Anda di halaman 1dari 25

PRESENTASI KASUS SKIZOFRENIA PARANOID

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Dalam Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul

Diajukan kepada : dr. Vista Nurasti P., M.Kes, Sp.KJ Disusun oleh : Faza Khilwan Amna 20080310019 SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA RSD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2013

LEMBAR PENGESAHAN PRESENTASI KASUS SKIZOFRENIA PARANOID

Disusun oleh : Faza Khilwan Amna 20080310019

Telah dipresentasikan dan disetujui pada tanggal : 27 Agustus 2013 Pembimbing

dr. Vista Nurasti P., M.Kes, Sp.KJ

STATUS PSIKIATRI
1. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Bangsa/suku Alamat No. RM : Ny. Y. : 29 tahun : Katolik : SMA :: Indonesia/Ambon : Perum Guwosari Blok 12, Gang Seto II, No. 72 : 510220 Jenis Kelamin : Perempuan

Tanggal masuk rumah sakit : 23 Agustus 2013 2. ALLOANAMNESIS Didapatkan anamnesis dengan Ibu Kandung Sebab Dibawa ke Rumah Sakit (Keluhan Utama) Pasien datang ke rumah sakit karena ingin meneruskan pengobatan rutin. OS sebelumnya rutin periksa di RSJ di Tangerang. OS sudah tidak minum obat semenjak sekitar 1 bulan yang lalu. OS sekarang merasa sulit tidur sejak 1 bulan yang lalu. OS merasa sering mendengar suara-suara yang tidak bisa didengar oleh orang lain (halusinasi auditorik) dan melihat anak kecil yang mirip dirinya (halusinasi visual), serta sering merasa curiga terhadap orang disekitarnya (waham curiga) dan oikiran pasien sering dikendalikan oleh anak kecil tersebut (waham kendali pikir). Menurut Ibu kandung OS, OS akhir-akhir ini mudah tersinggung serta naik pitam jika diajak berbicara. 2.1. Riwayat Perjalanan Penyakit (Riwayat Penyakit Sekarang) Autoanamnesis Pasien mengatakan sejak 2 tahun paska lulus SMA (sekitar umur 20 tahun) muncul gejala-gejala yang disebut diatas, OS mulai melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain serta seperti ada yang mengkendalikan pikirannya. OS

sering menceritakan ke Ibunya mengenai hal ini, tapi ibunya tidak percaya. OS mengatakan sering diajak bicara dengan anak kecil yang mirip dengan dirinya, yang OS anggap sebagai anaknya. Anak kecil tersebut menutur OS adalah anak pertama yang dilahirkan. OS sering mengajak ngobrol dengan anak tersebut, kadang OS diajak bermain bersama diatas plafon rumah atau naik kea tap genteng rumahnya. OS sering menceritakan anak kecil itu terhadap ibunya, tapi cerita itu sering ditolak oleh ibunya, sehingga OS marah. Selain itu, OS juga sering melihat banyak orang diluar rumah yang membicarakan keberadaan anak kecil tersebut, yang OS anggap sebagai ancaman terhadap dirinya serta anaknya. OS menganggap orang-orang diluar sana itu sedang merencanakan untuk membunuh anaknya serta dirirnya. Akan tetapi OS tidak mengetahui siapa orang-orang yang diluar rumahnya tersebut. Oleh karena itu, OS akhir-akhir ini jarang keluar rumah karena ingin melindungi anaknya agar tidak diganggu oleh orang lain. OS sering mudah marah jika dikeluarganya sering menyangsikan ceritanya, sehingga kadang ia juga menganggap orang-orang dikeluarganya juga tidak aman untuk dirinya dan anaknya. Padahal OS ingin menggembirakan keluarganya, terutama ibunya, dengan memberikannya anaknya tersebut. Menurut OS, kakak pertamanya (Bp. V) merupakan ancaman terhadap dirinya dan anaknya, karena OS sering melihat kakak pertamanya itu sering membawa pedang untuk menebas badan si anak tersebut menjadi berkeping-keping. Kadang OS juga melihat bayangan darah anaknya bercucuran di lantai setelah melihat wajah kakak pertamanya itu, kemudian OS menangis sendiri dan berteriak histeris sendiri karena membayangkan kejadian itu. Selain halusinasi tersebut, OS juga merasa mudah curiga atau tersinggung terhadap orang disekitarnya, selain membahayakan dirinya dan anaknya, OS merasa banyak orang yang sedang merencanakan sesuatu terhadap dirinya. Selain itu, OS juga lebih menuruti hasil obrolan dengan anaknya daripada mendengarkan nasihat dari ibunya. OS pasti marah jika hasil obrolan-obrolan itu ia ungkapkan kepada ibunya karena ibunya tidak mempercayai obrolan tersebut. Hasil obrolan itu misalnya, OS minta pindah kamar baik dilantai bawah atau diatas, minta menu makanan bayi atau anak-anak agar anaknya bisa tumbuh sehat, minta sepeda

mainan untuk anaknya serta minta peralatan mandi yang disenangi anaknya dan lain sebagainya. Sejak 1 bulan ini, OS mengatakan sudah tidak minum obat karena obatnya habis, dan sekarang OS berada di Jogja. Sebelum di Jogja, OS menetap di Tangerang dan sempat di Bandung saat sekolah SMA. OS mengatakan susah sekali untuk tidur semenjak 1 bulan ini dan badannya terasa pusing. Nafsu makan OS juga kadang berkurang. Aktivitas OS semenjak di Jogja lebih sering berada didalam rumah, karena OS belum mengenal orang-orang/tetangga disekitar rumah yang baru tersebut. OS merupakan tamatan SMA dan orang yang bisa dibilang rajin ke gereja untuk beribadah. Akan tetapi, paska lulus SMA OS belum pernah bekerja. Menurut OS ibunya pernah mengajaknya mencari kerja tapi OS menolaknya karena merasa lingkungannya mengancam dirinya serta anaknya. OS merupakan anak terakhir dari 3 bersaudara. Anak pertama (Bp. V) sudah menikah. Anak kedua (Bp. D) belum menikah dan memiliki kepribadian tertutup dan mudah marah, serta pendiam dan mudah murung. Sekarang OS tinggal bersama Ibunya dan Pamannya di daerah Sleman dan Bantul (berpidah-pindah). Ayah OS sudah bercerai saaat OS kelas 1 SD dan setelah itu tidak pernah kembali lagi atau menjenguk keluarganya. Alloanamnesis Menurut penuturan Ny. M, OS merupakan seseorang yang cenderung memendam perasaan tentang hal yang mungkin sangat mengganggu perasaan OS. OS merupakan pribadi pendiam dan mudah marah jika obrolannya tidak dipercayai. OS sering terlihat ngobrol sendiri dirumahnya yang menurut OS jika ditanya ngobrol dengan siapa maka OS akan menjawab lagi ngobrol dengan anaknya. Semenjak umur 20 tahun, paska lulus SMA, OS mulai terlihat aneh, sering marah-marah dan mudah curiga dengan kondisi orang-orang di sekitarnya. Semenjak terlihat seperti itu, OS dibawa ke klinik Jiwa di Tangerang dan berobat rutin sampai akhirnya sempat terputus obatnya setelah pindah ke Jogja. OS merupakan pribadi yang tidak akrab dengan kakak-kakaknya, jarang

ngobrol dengan kakak-kakaknya saat dulu sempat serumah di Tangerang. Bahkan OS menganggap kakak pertamanya sebagai orang yang harus diwaspadai karena kadang ingin membunuh anaknya OS. OS juga mudah terlibat cekcok dengan kakak-kakaknya untuk urusan hal apapun yang sifatnya sepele, karena kakakkakaknya juga memiliki sifat temperamen, maka cekcok tersebut susah dihindarkan. OS mau bercerita kepada Ibunya jika ditanya oleh ibunya mengenai apa yang OS lihat dan rasakan. OS menceritakannya dengan sangat jelas kepada ibunya, tapi jika ada gestur atau ucapan ibunya yang seakan tidak mempercayai hal tersebut, OS sering langsung marah dan membentak kepada Ibunya. OS juga kadang merasa bersalah dan menangis sendiri karena merasa belum memberi cucu yang baik kepada ibunya.

2.2. Anamnesis Sistem (Keluhan Fisik dan Dampak terhadap Fungsi Sosial dan Kemandirian) Sistem Saraf Sistem Respirasi Sistem Digestiva Sistem Urogenital : nyeri kepala (-), demam (-), tremor (-) : sesak nafas (-), batuk (-), pilek(-) : BAB normal, mual (-), muntah (-), diare (-), sulit makan (-), Sakit perut (-) : BAK normal biru (-) Sistem Muskuloskeletal : edema (-), nyeri sendi (-), bengkak sendi (-), nyeri otot (-), kelemahan otot (-). Secara organik, tidak terdapat kelainan apapun. Pada pasien juga terdapat hambatan yang mengganggu dalam fungsi sosial yang disebabkan oleh gangguan dari aspek kejiwaan. Sistem Integumentum : warna biru pada kuku (-), gatal pada kulit (-), biru-

Sistem Kardiovaskular : nyeri dada (-), edema kaki (-)

Secara sosial, os sering menarik diri di lingkungan sekitarnya, kurang dapat bergaul secara normal, namun os bisa melakukan aktifias sehari hari tanpa harus di bantu maupun disuruh oleh orang lain. 2.3. Hal-Hal yang Mendahului Penyakit dan Riwayat Penyakit Dahulu 2.3.1. Hal-Hal yang Mendahului Penyakit Faktor Organik Panas, kejang, dan trauma fisik sebelum mengalami gangguan di sangkal oleh narasumber. Faktor Psikososial (Stressor Psikososial) OS adalah seorang yang cenderung menyimpan masalahnya sendiri atau memendam hal yang membuat OS tidak nyaman. OS juga termasuk orang yang mudah marah terhadap siapapun. Hubungan dengan keluarga tidak baik. Faktor Predisposisi Penyakit herediter disangkal oleh narasumber. Faktor Presipitasi Dari hasil anamnesis (autoanamnesis dan alloanamnesis) didapatkan faktor presipitasi terhadap perubahan-perubahan yang dialami OS, yaitu keluarga yang bercerai semenjak OS kelas 1 SD. 2.3.2. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Penyakit Serupa Sebelumnya Pasien mengatakan pernah mengalami hal serupa berupa sedih, sering melamun, menangis. OS juga selalu mendengar bisikan dari anaknya serta mudah curiga terhadap orang lain yang menurutnya ingin mengganggu dirinya dan anaknya. OS merasakan sulit tidur jika sedang memikirkan anaknya. Riwayat Sakit Berat/Opname OS menyangkal pernah opname.

2.4. Riwayat Keluarga 2.4.1. Pola Asuh Keluarga o Autoanamnesis Pasien merupakan anak ke 3 dari 3 bersaudara. Pasien adalah anak perempuan sendiri, keluarga sederhana. Pasien berasal dari keluarga yang berkecukupan yang mampu menjalani pendidikkan sampai SMA. Keluarga pasien termasuk keluarga yang rajin untuk beribadah sejak kecil. 2.4.2. Riwayat Penyakit Keluarga Dari hasil autoanamnesis didapatkan keluarga tidak ada yang memiliki kelainan serupa dengan pasien. 2.4.3. Silsilah Keluarga Dari hasil alloanamnesa, kami dapat informasi silsilah keluarga os. kakak-kakak OS semua laki-laki. Pasien berasal dari

5 5

6 0

3 3

3 1

2 9

Keterangan : : pasien

2.5. Riwayat Pribadi 2.5.1. Riwayat Kelahiran Tidak didapatkan data pasien tentang proses kehamilan, melahirkan, imunisasi dan lain-lain. 2.5.2. Latar Belakang Perkembangan Mental Tidak didapatkan data tentang perkembangan mental pasien. 2.5.3. Perkembangan Awal Tidak didapatkan data tentang tumbuh kembang pasien. 2.5.4. Riwayat Pendidikan SD : lulus

SMP : lulus SMA : lulus

2.6.5 Riwayat Pekerjaan : Setelah lulus dari SMA, pasien mencoba mencari kerja di Tangerang, tapi tidak berhasil. Setelah itu, Ibu kandung pasien membawa OS ke jogja dan belum mempunyai pekerjaan sampai sekarang. 2.5.5. Riwayat Perkembangan Seksual Tidak ada deviasi seksual. 2.5.6. Sikap dan Kegiatan Moral Spiritual Agama Katolik Rajin Ibadah (?) Kecenderungan ke arah fanatisme agama disangkal 2.5.7. Riwayat Perkawinan : Pasien belum menikah.

2.5.8. Riwayat Premorbid)

Kehidupan

Emosional

(Riwayat

Kepribadian

Mudah marah Pendiam Tidak suka berbagi cerita dengan orang lain bila ada masalah atau jika tidak ditanya terlebih dahulu 2.5.9. Hubungan Sosial Menurut penjelasan dari narasumber (ibu kandung pasien), tidak ada masalah pasien untuk bersosialisasi sebelum sakit, baik disekolah maupun dirumah. Setelah sakit, OS lebih memilih sering dirumah dikarenakan OS merasa orang-orang tidak berkenan dengan keberadaan OS dan anaknya serta OS juga lebih merasa nyaman berada dirumah karena dapat berbicara dengan anak kecil yang mirip dirinya yang OS anggap sebagai anaknya. 2.5.10. Kebiasaan OS adalah tipe orang pendiam dan jarang bercerita dengan keluarga serta mudah marah. 2.5.11. Status Sosial Ekonomi : Keluarga OS merupakan keluarga yang sederhana alias berkecukupan. Keluarga OS memiliki rumah permanen di Tangerang, setelah pindah di Jogja, keluarga OS tinggal bersama Pamannya di daerah Sleman atau Bantul. 2.7.13. Riwayat Khusus Pengalaman militer (-) Urusan dengan polisi (-) 2.6. Tingkat Kepercayaan Alloanamnesis Alloanamnesis dilakukan kepada Ibu Kandung pasien.

3. PEMERIKSAAN FISIK 3.1. Status Present 3.1.1. Status Internus Tanggal Pemeriksaan: 23 Agustus 2013 Keadaan Umum : Compos Mentis (tidak tampak sakit jiwa). Bentuk Badan Berat Badan Tinggi Badan Tanda Vital - Tekanan Darah : 120/80 mmHg. - Nadi - Respirasi - Suhu Kepala Leher JVP : : 82 x/menit. : 22 x/menit. : afebris : tidak ditemukan kelainan : tidak dilakukan pengukuran : tidak dilakukan pengukuran

Inspeksi wajah : tidak ditemukan adanya kelainan Mata : conjunctiva anemis (-), sklera ikterik (-) : Inspeksi : leher tampak bersih dan tidak nampak benjolan : tidak dilakukan pemeriksaan

Thorax - Sistem Kardiovaskuler : S1 S2 reguler - Sistem Respirasi Abdomen - Sistem Gastrointestinal : bising usus (+), NT (-) Ekstremitas Sistem Urogenital pemeriksaan : tidak dilakukan : wheezing (-), RBK (-), vesikuler (+)

- Sistem Muskuloskeletal : tidak ditemukan kelainan Sistem Integumentum : tidak ditemukan kelainan Kelainan Khusus: (-) Kesan Status Internus: Dalam batas normal, meskipun ada beberapa pemeriksaan yang tidak dilakukan karena tidak tersedianya tempat. 3.1.2. Status Neurologis Kepala dan Leher Tanda Meningeal Nervi Kranialis Kekuatan Motorik Sensibilitas : Dalam batas normal : (-) : tidak dilakukan. : dalam batas normal : dalam batas normal

Fungsi Saraf Vegetatif : dalam batas normal. Refleks Fisiologis Refleks Patologis Gerakan Abnormal : tidak dilakukan : Hoffman-Trommner (-) : (-)

Gangguan Keseimbangan dan Koordinasi Gerakan: (-) Kesan Status Neurologis: Pemeriksaan yang dilakukan dalam batas normal. 3.2. Status Psikiatri Tanggal Pemeriksaan: 23 Agustus 2013 3.2.1. Kesan Umum Tak tampak gangguan jiwa. No 1 Status Psikiatri Kesadaran Hasil Kuantitatif : GCS = E4V5M6 Keterangan OS sadar penuh tanpa rangsang apapun dapat diajak berkomunikasi

10

Kualitatif : Compos mentis Orang 2 Orientasi : Baik Baik Baik Baik OS dapat mengenal orang dengan baik OS dapat membedakan waktu pagi, siang, sore dan malam OS mengetahui dimana sekarang ia berada. OS dapat membedakan suasana di rumah sakit dan tempat lain. Kooperatif : Dapat diajak bicara Pasien mandi 2x sehari, memakai sabun. OS terlihat sedih dan murung Os menunjukkan ekspresi sesuai Apa yang diucapkan pasien tidak sesuai dengan kenyataan OS menjawab seperlunya jika ditanya OS dapat dipahami bicaranya

Waktu : Tempat : Situasi :

3 4 5 6

Sikap/Tingkah laku Penampilan/rawat diri Mood Afek

Kooperatif Cukup Disforik Appropriate a. Bentuk pikiran : nonrealistik b. Progresi pikir Kuantitatif: cukup bicara Kualitatif : relevan dan koheren c. Isi Pikir -Waham curiga

-kecurigaan yang berlebihan dan tidak rasional dimana pasien yakin bahwa ada seseorang atau kelompok orang dirinya yang berusaha merugikan

Pikiran -Waham Kendali pikir -Waham yang perasaan, impuls, pikiran atau tindakannya dialami dibawah kontrol beberapa kekuatan eksternal sendiri. bukan kontrol dirinya

11

8 9 10

Hubungan Jiwa Perhatian Persepsi

Baik Mudah ditarik mudah dicantum Halusinasi : - Halusinasi auditorik (+) - Halusinasi visual (+)

Mudah dibina hubunganya dengan pemeriksa OS mau menjawab bila ditanyadan jawaban OS dapat dimengerti OS selalu mendengar orang yag berbincang/mengobrol/serta memberitahu dari telinganya OS sering melihat bayangan anak kecil yang mirip dirinya yang OS anggap sebagai anaknya sendiri Penyangkalan total atas penyakitnya

11

Insight

Derajat 1

3.2.2. Mood dan Interest Disforik Kecemasan o Merasa cemas dan khawatir (+) Iritabilitas/Sensitivitas o Mudah tersinggung 3.2.3. Gangguan Intelegensi Sesuai Umur / Pendidikan Tidak ada 3.2.4. Gejala dan Tanda Lain yang Didapatkan - Tidak fokus.

3.3. Hasil Pemeriksaan Psikologis 3.3.1. Kepribadian introvert 3.3.2. IQ Tidak dapat dilakukan tes. 3.3.3. Lain-Lain Tidak ada. 3.4. Hasil Pemeriksaan Sosiologis

12

Tidak ada. 4. RANGKUMAN DATA YANG DIDAPATKAN PADA PENDERITA 4.1. Tanda-Tanda (Sign) a. Penampilan Sikap baik, pakaian biasa, pasien tidak seperti orang sakit. b. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor Cara berjalan biasa, gerakan tubuh biasa. c. Pembicaraan (kuantitas, kecepatan produksi bicara, kualitas) Kualitas : koheren, relevan Kuantitas : bicara cukup 4.2. Gejala (Simtom) a. b. c. d. e. f. g. h. Afek appropriate Tidur terganggu dalam 1 bulan ini Mudah marah dan tersinggung Kadang terlihat sangat energik Halusinai auditorik (+) Halusinasi visual (+) Waham curiga (+) Waham kendali pikir (+)

5. FORMULA DIAGNOSTIK Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan pola perilaku dan psikologis yang secara klinis bermakna dan menimbulkan suatu penderitaan (distress) dan hendaya (disability) dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang biasa dan fungsi pekerjaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasien ini menderita gangguan jiwa. Pada pemeriksaan status internus tidak ditemukan kelainan yang mengindikasikan gangguan medis umum yang berkaitan dengan gejala psikis. Pada pemeriksaan status neurologis dalam batas normal. Berdasarkan data ini, kemungkinan organik sebagai penyebab kelainan secara fisiologis yang

13

mengakibatkan gangguan jiwa yang diderita pasien saat ini bisa disingkirkan. Dengan demikian diagnosis gangguan mental organic dapat disingkirkan. Dari wawancara tidak didapatkan riwayat penggunaan zat-zat adiktif dan psikoaktif sebelumnya, sehingga diagnosis gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif dapat disingkirkan. Berdasarkan autoanamnesa, alloanamnesa dan pemeriksaan status mental, pada pasien ini terdapat penurunan perasaan dan jelas terdapat gejala-gejala skizofrenia (halusinasi-halusinasi dan waham). Pada PPDGJ III, dapat dikategorikan sebagai skizofrenia paranoid (F20.0) 6. DIAGNOSIS BANDING - Skizofrenia Paranoid (F20.0) - Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif (F25.1) 7. PEMBAHASAN Pedoman menurut DSM IV DSM-IV mempunyai criteria diagnosis resmi dari American Psychiatric Association untuk Skizofrenia. Criteria diagnosis DSM IV sebagian besar tidak berubah dari DSM edisi ketiga yang direvisi, walaupun DSM IV menawarkan lebih banyak pilihan bagi klinisi dan lebih deskriptif terhadap situasi klinis yang aktual. a. Gejala karakteristik: dua (atau lebih) berikut, masing-masing ditemukan untuk bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan berhasil): 1. Waham 2. Halusinasi 3. Bicara terdisorganisasi 4. Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas 5. Gejala negatif, yaitu afektif, alogia atau avolition b. Disfungsi sosial atau pekerjaan: untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset gangguan, satu atau lebih fungsi utama, seperti pekerjaan, hubungan

14

interpersonal, atau perawatan diri, adalah jelas dibawah tingkat yang dicapai sebelum onset. c. Durasi: tanda gangguan menetap terus menerus selama sekurangnya 6 bulan. Periode 6 bulan ini harus termasuk sekurangnya 1 bulan gejala (atau kurang jika diobati dengan berhasil) yang memenuhi criteria A dan mungkin termasuk periode gejala prodormal atau residual. Selama periode prodormal atau residual, tanda gangguan mungkin dimanifestasikan hanya oleh gejala negatif atau dua/lebih gejala yang dituliskan dalam criteria A dalam bentuk diperlemah (misalnya, keyakinan yang aneh, pengalaman persepsi yang tidak lazim). d. Penyingkiran karena: 1. Tidak ada episode depresif berat, manic, atau campuran yang telah terjadi bersama-sama dengan gejala fase aktif; atau 2. Jika episode mood telah terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya adalah relative singkat dibandingkan durasi periode aktif dan residual. e. Penyingkiran zat/kondisi medis umum: gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum. f. Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasive: jika terdapat riwayat adanya gangguan autistic atau gangguan perkembangan pervasive lainnya, diagnosis tambahan skizofrenia dibuat hanya jika waham atau halusinasi yang menonjol juga ditemukan untuk sekurangnya 1 bulan (atau kurang jika diobati berhasil). gangguan skizoafektif dan gangguan mood: gangguan skizoafektif dan gangguan mood dengan cirri psikotik telah disingkirkan

Pedoman Diagnostik PPDGJ-lll Dalam PPDGJ III dijelaskan bahwa untuk menegakkan diagnosis skizofrenia harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas. 1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

15

a. -Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda, atau -Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (Withdrawal) dan -Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umumnya mengetahuinya. b. Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar atau -Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar atau -Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau kepikiran, tindakan atau penginderaan khusus). -Delusion perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya , biasanya bersifat mistik dan mukjizat. c. Halusional Auditorik ; - Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku pasien . - Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara atau - Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahi,misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan mahluk asing atau dunia lain)

16

Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas: e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja , apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulanbulan terus menerus. f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation) yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme. g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing) atay fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor. h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika. * adapun gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal); * Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan penarikan diri secara sosial. Menurut saya pasien ini menderita skizofrenia paranoid karena: -Gejala utama : waham primer+sekunder & halusinasi -Sudah mulai setelah usia 20 tahun -Kepribadian sebelum sakit : schizoid suka menyendiri, pendiam, cenderung menghindar terhadap aktivitas-aktivitas sosial yang melibatkan kontak atau interaksi dengan orang-orang, tidak memiliki ketertarikan untuk menjalin hubungan dekat dengan orang sekitar, bahkan dengan keluarganya sendiri, tidak menunjukkan ekspresi

17

emosi yang biasanya seperti orang normal pada umumnya (cenderung bersikap sering naik pitam). Pedoman diagnostik skizofrenia paranoid 1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia 2. Sebagai tambahan: - Sebagai tambahan : * Halusinasi dan/ waham arus menonjol; (a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing). (b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual , atau lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol. (c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence) atau passivity (delussion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas; *Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata / tidak menonjol. Diagnosis Banding Gangguan skizoafektif Pedoman Diagnostik -Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitive adanya skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan, atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak memenuhi criteria baik skizofrenia maupun episode manic atau depresif. -tidak dapat digunaka untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit yang berbeda. -bila seprang pasien skizofrenia menunjukkan gejala depresif setelah mengalami suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F 20.4 (Depresi pasca skizofrenia). Beberapa

18

pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang, baik berjenis manic (F25.0) maupun depresif (F 25.1) atau campuran dari keduanya (F25.2). Skizoafektif tipe depresif (F25.1) Pedoman diagnostik -Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe depresif yang tunggal dan untuk gangguan berualang dimana sebagaian besar didominasi oleh skizoafektif tipe depreesif. -Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya 2 gejala khas, baik depresif maupun kelainan perilaku terkait seperti tercantum dalam uraian untuk episode depresif (F32) -Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu, atau lebih baik lagi dua, gejala skizofrenia yang khas (sebagaimana ditetapkan untuk skizofrenia, F20.pedoman diagnostic (a) sampai (d)) Untuk diagnosis banding F 25.1 afek depresif pada pasien ini tidak begitu menonjol sehingga tidak memenuhi criteria ini. 8. DIAGNOSIS Aksis I : Skizofrenia Paranoid (F20.0) Aksis II : tidak ada gangguan kepribadian Aksis III : tidak ditemukan kelainan organik Aksis IV : masalah berkaitan dengan lingkungan sosial dan keluarga Aksis V : GAF 60-51 (gejala sedang, disabilitas sedang)

9. RENCANA TERAPI/PENATALAKSANAAN Farmakoterapi - Haloperidol 2x5 mg - TrihexyPhenydil 2x2 mg Psikoterapi

19

o Ventilasi o Konselling kondisi dirinya. o Sosioterapi

memberikan

kesempatan

kepada

pasien

untuk

mengungkapkan isi hati dan keinginannya supaya pasien merasa lega. : memberikan nasehat dan pengertian kepada pasien mengenai penyakitnya dan cara menghadapinya agar pasien mengetahui : memberikan penjelasan kepada keluarga pasien

dan orang sekitar agar memberI dukungan kepada pasien. Dukungan moral dan suasana kondusif sehingga membantu proses penyembuhan. 10. PROGNOSIS -Ad Vitam -Ad sanationam : bonam : dubia ad bonam -Ad fungsionam : dubia ad bonam

Prognosis penderita ini adalah dubia ad bonam karena tidak ada riwayat gangguan psikiatri dalam keluarga dan gangguan premorbid minimal. Bila penderita taat menjalani terapi, adanya motivasi dari penderita sendiri untuk sembuh, serta adanya dukungan dari keluarga makan akan membantu perbaikan penderita.

Indikator

Pada Pasien

Prognosis

20

FAKTOR PREMORBID

1. Faktor kepribadian 2. Faktor genetik 3. Pola asuh 4. Faktor organik 5. Dukungan keluarga 6. Sosioekonomi 7. Faktor pencetus 8. status perkawinan 9. Kegiatan spiritual 10. Onset usia

Tertutup Tidak ada Perhatian cukup tidak ada Ada cukup Tidak ada Belum Menikah Baik Muda

Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Jelek Baik Baik

21

FAKTOR MORBID

11. Perjalanan penyakit 12. Jenis penyakit 13. Respon terhadap terapi 14. Riwayat disiplin minum obat 15. Riwayat disiplin kontrol 16. Riwayat peningkatan gejala 17.

kronik Psikotik Baik Baik Baik Tidak Baik

Jelek Jelek Baik baik Baik Baik Baik

Beraktivitas Kesimpulan prognosis: Dubia ad bonam

11. RENCANA FOLLOW UP Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya serta efektivitas obat, dan kemungkinan munculnya efek samping dari terapi yang diberikan. Pastikan pasien mendapat psikoterapi.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Depkes RI. 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III . Cetakan Pertama. Jakarta : Depkes RI. 2. Buku ajar psikiatri. Fakultas Kedokteran Indonesia 3. Soewandi, 2002, Simtomatologi Dalam Psikiatri, Yogyakarta: FKUGM. 4. Maramis, Willy & Maramis Albert. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Pres.

23