Anda di halaman 1dari 17

EMBRIOLOGI TELINGA Telinga luar Liang telinga berasal dari celah brankial pertama ektoderm .

.membranan timpani mewakili membran penutup celah tersebut .selama satu stadium perkembanganya , liang telinga akhirnya tertutup sama sekali oleh suatu sumbatan jaringan telinga tapi kemudian terbuka kembali , namun demikian kejadian ini mungkin merupakan suatu faktor penyebab dari beberapa kasus atresia atau stenosis bangunan ini. Aurikula berasal dari pinggir-pinggir celah brankial pertama dan arkus brankialis pertama dan kedua aurikula dipersarafi oleh cabang aurikulotemporalis dari saraf mandibularis serta saraf aurikularis mayor dan oksipitalis minor yang merupakan cabang plexus servikalis Telinga tengah Rongga telinga tengah berasal dari celah brankial pertama endoderm .rongga berisi udara ini meluas kedalam resesus tubotimpanikus yang selanjutnya meluas disekitar tulang-tulang dan saraf dari telinga tengah dan meluas kurang lebih kedaerah mastoid osikula berasal dari rawan arkus brankialis pertama (kartilago meckel ), sedangkan inkus dan stapes dari rawan brankialis kedua (kartilago reichert). Saraf korda timpani berasal dari saraf kedua (fasialis )menuju saraf pada arkus pertama (mandibularis-lingualis). Saraf timpanikus (dari jacobson ) berasal dari arkus brankialis ketiga (glosofaringeus) menuju saraf fasialis .Kedua saraf ini terletak dalam rongga telinga tengah. Otot-otot telinga tengah berasal dari otot-otot arkus brankialis. Otot tensor timpani yang melekat pada maleus, berasal dari arkus pertama dan dipersarafi oleh saraf mandibularis (saraf kranial kelima ). Otot stapedius berasal dari arkus kedua , dipersarafi oleh suatu cabang saraf ketujuh Telinga dalam Plakoda otika ektoderm terletak pada permukaan lateral dari kepala embrioplakoda ini kemudian tenggelam dan membentuk suatu lekukan otika dan akhirnya terkubur dibawah permukaan sebagai vesikel otika . Letak vesikel dekat dengan otak belakang yang sedang berkembang dan sekelompok neuron yang terkenal dengan ganglion akustikofasialis , ganglion ini penting dalam perkembangan dari saraf fasialis , akustikus dan vestibularis. Vesikel auditorius membentuk suatu divertikulum yang terletak dekat terhadap tabung saraf yang sedang berkembang dan kelak akan menjadi duktus endolimfatiks. Vesikel otika kemudian berkerut membentuk suatu urtikulus superior dan sakulus inferior dari urtikulus kemudian timbul tonjolan mirip gelang. Lapisan membrane yang jauh dari perifer gelang diserap, meninggalkan tiga kanalis semisirkularis pada perifer gelang. BOIES

ANATOMI TELINGA Secara Anatomi telinga dibagi menjadi 3, yaitu : A. Telinga Luar (Auris Externa) 1/3 lateral dibentuk oleh cartilage dan 2/3 medialnya tulang. Dilapisi oleh kulit dan glandula seruminase. Strukturnya : a. Auricula Bagian-bagiannya adalah helix, anti helix, schapa, concha, cavitas concha, symba concha, crus helices, fossa triangularis, tragus, anti tragus, dan lobulus (bagian auricular yangtidak diisi oleh kartilago). b. Meatus Acusticus Externus - Pars cartilage ;1cm - Pars ossea ; 2cm Persyarafan telinga luar : 1. Nervus auriculotemporalis 2. Nervus occipitalis minor 3. Nervus auricularis mayor 4. Ramus auricularis nervi vagi 5. Nervus facialis Perdarahan telinga luar : 1. Arteria temporalis superfisialis 2. Ramus auricularis profunda arteri maxilaris 3. Arteri auricularis posterior B. Telinga Tengah (Auris Media) Dari telinga luar dipisahkan oleh membrane timpani. Organ yang termasuk telinga tengah : a. Membran timpani - Terdiri dari pars flaccid (superior) dan pars tensa (inferior) - Dilekati oleh manubrium mallei pada permuaak medialnya. - Pusat dari membrane timpani yang konkaf disebut Umbo - Pada otoskopi, bagian membrane timpani yang tampak memantulkan cahaya disebut Conus cahaya. b. Cavum tympani Adalah rongga berisi udara di dalam pars petrosa ossi temporalis Memiliki 4 dinding, atap dan dasar (berbentuk kubus) Dinding. - Dinding lateral Terutama terisi oleh embran timpani dan cincin tulang tempat perlekatan membrane timpani, pars squamosa os temporalis Terdapat bangunan chorda timpani, yang menyilang pars flacida membrane timpani (posterior ke anterior) - Dinding medial Memisahkan cavum timpani dengan telinga dalam, ada beberapa bangunan di dinding medial : 1. Fenestra vestibule, menuju telinga dalam

a. Lateral : basis stapedius b. Medial : perilimfe vestibuli 2. Fenestra cochlearis : medial : perilimfe dari ujung saluran cochlea 3. Promontorium : dibentuk dari tonjolan bagian cochlea dan mengandung serabut daraf dari plexus tympanicus 4. Tonjolan dari canalis nervus facialis Dinding anterior Bangunan yang terdapat pada dinding anterior : 1. Tuba auditiva 2. Canalis untuk meusculus tensor timpani 3. Cabang-cabang arteri carotis interna Dinding posterior Bangunan yang terdapat pada dinding posterior : 1. Aditus dan antrum mastoid 2. Eminentia pyramidalis (berisi M.stapedius)

Atap. Tegmen timpani (bagian dari os petrosum), memisahkan cavum timpani dengan fossa cranii media Dasar. Memisahkan cavum timpani dari a.carotis interna dan v.jugularis interna Dibentuk oleh : - Lamina tympanisa (os petrosus) - Fossa jugularis - Canalis caroticus - Nervus Jacobsen c. Ossicula auditiva 1. Malleus Bagian-bagiannya : Caput : bersendi dengan inkus Collum Mallei Manubrium : tempat insersio M.tensor timpani dan melekat pada membrane timpani Processus anterior : berhubungan dengan fissure petrotympanicum Processus lateralis : berhubungan dengan bagian atas membrane tympani 2. Inkus Bagiannya: Corpus : bersendi dengan caput malei Crus longum :bercendi dengan caput stapedi Crus breve : berhubungan dengan resesus epytimpanikus 3. Stapes Bagiannya : Caput : bersendi dengan inkus Collum : tempat insersio M.stapedius Crus : menghubungkan collum dengan basis

Basis : melekat pada fenestra ovalis Otot-otot: - M.tensor timpani : menarik membrantimpanike arah dalamdan menekan basisstapedii padafenestra ovalis,sehingga membrane timpani menjadi lebih tegang - M.stapedius : relaksasi basis stapedii di fenestra ovalis, untuk mengurangi tegangandi membrane tympani d. Tuba auditiva e. Adnexa mastoidea f. Nervus fascialis C. Telinga Dalam (Auris Interna/Labirin) Berfungsi untuk pendengaran dankeseimbangan Labyrinth ossea. Struktur ini letaknya di dalam pars petrosa ossis temporalis, dilapisi periosteum dan mengandung cairan perilimfe. Di dalamnya terdapat labirin membranacea yang terdiri dari 3 bagian : Vestibulum Letaknya diantara cochlea dan canalis semicircularis Isi : - Sacculus - Utriculus - Sebagian dari duktus endolimfatikus Cochlea Berfungsi dalam proses pendengaran dan keseimbangan - Berbentuk konos - Mediolus adalah tulang pusat, sebagai sumbu dimana cochlea melingkar seperti spirallis - Isinya duktus cochlearis - Membrane basilaris membagi saluran di dalam cochlea menjadi dua (skala timpani dan skala vestibule) dan saling berhubungan dengan apeksnya - Membrane vestibularis - Di dalam membrane basilaris terdapat Organon Corti Canalis semicirkularis Untuk keseimbangan, terdiri dari : - anterior - posterior - lateral Semua canalis ini salingtegak lurus 90 derajat dan saling tegak lurus satu dengan yang lain Pada satu ujungnya melebar membentuk ampula Organa Sensum, Fk Undip

KELAINAN TELINGA LUAR

KELAINAN KONGENITAL TELINGA Merupakan akibat gangguan perkembangan arkus brakial pertama dan kedua. Macam-macam kelainannya: a. ATRESIA LIANG TELINGA DAN MIKROTIA jarang ditemukan. Penyebabnya belum jelas diketahui, diduga faktor genetik seperti : a. Infeksi virus Intoksinasi bahan kimia pada masa kehamilan, misalnya : talidomida liang telinga tidak terbentuk, disertai dengan kelainan daun telinga dan tulang pendengaran Diagnosis: Hanya dengan melihat daun telinga yang tidak tumbuh dan liang telinga yang atresia saja, keadaan telinga tengah tidak mudah dievaluasi. (makin buruk keadaan daun telinga makin buruk keadaan telinga tengah) Pemeriksaan : Audiometri dan radiologi membantu menentukan rekonstruksi kelainan di telinga luar dan telinga tengah Macamnya: a. Atresia liang telinga unilateral Dilakukan operasi setelah dewasa 15-17 tahun. b. Atresia liang telinga bilateral Masalah utama : gangguan pendengaran Setelah diagnosis ditegakkan, pasien dipasang alat bantu dengar, baru setelah berusia 5-7 tahun dilakukan operasi. b. FISTULA PREAURIKULAR Kelainan pada saat embrional pada arcus brankial 1 dan 2 merupakan kelainan herediter yang dominan. Fistula dapat ditemukan di depan tragus Pada keadaan tenang tampak muara fistula berbentuk bulat atau lonjong, berukuran seujung pensil dari muara fistula sering keluar sekret berasal dari kelenjar sebasea Pasien datang berobat karena terdapat obstruksi dan infeksi fistula terjadi pioderma atau selulitis fasial. Memasukkan biru metilen ke dalam muara fistula diduga panjang fistula. Jika terjadi abses berulang dan pembentukan sekret kronis dilakukan pengangkatan fistula jika tidak bersih menyebabkan kekambuhan. c. LOP EAR (BAT`S EAR) Kelainan kongenital, yaitu berbentuk abnormal daun telinga tampak daun telinga lebih lebar dan lebih berdiri Tidak terdapat gangguan pendengaran, tetapi menyebabkan gangguan psikis karena estetik KELAINAN DAUN TELINGA a. HEMATOMA Disebabkan trauma terdapat penumpukan bekuan darah di antara perikondrium dan tulang rawan jika tidak dikeluarkan terjadi hematoma, hingga tonjolan menjadi padat dan permanen Cara mengeluarkan bekuan darah insisi steril

Komplikasi : perikondritis b. PERIKONDRITIS (radang tulang rawan daun telinga) Disebabkan : trauma, pasca operasi telinga (mastoiditis), komplikasi pseudokista Komplikasi : tulang rawan hancur dan menciut serta keriput telinga lisut (cauliflower ear) c. PSEUDOKISTA Terdapat cairan kekuningan di antara tulang rawan daun telinga dan perikondrium Pasien tidak merasa nyeri Terapi: Dilakukan pungsi balut tekan atau dengan gips selama 1 minggu (supaya perikondrium melekat pada tulang rawan). -Jika perlekatan tidak sempurna dapat kekambuhan -jika pungsi tidak steril terjadi perinkondritis hingga telinga lisut (cauliflower ear) KELAINAN LIANG TELINGA a. SERUMEN Serumen adalah hasil produksi kelenjar sebasea dan kelenjar serumen yang terdapat di kulit 1/3 luar liang telinga. Keadaan normal serumen tidak akan tertumpuk di liang telinga, akan keluar sendiri pada waktu mengunyah, setelah sampai di luar liang telinga akan menguap oleh panas. Konsistensi lunak, kadang padat dipengaruhi faktor keturunan, iklim, dan usia. Fungsi serumen : efek proteksi membantu membawa kotoran yang ada di liang telinga, seperti penglepasan kulit, debu yang masuk ke liang telinga. Serumen menumpuk di liang telinga : menimbulkan gangguan pendengaran, menyebabkan rasa tertekan yang mengganggu di liang telinga. Terapi: -jika serumen cair dibersihkan dengan mempergunakan kapas yang dililitkan pada pelilit kapas -jika serumen padat dikeluarkan dengan pengait atau kuret, jika sukar diberikan karbogliserin 10% selama 3hari, -atau dengan irigasi telinga dengan air yang suhunya sesuai dengan suhu tubuh b. BENDA ASING DI LIANG TELINGA Benda asing : -berupa benda mati atau benda hidup, binatang, komponen tumbuhtumbuhan atau mineral. -pada anak kecil ditemukan kacang hijau, karet penghapus Pada orang dewasa: potongan korek api, binatang: kecoa, semut, atau nyamuk. Mengeluarkan benda asing harus hati-hati, dapat dilakukan anestesi lokal, pada anak-anak harus dipegangi sehingga kepalanya tidak bergerak Mengeluarkannya: Binatang di liang telinga harus dimatikan lebih dahulu sebelum dikeluarkannya memasukkan tampon basah ke liang telinga lalu meneteskan

cairan ,misal rivanol 10 menit benda asing diirigasi dgn air bersih untuk mengeluarkannya atau dgn pinset. c. OTITIS EKSTERNA radang liang telinga akut maupun kronis yang disebabkan karena bakteri. Etiologi : bakteri, jamur, alergi (eksim) atau virus Faktor yang mempermudah radang telinga luar ialah pH di liang telinga. Biasanya normal atau asam. Bila pH menjadi basa, proteksi terhadap infeksi menurun. Pada keadaan udara yang hangat dan lembab, kuman dan jamur mudah tumbuh. Hal lain ialah trauma ringan ( ketika mengorek telinga) atau karena berenang yang menyebabkan perubahan kulit karena kena air. Otitis eksterna akut Dibagi 2 : 1. otitis eksterna sirkumskripta (furunkel = bisul) oleh karena kulit di 1/3 bagian luar liang telinga mengandung adneksa kulit, seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen, maka ditempat itu dapat terjadi infeksi pada pilosebaseus, sehingga membentuk furunkel. Etiologi : kuman Staphylococcus aureus atau Staphylococcus albus Gejala : rasa nyeri yang hebat, tidak sesuai dengan besar bisul. Dikarenakan kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar di bawahnya, sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Rasa nyeri dapat juga timbul spontan pada waktu membuka mulut ( sendi temporomandibula). Juga terdapat gangguan pendengaran, bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga Terapi : tergantung pada keadaan furunkel, bila sudah menjadi abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal diberikan antibiotika dalam bentuk salep, seperti polyximin B atau bacitracin, atau antiseptik (asam asetat 25% dalam alkohol 2%). Kalau dinding furunkel tebal, dilakukan insisi, kemudian dipasang salir (drain) untuk mengalirkan nanahnya. Biasanya tidak perlu diberikan antibiotika secara sistemik, hanya diberikan obat simtomatik seperti analgetik dan obat penenang. 2. otitis eksterna difus biasa mengenai kulit liang telinga 2/3 dalam. Tampak kulit liang telinga hipermis dan edema dengan tidak jelas batasnya, serta tidak terdapat furunkel. Etiologi : kuman penyebabnya biasanya golongan Pseudomonas. Kuman lain ialah Staphylococcus albus, escheria coli dsb. Otitis externa difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supu-ratif kronis. Gejala : sama dengan otitis eksterna sirkumskripta. Kadang terdapat sekret yang berbau. Sekret ini tidak mengandung lendir (musin) seperti sekret yang ke luar dari cavum tympani pada otitis media. Pengobatan : memasukan tampon yang mengandung antibiotika ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara obat dengan kulit yang meradang. Kadang kadang diperlukan obat antibiotika sistematik. d. OTOMIKOSIS

Infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembapan yang tinggi di daerah tersebut. Yang tersering ialah jamur aspergilus. Kadang kadang juga ditemukan juga kandida albikans atau jamur lain. Gejala : berupa gatal dan rasa penuh di liang telinga, tetapi sering pula tanpa keluhan Pengobatan : membersihkan liang telinga. Larutan asam asetat 2-5 % dalam alkohol yang diteteskan ke liang telinga biasanya dapat menyembuhkan. Kadang kadang diperlukan juga obat anti-jamur (sebagai salep) yang diberikan secara topikal. e. INFEKSI KRONIS LIANG TELINGA Infeksi bakteri maupun infeksi jamur yang tidak diobati dengan baik, trauma berulang, adanya benda asing, penggunaan cetakan (mould) pada alat bantu dengar (hearing aid) dapat menyebabkan radang kronis. Akibatnya, terjadi penyempitan liang telinga oleh pembentukan jaringan parut (sikatriks). Pengobatan : memerlukan operasi rekonstruksi liang telinga. f. KERATOSIS OBLITERANS DAN KOLESTEATOMA EKSTERNA Jarang terjadi, biasanya secara kebetulan ditemukan pada pasien dengan rasa penuh di telinga. Penyakit ini ditandai dengan penumpukan deskuamasi epidemis di liang telinga, sehingga membentuk gumpalan dan menimbulkan rasa penuh serta kurang dengar. Bila tidak ditanggulangi dengan baik akan terjadi erosi kulit dan bagian tulang liang telinga. Keadaan terakhir ini sering disebut sebagai kolesteatoma eksterna yang biasanya disertai dengan rasa nyeri hebat akibat peradangan setempat. Erosi bagian tulang liang telinga dapat sangat progresif memasuki rongga mastoid dan kavum timpani. Etiologi : belum jelas, sering terjadi pada pasien dengan kelainan paru kronik, seperti bronkiektasis, juga pada pasien sinusitis. Pengobatan : penyakit ini dapat dikontrol dengan melakukan pembersihan liang telinga secara periodik, misalnya setiap 3 bulan. Pemberian obat tetes telinga dari campuran alkohol atau gliserin dalm peroksid 3%, 3 kali semingggu sering kali dapat menolong. Pada pasien yang telah mengalami erosi tulang liang telinga, sering kali diperlukan tindakan bedah dengan melakukan tandur jaringan ke bawah kulit untuk menghilangkan gaung di dinding liang telinga. Yang penting adalah membuat agar liang telinga berbentuk seperti corong, sehingga pembersihan liang telinga secara spontan lebih terjamin. g. OTITIS EKSTERNA MALIGNA Adalah suatu tipe khusus dari infeksi akut yang difus di liang telinga luar. Biasanya terjadi pada orang tua dengan penyakit DM. Bila pada otitis media peradangan hanya terbatas pada kulit, pada otitis eksterna maligna peradangan dapat meluas secara progresif ke lapisan subkutis dan ke organ sekitarnya. Dengan demikian dapat menimbulkan kelainan, berupa khondritis, osteitis, dan osteomielitis yang mengakibatkan kehancuran tulang temporal. Gejala : di mulai dengan rasa gatal di liang telinga yg dengan cepat diikuti oleh nyeri hebat dan sekret yang banyak dan pembengkakan liang telinga. Rasa nyeri tersebut akan makin hebat, liang telinga tertutup oleh tumbuhnya jaringan granulasi secara subur. Saraf fasial dapat terkena, sehingga menimbulkan paresis atau paralisis fasial. Kelainan patologik yang penting adalah osteomielitis yang progresif, yang diakibatan

oleh infeksi kuman Pseudomonas aeroginosa. Penebalan endotel yang mengiringi DM berat bersama-sama dengan kadar gula darah yang tinggi yang diakibatkan oleh infeksi yang sedang aktif menimbulkan kesulitan pengobatan yang adekuat. Pengobatan : pemberian antibiotika dosis tinggi terhadap Pseudomonas aeroginosa yang dikombinasikan dengan aminoglikosida dan diberikan secara parenteral selama 4-6 minggu. Kombinasi yang sering digunakan adalah adalah karbecilin, ticarcilin atau pipercilin dengan gentamicin, tobramicin, colistimethate atau amikacin. Juga diperlukan tindakan pembersihan luka (debrideman) secara radikal. Tindakan membersihkan luka (debrideman) yang kurang bersih akan dapat menyebabkan makin cepatnya penjalaran penyakit. Kelainan telinga: Daun Telinga

Liang Telinga

Ilmu Penyakit THT FK UNDIP KELAINAN TELINGA TENGAH OTITIS MEDIA 1. otitis media supurative a. otitis media akut (OMA)

i. Etiologi - Sumbatan tuba eustachius, karena fungsi tuba eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan. - ISPA Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, FK UI ii. Patofisiologi iii. Stadium - Stadium Oklusi Tuba Eustachius Tanda adanya oklusi tuba eustachius ialah adanya gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan negative di dalam telinga tengah, karena adanya absorpsi udara. Kadang-kadang membrane timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau berwarna keruh pucat. Stadium Hiperemis (Stadium Presupurasi) Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membrane timpani tampak hiperemis serta edem. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat. Stadium Supurasi Edem yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membran timpani menonjol (bulging) kea rah liang telinga luar. Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemia, akibat tekanan pada kapilerkapiler, serta timul pada tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membrane timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan, ditempat tersebut akan terjadi ruptur. Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan menutup kembali, sedangkan apabila terjadi ruptur, maka lubang tempat rupture (perforasi) tidak mudah menutup kembali. Stadium Perforasi Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi rupture membrane timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke lian telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan anak dapat tertidur nyenyak.

Stadium Resolusi Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahan-lahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka secret akan bekurang dan akhirnya kering.. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, FK UI

iv. Gejala Stadium 1: Salphingitis ( radang Tuba Eustachii) - telinga terasa tersumbat (oklusio tuba) - gembrebeg (tinitus low frequency) - dengar (tipe CHL) - otofoni (mendengar suara sendiri) - otoskopi MT normal - otalgia Stadium 2 : Pre supuratif ( radang mukoperios telinga tengah) - gejala stadium 1 bertambah hebat - panas/otalgia - Membran timpani merah (vaskularisasi jelas) - manubrium malei ke perifer Stadium 3 : Supurasi / pustulasi perforasi - gejala stadium 1 lbh hebat lagi - anak-anak : sering rewel / kejang - Membran Timpani bullging (otalgia) - gejala mereda - keluar discharge purulen - Membran Timpani merah membara Stadium 4: Resolusi MT utuh : - sakit/panas hilang - berlanjut menjadi OME MT perforasi : - dpt menutup kembali sikatrik tanpa stratum fibrosum - menjadi OMK (otitis media kronik) Ilmu Penyakit THT FK UNDIP v. Pemeriksaan - Inspeksi - Palpasi - Auskultasi: Dengan Otoskopi : (melihat gendang telinga/MT) MT: merah muda merah membara (rubor) bulging (adanya pustulasi)

bercak kuning (daerah nekrosis) perforasi Pemeriksaan dg. garpu tala: adanya tuli hantaran (CHL) - Rinne : positif , BC > AC - Weber : lateralisasi ke yg s akit - Scwabach : memanjang Ilmu Penyakit THT FK UNDIP Pemeriksaan otoskopi - Stadium peradangan: Pada pemeriksaan tampak membran timpani suram atau kebiruan dengan corakan pembuluh darah sepanjang maleus dan annulus. Bila penyakit berlanjut, membran timpani menebal dan memerah. Pars tensa mengembung dan bagianya tak jelas. Hal ini menunjukkan bahwa membran timpani terancan perforasi. - Stadium supurasi: Pada pemeriksaan tampak sekret mukopurulen yang sering berpulsasi, keluar melalui perforasi pada pars tensa membran timpani. Bila dapat terlihat, tampak mukosa menebal, berwarna merah dan lembut seperti beludru. Pada perforasi yang kecil mungkin tampak mukosa yang edem menonjol keluar melalui lubang perforasi dan sekret keluar dari tengahnya, biasa disebut perforasi puting susu. - Stadium komplikasi Tampak dinding postero superior liang telinga menggantung (sagging). Gambaran membran timpani tidak jelas berbeda dengan sebelumnya. Penyakit THT, Kepala dan Leher, John Jacob Ballenger vi. Pengobatan - Stadium Oklusi Pengobatan bertujuan untuk membuka kembali tuba eustachius, sehinggan tekanan negative di telinga tengah hilang. Maka diberikan : HCL efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik untuk anak < 12 tahun HCL efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk usia > 12 tahun Stadium Presupurasi/Hiperemis Antibiotika, tetes hidung dan analgetika. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Antibiotika yang dianjurkan adalah gologan penisilin atau ampisilin. Terapi awal diberikan penisilin intramuskular agardidapatkan konsentrasi yang adekuat di dalam darah, sehingga tidak terjadi mastoiditis yang terselubung, gangguan

pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal 7 hari. Bila pasien alergi penisilin, diberikan eritromisin. Pada anak: Ampisilin diberikan dengan dosis 50-100mg/BB per hari dibagi dalam 4 dosis. Amoksisilin 40 mg/BB per hari dibagi dalam 3 dosis. Eritromisin 40 mg/BB per hari. Stadium Supurasi Antibiotika disertai dengan miringotomi, bila membran timpani masih utuh. Stadium Perforasi Obat cuci telinga H2O2 3% selama 3 hari disertai antiniotika. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari. Stadium Resolusi Membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada dan perforasi membran timpani menutup. Bila tidak terjadi resolusi tampak sekret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membran timpani, maka antibiotika dapat dilanjutkana sampai 3 minggu. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, FK UI

vii. Komplikasi Sebelum ada antiboitika, OMA dapat menimbulkan komplikasi yaitu abses subperiosteal sampai komplikasi yang berat ( meningitis dan abses otak) Setelah ada antibiotika, semua jenis komplikasi biasnya didapatkan sebagai komplikasi miringotomi. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, FK UI viii. Prognosis Sembuh setelah std. Resolusi. - sembuh spontan tanpa perforasi - sembuh dg perforasi bila menutup sikatrik - sembuh setelah parasentesis TIDAK sembuh. - tanpa perforasi OME sekret kental Glue ear - dg. perforasi OMK bila sembuh dan tetap perforasi Dry ear Ilmu Penyakit THT FK UNDIP b. Otitis Media Kronis (OMSK)

i. Etiologi ii. Patofisiologi Terapi yang terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah (gizi kurang) atau hygiene buruk dapat menyebabkan OMA menjadi OMSK Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, FK UI iii. Jenis Berdasarkan peradangan: - OMSK tipe benigna: Proses peradangannya terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Tidak terdapat kolesteatom Jarang menimbulkan komplikasi OMSK tipe maligna Proses peradangannya mengenai tulang. Perforasi terletak di marginal atau atik kadang sampai subtotal. Terdapat kolesteatoma ( suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel / keratin).

Berdasarkan aktivitas sekret yang keluar: - OMSK aktif: OMSK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif. - OMSK tenang: Keadaan kavum timpani terlihat basah atau kering. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, FK UI iv. Gejala v. Pemeriksaan - Inspeksi - Palpasi - Auskultasi vi. Pengobatan - Pada OMSK tipe benigna: Bila sekret keluar terus menerus, maka diberikan obat pencuci telinga, berupa larutan H2O2 3 % selama 3-5 hari. Setelah sekret berkurang, maka terapi dilanjutkan dengan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotika dan kortikosteroid (jangan lebih dari 2 minggu/hentikan jika OMSK sudah tenang). Secara oral diberikan antibiotika dari jenis ampisilin atau eritromisin. Bila sekret sudah kering, tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanolasti. Operasi ini bertujuan untuk menghentikkan infeksi secara permanent, memperbaiki

membrane timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta memperbaiki pendengaran. Jikaada infeksi maka infeksi disembuhkan dahulu mungkin juga perlu melakukan adenoidektomi dan mastoidektomi. Pada OMSK tipe maligna: Prinsipnya yaitu pembedahan (mastoidektomi). Bila terdapat abses subperiosteal retroaurikuler, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, FK UI

vii. Komplikasi

Ilmu Penyakit THT FK UNDIP viii. Prognosis 2. Otitis Media Non Supurative a. Serosa Akut i. Etiologi - Sumbatan tuba,dimana terbentuk cairan di telingah tengah disebabkan oleh tersumbatnya tuba secara tiba-tiba seperti pada barotraumas. - Virus, terbentuknya cairan di telinga tengah yang berhubungan dengan infeksi virus pada jalan napas atas. - Alergi, terbentuknya cairan di telinga tengah yang berhubungan dengan keadaan alergi pada jalan napas atas. - Idopatik Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, FK UI

Adanya transudat atau plasma yang mengalir dari pembuluh darah ke telinga tengah yang sebagian besar terjadi akibat adanyaperbedaan tekanan hidrostastik. ii. Patofisiologi iii. Gejala - Pendengaran berkurang - Rasa tersumbat di telinga atau suara sendiri terdengar lebih nyaring atau berbeda pada telinga yang sakit (diplacusis binauralis). - Terasa ada cairan yang bergerak dalam liang telinga pada saat posisi kepala berubah. - Rasa sedikt nyeri dalam telinga tetapi bila sekret sudah hilang. - Rasa nyeri tidak ada apabila penyebab timbulnya sekret adalah virus atau alergi. - Tinitus - Vertigo Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, FK UI iv. Pemeriksaan - Inspeksi - Palpasi - Auskultasi: Dengan otoskopi terlihat membrane timpani retraksi. Kadang tampak gelembung udara atau permukaan cairan dalam kavum timpani Dengan garpu tala tampak tuli konduktif. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, FK UI v. Pengobatan - Obat vasokonstuktor local (tetes hidung). - Antihistamin - Perasat valsava(bila tidak ada ISPA) - Jika dala satu atau dua minggu gejala belum hilang lakukan miringotomi dan jika belum sembuh juga ditambah pemasangan pipa ventilasi (grommet tube). Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, FK UI vi. Komplikasi vii. Prognosis b. Serosa Kronik i. Etiologi Cairan yang ada di telinga tengah timbul akibat sekresi aktif dari kelenjar dan kista yang terdapat di dalam mukosa telinga tengah. ii. Patofisiologi iii. Gejala - Pendengaran berkurang iv. Pemeriksaan

Inspeksi Palpasi Auskultasi: Dengan otoskopi terlihat membran timpani utuh, retraksi, suram, kuning, kemerahan atau keabu-abuan. v. Pengobatan vi. Komplikasi vii. Prognosis