Anda di halaman 1dari 2

Dukungan Pemerintah Daerah terhadap Rencana Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Tahun 2014 dengan Beberapa Pertimbangan

Oleh: Nurmalasari 101011158 Mulai tahun 2014, BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Nasional) Kesehatan akan mengelola jaminan kesehatan yang akan memberikan kepastian jaminan kesehatan bagi setiap rakyat Indonesia. Jaminan ini diberikan dalam bentuk pelayanan kesehatan perseorangan yang komprehensif, mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan pemulihan, termasuk obat dan bahan medis dengan teknik layanan terkendali mutu dan biaya (managed care). Untuk melaksanaan rencana ini, maka Pemerintah Pusat yang dalam hal ini merupakan Kemeterian Kesehatan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya Pemerintah Daerah. Menyikapi hal ini, maka pada tanggal 78 Desember 2012, Seminar dan Workshop yang dihadiri oleh 150 perwakilan daerah yang berasal dari Pemerintah Daerah, Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten, Kota Madya, dan Kalangan Akademisi, serta bekerja sama dengan Asosiasi JAMKESDA Indonesia (AJI), Pusat PKMAK FK UGM, dan PT. TELKOM menghasilkan kesepakatan bahwa Pemerintah Daerah mengapresiasi dan siap mendukung rencana Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dimulai pada 1 Januari 2014 dengan beberapa aspek yang wajib diperhatikan oleh Pemerintah Pusat. Menurut Irianto (2012), Pemerintah Daerah masih memperkirakan permasalahan terkait kepersertaan dan kesiapan daerah, sehingga akan disusun usulan kepada Kementerian Kesehatan agar pelaksanaan JAMKESDA masih sesuai dengan amanah UU 32 Tahun 2004. Selain itu, Pasal 60 UU BPJS menjadi akar permasalahan bagi peran JAMKESDA dalam BPJS Kesehatan. UU tersebut berada di area abu-abu bagi penyelenggara JAMKESDA. Disebutkan bahwa pada ayat (2) UU BPJS sejak beroperasinya BPJS Kesehatan, sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) a. Kementerian Kesehatan tidak lagi menyelenggarakan program jaminan kesehatan masyarakat. Menurut Hartini (2012), ayat tersebut menjadi multi tafsir. Asosiasi menafsirkan ayat tersebut bahwa Kementerian Kesehatan sudah tidak lagi menangani JAMKESMAS, akan tetapi bagi JAMKESDA tidak ada aturan larangan untuk melaksanakan Program Jaminan Kesehatan. Akan tetapi, juga tidak ada aturan terkait pelaksanaan JAMKESDA. Oleh sebab itu, AJI (Asosiasi JAMKESDA Indonesia) bersepakat bahwa untuk daerah (provinsi dan kabupaten/kota) akan tetap melaksanakan JAMKESDA sampai BPJS mampu mengcover seluruh masyarakat dalam program BPJS Kesehatan (Jaminan Kesehatan Nasional). Sebagai respon terhadap permasalahan tersebut, Pemerintah Daerah yang diwakili oleh Asosiasi JAMKESDA Indonesia (AJI) akan mengirimkan surat pada Wakil Presiden RI, DPR RI, Menkokesra, Mendagri, dan DPD RI apabila ada rencana amandemen UU No. 32 Tahun 2004 untuk tidak menganulir Pasal 22 huruf (h) tentang daerah wajib menyelenggarakan Jaminan Sosial dan PP 38 Tahun 2007 berkaitan dengan kewenangan dan urusan pasal terkait pengembangan Jaminan Sosial khususnya JAMKESDA. Selain itu, Provinsi dan Kabupaten-Kota mulai Tahun 2014 juga diberi kewenangan untuk tetap dapat melaksanakan program JAMKESDA sampai tercapainya Jaminan Kesehatan Nasional (Universal Coverage). DAFTAR PUSTAKA KPMAK-UGM. c2012. Daerah Tetap Laksanakan Jamkesda [Online]. Didapat dari: http://www.kpmak-ugm.org/news/377-150-perwakilan-daerah-sepakattetap-laksanakan-jamkesda.html [Diakses 1 Oktober 2013].