Anda di halaman 1dari 2

Akhlak Seorang Muslim Terhadap Tetangga & Masyarakatnya. Oleh : Masrizal, S.

Ag Penyuluh Agama Ahli Muda (Materi ini disajikan untuk Kelompok Binaan Penyuluh Agama Depag Kota Pekanbaru) 1. Berikut adalah beberapa etika seorang muslim terhadap masyarakat dan tetangganya, diantaranya adalah: Memuliakan tetangganya. Islam bahkan menjadikan memulian tetangga sebagai salah satu syarat untuk dapat mewjujudkan kesempurnaan iman. Karena orang muslim yang memiliki kesempurnaan iman, segala perbuatannya akan mengimplementasikan nilai-nilai keimanan dalam dirinya, termasuk diantaranya adalah memuliakan tetangganya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: " ) ) Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya, barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia bertutur kata yang baik atau hendaknya ia diam. (Mutafaqun Alaih) Pemaaf dan pemurah terhadap tetangga. Tetangga kita adalah juga merupakan manusia biasa biasa yang terkadang berbuat kesalahan terhadap kita. Namun sebagai seorang muslim yang baik yang memahami hal ini, akan memiliki rasa pemaaf dan pemurah terhadap mereka. Dalam sebuah riwayat disebutkan: ) ) Rasulullah SAW bersabda, hendaklah seseorang jangan melarang tetangganya ketika menancapkan sepotong kayu pada dinding (rumahnya) (Mutafaqun Alaih) Mencintai mereka sebagaimana mencintai diri kita sendiri. Bahkan hal ini sudah menjadi sesuatu yang harus dilakukan terhadap siapapun yang masih memiliki ikatan akidah yang sama. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan: ) ) Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga ia mencintai saudaranya sendiri sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (Mutafaqun Alaih) Dan salah satu bentuk kecintaan kita kepada mereka adalah dengan memiliki kepedulian terhadap sesuatu yang menimpa mereka. Rasulullah SAW bersabda: ) ) Rasulullah SAW bersabda, Tidak beriman seseorang kepadaku, siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangga yang berada di sisinya kelaparan dan ia mengetahui hal tersebut. (HR. Tabrani) 4. Berbuat baik kepada tetangga, baik yang muslim atau yang non muslim. Kendatipun tetangga kita ada yang bukan muslim, namun kita masih memiliki kewajiban untuk berbuat baik kepada mereka. Dalam sebuah riwayat digambarkan, bahwa Abdullah bin Amru bin Ash suatu ketika menyembelih seokor kambing, lalu memberikannya pada tetangganya yang Yahudi. Ketika ditanya, beliau menjawab aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Bahwa Jibril senantiasa memberikan wasiat kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengiranya bahwa beliau akan memberikan warisan kepada tetangganya. (HR. Bukhari Muslim) Memprioritaskan perbuatan ihsan, terhadap yang terdekat kemudian yang dekat. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Aisyah ra ketika bertanya kepada Rasulullah SAW: " ) ) Dari Aisyah ra, beliau bertanya kepada rasulullah SAW, Wahai rasulullah, aku memiliki dua tetangga, kepada yang manakah aku mengirimkan hadiah? Rasulullah menjawab, kepada yang paling dekat pintunya dari umahmu. (HR. Bukhari) Muslim terbaik adalah yang terbaik bagi tetangganya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan : ) ) Sebaik-baik tetangga di sisi Allah, adalah sebaik-baik mereka bagi tetangganya. (HR. Bukhari dalam Al-Adab alMufrad) Tetangga yang buruk. Islam bahkan melarang seseorang untuk menjadi tetangga yang tidak baik bagi tetangganya yang lain. Bahkan Rasulullah SAW menyebutkan sebagai seseorang yagn tidak beriman kepada Allah. Rasulullah SAW mengatakan: ) ) Rasulullah bersabda Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, kemudian ditanyakan siapa wahai rasulullah ? Beliau menjawab, yang tidak memberikan rasa aman pada tetangganya dari kejelekan-kejelekan dirinya. (Mutafaqun Alaih) Menjaga untuk tidak terjerumus pada perbuatan salah terhadap tetangganya. Karena kesalahan yang paling besar adalah kesalahan yang dilakukan seseorang terhadap tetangganya. Dalam sebuah hadtis disebutkan ) ) Rasulullah bersabda, bahwa zinanya seseorang terhadap sepuluh wanita, itu lebih ringan dari pada zinanya seseorang terhadap wanita tetangganya. (HR. Ahmad) Sabar terhadap keburukan tetangga dan masyarakatnya. Karena bagaimanapun juga, tidak semua orang memiliki sifat yang baik. Adakalanya kita harus berhadapan dengan tetangga yang buruk perangainya, atau senantiasa berbuat kemaksiatan kepada Allah SWT. Mengenai hal ini, Rasulullah SAW mengatakan kepada kita: ) )

2.

3.

5.

6.

7.

8.

9.

Mahad Tarbiyah Cilincing

Rasulullah SAW bersabda, Seorang mumin yang berinteraksi dengan masyarakatnya dan bersabar atas keburukan mereka, lebih baik daripada seorang mumin yang tidak berinteraksi dengan mereka serta tidak sabar atas keburukan mereka. (HR. Tabrani) 10. Tidak membalas kejelekan tetangganya dengan yang serupa Karena pada dasarnya Islam tidak mengizinkan untuk berbuat buruk kepada orang yang juga berbuat buruk kepada kita. Kita justru diminta untuk senantiasa tetap berbuat baik kepada mereka meskipun mereka terkadang tidak baik terhadap kita. Dalam sebuah hadits digambarkan: " Suatu ketika Abdullah bin Salam ra mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata, wahai rasulullah, sesungguhnya tetanggaku menyakitiku. Rasulullah SAW bersabda, bersabarlah. Kemudian beliau pulang, lalu kembali pada Rasulullah SAW untuk kedua kalinya dan berkata, wahai Rasulullah SAW. Tetanggaku menuyakitiku. Rasulullah SAW menjawab, bersabarlah. Kemudian ia pulang lalu kembali mendatangi Rasulullah SAW untuk yang ketiga kalinya, dan berkata, wahai Rasulullah SAW, tetanggaku menyakitiku. Beliau menjawab, kalau demikian peganglah barang-barangmu, lalu lemparkan ke jalan. Dan apabila ada seseorang yang mendatagimu, katakalnlah (bahwa hal ini dilakukan) karena tetanggaku menyakitiku, hingga ia akan mendapatkan laknat. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah ia memuliakan tetagganya. (Hayatus Shahabah III/50) Pada dasarnya, ketika kita ingin mengupas secara lebih teliti mengenai etika atau akhlak dalam Islam, kita akan mendapatkan, betapa Islam merupakan agama yang penuh dengan nilai-nilai budi pekerti yang mulia. Karena memang Islam diturunkan oleh Allah adalah untuk memperbaiki tatanan moralitas yang telah rusak yang terjadi pada masyarakat dunia. Rasulullah SAW sendiri mengatakan bahwa beliau diutus dalam rangka untuk memperbaiki budi pekerti atau akhlak masyarakat dunia, dari kondisi yang buruk menjadi kondisi yang baik. Adapun gambaran mengenai akhlak dan etika di atas, barulah merupakan sekelumit ajaran Islam mengenai tatacara berakhlak, baik terhadap Allah ataupun terhadap manusia lainnya. Namun ketika kita mempelajari akhlak islami, bukanlah semata-mata hanya sebagai bahan atau obyek dalam bidang keilmuan. Namun lebih dari itu, bahwa akhlak haruslah merupakan sesuatu yang mengakar dan tertancap dalam jiwa setiap muslim. Sehingga dimanapun ia berada, senantiasa mencerminkan sebagai seorang muslim sejati, kendatipun ia hidup ditengah-tengah masyarakat jahiliyah. Bahan Bacaan Al-Baqi, Muhammad Fuad Abd. Al-Mujam Al-Mufahras fi Al-Fadz Al-Quran Al-Karim. 1987 1407 : Beirut Libanon : Dar Al-Fikir. Hadiri, Choiruddin. Klaifikasi Kandungan Al-Quran. 1996. Cet. V. Jakarta Indonesia : Gema Insani Press. Al-Hasyimi, Muhammad Ali. Syakhsiyatul Muslim; Kama Yashughuha al-Islam fi al-Kitab wa al-Sunnah . 1993 1414. Cet. V. Beirut : Dar al-Basyair Al-Islamiyah. CD ROM. Al-Maktabah Al-Alfiyah Li Al-Sunnah Al-Nabawiyah. Versi 1.5. 1999 1419. Yordan : Al-Turats ; Al-Markaz Li Abhasts Al-Hasib Al-Ali.