Anda di halaman 1dari 15

KOMPRESI MEDULA AKUT

BAB I TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Kompresi medula akut adalah penekanan pada medula spinalis karena trauma dan penyakit tertentu yang dapat menekan medula spinalis dan mengganggu fungsi normalnya. Jika penekanannya sangat hebat, maka sinyal saraf ke atas dan ke bawah medula spinalis akan terhambat total. Penekanan yang tidak terlalu hebat hanya akan mengganggu beberapa sinyal. Jika penekanan telah ditemukan dan diobati sebelum terjadinya kerusakan saraf, maka biasanya fungsi medula spinalis akan kembali seperti semula.1) 2.2 Epidemiologi Kasus baru trauma medula spinalis akut diduga setiap tahun sekitar 15-50 per satu juta penduduk, sementara angka prevelensi sekitar 900 per satu juta. Angka kejadian sebenarnya dipastikan lebih tinggi, karena sekitar 50% kejadian tidak dilaporkan, seperti pasien yang meninggal di tempat kejadian atau trauma ringan yang tidak ditangani institusi kesehatan. Trauma medula spinalis terutama mengenai orang muda , paling sering usia 20-24 tahun, dan sekitar 65% kasus terjadi dibawah usia 35 tahun, sering terjadi pada pria daripada wanita (3-4:1). Sekitar 50% akibat kecelakaan kendaraan bermotor, terutama sepeda motor , jatuh (20%), olahraga (13%), kecelakaan kerja (12%), kekerasan luka tembak atau tusuk (15%), Lokasi paling sering adalah C5, diikuti C4, C6, T12, C7 dan L1. Kepustakaan lain menyebutkan insiden sesuai lokasi lesi, yaitu, servikal 40%, torakal 10%, lumbal 3%, dorsolumbal 35%, lain-lain 14%. Berdasarkan kecacatan, 52% pasien mengalami paraplegia dan 47% pasien mengalami tetraplegia.2) 2.3 Etiologi Kompresi epidural : 1) Tumor metastasis (terutama dari paru dan payudara) kompresi medula spinalis mungkin merupakan gejala suatu keganasan. 2) Trauma 3) Limfoma 4) Mieloma multipel 5) Abses atau hematom epidural 6) Protrusio diskus intervertebralis servikal atau torakal

7) Spondilosis atau spondilolistesis 8) Subluksasio atlantoaksial (arthritis reumatika)

Kompresi intradural ekstramedular: 1) Meningioma 2) Neurofibroma

Ekspansi Intrameduler 1) Glioma 2) Ependimoma 3) Malformasi arteriovena. 3) 2.4 Patofisiologi Kompresi medula spinalis oleh karena trauma tidak langsung dari tulang belakang berupa hiperekstensi, hiperfleksi, tekanan vertikal (terutama pada T.12 sampai L.2), dan rotasi. Kerusakan yang dialami medula spinalis dapat bersifat sementara atau menetap akibat trauma terhadap tulang belakang. Medula spinalis dapat tidak berfungsi untuk sementara (komosio medula spinalis), tetapi dapat sembuh kembali dalam beberapa hari. Gejala yang ditimbulkan adalah berupa oedema, perdarahan perivaskuler dan infark di sekitar pembuluh darah. Pada kerusakan medula spinalis yang menetap, secara makroskopis, kelainannya dapat terlihat dan terjadi lesi, contusio, laserasio dan pembengkakan daerah tertentu di medula spinalis. 4) Suatu segmen medula spinalis dapat tertekan oleh hematoma ekstra meduler traumatik dan dapat juga tertekan oleh kepingan tulang yang patah yang terselip di antara duramater dan kolumna vertebralis. Gejala yang didapat sama dengan sindroma kompresi medula spinalis akibat tumor, kista dan abses di dalam kanalis vertebralis. 4) Akibat hiperekstensi, dislokasi, fraktur dan whislap radiks saraf spinalis dapat tertarik dan mengalami jejas/ reksis.pada trauma whislap. Radiks columna 5-7 dapat mengalami hal demikian, dan gejala yang terjadi adalah nyeri radikuler spontan yang bersifat hiperpatia, Gambaran tersebut disebut hematorasis atau neuralgia radikularis traumatik yang reversibel. Jika radiks terputus akibat trauma tulang belakang, maka gejala defisit sensorik dan motorik yang terlihat adalah radikuler dengan terputusnya arteri radikuler terutama radiks T.8 atau T.9 yang akan menimbulkan defisit sensorik motorik pada dermatoma dan miotoma yang bersangkutan dan sindroma sistema anastomosis arterial anterior spinal.5)

2.5 Klasifikasi 1) Grade Tipe Gangguan medula spinalis Komplit A Inkomplit Tidak ada fungsi motorik & sensorik sampai S4-S5

Fungsi sensorik masih baik tapi motorik terganggu sampai segmen sakral S4-

S5

Inkomplit

Fungsi motorik terganggu di bawah level tapi otot-otot motorik utama masih

punya kekuatan < 3

Inkomplit

Fungsi motorik terganggu dibawah level , otot-otot

motorik utama punya kekuatan > 3

Normal E

Fungsi motorik dan sensorik normal

Tabulasi Perbandingan Klinik Lesi Komplit dan Inkomplit Krakteristik Motorik Lesi Komplit Menghilang di bawah lesi Lesi Inkomplit Sering (+)

Protopatik (nyeri, suhu)

Menghilang di bawah lesi

Sering (+)

Propioseptif (joint position, vibrasi)

Menghilang di bawah lesi

Sering (+)

Sacral Sparing

(-)

(+)

Rontgen Vertebra

Sering dgn fraktur, luksasi & listhesis

Sering normal

MRI (Ramon, 1997; penelitian terhadap 55 pasien, 28 komplet & 27 inkomplet)

Hemoragi (54%), Kompresi (25%), Kontusi (11%).

Edema (62%), Kontusi (26%), Normal (15%).

Karakteristik Sindrom Cedera Medula Spinalis Karakteristik klinis Kejadian Biomekanik Motorik Central cord syndrome Sering Hiperekstensi G angguan bervariasi; Anterior cord syndr Jarang Hiperfleksi Sering komplit paralisis (ggn tract Brown sequard syndr Jarang Penetrasi Kelemahan anggota gerak Posterior cord syndr Sangat Jarang Hiperekstensi Gangguan bervariasi;

jarang paralisis komplet

desenden) biasanya bilateral

ipsilateral lesi; ggn tract desenden (+)

ggn tract desenden ringan

Protopatik

G angguan bervariasi tdk khas

Sering hilang total (ggn tract asenden); bilateral

Sering hilang total (ggn tract asenden) kontralateral Hilang total ipsilateral; ggn tract asenden

G angguan bervariasi biasanya ringan Terganggu

Propioseptor

Jarang sekali terganggu

Biasanya utuh

Perbaikan

Sering cepat & nyata; khas kelemahan tangan & jari menetap

Paling buruk diantara lainnya

Fungsi buruk namun independensi paling baik

NA

2.6 Tanda dan Gejala Klinik Lokasi dari kerusakan pada medula spinalis menentukan otot dan sensasI yang terkena. Kelemahan atau kelumpuhan serta berkurangnya atau hilangnya rasa cenderung terjadi di bawah daerah yang mengalami cedera. Tumor atau infeksi di dalam atau di sekitar medula spinalis bisa secara perlahan menekan medula, sehingga timbul nyeri pada sisi yang tertekan disertai kelemahan dan perubahan rasa. Jika keadaan semakin memburuk, nyeri dan kelemahan akan berkembang menjadi kelumpuhan dan hilangnya rasa, dalam beberapa hari atau minggu. Jika aliran darah ke medula spinalis terputus, maka kelumpuhan dan hilangnya rasa bisa terjadi dalam waktu hanya beberapa menit. Penekanan medula spinalis yang berjalan paling lambat biasanya merupakan akibat dari kelainan pada tulang yang disebabkan oleh artritis degenerativa atau tumor yang pertumbuhannya sangat lambat. Penderita tidak merasakan nyeri atau nyeri bersifat ringan, perubahan rasa (misalnya kesemutan) dan kelemahan berkembang dalam beberapa bulan.8)

2.7 Pemeriksaan Fisik Untuk semua pasien trauma, pemeriksaan awal dimulai dengan penilaian kondisi jalan napas (airway), pernapasan (breathing) dan peredaran darah (circulation). Selain itu, adanya riwayat penyakit kardiopulmonal harus diketahui melalui anamnesis, karena memengaruhi fungsi paru. Penemuan dari pemeriksaan fisik biasanya terbatas pada kelainan pada sistem neurologis, yang terdiri atas gabungan lesi pada upper motor neuron dan lower motor neuron yang mensuplai ekstremitas atas yang mengakibatkan paralisis flaksid parsial, dan lesi yang lebih dominan pada upper motor neuron yang mensuplai ekstremitas bawah yang mengakibatkan paralisis spastik. - Kelainan pada ekstremitas atas biasanya akan lebih parah daripada kelainan pada ekstremitas bawah, dan terutama terjadi pada otot-otot tangan bagian distal. - Kehilangan kemampuan sensori hingga derajat tertentu, meskipun sensasi sakral biasanya masih utuh. Kemampuan kontraksi anus dan tonus sfingter serta refleks babinsky harus diperiksa. - Refleks regang otot biasanya hilang pada awalnya tapi dapat kembali muncul namun disertai oleh spatisitas otot yang bersangkutan.4) 2.8 Pemeriksaan Penunjang 1. Pemerksaan Laboratorium Tidak ada tes laboratorium spesifik yang diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis. 2. Pemeriksaan Radiologi X-ray cervical spine; menunjukkan gambaran fraktur maupun dislokasi dan derajat spondilitik pada korpus vertebra cervikal. Foto pada posisi leher ekstensi dan fleksi dapat membantu mengevaluasi stabilitas ligamentum flavum. CT Scan pada cervical spine; menunjukkan adanya gangguan pada kanalis spinalis dan dapat memberikan informasi mengenai deajat penekanan yang terjadi pada medula spinalis. 2.9 Diagnosis a) Radiologik Foto polos posisi antero-posterior dan lateral pada daerah yang diperkirakan mengalami trauma akan memperlihatkan adanya fraktur dan mungkin disertai dengan dislokasi. Pada ruang gawat darurat, foto lateral daerah vertebra yang diperkirakan mendapat trauma harus dikerjakan segera, meskipun penderita telah membawa foto dari rumah sakit sebelumnya ( khususnya pada MRI; dapat menunjukkan secara langsung tekanan/jepitan pada medula spinalis oleh tulang, vertebral disc atau hematoma.4)

trauma daerah servikal). Tujuan tindakan ini adalah untuk memastikan bahwa tidak terjadi perubahan jajaran vertebra (alignment) sewaktu diangkat/ dipindahkan. Pada trauma daerah servikal foto dengan posisi mulut terbuka dapat membantu dalam memeriksa adanya kemungkinan fraktur vertebra C1C2.

b) Pungsi Lumbal Berguna pada fase akut trauma medula spinalis. Sedikit peningkatan tekanan liquor serebrospinal dan adanya blokade pada tindakan Queckenstedt menggambarkan beratnya derajat edema medula spinalis, tetapi perlu diingat tindakan pungsi lumbal ini harus dilakukan dengan hatihati, karena posisi fleksi tulang belakang dapat memperberat dislokasi yuang telah terjadi. Dan antefleksi pada vertebra servikal harus dihindari bila diperkirakan terjadi trauma pada daerah vertebra servikalis tersebut. c) Mielografi Mielografi tampaknya tidak mempunyai indikasi pada fase akut trauma medula spinalis. Tetapi mielografi dianjurkan pada penderita yang telah sembuh dari trauma pada daerah lumbal, sebab sering terjadi herniasi diskus intevertebralis.4) 2.10 Diagnosis Banding - Mielitis tranversa ditandai dengan paraplegia atau tetraplegia akut atau sub akut, kadang asimetris disertai nyeri punggung dan hilangnya sensasi sensoris. Infeksi virus sebelumnya (mononukleosis) kadang terjadi kadang tidak. Cairan serebrospinalis menunjukkan pleositosis dengan meningkatnya protein dan glukosa normal. Mielografi biasanya diperlukan untuk menyingkirkan lesi. - Mielopati radiasi biasanya terjadi dalam 6 bulan sampai 1 tahun setelah radiasi medula spinalis daerah dada (misalnya pada limfoma). - Mielopati dapat terjadi sekunder terhadap toksin (heroin arsenin) berkaitan dengan keganasan pada tubuh lain yang dikenal sebagai remote effect atau sekunder tahap inflamasi medula spinalis - Mielopati transversa akut mungkin terjadi akibat sumbatan bagian arteri spinalis anterior. Biasanya terjadi gangguan fungsi motorik dan sesuai nyeri serta suhu, sedang sensasi posisi dan getar tidak terganggu sehubungan dengan struktur anatomi aliran pembuluh darah pada medula spinalis.6) 2.11 Komplikasi - Lesi diatas C4 dapat terjadi depresi pernafasan, lesi di bawah C4 juga dapat menyebabkan gangguan pernafasan (diaphragmatic breathing) jika n.frenicus terganggu akibat edema atau pendarahan medula spinalis. - Pada cedera servikal dan thorakal dapat terjadi paralisis otot interkostal dan otot adomen.

- Gangguan kardiovaskuler seperti bradikardia, vasodilatasi, penurunan tekanan darah terjadi pada Lesi di atas T6 yang mempengaruhi sistem saraf simpatis. - Retensi urine terjadi karena atoni kandung kencing yang menyebabkan overdistensi. - Lesi diatas T5 dapat menyebabkan hipomotilitas saluran pencernaan. - Ganggunan BAB jika lesi dibawah T12. - Potensi luka pada kulit, dekubitus. - Trombosis vena dalam, emboli paru. - Autonomik disrefleksia.2) 2.12 Terapi Jika terdapat fraktur atau dislokasi kolumna vertebralis Servikal : pasang kerah fiksasi leher atau collar, T h orakal : lakukan fiksasi (torakolumbal brace), Lumbal : lakukan fiksasi dengan korset lumbal. Penggunaan kortikosteroid bila diagnosis ditegakkan < 3 jam pasca trauma metilprednisolon (MP) 30 mg/kg BB iv bolus selama 15 mnt selanjutnya infus terus menerus MP selama 23 jam dengan dosis 5,4 mg/kgBB/jam. Bila 3-8 jam: terapi sama, hanya infus MP dilanjutkan untuk 47 jam .Bila >8 jam tidak dianjurkan untuk pemberian MP. Terapi yang lainya dapat menggunakan antipiretik, analgetik, antibiotik bila ada infeksi, anti spastisitas otot sesuai keadaan klinik, mencegah dekubitus, pemberian antioksidan untuk mencegah proses sekunder, operatif bila ada fraktur atau herniasi diskus yg menekan MS.1) 2.13 Prognosis Sebuah penelitian prospektif selama 27 tahun menunjukkan bahwa rata-rata harapan hidup pasien cedera medula spinalis lebih rendah dibanding populasi normal. Penurunan rata-rata lama harapan hidup sesuai dengan beratnya cedera. Penyebab kematian utama adalah komplikasi disabilitas neurologik yaitu : pneumonia, emboli paru, septikemia, dan gagal ginjal. Penelitian Muslumanoglu dkk terhadap 55 pasien cedera medula spinalis traumatik (37 pasien dengan lesi inkomplet) selama 12 bulan menunjukkan bahwa pasien dengan cedera medula spinalis inkomplet akan mendapatkan perbaikan motorik, sensorik, dan fungsional yang bermakna dalam 12 bulan pertama. Penelitian Bhatoe dilakukan terhadap 17 penderita medula spinalis tanpa kelainan radiologik (5 menderita Central Cord Syndrome). Sebagian besar menunjukkan hipo/isointens pada T1 dan hiperintens pada T2, mengindikasikan adanya edema. Seluruh pasien di kelola secara konservatif, dengan hasil: 1 orang meninggal dunia, 15 orang mengalami perbaikan,dan 1 orang tetap tetraplegia. Pemulihan fungsi kandung kemih baru akan tampak pada 6 bulan pertama pasca trauma pada cedera medula spinalis traumatik. Curt dkk mengevaluasi pemulihan fungsi kandung kemih 70 penderita cedera medula spinalis hasilnya menunjukkan bahwa pemulihan fungsi kandung kemih

terjadi pada 27% pasien pada 6 bulan pertama. Skor awal ASIA berkorelasi dengan pemulihan fungsi kandung kemih.7)

2.14 Algoritme

2.15 Ringkasan Kompresi medula akut adalah penekanan pada medula spinalis karena trauma dan penyakit tertentu yang dapat menekan medula spinalis dan mengganggu fungsi normalnya. Jika penekanannya sangat hebat, maka sinyal saraf ke atas dan ke bawah medula spinalis akan terhambat total. Penekanan yang tidak terlalu hebat hanya akan mengganggu beberapa sinyal. Jika penekanan telah ditemukan dan diobati sebelum terjadinya kerusakan saraf, maka biasanya fungsi medula spinalis akan kembali seperti semula. Trauma medula spinalis terutama mengenai orang muda , paling sering usia 20-24 tahun, dan sekitar 65% kasus terjadi dibawah usia 35 tahun, sering terjadi pada pria daripada wanita (3-4:1). Sekitar 50% akibat kecelakaan kendaraan bermotor, terutama sepeda motor , jatuh (20%), olahraga (13%), kecelakaan kerja (12%), kekerasan luka tembak atau tusuk (15%), Lokasi paling sering adalah C5, diikuti C4, C6, T12, C7 dan L1. Kepustakaan lain menyebutkan insiden sesuai lokasi lesi, yaitu, servikal 40%, torakal 10%, lumbal 3%, dorsolumbal 35%, lain-lain 14%. Berdasarkan keca catan, 52% pasien mengalami paraplegia dan 47% pasien mengalami tetraplegia.

Penyebab dari kompresi medula spinlalis ada beberapa macam antara lain : Kompresi epidural :Tumor metastasis (terutama dari paru dan payudara), kompresi medula spinalis mungkin merupakan gejala suatu keganasan, trauma, limfoma, Mieloma multipel, abses atau hematom epidural ,protrusio diskus intervetebralis servikal atau torakal, spondilosis atau spondilolistesis, subluksasio atlantoaksial (arthritis reumatika). Kompresi intradural ekstramedular: Meningioma, Neurofibroma. Ekspansi Intrameduler :Glioma, ependimoma, malformasi arteriovena. Kompresi medula spinalis oleh karena trauma tidak langsung dari tulang belakang berupa hiperekstensi, hiperfleksi, tekanan vertikal (terutama pada T.12 sampai L.2), rotasi. Suatu segmen medula spinalis dapat tertekan oleh hematoma ekstra meduler traumatik dan dapat juga tertekan oleh kepingan tulang yang patah yang terselip di antara duramater dan kolumna vertebralis. Gejala yang didapat sama dengan sindroma kompresi medula spinalis akibat tumor, kista dan abses di dalam kanalis vertebralis. Akibat hiperekstensi dislokasio, fraktur dan whislap radiks saraf spinalis dapat tertarik dan mengalami jejas/reksis. Pada trauma whislap, radiks columna 5-7 dapat mengalami hal demikian, dan gejala yang terjadi adalah nyeri radikuler spontan yang bersifat hiperpatia, gambaran tersebut disebut hematorasis atau neuralgia radikularis traumatik yang reversibel. Karakteristik klinik Kejadian Biomekanik Motorik Central cord syndrome Sering Hiperekstensi G angguan bervariasi; jarang paralisa komplet Anterior cord syndr Jarang Hiperfleksi Sering komplet paralisis (ggn tract desenden) biasanya bilateral Protopatik G angguan bervariasi tdk khas Sering hilang total (ggn tract asenden); bilateral Propioseptor Jarang sekali Biasanya utuh Sering hilang total (ggn tract asenden) kontralateral Hilang total G angguan bervariasi biasanya ringan Terganggu Brown sequard syndr Jarang Penetrasi Kelemahan anggota gerak ipsilateral lesi; ggn tract desenden (+) Posterior cord syndr Sangat Jarang Hiperekstensi Gangguan bervariasi; ggn tract desenden ringan

terganggu

ipsilateral; ggn tract asenden

Perbaikan

Sering cepat & nyata; khas kelemahan tangan & jari menetap

Paling buruk diantara lainnya

Fungsi buruk namun independensi paling baik

NA

Lokasi dari kerusakan pada medula spinalis menentukan otot dan sensasi yang terkena. Kelemahan atau kelumpuhan serta berkurangnya atau hilangnya rasa cenderung terjadi di bawah daerah yang mengalami cedera. Tumor atau infeksi di dalam atau di sekitar medula spinalis bisa secara perlahan menekan medula, sehingga timbul nyeri pada sisi yang tertekan disertai kelemahan dan perubahan rasa. Penekanan medula spinalis yang berjalan paling lambat biasanya merupakan akibat dari kelainan pada tulang yang disebabkan oleh artritis degenerativa atau tumor yang pertumbuhannya sangat lambat. Penderita tidak merasakan nyeri atau nyeri bersifat ringan, perubahan rasa (misalnya kesemutan) dan kelemahan berkembang dalam beberapa bulan. Untuk semua pasien trauma, pemeriksaan awal dimulai dengan penilaian kondisi jalan napas (airway), pernapasan (breathing) dan peredaran darah (circulation). Selain itu, adanya riwayat penyakit kardiopulmonal harus diketahui melalui anamnesis, karena memengaruhi fungsi paru. Penemuan dari pemeriksaan fisik biasanya terbatas pada kelainan pada sistem neurologis, yang terdiri atas gabungan lesi pada upper motor neuron dan lower motor neuron yang mensuplai ekstremitas atas yang mengakibatkan paralisis flaksid parsial, dan lesi yang lebih dominan pada upper motor neuron yang mensuplai ekstremitas bawah yang mengakibatkan paralisis spastik. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan antar lain : Pemeriksaan Laboratorium Tidak ada tes laboratorium spesifik yang diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa. Pemeriksaan Radiologi : X-ray cervical spine; menunjukkan gambaran fraktur maupun dislokasi dan derajat spondilitik pada korpus vertebrae cervikal. Foto pada posisi leher ekstensi dan fleksi dapat membantu mengevaluasi stabilitas ligamentum flavum. CT Scan pada cervical spine; menunjukkan adanya gangguan pada kanalis spinalis dan dapat memberikan informasi mengenai deajat penekanan yang terjadi pada medula spinalis. MRI; dapat menunjukkan secara langsung tekanan/jepitan pada medula spinalis oleh tulang, vertebral disc atau hematoma. Untuk menegakkan diagnosa dapat dilakukan radiologi foto polos posisi antero- posterior dan lateral pada daerah yang diperkirakan mengalami trauma akan memperlihatkan adanya fraktur dan mungkin disertai dengan dislokasi. Pungsi Lumbal : Berguna pada fase akut trauma medula spinalis .

Sedikit peningkatan tekanan liquor serebrospinal dan adanya blokade pada tindakan Queckenstedt menggambarkan beratnya derajat edema medula spinalis. Mielografi mielografi tampaknya tidak mempunyai indikasi pada fase akut trauma medula spinalis. Tetapi mielografi dianjurkan pada penderita yang telah sembuh dari trauma pada daerah lumbal, sebab sering terjadi herniasi diskus intevertebralis. Diagnosis banding dari kompresi medula spinalis meliputi mielitis tranversa ditandai dengan paraplegia atau tetraplegia akut atau sub akut, kadang asimetris disertai nyeri punggung dan hilangnya sensasi sensoris. Infeksi virus sebelumnya (mononukleosis) kadang terjadi kadang tidak. Cairan serebrospinalis menunjukkan pleositosis dengan meningkatnya protein dan glukosa normal. Mielografi biasanya diperlukan untuk menyingkirkan lesi. Mielopati radiasi biasanya terjadi dalam 6 bulan sampai 1 tahun setelah radiasi medula spinalis daerah dada (misalnya pada limfoma). Mielopati dapat terjadi sekunder terhadap toksin (heroin arsenin) berkaitan dengan keganasan pada tubuh lain yang dikenal sebagai remote effect atau sekunder tahap inflamasi medula spinalis. Mielopati transversa akut mungkin terjadi akibat sumbatan bagian arteri spinalis anterior. Biasanya terjadi gangguan fungsi motorik dan sesuai nyeri serta suhu, sedang sensasi posisi dan getar tidak terganggu sehubungan dengan struktur anatomi aliran pembuluh darah pada medula spinalis. Komplikasi yang dapat terjadi adalah Lesi diatas C4 dapat terjadi depresi pernafasan, lesi di bawah C4 juga dapat menyebabkan gangguan pernafasan ( diaphragmatic breathing). Pada cedera servikal dan thorakal dapat terjadi paralisis otot interkostal dan otot abdomen. Gangguan kardiovaskuler seperti bradikardia, vasodilatasi, penurunan tekanan darah terjadi pada Lesi di atas T6 yang mempengaruhi sistem saraf simpatis. Retensi urine terjadi karena atoni kandung kencing yang menyebabkan overdistensi. Lesi diatas T5 dapat menyebabkan hipomotilitas saluran pencernaan. Ganggunan BAB jika lesi dibawah T12. Potensi luka pada kulit, dekubitus. Trombosis vena dalam, emboli paru. Autonomik disrefleksia. Terapi yang digunakan adalah jika terdapat fraktur atau dislokasi kolumna vertebralis, Servikal : pasang kerah fiksasi leher atau collar, T orakal : lakukan fiksasi (torakolumbal brace), Lumbal : lakukan fiksasi dengan korset lumbal. Penggunaan kortikosteroid bila diagnosis ditegakkan < 3 jam pasca trauma metilprednisolon (MP) 30 mg/kg BB iv bolus selama 15 mnt selanjutnya infus terus menerus MP selama 23 jam dengan dosis 5,4 mg/kg BB/jam. Bila 3-8 jam: sama dengan terapi di atas, hanya infus MP dilanjutkan utk 47 jam .Bila >8 jam tidak dianjurkan untuk pemberian MP. Terapi yang lainya dapat menggunakan antipiretik, analgetik, antibiotik bila ada infeksi, anti spastisitas otot sesuai keadaan klinik, mencegah dekubitus, pemberian antioksidan untuk mencegah proses sekunder, operatif bila ada fraktur atau herniasi diskus yang menekan MS. Prognosis dari sebuah penelitian prospektif selama 27 tahun menunjukkan bahwa rata-rata harapan hidup pasien cedera medula spinalis lebih rendah dibanding populasi normal. Penurunan rata-rata lama harapan hidup sesuai dengan beratnya cedera. Penyebab kematian utama adalah komplikasi disabilitas neurologik yaitu : pneumonia, emboli paru, septikemia, dan gagal ginjal.

2.15 Pertanyaan - Bagaimanakah gambar penampang medula spinalis?

- Bagaimanakah gambar kompresi medula spinalis?

- Bagaimana tanda klinis dari lesi di atasT5? Dapat menyebabkan hipomitilitas saluran pencernaan

- Bagaimana gambar saraf parasimpatis dan simpatis pada medula spinalis?

2.16 Referensi 1) Amroisa, neilan.2011. Trauma Medula Spinalis. (online), (http://www.scribd.com/doc/38951103/Trauma-Medula-Spinalis, diakses tanggal 19 Juni 2011) klasifikasi 2) Basuki, andi.dkk.2009.Kegawatdaruratan Neurologi,bagian ilmu penyakit saraf : Bandung. 3) Dahlan, sapiyudin.2011. Medula Spinalis dan Saraf Spinal, (online), (http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/02/medula-spinalis-dan-syaraf-spinal.html, diakses tanggal 8 Juni 2011) 4) Ilham,muhamad.2011.Karya Terbaik 2011.(online),(kp2011.blogspot.com/2011/03/sekilas-tentangtrauma-medula-spinalis.html,diakses tanggal 19 Juni 2011) diagnosis 5)Khosama, herliani.2011.Dignosa dan Penatalaksanaan Trauma Medula Spinalis,(online), http://bkp2011.blogspot.com/2011/03/sekilas-tentang-trauma-medulaspinalis.html ,diakses tanggal 19 Juni 2011) patofisio 6)Markus,sujari.20011.(online),(http://books.google.co.id/books? id=Ju1qkucenEgC&pg=PA122&lpg=PA122&dq=diagnosis+banding+kompresi+medula+s pinalis&source=bl&ots=7_FG7FoU-H&sig=oQCl5CGp17Fw9PGeGjkD8Qwgvs&hl=id&ei=gxD_TfmMLYyevQOohv2jAw&sa=X&oi=book_res

ult&ct=result&resnum=2&ved=0CBwQ6AEwAQ#v=onepage&q=diagnosis%20banding %20kompresi%20medula%20spinalis&f=false,diakses tanggal 20 Juni 2011) -dd 7) Pinzon, rizaldy.2011.Medula Spinalis, (online), (http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/154_13_Mielopatiservikaltraumatika.pdf/154_13_Mi elopatiservikaltraumatika.html-, diakses tanggal 20 Juni 2011) prognosis 8) Wijaya, gede eka. 2009. Medula spinalis, (online),(http://www.gedeekawijaya.co.cc/2009/10/medulla-spinalis.html, diakses tanggal 8 Juni 2011)