Anda di halaman 1dari 28

1 I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Perairan Indonesia yang meliputi dua pertiga wilayahnya merupakan potensi sumberdaya hayati perikanan yang besar, dan belum seluruhnya dapat dikelola dengan baik. Mengingat sangat mendesaknya kebutuhan masyarakat akan protein hewani yang berasal dari ikan, maka sudah seharusnya pemanfaatan sumberdaya hayati perairan yang akan menunjang perluasan kesempatan kerja dan dapat meningkatkan pendapatan nelayan serta perbaikan gizi masyarakat. Sejalan dengan pertumbuhan penduduk serta kondisi geografis yang memerlukan peningkatan produksi komoditi perikanan. Menurut data statistik yang dikemukakan oleh (Dahril ,1998) luas perairan Indonesia mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari 3,1 juta km2 wilayah teritorial, 2,7 km2 ZEE dan 14.000 km2 wilayah perairan umum berupa sungai, waduk, danau, dan lain-lain. Kondisi perairan yang demikian menjadi sektor perikanan penting untuk dikembangkan dan dioptimalkan pendayagunaannya secara lestari guna kemakmuran hidup masyarakat Indonesia. Semakin pesat pembangunan maka kebutuhan akan sumberdaya air akan meningkat, sehingga semakin besar pula tekanan terhadap sumberdaya perairan baik dari segi kualitas dan kuantitas air, struktur badan air, terutama terhadap flora dan fauna akuatik. Air adalah bagian yang sangat esensial dari protoplasma dan merupakan komponen ekologis yang mutlak diperlukan bagi kehidupan biota. Dalam rangka pengembangan sumberdaya alam dan lingkungan hidup, perairan umum berfungsi memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan

2 masyarakat baik generasi sekarang maupun akan datang. Dengan demikian perairan umum harus dikelola dan dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan tetap memelihara kelestarian lingkungan hidup. Sebagai penyangga kehidupan sehingga keseimbangan antara unsur-unsur yang satu dengan lainnya secara terus menerus akan tetap terpelihara. Usaha perikanan merupakan salah satu kegiatan ekonomi. Manusia mengusahakan sumberdaya alam perikanan tersebut untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dalam mencapai kesejahteraannya. Sebagai salah satu sektor dalam pembangunan, perikanan mempunyai peranan penting dalam penyediaan kebutuhan protein hewani, meningkatkan pendapatan nelayan dan petani ikan, memberi peluang dan kesempatan kerja sebagai alternatif sumber devisa negara. 1.2 Tujuan dan Manfaat Praktikum Tujuan dilakukannya praktikum dinamika populasi adalah untuk mengetahui secara fisik/nyata mengenai dinamika populasi, memberi pemahaman secara fisual kepada praktikan dan pengenalan lingkungan, alat penunjang dan masyarakat bersangkutan. Manfaat praktikum ini adalah untuk mengetahui secara fisik/nyata mengenai dinamika populasi di lapangan, mengetahui jumlah ikan yang ditangkap pertahun, berapa stok ikan yang masih ada dalamperairan, dan berapa persentase kemungkinan jumlah ikan yang akan ditangkap 1 (satu) tahun yang akan datang menambah pengetahuan dan wawasan penulis, untuk mendapatkan data dan

informasi mengenai perikanan.

3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sumberdaya Perairan Ekosistem laut dapat dipandang dari dimnsi horizontal dan vertikal. Secara horizontal, laut dapat dibagi menjadi dua wilayah yaitu laut pesisir (zona neritic) yang meliputi daerah paparan benua dan laut lepas (lautan atau zona oceanic). Permintakan laut secara vertikal dilakkan berdasarkan intensitas cahaya matahari yang masuk ke kolom perairan, yaitu zona fotik dan afotik (Dahuri, et.al, 2001) Ekosistem pesisir merupakan ekosistem yang dinamis dan mempunyai kekayaan habitat yang beragam, di darat maupun di laut, serta saling interaksi antara habitattersebut (Nybaken,1982). Maka untuk kepentingan penelolaan penetapan batas-batas suatu wilayah pesisir didasarkan atas faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan (pemanfaatan) dan pengelolaan ekosistem pesisir serta lautan segenap sumberdaya yang tercakup didalamnya, serta tujuan dari pengelolaan itu sendiri (Dahuri,et.al. 2001) Wilayah pesisir menurut Dahuri (2001) merupakan batas yang sejajar garis pantai (long shore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (cross shore). Dalam pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan wilayah pesisir dapat diartikan sebagai kawasan yang sangat luas mulai dari batas lautan (ZEE) sampai daratan yang masih dipengaruhi oleh iklim laut, ataupun kawasan yang meliputi kawasan peralihan antara ekosistem laut dan daratan yang sempit, yaitu dari garis rata-rata pasang tertinggi sampai 200 m ke arah darat dan arah laut meliputi garis pantai pada saat rata-rata pasang terendah. Wilayah pantai meupakan daerah dimana terjadi interaksi antara tiga unsur utama yaitu daratan, lautan dan atmosfir. Proses tersebut berlangsung sejak bumi

4 ini terbentuk dan bentuk wilayah pantai yang seperti terlihat sekarang ini merupakan hasil keseimbangan dinamis proses penghancuran dan pembentukan tiga unsur utama alam tersebut sebagai tempat peralihan antara daratan dan lautan, wilayah pantai juga berfungsi sebagai zona penyangga bagi banyak binatang yang bermigrasi untuk tempat mencari makan, memijah dan membesarkan anak-anak (Pariwono, 1992). Budiharsono (2001) menyatakan bahwa masih rendah pemanfaatan potensi sumber daya kelautan yang sedemikian besar, terutama disebabkan oleh : (1) pemerintah dan masyarakat masih mengutamakan eksplotaitasi daratan, (2) teknologi eksplorasi dan eksploitasi lautan khususnya untuk penambangan minyak dan gas bumi serta mineral membuthkan teknologi tinggi, (3) kualitas sumber daya manusia yang terlibat dalam sektor kelautan masih rendah, khususnya perikanan tangkap, (4) introduksi teknologi baru dalam perikanan tangkap tidak terjangkau oleh nelayan yang kondisi sosial ekonominya rendah, (5) sistem kelembagaan yang ada belum mendukung pada pengembangan sektor kelautan. Masyarakat pantai adalah masyarakat yang menempati wilayah di kawasan pantai (Dahuri et al, 2001). Selain dalam rangka pemanfaatan sumberdaya perikanan dan kelautan demi kebutuhan masyarakat akan ikan dan sumberdaya laut lainya, hal ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan nelayan dan petani ikan yang berkehidupan dari pemanfaatan sumberdaya perikanan dan kelautan, dimana pada umumnya nelayan dan petani ikan merupakan masyarakat pesisir (Evy, 1997).

5 2.2. Sumberdaya Perikanan Perikanan adalah usaha manusia dalam memanfaatkan sumberdaya ikan. Sebagai usaha atau kegiatan ekonomi, perikanan dapat dipandang sebagai sistem yang terdiri dari unsur atau subsistem ikan, manusia dan lingkungan atau habitat tempat ikan itu berada. Untuk memanfaatkan ikan, manusia membutuhkan teknologi, keterampilan dan modal. Sementara itu, kegiatan manusia dalam memanfaatkan sumberdaya ikan tidak hanya terbatas pada penangkapan atau pengambilan sumberdaya tersebut, tetapi menyangkut pada perencanaan kegiatan pemanfaatan, penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan kegiatan pasca panen, pengolahan serta pemasaran (Nikijuluw, 2002) Perikanan merupakan suatu usaha yang dimulai dengan melakukan penangkapan ikan atau dengan mengumpulkan jenis-jenis sumberdaya perairan lainnya, baru kemudian munculnya usaha seperti penangkapan, pengolahan, pemasran dan lainnya. Usaha penangkapan adalah menangkap serta

mengumpulkan ikan dan jenis-jenis aquatic resources tersebut mempunyai nilai manfaat atau nilai ekonomis, sedangkan yang dimaksud dengan usaha budidaya adalah usaha memelihara hewan atau tanaman air dengan fasilitas buatan (Ayodhyoa, 1981). Pada umumnya kegiatan perikanan terbagi dua macam : pertama, menangkap ikan dan binatang air lainnya yang dilakukan dirawa-rawa, sungai, danau dan laut dimana usaha ini dikenal dengan usaha penangkapan; dan kedua, pemeliharaan ikan dan binatang air lainnya yang dilakukan oleh petani kolam sawah, peraran umum dan tepi pantai dimana usaha ini dikenal dengan budidaya perikanan (Effendi, 1979).

6 Pembangunan perikanan pada dasarnya meupakan proses upaya manusia untuk memanfaatkan sumberdaya hayati perikanan dan sumberdaya perairan melalui kegiatan penangkapan dan budidaya ikan. Kegiatan lain yang berakitan dengan devisa negara, disertai upaya-upaya pemeliharaan pelestaria sumberdaya hayati dan lingkungan. Secara alami juga merupakan hal yang penting dalam perikanan (Malik, 1998). Syamsuddin (1990), memaparkan bahwa usaha perikanan rakyat mencakup usaha penangkapan di periaran umum dan perairan laut, serta budidaya yang merupakan warisan usaha turun temurun sejak berabad-abad yang lalu tanpa banyak mengalami perkembangan teknologi. Usaha ini menggunakan peralatan sederhana sehingga pada umumnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

2.3. Penangkapan Menurut lokasi kegiatannya, perikanan tangkap di Indonesia

dikelompokan dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu; (1) perikanan lepas pantai (Offshore fisheries), (2) perikanan pantai (coastal fisheries), (3) perikanan darat (inland fisheries) (Dahuri, et al, 2001). Dalam teknologi penanangkapan ikan, Pasaribu (1994) mengungkapkan ada 4 (empat) faktor yang harus diperhatikan, yaitu; jenis kapal, ukuran kapal, jenis alat tangkap yang digunakan dan keahlian yang dimiliki oleh nelayan. Masalah utama yang dihadapi perikanan tangkap pada umumnya adalah menurunnya hasil tangkapan yang disebabkan oleh; (1) eksploitasi berlebihan (over fishing) terhada sumber daya perikanan; dan (2) degradasi kualitas fisik, kimia dan biologi lingkungan perairan (Dahuri, et al, 2001).

7 Soeseno (1993), mengatakan bahwa indonesia pada umumnya usaha penangkapan ikan yang dilakukan oleh para nelayan masih bersifat tradisional, yaitu menggunakan alat-alat penangkapan yang menggunakan konstruksi masih relatif, sederhana dan harganya murah. Keberhasilan suatu penangkapan ikan selain ditentukan oleh keadaan alatalat juga ditentukan oleh keseimbangan antara manajemen usaha perikanan, saran penunjang (tempat pendaratan ikan, sarana pengadaan), bahan-bahan keperluan penangkapan serta mental dan keterampilan yang melaksnakannya. Selanjutnya dikatankan pula bahwa tahpan akhir yang perlu diperhatikan untuk menunjang pembangunan perikanan adalah masalah pemasaran hasilnya (Arisman,1992)

IV. METODE PRAKTIKUM 3. 1. Waktu dan Tempat Praktikum Dinamika Populasi ini telah dilaksanakan pada tanggal 7 desember 2007 sampai dengan 9 Desember 2007 di Pelabuhan Perikanan Samudra Bungus Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kotamadya Padang Sumatera Barat 3. 2. Bahan dan Alat Peralatan yang digunakan dalam praktikum Dinamika Populasi ini adalah secci disk, tali rafia, meteran, tisu, alat dokumentasi, dan alat tulis serta alat pendukung lainnya. 3. 3. Metode Prakikum Metode praktikum yang digunakan adalah metode survei lansung yaitu, melakukan pengamatan langsung ke lokasi praktek serta wawancara dengan beberapa orang masyarakat nelayan yang ada pada lokasi praktek tersebut. Data yang dikumpulkan terdiri dari: 1) data primer yaitu data yang diambil langsung dari daerah atau objek praktikum. 2) data sekunder yaitu data yang didapat dari tanya jawab dengan nelayan atau kuisioner.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Data Primer. 4.1.1.1. Kondisi perairan dan kegiatan di sekitar Pelabuhan Perikanan Bungus. Kualitas memberikan pengaruh yang cukup besar bagi pertumbuhan makhluk hidup di air. Suatu perairan dianggap layak apabila kualitas airnya mampu mendukung kelagsungan hidup organisme yang terdapat pada perairan tersebut. Kualitas air sangat ditentukan oleh faktor fisika dan kimia yag mempengaruhi populasi organisme perairan diantaranya fitoplankton. Data produksi perikanan berdasarkan jumlah kapal bongkar
TAHUN C ALAT KONVENSI F(x) C/F(Y) X Y X.Y 1 105820 19 1,71 11,11 9523,8 123,46 90702766,44 105820 2 153688 24 1,71 14,04 10950,27 196,98 119908413,07 153688 3 143180 32 1,71 18,71 7651,18 350,19 58540574,52 143180 4 136536 26 1,71 15,2 8979,87 231,18 80638023,77 136536 5 114419 18 1,71 10,53 10869,81 110,8 118152660,74 114419 6 101062 14 1,71 8,19 12344 67,03 152374371,27 101062 7 79891 17 1,71 9,94 8036,09 98,83 64578818,12 79891 8 150317 20 1,71 11,7 12852,1 136,79 165176564,37 150317 9 61397 17 1,71 9,94 6175,82 98,83 38140701,81 61397 10 76545 18 1,71 10,53 7271,78 110,8 52878711,65 76545 11 60236 16 1,71 9,36 6437,72 87,55 41444270,99 60236 12 84127 28 1,71 16,37 5137,76 268,12 26396537,45 84127 JUMLAH 1267218 249 145,61 106230,19 1880,58 1008932414,21 1267218

= X - (X) / 12 = 1880,58 (145,61) / 12 = 1610,141. = Y - (Y) / 12 = 1008932414,21 (106230,19) / 12 = -856326737,45.

XY = XY - X (Y) / 12 = 1267218 145,61 (106230,19) / 12

10 = 11216778394,45 B = XY / X = 1267218 / 1880,5 = 673,87 = Y (b) (X) / 12 = 106230,19 (673,87) (145,61) / 12 = 675,63

Tabel 3. Data kegiatan perikanan tuna di pps bungus tahun 2011


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Jumlah Kapal Bongkar Tuna ekspor Segar kg 59800 61615 55027 44236 54213 41707 27033 37907 23366 21861 17714 7196 ekor 1507 1709 1602 1422 1667 1098 701 1024 614 546 409 195 olahan kg 24589 24424 43471 41674 38688 34049 16177 18599 4529 10410 10589 11727 ekor 625 841 1865 1808 1545 1106 469 634 209 393 384 385 Total Ekspor kg 84389 86039 98498 85910 92901 75756 43210 56506 27895 32271 28303 18923 Ekor 2132 2550 3467 3230 3212 2204 1170 1658 823 939 793 580 Lokal Jumlah Kg 84389 86039 98498 85910 92901 75756 43210 56506 27895 32271 28303 18923 Ekor 2132 2550 3467 3230 3212 2204 1170 1658 823 939 793 580

Januari 9 kapal Februari 11 kapal Maret 13 kapal April 12 kapal Mei 10 kapal Juni 7 kapal Juli 7 kapal Agustus 10 kapal September 8 kapal Oktober 6 kapal November 7 kapal Desember 6 kapal 106 451675 12494 278926 10264 730601 22758 kapal

730601 22758

4.2. Pembahasan Jenis Alat tangkap yang digunakan nelayan di sekitar PPS Bungus, antara lain : A. Bagan Bagan Menurut Ayodhyoa (1978) bagan adalah alat tangkap yang berbentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya , lebar

lebih pendek dibandingkan dengan panjangnya, dengan perkataan lain, jumlah mesh dept lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh length pada arah

11 panjang jaring. Bahan yang yang digunakan adalah bahan transparan berupa nilon (monofilamen) dan pinggirannya menggunakan tali yang besar (tali ris). Jaring ini sipasang pada permukaan beragam dengan pancang atau tiang yang sengaja dipasang. P anjang gillnet yang digunakan oleh nelayan didesa Gunung Bungsu adalah 70 sedangkan lebarnya adalah 5 m. Pemasangan jaring ini dengan membentangkan dari tepian sungai ketepian sungai lainnya jaring seperti ini disebut jaring insang hanyut, atau bisa juga memasangnya pada daerah agak kepinggir yaitu sewpanjang tepian secara horizontal disebut jaring insang tancap. Alat ini dioperasikan pada pagi hari atau sore hari. Ikan yang sering tertabgkap adalah ikan motan (Thinnichtys tinoides), ikan kapiek (Puntius schwanefeldi), ikan Baung (Mystus nemurus). Hasil rata-rata yang diperoleh dalam satu kali operasi adalah 1000 kg/hari.

B. Purseini Nelayan bungus menggunakan Purseini sebagai alat untuk menangkap ikan, selain modalnya sedikit cara pengoperasiannya juga mudah. Jenis pancing yang biasa digunakan adalah pancing purseini dengan ukuran mata pancingnya adalah 2 inc umpan yang digunalan adalah lipas batang dalam satu rawai itu terdapat 40 buah mata pancing. Biasanya setiap nelayan memiliki lebih dari satu pancing rawai dan dipasang pada pagi hari dan dibiarkan baru kemudian diangkart pada pagi harinya lagi.

12 Biasanya hasil tangkapan tidak terlalu banyak cukup untuk dikomsumsi keluarga saja tapi semua pancing rawai yang diletakkan tidak pernah penuh mengait ikan. Ikan yang sering tertangkap oleh alat ini adalah ikan Baug (Mistus nemurus). Hasil rata-rata yang diproleh setiap satu kali operasi adalah 200kg/hari.

13 C. Tonda Tonda adalah alat tangkap berbentuk kerucut yang prinsip kerjanya menyungkup dan megurung ikan. Bahan yang digunakan untuk jala ini adalah benanng nilon, dan pada bagian bawah diberi pemberat disekeliling mulut jala ini dimaksudkan agar jala mudah tenggelam ke dasar sehingga dapat menjerat ikan dengan cepat. Tonda ini di operasikan padsa pagi dan sore hari, cara pengoperasian jala ini dengan melemparkan keperairan yang terdapat ikan atay disebut lubuk ikan oleh nelayan, biasanya bisa dipinggir sungai atau nelayan pergi ketengah sungai

dengan menggunakan sampan dayung. Setelah jala dilemparkan dan diduga ikan telah tertangkap kemudian jala ditarik perlahan-lahan dan ikan yang terperangkap diambil dan kemudian dijual bila hasil tangkapannya banyak, biasanya jala ditebarkan pada saat air keruh sehingga ikan mudah tertangkap oleh jala, karena bila air keruh maka pengkihatan ikan juga berkurang akibatnya ikan mudah ditangkap.

D. Jaring Jaring adalah salah satu alat tangakap fishing with traps yang berbentuk empat panjang bujur sangkar dimana disalah satu sisinya dibuatsedemikian rupa sehingga ikan yang sudah tidak dapat keluar lagi (Von Brandt, 1984). Cara pengoperasian pengilau ini adalah dengan menancapkannya

dipinggiran sungai dan diberi umpan, nelayan desa menggunakan bukil kepala dan bangkai ayam nutuk dijadikan umpan, Umpan ini dimasuksudkan untuk menarik ikan agar masuk dalam perangkap. Menurut Von Brandt (1984)

14 menyatakan prinsip dan metode penangkapan ikan dengan menggunakan unpan adalah untuk memikat ikan dengan sesuatu mangsa yang mangsa itu adalah umpan itu sendiri, tertariknya ikan terhadap umpan adalah berupa bau, rasa, bentuk, dan warna. Jenis-jenis ikan yang banyak di tangkap oleh nelayan di sana antara lain Tuna, Tenggiri, Rinuak, Tilan dan Gaving. Selain para nelayan juga terdapat usaha perikanan lain seperti, budi daya ikan kerapu.

Budidaya ikan Kerapu Pemasangan Keramba Bentuk keramba hanya dibedakan menjadi dua macam yaitu berbentuk empat persegi dan bundar panjang. Keramba berbentuk empat persegi maupun kotak, sebagai bahan pada umumnya dibuat dari bambu maupun papan. Bentuk bundar panjang, yaitu keramba menyerupai bubu pada umumnya dibuat dari bilah bambu. Cara pemasangan atau penempatan keramba, secara umum , dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: 1) Keramba terendam secara keseluruhan. Pemasangannya direndam dalam air kurang lebih 20 Cm di bawah permukaan air. Keramba ini sesuai untuk perairan yang sempit dan tidak begitu dalam. Mempunyai tiga sisi, dua sisi melintang arus dan satu sisi sejajar arus. 2) Keramba terendam sebagian, kurang lebih 10 Cm berada di atas permukaan air. Mempunyai enam sisi, di mana terdiri dari empat sisi, dimana terdiri dari empat sisi memanjang dan dua sisi melintang, jenis keramba ini cocok untuk dipasang di perairan yang dalam dan luas seperti di sungai, danau, waduk

15 dan rawa. 3) Keramba pagar berbentuk pagar keliling yang langsung ditancapkan ke dasar air. Keramba ini harus selalu digenangi air, baik pada waktu air pasang maupun air surut. Pada umumnya dikembangkan oleh penduduk yang tinggal di rumah terapung. Dari data yang telah diproleh maka dapat dicari penghasilan rata- rata penghasilan nelayan di desa Gunung Bungsu adalah 25,5/9 = 5,1kg perhari, namun hasil ini akan meningkat bila musim hujan karena pada musim hujan ada salah asatu jenis ikan yang keberadaannya meningkat sampai berlipat-lipat sampai mencapai 50 kg perhari dengan harga pasaran 4500/kgnya maka nelayan akan memproleh penghasilan sekitar Rp 225.000/hari. Kegiatan usaha budidaya perikanan dimaksudkan untuk: menghasilkan bahan pangan berprotein dan bernilai gizi tinggibagi keperluan dalam maupun luar negeri, menghasilkan biota perairan sebagai sarana rekreasi(pemancingan) dan hiburan, menghasilkan ikan umpan bagi usaha penangkapan

ikan,melestarikan plasma nutfah, pemuliaan jenis dan pengendalian populasi sumberdaya ikan (restocking dan rekruitmen), serta dapat meningkatkan lapangan kerja. Budidaya ikan dalam keramba sangat berperan dalam membantu melestarikan sumber air ini diperairan umum, karena penangkapan yang dilakukan secara terus menerus akan mengganggukelestarian di perairan tersebut. Penangkapan ikan pada umumnya dilakukan tanpa memperhatikan ukuran ikan. Dengan adanya sistim budidaya ikan dalam keramba, maka diharapkan anak-anak ikan yang ikut tertangkap akan dibudidayakan, sehingga akan

16 mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan bila ditangkap waktu masih kecil. Secara garis besar, peranan budidaya ikan dalam keramba adalah : 1) Mendukung usaha peningkatan pembinaan sumber hayati di perairan umum. 2) Meningkatkan produksi Wan yang bernilai ekonomi tinggi serta memenuhi kebutuhan konsumsi ikan secara terus menerus. 3) Meningkatkan pendapatan Para petani ikan serta kesejahteraan petani ikan sepanjang tahun. 4) Menghindari adanya masa paceklik bagi para nelayan dimana pada musim barat para nelayan tidak dapat menangkap ikan. 5) Memperluas lapangan kerja bagi nelayan dan masyarakat secara umum.

17 V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Aktivitas penangkapan di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Bungus saatsaat tertentu atau musim-musim tertentu hasil tangkapan meningkat kadangkala menurun. Selain penangkapan di Teluk Kabung Bungus telah berjalan operasi budidaya ikan kerapu. Hasil tangkapan para nelayan pada umunya dijual dan sisanya digunakan untuk kebutuhan gizi akan ikan. Hasil tangkapan mereka sangat tergantung pada cuaca atau iklim, badai, musim pemijahan, dan lokasi penangkapan. Alat tangkap yang dominan digunakan yakni; bagan. Namun selain bagan juga digunakan purse-seine, tonda, jaring, long line, bubu. 5.2. Saran Dari hasil praktikum ini diharapkan perlunya perhatian dari pemerintah terutama terhadap kesejahteraaan masyarakat Teluk Kabung, terutama pada sektor perikanannya. Padahal apabila dikembangkan dengan optimal akan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Kepada pemerintah disarankan agar dapat memberikan arahan atau bimbingan kepada nelayan-nelayan yang terdapat di desa teluk kabung dalam hal penangkapan, penanganan pasca panen maupun budidaya, sehingga mereka dapat mengetahui cara melakukan penangkapan dengan tetap memperhatikan kelestarian dari ikan-ikan tersebut. Selain itu dengan adanya arahan dalam budidaya mereka akan menambah penghasilan mereka melalui usaha budidaya. dan

18 DAFTAR PUSTAKA Ayodhya. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri, Bogor. 97 hal. Arinardi.1976. Kualitas Dan Distribusi Spasi Karakteristik Fisika Kimia Perairan Sungai Sulir Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Bengkalis. Berkala Perikanan Terubuk ISSN 0126-4265 Vol. 29, No. 2. Arisman. 1982. Perikanan laut. Penerbit Angkasa bandung. 98 hal. Budiharsono, S.2001. Teknik Analisa Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. P.t. Pradnya Paramita. Jakarta, 159 Hal. Clarkroff,J.,R,. 1976. Phytoplankton. Edwar Amild Ltd. London. 115 pp. Dahuri, R., J. Rais. S.P Ginting dan J. Sitepu, 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. P.t. Pradnya Paramita. Jakarta, 328 Hal. Effendi, M. I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. 97 hal. Fauzi. 1985. Pengantar Pengetahuan Peta. Pelatihan Pejabat Eselon IV Pemerintahan Daerah Tk.II Indragiri Hilir. Riau. 11 hal. Galib, M.Zulkifly dan Bustari 1995. Penelitian Front di perairan Bagan Siapi-api Prof Riau Fakultas Perikanan UNRI. 56 hal (tidak diterbitkan). Malik. B.A. 1998. Prospek Pembangunan Perikanan di daerah Riau. Hal 158-185. dalam Feliatra (ed). Stretegi Pembangunan Perikanan dan Kelautan Nasional dalam Meningkatkan Devisa Negara. UNRI Press. Riau Michael ,1984. Pengolahan dan Pengawetan Hasil Perikanan .Penebar Swadaya Jakarta 259 hal. Nikijuluw, V.P.H. 2002. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Pusat Pemberdayaan dan Pembangunan Regional (P3R). Bogor. 254 hal. Nyabbken, 1982. Bunga Faktor Pemilihan Tunggal dan Tingkat Optimum Ekploitasi Perikanan.Ekonomi Perikanan PT. Rama Jaya Abadi Pekanbaru Gramedia Jakarta 83 hal. Odum 1871. Masyarakat Perikanan Nusantara Dalam Pembangunan Nasional. Makalah Seminar Prospek Perikanan Riau Dalam Menghadapi Pasar Bebas Tanggal 18 November 1996. Pekanbaru. 11 hal. Ongkosongo 1980.Strategi Penyimpanan dan Pengembangan Kualitas Sumberdaya Manusia pada Pembangunan Agribisnis Perikanan Indonesia. Makalah pada Seminar Sehari. Himpunan Sosial Ekonomi

19 Perikanan Institut Pertanian Bogor. Bogor. 89 hal. Pasaribu, A.M.1994. Fenomena Kapal Penangkapan Ikan. Yayasan Guna, Jakarata. 90 hal. Pariwono, J.I. 1992. Proses-proses Fisik di Wilayah Perairan Pantai dalamkursus Pelatihan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir secara terpadu dan Holistik. Pusat Penelitian Lingkungan, Lembaga Penelitian IPB, Bogor. 30 hal. Presiden Republik Indonesia, 2004. Undang-undang no. 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Perairan. Sekretaris Negara Republik Indonesia. Jakarta. 105 hal. Raymond.1963. Pengolahan dan Pengawetan Ikan .Kanisius.Yogyakarta 125 halaman Sachlan,M. 1980. Planktonologi. Diktat Perkuliahan Planktonologi. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan UNRI : Pekanbaru. 63 hal. Sugiarto, 1995. Hubungan antara air dengan kandungan klorophil di waduk ketrodesa ketro. Soesono, S. 1993. Teknologi Penangkapan dan Pengolahan Ikan. Yayasan Kanisius, Jakarata, 63 hal. Syamsuddin, A.R. 1990. Pengantar Perikanan. Karya Nusantara, Jakarta. 58 hal. Wardoyo, ST. H.1981. pengelolaan kualitas air, proyek peningkatan mutu penggunaan tinggi IPB, Bogor 53 hal. Welch, P. S. 1952. Limnology. 2nd edition Mc Graw-Hill Book company, Inc. New York. Yoronto and London. 538 pp.

20

21 DAFTAR TABEL

Table

Halaman 13 13 13 14 18 19 19 20 20 20 20

1. Hasil tangkapan .................................................................................... 2. Spesies ikan .......................................................................................... 3. Spesies baru .......................................................................................... 4. Potensi non ikan .................................................................................... 5. Waktu penangkapan ............................................................................... 6. Harga ikan ............................................................................................. 7. Alat tangkap .......................................................................................... 8. Jenis kapal ............................................................................................. 9. Berbagai usaha ....................................................................................... 10. Jenis dan jumlah alat tangkap............................................................... 11. Jumlah nelayan ....................................................................................

22 KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaika laporan Praktikum Dinamika Populasi tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini penulis juga tak lupa mengucapkan terimaksaih kepada Dosen pembimbing dan Asisten yang telah banyak membantu praktikan, sehingga praktikan dapat mengatasai kesulitan baik pada saat melaksanakan praktikum maupun dalam menyelesaikan laporan ini. Penulis menyadrai bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Pekanbaru, Januari 2008

23 DAFTAR ISI

Isi

Halaman i ii iv v 1 1 2 3 3 5 6 8 8 8 8 9 9 9 9 10 10 15

KATA PENGANTAR............................................................................... DAFTAR ISI .......................................................................................... DAFTAR TABEL..................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN............................................................................. I. PENDAHULUAN................................................................................ 1.1. Latar belakang ............................................................................... 1.2. Tujuan dan Manfaat ...................................................................... II. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 2.1 Sumberdaya Peairan ....................................................................... 2.2 Sumberdaya Peikanan .................................................................... 2.3 Penangkapan .................................................................................. III. KONDISI UMUM DAERAH PRAKTIKUM ................................. 3.1. Letak Geografis.............................................................................. 3.2 Bentangan Alam ............................................................................ 3.3. Batas wilayah ................................................................................ IV. METODE PRAKTIKUM.................................................................. 4.1. Waktu dan Tempat......................................................................... 4.2. Bahan dan Alat............................................................................... 4.3. Metode Praktikum.......................................................................... IV. HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................... 4.1. Hasil............................................................................................... 4.2. Pembahasan....................................................................................

24 V. KESIMPILAN DAN SARAN............................................................ 5.1. Kesimpulan.................................................................................... 5.2. Saran .......................................................................................... 21 21 21

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

25 Laporan Individu

LAPORAN PRAKTIKUM DINAMIKA POPULASI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDRA (PPS) BUNGUS SUMATER BARAT

Oleh :

JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU 2008

26 DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Gambar alat yang digunakan..................................................................

Halaman 25

27

LAMPIRAN

28 Lampiran 1.