Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI DAFTAR ISI...........................................................................................................1 I.IDENTITAS.........................................................................................................2 II.ANAMNESIS......................................................................................................

2
A.Keluhan Utama................................................................................ 2 B.RPS (Riwayat penyakit Sekarang)....................................................2 C.RPD (Riwayat Penyakit Dahulu).......................................................3 D.Riwayat Sosial dan Riwayat Pribadi.................................................3 E.RPK (Riwayat Penyakit Keluarga).....................................................3 F.Anamnesis Sistemik.........................................................................3

RESUME ANAMNESIS........................................................................................4 III.PEMERIKSAAN FISIK..................................................................................4


A.Keadaan Umum............................................................................... 4 B.Vital Sign.......................................................................................... 4 C.Status Generalis............................................................................... 5 D.Status Lokalis Regio Skrotum dan Sekitarnya.................................7

IV.PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK..........................................8


A.Hasil Pemeriksaan Penunjang Diagnostik........................................8 1.Laboratorium darah......................................................................8

V.DIAGNOSIS BANDING...................................................................................9 VI.DIAGNOSIS......................................................................................................9 VIII.PENATALAKSANAAN DAN TERAPI......................................................9 DAFTAR PUSTAKA 13

BED SIDE TEACHING


Torsio Testis
I. IDENTITAS Nama Umur Alamat Agama Pekerjaan No. RM Ruangan : Choirul Anam : 13 tahun : Prajuritan Atas 03/09 Wonosobo : Islam : Pelajar : 567030 : Bougenville

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tanggal Masuk : 1 Juni 2013 Tanggal Keluar : 5 Juni 2013

II. ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara Auto anamnesis pada tanggal 3 Juni 2013 di ruang Bougenville. A. Keluhan Utama Kantung buah zakar kanan nyeri dan membesar. B. RPS (Riwayat penyakit Sekarang) Pasien datang ke IGD RSUD Setjonegoro diantar oleh kelarga dengan keluhan kantung buah zakar sebelah kanan terasan nyeri dan membesar sejak hari selasa, 28 Mei 2013. Keluhan dirasakan muncul tiba-tiba saat pasien terbangun dari tidur pada pagi harinya. Awalnya pasien merasakan nyeri yang hebat pada daerah skrotum sebelah kanannya, sampai terasa mual tapi tidak muntah. Nyeri dirasakan merambat samapi daerah inguinal kanan. Pasien sempat diberi obat oleh saudaranya yang merupakan namun
2

daerah skrotum kanan tampak mulai membengkak. Pasien menyangkal adanya gangguan pada BAK, namun saat BAB, bila mengejan terlalu keras bagian skrotum kanan terasa bertambah nyeri. Pasien juga menyangkal adanya cairan nanah atau darah keluar dari penis. Pasien menyagkal adanya trauma yang terjadi pada daerah skrotum dan sekitarnya. Pasien mengaku hari sebelumnya berenang. C. RPD (Riwayat Penyakit Dahulu) Pasien mengaku belum pernah mengalami gejala seperti pada penyakit sekarang baik pada sisi skrotum yang sama maupun pada sisi skrotum sebaliknya. Pasien juga belum pernah mengalami penyakit atau kelainan daerah kemaluan dan sekitarnya. Pasien belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya. Saat masih kecil juga meurut orang tua pasien belum pernah mengaami gejala seperti ini. D. Riwayat Sosial dan Riwayat Pribadi Pasien adalah seorang pelajar kelas 1 SMP, yang sehari-harinya berjalan kaki ke sekolahnya. Pasien aktif berolahraga lari dan renang. Keadaan ekonomi pasien cukup baik, orang tua pasien bekerja sebagai pedagang di pasar dan memiliki toko. Pasien belum pernah melakukan hubungan seks. E. RPK (Riwayat Penyakit Keluarga) Pasien mengaku tidak ada penyakit yang spesifik dalam anggota keluarga. Tidak ada anggota keluarga yang mengalami sakit serupa dan atau ada anggota keluarga mandul. F. Anamnesis Sistemik a. Sistem serebrospinal : tidak pusing , tidak demam b. Sistem respirasi d. Sistem digestivus : tidak batuk, tidak pilek, tidak sesak nafas : Perut bagian iguinal kanan terasa nyeri, c. Sistem kardiovaskuler: tidak nyeri dada, tidak berdebar debar BAB agak sulit karena nyeri bila mengedan terlalu keras, tidak mual, tidak ada nyeri telan, tidak muntah, tidak kembung.
3

e.

Sistem urogenital

: BAK positif,

lancar, tidak nyeri, tidak anyanganyangan, tidak terasa panas. f. g. h. Sistem muskuloskeletal ada nyeri gerak aktif Sistem integumentum : hangat, tidak basah. Kejiwaan mental : tenang, tidak nampak seperti memiliki gangguan suhu raba : tidak

RESUME ANAMNESIS Seorang anak laki-laki 13 tahun datang ke IGD karena skrotum bagian kanan terasa nyri dan membengkak sejak 6 HMRS. Keluhan dirasakan tiba-tida saat bangun tidur. Nyeri merambat ke daerah inguinal kanan, 6 jam pertama terasa nyeri sekali sampai mual, setelah itu nyeri berkurang dan bengkak bertambah besar. Sudah diberi obat sebelum datang ke RS. Gangguan pada BAK disangkal, BAB agak sulit karena nyeri bertambah bila menejan terlalu kuat. Keluhan serupa belum pernah dikeluhkan sebelumnya baik oleh pasien maupun dalam keluarga. Pasien aktif dalam kegiatan olahraga lari dan renang. Pasien belum pernah berhubungan seksual.

III. PEMERIKSAAN FISIK A. Keadaan Umum Baik dan tenang. Kesadaran : compos mentis, dengan GCS : E 4V5M6 = 15, sikap : berbaring aktif. B. Vital Sign TD N : 100/70 mmHg : 84x kali/menit RR : 24 kali/menit T : 37.2

C. Status Generalis 1. Kulit: berwarna gelap, tidak tampak pucat, tidak berkerut, tidak tampak hiperpigmentasi dan hipopigmentasi. 2. Kepala: a. Bentuk mesocepal, simetris, dan tidak ada deformitas maupun jejas serta hematom. b. Ekspresi muka: tenang. c. Rambut : Berwarna hitam, ikal, pendek, distribusi merata, dan tidak mudah dicabut. d. Mata : visus mata normal, conjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, tidak ada edema palpebra, mata tidak merah, pupil isokor, reflek cahaya positif, tidak exofthalmus. e. Telinga f. Hidung : Pendengaran baik, serumen minimal, tinnitus tidak ada, nyeri tekan tragus tidak ada. : tidak ditemukan nafas cuping hidung, discharge tidak g. Mulut ada, tidak ditemukan hiperemis dan pembengkakan pada konka. : bibir tidak sianosis, terlihat basah, tidak ada stomatitis, lidah tidak kotor dan tidak tremor, tidak ada atrofi papil lidah, uvula dan tonsila tidak membesar dan tidak hiperemis, tidak tampak adanya caries pada gigi, tidak ada gigi yang tanggal 3. Leher a. Tidak tampak deviasi trakhea dan trakhea tampak simetris membelah leher b. Kelejar tiroid tidak membesar dan tidak ada pembesaran limponodi leher. c. JVP tidak meningkat 4. Thorax Pulmo
5

a. Inspeksi simetris, tidak ada ketinggalan gerak, sifat pernafasan thoraco abdominal, irama nafas normal dan regular. b. Palpasi Tidak ada pembesaran limfonodi axillaris, vokal fremitus teraba dan terasa simetris, tidak ada nyeri tekan dan tidak teraba massa pada regio thorax. c. Perkusi Seluruh lapang sonor, batas atas hepar SIC VI midclavicula kanan. d. Auskultasi Suara dasar paru vesikuler, tidak ada suara tambahan baik berupa wheezing maupun ronkhi. Jantung a. Inspeksi b. Palpasi c. Perkusi : Ictus Cordis tampak di SIC V LMC sinistra : Ictus cordis teraba pada SIC V LMC sinistra. : Batas-Batas Jantung Kanan atas Kiri atas : SIC II Linea Para Sternalis Dextra : SIC II LMC sinistra

Kanan bawah: SIC IV LPS dextra Kiri bawah : SIC IV LMC sinistra d. Auskultasi Suara jantung I dan II tunggal dengan irama reguler, tidak terdengar adanya bising jantung, gallop dan bnti klik. 5. Abdomen a. Inspeksi : Datar, tidak ada distensi, darm contour dan darm steifung tidak ditemukan. b. Auskultasi : Peristaltik (+) normal. c. Perkusi : Timpani, pekak hepar positif.
6

d. Palpasi

: Supel, tidak terdapat nyeri tekan, hepar dan lien tidak teraba.

6. Anogenital Tidak tampak kelainan pada anus. Tidak tampak kelainan pada bentuk penis, meatus eksternus terletak di tengah glans penis, tidak tampak adanya sekret atau darah yang keluar dari meatus. Skrotum tampak membengkak pada sisi kanan, tampak agak tertarik ke arah atas, hiperemis, pada perabaan terdapat nyeri, suhu perabaan agak lebih hangat dari kulit. 7. Ekstremitas Tidak ada deformitas, tidak ada nyeri gerak aktif dan pasif, gerakan bebas dan aktif. Akral hangat dan tidak oedem D. Status Lokalis Regio Skrotum dan Sekitarnya 1) Inspeksi : Skrotum kanan tampak lebih besar dibandingkan dengan

sisi kiri, kulit skrotum tampak tegang, berwarna agak hiperemis, posisi testis tampak lebih tinggi dibandingkan sisi kiri (seperti tertarik ke atas). 2) Palpasi : Skrotum sebelah kanan terasa lebih hangat dibandingkan

sisi sebelah kiri, terdapat neri tekan pada skrotum sebelah kanan sampai ke perut regio iguinal kanan. Testis kanan teraba berada leih tinggi dibandingkan testis kiri, berukuran sedikit lebih besar dan

konsistensinya agak lebih keras. Permukaan kedua testis licin, tidak berbenjo-benjol. Nyeri tekan didapatkan pada testis sebelah kanan. Vas deferens sisi kanan sulit teraba karena pasien kesakitan, vas deferens di sebelah kiri dapat teraba, tidak terdapat adanya pembesaran, benjolan
7

dan nyeri tekan. Pada transluminasi skrotum kanan tidak didapatkan adanya transmisi cahaya. Phrens sign positif pada sisi kanan. Reflek kremaster pada sisi kanan negatif.

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan di RSUD Setjonegoro adalah: Labolatorium: darah rutin dan kimia klinik

Usulan Pemeriksaan :

Pemeriksaan urin rutin USG Doppler

A. Hasil Pemeriksaan Penunjang Diagnostik 1. Laboratorium darah


Darah Rutin Hemoglobin : 13.3 ( 12.8-16.8) g/dL Leukosit Eosinofil Basofil Netrofil Limfosit Monosit : 8.5 ( 3.8-10.6 ) 10^3 /uL : 1.8 (2 4)% : 0,30 (0 1)% : 63.5 (50 70)% : 26.2 (25 - 40)% : 8.40 (2 8)%
8

Hematokrit : 39 (40-52)% Eritrosit Tromboit MCV MCH MCHC : 4.8 (4.40-5.90) 10^6 /uL : 342 ( 150-400 ) 10^3 /uL : 81 (80 100)fl : 28 (26 34)pg : 34 (32 36)g/dl

V.

DIAGNOSIS BANDING Torsio testis Epididymio-orchitis Hydrocele Varicocele Hernia incarserata Tumor testis Torsio appendix testis/epididymis Edema scrotum idiopatik

VI.

DIAGNOSIS
Torsio testis dextra

VIII. PENATALAKSANAAN DAN TERAPI Pada umumnya terapi dari torsio testis tergantung pada interval dari onset timbulnya nyeri hingga pasien datang. a) Detorsi Manual Jika pasien datang dalam 4 jam timbulnya onset nyeri, maka dapat diupayakan tindakan detorsi manual dengan anestesi lokal. Prosedur ini merupakan terapi non invasif yang dilakukan dengan sedasi intravena menggunakan anestesi lokal (5 ml Lidocain atau Xylocaine 2%). Sebagian besar torsio testis terjadi ke dalam dan ke arah midline, sehingga detorsi dilakukan keluar dan ke arah lateral. Selain itu, biasanya torsio terjadi lebih dari 360o, sehingga diperlukan lebih dari satu rotasi untuk melakukan detorsi penuh terhadap testis yang mengalami torsio. Tindakan non operatif ini tidak menggantikan explorasi pembedahan. Jika detorsi manual berhasil, maka selanjutnya tetap
9

dilakukan orchidopexy elektif dalam waktu 48 jam. Dalam literatur disebutkan bahwa tindakan detorsi manual hanya memberikan angka keberhasilan 26,5%. Sedangkan penelitian lain menyebutkan angka keberhasilan pada 30-70% pasien. b) Pembedahan (Orchidopexy dan/atau Orchidectomy) Bila detorsi manual tidak dapat dilakukan, atau bila detorsi manual tidak berhasil dilakukan maka tindakan eksplorasi pembedahan harus segera dilakukan. Pada pasien-pasien dengan riwayat serangan nyeri testis yang berulang serta dengan pemeriksaan klinis yang mengarah ke torsio sebaiknya segera dilakukan tindakan pembedahan. Hasil yang baik diperoleh bila operasi dilakukan dalam 4 jam setelah timbulnya onset nyeri. Setelah 4 hingga 6 jam biasanya nekrosis menjadi jelas pada testis yang mengalami torsio. Eksplorasi pembedahan dilakukan melalui insisi scrotal midline untuk melihat testis secara langsung dan guna menghindari trauma yang mungkin ditimbulkan bila dilakukan insisi inguinal. Tunika vaginalis dibuka hingga tampak testis yang mengalami torsio. Selanjutnya testis direposisi dan dievaluasi viabilitasnya. Jika testis masih viabel dilakukan fiksasi orchidopexy, namun jika testis tidak viabel maka dilakukan orchidectomy guna mencegah timbulnya komplikasi infeksi serta potensial autoimmune injury pada testis kontralateral. Oleh karena abnormalitas anatomi biasanya terjadi bilateral, maka orchidopexy pada testis kontralateral sebaiknya juga dilakukan untuk mencegah terjadinya torsio di kemudian hari.

10

Tindakan pada pasien dalam kasus ini: Pada pasien dalam kasus ini onset nyeri sudah melebihi 12 jam, jadi kemungkinan testis yang mengalami torsio sudah tidak viabel karena telah mengalami nekrosis. Sehingga pada saat pasien ini datang, direncanakan untuk dilakukan operasi orchidectomy untuk testis yang mengalami nekrosis dan diikuti orchidopexy pada sisi kontralateralnya karena resiko untuk mencegah terjadinya torsio pada sisi tersebut.

Testis yang nekrosis Pengobatan pos operasi: Inbion 1 x I tab Kalnex 3 x I tab Amoxicilin 2 x II tab Antalgin 3 x I tab

Skrotum kanan pos orchidectomy dan skrotum kiri pos orchidopexy

11

Pemberian suplemen besi dan inhibitor fibrinolitik dikarenakan pos operasi terjadi perdarahan yang sulit berhenti yang kemungkinan karena adanya kelainan faktor pembekuan darah pada pasien.

12

DAFTAR PUSTAKA

1. Siroky.M.B : Torsion of the testis. In : Siroky.M.B, Oates.R.D, Babayan.R.K (eds), Handbook of urology: diagnosis and Therapy, 3 rd William&Wilkins; Philadelpihia 2004: 369-72.
2. Rupp.T.J : testicular Torsion, Department of Emergency Medicine, Thomas

ed, Lippincot

Jefferson

University,

available

in

http://www.emedicine.com/med/topic2560.htm, diakses 3 Juni 2013.


3. Anonym : Testicular torsion, available in http://en.wikipedia.org/wik/

Testicular_torsion, diakses 3 Juni 2013. 4. Cuckow.P.M, Frank.J.D : Torsion of the testis, BJU International 2000; 86 (3) : 349 5. Galejs.L.E, Kass.E.J : Diagnosis and Treatment of the Acute Scrotum, Am Fam Physician J 1999; 59 (4): 231-3.
6. Minevich.E : Testicular Torsion, Department of Surgery, Division of Pediatric

urology, available in http://www.emedicine.com/ med/topic2780htm, diakses 3 Juni 2013. 7. Ringdahl.E, Teague.L : Testicular Torsion, Am Fam Physician J 2006 ; 74 (10): 214-9. 8. Reynard.J : Torsion of the testis and testicular appendages. In: Reynard.J, Brewster.S, Biers.S (eds), Oxford Handbook of Urology, Oxford University Press, New York 2006: 452 9. Grechi. G, Li Marzi.V :Torsion of the Testicle. In: Graham.S.D (ed), Glenns Urologic Surgery, Fifth ed, Lippincot-Raven, Philadelphia 1998 : 535-8 10. Leape.L.L : Testicular Torsion. In : Ashcraft.K.W (ed), Pediatric Urology, W.B. Saunders Company; Philadelphia 1990: 429-36
11. Anonym

Urologic

Emergencies,

available

in

http://www.urologychannel.com/ emergencies/torsion.shtml, diakses 3 Juni 2013.

13

12. Ahmad.SN, Nisar C, Parray.FQ, Wani.RA : Torsion of undescended testis, Ind J of Surg 2006 ; 68 (02): 106-7. 13. Allan.W.R, Brown.R.B : Torsion of the Testis, Brit Med J 1966 ; 1: 1396-7. 14. Kadish.H.A, Bolte.R.G : A Retrospective Review of Pediatric Patient With Epididymitis, Testicular Torsion, and Torsion of Testicular Appendages, J of Am Acad of Ped 1998 ; 102 (1): 73-6. 15. Muttarak.M : Clinics in Diagnostic Imaging, Singapore Med J 1999 ; 40 (01): 43-5. 16. Beasley.S.W, McBride.C.A : The risk of metachronus (asynchronous) contralateral torsion following perinatal torsion, NZM J 2005 ; 118 (1218) 17. Clark. P : On the Testicle. In Clark.P (ed), Operation in Urology, Churchill Livingstone, New York 1985 : 123-34 18. Kaplan. G.W, Silber.I : Neonatal Torsion-To Pex or Not?. In King.L.R (ed), Urologic Surgery in Neonatus & Young Infants, W.B.Saunders Company, Philadelphia 1988 : 386-95 19. Boddy. A.M, Madden.N.P : Testicular Torsion. In Whitfield.H.N (ed), Rob&Smith Operative Surgery: Genitourinary Surgery, Vol 2, Operation in Urology, Churchill Fifth ed, Butterworth-Heinemann, London 1993: 741-3 20. Anonym 2013. : Testicular torsion Health Article, available in http://www.healthline.com/adamcontent/ testicular_torsion, diakses 3 Juni

14