Anda di halaman 1dari 34

10 PENYAKIT GURU

Waspadalah ! Waspadalah !
Dra. Suminarsih, M.Si.

Pasca BERMUTU KKG TETAP JALAN TERUS !

Menyikapi UN dengan BIJAK


Drs. Sarwono, M.Pd.

PK GURU DAN PKB

Melahirkan Guru Profesional

ber CPD di KKG ase Study Istimewa KU CMURID

Yu Cenil Glenikan Gaya Wonogiren

Suyanto, S.Pd.

KOMPETENSI adalah HARGA MATI

Sugiyanto, S.Pd.I.

LANGKAH MENUJU KEBERHASILAN


Guru di Mata Mbok Siti
eks Distrik Purwantoro Kabupaten Wonogiri

EDISI 04 - MARET 2012

eks Distrik Purwantoro Kabupaten Wonogiri

Sekapur Sirih...
Pembaca Budiman,
WAHANA INFORMASI DAN KOMUNIKASI KELOMPOK KERJA GURU DISTRIK PURWANTORO

Pelindung Drs. Siswanto, M.Pd. Dra. Hj. Sri Mulyati, M.Pd. Drs. Sarwono, M.Pd Pengarah Joko Suranto, S.Pd., MM. Siswanto, S.Pd Sunardi, S.Pd., M.Pd. Warsito, S.Pd Sri Wiyani Purwaningsih, S.Pd., M.Pd. Pembina Karmin, S.Pd. H. Katono, S.Pd. Drs. Tarto Drs. Miyatno Kustono, S.Pd. Suyoto Hadi, S.Pd. Pemimpin Redaksi Toyik Haryanto, S.Pd. Suyanto, S.Pd. Dewan Redaksi Sugeng Priyanto, S.Pd., M.Pd Dwi Wuryanto, S.Pd. Samino, S.Pd. Purwanto, S.Pd. Mujiyanto, S.Pd. Susilo Budiyanto, S.Pd. Sekretaris Sukardi, S.Pd. Keuangan Suparno, S.Pd. Alamat
FKKG Distrik Purwantoro SDN I Purwantoro Jl. Raya Purwantoro-Wonogiri

Email
toyikharyanto@yahoo.co.id yan.kismantoro@yahoo.co.id

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT., karena rahmat dan hidayah-Nya buletin PROSPEK untuk edisi keempat ini dapat kami terbitkan dan menyapa para pendidik semua. Edisi 04 ini, kami suguhkan beberapa informasi terkait dengan kebijakan pemerintah, artikel, opini, case study, abstraksi penelitian, kajian kritis, renungan, tips dan triks serta beberapa tulisan teman-teman dari berbagai gugus di eks Distrik Purwantoro. UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas (pasal 3) dijelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh sebab itu, profesi guru perlu dikembangkan secara berkelanjutan, teratur dan proporsional menurut jabata fungsional guru. Agar fungsi dan tugas yang melekat pada jabatan fungsional guru dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku, mampu mewujudkan proses pembelajaran yang berkualitas maka perlu dilaksanakan Penilaian Kinerja Guru (PK GURU). Pada tahun 2012 ini, beberapa kelompok kerja sudahmemasuki tahap kedua dan ketiga. Bagi kelompok kerja yang sudah tidak mendapatkan DBL Program BERMUTU diharapkan tetap melaksanakan kegiatan secara mandiri, terencana dan terprogram seperti halnya Program BERMUTU yang telah diimplementasikan selama 3 tahun berturut-turut ini. CPD (continuing professional development) yang dalam Permenpan nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya disebut dengan istilah PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) yang terdiri dari 3 sub unsur yaitu melaksanakan pengembangan diri,melaksanakan publikasi ilmiah dan melaksanakan karya inovatif. Tanpa mengesampingkan kelemahan yang masih juga hadir dalam penyusunan buletin PROSPEK ini, kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan buletin ini. Harapan kami, penerbitan ini bermanfaat bagi pengembangan profesi, memberikan inspirasi dan memotivasi guru untuk tetap menunjukkan eksistensinya sebagai seorang pendidik. Pada akhirnya, dampak peningkatan layanan pendidikan yang bermutulah yang sangat diharapkan. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi segala upaya yang kita tempuh. Wonogiri, April 2012 Redaksi

Website
http://fkkgpurwantoro.blogspot.com

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2011

Daftar Isi
1. Sekapur Sirih .......................................................................................................................................... 1 2. Laporan Utama : PK Guru dan PKB, Melahirkan Guru Profesional .................................................. 3 3. Beranda : Pasca BERMUTU, KKG Tetap Jalan Terus ! ....................................................................... 5 4. Beranda : Ber CPD di KKG ................................................................................................................... 6 5. Artikel : Langkah Menuju Keberhasilan ............................................................................................... 8 6. Opini : Menyikapi UN dengan Bijak ..................................................................................................... 10 7. Renungan : Guru di Mata Mbok Siti .................................................................................................... 11 8. Artikel : Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran ....... 12 9. Case Study : Murid Istimewaku ............................................................................................................ 14 10. Lensa KKG : Kegiatan Pertemuan Rutin KKG Bermutu Kecamatan Slogohimo ........................... 15 11. Lensa KKG : Kegiatan Pertemuan Rutin KKG Bermutu Kecamatan Purwantoro .......................... 16 12. Lensa KKG : Pertemuan Rutin KKG Gugus Diponegoro Kec. Purwantoro ............... 18 13. Eksplorasi : Tata Kelola Ruang Kelas ........................................................................... 19 14. Dinamika : Bertinternet Sehat untuk Generasi Sehat ................................................... 20 15. Abstrak Penelitian : Penggunaan Media Ular Tangga ................................................... 23 16. Abstrak Penelitian : Penggunaan Alat Peraga Manik-Manik ........................................ 24 17. Tips & Triks : Kiat Sukses menjadi Guru Baru di Sekolah . ........................................ 25 18. Refleksi : Guru Menjadi Profesional, Bisakah ? ........................................................... 27 19. Refleksi : Guru di Mata Mbok Siti .................................................................................. 28 20. Lensa KKG : Kegiatan In Service KKG Bermutu Kecamatan Slogohimo ................... 29 21. Lensa KKG : Kegiatan In Service KKG Bermutu Kecamatan Puhpelem .................... 30

Lensa BERMUTU
Kegiatan Pertemuan Rutin KKG Gugus Budi Utomo dan KKG Gugus Potrokusumo Kecamatan Puhpelem Kabupaten Wonogiri dalam rangka pelaksanaan kegiatan Program BERMUTU Tahun 2011 Narasumber : Bp. Drs. Sarwono, M.Pd (Kasi. PPTK Disdik kab. Wonogiri) dan Bp. Drs. Mulyatno, M.Pd. (Fasilitator Program BERMUTU Kab. Wonogiri)

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

Laporan Utama
PK GURU DAN PKB,
Melahirkan Guru Profesional
Bincang bersama Drs. Sarwono, M.Pd. (Kasi. PPTK Disdik Kab. Wonogiri)

Penilaian Kinerja Guru (PK Guru) dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bila terimplementasi dengan baik akan melahirkan figur-figur guru yang profesional.
Pernyataan tersebut disampaikan Bp. Drs. Sarwono, M.Pd. ( Kasi. PPTK Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri) yang merupakan Pengelola Program BERMUTU di Kabupaten Wonogiri pada kegiatan In Service KKG/KKKS Program BERMUTU se Kecamatan Purwantoro beberapa waktu yang lalu. Hal-hal yang disampaikan beliau terkait dengan kebijakan PK Guru dan PKB bagi para guru dapat kami uraikan sebagai berikut : Guru adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas, fungsi, dan peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru yang profesional diharapkan mampu berperan dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan insan Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai semua itu, kita sangat memerlukan figurfigur pendidik yang mampu menjalankan tanggung jawab dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa masa depan masyarakat, bangsa dan negara, sebagian besar ditentukan oleh guru.

UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (pasal 3) dijelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh sebab itu, profesi guru perlu dikembangkan secara berkelanjutan, teratur dan proporsional menurut jabatan fungsional guru. Selain itu, agar fungsi dan tugas yang melekat pada jabatan fungsional guru dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku, mampu mewujudkan proses pembelajaran yang berkualitas maka perlu dilaksanakan Penilaian Kinerja Guru (PK GURU) yang menjamin terjadinya proses pembelajaran yang berkualitas di semua jenjang pendidikan. Guru dalam melaksanakan tugasnya harus memiliki kemampuan profesional yang dapat mendukung pencapaian tujuan pendidikan. Kemampuan profesional yang harus dimiliki oleh guru untuk menjamin keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan adalah guru harus memiliki pengetahuan, keterampilan, serta penguasaan kurikulum, materi pelajaran, metode mengajar, teknik evaluasi, dan harus memiliki komitmen terhadap tugas serta memiliki disiplin yang tinggi. Kemampuan profesional guru yang dimaksud perlu terus dikembangkan secara terencana, terprogram, dan berkelanjutan melalui suatu sistem pembinaan yang dapat meningkatkan kualitas profesional guru. Kondisi nyata di lapangan menunjukkan bahwa kini mutu pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah masih rendah. Untuk itu masyarakat dan pemerintah mempunyai kewajiban untuk mewujudkan kondisi yang memungkinkan guru dapat melaksanakan pekerjaannya secara profesional, bukan hanya untuk

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

Laporan Utama
kepentingan guru, namun juga untuk pengembangan peserta didik dan demi masa depan bangsa Indonesia. Membangun profesi guru sebagai profesi yang bermartabat, yakni untuk mencapai visi pendidikan nasional melalui proses pembelajaran yang berkualitas. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 16/2009, PK guru adalah penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karir, kepangkatan, dan jabatannya. Pelaksanaan tugas utama guru tidak dapat dipisahkan dari kemampuan seorang guru dalam penguasaan pengetahuan, penerapan pengetahuan, dan keterampilan sebagai kompetensi yang dibutuhkan sesuai amanat Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16/2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. PK Guru dilakukan terhadap kompetensi guru sesuai dengan tugas pembelajaran, pembimbingan, atau tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Khusus untuk kegiatan pembelajaran atau pembimbingan, kompetensi yang dijadikan dasar untuk penilaian kinerja guru adalah kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Keempat kompetensi ini telah dijabarkan menjadi kompetensi guru yang harus dapat ditunjukkan dan diamati dalam berbagai kegiatan, tindakan, dan sikap guru dalam melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan. Sementara itu, untuk tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, penilaian kinerjanya dilakukan berdasarkan kompetensi tertentu sesuai dengan tugas tambahan yang dibebankan tersebut (misalnya; sebagai kepala sekolah/madrasah, wakil kepala sekolah/madrasah, pengelola perpustakaan, dan sebagainya sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 16/2009). Peran Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah Pelaksanaan PK guru yang akan melibatkan kepala sekolah dan pengawas di satuan pendidikan untuk menjadi penilai kinerja guru. PK guru dilaksanakan secara teratur setiap tahun diawali dengan penilaian formatif pada awal tahun dan penilaian sumatif pada akhir tahun dengan memperhatikan prinsip-prinsip penilaian kinerja guru. Peningkatan kinerja guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah akan berdampak positif pada mutu pembelajaran. Dengan demikian, pendidikan akan menghasilkan output berkualitas. Penilaian kinerja guru ini memiliki empat kategori : sangat baik, baik, cukup, dan kurang. Bahwa penilaian ini sangat penting karena laporan penilaian ini akan menjadi masukan bagi guru itu sendiri tentang pencapaian kinerjanya selama ini. Selain itu, hasil penilaian ini juga menjadi masukan bagi pengawasnya untuk memberi pembinaan. "Jika guru binaannya cukup atau kurang, pengawas harus memberi pembinan demi meningkatkan kinerja guru binaannya,". Sementara untuk guru yang tergolong dalam kategori baik dan sangat baik, akan menjadi bahan pengusulan kenaikan pangkat Hasil PK guru dapat dimanfaatkan untuk menyusun profil kinerja guru sebagai input dalam penyusunan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Hasil PK guru juga merupakan dasar penetapan perolehan angka kredit guru dalam rangka pengembangan karir guru sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 16/2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Jika semua ini dapat dilaksanakan dengan baik dan objektif, cita-cita pemerintah untuk menghasilkan ''insan yang cerdas komprehensif dan berdaya saing tinggi lebih cepat direalisasikan. Selamat bereksplorasi dan berinovasi.

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

Beranda
PASCA BERMUTU, KKG TETAP JALAN TERUS !
Bincang bersama Dra. Suminarsih, M.Si. (Widya Iswara LPMP Jawa Tengah) Beberapa waktu yang lalu kami berkesempatan berbincang via email dan telepon dengan Dra. Suminarsih, M.Si. dari Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Tengah. Banyak kalangan menyebut beliau sebagai masternya Program BERMUTU di Jawa Tengah. Bu Mimin, begitu sapaan akrabnya menyampaikan beberapa himbauan kepada guru-guru yang tergabung dalam kelompok kerja. Berikut ini beberapa hal yang beliau sampaikan : Program BERMUTU pada dasarnya difokuskan pada upaya peningkatan nilai tambah kemampuan profesional guru melalui : (1) Kajian ulang kebijakan pendidikan pra-jabatan untuk memastikan bahwa program pendidikan tersebut mampu membentuk kompetensi yang diamanatkan oleh UU 14/2005; (2) Pemberian dukungan rancangan dan penyediaan program bagi guru yang belum memenuhi syarat untuk disertifikasi karena belum mencapai kualifikasi pendidikan dan kompetensi yang dipersyaratkan; (3) Upaya menemukan dampak perubahan kebijakan untuk membantu peningkatan kompetensi dan kinerja guru secara berkelanjutan; dan (4) Melaksanakan monitoring dan evaluasi untuk mengukur dampak, memandu implementasi, dan menata dimensi orientasi kualitas dari strategi pemerintah, untuk memastikan bahwa tunjangan finansial yang diberikan pemerintah untuk pendidik harus sejalan dengan peningkatan kinerjanya secara berkelanjutan, sehingga pada gilirannya akan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Pada tahun 2012 ini, beberapa kelompok kerja sudah memasuki tahap kedua dan ketiga. Bagi kelompok kerja yang sudah tidak mendapatkan DBL Program BERMUTU diharapkan tetap melaksanakan kegiatan secara mandiri, terencana dan terprogram seperti halnya Program BERMUTU yang telah diimplementasikan selama 3 tahun berturutturut ini. Bahwa Program BERMUTU merupakan program yang besar berskala nasional dengan alokasi dana yang telah dikucurkan sangat besar (US$juta 195,1) dan melibatkan banyak lembaga, instansi dan berbagai komponen. Sehingga sangat disayangkan bila program yang sangat baik tersebut terhenti begitu saja. Manfaatkan Modul BBM Bermutu Sesuai dengan namanya Modul Bahan Belajar Mandiri Bermutu, merupakan sumber belajar yang bermutu, lengkap dan praktis. Modul yang telah ditulis oleh para pakar, dosen atau widyaiswara baik dari LPTK, P4TK dan praktisi pendidikan tersebut untuk mendukung peningkatan kompetensi para guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah. Bahan Belajar Mandiri (BBM) yang diterbitkan oleh PPPTK Bahasa, Matematika, IPA, dan PKn/IPS serta Modul Suplemen Umum merupakan sumber belajar yang tidak akan habis untuk digali dan ditelaah. Penggunaan BBM dan sumber belajar dirancang untuk mengembangkan k ecakapan g uru , k epala s ekolah d an pengawas sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran, dan mengubah perilaku guru di dalam kelas.Modulmodul dirancang sedemikian rupa agar para guru dapat bekerja sama, saling berbagi pengalaman dalam setiap pertemuan kelompok kerja guru dan hasil dari pertemuan dapat diterapkan untuk peningkatan mutu pembelajaran di dalam kelas. Modul-modul tersebut sangat memadai untuk mendukung pelaksanaan tugas, di samping itu modul-modul ini juga dapat menjadi referensi bagi para guru dalam membuat Karya Tulis Ilmiah/PTK dan bagi para Kepala Sekolah dan Pengawas untuk membuat PTS (Penelitian Tindakan Sekolah) sebagai upaya yang harus dilakukan terus -

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

Beranda
menerus untuk memperbaiki proses pembelajaran atau kebijakan yang dapat dilakukan satuan pendidikan. Seperti diamanatkan dalam Pemendikbud No 16 tahun 2009. Juga, sebagai konsekuensi guru penerima tunjangan sertifikasi. Maka guru yang telah memiliki sertifikat pendidik harus melakukan pengembangan profesi, yaitu peningkatan kompetensi, kualitas, dan profesionalitas guru dan peningkatan mutu pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Beliau juga menghimbau agar para guru yang telah bersertifikasi memiliki kesadaran menyisihkan sedikit dari tunjangan profesinya untuk membantu pendanaan kegiatan pengembangan profesi melalui kegiatan kelompok kerja (KKG). Setidaknya dengan adanya kesadaran dan kepedulian para guru profesional untuk melakukan pengembangan profesi melalui pemberdayaan kelompok kerja tersebut akan bermanfaat bagi dirinya sendiri juga akan bermanfaat bagi para guru yang lain. Dengan adanya fasilitasi DBL program BERMUTU selama 3 tahun berturut-turut, tentunya sudah terlatih dan tercipta kerjasama yang solid antara pengurus, pemandu, dan guru peserta KKG, baik dalam hal manajemen organisasi, kegiatan, adminstrasi dan keuangan. Maka dengan bekal pengalaman yang ada tentunya para guru mampu menyelenggarakan kegiatan di kelompok kerjanya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Salam BERMUTU ...

Ber CPD di
enyataan di lapangan bahwa sebagian guru belum mempunyai inisiatif untuk mengembangkan karir secara optimal. Sebagian guru belum terdorong untuk mengembangkan kompetensi mereka secara optimal. B e b e r a p a program pengembangan profesional guru yang diberlakukan secara nasional dewasa ini belum sepenuhnya dapat menjangkau semua guru yang tersebar di seluruh wilayah tanah air. Besarnya jumlah guru di Indonesia berpengaruh pada pemerataan dan perluasan akses mereka dalam mengikuti kegiatan pengembangan profesional. Dalam program pengembangan pendidik kita kenal istilah CPD (continuing professional development) yang dalam Permenpan nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya disebut dengan istilah PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) yang terdiri dari 3 sub unsur yaitu melaksanakan pengembangan diri, melaksanakan publikasi ilmiah dan melaksanakan karya inovatif.

KKG

Oleh: Martin, S.Pd.


(KKG Gugus Budi Utomo, Kecamatan Puhpelem)

Peningkatan kualifikasi akademik pendidik tidak secara otomatis diikuti dengan peningkatan kompetensinya. Peningkatan kompetensi guru hanya dapat ditingkatkan antara lain melalui penguasaan materi pelajaran, peningkatan kecakapan dalam menggunakan metode mengajar yang lebih bervariasi, serta pengembangan dan penggunaan media dan alat bantu pembelajaran. Peningkatan kompetensi pendidik menjadi kunci upaya peningkatan mutu pendidikan dan menjadi faktor yang sangat menentukan dalam peningkatan hasil belajar siswa. Untuk meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, salah satu alternatif inovasi yang dewasa ini dikembangkan di negara-negara yang sudah mapan adalah program pengembangan keprofesian berkelanjutan (CPD). Tujuan CPD 1.Mewujudkan sistem pembinaan profesionalisme yang memberikan kemudahan dan kejelasan, dalam pembinaan, pengelolaa, pengadministrasian,

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

Artikel
dan penugasan, tentang keprofesian guru. 2.Mengembangkan sistem pembinaan keprofesian guru yang meliputi kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. 3. Memberikan kesempatan kepada para guru untuk meningkatkan kompetensinya sesuai dengan kebutuhan dan perundang-undangan yang berlaku. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, kebijakan pemerintah untuk merealisasikan program pengembangan keprofesian berkelanjutan tersebut salah satunya dengan memberdayakan kembali Kelompok Kerja Guru melalui pemberian DBL Program BERMUTU selama 3 tahap secara berturut-turut dan akan berakhir pada tahun 2013. Banyak manfaat telah kita rasakan dengan adanya Program BERMUTU. Program yang telah kita jalani selama 3 tahun ini tentunya telah cukup memberikan bekal yang memadai untuk menyelenggarakan kegiatan KKG pada tahun-tahun mendatang. Oleh karenanya, KKG bukan hanya sekedar suatu pertemuan guru-guru dalam satu gugus tanpa arah dan tujuan, tetapi pertemuan merupakan wahana bagi guru untuk bertukar pengertian, mengasah kemampuan, brainstorming guna mendapatkan temuantemuan baru yang bermanfaat dalam kegiatan proses belajar mengajar di kelas. KKG juga dapat digunakan oleh guru untuk mengoreksi kemampuan diri. Melalui self correction, berdampak positif bagi guru untuk berusaha selalu berbenah dan berusaha meningkatkan kualitas kemampuannya. setidaknya, dalam pertemuan ada tanya jawab antarguru dalam satu gugus. Guru yang tidak mau atau malu karena terus-menerus menjadi pendengar, dengan sendirinya akan terangsang kemauannya untuk belajar, menguasai kurikulum dan materi pengajaran, kemampuan dalam menggunakan metode dan sarana dalam proses belajar mengajar, dan kemampuan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, disiplin dan komitmen guru terhadap tugas ( Dirpendas, 1996 : 12 ). KKG juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana mempererat persatuan dan kesatuan para guru dalam satu gugus yang pada akhirnya dapat menghindarkan persaingan yang tidak sehat.

Mengoptimalkan fungsi KKG


Te r k a i t d e n g a n i m p l e m e n t a s i Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang terdiri dari 3 sub unsur yaitu melaksanakan pengembangan diri, melaksanakan publikasi ilmiah dan melaksanakan karya inovatif. Maka kegiatan KKG dapat mewujudkan fungsi perannya bila ditangani serius, dibarengi usaha berbagai pihak menutup celah kelemahan atau kendala yang ada. Usaha mengejar ketertinggalan dalam menyiapkan sumber daya manusia sesuai tuntutan jaman dapat terwujud jika guru secara optimal menjalankan perannya sebagai pendidik dan pengajar. Kegiatan KKG merupaka suatu kegiatan yang efektif dan efisien untuk meningkatkan kualitas guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar sepanjang dilakukan secara terencana dan terprogram. Diharapkan seluruh guru dapat berperan aktif dalam mendukung kegiatan KKG di wilayah masing-masing, sehingga di masa mendatang terwujud KKG yang dapat menjalankan fungsinya secara optimal sebagai wadah pengembangan profesionalisme guru yang berkualitas, mandiri, dan berkelanjutan.

Manfaat Kegiatan KKG


Guru sebagai pengajar dan pendidik dalam melaksanakan tugas profesionalnya akan menjumpai berbagai hambatan yang sulit untuk dapat dipecahkan mandiri. Selain itu guru juga dituntut untuk terus belajar, agar dapat menjadi nara sumber yang selalu siap bagi siswanya. Peningkatan pengembangan profesional guru meliputi aspek kemampuan guru dalam

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

Artikel
LANGKAH MENUJU KEBERHASILAN
oleh : Sugiyanto, S.Pd.I
(KKG Gugus Diponegoro, Kecamatan Purwantoro)

eberhasilan. Sebuah kata besar yang seringkali hanya berada dalam pikiran kita saja. Keberhasilan tampaknya masih merupakan kata besar yang mengandung kesulitan besar pula. Namun siapa sangka jika keberhasilan yang awalnya hanya berada dalam dunia maya itu bisa menjadi nyata? Setiap orang di dunia ini pastilah ingin berhasil dalam hidupnya. Keberhasilan mempunyai batas yang relatif, tidak sama untuk semua orang. Keberhasilan menurut si A mungkin berbeda dalam pandangan si B. Keberhasilan yang dicapai oleh A mungkin dipandang sebagai hal yang belum berhasil menurut B. Begitulah kerelatifan dari keberhasilan. Hal ini terkait erat dengan cita-cita besar yang ingin dicapai dalam hidupnya. Apakah menjadi sarjana merupakan keberhasilan? Ya, menurut sebagian orang. Tetapi menurut orang yang lain menjadi sarjana mungkin hanya sebuah langkah menuju keberhasilan. Mempunyai anak yang rajin dan patuh mungkin merupakan suatu keberhasilan bagi seorang ibu yang mengabdikan diri kepada keluarga untuk mendidik anaknya. Bagi orang lain, mungkin hal tersebut tidak berarti apa-apa. Singkat kata, inilah yang dimaksud bahwa keberhasilan merupakan hal yang relatif. Dan kita tidak bisa mengukur keberhasilan yang akan kita capai berdasarkan cita-cita orang lain. Pernah suatu ketika seorang teman curhat, menumpahkan semua keluhannya terutama tentang tugas / tagihan KKG Bermutu yang menurutnya sangat berat. Sambil tersenyum aku mencoba memberi sebuah wawasan bahwa semua tugas yang diberikan pemandu itu tidak lain adalah salah satu cara untuk membuat kita lebih mudah memahami materi. Kita semua menyadari, pastilah kendala utama adalah waktu untuk mengerjakannya. Aku hanya mencoba memahami permasalahan dan bersama-sama mencari solusi dari permasalahan yang sedang dialaminya. Akhirnya kami secara bersama-sama menemukan permasalahan inti yang sedang dihadapinya. Permasalahan utamanya adalah memenej waktu dan pekerjaan. Hampir semua guru (termasuk aku) mengalaminya. Tetapi ketika kita sudah sadar akan masalah utama yang menghadang keberhasilan, berarti kita sudah maju satu langkah. Setelah permasalahan ditemukan, langkah yang diambil adalah mencari solusi dari permasalahan tersebut. Solusi yang diambil bisa saja tepat atau tidak tepat. Karena itulah dibutuhkan strategi pemilihan solusi. Ada beberapa trik yang perlu kita lakukan agar keberhasilan itu datang pada kita. Pertama, Mulai dan kerjakan satu demi satu tugas tersebut. Jangan menunggu ketika deadline sudah dekat. Kerjakan secara perlahan-lahan dengan memperhatikan waktu di sela-sela waktu yang ada. Kerjakan tugas di mana saja, di perpustakaan atau di kantor atau ketika ada waktu longgar di dalam kelas. Kedua, Rajin-rajinlah asistensi dengan pemandu. Karena saat asistensi itulah banyak ilmu yang bisa kita ambil. Jangan takut jika ternyata pekerjaan kita salah. Bukankah dengan mengetahui pekerjaan

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

Artikel
kita salah di awal berarti kita sudah maju satu langkah lagi? Bayangkan saja jika kita tahu pekerjaan kita salah pada saat beberapa hari menjelang deadline. Tentu saja kita tidak akan bisa mengerjakannya dengan tenang. Ketiga, Jangan menunggu mood itu datang, tetapi usahakanlah mood itu selalu datang. Jangan tunda pekerjaan hanya karena saat itu kita sedang tidak mood. Lebih baik mengerjakannya dengan perlahan tetapi kontinu daripada terburu-buru dalam waktu yang singkat. Hal yang tidak boleh ditinggal dan harus selalu diingat adalah tetap berdoa minta pertolongan pada Allah dan juga menjaga kesehatan badan. Keempat, Perencanaan. Perencanaan yang matang memang bukan penentu keberhasilan, tetapi merupakan sebuah langkah untuk mempermudah terwujudnya keberhasilan. Dan jangan takut gagal ketika ingin berhasil. Mungkin saja kegagalan itu merupakan suatu tahapan yang harus kita lalui untuk mencapai keberhasilan. Kelima, Pasrah, tawakkal. Serahkan semua kepada Allah SWT. Karena hanya Dia-lah yang paling tahu apa hal terbaik yang terjadi pada diri kita. Apapun yang akan kita dapat nantinya sebagai hasil dari pekerjaan kita, harus kita terima dengan hati lapang. yang penting kita sudah usahakan secara maksimal. Masalah hasil akhir adalah urusan Allah. Kalaupun hasilnya ternyata masih belum memuaskan menurut kita, jangan menyesal, tetap terima hasil itu karena kita sudah berusaha maka itu hal terbaik yang pantas kita terima dan mungkin memang baru seukuran itu kemampuan kita. Sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. Dan sesuatu yang menurut kita tidak baik, belum tentu tidak baik juga menurut Allah. Tetapi jangan lupa untuk introspeksi diri, apakah keberhasilan yang ingin kita raih itu berada dalam batas kemampuan kita dan usaha kita sudah mengarah ke sana? Jangan-jangan kita hanya ingin berhasil tapi kita tidak berusaha secara maksimal? Ibaratnya secara realistis jika ingin menjadi pengusaha, kita harus memulai dari bawah dengan usaha yang tidak minim. Apakah menjadi pengusaha bisa terwujud begitu saja dengan ongkang-ongkang kaki? Tentu saja tidak. Bukankah sebenarnya kita bisa dengan mudah meraih keberhasilan itu? Keberhasilan merupakan kombinasi dari dua aspek, usaha dan doa. Usaha dan doa disertai dengan perencanaan matang dan semangat tinggi insya Allah bisa mengantarkan kita menuju keberhasilan yang ingin kita raih. Dan kalaupun dengan cara tersebut kita belum berhasil, yakinlah itu yang terbaik untuk kita. Bangkit, berusaha dan berdoalah lagi. Karena selama kita masih hidup, berarti masih ada kemungkinan untuk meraih keberhasilan tersebut. Semoga.

Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

Opini
MENYIKAPI UN DENGAN BIJAK
oleh : Toyik Haryanto, S.Pd. (FKKG Purwantoro Kab. Wonogiri) alam proses pembelajaran, penilaian dilakukan untuk mengukur sejauhmana ketercapaian kompetensi peserta didik sebagai hasil belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Oleh karena itu, guru wajib melakukan penilaian selama dan setelah proses pembelajaran suatu berbagai indikator yang merupakan penjabaran dari kompetensi dasar atau standar kompetensi. Ujian Nasional (UN) tahun pelajaran 2011/2012 sebentar lagi akan digelar di berbagai jenjang satuan pendidikan formal. Penyelenggaraan UN bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (pasal 68) hasil dari UN tersebut dapat digunakan sebagai salah satu untuk pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan, sebagai dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, sebagai penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan, serta sebagai pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun dalam pelaksanaan UN terkadang diwarnai kecurangan, sehingga hasilnya menjadi abu-abu, sulit dibedakan mana pendidikan yang berkualitas dan mana yang tidak berkualitas. Karena itu, semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan UN, baik terlibat langsung maupun tidak langsung, diharapkan memberi dukungan yang besar bagi program ini. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan tidak memberikan ruang bagi terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan UN. Tentunya hal tersebut bertentangan dengan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan khususnya Pasal 66 ayat (2) : Ujian

Nasional dilakukan secara obyektif, berkeadilan, dan akuntabel.


Kecurangan bukan hanya mengacaukan tujuan pelaksanaan UN yang sebenarnya, tetapi lebih dari itu berakibat sangat buruk bagi karakter seorang anak. Pembiasaan mentalitas curang

akan melahirkan generasi-generasi bangsa yang bodoh, tidak bertangjawab, tidak mandiri, pesimis. Padahal masa depan bangsa di masa yang akan datang ada di tangan mereka. Peserta didik yang ada di bangku sekolah merupakan generasi pemimpin masa depan yang menentukan arah bangsa. Karenanya, memberikan ruang gerak untuk berbuat curang bagi mereka sama saja dengan menggarap kehancuran bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Mestinya program UN menjadi garapan penting bagi pembentukan karakter kejujuran peserta didik. Selama ini UN lebih banyak dianggap sebagai momok dan persoalan yang mengancam masa depan seseorang. Akibatnya, cara-cara curang tidak pernah lepas dari pelaksanaan UN, termasuk pembiaran dari guru dan orang tua. Itu karena capaian mereka bertumpu pada kelulusan, bukan pada seberapa banyak pengetahuan yang didapat dalam proses belajar di bangku sekolah. Pada hakikatnya, UN bukan dimaksudkan agar peserta didik berpikiran pragmatis dan mengukur semuanya dengan angka-angka. Nilai UN sebatas gambaran kemampuan seseorang, yang belum tentu sesuai dengan kemampuan asli yang dimiliki peserta didik. Karena itu, bila dalam pelaksanaan UN diwarnai dengan kecurangan maka kehancuran pendidikan nasional tinggal menunggu saatnya tiba. Di sisi lain, terkadang guru dihadapkan pada kondisi peserta didik (peserta UN) yang mengalami kesulitan/lamban belajar ( slow learner ). Wacana Sekolah inklusi telah dikembangkan namun belum sampai pada tataran penilaian karena belum ada perangkat soal UN yang khusus disediakan bagi peserta didik yang termasuk dalam kategori demikian. Ironis memang, selama ini soal UN yang diterbitkan diberlakukan bagi semua peserta didik dengan kriteria kelulusan minimal yang sama. Semoga kedepan ada kebijakan pemerintah terkait dengan standar kelulusan bagi anak-anak didik kita yang berkebutuhan khusus tersebut. Dengan demikian para guru tidak dihadapkan pada dilema ketika ada peserta didik yang mengalami kesulitan/lamban belajar (slow learner).

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

10

Opini
Prospek Masa Depan Pada hakikatnya tidak ada orang tua ataupun guru yang menginginkan anaknya atau peserta didiknya menjadi orang yang suka berbuat curang, tidak jujur. Tetapi, karena desakan persoalan jangka pendek, kadang kala orang tua ataupun pendidik malah memberi peluang anak-anak berbuat curang, seperti yang sering terjadi dalam pelaksanaan UN. Mereka mengorbankan kejujuran hanya karena persoalan lulus tidaknya UN. Orang tua atau guru mengajari anak-anak berpikir tidak konstruktif, dengan menganggap UN harga mati. Sementara di luar sana masih banyak orang bisa menggapai keberhasilan meski tidak mengantongi nilai UN yang baik. Beberapa di antara orang-orang sukses itu bahkan sama sekali tidak menempuh sekolah formal. Itulah sebabnya perubahan paradigma terhadap UN sangat sulit dilakukan di kalangan siswa jika tidak dilakukan perubahan terlebih dahulu terhadap paradigma berpikir orang tua dan guru. Cikal bakal pandangan bahwa kelulusan UN adalah harga mati dalam benak peserta didik berawal dari wejangan orang tua dan guru. Merekalah yang menentukan arah pikiran dan tingkah anak-anak. Tidak usah heran jika banyak anak merasa bimbang dan resah memikirkan UN. Fakta ini sangat menyedihkan. Kita patut berduka karena UN yang sejatinya dimaksudkan menjadi sarana barometer mengukur tingkat keberhasilan pendidikan, malah menjadi momok menakutkan bagi peserta didik. Maka dari itu, sekaranglah saatnya perubahan paradigma itu dilakukan. Para orang tua dan guru yang harus memulainya. Jika paradigma orang tua dan guru sudah berubah, perubahan paradigma pada anak-anak bisa lebih mudah dilakukan. Orang tua dan guru harus menyadari bahwa yang terpenting dalam dunia pendidikan bukanlah lulus atau tidak lulus, tetapi proses pendewasaan diri dan pembentukan karakter. Ini senada dengan pandangan John Locke bahwa pendidikanlah yang menyediakan karakter dasar dari kebutuhan manusia untuk menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab. Bila orientasi pendidikan hanya untuk lulus UN atau agar dapat lolos seleksi pada jenjang sekolah yang favorit, maka nilai-nilai penting dari pendidikan akan lapuk ditelan pragmatisme. Jika ini terjadi berlarut-larut, tentu masa depan bangsa Indonesia dalam ancaman serius. Kiranya UN harus kita sikapi bukan pada tataran formalitasnya, tetapi pada pelatihan untuk membentuk karakter kejujuran, kemandirian dan usaha keras dalam mencapai kesuksesan. Dengan demikian, UN dapat mendorong siswa belajar lebih rajin lagi dan tidak lagi melakukan kecurangan. UN memang berbias negatif dan positif, tetapi bias negatif tidak akan terjadi jika kita bisa menyikapinya dengan bijak. (Redaksi)

ambing di belakang rumah Mbok Siti tampak sehat-sehat dengan gerak mulut lincah mengunyah rumput. Tiap aku sodori rumput, kambing itu dengan cepat menyambarnya seolah mengucapkan terima kasih. Mbok Siti tiba-tiba memberikan seikat rumput berupa dedaunan di wadah makanan yang diikat setinggi 60 cm menempel di kandang. "Kok banyak Mbok?", tanyaku menyelidik. "Rumput segini, memang sudah porsinya, anakku", sambil tersenyum memandangku. Karena tiap hari memberikan rumput, Mbok Siti sangat hafal takaran rumput yang diberikan. Begitu pula, guru sudah seharusnya hafal dengan takaran materi pembelajaran yang diberikan. "Guru harus tahu seberapa berat materi diberikan untuk siswanya", kata Mbok Siti. Tentu, tidak semua siswa menerima takaran yang sama. Takaran materi pembelajaran tentu bergantung kapasitas siswa, situasi, kondisi, dan tujuan yang akan dicapai. "Anakku, jangan sekali-kali melihat materinya tetapi lihatlah siapa yang akan menerima materi itu", pesannya. Akupun mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

11

Artikel
Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran
(Disarikan dari berbagai sumber) Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut. Pendekatan pembelajaran Dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach ) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). Berdasar pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu: 1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya. 2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran. 3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran. 4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha. Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah: 1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik. 2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. 3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkahlangkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran. 4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan. Strategi Pembelajaran Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) expositiondiscovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. Metode Pembelajaran Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan a plan of operation achieving something dan metode adalah a way in achieving something (Wina Senjaya (2008). Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ada beragam metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah;

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

12

Case Study
MURID Istimewa KU
Oleh : Tutwuri Handayani
(Guru SD Negeri II Kismantoro)

ebelum saya memulai tulisan ini, izinkan saya untuk menggambarkan kondisi murid-murid saya (yang merupakan tokoh utama dalam tulisan ini). Murid kelas V saya berjumlah 19 anak, dengan kemampuan ekonomi orang tua yang secara umum pas-pasan, dan yang terpenting dengan kekurangsadaran orang tua akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Dengan kondisi seperti itu, jangankan menyediakan fasilitas pendidikan yang layak bagi anak-anaknya, memperhatikan kerapian seragam anaknya pun luput dilaksanakan orang tua. Akhirnya, demi mengajarkan kedisiplinan, salah satunya dalam hal berpakaian, saya membuat kesepakatan dengan anak-anak, yaitu bagi murid yang tidak disiplin dalam berpakaian, akan dikenakan sanksi berupa membayar denda sebesar 500 rupiah untuk setiap pelanggaran sebagai kas kelas. Dengan kesepakatan tersebut, saya berfikir anak-anak akan lebih disiplin karena pastinya tidak akan rela mengeluarkan uang 500 rupiah yang sangat berharga bagi mereka hanya gara-gara dasi ketinggalan atau salah kaus kaki. Pagi itu, saya pergi ke sekolah seperti biasa. Sambil menunggu bel masuk berbunyi, saya membuka-buka kembali persiapan mengajar hari itu. Dari kantor, saya mendengar anak-anak kelas V ribut di kelas. Saya sendiri tidak tahu pasti apa yang diributkan. Setelah bel masuk berbunyi, saya pun masuk kelas. Anak-anak berdoa bersama dan mengucapkan salam. Selesai mengabsen, saya membuka pelajaran PKn hari itu dengan menyisipkan tentang arti penting kedisiplinan. Tiba-tiba,Fira, salah satu murid saya memotong pembicaraan. Bu, Agus hari ini tidak pakai ikat pinggang, tapi tidak mau membayar denda. Berarti melanggar kesepakatan, bu? Ohapa benar begitu, Gus? Tanya saya kepada Agus. Iya bu, saya lupa tidak memakai ikat pinggang. Tapi hari ini saya tidak ada uang saku, jadi saya tidak bias membayar denda. Jawab
Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

Yang melanggar peraturan 'kan harus dihukum, Bu! potong Fira. Tapi kamu sendiri banyak melakukan pelanggaran jawab Agus. Seketika itu saya amati Fira. Dan memang benar, hari itu Fira banyak melakukan pelanggaran, seperti sepatunya merah, tidak pakai dasi, ikat pinggangnya juga tidak hitam. Mengapa kamu pakai sepatu merah, Fira? Tanya saya. ini sepatu baru saya, baru dibelikan mama kemarin. Jawab Fira. Itu kan melanggar peraturan di kelas ini! Tapi saya, kan sudah membayar denda, Bu. Saya selalu membayar denda untuk setiap pelanggaran yang saya lakukan. Saya tidak melanggar kesepakatan, kan, bu? Seketika itu saya tercengang. Saya tidak menyangka dia akan menjawab seperti itu. Memang Fira adalah anak orang mampu. Tapi saya tidak pernah berfikir dia akan dengan sengaja melakukan pelanggaran peraturan dan dengan senang hati membayar denda. Untuk beberapa saat saya hanya bisa terdiam. Dan salah satu murid saya pun berkata, Berarti yang punya uang bisa melanggar peraturan, Bu? Skak Mat!!! Itulah yang terjadi pada saya saat itu. Saya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Ternyata kesepakatan yang disetujui sebagian besar murid pun masih ada celah untuk dilanggar oleh sebagian kecil murid saya. Dan hari itu saya sadar, jangan pernah mengesampingkan minoritas, karena bisa jadi yang kecil itulah yang punya kekuatan untuk melakukan perubahan. Mulai hari itu, saya hapus peraturan tersebut dan saya ganti dengan peraturan baru, yaitu Bagi murid yang selama satu semester sama sekali tidak melakukan pelanggaran berpakaian, akan mendapatkan reward/penghargaan. Dan senyum cerah pun terlihat dari semua murid, tanpa terkecuali.

14

Artikel
(2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya. Teknik Pembelajaran Metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasi suatu metode secara spesifik. Penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas adalah salah satu contoh. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang samasama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekaligus juga seni (kiat) Model Pembelajaran Apabila pendekatan, strategi, metode, teknik dan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa model pembelajaran. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Bruce Joyce dan M Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengurai 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu model (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, penggunaan istilah model pembelajaran identik dengan strategi pembelajaran. Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah penetapan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun. Berdasarkan uraian di atas, untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang terkadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menemukan sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul modelmodel pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

13

Lensa KKG
KEGIATAN PERTEMUAN RUTIN KKG PROGRAM BERMUTU TAHUN 2011 KECAMATAN SLOGOHIMO KABUPATEN WONOGIRI

Pelaksanaan Kegiatan Pertemuan Rutin KKG Program BERMUTU TAHUN 2011 di KKG Gugus Soedirman Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri.

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

15

Lensa KKG
KEGIATAN PERTEMUAN RUTIN KKG PROGRAM BERMUTU TAHUN 2011 KECAMATAN PURWANTORO KABUPATEN WONOGIRI

Kegiatan Pertemuan Rutin KKG Program BERMUTU TAHUN 2011 di Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri dengan Narasumber : Bp. Drs. Suharno, M.Si.. (Fasilitator Program BERMUTU Kabupaten Wonogiri. Kegiatan review Penyusunan Karya Tulis Ilmiah (PTK/PTS). Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala UPT Dinas Pendidikan Kec. Purwantoro dan Pengawas Sekolah Kec. Purwantoro.

Kegiatan Review Penyusunan PTK/PTS diikuti oleh kelompok kerja Program BERMUTU Tahun 2011 yang terdiri dari : KKG Gugus Teuku Umar, KKG Gugus Diponegoro, KKG Gugus Hasanuddin, KKG Gugus Ngurah Rai dan KKKS Kec. Purwantoro. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung Pertemuan RM. Laras,Kec. Slogohimo.
Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

16 9

Sorotan
KOMPETENSI ADALAH HARGA MATI
Oleh: Suyanto, S.Pd.
(KKG Gugus Madyantara, Kecamatan Kismantoro)

Di tengah kesibukan guru dan calon peserta sertifikasi 2012 menyiapkan diri menyambut perubahan paradigma rekrutmen sertifikasi, mereka dikejutkan oleh statemen yang dikeluarkan oleh ketua PGRI tentang penolakan UKA (Uji Kemampuan Awal). Inilah berita selengkapnya.

PGRI: Uji Kompetensi Membuat Guru Stres


JAKARTA, KOMPAS - Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Sulistiyo

mengatakan, uji kompetensi membuat guru-guru yang ingin mengikuti sertifikasi stres karena dipersulit dengan uji kompetensi untuk melakukan pendaftaran. Di sisi lain, guru yang sudah senior pun merasa malu karena tidak lulus uji kompetensi. Pemerintah dinilai sama sekali tidak mengindahkan waktu lama mengajar para guru senior. Uji kompetensi mengakibatkan guru banyak yang stres karena tidak lulus. Aturan menggunakan standar di Jakarta, padahal kualifikasi dengan daerah berbeda. Jika guru stres, jangan memimpikan pendidikan karakter jalan," kata Sulistyo, Rabu (11/1/2011), di Gedung PGRI, Jakarta. Uji kompetensi mengakibatkan guru banyak yang stres karena tidak lulus. Aturan menggunakan standar di Jakarta, padahal kualifikasi dengan daerah berbeda. Jika guru stres, jangan memimpikan pendidikan karakter jalanSulistiyo menjelaskan, pihaknya saat ini tengah membuat penelitian mengenai guru yang stres karena uji kompetensi dan juga pelanggaran undang-undang ini. Dengan dasar penelitian itu, nantinya PGRI akan membawa uji kompetensi ke ranah hukum. Melanggar peraturan Selain memberatkan, uji kompetensi juga dinilai oleh para guru melanggar peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, kata dia, uji kompetensi yang diterapkan sebagai langkah awal memperoleh sertifikasi ditolak oleh para guru, karena dianggap tidak diwajibkan dalam PP No 74/2008 pasal 12. Dalam PP itu, urainya, disebutkan bahwa guru dalam jabatan dapat langsung mengikuti pelatihan untuk memperoleh sertifikat jika telah memiliki kualifikasi akademik S-1 atau D-4. Sementara, untuk ikut pelatihan di Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), para guru dapat mengikutinya dengan portofolio yang merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru. Menurut Sulistiyo, uji kompetensi yang disahkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No 11/2011 seharusnya tidak berlaku dengan peraturan diatasnya yakni UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen. "UU itu menyebut, pada 2015 guru yang sudah 10 tahun mengajar harus mendapatkan sertifikasi pendidik pada 2015. Hendaknya, kuota sertifikasi setiap tahun diatur dengan orientasi bahwa pada 2015 semua guru dalam jabatan telah selesai disertifikasi," ujarnya. Sebelumnya, para guru mempertanyakan kebijakan pemerintah yang akan melakukan uji kompetensi guru senior sebagai salah satu syarat proses sertifikasi. Kalangan guru menilai, uji kompetensi akan memperkecil peluang guru memperoleh sertifikasi dan tunjangan profesi. Guru- guru memaknai ini untuk menghambat agar tidak banyak yang lolos. Kalau terbukti sampai 2012 hanya untuk tujuan itu, sistem tersebut harus diubah, ujar Sulistyo beberapa waktu lalu. (http://edukasi.kompas.com/read/2012/01/12/10232424/PGRI.Uji.Kompetensi.Membuat.Guru.Stres)
Ada beberapa pokok masalah yang dikemukakan oleh Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Sulistyo tersebut, antara lain : 1. Uji kompetensi mengakibatkan guru banyak yang stres karena tidak lulus. Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012 2. Uji kompetensi juga dinilai melanggar peraturan perundang-undangan karena dianggap tidak diwajibkan dalam PP No 74/2008 pasal 12. 3. Sistem rekrutmen mengunakan UKA harus diubah.

17

Sorotan
Uji Kompetensi, Pesimisme dan Bukti Kemampuan Guru Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan Guru merupakan pekerjaan profesi dengan persyaratan kompetensi tertentu, karenanya guru harus profesional, dengn konsekuensi yang tinggi, semangat mendidik, kompetensi yang berkembang sejalan dengan kebaruan teknologi pendidikan. Selain kompetensi personal dan kompetensi sosial pada keseharian guru. Satu kompetensi tertinggi yang mengarah pada keistimewaan guru adalah kompetensi professional merujuk pada performance serta pemenuhan spesifikasi tertentu dalam pelaksanaan tugas-tugas kependidikan. Profesionalisme guru diukur dengan parameter yang jelas dalam ranah profesional, pedagogik, kepribadian dan sosial yang telah diterakan dalam Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007. Keempat split domain kompetensi telah memeiliki kejelasan parameter dengan indikator yang terinci dalam beberapa butir pragmatis. Penyikapan atas kompetensi adalah sebuah tantangan untuk pemenuhan kehausan guru akan ilmu sebagaimana keinginan siswa untuk memperoleh sebanyak mungkin bekal keilmuan di sekolah. Setiap guru memiliki kewajiban pemenuhan kompetensi sebagai standar profesi. Pemenuhan ini harus didukung semua pihak. Adalah sangat jauh dari niat bijak dan baik bila sebuah organisasi profesi mengeluarkan statement yang malah mengendorkan semangat guru untuk maju. Memberi celah kepada rasa malas dan kebuntuan untuk tetap mengikuti kemampuan guru. Sebuah teladan buruk yang dicipta tanpa didasari validasi dan verifikasi data yang memadai. Yang membuat miris, sebagaimana ungkapan Ketua PB PGRI, adalah kenyataan bahwa UKA diyakini akan membuat guru stress karena tidak lulus. Jika ini benar, ada hal pokok yang memprihatinkan tentang kondisi guru di Indonesia bahwa, Guru sangat jauh dari kompetensi. Kenyataan ataukah ungkapan yang kebablasan ini perlu dilakukan verifikasi untuk menjaga akuntabilitas guru di satu sisi dan kebesaran sebuah organisasi di sisi yang lain.

Jika menyimak butir-butir rincian kompetensi guru, terutama kompetensi pedagogik dan kompetensi professional, sebenarnya tidaklah jauh dari apa yang telah dilakukan guru dalam aktivitas profesional keseharian. Tidak ada alasan bahwa guru harus takut menghadapi Uji Kompetensi Awal, apalagi sampai stress karena ketakutan tidak lulus uji. Statement yang dikeluarkan semoga tidak menyiutkan nyali guru untuk maju mengikuti UKA meski yang mengeluarkan statemen dari tokoh profesional sekalipun. Anggaplah bahwa ungkapan Gusdur tentang ayam, telur dan kotoran adalah bagian dari sebuah sistem yang harus ada untuk melengkapi kehidupan. Seekor ayam akan mengeluarkan telur dan kotoran. Dan jika anda guru maka pilihlah salah satu, karena pilihan itu akan menunjukkan seberapa jauh guru memiliki keberanian untuk menunjukkan kompetensinya sebagai seorang pendidik. Dan jika anda guru mendengar seseorang mengeluarkan statement, apapun itu, anggaplah bahwa ada telur dan ada kotoran. Andalah yang dapat mengambil kesimpulan. Apakah telur itu yang diambil untuk menambah vitamin guna peningkatan kompetensi guru ataukah kotoran ayam, yang dipastikan menjauhkan guru dari kemampuan dasarnya sebagai seorang guru. UKA bukanlah momok yang mesti ditakuti. Disitu ada difficulty Index, ada standar kelulusan, ada kisi-kisi untuk memandu keberanian menghadapi, ada proses toleransi kasuistis sesuai dengan sett default sebuah perencanaan. Dan, yang paling penting disadari, ada tujuan mulia jangka panjang pengembalian guru pada posisi terhormat yang sesungguhnya. Maka sambutlah UKA dengan lapang dada! Bangunlah optimis agar hasilnya berbuah manis! Buang jauh putus asa karena jika gagal hari ini, masih ada kesempatan kedua, bahkan kesempatan ketiga.

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

18

Sorotan
Uji Kompetensi dan Perundangan Beberapa pasal dalam peraturan hukum yang menyangkut kompetensi, profesionalisme guru antara lain: 1. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi (UU Sisdiknas ps 39 (2)). 1. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional (UU No 14/ 2005) 3.Kompetensi guru... meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. (UU No 14/ 2005 (ps 9)) 4. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (PP No 19 Tahun 2005 ps 28 (1)). 5.Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh Guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi Guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat holistik. (PP 74/2008, ps 3) Pencapaian kompetensi oleh guru untuk memperoleh sertifikat pendidik dan sertifikasi professional antara lain. 1. Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah. Sertifikasi pendidik dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel. (UU No 14/ 2005 (ps 9)) 2. Guru Dalam Jabatan yang telah memiliki Kualifikasi Akademik S-1 atau D-IV dapat langsung mengikuti uji kompetensi untuk memperoleh Sertifikat Pendidik. Jumlah peserta uji kompetensi pendidik setiap tahun ditetapkan oleh Menteri. (PP 74/2008, ps 12) Merujuk pada beberapa formal hukum di atas, maka rekrutmen guru untuk memperoleh sertifikat pendidik dan sertifikasi profesi merupakan keharusan dengan persyaratan tertentu. Persyaratan secara riil terdapat dalam PP 74/2008, pasal 12 ayat (3) yang menyebutkan bahwa, Uji kompetensi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio Barangkali berdasarkan pada ayat 3 tersebutlah maka kegegabahan statemen itu muncul dengan menjustifikasi bahwa uji kompetensi juga dinilai melanggar peraturan perundang-undangan karena dianggap tidak diwajibkan dalam PP No 74/2008 pasal 12. Sikap lapang dada dan kejujuran perlu diambil dalam menyikapi pasal 3 tersebut mengingat perjalanan waktu dan rekrutmen sertifikasi yang telah berjalan yang menggunakan sistem portofolio ternyata telah menyimpang jauh dari harapan perundangan. Banyak kasus mencuat dengan adanya penilaian kompetensi melalui portofolio yang mengarah pada Intellectual crime dan property crime seperti pembajakan, pemalsuan, peniruan, bahkan peng-copas-an tanda tangan atas nama jabatan tertentu yang nyata-nyata merupakan tindak pidana hukum. Lebih menyakitkan lagi, hal itu dilakukan oleh guru sekedar untuk memperoleh sertifikat profesi. Pada kondisi seperti inilah organisasi profesi seharusnya berani berbicara lantang untuk jujur dan menunjukkan keprofesionalnya mengakui kelemahan sebuah sistem yang bernama portofolio kompetensi. Kejujuran untuk mengakui kelemahan yang dilakukan anggotanya memang selayaknya memperoleh prioritas organisasi dalam rangka peningkatan kadar profesionalisme, bukannya malah bersikap bagai kura-kura dalam perahu! Akibatnya, setiap waktu media massa media elektronik, pertemuan profesi, birokrasi profesi ramai membicarakan 'rerasan' tentang rendahnya kompetensi guru pascasertifikasi, yang nyaris tidak ada perubahan berarti. Tetap jalan di tempat alias stagnasi, yang berubah hanya tambahan pundipundi. Dan bahkan makin tiadanya rasa malu setelah sertifikat pengakuan kompetensi mereka miliki. Perjalanan melalui rekrutmen portofilio dan

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

19

Sorotan
loutput yang sarat kelemahan tersebut, setelah dilakukan evaluasi, memerlukan pembenahan untuk meningkatkan akuntabilitas dan kapabiltas guru yang lolos sertifikasi. Pilihan jatuh pada Ujian Kompetensi Awal (UKA). UKA merupakan syarat untuk mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) bagi mereka yang masuk kuota rekrutmen sertifikasi 2012. UKA menitikberatkan pada test tertulis mulitiple choice dengan 4 pilihan jawaban. Soal UKA terdiri dari 100 soal dengan materi utama pada kompetensi pedagogik (70%) dan materi profesional guru (30%). Proporsi kesukaran butir soal dibuat seimbang antara butir soal yang mudah dan butir soal yang sukar. Perbandingannya adalah 25% mudah, 50% sedang, dan 25% sukar. Bagi mereka yang lulus UKA akan mengikuti PLPG. Setelah lolos PLPG maka sertifikat profesi dan pengakuan kepemilikan kompetensi dapat mereka miliki, sekaligus pada tahun berjalan berikutnya berhak untuk memperoleh tunjangan profesi. Bagi mereka yang tidak lulus UKA, maka akan dilakukan pembinaan untuk meningkatkan kemampuan kompetensi awal. Dan kepadanya masih diberi kesempatan untuk mengikuti UKA tahun berikutnya. Jika pun tahun berikutnya masih gagal, kepadanya diberikan kesempatan untuk mengikuti UKA tahun ketiga. Mengetahui pentahapan rekrutmen melalui UKA tersebut, tentu kita bertanya,di sisi manakah proses tersebut yang memberatkan guru? Bahkan masyarakat awan pun (baca: bukan kaum PTK) akan bertanya penuh keheranan, Mengapa stress memikirkan UKA yang telah demikian jelas kemudahannya?. Pada saat ini yang lebih diperlukan adalah dorongan dan motivasi untuk membangun semangat guru yang akan mengikuti UKA. Memberikan bantuan keilmuan, jika perlu melakukan pembinaan awal menghadapi UKA, dan bukannya melemahkan semangat guru dengan statement yang membingungkan serta mendorong kemunduran guru meraih pengakuan profesi. Uji Kompetensi dan perubahan Tuntutan perubahan sistem UKA dalam rekrutmen sertifikasi pada dasarnya adalah sebuah tuntutan positif jika perubahan tersebut mampu memberikan validasi pola perekrutan yang lebih baik untuk menjamin penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Namun jika perubahan yang dituntut adalah pengembalian pola rekrutmen melalui portofolio, adalah sebuah kemunduran besar untuk dunia pendidikan di Indonesia, dan itu adalah tsunami terdahsyat untuk peningkatan mutu dan kompetensi guru. Yang perlu kita renungkan saat ini adalah harapan bahwa rekruitmen berpola UKA mampu memberikan keterjaminan lebih dibanding portofolio. Bagaimana pun juga penguasaan kompetensi untuk para guru adalah harga mati!

Renungan
eorang guru sertifikasi, KS, dan nara sumber berbagai forum, pulang pukul 21.30WIB, telah dinanti gadis kecil semata wayangnya. Ayah boleh pinjam uang Rp 2.500? Untuk apa sayang, malam-malam pinjam uang? Adik pinjam uang sekarang, nanti adik kembalikan dengan tabunganku, Ayah? Sudahlah, sayang! Malam telah larut. Sebaiknya kamu ke kamar dan tidur. Oke? Gadis kecil kelas 4 itu tergugu, menuju kamar tidurnya. Duduk di ranjangnya, air matanya menetes. Ia menangis tanpa mengeluarkan suara. Gadis kecil itu tidak menyadari ketika ayahnya menyusulnya, dan membelai sayang rambutnya. Mengapa menangis sayang? Gadis kecil itu tengadah. Berapa gaji ayah sebulan semua?

Ayah heran, Kira-kira 10 juta lah Berapa gaji ayah dalam sehari ? Masih terheran sekitar Rp 360.000. itu artinya gaji ayah perjam sekitar Rp 15.000. Ada apa ini sayang kok tumben tanya gaji Ayah segala? Kata ibu, waktu ayah sangat berharga. Ini uang saku adik hari ini, Rp 5.000. Adik ingin pinjam uang ayah Rp 2.500 agar menjadi Rp 7.500. Untuk apa uang Rp7.500 itu? Air mata gadis kecil itu kembali mengalir, Adik ingin bermain ular tangga dengan ayah setengah jam saja, dan uang itu untuk membayar waktu ayah.. Ayah terhenyak. Ia tidak bisa berkata. Keharuan menyesaknya Betulkah ia telah mengkorupsi demikian banyak waktu anaknya? (Redaksi)

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

20

Cermin
10 PENYAKIT GURU,
Waspadalah ! Waspadalah !
enjadi guru yang profesional harus memiliki kemauan, kemampuan dan ketrampilan yang tinggi dan mau mengubah kebiasaan-kebiasaan yang kurang bagus (penyakit guru). Penyakit guru ini adalah penghambat peningkatan mutu pendidikan kita dan sebagai guru yang profesional, karena itu kita sebagai pendidik/pengajar harus mengalahkan 10 penyakit guru ini, yaitu : 1. KUSTA (KURANG STRATEGI) Guru model ini masuk kelas mengajar dengan tanpa strategi, sebagai guru yang profesional menggunakan tiga strategi yang terfokus pada peningkatan kompetensi guru dalam mengevaluasi dan meningkatkan kemampuan mengajar, serta pengembangan kompetesi guru menggunakan strategi tersebut. Ketiga strategi tersebut adalah sebagai berikut : a. Mengunakan dan menuliskan studi kasus pribadi sebagai catatan pengalaman mengajar; b. Menggunakan beberapa strategi dalam Studi Pelajaran (Lesson Study), terutama pengamatan dan pemodelan pengajaran di kelas terbuka, refleksi kelompok dan perencanaan, serta c. Menggunakan keterampilan PTK guna peningkatan. 2. TBC (TIDAK BANYAK CARA) Guru ini dalam mengajar hanya asal mengajar tanpa cara bagaimana anak didik ini mengerti/memahami pelajaran yang diberikan oleh bapak/guru pengajar guru yang profesional harus banyak cara / model pelajaran agar anak memahami pelajaran yang diberikan kita. Kalau perlu butuh nara sumber dari luar kita harus mendatangkan ke dalam kelas contohnya pelajaran IPS tentang pemerintahan kita dapat mendatangkankan nara sumber seperti Kepala Desa/Camat. apabila sekarang teknologi tambah canggih jadi bisa memanfaatkan teknologi itu. Contohnya tape recorder, televisi, video, komputer, internet. 3. KUDIS (KURANG DISIPLIN) Guru model ini dalam mengemban tugasnya tidak disiplin, datang terlambat, masuk kelas terlambat biasanya sudah waktu mengajar masih ada di dalam kantor, tidak memanfaatkan waktu. Sebelum waktu selesai/bukan waktunya, pulang duluan/keluar dulu, Jadi mutu pendidikan berkurang, karena itu kita sebagai guru seharusnya : a. Malu datang terlambat b. Malu tidak mengajar c. Malu pulang dulu d. Malu tidak disiplin, dll. 4. KRAM (KURANG TERAMPIL) Sebagai guru harus terampil menggunakan model pengajaran, strategi, memanfaatkan teknologi yang lebih canggih pun. Kita tahu guru masih ada yang tidak bisa komputer / internet sebenarnya sebagai guru bisa memanfaatkan teknologi untuk menunjang pembelajaran agar anak didik kita lebih jelas/memahami pelajaran. Guru yang profesional seharusnya Terampil mengelolah kelas maupun manajemen kelas. Agar anak didik kita betah dalam kelas dan tidak bosan dalam pelajaran berlangsung, ini akan meningkatkan mutu Pendidikan kita. 5. LESU (LEMAH SUMBER) Guru kalau kurang sumber niscaya dalam pelajaran berlangsung kurang bahan yang diajarkan jadi pengetahuan anak didik kita berkurang, karena itu sebagai guru harus banyak sumber baik membaca berbagai buku/modul pelajaran, dari koran, majalah, internet, kita banyak sumber kalau perlu memakai nara sumber internet kita tinggal mengarahkan ke internet/link yang berhubungan dengan pelajaran yang diajarari menambah wawasan anak didik kita selain mengenalkan komputer/ internet anak didik kita dapat pelajaran juga, ini semua untuk penikatan mutu pendidikan.

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

21

Cermin
6. WTS (WAWASAN TIDAK LUAS)

Guru yang profesional seharusnya mempunyai wawasan lebih luas segala hal untuk mengajar seperti macam model-model pelajaran apalagi model pelajaran terbaru/terkini agar kita tidak ketinggalan, teknologi canggih dapat mendukung proses pelajaran kita, wawasan perkembangan anak didik kita, bisa membaca keadaannya agar proses pembelajaran dapat berlangsung.
7. MUAL (MUTU AMAT LEMAH)

Mutu pendidikan tergantung dari mutu pelajaran yang diberikan kita, kalau kita tidak bisa meningkatkan mutu pendidikan kita, hal ini mempengaruhi mutu pendidikan anak kita yang tidak diharapkan, karena itu kita tingkatkan mutu pendidikan ini dengan sering mengikuti workshop, pelatihan program bermutu, sering berdikusi sesama sejawat di forum/KKG membagi masalah/pengalaman kita sesama sejawat, agar semua poblem permasalahan dapat diatasi, setidaknya menambah mutu pendidikan kita.
8. TIPUS (TIDAK PUYA SELERA)

Kalau pendidik/pengajar tidak punya selera mengajar yang lebih baik jangan harap keberhasilan meningkatkan mutu pendidikan meningkat, karena itu kita harus punya selera mengajar yang lebih baik dengan niat yang sungguh-sungguh untuk mengajar/mendidik anak dengan kemaun untuk belajar dan belajar / meningkatkan mutu pendidikan dengan cara pelatihan, workshop, seminar, diskusi dalam forum/KKG. Hanya denagan niat yang iklas dan kemauan yang kuat bisa mengubah mutu pendidikan.
9. ASAM URAT (ASAL SUSUN MATERI URUTAN TIDAK KAMIRAT)

sebagai guru profesional seharusnya merancang/merencanakan apa yang akan diajarkan seperti membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Dalam pembuatan RPP jangan asal buat sepenting urutan itu kurang profesional . (nonprofesional atau amatiran) Guru yang profesional membuat RPP harus disesuaikan dengan keadaan sekolah dan kondisi murid serta strategi, metode apa yang cocok seberapa sulitnya pelajaran juga diperhatikan dan ini semua dijadikan pertimbangan agar dalam pelaksanaan nanti target dan sasaran mengenai/berhasil setidaknya 99 % keberhasilan.
10. ASMA (ASAL MASUK KELAS)

ini lebih parah penyakit guru asal ada didalam kelas, yang penting anak tidak ramai /hanya dijadikan robot, anak didik suruh diam yang penting duduk manis. Jam berakhir sudah keluar, pradikma lama ini harus dirubah dan kita harus lebih profesional didalam kelas yang kratif dan menyenangkan anak lebih betah dan memahami apa yang kita ajari. Cara kita harus selalu berlatih dan memiliki pengetahuan dalam subjek matter (bidang studi) yang akan diajarkan serta penguasaan metodologis dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoritik, mampu dalam proses belajar mengajar. Guru pun harus memiliki pengetahuan luas tentang landasan kependidikan dan pemahaman terhadap subjek didik (murid). Pendidikan adalah kunci utama dalam kesuksesan baik karier seseorang maupun Bangsa dan Negara. Perjuangan guru adalah mesin utama dalam suatu bangsa dan Negara, agar perekonomian suatu negara agar maju dan sejahtra. Mari kita waspada dari segala penyakit guru yang selalu membanyangi kita semua. Karena hanya dengan kemauan yang keras dan niat yang sungguh serta ikhlas yang bisa mengalahkan semua penyakit guru. Buanglah jauh-jauh, hancurkan segala penyakit yang dapat menyerang kita.

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

22

Abstrak Penelitian
Peningkatan Keaktifan dan Hasil belajar Matematika Pemanfaatan Lantai Keramik sebagai Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi belajar IPA
oleh : Sudarno, S.Pd.
(KKG Gugus Diponegoro, Kec. Purwantoro)

Sudarno,S.Pd., 2011. Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika melalui Pemanfaatan Lantai Keramik sebagai Media Pembelajaran pada Siswa Kelas VI SDN 1 Ploso Semester II Tahun 2011/2012. Tujuan Penelitian Tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui apakah dengan memanfaatkan lantai keramik sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas VI SDN 1 Ploso pada Semester II tahun 2011/2012.Dipilihnya lantai ruang kelas dimaksudkan untuk menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan bagi siswa. Dengan pembelajaran yang konstektual diharapkan siswa dapat lebih mudah memahami materi pembelajaran sehingga mudah pula mencapai ketuntasan belajar. Setting penelitian ini adalah di SDN 1 Ploso, dan Subyek penelitian adalah siswa kelas VI SDN 1 Ploso tahun 2011/2012 sebanyak 24 siswa terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Dipilihnya Subyek penelitian dan setting penelitian ini karena peneliti adalah guru di SDN 1 Ploso, dan mengampu kelas VI sehingga memudahkan dalam pelaksanaanya. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yaitu metode bersiklus dan berulang yang terdiri dari empat kegiatan pokok yaitu perencanaan (planing),pelaksanaan(actuating) , pengamatan (observing), dan refleksi (reflekting) yang diawali dengan refleksi terhadap kekurangan pembelajaran yang telah dilakukan. Hasil refleksi kemudian dijadikan dasar untuk merencanakan tindakan perbaikan pembelajaran selanjutnya. Rencana yang sudah tersusun selanjutnya dilaksanakan dengan diamati oleh teman sejawat sealki observer. Data temuan hasil observasi itu kemudian didiskusikan dengan observer yang merupakan teman sejawat peneliti yang kemudian dilakukan penyempurnaan untuk merencanakan perbaikan pembelajaran berikutnya. Refleksi dan analisa akan dihentikan bila tujuan penelitian telah tercapai yaitu seluruh siswa dapat mencapai ketuntasan belajar Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa dengan memanfaatkan lantai keramik dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas VI SDN 1 Ploso Semester II tahun 2011/2012. Terbukti dari hasil pembelajaran yang semula pada pra siklus tentang keaktifan siswa hanya pasif mendengarkan penjelasan guru yang menggambarkan koordinat di papan tulis, pada siklus I sudah banyak anak anak yang terlibat dalam pembelajaran. Sedangkan pada siklus II semua siswa terlibat dalam proses pembelajaran. Peningkatan hasil belajar juga terjadi dari pra siklus rata-rata nilai hanya 56,66 pada siklus I menjadi 69,58 dan pada siklus II meningkat menjadi 76,25. Ketuntasan belajar juga mengalami peningkatan yaitu pada pra siklus 20 %, pada siklus I meningkat menjadi 66% dan siklus II meningkat menjadi 87,5%.

Kata Kunci : Keaktifan belajar , Hasil belajar, Lantai Keramik, Media Pembelajaran
Guru yang biasa-biasa saja memberi tahu. Guru yang baik menjelaskan. Guru yang bagus menunjukkan bagaimana caranya. Tetapi guru yang luar biasa menginspirasi murid-muridnya.
(W illiam A. Ward)

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

23

Abstrak Penelitian
Penerapan Pendekatan Kontekstual untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi belajar IPA
oleh : Purwanto, S.Pd.
(KKG Gugus Teuku Umar, Kec. Purwantoro)

Purwanto NIP 19700503 200701 1 025. Penerapan Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi belajar IPA pada siswa kelas IV SD Negeri III Purwantoro Kabupaten Wonogiri Tahun Pelajaran 2011/2012. Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah (1) Untuk meningkatkan prestasi belajar IPA tentang materi Hubungan antara Struktur Akar tumbuhan dan Fungsinya melalui pendekatan Kontekstual pada siswa kelas VI SD Negeri III Purwantoro Kecamatan Purwantoro Kabupaten Wonogiri, (2) Untuk mengatasi hambatan yang terjadi dalam pendekatan Kontekstual guna meningkatkan prestasi belajar IPA tentang materi Hubungan antara Struktur Akar tumbuhan dan Fungsinya pada siswa kelas IV SD Negeri III Kecamatan PurwantoroKabupaten Wonogiri. Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari beberapa siklus, yang masing-masing siklus mempunyai empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri III Purwantoro yang berjumlah 27 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, observasi, dan angket. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari tes evaluasi siklus I menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar siswa pada materi Hubungan antara Struktur Akar tumbuhan dan Fungsinya sudah diperoleh nilai rata-rata kemampuan siswa menjawab soal dengan benar adalah 72,96. Besarnya persentase siswa tuntas hanya sebesar 70,37%. Sedangkan pada siklus II prestasi belajar siswa pada materi Hubungan antara Struktur Akar tumbuhan dan Fungsinya sudah mengalami peningkatan prestasi, diperoleh nilai rata-rata kemampuan siswa menjawab soal dengan benar adalah 84,07 dan sudah melebihi KKM. Besarnya persentase siswa tuntas sebesar 96,30%. Secara keseluruhan peningkatan prestasi belajar siswa naik dari kondisi awal persentase siswa tuntas adalah 48,15% dan setelah melalui dua siklus menjadi 96,30%, maka mengalami peningkatan sebesar 44,45%. Dengan demikian dapat dibuat suatu kesimpulan bahwa pendekatan kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar IPA pada siswa kelas IV SD Negeri 3 Purwantoro tahun pelajaran 2011/ 2012. Kata Kunci : Pendekatan Kontekstual , Minat belajar, Prestasi belajar IPA.

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

24

Sekilas Info
Silabus Model PPG UNS
Oleh: Slamet Basuki, S.Pd.SD. (Gugus Madyantara Kec Kismantoro) erangkat pembelajaran bukanlah hal asing bagi guru. Terdiri dari silabus, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan lampiran. Perangkat pembelajaran wajib dibuat guru setiap pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Tujuan utamanya untuk mengkoordinir pembelajaran yang akan dilaksanakan. Tanpanya maka kegiatan pembelajaran tidak berjalan sesuai harapan. Penyusunan perangkat pembelajaran versi PPG (Pendidikan Profesi Guru) terutama di Universitas Sebelas Maret, yang saat inisedang saya tempuh sejak12 Desember 2011, terdapat beberapa pembaruan. Pembaruan terutama pada silabus dan RPP. Dengan pembaruan ini perangkat pembelajaran yang dibuat semakin realistis dan efektif apabila diterapkan dalam pembelajaran. Penyusunan perangkat pembelajaran yang pertama adalah silabus, maka tulisan ini akan membahas pembaruan pada silabus. Silabus versi PPG nyaris sama dengan silabus pada umumnya. Pembedanya, silabus versi PPD terdapat tambahan sangat penting yang perlu kita perhatikan. Unsur-unsur dalam silabus masih sama dengan silabus yang lama yang ada disekolah-sekolah, tetapi yang ada perubahan yaitu letak kompetensi dasar dan isi indikator. Perubahan letak kompetensi dasar yang semula masuk didalam kolom dirubah letaknya dijadikan satu dengan indentitas. Isi indikator meliputi tiga bagian sebagai berikut. a. Kognitif : Produk dan proses Cakupan yang diukur dalam ranah kognitif adalah: 1) Ingatan (C1) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat. Ditandai dengan kemampuan menyebutkan simbol, istilah, definisi, fakta, aturan, urutan, metode. 2) Pemahaman (C2) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami tentang sesuatu hal. Ditandai dengan kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, memperkirakan, menentukan, menginterprestasikan. Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012 3) Penerapan (C3), yaitu kemampuan berpikir untuk menjaring & menerapkan dengan tepat tentang teori, prinsip, simbol pada situasi baru/nyata. Ditandai dengan kemampuan menghubungkan, memilih, mengorganisasikan, memindahkan, menyusun, menggunakan, menerapkan, mengklasifikasikan, mengubah struktur. 4) Analisis (C4), Kemampuan berfikir secara logis dalam meninjau suatu fakta/ objek menjadi lebih rinci. Ditandai dengan kemampuan membandingkan, menganalisis, menemukan, mengalokasikan, membedakan, mengkategorikan. 5) Sintesis (C5), Kemampuan berpikir untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga menjadi suatu pola yang baru. Ditandai dengan kemampuan mensintesiskan, menyimpulkan, menghasilkan, mengembangkan, menghubungkan, mengkhususkan. 6) Evaluasi (C6), Kemampuan berpikir untuk dapat memberikan pertimbangan terhadap sustu situasi, sistem nilai, metoda, persoalan dan pemecahannya dengan menggunakan tolak ukur tertentu sebagai patokan. Ditandai dengan kemampuan menilai, menafsirkan, mempertimbangkan dan menentukan. b. Psikomotor Psikomotorik meliputi 1) gerak refleks 2) gerak dasar fundamen, 3) keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi, 4) keterampilan fisik, 5) gerakan terampil, 6) komunikasi non diskusi (tanpa bahasamelalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif. c. Affektif Aspek afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: 1) Menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala, kesadaran, kerelaan, mengarahkan perhatian 2) Merespon, meliputi merespon secara

25

Sekilas Info
diam-diam, bersedia merespon, merasa puas dalam merespon, mematuhi peraturan 3) Menghargai, meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen terhadap nilai 4) Mengorganisasi, meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak, mengorganisasi sistem suatu nilai 5) Karakteristik suatu nilai, meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya Indikator inilah yang membedakan silabus versi lama digunakan dengan silabus versi PPG. Selebihnya unsur-unsur yang lain masih sama. Semoga bermanfaat bagi dunia pendidikan

Merenung Melahirkan Kehebatan


(Terinspirasi oleh Education Caracter)

?!!
+

Merenung dalam kesendirian tidaklah sama dengan melamun. Ketika melamun kesadaran mengembara tanpa mengetahui jejak kemana dan dimana, tak ada tujuan pasti. Melamun bisa terjadi dimana, dan suasana apa saja. Merenung bentuk dari refleksi ketenangan dan pikiran hati. Suasana kesendirian mendukung. Ketenangan dan kedamaian adalah bakan bakar utama merenung. Beberapa tokoh besar menghabiskan waktunya dalam sendirian dan merenung di tempattempat yang tenang. Ketenangan dan kedamaian terjadi saat diri seseorang berada dalam kondisi Alfa. Di sinilah zona Ilahi, zona ikhlas, zona pas (tepat) menyerahkan segala urusan pada Sang Maha. Yang ada hanya : tenang, damai...keadaan yang nyaman. Frekuensi tingkat optimum untuk otak berpikir adalah 10 Hz (Alfa), yang merupakan frekuensi optimum untuk melatih kecerdasan semua indra manusia dan pintu masuk ke hati (bawah sadar). Jose Silva, founder Silva Mind Method mengemukakan, hanya 10% dari responden penelitiannya yang sanggup berpikir di frekuensi ini secara alami, selebihnya perlu dilatih untuk itu. Dr. F Noah Gordon,Gelombang Alfa adalah kondisi rileks yang merupakan rumah pembelajar sebenarnya di mana kita dapat belajar dengan menyenangkan tanpa harus bersusah payah. Nabi Muhammad SAW. melakukan khalawat (pengasingan) dan tahannuts (menyendiri) mencari pencerahan di Gua Hira di atas bukit. Nabi Mussa AS. pun mendapat 10 perintah suci tatkala menyendiri di atas bukit. Bahkan sampai berdialog dengan Tuhan, yang kemudian diabadikan dalam berbagai kitab suci agama samawi. Leonardo da Vinci sering merenung dan berpikir di pinggir hutan yang tenang di desanya sambil memerhatikan hewan-hewan dan alam sekitarnya. Ibnu Sina sejak kecil sering merenung di mesjid sampai pagi. Newton kejatuhan apel waktu sedang merenung dan menemukan teori gravitasi universal. Einstein juga suka merenung, sejak kacil dia memang pemalu dan lebih suka menyendiri. Tempat favoritnya di atas bukit yang ada di dekat tempat tinggalnya di Munich, Jerman. X Napoleon sering diejek anak kampung oleh teman-teman sekelasnya dan juga lebih suka menyendiri dan merenung di pinggir jembatan. Hitler pun demikian. Baik efek positif atau negatif, yang jelas merenung mampu menciptakan ketajaman pikiran yang ekstrem. Manfaatkan satu waktu, misalnya satu jam sehari atau satu hari seminggu untuk sedikit menjauhkan diri dari dunia sehari-hari. Biarkan imajinasi bebas mengembangkan serta impian-impian besar menggelayuti. Atau waktu dimanfaatkan mengevaluasi hidup dalam kesendirian. Merefleksi apa yang sedang dilakukan dan akan kemana tujuan hidup dituju. Siapa tahu, inspirasi-inspirasi besar akan muncul.

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

26

Strategi
Kiat Menjadi Menjadi Guru Guru Berprestasi Berprestasi Kiat Kiat Menjadi Guru Berprestasi Kiat Menjadi Guru Berprestasi
ada umumnya hanya dengan mempelajari petunjuk teknis Pemilihan Guru Berprestasi kita sudah mendapatkan gambaran bagaimana cara dan mekanisme pemilihan guru berprestasi baik di tingkat kecamatan maupun di tingkat berikutnya. Namun petunjuk teknis tersebut biasanya sampai ke tingkat kecamatan (guru) satu bulan bahkan kurang sebelum hari H pelaksanaan lomba. Pertanyaannya : Mampukah para guru terpilih nanti mempersiapkan segala macam persyaratan lomba (Portofolio, Penelitian Tindakan Kelas, karya inovatif, presentasi PTK) dalam waktu kurang dari satu bulan? Berangkat dari pertanyaan tersebut penulis ingin berbagi pengalaman persiapan apa saja dan bagaimana kiat-kiatnya agar terpilih menjadi guru berprestasi. Hal-hal yang harus dipersiapkan lebih awal antara lain : Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Langkah bijak adalah membuat PTK jauhjauh hari sebelum pelaksanaan Lomba, atau paling tidak 3 bulan sebelumnya. Hal ini agar PTK yang Bapak/Ibu Guru buat dapat sempurna dan tidak membuat pusing kepala/jadi pemikiran kita, karena tidak selesai-selesai juga karena sering diubah-ubah melulu. Jadi, pembuatan PTK semakin cepat akan semakin baik tentunya. Jangan lupa PTK yang sudah selesai dibuat disyahkan oleh Kepala Sekolah dan diketahui oleh Kepala UPT masing-masing. Masalah yang akan diangkat dalam Penelitian Tindakan Kelas adalah materi pembelajaran di kelas Bapak/Ibu guru yang menemui kendala, tingkat urgensinya tinggi, atau ingin diketahui tingkat efektifitas suatu metode, model atau media pembelajaran. Kiat : Agar nilai pembuatan PTK dapat maksimal,sebaiknya mempelajari dahulu cara, metode dan prosedur pembuatan PTK. Bapak ibu guru bisa juga membeli buku pembuatan PTK di toko, atau meminjam teman guru/peserta yang pernah maju lomba tapi bukan untuk meniru/menjiplak, tetapi hanya sekedar melihat kerangka, cara penulisan dan pemilihan materi saja lalu Bapak/Ibu guru membuat PTK dengan cara dan prosedur yang hampir sama tetapi dengan materi/metode yang berbeda. Lebih bagus lagi jika merupakan penemuan baru, jadi bukan materi yang berkisar itu-itu saja.

Presentasi PTK/Karya Inovatif ( Tes Unjuk Kerja) Nah, setelah PTK selesai Bapak/Ibu Guru calon peserta guru berprestasi segera membuat bahan presentasi. Bahan presentasi tidak perlu terlalu panjang dan mendetail, tetapi secara garis besar saja. Hal ini karena waktu presentasi biasanya dibatasi hanya sekitar 10 sampai 15 menit saja. Bahan presentasi ditampilkan yang pokokpokok saja tetapi sudah bisa menggambarkan isi dari keseluruhan PTK/Karya inovatif yang Bapak/Ibu guru buat. Kiat : a).Langkah awal yang bijak adalah segera mempelajari bagaimana menggunakan Microsoft Powerpoint. Semakin lama memakai dan berlatih maka akan semakin mahir dan luwes (agar tidak kaku/canggung). Akan menjadi bahan guyon nantinya jika peserta tidak menguasai penggunaan laptop dan powerpoint. b).Saat lomba seluruh peserta mempersiapkan seluruh materi presentasi beserta alat-alatnya secara mandiri tanpa bantuan orang lain. Hal ini karena ada penilaian tentang penggunaan media.Jadi ketika akan presentasi peserta wajib merangkai, membuat koneksi Laptop dan LCD proyektor secara mandiri. Jika peserta gagal membuat koneksi dan LCD proyektor sehingga tidak bisa menampilkan gambar/display, maka peserta mempresentasikan PTK/Karya Inovasinya tanpa menggunakan LCD proyektor tetapi dilakukan secara manual/ceramah biasa. Hal ini tentu saja mengurangi penilaian. Selain justru mempersulit peserta dalam mempresentasikan. Sudah capek-capek membuat persiapan matang di rumah akhirnya gagal ditampilkan secara maksimal gara-gara koneksi laptop dan lcd proyektor terhambat. Sayang kan? Maka di rumah berlatihlah merangkai koneksi antara laptop dan lcd proyektor terutama hubungan kabel-kabelnya, jangan sampai salah jalur. c).Susunan presentasi yang runtut secara garis besar adalah : 1. Pendahuluan/latar belakang pemilihan judul. 2. Landasan Teori/pengajuan hipotesis. 3. Metodologi Penelitian. 4. Hasil Penelitian dan pembahasan. 5. Penutup/kesimpulan.

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

27

Strategi
d).Buatlah materi presentasi yang sudah jadi dalam bentuk CD. Namun jika tidak memungkinkan bisa disimpan di laptop Bapak/Ibu Guru. Namun Jangan lupa membuat salinan/copyannya ke flashdisc. Hal ini untuk menjaga kemungkinan rusak/corrupt bahan presentasi karena salah pengoperasian atau karena virus computer. e).Karena PTK yang dibuat benar-benar asli hasil pemikiran Bapak/Ibu Guru, maka usahakan saat presentasi sebisa mungkin menjawab pertanyaan dewan juri secara cepat, tepat dan proporsional sesuai dengan isi PTK. Jawaban yang ragu-ragu akan menimbulkan berbagai pertanyaan susulan dan ketidakpercayaan dewan yuri. f).Karena waktunya terbatas, maka usahakan menggunakan bahasa yang efektif, singkat namun padat. Usahakan hindari pengulangan dan katakata yang tidak perlu. Portofolio Pembuatan portofolio pemilihan guru berprestasi seperti pembuatan portofolio sertifikasi. Boleh tidak sama, tetapi secara garis besar memang hampir sama. Prosedur dan cara pembuatan portofolio biasanya terlampir dalam juknis pemilihan guru berprestasi. Jika tidak ada Bapak/Ibu Guru bisa pinjam berkas/arsip portofolio teman guru yang sudah sertifikasi. Tinggal isinya disesuaikan dengan kondisi/data Bapak/Ibu Guru sendiri. Pembuatan portofolio usahakan dibuat sendiri agar datanya lebih akurat. Kiat : a). Agar nilai portofolio bisa maksimal, usahakan semua SK, ijazah, sertifikat, piagam dan tanda penghargaan semuanya sejak menjadi guru dapat tercantum di dalam portofolio. b). Agar tidak didiskualifikasi, jangan pernah mencoba menggunakan piagam atau sertifikat palsu. Biarlah sertifikat apa adanya seperti sekarang ini saja. Itu sudah lebih dari cukup. Tes tertulis Tes tertulis dilaksanakan untuk penilaian unsur kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi profesional. Dilaksanakan secara terpisah/sendiri-sendiri. Bentuk soal terdiri atas : Pilihan ganda (a,b,c,d dan e), jawaban singkat dan uraian/essay. Kiat : a). Agar nilai kompetensi pedagogik bisa maksimal, maka Bapak/Ibu Guru wajib menguasai semua unsur-unsur kompetensi pedagogik. b). Tes kompetensi pedagogik dapat pula berupa soal uraian/essay. Soalnya paling cuma 10 butir, namun jawabannya bisa sampai 2 halaman folio bolak-balik. Agar memudahkan juri dalam menilai, usahakan tulisan rapi dan jelas terbaca. c). Tes kompetensi Kepribadian berupa soal pilihan ganda (pilihan a, b, c, d dan e) sejumlah 150 butir soal dikerjakan dalam waktu 60 menit. Jika waktu habis, petugas akan mengambil lembar jawaban peserta walaupun soal belum dikerjakan semua, tanpa pandang bulu. Untuk itu usahakan menjawab dengan cepat dan akurat. Hindari mengulangi membaca soal karena akan buang-buang waktu saja. Hindari bertanya pada peserta lain. Selain gengsi juga karena waktu akan terbuang percuma, rugi kan? d). Tes Profesional dapat berupa tes number, atau tes numeric tergantung panitia. Bisa juga tes skolastic, psikotes, menggambar dan sebagainya. Karya Tulis Karya tulis di sini adalah hasil karya tulis dalam bentuk artikel pendidikan yang dimuat di media cetak/majalah baik berskala regional maupun nasional. Misalnya membuat artikel pendidikan di majalah Jurnal PGRI, Derap Guru, Inspirasi, dan sebagainya. Kiat : a). Agar nilainya bisa maksimal usahakan Bapak/Ibu Guru membuat artikel pendidikan di berbagai media cetak dan tidak hanya sekali. Usahakan pula menulis di media cetak yang sudah mempunyai ISSN. Jika kesulitan maka Bapak/Ibu Guru bisa berlatih menulis dengan membuat blog lewat internet . b). Jangan lupa Majalah yang memuat hasil karya tulis Bapak/Ibu guru difotocopy dan disahkan Kepala Sekolah. Cukup artikelnya saja. Tes Wawancara Tes wawancara meliputi kompetensi sosial, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi profesional. Soal setiap juri berbeda-beda tergantung kebutuhan, pada umumnya hanya 2 sampai 3 soal. Juri mempunyai kewenangan seluasnya untuk mengembangkan pertanyaan dan tidak dapat diganggu gugat. Kiat : a). Agar nilai wawancara dapat maksimal usahakan dapat menjawab semua pertanyaan juri dengan kalimat efektif secara tepat akurat dan logis. Jawaban yang terlalu panjang dan bertele-tele pada umumnya kurang disukai dan kadang malah menyulitkan diri sendiri. b).Usahakan jawaban dalam wawancara apa adanya dan pencerminan hati dari pemikiran murni

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

28

Strategi
Bapak/Ibu guru. Seandainya melatih siswa dan meraih juara, maka dewan juri tidak segan-segan menyuruh mendemonstrasikan kemampuan Bapak/Ibu guru dalam melatih siswa tersebut. Jika dirasa kurang pas, maka bisa diartikan Bapak/Ibu guru melakukan rekayasa dan manipulasi. Sebaiknya hindari itu. Guru berprestasi tidak diukur dari intelektualnya saja, namun sikap dan kepribadian yang santun, jujur dan berbudipekerti luhurlah yang menjadi acuannya. biasanya hanya menyediakan lcd proyektor, peserta membawa laptop sendiri-sendiri. Flashdisc merupakan media penyimpanan data sebagai cadangan dan trafel data. Ukuran 1 Gygabyte sudah mencukupi. Jika memungkinkan Bapak/Ibu guru bisa meminjam laptop ke teman/kenalan. Tetapi jika kesulitan maka membeli sendiri merupakan suatu tindakan profesional. Laptop secon/bekas pun bolehlah yang penting masih normal. Jika kesulitan memilih laptop karena belum berpengalaman maka ajaklah orang/teman yang sudah berpengalaman.

Persiapan Alat Pada saat hari H pemilihan guru berprestasi kelengkapan alat sangat membantu kinerja b). Alat Tulis Jangan lupa membawa alat tulis menulis peserta guru berprestasi. Perlengkapan yang seperti ballpoint, pensil, penggaris, busur, kurang akan mempengaruhi cara kerja, waktu penghapus/tipe ex, dan sebagainya. Usahakan dan tenaga. Sehingga pemanfaatan waktu jangan sampai meminjam peserta lain pada menjadi kurang efektif dan efisien. Perlengkapan saat tes karena akan mengganggu kinerja dan apa sajakah yang harus dipersiapkan? a). Laptop dan flashdisk (penyimpan data) konsentrasi diri sendiri dan peserta lain. Dalam pemilihan guru berprestasi Semoga Bermanfaat... pengadaan laptop mutlak diperlukan. Panitia

2
Ketika itu, kampung Mbok Siti sangat gelap, padahal hari masih sepenggal sore. Tapi, mendung yang menggelantung sempat mengubah pancaran matahari sore meredup menjadi gelap. Aku membantu Mbok Siti menyalakan lampu teplok di dapur. "Kok sudah gelap ya Mbok", sapaku mengisi kekosongan obrolan. "Iya, anakku, gelap lebih cepat menyapa kita", sambil mengumpulkan lampu-lampu untuk segera dinyalakan. Gelap ada karena tidak ada terang. "Jika tidak ada cahaya terang tidak mungkin ada", anakku. Begitu pula, guru perlu menguasai terang dengan segala cahaya keilmuan yang dimilikinya. "Jika tidak memiliki cahaya, guru akan juga berada dalam kegelapan bersama muridnya", jelas MBok Siti. Guru yang tanpa cahaya tentu tidak akan pernah memiliki terang dan yang dimiliki tentu hanya kegelapan. Guru yang tidak mampu memunculkan suasana terang tentu bukan guru. Gelap merupakan acuan untuk menentukan tingkat terang yang dimunculkan. "Untuk itu, guru perlu mengukur kegelapan yang terjadi", tambah Mbok Siti. Dengan begitu, guru akan dengan mudah menciptakan ukuran terang yang pas dan cocok dalam membangun muridnya. Jadilah guru yang bercahaya dalam terang bukan guru yang redup dalam kegelapan.
Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

29

Pena
Glenikan Gaya Wonogiren

Yu Cenil
oleh : Suyanto, S.Pd.
(KKG Gugus Madyantara, Kecamatan Kismantoro)

umi Kismantoro memang kaya potensi, Samubarang sing gumelar bisa paring panguripan. Orangnya kreatif melebihi lagunya Koes Plus, Tongkat kayu ditanam jadi tanaman. Bahkan athikan warganya melebihi semboyan, Alam takambang menjadi guru. Bukan hanya alam saja yang dapat dijadikan sarana untuk belajar, tapi empat arah mata angin, wolu pancer merupakan sumber belajar dan sumber inspirasi yang takkan pernah habis. Dan di bumi penuh athikan yang warganya kenyang ditempa pengalaman dengan alam itulah Yu Cenil lahir. Yu Cenil lahir di Joho, Ndawung. Anak kedelapan bagian dari dari empat laki-laki dan enam perempuan. Seperti saudaranya, Yu Cenil dikaruniai kulit kuning langsat dengan tinggi badan semampai. Sinar matanya redup dan menyejukkan, namun jika bersinar menumbuhkan gairah orang yang memandangnya. Bibirnya, mirip-mirip punya Jupe. Seksi. Jika tersenyum kita akan terkesima sejenak dan jika senyumnya membuka tautan di antara dua bibirnya maka seleret sinar putih akan menyergap. Gigi Yu Cenil memang luar biasa. Mbah Ulu sendiri pernah mengungkapkan keheranannya mengapa Yu Cenil trima dodol bubur lemu, dan bukannya menjadi iklan pasta gigi. Sejak kecil Yu Cenil, memang tampak kecil. Kata Mboke yang juga penjual jamu keliling di Pasar Dangkrang, Yu Cenil waktu bayi teramat mungil, saking mungilnya Cuma sak-cenil. Barangkali kata YS Badudu yang ahli bahasa itu, Cuma noktah, titik. Mungkin sebesar itulah Yu Cenil. Dan namanya pun cuma Cenil. Tak ada tambahan apapun. Hanya Cenil saja, titik. Nama Cenil pernah merepotkan Mboke Cenil yang daftar Cenil ke SD. Gurunya, Pak Mun, yang merasa bahwa nama itu akan memberikan masalah pada Cenil di kemudian hari, menasehati mboke Cenil, Yu, Namanya apa ya cuma Cenil begini? Kasihan nanti kalau sudah besar. Putra panjenengan itu cantik, lihat saja!! Kulitnya bersih, matanya kelihatan cerdas, bahkan kelihatan memiliki IQ tinggi, giginya putih, masak namanya Cenil?!! Mboke Cenil jelas bingung, Lha apa salahnya to nama Cenil, Tak kasih nama yang panjang misalnya Tri Susuki Yamaha Hondawati, atau Srikandi Mangayu Buana rahayuningtyas, toh anaknya tidak bertambah panjang ya tetap saja sak Cenil. Jadi apa to salahya nama Cenil, Mboke Cenil cuma mbatin saja, tidak berani mengungkapkannya pada Pak Guru Mun. Paling tidak, nama Cenil tidak repot waktu manggil untuk bantu-bantu ngrajang jamu, cukup teriak, Niiiiiiiiiiiiiiiiiiillllllllll, Ceniiiiiiiiiiiiiiiiillllllllll Nah, praktis khan.!! Begini Lho Yu!! Nama itu anugerah. Kanjeng Nabi Muhammad SAW Junjungan kita menganjurkan umatnya untuk memberikan nama pada anak-anaknya, tidak asal memberi nama, Kanjeng Nabi bersabda, Barang siapa memanggil dirinya oleh selain ayahnya nama (atau atribut dirinya kepada seseorang selain ayahnya), akan dikutuk oleh Allah, para malaikat dan semua orang. Mboke Cenil hanya bisa manggut. Entah mudheng atau Cuma pekewuh saja sama Pak Guru Mun. Mboke Cenil jadi ingat suaminya yang telah meninggal dua tahun yang lalu. Suaminya memang tidak protes ketika ia berinisiatif memberikan nama Cenil. Suaminya hanya diam. Tapi begitulah suaminya, diam adalah emas. Jadi nama Cenil telah secara langsung mendapatkan rekomendasi dari suaminya. Dan itu berarti barangkali Sabda Kanjeng Nabi tersebut tidak berlaku untuk anaknya. Pripun, Yu?! Mboke Cenil tergagap sadar, bayangan suaminya terkabur bersama kekagetannya. Panjenengan mantap menamai anaknya dengan Cenil atau barangkali panjenengan mau ngubah nama Cenil? Ini tidak harus lho Yu! Hanya barangkali panjenengan memiliki pertimbangan panjang untuk nama anak panjenengan nanti, atau paling tidak nanti waktu anak panjenengan kelas lima, kalau mau ganti nama itulah saatnya, agar waktu kelas enam dan lulus ijazahnya telah tertulis dengan nama yang baru.

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

30

Pena
Glenikan Gaya Wonogiren IyaIya!! Pak Guru. Enggih..Inggih leres! Mboke Cenil sekedar menjawab. Tidak tahu maksud ucapan Pak Guru Mun. Nggagas Ijazah!, Sekolah saja Mboke Cenil Cuma sampai kelas I. Baru mulai bisa i-ni- i- bu di sudah drop out karena harus bantu nyari rumput untuk kambingnya yang telah memenuhi kandang. Mboke Cenil pulang masih grenengan. Anak-anaknya toh tidak pernah punya masalah dengan nama. Yang mbarep namanya Sabin, maklum hampir saja lair di sawah, untung saja Bu Bidan Tanjung pas itu baru saja ngimumisasi balita, jadi Sabin terlahir dengan selamat. Anaknya kedua bernama Yatno, itulah nama satu-satunya pemberian suaminya. Riwayat nama itu baru diketahui setelah kondangan karotengah tahun kelahiran Yatno. Konon saat mbobot sangang sasi, suaminya jagong melekan sesukan di rumah Pak Lurah Kikis yang lagi menikahkan anaknya. Kebiasaan sesukan melekan adalah main kartu ceki, kartu china warna ijo, yang menjadi permainan judi favorit waktu itu. Nah ceritanya pas suaminya dapat giliran yat, mengambil kartu, tiba-tiba mak bedunduk, adik suaminya telah njedul di ambang pintu sembari memanggil suaminya, Kang! Kang!... Mbakyu babaran!! Suaminya tidak terkejut. Dengan tenang dia menyuruh adiknya untuk menggantikannya meneruskan bermain ceki. Lanjutkan saja!.. Yat no dhisik yaWancine ngambil kertu, paling s e b e n t a r l a g i t r e k t e r u s b o n g . Ta k t i n g g a l d u l u n g u r u s i m b a k y u m u . Itulah kemudian Yatno (mungkin maksud suaminya kesempatan mengambil kertu) dilekatkan pada nama anaknya yang kedua. Tapi toh ada hikmahnya juga. Setelah Mboke Cenil tahu kisah nama anak keduanya, marahnya bukan main. Bukan karena nama anaknya Yatno, tetapi karena masih saja suaminya suka sesungaran main ceki, pantesan tiap kali jualan jagung hasil panen kok harganya selalu lebih rendah dari harga umum yang didengarnya. Pasti sebagian uangnya diunthit suaminya untuk main ceki. Dan gara-gara ngunthit uang jualan jagung tersebut, Mboke Cenil ngundhat-undat suaminya, yang berakhir dengan janji suaminya untuk tidak bermain kartu ceki lagi. sejak itu sampai kini, suaminya memang telah benar betul terbebas dari kebiasaan sesungaran main ceki. Dan kini Mboke Cenil masih gerenengan juga, tidak ada satu pun nama anaknya yang bermasalah, Sabin, Yatno, Kuntet, Undhuh, Ganti, landhep, Warto, dan Cenil, semuanya baik-baik saja. Malah yang repot Pak Guru Mun. Apa to susahnya nulis Cenil!!! Kan lebih mudah ketimbang harus nulis nama yang panjang. Cenil tumbuh jadi anak yang cerdas, bahkan sewaktu kelas 5 pernah menjadi juara lomba bidang studi Matematika untuk tingkat kecamatan. Dan yang mengejutkan, pertumbuhan Cenil ternyata tidak sesuai dengan namanya. Saat masuk kelas enam bahkan Cenil merupakan perempuan tertinggi kedua di kelas setelah Dwi Septiana. Tetapi prestasinya pertama disusul Dwi Septiana. Sayangnya, Mboke Cenil lupa apa yang dipesankan Pak Guru Mun tentang nama anaknya. Hingga kelas enam bahkan Mboke Cenil tak kunjung mengganti nama, sehingga pada Surat Tanda Tamat Belajar anaknya tertulis C E N I L. Hanya itu tidak ada yang lain.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya


Penulis tidak pernah dilahirkan, tetapi dia diciptakan. Bakat menulis tidak selalu dibawa sejak lahir, tetapi tumbuh oleh satu motivasi dan gagasan.
Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

31

Humor Facebooker
KALENDER CINTA PACARKU
Oleh: Yan Kismantoro Tanggal SATU pacarku pancen ayu dilit-dilit ngomong i love you Jarene hatinya hanya untukku unine rindunya hanya rinduku janjine setia setiap waktu Tanggal PAPAT Pacarku pancen hebat yen diapeli mesti mat bermesraan dijamin nganti tamat welinge tetap cinta sampai kiamat Tanggal SEWELAS Atiku rada was-was Smsku arang dibalas jarene nek sms-an malas Tanggal SELIKUR Pacarku wiwit ra akur Ben ketemu gur kudu kabur Yen ditakoni wiwit nylamur Tanggal SELAWE Atiku koyo dirawe Pacarku ora mlaku dewe Ning gandengan karo liyane Ditakoni jare konco jaman esde Soyo digenahke Malah muring ra genah ujung pangkale Tanggal TELUNG PULUH tresnaku wiwit rubuh Rasaku mung kebak trenyuh Atiku mung iso nggluruh Tansah emosian lan pengin misuh Pacarku jelas selingkuh Tanggal TELUNGPULUH SIJI Tekadku wis ra iso ditari Atiku wis wegah dilarani Aku pilih semboyane andre taulani Pokoke END kanggone YOU lan ME ENAK JAMAN PAK HARTO Oleh: Mas Mujiman Suami : Ternyata lebih enak jaman Pak Harto ya daripada jaman SBY ya mah....". Istri : Lho kenapa Pah ? Kok tumben ngomong soal politik..". Suami : Iyaaa, soalnya pas jaman Pak Harto mama masih umur 21 tahun... kan lagi ehem-ehemnya..". Istri : Plak..Plak..Plak... TUKANG TAHU TUKANG TEMPE T T T Oleh: Mr. Chagur Tatkala Temperatur Terik Terbakar Terus, Tukang Tempe Tetap Tabah, Tempe-tempe , Teriaknya. Ternyata Teriakan Tukang Tempe Tadi Terdengar Tukang Tahu, Terpaksa Teriakannya Tambah Tinggi, Tahu.. Tahu. ..Tahu.. ! Tempenya Terbaik, Tempenya Terenak, Tempenya Terkenal!!, Timpal Tukang Tempe. Tukang Tahu Tidak Terima, Tempenya Tengik, Tempenya Tawar, Tempenya Terjelek ! Tukang Tempe Tertegun, Terhenyak, Teplakkk.. ! Tamparannya Tepat Terkena Tukang Tahu. Tapi Tukang Tahu Tidak Terkalahkan, Tendangannya Tepat Terkena Tulang Tungkai Tukang Tempe. Tukang Tempe Terjengkang Tumbang! Tapi Terus Tegak, Tatapannya Terhunus Tajam Terhadap Tukang Tahu. Tetapi, Tukang Tahu Tidak Terpengaruh Tatapan Tajam Tukang Tempe Tersebut, Tidak Takut!! Tantang Tukang Tahu. Tidak Ternyana Tangan Tukang Tempe Terkepal, Tinjunya Terarah, Terus Tonjokkannya Tepat Terkena Tukang Tahu, Tak Terelakkan! Tujuh Tempat Terkena Tinjunya, Tonjokan Terakhir Tepat Terkena Telak. Tukang Tahu Terjerembab. Tolong.. Tolong.. Tolong..!, Teriaknya Terdengar Tinggi. Tanpa Tunda Tempo, Tukang Tempe Teruskan Teriakannya, Tempe .. Tempe .. Tempe.. Tetapi Tiba-tiba Terdengar Tembakan Tukang Tempepun Tertembak Tentara TerorisTeretetetetetetetetetetetetetetetetet!!! Tukang Tempe TerkaparTukang Tahupun Tertawa Terbahak-bahak TELETAI TERITANYA..TAPEK Tauuuuuuu.!!!

Buletin PROSPEK edisi 04 - Maret 2012

32

Maju Bersama
meraih PROFESIONALITAS

Pertemuan koordinasi dan evaluasi pelaksanaan Program BERMUTU Tahun 2011 bagi kelompok kerja se Kabupaten Wonogiri dari Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri dan Konsultan Program BERMUTU bertempat di SMP Negeri 4 Wonogiri. Bertindak sebagai Narasumber : 1. Bp. Faturrohman (Konsultan Program BERMUTU), 2. Ibu. Hj. Dra. Sri Mulyati, M.Pd. (Kabid. TK/SD Disdik Kab. Wonogiri) 3. Drs. Didik Wahyudi, M.Pd. (Ketua MKKPS Kab. Wonogiri)

Pertemuan Koodinasi FKKG eks Distrik Purwantoro Kabupaten Wonogiri