Anda di halaman 1dari 10

Dari Mata Turun ke Hati Dari Mata Turun ke Hati : Awal peristiwa Dari pandangan mata Laksana setitik

ik bara api Saat mata mengembara Bak jilatan api perlahan pasti Menerkam semua pemandangan Merasuk pikiran terbayang-bayang Hasrat hati mewujudkan impian Bermain-main mereguk kesenangan Berbuah gelimang dosa penyesalan.

Aturan Memandang dalam Al Quran dan hadis

Allah swt. dalam Al Quran telah mewanti-wanti, Katakanlah bagi mukmin (laki-laki) hendaklah menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka. Demikian itu lebih bersih bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat. Katakanlah kepada mukmin perempuan, hendaklah menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka (Q.S. AnNur 24: 30-31).

Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata itu bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan. Lidah itu bisa berzina dan zinanya adalah perkataan. Kaki itu bisa berzina dan zinanya adalah ayunan langkah. Tangan itu bisa berzina dan zinanya adalah sentuhan. Hati bisa berzina dengan keinginan dan angan-angan. Baik kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya. (H.R. Bukhari, Muslim, An-Nasai, dan Abu Dawud). Wahai Ali, janganlah engkau susuli pandangan dengan pandangan lagi, karena yang pertama menjadi bagianmu dan yang kedua bukan lagi menjadi bagianmu (dosa atasmu) (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Dawud).

Perintah menjaga pandangan ditujukan pada para wanita. Sebuah hadis menerangkan, Ya Rasulullah, bukankah ia buta (Ibnu Ummi Maktum) sehingga tidak mungkin dapat melihat kami? Maka sabda Rasulullah saw. Bukankah kamu berdua (Ummu Salamah r.a. dan Maimunah bintiaAl-Harits) melihatnya? (H.R. Abu Daud). Sesungguhnya memandang (wanita) adalah salah satu panah beracun dari berbagai macam anak panah iblis. Barangsiapa menahan pandangannya dari keindahan-keindahan wanita karena takut pada-Ku, maka Allah mewariskan kelezatan iman di dalam hatinya. (H.R. Thabrani).

Membatasi Pandangan

Q.S. An-Nuur ayat 30 dan 31, memerintahkan kaum mukminin dan mukminat untuk menjaga pandangan atau menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya agar tidak terjerumus pada perbuatan haram.

Menahan pandangan atas hal-hal yang diharamkan Allah swt., disebutkan paling awal, karena menahan pandangan mata merupakan dasar untuk menjaga kemaluan dan cerminan hati yang beriman. Apabila mengumbar pandangan, otomatis mengumbar syahwat hati dan tidak beriman. Segala pandangan yang tidak sengaja dan tiba-tiba, bisa meninggalkan pengaruh dalam hati, sikapi dengan mengalihkan arah pandangan, terlarang mengulangi atau melanjutkan menatap pandangan yang tidak sengaja tadi. Pandangan yang tidak sengaja merupakan bagian dari sekadar ketidaksengajaan, sedangkan pandangan selanjutnya adalah haram dan hukumnya berdosa.

Apabila pandangan itu ditahan sejak awal, maka cara menuntaskannya menjadi lebih mudah. Senantiasa berupaya preventif (mencegah) dan antisipatif (siap siaga) tidak menyengaja mencari-cari dan mencuricuri kesempatan menatap dalam-dalam, menatap penuh birahi. Pandangan pertama ibarat panah beracun, terlebih-lebih pandangan selanjutnya mengandung racun mematikan. Sedetik Anda lengah maka panah racun iblis akan tertancap dalam hati, memusnahkan benteng iman menjerumuskan pada perzinahan mata, dan zina seluruh pancaindera, baik diwujudkan dengan berhubungan intim ataupun tidak.

Bagi yang telah menikah, maka bila memandang tidak sengaja lawan jenis hendaklah mengendalikan ketertarikan biologisnya dengan menyadari apa yang ada pada diri wanita (pria) lain dengan istri (suami)-nya sama saja, maka selamatlah dorongan birahi yang tidak pada tempatnya.

Menjadi orang yang bermuamalah dengan Allah swt. rido meninggalkan pandangan yang disukai syahwatnya, hatinya kian menjadi tenang. Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah segumpal darah itu adalah hati. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Pandangan yang Dikecualikan

Syariat membolehkan kaum mukminin untuk memandang lawan jenisnya apabila terdapat keperluankeperluan tertentu yang tidak mungkin dilakukan kecuali dengan memandangnya, yaitu: memandang saat meminang (aurat tetap terjaga), proses pemeriksaan perkara di pengadilan, dokter yang dapat dipercaya dibolehkan melihat anggota badan wanita yang bukan muhrim pada bagian yang perlu dilihat sebatas usaha pengobatan bila tidak terdapat dokter wanita, dan saat khitan.

Manfaat Menahan Pandangan

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, manfaat menahan pandangan di antaranya membersihkan hati dari derita penyesalan dosa, mendatangkan cahaya, keceriaan, kegembiraan, kesenangan hati, kenikmatan hidup, mendatangkan kekuatan firasat yang benar (berasal dari zhahir mengikuti sunnah, batinnya merasakan pengawasan Allah swt., menahan mata dari hal-hal yang diharamkan, menahan diri dari syahwat).

Membuka pintu dan memudahkan jalan ilmu, mendatangkan kekuatan, keteguhan, kekuatan hati, membebaskan hati dari tawanan syahwat yang memabukkan, melenakan dan melalaikan, menutup pintu neraka jahanam, cemerlang akalnya tidak hidup gegabah selalu memikirkan akibat di kemudian hari. Sadarlah kita, Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (Q.S. Al Hajj 22: 46). Wallahu Alam.

Penulis : Ibu Sasa Esa Agustina http://gamaisonline.wordpress.com/category/akhlak/

BATASAN ANTARA IKHWAN DAN AKHWAT

Tidak ada batas, mungkin ini kata yang pas untuk kaum remaja laki dan wanita saat ini. Betapa parahnya peragulan remaja kita masa kini membuat kita mengelus dada, derasnya arus informasi dari dalam dan luar negeri telah merubah pola pikir remaja kita saat ini. Telah banyak kejadian aborsi, hamil diluar nikah, bunuh diri karena masalah pacaran menimpa kaum remaja kita. Inikah potret masa depan generasi kita yang akan membawa kemajuan bagi bangsa ini seperti sulit untuk mengharapkan masa depan cerah dari generasi muda saat ini.

Pacaran yang merupakan satu diantara pintu zina menjadi budaya remaja saat ini, selingkuh yang merupakan perbuatan paling di murkai Allah menjadi biasa, pertengkaran yang pelakunya remajapun kerap mewarnai kehidupan para remaja kita. Dari sekian pelanggaran moral ini sesungguhnya adalah akibat dari kurangnya pemahaman remaja kita terhadap agama dan keyakinan mereka, dalam Islam pergaulan dan masalah aurat menjadi hal yang penting sehingga banyak ayat dan hadits nabi yang menjelaskan tentang hal ini, inilah adab dan tips pergaulan yang bisa menjadi rujukan kita bersama agar kita tidak terperosok kedalam pergaulan bebas :

1. Menundukan Pandangan terhadap Lawan Jenis Allah memerintahkan kaum laki-laki untuk menundukan pandangannya, sebagaimana firman-Nya, artinya, Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (QS. An-Nr: 30). Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada wanita beriman, Allah berfirman, artinya, Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluan-nya. (QS. An-Nr: 31).

2. Menutup Aurat Allah Subhaanahu wa Taala berfirman, Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (QS. An-Nr: 31). Juga firman-Nya, artinya, Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istriistri orang mukmin, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzb: 59).

3. Adanya Pembatas Antara Laki-laki dengan Wanita Seseorang yang memiliki keperluan terhadap lawan jenisnya, harus menyampaikannya dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firman-Nya, artinya, Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari balik hijab. (QS. Al-Ahzb: 53).

4. Tidak Berdua-duaan dengan Lawan Jenis Dari Ibnu Abbs Radhiyallahu Anhu berkata, Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya. (HR. Bukhr 9/330, Muslim 1341). Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, Janganlah salah seorang dari kalian berduaduaan dengan seorang wanita, karena setan akan menjadi yang ketiganya. (HR. Ahmad dan At-Tirmidz dengan sanad shahih).

5. Tidak Mendayukan Ucapan Seorang wanita dilarang mendayukan ucapan saat berbicara kepada selain suami. Firman Allah Subhaanahu wa Taala, artinya, Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. (QS. Al-Ahzb: 32). Berkata Imam Ibnu Katsrrahimahullh, Ini adalah beberapa etika yang diperintahkan oleh Allah kepada para istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam serta para wanita Mukminah lainnya, yaitu hendaklah dia kalau berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu, dalam artian janganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain sebagaimana dia berbicara dengan suaminya. (Tafsr Ibnu Katsr: 3/530).

6. Tidak Menyentuh Lawan Jenis Dari Maqil bin Yasr t berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR. Thabrn dalam Mujam al Kabr: 20/174/386). Berkata Syaikh Al-Albnrahimahullh, Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orangorang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (Ash-Shohhah: 1/448).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam saat-saat penting seperti membaiat dan lain-lain. Dari Aisyah berkata, Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat. (HR. Bukhr 4891). ambil hadiah Disini ebook tentang larangan berkaitan dengan artikel ini. http://www.arrohmah-mlg.com/adab-bergaul-dalam-islam

ADAB PERGAULAN IKHWAN AKHWAT

Akhir-akhir ini terkadang dalam pergaulan antara akhwat dan ikhwan mulai terjadi pelanggaranpelanggaran batas-batas pergaulan. Misalnya seorang ikhwan yang berbicara sangat dekat dengan seorang akhwat, atau dua aktivis rohis yang belainan jenis kelamin sering berjalan berduaan sehingga tampak seperti orang pacaran dan bahkan ada yang mengira mereka pasangan suami istri. Hal ini tentu meresahkan kerena selain dapat merusak kinerja dakwah bahkan dapat timbul fitnah seperti di atas. Pelanggaran batas-batas pergaulan ini biasanya disebabkan karena hal-hal di bawah ini: 1. 2. 3. 4. 1. Belum mengetahui batas-batas pergaulan ikhwan akhwat 2. Sudah mengetahui namun belum memahami 3. Sudah mengetahui nemun tidak mau mengamalkan 4. Sudah mengetahui dan memahami namun tergelincir karena lalai.

Dan bisa jadi kejadian itu disebabkan karena kita masih sibuk menghiasi penampilan dengan jilbab lebar warna-warni atau dengan janggut dan celana yang mengatung, namun kita lupa menghias akhlak. Kita sibuk berhiaskan simbol-simbol islam namun lupa substansi islam. Kita berkutat mengahafal materi islam namun tidak fokus pada tataran pemahaman dan amal. Sesungguhnya panggilan ikhwan dan akhwat adalah penggilan persaudaraan yang artinya saudara laki-laki dan saudara perempuan. Namun di ruang lingkup aktivis rohis, panggilan itu biasanya ditujukan untuk orang-orang yang berjuang menegakkan agama-Nya, yang islamnya shahih, syamil, lurus fikrahnya dan akhlaknya baik. Atau bisa dikonotasikan dengan jamaah. Maka tidak heran bila terkadang dipertanyakan ke-ikhwanan-nya atau ke-akhwatan-nya bila belum bisa menjaga batas-batas pergaulan (hijab) ikhwan akhwat. Menjaga pergaulan dengan lawan jenis memang bukanlah hal yang mudah karena fitrah laki-laki adalah mencintai wanita dan begitulah sebaliknya. Hanya dengan keimanan yang kokoh dan mujahadah sajalah yang membuat seseorang dapat istiqomah menjaga batas-batas ini. Berikut ini adalah contoh-contoh pelangaran yang masih sering terjadi yang dikhawatirkan dapat memicu timbulnya virus merah jambu sehingga meningkat sampai tahap pacaran: 1. Pulang berdua, contoh usai rapat rohis karena pulang ke arah yang sama maka akhwat pulang bersama ikhwan berdua saja. 2. Rapat berhadap-hadapan, hal seperti ini sangatlah cair dan rentan timbulnya ikhtilath (pencampuradukan ikhwan akhwat) 3. Tidak menundukkan pandangan, karena bisa saja dapat menimbulkan zina mata. Bukankah ada ungkapan dari mata turun ke hati?

4. Duduk/jalan berduaan, hal ini dapat menimbulkan fitnah dari orang lain sekalipun sebenarnya alas an berduaan karena berdiskusi namun tetap saja tampak seperti orang pacaran. 5. men-tek untuk menikah, ada pula ikhwan yang belum lulus kuliah men-tek seorang akhwat untuk menikah dengan alasan takut keburu diambil (dikhitbah/dinikahi) orang lain padahal tak jelas juga kapan menikahnya. 6. Menelepon yang tidak penting, menelepon dan mengobrol tak tentu arah padahal tidak ada nilai urgensinya atau tidak ada hubungnnya dengan urusan dakwah. 7. SMS tidak penting, saling berdialog via SMS mengenai hal-hal yang tak ada kaitannya dengan dakwah sampai-sampai pulsa habis sebelum waktunya 8. Berbicara mendayu-dayu, contoh ucapan akhwat seperti deuu si akhi antum bisa aza dehh... dengan nada terdengar manja dan disertai dengan tertawa kecil. 9. Bahasa yang terlalu akrab, misalnya seperti bahasa SMS yang terlalu akrab seperti oke deh pak fulan, yang penting rapatnya lancar khan. Kalau gitchu ga usah ditunda lagi yach ok dech. CU ^_^. Meskipun sudah beraktivitas bersama, ikhwan akhwat bukanlah pasangan suami isteri yang bisa mengakrabkan diri karena bahasa SMS seperti ini dapat menimbulkan bekas di hati pengirim dan penerima SMS. 10. Curhat, curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian timbul permainan hati seperti virus merah jambu yang bisa mengganggu tribulasi dakwah. 11. Chatting yang tidak urgent, chatting, dengan YM misalnya, boleh-boleh saja hanya saja bila pembicaraanya melebar dan menyimpang dari fokus dakwah, khalwat virtual bisa saja terjadi. 12. Bercanda ikhwan akhwat, ikhwan akhwat bercanda berdua sambil tertawa-tawa. Bahkan mungkin karena terlalu banyak syetan, sang akhwat hampir saja mencubit lengan sang ikhwan. Lalu bagaimana adab pergaulan ikhwan akhwat yang seharusnya? Berikut ini adalah adab-adab pergaulan dengan lawan jenis yang bukan muhrim (saudara sedarah): 1. Harus menutup aurat yakni seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan untuk wanita dan dari pusar hingga lutut untuk pria. Hanya saja syarat-syarat penutup aurat untuk wanita yaitu kain tidak boleh tipis, tidak boleh tembus pandang, tidak boleh ketat, dan tidak boleh menyerupai pakaian laki-laki. Dan yang paling penting kerudung harus bisa menutup dada. 2. Menundukkan dan menjaga pandangan bila berpapasan dengan lawan jenis, bila berbicara juga harus menjaga pandangan. Namun tidak harus selalu menundukkan muka ke tanah ketika berjalan sampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati dengan melihat ujung-ujung jilbab atau dengan mata semu/samping. 3. Ketika berbicara dengan lawan jenis harus yang tegas namun tidak dengan nada membentak dan tidak pula mendayu-dayu. Yang penting lawan bicara mengerti apa yang kita ucapkan.

4. Tidak boleh berdua-duaan (khalwat). Rasulullah SAW bersabda Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang bersama mahramnya, karena yang ketiga adalah syetan. (HR Rahmat). Berdua-duaan dengan lawan jenis sangat berbahaya karena yang ketiganya adalah syetan yang dapat menggoda untuk membuat ikhwan akhwat yang berdua-duaan melakukan hal yang mendekati zina. Bila berinteraksi alangkah baiknya lebih dari dua orang serta yang diperbincangkan tidak bersifat pribadi atau hal-hal lain seperti curhat. 5. Berdialog baik dengan bicara langsung maupun via telepon atau SMS hanya yang penting-penting saja dan sebisa mungkin berhubungan dengan urusan dakwah serta tidak terlalu sering. 6. Menggunakan hijab bila sedang rapat yang diikuti ikhwan dan akhwat. Selain untuk menjaga pandangan dan konsentrasi, juga menghindari ikhtilath. Bila belum mampu menggunakan hijab, dibuat jarak yang cukup antara ikhwan dan akhwat. Selain itu rapat juga tidak boleh diadakan sampai malam mengingat biasanya ada jam malam untuk akhwat.

Penutup: Di dalam Islam, pergaulan laki-laki dan perempuan sangatlah dijaga. Kewajiban berjilbab, menundukkan pendangan, tidak khalwat (berduaan), tidak ikhtilath (bercampur baur), tidak tunduk dalam berbicara (mendayu-dayu), dan dorongan Islam untuk segera menikah, itu semua adalah penjagaan tatanan kehidupan social muslim agar terjaga kehormatan dan kemuliaannya. Kehormatan seorang muslim sangatlah penting dipelihara di dalam islam, sampai-sampai untuk mendekati zinanya saja sudah dilarang. Seperti yang difirmankan Allah dalam Surat Al Isra 32 Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. Pelanggaran-pelanggaran yang disebutkan di atas dapat dikategorikan kepada hal-hal yang mendekati zina karena jika dibiarkan, bukan tidak mungkin akan mengarah pada zina yang sesungguhnya, naudzubillah. Maka, bersama-sama kita saling menjaga pergaulan ikhwan akhwat. Agar tidak terjerumus ke dalam kategori yang mendekati zina. http://mywordmyworld.multiply.com/journal/item/309/ADAB_PERGAULAN_IKHWAN_AKHWAT?&show _interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem