Anda di halaman 1dari 6

BRONKIOLITIS

(Adimas Ratmanhana Kusuma)

Definisi
Bronkiolitis adalah penyakit inflamasi akut dari saluran atas dan bawahmenyebabkan obstruksi dari saluran napas kecil.

Etiologi
Respiratory Syncytial Virus (RSV) adalah agen yang paling sering yang ditemukan dalam isolasi sebanyak 75% pada anak -anak kurang dari 2 tahun yang m e n d e r i t a b r o n k i o l i t i s d a n d i r a w a t d i r u m a h sakit. P e n y e b a b l a i n y a n g menyebabkan bronkiolitis termasuk didalamnya adalah virus para influenza tipe 1dan 3, influenza B, para influenza tipe 2, adenovirus tipe 1,2,5 dan mycoplasmayang paling sering pada anak -anak usia sekolah. Terdapat pembuktian bahwa kompleks imunologis yang memainkan peranan penting dari patogenesis dari bronkiolitis dengan RSV. Reaksi alergi tipe 1 dimediasi oleh antibodi IgE hal ini d a p a t d i h i t u n g u n t u k signifikansi dari bronkiolitis. B a y i y a n g m e m i n u m A S I dengan colustrum tinggi yang didalamnya terdapat IgA tampaknya lebih relaktif terproteksi dari bronkiolitis. Adenovirus dapat dihubungkan dengan komplikasi jangka lama, termasuk bronkiolitis obliterans dan sindrom paru hiperlusen unilateral (sindrom Swyer -James).

Klasifikasi
Bronkiolitis dapat diklasifikasikan menjadi : Bronkiolitis akut Bronkiolitis obliteran.

Bronkiolitis akut dengan bronkiolitis obliteran d i b e d a k a n p a d a bronkhiolus dan saluran pernafasan yang l e b i h k e c i l t e r j e j a s , k a r e n a u p a y a perbaikan menyebabkan sejumlah besar jaringan granulasi yang menyebabkan obstruksi jalan nafas, lumen jalan nafas terobliterasi oleh masa noduler granulasid a n f i b r o s i s . B r o n k i o l i t i s o b l i t e r a n s m e r u p a k a n k o m p l i k a s i y a n g l a z i m p a d a transplantasi paru

Patogenesis
Bronkiolitis akut ditandai dengan obstruksi bronkiolus yang disebabkan oleh edema dan kumpulan mukus dan oleh invasi bagian bagian bronkus yanglebih kecil oleh virus. Karena tahanan/ resistensi terhadap aliran udara didalam saluran besarnya berbanding terbalik dengan radius/jari-jari pangkat empat, maka penebalan yang sedikit sekali pun pada dinding bronkiolus bayi dapat sangat mempengaruhi aliran udara. Tahanan pada saluran udara kecil bertambah selama fase inspirasi dan ekspirasi, namun karena selama ekspirasi jalan nafas menjadi lebih kecil, maka hasilnya adalah obstruksi pernafasan katup yang menimbulkan udara terperangkap dan overinflasi. Atelektasis dapat terjadi ketika obstruksi menjadi total dan udara yang terperangkap diabsorbsi Proses patologis menggangu pertukaran gas normal di dalam paru. Perfusi ventilasi yang tidak seimbang mengakibatkan hipoksemia, yang terjadi pada awal p e r j a l a n a n n y a . R e t e n s i k a r b o n d i o k s i d a ( h i p e r k a p n i a ) b i a s a n y a tidak terjadi kecuali pada pasien yang terkena berat. Makin tinggi f r e k u e n s i p e r n a p a s a n melebihi 60/menit; selanjutnya hiperkapnia berkembang menjadi takipnea. Disamping pengruh destruktif virus dan respons hospes yang menyertai, belum jelas peran apa yang dimainkan oleh bakteri yang menumpanginya. Pada kebanyakan bayi dengan bronkiolitis, dengan atau tanpa pneumonia interstitial, pengalaman klinis memberi kesan bahwa bakteri memainkan peran yang tidak berarti. Penyakit ini juga berkembang pada bayi-bayi yang biasanya terdapat titer antibodi maternal (IgG) menetralkan RSV tetapi tidak terdapat antibodi sekretorik (IgA) pada saluran nafas, sehingga terdapat pada sekret hidung yang memproteksi terhadap infeksi RSV. Fakta tersebut telah mengarah ke spekulasi bahwa faktatersebut penyebab alamiah terjadinya bronkiolitis. Berbeda antara bayi, anak besar dan orang dewasa dapat m e n t o l e r a n s i udem saluran napas dengan lebih baik. Oleh karena itu, pada anak besar dan orang dewasa jarang terjadi bronkiolitis bila terkena infeksi oleh virus.

Gambar; Pembengkakan Bronkiolus akibat Infeksi RSV

Manifestasi Klinis
Bronkiolitis Akut Mula-mula bayi mendapatkan infeksi saluran napas ringan berupa pilek encer, batuk, bersin-bersin, dan kadang-kadang demam. Gejala ini berlangsung b e b e r a p a hari,kemudian timbul d i s t r e s r e s p i r a s i y a n g d i t a n d a i o l e h b a t u k paroksimal, mengi, dispneu, dan iritabel. Timbulnya kesulitan minum terjadi karena napas cepat sehingga menghalangi proses menelan dan menghisap. Pada kasus ringan, gejala menghilang 1-3 hari. Pada kasus berat, gejalanya dapat timbul beberapa hari dan perjalananya sangat cepat. Kadang-kadang, bayi tidak demam sama sekali, bahkan hipotermi. Terjadi distres pernapasan dengan frekuensi napas 60 x/menit, terdapat napas cuping hidung, penggunaan otot pernapasan tambahan,r e t r a k s i , d a n k a d a n g kadang sianosis. R e t r a k s i b i a s a n y a t i d a k d a l a m k a r e n a adanya hiperinflasi paru (terperangkapnya udara dalam paru). Hepar dan lien bisa teraba karena terdorong diafragma akibat hiperinflasi paru. Mungkin terdengar r o n k i p a d a a k h i r i n s p i r a s i d a n a w a l e k p i r a s i . E k p i r a s i m e m a n j a n g d a n m e n g i kadang-kadang terdengar dengan jelas.

Gambaran radiologik biasanya normal atau hiperinflasi paru, diameter anteroposterior meningkat pada foto lateral. Kadang-kadang ditemukan bercak- bercak pemadatan akibat atelektasis sekunder terhadap obtruksi atau anflamasialveolus. Leukosit dan hitung jenis biasanya dalam batas normal. Limfopenia yang sering ditemukan pada infeksi virus lain jarang ditemukan pada brokiolitis. Pada keadaan yang berat, gambaran analisis gas d a r a h a k a n m e n u n j u k k a n hiperkapnia, karena karbondioksida tidak dapat dikeluarkan, akibat edem dan hipersekresi bronkiolus.

Bronkiolitis Obliterans Bronkiolitis obliterans adalah suatu peradangan kronik pada bronkiolitis dimana sudah terjadi obliterasi pada bronkiolus. Pada mulanya dapat terjadi batuk,kegawatan pernafasan dan sianosis dan disertai dengan periode perbaikan nyatayang singkat. Penyakit yang progresif terlihat dengan bertambahnya dispnea, b a t u k , p r o d u k s i s p u t u m , d a n m e n g i . Polanya dapat menyerupai b r o n k i t i s , bronkiolitis atau pneumonia. Temuan rontgenografi dada berkisar dari normal s a m p a i p o l a y a n g memberi kesan tuberkulosis milier. Sindrom Swyer James dapat berkembangdengan dijumpainya hiperlusensi unilateral dan pengurangan corak pembuluh d a r a h p a r u pada sekitar 10% kasus. B r o n k o g r a f i m e n u n j u k a n o b s t r u k s i bronkiolus, dengan sedikit atau tidak ada bahan kontras yang mencapai perifer paru. Tomografi terkomputasi (CT) dapat menunjukan bronkiektasia yang terjadi pada banyak penderita. Temuan-temuan uji fungsi paru bervarisasi, yang paling sering adalah obstruksi berat, namun demikian retreksi atau kombinasi obstruksidan retraksi dapat ditemukan. Diagnosis dapat dikonfirmasikan melalui biopsi paru

Faktor Resiko
Salah satu faktor resiko yang terbesar untuk menjadi bronkiolitis padaumur kurang dari 6 bulan, sebab paru -paru dan sistem kekebalan tidak secara penuh berkembang dengan baik. Anak laki-laki cenderung untuk mendapatkan bronkiolitis lebih sering dibanding anak-anak perempuan. faktor lain yang telahdihubungkan dengan peningkatan resiko bronkiolitis pada anak-anak meliputi: Tidak pernah diberi air susu ibu sehingga tidak menerima p e r l i n d u n g a n kekebalan dari ibu Kelahiran prematur Pajanan ke asap rokok

Sering dititipkan pada tempat banyak bayi -bayi contoh t e m p a t p e n i t i p a n anak, panti asuhan Ada keluarga dengan kontak infeksi dari sekolah/ t e m p a t bermain

Penatalaksanaan
Bronkiolitis adalah penyakit yang diakibatkan oleh virus maka penyakit ini termasuk self limited disease. Artinya, penyakit ini tidak memerlukan pengobatan yang khusus. Pasien-pasien bronkiolitis biasanya pada 5-7 hari akan mengalami penurunan gejala klinis penyakit, bahkan dapat sembuh. Namun, batuk-batuk akan tetap ada sampai sekitar 2-3 minggu. Hal ini dikarenakan oleh belum terbentuknya epitel bersilia pada saluran nafas yang menyebabkan saluran nafas hanya mengkompensasi sekresi mukus saluran pernafasan dengan mekanisme batuk. Tatalaksana yang diberikan dalam pengobatan bronkiolitis sifatnya suportif untuk menjaga kondisi pasien agar tetap stabil dan tidak berkembang menjadi lebih parah. Adapun tatalaksana pengobatan bronkiolitis adalah: Pemberian O2 Dilakukan apabila terjadi keadaan hipoxemia, dimana dilakukan bila saturasi O2 dibawah 90%. Pemberian O2 dihentikan bila saturasi O2 sudah diatas 90%, pasien sudah mulai makan dengan baik serta tidak ada lagi distress pernafasan. Pemberian O2 juga biasanya dilembabkan. Atasi dehidrasi Dehidrasi pada bronkiolitis sering diakibatkan demam yang tinggi dan takipnoe. Oleh karena itu pasien harus tetap dipantau status dehidrasinya. Suction Oleh karena ketidakmampuan silia saluran nafas mengkompensasi mukus maka akan timbul penumpukan pada saluran nafas. Karena itu diperlukan suction untuk membersihkan saluran nafas. Suction sendiri ternyata menunjukkan adanya perubahan yang baik terhadap status respiratori dan memberikan manfaat lebih terhadap terapi inhalasi Inhalasi Bronkodilator Pemberian inhalasi bronkodilator baik epinephrine, 2 agonis ( salbutamol ) dan antikolinergik bronkodilator ( ipratromium bromida ) tenyata hanya memberikan perbaikan secara klinis dalam waktu singkat. Bila dibandingkan dengan placebo dalam waktu 24-36 jam tidak menunjukkan perubahan yang signifikan Pemberian regimen kortikosteroid Pemberian steroid secara oral, parenteral maupun inhalasi berdasarkan atas sifat antiinflamasi. Namun, berdasarkan penelitian pemberian kortikosteroid

baik secara parenteral, oral, maupun inhalasi ternyata tidak memberikan efek yang signifikan dibanding dengan placebo5,6. Pemberian Antiviral Antiviral yang sering digunakan para klinisi dalam terapi bronkiolitis adalah Ribavirin. Sebenarnya penggunaan antivirus masih kontroversial, pada beberapa penelitian didapati pemberian ribavirin mempercepat angka lama rawatan di rumah sakit. Namun dalam penelitian yang lain didapati pemberian antiviral tenyata tidak memberikan efek yang signifikan.