Anda di halaman 1dari 4

3.2 Kortikosteroid Kortikosteroid digunakan untuk manajemen penyakit saluran napas yang reversibel dan tidak irreversibel.

Penggunaan kortikosteroid inhalasi selama 3-4 minggu dapat membantu membedakan asma dari penyakit paru obstruktif kronik; perbaikan yang jelas dalam 3-4 minggu menunjukkan asma. Jika kortikosteroid inhalasi menyebabkan batuk, pemakaian agonis beta-2 sebelumnya dapat membantu Asma Kortikosteroid efektif untuk asma, karena mengurangi inflamasi saluran napas (menyebabkan mengurangi udem dan sekresi mukus ke dalam saluran napas). Kortisteroid inhalasi dianjurkan sebagai terapi profilaksis asma pada pasien yang menggunakan agonis adrenoseptor beta-2 tiga kali seminggu atau lebih atau jika gejala asma mengganggu tidur lebih dari satu kali seminggu atau jika nebulisasi bronkodilator (lihat tabel Tatalaksana Asma pasien mengalami Penggunaan eksaserbasi dalam 2 tahun terakhir dan memerlukan kortikosteroid sistemik atau Kronik). kortikosteroid inhalasi secara regular akan menurunkan risiko eksaserbasi asma (lihat Tabel 3.1 tata laksana asma kronik). Inhalasi kortikosteroid harus digunakan secara teratur untuk memberikan manfaat maksimal; berkurangnya gejala biasanya terjadi 3-7 hari sejak mulai pemberian. Beklometason dipropionat, budesonid, flutikason propionat dan mometason furoat memiliki efektifitas yang sama. Kombinasi adrenoseptor beta-2 kerja panjang dengan kortikosteroid mungkin bermanfaat bagi pasien yang telah stabil dengan masing-masing komponen dalam proporsi yang sama. Pasien yang mendapatkan terapi kortikosteroid oral jangka panjang dapat diubah ke terapi inhalasi kortikosteroid tetapi perubahannya harus dilakukan secara perlahan, dengan pengurangan dosis oral dilakukan secara bertahap, dan pada saat asma dapat dikendalikan dengan baik. Kortikosteroid inhalasi dosis tinggi dapat diresepkan untuk pasien yang hanya memberi respons sebagian terhadap dosis standar kortikosteroid inhalasi dan agonis adrenoseptor beta-2 kerja panjang atau bronkodilator kerja panjang lainnya. Dosis tinggi harus

dilanjutkan hanya jika jelas memberikan manfaat lebih dibandingkan dosis rendah. Rekomendasi dosis maksimal kortikosteroid inhalasi secara umum tidak boleh dilampaui, tetapi jika diperlukan dosis yang lebih tinggi (flutikason di atas 500 mikrogram dua kali sehari pada dewasa atau 200 mikrogram dua kali sehari pada anak 416 tahun), harus dimulai dan disupervisi oleh dokter spesialis. Terapi kortikosteroid sistemik mungkin diperlukan selama periode infeksi atau jika asma memburuk, yang memerlukan dosis lebih tinggi dan akses inhalasi obat ke saluran napas yang kecil terhambat; pasien mungkin memerlukan kortikosteroid tablet. Perhatian Kortikosteroid inhalasi digunakan dengan hati-hati pada tuberkulosis aktif maupun tidak aktif; terapi sistemik mungkin diperlukan selama periode stres atau jika obstruksi jalan napas atau mukus menghambat masuknya obat ke saluran napas yang kecil. Kemungkinan terjadinya bronkospasme paradoksikal (hentikan terapi dan gunakan terapi alternatif) harus diingat-bronkospasme ringan dapat dicegah dengan inhalasi agonis adrenoseptor beta-2 kerja pendek (atau dengan pindah dari inhalasi aerosol ke inhalasi serbuk). Efek samping kortikosteroid inhalasi Inhalasi kortikosteroid mempunyai efek sistemik yang lebih ringan dibandingkan kortikosteroid oral, tetapi telah dilaporkan adanya efek samping. Dosis inhalasi yang lebih tinggi selama periode yang panjang dapat memacu supresi adrenal, sehingga setiap pasien yang menggunakan dosis tinggi harus dimonitor secara ketat penggunaan kortikosteroidnya, terutama pada kondisi yang dapat menyebabkan stres (misal operasi). Inhalasi kortikosteroid pada anak-anak telah dikaitkan dengan krisis adrenal dan koma, dosis yang berlebihan harus dihindari, terutama flutikason yang harus diberikan dalam dosis 50-100 mcg dua kali sehari dan tidak boleh melampaui 200 mcg dua kali sehari. Kepadatan mineral tulang menurun pada penggunaan inhalasi dosis tinggi jangka lama, yang menyebabkan pasien mengalami osteoporosis. Karena itu, lebih baik jika dosis inhalasi tidak melebihi dosis yang diperlukan untuk pasien asma tetap terkontrol dengan baik. Pengobatan dengan kortikosteroid inhalasi dapat dihentikan sesudah eksaserbasi ringan selama pasien mengetahui bahwa jika serangan asma memburuk atau peak flow turun, terapi perlu diberikan kembali.

Retardasi pertumbuhan pada anak sehubungan dengan terapi kortikosteroid oral, tidak menjadi masalah yang bermakna dengan dosis yang dianjurkan pada terapi inhalasi, walaupun kecepatan pertumbuhan awal mungkin terhambat, tetapi tidak menghalangi tercapainya tinggi badan normal setelah dewasa. Akan tetapi monitoring tinggi badan anak yang mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang perlu dilakukan. Jika didapatkan hambatan pertumbuhan, dirujuk ke dokter anak. Pemberian kortikosteroid inhalasi harus menggunakan alat spacer volume besar untuk anak di bawah 5 tahun (lihat 3.1.5); tapi juga berguna untuk anak yang lebih besar dan orang dewasa terutama jika dibutuhkan dosis besar. Spacer meningkatkan deposisi dalam saluran napas dan mengurangi deposisi orofaring. Peningkatan risiko glaukoma dan katarak terjadi pada penggunaan kortikosteroid inhalasi dosis besar jangka panjang. Suara serak dan kandidiasis di mulut atau tenggorokan telah dilaporkan, biasanya hanya terjadi pada dosis tinggi. Reaksi hipersensitivitas (termasuk kemerahan dan angiodema) jarang dilaporkan. Efek samping lain yang dilaporkan sangat jarang adalah ansietas, depresi, gangguan tidur, dan perubahan perilaku termasuk hiperaktivitas dan iritabilitas. Kandidiasis. Kandidiasis oral dapat dikurangi dengan penggunaan spacer, dan memberikan respons terhadap lozenges anti fungal tanpa menghentikan terapi membilas mulut dengan air (atau membersihkan gigi anak) setelah inhalasi juga dapat membantu. Kortikosteroid oral Serangan akut asma diterapi dengan kortikosteroid oral jangka pendek dimulai dengan dosis tinggi, misal prednisolon 40-50 mg per hari selama beberapa hari. Pasien yang asmanya memburuk dengan cepat, biasanya memberikan respons yang cepat dengan kortikosteroid. Dosis dapat dihentikan secara tiba-tiba pada asma eksaserbasi ringan, tetapi harus diturunkan secara bertahap pada asma yang sukar dikendalikan, untuk mengurangi kemungkinan relaps yang serius. Pada penggunaan kortikosteroid sebagai pengobatan darurat pada asma akut berat, lihat Tabel 3.2. Pada asma kronik lanjut, bila respons terhadap obat antiasma yang lain tidak mencukupi, pemberian kortikosteroid oral lebih lama mungkin dibutuhkan. Pada kasus semacam ini inhalasi kortikosteroid dosis tinggi perlu dilanjutkan untuk mengurangi pemberian per oral. Pada penyakit paru obstruktif kronik prednisolon 30 mg sehari sebaiknya diberikan

selama 7-14 hari; pengobatan

dapat dihentikan secara tiba-tiba. Terapi dengan

prednisolon oral jangka panjang tidak bermanfaat dan terapi pemeliharaan tidak dianjurkan. Kortikosteroid oral biasanya diberikan sebagai dosis tunggal pada pagi hari untuk mengurangi gangguan terhadap sekresi kortisol harian. Dosis sebaiknya selalu dititrasi ke dosis terendah yang dapat mengendalikan gejala. Pengukuran arus puncak secara teratur membantu untuk mendapatkan dosis optimal. Pemberian selang sehari tidak begitu berhasil dalam tata laksana asma orang dewasa karena kondisi dapat memburuk selama 24 jam kedua. Jika dicoba untuk memulai terapi dengan cara ini, fungsi paru harus dimonitor selama 48 jam. Untuk penggunaan injeksi hidrokortison pada terapi darurat asma akut berat, lihat Tabel 3.2.