Anda di halaman 1dari 5

Vaksinasi Untuk Jemaah Haji Rabu, 28 September 2011 00:00

Arab Saudi adalah negara epidemis terjadinya penyakit meningokokus. Selain itu, jemaah haji yang datang ke Mekah sebagaian berasal dari negara-negara Sub-Sahara Afrika yang merupakan daerah Meningitis belt. Tahun 1987 dan 2000 terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) meningitis meningokokus yang menimpa para jemaah haji di Arab Saudi. Ada 99 kasus meningitis meningokokus yang menimpa jemaah haji Indonesia dan 40 diantaranya meninggal (tahun 1987).] Penyakit meningokokus merupakan penyebab kesakitan dan kematian di seluruh dunia. Perlindungan terhadap meningokokus diperlukan untuk menghindari terjadinya penularan antar jemaah haji di Mekah dan mencegah pembawa penyakit (karier) setelah kembali lagi ke negara asalnya. Jemaah haji Indonesia umumnya belum mempunyai kekebalan alamiah yang didapatkan secara pasif terhadap meningokokus, sehingga jemaah perlu memperoleh vaksinasi terhadap penyakit tersebut mengingat tingginya risiko penularan dari jemaah haji yang berasal dari negara lain. Kementerian Kesehatan Kerajaan Arab Saudi, sejak tahun 2002 telah mewajibkan negara-negara yang mengirimkan jemaah haji untuk memberikan vaksinasi meningokok tetravalen sebagai syarat pokok pemberian visa haji dan umroh, dalam upaya mencegah penularan meningitis meningokokus. CDC (Center of Disease Control and Prevention) juga merekomendasikan vaksin apa saja yang diperlukan saat di Arab Saudi, diantaranya vaksin meningokok tetravalen (A/C/Y/W-135), vaksin rutin (polio, measles, mumps, rubella, tetanus, diphteria, dan pertussis), vaksin influenza, serta vaksin-vaksin lain seperti hepatitis A, hepatitis B, typhoid. Pemberian vaksin meningokok cukup efektif mengurangi insiden meningitis meningokokus, terbukti pada tahun 1988 hanya ada 2 kasus dan tahun 1989-1991 tidak ada kasus. Namun, data tahun 1993 menunjukan ada 5 kasus dengan 2 kematian dan 4 karier diantara jemaah haji Indonesia yang kontak dengan penderita pada waktu di Arab Saudi. Selain vaksin meningokok, virus influenza juga dianjurkan pada jemaah haji. Vaksin ini bersifat opsional, mengingat umumnya jemaah haji Indonesia berusia lanjut dan beberapa diantaranya menderita penyakit kronis, serta perubahan suhu yang ekstrim di Mekah mengakibatkan kekebalan tubuh jemaah haji dapat menurun. Virus influenza sangat mudah menular melalui dorplet, udara atau kontak langsung dengan penderita. Pada kondisi yang padat dan berdesakdesakan sangat memudahkan terjadi penularan virus tersebut. Vaksinasi yang Dianjurkan pada Jemaah Haji Indonesia A. Vaksin Meningokok Penyebab Meningokokus Penyakit meningokokus disebabkan oleh bakteri neisseria meningitidis. Karakteristik meningokokus adalah diplokokus gram negatif, tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Bakteri ini dapat ditemukan pada nasofaring sekitar 5-10% populasi dewasa. Serogrup A, B, C, Y dan W-135 adalah yang paling sering menyebabkan penyakit pada manusia. Faktor Risiko Penularan Meningokokus Faktor risiko terjadinya penyakit meningokokus diantaranya:

Orang dengan defisiensi komplemen pada sistem imun Orang dengan asplenia anatomik atau fungsional Orang yang sedang mengalami infeksi pernafasan

Perokok aktif dan pasif Keramaian di ruang tertutup Kontak dekat dengan orang terinfeksi atau kontak langsung dengan sekret pernafasan, kerongkongan, dan saliva orang yang terinfeksi misalnya ciuman, minum dengan gelas/botol yang sama.

Kekebalan Alamiah Terhadap Meningokokus Pada negara-negara epidemis meningokokus, sekitar 5% anak usia 2 sampai 12 tahun telah memiliki kekebalan alami secara pasif terhadap meningokokus serogrup A, B dan C. Pada usia 68 tahun imunitas terhadap serogrup C diperoleh lebih dari 90%. Sedangkan imunitas terhadap serogrup A diperoleh lebih awal yaitu usia 18 bulan pada lebih 90% anak-anak di Amerika Serikat. Data mengenai kekebalan terhadap meningokokus di Indonesia sampai saat ini belum ada. Oleh karena itu, pada jemaah haji Indonesia diperlukan perlindungan terhadap kuman tersebut. Rekomendasi Vaksin Meningokok pada Jemaah Haji

Vaksin meningokokus yang dianjurkan CDC dan pemerintah Arab Saudi adalah vaksin meningokok tetravalen (A/C/Y/W-135). Vaksin ini mulai dapat diberikan pada anak lebih dari 2 tahun dan dewasa. Ada dua jenis vaksin meningokok tetravalen, yaitu meningocooccal conjugate vaccine (MCV4) dan meningocooccal polysaccharide vaccine (MPSV4). CDC merekomendasikan: vaksin konjugat untuk usia 2-55 tahun, sedangkan vaksin polisakarida dapat diberikan pada usia lebih dari 55 tahun dan juga bisa sebagai alternatif lain untuk usia 2-55 tahun. Ketentuan penggunaan vaksinasi meningokokus tetravalen yang diwajibkan bagi seluruh calon jemaah haji Indonesia, diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1394/MENKES/SK/XI/2002 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Haji Indonesia. Preparat vaksin polisakarida adalah yang diberikan pada calon jemaah haji Indonesia.

Cara Pemberian Vaksin Meningokok pada Jemaah Haji Cara pemberian vaksin berupa dosis tunggal 0,5 ml disuntikan subkutan di daerah deltoid atau glutea. Vaksin ini efektif mencegah penyakit meningkokus sampai dengan 90%. Respons antibodi terhadap vaksin dapat diperoleh setelah 10-14 hari dan dapat bertahan selama 2-3 tahun. Vaksin diberikan pada jemaah haji minimal 10 hari sebelum berangkat ke Arab Saudi, dan bagi jemaah yang sudah divaksin sebelumnya (kurang dari tiga tahun) tidak perlu vaksinasi ulang. Jemaah yang melakukan vaksinasi kurang dari 10 hari harus diberi juga profilaksis Cyprofloxacin 500 mg dosis tunggal. Pencatatan Vaksin Meningokok pada Jemaah Haji Pemberian vaksinasi pada jemaah haji bersamaan dengan pemeriksaan kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pencatatan setelah pemberian vaksinasi dilakukan pada kartu International Certificate of Vaccination (ICV) yang berisi:

nama calon jemaah haji nomor paspor tanggal imunisasi nama vaksin, nomor vaksin/batch number dan dosis

Kemudian ICV tersebut ditanda tangani dokter yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau dokter yang ditunjuk oleh Kepala Embarkasi dan distempel Port Health Authority. Sedangkan Calon jemaah haji yang tidak ada bukti vaksinasi meningokok tetravalen,

diwajibkan vaksinasi di pelabuhan Embarkasi dan diberi kartu ICV serta profilaksis Cyprofloxacin 500 mg dosis tunggal. B. Vaksin Infuenza Manfaat Vaksin Influenza Vaksin influenza sangat efektif mencegah infeksi virus influenza dan timbulnya komplikasi yang berat. Pada seorang dewasa sehat, vaksin ini dapat mencegah 70-90% penyakit spesifik influenza. Pada orang tua, vaksin mengurangi sampai 60% terjadinya penyakit yang berat dan 80% kematian. Rekomendasi Vaksin Influenza pada Jemaah Haji Vaksin influenza yang tersedia saat ini ada dua jenis, yaitu vaksin inaktif (Trivalent Inactivated vaccine/TIV) dan vaksin hidup yang dilemahkan (Live Attenuated Influenza virus/LAIV). Vaksin yang diberikan pada jemaah haji adalah vaksin inaktif. Vaksin inaktif yang tersedia berasal dari derivat virus influenza A dan B dengan komposisi, yaitu virus A(H3N2), virus A(H1N1) dan virus B. Indikasi Vaksin Influenza pada Jemaah Haji Indikasi pemberian vaksin ini secara umum antara lain:

Anak usia 6 bulan sampai 18 tahun orang dewasa 50 tahun Penderita penyakit kronik seperti penyakit jantung, paru kronis, diabetes, disfungsi ginjal, hemoglobinopati atau imunosupresi Ibu hamil trimester 2 atau 3 selama musim influenza orang-orang dengan risiko paparan yang tinggi misalnya jemaah haji, petugas kesehatan.

Pada jemaah haji Indonesia, sebagian besar berusia lebih dari 50 tahun dan beberapa diantaranya mengidap penyakit kronik. Selain itu diperparah oleh kondisi tanah suci yang dipadati oleh para jemaah, sehingga penularan virus influenza antar jemaah sangat mudah. Cara Pemberian vaksin Influenza pada jemaah haji Cara pemberian vaksin berupa penyuntikan intramuskular di otot deltoid sebanyak 0,5 ml. Respons antibodi yang diperoleh dari vaksin influenza timbul setelah 2 minggu dan sistem kekebalan ini bertahan sampai 1 tahun. Oleh karena itu, vaksin diberikan minimal 2 minggu sebelum tiba di Arab Saudi. Bagaimana dengan Vaksinasi Jemaah Haji Wanita Hamil? Islam memperbolehkan seorang wanita hamil untuk menunaikan ibadah haji. Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan terkena penyakit infeksi. Oleh karena itu diperlukan perlindungan terhadap wanita tersebut selama menunaikan ibadah haji. Pemberian vaksin pada wanita hamil selalu mempertimbangkan antara besarnya manfaat dan risiko. Rekomendasi A. Vaksin Meningokok Berdasarkan SKB Menteri Agama dan Menteri Kesehatan Nomor 458 Tahun 2000 dan 1652.A/MENKES-KESOS/SKB/XI/2000 tentang Calon Haji Wanita, pada keadaan khusus seperti wanita hamil diperbolehkan untuk berhaji. Namun, dengan beberapa persyaratan, yaitu:

usia kehamilan antara 14 sampai 26 minggu dan tidak termasuk kehamilan berisiko tinggi.

Sudah mendapatkan suntikan vaksin meningokok.

Sampai saat ini belum ada data yang menyatakan keamanan vaksin meningokok pada kehamilan. Pemberian vaksin meningokok pada ibu hamil didasarkan pada pertimbangan besarnya manfaat proteksi yang diperoleh, dibandingkan risiko yang didapat apabila tidak divaksin. Seperti yang telah kita ketahui bahwa kekebalan tubuh yang diperoleh dari vaksin meningokok adalah setelah 10-14 hari dari penyuntikan dan bertahan selama 2-3 tahun. Oleh karena itu, untuk mengurang risiko gangguan perkembangan janin akibat vaksin sebaiknya bagi wanita yang akan berencana menunaikan ibadah haji divaksinasi 2 tahun sebelum pemberangkatan haji. B. Vaksin Influenza Vaksin influenza jenis inaktif aman diberikan pada wanita hamil pada trimester 2 dan 3. Daftar Pustaka 1. Direktorat Jendral Penyelenggaraan Haji dan Umroh. Data jemaah Haji Indonesia per Provinsi tahun 2000-2006. [cited 2009 September 3] Available from: http://haji.depag.go.id/files/upload/prov.pdf 2. Meningitis Meningococcal. Dalam: Pedoman Penanggulangan KLB Meningitis di Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan PPM&PLP. Jakarta: 1997.
3.

CDC. Health Requirements and Recommendations for Travel to Saudi Arabia during the Hajj: Information for U.S. Travelers. Available at http://wwwn.cdc.gov/travel/content/inthe-news/hajj.aspx. Last update: January 30, 2008.

4. Lepow ML, Perkins BA, Hughes PA, poolman JT. Meningococcal Vaccines. Dalam: Plotkin SA, Orenstein WA, editor. Vaccines. Philadelphia: WB Saunders Company; 2004. hal.711-6. 5. Biro Hukum&Organisasi Departemen Kesehatan RI. Upaya Penanggulangan Wabah Penyakit Meningokokus Bagi Jemaah Haji. [cited 2009 September 3] Available from: http://datapuskesmas.depkes.go.id/?art=7 6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1394/MENKES/SK/XI/2002. Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Haji Indonesia.
7.

SKB Menteri Agama dan Menteri Kesehatan Nomor 458 Tahun 2000 dan 1652.A/MENKES-KESOS/SKB/XI/2000. Calon Haji Wanita. [cited 2009 September 3] Available from: http://www.menkokesra.go.id/content/view/6219/39/ Guideline for Vaccinating Pregnant Women from Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). October 1998 ( Updated May 2007 ). [cited 2008 Pebruary 27] Available from: URL: http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/downloads/b_preg_guide.pdf .

8.

9. Konsensus Imunisasi Dewasa 2003. Dalam: Djauzi S, Koesnoe S, Putra BA, editor. Konsensus Imunisasi Dewasa. Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI: Jakarta;2008. hal. 8-16. 10. Kilbourne ED, Arden NH. Inactived Influenza Vaccines. Dalam: Plotkin SA, Orenstein WA, editor. Vaccines. Philadelphia: WB Saunders Company; 2004. hal. 537-8. 11. Sur DK, Wallis DH, OConnell TX. Vaccinations in Pregnancy. Am Fam Physician 2003;68:E299-309.

10 Penyakit Resiko Tinggi Jemaah Haji Indonesia


Written by Administrator Friday, 11 November 2011 01:08 Jakarta,Puskeshaji, Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan jemaah haji Indonesia, terdapat sekitar 10 jenis penyakit resiko tinggi yang diderita oleh para jemaah haji Indonesia. Jenis penyakit tersebut adalah Essensial (primary) hypertension (26%), Senelity (51), Non-Insulin dependen diabetes melitus (9%), Disorder of lipoprotein metabolism, Cardiomegaly, Obesity, Hypotension, Asthma, dan Atheroclerotic heart disease.