Anda di halaman 1dari 25

Tinjauan Pustaka

PENDAHULUAN Pernapasan merupakan aktivitas di luar kesadaran yang dilakukan setiap saat oleh makhluk hidup. Setiap saat kita menghirup oksigen dan dalam sekejap menghembuskan nafas yang mengandung karbon dioksida. Dengan bernapas, kita memperoleh energi yang diperlukan untuk beraktivitas sehari-hari. Apabila terjadi gangguan pada saluran pernapasan, maka tubuh tidak akan dapat melakukan aktivitasnya dengan baik.1 Pada skenario PBL blok 7, diceritakan mengenai seorang perempuam umur 37 tahun datang ke puskesmas dengak keluhan sesak napas sejak 2 hari yang lalu. Ia mengaku sudah beberapa kali menderita penyakit seperti ini. Pada pemeriksaan fisik didapat bunyi nafas vesicular mengeras,ekspirasi memanjang dan ada wheezing. Makalah ini berisikan pembahasan mengenai sistem respirasi, yaitu struktur makroskopik dan mikroskopik, mekanisme pernapasan, fungsi saluran pernapasan, dan tes fungsi paru. Adapun makalah ini diharapkan dapat memperluas pemahaman pembaca mengenai sistem respirasi.

1.1. Tujuan Untuk memperdalam pemahaman mengenai sistem respirasi.

1.2. Manfaat Memperoleh pengetahuan yang lebih luas mengenai struktur makroskopik dan mikroskopik saluran pernapasan, mekanisme pernapasan, fungsi saluran pernapasan, dan tes fungsi paru.

PEMBAHASAN 2.1. Identifikasi Istilah Suara mengi (wheezing): Suara ini dapat didengar baik pada saat inspirasi maupun ekspirasi. Wheezing merupakan suara nafas seperti musik yang terjadi karena adanya penyempitan jalan udara atau tersumbat sebagian. Obstruksi seringkali terjadi sebagai akibat adanya sekresi atau edema. Bunyi yang sama juga terdengar pada asma dan banyak proses yang berkaitan dengan bronkokonstriksi. Mengi dapat dihilangkan dengan membatukannya.

Tinjauan Pustaka

Vesikular, terdengar sebagai bunyi yang tenang, bernada rendah. Suara ini terdapat pada paru yang normal, di mana suara inspirasi lebih keras dan lebih tinggi nadanya serta 3x lebih panjang daripada ekspirasi. Suara vesikular diproduksi oleh udara jalan nafas di alveol. Suaranya menyerupai tiupan angin di daun-daunan. Antara inspirasi dan ekspirasi , tidak ada bunyi nafas tambahan. Bunyi ini normalnya terdengar di seluruh bidang paru, kecuali di atas sternum atas dan di antara skapula. Bunyi nafas vesikular disertai ekspirasi yang memanjang dapat terjadi pada emfisema paru.

2.2. Rumusan Masalah 2.2.1. Seorang perempuan berumur 37 tahun mengalami sesak napas sejak 2 hari yang lalu. 2.2.2. Terdapat bunyi napas vesikular 2.2.3. Ekspirasi memanjang 2.2.4. Ada bunyi wheezing

2.3. Analisis Masalah

2.4. Hipotesis Sesak napas disebabkan adanya kelainan pada saluran pernapasan.

2.5. Sasaran Pembelajaran 2.5.1. Struktur Makroskopis Saluran Pernapasan2 Secara makroskopis, alat-alat pernapasan pada manusia meliputi hidung, faring, laring, trakea, dan alveoli. Adapun karakteristik dari masing-masing alat tersebut yaitu:

Tinjauan Pustaka

Gambar 1: Struktur Makroskopik saluran pernafasan


Diunduh dari situs: www.docstoc.com/docs/7098844/Review-Anatomi-fisiologi-Sistem-Respirasi, 10 Mei 2012.

1. Hidung Hidung terdiri atas bagian internal dan eksternal Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago, nares anterior (lubang hidung) merupakan ostium sebelah luar dari rongga hidung. Bagian internal adalah rongga berlorong yg dipisahkan oleh septum menjadi rongga hidung kanan dan kiri. Hidung berfungsi sebagai saluran udara ke dan dari paru paru, penghidu (olfaktori), sebagai penyaring kotoran, melembabkan serta menghangatkan udara yg dihirup ke paru paru.2

2. Faring Faring adalah struktur seperti tuba yg menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring Faring dibagi menjadi tiga region yaitu nasal, oral dan laring. Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif. Nasofaring terletak disebelah posterior hidung dan diatas palatum mole.2 Pada bagian posterior dari dinding nasofaring, terdapat adenoid atau tonsil, yakni suatu nodus limfe yang mengandung makrofag.

Tinjauan Pustaka

Orofaring terletak di belakang mulut. Pada bagian lateral adalah tonsil palatinum yang juga merupakan nodulus limfe. Bersama dengan adenoid dan tonsil lingua terletak di bagian bawah lidah. Mereka membentuk suatu cincin lapisan limfatik sekitar faring untuk menghancurkan bakteri pathogen yang mempenetrasi mukosa. Laringofaring adalah suatu bagian yang terletak di bagian paling inferior dari faring. Batas atasnya adalah laring sedangkan batas bawahnya adalah oesofagus. Kontraksi dari dinding otot orofaring dan laringofaring adalah bagian dari reflex saat menelan.3

3. Laring Laring adalah struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakea. Fungsi utama adalah untuk memungkinkan terjadi vokalisasi. Fungsi lain dari laring adalah sebagai jalan udara antara faring dan trakea. Epiglottis terletak pada bagian teratas dari kartilago penyusun laring. Saat menelan, laring akan teragkat dan epiglottis menutup bagian atasnya. Pita suara ada pada kedua bagian pada glottis. Saat bernapas, pita suara menempel pada glottis, sehingga udara dapat melewati dengan bebas menuju dan keluar dari trakea. Saat bersuara, otot laring menarik pita suara melewati glottis dan udara yang berhembus menggetarkan pita suara untuk menghasilkan suara. Dapat juga terjadi untuk berbicara saat menarik nafas, namun ini bukanlah yang biasa kita alami.3

4. Trakea Trakea memiliki panjang sekitar 4 sampai 5 inci dan terletak diantara laring dan bronki primer. Celah diantara cincin kartilago terletak di belakang untuk memungkinkan pembesaran dari oesofagus saat makanan ditelan. Bronki primer kanan dan kiri adalah percabangan dari trakea yang masuk ke dalam paru-paru. Dalam paru-paru, setiap bronki primer bercabang menjadi bronki sekunder yang menuju lobus setiap paru-paru (3 kanan dan 2 kiri).2

Gambar 2: Struktur saluran pernafasan


Diunduh dari situs: www.docstoc.com/docs/7098844/Review-Anatomi-fisiologi-Sistem-Respirasi, 10 Mei 2012.

Tinjauan Pustaka

5. Paru-paru Dasar setiap paru-paru terdapat diagfragma pada bagian bawahnya. Puncak paru-paru terletak setinggi klavikula. Pada bagian medial setiap paruparu terdapat suatu lekukan yang disebut dengan hilus, dimana bronkus primer dan arteri dan vena pulmonal memasuki paruparu.2

Gambar 3: Struktur paru-paru.


Diunduh dari situs: www.docstoc.com/docs/7098844/Review-Anatomi-fisiologi-Sistem-Respirasi, 10Mei 2012.

6. Alveoli Unit fungsional paru-paru adalah suatu kantung udara yang disebut dengan alveoli. Dalam alveoli terdapat makrofag yang memfagosit bakteri patogen atau bahan-bahan asing lainnya yang tidak dikeluarkan oleh epitel silia bronki. Ada jutaan alveoli pada setiap jantung.3

Gambar 4: Struktur Alveoli


Diunduh dari situs: www.scribd.com/doc/28094484/LAPORAN-respiratori, 8 Mei 2012.

Tinjauan Pustaka

2.5.2. Struktur Mikroskopis Saluran Pernapasan.3-5 Sistem respirasi mencakup organ paru-paru dan sistem saluran yang menghubungkan jaringan paru dengan udara dari luar tubuh ke jaringan tubuh. Sistem respirasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

1. Pars Conductoria Bagian ini meliputi saluran yang menghubungkan bagian luar tubuh dengan paru-paru untuk menyalurkan udara. Saluran ini terdiri dari hidung, nasofaring, laring, trachea, bronchus (ekstrapulmonal dan intrapulmonal), dan bronchiolus terminalis.

2. Pars Respiratoria Merupakan bagian dari paru-paru yang berfungsi untuk pertukaran gas antara darah yaitu duktus alveolaris, sakus alveolaris, dan alveoli.

A. Hidung Hidung merupakan organ yang berongga dengan dinding yang tersusun oleh jaringan tulang, cartilage hialin, otot lurik dan jaringan ikat. Pada kulit yang menutupi bagian luar hidung, terdapat epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan rambut-rambut halus. Rongga hidung (kavum nasi) dibagi menjadi dua yaitu vestibulum nasi dan fossa nasalis. Vestibulum nasi merupakan daerah lebar di belakang nares posterior. Sedangkan fossa nasalis merupakan daerah di belakang vestibulum nasi. Pada vestibulum nasi, terjadi perubahan epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk menjadi epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet sebelum masuk fossa nasalis. Di sini terdapat kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan vibrisae atau rambut-rambut kaku yang berfungsi untuk menyaring udara pernafasan. Pada dinding lateral terdapat tiga tonjolan tulang yang disebut konka, antara lain: konka nasalis superior, media, dan inferior. Pada konka nasalis superior terdapat epitel khusus, sedangkan pada konka nasalis media dan inferior terdapat epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Di bawah epitel yang menutupi concha nasalis inferior terdapat banyak plexus venosus atau swell bodies yang berguna untuk menghangatkan udara yang melalui hidung. Plexus venosus ini berdinding tipis sehingga mudah terjadi pendarahan.

Tinjauan Pustaka

B. Organon olfactorius Merupakan reseptor rangsang bau yang terletak pada epitelium olfactorius, yaitu suatu daerah khusus membrane mukosa yang terdapat pada pertengahan kavum nasi dan pada permukaan konka nasalis superior. Epitelnya merupakan epitel bertingkat toraks dengan 3 macam sel, yaitu:

1. Sel olfaktori Sel ini terletak di antara sel basal dan sel penyokong sebagai sel saraf yang berbentuk bipolar. Bagian puncak sel olfaktori yang membulat dan menonjol merupakan dendrit yang meluas sebagai tonjolan silindris pada permukaan epitel. Bagian basal mengecil menjadi lanjutan sel halus yang tidak berselubung myelin. Bagian yang membulat di permukaan disebut vesicular olfactorius, dari bagian yang menonjol ini timbul tonjolan yang berpangkal pada corpuscullum basale sebagai cilia olfactory yang tidak dapat bergerak. Ujung cilia inilah yang merupakan komponen indra pembau dan dapat menerima rangsang. Dalam lamina propria terdapat sel-sel pigmen dan sel limfosit. Selain itu, dalam lamina propria terdapat banyak sekali anyaman pembuluh darah. Di dalam lamina proproia area olfactory terdapat pula kelenjar tubulo-alveolar sebagai glandula olfactorius Bowmani, yang berfungsi menghasilkan sekret yang menjaga agar epitel olfaktori tetap basah dan bersih.

2. Sel penyokong Sel ini berbentuk langsing, di dalam sitoplasmanya tampak berkas-berkas tonofibril dan terminal bar. Pada permukaannya tampak banyak mikrovili yang panjang yang terpendam dalam lapisan lender. Kompleks golgi yang kecil terdapat pada bagian puncak sel. Di dalamnya juga terdapat pigmen coklat yang memberi warna pada epitel olfactory tersebut.

3. Sel Basal Sel ini terletak di bagian basal dengan bentuk segitiga dan berinti lonjong. Sel ini merupakan reserve cell atau sel cadangan yang akan membentuk sel penyokong dan mungkin menjad sel olfaktorius.

C. Sinus paranasalis Merupakan ruangan yang dibatasi tulang dan berhubungan dengan cavum nasi. Yang termasuk sinus paranasalis yaitu sinus frontalis, sinus ethmoidalis, sinus maxillaries, dan sinus spenoidalis yang terdapat dalam tulang-tulang yang bersangkutan. Pada sinus paranasalis
7

Tinjauan Pustaka

terdapat epitel ebrtingkat torak bersilia bersel goblet. Di sini lamina propria lebih tipis dari kavum nasi dan melekat pada periosteum di bawahnya. Kelenjar-kelenjar di sini memproduksi mukos yang akan dialirkan ke kavum nasi oleh gerakan silia-silia. Peradangan pada sinus paranasalis akan menyebabkan terjadinya sinusitis.

D. Faring Faring merupakan ruangan di belakang kavum nasi yang menghubungkan traktus digestivus dan traktus respiratorius. Yang termasuk bagian faring yaitu nasofarings, orofarings, dan laringofarings. Nasofaring terletak di bawah membrane basalis dan dilapisi epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Pada lamina propria terdapat kelenjar campur. Pada bagian posterior terdapat jaringan limfoid yang membentuk tonsila faringea. Pada anakanak, jaringan ini sering membesar dan meradang yang disebut adenoisitis. Di nasofaring, terdapat muara dari saluran yang menghubungkan rongga hidung dan telinga tengah disebut osteum faringeum tuba auditiva. Di sekelilingnya banyak kelompok jaringan limfoid yang disebut tonsila tuba. Orofaring terletak di belakang rongga mulut dan permukaan belakang lidah serta dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Orofaring akan dilanjutkan ke bagian atas menjadi epitel mulut dan ke bawah ke epitel oesophagus. Di sini terdapat tonsila palatine yang sering meradang, disebut tonsillitis. Laringofaring terletak di belakang larings dan dilapisi oleh epitel bervariasi, sebagian besar merupakan epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.

E. Laring Laring berbentuk sebagai pipa yang irregular dengan dinding yang terdiri atas cartilage hyaline, cartilage elastis, jaringan ikat dan otot bercorak. Larynx menghubungkan pharynx dengan trachea. Fungsinya adaalah menyokong, mencegah makanan/minuman untuk masuk ke dalam trachea, serta fonasi (membentuk suara). Rangka larynx terdiri dari beberapa potong kartilago, antara lain: tulang rawan hialin (terdiri atas cartilage thyroidea, cartilage cricoidea dan cartilage aritenoid) serta tulang rawan elastis (terdiri atas epiglottis, cartilage cuneifomis, dan cartilage corniculata). Otot bercorak dari larynx dapat dibagi menjadi otot ekstrinsik dan otot intrinsik. Otot ekstrinsik berfungsi untuk menopang dan menghubungkan sekitarnya. Kontraksinya terjadi pada proses digulatio (menelan). Otot instrinsik berfungsi untuk menghubungkan masing-masing cartilage larynx. Kontraksinya berpereran dalam proses bersuara.

Tinjauan Pustaka

F. Epiglotis Merupakan cartilago elastis yang terdiri dari dua permukaan, yaitu permukaan lingual dan permukaan laryngeal. Permukaan lingual yang menghadap ke lidah dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Sedangkan permukaan laryngeal yang menghadap ke laring dilapisi oleh epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Di bawah epiglottis terdapat dua lipatan mukosa yang menonjol ke lumen laring. Bagian atas disebut pita suara palsu (plica ventricularis) yang dilapisi oleh epitel bertingkat torak bersilia. Sedangkan bagian bawah disebut pita suara sejati (plica vocalis) yang dilapisi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Plica vokalis merupakan lipatan membrane mukosa yang didalamnya mengandung ligamentum vokalis yang merupakan pengikat elastis. Epitel yang menutupi merupakan epitel gepeng berlapis.

G. Trachea Merupakan lanjutan dari larynx yang lebarnya 2-3.5 cm dan panjangnya sekitar 11 cm. Trachea berakhir dengan cabang dua yang disebut sebagai bronchus. Epitel yang melapisi sebelah dalam ialah epitel silindris semu berlapis bercilia dan bertumpu pada membrane basalis yang tebal. Di antara sel-sel tersebar sel-sel piala. Dibawah membrane basalis terdapat lamina propria yang banyak mengandung serabut elastis. Di lapisan dalam lamina propria serabut elastis membentuk anyaman padat sebagai suatu lamina elastica, maka jaringan pengikat dibawahnya kadang-kadang disebut tunica submukosa. Di dalam tunica submukosa inilah terdapat kelenjar-kelenjar kecil seperti pada dinding larynx yang bermuara pada permukaan epitel. Yang merupakan ciri khas dari trachea adalah adnya kerangka cincincincin cartilago hyaline yang berbentuk huruf C sebanyak 16-20 buah yang berderet mengelilingi lumen dengan bagian yang terbuka di bagian belakang( pars cartilaginea). Masing-masing cincin dibungkus oleh serabut fibro elastis. Bagian belakan tidak memiliki cincin cartilage (pars membranacea) diisi oleh serabut-serabut otot polos yang sebagian berjalan melintang dan berhubungan dengan jaringan fibro elastis disekitarnya.

H. Bronchus dan cabang-cabangnya Trachea bercabang menjadi dua bronchus primer yang masuk ke jaringan paru-paru melalui hilus pulmonalis dengan arah ke bawah dan lateral. Bronchus kanan bercabang menjadi tiga dan bronchus kiri becabang menjadi dua. Lamina propria terdiri dari jaringan pengikat yang banyak mengandung serabut elastis dan serabut kolagen dan retikuler serta beberapa limfosit. Di bawah membrane mucosa terdapat stratum musculare yang bukan
9

Tinjauan Pustaka

merupakan lapisan tertutup. Banyaknya serabut elastis berhubungan erat dengan sel-sel otot polos dan serabut elastis ini sangat penting dalam proses respirasi. Di dalam anyaman muskuloelastis ini terdapat banyak jalinan pembuluh darah kecil. Terdapat perbedaan struktur antara trachea dengan bronchus extrapulmonalis serta intrapulmonalis. Perbedaan tersebut antara lain: trachea memiliki bentuk cincin cartilage, serta susunan serabut otot pada trachea hanya dibagian dorsal sedangkan pada bronchus terdapat disekeliling dinding. Kontraksi lapisan otot ini akan menimbulkan lipatan memanjang pada membrane mukosa. Selain itu, suatu lapisan anyaman elastis yang membatasi membrane mukosa seperti pada trachea tidak ada, tetapi terdapat serabut-serabut elastis yang berjalan sejajar sepanjang bronchus dengan percabangannya. Bronchus dan bronchiolus memiliki berbagai cirri tersendiri yang dapat digunakan untuk membedakannya satu sama lain. Dengan bercabangnya bronchus, maka kalibernya akan semakin mengecil, yang menyebabkan gambaran stukturnya akan semakin berbeda karena lempeng-lempeng cartilage yang makin berkurang.

I. Pulmo Manusia memiliki sepasang paru-paru yang menempati sebagian besar dalam cavum thoracis. Kedua paru-paru dibungkus oleh pleura yang terdiri atas dua lapisan yang saling berhubungan sebagai pleura visceralis dan pleura parietalis. Unit fungsional dalam paru-paru disebut lobulus primerius yang meliputi semua struktur mulai dari bronchiolus terminalis, bronchiolus respiratorius, ductus alveolaris, atrium, saccus alveolaris, dan alveoli bersamasama dengan pembuluh darah, limfe, serabut syaraf, dan jaringan pengikat. Lobulus di daerah perifer paru-paru berbentuk pyramidal atau kerucut didasar perifer, sedangkan untuk mengisi celah-celah diantaranya terdapat lobuli berbentuk tidak teratur dengan dasar menuju ke sentral. Cabang terakhir bronchiolus dalam lobulus biasanya disebut bronchiolus terminalis. Kesatuan paru-paru yang diurus oleh bronchiolus terminalis disebut acinus.

10

Tinjauan Pustaka

Gambar 5: Pembungkus paru-paru


Diunduh dari situs: www.scribd.com/doc/28094484/LAPORAN-respiratori, 8 Mei 2012.

1) Bronchiolus Respiratorius Memiliki diameter sekitar 0.5mm. Saluran ini mula-mula dibatasi oleh epitel silindris selapis bersilia tanpa sel piala, kemudian epitelnya berganti dengan epitel kuboid selapis tanpa cilia. Di bawah sel epitel terdapat jaringan ikat kolagen yang berisi anyaman sel-sel otot polos dan serabut elastis. Dalam dindingnya sudah tidak terdapat lagi cartilago. Pada dinding bronchiolus respiratorius tidak ditemukan kelenjar. Disana-sini terdapat penonjolan dinding sebagai alveolus dengan sebagian epitelnya melanjutkan diri. Karena adanya alveoli pada dinding bronchiolus inilah maka saluran tersebut dinamakan bronchiolus respiratorius.

2) Ductus Alveolaris Bronchiolus respiratorius bercabang menjadi 2-11 saluran yang disebut ductus alveolaris. Saluran ini dikelilingi oleh alveoli sekitarnya. Saluran ini tampak seperti pipa kecil yang panjang dan bercabang-cabang dengan dinding yang terputus-putus karena penonjolan sepanjang dindingnya sebagai saccus alveolaris. Dinding ductus alveolaris diperkuat dengan adanya serabut kolagen elastis dan otot polos sehingga merupakan penebalan muara saccus alveolaris.

3) Saccus alveolaris dan Alveolus Ruangan yang berada diantara ductus alveolaris dan saccus alveolaris dinamakan atrium. Alveolus merupakan gelembung berbentuk polyhedral yang berdinding tipis. Dindingnya penuh dengan anyaman kapiler darah yang saling beranastomosis. Kadang ditemukan lubang yang disebut porus alveolaris dan terdapat sinus pemisah (septa) antara 2
11

Tinjauan Pustaka

alveoli. Fungsi lubang tersebut belum jelas, namun dapat diduga untuk mengalirkan udara apabila terjadi sumbatan pada salah satu bronchus.

4) Pelapis Alveolaris Epitel alveolus dengan endotel kapiler darah dipisahkan oleh lamina basalis. Pada dinding alveolus terdapat dua macam sel, yaitu sel epitel gepeng (squamous pulmonary epitheal atau sel alveolar kecil atau pneumosit tipe I) serta sel kuboid (sel septal atau alveolar besar atau pneumosit tipe II). Sel alveolar kecil membatasi alveolus secara kontinyu, kadang diselingi oleh alveolus yang besar. Inti sel alveolus kecil ini gepeng. Bentuk dan ketebalan sel alveolar kecil tergantung dari derajat perkembangan alveolus dan tegangan sekat antara alveoli. Sel alveolar besar ialah sel yang tampak sebagai dinding alveolus pada pengamatan dengan mikroskop cahaya. Sel ini terletak lebar ke dalam daripada pneumosit tipe I. Kompleks golginya sangat besar disertai granular endoplasma reticulum dengan ribosom bebas. Kadang-kadang tampak bangunan ini terdapat di permukaan sel seperti gambaran sekresi sel kelenjar. Diduga benda-benda ini merupakan cadangan zat yang berguna untuk menurunkan tegangan permukaan dan mempertahankan bentuk dan besar alveolus. Secret tersebut dinamakan surfaktan. Adapun udara di dalam alveolus dan darah dalam kapiler dipisahkan oleh sitoplasma sel epitel alveolus, membrana basalis epitel alveolus, membrane basalis yang meliputi endotel kapiler darah, serta sitoplasma endotel kapiler darah.

5) Sel Debu (Dust cell) Hampir pada setiap sediaan paru-paru ditemukan fagosit bebas. Karena mereka mengandung debu maka disebut sel debu. Pada beberapa penyakit jantung sel-sel tersebut mengandung butir-butir hemosiderin hasil fagositosis pigmen eritrosit.

6) Pembuluh Darah Sebagian besar pulmo menerima darah dari arteri pulmonalis yang bertripe elastis. Cabang arteri ini masuk melalui hilus pulmonalis dan bercabang-cabang mengikuti percabangan bronchus sejauh bronchioli respiratorius. Dari sini arteri tersebut memberi percabangan menuju ke ductus alveolaris, dan memberi anyaman kapiler di sekeliling alveolus. Venula menampung darah dari anyaman kapiler di pleura dan dinding penyekak alveolus. Vena yang menampung darah dari venula tidak selalu seiring dengan arterinya, tetapi melalui jaringan pengikat di antara lobulus dan segmen. Pulmonalis dan vena pulmonalis terutama untuk pertukaran gas dalam alveolus. Disamping itu terdapat arteri
12

Tinjauan Pustaka

bronchialis yang lebih kecil, sebagai cabang serta mengikuti bronchus dengan cabangcabangnya. Arteri ini diperlukan untuk nutrisi dinding bronchus termasuk kelenjar dan jaringan pengikat sampai di bawah pleura. Darah akan kembali sebagian besar melalui vena pulmonalis disamping vena bronchialis. Terdapat anastomosis dengan kapiler dari arteri pulmonalis.

7) Pembuluh Limfe Terdapat dua kelompok besar, sebagian dalam pleura dan sebagian dalam jaringan paru-paru. Terdapat hubungan antara dua kelompok tersebut dan keduanya mengalirkan limfe ke arah nodus limfatikus yang terdapat di hilus. Pembuluh limfe ada yang mengikuti jaringan pengikat septa interlobularis dan ada pula yang mengikuti percabangan bronchus untuk mencapai hilus.

8) Pleura Seperti juga jantung paru-paru terdapat didalam sebuah kantong yang berdinding rangkap, masing-masing disebut pleura visceralis dan pleura parietalis. Kedua pleura ini berhubungan didaerah hilus. Sebelah dalam dilapisi oleh mesotil. Pleura tersebut terdiri atas jaringan pengikat yang banyak mengandung serabut kolagen, elastis, fibroblas dan makrofag. Di dalamnya banyak terdapat anyaman kapiler darah dan pembuluh limfe. 2.5.3. Mekanisme Pernapasan5 Jaringan paru menempati bagian terbesar rongga dada. Rongga dada dibentuk oleh 12 pasang tulang iga yang berhubungan dengan sternum di anterior dan vertebra torakalis di posterior serta diafragma pada bagian inferior. Kontraksi otot-otot interkostal dan diafragma mengubah bentuk dan luas rongga dada.

Gambar 6: Otot-otot dan tulang utama yang terlibat dalam proses pernafasan.
13

Tinjauan Pustaka

Gambar 7: Lokasi otot dan diafragma di bahagian torak


Diunduh dari situs:www.scribd.com/doc/28094484/LAPORAN-respiratori, 8 Mei 2012.

Jaringan paru dibungkus oleh dua lapisan pleura, yaitu pleura viseral dan pleura parietal. Ruang intrapleura berisi cairan yang berfungsi sebagai pelumas. Pada keadaan normal, tekanan intrapleura kurang dari tekanan atmosfer, yang disebut tekanan sub atmosferik (tekanan donders atau tekanan negatif). Pada keadaan istirahat (akhir ekspirasi tenang), jaringan paru dan dinding dada pada kedudukan Resting End Expiratory Level (REEL), yaitu suatu keadaan seimbang yang merupakan resultan sifat paru yang cenderung kolaps dan dinding dada yang cenderung mengembang. Proses inspirasi merupakan proses aktif (kontraksi otot-otot inspirasi). Pada inspirasi tenang (misalnya saat duduk), yang berkontraksi hanyalah otot inspirasi utama, yaitu diafragma dan otot Interkostal Eksternus. Sedangkan pada inspirasi kuat, terjadi pula kontraksi oleh otot-otot inspirasi tambahan, yaitu otot Sternocleidomastoideus, Pectoralis Mayor, dan sebagainya. Dalam keadaan istirahat, diafragma berbentuk kubah. Adanya perangsangan saraf Phrenicus menyebabkan kontraksi diafragma di mana diafragma menjadi turun atau mendatar yang menyebabkan pembesaran rongga dada dalam dimensi vertikal.

14

Tinjauan Pustaka

Gambar 8: Proses inspirasi dan ekspirasi


Diunduh dari situs: http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/ nilai %20kapasitas%20vital%20paru.pdf, 11 Mei 2012.

Pada inspirasi tenang, sebanyak 75% pembesaran rongga dada disebabkan oleh diafragma. Adanya kontraksi pada otot Interkostal Externus menyebabkan iga-iga terangkat ke atas lateral, sternum bergerak ke anterior atas, dan volume dada meningkat sebanyak 25%. Pada proses ekspirasi, tedapat pula ekspirasi tenang dan ekspirasi kuat. Ekspirasi tenang merupakan proses pasif di mana terjadi relaksasi pada otot inspirasi dan kembalinya jaringan paru ke kedudukan semula sesudah teregang (daya recoil). Sedangkan ekspirasi kuat merupakan proses kontraksi otot-otot ekspirasi yaitu otot dinding perut dan otot interkostal internis. 2.5.4. Fungsi Saluran Pernapasan6 Alat pernapasan manusia terdiri atas hidung, faring, laring, trakea, bronkus, alveolus, dan paru-paru. Setiap alat tersebut memiliki fungsi spesifik dalam proses inspirasi dan ekspirasi. Adapun fungsi dari setiap alat tersebut yaitu:

1) Fungsi Hidung Bulu hidung menyaring debu dan mikroorganisme dari udara yang masuk dan ditangkap lapisan mukus. Persediaan darah yang banyak ke membran mukus membantu menyamakan suhu udara yang masuk menjadi hampir sama dengan suhu badan serta melembabkannya. Selain itu, hidung juga berfungsi sebagai organ pembau (reseptor bau terletak di mukosa bagian atas hidung) serta membantu menghasilkan dengungan (fonasi).

2) Fungsi Faring Faring digunakan sebagai alat pernafasan dan pencernaan. Pada manusia faring juga digunakan sebagai alat artikulasi bunyi. 3) Fungsi Laring Laring berfungsi untuk mengatur tingkat ketegangan dari pita suara yang selanjutnya mengatur suara. Selain itu, laring juga menerima udara dari faring, meneruskannya ke trakea, dan mencegah makanan dan air masuk ke dalam trakea.

15

Tinjauan Pustaka

4) Fungsi Trakea Trakea menyediakan tempat laluan bagi udara yang di bawa masuk dan udara yang dikeluarkan, menyaring benda-benda asing yang masuk ke saluran pernapasan. 5) Fungsi Bronchus Fungsi bronchus adalah menyediakan tempat laluan bagi pengagihan udara yang dibawa masuk ke dalam paru-paru dan untuk mengeluarkan udara. 6) Fungsi Alveolus Fungsi alveolus adalah sebagai saluran akhir dan untuk melakukan pertukaran gas (O2 dan CO2). 7) Fungsi Paru-paru Paru-paru berfungsi untuk menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah. Prosesnya disebut pernapasan eksternal atau bernapas. Paru-paru juga mempunyai fungsi nonrespirasi. 2.5.5. Tes Fungsi Paru-paru7 Uji fungsi paru terbagi atas dua kategori, yaitu uji yang berhubungan dengan ventilasi paru dan dinding dada, serta uji yang berhubungan dengan pertukaran gas. Uji fungsi ventilasi termasuk pengukuran volume paru-paru dalam keadaan statis atau dinamis. Uji fungsi paru ini dapat memberikan informasi yang berharga mengenai keadaan paru, walaupun tidak ada uji fungsi paru yang dapat mengukur semua kemungkinan yang ada. Metode sederhana untuk meneliti ventilasi paru adalah merekam volume pergerakan udara yang masuk dan keluar dari paru, dengan proses spirometri, dengan menggunakan spirometer. Dari spirometri didapatkan dua istilah yaitu volume dan kapasitas paru.

Gambar 9: Kurva hasil spirometri


Diunduh dari situs: www.scribd.com/doc/28094484/LAPORAN-respiratori, 8 Mei 2012.

16

Tinjauan Pustaka

A. Volume Paru Berdasarkan gambar di atas, volume paru terbagi menjadi 4 bagian, yaitu: 1. Volume Tidal adalah volume udara yang diinspirasi atau diekspirasi pada setiap kali pernapasan normal. Besarnya 500 ml pada rata-rata orang dewasa. 2. Volume Cadangan Inspirasi adalah volume udara ekstra yang diinspirasi setelah volume tidal, dan biasanya mencapai 3000 ml. 3. Volume Cadangan Eskpirasi adalah jumlah udara yang masih dapat dikeluarkan dengan ekspirasi kuat pada akhir ekspirasi normal, pada keadaan normal besarnya 1100 ml. 4. Volume Residu, yaitu volume udara yang masih tetap berada dalam paru-paru setelah ekspirasi kuat. Besarnya 1200 ml. B. Kapasitas Paru7 Kapasitas paru merupakan gabungan dari beberapa volume paru dan dibagi menjadi empat bagian, yaitu: 1. Kapasitas Inspirasi, sama dengan volume tidal + volume cadangan inspirasi. Besarnya 3500 ml, dan merupakan jumlah udara yang dapat dihirup seseorang mulai pada tingkat ekspirasi normal dan mengembangkan paru sampai jumlah maksimum. 2. Kapasitas Residu Fungsional, sama dengan volume cadangan inspirasi + volume residu. Besarnya 2300 ml, dan merupakan besarnya udara yang tersisa dalam paru pada akhir eskpirasi normal. 3. Kapasitas Vital, sama dengan volume cadangan inspirasi + volume tidal + volume cadangan ekspirasi. Besarnya 4600 ml, dan merupakan jumlah udara maksimal yang dapat dikeluarkan dari paru, setelah terlebih dahulu mengisi paru secara maksimal dan kemudian mengeluarkannya sebanyak-banyaknya. 4. Kapasitas Paru Total, sama dengan kapasitas vital + volume residu. Besarnya 5800 ml, adalah volume maksimal dimana paru dikembangkan sebesar mungkin dengan inspirasi paksa. Dengan menggunakan spirometri dan pengatur kecepatan pencacatan dapat dikira Volume ekspirasi paksa (FEV). Selain itu, spirometri juga dapat menentukan gangguan ventilasi. Kelainan ventilasi dapat dibagi dua yaitu: iPenyakit paru Obstruktif : Kondisi di mana berlaku penyumbatan atau penyempitan

saluran udara nafas. Jadi untuk mengosongkan paru adalah lebih sukar dari pengisian. ii- Penyakit paru Restriktif : Penghambatan kemampuan paru untuk mengembang.
17

Tinjauan Pustaka

Tabel 1 : Tipe Gangguan Ventilasi Pulmonary Parameter VC TLC RV FEV1/FVC MMEFR (FEF25%75%) MBC Obstructive Disease normal or decreased normal or increased increased decreased decreased Restrictive Disease decreased decreased decreased normal or increased normal

decreased

normal

Ruang rugi adalah ruangan yang tidak terlibat dalam pertukaran gas. Ia hanya berfungsi sebagai saluran. Ruang ini adalah dari hidung sampai dengan bronkus terminalis. Normal adalah 150 ml. 7,8 Ventilasi pulmonal ialah jumlah udara yang keluar masuk paru per menit. TV = Frekuensi pernafasan /menit

Ventilasi alveol pula :

( TV Volume Ruang Rugi ) X frequensi pernafasan/ menit Proses difusi Salah satu fungsi pernapasan adalah untuk mengambil oksigen dari atmosfer dan melepaskan CO2 dari darah melalui proses difusi. Faktor terpenting yang menyebabkan difusi gas adalah perbedaan tekanan parsiil gas antara alveoli dan darah. Manakala faktor yang mempengaruhi kecepatan proses difusi pula adalah: iiiiiiivPerbedaan tekanan parsiil gas dan tekanan gas (dalam cairan) Luas penampang lintang antar muka gas-cairan Panjang jarak yang harus ditembus molekul-molekul gas. Daya larut gas- CO2 lebih mudah larut dari O2

18

Tinjauan Pustaka

Tiga fase proses difusi gas ( antara udara alveol dan darah kapiler paru ) a. Fase gas Luas penampang total saluran udara dari trakea sampai alveol makin besar, aliran udara hanya akan sampai duktus alveolaris. Gas yang berat molekul lebih ringan akan bergerak lebih cepat jadi O2 lebih cepat berdifusi dari CO2. b. Fase membrane : apabila membrane respirasi tebal, maka difusi gas akan sukar. c. Fase cairan : O2 mendifusi ke cairan (plasma) kemudian ke eritrosit dan berikatan dengan hb. Transport O2 Sedikit sangat untk ditemui dalam bentuk larut. Menurut hukum Henry hanya 0,393ml/100mL darah namun keadaan yang sebenarnya adalah sebanyak 20 mL/mL darah. Perbedaan ini adalah karena kemampuan Hb dalam transport oksigen. Ikatan O2 pada hb adalah ikatan fisis. Hb
Reduced Hb
5-7

+ O2

HbO2
Oxy-Hb

Manakala oksi Hb ( pelepasan O2 dari Hb ditentukan oleh tekanan CO2 di medium sekeliling Hb. Proses deoksigenasi ini berlaku di kapiler jaringan. HbO2 Hb + O2 Deoxy- Hb Kejenuhan HbO2 dalam arteri sekitar 97% (Shunt physiologist). Pada keadaan ini arteri mengandung 19.8 ml O2/100ml darah. Pada PO2 50 mmHg berlaku pelepasan O2 dengan cepat dan di sini kurva lebih tegak. Titik ini merupakan unloading tension dari Hb. Di jaringan di mana PO2 40mmHg, Hb akan melepaskan O2 dan diserahkan ke selsel jaringan. Dalam sekali jalan ke jaringan Hb akan melepaskan 15-20% volume persentase O2 ke jaringan. 9

19

Tinjauan Pustaka

Gambar 10: Kurva sigmoid menunjukkan hubungan dissosiasi oksigen-Hb dan saturasi Kurva dissosiasi oksigen dari Hb menyatakan hubungan PO2 dan saturasi. Hb mudah melepaskan O2 (kurva bergeser ke kanan) bila: pH menurun PCO2 meningkat Suhu meningkat Kosentrasi 2,3 BPG meninggi dalam sel darah merah PO2 menurun

Pengaruh PCO2 terhadap dissosiasi Oxy-Hb disebut efek Bohr. PCO2 yang normal (40mmHg) disebut fisiologis, PCO2 20 mmHg adalah alkalosis respiratorik, manakala pada PCO2 80mmHg adalah asidosis respiratorik. 2,3-DPG terdapat di dalam eritrosit dan membentuk ikatan reversible dengan Hb : Kurva Dissosiasi Oxy-HbEM. DPG dapat meningkat terhadap O2. Ia merupakan Gambar zat antara10 metabolisme dalam glikolisis pada hipoksia (kurang oksigen) misalnya ketika naik gunung lebih tinggi dari 2500m. Dapat juga meningkat pada pengidap anemia (kurang hb) dan yang mempunyai kelainan pada kongenital Hb. 7 Afinitas Hb janin terhadap O2 lebih besar dari Hb ibu. Eritrosit yang mengandung HbF mempunyai afinitas tinggi terhadap O2. Hal ini menguntungkan janin karena P plasenta rendah. Ini menyebabkan kurve lebih curam dan bergeser ke kiri. Oleh karena afinitas HbF

20

Tinjauan Pustaka

terhadap DPG rendah jadi seolah-olah afinitas terhadap O2 adalah tinggi. Namun ternyata afinitas HbF dan HbA adalah sama.
5,6

Transpor karbon dioksida ( CO2 ) Pengangkutan CO2 oleh darah dapat dilaksanakan melalui 3 Cara yakni sebagai berikut. 1. Karbon dioksida larut dalam plasma, dan membentuk asam karbonat dengan enzim anhidrase (7% dari seluruh CO2). 2. Karbon dioksida berikatan dengan protein. Walaupun hanya 20% dari seluruh CO2 tapi merupakan cara pengangkutan yang penting. i- Terikat pada hemoglobin dalam bentuk karbomino hemoglobin Deoksi Hb afinitasnya lebih besar terhadap CO2 dibandingkan dengan HbO2. HbCO2 dan karbamino hb adalah ikatan longgar (reversible).

ii- CO2 berikatan dengan NH2-valine. 2,3- DPG juga berkaitan dengan NH2-Valine. Jadi keduanya bersaing untuk berikatan dengan Hb.

Menurut efek Haldane pengikatan O2 pada Hb akan mengusir CO2 ( pelepasan CO2 dari ikatannya sebagai karbamino-Hb ). Efek Haldane secara kuantitatif dapat meningkatkan transport CO2 lebih penting dari efek Bohr dalam meningkatkan transport oksigen. Efek Haldane merupakan akibat dari oxy-Hb lebih asam dari reduced Hb. Ini karena sewaktu oksigenasi hb menjadi HbO2 meningkatkan pelepasan proton (H+) dari mol Hb. Seterusnya H+ akan berikatan HCO3- membentuk H2CO3 yang kemudian akan dipecah menjadi CO2 dan H2O oleh Carbonic Anhydrase. 10,11

HHb + O2

H+ + HbO2

21

Tinjauan Pustaka

3. Karbon dioksida terikat dalam gugus ion bikarbonat (HCO3) melalui proses berantai pertukaran klorida (70% dari seluruh CO2). Reaksinya adalah sebagai berikut:

CO2 + H2O

H2CO3

H+ + HCO3 -

Reaksi tersebut berlangsung lambat di plasma manakala di eritrosit berlaku sangat cepat karena dikatalisa enzim anhydrase karbonat. Ion chloride ( Cl- ) masuk ke dalam eritrosit ( Chlorida Shift ) mengimbangi pengeluaran ion bikarbonat dari sel.7

Gambar 11 : Chloride Shift


Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. Philadelphia : Elsevier Sanders.p73

Gangguan terhadap pengangkutan CO2 dapat mengakibatkan munculnya gejala asidosis karena turunnya kadar basa dalam darah. Hal tersebut dapat disebabkan karena keadaan Pneumoni. Sebaliknya apabila terjadi akumulasi garam basa dalam darah maka muncul gejala alkalosis. Pusat Pernapasan Otomasi9,11 Pusat pernapasan volunteer di korteks cerebri impulsnya disalurkan melalui traktus kortikospinalis ke motor neuron saraf pernapasan. Bila pernapasan pusat dengan perifer terputus, pernapasan spontan (otonom) berhenti tetapi pernapasan yang disengaja masih dapat dilakukan. Terdiri dari tiga bagian:

22

Tinjauan Pustaka

a) Pusat respirasi Terletak di formatio retikularis medulla oblongata lepas muatan berirama menghasilkan pernafasan spontan. Ia terdiri dari dua kelompok neuron yaitu kelompok dorsal ( Dorsal respiratory group) dan kelompok ventral (Ventral respiratory group). Kelompok dorsal terutama terdiri dari neuron I, secara periodic melepaskan impulse dengan frekuensi 12-15/menit. Serat-serat saraf yang keluar dari neuron I sebagian besarnya berakhir di motor neuron medulla spinalis akan mempersarafi otot-otot inspirasi utama. Manakala sebagian yang lain akan menuju ke kelompok Ventral yang terdiri dari neuron I dan neuron E. Keduanya tidak aktif pada pernapasan tenang. Namun bila kebutuhan ventilasi meningkat neuron I Ventral diaktifkan untuk mempersarafi otot-otot inspirasi tambahan melalui N IX dan N X.
6

Neuron E Ventral pula setelah dirangsang akan mengeluarkan impulse untuk menyebabkan kontraksi otot-otot ekspirasi. Di sini berlaku mekanisme umpan balik negative antara neuron Dorsal I dan neuron E Ventral. Impulse dari neuron Dorsal I akan merangsang neuron E Ventral. Namun, neuron E ventral sebaliknya akan mengeluarkan impulse untuk menghambat neuron Dorsal I. Jadi neuron Dorsal I menghentikan aktifitasnya sendiri melalui rangsang hambatan. Pusat respirasi mampu melepaskan impulse spontan berirama tetapi turut dipengaruhi oleh impulse dari berbagai bagian 4-6:

Impulse aferen dari jaringan parenkim paru melaui Nx Korteks cerebri Pusat apneustik

Pusat pneumotaksik b) Pusat apneustik Merupakan pons bagian bawah. Ia memberi pengaruh tonik terhadap pusat inspirasi, pusat i ni dihambat impulse eferen melalui N X. c) Pusat Pneumotaksik Merupakan bagian atas pons. Impulse di sini menghambat aktifitas neuron I jadi rangsangan inspirasi dihentikan. Pusat pneumotasksik adalah lebih dominan daripada
23

Tinjauan Pustaka

apneustik. Namun bila Pusat Pneumotaksik dan pengaruh Nervus Vagus (N X) dihilangkan, pengaruh tonik pada pusat apneustik terhadap pusat respirasi dominan mengakibatkan apneusis yaitu kondisi dimana nafas terhenti pada saat inspirasi. Pengaruh hambatan melalui N X masih dapat terjadi irama pernapasan tetapi lebih lambat dan dalam. 6 Jadi pusat pernapasan di pons berfungsi untuk mengatur pernapasan agar lebih halus. Selain itu, teratur inspirasi dan ekspirasi juga dapat berjalan mulus.

Gambar 12 : Pusat Respirasi Otonom


Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. Philadelphia : Elsevier Sanders.p75

PENUTUP 1.1. Kesimpulan Secara keseluruhan, sistem pernapasan manusia terdiri dari hidung, nasofaring, laring, trakea, bronkus, dan bronkiolus. Adapun bronkus dan bronkiolus dapat dibagi lagi sesuai dengan letak dan fungsinya masing-masing. Setiap alat pernapasan manusia disusun oleh jaringan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, kavum nasi disusun oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk, sedangkan fossa nasalis disusun oleh epitel berlapis gepeng bertanduk bersilia bersel goblet. Setiap alat pernapasan memiliki fungsi spesifik sesuai dengan komponen yang dimilikinya. Untuk menguji paru-paru, dapat dilakukan dengan berbagai tes fungsi paru. Salah satunya yaitu dengan spirometri. Adapun tes ini dilakukan

24

Tinjauan Pustaka

untuk mengetahui volume dan kapasitas paru-paru. Sistem Respirasi berfungsi untuk menyediakan permukaan untuk pertukaran gas antara udara dan sistem aliran darah. Saluran pernapasan sebagai jalur untuk keluar masuknya udara dari luar ke paru-paru. Selain itu ia sebagai sumber produksi suara termasuk untuk berbicara, menyanyi, dan bentuk komunikasi lainnya. Gangguan atau kelainan pasa system ini dapat mempengaruhi system lain juga. DAFTAR PUSTAKA 1. Dorland WA. Kamus kedokteran Dorland. Edisi ke-29. Jakarta:EGC:2002.h.60-1 2. Ningsih TO. Review anatomi fisiologi sistem respirasi. Diunduh dari situs: www.docstoc.com/docs/7098844/Review-Anatomi-fisiologi-Sistem-Respirasi, 10 Mei 2012. 3. Scanlon VC, Sanders T, Davis FA. Essentials of anatomy and physiology. Edisi ke-5. 2007 4. Wahyudi YC. Sistema respiratorium. Diunduh dari situs: www.scribd.com/doc/28094484/LAPORAN-respiratori, 8 Mei 2012. 5. 5. Ganong WF. Respirasi. Dalam: Buku ajar fisiologi kedokteran. Cetakan ke-1. Jakarta:EGC;1992;h.611-20. 6. 6. Anita CS. Sistem pernapasan manusia. Diunduh dari situs: www.docstoc.com/docs/16458858/Makalah-sistem-Pernafasan-Manusia, 8 Mei 2012. 7. Madina DS. Nilai kapasitas vital paru dan hubungannya dengan karakteristik fisik pada atlet berbagai cabang olahraga. Diunduh dari situs: nilai

http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/ %20kapasitas%20vital%20paru.pdf, 11 Mei 2012.

8. Scanlon VC, Sanders T. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Ed 3. h315-37 9. Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. Philadelphia : Elsevier Sanders.p71-9 10. Kennelly PJ, Rodwell VW. Dalam: Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia Harper. Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran EGC: 2006.h.44-9 11. Vanders Human Physiology-The mechanism of body function, Eric P. Wildmaier, Hershel Raff, Kevin T. Strang,year 2006, Respiratory physiology, page 443,468.

25