Anda di halaman 1dari 13

PENGUKURAN JUMLAH ERITROSIT, LEUKOSIT, DAN KADAR HEMOGLOBIN

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Ayu Rahmawati : B1J010056 : III :3 : Santi Herowati

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2011

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Darah merupakan jaringan yang mengisi hampir separuh dari tubuh. Darah mempunyai fungsi bekerja sebagai sistem transpor (sirkulasi) dari tubuh, mengantarkan semua bahan kimia, oksigen dan zat makanan yang diperlukan untuk tubuh supaya fungsi normalnya dapat dijalankan dan menyingkirkan karbondioksida dan hasil buangan lain. Darah terdiri atas plasma dan komponen-komponen seluler yaitu sel darah merah atau eritrosit, sel darah putih atau leukosit dan trombosit. Darah merupakan jaringan pengikat yang umumnya mempunyai komposisi plasma darah dan sel-sel darah. Darah manusia dan darah hewan terdiri atas suatu komponen cair yaitu plasma dan berbagai bentuk undur yang dibawa dalam plasma, antara lain sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping-keping darah. Plasma darah adalah adalah cairan yang komplek yang berada dalam keadaan keseimbangan dinamik dengan cairan tubuh lain. Plasma darah mengandung 90% air, 78% protein, 1% elektrolit dan 1-2% zat-zat terlarut lainnya. Darah vertebrata memiliki inti yang bentuknya secara umum oval. Eritrosit mamalia dalam perkembangannya akan berbentuk cawan bikonkaf yang dapat mempercepat pertukaran gas antar sel-sel dan plasma darah. Leukosit terbagi ke dalam dua macam yaitu granulosit dan agranulosit. Basofil, eosinofil dan neutrofil termasuk kedalam leukosit granulosit (leukosit yang selselnya bergranula), sedangkan monosit dan limfosit termasuk kedalam sel-sel agranulosit. Pengukuran hematologi mencakup pengukuran eritrosit, leukosit, serta hemoglobin darah. Jumlah dan bentuk eritrosit tiap hewan berbeda-beda tergantung kelasnya. Eritrosit merupakan komponen paling banyak yang menyusun sel darah. Leukosit berbeda dengan eritrosit. Hemoglobin merupakan bagian dari sel darah merah yang berfungsi untuk mengikat oksigen. Kadar hemoglobin bervariasi dengan jumlah sel darah merah yang ada.

B. Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk memberikan keterampilan kepada mahasiswa tentang cara pengambilan darah hewan, mengetahui perbedaan bentuk sel darah pada berbagai hewan, serta cara melakukan perhitungan sel darah merah dan putih dan hemoglobin darah hewan.

II.

MATERI DAN METODE

A. Materi Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah akuarium berukuran haemositometer, pipet kapiler, mikroskop, spuit injeksi tanpa jarum, tabung sahli. Bahan yang digunakan adalah larutan Hayem, larutan Turk, Etil Diamin Tetra Acetid Acid (EDTA).

B. Metode Metode yang digunakan dalam praktikum pengukuran jumlah eritrosit, jumlah leukosit dan kadar hemoglobin adalah sebagai berikut : 1. Menghitung jumlah eritrosit (pengenceran 1000x) a) Darah ayam diisap dengan mikropipet sampai pengenceran menunjukan angka 1, kemudian ujungnya dibersihkan dengan kertas isap. b) Isap larutan Hayem yang telah dituangkan terlebih dahulu dalam tabung raksi, sampai angka 11. c) Pipa karet (yang dipakai untuk mengisap) dari pipet, kemudian pipet dipegang pada kedua ujungnya dengan ibu jari telunjuk dan kocoklah selama dua menit. d) Beberapa tetes (1-2 tetes) dibuang, kemudian tetes berikutnya digunakan untuk perhitungan. e) Bilik hitung disiapkan, cairan diteteskan dalam pipet sehingga cairan dapat masuk dengan sendirinya ke dalam bilik hitung. f) Amati di bawah mikroskop, mula-mula dengan perbesaran lemah kemudian dengan perbesaran kuat. g) Semua eritrosit yang terdapat dalam bujur sangkar bagian pojok dihitung dengan sisi masing-masing = 1/20 atau dengan volume masing-masing 1/4000 mm3. 2. Menghitung jumlah leukosit (pengenceran 10x) a) Darah ayam diisap dengan mikropipet sampai pengenceran menunjukan angka 1, kemudian ujungnya dibersihkan dengan kertas isap.

b) Isap larutan Turk yang telah dituangkan terlebih dahulu dalam tabung raksi, sampai angka 11. c) Pipa karet (yang dipakai untuk mengisap) dari pipet, kemudian pipet dipegang pada kedua ujungnya dengan ibu jari telunjuk dan kocoklah selama dua menit. d) Beberapa tetes (1-2 tetes) dibuang, kemudian tetes berikutnya digunakan untuk perhitungan. e) Bilik hitung disiapkan, cairan diteteskan dalam pipet sehingga cairan dapat masuk dengan sendirinya ke dalam bilik hitung. f) Amati di bawah mikroskop, mula-mula dengan perbesaran lemah kemudian dengan perbesaran kuat. g) Semua leukosit yang terdapat dalam bujur sangkar bagian pojok dihitung. Jumlah bujur sangkar yang dihitung menjadi 4x16 = 64 bujur sangkar dengan sisi masing-masing = mm. 3. Menghitung kadar hemoglobin a) Tabung Sahli berskala ke dalamnya diteteskan 0,1 larutan HCL hingga batas 10. b) Darah ayam yang ke luar diisap dengan pipet isap hingga skala 20l (diisap dengan tepat). c) Darah yang tersisa di ujung pipet dibersihkan dengan kapas, kemudian darah diteteskan ke tabung Sahli yang berisi HCL. d) Pipet dibilas beberapa kali dengan larutan HCL tersebut. e) Larutan HCL dan darah diaduk dengan batang pengaduk gelas yang tersedia. Pencampuran ini menghasilkan senyawa hernatin asam yang berwarna coklat pekat. f) Tabung pencampuran larutan diletakkan pada komparator yang memiliki warna pembanding. g) Setelah 1 menit dari pencampuran dengan HCL, akuades ditambahkan tetes demi tetes pada campuran darah sambil mengaduk dan membandingkan warna larutan dengan warna pembanding. h) Jika warna telah sesuai, penetesan dihentikan. Tabung dicabut dari komparator dan meniscus larutan Hb diperhatikan.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Tabel Data Pengamatan Pengukuran Hematologi Hewan Kelompok 1 Ikan 2 3 Mencit 4 5 Ayam 6 4 280.000 2,24 x 106 10,4 2,3 67.475 3.475 9,4 2,8 602.400 84.950 1,195 x 106 44,97 x 106 3,73 x 106 2,12 x 106 Hewan Uji Kadar Hb (gr/dl) 10,4 leukosit (sel/mm3) 10.175 Eritrosit (sel/mm3) 1,515 x 106

Perhitungan Kelompok 3 (Mencit) : Leukosit = 375 x 160 x 10 = 25 L 64 = 25 x 3698 = 84.950 sel/mm3 Eritrosit

= 97 x 400 = 8994 x 5000 80 = 44.970.000 = 4,4970 x 107 sel/mm 3

B. Pembahasan Darah adalah matriks cairan dan merupakan jaringan pengikat terspesialisasi yang dibentuk dari sel-sel bebas. Sel-sel darah dapat dibedakan menjadi eritrosi (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (keping darah). Darah merupakan jaringan, seperti halnya jaringan lainnya yaitu saraf dan otot maka darah juga merupakan kumpulan sel serupa yang terspesialisasi untuk melakukan fungsi tertentu dalam tubuh. Namun tidak seperti jaringan lainnya, darah merupakan cairan yang mempunyai korpuskula yang tersuspensi dalam plasma (Djuhanda, 1974). Darah merupakan cairan tubuh yang mengalir dalam pembuluh dan beredar ke seluruh tubuh. Darah pada umumnya terdiri atas unsur-unsur seluler dan matriks cairan yang disebut plasma. Plasma merupakan cairan yang mengandung ion-ion dan molekul organik meliputi protein, elektrolit, nutrient, materi sampah, zat terlarut, dan materi terlarut (Prosser and Brown, 1961). Darah memiliki fungsi yang sangat kompleks yaitu sebagai pengangkutan terutama mengangkut oksigen dan karbondioksida, sebagai kekebalan dan homeostasis, pengangkutan nutrien, pengangkutan produk buangan, membawa hormon serta berperan dalam pengendalian suhu dengan cara mengangkut panas dari struktur yang lebih dalam ke permukaan tubuh (Ville, 1988). Sel-sel darah merah merupakan sel darah yang berfungsi untuk mengangkut oksigen, karbondioksida, dan sari-sari makanan (nutrien), berdiameter rata-rata 7,5 mikron, berbentuk cakram yang bikonkaf dengan pinggiran sirkuler ketebalan 1,5 mikron dan pusat yang sangat tipis dan permukaan cakram yang bikonkaf ini relatif lebar untuk jalannya pertukaran O2 melalui membran (Sutrisno, 1999). Sebagian besar vertebrata mempunyai bentuk eritrosit lonjong dan berinti kecuali mamalia. Sel darah merah memiliki bentuk seperti cakram kecil bikonkaf, cekung pada kedua isinya sehingga apabila dilihat dari samping akan tampak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang. Struktur eritrosit terdiri dari pembungkus luar atau shoma dan masa hemoglobin. Fungsi utama eritrosit adalah untuk membawa gas CO 2 dan O2 dan secara garis besar rasio luas permukaannya bergantung pada faktor pertukaran oksigen dan karbondioksida (Pearce, 1989). Sel darah putih (leukosit) jumlahnya lebih sedikit dari eritrosit, berwarna putih dan mempunyai kemampuan gerak yang independent. Sel ini berperan dalam proses

kekebalan tubuh. Bentuk leukosit ini sangat bervariasi sesuai dengan fungsinya masingmasing (Sutrisno, 1999). Leukosit pada hewan vertebrata memiliki beberapa tipe yang semuanya berasal dari sel precursor yang sama. Sel darah putih dapat dibedakan menjadi dua yaitu yang memiliki sitoplasma granular (granulosit) dan yang memiliki sitoplasma non granuler (agranulosit). Granulosit terdiri dari monosit dan limposit. Leukosit ini berperan dalam pertahanan seluler dan hormonal organisme serta melindungi tubuh dengan menimbulkan peradangan di tempat-tempat yang terkena infeksi, memfagositasi mikroba, merusak toksin dan merusak antibody (Ville, 1988). Metode yang dilakukan pada pengukuran jumlah eritrosit, leukosit serta kadar Hb ini yaitu diawali dengan pengambilan darah pada ikan dan ayam yang merupakan hewan uji dengan menggunakan jarum spuit yang diinjeksikan ke dalam masing-masing tubuh hewan tersebut yang sebelumnya diberi EDTA yang berfungsi mencegah penggumpalan darah ketika diambil. Namun terdapat sedikit perbedaan dalam hal teknik pengambilan darah, jika pada ikan darah yang diambil didaerah bagian ventral tepatnya dibagian jantung sedangkan pada ayam diambil dari bagian ventral sayap yang merupakan aliran darah vena. Setelah itu pengukuran mulai dilakukan, darah diambil untuk diukur eritrosit dan leukositnya dengan menggunakan pipet toma dimana eritrosit diambil dengan ditambahkan larutan Hayem sebagai indikator eritrosit dengan pengenceran 100 kali sedangkan leukosit diambil dengan ditambahkan larutan Turk sebagai indikator leukosit kemudian keduanya dikocok kemudian dilihat serta dihitung dengan menggunakan haemocytometer di bawah mikroskop. Selain mengukur jumlah sel darah, dalam praktikum ini juga mengukur kadar hemoglobin dalam darah ikan dan ayam dengan cara darah diambil beberapa ml dengan menggunakan pipet sahli ke dalam haemometer kemudian diberi HCl 0,1 ml sebagai indikator penetral hemoglobin dan didiamkan selama 15 menit lalu diberi akuades untuk menetralkan cairan beberapa tetes hingga cairan tersebut warnanya menyerupai cairan standar yang ada pada haemometer yaitu oranye atau coklat muda kemudian dikukur kadar Hb nya (Yuwono, 2001). Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini diantaranya adalah haemositometer berfungsi untuk menghitung jumlah sel eritrosit dan leukosit, tabung sahli berfungsi untuk mengukur kadar hemoglobin hewan uji, spuit berfungsi untuk mengambil atau menampung darah hewan uji, dan mikroskop berfungsi untuk

mengamati serta menghitung sel eritrosit dan leukosit hewan uji. Bahan-bahan yang digunakan yaitu larutan hayem berfungsi untuk mengencerkan eritrosit, larutan turk berfungsi untuk mengencerkan leukosit dan EDTA berfungsi untuk mencegah aglutinasi pada darah hewan uji. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh jumlah rata-rata eritrosit darah ayam kelompok satu adalah 1.515.000 sel/mm3, kelompok dua 1.195.000 sel/mm3, jumlah rata-rata eritrosit mencit kelompok tiga dan kelompok empat berturut-turut adalah 44.970.000 dan 3.730.000, serta jumlah rata-rata eritrosit ikan kelompok lima dan enam 2.120.000 dan 2.240.000 sel/ml. Jumlah sel eritrosit pada tiap-tiap spesies adalah berbeda satu sama lain (Lagler, 1997). Jumlah eritrosit pada ayam jantan adalah 3,23 juta sel/ml. Mamalia betina 3,9-5,6 juta sel/ml dan mamalia jantan 4,5-6,5 juta sel/ml. Jumlah eritrosit pada ikan adalah 50.000-3.000.000 sel/ml (Oslon, 1973). Jumlah eritrosit mencit kelompok tiga menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Hal ini dapat disebabkan karena kekurangtelitian dalam menghitung jumlah eritrosit atau terlalu encernya darah hewan uji. Jumlah rata-rata leukosit ayam kelompok satu 10.175 sel/ml dan kelompok dua 602.400 sel/ml. Jumlah rata-rata leukosit marmut kelompok tiga 84.950 sel/ml, leukosit kelompok empat 67.475 sel/ml. Jumlah rata-rata leukosit ikan kelompok 3.475 dan kelompok enam 280.000. Jumlah leukosit ayam berkisar antara 16.000-40.000 sel/mm3, sedangkan sel darah ikan 20.000-150.000 sel/mm3 dan sel darah mamalia 4-11 ribu sel/mm3 (Moyle dan Cech, 2002). Hasil menunjukkan bahwa rata-rata jumlah eritrosit mencit lebih besar dibandingkan dengan jumlah leukositnya. Hal tersebut terbilang normal bahwa eritrosit dalam tubuh setiap organisme memang jauh lebih banyak daripada leukositnya. Penentuan jumlah eritrosit dan leukosit juga berhubungan dengan kadar Hb dalam darahnya. Eritrosit memang jumlahnya lebih besar dibanding dengan leukosit hal ini disebabkan karena dalam keadaan tetap eritrosit baru disintesis setelah kerusakan eritrosit lama. Selain itu jika dalam tubuh manusia terdapat sel darah putih yang lebih banyak maka akan menimbulkan berbagai macam penyakit seperti leukemia dan leukosit hanya memiliki sedikit oksigen. Perbedaan tersebut tergantung dari banyaknya kadar Hb yang ada dalam tubuh dan kadar Hb sangat ditentukan dari habitat organisme.

Hemoglobin berada di eritrosit. Organisme yang berada di darat memiliki kadar Hb yang tinggi dibanding dengan hewan akuatik karena di darat organisme mendapat suplai oksigen yang lebih dibanding dengan yang dilaut semakin dalam laut maka suplai oksigennya pun berkurang, hal tersebut dikarenakan intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam perairan lebih sedikit sehingga tumbuhan laut tidak dapat melakukan fotosintesis yang berakibat rendahnya suplai oksigen. Semakin banyak oksigen maka semakin banyak pula kadar hemoglobin di dalamnya (Sutrisno, 1987). Kadar hemoglobin pada ikan dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan faktor biologi seperti umur, berat badan,, jenis kelamin, makanan, bakteri, benalu, dan Kualitas air yang mencakup temperatur air, oksigen ketersediaan, pH dan lain lain (Akmirza et al., 2007). Ketika ikan terkena penyakit atau nafsu makan menurun, maka nilai hematokritnya menjadi tidak normal, jika hematokritnya rendah maka jumlah eritrositnya rendah.(Alamanda et al., 2007). Eritrosit sebagai penyuplai oksigen dalam darah dan dalam darah terkandung hemoglobin. Hemoglobin adalah suatu senyawa protein yang mengandung pigmen porpirofin merah (heme) yang masing-masing mengandung atom Fe ditambah dengan globin yang merupakan protein globular yang terdiri atas rantai asam amino. Hemoglobin sendiri berfungsi untuk mengatur oksigen pada mamalia dan vertebrata (Kimball, 1991). Hemoglobin dapat mengikat oksigen dan melepaskannya secara bolakbalik (reversible). Reaksi kimia yang terjadi yaitu: Hb + O2 HbO2.

Kadar hemoglobin dalam darah ayam berdasarkan pengukuran sebesar 10,4 g/dl dan 9,4 g/dl, pada mencit sebesar 2,8 g/dl dan 10,4 g/dl, sedangkan pada ikan sebesar 2,3 g/dl dan 4 g/dl. Kadar haemoglobin ikan pada praktikum berbeda dengan kadar haemoglobin pada ikan yang ditetapkan oleh Evans (1998), yaitu sebesar 7,9 g/dl. Hemoglobin mempunyai kapasitas 15 sampai 25 kali lipat kapasitas air untuk mengikat oksigen. Pada darah mamalia contohnya marmut jumlah oksigen yang secara fisik terlarut kira-kira 0,2 ml O2 per 100 ml darah dan jumlah oksigen yang diikat ke hemoglobin mencapai 100 kali lebih besar yaitu 20 ml O2 per 100 ml darah. Jadi hanya 1% dari total oksigen yang diambil oleh plasma darah sedangkan 99% total oksigen diambil oleh hemoglobin. Dengan demikian, jelaslah bahwa pigmen respiratori

hemoglobin (protein yang mengandung Fe) penting dalam pengangkutan oksigen dalam darah dan meningkatkan jumlah oksigen yang dapat diangkut. Jumlah sel darah merah yang banyak menunjukkan besarnya aktivitas hewan tersebut. Hewan yang aktif bergerak akan memiliki eritrosit dalam jumlah yang banyak pula, karena hewan yang aktif akan mengkonsumsi banyak oksigen, dimana eritrosit sendiri mempunyai fungsi sebagai transport oksigen dalam darah (Yuwono, 2001). Penurunan atau peningkatan terhadap jumlah eritrosit maupun leukosit dari batas normal diakibatkan banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain : Umur Semakin tua umur maka eritrosit menurun. Jenis kelamin Hewan jantan eritrositnya lebih besar dibanding betina. Emosi dan aktivitas Jumlah eritrosit meningkat pada saat aktivitas dan dalam keadaan emosional. Status makanan Jumlah eritrosit menurun pada saat pregnancy dan menstruasi. Ketinggian tempat Jumlah eritrosit daerah pegunungan lebih banyak dibanding daerah pantai (Sutrisno, 1999).

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Jumlah eritrosit darah ayam kelompok satu adalah 1.515.000 sel/mm3, kelompok dua 1.195.000 sel/mm3, jumlah eritrosit mencit kelompok tiga dan kelompok empat berturut-turut adalah 44.970.000 dan 3.730.000, serta jumlah eritrosit ikan kelompok lima dan enam 2.120.000 dan 2.240.000 sel/ml. 2. Jumlah leukosit ayam kelompok satu 10.175 sel/ml dan kelompok dua 602.400 sel/ml. Jumlah leukosit marmut kelompok tiga 84.950 sel/ml, leukosit kelompok empat 67.475 sel/ml. Jumlah leukosit ikan kelompok 3.475 dan kelompok enam 280.000. 3. Kadar hemoglobin dalam darah ayam berdasarkan pengukuran sebesar 10,4 g/dl dan 9,4 g/dl, pada mencit sebesar 2,8 g/dl dan 10,4 g/dl, sedangkan pada ikan sebesar 2,3 g/dl dan 4 g/dl. 4. Sel darah merah pada mamalia (marmut) tidak mempunyai inti,sedangkan pada vertebrata (ikan dan ayam) mempunyai inti dan bentuknya secara umum oval. 5. Jumlah leukosit dan eritrosit dapat dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, emosi, aktivitas, status makanan, dan ketinggian tempat.

DAFTAR REFERENSI Akmirza, Ahmet dan R. E Tepecik. 2007. Seasonal variation in some haematological parameters in naturally infected and uninfected roach (Rutilus rutilus) with Cryptobia tincae. Journal of Applied Biological Sciences 1 (3): 61-65. Alamanda E. I., Handajani N. S., dan Budiharjo A. 2007. Penggunaan Metode hematologi dan pengamatan endoparasit Darah untuk penempatan Kesehatan Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) di Kolam Budidaya Desa Mangkebumen Boyolali. Biodiversitas vol. 8 No.1:34-38 Djuhanda, T. 1974. Analisa Struktur Vertebrata 2. Armico, Bandung. Pearce, E. 1989. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Umum, Jakarta. Prosser and Brown. 1961. Comparatve Animal Physiology. WB. Saunsers Company, London. Lagler K. F., J. E. Bardach, R. R. Miller and D. R. Passino. 1977. Ichtiology Second Edition. Jhon Willey and Sons, New York Moyle, P. B and Chech, Jr. 2002. Fisher and Introduction to Ichtyology 4th. Prentice, Inc. London Oslon, C. 1973. Aulan Hematology in Riester HE and LH Schwarte. The Lowa State University Press. USA Sutrisno. 1987. Diktat Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan Unsoed, Purwokerto. , 1999. Diktat Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan Unsoed, Purwokerto. Ville. 1988. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta. Yuwono, E. 2001. Fisiologi Hewan I. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.