesia
Kehamilan/Melahirkan
(3) (4)
Lampiran 2.24.b
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 87,50 8,55 13,92
2 Sumatera Utara 73,53 10,24 11,96
3 Sumatera Barat 79,89 16,00 23,17
4 Riau 74,61 14,53 34,72
5 J ambi 68,96 12,36 20,19
6 Sumatera Selatan 74,27 11,88 17,90
7 Bengkulu 57,67 7,35 15,00
8 Lampung 62,14 4,88 13,70
9 Kepulauan Bangka Belitung 80,14 2,86 32,17
10 DKI J akarta - - -
11 J awa Barat 62,56 6,15 14,81
12 J awa Tengah 56,11 4,62 8,62
13 DI Yogyakarta 58,38 0,84 6,45
14 J awa Timur 58,31 5,83 10,18
15 Banten 51,43 4,99 20,35
16 Bali 70,40 6,87 12,64
17 Nusa Tenggara Barat 62,76 11,60 13,31
18 Nusa Tenggara Timur 93,39 21,70 16,99
19 Kalimantan Barat 67,63 16,74 28,89
20 Kalimantan Tengah 84,74 8,07 25,70
21 Kalimantan Selatan 69,71 7,62 12,08
22 Kalimantan Timur 77,88 14,11 25,61
23 Sulawesi Utara 76,35 21,21 26,89
24 Sulawesi Tengah 76,85 18,30 21,59
25 Sulawesi Selatan 67,57 13,68 14,90
26 Sulawesi Tenggara 72,50 17,75 24,31
27 Gorontalo 70,90 12,17 17,35
28 Maluku 65,34 34,59 27,10
29 Maluku Utara 90,21 21,23 13,39
30 Papua 92,96 34,64 16,73
66,06 9,08 13,80
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN/MEMANFAATKAN KARTU SEHAT PADA JANUARI - DESEMBER 2003
MENURUT PEMANFAATAN/PENGGUNAANNYA DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Perdesaan
Periksa
Provinsi
(5)
Keperluan KB Berobat No
Indonesia
Kehamilan/Melahirkan
(3) (4)
Lampiran 2.25
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 43,17 11,96 49,97 47,18 6,82 5,11 10,81 17,47 26,92
2 Sumatera Utara 37,24 11,68 45,13 42,41 5,77 5,12 6,84 24,60 19,19
3 Sumatera Barat 38,92 17,72 45,20 42,22 5,21 6,46 8,02 23,83 23,76
4 Riau 40,09 13,30 52,24 49,69 5,23 6,22 8,76 16,92 18,17
5 J ambi 33,85 12,87 50,33 49,04 5,62 6,42 8,94 20,85 18,25
6 Sumatera Selatan 26,73 15,38 41,97 45,01 4,07 4,85 6,16 25,67 19,18
7 Bengkulu 35,59 15,72 46,76 48,79 3,72 5,45 7,26 21,92 20,98
8 Lampung 33,22 21,07 51,46 57,27 3,21 3,09 6,62 21,20 29,55
9 Kepulauan Bangka Belitung 34,46 23,97 51,11 50,18 5,15 9,93 8,45 25,10 34,52
10 DKI J akarta 39,69 16,27 57,91 55,44 6,81 4,25 4,95 17,36 29,90
11 J awa Barat 37,02 14,74 45,54 49,46 5,27 5,82 5,75 25,27 24,14
12 J awa Tengah 35,48 17,71 51,84 52,34 4,36 4,50 4,92 25,21 29,38
13 DI Yogyakarta 31,24 18,42 50,82 50,43 4,02 5,09 7,08 27,85 37,81
14 J awa Timur 39,08 16,73 49,78 47,69 5,16 4,85 5,92 25,98 30,65
15 Banten 37,34 17,87 49,33 55,72 6,12 5,59 6,63 21,26 20,08
16 Bali 52,89 17,56 44,78 44,01 4,42 6,37 5,51 25,29 30,99
17 Nusa Tenggara Barat 54,36 23,45 48,37 48,88 7,43 6,58 6,88 26,67 37,57
18 Nusa Tenggara Timur 57,35 21,19 60,15 58,19 6,63 5,59 6,38 23,35 36,88
19 Kalimantan Barat 39,69 18,55 49,53 47,78 6,68 6,94 6,95 21,29 25,69
20 Kalimantan Tengah 41,80 15,14 50,92 51,07 4,87 4,06 7,57 15,93 17,51
21 Kalimantan Selatan 32,95 17,83 41,70 38,04 4,55 5,11 7,70 30,89 27,29
22 Kalimantan Timur 36,80 16,65 49,03 48,63 5,84 4,11 8,45 16,19 24,13
23 Sulawesi Utara 43,94 15,11 52,80 50,62 5,30 3,42 8,84 19,50 27,69
24 Sulawesi Tengah 46,04 18,59 41,82 31,61 5,83 6,92 9,32 29,72 30,72
25 Sulawesi Selatan 36,55 18,65 35,90 33,41 5,24 5,68 7,41 26,75 21,89
26 Sulawesi Tenggara 44,08 12,55 36,05 30,74 4,44 5,29 5,49 27,68 23,22
27 Gorontalo 63,00 25,52 51,25 36,62 8,79 6,31 10,95 14,59 37,64
28 Maluku 46,42 13,36 53,49 41,53 3,09 6,41 10,15 22,12 15,47
29 Maluku Utara 49,47 23,23 55,93 37,43 7,95 3,70 7,72 24,42 28,40
30 Papua 44,45 11,33 54,45 56,40 6,28 5,18 10,06 25,66 22,51
38,81 16,82 48,97 48,78 5,24 5,18 6,35 24,25 26,51
Sumber: BPS, Statistik Kesra 2004

PERSENTASE PENDUDUK YANG MEMPUNYAI KELUHAN KESEHATAN SELAMA SEBULAN YANG LALU
MENURUT JENIS KELUHAN KESEHATAN YANG DIALAMI DAN PROVINSI, TAHUN 2004
No. Provinsi
Keluhan Kesehatan % Penduduk yang
mempunyai keluhan
kesehatan kesehatan
Panas Sakit kepala Batuk
Keluhan
lainnya
Sakit gigi
Indonesia
Pilek
Diare/ buang-
buang air
Asma/ napas
sesak
Lampiran 2.26
Perkotaan Perdesaan
Perkotaan+
Perdesaan
Perkotaan Perdesaan
Perkotaan +
Perdesaan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 40,02 36,94 37,71 69,92 72,49 71,85
2 Sumatera Utara 35,62 26,64 30,18 64,14 76,41 71,58
3 Sumatera Barat 46,76 41,95 43,05 60,61 72,88 70,08
4 Riau 34,42 21,86 27,29 79,14 84,68 82,29
5 J ambi 40,34 25,92 29,11 69,81 80,10 77,83
6 Sumatera Selatan 25,55 29,31 27,76 83,47 76,46 79,34
7 Bengkulu 44,48 38,76 40,55 66,43 70,10 68,96
8 Lampung 38,48 26,98 29,55 78,59 83,84 82,66
9 Kepulauan Bangka Belitung 41,00 32,66 35,95 76,63 79,02 78,08
10 DKI J akarta 40,11 - 40,11 70,66 - 70,66
11 J awa Barat 44,42 37,70 40,95 73,48 78,12 75,87
12 J awa Tengah 42,61 41,76 42,12 69,23 68,42 68,76
13 DI Yogyakarta 38,40 46,63 41,51 66,66 62,24 64,98
14 J awa Timur 41,63 38,75 39,99 73,12 73,46 73,31
15 Banten 28,07 29,44 28,62 74,97 72,92 74,14
16 Bali 49,63 56,16 52,89 59,91 54,03 56,98
17 Nusa Tenggara Barat 43,22 40,32 41,52 73,61 70,27 71,64
18 Nusa Tenggara Timur 49,40 48,43 48,58 59,89 57,75 58,07
19 Kalimantan Barat 43,18 24,66 29,71 70,02 74,94 73,60
20 Kalimantan Tengah 28,63 26,23 27,01 78,66 82,68 81,37
21 Kalimantan Selatan 25,84 23,72 24,54 77,90 78,22 78,10
22 Kalimantan Timur 30,83 29,77 30,26 74,07 73,10 73,55
23 Sulawesi Utara 46,95 42,58 43,86 69,67 70,99 70,60
24 Sulawesi Tengah 37,92 35,58 36,10 74,67 79,93 78,75
25 Sulawesi Selatan 29,98 28,41 28,88 74,89 69,41 71,06
26 Sulawesi Tenggara 26,10 27,84 27,47 70,44 73,01 72,46
27 Gorontalo 47,21 30,24 34,61 72,19 84,61 81,41
28 Maluku 32,02 26,73 28,89 73,66 69,86 71,41
29 Maluku Utara 43,09 27,13 30,95 84,10 88,73 87,62
30 Papua 52,71 44,87 46,49 65,67 46,63 50,57
40,36 36,59 38,21 71,78 72,93 72,44
Sumber: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2004
Indonesia
PERSENTASE PENDUDUK YANG BEROBAT JALAN DAN MENGOBATI SENDIRI SELAMA SEBULAN YANG LALU
MENURUT DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI, TAHUN 2004
No. Provinsi
% Penduduk yang Berobat Jalan % Penduduk yang Mengobati Sendiri
Selama Sebulan yang lalu Selama Sebulan yang lalu
Lampiran 2.27
Rumah Sakit
Pemerintah
Rumah Sakit
Swasta
Praktek Dokter
Puskesmas/
Pustu
Poliklinik
Petugas
Kesehatan
Dukun/Tabib
/Sinse
Lainnya
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 9,87 1,18 11,95 62,92 2,86 5,10 2,55 3,56
2 Sumatera Utara 6,91 7,63 19,15 27,62 7,55 20,70 3,47 6,98
3 Sumatera Barat 8,06 2,31 14,17 39,02 2,65 21,74 5,84 6,22
4 Riau 6,73 8,11 19,28 46,28 6,97 7,34 2,00 3,30
5 J ambi 9,59 3,38 15,35 46,65 1,82 9,29 1,97 11,94
6 Sumatera Selatan 4,72 1,43 18,93 48,77 2,87 11,00 0,82 11,46
7 Bengkulu 7,59 2,61 17,40 37,86 4,20 19,69 2,26 8,39
8 Lampung 5,68 1,70 20,89 34,41 3,66 26,45 0,84 6,36
9 Kepulauan Bangka Belitung 12,49 2,96 17,93 41,01 1,64 14,63 3,64 5,69
10 DKI J akarta 9,65 10,45 33,93 29,18 9,80 1,69 1,63 3,67
11 J awa Barat 5,31 3,91 28,92 36,44 4,55 15,19 1,53 4,14
12 J awa Tengah 4,63 2,06 28,97 33,55 2,21 24,78 1,33 2,47
13 DI Yogyakarta 7,46 8,15 34,81 24,08 1,96 21,21 0,85 1,49
14 J awa Timur 4,96 2,89 25,10 29,67 3,43 26,77 2,06 5,13
15 Banten 5,87 3,57 25,07 31,49 11,18 16,61 2,37 3,83
16 Bali 7,40 2,21 36,37 27,83 2,29 17,90 3,48 2,53
17 Nusa Tenggara Barat 3,30 0,26 21,37 49,33 1,01 15,12 1,72 7,88
18 Nusa Tenggara Timur 4,99 1,71 7,31 63,46 4,21 7,58 0,79 9,95
19 Kalimantan Barat 6,42 1,86 17,47 44,14 2,38 19,74 1,38 6,61
20 Kalimantan Tengah 5,49 0,57 14,52 52,63 4,36 18,42 0,71 3,30
21 Kalimantan Selatan 8,94 1,52 14,24 39,56 2,06 24,04 1,42 8,22
22 Kalimantan Timur 8,34 3,54 21,60 51,14 3,55 6,67 1,00 4,15
23 Sulawesi Utara 4,08 1,77 35,33 34,89 1,16 21,11 0,22 1,43
24 Sulawesi Tengah 6,19 0,85 16,90 52,44 2,02 14,11 0,42 7,07
25 Sulawesi Selatan 12,34 2,36 15,80 49,94 1,14 11,98 0,81 5,63
26 Sulawesi Tenggara 5,85 0,89 13,91 51,03 1,57 12,73 4,87 9,14
27 Gorontalo 5,88 1,32 24,46 46,04 1,85 15,75 2,55 2,14
28 Maluku 5,99 5,30 11,97 49,55 6,81 6,15 0,38 13,84
29 Maluku Utara 9,36 2,50 12,01 52,88 1,93 11,72 0,19 9,40
30 Papua 7,41 3,13 7,70 67,82 8,05 1,78 0,34 3,77
6,01 3,32 24,39 37,26 3,86 18,51 1,78 4,86
Sumber: BPS, Statistik Kesra 2004
Indonesia
No. Provinsi
PERSENTASE PENDUDUK YANG BEROBAT JALAN SELAMA SEBULAN YANG LALU
MENURUT TEMPAT/CARA BEROBAT DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Tempat/Cara Berobat
Lampiran 2.28
No Provinsi Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 31,96 24,82 26,86
2 Sumatera Utara 23,51 17,70 20,35
3 Sumatera Barat 30,04 37,42 35,09
4 Riau 22,28 13,09 17,30
5 J ambi 18,75 19,38 19,20
6 Sumatera Selatan 18,84 10,82 13,68
7 Bengkulu 31,25 24,15 26,24
8 Lampung 34,64 19,46 22,91
9 Kepulauan Bangka Belitung 31,53 29,46 30,35
10 DKI J akarta 31,80 - 31,80
11 J awa Barat 26,50 31,74 28,99
12 J awa Tengah 39,70 38,69 39,11
13 DI Yogyakarta 29,76 35,55 32,12
14 J awa Timur 35,22 29,36 31,83
15 Banten 21,56 23,01 22,19
16 Bali 38,27 40,67 39,45
17 Nusa Tenggara Barat 40,05 44,44 42,76
18 Nusa Tenggara Timur 41,91 40,34 40,61
19 Kalimantan Barat 33,79 18,19 22,65
20 Kalimantan Tengah 22,01 16,45 18,13
21 Kalimantan Selatan 24,86 21,36 22,72
22 Kalimantan Timur 23,82 20,70 22,44
23 Sulawesi Utara 22,63 30,99 27,75
24 Sulawesi Tengah 14,90 24,40 22,38
25 Sulawesi Selatan 27,27 17,39 20,45
26 Sulawesi Tenggara 22,27 27,23 26,09
27 Gorontalo 34,83 18,75 23,23
28 Maluku 28,38 20,61 22,94
29 Maluku Utara 31,70 41,45 38,67
30 Papua 25,96 24,01 24,50
30,47 28,31 29,26
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
Indonesia
PERSENTASE PENDUDUK YANG BEROBAT JALAN SELAMA 1 TAHUN
TERAKHIR MENURUT DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Lampiran 2.29
Perkotaan+perdesaan
0 <=5 6-11 12-17 18-23 >24
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 0,07 6,09 10,39 26,04 33,95 23,47 100,00
2 Sumatera Utara 0,18 7,63 20,97 32,59 20,25 18,39 100,00
3 Sumatera Barat 0,15 2,29 6,97 23,03 30,99 36,56 100,00
4 Riau 0,03 6,93 10,54 25,67 22,13 34,69 100,00
5 J ambi 0,06 5,46 6,84 18,44 27,19 42,00 100,00
6 Sumatera Selatan - 2,91 9,37 20,24 25,57 41,91 100,00
7 Bengkulu - 1,80 5,66 21,11 33,76 37,67 100,00
8 Lampung 0,72 3,07 8,35 22,30 27,37 38,19 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 0,80 14,47 13,47 20,90 19,12 31,25 100,00
10 DKI J akarta 0,15 13,19 14,91 27,71 14,38 29,66 100,00
11 J awa Barat 0,32 4,19 5,09 14,54 24,79 51,07 100,00
12 J awa Tengah 0,21 4,11 5,58 14,64 21,53 53,93 100,00
13 DI Yogyakarta - 5,64 4,51 11,00 20,10 58,74 100,00
14 J awa Timur 0,23 7,28 8,00 18,18 23,59 42,72 100,00
15 Banten 0,24 3,97 7,42 26,00 26,81 35,56 100,00
16 Bali 0,04 2,08 5,05 22,35 30,03 40,46 100,00
17 Nusa Tenggara Barat - 2,42 6,95 18,71 24,23 47,69 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 0,11 2,25 9,76 36,89 23,58 27,41 100,00
19 Kalimantan Barat 0,16 4,62 8,22 19,61 21,95 45,45 100,00
20 Kalimantan Tengah - 2,88 4,16 19,09 26,77 47,10 100,00
21 Kalimantan Selatan 0,11 5,87 4,13 14,77 20,27 54,85 100,00
22 Kalimantan Timur 0,20 6,76 10,16 21,48 19,49 41,90 100,00
23 Sulawesi Utara - 6,03 15,73 34,03 16,42 27,79 100,00
24 Sulawesi Tengah 0,08 5,35 11,67 22,34 13,97 46,59 100,00
25 Sulawesi Selatan 0,01 2,66 11,29 35,27 20,70 30,08 100,00
26 Sulawesi Tenggara 0,06 3,51 11,26 21,29 28,53 35,34 100,00
27 Gorontalo - 10,45 16,23 32,48 11,84 29,00 100,00
28 Maluku 0,22 3,60 32,63 43,92 8,81 10,81 100,00
29 Maluku Utara - 1,67 8,68 32,42 36,34 20,89 100,00
30 Papua 0,54 3,99 13,66 24,17 17,83 39,80 100,00
0,20 5,09 8,79 21,24 23,31 41,36 100,00
Sumber: BPS, Statistik Kesra 2004
Indonesia
PERSENTASE ANAK USIA 2-4 TAHUN YANG PERNAH DISUSUI
MENURUT LAMANYA DISUSUI DAN PROVINSI TAHUN 2004
No. Provinsi
Lama Disusui (Bulan)
Jumlah
Lampiran 2.29.a
Perkotaan
0 <=5 6-11 12-17 18-23 >24
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 0,26 5,34 8,13 27,20 32,93 26,15 100,00
2 Sumatera Utara 0,28 11,02 21,66 29,46 17,46 20,11 100,00
3 Sumatera Barat - 1,57 7,00 20,20 30,00 41,23 100,00
4 Riau - 8,47 12,79 28,63 15,20 34,90 100,00
5 J ambi - 7,21 11,58 24,75 18,13 38,34 100,00
6 Sumatera Selatan - 4,05 17,23 24,51 20,46 33,76 100,00
7 Bengkulu - 3,18 8,65 22,21 22,38 43,58 100,00
8 Lampung 0,19 6,40 10,50 28,16 21,40 33,34 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 1,23 15,15 16,51 18,22 23,20 25,70 100,00
10 DKI J akarta 0,15 13,19 14,91 27,71 14,38 29,66 100,00
11 J awa Barat 0,18 5,28 6,09 16,52 25,89 46,03 100,00
12 J awa Tengah 0,22 5,63 6,35 17,04 21,49 49,27 100,00
13 DI Yogyakarta - 7,53 5,07 12,05 19,67 55,67 100,00
14 J awa Timur 0,20 10,75 8,29 18,57 22,76 39,42 100,00
15 Banten 0,49 6,05 11,18 28,76 19,97 33,55 100,00
16 Bali - 3,01 5,38 23,19 30,33 38,10 100,00
17 Nusa Tenggara Barat - 3,87 6,88 18,84 24,79 45,64 100,00
18 Nusa Tenggara Timur - 6,32 11,19 33,66 19,70 29,13 100,00
19 Kalimantan Barat - 9,84 12,53 24,08 15,84 37,71 100,00
20 Kalimantan Tengah - 5,18 6,32 15,94 21,26 51,29 100,00
21 Kalimantan Selatan - 9,29 2,13 16,12 18,96 53,51 100,00
22 Kalimantan Timur 0,39 7,10 10,06 22,37 17,78 42,30 100,00
23 Sulawesi Utara - 9,70 15,40 25,06 15,81 34,02 100,00
24 Sulawesi Tengah - 9,18 12,23 27,07 7,56 43,96 100,00
25 Sulawesi Selatan - 3,18 14,29 34,68 14,68 33,17 100,00
26 Sulawesi Tenggara 0,31 8,30 13,71 18,78 17,75 41,15 100,00
27 Gorontalo - 1,74 18,70 30,87 15,78 32,91 100,00
28 Maluku 0,62 3,49 39,43 38,89 7,49 10,08 100,00
29 Maluku Utara - 4,12 11,13 22,32 24,40 38,02 100,00
30 Papua - 5,49 24,83 32,68 14,09 22,91 100,00
0,18 7,35 9,92 21,71 21,37 39,48 100,00
Sumber: BPS, Statistik Kesra 2004
Indonesia
PERSENTASE ANAK USIA 2-4 TAHUN YANG PERNAH DISUSUI
MENURUT LAMANYA DISUSUI DAN PROVINSI TAHUN 2004
No. Provinsi
Lama Disusui (Bulan)
Jumlah
Lampiran 2.29.b
Perdesaan
0 <=5 6-11 12-17 18-23 >24
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam - 6,36 11,21 25,62 34,32 22,48 99,99
2 Sumatera Utara 0,11 5,44 20,52 34,60 22,04 17,28 99,88
3 Sumatera Barat 0,21 2,58 6,96 24,16 31,39 34,69 99,78
4 Riau 0,05 5,73 8,78 23,34 27,58 34,52 99,95
5 J ambi 0,08 4,78 5,00 15,99 30,71 43,43 99,91
6 Sumatera Selatan - 2,41 5,91 18,36 27,82 45,50 100,00
7 Bengkulu - 1,24 4,46 20,67 38,33 35,30 100,00
8 Lampung 0,87 2,09 7,72 20,58 29,13 39,61 99,13
9 Kepulauan Bangka Belitung 0,56 14,08 11,76 22,41 16,82 34,38 99,45
10 DKI J akarta - - - - - - 0,00
11 J awa Barat 0,48 3,00 3,99 12,39 23,59 56,55 99,52
12 J awa Tengah 0,20 3,09 5,06 13,02 21,55 57,09 99,81
13 DI Yogyakarta - 3,09 3,74 9,59 20,69 62,88 99,99
14 J awa Timur 0,24 4,65 7,78 17,89 24,23 45,22 99,77
15 Banten - 2,01 3,87 23,39 33,28 37,45 100,00
16 Bali 0,07 1,11 4,70 21,45 29,71 42,97 99,94
17 Nusa Tenggara Barat - 1,68 6,99 18,64 23,95 48,74 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 0,13 1,57 9,52 37,43 24,23 27,12 99,87
19 Kalimantan Barat 0,20 3,18 7,02 18,37 23,64 47,59 99,80
20 Kalimantan Tengah - 1,99 3,33 20,30 28,88 45,49 99,99
21 Kalimantan Selatan 0,18 3,93 5,26 14,01 21,02 55,61 99,83
22 Kalimantan Timur - 6,40 10,26 20,52 21,36 41,46 100,00
23 Sulawesi Utara - 3,80 15,93 39,48 16,78 24,01 100,00
24 Sulawesi Tengah 0,10 4,48 11,54 21,26 15,44 47,18 99,90
25 Sulawesi Selatan 0,02 2,46 10,11 35,50 23,04 28,87 99,98
26 Sulawesi Tenggara - 2,32 10,66 21,91 31,21 33,90 100,00
27 Gorontalo - 13,16 15,46 32,97 10,62 27,79 100,00
28 Maluku 0,10 3,64 30,54 45,48 9,21 11,03 99,90
29 Maluku Utara - 1,04 8,04 35,03 39,42 16,47 100,00
30 Papua 0,74 3,46 9,73 21,17 19,15 45,75 99,26
0,22 3,52 8,00 20,91 24,67 42,68 100,00
Sumber: BPS, Statistik Kesra 2004
Indonesia
PERSENTASE ANAK USIA 2-4 TAHUN YANG PERNAH DISUSUI
MENURUT LAMANYA DISUSUI DAN PROVINSI TAHUN 2004
No. Provinsi
Lama Disusui (Bulan)
Jumlah
Lampiran 2.30
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 7.186 662 9,21
2 Sumatera Utara 245.432 104.561 42,60
3 Sumatera Barat 94.945 74.618 78,59
4 Riau 136.943 76.917 56,17
5 J ambi 26.854 12.235 45,56
6 Bengkulu 25.382 17.227 67,87
7 Sumatera Selatan 93.024 77.694 83,52
8 Lampung 175.490 77.415 44,11
9 Kepulauan Bangka Belitung 2.958 2.055 69,47
10 Kepulauan Riau 30.842 20.420 66,21
11 DKI J akarta 56.329 44.739 79,42
12 J awa Barat 406.889 167.247 41,10
13 J awa Tengah 246.620 90.300 36,62
14 DI Yogyakarta 21.170 6.475 30,59
15 J awa Timur 649.455 273.525 42,12
16 Banten 73.809 12.550 17,00
17 Bali 48.846 29.567 60,53
18 Nusa Tenggara Barat 73.542 38.819 52,78
19 Nusa Tenggara Timur 41.460 21.507 51,87
20 Kalimantan Barat 22.789 10.821 47,48
21 Kalimantan Tengah 35.304 22.168 62,79
22 Kalimantan Timur 39.175 23.349 59,60
23 Kalimantan Selatan 41.181 31.239 75,86
24 Sulawesi Utara 28.187 16.433 58,30
25 Sulawesi Tengah 29.022 23.209 79,97
26 Sulawesi Tenggara 30.662 14.795 48,25
27 Sulawesi Selatan 92.182 54.375 58,99
28 Gorontalo 416 208 50,00
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 19.822 11.400 57,51
31 Maluku Utara 2.379 1.387 58,30
32 Papua 6.512 2.715 41,69
33 Irian J aya Barat 7.968 2.810 35,27
2.812.775 1.363.442 48,47
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 November 2005
Keterangan : (-) data belumditerima
Indonesia
No Provinsi
%
(5)
Jumlah Bayi
JUMLAH BAYI YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Jumlah
(4) (3)
Jumlah Bayi yang Diberi ASI Ekslusif
Lampiran 2.31
Perkotaan+Perdesaan
No Provinsi Jumlah
(1) (2) (6)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 29,40 6,00 64,59 100,00
2 Sumatera Utara 27,78 6,45 65,77 100,00
3 Sumatera Barat 30,77 3,45 65,78 100,00
4 Riau 34,25 3,61 62,14 100,00
5 J ambi 30,12 7,30 62,58 100,00
6 Sumatera Selatan 31,10 8,66 60,24 100,00
7 Bengkulu 33,83 4,92 61,25 100,00
8 Lampung 32,71 6,73 60,56 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 28,64 3,10 68,26 100,00
10 DKI J akarta 26,03 5,18 68,79 100,00
11 J awa Barat 32,20 6,71 61,09 100,00
12 J awa Tengah 26,32 6,30 67,38 100,00
13 DI Yogyakarta 23,16 5,60 71,24 100,00
14 J awa Timur 27,25 5,23 67,52 100,00
15 Banten 30,27 8,04 61,69 100,00
16 Bali 20,33 3,97 75,70 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 29,22 3,40 67,38 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 19,52 7,76 72,72 100,00
19 Kalimantan Barat 29,59 7,85 62,57 100,00
20 Kalimantan Tengah 29,71 6,58 63,71 100,00
21 Kalimantan Selatan 22,82 4,54 72,64 100,00
22 Kalimantan Timur 23,99 5,65 70,36 100,00
23 Sulawesi Utara 31,18 5,96 62,86 100,00
24 Sulawesi Tengah 27,91 6,28 65,80 100,00
25 Sulawesi Selatan 23,70 5,32 70,98 100,00
26 Sulawesi Tenggara 27,34 4,19 68,47 100,00
27 Gorontalo 29,38 10,01 60,61 100,00
28 Maluku 21,66 10,56 67,77 100,00
29 Maluku Utara 28,23 13,67 58,10 100,00
30 Papua 31,04 7,34 61,63 100,00
28,35 6,09 65,56 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
Ya, Setiap hari Ya, kadang-kadang Tidak merokok
(3) (4) (5)
Indonesia
DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI TAHUN 2004
Kebiasaan Merokok
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS MENURUT KEBIASAAN MEROKOK 1 BULAN TERAKHIR,
Lampiran 2.31.a
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 28,55 3,95 67,50 100,00
2 Sumatera Utara 27,72 6,35 65,93 100,00
3 Sumatera Barat 28,30 4,34 67,36 100,00
4 Riau 31,40 3,20 65,40 100,00
5 J ambi 25,00 7,44 67,56 100,00
6 Sumatera Selatan 25,27 6,75 67,97 100,00
7 Bengkulu 24,69 7,19 68,12 100,00
8 Lampung 33,27 6,26 60,47 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 27,84 4,26 67,90 100,00
10 DKI J akarta 26,03 5,18 68,79 100,00
11 J awa Barat 30,21 6,66 63,14 100,00
12 J awa Tengah 23,13 5,97 70,90 100,00
13 DI Yogyakarta 21,76 5,41 72,83 100,00
14 J awa Timur 23,52 5,22 71,26 100,00
15 Banten 27,66 8,51 63,83 100,00
16 Bali 21,08 3,97 74,96 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 29,24 2,39 68,37 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 19,47 5,28 75,25 100,00
19 Kalimantan Barat 26,17 4,10 69,73 100,00
20 Kalimantan Tengah 22,01 7,34 70,65 100,00
21 Kalimantan Selatan 18,79 5,23 75,99 100,00
22 Kalimantan Timur 21,47 5,33 73,20 100,00
23 Sulawesi Utara 24,24 5,25 70,50 100,00
24 Sulawesi Tengah 19,23 3,85 76,92 100,00
25 Sulawesi Selatan 21,68 3,64 74,68 100,00
26 Sulawesi Tenggara 19,53 6,25 74,22 100,00
27 Gorontalo 27,67 6,70 65,63 100,00
28 Maluku 21,62 7,21 71,17 100,00
29 Maluku Utara 21,46 14,14 64,39 100,00
30 Papua 25,96 4,81 69,23 100,00
25,95 5,77 68,28 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
(6)
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS MENURUT KEBIASAAN MEROKOK 1 BULAN TERAKHIR,
DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI TAHUN 2004
No. Provinsi
Kebiasaan Merokok
Jumlah
Ya, Setiap hari
(5)
Tidak merokok Ya, kadang-kadang
Indonesia
(3) (4)
Lampiran 2.31.b
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 29,75 6,82 63,43 100,00
2 Sumatera Utara 27,83 6,53 65,64 100,00
3 Sumatera Barat 31,91 3,04 65,05 100,00
4 Riau 36,67 3,95 59,38 100,00
5 J ambi 32,27 7,24 60,49 100,00
6 Sumatera Selatan 34,32 9,72 55,96 100,00
7 Bengkulu 37,64 3,98 58,38 100,00
8 Lampung 32,54 6,87 60,58 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 29,24 2,23 68,53 100,00
10 DKI J akarta - - - _
11 J awa Barat 34,41 6,78 58,81 100,00
12 J awa Tengah 28,60 6,54 64,86 100,00
13 DI Yogyakarta 25,19 5,88 68,93 100,00
14 J awa Timur 29,96 5,24 64,80 100,00
15 Banten 33,64 7,45 58,91 100,00
16 Bali 19,57 3,96 76,47 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 29,21 4,02 66,77 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 19,53 8,28 72,19 100,00
19 Kalimantan Barat 30,96 9,34 59,70 100,00
20 Kalimantan Tengah 33,04 6,25 60,71 100,00
21 Kalimantan Selatan 25,37 4,10 70,52 100,00
22 Kalimantan Timur 27,15 6,05 66,80 100,00
23 Sulawesi Utara 35,57 6,41 58,02 100,00
24 Sulawesi Tengah 30,26 6,94 62,80 100,00
25 Sulawesi Selatan 24,60 6,07 69,32 100,00
26 Sulawesi Tenggara 29,69 3,57 66,74 100,00
27 Gorontalo 30,04 11,28 58,68 100,00
28 Maluku 21,68 12,01 66,31 100,00
29 Maluku Utara 30,92 13,49 55,59 100,00
30 Papua 32,74 8,19 59,07 100,00
30,26 6,34 63,40 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
(6)
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS MENURUT KEBIASAAN MEROKOK 1 BULAN TERAKHIR,
DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI TAHUN 2004
Perdesaan
Kebiasaan Merokok
Ya, Setiap hari Ya, kadang-kadang Tidak merokok
Jumlah
(5)
No
Indonesia
(3) (4)
Provinsi
Lampiran 2.32


5 - 9 10 - 14 15 - 19 20 - 24 25 - 29 > 30
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 0,79 13,14 60,48 20,07 4,99 0,52 100,00
2 Sumatera Utara 2,25 11,78 60,26 20,74 2,81 2,17 100,00
3 Sumatera Barat 1,29 23,73 58,97 11,82 2,31 1,87 100,00
4 Riau 1,13 8,94 68,64 16,66 2,57 2,06 100,00
5 J ambi 1,25 11,00 66,15 17,44 3,33 0,83 100,00
6 Sumatera Selatan 1,40 13,03 65,84 16,55 2,16 1,01 100,00
7 Bengkulu 0,70 18,27 67,89 11,28 1,39 0,48 100,00
8 Lampung 0,74 16,94 64,42 12,82 2,74 2,34 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 2,13 19,85 60,98 13,11 2,13 1,81 100,00
10 DKI J akarta 1,68 14,62 61,73 17,69 2,51 1,77 100,00
11 J awa Barat 2,11 9,90 68,00 16,22 2,14 1,63 100,00
12 J awa Tengah 2,16 16,27 60,20 16,46 2,92 1,99 100,00
13 DI Yogyakarta 1,08 15,20 61,11 15,86 3,95 2,80 100,00
14 J awa Timur 1,51 14,14 61,92 17,05 3,59 1,79 100,00
15 Banten 1,03 8,18 70,41 16,56 2,78 1,05 100,00
16 Bali 0,59 5,63 61,20 23,20 5,38 3,99 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 2,52 18,16 64,28 11,85 2,44 0,76 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 1,06 4,95 54,14 31,44 6,30 2,11 100,00
19 Kalimantan Barat 1,50 9,08 60,96 20,66 4,90 2,90 100,00
20 Kalimantan Tengah 0,87 6,76 71,51 15,57 3,80 1,50 100,00
21 Kalimantan Selatan 0,53 13,52 67,51 12,76 3,01 2,67 100,00
22 Kalimantan Timur 3,74 7,70 59,94 23,40 4,23 1,00 100,00
23 Sulawesi Utara 0,61 6,80 67,75 20,89 2,91 1,03 100,00
24 Sulawesi Tengah 1,38 10,88 60,81 20,11 4,31 2,53 100,00
25 Sulawesi Selatan 2,59 10,63 60,62 19,95 4,01 2,20 100,00
26 Sulawesi Tenggara 1,67 9,89 60,85 20,61 3,37 3,61 100,00
27 Gorontalo 1,46 8,21 65,98 16,44 4,98 2,93 100,00
28 Maluku 0,39 4,51 58,24 25,26 7,96 3,65 100,00
29 Maluku Utara 0,62 2,09 71,97 21,27 3,75 0,31 100,00
30 Papua 1,22 14,09 60,16 16,58 4,97 2,97 100,00
1,69 12,61 63,57 17,21 3,09 1,83 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
Indonesia
No
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MEROKOK SELAMA 1 BULAN TERAKHIR
MENURUT KELOMPOK UMUR PERTAMA KALI MEROKOK, DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI TAHUN 2004
Perkotaan+Perdesaan
Kelompok Umur Pertama Kali Merokok
Provinsi Jumlah
Lampiran 2.32.a


Perkotaan
5 - 9 10 - 14 15 - 19 20 - 24 25 - 29 > 30
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1
Nanggroe Aceh Darussalam 1,47 13,73 67,16 13,73 3,92 0,00 100,00
2
Sumatera Utara 2,23 7,89 59,72 24,09 2,63 3,44 100,00
3
Sumatera Barat 1,89 29,25 54,72 10,85 1,42 1,89 100,00
4
Riau 9,39 66,97 19,70 1,82 2,12 100,00
5
J ambi 2,48 12,40 57,03 20,66 7,44 0,00 100,00
6
Sumatera Selatan 1,29 6,47 68,97 20,69 2,16 0,43 100,00
7
Bengkulu 0,80 12,80 68,80 16,00 1,60 - 100,00
8
Lampung 0,88 20,35 57,96 15,04 3,98 1,77 100,00
9
Kepulauan Bangka Belitung 3,22 12,90 58,87 20,97 3,23 0,81 100,00
10
DKI J akarta 1,68 14,62 61,73 17,69 2,51 1,77 100,00
11
J awa Barat 2,08 9,95 65,75 17,70 2,69 1,83 100,00
12
J awa Tengah 1,92 11,42 62,19 20,18 2,92 1,37 100,00
13
DI Yogyakarta 0,84 14,45 65,72 13,78 2,69 2,52 100,00
14
J awa Timur 1,26 11,44 61,44 19,76 4,01 2,08 100,00
15
Banten 0,85 5,76 69,94 18,76 4,05 0,64 100,00
16
Bali 0,30 4,20 63,36 21,92 5,41 4,80 100,00
17
Nusa Tenggara Barat 1,30 19,48 63,31 11,36 3,25 1,30 100,00
18
Nusa Tenggara Timur 2,15 12,90 46,23 26,88 7,53 4,30 100,00
19
Kalimantan Barat 0,56 13,41 64,24 16,20 3,35 2,23 100,00
20
Kalimantan Tengah - 7,58 66,66 20,46 4,55 0,76 100,00
21
Kalimantan Selatan 0,52 10,31 70,62 13,40 3,61 1,55 100,00
22
Kalimantan Timur 5,45 2,97 55,94 29,70 4,95 0,99 100,00
23
Sulawesi Utara 1,16 8,14 63,95 20,35 4,65 1,74 100,00
24
Sulawesi Tengah 1,72 8,62 68,96 13,79 3,45 3,45 100,00
25
Sulawesi Selatan 2,67 7,56 61,33 20,44 6,22 1,78 100,00
26
Sulawesi Tenggara - 8,23 58,83 28,23 2,35 2,35 100,00
27
Gorontalo 4,70 7,05 67,06 9,41 7,06 4,71 100,00
28
Maluku 1,43 10,00 58,56 24,29 2,86 2,86 100,00
29
Maluku Utara 2,53 - 62,03 31,65 2,53 1,27 100,00
30
Papua - 5,80 66,67 23,19 2,90 1,45 100,00
1,65 10,90 63,40 18,98 3,25 1,82 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MEROKOK SELAMA 1 BULAN TERAKHIR
MENURUT KELOMPOK UMUR PERTAMA KALI MEROKOK, DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI TAHUN 2004
Kelompok Umur Pertama Kali Merokok
Indonesia
Jumlah No Provinsi
Lampiran 2.32.b


Perdesaan
No Provinsi 5 - 9 10 - 14 15 - 19 20 - 24 25 - 29 > 30 Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 0,54 12,92 57,99 22,44 5,39 0,72 100,00
2 Sumatera Utara 2,27 15,18 60,73 17,80 2,97 1,05 100,00
3 Sumatera Barat 1,04 21,37 60,79 12,24 2,70 1,87 100,00
4 Riau 2,01 8,60 69,91 14,33 3,15 2,01 100,00
5 J ambi 0,83 10,53 69,25 16,34 1,94 1,11 100,00
6 Sumatera Selatan 1,44 15,86 64,50 14,78 2,16 1,26 100,00
7 Bengkulu 0,66 20,33 67,54 9,51 1,31 0,66 100,00
8 Lampung 0,70 15,92 66,34 12,15 2,37 2,51 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 1,29 25,16 62,58 7,10 1,29 2,58 100,00
10 DKI J akarta - - - - - - -
11 J awa Barat 2,14 9,84 70,33 14,69 1,57 1,43 100,00
12 J awa Tengah 2,30 19,19 59,01 14,22 2,92 2,36 100,00
13 DI Yogyakarta 1,41 16,20 54,93 18,66 5,63 3,17 100,00
14 J awa Timur 1,66 15,86 62,22 15,33 3,32 1,61 100,00
15 Banten 1,23 11,11 70,99 13,89 1,23 1,54 100,00
16 Bali 0,89 7,14 58,93 24,55 5,36 3,13 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 3,25 17,35 64,86 12,15 1,95 0,43 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 0,84 3,34 55,74 32,36 6,05 1,67 100,00
19 Kalimantan Barat 1,80 7,69 59,90 22,10 5,40 3,11 100,00
20 Kalimantan Tengah 1,18 6,47 73,24 13,82 3,53 1,76 100,00
21 Kalimantan Selatan 0,54 15,14 65,95 12,43 2,70 3,24 100,00
22 Kalimantan Timur 2,00 12,50 64,00 17,00 3,50 1,00 100,00
23 Sulawesi Utara 0,34 6,14 69,62 21,16 2,05 0,68 100,00
24 Sulawesi Tengah 1,31 11,29 59,32 21,26 4,46 2,36 100,00
25 Sulawesi Selatan 2,56 11,88 60,33 19,74 3,11 2,38 100,00
26 Sulawesi Tenggara 2,13 10,33 61,40 18,54 3,65 3,95 100,00
27 Gorontalo 0,39 8,59 65,63 18,75 4,30 2,34 100,00
28 Maluku - 2,46 58,12 25,62 9,85 3,94 100,00
29 Maluku Utara - 2,76 75,17 17,93 4,14 - 100,00
30 Papua 1,52 16,16 58,54 14,94 5,49 3,35 100,00
1,72 13,83 63,71 15,93 2,97 1,84 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MEROKOK SELAMA 1 BULAN TERAKHIR
MENURUT KELOMPOK UMUR PERTAMA KALI MEROKOK, DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI TAHUN 2004
Kelompok Umur Pertama Kali Merokok
Indonesia
Lampiran 2.33

5 - 9 10 - 14 15 - 19 20 - 24 25 - 29 > 30
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam - 3,96 42,47 37,43 13,06 3,08 100,00
2 Sumatera Utara - 4,11 47,30 34,62 10,08 3,88 100,00
3 Sumatera Barat - 8,87 51,74 30,67 5,45 3,27 100,00
4 Riau - 2,04 47,25 41,11 6,29 3,31 100,00
5 J ambi - 3,17 55,64 32,54 7,50 1,15 100,00
6 Sumatera Selatan - 3,86 52,27 31,83 8,86 3,18 100,00
7 Bengkulu - 7,36 53,62 32,31 4,64 2,07 100,00
8 Lampung 0,42 2,96 53,11 32,87 6,52 4,13 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 0,45 7,91 57,44 25,53 6,48 2,19 100,00
10 DKI J akarta - 6,08 45,75 34,60 9,25 4,31 100,00
11 J awa Barat - 2,59 54,96 31,86 7,03 3,55 100,00
12 J awa Tengah 0,11 4,46 49,26 32,78 9,13 4,25 100,00
13 DI Yogyakarta 0,14 5,81 48,02 28,98 11,22 5,83 100,00
14 J awa Timur 0,17 6,37 48,28 30,2 10,48 4,51 100,00
15 Banten 0,16 1,76 53,55 34,49 7,32 2,72 100,00
16 Bali - 2,30 46,11 31,52 13,20 6,88 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 0,15 5,98 57,92 29,32 4,48 2,15 100,00
18 Nusa Tenggara Timur - 2,30 37,23 41,52 14,64 4,32 100,00
19 Kalimantan Barat - 4,61 45,32 37,07 7,52 5,49 100,00
20 Kalimantan Tengah - 2,38 57,74 31,66 6,45 1,77 100,00
21 Kalimantan Selatan - 4,73 47,16 34,57 10,34 3,20 100,00
22 Kalimantan Timur 0,36 3,98 42,74 36,97 12,33 3,63 100,00
23 Sulawesi Utara - 1,86 51,41 35,67 8,46 2,60 100,00
24 Sulawesi Tengah - 3,43 47,83 34,43 8,75 5,57 100,00
25 Sulawesi Selatan - 5,15 44,69 35,46 9,55 5,15 100,00
26 Sulawesi Tenggara - 4,74 39,92 37,93 11,4 6,01 100,00
27 Gorontalo 0,43 3,40 44,25 35,76 11,06 5,10 100,00
28 Maluku - 0,58 32,69 44,37 15,28 7,08 100,00
29 Maluku Utara - 51,90 37,15 9,62 1,32 100,00
30 Papua - 4,28 40,10 41,71 10,23 3,68 100,00
0,08 4,23 49,92 33,08 8,77 3,92 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
Indonesia
No
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MEROKOK
MENURUT KELOMPOK UMUR MULAI MEROKOK SETIAP HARI, DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI TAHUN 2004
Perkotaan+Perdesaan
Kelompok Umur Mulai Merokok Setiap Hari
Jumlah Provinsi
Lampiran 2.33.a


5 - 9 10 - 14 15 - 19 20 - 24 25 - 29 > 30
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam - 5,03 49,68 31,45 12,58 1,26 100,00
2 Sumatera Utara - 2,29 40,69 39,26 12,61 5,16 100,00
3 Sumatera Barat - 12,27 49,69 31,29 4,29 2,45 100,00
4 Riau - 1,13 44,15 43,02 7,55 4,15 100,00
5 J ambi - 2,38 60,71 26,19 9,52 1,19 100,00
6 Sumatera Selatan - 1,24 37,89 42,86 13,66 4,35 100,00
7 Bengkulu - 2,53 46,83 45,58 5,07 - 100,00
8 Lampung 1,18 4,71 48,24 35,88 7,06 2,94 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 5,10 44,90 37,76 10,2 2,04 100,00
10 DKI J akarta - 6,08 45,75 34,60 9,25 4,31 100,00
11 J awa Barat - 2,82 50,46 33,89 8,45 4,39 100,00
12 J awa Tengah - 2,37 44,80 36,23 11,99 4,61 100,00
13 DI Yogyakarta 0,26 5,18 53,11 29,01 8,03 4,40 100,00
14 J awa Timur 0,21 3,74 44,72 33,94 12,49 4,91 100,00
15 Banten 0,31 1,55 53,73 33,85 7,14 3,42 100,00
16 Bali - 0,84 49,37 29,29 12,13 8,37 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 0,39 6,23 58,76 24,51 6,61 3,50 100,00
18 Nusa Tenggara Timur - 3,39 33,9 37,29 18,64 6,78 100,00
19 Kalimantan Barat - 5,97 48,5 33,58 5,22 6,72 100,00
20 Kalimantan Tengah - 1,24 53,09 37,03 7,41 1,24 100,00
21 Kalimantan Selatan - 1,50 47,37 34,59 12,78 3,76 100,00
22 Kalimantan Timur - 2,19 37,23 40,88 15,33 4,38 100,00
23 Sulawesi Utara - 4,17 54,17 30,83 9,17 1,67 100,00
24 Sulawesi Tengah - 2,50 54,99 32,50 7,50 2,50 100,00
25 Sulawesi Selatan - 5,16 33,55 41,93 14,19 5,16 100,00
26 Sulawesi Tenggara - 4,00 46,00 32,00 12,00 6,00 100,00
27 Gorontalo - 4,84 43,54 29,03 14,52 8,07 100,00
28 Maluku - - 39,58 43,75 10,42 6,25 100,00
29 Maluku Utara - - 31,81 52,28 13,64 2,27 100,00
30 Papua - - 38,89 48,15 11,11 1,85 100,00
0,08 3,38 46,87 35,13 30,17 4,37 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
Indonesia
No
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MEROKOK
MENURUT KELOMPOK UMUR MULAI MEROKOK SETIAP HARI, DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI TAHUN 2004
Perkotaan
Kelompok Umur Mulai Merokok Setiap Hari
Jumlah Provinsi
Lampiran 2.33.b


No Provinsi 5 - 9 10 - 14 15 - 19 20 - 24 25 - 29 > 30 Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam - 3,54 39,72 39,72 13,24 3,78 100,00
2 Sumatera Utara - 5,63 52,82 30,75 7,98 2,82 100,00
3 Sumatera Barat - 7,48 52,58 30,41 5,93 3,61 100,00
4 Riau - 2,69 49,50 39,73 5,39 2,69 100,00
5 J ambi - 3,42 53,99 34,60 6,85 1,14 100,00
6 Sumatera Selatan - 4,93 58,13 27,34 6,90 2,71 100,00
7 Bengkulu - 8,68 55,47 28,68 4,53 2,64 100,00
8 Lampung 0,19 2,43 54,58 31,96 6,36 4,49 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 0,76 9,92 66,41 16,79 3,82 2,29 100,00
10 DKI J akarta - - - _ _ _ _
11 J awa Barat - 2,37 59,34 29,9 5,65 2,73 100,00
12 J awa Tengah 0,17 5,67 51,85 30,78 7,48 4,04 100,00
13 DI Yogyakarta - 6,60 41,63 28,93 15,23 7,61 100,00
14 J awa Timur 0,14 7,88 50,31 28,06 9,33 4,28 100,00
15 Banten - 1,98 53,36 35,18 7,51 1,98 100,00
16 Bali - 3,92 42,48 33,98 14,38 5,23 100,00
17 Nusa Tenggara Barat - 5,82 57,41 32,28 3,17 1,32 100,00
18 Nusa Tenggara Timur - 2,07 37,93 42,41 13,79 3,79 100,00
19 Kalimantan Barat - 4,15 44,24 38,25 8,30 5,07 100,00
20 Kalimantan Tengah - 2,70 59,08 30,11 6,18 1,93 100,00
21 Kalimantan Selatan - 6,25 47,06 34,56 9,19 2,94 100,00
22 Kalimantan Timur 0,72 5,76 48,20 33,09 9,35 2,88 100,00
23 Sulawesi Utara - 0,86 50,22 37,77 8,15 3,00 100,00
24 Sulawesi Tengah - 3,58 46,60 34,77 8,96 6,09 100,00
25 Sulawesi Selatan - 5,14 49,10 32,90 7,71 5,14 100,00
26 Sulawesi Tenggara - 4,89 38,72 39,10 11,28 6,02 100,00
27 Gorontalo 0,58 2,89 44,51 38,15 9,83 4,05 100,00
28 Maluku - 0,83 29,75 44,63 17,36 7,44 100,00
29 Maluku Utara - - 57,45 32,98 8,51 1,06 100,00
30 Papua - 5,42 40,42 40,00 10,00 4,17 100,00
0,07 4,82 51,99 31,68 7,82 3,62 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
Indonesia
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MEROKOK
MENURUT KELOMPOK UMUR MULAI MEROKOK SETIAP HARI, DAERAH TEMPAT TINGGAL, DAN PROVINSI TAHUN 2004
Perdesaan
Kelompok Umur Mulai Merokok Setiap Hari
Lampiran 2.34


< 4 5 - 9 10 - 14 15 - 19 20 - 24 > 25
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 5,66 20,62 41,54 11,86 15,82 4,50 100,00
2 Sumatera Utara 4,26 11,11 46,59 14,57 20,38 3,09 100,00
3 Sumatera Barat 5,78 15,76 50,51 12,88 12,16 2,90 100,00
4 Riau 6,05 9,91 43,31 22,39 15,16 3,18 100,00
5 J ambi 4,33 19,89 44,06 22,51 6,33 2,89 100,00
6 Sumatera Selatan 10,78 22,90 53,95 6,37 3,69 2,29 100,00
7 Bengkulu 2,00 13,04 69,84 9,66 4,37 1,09 100,00
8 Lampung 12,49 25,17 52,04 6,93 2,54 0,84 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 4,33 14,35 46,88 19,60 10,50 4,33 100,00
10 DKI J akarta 11,15 23,57 56,40 3,17 4,44 1,27 100,00
11 J awa Barat 14,39 29,16 47,83 3,35 3,87 1,40 100,00
12 J awa Tengah 14,52 34,29 43,23 4,65 2,83 0,47 100,00
13 DI Yogyakarta 19,39 31,34 39,57 5,41 3,35 0,95 100,00
14 J awa Timur 12,07 27,88 49,73 4,39 4,73 1,20 100,00
15 Banten 10,04 20,07 62,38 3,81 3,01 0,70 100,00
16 Bali 18,85 30,11 37,92 7,29 5,52 0,31 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 10,79 27,45 39,17 8,34 7,05 7,21 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 22,82 30,06 32,80 8,30 3,72 2,30 100,00
19 Kalimantan Barat 4,21 11,99 53,79 18,64 9,27 2,10 100,00
20 Kalimantan Tengah 13,29 18,35 50,68 12,05 5,05 0,58 100,00
21 Kalimantan Selatan 3,96 11,10 57,59 15,00 10,13 2,21 100,00
22 Kalimantan Timur 2,54 12,69 53,24 25,37 5,44 0,72 100,00
23 Sulawesi Utara 8,82 19,44 46,26 19,73 4,65 1,10 100,00
24 Sulawesi Tengah 10,21 24,16 29,97 28,62 3,12 3,91 100,00
25 Sulawesi Selatan 6,98 21,87 40,08 23,71 4,05 3,31 100,00
26 Sulawesi Tenggara 7,61 20,00 42,03 19,95 7,27 3,14 100,00
27 Gorontalo 15,74 25,10 36,19 14,46 5,53 2,98 100,00
28 Maluku 21,97 21,39 36,57 10,50 8,38 1,20 100,00
29 Maluku Utara 13,83 34,84 35,87 8,64 4,17 2,65 100,00
30 Papua 6,10 28,75 41,83 7,42 6,55 9,34 100,00
11,37 25,17 47,75 8,12 5,82 1,77 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
Indonesia
No
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MEROKOK
MENURUT JUMLAH BATANG YANG DIHISAP PERHARI, DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI TAHUN 2004
Perkotaan+Perdesaan
Jumlah Batang Rokok yang Dihisap per Hari
Jumlah Provinsi
Lampiran 2.34.a


< 4 5 - 9 10 - 14 15 - 19 20 - 24 > 25
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 4,40 20,76 32,71 13,84 17,61 10,69 100,00
2 Sumatera Utara 4,30 13,18 47,28 13,75 19,20 2,29 100,00
3 Sumatera Barat 9,20 19,02 43,56 13,50 11,65 3,07 100,00
4 Riau 12,08 10,57 38,49 20,75 14,72 3,40 100,00
5 J ambi 5,95 20,24 34,52 32,14 2,38 4,76 100,00
6 Sumatera Selatan 13,66 19,88 52,17 9,32 2,48 2,48 100,00
7 Bengkulu 3,80 15,19 65,82 6,33 3,80 5,06 100,00
8 Lampung 11,76 20,59 53,53 8,82 3,53 1,76 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 6,13 17,35 38,78 22,45 9,18 6,12 100,00
10 DKI J akarta 11,15 23,57 56,40 3,17 4,44 1,27 100,00
11 J awa Barat 14,00 25,68 52,86 3,23 3,07 1,16 100,00
12 J awa Tengah 13,17 29,51 47,96 5,27 3,56 0,53 100,00
13 DI Yogyakarta 18,65 30,83 41,97 2,85 4,40 1,29 100,00
14 J awa Timur 13,13 27,21 49,31 2,88 5,87 1,60 100,00
15 Banten 8,70 15,53 64,91 5,90 4,35 0,62 100,00
16 Bali 17,57 27,20 45,60 5,02 4,60 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 12,84 30,35 36,19 8,56 3,89 8,17 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 8,47 25,43 52,54 6,78 3,39 3,39 100,00
19 Kalimantan Barat 3,73 12,69 50,00 25,37 6,72 1,49 100,00
20 Kalimantan Tengah 25,92 12,35 45,68 12,34 2,47 1,23 100,00
21 Kalimantan Selatan 3,01 12,03 52,63 19,55 9,77 3,01 100,00
22 Kalimantan Timur 4,38 14,60 45,99 27,74 7,30 - 100,00
23 Sulawesi Utara 13,33 26,67 29,17 26,66 2,50 1,67 100,00
24 Sulawesi Tengah 17,5 12,50 12,50 45,00 2,50 10,00 100,00
25 Sulawesi Selatan 9,03 22,58 38,06 25,16 1,29 3,87 100,00
26 Sulawesi Tenggara 10,00 28,00 34,00 22,00 6,00 - 100,00
27 Gorontalo 19,36 25,80 25,81 20,97 3,22 4,84 100,00
28 Maluku 25,00 25,00 31,25 4,16 12,50 2,08 100,00
29 Maluku Utara 2,27 45,45 38,65 9,09 - 4,54 100,00
30 Papua 5,55 24,07 51,85 5,56 9,26 3,70 100,00
11,84 23,57 49,71 7,46 5,64 1,78 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MEROKOK
MENURUT JUMLAH BATANG YANG DIHISAP PER HARI, DAN DAERAH TEMPAT TINGGAL, DAN PROVINSI TAHUN 2004
Perkotaan
Jumlah Batang Rokok yang Dihisap per Hari
Indonesia
No Provinsi Jumlah
Lampiran 2.34.b


< 4 5 - 9 10 - 14 15 - 19 20 - 24 > 25
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 6,15 20,57 44,92 11,11 15,13 2,13 100,00
2 Sumatera Utara 4,23 9,39 46,01 15,26 21,36 3,76 100,00
3 Sumatera Barat 4,38 14,43 53,35 12,63 12,37 2,83 100,00
4 Riau 1,68 9,43 46,80 23,57 15,49 3,03 100,00
5 J ambi 3,80 19,77 47,15 19,39 7,60 2,28 100,00
6 Sumatera Selatan 9,61 24,14 54,68 5,17 4,19 2,22 100,00
7 Bengkulu 1,51 12,45 70,94 10,56 4,53 - 100,00
8 Lampung 12,71 26,54 51,59 6,35 2,24 0,56 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 3,05 12,21 52,67 17,56 11,45 3,05 100,00
10 DKI J akarta - - - - - - -
11 J awa Barat 14,77 32,54 42,94 3,46 4,65 1,64 100,00
12 J awa Tengah 15,31 37,06 40,50 4,30 2,41 0,43 100,00
13 DI Yogyakarta 20,30 31,98 36,55 8,63 2,03 0,51 100,00
14 J awa Timur 11,47 28,27 49,97 5,25 4,08 0,97 100,00
15 Banten 11,46 24,90 59,68 1,58 1,58 0,79 100,00
16 Bali 20,26 33,33 29,41 9,80 6,54 0,65 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 9,52 25,66 41,01 8,20 8,99 6,61 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 25,86 31,04 28,62 8,62 3,79 2,07 100,00
19 Kalimantan Barat 4,38 11,75 55,07 16,36 10,14 2,30 100,00
20 Kalimantan Tengah 9,66 20,08 52,12 11,97 5,79 0,39 100,00
21 Kalimantan Selatan 4,41 10,66 59,93 12,87 10,29 1,84 100,00
22 Kalimantan Timur 0,72 10,79 60,43 23,02 3,60 1,44 100,00
23 Sulawesi Utara 6,87 16,31 53,65 16,74 5,58 0,86 100,00
24 Sulawesi Tengah 8,96 26,16 32,98 25,81 3,23 2,87 100,00
25 Sulawesi Selatan 6,17 21,59 40,87 23,14 5,14 3,08 100,00
26 Sulawesi Tenggara 7,14 18,42 43,61 19,55 7,52 3,76 100,00
27 Gorontalo 14,45 24,85 39,89 12,14 6,36 2,31 100,00
28 Maluku 20,66 19,84 38,84 13,22 6,61 0,83 100,00
29 Maluku Utara 17,02 31,91 35,11 8,51 5,32 2,13 100,00
30 Papua 6,25 30,00 39,17 7,92 5,83 10,84 100,00
11,05 26,27 46,4 8,57 5,94 1,77 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
Indonesia
No
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG MEROKOK
MENURUT JUMLAH BATANG YANG DIHISAP PERHARI, DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Perdesaan
Jumlah Batang Rokok yang Dihisap per Hari
Provinsi Jumlah
Lampiran 2.35
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 31,06 71,99 66,79 49,79 78,55 75,60 44,45 76,68 73,09
2 Sumatera Utara 26,29 69,10 56,71 51,73 72,04 69,95 40,14 70,70 63,92
3 Sumatera Barat 29,34 72,40 52,60 37,01 72,20 68,01 34,59 72,26 63,15
4 Riau 28,91 67,30 60,43 47,53 74,20 74,20 39,00 71,04 67,89
5 J ambi 23,81 68,16 52,38 55,70 75,09 72,15 46,29 73,05 66,32
6 Sumatera Selatan 21,51 77,71 62,17 48,94 77,94 76,16 39,17 77,86 71,18
7 Bengkulu 29,06 84,69 66,87 55,54 70,45 69,74 47,75 74,64 68,90
8 Lampung 28,38 80,82 72,41 49,03 78,77 75,24 44,34 79,24 74,60
9 Kepulauan Bangka Belitung 24,44 67,90 54,55 54,69 82,81 66,52 41,71 76,42 61,39
10 DKI J akarta 23,72 77,99 67,80 - - - 23,72 77,99 67,80
11 J awa Barat 28,48 74,30 63,81 39,59 76,66 68,63 33,75 75,42 66,10
12 J awa Tengah 28,15 80,20 58,96 43,61 82,96 69,63 37,16 81,80 65,18
13 DI Yogyakarta 24,80 83,20 59,98 48,21 86,83 71,36 34,34 84,68 64,62
14 J awa Timur 23,72 80,30 58,38 37,90 81,26 68,96 31,92 80,85 64,50
15 Banten 27,32 69,07 64,09 40,56 72,87 59,44 33,09 70,73 62,06
16 Bali 28,04 82,80 63,05 42,97 86,70 65,09 35,40 84,72 64,06
17 Nusa Tenggara Barat 28,90 78,27 55,29 36,40 77,98 69,40 33,54 78,09 64,03
18 Nusa Tenggara Timur 28,72 65,35 64,69 47,41 65,73 73,27 44,14 65,66 71,76
19 Kalimantan Barat 21,29 79,10 57,03 51,21 75,54 75,18 42,66 76,56 69,99
20 Kalimantan Tengah 25,27 75,00 77,71 49,87 76,66 76,79 42,45 76,16 77,07
21 Kalimantan Selatan 24,86 81,07 64,69 37,87 78,82 66,70 32,82 79,70 65,92
22 Kalimantan Timur 32,13 77,43 62,69 45,90 68,95 70,12 38,24 73,67 65,99
23 Sulawesi Utara 36,36 75,76 62,62 47,48 78,78 57,25 43,17 77,61 59,33
24 Sulawesi Tengah 22,60 79,81 55,77 45,99 80,15 75,92 41,01 80,09 71,64
25 Sulawesi Selatan 19,72 79,30 62,38 42,31 72,49 72,23 35,32 74,60 69,18
26 Sulawesi Tenggara 25,39 86,72 78,52 46,65 85,16 81,47 41,75 85,52 80,79
27 Gorontalo 17,86 76,79 69,19 48,26 74,65 75,86 39,79 75,24 74,01
28 Maluku 17,11 72,07 72,52 36,73 81,72 82,08 30,84 78,82 79,21
29 Maluku Utara 22,92 80,98 66,33 50,99 88,16 79,93 43,00 86,12 76,06
30 Papua 31,25 72,12 73,08 67,94 70,94 82,40 58,72 71,24 80,06
26,39 76,67 61,84 43,69 78,05 70,50 36,02 77,44 66,67
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KEATAS YANG MELAKUKAN AKTIVITAS FISIK SEMINGGU YANG LALU
MENURUT JENIS AKTIVITAS FISIK, DAERAH TEMPAT TINGGAL, DAN PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
Aktivitas
Berat
Aktivitas
Sedang
Aktivitas
Ringan
Aktivitas
Berat
Aktivitas
Sedang
Aktivitas
Ringan
Indonesia
Aktivitas
Berat
Aktivitas
Sedang
Aktivitas
Ringan
Lampiran 2.36

< 1 Porsi 1- 2 Porsi 3 - 4 Porsi >5 Porsi Tidak Tahu
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 4,64 71,40 13,92 8,88 1,17 2,2
2 Sumatera Utara 17,59 65,35 13,27 3,80 - 1,8
3 Sumatera Barat 7,80 76,91 9,82 5,47 - 1,8
4 Riau 11,69 71,19 12,18 3,83 1,11 1,9
5 J ambi 2,21 71,68 15,87 10,23 - 2,3
6 Sumatera Selatan 7,57 70,86 13,06 8,28 0,23 2,1
7 Bengkulu 1,35 64,65 29,39 4,61 - 2,3
8 Lampung 4,28 72,10 16,20 7,18 0,24 2,2
9 Kepulauan Bangka Belitung 2,57 67,80 18,39 9,91 1,33 2,4
10 DKI J akarta 7,75 75,38 12,56 4,24 0,07 1,9
11 J awa Barat 5,80 77,56 11,70 4,90 0,04 1,8
12 J awa Tengah 15,92 64,58 15,61 3,89 - 1,9
13 DI Yogyakarta 3,98 71,04 22,21 2,77 - 2,0
14 J awa Timur 4,90 71,48 19,03 4,29 0,30 2,1
15 Banten 6,67 76,70 10,24 6,38 - 1,9
16 Bali 2,33 77,91 17,33 2,44 2,0
17 Nusa Tenggara Barat 3,31 79,14 14,81 2,74 1,9
18 Nusa Tenggara Timur 1,31 70,07 14,78 13,18 0,66 2,6
19 Kalimantan Barat 0,93 73,83 15,58 8,24 1,42 2,4
20 Kalimantan Tengah 3,89 70,74 17,47 4,55 3,35 2,4
21 Kalimantan Selatan 6,85 81,78 8,54 2,77 0,06 1,6
22 Kalimantan Timur 13,99 64,72 17,53 3,76 - 1,8
23 Sulawesi Utara 7,88 56,73 21,94 13,44 - 2,4
24 Sulawesi Tengah 1,60 70,55 17,42 10,34 0,09 2,3
25 Sulawesi Selatan 3,69 75,13 14,83 6,27 0,09 2,1
26 Sulawesi Tenggara 4,27 74,70 13,29 7,73 - 2,3
27 Gorontalo 5,12 73,97 13,21 7,70 - 2,0
28 Maluku 1,39 82,38 11,08 5,15 - 2,1
29 Maluku Utara 2,26 83,59 9,36 4,78 - 2,0
30 Papua 2,32 63,51 25,58 6,99 1,61 2,5
7,65 71,91 15,03 5,19 0,22 2,0
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
Indonesia
No
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS MENURUT KOMSUMSI SAYUR-SAYURAN PER HARI,
PORSI RATA-RATA PER HARI, DAN PROVINSI TAHUN 2004
Porsi Rata-rata Konsumsi Sayur-sayuran Per Hari
Provinsi
Rata-rata Porsi
per hari
Lampiran 2.37

Rata-rata
< 1 Porsi 1 Porsi 2 - 4 Porsi >5 Porsi Tidak Tahu Porsi per hari
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 3,70 44,49 45,85 4,07 1,89 2,0
2 Sumatera Utara 16,15 45,53 35,71 2,60 - 1,5
3 Sumatera Barat 5,36 60,52 32,90 1,21 - 1,5
4 Riau 12,42 46,23 38,61 1,75 1,00 1,7
5 J ambi 1,69 49,02 46,74 2,55 - 1,7
6 Sumatera Selatan 5,03 44,80 46,86 3,10 0,22 1,8
7 Bengkulu 2,15 50,12 46,76 0,97 - 1,7
8 Lampung 6,72 54,58 34,75 3,68 0,26 1,7
9 Kepulauan Bangka Belitung 2,42 43,88 47,72 4,83 1,16 2,1
10 DKI J akarta 8,36 52,69 36,08 2,80 0,07 1,6
11 J awa Barat 8,72 57,90 30,18 3,15 0,05 1,5
12 J awa Tengah 17,71 47,30 32,96 2,03 - 1,5
13 DI Yogyakarta 4,91 57,37 36,62 1,11 - 1,5
14 J awa Timur 9,94 49,31 38,88 1,74 0,13 1,6
15 Banten 3,92 59,57 33,49 3,02 - 1,6
16 Bali 3,53 61,66 34,21 0,60 1,5
17 Nusa Tenggara Barat 5,26 54,29 37,73 2,72 1,7
18 Nusa Tenggara Timur 2,27 56,53 37,35 3,22 0,63 1,7
19 Kalimantan Barat 2,76 48,99 43,83 2,88 1,54 1,9
20 Kalimantan Tengah 6,44 43,86 46,73 1,91 1,06 1,8
21 Kalimantan Selatan 8,63 60,01 30,39 0,90 0,07 1,4
22 Kalimantan Timur 14,17 46,30 37,09 2,43 - 1,5
23 Sulawesi Utara 7,76 49,79 36,18 6,27 - 1,8
24 Sulawesi Tengah 2,05 37,35 51,27 9,21 0,11 2,3
25 Sulawesi Selatan 3,77 44,23 47,62 4,22 0,17 1,9
26 Sulawesi Tenggara 5,86 40,08 50,14 3,93 - 1,9
27 Gorontalo 3,18 59,11 32,22 5,48 - 1,7
28 Maluku 4,22 58,67 35,84 1,00 0,27 1,5
29 Maluku Utara 4,37 46,25 45,31 4,08 - 1,9
30 Papua 4,52 38,83 48,06 6,42 2,17 2,3
9,44 51,19 36,50 2,68 0,19 1,6
Sumber : BPS, Statistik Kesehatan 2004
Indonesia
PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS
MENURUT KOMSUMSI BUAH-BUAHAN PER HARI, PORSI RATA-RATA PER HARI, DAN PROVINSI TAHUN 2004
Porsi Rata-rata Konsumsi Buah-buahan Per Hari
Provinsi No
Lampiran 3.1
ANGKA KEMATIAN BAYI, ANGKA KEMATIAN BALITA, ANGKA HARAPAN HIDUP, DAN ANGKA FERTILITAS TOTAL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2002 - 2003
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam - - 67,70 _
2 Sumatera Utara 42 57 67,30 3,0
3 Sumatera Barat 48 59 66,10 3,2
4 Riau 43 60 68,10 3,2
5 J ambi 41 51 66,90 2,7
6 Sumatera Selatan 30 49 65,70 2,3
7 Bengkulu 53 68 65,40 3,0
8 Lampung 55 64 66,10 2,7
9 Kepulauan Bangka Belitung 43 47 65,60 2,4
10 DKI J akarta 35 41 72,30 2,2
11 J awa Barat 44 50 64,50 2,8
12 J awa Tengah 36 44 68,90 2,1
13 DI Yogyakarta 20 23 72,40 1,9
14 J awa Timur 43 52 66,00 2,1
15 Banten 38 56 62,40 2,6
16 Bali 14 19 70,00 2,1
17 Nusa Tenggara Barat 74 103 59,30 2,4
18 Nusa Tenggara Timur 59 73 63,80 4,1
19 Kalimantan Barat 47 63 64,40 2,9
20 Kalimantan Tengah 40 47 69,40 3,2
21 Kalimantan Selatan 45 57 61,30 3,0
22 Kalimantan Timur 42 50 69,40 2,8
23 Sulawesi Utara 25 33 70,90 2,6
24 Sulawesi Tengah 52 71 63,30 3,2
25 Sulawesi Selatan 47 72 68,60 2,6
26 Sulawesi Tenggara 67 92 65,10 3,6
27 Gorontalo 77 97 64,20 2,8
28 Maluku - - 65,50 -
29 Maluku Utara - - 63,00 -
30 Papua - - 65,20 -
35 46 66,20 2,6
Sumber: BPS (2003), Indonesia Demographic and Health (IDHS), 2002 - 2003
Keterangan: (-) tidak ada data
Indonesia
(2002) (2003)
(3) (4) (5) (6)
No Provinsi
(2002-2003) (2002-2003)
Angka Harapan Angka Fertilitas
Bayi (IMR) Balita Hidup (eo) Total (TFR)
Angka Kematian Angka Kematian
Lampiran 3.2
PERSENTASE 10 PENYAKIT UTAMA PADA PASIEN RAWAT JALAN
DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2004
No %
(1) (4)
1 001 - 057,9 Penyakit Sistem Napas 18,7
2 058.0 - 096,9
Faktor yang Mempengaruhi Keadaan Kesehatan dan yang Berhubungan
dengan Pelayanan Kesehatan
19,1
3 097 - 100 Penyakit Infeksi dan Parasit Tertentu 11,6
4 101 - 111 Penyakit Sistem Cerna 12,1
5 112 - 119.9 Penyakit Sistem Sirkulasi Darah 10,1
6 120 - 129 Gejala, Tanda dan Penemuan Laboratorium, Klinik Abnormal, YTK 7,1
7 130 - 139.10 Cedera, Keracunan dan Akibat Sebab Luar Tertentu Lainnya 6,1
8 140 - 142.9 Penyakit Mata dan Adneksa 5,0
9 143 - 164.9 Penyakit Endokrin, Nutrisi dan Metabolik 5,6
10 165.0 - 179.9 Penyakit Kulit dan J aringan Subkutan 5,0
Sumber: Ditjen Yanmed, Depkes RI, 2004
Keterangan: DTD (Daftar Tabulasi Dasar)
DTD
(2)
Golongan Sebab Sakit
(3)
Lampiran 3.4
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 8.990 2,17
2 Sumatera Utara 48.341 5,43
3 Sumatera Barat 4.971 1,1
4 Riau 20.183 3,68
5 J ambi 60.127 24,4
6 Sumatera Selatan 56.762 8,04
7 Bengkulu 119.068 56,91
8 Lampung 275.654 38,52
9 Kepulauan Bangka Belitung 17.335 18,68
10 DKI J akarta - -
11 J awa Barat 8.105 1,11
12 J awa Tengah 327.706 0,15
13 DI Yogyakarta 23.206 0,13
14 J awa Timur 118.195 0,28
15 Banten 2.836 0,01
16 Bali - -
17 Nusa Tenggara Barat 83.310 20,51
18 Nusa Tenggara Timur 626.278 172,77
19 Kalimantan Barat 3.915 0,99
20 Kalimantan Tengah 22.090 12,16
21 Kalimantan Selatan 8.598 2,78
22 Kalimantan Timur 19.428 8,83
23 Sulawesi Utara 31.827 14,93
24 Sulawesi Tengah 58.770 27,28
25 Sulawesi Selatan 18.315 2,40
26 Sulawesi Tenggara 38.480 21,11
27 Gorontalo 12.633 14,85
28 Maluku 62.856 46,43
29 Maluku Utara 65.379 72,44
30 Papua 188.209 73,69
2.331.567 21,35
Sumber: Ditjen PPM & PL, Depkes RI
Keterangan: API =Annual Parasite Incidence (di P. J awa +Bali)
AMI =Annual Malaria Incidence (di luar P. J awa +Bali)
Indonesia
JUMLAH KASUS DAN ANGKA KESAKITAN PENYAKIT MALARIA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi Jumlah Penderita API/AMI
(3) (4)
Lampiran 3.5
(1) (2)
1 DKI J akarta 0,00 0,00 0,00 0,07 0,01 NA NA NA
2 J awa Barat 0,04 0,07 0,04 0,03 0,02 NA NA 0,16
3 J awa Tengah 0,32 0,65 1,06 1,74 1,46 NA NA 0,51
4 DI Yogyakarta 0,52 3,54 6,76 11,73 10,43 NA NA 0,97
5 J awa Timur 0,04 0,03 0,05 0,17 0,12 NA NA 0,08
6 Banten - - - - - NA NA NA
7 Bali 0,03 0,03 0,04 0,04 0,08 NA NA 0,03
0,12 0,30 0,52 0,81 0,62 0,47 0,22 0,15
Sumber : Ditjen PPM & PL, Depkes RI
2003 2002 2001
Annual Parasite Incidence (API) Per 1.000
2004
Jawa-Bali
1998 1997
(5) (4) (3)
No Provinsi
Keterangan : NA =Not Available
ANNUAL PARASITE INCIDENCE (API) MALARIA
DI JAWA-BALI TAHUN 1997 - 2004
(9) (8) (7) (6)
2000 1999
(9)
Lampiran 3.6
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 4.229.100 4.863 2.810 1.971 40,5 1.000 50,7
2 Sumatera Utara 12.443.600 14.310 13.891 11.453 80,0 7.952 69,4
3 Sumatera Barat 4.477.000 5.149 4.590 3.129 60,8 2.050 65,5
4 Riau 5.369.300 6.175 4.364 2.495 40,4 1.964 78,7
5 J ambi 2.570.000 2.956 2.257 1.673 56,6 1.444 86,3
6 Sumatera Selatan 7.363.400 8.468 6.607 4.371 51,6 3.617 82,7
7 Kepulauan Bangka Belitung 1.038.200 1.194 1.121 729 61,1 666 91,4
8 Bengkulu 1.665.800 1.916 1.502 1.112 58,0 729 65,6
9 Lampung 7.131.500 8.201 4.946 3.100 37,8 1.790 57,7
10 Banten 8.574.300 9.860 9.855 5.354 54,3 2.992 55,9
11 DKI J akarta 8.792.000 10.111 14.974 6.479 64,1 14.807 228,5
12 J awa Barat 37.529.200 43.159 40.435 21.661 50,2 3.196 14,8
13 J awa Tengah 32.675.100 37.576 29.745 14.373 38,3 11.652 81,1
14 D.I. Yogyakarta 3.167.900 3.643 2.353 1.300 35,7 793 61,0
15 J awa Timur 35.586.800 40.925 27.225 16.460 40,2 12.817 77,9
16 Kalimantan Barat 4.283.000 4.925 3.969 3.052 62,0 2.612 85,6
17 Kalimantan Tengah 1.992.400 2.291 1.744 1.408 61,5 948 67,3
18 Kalimantan Selatan 3.134.000 3.604 4.566 2.537 70,4 2.204 86,9
19 Kalimantan Timur 2.620.000 3.013 1.990 1.249 41,5 1.012 81,0
20 Sulawesi Utara 2.088.900 2.402 3.859 3.056 127,2 2.127 69,6
21 Gorontalo 880.500 1.013 1.334 1.088 107,4 731 67,2
22 Sulawesi Tengah 2.303.700 2.649 2.740 1.751 66,1 1.087 62,1
23 Sulawesi Selatan 8.515.500 9.793 9.467 8.507 86,9 8.054 94,7
24 Sulawesi Tenggara 1.960.900 2.255 2.092 1.562 69,3 1.434 91,8
25 Bali 3.280.600 3.773 2.077 1.080 28,6 996 92,2
26 Nusa Tenggara Barat 4.249.100 4.886 4.445 2.921 59,8 2.579 88,3
27 Nusa Tenggara Timur 4.059.900 4.669 3.516 1.971 42,2 1.499 76,1
28 Maluku 1.240.400 1.426 1.198 657 46,1 393 59,8
29 Maluku Utara 784.200 902 728 538 59,7 208 38,7
30 Papua 2.408.200 2.769 4.258 1.944 70,2 1.184 60,9
216.414.500 248.877 214.658 128.981 51,8 94.537 73,3
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI
HASIL CAKUPAN PENEMUAN KASUS DAN EVALUASI HASIL PENGOBATAN PENYAKIT TB PARU
TAHUN 2004
No Provinsi
Jumlah
Penduduk
Perkiraan
BTA Pos
Cakupan Penemuan Konversi
Semua
Kasus
BTA Pos
CDR
%
Abs %
Indonesia
Lampiran 3.7
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 1 1 0,06
2 Sumatera Utara 75 25 0,65
3 Sumatera Barat 2 1 0,05
4 Riau 37 43 0,78
5 J ambi 9 4 0,37
6 Sumatera Selatan 25 12 0,36
7 Bengkulu 5 1 0,32
8 Lampung 6 2 0,09
9 Kepulauan Bangka Belitung 18 2 2,11
10 Kepulauan Riau 48 0
11 DKI J akarta 1.272 278 15,28
12 J awa Barat 107 28 0,30
13 J awa Tengah 40 27 0,13
14 DI Yogyakarta 18 7 0,58
15 J awa Timur 220 69 0,63
16 Banten 6 1 0,05
17 Bali 128 33 4,07
18 Nusa Tenggara Barat 16 7 0,42
19 Nusa Tenggara Timur 20 4 0,53
20 Kalimantan Barat 79 17 2,12
21 Kalimantan Tengah - - -
22 Kalimantan Selatan 3 2 0,10
23 Kalimantan Timur 5 3 0,20
24 Sulawesi Utara 54 27 2,74
25 Sulawesi Tengah 2 1 0,10
26 Sulawesi Selatan 14 12 0,17
27 Sulawesi Tenggara - - -
28 Gorontalo - - -
29 Maluku 33 24 2,87
30 Maluku Utara 1 1 0,15
31 Papua 399 107 24,06
32 Irian J aya Barat - - -
Tidak diketahui 39 1 -
2.682 740 1,33
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI
JUMLAH KUMULATIF KASUS AIDS, MENINGGAL, DAN ANGKA KUMULATIF KASUS per 100.000 PENDUDUK
Jumlah
No Provinsi
MENURUT PROVINSI s/d 31 DESEMBER 2004
(3)
Jumlah Kasus
(5) (4)
Meninggal Case Rate
Lampiran 3.8
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 1 0 0,00
2 Sumatera Utara 75 34 45,33
3 Sumatera Barat 2 1 50,00
4 Riau 37 5 13,51
5 J ambi 9 3 33,33
6 Sumatera Selatan 25 10 40,00
7 Bengkulu 5 4 80,00
8 Lampung 6 5 83,33
9 Kepulauan Bangka Belitung 18 2 11,11
10 Kepulauan Riau 48 0 0,00
11 DKI J akarta 1.272 846 66,51
12 J awa Barat 107 66 61,68
13 J awa Tengah 40 6 15,00
14 DI Yogyakarta 18 7 38,89
15 J awa Timur 220 83 37,73
16 Banten 6 3 50,00
17 Bali 128 50 39,06
18 Nusa Tenggara Barat 16 9 56,25
19 Nusa Tenggara Timur 20 3 15,00
20 Kalimantan Barat 79 18 22,78
21 Kalimantan Tengah - - -
22 Kalimantan Selatan 3 2 66,67
23 Kalimantan Timur 5 3 60,00
24 Sulawesi Utara 54 7 12,96
25 Sulawesi Tengah 2 1 50,00
26 Sulawesi Selatan 14 0 0,00
27 Sulawesi Tenggara - - -
28 Gorontalo - - -
29 Maluku 33 13 39,39
30 Maluku Utara 1 0 0,00
31 Papua 399 2 0,50
32 Tidak diketahui 39 0 0,00
2.682 1.183 44,11
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI
(4)
Jumlah
(5) (3)
JUMLAH DAN PERSENTASE KASUS AIDS YANG MENGGUNAKAN NAPZA SUNTIKAN (IDU)
MENURUT PROVINSI s/d 31 DESEMBER 2004
No. Provinsi % Jumlah Kasus Kumulatif
Kasus AIDS yang
Menggunakan NAPZA Suntik
Lampiran 3.9
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam *) 140 489 629 1,51
2 Sumatera Utara 22 169 191 0,16
3 Sumatera Barat 15 116 131 0,29
4 Riau 51 165 216 0,40
5 J ambi 12 70 82 0,32
6 Sumatera Selatan 9 124 133 0,20
7 Bengkulu 5 22 27 0,16
8 Lampung 25 92 117 0,17
9 Kepulauan Bangka Belitung 2 22 24 0,24
10 Kepulauan Riau -
11 DKI J akarta **) 55 477 532 0,69
12 J awa Barat 273 1.959 2.232 0,59
13 J awa Tengah 200 1.771 1.971 0,62
14 DI Yogyakarta 8 13 21 0,06
15 J awa Timur 626 5.435 6.061 1,67
16 Banten 53 347 400 0,46
17 Bali 13 147 160 0,49
18 Nusa Tenggara Barat 49 204 253 0,63
19 Nusa Tenggara Timur 73 407 480 1,17
20 Kalimantan Barat 47 174 221 0,54
21 Kalimantan Tengah 9 90 99 0,54
22 Kalimantan Selatan **) 26 337 363 1,07
23 Kalimantan Timur 35 200 235 0,86
24 Sulawesi Utara 114 529 643 3,02
25 Sulawesi Tengah 35 227 262 1,17
26 Sulawesi Selatan 185 1.387 1.572 2,02
27 Sulawesi Tenggara 12 182 194 1,21
28 Gorontalo 16 207 223 2,57
29 Maluku 65 373 438 3,47
30 Maluku Utara 198 571 769 9,51
31 Papua 401 713 1.114 4,62
2.774 17.019 19.793 0,93
Sumber : Ditjen P2M dan PL, Depkes RI
Keterangan: *) Laporan sampai Triwulan III
**) Laporan sampai dengan Triwulan II
(5) (6)
Angka Prevalensi
per 10.000 Penduduk
Kasus Tercatat
Indonesia
SITUASI PENYAKIT KUSTA MENURUT PROVINSI
No Provinsi
TAHUN 2004
PB MB
(3) (4)
TOTAL
Lampiran 3.10
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28) (29) (30) (31) (32)
1 Nanggroe Aceh Darussalam - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
2 Sumatera Utara - - 44 - 44 - - 211 - 211 - - - - - - - 247 - 247 - - 130 - 130 - - 632 - 632
3 Sumatera Barat 11 20 87 - 118 32 28 295 - 355 18 27 254 - 299 2 4 248 - 254 2 22 197 - 221 65 101 1.081 - 1.247
4 Riau - - 120 - 120 - - 334 - 334 - - - - - - - 304 - 304 - - 228 - 228 - - 986 - 986
5 J ambi - - - - - 5 4 22 - 31 3 7 19 - 29 6 ## 6 - 33 - - - - - 14 32 47 - 93
6 Sumatera Selatan - - 272 - 272 - - 800 - 800 - - 585 - 585 - - 163 - 163 - - 133 - 133 - - 1.953 - 1.953
7 Bengkulu - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 759 - 759
8 Lampung - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 1.597 - 1.597
9 Kepulauan Bangka Belitung 1 5 - - 6 3 5 - - 8 2 5 - - 7 2 4 - - 6 - 48 - - 48 8 67 - - 75
10 Kepulauan Riau - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
11 DKI J akarta - - 396 - 396 - - 1.187 - 1.187 - - 643 - 643 - - 364 - 364 - - 429 - 429 - - 3.019 - 3.019
12 J awa Barat - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 10.784 - 10.784
13 J awa Tengah - - 2 - 2 - - 9 - 9 - - 4 - 4 - - 6 - 6 - - 3 - 3 - - 24 - 24
14 DI Yogyakarta - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 625 - 625
15 J awa Timur - - 12 - 12 - - 25 - 25 - - 33 - 33 - - 4 - 4 - - 18 - 18 - - 92 - 92
16 Banten - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 3.044 - 3.044
17 Bali - - 64 - 64 - - 125 - 125 - - 239 - 239 - - 38 - 38 - - 89 - 89 - - 555 - 555
18 Nusa Tenggara Barat 3 5 1 - 9 21 9 4 - 34 27 8 4 - 39 16 4 3 - 23 - 1 - - 1 67 27 12 - 106
19 Nusa Tenggara Timur - - - - - - - 86 - 86 - - 72 - 72 - - 34 - 34 - - 1 - 1 - - 193 - 193
20 Kalimantan Barat 8 20 143 - 171 27 73 180 - 280 10 33 195 - 238 4 ## 127 - 144 3 7 153 - 163 52 146 798 - 996
21 Kalimantan Tengah 1 - 19 - 20 11 - 58 - 69 - - 1 - 1 - - 93 - 93 - - 27 - 27 12 - 198 - 210
22 Kalimantan Selatan - - 40 - 40 - - 82 - 82 - - 48 - 48 - - 30 - 30 - - 9 - 9 - - 209 - 209
23 Kalimantan Timur - - 93 - 93 - - 126 - 126 - - 113 - 113 - - 54 - 54 - - 101 - 101 - - 487 - 487
24 Sulawesi Utara - 5 52 - 57 - 19 112 - 131 - 31 71 - 102 - ## 44 - 59 - - 57 - 57 - 70 336 - 406
25 Sulawesi Tengah - - 12 - 12 - - 17 - 17 - - 21 - 21 - - 10 - 10 - - 16 - 16 - - 76 - 76
26 Sulawesi Selatan 26 22 - - 48 55 81 - - 136 34 60 - - 94 13 ## - - 41 10 46 - - 56 138 237 - - 375
27 Sulawesi Tenggara - - - - - 5 - 2 - 7 19 - 3 - 22 1 - 1 - 2 - - - - - 25 - 6 - 31
28 Gorontalo - - 52 - 52 - - 124 - 124 - - 136 - 136 - - 99 - 99 - - 31 - 31 - - 442 - 442
29 Maluku - 3 - - 3 - 3 - - 3 - - - - - - - - - - - - 3 - 3 - 6 3 - 9
30 Maluku Utara - 4 1 - 5 3 3 2 - 8 - 2 - - 2 - 1 - - 1 - - - - - 3 10 3 - 16
31 Papua 6 5 4 - 15 18 5 41 - 64 9 - 25 - 34 3 - 4 - 7 3 2 5 - 10 39 12 79 - 130
56 89 1.414 - 1.559 180 230 3.842 - 4.252 122 173 2.466 - 2.761 47 ## 1.879 - 2.016 18 126 1.630 - 1.774 423 708 28.040 - 29.171
Sumber : Ditjen. P2M &PL, Depkes RI
JUMLAH KASUS PENYAKIT CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi
I m u n i s a si
< 1 Tahun 1 - 4 Tahun 5 - 9 Tahun 10 - 14 Tahun > 15 Tahun Jumlah
D
i
v
a
k
s
i
n
a
s
i
T
i
d
a
k

D
i
v
a
k
s
i
n
a
s
i
T
i
d
a
k

D
i
k
e
t
a
h
u
i
M
a
t
i
J
u
m
l
a
h
D
i
v
a
k
s
i
n
a
s
i
T
i
d
a
k

D
i
v
a
k
s
i
n
a
s
i
T
i
d
a
k

D
i
k
e
t
a
h
u
i
M
a
t
i
J
u
m
l
a
h
D
i
v
a
k
s
i
n
a
s
i
T
i
d
a
k

D
i
v
a
k
s
i
n
a
s
i
T
i
d
a
k

D
i
k
e
t
a
h
u
i
M
a
t
i
J
u
m
l
a
h
D
i
v
a
k
s
i
n
a
s
i
T
i
d
a
k

D
i
v
a
k
s
i
n
a
s
i
T
i
d
a
k

D
i
k
e
t
a
h
u
i
M
a
t
i
J
u
m
l
a
h
D
i
v
a
k
s
i
n
a
s
i
J
u
m
l
a
h
Indonesia
D
i
v
a
k
s
i
n
a
s
i
T
i
d
a
k

D
i
v
a
k
s
i
n
a
s
i
T
i
d
a
k

D
i
k
e
t
a
h
u
i
M
a
t
i
T
i
d
a
k

D
i
v
a
k
s
i
n
a
s
i
T
i
d
a
k

D
i
k
e
t
a
h
u
i
M
a
t
i
J
u
m
l
a
h
Lampiran 3.11
<1th 1 - 4 th 5 - 14 th 15 - 44 th >45 th Jumlah <1th 1 - 4 th 5 - 14 th 15 - 44 th >45 th Jumlah Meninggal <1th 1 - 4 th 5 - 14 th 15 - 44 th >45 th Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21)
1 Nanggroe Aceh D. 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 1 2 10 17
4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 5 2 9
5 J ambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 4 3 1 9
6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
7 Bengkulu 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
9 Kep. Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 Kep.Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
11 DKI J akarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
12 J awa Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 18 19 50 42 133
13 J awa Tengah 0 2 9 9 1 21 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
15 J awa Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
16 Banten 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1
17 Bali 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1
21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
26 Sulawesi Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 2
27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
29 Maluku 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 Irian J aya 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0 2 11 11 1 25 0 0 0 0 0 0 0 4 26 27 60 55 172
Sumber : Ditjen. P2M &PL, Depkes RI
Indonesia
JUMLAH KASUS PENYAKIT DIFTERI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi
Rawat Jalan di RS Rawat Inap di RS Puskesmas
Lampiran 3.12
<1th 1 - 4 th 5 - 14 th 15 - 44 th >45 th Jumlah <1th 1 - 4 th 5 - 14 th 15 - 44 th >45 th Jumlah Meninggal <1th 1 - 4 th 5 - 14 th 15 - 44 th >45 th Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 -
3 Sumatera Barat 4 3 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 32 45 42 22 3 144
4 Riau 0 0 0 6 1 7 0 0 0 0 0 0 0 9 19 4 4 0 36
5 J ambi 3 0 2 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 3
6 Sumatera Selatan 1 2 13 5 1 22 1 0 0 1 0 2 0 4 15 2 0 0 21
7 Bengkulu 0 0 2 14 10 26 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
11 DKI J akarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
12 J awa Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 60 164 128 172 218 742
13 J awa Tengah 12 34 18 78 37 179 1 1 0 0 1 3 0 1 0 0 0 0 1
14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
15 J awa Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 2 0 3 10
16 Banten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 11 12 0 0 28
17 Bali 8 2 9 28 17 64 3 0 2 2 3 10 4 0 0 0 0 0 -
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 13 3 1 0 21
21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
23 Kalimantan Timur 8 5 0 0 1 14 0 0 0 0 0 0 0 7 13 44 8 3 75
24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
26 Sulawesi Selatan 3 4 3 21 0 31 0 1 0 0 0 1 0 4 8 15 35 31 93
27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 12 0 0 0 14
29 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -
30 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 6 8 0 0 15
31 Irian J aya 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1
39 50 47 152 67 355 5 3 2 3 4 17 4 129 314 260 243 258 1.204
Sumber : Ditjen. P2M &PL, Depkes RI
Indonesia
JUMLAH KASUS PENYAKIT BATUK REJAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi
Rawat Jalan di RS Rawat Inap di RS Puskesmas
Lampiran 3.13
<1th 1 - 4 th 5 - 14 th15 - 44 th >45 th Jumlah <1th 1 - 4 th 5 - 14 th15 - 44 th >45 th Jumlah Meninggal <1th 1 - 4 th 5 - 14 th 15 - 44 th >45 th Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21)
1 Nanggroe Aceh D. 5 3 8 4 1 21 1 2 5 11 7 26 0 0 0 - - - -
2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 0 - 0 0 0 - - - -
3 Sumatera Barat 0 6 11 46 4 67 0 0 17 74 30 121 1 2 7 78 187 95 369
4 Riau 1 0 6 11 8 26 0 1 5 8 7 21 0 0 4 17 66 29 116
5 J ambi 1 0 4 17 16 38 0 0 1 18 16 35 1 1 44 119 130 55 349
6 Sumatera Selatan 0 0 4 27 12 43 0 0 3 7 7 17 0 0 6 9 21 21 57
7 Bengkulu 0 0 0 0 0 - 0 0 2 13 8 23 0 0 12 14 49 25 100
8 Lampung 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 0 - 0 0 0 - - - -
9 Kep. Bangka Belitung 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 0 - 0 8 26 35 56 1 126
10 Kep.Riau 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 0 - 0 0 0 - - - -
11 DKI J akarta 0 2 4 15 2 23 0 0 0 0 0 - 0 1 17 22 27 8 75
12 J awa Barat 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 0 - 0 64 419 1.097 1.017 649 3.246
13 J awa Tengah 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 0 - 0 0 0 - - - -
14 DI Yogyakarta 0 0 0 9 7 16 0 0 0 0 2 2 0 0 0 - - - -
15 J awa Timur 1 2 47 19 9 78 0 5 44 17 10 76 0 11 17 146 124 141 439
16 Banten 4 33 78 228 83 426 1 8 23 177 62 271 1 3 15 75 85 70 248
17 Bali 3 9 10 50 15 87 0 2 5 37 26 70 0 0 2 7 50 16 75
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 0 - 0 2 11 17 51 40 121
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 0 - 0 0 0 - - - -
20 Kalimantan Barat 14 18 38 59 40 169 1 1 3 11 12 28 0 6 19 55 131 65 276
21 Kalimantan Tengah 1 0 3 28 0 32 2 0 5 38 17 62 0 1 6 6 4 6 23
22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 0 - 0 0 6 23 99 24 152
23 Kalimantan Timur 0 1 10 113 33 157 0 0 7 32 12 51 0 0 1 9 88 9 107
24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 0 - 0 0 0 - 1 1 2
25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 0 - 0 0 0 - - - -
26 Sulawesi Selatan 0 0 16 42 36 94 0 0 9 29 34 72 4 1 8 49 200 133 391
27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 0 - 0 0 0 1 3 4 8
28 Gorontalo 0 0 2 51 8 61 2 0 5 30 24 61 0 0 0 6 26 16 48
29 Maluku 0 3 25 34 11 73 4 8 24 48 18 102 0 0 0 - - - -
30 Maluku Utara 0 0 0 0 0 - 0 0 0 0 0 - 0 0 0 - - - -
31 Irian J aya 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 - 0 0 0 - 2 - 2
30 77 266 754 285 1.412 11 27 158 550 292 1.038 7 100 620 1.785 2.417 1.408 6.330
Sumber : Ditjen. P2M & PL Depkes.RI.
Indonesia
JUMLAH KASUS PENYAKIT HEPATITIS KLINIS
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi
Rawat Jalan di RS Rawat Inap di RS Puskesmas
Lampiran 3.14
No Penyakit
(1) (2)
1 Diare 46 1.827 29 2
2 Dengue High Fever 128 6.195 87 1
3 Campak 97 2.818 44 2
4 Difteri 34 106 10 9
5 Pertusis 2 2 0 0
6 Tetanus 1 1 0 0
7 Tetanus Neonatal 71 73 39 53
8 Malaria 9 261 15 6
9 Frambusia 2 2 0 0
10 Hepatitis 6 136 2 2
11 Meningitis 1 1 0 0
12 Tifus Perut 1 7 0 0
13 Rabies 40 132 13 10
14 Keracunan Makanan 65 3.748 23 1
15 Rubella 1 8 0 0
16 Dengue Shock Syndrome 5 7 7 100
17 Cacat Air 3 45 0 0
18 Parotitis 1 22 0 0
19 Keracunan 10 108 5 5
20 Hand, Foot, Mouth Diseases 1 1 0 0
21 Cikungunya 13 286 0 0
22 Leptospirosis 1 1 1 100
23 Thypoid 2 5 0 0
24 Marasmus 5 6 0 0
25 Disentri 1 7 0 0
546 15.805 275 2
Sumber : Ditjen. P2M & PL, Depkes RI
(6)
Case Fatality Rate (%)
FREKUENSI KLB MENURUT PENYAKIT DI INDONESIA
TAHUN 2004
Mati
(5)
TOTAL
Frekuensi
(3)
Kasus
(4)
Lampiran 3.15
Tahun 2000 Tahun 2001 Tahun 2002 Tahun 2003 Tahun 2004
P CFR IR P CFR IR P CFR IR P CFR IR P CFR IR
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 64 11 1,54 35 3 0,80 92 8.7 2,13 128 3.1 2,76 252 4,37 5,43
2 Sumatera Utara 96 0 0,86 138 0 1,23 348 3.7 2,80 878 2.7 7,07 1.093 2,20 8,79
3 Sumatera Barat 83 0 2,10 185 0 4,34 623 1.6 13,74 292 0.7 6,88 514 0,97 12,11
4 Riau 390 3 9,21 1.324 2 29,69 978 0.8 19,42 715 0.7 13,98 1.050 2,00 20,53
5 J ambi 131 5 5,10 129 4 5,21 272 4.0 10,71 80 2.5 2,83 275 1,45 9,74
6 Sumatera Selatan 1.211 2 18,59 1.890 1 27,86 1.406 1.8 19,71 1.403 2.1 17,87 1.270 1,34 16,06
7 Bengkulu 17 0 1,10 17 6 1,06 14 0.0 0,91 2 0.0 0,13 204 0,98 13,25
8 Lampung 66 6 0,91 228 4 3,10 197 5.1 3,43 624 2.6 9,29 908 1,54 13,51
9 Kepulauan Bangka Belitung - - - - - - 29 3.4 3,21 241 4.1 26,68 53 0 5,65
10 DKI J akarta 3.751 1 41,26 8.661 0 78,92 5.750 0.9 66,86 14.071 0.4 125,09 20.510 0,43 260,08
11 J awa Barat 2.283 3 5,38 5.152 2 11,84 4.817 1.3 13,56 8.683 2.1 23,64 19.014 1,13 52,20
12 J awa Tengah 4.907 2 15,09 5.001 2 15,37 6.357 1.6 19,09 8.490 2.3 25,51 9.047 1,80 27,11
13 DI Yogyakarta 492 2 14,40 917 1 26,84 992 1.0 28,57 1.553 2.3 47,09 2.206 1,41 66,89
14 J awa Timur 3.247 1 9,25 4.224 1 12,04 5.308 1.3 15,04 4.216 1.4 11,94 8.287 1,45 23,48
15 Banten - - - - - - 713 0.7 8,00 700 3.6 8,17 2577 2,25 30,08
16 Bali 757 1 25,34 199 1 6,44 3.986 0.3 130,87 2.364 0.3 76,78 1935 0,41 58,64
17 Nusa Tenggara Barat 34 6 0,89 72 6 1,84 232 1.3 5,91 196 4.6 5,06 805 1,99 20,77
18 Nusa Tenggara Timur 118 0 3,07 60 3 1,52 24 4.2 0,63 260 3.2 6,34 1381 3,11 35,00
19 Kalimantan Barat 1.393 4 35,06 806 31 19,57 1.910 1.6 49,97 349 2.0 9,13 212 2,36 5,55
20 Kalimantan Tengah 20 0 1,20 30 10 17,10 72 2.8 4,00 300 3.0 16,36 453 1,32 24,70
21 Kalimantan Selatan 91 7 2,94 121 6 5,64 365 0.3 17,04 178 3.4 7,47 378 0,79 10,30
22 Kalimantan Timur 253 1 10,51 1.423 2 58,17 2.011 2.0 80,08 1.926 1.5 77,32 2276 1,80 91,37
23 Sulawesi Utara 1.139 4 40,85 1.105 3 38,89 974 1.4 47,47 369 1.3 15,75 225 4,89 10,56
24 Sulawesi Tengah 31 7 1,57 178 6 8,67 81 2.5 3,27 184 1.0 7,47 293 3,41 13,06
25 Sulawesi Selatan 428 2 5,31 1.323 2 15,03 2.408 1.6 31,71 2.636 1.5 31,41 3500 0,69 41,70
26 Sulawesi Tenggara 0 0 0,00 11 0 0,63 51 0.0 2,91 43 2.3 2,45 266 0,75 13,89
27 Gorontalo - - - - - - 4 0.0 0,31 30 0.0 3,54 14 0,00 1,60
28 Maluku 3 0 0,14 0 0 0,00 0 0.0 0,00 0 0.0 0,00 0 0,00 0,00
29 Maluku Utara - - - - - - 63 3.2 7,20 2 1.0 0,23 74 9,46 8,71
30 Papua 123 6 6,04 214 2 10,34 300 1.0 14,19 603 0.8 29,13 390 2,05 18,84
21.134 2 10,17 33.443 1,4 15,99 40.377 1.3 19,24 51.516 1.5 23,87 79.462 1,2 37,11
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI
Keterangan : IR (Insidens Rate) per 100.000 penduduk
Indonesia
No. Provinsi
JUMLAH PENDERITA, CASE FATALITY RATE (%), DAN INCIDENCE RATE PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD/DHF)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2000 - 2004
Lampiran 3.16
Jumlah
Kab/Kota 1998 1999 2000 2001 2002 2003
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 20 9 7 5 7 9 8 16
2 Sumatera Utara 23 15 7 9 13 15 14 15
3 Sumatera Barat 16 12 6 5 6 4 3 9
4 Riau 16 7 3 8 10 13 12 14
5 J ambi 10 6 7 4 7 7 4 7
6 Sumatera Selatan 11 10 6 9 7 9 7 11
7 Bengkulu 7 4 9 3 4 4 1 5
8 Lampung 10 5 3 7 9 9 8 10
9 Kepulauan Bangka Belitung 7 - - - 3 2 3 5
10 DKI J akarta 6 5 6 5 5 5 5 5
11 J awa Barat 25 26 5 28 22 24 24 25
12 J awa Tengah 35 35 26 34 33 35 34 35
13 DI Yogyakarta 5 5 35 5 5 5 5 5
14 J awa Timur 38 37 5 37 37 38 38 38
15 Banten 6 - - - 6 6 3 6
16 Bali 9 9 36 7 8 9 8 9
17 Nusa Tenggara Barat 8 5 7 5 6 7 6 8
18 Nusa Tenggara Timur 16 6 5 1 3 1 3 10
19 Kalimantan Barat 10 6 1 7 8 8 8 9
20 Kalimantan Tengah 14 6 6 4 6 6 5 11
21 Kalimantan Selatan 13 10 4 7 9 5 8 13
22 Kalimantan Timur 13 7 6 7 10 10 12 13
23 Sulawesi Utara 8 7 6 7 5 4 4 7
24 Sulawesi Tengah 9 5 6 4 2 2 5 5
25 Sulawesi Selatan 28 21 4 18 20 17 18 23
26 Sulawesi Tenggara 7 3 15 2 2 3 3 1
27 Gorontalo 5 - - - 3 2 2 2
28 Maluku 5 5 0 0 0 0 0 0
29 Maluku Utara 8 - - - 2 2 2 3
30 Papua 28 6 1 3 5 3 4 6
416 272 222 231 263 264 257 326
Sumber: Ditjen PPM-PL, Depkes RI
Indonesia
Jumlah Kabupaten/Kota Terjangkit DBD
(4) (5) (6)
JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG TERJANGKIT PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD/DHF)
MENURUT PROVINSI TAHUN 1998 - 2004
(8) (9) (10)
2004
No. Provinsi
(3) (7)
Lampiran 3.17
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 20 16 80,00 179 30 21 70,00
2 Sumatera Utara 23 14 60,87 728 16 16 100,00
3 Sumatera Barat 16 13 81,25 2.718 87 82 94,25
4 Riau 16 8 50,00 516 89 78 87,64
5 J ambi 10 3 30,00 121 11 11 100,00
6 Sumatera Selatan 11 - - 1.129 0 0 0,00
7 Bengkulu 7 0 0,00 111 0 0 0,00
8 Lampung 10 3 30,00 538 1 1 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 7 - - - - - -
10 DKI J akarta 6 0 0,00 158 100 0 0,00
11 J awa Barat 25 1 4,00 281 1 0 0,00
12 J awa Tengah 35 0 0,00 8 0 0 0,00
13 DI Yogyakarta 5 0 0,00 28 0 0 0,00
14 J awa Timur 38 0 0,00 0 0 0 0,00
15 Banten 6 0 0,00 0 0 0 0,00
16 Bali 9 - - - - - -
17 Nusa Tenggara Barat 8 - - - - - -
18 Nusa Tenggara Timur 16 3 18,75 775 15 13 86,67
19 Kalimantan Barat 10 - - - - - -
20 Kalimantan Tengah 14 6 42,86 139 0 0 0,00
21 Kalimantan Selatan 13 10 76,92 304 40 40 100,00
22 Kalimantan Timur 13 3 23,08 282 2 2 100,00
23 Sulawesi Utara 8 9 112,50 1.098 699 583 83,40
24 Sulawesi Tengah 9 5 55,56 271 131 131 100,00
25 Sulawesi Selatan 28 14 50,00 1.510 95 95 100,00
26 Sulawesi Tenggara 7 7 100,00 363 31 31 100,00
27 Gorontalo 5 5 100,00 155 6 6 100,00
28 Maluku 5 3 60,00 1.147 24 12 50,00
29 Maluku Utara 8 - - - - - -
30 Papua 28 - - - - - -
416 123 29,57 12.559 1.378 1.122 81,42
Sumber : Ditjen PPM & PL, Depkes RI
Keterangan : GHTR =Gigitan Hewan Tertular Rabies
Diperiksa GHTR
(4) (3)
JUMLAH DAN PERSENTASE KABUPATEN TERJANGKIT DAN JUMLAH KASUS GIGITAN HEWAN TERTULAR RABIES
SERTA HASIL PEMERIKSAAN SPECIMEN HEWAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
(9) (8) (7) (6)
Jumlah Kasus
Positif
Jumlah Specimen Hewan
% Positif
Indonesia
No. Provinsi
Seluruhnya
Jumlah Kabupaten
Terjangkit %
(5)
Lampiran 3.18
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 1.908 1.908 1.908 1.940 1.896
2 Sumatera Utara 52 52 52 45 102
3 Sumatera Barat 30 30 30 32 30
4 Riau 267 267 267 267 243
5 J ambi 136 136 136 134 220
6 Sumatera Selatan 91 91 91 44 130
7 Bengkulu 67 67 67 55 57
8 Lampung 73 73 73 73 73
9 Kepulauan Bangka Belitung 73 73 78 37
10 Kep Riau 21
11 DKI J akarta 12 12 12 12 12
12 J awa Barat 156 156 156 156 78
13 J awa Tengah 136 136 136 136 226
14 DI Yogyakarta 7 7 7 7
15 J awa Timur 142 142 144 167 119
16 Banten 69 76
17 Bali 5 5 5 5 5
18 Nusa Tenggara Barat 62 62 62 62 62
19 Nusa Tenggara Timur 1.706 1.706 1.706 1.706 1.706
20 Kalimantan Barat 156 156 156 156 261
21 Kalimantan Tengah 123 123 123 118 117
22 Kalimantan Selatan 137 135 169 135 249
23 Kalimantan Timur 282 282 282 272 195
24 Sulawesi Utara 72 72 72 72 23
25 Sulawesi Tengah 82 82 82 82 82
26 Sulawesi Selatan 154 154 154 154 110
27 Sulawesi Tenggara 197 197 197 197 182
28 Gorontalo 14 83
29 Maluku 57 57 57 57 30
30 Maluku Utara 5
31 Papua 390 390 390 390 36
32 Irian J aya Barat 254
6.500 6.571 6.607 6.635 6.720
Sumber : Ditjen PPM & PL, Depkes RI
JUMLAH PENDERITA FILARIASIS
2004
No. Provinsi
2003 2000
MENURUT PROVINSI TAHUN 2000 - 2004
Tahun
(7)
Indonesia
2001 2002
(3) (4) (5) (6)
Lampiran 3.19
Luka Luka Luka Luka
Berat Ringan Berat Ringan Korban Mati
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 212 196 167 314 677 28,95 24,67 46,38 16,61 0,71 Rp. 833.400.000
2 Sumatera Utara 911 759 617 701 2.077 36,54 29,71 33,75 17,21 0,30 Rp. 3.923.525.000
3 Sumatera Barat 292 353 147 157 657 53,73 22,37 23,90 14,51 1,19 Rp. 1.266.100.000
4 Riau 613 556 379 418 1.353 41,09 28,01 30,89 23,82 0,72 Rp. 3.205.290.000
5 J ambi 166 174 80 83 337 51,63 23,74 24,63 12,86 1,97 Rp. 571.950.000
6 Sumatera Selatan 323 304 178 199 681 44,64 26,14 29,22 10,32 0,68 Rp. 1.916.675.000
7 Bengkulu 167 145 63 90 298 48,66 21,14 30,20 19,33 3,16 Rp. 376.400.000
8 Lampung 374 389 311 311 1.011 38,48 30,76 30,76 14,38 0,55 Rp. 2.632.000.000
9 Kepulauan Bangka Belitung 172 141 36 54 231 61,04 15,58 23,38 22,81 6,03 Rp. 330.550.000
10 Kepulauan Riau - - - - - - - - - - -
11 DKI J akarta 4.065 1.010 2.441 1.827 5.278 19,14 46,25 34,62 60,49 0,22 Rp. 10.613.360.000
12 J awa Barat 1.231 940 680 927 2.547 36,91 26,70 36,40 6,62 0,10 Rp. 3.536.540.000
13 J awa Tengah 846 739 438 926 2.103 35,14 20,83 44,03 6,49 0,11 Rp. 3.552.208.000
14 D.I. Yogyakarta 459 198 144 467 809 24,47 17,80 57,73 25,12 0,76 Rp. 650.980.000
15 J awa Timur 1.688 1.379 859 1.513 3.751 36,76 22,90 40,34 10,31 0,10 Rp. 4.873.394.000
16 Banten 150 152 83 120 355 42,82 23,38 33,80 3,91 0,47 Rp. 475.350.000
17 Bali 492 426 198 299 923 46,15 21,45 32,39 27,20 1,36 Rp. 661.950.000
18 Nusa Tenggara Barat 434 352 224 267 843 41,76 26,57 31,67 20,68 1,02 Rp. 692.076.000
19 Nusa Tenggara Timur 446 278 228 436 942 29,51 24,20 46,28 22,76 0,71 Rp. 990.850.000
20 Kalimantan Barat 234 226 129 225 580 38,97 22,24 38,79 14,46 0,97 Rp. 805.015.000
21 Kalimantan Tengah 159 142 78 108 328 43,29 23,78 32,93 17,57 2,32 Rp. 370.125.000
22 Kalimantan Selatan 201 230 45 63 338 68,05 13,31 18,64 10,50 2,11 Rp. 782.350.000
23 Kalimantan Timur 898 397 285 579 1.261 31,48 22,60 45,92 45,66 1,14 Rp. 2.882.135.000
24 Sulawesi Utara 387 287 135 277 699 41,06 19,31 39,63 32,45 1,91 Rp. 1.008.440.200
25 Sulawesi Tengah 343 189 132 208 529 35,73 24,95 39,32 23,56 1,59 Rp. 721.725.000
26 Sulawesi Selatan 862 720 334 347 1.401 51,39 23,84 24,77 16,79 0,62 Rp. 2.057.331.500
27 Sulawesi Tenggara 405 165 111 242 518 31,85 21,43 46,72 27,10 1,67 Rp. 649.775.000
28 Gorontalo 48 55 38 25 118 46,61 32,20 21,19 13,17 5,20 Rp. 225.900.000
29 Maluku 59 41 35 36 112 36,61 31,25 32,14 9,04 2,96 Rp. 80.250.000
30 Maluku Utara 102 24 25 58 107 22,43 23,36 54,21 12,31 2,58 Rp. 163.050.000
31 Papua 993 237 363 807 1.407 16,84 25,80 57,36 56,23 0,67 Rp. 2.196.900.000
32 Sulawesi Barat - - - - - - - - - - -
33 Irian J aya Barat - - - - - - - - - - -
17.732 11.204 8.983 12.084 32.271 34,72 27,84 37,45 14,87 0,02 Rp. 53.045.594.700
Sumber : Ditlantas, BabinkamMabes Polri
Khusus Polda NAD data hanya s/d bulan Nopember 2004
Mati
JUMLAH KEJADIAN KECELAKAAN LALU LINTAS DAN
RASIO KORBAN LUKA DAN MENINGGAL TERHADAP JUMLAH PENDUDUK MENURUT PROVINSI, TAHUN 2004
Mati
Penduduk
Total
Jumlah
Kecelakaan
(13)
Indonesia
Kerugian
Harta Benda
Materiil
No. Provinsi
Jumlah Korban % Korban Rasio/100000
Lampiran 3.20
10 - 14 th 15 - 19 th 20- 24 th 25- 29 th 30 - 34 th >= 35 th Tidak Jelas Total Pria Wanita Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1 RSKO, J akarta 1 160 796 683 323 246 - 2.209 1.977 232 2.209
2 RSU Sanglah, Denpasar - 1 37 57 42 23 - 160 151 9 160
3 RSU Hasan Sadikin, Bandung - 11 40 55 10 11 - 127 114 13 127
4 RSU M. Djamil, Padang - 3 5 4 - - - 12 12 - 12
5 RSU M. Hoesin, Palembang - 1 6 2 2 2 - 13 11 2 13
6 RSU Dr. Kariadi, Semarang - 1 1 - 1 - - 3 3 - 3
7 RSU Fatmawati, J akarta - 3 16 13 3 10 - 45 26 19 45
8 RSU Pondok Indah, J akarta - 3 2 5 3 1 - 14 12 2 14
9 RSU Husada, J akarta - 1 8 8 5 3 - 25 20 5 25
10 RSU Sint Carolus, J akarta - - 1 2 1 1 - 5 5 - 5
11 RSU Persahabatan, J akarta - 1 11 6 1 3 - 22 22 - 22
12 RSK Duren Sawit, J akarta - 2 30 21 13 3 - 69 69 - 69
13 RSU Charitas, Palembang - 19 44 32 24 36 - 155 79 76 155
14 RSU Wangaya, Denpasar - - 2 6 4 2 - 14 13 1 14
15 RSU Dadi, Makasar - 3 17 6 2 1 - 29 27 2 29
16 RSU Bhayangkara, Makasar - - 4 7 3 7 - 21 19 2 21
17 RSU Labuang, Makasar - 1 2 - - - - 3 3 - 3
18 Klinik Waras, Makasar - - - - - - 66 66 65 1 66
19 RSJ Marzuki Mahdi, Bogor - 5 51 41 12 3 - 112 97 15 112
20 RSJ Soeharto Heerdjan, J akarta - 5 30 33 18 9 - 95 89 6 95
21 Sanatorium Dharmawangsa, J akarta - - 4 6 5 2 - 17 13 4 17
22 RSJ Dharmajaya, J akarta - - 4 8 1 1 - 14 9 5 14
23 RSJ Bandung - 3 3 4 2 3 - 15 13 2 15
24 RSJ Dr. Amino Gondohutomo, Semarang - 4 8 5 2 - - 19 19 - 19
25 RSJ Prof. Dr.Soeroyo, Magelang - 2 21 17 3 1 - 44 41 3 44
26 RSJ Menur, Surabaya - 1 11 6 1 1 - 20 15 5 20
27 RSJ Radjiman W., Lawang - - 12 10 - - - 22 22 - 22
28 RSJ Bengkulu - 2 9 10 - 1 - 22 20 2 22
29 RSJ Pontianak - 4 19 12 1 1 - 37 37 - 37
30 RSJ Tamban - 1 1 3 - - - 5 5 - 5
31 RSJ , Mataram 1 1 2 6 3 1 - 14 11 3 14
32 RSJ Bangli - 1 9 7 1 4 - 22 17 5 22
33 RSJ Bina Atma, Denpasar - - 1 1 1 - - 3 1 2 3
34 Puskesmas Tambora, J akarta - 1 9 4 - - - 14 13 1 14
35 Puskesmas Pasar Minggu, J akarta - - 1 2 2 - - 5 5 - 5
36 Puskesmas Tebet, J akarta - 11 20 9 5 1 - 46 45 1 46
37 Puskesmas Kp. Bali, J akarta - 11 45 28 13 10 - 107 97 10 107
38 Puskesmas Pamulang, J akarta - 1 6 7 1 - - 15 15 - 15
Kelompok Umur Jenis Kelamin
JUMLAH DAN PERSENTASE PENYALAHGUNA NAPZA MENURUT KELOMPOK UMUR DAN JENIS KELAMIN
PADA INSTITUSI YANG MELAPOR TAHUN 2OO4
Institusi No
10 - 14 th 15 - 19 th 20- 24 th 25- 29 th 30 - 34 th >= 35 th Tidak Jelas Total Pria Wanita Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
Kelompok Umur Jenis Kelamin
Institusi No
39 Dinas Kesehatan Lampung - 2 3 17 9 9 - 40 40 - 40
40 Dinas Kesehatan Bandung 1 46 35 47 20 42 - 191 176 15 191
41 Dinas Kesehatan Surabaya 1 27 27 13 10 4 - 82 78 4 82
42 Galih Pakuan, Bogor 2 60 77 11 - - - 150 150 - 150
43 Pamardi Putra Insyaf, Medan - 12 33 - - - - 45 45 - 45
44 Pamardi Putra Khusnul Khotimah, Tangerang - 24 46 33 1 - - 104 104 - 104
45 Rumah Anak Panah, J akarta - - 6 7 2 1 - 16 15 1 16
46 Yayasan Darul Ihsan, J akarta - 2 6 2 - - - 10 10 - 10
47 Pamardi Siwi, J akarta - 13 62 41 6 3 - 125 112 13 125
48 Yayasan Terracota, J akarta - 3 10 6 1 - - 20 20 - 20
49 Yayasan Teratai, J akarta - 1 5 2 1 - - 9 - 9 9
50 Yayasan Tulus Hati, J akarta - 3 5 4 7 - - 19 18 1 19
51 Wisma Adiksi, J akarta - 1 36 16 3 3 - 59 47 12 59
52 Yayasan Asa Bangsa, J akarta - 1 2 11 1 - - 15 14 1 15
53 Yayasan Kasih Mulia, J akarta - 1 17 17 3 1 - 39 39 - 39
54 Yayasan Doulos, J akarta - 6 4 3 1 2 - 16 13 3 16
55 Yayasan Getsemani, Bekasi - - 2 7 2 - - 11 11 - 11
56 Rumah Harapan dan Pemulihan Bethesda, J akarta - - - - - - 61 61 41 20 61
57 Yayasan Al J ahu, J akarta - - 5 6 2 1 - 14 12 2 14
58 Pondok Pesantren Suryalaya, Surabaya 1 27 27 13 10 4 - 82 78 4 82
59 Lembaga Pemasyarakatan Tangerang 11 33 205 140 56 47 - 492 492 - 492
60 Lembaga Pemasyarakatan Lubuk Linggau - 4 12 13 4 15 - 48 38 10 48
61 Lembaga Pemasyarakatan Bandar Lampung 2 7 62 54 21 46 - 192 185 7 192
62 Lembaga Pemasyarakatan Banceuy, Bandung - - 41 46 37 64 1 189 170 19 189
63 Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, J akarta - - 6 13 9 8 - 36 36 - 36
64 Lembaga Pemasyarakatan Cirebon - 2 38 67 63 108 2 280 280 - 280
65 Lembaga Pemasyarakatan Yogyakarta - 3 43 56 28 15 - 145 140 5 145
66 Lembaga Pemasyarakatan Pamekasan - - 1 2 1 - - 4 4 - 4
67 Lembaga Pemasyarakatan Bangli - - 3 1 5 3 - 12 9 3 12
68 Lembaga Pemasyarakatan Maros - - 3 3 1 - - 7 7 - 7
69 Lembaga Pemasyarakatan Martapura - - 12 15 11 13 - 51 44 7 51
70 Lembaga Pemasyarakatan Abepura - - 6 2 4 2 - 14 14 - 14
71 Kios Informasi Atmajaya, J akarta - 19 244 186 27 8 - 484 451 33 484
T O T A L 20 560 2.372 1.980 854 786 130 6.702 6.105 597 6.702
0,3% 8,4% 35,4% 29,5% 12,7% 11,7% 1,9% 100,0% 91,1% 8,9% 100,0%
Sumber : Pusdatin (Hasil Pengumpulan Data NAPZA di 71 Institusi)
Lampiran 3.21
Amphetamin
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 RSKO, J akarta 1.564 17 224 117 - - - 207 80 2.209
2 RSU Sanglah, Denpasar 13 - - - - - - - 147 160
3 RSU Hasan Sadikin, Bandung 12 8 7 - - 10 - 26 64 127
4 RSU M. Djamil, Padang - 6 - - - - - - 6 12
5 RSU M. Hoesin, Palembang - - - - - - - - 13 13
6 RSU Dr. Kariadi, Semarang - - - - - - - - 3 3
7 RSU Fatmawati, J akarta 7 - 9 1 - 5 - - 23 45
8 RSU Pondok Indah, J akarta 8 1 3 - - - - 2 - 14
9 RSU Husada, J akarta 15 - 4 - - 1 - 1 4 25
10 RSU Sint Carolus, J akarta 3 - 2 - - - - - - 5
11 RSU Persahabatan, J akarta 18 - - - - 1 - 3 - 22
12 RSK Duren Sawit, J akarta 53 - - - - - - 16 - 69
13 RSU Charitas, Palembang 1 1 150 - - - - 3 - 155
14 RSU Wangaya, Denpasar 14 - - - - - - - - 14
15 RSU Dadi, Makasar 5 1 3 - - 6 - 7 7 29
16 RSU Bhayangkara, Makasar 7 1 12 - - - - - 1 21
17 RSU Labuang, Makasar - - - - - - - 2 1 3
18 Klinik Waras, Makasar 59 - 6 - - - - 1 - 66
19 RSJ Marzuki Mahdi, Bogor 80 - 4 1 - - - 27 - 112
20 RSJ Soeharto Heerdjan, J akarta 73 4 9 2 - 1 - 5 1 95
21 Sanatorium Dharmawangsa, J akarta 6 - 5 2 - - - 4 - 17
22 RSJ Dharmajaya, J akarta 5 1 7 - - 1 - - - 14
23 RSJ Bandung 1 - 1 2 - 5 - 5 1 15
24 RSJ Dr. Amino Gondohutomo, Semarang 4 - 5 4 - 5 - 1 - 19
25 RSJ Prof. Dr.Soeroyo, Magelang 35 1 5 - 1 2 - - - 44
26 RSJ Menur, Surabaya 8 - 12 - - - - - - 20
27 RSJ Radjiman W., Lawang 9 1 2 - - 4 - 6 - 22
28 RSJ Bengkulu - 1 - - 1 - - 20 - 22
29 RSJ Pontianak 20 1 15 - - 1 - - - 37
30 RSJ Tamban - - - - - - - 3 2 5
31 RSJ , Mataram 4 2 8 - - - - - - 14
32 RSJ Bangli 9 2 6 1 - 4 - - - 22
33 RSJ Bina Atma, Denpasar 2 - 1 - - - - - - 3
34 Puskesmas Tambora, J akarta - - - - - - - 14 - 14
35 Puskesmas Pasar Minggu, J akarta - - - - - - - 5 - 5
36 Puskesmas Tebet, J akarta 24 8 1 - - 3 - 4 6 46
37 Puskesmas Kp. Bali, J akarta - - - - - - - - 107 107
38 Puskesmas Pamulang, J akarta 2 8 - 2 - - - 3 - 15
39 Dinas Kesehatan Lampung 15 6 19 - - - - - - 40
40 Dinas Kesehatan Bandung 83 68 6 - 1 3 - 30 - 191
41 Dinas Kesehatan Surabaya 18 2 21 26 - 12 - - 3 82
42 Galih Pakuan, Bogor - 9 - - - 88 - 51 2 150
43 Pamardi Putra Insyaf, Medan 1 4 - - - 5 - 35 - 45
44 Pamardi Putra Khusnul Khotimah, Tangerang 10 1 2 1 - 12 - 78 - 104
No Multipel/
Campuran
Alkohol
Lain-lain/
Tidak Jelas
Kokain
Institusi
JUMLAH DAN PERSENTASE PENYALAHGUNA NAPZA MENURUT ZAT YANG DIGUNAKAN
PADA INSTITUSI YANG MELAPOR TAHUN 2004
Zat yang Digunakan
Sabu-sabu/
Ecstasy
Total
Opiat/
Heroin/
Putauw
Ganja/
Cannabis
Sedative/
Hipnotik
Inhalasia
Amphetamin
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
No Multipel/
Campuran
Alkohol
Lain-lain/
Tidak Jelas
Kokain
Institusi
Zat yang Digunakan
Sabu-sabu/
Ecstasy
Total
Opiat/
Heroin/
Putauw
Ganja/
Cannabis
Sedative/
Hipnotik
Inhalasia
45 Rumah Anak Panah, J akarta 8 1 3 2 - - - 2 - 16
46 Yayasan Darul Ihsan, J akarta 10 - - - - - - - - 10
47 Pamardi Siwi, J akarta 110 2 1 - - - - 12 - 125
48 Yayasan Terracota, J akarta 19 - 1 - - - - - - 20
49 Yayasan Teratai, J akarta 7 2 - - - - - - 9
50 Yayasan Tulus Hati, J akarta 15 2 1 1 - - - - - 19
51 Wisma Adiksi, J akarta 57 - 2 - - - - - - 59
52 Yayasan Asa Bangsa, J akarta 13 - - - - - - 2 - 15
53 Yayasan Kasih Mulia, J akarta 26 1 10 1 - 1 - - - 39
54 Yayasan Doulos, J akarta 4 1 3 2 2 3 1 16
55 Yayasan Getsemani, Bekasi 9 - - - - - - 2 - 11
56 Rumah Harapan dan Pemulihan Bethesda, J akarta - - - - - - - - 61 61
57 Yayasan Al J ahu, J akarta 13 - - - - 1 - - - 14
58 Pondok Pesantren Suryalaya, Surabaya 18 2 18 29 - 12 - - 3 82
59 Lembaga Pemasyarakatan Tangerang 77 263 49 49 - - 1 - 53 492
60 Lembaga Pemasyarakatan Lubuk Linggau - - - - - - - - 48 48
61 Lembaga Pemasyarakatan Bandar Lampung 6 111 50 16 1 - - - 8 192
62 Lembaga Pemasyarakatan Banceuy, Bandung 37 97 24 7 - - 1 17 6 189
63 Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, J akarta - - - - - - - - 36 36
64 Lembaga Pemasyarakatan Cirebon 72 135 43 22 - - - 6 2 280
65 Lembaga Pemasyarakatan Yogyakarta - - - - - - - - 145 145
66 Lembaga Pemasyarakatan Pamekasan - - 4 - - - - - - 4
67 Lembaga Pemasyarakatan Bangli 1 5 6 - - - - - - 12
68 Lembaga Pemasyarakatan Maros 1 1 4 - - - - 1 - 7
69 Lembaga Pemasyarakatan Martapura - - 51 - - - - - - 51
70 Lembaga Pemasyarakatan Abepura - - - - - - - - 14 14
71 Kios Informasi Atmajaya, J akarta - - - - - - - - 484 484
2.691 775 821 288 4 185 2 604 1.332 6.702
40,2% 11,6% 12,3% 4,3% 0,1% 2,8% 0,0% 9,0% 19,9% 100,0%
Sumber : Pusdatin (Hasil Pengumpulan Data NAPZA di 71 Institusi)
T O T A L
Lampiran 3.22
Suntik Hisap Minum Telan Campuran Hirup Cara lain Tidak jelas Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 RSKO, J akarta - - - - - - - 2.209 2.209
2 RSU Sanglah, Denpasar 13 - - - - - - 147 160
3 RSU Hasan Sadikin, Bandung 14 18 10 1 21 - - 63 127
4 RSU M. Djamil, Padang - 6 - - - - - 6 12
5 RSU M. Hoesin, Palembang - - - - - - - 13 13
6 RSU Dr. Kariadi, Semarang - - - 3 - - - - 3
7 RSU Fatmawati, J akarta 7 4 22 12 - - - - 45
8 RSU Pondok Indah, J akarta 8 1 - 2 2 - - 1 14
9 RSU Husada, J akarta 15 - 2 4 - - 4 - 25
10 RSU Sint Carolus, J akarta 3 1 - 1 - - - - 5
11 RSU Persahabatan, J akarta 19 - 1 - 2 - - - 22
12 RSK Duren Sawit, J akarta 53 - - - 16 - - - 69
13 RSU Charitas, Palembang 1 23 122 9 - - - 155
14 RSU Wangaya, Denpasar 14 - - - - - - - 14
15 RSU Dadi, Makasar 6 5 6 - 5 - - 7 29
16 RSU Bhayangkara, Makasar 7 10 - 3 - - - 1 21
17 RSU Labuang, Makasar - 1 - - 1 - - 1 3
18 Klinik Waras, Makasar 59 6 - - 1 - - - 66
19 RSJ Marzuki Mahdi, Bogor 62 22 3 25 - - - 112
20 RSJ Soeharto Heerdjan, J akarta 65 23 2 2 3 - - - 95
21 Sanatorium Dharmawangsa, J akarta 6 6 - 2 3 - - - 17
22 RSJ Dharmajaya, J akarta 2 4 1 7 - - - - 14
23 RSJ Bandung - - 5 2 7 - 1 - 15
24 RSJ Dr. Amino Gondohutomo, Semarang - 8 11 - - - - - 19
25 RSJ Prof. Dr.Soeroyo, Magelang 33 9 2 - - - - - 44
26 RSJ Menur, Surabaya 8 6 - 6 - - - - 20
27 RSJ Radjiman W., Lawang 9 3 4 - 6 - - - 22
28 RSJ Bengkulu - 10 - 5 6 - - 1 22
29 RSJ Pontianak 20 15 1 1 - - - - 37
30 RSJ Tamban - - - 2 3 - - - 5
31 RSJ , Mataram 4 10 - - - - - - 14
32 RSJ Bangli 8 6 4 4 - - - - 22
33 RSJ Bina Atma, Denpasar 3 - - - - - - - 3
34 Puskesmas Tambora, J akarta - - - - 14 - - - 14
35 Puskesmas Pasar Minggu, J akarta - - - - 5 - - - 5
36 Puskesmas Tebet, J akarta 23 10 3 1 4 - - 5 46
JUMLAH DAN PERSENTASE PENYALAHGUNA NAPZA MENURUT CARA YANG DIGUNAKAN
PADA INSTITUSI YANG MELAPOR TAHUN 2004
Cara Penggunaan
Institusi No
Suntik Hisap Minum Telan Campuran Hirup Cara lain Tidak jelas Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
Cara Penggunaan
Institusi No
37 Puskesmas Kp. Bali, J akarta - - - - - - - 107 107
38 Puskesmas Pamulang, J akarta 2 8 2 3 - - - 15
39 Dinas Kesehatan Lampung - - - - - - - 40 40
40 Dinas Kesehatan Bandung 20 106 5 4 56 - - - 191
41 Dinas Kesehatan Surabaya 18 16 12 34 - - - 2 82
42 Galih Pakuan, Bogor - 9 88 2 51 - - - 150
43 Pamardi Putra Insyaf, Medan - 7 5 - 33 - - - 45
44 Pamardi Putra Khusnul Khotimah, Tangerang 10 3 12 1 78 - - - 104
45 Rumah Anak Panah, J akarta 6 3 - 4 3 - - - 16
46 Yayasan Darul Ihsan, J akarta 10 - - - - - - - 10
47 Pamardi Siwi, J akarta 120 5 - - - - - - 125
48 Yayasan Terracota, J akarta 11 8 - 1 - - - - 20
49 Yayasan Teratai, J akarta 5 4 - - - - - - 9
50 Yayasan Tulus Hati, J akarta 12 6 - 1 - - - - 19
51 Wisma Adiksi, J akarta 49 10 - - - - - - 59
52 Yayasan Asa Bangsa, J akarta 12 1 - - 2 - - - 15
53 Yayasan Kasih Mulia, J akarta 23 13 1 2 - - - - 39
54 Yayasan Doulos, J akarta 3 4 2 3 4 - - - 16
55 Yayasan Getsemani, Bekasi 8 1 - - 2 - - - 11
56 Rumah Harapan dan Pemulihan Bethesda, J akarta - - - - - - - 61 61
57 Yayasan Al J ahu, J akarta 12 1 1 - - - - - 14
58 Pondok Pesantren Suryalaya, Surabaya 18 17 12 33 - - - 2 82
59 Lembaga Pemasyarakatan Tangerang 77 302 - 60 - - 53 - 492
60 Lembaga Pemasyarakatan Lubuk Linggau - 4 - 4 - - - 40 48
61 Lembaga Pemasyarakatan Bandar Lampung 5 120 4 55 - - - 8 192
62 Lembaga Pemasyarakatan Banceuy, Bandung 35 116 - 30 8 - - - 189
63 Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, J akarta - - - - - - - 36 36
64 Lembaga Pemasyarakatan Cirebon 42 182 2 46 6 - - 2 280
65 Lembaga Pemasyarakatan Yogyakarta - - - - - - - 145 145
66 Lembaga Pemasyarakatan Pamekasan - 4 - - - - - - 4
67 Lembaga Pemasyarakatan Bangli - 7 - 5 - - - - 12
68 Lembaga Pemasyarakatan Maros 1 5 - - 1 - - - 7
69 Lembaga Pemasyarakatan Martapura - 51 - - - - - - 51
70 Lembaga Pemasyarakatan Abepura - 12 - 2 - - - - 14
71 Kios Informasi Atmajaya, J akarta 484 - - - - - - - 484
T O T A L 1.445 1.232 218 472 380 - 58 2.897 6.702
Persentase 21,6% 18,4% 3,3% 7,0% 5,7% 0,0% 0,9% 43,2% 100,0%
Sumber : Pusdatin (Hasil Pengumpulan Data NAPZA di 71 Institusi)
Lampiran 3.23
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Kelompok 5 9 Thn 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Umur 10 14 Thn 0,0 0,0 0,2 0,0 0,4 0,9 0,6 0,0
15 19 Thn 6,5 6,4 6,3 12,8 19,4 3,3 24,0 4,0
20- 24 Thn 44,2 28,8 40,1 43,3 43,1 29,4 20,8 50,4
25- 29 Thn 32,1 28,6 36,7 26,7 22,5 28,0 24,6 38,4
30 34 Thn 16,8 14,6 10,9 11,2 5,0 16,3 12,5 5,6
>=35 Thn 0,3 13,1 5,9 5,9 1,9 21,8 17,6 1,7
Tidak J elas 0,0 8,4 0,0 0,0 7,7 0,2 0,0 0,0
2 J enis Pria 97,1 83,1 88,7 93,6 91,7 96,5 93,9 93,2
Kelamin Wanita 2,9 16,9 11,3 6,4 8,3 3,5 6,1 6,8
3 Tingkat Tdk Sekolah 0,0 0,0 0,2 0,0 0,0 0,1 0,0 4,7
Pendidikan SD 0,0 3,2 4,8 1,6 8,1 19,8 3,2 2,5
SLTP 10,9 5,2 12,2 11,2 22,4 24,0 28,4 24,8
SLTA 68,4 39,2 60,5 10,2 48,8 37,3 54,3 63,2
AKD/S1 20,7 15,3 20,8 4,3 12,0 2,5 11,2 1,0
S2/S3 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,2 2,9 0,0
Tdk J elas 0,0 37,0 1,5 72,7 8,8 16,3 0,0 3,7
4 Pekerjaan Pelajar/Mahasiswa 25,9 12,8 4,3 0,5 23,4 4,2 20,8 1,5
Tidak Bekerja 52,6 14,6 55,3 19,8 36,0 5,8 46,7 56,2
Sopir/Kenek 0,0 0,1 0,7 1,1 0,1 6,5 0,0 0,0
Pedagang 0,0 0,8 0,4 0,5 0,3 4,7 0,0 1,9
Buruh 0,0 0,5 0,4 0,5 0,0 9,9 1,0 7,2
PNS/TNI/POLRI 0,0 0,3 0,7 0,0 0,8 1,4 5,8 0,0
Swasta 0,0 12,5 12,1 0,0 5,0 24,5 7,7 9,1
Ibu Rumah Tangga 0,0 0,6 0,7 0,0 0,5 1,0 0,0 0,2
Petani 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Lain-lain/ 0,0 11,6 14,1 18,7 1,3 4,2 18,2 24,0
Tdk jelas 21,6 46,2 11,3 58,8 32,7 37,8 0,0 0,0
5 Status Kawin 13 21,0 23,0 4,0 9,0 31,0 13,0 13,0
Perkawinan Belum Kawin 83,5 43,0 76,0 39,0 83,0 32,0 56,0 85,0
J anda/Duda 3,5 2,0 1,0 0,0 0,0 3,0 7,0 2,0
Tdk J elas 0,0 34,0 0,0 58,0 8,0 34,0 24,0 0,0
6 Pekerjaan Tidak Bekerja 0,0 0,0 7,0 0,0 1,0 0,0 3,0 0,0
Orangtua Buruh 0,0 1,0 1,0 0,0 8,0 4,0 20,0 0,0
Sopir/Kenek 0,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 0,0 0,0
Pedagang 0,0 2,0 4,0 1,0 5,0 2,0 0,0 0,0
PNS/TNI/POLRI 0,0 11,0 19,0 2,0 11,0 4,0 7,0 0,0
Swasta 0,0 13,0 44,0 2,0 37,0 16,0 41,0 0,0
Petani 0,0 2,0 1,0 0,0 7,0 5,0 0,0 0,0
Lain-lain 0,0 8,0 10,0 5,0 18,0 7,0 3,0 0,0
Tidak jelas 100,0 63,0 13,0 89,0 12,0 61,0 26,0 100,0
7 Status Baru 44,2 47,3 65,3 21,9 66,8 36,2 58,5 0,0
Penggunaan Lama 55,8 36,8 30,6 12,8 25,4 30,2 16,6 0,0
Tidak J elas 0,0 16,0 4,1 65,2 7,8 33,6 24,9 100,0
Sumber : Pusdatin (Hasil Pengumpulan Data NAPZA di 71 Institusi)
PERSENTASE PENYALAHGUNA NAPZA MENURUT KELOMPOK UMUR, JENIS KELAMIN, TINGKAT PENDIDIKAN, PEKERJAAN,
STATUS PERKAWINAN, PEKERJAAN ORANGTUA DAN STATUS PENGGUNAAN PADA INSTITUSI YANG MELAPOR TAHUN 2004
No Kategori
RSKO
(%)
RSU
(%)
RSJ (%)
LSM
(%)
Puskesmas
(%)
Panti Ponpes
(%)
Lapas
(%)
Dinkes (%)
Lampiran 3.24
PERSENTASE BATITA (0 - 35 BULAN)
MENURUT STATUS GIZI DAN PROVINSI TAHUN 2003
(1) (2)
1 Sumatera Utara 15,62 19,19 34,81 61,96 3,24 100,00
2 Sumatera Barat 6,98 16,90 23,88 74,08 2,04 100,00
3 Riau 11,40 18,38 29,78 67,47 2,75 100,00
4 J ambi 3,93 17,45 21,38 75,57 3,05 100,00
5 Sumatera Selatan 10,92 21,30 32,22 64,43 3,35 100,00
6 Bengkulu 10,22 14,83 25,05 71,94 3,01 100,00
7 Lampung 9,79 19,67 29,46 67,61 2,93 100,00
8 Kepulauan Bangka Belitung 8,07 20,05 28,12 67,24 4,65 100,00
9 DKI J akarta 6,30 16,22 22,52 72,79 4,70 100,00
10 J awa Barat 6,47 16,62 23,09 73,58 3,32 100,00
11 J awa Tengah 6,07 17,49 23,56 74,36 2,09 100,00
12 DI Yogyakarta 3,96 12,92 16,88 81,25 1,88 100,00
13 J awa Timur 6,16 15,67 21,83 75,38 2,80 100,00
14 Banten 10,46 18,24 28,70 67,74 3,56 100,00
15 Bali 2,97 13,27 16,24 79,50 4,27 100,00
16 Nusa Tenggara Barat 10,69 21,19 31,88 65,37 2,74 100,00
17 Nusa Tenggara Timur 13,64 22,97 36,61 61,71 1,69 100,00
18 Kalimantan Barat 14,77 23,83 38,60 59,73 1,67 100,00
19 Kalimantan Tengah 11,59 18,63 30,22 65,63 4,14 100,00
20 Kalimantan Selatan 9,94 20,05 29,99 66,67 3,34 100,00
21 Kalimantan Timur 10,88 15,98 26,86 71,97 1,17 100,00
22 Sulawesi Utara 11,26 16,21 27,47 67,79 4,74 100,00
23 Sulawesi Tengah 10,17 19,13 29,30 66,12 4,58 100,00
24 Sulawesi Selatan 10,63 20,14 30,77 67,66 1,58 100,00
25 Sulawesi Tenggara 5,99 16,27 22,26 73,78 3,96 100,00
26 Gorontalo 19,91 21,48 41,39 56,82 1,79 100,00
27 Maluku 7,36 17,73 25,09 73,24 1,67 100,00
28 Maluku Utara 11,96 20,11 32,07 58,70 9,24 100,00
29 Papua 15,35 15,78 31,13 62,90 5,97 100,00
9,30 18,26 27,56 69,61 2,84 100,00
Sumber: Depkes & BPS, Hasil Survei konsumsi garam yodium rumah tangga, 2003
(8) (7) (6) (4) (5)
Gizi Buruk Gizi Kurang
Indonesia
No Provinsi
(3)
Jumlah Gizi Lebih Gizi Normal Buruk+Kurang
(3+4)
Gizi
Lampiran 3.25
PERSENTASE BALITA (0 - 59 BULAN)
MENURUT STATUS GIZI DAN PROVINSI TAHUN 2003
(1) (2)
1 Sumatera Utara 12,76 18,67 31,43 66,14 2,44 100,00
2 Sumatera Barat 7,29 18,44 25,73 72,94 1,32 100,00
3 Riau 10,76 17,95 28,71 69,43 1,86 100,00
4 J ambi 3,07 18,54 21,61 76,61 1,78 100,00
5 Sumatera Selatan 10,28 20,51 30,79 65,93 3,28 100,00
6 Bengkulu 7,77 18,86 26,63 70,86 2,51 100,00
7 Lampung 8,19 21,40 29,59 68,31 2,11 100,00
8 Kepulauan Bangka Belitung 9,32 20,90 30,22 66,24 3,53 100,00
9 DKI J akarta 6,36 16,71 23,07 71,78 5,15 100,00
10 J awa Barat 5,56 18,46 24,02 72,99 3,00 100,00
11 J awa Tengah 6,03 19,56 25,59 72,69 1,72 100,00
12 DI Yogyakarta 4,07 13,36 17,43 80,26 2,32 100,00
13 J awa Timur 5,95 17,41 23,36 74,46 2,18 100,00
14 Banten 8,25 18,84 27,09 70,68 2,22 100,00
15 Bali 3,59 12,80 16,39 80,45 3,16 100,00
16 Nusa Tenggara Barat 10,45 23,68 34,13 63,73 2,13 100,00
17 Nusa Tenggara Timur 12,65 26,15 38,80 59,91 1,29 100,00
18 Kalimantan Barat 13,81 25,33 39,14 59,40 1,46 100,00
19 Kalimantan Tengah 9,49 19,51 29,00 67,62 3,38 100,00
20 Kalimantan Selatan 9,62 23,16 32,78 64,61 2,60 100,00
21 Kalimantan Timur 9,16 17,81 26,97 72,22 0,81 100,00
22 Sulawesi Utara 9,90 15,72 25,62 70,20 4,19 100,00
23 Sulawesi Tengah 9,55 22,02 31,57 64,92 3,51 100,00
24 Sulawesi Selatan 9,96 20,99 30,95 67,84 1,22 100,00
25 Sulawesi Tenggara 5,74 16,80 22,54 74,42 3,04 100,00
26 Gorontalo 21,66 24,56 46,22 52,27 1,51 100,00
27 Maluku 8,55 21,37 29,92 69,23 0,85 100,00
28 Maluku Utara 9,23 17,30 26,53 66,56 6,92 100,00
29 Papua 15,24 16,85 32,09 62,70 5,20 100,00
8,55 19,62 28,17 69,59 2,24 100,00
Sumber: Depkes dan BPS, Hasil Survei konsumsi garam yodium rumah tangga, 2003
(8) (7) (6) (4) (5)
Gizi Buruk Gizi Kurang
Indonesia
No. Provinsi
(3)
Jumlah Gizi Lebih Gizi Normal Buruk+Kurang
(3+4)
Gizi
Lampiran 3.26
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 263 78 29,66
2 Sumatera Utara 9.116 2.761 30,29
3 Sumatera Barat 238 228 95,80
4 Riau 16.696 11.272 67,51
5 J ambi 3.580 1.620 45,25
6 Bengkulu 544 382 70,22
7 Sumatera Selatan 12.073 4.444 36,81
8 Lampung 985 476 48,32
9 Kepulauan.Bangka Belitung 201 74 36,82
10 Kepulauan Riau 117 80 68,38
11 DKI J akarta - - -
12 J awa Barat 3.496 1.754 50,17
13 J awa Tengah 3.647 1.870 51,28
14 DI Yogyakarta 1.693 804 47,49
15 J awa Timur 27.017 2.532 9,37
16 Banten 11.466 6.553 57,15
17 Bali 5.531 3.503 63,33
18 Nusa Tenggara Barat 1.639 195 11,90
19 Nusa Tenggara Timur 857 213 24,85
20 Kalimantan Barat 172 52 30,23
21 Kalimantan Tengah 540 44 8,15
22 Kalimantan Timur 409 298 72,86
23 Kalimantan Selatan 853 797 93,43
24 Sulawesi Utara 169 168 99,41
25 Sulawesi Tengah 898 600 66,82
26 Sulawesi Tenggara 718 478 66,57
27 Sulawesi Selatan 1.241 709 57,13
28 Gorontalo - - -
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 237 75 31,65
31 Maluku Utara 41 13 31,71
32 Papua 31 22 70,97
33 Irian J aya Barat 100 100 100,00
104.568 42.195 40,35
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belumditerima
PERSENTASE DESA/KELURAHAN DENGAN GARAM BERYODIUM YANG BAIK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Jumlah Desa/Kelurahan dengan Garam
Beryodium yang Baik
% Desa/Kelurahan dengan
Garam Beryodium yang Baik
No Provinsi
Jumlah
Desa/Kelurahan Dilaporkan
(3) (4) (5)
Indonesia
Lampiran 4.1
Jumlah K1 % K1 K4 % K4 Jumlah
Ditolong
Nakes
% Ditolong
Nakes
Jumlah Kunjungan
%KN
(KN2)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 117.177 90.488 77,22 81.143 69,25 112.212 65.428 58,31 107.473 58.190 54,14
2 Sumatera Utara 323.753 231.568 71,53 206.037 63,64 297.447 194.980 65,55 295.518 171.843 58,15
3 Sumatera Barat 103.989 99.170 95,37 85.641 82,36 98.809 80.837 81,81 94.811 84.061 88,66
4 Riau 124.875 114.622 91,79 104.052 83,32 117.937 84.197 71,39 112.419 88.747 78,94
5 J ambi 70.474 56.908 80,75 49.053 69,60 65.839 43.870 66,63 65.839 41.562 63,13
6 Bengkulu 44.753 36.640 81,87 33.008 73,76 42.067 30.198 71,79 41.185 29.282 71,10
7 Sumatera Selatan 177.983 162.930 91,54 151.574 85,16 171.140 147.138 85,98 164.294 - -
8 Lampung 177.672 166.722 93,84 151.856 85,47 170.145 125.268 73,62 161.520 115.007 71,20
9 Kepulauan Bangka Belitung 26.131 25.375 97,11 22.673 86,77 24.508 21.239 86,66 20.956 - -
10 Kepulauan Riau 35.579 37.342 104,96 34.685 97,49 33.724 28.377 84,14 32.364 30.453 94,10
11 DKI J akarta 207.265 196.667 94,89 163.567 78,92 197.844 140.015 70,77 188.422 155.790 82,68
12 J awa Barat 937.703 840.564 89,64 780.348 83,22 894.125 635.354 71,06 855.121 734.723 85,92
13 J awa Tengah 671.443 622.259 92,67 554.633 82,60 482.855 405.360 83,95 463.376 353.254 76,23
14 DI Yogyakarta 57.212 51.967 90,83 41.275 72,14 55.536 41.333 74,43 51.952 38.557 74,22
15 J awa Timur 692.930 640.047 92,37 529.192 76,37 607.319 534.829 88,06 629.935 538.554 85,49
16 Banten 251.813 217.401 86,33 180.920 71,85 242.468 171.624 70,78 233.820 186.005 79,55
17 Bali 67.445 64.471 95,59 60.208 89,27 64.426 59.792 92,81 61.359 59.153 96,40
18 Nusa Tenggara Barat 114.177 102.227 89,53 91.209 79,88 108.595 78.397 72,19 102.692 87.114 84,83
19 Nusa Tenggara Timur 123.230 92.218 74,83 65.670 53,29 108.829 58.350 53,62 108.958 54.901 50,39
20 Kalimantan Barat 103.992 92.715 89,16 83.052 79,86 98.475 67.889 68,94 94.471 57.423 60,78
21 Kalimantan Tengah 54.469 47.728 87,62 40.699 74,72 51.099 36.858 72,13 47.874 38.667 80,77
22 Kalimantan Timur 71.253 58.071 81,50 50.294 70,59 67.792 44.275 65,31 64.848 46.008 70,95
23 Kalimantan Selatan 81.553 73.047 89,57 59.116 72,49 76.329 61.748 80,90 74.107 - -
24 Sulawesi Utara 47.425 46.019 97,04 42.759 90,16 45.611 39.432 86,45 45.611 23.927 52,46
25 Sulawesi Tengah 56.728 51.734 91,20 46.377 81,75 54.849 44.962 81,97 54.322 42.745 78,69
26 Sulawesi Tenggara 53.289 40.185 75,41 37.995 71,30 50.867 32.078 63,06 47.170 36.543 77,47
27 Sulawesi Selatan 183.219 159.664 87,14 125.518 68,51 174.891 119.482 68,32 166.327 2.497 1,50
28 Gorontalo 23.992 22.057 91,93 18.364 76,54 21.913 15.634 71,35 21.893 14.911 68,11
29 Sulawesi Barat 22.611 15.014 66,40 10.468 46,30 21.583 9.087 42,10 19.794 - -
30 Maluku 34.330 17.465 50,87 17.025 49,59 31.058 13.270 42,73 30.159 15.945 52,87
31 Maluku Utara 22.019 19.110 86,79 15.717 71,38 20.172 11.390 56,46 20.244 14.367 70,97
32 Papua 55.841 32.011 57,33 20.728 37,12 53.301 21.159 39,70 50.765 - -
33 Irian J aya Barat - - - - - - - - - - -
5.136.325 4.524.406 88,09 3.954.856 77,00 4.663.765 3.463.850 74,27 4.529.600 3.120.229 68,89
Sumber: Dit. Kesehatan Keluarga Ditjen Binkesmas, Depkes RI
Indonesia
Kunjungan Neonatus
CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL K1 DAN K4, PERSALINAN DITOLONG TENAGA KESEHATAN, DAN KUNJUNGAN NEONATUS
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Ibu Bersalin
No Provinsi
Ibu Hamil
Lampiran 4.2
CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL K4, IBU HAMIL RISTI DAN PERSALINAN DITOLONG TENAGA KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Jumlah K4 % K4 Jumlah Risti Risti Dirujuk
% Risti
Dirujuk
Jumlah
Ditolong
Nakes
% Ditolong
Nakes
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 114.273 78.749 68,91 30.582 2.230 7,29 79.106 62.529 79,04
2 Sumatera Utara 295.370 231.722 78,45 33.452 8.494 25,39 275.597 212.030 76,93
3 Sumatera Barat 103.989 85.641 82,36 20.882 6.515 31,20 98.809 8.037 8,13
4 Riau 124.241 103.814 83,56 49.866 18.717 37,53 103.864 73.488 70,75
5 J ambi 64.084 50.270 78,44 25.941 2.376 9,16 50.230 39.429 78,50
6 Bengkulu 32.585 26.283 80,66 2.685 142 5,29 20.412 15.104 74,00
7 Sumatera Selatan 117.699 101.648 86,36 10.559 4.826 45,71 112.461 90.742 80,69
8 Lampung 179.467 149.498 83,30 25.555 2.499 9,78 168.188 125.732 74,76
9 Kepulauan Bangka Belitung 16.628 14.433 86,80 6.876 243 3,53 15.706 13.460 85,70
10 Kepulauan Riau 33.347 28.091 84,24 15.654 3.571 22,81 33.419 27.456 82,16
11 DKI J akarta 202.824 145.075 71,53 37.463 35.721 95,35 489.390 153.732 31,41
12 J awa Barat 1.004.247 778.271 77,50 390.292 52.923 13,56 939.726 632.448 67,30
13 J awa Tengah 743.572 428.237 57,59 224.845 51.030 22,70 485.577 389.159 80,14
14 DI Yogyakarta 55.848 40.882 73,20 13.417 3.535 26,35 53.240 38.886 73,04
15 J awa Timur 696.937 541.423 77,69 184.461 75.946 41,17 552.167 470.472 85,20
16 Banten 271.474 197.631 72,80 119.806 15.776 13,17 258.148 165.869 64,25
17 Bali 129.917 118.278 91,04 18.723 3.017 16,11 124.015 113.605 91,61
18 Nusa Tenggara Barat 108.425 86.655 79,92 45.534 14.826 32,56 99.029 55.972 56,52
19 Nusa Tenggara Timur 78.456 46.523 59,30 12.693 2.981 23,49 65.605 46.193 70,41
20 Kalimantan Barat 91.627 74.759 81,59 50.720 5.756 11,35 88.072 61.523 69,86
21 Kalimantan Tengah 54.455 40.699 74,74 9.454 2.563 27,11 48.359 36.858 76,22
22 Kalimantan Timur 73.138 54.368 74,34 26.719 7.054 26,40 70.423 55.325 78,56
23 Kalimantan Selatan 71.769 57.082 79,54 26.001 6.767 26,03 68.058 47.117 69,23
24 Sulawesi Utara 46.598 32.055 68,79 8.214 2.906 35,38 42.647 31.367 73,55
25 Sulawesi Tengah 56.047 47.682 85,08 28.302 5.134 18,14 53.004 42.621 80,41
26 Sulawesi Tenggara 112.221 83.320 74,25 11.522 5.752 49,92 102.908 77.026 74,85
27 Sulawesi Selatan 38.089 27.973 73,44 5.243 1.472 28,08 35.337 24.678 69,84
28 Gorontalo 6.004 3.173 52,85 1.338 99 7,40 5.507 2.738 49,72
29 Sulawesi Barat - - - - - - - - -
30 Maluku 11.254 8.773 77,95 0,00 11.174 7.239 64,78
31 Maluku Utara 6.707 5.700 84,99 1.295 350 27,03 6.441 4.782 74,24
32 Papua 17.042 7.965 46,74 733 127 17,33 20.872 8.735 41,85
33 Irian J aya Barat 10.877 6.187 56,88 2.892 158 5,46 10.434 6.515 62,44
3.887.528 2.832.711 72,87 1.219.667 293.893 24,10 3.630.133 2.472.860 68,12
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
Indonesia
Ibu Bersalin
No Provinsi
Ibu Hamil
Lampiran 4.3
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS DAN BAYI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Jumlah KN % KN Jumlah Bayi Kunjungan % Kunjungan Bayi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 34.648 25.559 73,77 44.445 31.248 70,31
2 Sumatera Utara 242.250 196.124 80,96 263.661 200.757 76,14
3 Sumatera Barat 94.815 84.061 88,66 94.815 80.119 84,50
4 Riau 89.235 73.931 82,85 66.248 54.598 82,41
5 J ambi 66.984 42.296 63,14 49.379 37.652 76,25
6 Bengkulu 25.196 18.772 74,50 24.694 18.896 76,52
7 Sumatera Selatan 108.160 93.741 86,67 108.043 88.204 81,64
8 Lampung 132.881 112.947 85,00 116.559 95.710 82,11
9 Kepulauan Bangka Belitung 15.360 13.048 84,95 15.376 10.035 65,26
10 Kepulauan Riau 30.221 27.146 89,82 6.146 4.702 76,51
11 DKI J akarta 13.728 13.728 100,00 12.914 12.611 97,65
12 J awa Barat 889.531 726.552 81,68 876.793 569.845 64,99
13 J awa Tengah 484.981 409.132 84,36 525.100 443.523 84,46
14 DI Yogyakarta 49.076 38.842 79,15 32.071 21.685 67,62
15 J awa Timur 621.440 503.813 81,07 608.910 562.495 92,38
16 Banten 257.173 196.751 76,51 250.148 173.785 69,47
17 Bali 118.622 114.275 96,34 114.561 109.583 95,65
18 Nusa Tenggara Barat 93.843 74.391 79,27 59.408 54.265 91,34
19 Nusa Tenggara Timur 69.053 60.921 88,22 63.610 46.743 73,48
20 Kalimantan Barat 80.774 55.392 68,58 71.941 49.789 69,21
21 Kalimantan Tengah 46.916 39.172 83,49 45.129 41.200 91,29
22 Kalimantan Timur 64.935 58.764 90,50 56.017 41.531 74,14
23 Kalimantan Selatan 47.288 37.117 78,49 36.510 23.358 63,98
24 Sulawesi Utara 37.525 27.953 74,49 35.314 28.040 79,40
25 Sulawesi Tengah 51.873 42.857 82,62 42.429 33.687 79,40
26 Sulawesi Tenggara 100.809 85.259 84,57 101.874 71.562 70,25
27 Sulawesi Selatan 34.222 27.412 80,10 24.965 19.118 76,58
28 Gorontalo 3.014 2.497 82,85 8.478 4.953 58,42
29 Sulawesi Barat - - - - - -
30 Maluku 10.231 8.093 79,10 10.231 7.393 72,26
31 Maluku Utara 6.174 5.251 85,05 6.174 4.507 73,00
32 Papua 20.085 7.727 38,47 12.446 12.433 99,90
33 Irian J aya Barat 10.369 4.898 47,24 10.094 5.572 55,20
3.951.412 3.228.422 81,70 3.794.483 2.959.599 78,00
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
Indonesia
Bayi
No Provinsi
Neonatus
Lampiran 4.4
Bayi BGM GAKIN Balita Gizi Buruk
Jumlah Mendapat % Jumlah Mendapat % Jumlah MP ASI % Jumlah Mendapat %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 173.042 149.873 86,61 39.019 14.630 37,49 52.321 12.907 24,67 2.356 288 12,22
2 Sumatera Utara 926.870 822.798 88,77 266.152 201.382 75,66 30.086 22.639 75,25 9.142 7.845 85,81
3 Sumatera Barat 433.202 373.964 86,33 103.435 78.308 75,71 1.242 1.242 100,00 1.635 1.635 100,00
4 Riau 538.074 448.143 83,29 127.929 97.649 76,33 19.444 14.809 76,16 848 715 84,32
5 J ambi 254.651 203.134 79,77 45.199 30.105 66,61 2.978 2.969 99,70 641 591 92,20
6 Bengkulu 113.613 80.606 70,95 29.962 18.679 62,34 11.248 10.173 90,44 109 85 77,98
7 Sumatera Selatan 391.099 278.465 71,20 117.720 83.474 70,91 36.000 16.553 45,98 810 793 97,90
8 Lampung 773.477 433.387 56,03 163.836 117.276 71,58 35.803 26.613 74,33 850 222 26,12
9 Kep.Bangka Belitung 60.679 48.201 79,44 16.628 13.832 83,18 750 750 100,00 874 97 11,10
10 Kep.Riau 144.801 102.464 70,76 33.603 29.803 88,69 6.981 5.668 81,19 13.346 46 0,34
11 DKI J akarta 124.284 123.718 99,54 5.401 142 2,63 5.401 964 17,85 45.871 27.614 60,20
12 J awa Barat 3.421.327 2.897.951 84,70 953.605 703.946 73,82 93.769 30.926 32,98 14.752 10.227 69,33
13 J awa Tengah 1.830.591 1.680.600 91,81 607.690 408.740 67,26 108.970 68.128 62,52 4.986 2.097 42,06
14 DI Yogyakarta 183.709 175.299 95,42 56.340 32.822 58,26 2.181 2.181 100,00 33.146 1.300 3,92
15 J awa Timur 2.496.294 2.020.171 80,93 677.554 503.342 74,29 104.167 102.642 98,54 17.125 12.125 70,80
16 Banten 887.913 740.797 83,43 310.186 203.660 65,66 9.588 7.169 74,77 7.059 6.365 90,17
17 Bali 816.915 455.236 55,73 199.471 172.240 86,35 9.887 3.814 38,58 378 230 60,85
18 Nusa Tenggara Barat 409.362 396.183 96,78 107.385 86.776 80,81 30.342 21.565 71,07 10.340 1.821 17,61
19 Nusa Tenggara Timur 243.437 168.884 69,37 73.457 43.515 59,24 21.912 9.052 41,31 8.488 2.739 32,27
20 Kalimantan Barat 437.527 297.947 68,10 77.977 53.031 68,01 34.962 33.840 96,79 94.401 446 0,47
21 Kalimantan Tengah 205.226 168.921 82,31 54.965 40.627 73,91 6.250 3.408 54,53 21 21 100,00
22 Kalimantan Timur 306.790 267.892 87,32 73.615 57.092 77,55 5.628 4.966 88,24 880 880 100,00
23 Kalimantan Selatan 319.891 222.034 69,41 85.148 53.637 62,99 9.033 7.372 81,61 3.528 345 9,78
24 Sulawesi Utara 179.228 143.408 80,01 51.418 37.646 73,22 2.810 2.285 81,32 81 75 92,59
25 Sulawesi Tengah 244.674 200.016 81,75 55.722 43.781 78,57 5.612 4.462 79,51 713 427 59,89
26 Sulawesi Tenggara 415.782 341.509 82,14 111.757 82.663 73,97 6.959 6.723 96,61 1.444 539 37,33
27 Sulawesi Selatan 139.163 99.733 71,67 36.232 25.529 70,46 12.749 7.790 61,10 5.105 4.801 94,05
28 Gorontalo 19.587 13.455 68,69 5.395 2.744 50,86 914 489 53,50 166 24 14,46
29 Sulawesi Barat - - - - - - - - - - - -
30 Maluku 69.099 52.900 76,56 16.994 12.393 72,93 1.676 948 56,56 249 249 100,00
31 Maluku Utara 26.005 21.434 82,42 6.707 2.415 36,01 1.163 1.107 95,18 46 44 95,65
32 Papua 80.029 50.993 63,72 22.179 14.373 64,80 18.260 18.250 99,95 53 53 100,00
33 Irian J aya Barat 42.162 28.652 67,96 11.161 5.595 50,13 7.724 4.394 56,89 766 332 43,34
16.708.503 13.508.768 80,85 4.543.842 3.271.847 72,01 696.810 456.798 65,56 280.209 85.071 30,36
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belumditerima
Indonesia
CAKUPAN BAYI, BALITA DAN IBU HAMIL YANG MENDAPAT PELAYANAN KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi
Balita Ibu Hamil
Lampiran 4.5
CAKUPAN DETEKSI TUMBUH KEMBANG ANAK BALITA, PEMERIKSAAN SISWA SD DAN PELAYANAN KESEHATAN REMAJA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Jumlah Dideteksi % Jumlah Diperiksa % Jumlah Dilayani Kes %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 26.157 15.053 57,55 87.787 22.737 25,90 17.112 482 2,82
2 Sumatera Utara 930.415 562.059 60,41 986.467 465.248 47,16 833.999 164.017 19,67
3 Sumatera Barat 439.815 178.125 40,50 579.477 322.768 55,70 918.532 304.953 33,20
4 Riau 356.888 202.999 56,88 109.655 76.132 69,43 393.851 53.946 13,70
5 J ambi 235.445 112.397 47,74 102.831 30.148 29,32 6.804 3.666 53,88
6 Bengkulu 42.812 7.541 17,61 83.608 20.043 23,97 45.641 9.348 20,48
7 Sumatera Selatan 317.510 241.573 76,08 241.674 107.567 44,51 260.944 99.082 37,97
8 Lampung 830.091 277.691 33,45 1.173.395 90.252 7,69 314.444 48.038 15,28
9 Kepulauan Bangka Belitung 31.487 21.081 66,95 31.686 27.077 85,45 12.346 9.876 79,99
10 Kepulauan Riau 30.957 11.465 37,04 62.282 27.570 44,27 38.627 13.867 35,90
11 DKI J akarta - - - 222.475 46.594 20,94 - - -
12 J awa Barat 901.146 353.156 39,19 1.984.247 507.402 25,57 693.608 150.772 21,74
13 J awa Tengah 1.680.427 1.030.731 61,34 1.393.685 760.996 54,60 1.673.420 486.825 29,09
14 DI Yogyakarta 189.798 72.925 38,42 27.366 19.979 73,01 - - -
15 J awa Timur 3.793.403 1.918.758 50,58 1.724.596 831.745 48,23 3.873.069 1.649.855 42,60
16 Banten 207.543 18.963 9,14 244.863 132.742 54,21 246.415 26.963 10,94
17 Bali 320.685 196.118 61,16 161.733 124.100 76,73 26.775 10.546 39,39
18 Nusa Tenggara Barat 250.237 54.623 21,83 328.989 63.205 19,21 141.916 32.894 23,18
19 Nusa Tenggara Timur 217.527 53.862 24,76 269.033 163.979 60,95 101.356 70.747 69,80
20 Kalimantan Barat 314.661 60.106 19,10 54.477 34.728 63,75 150.053 12.827 8,55
21 Kalimantan Tengah 113.646 37.116 32,66 44.438 35.691 80,32 31.356 11.624 37,07
22 Kalimantan Timur 234.998 81.295 34,59 144.730 31.140 21,52 57.341 28.862 50,33
23 Kalimantan Selatan 321.063 102.799 32,02 109.810 9.413 8,57 400.531 227.149 56,71
24 Sulawesi Utara 150.226 78.904 52,52 120.445 65.902 54,72 63.811 39.844 62,44
25 Sulawesi Tengah 111.853 18.485 16,53 227.767 44.560 19,56 47.509 5.552 11,69
26 Sulawesi Tenggara 459.036 115.395 25,14 366.465 226.191 61,72 227.200 74.120 32,62
27 Sulawesi Selatan 124.593 59.906 48,08 46.889 38.087 81,23 56.991 37.333 65,51
28 Gorontalo 10.490 2.427 23,14 5.031 432 8,59 0,00
29 Sulawesi Barat - - - - - - - - -
30 Maluku 39.058 15.496 39,67 34.171 23.410 68,51 30.117 13.740 45,62
31 Maluku Utara 26.635 17.369 65,21 20.957 1.343 6,41 40.785 1.335 3,27
32 Papua 29.761 2.898 9,74 - - - - - -
33 Irian J aya Barat - - - 1.254 864 68,90 14.907 14.413 96,69
12.738.363 5.921.316 46,48 10.992.283 4.352.045 39,59 10.719.460 3.602.676 33,61
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
Remaja
Indonesia
No Provinsi
Anak Balita dan Pra Sekolah Siswa SD/MI
Lampiran 4.6
CAKUPAN PESERTA KB AKTIF
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Peserta KB Aktif
Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 426.265 222.376 52,17
2 Sumatera Utara 1.607.393 992.645 61,75
3 Sumatera Barat 695.854 446.500 64,17
4 Riau 867.944 393.981 45,39
5 J ambi 300.097 212.653 70,86
6 Bengkulu 195.187 155.697 79,77
7 Sumatera Selatan 764.456 578.082 75,62
8 Lampung 1.082.447 719.624 66,48
9 Kepulauan Bangka Belitung 91.576 70.099 76,55
10 Kepulauan Riau 250.523 91.582 36,56
11 DKI J akarta 906.735 417.184 46,01
12 J awa Barat 6.463.242 4.670.486 72,26
13 J awa Tengah 4.518.002 3.281.042 72,62
14 DI Yogyakarta 509.481 454.997 89,31
15 J awa Timur 8.983.730 4.881.123 54,33
16 Banten 1.786.707 1.288.707 72,13
17 Bali 490.988 398.471 81,16
18 Nusa Tenggara Barat 789.861 555.376 70,31
19 Nusa Tenggara Timur 346.196 181.413 52,40
20 Kalimantan Barat 545.887 492.169 90,16
21 Kalimantan Tengah 244.230 178.031 72,89
22 Kalimantan Timur 430.765 330.677 76,77
23 Kalimantan Selatan 449.045 322.122 71,73
24 Sulawesi Utara 328.713 232.286 70,67
25 Sulawesi Tengah - - -
26 Sulawesi Tenggara 1.351.404 549.624 40,67
27 Sulawesi Selatan 170.913 110.674 64,75
28 Gorontalo 43.817 34.237 78,14
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 146.616 98.638 67,28
31 Maluku Utara 48.725 16.133 33,11
32 Papua 15.037 13.620 90,58
33 Irian J aya Barat 60.838 38.233 62,84
34.912.674 22.428.482 64,24
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
No Provinsi Jumlah Pasangan Usia Subur
Indonesia
Lampiran 4.7
Perkotaan +
Perdesaan
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 50,85 38,85 42,20
2 Sumatera Utara 45,02 42,20 43,43
3 Sumatera Barat 47,23 48,30 47,99
4 Riau 49,68 50,19 49,96
5 J ambi 55,22 63,19 61,03
6 Sumatera Selatan 58,23 59,29 58,94
7 Bengkulu 67,49 67,84 67,74
8 Lampung 60,88 65,00 64,12
9 Kepulauan Bangka Belitung 63,43 66,78 65,41
10 DKI J akarta 55,81 - 55,81
11 J awa Barat 60,13 60,73 60,42
12 J awa Tengah 60,06 64,32 62,64
13 DI Yogyakarta 59,82 63,66 61,53
14 J awa Timur 60,03 55,42 57,25
15 Banten 61,93 54,96 58,85
16 Bali 63,46 70,07 66,68
17 Nusa Tenggara Barat 56,21 54,85 55,33
18 Nusa Tenggara Timur 36,93 32,28 33,05
19 Kalimantan Barat 56,78 57,87 57,59
20 Kalimantan Tengah 66,00 63,74 64,40
21 Kalimantan Selatan 63,67 65,21 64,64
22 Kalimantan Timur 57,14 57,84 57,46
23 Sulawesi Utara 62,85 76,64 71,42
24 Sulawesi Tengah 52,26 52,76 52,66
25 Sulawesi Selatan 39,30 39,28 39,28
26 Sulawesi Tenggara 39,68 43,24 42,50
27 Gorontalo 56,22 50,22 58,46
28 Maluku 44,54 18,72 26,05
29 Maluku Utara 33,55 33,03 33,16
30 Papua 44,13 36,97 38,64
57,55 56,10 56,71
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
Indonesia
PROPORSI WANITA BERUMUR 15-49 TAHUN DAN BERSTATUS KAWIN YANG SEDANG MENGGUNAKAN/MEMAKAI ALAT KB
MENURUT DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI, TAHUN 2004
No Provinsi Perkotaan Perdesaan
Lampiran 4.8
Perkotaan+
Perdesaan
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 67,61 53,64 57,54
2 Sumatera Utara 60,70 55,33 57,67
3 Sumatera Barat 66,28 64,01 64,67
4 Riau 65,50 62,15 63,64
5 J ambi 70,17 77,53 75,54
6 Sumatera Selatan 72,89 73,06 73,00
7 Bengkulu 82,73 78,95 79,99
8 Lampung 77,80 78,80 78,58
9 Kepulauan Bangka Belitung 78,30 80,57 79,64
10 DKI J akarta 71,83 - 71,83
11 J awa Barat 76,67 77,43 77,04
12 J awa Tengah 75,92 79,79 78,27
13 DI Yogyakarta 74,49 79,71 76,81
14 J awa Timur 74,84 70,75 72,37
15 Banten 74,13 70,10 72,35
16 Bali 76,16 82,23 79,12
17 Nusa Tenggara Barat 77,72 73,02 74,69
18 Nusa Tenggara Timur 57,12 49,59 50,83
19 Kalimantan Barat 70,90 73,75 73,02
20 Kalimantan Tengah 79,98 75,83 77,05
21 Kalimantan Selatan 78,70 79,32 79,09
22 Kalimantan Timur 74,31 71,83 73,16
23 Sulawesi Utara 79,47 87,95 84,74
24 Sulawesi Tengah 69,05 69,45 69,37
25 Sulawesi Selatan 55,07 54,61 54,74
26 Sulawesi Tenggara 52,51 59,32 57,90
27 Gorontalo 74,44 72,80 73,21
28 Maluku 59,24 25,46 35,05
29 Maluku Utara 46,07 43,94 44,49
30 Papua 51,56 47,25 48,25
73,15 71,11 71,97
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
PROPORSI WANITA BERUMUR 15-49 TAHUN DAN BERSTATUS KAWIN YANG PERNAH
MENGGUNAKAN/MEMAKAI ALAT KB MENURUT DAERAH TEMPAT TINGGAL DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Indonesia
No Provinsi Perkotaan Perdesaan
Lampiran 4.9
Perkotaan+Perdesaan
Alat/cara KB yang dipakai
No Provinsi MOW/ MOP/ Alat/cara
Tubektomi Vasektomi tradisional
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 0,49 0,18 3,39 53,93 1,11 37,62 0,31 0,14 2,83 100,00
2 Sumatera Utara 4,90 1,12 6,40 42,84 4,48 36,43 1,45 0,42 1,98 100,00
3 Sumatera Barat 1,46 1,38 11,43 58,84 6,42 18,84 0,76 0,06 0,78 100,00
4 Riau 0,74 0,61 3,44 52,91 2,82 36,30 0,94 0,46 1,79 100,00
5 J ambi 0,82 0,59 4,17 52,39 5,29 35,02 0,14 0,12 1,45 100,00
6 Sumatera Selatan 1,09 0,82 3,14 60,16 12,22 20,80 0,50 0,19 1,11 100,00
7 Bengkulu 1,42 0,77 3,80 54,80 11,22 26,21 0,65 0,47 0,66 100,00
8 Lampung 1,41 0,88 6,38 55,89 8,19 25,52 0,50 0,33 0,89 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 1,10 0,72 4,23 44,84 3,99 43,85 0,20 0,13 0,92 100,00
10 DKI J akarta 1,78 0,73 12,47 55,65 2,21 25,29 0,67 0,31 0,90 100,00
11 J awa Barat 1,79 0,69 9,28 59,33 2,24 25,88 0,31 0,10 0,37 100,00
12 J awa Tengah 4,58 0,86 9,16 62,72 8,83 12,84 0,46 0,10 0,45 100,00
13 DI Yogyakarta 3,83 1,63 30,30 42,96 4,28 12,23 1,83 0,70 2,24 100,00
14 J awa Timur 4,98 0,75 12,45 53,07 5,50 21,94 0,35 0,12 0,83 100,00
15 Banten 1,13 0,56 8,27 64,29 5,29 19,70 0,10 0,10 0,57 100,00
16 Bali 4,47 0,72 45,23 36,77 1,09 10,82 0,34 0,15 0,41 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 1,27 0,34 7,56 55,87 14,04 19,85 0,02 0,24 0,81 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 1,93 0,79 13,93 53,84 6,97 16,35 0,41 0,25 5,52 100,00
19 Kalimantan Barat 0,82 0,37 2,95 50,70 2,66 41,33 0,53 0,10 0,56 100,00
20 Kalimantan Tengah 0,35 0,34 1,85 35,71 4,04 56,02 0,26 0,12 1,31 100,00
21 Kalimantan Selatan 0,92 0,42 1,86 39,20 4,16 52,70 0,18 0,06 0,51 100,00
22 Kalimantan Timur 1,98 1,14 8,52 37,29 2,68 46,81 0,57 0,31 0,70 100,00
23 Sulawesi Utara 1,75 0,50 13,55 45,24 9,35 27,81 0,12 0,42 1,26 100,00
24 Sulawesi Tengah 1,16 0,29 5,98 45,64 6,22 39,04 0,07 - 1,59 100,00
25 Sulawesi Selatan 1,15 0,47 3,59 51,54 5,39 35,12 0,23 0,05 2,45 100,00
26 Sulawesi Tenggara 1,10 0,42 3,49 39,01 14,36 37,46 0,06 - 4,10 100,00
27 Gorontalo 0,57 0,94 12,50 35,12 11,74 36,46 0,08 0,34 2,25 100,00
28 Maluku 1,43 0,48 4,37 63,43 6,74 21,17 - - 2,37 100,00
29 Maluku Utara 0,93 - 3,42 52,02 8,63 32,22 - - 2,78 100,00
30 Papua 1,73 0,38 2,25 36,85 3,86 16,70 0,31 0,30 37,63 100,00
2,81 0,74 9,64 54,92 5,55 24,52 0,44 0,17 1,23 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004 `
PERSENTASE WANITA BERUMUR 15-49 TAHUN DAN BERSTATUS KAWIN MENURUT
ALAT/CARA KB YANG SEDANG DIGUNAKAN /DIPAKAI DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Indonesia
AKDR/IUD Suntikan Susuk KB Pil Kondom Lainnya Jumlah
Lampiran 4.9.a
Alat/cara KB yang dipakai
No Provinsi MOW/ MOP/ Alat/cara Jumlah
Tubektomi Vasektomi tradisional
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 0,50 0,21 5,90 51,60 1,54 35,60 0,39 0,23 4,04 100,00
2 Sumatera Utara 5,15 1,30 7,94 40,87 3,58 37,16 1,46 0,37 2,18 100,00
3 Sumatera Barat 2,37 3,30 17,81 52,10 3,62 18,97 1,01 0,08 0,75 100,00
4 Riau 0,93 0,61 6,28 52,63 1,88 32,60 1,83 0,88 2,36 100,00
5 J ambi 0,96 0,66 5,09 54,10 5,11 32,65 0,46 0,34 0,62 100,00
6 Sumatera Selatan 1,85 1,14 5,19 58,53 7,49 22,13 0,91 0,32 2,45 100,00
7 Bengkulu 2,49 - 6,05 52,67 7,24 27,05 1,72 0,71 2,06 100,00
8 Lampung 2,26 1,09 7,25 56,52 4,79 23,94 0,91 1,00 2,23 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 2,30 0,84 9,20 41,23 4,22 40,22 0,52 0,34 1,13 100,00
10 DKI J akarta 1,78 0,73 12,47 55,65 2,21 25,29 0,67 0,31 0,90 100,00
11 J awa Barat 1,99 0,75 13,44 55,85 1,63 25,27 0,50 0,09 0,48 100,00
12 J awa Tengah 5,98 0,80 10,31 61,74 5,96 13,16 1,01 0,12 0,92 100,00
13 DI Yogyakarta 4,58 2,81 34,23 37,29 1,75 12,93 2,36 1,21 2,83 100,00
14 J awa Timur 5,94 0,86 14,20 50,67 3,39 23,04 0,76 0,12 1,03 100,00
15 Banten 1,35 0,77 12,19 58,52 2,13 24,05 0,18 0,07 0,74 100,00
16 Bali 4,44 0,82 41,12 38,23 1,00 13,10 0,39 0,25 0,65 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 1,58 0,34 10,90 53,85 11,02 21,54 - 0,19 0,58 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 2,69 0,67 24,08 49,51 2,49 15,18 0,26 - 5,13 100,00
19 Kalimantan Barat 1,78 0,57 7,81 53,82 2,91 31,35 0,96 0,16 0,65 100,00
20 Kalimantan Tengah 0,54 0,55 1,54 42,72 2,38 49,99 0,66 0,20 1,41 100,00
21 Kalimantan Selatan 1,25 0,49 2,90 41,95 1,81 50,75 0,36 0,09 0,41 100,00
22 Kalimantan Timur 2,56 1,17 11,79 38,87 2,60 40,71 0,88 0,37 1,05 100,00
23 Sulawesi Utara 2,37 0,84 11,93 51,15 5,37 27,13 0,18 0,89 0,15 100,00
24 Sulawesi Tengah 1,84 0,87 7,83 42,95 7,08 37,65 0,37 - 1,41 100,00
25 Sulawesi Selatan 1,04 0,27 8,79 51,64 2,77 32,10 0,25 0,03 3,12 100,00
26 Sulawesi Tenggara 0,97 - 7,45 34,94 7,14 46,86 0,26 - 2,37 100,00
27 Gorontalo 0,71 1,11 24,06 31,35 5,49 35,47 - 0,24 1,58 100,00
28 Maluku 1,93 0,39 5,37 68,35 3,55 19,85 - - 0,55 100,00
29 Maluku Utara 2,90 - 2,69 57,95 3,96 31,54 - - 0,95 100,00
30 Papua 1,68 0,90 5,58 54,40 6,20 28,04 0,89 0,32 2,01 100,00
3,36 0,85 12,58 53,52 3,32 24,35 0,74 0,22 1,07 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
PERSENTASE WANITA BERUMUR 15-49 TAHUN DAN BERSTATUS KAWIN MENURUT
ALAT/CARA KB YANG SEDANG DIGUNAKAN /DIPAKAI DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Indonesia
Perkotaan
AKDR/IUD Suntikan Susuk KB Pil Kondom Lainnya
Lampiran 4.9.b
Alat/cara KB yang dipakai
No Provinsi MOW/ MOP/ Alat/cara
Tubektomi Vasektomi tradisional
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 0,49 0,17 2,11 55,11 0,90 38,65 0,27 0,10 2,21 100,00
2 Sumatera Utara 4,69 0,96 5,12 44,46 5,21 35,83 1,45 0,46 1,82 100,00
3 Sumatera Barat 1,10 0,61 8,88 61,55 7,54 18,79 0,67 0,06 0,80 100,00
4 Riau 0,58 0,62 1,18 53,13 3,56 39,24 0,23 0,13 1,33 100,00
5 J ambi 0,77 0,57 3,88 51,84 5,35 35,79 0,04 0,05 1,73 100,00
6 Sumatera Selatan 0,73 0,66 2,16 60,93 14,46 20,16 0,30 0,13 0,47 100,00
7 Bengkulu 1,02 1,06 2,95 55,61 12,73 25,88 0,25 0,38 0,12 100,00
8 Lampung 1,19 0,83 6,16 55,74 9,05 25,93 0,40 0,15 0,55 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 0,32 0,65 0,97 47,21 3,84 46,23 - - 0,79 100,00
10 DKI J akarta - - - - - - - - - -
11 J awa Barat 1,57 0,63 4,96 62,95 2,87 26,52 0,12 0,11 0,26 100,00
12 J awa Tengah 3,73 0,90 8,45 63,31 10,58 12,65 0,13 0,09 0,16 100,00
13 DI Yogyakarta 2,94 0,25 25,68 49,61 7,25 11,40 1,22 0,11 1,55 100,00
14 J awa Timur 4,30 0,68 11,21 54,78 7,00 21,17 0,06 0,12 0,69 100,00
15 Banten 0,81 0,27 2,66 72,52 9,79 13,49 - 0,13 0,32 100,00
16 Bali 4,49 0,62 49,14 35,38 1,18 8,65 0,29 0,06 0,19 100,00
17 Nusa Tenggara Barat 1,10 0,33 5,66 57,02 15,74 18,90 0,03 0,28 0,94 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 1,76 0,82 11,64 54,82 7,98 16,61 0,45 0,31 5,61 100,00
19 Kalimantan Barat 0,49 0,30 1,31 49,64 2,57 44,69 0,38 0,07 0,53 100,00
20 Kalimantan Tengah 0,27 0,25 1,99 32,70 4,76 58,61 0,08 0,08 1,26 100,00
21 Kalimantan Selatan 0,73 0,38 1,26 37,61 5,51 53,82 0,08 0,04 0,57 100,00
22 Kalimantan Timur 1,32 1,10 4,76 35,47 2,77 53,83 0,21 0,25 0,29 100,00
23 Sulawesi Utara 1,43 0,34 14,36 42,28 11,34 28,14 0,10 0,19 1,81 100,00
24 Sulawesi Tengah 1,00 0,15 5,53 46,30 6,01 39,39 - - 1,63 100,00
25 Sulawesi Selatan 1,20 0,55 1,47 51,51 6,46 36,35 0,23 0,06 2,18 100,00
26 Sulawesi Tenggara 1,13 0,52 2,54 40,00 16,11 35,19 0,01 - 4,52 100,00
27 Gorontalo 0,53 0,89 8,78 36,33 13,75 36,78 0,10 0,37 2,47 100,00
28 Maluku 0,96 0,56 3,43 58,79 9,76 22,42 - - 4,08 100,00
29 Maluku Utara 0,24 - 3,68 49,92 10,28 32,46 - - 3,42 100,00
30 Papua 1,74 0,19 1,04 30,47 3,02 12,57 0,10 0,29 80,58 100,00
2,39 0,66 7,42 55,97 7,23 24,46 0,21 0,13 1,35 100,00
Sumber : BPS, Statistik Kesra 2004
Indonesia
Perdesaan
AKDR/IUD Suntikan Susuk KB Pil Kondom Lainnya Jumlah
PERSENTASE WANITA BERUMUR 15-49 TAHUN DAN BERSTATUS KAWIN MENURUT
ALAT/CARA KB YANG SEDANG DIGUNAKAN /DIPAKAI DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Lampiran 4.10
JUMLAH DAN PROPORSI PESERTA KB BARU KUMULATIF
MENURUT TEMPAT PELAYANAN DAN PROVINSI TAHUN 2003
Peserta % Peserta % Peserta % Peserta % Peserta %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 4.970 58,98 564 6,69 291 3,45 2.602 30,88 8.427 100,00
2 Sumatera Utara 12.287 74,40 2.135 12,93 224 1,36 1.869 11,32 16.515 100,00
3 Sumatera Barat 3.761 58,02 73 1,13 108 1,67 2.540 39,19 6.482 100,00
4 Riau 6.152 57,50 234 2,19 384 3,59 3.930 36,73 10.700 100,00
5 J ambi 4.282 67,27 37 0,58 355 5,58 1.691 26,57 6.365 100,00
6 Sumatera Selatan 11.520 63,95 768 4,26 433 2,40 5.294 29,39 18.015 100,00
7 Bengkulu 2.284 63,09 16 0,44 192 5,30 1.128 31,16 3.620 100,00
8 Lampung 9.282 64,28 538 3,73 345 2,39 4.275 29,61 14.440 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 7.499 82,06 634 6,94 138 1,51 867 9,49 9.138 100,00
10 DKI J akarta 6.634 45,44 1.597 10,94 1.364 9,34 5.004 34,28 14.599 100,00
11 J awa Barat 29.191 49,64 8.925 15,18 1.717 2,92 18.973 32,26 58.806 100,00
12 J awa Tengah 26.615 47,55 2.379 4,25 2.019 3,61 24.956 44,59 55.969 100,00
13 DI Yogyakarta 1.349 40,87 415 12,57 47 1,42 1.490 45,14 3.301 100,00
14 J awa Timur 32.212 56,93 1.751 3,09 1.097 1,94 21.522 38,04 56.582 100,00
15 Banten 8.063 60,16 3.037 22,66 159 1,19 2.143 15,99 13.402 100,00
16 Bali 1.621 37,42 90 2,08 279 6,44 2.342 54,06 4.332 100,00
17 Nusa Tenggara Bara 7.213 79,76 366 4,05 154 1,70 1.310 14,49 9.043 100,00
18 Nusa Tenggara Timur 5.749 97,39 61 1,03 13 0,22 80 1,36 5.903 100,00
19 Kalimantan Bara 6.707 67,45 496 4,99 133 1,34 2.607 26,22 9.943 100,00
20 Kalimantan Tengah 1.346 71,63 67 3,57 36 1,92 430 22,88 1.879 100,00
21 Kalimantan Selatan 3.211 56,77 112 1,98 24 0,42 2.309 40,82 5.656 100,00
22 Kalimantan Timur 1.472 56,23 253 9,66 208 7,94 685 26,17 2.618 100,00
23 Sulawesi Utara 947 47,59 258 12,96 209 10,50 576 28,94 1.990 100,00
24 Sulawesi Tengah 3.529 91,85 3 0,08 9 0,23 301 7,83 3.842 100,00
25 Sulawesi Selatan 7.427 81,36 232 2,54 119 1,30 1.351 14,80 9.129 100,00
26 Sulawesi Tenggara 3.529 91,85 3 0,08 9 0,23 301 7,83 3.842 100,00
27 Gorontalo 1.588 81,81 132 6,80 22 1,13 199 10,25 1.941 100,00
28 Maluku 2.665 88,27 37 1,23 7 0,23 310 10,27 3.019 100,00
29 Maluku Utara 741 100,00 - - - - - - 741 100,00
30 Papua 856 93,55 - - 16 1,75 43 4,70 915 100,00
214.702 59,45 25.213 6,98 10.111 2,80 111.128 30,77 361.154 100,00
Sumber: BKKBN
Bidan Praktek
Swasta
Dokter Praktek
Swasta
Jumlah
Indonesia
Provinsi No. Pemerintah
Klinik KB
Swasta
Lampiran 4.11
No Provinsi Jumlah Desa Desa UCI %
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 6.180 1.476 23,88
2 Sumatera Utara 5.464 4.397 80,47
3 Sumatera Barat 2.567 1.922 74,87
4 Riau 1.625 1.325 81,54
5 J ambi 1.186 986 83,14
6 Sumatera Selatan 2.681 2.181 81,35
7 Bengkulu 1.261 890 70,58
8 Lampung 2.161 1.988 91,99
9 Kepulauan Bangka Belitung 317 242 76,34
10 Kepulauan Riau - - -
11 DKI J akarta 278 220 79,14
12 J awa Barat 5.798 4.269 73,63
13 J awa Tengah 8.052 7.107 88,26
14 DI Yogyakarta 438 438 100,00
15 J awa Timur 8.441 4.928 58,38
16 Banten 1.543 1.153 74,72
17 Bali 695 691 99,42
18 Nusa Tenggara Barat 778 703 90,36
19 Nusa Tenggara Timur 2.591 2.000 77,19
20 Kalimantan Barat 1.452 885 60,95
21 Kalimantan Tengah 1.324 708 53,47
22 Kalimantan Selatan 1.955 1.297 66,34
23 Kalimantan Timur 1.334 960 71,96
24 Sulawesi Utara 1.214 841 69,28
25 Sulawesi Tengah 1.447 1.044 72,15
26 Sulawesi Selatan 3.222 2.370 73,56
27 Sulawesi Tenggara 1.554 1.215 78,19
28 Gorontalo 447 249 55,70
29 Maluku - - -
30 Maluku Utara 720 195 27,08
31 Irian J aya 1.017 356 35,00
67.742 47.036 69,43
Sumber : Ditjen PPM-PL, Depkes RI
PENCAPAIAN DESA UCI MENURUT PROVINSI
Indonesia
TAHUN 2004
Lampiran 4.12
No Provinsi Jumlah Desa/Kelurahan Desa/Kelurahan UCI % Desa/Kelurahan UCI
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 3.600 1.664 46,22
2 Sumatera Utara 3.646 2.783 76,33
3 Sumatera Barat 2.581 1.875 72,65
4 Riau 1.438 1.163 80,88
5 J ambi 1.109 892 80,43
6 Bengkulu 770 530 68,83
7 Sumatera Selatan 1.379 1.232 89,34
8 Lampung 2.140 1.994 93,18
9 Kepulauan Bangka Belitung 159 133 83,65
10 Kepulauan Riau 206 179 86,89
11 DKI J akarta 65 55 84,62
12 J awa Barat 5.467 4.335 79,29
13 J awa Tengah 6.826 5.358 78,49
14 DI Yogyakarta 438 438 100,00
15 J awa Timur 8.322 6.243 75,02
16 Banten 1.666 1.241 74,49
17 Bali 1.318 1.303 98,86
18 Nusa Tenggara Barat 707 638 90,24
19 Nusa Tenggara Timur 1.558 961 61,68
20 Kalimantan Barat 1.202 883 73,46
21 Kalimantan Tengah 1.229 806 65,58
22 Kalimantan Timur 1.673 1.209 72,27
23 Kalimantan Selatan 1.172 815 69,54
24 Sulawesi Utara 1.022 777 76,03
25 Sulawesi Tengah 1.570 1.059 67,45
26 Sulawesi Tenggara 1.533 1.028 67,06
27 Sulawesi Selatan 1.096 926 84,49
28 Gorontalo 52 40 76,92
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 768 353 45,96
31 Maluku Utara 139 81 58,27
32 Papua 523 222 42,45
33 Irian J aya Barat 4.019 3.607 89,75
59.393 44.823 75,47
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
Indonesia
PERSENTASE CAKUPAN DESA/KELURAHAN UNIVERSAL CHILD IMUNIZATION (UCI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Lampiran 4.13
CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Imunisasi Bayi
BCG DPT1 Polio4 Campak
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 106.659 81.691 76,59 83.406 78,20 88.311 82,80 76.289 71,53 70.097 65,72 71.452 66,99
2 Sumatera Utara 299.001 296.971 99,32 295.901 98,96 296.357 99,12 277.118 92,68 264.482 88,46 274.986 91,97
3 Sumatera Barat 95.217 94.785 99,55 91.031 95,60 96.898 101,77 86.517 90,86 82.714 86,87 82.956 87,12
4 Riau 141.525 140.282 99,12 139.739 98,74 141.608 100,06 132.730 93,79 132.716 93,78 132.202 93,41
5 J ambi 63.302 61.246 96,75 64.119 101,29 64.084 101,24 61.428 97,04 60.959 96,30 60.420 95,45
6 Sumatera Selatan 167.781 160.477 95,65 166.306 99,12 167.095 99,59 154.038 91,81 152.870 91,11 151.761 90,45
7 Kepulauan Bangka Belitung 24.237 21.497 88,69 22.058 91,01 21.519 88,79 20.377 84,07 20.657 85,23 20.802 85,83
8 Bengkulu 36.721 33.828 92,12 37.481 102,07 34.469 93,87 32.714 89,09 30.252 82,38 31.227 85,04
9 Lampung 169.846 162.807 95,86 162.968 95,95 162.105 95,44 158.391 93,26 158.660 93,41 158.595 93,38
10 DKI J akarta 196.244 220.070 112,14 227.496 115,93 175.227 89,29 215.083 109,60 197.670 100,73 204.172 104,04
11 J awa Barat 851.548 839.403 98,57 827.417 97,17 845.073 99,24 793.884 93,23 769.152 90,32 797.553 93,66
12 Banten 233.857 214.594 91,76 209.621 89,64 219.396 93,82 202.469 86,58 198.699 84,97 203.275 86,92
13 J awa Tengah 610.045 605.648 99,28 598.353 98,08 606.506 99,42 572.694 93,88 568.251 93,15 574.275 94,14
14 DI Yogyakarta 51.064 52.066 101,96 49.561 97,06 50.854 99,59 48.307 94,60 47.642 93,30 48.365 94,71
15 J awa Timur 626.257 650.379 103,85 644.099 102,85 664.670 106,13 618.372 98,74 624.662 99,75 613.631 97,98
16 Kalimantan Barat 94.788 91.351 96,37 90.902 95,90 86.963 91,74 84.248 88,88 80.914 85,36 81.178 85,64
17 Kalimantan Tengah 47.700 43.119 90,40 39.554 82,92 43.215 90,60 40.279 84,44 39.435 82,67 39.475 82,76
18 Kalimantan Selatan 72.788 70.113 96,32 68.188 93,68 69.918 96,06 64.410 88,49 62.661 86,09 63.625 87,41
19 Kalimantan Timur 69.667 65.953 94,67 63.587 91,27 66.592 95,59 61.318 88,02 59.203 84,98 60.440 86,76
20 Sulawesi Utara 44.920 45.766 101,88 43.950 97,84 44.640 99,38 41.126 91,55 40.053 89,17 41.827 93,11
21 Gorontalo 21.736 21.688 99,78 21.846 100,51 22.651 104,21 19.696 90,61 19.509 89,75 19.696 90,61
22 Sulawesi Tengah 51.792 51.565 99,56 51.402 99,25 53.206 102,73 46.973 90,70 46.727 90,22 46.672 90,11
23 Sulawesi Selatan 186.028 185.295 99,61 173.915 93,49 190.394 102,35 173.699 93,37 166.530 89,52 167.292 89,93
24 Sulawesi Tenggara 51.700 46.851 90,62 44.686 86,43 43.004 83,18 39.404 76,22 41.933 81,11 42.249 81,72
25 Bali 61.411 63.405 103,25 63.960 104,15 62.494 101,76 61.245 99,73 61.126 99,54 61.003 99,34
26 Nusa Tenggara Barat 106.771 96.926 90,78 103.821 97,24 101.948 95,48 96.235 90,13 96.704 90,57 96.943 90,80
27 Nusa Tenggara Timur 121.417 113.995 93,89 117.327 96,63 116.885 96,27 110.768 91,23 107.023 88,14 110.759 91,22
28 Maluku 31.041 23.357 75,25 22.289 71,81 22.012 70,91 20.599 66,36 20.972 67,56 21.565 69,47
29 Maluku Utara 21.479 18.518 86,21 20.449 95,20 21.428 99,76 17.395 80,99 15.899 74,02 16.918 78,77
30 Papua 61.091 46.076 75,42 39.721 65,02 42.901 70,22 34.469 56,42 31.777 52,02 34.341 56,21
4.717.633 4.619.722 97,92 4.585.153 97,19 4.622.423 97,98 4.362.275 92,47 4.269.949 90,51 4.329.655 91,78
Sumber : Ditjen PPM-PL, Depkes RI
Indonesia
Polio1 Polio3 No Provinsi
Sasaran
Lampiran 4.14
CAKUPAN IMUNISASI HEPATITIS B PADA BAYI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Status Imunisasi
No Provinsi Sasaran HB1 (0-7 Hr) HB1 (>7 Hr) HB2 HB3
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 106.659 4.331 4,06 66.792 62,62 71.123 66,68 65.503 61,41 58.261 54,62
2 Sumatera Utara 299.001 98.885 33,07 174.087 58,22 272.972 91,29 240.210 80,34 237.143 79,31
3 Sumatera Barat 95.217 33.853 35,55 66.645 69,99 100.498 105,55 84.833 89,09 79.515 83,51
4 Riau 141.525 48.191 34,05 91.943 64,97 140.134 99,02 109.459 77,34 110.516 78,09
5 J ambi 63.302 27.145 42,88 37.883 59,84 65.028 102,73 56.807 89,74 55.670 87,94
6 Sumatera Selatan 167.781 45.186 26,93 115.589 68,89 160.775 95,82 146.217 87,15 141.796 84,51
7 Kepulauan Bangka Belitung 24.237 4.992 20,60 19.536 80,60 24.528 101,20 19.138 78,96 19.319 79,71
8 Bengkulu 36.721 15.481 42,16 20.035 54,56 35.516 96,72 26.781 72,93 25.098 68,35
9 Lampung 169.846 52.587 30,96 108.380 63,81 160.967 94,77 146.363 86,17 146.087 86,01
10 DKI J akarta 196.244 49.333 25,14 180.623 92,04 229.956 117,18 183.402 93,46 181.129 92,30
11 J awa Barat 851.548 344.316 40,43 497.538 58,43 841.854 98,86 671.674 78,88 653.047 76,69
12 Banten 233.857 50.561 21,62 156.315 66,84 206.876 88,46 167.178 71,49 161.461 69,04
13 J ateng 610.045 373.228 61,18 263.187 43,14 636.415 104,32 509.179 83,47 505.053 82,79
14 DI Yogyakarta 51.064 37.483 73,40 17.533 34,34 55.016 107,74 46.709 91,47 46.392 90,85
15 J awa Timur 626.257 387.951 61,95 293.631 46,89 681.582 108,83 581.791 92,90 11.614 1,85
16 Kalimantan Barat 94.788 5.970 6,30 70.748 74,64 76.718 80,94 70.026 73,88 67.010 70,69
17 Kalimantan Tengah 47.700 8.884 18,62 36.461 76,44 45.345 95,06 38.764 81,27 36.742 77,03
18 Kalimantan Selatan 72.788 13.129 18,04 50.632 69,56 63.761 87,60 58.002 79,69 56.613 77,78
19 Kalimantan Timur 69.667 13.004 18,67 49.165 70,57 62.169 89,24 61.850 88,78 58.095 83,39
20 Sulawesi Utara 44.920 20.922 46,58 25.395 56,53 46.317 103,11 35.012 77,94 33.079 73,64
21 Gorontalo 21.736 8.476 39,00 17.747 81,65 26.223 120,64 19.195 88,31 18.032 82,96
22 Sulawesi Tengah 51.792 9.991 19,29 41.309 79,76 51.300 99,05 47.493 91,70 47.493 91,70
23 Sulawesi Selatan 186.028 76.904 41,34 127.306 68,43 204.210 109,77 158.615 85,26 152.279 81,86
24 Sulawesi Tenggara 51.700 18.906 36,57 28.342 54,82 47.248 91,39 36.585 70,76 38.561 74,59
25 Bali 61.411 31.511 51,31 32.167 52,38 63.678 103,69 62.195 101,28 61.828 100,68
26 Nusa Tenggara Barat 106.771 76.802 71,93 21.374 20,02 98.176 91,95 100.347 93,98 95.850 89,77
27 Nusa Tenggara Timur 121.417 27.381 22,55 79.403 65,40 106.784 87,95 97.927 80,65 96.766 79,70
28 Maluku 31.041 0 0,00 0 0,00 18.816 60,62 17.809 57,37 17.623 56,77
29 Maluku Utara 21.479 2.568 11,96 12.803 59,61 15.371 71,56 11.068 51,53 8.968 41,75
30 Papua 61.091 1.935 3,17 13.421 21,97 36.904 60,41 32.568 53,31 29.149 47,71
4.717.633 1.889.906 40,06 2.715.990 57,57 4.646.260 98,49 3.902.700 82,73 3.250.189 68,89
Sumber : Ditjen.PPM-PL, Depkes RI
HB1 (Total)
Indonesia
Lampiran 4.15
ANGKA DROP OUT CAKUPAN IMUNISASI DPT1 - CAMPAK PADA BAYI
MENURUT PROVINSI, TAHUN 1998 - 2004
Tahun
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 4,30 13,20 16,80 15,61 7,70 14,30 16,70
2 Sumatera Utara 4,60 5,50 5,80 6,56 6,60 8,10 7,60
3 Sumatera Barat 8,70 12,00 9,40 9,17 6,80 11,60 9,70
4 Riau 10,10 10,70 4,20 8,63 7,40 5,30 5,70
5 J ambi 3,10 7,40 5,90 5,66 6,20 8,20 6,10
6 Sumatera Selatan 16,10 10,50 8,30 9,02 8,70 9,30 9,60
7 Bengkulu 8,40 11,70 7,40 3,93 5,70 10,10 20,00
8 Lampung 5,10 9,50 1,10 5,05 7,50 3,70 2,80
9 Kepulauan Bangka Belitung - - - 6,03 3,90 6,90 6,00
10 DKI J akarta 13,60 11,10 10,40 0,55 7,30 10,20 11,40
11 J awa Barat 7,60 6,70 5,50 6,31 5,30 5,30 3,70
12 J awa Tengah 8,50 8,40 7,00 6,75 3,00 4,00 4,20
13 DI Yogyakarta 4,50 8,30 1,50 5,34 5,70 3,80 2,50
14 J awa Timur 5,90 9,80 7,90 30,25 3,30 7,10 5,00
15 Banten - - - 4,67 4,60 4,00 3,10
16 Bali 5,10 8,70 8,90 14,22 8,10 7,10 4,80
17 Nusa Tenggara Barat 5,30 7,70 1,30 2,93 3,80 6,00 7,10
18 Nusa Tenggara Timur 16,60 23,70 13,80 4,93 9,30 18,80 5,90
19 Kalimantan Barat 9,90 8,90 9,60 12,53 6,40 8,80 12,00
20 Kalimantan Tengah 7,50 10,50 8,30 7,51 2,60 9,40 0,20
21 Kalimantan Selatan 7,80 10,10 8,10 6,17 9,80 7,90 7,20
22 Kalimantan Timur 9,40 8,30 11,20 10,12 10,30 7,50 5,20
23 Sulawesi Utara 2,90 7,20 12,40 5,45 8,40 11,90 5,10
24 Sulawesi Tengah 10,20 12,30 7,00 8,89 9,00 16,30 10,10
25 Sulawesi Selatan 2,50 11,70 10,90 9,65 5,60 10,60 4,00
26 Sulawesi Tenggara 9,10 9,70 12,10 8,24 4,30 11,00 5,80
27 Gorontalo - - - 7,76 9,70 18,40 10,90
28 Maluku 1,70 3,20 9,90 2,12 2,90 1,30 3,40
29 Maluku Utara - - - 15,56 18,50 9,50 20,90
30 Papua 21,80 18,10 16,90 19,32 8,70 18,00 15,70
7,80 9,10 7,40 10,07 5,80 7,60 5,90
Sumber : Ditjen. PPM-PL, Depkes RI
No Provinsi
Indonesia
Lampiran 4.16
No Provinsi Sasaran
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 114.636 71.979 62,79 61.061 53,27 7.570 6,60
2 Sumatera Utara 329.957 229.009 69,41 178.660 54,15 9.810 2,97
3 Sumatera Barat 103.999 82.512 79,34 69.160 66,50 14.118 13,58
4 Riau 155.679 79.116 50,82 68.408 43,94 25.668 16,49
5 J ambi 69.386 53.191 76,66 49.437 71,25 10.908 15,72
6 Sumatera Selatan 170.041 136.037 80,00 128.207 75,40 430 0,25
7 Kepulauan Bangka Belitung 26.542 23.835 89,80 22.017 82,95 - -
8 Bengkulu 42.237 27.246 64,51 25.297 59,89 - -
9 Lampung 186.000 157.660 84,76 153.208 82,37 - -
10 DKI J akarta 214.405 130.821 61,02 124.508 58,07 2.100 0,98
11 J awa Barat 936.703 836.333 89,28 763.397 81,50 25.426 2,71
12 Banten 249.476 197.415 79,13 180.254 72,25 18.828 7,55
13 J awa Tengah 829.576 402.813 48,56 381.433 45,98 100.776 12,15
14 DI Yogyakarta 56.768 34.670 61,07 32.114 56,57 21.637 38,11
15 J awa Timur 680.259 498.405 73,27 448.152 65,88 36.423 5,35
16 Kalimantan Barat 104.208 63.007 60,46 57.398 55,08 - -
17 Kalimantan Tengah 53.459 41.119 76,92 36.790 68,82 1.095 2,05
18 Kalimantan Selatan 90.458 61.159 67,61 56.020 61,93 1.095 1,21
19 Kalimantan Timur 76.327 37.360 48,95 31.828 41,70 9.546 12,51
20 Sulawesi Utara 49.412 34.736 70,30 32.416 65,60 7.726 15,64
21 Gorontalo 23.782 20.921 87,97 17.987 75,63 3.252 13,67
22 Sulawesi Tengah 57.546 47.184 81,99 43.293 75,23 - -
23 Sulawesi Selatan 204.208 167.469 82,01 168.362 82,45 27.128 13,28
24 Sulawesi Tenggara 67.545 22.131 32,76 24.175 35,79 12.678 18,77
25 Bali 67.228 50.879 75,68 47.574 70,77 15.804 23,51
26 Nusa Tenggara Barat 118.635 100.084 84,36 94.610 79,75 52.655 44,38
27 Nusa Tenggara Timur 118.961 29.979 25,20 25.559 21,49 10.001 8,41
28 Maluku 34.097 26.454 77,58 22.035 64,62 - -
29 Maluku Utara 23.343 18.633 79,82 14.620 62,63 5.055 21,66
30 Papua - - - - - - -
5.254.873 3.682.157 70,07 3.357.980 63,90 419.729 7,99
Sumber : Ditjen.PPM dan PL, Depkes RI
CAKUPAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI
Indonesia
Imunisasi Ibu Hamil
TT1 TT2 TT Ulang
TAHUN 2004
Lampiran 4.17
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN PRA USILA DAN USILA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Jumlah Dilayani Kesehatannya %
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 47.706 15.113 31,68
2 Sumatera Utara 416.233 58.113 13,96
3 Sumatera Barat 1.332 1.183 88,81
4 Riau 149.816 12.591 8,40
5 J ambi 60.598 45.779 75,55
6 Bengkulu 221.203 99.443 44,96
7 Sumatera Selatan 20.808 8.930 42,92
8 Lampung 0,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 24.283 10.284 42,35
10 Kepulauan Riau 22.627 3.927 17,36
11 DKI J akarta 0,00
12 J awa Barat 3.274.518 404.730 12,36
13 J awa Tengah 2.239.170 561.043 25,06
14 DI Yogyakarta 287.229 146.579 51,03
15 J awa Timur 4.065.963 815.822 20,06
16 Banten 0,00
17 Bali 398.440 67.795 17,02
18 Nusa Tenggara Barat 157.406 20.796 13,21
19 Nusa Tenggara Timur 137.728 43.048 31,26
20 Kalimantan Barat 66.309 15.343 23,14
21 Kalimantan Tengah 100.339 30.173 30,07
22 Kalimantan Timur 195.581 89.246 45,63
23 Kalimantan Selatan 77.461 34.185 44,13
24 Sulawesi Utara 114.996 61.072 53,11
25 Sulawesi Tengah 89.190 41.772 46,83
26 Sulawesi Tenggara 908.272 154.330 16,99
27 Sulawesi Selatan 339.116 34.786 10,26
28 Gorontalo 0,00
29 Sulawesi Barat 0,00
30 Maluku 24.160 6.312 26,13
31 Maluku Utara 18.046 6.611 36,63
32 Papua 17.341 12.602 72,67
33 Irian J aya Barat 16.818 4.106 24,41
13.492.689 2.805.714 20,79
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
Indonesia
Pra Usila dan Usila
No Provinsi
Lampiran 4.18
Jumlah
mendapat
perawatan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Nanggroe Aceh Darussalam - - - - - - - - - -
2 Sumatera Utara 10.718 37.285 48.003 0,29 1.263.298 149.291 11,82
3 Sumatera Barat 5.631 21.784 27.415 0,26 217.716 66.269 30,44 13.945 7.295 52,31
4 Riau 9.684 42.884 52.568 0,23 193.689 54.967 28,38 45.364 20.218 44,57
5 J ambi 34.656 28.031 62.687 1,24 1.053.444 1.053.444 100,00 33.976 14.851 43,71
6 Bengkulu 2.719 9.849 12.568 0,28 87.298 24.925 28,55 10.720 5.234 48,82
7 Sumatera Selatan - - - - - - - - - -
8 Lampung 9.763 33.701 43.464 0,29 374.995 77.619 20,70 31.892 23.299 73,06
9 Kepulauan Bangka Belitung - - - - - - - - - -
10 Kepulauan Riau 2.038 9.541 11.579 0,21 409 191 46,70
11 DKI J akarta 40.112 3.343 43.455 12,00 1.388 807 58,14
12 J awa Barat 128.307 261.626 389.933 0,49 2.385.892 989.856 41,49 274.529 109.487 39,88
13 J awa Tengah 21.700 44.601 66.301 0,49 916.893 159.350 17,38
14 DI Yogyakarta 24.790 29.074 53.864 0,85 91.378 19.570 21,42 21.212 17.437 82,20
15 J awa Timur 36.727 87.864 124.591 0,42 955.665 482.582 50,50 157.639 77.245 49,00
16 Banten - - - - - - - - - -
17 Bali 15.546 20.395 35.941 0,76 383.473 383.473 100,00 60.300 41.179 68,29
18 Nusa Tenggara Barat 522 3.768 4.290 0,14 1.684
19 Nusa Tenggara Timur - - - - - - - - - -
20 Kalimantan Barat 6.124 49.253 55.377 0,12 330.940 82.826 25,03 56.150 12.113 21,57
21 Kalimantan Tengah 3.505 7.312 10.817 0,48 90.335 11.973 13,25 9.514 6.132 64,45
22 Kalimantan Selatan 12.278 14.975 27.253 0,82 253.186 26.219 10,36 21.624 15.545 71,89
23 Kalimantan Timur 11.162 34.201 45.363 0,33 350.536 59.942 17,10 18.904 7.280 38,51
24 Sulawesi Utara 2.045 17.721 19.766 0,12 139.071 38.134 27,42 14.308 8.517 59,53
25 Sulawesi Tengah 2.671 16.307 18.978 0,16 119.777 8.354 6,97 3.989 2.331 58,44
26 Sulawesi Selatan 19.562 63.378 82.940 0,31 768.283 70.317 9,15 48.498 22.994 47,41
27 Sulawesi Tenggara 6.412 8.263 14.675 0,78 183.576 30.175 16,44 11.648 6.249 53,65
28 Gorontalo - - - - - - - - - -
29 Maluku 2.867 13.238 16.105 0,22 54.007 46.681 86,44 13.094 2.902 22,16
30 Maluku Utara 575 246.382 246.957 0,00 22.053 2.601 11,79 2.188 501 22,90
31 Papua - - - - - - - - - -
410.114 1.104.776 1.514.890 0,37 10.237.302 3.841.250 37,52 849.494 400.809 47,18
Sumber : Profil Provinsi Tahun 2004
Pencabutan
Gigi tetap
Tumpatan
Gigi tetap
Provinsi No
Jumlah
Jumlah murid
SD
Murid diperiksa Murid SD
Jumlah Puskesmas yang melapor
PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DI PUSKESMAS SERTA UKGS MURID SD
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Pelayanan Dasar Gigi UKGS ( Promotif + Preventif )
Jumlah
Rasio
Tambal/cabut
Perlu
Perawatan
% mendapat
perawatan %
Lampiran 4.19
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN DAN RAWAT INAP
DI SARANA PELAYANAN KESEHATAN, MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Jumlah Kunjungan
Rawat Inap Rawat Jalan Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 8.150 1.331.122 1.339.272
2 Sumatera Utara 121.148 3.973.536 4.094.684
3 Sumatera Barat 232.657 519.358 752.015
4 Riau 132.092 1.865.810 1.997.902
5 J ambi 23.406 1.086.062 1.109.468
6 Bengkulu 12.411 518.419 530.830
7 Sumatera Selatan 72.527 2.378.909 2.451.436
8 Lampung 106.036 2.430.248 2.536.284
9 Kepulauan Bangka Belitung 20.887 109.640 130.527
10 Kepulauan Riau 173.442 483.368 656.810
11 DKI J akarta - 3.608.167 3.608.167
12 J awa Barat 850.945 10.144.506 10.995.451
13 J awa Tengah 1.361.257 11.592.188 12.953.445
14 DI Yogyakarta - 671.126 671.126
15 J awa Timur 695.874 12.697.282 13.393.156
16 Banten 155.531 1.776.330 1.931.861
17 Bali 197.976 2.706.806 2.904.782
18 Nusa Tenggara Barat 29.567 2.199.768 2.229.335
19 Nusa Tenggara Timur 35.178 2.179.907 2.215.085
20 Kalimantan Barat 41.041 1.365.497 1.406.538
21 Kalimantan Tengah 47.888 748.198 796.086
22 Kalimantan Timur 16.873 1.454.894 1.471.767
23 Kalimantan Selatan 178.074 1.584.420 1.762.494
24 Sulawesi Utara 6.457 226.162 232.619
25 Sulawesi Tengah 161.254 704.519 865.773
26 Sulawesi Tenggara 151.519 3.577.187 3.728.706
27 Sulawesi Selatan 4.432 246.859 251.291
28 Gorontalo 265 87.437 87.702
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 139.453 612.588 752.041
31 Maluku Utara 4.136 49.597 53.733
32 Papua 6.576 527.353 533.929
33 Irian J aya Barat 5.166 138.938 144.104
4.992.218 73.596.201 78.588.419
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
Indonesia
Provinsi No
Lampiran 4.20
INDIKATOR PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi Jumlah Bed Length of Bed Turn Turn Over Net Death Gross Death % Pasien Rata-rata
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 2.383 59,30 4,70 21,40 3,40 22,50 49,00 54,10 119
2 Sumatera Utara 11.680 36,00 5,40 21,40 10,50 47,20 86,00 45,10 249
3 Sumatera Barat 3.562 61,60 6,10 31,40 4,00 32,70 58,60 44,10 160
4 Riau 2.710 58,90 4,10 41,00 3,10 26,40 55,40 52,40 109
5 J ambi 1.140 36,70 3,20 27,00 5,80 17,30 46,50 62,70 44
6 Sumatera Selatan 3.802 49,00 4,40 39,20 4,70 24,30 60,10 59,50 207
7 Bengkulu 599 36,70 2,90 35,60 5,90 18,30 38,70 52,70 154
8 Lampung 1.820 51,10 4,10 39,80 3,90 24,50 62,90 61,10 123
9 Kepulauan Bangka Belitung 516 49,90 3,10 42,70 3,20 17,70 54,00 67,20 49
10 DKI J akarta 16.128 60,50 4,90 41,90 3,40 30,70 50,80 39,50 1.142
11 J awa Barat 14.471 66,90 4,10 52,40 2,00 19,30 46,20 58,30 319
12 J awa Tengah 18.902 56,40 4,30 40,00 3,20 18,40 42,60 56,90 208
13 DI Yogyakarta 3.468 57,10 4,60 23,40 3,40 17,80 37,20 52,30 227
14 J awa Timur 19.664 54,40 4,40 36,90 3,50 27,70 56,00 50,60 248
15 Banten 2.450 61,80 3,80 53,30 2,10 17,20 44,90 61,60 237
16 Bali 2.995 67,80 4,20 55,40 2,10 26,80 47,30 43,20 282
17 Nusa Tenggara Barat 1.092 54,70 3,50 35,60 3,00 20,30 47,10 56,90 123
18 Nusa Tenggara Timur 1.873 58,10 3,90 43,90 2,80 18,60 34,40 46,00 106
19 Kalimantan Barat 2.455 57,30 4,40 43,30 3,40 23,90 55,70 57,10 107
20 Kalimantan Tengah 615 55,00 4,00 38,90 3,40 14,40 37,20 61,30 63
21 Kalimantan Selatan 2.137 45,40 3,30 44,30 4,00 17,70 47,30 62,60 77
22 Kalimantan Timur 2.644 67,30 3,80 40,60 2,00 13,70 27,20 49,50 138
23 Sulawesi Utara 2.722 56,80 6,10 30,50 5,00 21,40 41,20 48,00 132
24 Sulawesi Tengah 1.278 70,50 4,20 45,40 1,80 13,90 34,00 59,00 102
25 Sulawesi Selatan 6.193 58,60 4,60 38,60 3,20 13,80 40,80 66,20 89
26 Sulawesi Tenggara 796 52,70 4,20 35,00 4,10 16,30 34,30 52,50 115
27 Gorontalo 410 - - - - - - - -
28 Maluku 1.454 37,10 5,50 20,10 9,80 24,70 34,20 27,80 47
29 Maluku Utara 279 - - - - - - - -
30 Irian J aya Barat - 41,90 3,10 49,20 4,30 11,00 25,50 56,80 66
31 Irian J aya Tengah 1.975 70,30 3,00 39,30 1,40 26,30 47,40 44,50 39
32 Irian J aya Timur - 57,10 3,70 31,50 3,40 15,50 24,30 36,20 177
132.213 55,20 4,40 38,70 3,40 22,80 47,90 52,50 189
Sumber: Ditjen Pelayanan Medik, Depkes RI
Indonesia
Lampiran 4.21
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 1.782 1.265 70,99 34.648 49 0,14 49 100,00
2 Sumatera Utara 49.183 6.091 12,38 242.250 46.346 19,13 8.269 17,84
3 Sumatera Barat 20.882 6.515 31,20 94.815 9.007 9,50 5.513 61,21
4 Riau 24.838 6.536 26,31 89.235 19.052 21,35 6.896 36,20
5 J ambi 16.702 2.321 13,90 66.984 11.881 17,74 716 6,03
6 Bengkulu 11.626 4.857 41,78 25.196 3.136 12,45 330 10,52
7 Sumatera Selatan 20.114 1.801 8,95 108.160 608 0,56 562 92,43
8 Lampung 25.555 2.499 9,78 132.881 23.377 17,59 577 2,47
9 Kepulauan Bangka Belitung 929 742 79,87 15.360 81 0,53 71 87,65
10 Kepulauan Riau 2.703 2.595 96,00 30.221 925 3,06 800 86,49
11 DKI J akarta - - - 13.728 - - - -
12 J awa Barat 148.991 38.587 25,90 889.531 163.045 18,33 49.349 30,27
13 J awa Tengah 111.536 32.550 29,18 484.981 32.596 6,72 4.669 14,32
14 DI Yogyakarta 3.542 2.713 76,60 49.076 138 0,28 138 100,00
15 J awa Timur 122.482 82.714 67,53 621.440 26.724 4,30 5.692 21,30
16 Banten 119.806 15.776 13,17 257.173 39.147 15,22 3.755 9,59
17 Bali 4.004 3.336 83,32 118.622 12.841 1636,00 1.036 8,07
18 Nusa Tenggara Barat 34.544 6.062 17,55 93.843 9.066 9,66 2.380 26,25
19 Nusa Tenggara Timur 19.722 4.553 23,09 69.053 24.241 35,10 10.744 44,32
20 Kalimantan Barat 127.935 2.855 2,23 80.774 116.557 144,30 2.980 2,56
21 Kalimantan Tengah 15.752 7.105 45,11 46.916 19.453 41,46 77 0,40
22 Kalimantan Timur 15.567 2.847 18,29 64.935 6.602 10,17 495 7,50
23 Kalimantan Selatan 12.895 4.277 33,17 47.288 12.591 26,63 715 5,68
24 Sulawesi Utara 14.416 3.057 21,21 37.525 10.094 26,90 426 4,22
25 Sulawesi Tengah - - - 51.873 9.308 17,94 6.230 66,93
26 Sulawesi Tenggara 6.848 2.228 32,54 100.809 264 0,26 205 77,65
27 Sulawesi Selatan 11.139 3.814 34,24 34.222 9.130 26,68 1.125 12,32
28 Gorontalo 439 49 11,16 3.014 23 0,76 23 100,00
29 Sulawesi Barat - - - - - - - -
30 Maluku 5.894 613 10,40 10.231 124 1,21 111 89,52
31 Maluku Utara 288 250 86,81 6.174 172 2,79 45 26,16
32 Papua 548 289 52,74 20.085 281 1,40 54 19,22
33 Irian J aya Barat 708 388 54,80 10.369 389 3,75 58 14,91
951.370 249.285 26,20 3.951.412 607.248 15,37 114.090 18,79
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi,per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
Neonatal Risti
Indonesia
JUMLAH DAN PERSENTASE IBU HAMIL DAN NEONATAL RISIKO TINGGI/KOMPLIKASI DITANGAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi Bumil Risti
Bumil Risti Dirujuk dan
Ditangani
Neonatal Risti Dirujuk dan
Ditangani
Jumlah
Neonatal
Lampiran 4.22
PERSENTASE AKSES KETERSEDIAAN DARAH UNTUK BUMIL DAN NEONATUS YANG DIRUJUK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Yang Membutuhkan Akses Yang Mendapatkan Darah %
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam - - -
2 Sumatera Utara 15.665 4.926 31
3 Sumatera Barat - - -
4 Riau - - -
5 J ambi 1.473 442 30
6 Bengkulu 6.411 24
7 Sumatera Selatan 775 775 100
8 Lampung 4 1 25
9 Kepulauan Bangka Belitung 1 1 100
10 Kepulauan Riau - - -
11 DKI J akarta - - -
12 J awa Barat 1.022 821 80
13 J awa Tengah 12.314 9.111 74
14 DI Yogyakarta 1.619 236 15
15 J awa Timur 10.502 7.056 67
16 Banten - - -
17 Bali 2.036 649 32
18 Nusa Tenggara Barat 9.377 420 4
19 Nusa Tenggara Timur 2.532 741 29
20 Kalimantan Barat 1.123 1.116 99
21 Kalimantan Tengah 5.435 501 9
22 Kalimantan Timur 7.119 408 6
23 Kalimantan Selatan - - -
24 Sulawesi Utara 426 426 100
25 Sulawesi Tengah 808 647 80
26 Sulawesi Tenggara 593 280 47
27 Sulawesi Selatan 214 164 77
28 Gorontalo - - -
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku - - -
31 Maluku Utara - - -
32 Papua - - -
33 Irian J aya Barat - - -
79.449 28.745 36
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
Indonesia
No Provinsi
Bumil dan Neonatus yang Dirujuk
Lampiran 4.23
Penulisan Resep
Jumlah Resep Resep Obat Generik %
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 17.201 16.501 95,93
2 Sumatera Utara 557.668 396.621 71,12
3 Sumatera Barat 74.572 34.779 46,64
4 Riau 1.594.075 1.377.752 86,43
5 J ambi 322.440 322.279 99,95
6 Bengkulu 147.891 135.131 91,37
7 Sumatera Selatan 423.122 299.934 70,89
8 Lampung 452.208 123.438 27,30
9 Kep.Bangka Belitung 63.314 63.159 99,76
10 Kep.Riau 240.625 219.759 91,33
11 DKI J akarta - - -
12 J awa Barat 3.339.642 1.863.079 55,79
13 J awa Tengah 7.187.279 4.713.232 65,58
14 DI Yogyakarta 185.341 66.553 35,91
15 J awa Timur 5.218.173 3.626.115 69,49
16 Banten 1.247.104 1.247.119 100,00
17 Bali 3.882.267 3.479.156 89,62
18 Nusa Tenggara Barat 1.392.200 1.266.376 90,96
19 Nusa Tenggara Timur 3.801.044 2.836.902 74,63
20 Kalimantan Barat 1.110.425 1.052.154 94,75
21 Kalimantan Tengah 167.353 138.084 82,51
22 Kalimantan Timur 1.099.814 845.967 76,92
23 Kalimantan Selatan 380.248 109.784 28,87
24 Sulawesi Utara 662.754 579.485 87,44
25 Sulawesi Tengah 81.968 36.150 44,10
26 Sulawesi Tenggara 456.220 301.165 66,01
27 Sulawesi Selatan 601.421 517.337 86,02
28 Gorontalo 81.851 81.851 100,00
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 558.909 538.239 96,30
31 Maluku Utara 27.527 18.764 68,17
32 Papua 346.003 338.274 97,77
33 Irian J aya Barat 101.141 5.914 5,85
35.821.800 26.651.053 74,40
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
Indonesia
JUMLAH DAN PERSENTASE PENULISAN RESEP OBAT GENERIK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi
Lampiran 4.24
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 40 40 100,00 52 19 36,54
2 Sumatera Utara 111 82 73,87 184 152 82,61
3 Sumatera Barat 19 10 52,63 848 70 8,25
4 Riau 158 142 89,87 73 73 100,00
5 J ambi 53 42 79,25 200 189 94,50
6 Bengkulu 500 398 79,60 49 49 100,00
7 Sumatera Selatan 328 315 96,04 49 49 100,00
8 Lampung 137 135 98,54 105 73 69,52
9 Kepulauan Bangka Belitung 8 1 12,50 9 9 100,00
10 Kepulauan Riau - - - 7 7 100,00
11 DKI J akarta 10 10 100,00 - - -
12 J awa Barat 313 207 66,13 478 304 63,60
13 J awa Tengah 351 221 62,96 539 493 91,47
14 DI Yogyakarta 140 37 26,43 25 17 68,00
15 J awa Timur 1.226 943 76,92
16 Banten 313 260 83,07 107 67 62,62
17 Bali 45 36 80,00 207 205 99,03
18 Nusa Tenggara Barat - - - 189 175 92,59
19 Nusa Tenggara Timur 209 135 64,59 223 142 63,68
20 Kalimantan Barat 80 38 47,50 37 17 45,95
21 Kalimantan Tengah 137 43 31,39 286 131 45,80
22 Kalimantan Timur 65 54 83,08 42 37 88,10
23 Kalimantan Selatan 70 60 85,71 180 180 100,00
24 Sulawesi Utara 24 19 79,17 40 34 85,00
25 Sulawesi Tengah 85 25 29,41 42 35 83,33
26 Sulawesi Tenggara 69 34 49,28 343 200 58,31
27 Sulawesi Selatan 64 56 87,50 103 89 86,41
28 Gorontalo 4 2 50,00 18 13 72,22
29 Sulawesi Barat - - - - - -
30 Maluku 17 1 5,88 370 22 5,95
31 Maluku Utara 9 7 77,78 30 12 40,00
32 Papua 9 6 66,67 12 5 41,67
33 Irian J aya Barat 19 15 78,95 7 5 71,43
3.387 2.431 71,77 6.080 3.816 62,76
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
Jumlah
Jumlah Desa/Kel
Ditangani <24 Jam
%
Jumlah
Desa/Kelurahan
%
Indonesia
PERSENTASE KECAMATAN BEBAS RAWAN GIZI DAN DESA/KELURAHAN DENGAN KLB DITANGANI <24 JAM
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Kecamatan Bebas Rawan Gizi Desa/Kelurahan dengan KLB
No Provinsi Jumlah Kecamatan
Lampiran 4.25
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 629 237 37,68 58.137 9.877 16,99
2 Sumatera Utara 9.726 4.977 51,17 59.170 36.534 61,74
3 Sumatera Barat 2.359 1.889 80,08 49.025 18.898 38,55
4 Riau 1.613 1.177 72,97 28.541 6.715 23,53
5 J ambi 1.194 839 70,27 14.967 7.160 47,84
6 Bengkulu 813 518 63,71 7.644 3.853 50,41
7 Sumatera Selatan 2.156 1.914 88,78 54.332 25.823 47,53
8 Lampung 3.305 2.065 62,48 122.269 17.794 14,55
9 Kepulauan Bangka Belitung 409 381 93,15 6.083 4.832 79,43
10 Kepulauan Riau 839 152 18,12 61.657 2.049 3,32
11 DKI J akarta 1.353 818 60,46 1.015 1.015 100,00
12 J awa Barat 4.849 3.468 71,52 77.331 54.672 70,70
13 J awa Tengah 9.086 6.682 73,54 1.315.624 250.668 19,05
14 DI Yogyakarta 730 495 67,81 14.490 1.313 9,06
15 J awa Timur 8.834 6.596 74,67 159.575 84.370 52,87
16 Banten 1.539 1.157 75,18 59.829 15.759 26,34
17 Bali 1.864 1.141 61,21 23.724 9.563 40,31
18 Nusa Tenggara Barat 1.934 1.462 75,59 62.351 56.075 89,93
19 Nusa Tenggara Timur 954 535 56,08 71.422 11.179 15,65
20 Kalimantan Barat 2.452 2.083 84,95 5.938 5.581 93,99
21 Kalimantan Tengah 881 662 75,14 24.077 12.559 52,16
22 Kalimantan Timur 1.106 707 63,92 88.036 9.074 10,31
23 Kalimantan Selatan 2.235 1.727 77,27 29.664 16.415 55,34
24 Sulawesi Utara 2.763 2.240 81,07 77.467 66.747 86,16
25 Sulawesi Tengah - - - - - -
26 Sulawesi Tenggara 1.025 886 86,44 28.159 7.741 27,49
27 Sulawesi Selatan 3.752 2.296 61,19 27.779 20.768 74,76
28 Gorontalo 358 182 50,84 1.205 707 58,67
29 Sulawesi Barat - - - - - -
30 Maluku 1.113 365 32,79 22.266 1.045 4,69
31 Maluku Utara 286 177 61,89 866 72 8,31
32 Papua 656 374 57,01 146.208 36.318 24,84
33 Irian J aya Barat 273 257 94,14 82.536 44.455 53,86
Indonesia 71.086 48.459 68,17 2.781.387 839.631 30,19
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belumditerima
% Penderita
Ditangani
PERSENTASE TB PARU SEMBUH, DAN PNEUMONIA BALITA DITANGANI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
TB Paru Pneumonia Pada Balita
No
% Sembuh Sembuh Diobati
Provinsi
Jumlah Penderita Penderita Ditangani
Lampiran 4.25a
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 4.863 2.810 1.971 40,5 1.000 50,7
2 Sumatera Utara 14.310 13.891 11.453 80,0 7.952 69,4
3 Sumatera Barat 5.149 4.590 3.129 60,8 2.050 65,5
4 Riau 6.175 4.364 2.495 40,4 1.964 78,7
5 J ambi 2.956 2.257 1.673 56,6 1.444 86,3
6 Sumatera Selatan 8.468 6.607 4.371 51,6 3.617 82,7
7 Kepulauan Bangka Belitung 1.194 1.121 729 61,1 666 91,4
8 Bengkulu 1.916 1.502 1.112 58,0 729 65,6
9 Lampung 8.201 4.946 3.100 37,8 1.790 57,7
10 Banten 9.860 9.855 5.354 54,3 2.992 55,9
11 DKI J akarta 10.111 14.974 6.479 64,1 14.807 228,5
12 J awa Barat 43.159 40.435 21.661 50,2 3.196 14,8
13 J awa Tengah 37.576 29.745 14.373 38,3 11.652 81,1
14 DI Yogyakarta 3.643 2.353 1.300 35,7 793 61,0
15 J awa Timur 40.925 27.225 16.460 40,2 12.817 77,9
16 Kalimantan Barat 4.925 3.969 3.052 62,0 2.612 85,6
17 Kalimantan Tengah 2.291 1.744 1.408 61,5 948 67,3
18 Kalimantan Selatan 3.604 4.566 2.537 70,4 2.204 86,9
19 Kalimantan Timur 3.013 1.990 1.249 41,5 1.012 81,0
20 Sulawesi Utara 2.402 3.859 3.056 127,2 2.127 69,6
21 Gorontalo 1.013 1.334 1.088 107,4 731 67,2
22 Sulawesi Tengah 2.649 2.740 1.751 66,1 1.087 62,1
23 Sulawesi Selatan 9.793 9.467 8.507 86,9 8.054 94,7
24 Sulawesi Tenggara 2.255 2.092 1.562 69,3 1.434 91,8
25 Bali 3.773 2.077 1.080 28,6 996 92,2
26 Nusa Tenggara Barat 4.886 4.445 2.921 59,8 2.579 88,3
27 Nusa Tenggara Timur 4.669 3.516 1.971 42,2 1.499 76,1
28 Maluku 1.426 1.198 657 46,1 393 59,8
29 Maluku Utara 902 728 538 59,7 208 38,7
30 Papua 2.769 4.258 1.944 70,2 1.184 60,9
248.877 214.658 128.981 51,8 94.537 73,3
Sumber : Ditjen P2M & PL, Depkes RI
Keterangan: *) CDR: Case Detection Rate
Abs %
Indonesia
HASIL CAKUPAN PENEMUAN KASUS DAN EVALUASI HASIL PENGOBATAN PENYAKIT TB PARU
MENURUT TAHUN 2004
No Provinsi
Perkiraan
BTA Pos
Cakupan Penemuan Konversi
Semua
Kasus
BTA Pos
CDR *)
%
Lampiran 4.26
HIV/AIDS DBD
Jumlah
Kasus
Ditangani % Ditangani
Jumlah
Kasus
Diobati % Diobati
Jumlah
Kasus
Ditangani % Ditangani
Jumlah
Diare Pada
Balita
Balita
Ditangani
% Balita
Ditangani
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Nanggroe Aceh Darussalam - - - - - - 571 88 15,41 62.582 36.423 58,20
2 Sumatera Utara 32 32 100,00 1.180 1.155 97,88 1.297 1.297 100,00 140.993 118.227 83,85
3 Sumatera Barat 27 27 100,00 3 3 100,00 514 514 100,00 39.653 39.653 100,00
4 Riau 85 23 27,06 616.146 723 0,12 823 791 96,11 132.067 69.861 52,90
5 J ambi 2 2 100,00 145 105 72,41 290 290 100,00 75.269 37.556 49,90
6 Bengkulu 4 1 25,00 9 6 66,67 141 141 100,00 28.504 26.854 94,21
7 Sumatera Selatan 120 100 83,33 424 411 96,93 1.227 1.162 94,70 132.489 80.504 60,76
8 Lampung 19 19 100,00 946 946 100,00 912 912 100,00 70.280 68.604 97,62
9 Kepulauan Bangka Belitung 145 112 77,24 564 16 2,84 .. .. .. 11.347 6.982 61,53
10 Kepulauan Riau 317 317 100,00 4.411 4.361 98,87 342 342 100,00 31.988 12.737 39,82
11 DKI J akarta 205 205 100,00 225 225 100,00 6.918 6.918 100,00 11.379 11.379 100,00
12 J awa Barat 777 515 66,28 6.168 1.553 25,18 16.930 16.759 98,99 2.727.439 728.231 26,70
13 J awa Tengah 29 29 100,00 828 815 98,43 6.219 5.970 96,00 1.593.282 249.552 15,66
14 DI Yogyakarta 89 89 100,00 87 87 100,00 1.477 1.477 100,00 53.328 16.921 31,73
15 J awa Timur 196 151 77,04 5.725 5.278 92,19 7.111 6.918 97,29 535.976 514.673 96,03
16 Banten 127 72 56,69 363 119 32,78 2.276 2.128 93,50 98.311 82.292 83,71
17 Bali 1.090 1.035 94,95 6.485 6.425 99,07 12.990 3.790 29,18 82.593 56.156 67,99
18 Nusa Tenggara Barat 11 11 100,00 187 181 96,79 732 732 100,00 93.480 90.113 96,40
19 Nusa Tenggara Timur 19 18 94,74 494 371 75,10 598 586 97,99 120.396 44.870 37,27
20 Kalimantan Barat 39 39 100,00 732 732 100,00 316 309 97,78 44.233 37.790 85,43
21 Kalimantan Tengah 222 222 100,00 237 225 94,94 449 449 100,00 28.662 17.051 59,49
22 Kalimantan Timur 275 74 26,91 1.994 1.994 100,00 2.390 2.387 99,87 52.988 38.159 72,01
23 Kalimantan Selatan 1 1 100,00 27 27 100,00 398 398 100,00 39.724 33.688 84,81
24 Sulawesi Utara 23 23 100,00 3.077 3.077 100,00 266 257 96,62 24.521 18.704 76,28
25 Sulawesi Tengah 9 9 100,00 209 209 100,00 .. .. .. 79.285 39.366 49,65
26 Sulawesi Tenggara - - - 471 460 97,66 70 70 100,00 31.167 20.412 65,49
27 Sulawesi Selatan 82 82 100,00 130 130 100,00 6.921 6.917 99,94 77.405 69.756 90,12
28 Gorontalo - - - - - - 1 1 100,00 4.311 2.047 47,48
29 Sulawesi Barat - - - - - - - - - - - -
30 Maluku 142 142 100,00 17 11 64,71 - - - 22.995 5.889 25,61
31 Maluku Utara - - - 3 2 66,67 59 59 100,00 5.094 4.117 80,82
32 Papua 420 353 84,05 2.656 2.656 100,00 16 16 100,00 22.286 8.620 38,68
33 98 98 100,00 302 205 67,88 234 234 100,00 4.777 3.024 63,30
Indonesia 4.605 3.801 82,54 654.245 32.508 4,97 72.488 61.912 85,41 6.478.804 2.590.211 39,98
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belumditerima
HIV/AIDS DITANGANI, INFEKSI MENULAR SEKSUAL DIOBATI, DBD DAN DIARE PADA BALITA YANG DITANGANI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi
IMS Diare
Lampiran 4.27
PERSENTASE DONOR DARAH DISKRINING TERHADAP HIV-AIDS
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam - - -
2 Sumatera Utara 1.822 1.822 100
3 Sumatera Barat 17.321 17.321 100
4 Riau 2.682 2.648 99
5 J ambi 374 374 100
6 Bengkulu 4.508 4.508 100
7 Sumatera Selatan
8 Lampung 22.494 22.494 100
9 Kepulauan Bangka Belitung 4.773 4.773 100
10 Kepulauan Riau 520 500 96
11 DKI J akarta - - -
12 J awa Barat 31.361 31.138 99
13 J awa Tengah 157.193 99.367 63
14 DI Yogyakarta - - -
15 J awa Timur 93.079 87.629 94
16 Banten 4 4 100
17 Bali 7.261 7.161 99
18 Nusa Tenggara Barat 10.226 8.099 79
19 Nusa Tenggara Timur 2.131 1.921 90
20 Kalimantan Barat 6.619 6.619 100
21 Kalimantan Tengah 214 214 100
22 Kalimantan Timur 4.274 4.274 100
23 Kalimantan Selatan 3.415 3.315 97
24 Sulawesi Utara 2.453 2.453 100
25 Sulawesi Tengah 915 915 100
26 Sulawesi Tenggara 25.125 915 4
27 Sulawesi Selatan 50 50 100
28 Gorontalo - - -
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku - - -
31 Maluku Utara - - -
32 Papua 141 141 100
33 Irian J aya Barat 493 493 100
399.448 309.148 77
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Jumlah Pendonor Jumlah Sampel Darah Diperiksa % Sampel Darah Diperiksa
Keterangan : (-) data belumditerima
No Provinsi
Indonesia
Lampiran 4.28
PERSENTASE PENDERITA MALARIA DIOBATI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Penderita Malaria
Klinis + Positif Diobati % Diobati
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 3.727 2.891 77,57
2 Sumatera Utara 23.442 20.235 86,32
3 Sumatera Barat 5.258 5.258 100,00
4 Riau 27.995 25.009 89,33
5 J ambi 31.932 31.610 98,99
6 Bengkulu 9.623 9.623 100,00
7 Sumatera Selatan 13.562 13.562 100,00
8 Lampung 38.338 37.186 97,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 145.714 17.354 11,91
10 Kepulauan Riau 16.349 12.266 75,03
11 DKI J akarta 0,00
12 J awa Barat 130.385 3.199 2,45
13 J awa Tengah 157.193 99.367 63,21
14 DI Yogyakarta 25 25 100,00
15 J awa Timur 61.814 6.139 9,93
16 Banten 197 197 100,00
17 Bali 42.486 30.981 72,92
18 Nusa Tenggara Barat 81.807 68.369 83,57
19 Nusa Tenggara Timur 1.076.298 415.181 38,57
20 Kalimantan Barat 90.340 88.254 97,69
21 Kalimantan Tengah 22.949 20.741 90,38
22 Kalimantan Timur 28.151 17.863 63,45
23 Kalimantan Selatan 7.437 7.046 94,74
24 Sulawesi Utara 435.124 22.448 5,16
25 Sulawesi Tengah 312.302 51.683 16,55
26 Sulawesi Tenggara 25.313 15.313 60,49
27 Sulawesi Selatan 4.787 4.253 88,84
28 Gorontalo 22.103 1.992 9,01
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 225.527 18.922 8,39
31 Maluku Utara 5.234 5.234 100,00
32 Papua 249.999 172.208 68,88
33 Irian J aya Barat 58.461 41.826 71,55
3.353.872 1.266.235 37,75
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
No Provinsi
Indonesia
Lampiran 4.29
PERSENTASE PENDERITA KUSTA SELESAI BEROBAT (RFT)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Penderita RFT % RFT
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 143 123 86,01
2 Sumatera Utara 3.156 3.087 97,81
3 Sumatera Barat 133 126 94,74
4 Riau 81 52 64,20
5 J ambi 115 80 69,57
6 Bengkulu 12 9 75,00
7 Sumatera Selatan 117 84 71,79
8 Lampung 605 468 77,36
9 Kepulauan Bangka Belitung 6 5 83,33
10 Kepulauan Riau 26 24 92,31
11 DKI J akarta 1.053 713 67,71
12 J awa Barat 1.909 1.669 87,43
13 J awa Tengah 1.378 1.066 77,36
14 DI Yogyakarta 29 15 51,72
15 J awa Timur 4.106 3.810 92,79
16 Banten 103 101 98,06
17 Bali 206 99 48,06
18 Nusa Tenggara Barat 265 199 75,09
19 Nusa Tenggara Timur 943 160 16,97
20 Kalimantan Barat 168 133 79,17
21 Kalimantan Tengah 123 46 37,40
22 Kalimantan Timur 399 134 33,58
23 Kalimantan Selatan 325 250 76,92
24 Sulawesi Utara 391 244 62,40
25 Sulawesi Tengah 589 475 80,65
26 Sulawesi Tenggara 85 71 83,53
27 Sulawesi Selatan 691 545 78,87
28 Gorontalo 46 14 30,43
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 829 182 21,95
31 Maluku Utara 76 31 40,79
32 Papua 618 447 72,33
33 Irian J aya Barat 557 255 45,78
19.283 14.717 76,32
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
No Provinsi
Kusta
Indonesia
Lampiran 4.30
KASUS PENYAKIT FILARIASIS DITANGANI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Jumlah Ditangani % Ditangani
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 44 23 52,27
2 Sumatera Utara 111 102 91,89
3 Sumatera Barat 13 13 100,00
4 Riau 206 112 54,37
5 J ambi 99 99 100,00
6 Bengkulu 6 6 100,00
7 Sumatera Selatan 138 58 42,03
8 Lampung 54 48 88,89
9 Kepulauan Bangka Belitung 92 56 60,87
10 Kepulauan Riau 35 33 94,29
11 DKI J akarta 0,00
12 J awa Barat 59 38 64,41
13 J awa Tengah 83 82 98,80
14 DI Yogyakarta 0,00
15 J awa Timur 78 64 82,05
16 Banten 50 40 80,00
17 Bali 14 14 100,00
18 Nusa Tenggara Barat 7 5 71,43
19 Nusa Tenggara Timur 26.983 13.346 49,46
20 Kalimantan Barat 87 78 89,66
21 Kalimantan Tengah 76 72 94,74
22 Kalimantan Timur 79.494 67.798 85,29
23 Kalimantan Selatan 44 34 77,27
24 Sulawesi Utara 3 3 100,00
25 Sulawesi Tengah 4.114 134 3,26
26 Sulawesi Tenggara 95 47 49,47
27 Sulawesi Selatan 6 6 100,00
28 Gorontalo 229 86 37,55
29 Sulawesi Barat 0,00
30 Maluku 303 303 100,00
31 Maluku Utara - - -
32 Papua 153 153 100,00
33 Irian J aya Barat 1.500 125 8,33
114.176 82.978 72,68
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
Indonesia
No Provinsi
Penderita Penyakit Filariasis
Lampiran 4.31
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28)
1 Nanggroe Aceh Darussalam - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
2 Sumatera Utara 32 19 59,38 30 93,75 0 0,00 31 96,88 14 43,75 2 6,25 40 21 52,50 32 80,00 0 0,00 40 100,00 21 52,50 7 17,50
3 Sumatera Barat 40 39 97,50 13 32,50 0 0,00 34 85,00 34 85,00 33 82,50 40 32 80,00 36 90,00 0 0,00 26 65,00 20 50,00 7 17,50
4 Riau 40 19 47,50 19 47,50 0 0,00 0 0,00 0 0,00 40 100,00 40 18 45,00 38 95,00 2 5,00 39 97,50 18 45,00 1 2,50
5 J ambi 15 1 6,67 0 0,00 0 0,00 0 0,00 0 0,00 14 93,33 40 39 97,50 35 87,50 35 87,50 29 72,50 29 72,50 2 5,00
6 Sumatera Selatan 40 18 45,00 17 42,50 0 0,00 21 52,50 11 27,50 23 57,50 40 36 90,00 24 60,00 24 60,00 33 82,50 30 75,00 16 40,00
7 Bengkulu - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
8 Lampung 80 15 18,75 32 40,00 0 0,00 37 46,25 12 15,00 35 43,75 0 - - - - - - - - - - - -
9 Kepulauan Bangka Belitung 60 14 23,33 4 6,67 0 0,00 0 0,00 0 0,00 55 91,67 20 20 100,00 15 75,00 15 75,00 19 95,00 19 95,00 3 15,00
10 Kepulauan Riau - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
11 DKI J akarta - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
12 J awa Barat 40 27 67,50 16 40,00 14 35,00 20 50,00 11 27,50 20 50,00 40 40 100,00 20 50,00 10 25,00 20 50,00 20 50,00 14 35,00
13 J awa Tengah - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
14 DI Yogyakarta 40 30 75,00 33 82,50 1 2,50 35 87,50 27 67,50 17 42,50 40 30 75,00 21 52,50 21 52,50 40 100,00 36 90,00 16 40,00
15 J awa Timur 27 21 77,78 25 92,59 0 0,00 22 81,48 21 77,78 9 33,33 40 37 92,50 18 45,00 18 45,00 27 67,50 35 87,50 18 45,00
16 Banten 40 39 97,50 6 15,00 10 25,00 28 70,00 27 67,50 27 67,50 40 37 92,50 20 50,00 20 50,00 39 97,50 36 90,00 39 97,50
17 Bali 40 29 72,50 19 47,50 7 17,50 17 42,50 14 35,00 20 50,00 40 18 45,00 37 92,50 18 45,00 38 95,00 8 20,00 1 2,50
18 Nusa Tenggara Barat 40 35 87,50 24 60,00 5 12,50 26 65,00 20 50,00 14 35,00 40 35 87,50 19 47,50 7 17,50 40 100,00 35 87,50 13 32,50
19 Nusa Tenggara Timur - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
20 Kalimantan Barat - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
21 Kalimanatan Tengah 40 34 85,00 21 52,50 7 17,50 26 65,00 27 67,50 11 27,50 40 23 57,50 22 55,00 17 42,50 36 90,00 19 47,50 8 20,00
22 Kalimantan Selatan 40 32 80,00 16 40,00 0 0,00 37 92,50 29 72,50 24 60,00 40 32 80,00 32 80,00 5 12,50 28 70,00 25 62,50 4 10,00
23 Kalimantan Timur 38 33 86,84 13 34,21 18 47,37 21 55,26 16 42,11 33 86,84 40 24 60,00 27 67,50 0 0,00 27 67,50 35 87,50 8 20,00
24 Sulawesi Utara 40 40 100,00 23 57,50 0 0,00 38 95,00 38 95,00 19 47,50 40 18 45,00 38 95,00 38 95,00 39 97,50 18 45,00 3 7,50
25 Sulawesi Tengah - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
26 Sulawesi Selatan 40 40 100,00 26 65,00 20 50,00 38 95,00 38 95,00 13 32,50 40 40 100,00 15 37,50 2 5,00 40 100,00 40 100,00 7 17,50
27 Sulawesi Tenggara 40 20 50,00 19 47,50 10 25,00 38 95,00 19 47,50 8 20,00 40 18 45,00 16 40,00 1 2,50 20 50,00 18 45,00 2 5,00
28 Gorontalo - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
29 Maluku - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
30 Maluku Utara - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
31 Irian J aya - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
772 505 65,41 356 46,11 92 11,92 469 60,75 358 46,37 417 54,02 700 518 74,00 465 66,43 233 33,29 580 82,86 462 66,00 169 24,14
Sumber : Ditjen P2M &PL, Depkes R.I
Keterangan: *) MTBS: Puskesmas yang melaksanakan Manajemen Terpadu Balita Sakit
CAKUPAN PEMBERIAN OBAT-OBATAN PADA PENDERITA DIARE DI PUSKESMAS MTBS DAN NON MTBS
Puskesmas MTBS *) Puskesmas NON MTBS
Oralit + Memberi Memberi Oralit +
Anti Biotika Oralit
Jumlah
(N)
Indonesia
Jumlah
(N)
Provinsi No
Obat Lain Obat Rasional
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Oralit Antibiotika Anti Diare Obat Lain Obat Lain Anti Diare
Obat Lain Obat Rasional
Lampiran 4.31.a
P M CFR P M CFR P M CFR P M CFR
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 1.003 11 1,10 413 10 2,42 401 10 2,49 - - -
2 Sumatera Utara 25 3 12,00 30 3 10,00 67 2 2,99 - - -
3 Sumatera Barat 332 17 5,12 52 2 3,85 442 7 1,58 367 10 2,72
4 Riau 355 4 1,13 4 1 25,00 113 5 4,42 - - -
5 J ambi - - - - - - 9 0 0,00 131 5 3,82
6 Sumatera Selatan - - - - - - 442 1 0,23 - - -
7 Bengkulu - - - 591 10 1,69 - - - - - -
8 Lampung 70 0 0,00 - - - 20 1 5,00 133 7 5,26
9 Kepulauan Bangka Belitung - - - - - - - - - - - -
10 Kepulauan Riau - - - - - - - - - - - -
11 DKI J akarta - - - - - - - - - - - -
12 J awa Barat 952 19 2,00 692 9 1,30 522 7 1,34 51 0 0,00
13 J awa Tengah - - - - - - 53 4 7,55 137 4 2,92
14 DI Yogyakarta 37 1 2,70 - - - 104 1 0,96 7 0 0,00
15 J awa Timur 323 11 3,41 - - - 248 2 0,81 349 4 1,15
16 Banten - - - - - - 161 4 2,48 - 0 0,00
17 Bali 367 0 0,00 106 1 0,94 68 0 0,00 199 0 0,00
18 Nusa Tenggara Barat - - - - - - - - - 15 0 0,00
19 Nusa Tenggara Timur 293 25 8,53 2.988 28 0,94 456 8 1,75 - 0 0,00
20 Kalimantan Barat 346 5 1,45 49 3 6,12 - - - 256 0 0,00
21 Kalimantan Tengah - - - - - - 54 6 11,11 - - -
22 Kalimantan Selatan 325 4 1,23 - - - - - - 373 7 1,88
23 Kalimantan Timur - - - - - - 352 17 4,83 325 1 0,31
24 Sulawesi Utara - - - - - - 523 2 0,38 - - -
25 Sulawesi Tengah - - - 89 3 3,37 129 11 8,53 378 5 1,32
26 Sulawesi Selatan - - - - - - - - - 42 8 19,05
27 Sulawesi Tenggara - - - - - - 170 0 0,00 369 0 0,00
28 Gorontalo - - - - - - - - - - - -
29 Maluku - - - 296 8 2,70 - - - - 0 0,00
30 Maluku Utara - - - 49 4 8,16 - - - - 0 0,00
31 Irian J aya - - - 126 12 9,52 38 5 13,16 - 0 0,00
4.428 100 2,26 5.485 94 1,71 4.372 93 2,13 3.132 51 1,63
Sumber : Ditjen P2M & PL, Depkes RI
P =Penderita
M =Meninggal
C =Case Fatality Rate
KEJADIAN LUAR BIASA ( KLB ) DIARE
TAHUN 2001 - 2004
Indonesia
No
2001 2002 2003 2004
Provinsi
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 1.759 841 47,81
2 Sumatera Utara 26.477 15.360 58,01
3 Sumatera Barat 1.842 1.415 76,82
4 Riau 6.348 2.681 42,23
5 J ambi 2.028 983 48,47
6 Bengkulu 1.037 799 77,05
7 Sumatera Selatan 6.446 3.579 55,52
8 Lampung 12.137 7.221 59,50
9 Kepulauan Bangka Belitung 2.576 1.677 65,10
10 Kepulauan Riau 687 294 42,79
11 DKI J akarta 3.404 628 18,45
12 J awa Barat 51.127 30.348 59,36
13 J awa Tengah 77.175 52.428 67,93
14 DI Yogyakarta 1.976 802 40,59
15 J awa Timur 829.946 252.746 30,45
16 Banten 13.192 5.676 43,03
17 Bali 55.094 37.962 68,90
18 Nusa Tenggara Barat 4.181 2.837 67,85
19 Nusa Tenggara Timur 5.208 3.428 65,82
20 Kalimantan Barat 7.798 4.860 62,32
21 Kalimantan Tengah 17.690 9.469 53,53
22 Kalimantan Timur 4.966 4.061 81,78
23 Kalimantan Selatan 9.204 7.131 77,48
24 Sulawesi Utara 4.241 3.017 71,14
25 Sulawesi Tengah 3.204 2.061 64,33
26 Sulawesi Tenggara 2.920 1.668 57,12
27 Sulawesi Selatan 14.363 10.275 71,54
28 Gorontalo 489 274 56,03
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 360 360 100,00
31 Maluku Utara 954 273 28,62
32 Papua 550 364 66,18
33 Irian J aya Barat 25.133 23.634 94,04
1.194.512 489.152 40,95
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
(5)
No Provinsi
Indonesia
Jumlah
(3)
Dibina
(4)
Institusi
%
Lampiran 4.32
PERSENTASE INSTITUSI DIBINA KESEHATAN LINGKUNGANNYA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Lampiran 4.33
JUMLAH RUMAH/BANGUNAN YANG DIPERIKSA JENTIK NYAMUK AEDES
DAN PERSENTASE RUMAH/BANGUNAN BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 92.855 29.031 31,26
2 Sumatera Utara 394.644 294.359 74,59
3 Sumatera Barat 1.200 1.028 85,67
4 Riau 224.785 101.855 45,31
5 J ambi 147.732 53.874 36,47
6 Bengkulu 69.547 40.747 58,59
7 Sumatera Selatan 29.238 22.778 77,91
8 Lampung 165.435 43.178 26,10
9 Kepulauan Bangka Belitung 28.751 19.887 69,17
10 Kepulauan Riau 109.470 87.673 80,09
11 DKI J akarta 155.410 105.351 67,79
12 J awa Barat 2.192.525 761.599 34,74
13 J awa Tengah 1.704.789 1.270.027 74,50
14 DI Yogyakarta 307.219 173.139 56,36
15 J awa Timur 2.910.836 2.331.317 80,09
16 Banten 704.926 313.220 44,43
17 Bali 102.442 69.573 67,91
18 Nusa Tenggara Barat 160.977 121.810 75,67
19 Nusa Tenggara Timur 26.316 13.687 52,01
20 Kalimantan Barat 237.165 154.419 65,11
21 Kalimantan Tengah 14.768 9.696 65,66
22 Kalimantan Timur 55.019 36.248 65,88
23 Kalimantan Selatan 34.833 29.915 85,88
24 Sulawesi Utara 102.602 70.850 69,05
25 Sulawesi Tengah 43.439 27.824 64,05
26 Sulawesi Tenggara 111.801 55.285 49,45
27 Sulawesi Selatan 166.509 99.976 60,04
28 Gorontalo - - -
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 10.668 7.369 69,08
31 Maluku Utara 17.632 3.295 18,69
32 Papua 35.647 27.104 76,03
33 Irian J aya Barat 109.470 87.673 80,09
10.468.650 6.463.787 61,74
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
Indonesia
No Provinsi Rumah/Bangunan Diperiksa
Rumah/Bangunan Bebas Jentik
Lampiran 4.34
JUMLAH DAN PERSENTASE BALITA YANG NAIK BERAT BADANNYA DAN BALITA BAWAH GARIS MERAH
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Ditimbang Jumlah BB Naik % BB Naik BGM % BGM
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 122.229 75.552 61,81 - -
2 Sumatera Utara 716.527 590.999 82,48 - -
3 Sumatera Barat 433.202 174.875 40,37 231.168 53,36
4 Riau 332.776 226.316 68,01 5.475 1,65
5 J ambi 168.466 138.490 82,21 2.115 1,26
6 Bengkulu 81.206 48.121 59,26 942 1,16
7 Sumatera Selatan 193.780 128.667 66,40 3.343 1,73
8 Lampung 399.452 276.631 69,25 11.790 2,95
9 Kepulauan Bangka Belitung 43.394 30.463 70,20 0,00
10 Kepulauan Riau 46.758 38.625 82,61 903 1,93
11 DKI J akarta 72.288 46.343 64,11 1.570 2,17
12 J awa Barat 3.179.570 1.916.379 60,27 360.215 18,80
13 J awa Tengah 2.419.648 1.799.498 74,37 153.026 6,32
14 DI Yogyakarta 170.542 108.995 63,91 1.740 1,02
15 J awa Timur 3.791.414 2.349.431 61,97 101.214 2,67
16 Banten 700.865 519.663 74,15 51.751 7,38
17 Bali 672.405 399.429 59,40 6.073 0,90
18 Nusa Tenggara Barat 224.372 146.893 65,47 3.658 1,63
19 Nusa Tenggara Timur 198.958 96.815 48,66 9.617 4,83
20 Kalimantan Barat 144.150 110.585 76,72 8.286 5,75
21 Kalimantan Tengah 197.281 142.174 72,07 2.171 1,10
22 Kalimantan Timur 299.457 213.380 71,26 7.755 2,59
23 Kalimantan Selatan 143.907 86.724 60,26 2.425 1,69
24 Sulawesi Utara 194.084 163.440 84,21 994 0,51
25 Sulawesi Tengah 113.114 80.916 71,53 6.101 5,39
26 Sulawesi Tenggara 275.702 191.469 69,45 5.522 2,00
27 Sulawesi Selatan 94.539 71.064 75,17 0,00
28 Gorontalo 19.917 15.384 77,24 1.263 6,34
29 Sulawesi Barat 0,00 0,00
30 Maluku 64.747 41.562 64,19 8.639 13,34
31 Maluku Utara 14.663 10.672 72,78 427 2,91
32 Papua 46.559 21.557 46,30 1.156 2,48
33 Irian J aya Barat 14.959 7.690 51,41 1.538 10,28
15.590.931 10.268.802 65,86 990.877 6,36
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi,per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
No Provinsi
Balita
Indonesia
Lampiran 4.35
Jumlah Jumlah
Bayi Anak Balita
( 6-11 bln) (1-4 Thn)
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Nanggroe Aceh Darussalam - - - - - - - - - -
2 Sumatera Utara 86.001 453.401 47.438 55,16 47.302 55,00 327.695 72,27 345.832 76,28
3 Sumatera Barat 29.600 147.942 22.612 76,39 23.135 78,16 125.165 84,60 128.875 87,11
4 Riau 72.246 386.788 54.314 75,18 57.633 79,77 291.733 75,42 298.371 77,14
5 Sumatera Selatan 53.404 201.959 36.986 69,26 41.410 77,54 159.675 79,06 170.404 84,38
6 J ambi 17.682 82.536 13.266 75,03 13.143 74,33 67.141 81,35 68.589 83,10
7 Bengkulu 36.614 109.585 24.055 65,70 24.663 67,36 71.384 65,14 74.269 67,77
8 Lampung 128.579 491.270 71.656 55,73 68.475 53,26 302.560 61,59 333.926 67,97
9 Kepulauan Bangka Belitung 13.695 56.219 10.992 80,26 10.503 76,69 51.021 90,75 42.225 75,11
10 Kepulauan Riau 27.034 118.896 19.101 70,66 19.055 70,49 96.453 81,12 99.133 83,38
11 DKI J akarta 36.993 76.918 9.398 25,40 9.840 26,60 55.904 72,68 57.346 74,55
12 J awa Barat 566.441 2.589.159 479.292 84,61 470.043 82,98 2.103.314 81,24 2.250.166 86,91
13 J awa Tengah 1.455.406 2.020.818 1.410.390 96,91 1.418.095 97,44 1.927.668 95,39 1.944.472 96,22
14 DI Yogyakarta 26.208 147.397 23.602 90,06 23.991 91,54 129.709 88,00 129.524 87,87
15 J awa Timur 444.482 1.799.418 264.559 59,52 258.083 58,06 1.425.562 79,22 1.454.911 80,85
16 Banten 61.271 290.301 49.755 81,20 49.458 80,72 195.100 67,21 203.350 70,05
17 Bali 24.051 171.288 22.895 95,19 22.356 92,95 157.361 91,87 162.077 94,62
18 Kalimantan Barat 64.490 314.221 35.391 54,88 36.790 57,05 221.497 70,49 220.633 70,22
19 Kalimanatan Tengah 30.320 132.039 18.427 60,78 18.405 60,70 85.866 65,03 93.472 70,79
20 Kalimanatan Selatan 51.527 235.114 42.860 83,18 43.096 83,64 199.265 84,75 202.592 86,17
21 Kalimantan Timur 32.531 231.779 14.237 43,76 23.284 71,57 178.021 76,81 134.774 58,15
22 Nusa Tenggara Barat 65.709 308.744 62.431 95,01 61.462 93,54 292.366 94,70 298.285 96,61
23 Nusa Tenggara Timur 44.031 222.957 32.455 73,71 34.073 77,38 168.876 75,74 179.724 80,61
24 Sulawesi Utara 23.216 110.524 14.307 61,63 17.953 77,33 90.844 82,19 97.442 88,16
25 Sulawesi Tengah 26.552 126.413 22.106 83,26 21.390 80,56 107.650 85,16 107.988 85,42
26 Sulawesi Selatan 71.449 352.732 57.291 80,18 57.702 80,76 289.202 81,99 291.491 82,64
27 Sulawesi Tenggara 34.284 133.890 15.451 45,07 17.233 50,27 72.150 53,89 88.763 66,30
28 Sulawesi Barat 6.806 17.145 4.846 71,20 3.873 56,91 14.316 83,50 11.435 66,70
29 Gorontalo 14.930 61.337 9.053 60,64 10.015 67,08 39.886 65,03 46.984 76,60
30 Maluku 14.978 65.677 7.456 49,78 8.689 58,01 46.700 71,11 47.828 72,82
31 Maluku Utara 16.897 85.137 10.397 61,53 11.632 68,84 54.785 64,35 57932 68,05
32 Irian J aya Barat 9.647 35.414 2.737 28,37 2.767 28,68 11.995 33,87 12.274 34,66
33 Papua 20.526 93.513 3.191 15,55 4.779 23,28 24.297 25,98 23.023 24,62
3.607.600 11.670.531 2.912.947 80,74 2.930.328 81,23 9.385.161 80,42 9.678.110 82,93
Sumber : Direktorat Bina Gizi Masyarakat
Keterangan : Data yang masuk 220 Kabupaten dari 393 Kabupaten (56 %)
Agustus Februari Agustus
Indonesia
CAKUPAN DISTRIBUSI KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi
Cakupan Vitamin A
Bayi (6-11 bl) Diberi Vitamin A Anak Balita diberi Vitamin A
Februari
Lampiran 4.36
Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Nanggroe Aceh Darussalam t.a.d. t.a.d. t.a.d. t.a.d. t.a.d. t.a.d.
2 Sumatera Utara 4.313.845 107.846 83.471 77,40 69.752 64,68
3 Sumatera Barat 1.481.301 36.824 34.168 92,79 29.980 81,41
4 Riau 3.052.529 81.282 69.566 85,59 66.308 81,58
5 Kepulauan Riau 983.695 24.592 22.595 91,88 22.154 90,09
6 J ambi 794.104 20.176 8.783 43,53 7.937 39,34
7 Bengkulu 1.266.224 34.036 21.856 64,21 20.956 61,57
8 Sumatera Selatan 2.009.119 50.228 42.140 83,90 39.253 78,15
9 Kepulauan Bangka Belitung 602.985 16.693 14.045 84,14 13.017 77,98
10 Lampung 6.132.974 156.471 132.658 84,78 122.484 78,28
11 DKI J akarta 1.462.962 36.574 14.921 40,80 13.446 36,76
12 J awa Barat 27.345.238 688.935 584.106 84,78 517.358 75,10
13 J awa Tengah 23.267.107 536.716 409.769 76,35 388.371 72,36
14 DI Yogyakarta 2.026.344 47.016 40.881 86,95 34.962 74,36
15 J awa Timur 25.655.525 557.934 457.961 82,08 408.156 73,15
16 Banten 1.776.995 74.465 68.340 91,77 45.135 60,61
17 Bali 1.602.035 37.052 33.882 91,44 31.502 85,02
18 Nusa Tenggara Barat 2.761.996 69.609 54.408 78,16 48.923 70,28
19 Nusa Tenggara Timur 2.384.489 60.926 51.639 84,76 44.447 72,95
20 Kalimantan Barat 3.239.983 79.374 59.899 75,46 54.766 69,00
21 Kalimantan Tengah 1.345.984 34.993 24.527 70,09 25.664 73,34
22 Kalimantan Timur 1.725.311 42.694 34.087 79,84 29.067 68,08
23 Kalimantan Selatan 2.469.200 61.968 55.669 89,84 47.644 76,88
24 Sulawesi Utara 1.444.598 32.793 23.937 72,99 21.264 64,84
25 Sulawesi Tengah 1.215.724 32.329 27.006 83,53 24.773 76,63
26 Sulawesi Selatan 4.006.063 100.780 63.056 62,57 47.210 46,84
27 Sulawesi Tenggara 1.050.014 35.074 22.992 65,55 21.338 60,84
28 Sulawesi Barat 249.475 6.532 3.390 51,90 2.404 36,80
29 Gorontalo 638.526 16.172 12.912 79,84 10.472 64,75
30 Maluku 569.903 14.858 13.149 88,50 10.114 68,07
31 Maluku Utara 794.256 19.856 17.991 90,61 14.400 72,52
32 Irian J aya Barat 294.426 7.361 3.252 44,18 2.064 28,04
33 Papua 793.033 21.383 8.496 39,73 6.651 31,10
128.755.963 3.143.542 2.515.552 80,02 2.241.972 71,32
Keterangan: Data yang masuk 220 Kabupaten dari 393 Kabupaten (56%)
Sumber : Direktorat Bina Gizi Masyarakat, MoH
Indonesia
CAKUPAN DISTRIBUSI TABLET BESI PADA IBU HAMIL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi Jumlah Penduduk Jumlah Ibu Hamil
Cakupan Fe Ibu Hamil
Fe-1 Fe-3
Lampiran 4.37
CAKUPAN WANITA USIA SUBUR MENDAPAT KAPSUL YODIUM
WUS Di Desa/Kelurahan Endemis Sedang dan Berat
Jumlah WUS Jumlah yang Diberi Kapsul Yodium % yang Diberi Kapsul Yodium
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam - - -
2 Sumatera Utara 285.759 126.697 44,34
3 Sumatera Barat 407.317 360.107 88,41
4 Riau - - -
5 J ambi 126.304 61.018 48,31
6 Bengkulu 16.748 14.627 87,34
7 Sumatera Selatan 3.385 2.900 85,67
8 Lampung 513.297 144.607 28,17
9 Kepulauan Bangka Belitung - - -
10 Kepulauan Riau 36.365 9.879 27,17
11 DKI J akarta - - -
12 J awa Barat 650.828 165.448 25,42
13 J awa Tengah 596.862 291.405 48,82
14 DI Yogyakarta - - -
15 J awa Timur 4.578.914 2.044.734 44,66
16 Banten 22.216 9.108 41,00
17 Bali 99.765 53.837 53,96
18 Nusa Tenggara Barat 377.933 343.688 90,94
19 Nusa Tenggara Timur 244.796 199.404 81,46
20 Kalimantan Barat 38.270 110 0,29
21 Kalimantan Tengah 73.901 34.200 46,28
22 Kalimantan Timur - - -
23 Kalimantan Selatan - - -
24 Sulawesi Utara 17.411 16.382 94,09
25 Sulawesi Tengah 96.449 79.454 82,38
26 Sulawesi Tenggara 17.180 6.618 38,52
27 Sulawesi Selatan 264.183 148.822 56,33
28 Gorontalo - - -
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 141.916 60.989 42,98
31 Maluku Utara 66.125 49.449 74,78
32 Papua - - -
33 Irian J aya Barat 10.131 246 2,43
8.686.055 4.223.729 48,63
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi
Indonesia
Lampiran 4.38
Penyuluhan Kesehatan
Jumlah Seluruh Kegiatan Jumlah Kegiatan Penyuluhan % Kegiatan Penyuluhan
Penyuluhan Kesehatan P3 NAPZA P3 NAPZA
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 23 23 100,00
2 Sumatera Utara 5.504 677 12,30
3 Sumatera Barat - - -
4 Riau 14.864 1.164 7,83
5 J ambi 21.990 1.694 7,70
6 Bengkulu 28.076 20.026 71,33
7 Sumatera Selatan 16.332 267 1,63
8 Lampung 17.533 660 3,76
9 Kepulauan Bangka Belitung 648 63 9,72
10 Kepulauan Riau 563 99 17,58
11 DKI J akarta 48.154 2.453 5,09
12 J awa Barat 121.459 1.512 1,24
13 J awa Tengah 64.486 1.269 1,97
14 DI Yogyakarta 2.693 106 3,94
15 J awa Timur 362.109 52.832 14,59
16 Banten 42.556 4.961 11,66
17 Bali 1.984 184 9,27
18 Nusa Tenggara Barat 56.603 4.153 7,34
19 Nusa Tenggara Timur 42.253 285 0,67
20 Kalimantan Barat 118.260 4.309 3,64
21 Kalimantan Tengah 2.188 117 5,35
22 Kalimantan Timur 25.383 761 3,00
23 Kalimantan Selatan 1.062 208 19,59
24 Sulawesi Utara 2.141 148 6,91
25 Sulawesi Tengah 3.770 55 1,46
26 Sulawesi Tenggara 367.054 17.932 4,89
27 Sulawesi Selatan 6.223 246 3,95
28 Gorontalo 302 134 44,37
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 204.326 37 0,02
31 Maluku Utara 131 6 4,58
32 Papua 146 7 4,79
33 Irian J aya Barat 722 46 6,37
1.579.538 116.434 7,37
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belumditerima
Indonesia
PROPORSI KEGIATAN PENYULUHAN P3 NAPZA TERHADAP SELURUH KEGIATAN PENYULUHAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
No Provinsi
Lampiran 4.39
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN KELUARGA MISKIN DAN JPKM GAKIN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 97.827 49.906 51,01
2 Sumatera Utara 662.749 491.873 74,22
3 Sumatera Barat 196.720 183.539 93,30
4 Riau 272.316 250.855 92,12
5 J ambi 354.161 165.029 46,60
6 Bengkulu 503.697 336.675 66,84
7 Sumatera Selatan 145.916 128.082 87,78
8 Lampung - - -
9 Kepulauan Bangka Belitung 11.815 11.048 93,51
10 Kepulauan Riau 67.793 60.878 89,80
11 DKI J akarta - - -
12 J awa Barat 8.989.755 2.847.966 31,68
13 J awa Tengah 2.673.617 2.287.060 85,54
14 DI Yogyakarta 158.937 106.891 67,25
15 J awa Timur 6.191.210 3.374.116 54,50
16 Banten 262.064 233.998 89,29
17 Bali 126.355 105.440 83,45
18 Nusa Tenggara Barat 1.392.200 1.266.376 90,96
19 Nusa Tenggara Timur - - -
20 Kalimantan Barat 205.916 177.855 86,37
21 Kalimantan Tengah 179.867 137.591 76,50
22 Kalimantan Timur 363.135 326.135 89,81
23 Kalimantan Selatan 413.526 197.666 47,80
24 Sulawesi Utara 158.119 80.081 50,65
25 Sulawesi Tengah 288.556 271.442 94,07
26 Sulawesi Tenggara 305.254 224.109 73,42
27 Sulawesi Selatan 271.131 183.813 67,79
28 Gorontalo 229.996 51.502 22,39
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 170.047 97.506 57,34
31 Maluku Utara 28.689 5.407 18,85
32 Papua 5.739 5.739 100,00
33 Irian J aya Barat 132.462 79.132 59,74
24.859.569 13.737.710 55,26
Sumber: Hasil Pengumpulan dan Pengolahan Indikator Kinerja SPM dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Dinkes Provinsi, per 18 Nopember 2005
Keterangan : (-) data belum diterima
KK Miskin Dicakup JPKM
Indonesia
No Provinsi Jumlah KK Miskin
Lampiran 4.39.a
PERSENTASE KELUARGA MISKIN MENDAPAT PELAYANAN KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 281.943 281.943 100,00
2 Sumatera Utara 456.279 309.786 67,89
3 Sumatera Barat 87.365 55.842 63,92
4 Riau 258.539 196.743 76,10
5 J ambi 136.312 116.915 85,77
6 Sumatera Selatan 1.379.346 220.906 16,02
7 Bengkulu 118.933 101.021 84,94
8 Lampung 631.356 247.994 39,28
9 Kepulauan Bangka Belitung - - -
10 DKI J akarta - - -
11 J awa Barat 2.689.230 875.331 32,55
12 J awa Tengah 2.681.870 1.905.035 71,03
13 DI Yogyakarta 1.237.617 322.712 26,08
14 J awa Timur 2.575.777 2.217.727 86,10
15 Banten - - -
16 Bali 120.236 42.145 35,05
17 Nusa Tenggara Barat - - -
18 Nusa Tenggara Timur - - -
19 Kalimantan Barat 204.174 105.926 51,88
20 Kalimantan Tengah 560.184 194.109 34,65
21 Kalimantan Selatan 125.502 91.123 72,61
22 Kalimantan Timur 457.978 93.241 20,36
23 Sulawesi Utara 190.338 137.841 72,42
24 Sulawesi Tengah 182.215 154.782 84,94
25 Sulawesi Selatan 449.220 217.368 48,39
26 Sulawesi Tenggara 224.358 168.269 75,00
27 Gorontalo - - -
28 Maluku 130.535 88.024 67,43
29 Maluku Utara 391.811 141.429 36,10
30 Papua - - -
Indonesia 15.571.118 8.286.212 53,22
Sumber:Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2004
Keterangan : (-) data belum diterima
Pelayanan GAKIN
Provinsi No Jumlah KK Miskin KK Miskin Mendapat Pelayanan
Kesehatan
%
Lampiran 4.40
(1) (2)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 346 93 26,88
2 Sumatera Utara 279.952 139.431 49,81
3 Sumatera Barat 4.342 4.342 100,00
4 Riau 105.451 96.792 91,79
5 J ambi - - -
6 Sumatera Selatan - - -
7 Bengkulu 19.112 6.847 35,83
8 Lampung 297.740 254.840 85,59
9 Kepulauan Bangka Belitung - - -
10 DKI J akarta - - -
11 J awa Barat 1.003.198 2.695 0,27
12 J awa Tengah 425.752 333.764 78,39
13 DI Yogyakarta 2.074 1.916 92,38
14 J awa Timur 422.528 20.876 4,94
15 Banten - - -
16 Bali 7.094 7.094 100,00
17 Nusa Tenggara Barat - - -
18 Nusa Tenggara Timur - - -
19 Kalimantan Barat 164.291 8.939 5,44
20 Kalimantan Tengah 31.225 23.736 76,02
21 Kalimantan Selatan - - -
22 Kalimantan Timur - - -
23 Sulawesi Utara 42.962 41.948 97,64
24 Sulawesi Tengah - - -
25 Sulawesi Selatan 20.406 13.003 63,72
26 Sulawesi Tenggara 4.779 2.396 50,14
27 Gorontalo - - -
28 Maluku 958 220 22,96
29 Maluku Utara - - -
30 Papua - - -
2.831.864 958.839 33,86

Keterangan : (-) data belum diterima
%
(5) (3) (4)
PERSENTASE PELAYANAN KESEHATAN KERJA PADA PEKERJA FORMAL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004
Sumber:Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2004
No Provinsi
Indonesia
Jumlah Pekerja Formal Jumlah yang Dilayani
Pelayanan Kesehatan Kerja
Lampiran 5.1
Puskesmas
No Provinsi Penduduk**) Kecamatan Non Pembantu Pos Polin Pos Obat Dr/ Para- Ambu- Sepeda Lain
Perawatan yandu des Desa Drg. medis R-4 PB lans Motor lain
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 3.899.290 182 5.669 82 158 240 739 4.875 1.929 84 298 448 198 8 11 284 5
2 Sumatera Utara 12.333.974 303 5.644 97 326 423 1.883 14.974 2.744 450 519 1.195 267 0 5 621 0
3 Sumatera Barat 4.549.383 143 2.210 63 147 210 815 5.978 733 186 306 468 190 11 6 494 3
4 Riau 4.546.591 103 1.296 38 108 146 651 3.826 226 113 210 328 96 23 4 258 0
5 Kepulauan Riau 1.198.526 71 1.199 21 26 47 588 123 126 212 360 128 12 3 322 0
6 J ambi 2.698.667 136 2.642 38 94 132 903 2.974 1.438 54 273 409 197 10 36 290 1
7 Sumatera Selatan 6.798.189 65 1.185 71 179 250 487 5.902 636 141 199 391 101 0 14 531 0
8 Bengkulu 1.610.361 145 2.121 25 88 113 704 1.695 712 344 366 677 172 3 8 298 136
9 Lampung 7.161.671 37 323 29 193 222 143 6.977 197 37 71 134 49 1 0 119 0
10 Kepulauan Bangka Belitung 1.018.255 42 293 26 35 61 217 848 227 7 87 146 24 24 12 142 0
11 DKI J akarta 9.111.651 43 265 48 281 329 0 3.553 0 0 121 134 70 165 17 245 15
12 J awa Barat 39.130.756 515 5.760 132 850 982 1.421 35.361 691 201 886 1.112 406 1 41 1.096 21
13 J awa Tengah 32.952.040 560 8.705 235 622 857 1.818 43.607 4.068 2.156 1.039 1.424 777 6 55 2.469 39
14 DI Yogyakarta 3.279.701 83 438 32 85 117 321 5.373 133 67 130 243 108 0 35 433 0
15 J awa Timur 37.076.283 644 8.434 295 612 907 2.250 42.799 4.728 378 1.116 1.949 886 4 54 1.915 0
16 Banten 9.127.923 123 1.320 18 154 172 188 5.868 41 59 156 208 88 1 22 204 0
17 Bali 3.487.764 51 686 20 89 109 480 4.446 254 1 163 465 111 46 1 285 0
18 Nusa Tenggara Barat 4.161.431 81 742 28 97 125 444 5.020 498 204 193 326 119 3 3 345 0
19 Nusa Tenggara Timur 4.174.571 162 2.455 60 160 220 849 6.743 1.253 251 309 514 183 21 13 405 3
20 Kalimantan Barat 4.078.246 132 1.433 67 128 195 750 3.593 1.198 135 294 665 112 75 0 328 1
21 Kalimantan Tengah 1.902.454 86 1.169 31 101 132 731 2.068 424 51 214 461 88 54 14 181 55
22 Kalimantan Selatan 3.245.705 131 2.012 31 162 193 613 3.439 1.207 277 278 483 176 29 2 484 61
23 Kalimantan Timur 2.950.531 143 1.096 67 107 174 602 4.094 358 115 211 407 126 46 15 289 43
24 Sulawesi Utara 2.159.787 86 1.186 59 55 114 506 2.127 284 19 132 258 67 16 1 107 55
25 Sulawesi Tengah 2.324.025 88 1.439 59 76 135 701 2.815 833 353 235 483 106 17 0 290 0
26 Sulawesi Selatan 7.475.882 244 2.531 140 193 333 955 8.579 700 303 397 600 215 8 5 596 19
27 Sulawesi Tenggara 1.965.958 85 1.451 35 103 138 476 1.736 185 207 183 367 85 9 18 380 0
28 Gorontalo 916.488 35 419 14 30 44 221 953 262 61 64 89 32 0 13 126 0
29 Sulawesi Barat 966.535 43 427 18 32 50 212 119 14 71 104 27 2 0 85 0
30 Maluku 1.330.676 46 1.037 30 73 103 340 1.360 83 17 94 145 32 37 8 6 5
31 Maluku Utara 912.209 44 631 15 40 55 212 353 2 79 112 26 65 5 77 0
32 Papua 1.841.548 125 1.952 63 104 167 546 7.116 279 118 196 486 71 66 2 174 0
33 Irian J aya Barat 566.563 43 608 23 32 55 236 59 38 76 179 25 42 4 49 1
220.953.634 4.820 68.778 2.010 5.540 7.550 22.002 238.699 26.975 6.569 9.178 15.770 5.358 805 427 13.928 463
Sumber : Direktorat Komunitas, Ditjen Binkesmas, Depkes RI
**) J umlah penduduk mengacu pada data P4B (hasil pemutakhiran dalamrangka PILPRES 2004)
Khusus untuk Prov, NAD, kode wilayah adm. Pemerintahan diinput sebelumterjadinya gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004
Perawatan Total
Indonesia
Pusling
JUMLAH PUSKESMAS SERTA SARANA LAINNYA
Puskesmas Sarana UKBM Rumah Dinas Sarana Transportasi Puskesmas
KEADAAN TAHUN 2004
Desa/
Kelurahan
Lampiran 5.2
JUMLAH PUSKESMAS, PUSKESMAS PEMBANTU, DAN RASIONYA TERHADAP PENDUDUK,
SERTA RASIO PUSTU PER PUSKESMAS, MENURUT PROVINSI TAHUN 2000 - 2004
Jumlah Jumlah Rasio Puskesmas / Rasio Puskesmas Pembantu / Rasio Puskesmas Pembantu /
Puskesmas Puskesmas Pembantu 100.000 Penduduk 100.000 Penduduk Puskesmas
2000 2001 2002 2003 2004 2000 2001 2002 2003 2004 2000 2001 2002 2003 2004 2000 2001 2002 2003 2004 2000 2001 2002 2003 2004
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 219 219 230 240 240 762 778 821 824 739 5,46 5,46 5,76 5,7 6,15 19, 19,39 20,58 19,55 18,95 3,48 3,55 3,57 3,43 3,08
2 Sumatera Utara 399 404 411 388 423 1.766 1782 1789 1578 1.883 3,48 3,48 3,47 3,27 3,43 15,39 15,36 15,1 13,31 15,27 4,43 4,41 4,35 4,07 4,45
3 Sumatera Barat 203 203 204 206 210 824 837 825 834 815 4,8 4,48 4,79 4,62 4,62 19,49 18,45 19,39 18,71 17,91 4,06 4,12 4,04 4,05 3,88
4 Riau 148 157 167 142 146 648 667 704 642 651 3,13 3,32 3,1 2,55 3,21 13,69 14,09 13,07 11,55 14,32 4,38 4,25 4,22 4,52 4,46
5 Kepulauan Riau - - - 45 47 - - - 211 217 - - - - 3,92 - - - - 49,06 - - - 4,69 4,62
6 J ambi 126 123 130 127 132 565 630 628 634 588 5,25 4,76 5,29 4,94 4,89 23,53 24,4 25,57 24,68 33,46 4,48 5,12 4,83 4,99 4,45
7 Sumatera Selatan 227 227 214 235 250 865 879 853 891 903 3,51 3,41 2,98 3,62 3,68 12,92 13,2 11,89 13,74 7,16 3,81 3,87 3,99 3,79 3,61
8 Bengkulu 112 112 112 112 113 476 478 479 478 487 7,79 6,95 6,86 7,38 7,02 33,88 29,67 29,32 31,51 43,72 4,25 4,27 4,28 4,27 4,31
9 Lampung 198 204 211 219 222 684 685 688 704 704 2,98 2,99 3,11 3,16 3,1 10,28 10,03 10,15 10,16 2, 3,45 3,36 3,26 3,21 3,17
10 Kepulauan Bangka Belitung 45 45 45 45 61 137 137 140 139 143 5, 4,84 4,86 4,61 5,99 15,24 14,72 15,13 14,24 21,31 3,04 3,04 3,11 3,09 2,34
11 DKI J akarta 329 329 328 329 329 - - - - - 3,92 3,4 4, 3,82 3,61 - - - - - - - - - -
12 J awa Barat 946 962 976 982 982 1.414 1.413 1.415 1.413 1.421 2,55 2,76 2,64 2,59 2,51 3,82 4,05 3,83 3,72 3,63 1,49 1,47 1,45 1,44 1,45
13 J awa Tengah 862 853 853 855 857 1.830 1.826 1.844 1.830 1.818 2,79 2,8 2,69 2,67 2,6 5,93 6,05 5,82 5,71 5,52 2,12 2,14 2,16 2,14 2,12
14 DI Yogyakarta 126 126 117 117 117 312 312 320 321 321 4,05 3,9 3,69 3,65 3,57 10,03 9,66 10,1 10,01 9,79 2,48 2,48 2,74 2,74 2,74
15 J awa Timur 927 921 922 918 907 2.230 2.243 2.238 2.239 2.250 2,68 2,61 2,63 2,54 2,45 6,46 6,37 6,38 6,19 6,07 2,41 2,44 2,43 2,44 2,48
16 Banten 165 162 168 171 172 250 253 202 190 188 - 2,31 1,89 1,91 1,88 - 3,6 2,27 2,12 2,06 1,52 1,56 1,2 1,11 1,09
17 Bali 112 107 107 108 109 471 471 474 479 480 3,58 3,46 3,31 3,22 3,13 15,07 15,23 14,66 14,29 13,76 4,21 4,4 4,43 4,44 4,4
18 Nusa Tenggara Barat 114 120 121 127 125 436 433 428 438 444 2,98 3,09 2,98 3,17 3, 11,41 11,16 10,54 10,94 10,67 3,82 3,61 3,54 3,45 3,55
19 Nusa Tenggara Timur 210 210 211 218 220 797 793 809 837 849 5,34 5,19 5,36 5,35 5,27 20,28 19,61 20,54 20,55 20,34 3,8 3,78 3,83 3,84 3,86
20 Kalimantan Barat 197 194 189 192 195 672 714 710 748 750 5,27 4,96 4,52 4,86 4,78 17,97 18,27 16,98 18,95 18,39 3,41 3,68 3,76 3,9 3,85
21 Kalimantan Tengah 133 133 118 133 132 663 706 707 825 731 6,33 7,63 6,05 7,28 6,94 36,8 40,48 36,28 45,16 38,42 4,98 5,31 5,99 6,2 5,54
22 Kalimantan Selatan 188 189 189 189 193 583 613 613 600 613 6,03 6,15 6,22 5,95 5,95 19,63 19,96 20,16 18,9 18,89 3,1 3,24 3,24 3,17 3,18
23 Kalimantan Timur 147 153 165 167 174 562 572 552 565 602 4,96 6,22 6,48 6,17 5,9 23,07 23,27 21,67 20,89 20,4 3,82 3,74 3,35 3,38 3,46
24 Sulawesi Utara 101 101 101 108 114 497 519 521 500 506 6,34 5,12 4,94 5,08 5,28 25,28 26,31 25,46 23,5 23,43 4,92 5,14 5,16 4,63 4,44
25 Sulawesi Tengah 131 130 132 134 135 683 687 704 708 701 4,56 6,39 5,79 6,06 5,81 33,05 33,77 30,88 32,03 30,16 5,21 5,28 5,33 5,28 5,19
26 Sulawesi Selatan 355 356 367 376 333 1.167 1.141 1.162 1.161 955 7,34 4,56 4,43 4,58 4,45 14,99 14,62 14,02 14,13 12,77 3,29 3,21 3,17 3,09 2,87
27 Sulawesi Tenggara 130 130 122 115 138 472 472 458 408 476 12,33 8,61 6,34 6,13 7,02 26,64 31,27 23,79 21,75 24,21 3,63 3,63 3,75 3,55 3,45
28 Gorontalo 39 40 39 47 44 216 248 263 247 221 - 4,99 4,47 5,33 4,8 - 30,92 30,14 28,03 24,11 5,54 6,2 6,74 5,26 5,02
29 Sulawesi Barat 50 212 5,17 21,93 4,24
30 Maluku 96 100 96 98 103 291 306 291 308 340 9,47 7,83 8,48 8,05 7,74 41,75 23,96 25,7 25,3 25,55 3,03 3,06 3,03 3,14 3,3
31 Maluku Utara 52 46 49 53 55 210 192 224 221 212 3,56 5,05 6,6 6,21 6,03 10,45 21,08 30,18 25,9 23,24 4,04 4,17 4,57 4,17 3,85
32 Papua 200 221 215 165 167 784 800 844 557 546 6,47 8,81 9,19 7,02 9,07 37,11 31,88 36,08 7,02 29,65 3,92 3,62 3,93 3,38 3,27
33 Irian J aya Barat - - - 52 55 - - - 232 236 - - - - 9,71 - - - - 41,65 - - - 4,46 4,29
7.237 7.277 7.309 7.413 7.550 21.267 21.587 21.706 21.762 22.002 3,56 3,55 3,46 3,46 3,42 10,45 10,53 10,33 10,15 9,96 2,94 2,97 2,97 2,94 2,91
Sumber: Ditjen Binkesmas, Depkes RI
**) J umlah penduduk mengacu pada data P4B (hasil pemutakhiran dalamrangka PILPRES 2004)
Khusus untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, kode wilayah administrasi Pemerintahan diinput sebelumterjadinya gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004
No Provinsi
Indonesia
Lampiran 5.3
2000 2001 2002 2003 2004 2000 2001 2002 2003 2004
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 219 219 230 240 240 72 72 77 78 82
2 Sumatera Utara 399 404 411 388 423 98 98 97 90 97
3 Sumatera Barat 203 203 204 206 210 63 64 62 63 63
4 Riau 148 157 167 142 146 42 44 49 36 38
5 Kepulauan Riau - - - 45 47 - - - 21 21
6 J ambi 126 123 130 127 132 31 31 37 36 38
7 Sumatera Selatan 227 227 214 235 250 67 67 67 68 71
8 Bengkulu 112 112 112 112 113 21 21 25 10 25
9 Lampung 198 204 211 219 222 23 25 30 28 29
10 Kepulauan Bangka Belitung 45 45 45 45 61 7 7 10 25 26
11 DKI J akarta 329 329 328 329 329 50 50 47 46 48
12 J awa Barat 946 962 976 982 982 131 130 132 18 132
13 J awa Tengah 862 853 853 855 857 184 187 206 128 235
14 DI Yogyakarta 126 126 117 117 117 30 31 32 214 32
15 J awa Timur 927 921 922 918 907 257 261 283 32 295
16 Banten 165 162 168 171 172 19 18 18 279 18
17 Bali 112 107 107 108 109 20 20 20 20 20
18 Nusa Tenggara Bara 114 120 121 127 125 25 27 43 27 28
19 Nusa Tenggara Timur 210 210 211 218 220 57 57 62 59 60
20 Kalimantan Bara 197 194 189 192 195 65 65 66 66 67
21 Kalimantan Tengah 133 133 118 133 132 35 34 28 33 31
22 Kalimantan Selatan 188 189 189 189 193 25 26 25 26 31
23 Kalimantan Timur 147 153 165 167 174 48 52 68 68 67
24 Sulawesi Utara 101 101 101 108 114 56 56 57 17 59
25 Sulawesi Tengah 131 130 132 134 135 55 56 55 66 59
26 Sulawesi Selatan 355 356 367 376 333 137 150 150 57 140
27 Sulawesi Tenggara 130 130 122 115 138 36 36 36 156 35
28 Gorontalo 39 40 39 47 44 13 14 14 28 14
29 Sulawesi Barat - - - - 50 - - - - 18
30 Maluku 96 100 96 98 103 30 30 32 30 30
31 Maluku Utara 52 46 49 53 55 14 15 20 16 15
32 Papua 200 221 215 165 167 74 74 78 61 63
33 Irian J aya Barat - - - 52 55 - - - 22 23
7.237 7.277 7.309 7.413 7.550 1.785 1.818 1.926 1.924 2.010
Sumber: Ditjen Binkesmas, Depkes RI
JUMLAH PUSKESMAS DAN PUSKESMAS PERAWATAN
MENURUT PROVINSI, TAHUN 2000 - 2004
Jumlah Puskesmas Perawatan
Indonesia
No Provinsi
Jumlah Puskesmas
Lampiran 5.4
JUMLAH PUSKESMAS KELILING DAN RASIO PUSKESMAS KELILING PER PUSKESMAS
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA, TAHUN 2000 - 2004
Jumlah Puskesmas Keliling Rasio Puskesmas Keliling/
2001 2002 Puskesmas
R-4 PB R-4 PB R-4 PB R-4 PB R-4 PB 2000 2001 2002 2003 2004
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 239 13 236 14 192 8 - - 198 8 1,2 1,2 0,9 0,0 0,9
2 Sumatera Utara 325 15 264 19 237 1 144 2 267 0,9 0,7 0,6 0,4 0,6
3 Sumatera Barat 177 6 183 6 188 3 73 190 11 0,9 0,9 0,9 0,4 1,0
4 Riau 119 52 111 56 103 46 73 7 96 23 1,2 1,1 0,9 0,6 0,8
5 Kepulauan Riau - - - - - - 28 11 24 24 - - - 0,9 1,0
6 J ambi 101 25 92 24 114 15 66 6 128 12 1,0 0,9 1,0 0,6 1,1
7 Sumatera Selatan 200 19 190 62 149 20 110 20 197 10 1,0 1,1 0,8 0,6 0,8
8 Bengkulu 130 2 113 2 102 34 101 1,2 1,0 0,9 0,3 0,9
9 Lampung 157 5 170 2 160 1 109 4 172 3 0,8 0,9 0,8 0,5 0,8
10 Kepulauan Bangka Belitung 38 1 38 1 30 96 49 1 0,9 0,9 0,7 2,1 0,8
11 DKI J akarta 84 4 84 4 68 4 24 70 165 0,3 0,3 0,2 0,1 0,7
12 J awa Barat 477 412 384 2 42 406 1 0,5 0,4 0,4 0,0 0,4
13 J awa Tengah 698 4 610 4 665 4 150 1 777 6 0,8 0,7 0,8 0,2 0,9
14 DI Yogyakarta 130 129 108 500 6 108 1,0 1,0 0,9 4,3 0,9
15 J awa Timur 923 5 803 5 871 6 59 886 4 1,0 0,9 1,0 0,1 1,0
16 Banten 120 62 90 1 529 2 88 1 0,5 0,5 0,5 3,1 0,5
17 Bali 125 1 114 1 110 45 87 2 111 46 1,1 1,1 1,4 0,8 1,4
18 Nusa Tenggara Barat 120 2 125 2 112 3 45 1 119 3 1,1 1,0 1,0 0,4 1,0
19 Nusa Tenggara Timur 185 22 177 28 173 19 69 7 183 21 1,0 1,0 0,9 0,3 0,9
20 Kalimantan Barat 117 120 115 116 93 58 58 67 112 75 1,2 1,2 0,8 0,7 1,0
21 Kalimantan Tengah 102 89 97 76 77 75 53 24 88 54 1,4 1,3 1,3 0,6 1,1
22 Kalimantan Selatan 171 39 177 34 168 40 83 4 176 29 1,1 1,1 1,1 0,5 1,1
23 Kalimantan Timur 94 51 94 37 113 50 50 17 126 46 1,0 0,9 1,0 0,4 1,0
24 Sulawesi Utara 79 18 77 21 81 17 11 67 16 0,9 1,0 1,0 0,1 0,7
25 Sulawesi Tengah 93 25 91 19 96 21 17 17 106 17 0,9 0,8 0,9 0,3 0,9
26 Sulawesi Selatan 257 160 249 16 229 15 - - 215 8 1,2 0,8 0,7 0,0 0,7
27 Sulawesi Tenggara 80 23 76 18 77 14 183 19 85 9 0,8 0,7 0,7 1,8 0,7
28 Gorontalo 29 1 27 2 23 16 5 32 0,6 0,6 0,6 0,4 0,7
29 Sulawesi Barat - - - - - - - - 27 2 0,6
30 Maluku 35 22 27 19 35 22 16 7 32 37 0,8 0,5 0,6 0,2 0,7
31 Maluku Utara 38 24 29 19 18 62 27 46 26 65 0,9 0,9 1,6 1,4 1,7
32 Papua 108 93 112 109 118 102 32 24 71 66 1,0 1,1 1,0 0,3 0,8
33 Irian J aya Barat - - - - - - 11 18 25 42 - - - 0,6 1,2
5.551 841 5.084 716 4.984 654 2.795 317 5.358 805 0,9 0,8 0,8 0,4 0,8
Sumber: Ditjen Binkesmas, Depkes RI
Keterangan: R-4 =Puskesmas keliling kendaraan bermotor roda empat (mobil)
PB =Puskesmas keliling perahu bermotor
2004
Indonesia
No Provinsi 2000 2003
Lampiran 5.5
JUMLAH RUMAH SAKIT DI INDONESIA
MENURUT PENGELOLA DAN PROVINSI, TAHUN 2004
Depkes/Pemda TNI/POLRI Departemen Lain/BUMN Swasta Semua RS
RS RS RS RS RS RS RS RS RS RS
Umum Khusus Umum Khusus Umum Khusus Umum Khusus Umum Khusus
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 14 1 15 3 0 3 3 0 3 5 2 7 25 3 28
2 Sumatera Utara 25 5 30 7 0 7 17 1 18 61 6 67 110 12 122
3 Sumatera Barat 15 2 17 3 0 3 1 0 1 9 10 19 28 12 40
4 Riau 10 1 11 5 0 5 6 0 6 11 1 12 32 2 34
5 J ambi 7 1 8 2 0 2 2 0 2 2 1 3 13 2 15
6 Sumatera Selatan 11 2 13 2 0 2 5 0 5 8 2 10 26 4 30
7 Bengkulu 4 1 5 1 0 1 0 0 0 1 0 1 6 1 7
8 Lampung 6 1 7 1 0 1 0 0 0 8 3 11 15 4 19
9 Kepulauan Bangka Belitung 3 1 4 0 0 0 0 0 0 1 0 1 4 1 5
10 DKI J akarta 8 7 15 8 1 9 5 1 6 51 32 83 72 41 113
11 J awa Barat 28 8 36 12 0 12 6 1 7 45 25 70 91 34 125
12 J awa Tengah 40 8 48 8 0 8 3 0 3 72 40 112 123 48 171
13 DI Yogyakarta 6 1 7 2 0 2 0 1 1 9 15 24 17 17 34
14 J awa Timur 43 8 51 19 1 20 13 2 15 56 22 78 131 33 164
15 Banten 5 1 6 2 0 2 2 0 2 8 4 12 17 5 22
16 Bali 9 2 11 2 0 2 0 0 0 16 4 20 27 6 33
17 Nusa Tenggara Barat 6 3 9 1 0 1 0 0 0 2 0 2 9 3 12
18 Nusa Tenggara Timur 13 0 13 2 0 2 0 0 0 8 1 9 23 1 24
19 Kalimantan Barat 10 3 13 2 0 2 1 0 1 7 2 9 20 5 25
20 Kalimantan Tengah 10 0 10 1 0 1 0 0 0 0 0 0 11 0 11
21 Kalimantan Selatan 11 2 13 3 0 3 2 0 2 4 4 8 20 6 26
22 Kalimantan Timur 10 2 12 3 0 3 2 0 2 8 1 9 23 3 26
23 Sulawesi Utara 6 1 7 2 0 2 0 0 0 11 0 11 19 1 20
24 Sulawesi Tengah 9 1 10 1 0 1 0 0 0 4 4 8 14 5 19
25 Sulawesi Selatan 26 7 33 6 0 6 1 1 2 12 7 19 45 15 60
26 Sulawesi Tenggara 5 1 6 2 0 2 1 0 1 3 0 3 11 1 12
27 Gorontalo 2 1 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1