Anda di halaman 1dari 55

DAFTAR ISI

Kata Pengantar . Pendahuluan . Muslim dan Dai Inilah Sebahagian Akhlak Tersebut Siddik. Sabar... Ketiga Tawadhu Keempat Adil Kelima .Perasaan Hidup KeEnam Ambisius. Penutup. Daftar Pustaka.. 2 3 4 5 6 11 17 25 46 48 50 53

KATA PENGANTAR
Di antara do`a Rasulullah Saw. yang shahih ialah: " "Ya Allah tunjukkanlah aku pada budi pekerti yang terbaik, tak ada yang dapat menunjukkan kepada budi pekerti yang terbaik kecuali Engkau. Dan palingkanlah aku dari keburukannya, tak ada yang dapat memalingkanku dari keburukannya kecuali Engkau. Labbaik wa Sa`daik (kupenuhi panggilan-Mu dan kugembirakan-Mu), dan kebaikan itu semuanya ada pada kedua tangan-Mu, dan keburukan itu tidak akan menyentuh-Mu. Aku ada dengan kehendak dan inayah-Mu, dan akan kembali kepadaMu. Maha Suci dan Maha Luhur Engkau " Muslim I/535. " " "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kemunkaran/kebejatan akhlak, amal perbuatan dan hawa nafsu" At Tirmidzi V/536 " " "Ya Allah, telah Engkau perbagus penciptaanku, maka perbagus pulalah budi pekertiku" Ahmad I/403; VI/68. 155. Maka sesungguhnya sangat diperlukan kekuatan akhlaq selayaknya ahklawq Rasulullah dalam upaya suksesnya dakwah pembinaan bagi umat. Karena umat punya kecenderungan untuk mengikuti dan meniru. Sesungguhnya keberhasilan dakwah Rasulullah tidak lain dikarenakan kekuatan moral dan ahklaqnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Pekanbaru, 15 juli 2010

Drs. BUYUNG RAMBE

PENDAHULUAN
Untuk menyempurnakan akhlak/budi pekerti yang mulia: khlak menempati satu kedudukan yang amat agung di A dalam Islam, bahkan ada riwayat shahih yang datang dari Nabi Saw., bahwa beliau bersabda: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang bagus" sedang dalam riwayat lain disebutkan: "Budi pekerti yang mulia"1 Seakan-akan Rasul Saw. membatasi missi yang mana dia diutus untuk menyampaikannya adalah untuk perkara yang satu ini .. dan itu tidaklah aneh! Sesungguhnya kita telah memahami bahwa "Akhlak" adalah hubungan seorang hamba dengan Allah dan hubungannya dengan manusia. Persoalan tersebut sudah jelas. Dan agama ini seluruhnya adalah menjelaskan, bagaimana kamu berhubungan dengan Khalik? Bagaimana kamu beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya serta menjauhi apa yang dimurkai-Nya? Dan bagaimana kamu berhubungan dengan makhluk? Termasuk di dalamnya hubungan dengan para malaikat, para Nabi, orang-orang shaleh, dan karib kerabat yang mempunyai hak-hak untuk dicintai dan disayangi; sebagaimana masuk pula di dalamnya hubungan dengan makhluk lain seperti syetan, orang-orang kafir, orang-orang fasik dan orang-orang munafik. Yakni orang-orang yang dibenci manusia dalam hubungannya dengan hak Allah seperti orang-orang kafir, atau
1

HR. Ahmad (II/381), Malik (II/904), Al Bazzar, sebagaimana disebut dalam kitab Al Majma` (IX/15). Al Haitsami berkata: "Para perawinya adalah perawi-perawi shahih. Ibnu `Abdul Barri berkata: "Hadits ini adalah hadits madani, shahih dan muttashil (bersambung sanadnya) dari beberapa jalan periwayatan yang shahih, dari Abu Hurairah dan sahabat yang lain.

dibenci manusia dari satu aspek seperti orang-orang fasik yang masih terdapat pada diri mereka pokok keimanan kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Adapun pemahaman kita tentang "Akhlak" dengan makna pengertian yang lebih khusus, bahwa ia adalah interaksi hubungan antara manusia dengan manusia saja, jika memang demikian maksudnya, maka pembicaraan tadi haruslah dibawa kepada makna pengertian besarnya keutamaan akhlak dan tingginya kedudukan akhlak di dalam agama, sebagaimana dalam hadits

" Haji adalah Arafah"2 dan hadits

" Agama itu adalah nasehat"3


Karena yang dimaksud hadits di atas bukanlah membatasi ibadah haji hanya dengan wuquf di Arafah, atau membatasi seluruh ajaran agama hanya dalam soal nasehat saja. Tapi yang dimaksudkan adalah bahwa wuquf di Arafah merupakan rukun haji yang terbesar, dan bahwa nasehat itu merupakan satu tingkatan tinggi dalam agama. Jadi tidak ada kesamaran dalam hadits tersebut, menurut dua makna pengertian di atas. Keduanya mempunyai indikasi kuat yang menunjukkan besarnya kedudukan akhlak dalam Islam. Muslim .. dan da`i: Mengacu kepada pemahaman ini, maka wajib bagi setiap muslim untuk menghias dan mempercantik dirinya dengan budi pekerti yang bagus, baik dia seorang da`i ataupun bukan da`i. Sebab akhlak itu termasuk di antara maksud tujuan diutusnya Nabi Muhammad, yang mana Allah memuliakan anak manusia di dunia dengannya, dan memberikan ciri sifat khusus pada diri orang-orang beriman, yang mana ciri sifat tersebut tidak terdapat pada diri manusia selain mereka. Allah memberi petunjuk mereka dengannya ke jalan yang lurus, mensucikan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya.
2

HR. At Tirmidzi 899, Abu Dawud 1949, An Nasa`i 3044, Ibnu Majah 3015, Ad Darami, dan yang lain. Semuanya, dari `Abdurrahman bin Ya`mar Ad Dili. 3 HR. Muslim 55, Abu Dawud 4944, An Nasa`i 4197-4198 dari hadits Tamim ad Darami.

"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang ummi (tak kenal baca tulis), seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata" (Qs Al Jumu`ah 2) Tazkiyah/penyucian yang disebut dalam ayat di atas, mencakup pula tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan penggemblengannya dengan akhlak-akhlak yang luhur serta pembersihannya dari sifat-sifat yang buruk .. dalam ayat ini, sebagaimana juga dalam hadits di muka, nampak bahwa budi pekerti yang baik merupakan maksud tujuan di antara maksudmaksud tujuan diutusnya Muhammad sebagai Nabi, bahkan ia termasuk maksud tujuannya yang paling utama. Apabila berhias dengan akhlak mulia adalah wajib bagi setiap individu muslim .. lantas bagaimana gerangan dengan da`i yang dalam hal ini mengusung bendera dakwah dan syi`arnya .. serta mendakwahkannya di tengah-tengah manusia? Sesungguhnya pandangan mata manusia lebih cepat tertuju padanya, kesalahan darinya lebih cepat terjadi, dan kritikan terhadapnya jauh lebih keras dan pedas.. Jadi dakwahnya harus dengan perbuatannya lebih dahulu sebelum perkataannya. Maka dari itu menghias diri dengan akhlak yang mulia bagi seorang da`i adalah lebih wajib dan lebih perlu, untuk bisa menjalankan kewajiban besar yang telah Allah bebankan di atas pundaknya.. sebagaimana ucapan seorang penyair: Trimakasih atas karunia-Mu, karena Kau tlah bebani pundak kami dengan suatu penugasan yang telah Kau percayakan atas kami// Dan untuk melindungi dakwah serta pengikut dakwah dari lidah tajam para penentang, dari pena-pena musuh yang menikam, dan dari ilusi-ilusi/hayalan orang-orang yang lalai dan terburu nafsu! Inilah sebagian dari akhlak tersebut: Sekiranya saya mau membicarakan akhlak yang harus melekat pada diri seorang da`i secara lengkap dan tuntas, tentu

pembicaraannya sangat lama dan panjang, sehingga saya tak bisa berbuat apapun. Mengingat di hadapan saya terpampang sejumlah besar buku-buku tulisan yang membahas tentang akhlak. Di antaranya kitab "Akhlaaq An Nabi" tulisan Syeikh Ashbahani, "Makaarimul Akhlaaq" tulisan Ath Thabrani dan tulisan Al Kharaithi, "Al Akhlaaq was Siyar" tulisan Ibnu Hazm, "Dustuur Al Akhlaaq fil Qur`an" tulisan Muhammad `Abdullah Diraz .. dan seabrek kitab lainnya yang membahas tentang akhlak. Risalah ini --wahai saudaraku yang mulia-- bukan membahas tentang akhlak dan falsafahnya, akan tetapi ia memaparkan sejumlah keutamaan-keutamaan akhlak yang dirasakan amat besar urgensinya bagi seorang da`i, dengan banyaknya nash-nash yang ada di dalamnya. Dalam risalah ini, saya hanya akan membicarakan sisi-sisi pentingnya dan meninggalkan sisi-sisi lain yang terdapat pada sumber-sumber rujukan ilmu bagi orang yang hendak mendalaminya. Pertama: Shidiq (benar)

{ } "Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar" (Qs At Taubah 119) Banyak yang memahami kata shidiq bahwa ia adalah kejujuran lesan dalam berkata saja, padahal sebenarnya shidiq adalah manhaj umum, dan merupakan salah satu ciri dari ciri-ciri kepribadian seorang muslim, luar dan dalamnya, perkataan dan perbuatannya. Di antaranya ialah: i-- Shidiq dalam mengemban agama: Yakni hendaklah seseorang beragama dengan benar, keagamaan yang dibangun di atas landasan kejujuran/kebenaran terhadap Allah `Azza wa Jalla, bukan di atas landasan nifak, kebohongan dan menjilat. Oleh karena itu kata shidiq dipakai di dalam Al Qur`an sebagai lawan dari kata nifak: } {

"Supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang benar dengan sebab kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika Dia menghendakinya, atau menerima taubat mereka" (Qs At Taubah 24) ] Jadi keislaman secara zhahir itu haruslah disertai dengan keimanan secara bathin, harus baik keyakinannya kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para Nabi dan kepada hari akhir. Jadi tingkah laku zhahir itu haruslah sesuai dan seiring dengan tingkah laku batin. Di sini ada bisikan jahat di antara bisikan-bisikan jahat syetan, yang menginspirasikan kepada seorang da`i supaya meninggalkan sebagian amal-amal shaleh yang zhahir, dengan hujjah bahwa bathinnya tidaklah demikian .. Jangan kamu lakukan, supaya manusia tidak terpedaya olehmu! Ini adalah satu kesalahan besar. Karena amal shaleh yang selalu kamu kerjakan dengan anggota badanmu termasuk di antara sebab-sebab yang menjadikan hatimu jadi baik dan shidiq, selama kamu tidak mengerjakan amal shaleh itu dengan maksud riya` dan sum`ah, dan bukan pula untuk memperdaya orang-orang beriman.

ii. Shidiq dalam perkataan: Benar dalam perkataan adalah ekspresi yang mengungkapkan kuatnya kepribadian, martabat, keluhuran budi dan kemuliaan seseorang. Dan tiada menggunakan kebohongan sebagai tameng pelindung, kecuali orang yang rendah akhlaknya, buruk perangainya dan lemah kepribadiannya. Fitrah yang sehat akan menganggap kebohongan sebagai aib dan keburukan. Karena itu agama-agama samawi sepakat dalam mengharamkan kebohongan dan menganggapnya sebagai suatu kejahatan. Maka bagaimana pendapatmu dengan seorang da`i .. apakah terbayang dalam benakmu akan timbul kebohongan daripadanya?! Saya yakin --insya Allah-- bahwa jawabannya adalah "Tidak". Akan tetapi: Ada di antara para da`i yang terlalu longgar dalam melakukan "Tauriyah", yakni seorang da`i mengucapkan satu

perkataan yang dipahami orang tapi bertentangan dengan apa yang dia maksud. Kadang tersingkap setelahnya, bahwa kenyataan yang ada ternyata berlainan dengan apa yang mereka pahami darinya, akhirnya merekapun menuduhnya sebagai pembohong .. kemudian terlalu longgar dalam melakukan tauriyah, bisa membawa kepada sikap toleran terhadap sebagian "kebohongan-kebohongan" dengan dalih alasan bahwa kebohongan itu adalah untuk maslahat!! Hati-hati, dan waspadalah!! Wahai para da`i: Ketika sikon memaksa dirimu berbohong, maka janganlah kamu berani melakukannya, ingatlah ucapan Abu Sufyan di hadapan Kaisar Heraklius ketika Kaesar menanyakan padanya tentang pribadi Rasulullah Saw. Maka Abu Sufyan menjawab: "Demi Allah, sekiranya bukan karena khawatir mereka akan mencapku sebagai pembohong, pasti aku akan berbohong"!4 Lelaki ini --ketika dia masih jahil-- menghindari berkata dusta, karena khawatir mereka menyampaikan kebohongan itu darinya, atau mereka menjelek-jelekannya lantaran kebohongan itu pada suatu masa kelak, padahal dia sangat membutuhkan kebohongan itu. Kami tahu bahwa kehormatan para da`i saat ini telah menjadi objek sasaran bagi banyak anak panah. Maka dari itu wajib bagi seorang da`i untuk menutup pintu masuk cacat dan cela, supaya dia bebas dan selamat dari tuduhan. iii. Shidiq dalam perbuatan: Maksudnya ialah, hendaknya amal perbuatan manusia tulus murni untuk mencari keridhaan Allah Ta`ala bersih dari unsur riya` dan sum`ah. Allah Ta`ala berfirman: { } "Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia beramal shaleh dan jangan mempersekutukan seorangpun di dalam beribadah kepada Tuhan-Nya" (Qs Al Kahfi 110) Allah Ta`ala berfirman: { }

HR. Al Bukhari.

"Untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya" (Qs Al Mulk 2) Fudhail bin `Iyadh berkata, menafsirkan makna ayat " Siapa di antara kalian yang paling baik amalnya": Yakni, : yang paling ikhlas dan paling benar. Lantas beliau ditanya: "Wahai Abu `Ali, apa yang kau maksud dengan yang paling ikhlas dan paling benar" Beliau menjawab: "Sesungguhnya amal itu, jika ia (dikerjakan dengan) ikhlas tapi belum benar, maka ia tidak diterima; dan jika ia (dikerjakan dengan) benar, tapi belum ikhlas, maka ia juga tidak diterima. Tidak diterima amal, sampai ia (dikerjakan dengan) ikhlas lagi benar!" Dan di antara bentuk shidiq dalam perbuatan ialah: Jelas, menghindari yang samar dan kabur. Abu Dawud dan An Nasa`i meriwayatkan hadits dari `Utsman bin `Affan ra, bahwasanya dia datang membawa `Abdullah bin Sa`ad bin Abus Sarh yang telah divonis mati oleh Rasulullah Saw.. `Utsman bin `Affan membawanya ke hadapan Rasulullah Saw. dan kemudian berkata: "Wahai Nabi Allah, bai`atlah `Abdullah!" Rasulullah Saw. mengangkat kepalanya dan memandangnya hingga dua atau tiga kali. Dua kali yang pertama, beliau enggan membai`atnya. Baru kemudian setelah yang ketiga kalinya, beliau mau membai`atnya. Kemudian beliau menemui para sahabat dan mengatakan pada mereka: "Tidakkah di antara kalian ada lelaki berakal, yang bangkit ke arah lelaki itu untuk membunuhnya ketika dia melihat kedua tanganku tergenggam tak mau membai`atnya?" "Kami tak tahu, wahai Rasulullah, apa yang ada dalam hatimu. Kenapa engkau tidak memberi isyarat dengan matamu kepada kami?" Rasulullah Saw. menjawab: "Sesungguhnya tidak sepantasnya bagi seorang Nabi memiliki mata khianat!!"5 Sampai sejauh itu, tingkat keshidiqan Nabi Saw. dalam tindak perbuatannya. Beliau tidak senang membunuh musuh besarnya yang telah dia black list mati dengan cara samar, yakni dengan cara mengerdipkan mata! Inilah yang menjadi adat kebiasaan beliau sepanjang hidupnya. Karena itu kaum musyrikin pada masa awal permulaaan dakwah tak bisa menuduhnya sebagai pembohong, tapi menuduhnya sebagai
5

HR. Abu Dawud 2683, An Nasa`i 4068, Al Hakim III/45, dan hadits ini mempunyai syahid/penguat pada Abu Dawud 3094 dan Ahmad III/151 dari hadits Anas . Adapun lafazhnya ialah "Sesungguhnya tidak patut bagi seorang Nabi untuk mengerling." Lihat As Silsilah Al Ahaadiits Ash Shahiihah 1723.

"Penyair .. tukang sihir .. orang gila" namun demikian orangorang tidak mempercayai tuduhan mereka. Ketika mereka sudah kehilangan kebenaran mereka dan telah lemah tipu muslihat mereka, maka mereka berteriak: "Dia pendusta" .. akan tetapi mana mungkin orang-orang mau mempercayai mereka. At Tirmidzi meriwayatkan dari `Abdullah bin Sallam ra, dia berkata: Tatkala Nabi Saw. tiba di kota Madinah, maka orangorang lari berhampuran ke arahnya. Di sana sini terdengar ucapan: Rasulullah Saw. telah datang! Rasululullah Saw. telah datang! Rasulullah Saw. telah datang. Lalu aku mendatangi kerumunan orang ramai untuk menyaksikannya. Takala aku mengamati wajah Rasulullah Saw dengan seksama, maka tahulah aku bahwa wajahnya bukanlah wajah seorang pendusta. Hal pertama yang ia sampaikan kepada orang-orang ialah: "Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan shalatlah (di malam hari) saat manusia tidur lelap, niscaya kalian masuk surga dengan selamat" 6 Sungguh kejujuran Rasulullah Saw. telah mengalir dari lubuk hati ke lesan dan ke seluruh anggota badan, dan kejujuran tersebut nampak pada roman mukanya yang mulia .. setiap orang yang melihat penampilannya, sinar wajahnya dan kebersihannya, maka dia akan menemukan kejujuran di dalamnya dan akan mengetahui bahwa wajahnya bukanlah wajah seorang pendusta! Kita membutuhkan type da`i yang mengutamakan kejujuran dalam perkataan dan perbuatan mereka sehingga kejujuran itu menjadi ciri watak yang mengalir dalam urat nadi mereka, dan menghias roman wajah mereka. Apabila orangorang melihat mereka, maka sontak orang-orang berkata: "Itu bukanlah wajah-wajah para pendusta!" Sebagaimana kita membutuhkan da`i-da`i yang menghias diri mereka dengan budi pekerti mulia, tidak emosional dan provokatif. Mereka tetap menjaga ketenangan mereka dan keseimbangan tutur kata mereka dalam segala keadaan, sehingga apabila orang-orang melihat mereka, maka tercetus ucapan dari mulut mereka: "Itu adalah akhlak para Nabi!" Sesungguhnya kejujuran kita dalam mengemban dakwah kita, adalah yang menjadikan manusia mau menerima agama kita. Tak pantas bagi kita menampilkan diri seperti aktor di atas panggung, yang nampak oleh manusia dengan rupa penampilan
6

Ditakhrij oleh Ahmad V/451 dan At Tirmidzi 2485 serta Ibnu Majah 3251.

10

yang berbeda dengan keadaan aslinya. Orang macam ini akan cepat tersingkap jati dirinya, dan manusia akan berpaling darinya. Ada dinukil riwayat dari salah seorang salaf, bahwa apabila dia menasehati orang, maka dia membuat orang menangis sehingga suasana menjadi hiruk dan meledak ratapan tangis. Boleh jadi ada orang yang lebih banyak ilmunya berbicara di dalam majlis dan lebih bagus retorika katanya, namun katakatanya tidak menggugah hati dan tidak membuat orang menangis! Ketika suatu hari putranya menanyakan hal ini padanya, maka dia menjawab: "Wahai putraku, tidak sama wanita yang meratapi kematian putranya dengan wanita yang meratap karena diupah!" Jadi, wasilah pertama yang membuat suksesnya seorang da`i adalah: Kejujurannya dalam mengemban dakwah dan keseriusannya di dalam mengemban amanat dakwah, dan bahwa kejujuran kata dan perbuatan menjadi manhaj dan syi`arnya. Yang penting bukanlah kata-kata indah semanis madu --meskipun itu juga dituntut--, namun yang lebih penting daripada itu adalah kejujuran, dan kejujuran itu menjelma dalam sikap dan perilakunya, dan pembicaraannya keluar dari relung hatinya. Pepatah dahulu mengatakan: Pabila ucapan itu keluar dari hati, maka iapun masuk ke dalam hati dan pabila ia keluar dari mulut, maka ke ketelingapun tak sampai melewati// Kedua: Sabar Sabar adalah kawannya yakin, sebagaimana firman Allah Ta`ala: "Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, tatkala mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." (Qs As Sajdah 24) Berdasarkan ayat ini, maka Sufyan Ats Tsuri mengatakan: "Dengan sabar dan yakin, kepemimpinan dalam agama dapat diperoleh"

11

Siapa yang tidak bersabar, maka dia gampang melepaskan diri dari agamanya hanya karena sedikit hal yang merintangi jalannya, dan dia gampang meninggalkan manhaj dan hikmahnya hanya karena suatu provokasi. Karena itu Allah Ta`ala memerintahkan kepada Nabi-Nya Saw: "Bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali sampai orang-orang yang tidak yakin (terhadap kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu" (Qs Ar Ruum 60) Allah Ta`ala berfirman: "Dan bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik." (Qs Al Muzammil 10) Sering terjadi orang-orang sesat menentang para da`i yang menyeru kepada Allah `Azza wa Jalla, dengan ucapan mereka: "Sesungguhnya apa yang kalian serukan hanyalah lamunan belaka, tak mungkin terjadi dalam kenyataan. Kalian menyeru kepada perkara-perkara yang telah dilalaikan oleh zaman, telah lalu atau hampir-hampir dilupakan oleh manusia. Maka seharusnyalah kalian rela menerima selainnya, dan mengkaji kembali pendapat-pendapat serta ijtihad-ijtihad kalian!! Menghadapi berbagai tekanan yang muncul, menghadapi berbagai rintangan yang nyata maupun yang masih berupa bayangan dalam mewujudkan Islam, dan menghadapi panjangnya perjalanan .. terkadang menjadikan sebagian da`i merespon dan terpengaruh oleh kata-kata tersebut. Maka iapun mengkaji kembali pemahamannya terhadap Islam dan mengkaji apa yang dikatakan oleh musuh! Duhai kiranya, ketika dia melakukannya, maka dia melakukannya dengan spirit peneliti, objektif, pemberani dan memandang kepada kebenaran di manapun adanya .. maka persoalanpun jadi mudah! Akan tetapi dia melakukannya dengan spirit "Pecundang" yang merasa bahwa dia keluar dari medan pertempuran sebagai tawanan atau takhlukkan .. dia mencari "solusi" dalam "penawaran-penawaran" musuh yang menjauhkannya dari peperangan melawan kebatilan .. melawan realitas yang menyimpang dari kebenaran.. Inilah misalnya: Sistem riba yang telah tersebar, mengakar dan membentang luas, di mana perekonomian dunia seluruhnya

12

tegak di atas sistem ribawi --termasuk pula dunia Islam--. Hampir-hampir uang riba masuk kantong setiap orang, sehingga menjadi kenyataan di dalamnya nubu`ah/prediksi Nabi Saw., ketika beliau bersabda: "Kelak akan datang pada manusia suatu zaman, siapa yang tidak makan riba, maka dia terkena debunya"7 Hadits ini, meskipun di dalamnya ada yang lemah, tapi ia menguatkan sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Al Bukhari, lantaran keshahihan maknanya: "Kelak akan datang pada manusia suatu zaman, di mana manusia tidak perduli terhadap apa yang dia makan, apakah ia dari yang halal ataukah ia dari yang haram."8 Apa yang haram ini betul-betul telah bercokol di dalam hati banyak orang, kantong-kantong mereka, lembaga-lembaga mereka dan harta-harta mereka. Alih-alih seorang da`i gigih berusaha melarang manusia dari riba dan mencari alternatifalternatif syar`i yang benar untuk mengembangkan harta manusia dan mengivestasikannya, dan untuk membangun sistem ekonomi Islam yang sehat .. justru datang kepadanya orang-orang yang tidak mempunyai keyakinan, lalu mereka berusaha meremehkan prinsipnya, supaya dia mengkaji ulang pendapatnya terhadap bentuk-bentuk riba yang jelas lagi gamblang .. bahwa ia punya sandaran fiqh, meskipun lemah ataupun ganjil. Demikianlah "Realitas kehidupan manusia" yang terbatas di suatu periode masa, menjadi rujukan untuk meluruskan sebagian hukum-hukum syar`i yang telah baku selama berabad-abad lamanya! Sesungguhnya ini adalah akibat hilangnya kesabaran dalam diri sebagian da`i, dan dengan hilangnya kesabaran tersebut maka hilang pulalah harapan!
7

Ditakhrij oleh Ahmad II/494, Abu Dawud 333i, An Nasa`i 4455, Ibnu Majah 2278. Al Mundziri dalam kitabnya Mukhtashar As Sunan telah menyatakan keterputusan sanad antara Al Hasan dengan Abu Hurairah. 8 HR. Al Bukhari 2059 dan An Nasa`i 4454.

13

Duhai kiranya para da`i mau mendengarkan dengan seksama perkataan pemberi nasehat yang mengatakan pada teman karibnya: ***

Pabila kau tak mampu kerjakan sesuatu, maka tinggalkanlah ia dan lewatkan ia pada sesuatu yang kamu bisa Kamu tidak dituntut untuk mewujudkan kemenangan yang nyata bagi Islam. Masalah ini terserah kepada Allah, kapan Dia menghendaki jadi, maka jadilah ia. Akan tetapi yang dituntut darimu adalah engkau mengerahkan seluruh upaya dayamu di jalan ini saja! Para Rasul dan Para Nabi dahulupun diberi perintah untuk hal yang satu ini: "Kewajibanmu tiada lain adalah menyampaikan (risalah)" (Qs Asy Syuura 48) Dan adalah mereka mengatakan pada ummatnya: "Dan kewajiban kami tiada lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas" (Qs Yaasiin 17) Boleh jadi salah seorang di antara mereka mendatangi seorang da`i dan mengatakan padanya: "Kamu melakukan pekerjaan yang sia-sia, letih siang dan malam, tapi hasil akhirnya sedikit, di samping itu orang-orangpun meninggalkanmu, sementara kamu melihat berbagai media perusak dan penghancur telah digunakan untuk merusak sebagian besar dari mereka .. dan iapun merusak dalam waktu sesaat apa yang dibangun seorang da`i dalam waktu setahun! Dan: kapan bangunan itu kan sempurna kelak jika kau membangunnya sedangkan yang lain merusaknya" Perkataan ini bisa jadi mempengaruhi banyak orang yang tidak biasa menghadapi berbagai rintangan dakwah. Di sini datang peranan "Sabar", kesabaran yang baik. Dari Khabbab bin Al Aratti ra., dia menuturkan: aku datang menemui Nabi Saw., waktu itu beliau sedang berbaring bersandarkan sorbannya di bawah naungan Ka`bah. Kami

14

menerima perlakuan kejam dari kaum musyrikin, maka aku mengadu kepadanya: "Wahai Rasulullah tidakkah engkau sudi mendo`akan kami? Tidakkah engkau sudi memintakan pertolongan untuk kami? Nabi Saw. langsung duduk dan mukanya merah padam, lalu beliau berakata: "Sungguh dahulu ada orang sebelum kalian, disisir dengan sisir besi daging dan sarafnya hingga menembus tulang, tapi yang demikian itu tidak memalingkan dia dari agamanya; dan diletakkan gergaji di atas belahan kepalanya, lalu digergajilah dia hingga terbelah menjadi dua, tapi yang demikian itu tidak memalingkan dia dari agamanya. Sungguh Allah pasti akan menyempurnakan agama ini hingga merata keamanan, seorang pengendara bisa berjalan dari Shan`a ke Hadramaut dalam keadaan tidak takut kepada apapun selain Allah, dan serigala terhadap dombanya .. akan tetapi kalian ini tergesa-gesa."9 Tergesa-gesa dalam memetik buah dakwah dan hasilnya, tidaklah cocok dengan sifat sabar yang mana seorang da`i harus berhias diri dengannya. Boleh jadi seorang da`i berada di suatu tempat (negeri, madrasah, institusi dll) berjihad dalam menolak kemunkaran dan menyebarkan dakwah, dan timbul banyak kebaikan (hal-hal yang positip) melalui perantaraan kedua tangannya. Akan tetapi dia tidak menyadarinya, oleh karena kebaikan itu datang secara bertahap dan berangsur-angsur .. sebagaimana seorang bapak tidak menyadari pertumbuhan anaknya yang dia lihat pagi dan petang, oleh karena anak tersebut tumbuh besar, sedikit demi sedikit! Berapa banyak da`i yang meninggalkan suatu tempat karena mengira bahwa dia tidak punya pengaruh di lingkungan tersebut, akan tapi ketika dia meninggalkannya, maka kehilangannya jadi terasa dan kedudukannya jadi nampak. Keadaannya adalah seperti pepatah: Akan mengingatku kaumku, saat gawat urusan mereka dan dalam kegelapan malam, dicari-cari bulan purnama // Peri keadaannya adalah seperti Kas`i10 yang membikin anak panah, lalu dia membidikkannya pada malam hari. Dia
9

HR. Al Bukhari 3852, Abu Dawud 2649, dan diriwayatkan pula oleh An Nasa`i secara singkat 532. 10 Dia adalah Muharib bin Hafshah bin Qais `Ailan dari `Adnan moyang jahiliyah. Lihat Al A`laam tulisan Az Zarkali V/281.

15

mengira kalau anak tersebut tak mengenai sasaran yang dia inginkan .. maka diapun mematahkan busurnya. Esoknya dia melihat, bahwa anak panah tersebut tepat mengenai sasaran. Maka diapun menyesal karena telah mematahkan busurnya .. maka kelakuannya tadi dibuat sebagai pepatah dalam soal penyesalan. Sampai-sampai Al Firzadaq berkata sewaktu dia menceraikan istrinya: Aku menyesal seperti penyesalan Kas`i tatkala istri yang tlah kucerai pergi meninggalkanku11 Maka seorang da`i tidak boleh tergesa-gesa memetik hasil dan buah dakwah, tapi dia senantiasa berusaha dan bersandar kepada Allah Ta`ala, dan mengetahui melalui pengalaman empirik yang pasti dari sisi historis dan dari sisi realitas bahwa apapun upaya yang benar, yang dicurahkan di tengah-tengah ummat, maka pasti dia akan mendatangkan buah. Sebab belum pernah terjadi di tengah ummat ini, ada seorang yang menyeru tapi tak seorangpun yang menjawab seruannya, atau dia memberi nasehat, tapi tak seorangpun yang mau mengambil nasehat atas perintahnya dan larangannya, atau seorang alim duduk untuk memberikan ta`lim, tapi tak seorangpun yang mau duduk mendengarkannya. Tapi setiap penyeru akan mendapat orang yang mau menerima dakwahnya, sebab keadaan ummat belumlah sampai pada keadaan seperti yang dikhabarkan Nabi Saw., di mana "Kekikiran dipatuhi, hawa nafsu diperturut, dunia diutamakan, dan setiap orang yang punya pendapat bangga dengan pendapatnya sendiri". Keadaan ini sama sekali belum sampai terjadi dalam skala ummat secara keseluruhan. Bisa jadi terjadi pada skala individu atau beberapa individu atau kelompok. Akan tetapi pada diri ummat sekarang masih terdapat banyak kebaikan, masih ada di kalangan mereka orang-orang yang mau merespon dan menerima dakwah, menaruh perhatian dengan seksama suara pemberi nasehat apabila dia berbicara dengan ilmu dan hikmah. Justru kita dapati di kalangan ummat-ummat kafir sekarang ini, yakni di Amerika, di Eropa dan negeri-negeri yang lain, orang yang mengusung bendera dakwah ilallaah memperoleh respon dan penerimaan dari orang-orang kafir atas dakwah mereka. Di banyak pusat-pusat dakwah Islam, mereka menyampaikan kepada kami data statistik orang-orang yang masuk Islam dalam
11

Lihat kisah tersebut dalam kitab Al Fakhir hal 90-91, Az Zaahir II/195-196 dan Al Lisaan, maadah Kas`u

16

seminggu. Jumlah mereka puluhan, dari kalangan lelaki dan wanita. Hakekat sejarah dan fakta yang membuktikan bahwa setiap jerih upaya pasti mendatangkan buah ini, juga merupakan hakekat syar`i: Allah Ta`ala berfirman: "Maka barangsiapa mengerjakan amal shaleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran atas usahanya itu, dan sesungguhnya Kami menulis usahanya itu untuknya" (Qs Al Anbiyaa` 94) Dan berfirman: "Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu dengan sebab kebenarannya" (Qs Al Ahzab 24) Nabi Saw. bersabda: "Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka dia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka"12 Dan bersabda: "Barangsiapa membuat contoh yang baik di dalam Islam, maka kelak dia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan amalan baik itu sesudahnya sampai hari kiamat"13 Jadi setiap amalan akan memperoleh balasan, dan setiap penyeru akan memperoleh pengikut. Ketiga: Tawadhu`

12

HR. Muslim 2674, At Tirmidzi 2676, Abu Dawud 4609. Semuanya dari hadits Abu Hurairah. 13 HR. Muslim 1017, An Nasa`i 2554, keduanya dari hadits Jarir bin `Abdullah Al Bajali.

17

Tawadhu` adalah seorang yang mengerti kedudukan dirinya dan menjauhi sifat takabur. Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia, sebagaimana sabda Nabi Saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim serta yang lain.14 Tawadhu` pada asalnya adalah untuk orang besar yang dikhawatirkan merasa besar dalam pandangan matanya sendiri, maka saat itu dikatakan padanya: merendahlah, niscaya kau jadi seperti bintang yang nampak di atas permukaan air oleh si pemandang, padahal ia tinggi// Adapun orang biasa, maka tidak dikatakan padanya: "Tawadhu`lah", tapi dikatakan padanya "Kenalilah kedudukan dirimu, dan jangan letakkan ia pada selain tempatnya!" Al Khaththabi meriwayatkan kisah dalam kitabnya "Al `Uzlah", bahwa Imam yang tiada dua `Abdullah bin Mubarak pernah datang ke negeri Khurasan. Lalu dia menuju rumah seorang lelaki yang masyhur kezuhudan dan kewara`annya. Ketika Ibnu Mubarak sampai ke tempatnya, lelaki tadi tidak memalingkan muka kepadanya dan tidak memperdulikannya. Maka Ibnu Mubarakpun keluar meninggalkan tempatnya. Lantas salah seorang yang ada di dekatnya mengatakan padanya: "Tahukah kamu, siapakah orang tadi?" "Tidak" Jawabnya. Orang itu mengatakan: "Itu adalah Amirul Mu`minin dalam hadits .. itu adalah .. itu adalah .. itu adalah `Abdullah bin Mubarak." Lelaki tadi terhenyak mendengar perkataan tersebut, segera dia keluar menyusul Ibnu Mubarak untuk minta maaf padanya dan minta supaya dia tidak mengambil hati atas apa yang baru saja terjadi. Dia berkata pada Ibnu Mubarak: "Wahai Abu `Abdurrahman, ma`afkan kekhilafanku dan beri aku nasehat!" `Abdullah bin Mubarak menjawab:"Ya .. jika kamu keluar dari rumahmu, maka jangan sampai pandangan matamu menatap seseorang kecuali kamu menganggap bahwa dia lebih baik daripadamu" Yang demikian itu karena dia melihat orang tadi bangga dengan dirinya sendiri. Maka diapun menanyakan tentangnya,

14

HR. Muslim 91, At Tirmidzi 1999 dan Abu Dawud 4092.

18

ternyata dia adalah orang yang melagak cara jalannya (sikap sombong).15 Imam dan murabbi besar ini melihat bahwa di dalam diri lelaki zuhud itu ada sifat sombong, congkak dan merasa lebih tinggi daripada orang lain .. dan ia adalah penyakit yang kadang cepat menjalar pada orang-orang yang zuhud .. maka dari itu beliau memberikan bekal nasehat yang sesuai dengan keadaannya. Sering kita jumpai pada diri sebagian orang-orang shaleh, kadang para da`i, bahkan pada diri para pelajar kecil, seseorang yang kurang adabnya/sopan terhadap Syeikh-syeikh mereka, ulama-ulama mereka dan ustadz-ustadz mereka .. sungguh tindakan tersebut betul-betul mengusik hati dan menyakitinya! Tak mengapa kamu berbeda pendapat atau ijtihad dengan seorang alim atau seorang da`i kapan kamu memang ahli dalam perkara itu .. tapi salah dan tak bisa diterima kalau perbedaan tersebut menjadi cangkul penghancur terhadap kedudukan orang alim tadi, menjatuhkan martabatnya, meremehkannya dan bertindak tidak sopan terhadapnya. Jika sikap ini boleh terjadi pada orang-orang awam, atau pada ahli bid`ah dan orang-orang yang sesat, maka ia tidak boleh terjadi sama sekali pada diri Ahlus Sunnah dan para penuntut ilmu syar`i: Mereka telah mendidikmu untuk satu perkara sekiranya kau memahaminya maka jagalah dirimu jangan sampai kau gembala bersama binatang liar// Sesungguhnya para ulama Ahlus Sunnah wal Jama`ah khususnya, dituntut untuk beramar ma`ruf dan nahi munkar, dan bersabar dengan niat karena Allah dalam meluruskan kebengkokan para pemuka kaum .. jika orang yang paling dekat dengan mereka tidak mau menolong mereka, maka tak usah menunggu pertolongan dari mereka. Karena setiap ulama Ahlus Sunnah wal Jama`ah adalah bak ksatria pemberani, tidak ada yang tertinggal di belakang mereka kecuali kaum wanita! Seandainya kaumku, panah-panah mereka bisa membuatku bicara pasti aku bicara, akan tetapi anak panah itu telah ditelantarkan//
15

Kitab Al `Uzlah 220.

19

Sekiranya golongan Ahlus Sunnah mau melindungi kehormatan ulama-ulama mereka, mengetahui kedudukan mereka dan berhimpun di sekeliling mereka, pasti dukungan tersebut membuat mereka mampu menjalankan kewajiban amar ma`ruf dan nahi munkar menurut cara yang benar. Akan tetapi karena orang alim tadi ditelantarkan oleh orang-orang yang ada di belakangnya, maka dia tak mampu bicara apapun. Sungguh sangat ironis sekali melihat kenyataan bahwa keadaan sebagian golongan ahli bid`ah justru bertolak belakang dengan realita kenyataan di atas. Bahkan keadaan mereka sampai pada tingkat mengkultuskan syeikh-syeikh dan pemimpin-pemimpin mereka. Mereka berjalan di belakang para pemimpinnya dengan bentuk pengikutan yang tertolak (menurut pandangan syar`i) .. yang mana ia pada hakekatnya adalah bentuk peribadatan, dan larutnya taabi` /pengikut pada matbuu`/ yang diikut. Inilah adat kebiasaan firqah-firqah bathiniyah (aliran-aliran kebatinan) di sepanjang era masa, di mana mereka mendoktrin para pengikutnya untuk memberikan derajat `ishmah (suci dari kesalahan) pada pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpinnya. Bahkan golongan Mu`tazilah yang menggunakan "akal" --untuk memahami agama --, yang unsur perasaan hampirhampir tidak memiliki tempat dalam logika pemikiran mereka sekalipun .. ada di antara para penyairnya yang mengatakan tentang guru mereka Washil bin `Atha`16 Dia punya pengganti di setiap negeri, di daratan China hingga Susatul Aqsha dan negeri Barbar para juru dakwah yang tak kenal kendur tekad mereka oleh kemarahan si lalim..ataupun tipu daya si kancil bila dia berkata "Jalanlah" di musim dingin, segera mereka bergegas-gegas dan jika datang musim panas, maka dia tak takut bulan kemarau
16

Adz Dzahabi mengatakan dalam kitabnya Al Miizan IV/329: Washil bin `Atha Al Bashri Al Ghazzali, seorang ulama ahli kalam, fasih bahasanya dan seorang orator ulung, yang rusak pemikirannya. Saya katakan --yakni Adz Dzahabi--: Dia termasuk biang pentolan Mu`tazilah. Dia mengambil sikap tawaqquf (diam tidak menentukan sikap) terhadap keadilan Ahlul Jamal (para sahabat yang ikut terlibat dalam perang Jamal). Dia mengatakan bahwa salah satu kelompok telah fasik karena pembangkangannya terhadap pemimpin yang sah. Sekiranya `A'isyah, `Ali dan Thalhah bersaksi bersamasama, maka aku tidak akan memutuskan hukum dengan kesaksian mereka."

20

mereka adalah pengikut agama Allah di setiap negeri dan para pemilik fatwa dan ilmu perselisihan. Golongan Ahlus Sunnah lebih patut untuk menghargai dan memuliakan ulama-ulama mereka daripada mereka, tak ada kebaikan pada ummat yang orang-orang kecilnya tidak memuliakan orang-orang besarnya, dan orang-orang besarnya tidak menyayangi orang-orang kecilnya. Di antara sikap tawadhu`, bahkan termasuk bagian daripada mengetahui kapasitas diri, adalah seorang pemuda pemula tidak menganggap dirinya sebagai tandingan bagi orang alim ini atau itu, dan mengatakan: Mereka lelaki .. dan kamipun lelaki!! Kenyataannya adalah bahwa rujulah (kelelakian) itu berbeda.. sesungguhnya sifat rujulah dalam Al Qur`an disebut dalam konteks pujian, di beberapa tempat: { } "Di dalamnya ada lelaki-lelaki yang suka membersihkan diri" (Qs At Taubah 108) } { "Di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk diluhurkan dan disebut nama-Nya di dalamnya; bertasbih di dalamnya pada waktu pagi dan petang lelaki-lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang." (Qs An Nuur 36-37) Rujulah kadang digunakan untuk menunjukkan sifat kelamin dan gender saja, sebagaimana disebutkan di beberapa tempat dalam Al Qur`an, antara lain: "Dan sesungguhnya ada beberapa lelaki di antara manusia minta perlindungan kepada beberapa lelaki di antara jin." (Qs Al Jin 6)

21

Jadi lelaki itu tidaklah sama (tingkatan)nya, di mana gerangan letak bumi dari bintang kartika?! Barangkali anda melihat seorang pelajar kecil yang tidak hafal Al Qur`an kecuali hanya sedikit saja, malah hampir-hampir tidak hafal satupun matan hadits Al Bukhari atau Muslim, lebihlebih hafal sanad atau maknanya .. kendati demikian dia berani menentang para pakar ulama seolah-olah dia adalah Abu Hanifah atau Asy Syafi`i! Dan dengan lancangnya mengatakan: Saya berpendapat .. saya .. saya katakan .. menurut saya! Berkata "Ini menurut kami" tidaklah boleh Siapakah kalian gerangan sehingga merasa punya sesuatu?! Dan di antara sikap tawadhu` adalah seseorang berlaku tawadhu` terhadap kawan-kawannya. Sering terjadi, perselisihan yang timbul di antara kawan dan musuh adalah disebabkan karena spirit munafasah/rivalitas dan tahaasud (saling dengki). Boleh jadi karena seseorang merasa lebih tinggi daripada kawannya, boleh jadi dia senang mencemarkan nama baiknya, menjatuhkan martabatnya, merendahkan kedudukannya, menyebarkan aib yang sebenarnya tidak ada padanya, atau membesar-besarkannya. Kadang spirit munafasah atau tahaasud tersebut nampak dalam bentuk rupa "Nasehat, pelurusan dan catatan komentar". Jika perkara-perkara ini dinamai dengan nama-nama aslinya, niscaya akan dikatakan sebagai "Kecemburuan" Anehnya seorang da`i dicemburui karena berkumpulnya seribu orang atau dua ribu orang jama`ah pengajian dalam satu majlis ilmu atau pengajian akbar diadakannya, akan tetapi orang yang mencemburui itu tidak bereaksi apapun kalau dia mendengar ada konser musik atau pertandingan olah raga yang dihadiri lebih dari dua puluh ribu atau tiga puluh ribu orang. Demi Allah, ini termasuk musibah, bahkan taruhlah kata kamu tidak senang pada saudaramu dalam sesuatu hal, maka cukuplah --bagi kamu untuk menjaga kehormatannya-- dia menyeru ke jalan Allah dan mengajarkan agama kepada manusia, dan secara umum dia berada di jalan yang lurus: Siapakah orang yang kau ridha pada seluruh watak perangainya? cukuplah seseorang disebut mulia, engkau menghitung cacat aibnya?

22

Boleh jadi kebenaran ada padanya pada sebagian perkara yang kamu kritik. Di antara sikap tawadhu` adalah: Berlaku tawadhu` pada orang yang ada di bahwa tingkatanmu. Apabila kamu menemui seseorang yang lebih muda umurnya darimu, atau lebih rendah kedudukannya darimu, maka janganlah kamu meremehkannya. Boleh jadi orang tadi lebih sehat hatinya daripadamu, atau lebih sedikit dosanya daripadamu, atau lebih besar taqarrubnya kepada Allah daripadamu. Bahkan sekiranya kamu melihat seorang fasik dan kamu kelihatan lebih shaleh daripadanya, maka janganlah kamu berlaku sombong terhadapnya. Pujilah Allah lantaran Dia telah menyelamatkanmu dari ujian yang Dia berikan padanya, dan hendaknya kamu senantiasa ingat bahwa boleh jadi dalam amalamal shalehmu terdapat unsur riya` atau ujub yang bisa menghapuskannya, atau boleh jadi pada diri pendosa tersebut terdapat rasa penyesalan, perasaan remuk redam dan ketakutan terhadap dosa-dosanya, yang bisa menjadi sebab diampunkannya dosa-dosanya. Dari Jundab ra., bahwasanya Rasulullah Saw. pernah bersabda: : : " "Ada seorang lelaki yang berkata: "Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si Fulan" Lantas Allah Ta`ala berfirman: "Siapa gerangan yang berani bersumpah atas nama-Ku kalau Aku tidak akan mengampuni si Fulan? Sesungguhnya aku ampuni si Fulan, dan aku hapuskan amal-amal (baik)mu"17 Jadi kamu jangan bersikap sombong terhadap seseorang, bahkan sekiranya kamu melihat orang fasik, maka kamu jangan merasa lebih tinggi darinya, atau kamu mempergaulinya dengan sikap seorang penguasa yang sombong. Sekiranya seorang juru dakwah dan juru nasehat merasa bahwa boleh jadi orang fasik itu mempunyai amal-amal keta`atan yang tidak ada padanya, dan dia mempunyai aib yang boleh jadi tidak ada pada diri kawannya, niscaya dia akan mempergaulinya dengan sikap belas kasih, dan berlaku lembut

17

HR. Muslim 2621.

23

padanya di dalam dakwah, yang diharapkan bisa menjadi sebab penerimaan dan peringatan. Dan di antara sikap tawadhu` adalah: Jangan sampai amalmu nampak besar dalam pandangan matamu, apabila kamu berbuat kebaikan, atau kamu melakukan taqarrub kepada Allah Ta`ala dengan satu keta`atan, sebab bisa jadi amal kebaikan tersebut tidak diterima " Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal kebaikan) dari orang-orang yang bertakwa" (Qs Al Maa-idah 27). Maka dari itu, salah seorang salaf pernah mengatakan: "Sekiranya aku tahu, bahwa Allah menerima satu (ucapan) tasbih saja dariku, niscaya aku mengangankan mati sekarang!" Dan di antara sikap tawadhu` adalah, kamu mau mendengar nasehat, karena syetan akan menghasutmu untuk menolaknya dan berprasangka buruk terhadap si pemberi nasehat. Oleh karena makna nasehat adalah saudaramu mengatakan padamu: "Sesungguhnya pada dirimu ada aib begini dan begitu" : Adapun orang yang dilindungi Allah Ta`ala, maka bila ada yang menasehatinya dan menunjukkan aib-aibnya, maka dia akan menundukkan nafsunya, menerima nasehatnya, mendo`akannya dan berterima kasih kepadanya. Maka dari itu, Nabi Saw pernah berkata menerangkan makna kata takabur: "Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang" 18 Yakni, menolak kebenaran dan merendahkan manusia, dalam segala persoalan mereka. Jadi orang sombong adalah orang yang merasa dirinya besar, hampir-hampir tak mau memuji seseorang atau menyebut kebaikannya. Dan jika terpaksa harus menyebut kebaikan orang, maka dia membumbuinya dengan menyampaikan sebagian dari aib-aib kekurangannya. Adapun jika dia mendengar orang lain menyebut sebagian dari aibnya, maka mana mungkin, mana mungkin dia mau kembali segera atau bersikap lunak. Sikap yang demikian itu adalah dikarenakan perasaan rendah dirinya. Maka dari itu, termasuk di antara kesempurnaan pribadi manusia adalah dia
18

Telah disebutkan pentakhrijannya di muka.

24

menerima kritik dan komentar tanpa rasa cemas atau perasaan malu dan rendah diri. Inilah dia Amirul Mu`minin `Umar bin Khaththab, mengusung bendera dan meninggikan syi`ar: "Semoga Allah merahmati seseorang yang mau menunjukkan padaku aib kekuranganku" Keempat: Adil Adil adalah sebuah kata umum yang maknanya: Bersikap tawassuth (tengah-tengah). Dan ia adalah sifat orang-orang Islam, dan sifat golongan Ahlus Sunnah wal Jama`ah dalam semua hal tanpa kecuali. Adil adalah memberikan kepada setiap orang yang memiliki hak, haknya. Ruang lingkup keadilan dan bentuknya sangatlah banyak, tak mudah membatasinya. Akan tetapi inilah sebagian dari contoh-contoh pentingnya: a. Adil terhadap musuh dan kawan: Banyak orang, jika dikatakan padanya tentang diri kawannya, maka dia memujinya, meski dia tahu bahwa kawannya tadi tidak layak menerima pujian tersebut; sebaliknya jika dikatakan padanya tentang diri musuhnya, maka dia mencelanya, meski dia tahu bahwa keadaan orang tadi berbeda dengan apa yang dia katakan. Apakah seorang da`i mampu memberitahukan aib kekurangan orang yang paling dekat dengannya di antara orang yang se manhaj dan se thariqah dengannya?! Atau orang yang jadi rekan bisnisnya?! Apakah dia mampu menyampaikan pujian dengan tulus terhadap orang yang berbeda pendapat dengannya dalam suatu masalah? Jika dia mampu melakukannya, berarti dia telah mewujudkan keadilan pada aspek tersebut. Akan tetapi kebanyakan orang bersikap tidak adil terhadap musuh mereka dan mencela mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka; dan berlaku tidak adil pula terhadap kawan-kawan mereka dengan memuji mereka dengan sesuatu yang tak ada pada diri mereka .. sikap seperti ini, meski nampaknya mencintai

25

dan memuji tapi hakekatnya adalah ketidak adilan dan celaan. Siapa yang memujimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu, berarti dia mencelamu, oleh karena orang akan mencari sifat tersebut pada dirimu dan mereka tidak mendapatinya, maka yang terjadi kemudian adalah mereka mencelamu karena ketiadaannya. Allah Ta`ala telah memerintah kita supaya berlaku adil bahkan terhadap musuh kita sekalipun: Allah Ta`ala berfirman: "Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (Qs Al Maa-idah 8) Sungguh sangat menyedihkan, meski kita ini telah menerima hal ini secara teoritis, tetapi dari sisi praktek kita cepat melupakan pelajaran tersebut. Ketika kita menyikapi apa yang kita anggap sebagai kesalahan dari Fulan, maka kita menggugurkannya dari hitungan, tidak menghiraukannya dan tidak memperhatikannya. Sering kita melupakan banyak kebaikan orang hanya karena aib kekurangannya yang sedikit, atau melupakan banyak aib kekurangan orang hanya karena kebaikannya yang sedikit. Tak hanya sampai di situ, persoalannya jauh lebih gawat dan lebih memilukan! Barangkali persoalan sebenarnya adalah, kita sering melupakan banyak kebaikan hanya lantaran sedikit aib kekurangan .. kita melupakan kaedah syar`i yang mengatakan: "Apabila volume air mencapai dua qullah, maka ia tidak membawa najas (kotoran)"19 b. Adil di dalam meluruskan Kitab-kitab: Ketika sebuah kitab terbit, maka tidak adil jika kamu mengatakan bahwa kitab tersebut berisi hadits-hadits mau`dhu` atau dha`if --sebagai contoh misal-- atau pendapat-pendapat yang ganjil. Lalu kamu menyebut sisi gelap dari kitab itu, dan melupakan sisi lain yang ada padanya, bahwa ia berisi juga petunjuk-petunjuk yang berguna atau bahasan-bahasan ilmiah.
19

Nash hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan para penulis Kitab Sunan. Hadits ini dishahihkan oleh Ath Thahawi, Ibnu Khuzaimah, Al Hakim, Adz Dzahabi, An Nawawi dan Ibnu Hajar. Lihat Kitab Irwaa`ul Ghaliil.

26

Jika kamu cuma menyebut separuh kenyataan dan mengabaikan kenyataan yang lain darinya, maka ini bukanlah sikap amanah. Banyak orang, hanya cuma melihat satu kesalahan dalam sebuah kitab, maka dia mewaspadainya dan memperingatkan orang supaya berhati-hati terhadapnya, oleh karena kitab tersebut menyitir satu hadits dha`if, atau ia membuat satu kesalahan dalam satu masalah. Jika kita menyikapi kitab-kitab tulisan ulama dengan tolok ukur seperti ini, maka tak ada kitab yang selamat dari kritikan kita. Shahih Al Bukhari --ia adalah kitab yang paling shahih setelah Kitabullah Ta`ala-- apakah dia berisi kebenaran mutlak? Sekali-kali tidak, beliau memutihkan/mengosongkan sebagian tempat, di mana beliau tidak menempatkan hadits-hadits di bawah pasal-pasal pembahasannya. Di dalamnya ada haditshadits mu`allaq (yang tidak disebutkan sanadnya) bukan hadits maushul (bersambung sanadnya), dan pada sebagian riwayatriwayat shahih terdapat ikhtilaf. Tak ada kitab di luar Kitabullah yang bebas sama sekali dari kekurangan dan kesalahan, maka dari itu tidak seharusnyalah kita menyebut aib dan cacat suatu kitab, kecuali kita sampaikan pula sisi-sisi baiknya, jika memang buku tersebut terdapat hal-hal yang baik. c. Adil di dalam memvonis dakwah-dakwah dan harakahharakah: Sejak runtuhnya khilafah Islam, timbul di dunia Islam banyak dakwah-dakwah dan harakah-harakah yang bertujuan menegakkan kembali khilafah Islam dan hukum Islam, atau bertujuan menyampaikan dakwah di kalangan orang-orang non Islam, atau bertujuan menghidupkan as sunnah, atau tujuantujuan mulia lain yang serupa dengannya. Dakwah-dakwah ini berbeda methode, prinsip dan tujuannya, dan berbeda pula kedekatan atau jauhnya ia dari manhaj Al Kitab dan As Sunnah. Banyak orang berbicara mengenai dakwah-dakwah ini dan melakukan studi pengkajian atasnya dari berbagai sisi. Masalah yang hampir hilang dalam banyak studi-studi kajian tadi adalah "keadilan". Banyak kitab yang tidak menjelaskan afiliasi dakwah

27

ini dan cuma mengagumi manhaj-manhaj dan thariqahthariqahnya. Ia memuji habis-habisan terhadapnya. Sementara di sisi lain ada kitab yang berlaku aniaya terhadapnya, ia hanya melihat kekurangannya saja, menerangkan ini dan itu untuk melenyapkan hakekat yang sebenarnya. Allah Ta`ala menyukai keadilan dan membenci ketidak adilan. Siapa yang lemah pada satu sisi maka tidak harus lemah pada semua sisi, dan tidak boleh keburukan-keburukan mereka yang banyak melupakanmu dari sedikit kebaikan mereka. Terkadang kamu mendengar seseorang berbicara mengenai sekelompok da`i yang menyeru ke jalan Allah, lalu dia merubah mereka (para da`i itu) menjadi sekelompok syetan, sampai-sampai ia menafsirkan ucapan syahadatain mereka dengan penafsiran yang memalingkannya dari makna zhahirnya secara langsung, dan menakwilkan perbuatan-perbuatan mereka dengan penakwilan yang bisa dipercaya pada sebagian daripadanya namun tidak bisa dipercaya pada kebanyakan di antaranya. Mengeneralisir (memukul rata) satu persoalan adalah sebuah kesalahan, tapi wajib bagi siapa yang hendak membicarakan tentang kelompok-kelompok dakwah serta manhaj-manhaj mereka, untuk menerangkannya dengan detail dan rinci, menjaga akurasi kata dan menyampaikan sisi-sisi terangnya hingga sisi-sisi gelapnya. Para pemimpin golongan Ahlus Sunnah wal Jama`ah dahulu juga menyebut para ahli Bid`ah, mencela mereka dan memperingatkan orang supaya berhati-hati terhadap mereka, kendati demikian mereka menyampaikan pula jasa-jasa mereka di dalam menolak orang yang lebih parah bid`ahnya daripada mereka, atau jasa mereka di dalam menyeru sebagian orangorang kafir untuk masuk ke dalam agama Islam, yang mana orang-orang kafir tadi berubah menjadi orang-orang Islam ahli bid`ah, dan ini tidak diragukan lagi lebih baik daripada keberadaan mereka di atas kekafiran, atau jasa mereka di dalam menolak sejumlah serbuan militer musuh, atau jasa mereka dalam melakukan amal-amal kebaikan. Maka termasuk bersikap adil, kita tidak melalaikan bid`ah mereka dengan hujjah bahwa mereka telah berbuat banyak kebaikan dalam Islam, sebagaimana kita tidak melalaikan kebaikan-kebaikan mereka dengan hujjah bahwa mereka adalah para ahli bid`ah, tapi kita menghimpun dua hal di atas.

28

d. Adil di dalam memandang jerih upaya dan perjuangan dakwah: Di sana ada jerih upaya di medan dakwah ilallah yang tidak ada hubungannya dengan kelompok tertentu, dan ia adalah amal (upaya perjuangan) jihad atau amal dakwah, di mana cita-cita dan semangat kaum muslimin atau beberapa kelompok di antara mereka harus saling bahu membahu mewujudkannya. Dan jerih upaya tersebut adalah jerih upaya yang manusiawi sifatnya, bisa salah dan bisa benar, tak ada jaminan `ishmah di dalamnya. Maka dari itu termasuk maslahat nyata, kita "meluruskan" upaya-upaya perjuangan ini dengan benar dan adil, supaya kita bisa memanfaatkan sisi-sisi positipnya, memperluasnya dan memperdalamnya; serta mengeliminir sisi-sisi negatipnya serta membebaskan diri daripadanya, supaya kita tidak mengulang kesalahan yang sama, dan kaum muslimin bisa kembali dari titik mana mereka mengawalinya . Akan tetapi maslahat nyata ini kadang hilang di antara dua kelompok: Kelompok yang memandang bahwa upaya perjuangan ini telah sempurna, tidak ada cacat kekurangan di dalamnya, lalu mereka melemparkan panah tuduhan dan keraguan terhadap setiap orang yang menyampaikan kritik dan komentar terhadapnya. Dan kelompok yang hanya memandang aib kekurangannya saja, sehingga mereka tidak melihat manfaat apapun yang bisa diambil dari upaya perjuangan tersebut. Ambil satu contoh misalnya: Jihad Afghan .. jihad yang berlangsung lebih dari sepuluh tahun lamanya ini, penuh dengan cucuran keringat, darah, pengorbanan, penjagaan, penderitaan dan kerja keras! Kadang kamu dapati, ada orang yang menggambarkan jihad ini seakan-akan ia bersih dari kesalahan dan bebas dari aib kekurangan, sehingga seakan-akan ia adalah jihadnya para sahabat radhiyallaahu `anhum, yang tidak menerima kritik, pengarahan dan komentar di dalamnya. Sebaliknya, kadang kamu dapati, ada orang yang membicarakan tentang mujahidin Afghan, lantas mereka menuduh mereka sebagai orang-orang bodoh dan ahli bid`ah

29

tanpa memberikan pertimbangan dalil ataupun detail keterangan apapun. Cuma menyampaikan dalih alasan bahwa sebagian mereka memakai jimat! Atau ada bid`ah-bid`ah yang mereka kerjakan di sejumlah masjid. Bahkan urusannya sudah melewati batas ketika salah seorang di antara mereka mengatakan: "Mereka adalah orang-orang musyrik yang memerangi orangorang mulhid (atheis, komunis)!" Saya membaca tulisan salah seorang di antara mereka, sebagai ulasan komentar yang amat gegabah terhadap salah satu jama`ah salafiyah yang ada di sana, bahwa siapa yang tidak mengkafirkan mereka, maka dia kafir!! Jika demikian vonis hukumnya terhadap kelompok salaf .. lantas bagaimana halnya vonis mereka terhadap kelompok yang lain?! Allah-lah tempat kita memohon pertolongan. Di mana neraca keadilan yang telah dibuat Allah untuk ummat ini? Apakah seperti ini yang dinamakan ittibaa` haqiqi (pengikutan yang sejati) terhadap Rasulullah Saw., yang dahulu memberitahukan pada manusia kedudukan mereka masingmasing, tanpa mengurangi sedikitpun apa yang menjadi hak mereka. Dulu, beliau menyanjung orang dengan kebaikan yang ada padanya, jika memang hal itu bermaslahat, kendati sahabat tadi tidak terbebas sama sekali dari kesalahan! Bukankah beliau pernah menyanjung Raja Najasyi, dan menyebutnya sebagai "Raja yang tak seorangpun mendapat perlakuan aniaya di sisinya"20 padahal waktu itu, raja Najasyi masih kafir belum masuk Islam!! Sesungguhnya ada di sana sekelompok da`i yang boleh jadi kamu pandang dengan mata sebelah, boleh jadi dengan mata senang, sehingga kamu melupakan aib kekurangan dan kesalahan yang kamu ketahui padanya, untuk kamu perbaiki dan kamu luruskan; dan boleh jadi dengan mata benci, sehingga kamu tidak melihat kecuali hanya keburukan-keburukannya saja! Mata yang ridha, lemah melihat setiap aib kekurangan dan mata yang benci, jelas melihat cacat keburukan Pabila yang dicinta sedikit keberuntungan, maka tiadalah
20

HR. Ibnu Ishaq dalamkitab As Siyar wal Maghaazii (213), Al Baihaqi IX/9, dan Ahmad dalam Musnad V/290. Adapun isnadnya hasan lantaran ihwal Ibnu Ishaq.

30

kebaikan-kebaikannya kecuali nampak sebagai aib kekurangan// Para da`i harus mengetahui hukum-hukum yang adil yang memegang teguh neraca keadilan, dan melalui neraca keadilan tersebut kamu memandang dengan pandangan yang objektif lagi berimbang, yang mana kamu tidak ingin terpengaruh oleh sentimen negatip ataupun positip:

"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (Qs Al Maa-idah 8) e. Adil dalam berinteraksi dengan nash-nash syar`i: Nash-nash syar`i yang muhkamat (terang dan tegas maksudnya) ini, semuanya merepresentasikan "Agama", wajib diterima, dita`ati dan diimani. Tak satupun di antara nash-nash tadi yang "boleh ditinggalkan" selama kedudukannya muhkam dan tidak mansukh (dihapuskan hukumnya). Termasuk bersikap adil, kamu menjaga keseimbangan di dalam melihat nash-nash ini, jangan kamu ambil sebagian dan kamu tinggalkan sebagian yang lain, khususnya nash-nash yang datang di satu tempat, atau di dua tempat yang saling berhadapan. Ada sebagian orang yang mengambil nash-nash yang berisi ancaman seperti hadits " Tak akan masuk surga seorang pemutus hubungan"21 atau " Tak akan masuk surga seorang tukang fitnah "22 atau "Kafirlah seseorang yang mengingkari nasabnya, sekecil apapun " .. atau .. atau hadits yang lain, lalu dia menjadikan hadits tadi sebagai dasar untuk mengkafirkan manusia dengan sebab amal-amal perbuatan tadi dan dengan sebab perbuatan-perbuatan lain yang sekategori dengannya, bersandar pada zhahir nash-nash tersebut, dan lupa atau sengaja melupakan nash-nash lain yang datang menyampaikan "Janji dan harapan", seperti hadits `Utban:
21 22

HR. Al Bukhari (5984), Muslim (2556) dan Abu Dawud (1996) HR. Al Bukhari (6056)m Muslim (105), Abu Dawud (4771) dan At Tirmidzi (2127)

31

"Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan "Laa ilaaha illallaah", untuk mencari keridhaan Allah dengannya"23 atau hadits: "Barangsiapa bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan bahwa `Isa adalah hamba dan utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang Dia tiupkan ke (rahim) Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah benar, dan bahwa neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga berdasarkan amalnya."24 Sementara di pihak lain ada sebagian orang yang justru berbuat sebaliknya. Mereka mengambil nash-nash berisi janji dan harapan saja, dan membuat manusia merasa aman dari makar Allah, dan dia melupakan nash-nash yang berisi ancaman: "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Al Kitab, mereka mengambil harta dunia yang rendah ini dan berkata: "Kami akan diberi ampunan." Dan jika datang pada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula) niscaya mereka akan mengambilnya (juga)" (Qs Al A`raaf 169) Yang adil adalah, kita mengambil nash-nash yang ini dan nash-nash yang itu, meletakkan yang ini di satu anak timbangan, dan yang itu di anak timbangan yang lain sehingga timbangan berimbang dan sama rata. Termasuk bersikap adil, kita mengambil nash-nash syar`i secara keseluruhan, baik yang bersifat kulliyah (global) maupun bersifat juz`iyah (parsial). Agama itu seluruhnya adalah untuk Allah, tak ada di dalam agama perkara yang boleh diremehkan, atau diabaikan atau disia-siakan. Karena itu Nabi Saw. berkata pada saat beliau menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang
23 24

HR. Al Bukhari (4623) dan Muslim (33) HR. Ahmad V/314, Al Bukhari (3435), Muslim (28) dan At Tirmidzi (2640)

32

pengertian iman, Islam dan ihsan: "Itu Jibril, datang pada kalian untuk mengajarkan pada kalian urusan agama kalian."25 Karena itu, jika seseorang mengingkari satu perkara yang diketahui dengan pasti berasal dari agama, mutawatir lagi baku hukumnya, niscaya dia kafir karenanya. Kendati yang dia ingkari adalah perkara sunnah atau fardhu kifayah, seperti shalat dua raka`at sebelum shubuh, adzan dan yang semisalnya. Tidak ada di dalam agama yang namanya "Kulit" atau "Perkara yang remeh", sebagaimana istilah yang digunakan oleh sebagian orang-orang yang bicara serampangan tanpa dasar hujjah dan pertimbangan. Yang ada di sana adalah prioritas, seperti memulai lebih dahulu masalah-masalah akidah, mendahulukan perkara-perkara kulliyat atas perkara-perkara juz`iyat. Jadi jika kamu melihat beberapa kesalahan pada diri orang, maka adalah bijaksana jika kamu meluruskan lebih dahulu kesalahannya yang terbesar sebelum yang terkecil. Tidaklah bijaksana jika kamu mencelanya karena dia meninggalkan sebagian dzikir-dzikir yang disunnahkan, sementara dia meninggalkan kewajiban shalat dan rukun-rukunnya. Dan tidaklah dibenarkan kamu menyampaikan serangkaian nasehat padanya, dengan melarang dia merokok misalnya, sementara dia terjerumus dalam kemusyrikan. Tahapan dalam dakwah, adalah pasti dalilnya dalam wasiat Nabi Saw. pada Mu`adz bin Jabal, saat beliau mengutus dia ke negeri Yaman: "Sesungguhnya kamu akan mendatangi segolongan kaum Ahli Kitab, maka hendaklah perkara yang pertama kali kamu serukan ialah ajakan untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Dan jika mereka mematuhimu atas seruan itu, maka ajarkanlah pada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu sehari semalam. Dan jika mereka mematuhimu atas seruan itu, maka ajarkanlah pada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shadaqah, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka, lalu dikembalikan kepada orang-orang miskinnya .. ..hadits."26 Jadi mendahulukan yang paling penting atas yang penting adalah syari`at nabawi, ia menjadi bagian dari manhaj dakwah
25 26

HR. AL Bukhari (50), Muslim (1009), Abu Dawud (4698) dan An Nasa`i (4990) HR. Al Bukhari (1458), Muslim (19), Abu Dawud (1584), At Tirmidzi (625), An Nasa`i (2435). Semuanya dari hadits Ibnu`Abbas.

33

Nabi Saw., dan ia merupakan bagian dari wasiat beliau pada para sahabatnya yang menjadi penyampai risalahnya. Sebagian da`i-da`i yang mukhlis, kadang fokus perhatian mereka berubah dan justru mereka mencurahkan perhatiannya pada beberapa masalah juz`iyah. Masalah-masalah tadi juga penting, tak ada keraguan di dalamnya, akan tetapi di sana ada masalah yang lebih penting daripadanya. Tugas seorang juru nasehat bukanlah untuk memalingkan perhatian para da`i dari masalah-masalah juz`iyah secara keseluruhan, atau membuat mereka meninggalkannya; sekali-kali tidak, tapi tugasnya adalah bekerja sesuai dengan posisinya, di tempatnya yang wajar yang pantas baginya, dan meletakkan masalah-masalah lain yang dibesar-besarkan orang pada posisi kedudukannya semula. Pernah suatu hari, dalam pelajaran kitab "Bulughul Maram", saya menerangkan kepada para siswa, bahwa Abu Sa`id ra berkata: "Jika salah seorang di antara kalian mendatangi masjid, maka hendaklah dia melihat kedua sepatunya, maka jika dia melihat pada keduanya sesuatu najis (kotoran), maka hendaklah dia membasuhnya dan shalat dengan (memakai) keduanya."27 Maka saya melihat, ini adalah kesempatan yang tepat untuk menjelaskan manhaj yang diridhai, dalam memahami hadits seperti ini: Tahap pertama, saya sampaikan hadits-hadits yang datang dari Rasulullah Saw., yang menerangkan tentang shalat memakai sepatu. Hadits-hadits tersebut secara garis besar ada lima: Pertama: Bahwa Nabi Saw dahulu pernah dengan sengaja melepas kedua sepatunya ketika mau shalat, sebagaimana hal itu diterangkan dalam hadits `Abdullah bin Sa`ib: "Ketika peristiwa Futuh Mekkah, aku melihat Nabi Saw. mengerjakan shalat, beliau meletakkan kedua sepatunya di sebelah kirinya." Kedua: Shalat Nabi Saw. memakai kedua sepatu, sebagaimana hal itu disebutkan dalam hadits Abu Sa`id ra.. Dan hadits lain yang senada maknanya, ada diriwayatkan oleh Abu Maslamah
27

HR. Abu Dawud (652)

34

Sa`id bin Yazid Al Azdi. Dia berkata: "Aku bertanya pada Anas bin Malik ra: Apakah Nabi Saw. dulu pernah shalat memakai kedua sepatunya?" Anas menjawab: "Ya"28 Ketiga: Bahwasanya Nabi Saw dahulu shalat dengan telanjang kaki dan memakai sepatu, sebagaimana hal tersebut diterangkan dalam hadits `Amru bin Syu`aib, dari ayahnya, dari kakeknya 29 , yakni: Kadang telanjang kaki, dan kadang memakai sepatu. Keempat: Perintah untuk meletakkan sepatu di antara kedua kakinya, dan tidak meletakkannya di kanannya atau di kirinya, kecuali jika tidak ada seorangpun di sebelah kirinya, sebagaimana hal tadi diterangkan dalam hadits Abu Hurairah 30 serta yang lain. Kelima: Perintah shalat dengan memakai kasut, sebagaimana hal tersebut diterangkan dalam hadits Syaddad bin Aus: "Selisihilah orang-orang Yahudi, sesungguhnya mereka tidak shalat memakai sepatu mereka ataupun memakai kasut mereka"31 Kemudian tahap kedua, saya sampaikan pendapatpendapat para fuqoha` di dalam masalah ini , dan ia ada tiga: 1__ Pendapat yang menyatakan makruhnya shalat memakai sepatu. Pendapat tersebut dinukil dari Ibnu `Umar dan Abu Musa Al Asy`ari. 2__ Pendapat yang menyatakan mustahabnya shalat memakai sepatu, dan ini merupakan madzhab mayoritas sahabat dan tabi`in seperti `Umar bin Khaththab ra, `Utsman bin `Affan ra, `Ali bin Abu Thalib ra, Anas bin Malik ra, Ibnu Mas`ud ra, `Atha' rhm, Mujahid rhm, Thawus rhm, Syuraih rhm .. serta yang lain. 3__ Pendapat yang mengatakan bolehnya shalat memakai sepatu, jika tidak ada najis padanya. Sebagaimana pendapat ini
28 29

Ditakhrij oleh Al Bukhari (386), Muslim (555), At Tirmidzi (400) dan An Nasa`i (775). HR. Abu Dawud (653) 30 HR. Abu Dawud (654-655) 31 HR. Abu Dawud (652) dan dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi.

35

dianggap kuat oleh Ibnu Al Khaththabi, Ibnu Daqiq Al `Ied, Ibnu Baththal, An Nawawi serta yang lain. Yakni: Shalat memakai sepatu tidak mustahab (disukai) menurut mereka. Ibnu Daqiq Al `Ied menyatakan bahwa bersentuhannya sepatu dengan tanah yang banyak najisnya, menjadikan sepatu itu tidak mampu menjadi hiasan, maka melepaskannya di dalam shalat adalah mustahab. Kemudian tahap ketiga, saya sampaikan tarjih (menentukan pendapat yang lebih kuat) menurut tuntutan dalil yang shahih dan sharih/jelas , dan ia adalah mustahabnya shalat memakai sepatu, dengan catatan harus menjaga perkara-perkara berikut: i. Melihat sepatu tersebut, dan merasa yakin bahwa ia bebas dari najis atau kotoran, sebagaimana hal tersebut diperintahkan Nabi Saw. dalam hadits Abu Sa`id. ii. Pemakaian sepatu tersebut tidak menimbulkan gangguan atau pencemaran, oleh karena kerasnya bunyi sepatu di dalam masjid, perbantahan yang panjang lebar, kata-kata kotor, dan dipenuhinya dada dengan kebencian, kedongkolan dan permusuhan, bahkan meninggalkan shalat berjama`ah sebagai wujud ekspresi kemarahan yang berlebihan .. semua itu bisa jadi dilakukan oleh sebagian orang masih perlu dita`lif/dijinakkan hati mereka. Dan di sejumlah kalangan masyarakat, musuh-musuh dakwah dan musuh-musuh manhaj yang shahih akan bergembira dengan adanya amalan seperti itu, mereka akan mengeksploitir orang-orang yang bodoh terhadap sunnah, untuk melemparkan tuduhan-tuduhan bohong kepada para para da`i, sehingga manusia lari dari mereka. iii. Pentingnya melakukan suatu amalan menurut prioritas kepentingannya. Kita ingin meluruskan akidah manusia, dan memperingatkan mereka dari berbagai macam kemusyrikan baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Dan kita ingin menggiring manusia untuk mengerjakan amalan-amalan yang fardhu dan wajib, mencegah mereka dari perkara-perkara yang haram, sebagaimana kita ingin mendorong mereka supaya mengerjakan perkara-perkara yang sunnah dan mustahab, dan memotivasi mereka untuk menjauhi perkara-perkara yang makruh. Tidaklah benar dalam pandangan yang sehat, bersikukuh mengajarkan sesuatu sunnah di antara perkara-perkara sunnah,

36

sebesar apapun jerih payah yang harus dikorbankan, untuk kemudian hasilnya, mereka menolak sunnah ini dengan sebab kebodohan mereka, kemudian mereka menolak orang yang menyeru mereka kepada sunnah tersebut, sementara mereka tiada mau menerima ganti tukar maupun tebusan daripadanya. Adapun tangga prioritas syar`i dimulai dengan mengajarkan prinsip-prinsip akidah, kemudian mengerjakan halhal yang fardhu dan meninggalkan hal-hal yang haram, kemudian mengerjakan hal-hal yang sunnah dan meninggalkan hal-hal yang makruh. Dan ia seperti Dharuuriyah (kebutuhankebutuhan primer), kemudian Haajiyah (kebutuhan-kebutuhan sekunder), kemudian Tahsiiniyah (kebutuhan-kebutuhan tertier). Ringkasnya: Kita membutuhkan "Dar`ut Ta`aarudh" (menolak pertentangan) antara perhatian terhadap perkara yang bersifat kulliyah (umum, global) dengan perhatian terhadap perkara yang bersifat juz`iyah (parsial, furu`), serta melenyapkan ide pemikiran bohong yang menginspirasikan bahwa perhatian terhadap perkara-perkara yang bersifat kulliyah mengharuskan pengabaian terhadap masalah-masalah yang bersifat juz`iyah, atau sebaliknya. Dan hendaknya kita menghimpun perhatian para da`i dalam satu jalinan, yang memberi setiap pemilik hak, haknya. Bukanlah suatu aib, seorang da`i belajar atau mengajarkan sunnah-sunnah yang tidak diketahui oleh banyak orang, seperti: Memendekkan baju hingga pertengahan betis, atau duduk istirahat di dalam shalat, atau menggerakkan jari telunjuk dalam tasyahhud, bahkan ia adalah perkara-perkara yang nash-nash syar`i datang menerangkannya. Dan sudah seharusnyalah bagi seorang spesialis untuk menyusun pendapat dan ijtihad dari nash-nash itu, dengan syarat: Jangan sampai pekerjaan tersebut melalaikannya dari perkara-perkara yang lain. Sebagaimana dia melatih para pemuda untuk mempraktekkannya pada diri mereka sendiri dan pada orang yang mau menerima pengajaran mereka dan mengambil ilmu dari mereka, pada waktu-waktu yang tepat, dan di tempat-tempat yang tepat, dan meninggalkannya --dengan niatan mencari keridhaan Allah-ketika mereka melihat maslahat syar`i dalam (perkara meninggalkan)nya, bukannya takut terhadap mulut manusia atau gunjingan mereka terhadap pribadi-pribadi kita:

37

Tidaklah adil jika kita menulis satu tema juz`i (masalah furu`) lebih dari 14 pasal pembahasan .. sementara di saat yang sama kita mengabaikan realitas dan berbagai peristiwa besar berjalan di tengah-tengah ummat tanpa petunjuk, dan mereka bertindak serampangan dengan pendapat-pendapat pribadi mereka, atau dengan ijtihad-ijtihad yang cacat, yang tidak terpenuhi di dalamnya perangkat-perangkat ijtihad yang benar. Kemudian di satu pihak ada yang tergelincir dalam kesalahan sebaliknya. Dia sibuk dengan perkara-perkara yang bersifat kulli (global) dan meremehkan perkara yang bersifat juz`i. Salah seorang di antara mereka berkata: "Saya adalah seorang salafi" --hanya dalam masalah masalah furu`iyah--. Ketika saya melihat sosok kepribadian "Umar", maka saya melihat di dalamnya sosok `Umar yang menyebarkan keadilan di tengah-tengah manusia, sosok `Umar yang dulu mengatakan: "Sekiranya seekor baghal jatuh tergelicir di negeri Irak, niscaya aku merasa bahwa kelak Allah akan menanyaiku tentangnya "Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya hei `Umar?" Saya tidak melihat kepribadian `Umar yang memendekkan bajunya dan memanjangkan jenggotnya!! Sebagaimana yang dilihat oleh sebagian "pemuda kanak-kanak" pada diri `Umar!! Ya Subhaanallah! Mengapa kita membelah kepribadian `Umar, lalu kita jadikan dua sosok "`Umar" pada dirinya, yakni `Umar yang adil, mujahid dan memikul tanggung jawab atas tergelincirnya seekor baghal di Irak dengan `Umar yang beriltizam pada sunnah dalam penampilan, baju dan perbuatannya? Jauh sekali `Umar ra dari dualisme di atas, sesungguhnya dia tidak meyakini dualisme dan pembelahan ini. Inilah dalilnya: Ketika `Uqbah bi `Amir ra datang memberikan khabar gembira padanya dengan telah ditakhlukkannya kota Syam, setelah dia melakukan perjalanan selama satu minggu dari Jum`at ke Jum`at hingga tiba di Madinah, maka `Umar ra bertakbir menyambut kemenangan tersebut, dan kaum musliminpun bergembira atas kemenangan yang gilang gemilang itu. Kemudian `Umar melihat sepatu `Uqbah, dan menanyakan padanya: "Sejak kapan kamu memakainya?" `Uqbah menjawab: "Sejak seminggu yang lalu, dan saya mengusapnya" --yakni mengusapnya jika hendak berwudhu untuk shalat-Lantas

38

`Umar mengatakan padanya: "Engkau telah melaksanakan sunnah dengan benar"32 Atsar ini shahih, seperti kata Ibnu Taimiyah33 serta ulama yang lain. Jadi kesibukan `Umar ra untuk menakhlukkan negeri-negeri dan menundukkan dunia kepada kekuasaan Islam tidaklah mencegah dia untuk membahas masalah furu` juz`i --dalam pandangan sebagian orang-- dan menjelaskan sunnah di dalamnya menurut pendapat dan ijtihadnya. Ketika Amirul Mu`minin `Umar bin Khaththab ra. tengah berbaring di atas ranjang kematiannya, maka urusan siapa yang jadi pengganti setelahnya amat merisaukannya, dan merisaukan pikiran para sahabat Rasul Saw., karena masalah khilafah adalah kepentingan umum yang sangat esensial dan sangat penting. Akan tetapi --sepenting apapun urusan tersebut-- maka ia tidak sampai melalaikan `Umar untuk membahas dan memahami perkara-perkara yang bersifat juz`i. Adapun di antara perkara yang dilakukan beliau --saat terluka parah akibat ditikam belati-ialah: Seorang pemuda Anshar datang menjenguknya, dia menyanjung kebaikannya, dan beberapa waktu kemudian dia pamit pulang. Saat pemuda tadi keluar rumah, secara kebetulan `Umar melihat baju pemuda tadi terlalu panjang. Maka dia memerintah: "Bawa kembali pemuda tadi kemari!" Setelah pemuda tadi kembali, beliau mengatakan padanya: "Wahai putra saudaraku, angkatlah bajumu! Sesungguhnya ia lebih bersih bagi bajumu dan lebih takwa kepada Tuhanmu"34 Beberapa saat kemudian, dia menoleh ke arah para sahabat yang ada di sekelilingnya. Lalu dia mengatakan pada mereka: "Apa pendapat kalian mengenai masalah warisan yang diterima seorang kakek dengan adanya saudara-saudara (si orang yang meninggal)?" Maka merekapun membicarakan hal tersebut. Lalu `Umar berkata: "Sesungguhnya dalam saat-saat kritisku ini aku punya pendapat, jika kalian setuju mengikutinya, maka ikutilah!" Lalu `Utsman ra berkata: "Jika kami mengikuti pendapatmu, maka sesungguhnya ia telah mendapat petunjuk, dan jika kami mengikuti pendapat sesepuh kita sebelummu --yakni Abu Bakar ra--, maka alangkah bagus orang yang memiliki pendapat itu, siapapun dia!!"
32 33

HR. Al Baihaqi I/380. Al Fatawa XXI/178. 34 HR. Al Bukhari (3700) dari hadits `Amru bin Maimun.

39

Inilah `Umar ra.! Telah bersenyawa di dalam dirinya, perkara-perkara yang bersifat kulli dan perkara-perkara yang bersifat juz`i dalam satu komposisi yang sedap lagi serasi, tak ada warna yang terlalu dominan atas warna yang lain, ataupun satu rasa atas rasa yang lain; dan dalam sebuah bangunan yang saling melengkapi, satu sama lain saling membutuhkan. f. Adil di dalam syumuliyah/kekomprehensipan Islam: memandang

Agama ini datang untuk mengatur semua masalah kehidupan, pada skala individu ataupun kelompok, dan pada aspek-aspek sosial, ekonomi, politik, saint serta aspek yang lain. Allah Ta`ala mencela Bani Isra`il dan mengecam mereka dengan firman-Nya: "Tapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan atasnya; maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara sesama mereka sampai kelak hari kiamat" (Qs Al Maa-idah 140) Bergolong-golongan untuk mengamalkan sebagian aspek agama, dan melupakan aspek-aspek yang lain, adalah termasuk di antara warisan peninggalan ummat-ummat yang rusak, dan termasuk di antara sebab-sebab terbesar yang menimbulkan perpecahan dan perselisihan di kalangan para da`i. Sehingga tidaklah aneh jika kamu dapati ada sekelompok kaum muslimin yang dituduh sebagai Islam Ta`abbudi, maksudnya ialah kelompok Islam yang fokus perhatiannya cuma mengerjakan shalat malam dan banyak berdzikir. Terkadang ditambah pula dengan sejumlah aturan-aturan yang tidak punya dasar dalam syari`at. Barangkali telah menyusup ke dalamnya ajaran tasawwuf asing yang menganut paham `uzlah/isolasisme sehingga pernah salah seorang di antara pengikut kelompok ini bicara pada saya dengan raut muka gembira karena salah seorang agen intelegen barat duduk bersama mereka serta melakukan pembicaraan yang cukup lama, kemudian setelah itu dia menulis tentang mereka bahwa mereka bukanlah orangorang yang membahayakan .. terang saja, karena mereka cuma

40

membicarakan perkara-perkara yang ada di bawah bumi dan perkara-perkara yang ada di atas langit!! Maha Suci Allah! Yakni, cuma membicarakan tentang alam kubur, kematian, siksaan dan kenikmatan, dan tentang Allah, malaikat dan negeri akherat. Adapun perkara-perkara yang ada di permukaan bumi, maka mereka tidak punya urusan dengannya! Kamu dapati pula kelompok lain yang dituduh sebagai Islam politik. Jihad mereka adalah di kancah-kancah pembentukan partai-partai politik, mengumpulkan pendukung, meraih kemenangan dalam pemilihan-pemilihan, masuk dalam majlis-majlis dewan dan parlemen-parlemen .. dan mengkader para pemudanya untuk melakukan jihad politik. Kamu dapati pula kelompok yang ketiga, yang dicap sebagai Islam ilmu. Mereka mempelajari sunnah dan hadits, dan sibuk menjelaskan yang shahih dari yang lemah, dan memperingatkan ummat dari membawakan hadits-hadits yang lemah dan palsu. Dan kesibukan mereka di bidang ilmu ini kadang dibarengi dengan sedikit pengisoliran diri atau lemah aspek peribadatannya atau melalaikan realitas ummat dan makar musuh yang dirancang untuk menghancurkannya. Sebelum timbul prasangka yang tidak menyenangkan dalam benak seseorang, maka lebih dahulu saya katakan: Pertama: Islam mencakup ketiga aspek ini semua, serta aspekaspek lainnya. Ia adalah agama yang datang untuk menghubungkan seorang hamba dengan Tuhannya dalam bentuk ta`abbud/peribadatan, rajaa`/rasa harap dan khauf/rasa takut. Maka dari itu datang syi`ar-syi`ar ibadah. Islam adalah agama yang datang untuk mengatur kehidupan manusia dan mengendalikan urusan mereka, bukan kepasturan ataupun kependetaan, ataupun pengisoliran diri dari dunia nyata. Politik adalah bagian yang tak terpisahkan dari Islam. Maka jihad di kancah ini dengan segala sarana yang diperbolehkan yang mengantarkan kepada tujuan yang dimaksud, harus menjadi bagian dari cita-cita seorang da`i.

41

Ia adalah agama yang datang untuk mengatur peribadatan dan mengatur segenap aktifitas dalam kehidupan nyata dengan aturan Al Kitab dan As Sunnah sehingga kita bisa membenarkan peribadatan kita dan amalan kita. Jika demikian halnya, maka semua aspek-aspek ini termasuk dalam ruang cakup ajaran agama Islam, yang mana ia datang untuk menyeru manusia dan mendorong mereka kepadanya. Kedua: Boleh jadi satu individu atau beberapa individu ummat tidak mampu mengcover semua aspek-aspek tersebut dalam dakwah mereka kepada Allah. Sebab kemampuan seseorang terbatas. Jika kamu mengurus sesuatu hal, barangkali kamu mengurangi bagian yang lain, atau membahayakannya. Lebihlebih tabi`at manusia, beragam pandangan dan bentuk interest yang terkumpul pada diri mereka, kadang menjadikan manusia lebih cenderung kepada salah satu di antara aspek-aspek itu tadi. Misalnya saja, pada diri seseorang boleh jadi ada kezuhudan, peribadatan dan banyak kebaikan, akan tetapi ia tidak dikarunia perangkat ilmu syar`i dan bukan tergolong ahlinya. Di sini saya katakan: "Tiap kelompok manusia telah tahu jurusannya masing-masing, dan masing-masing dimudahkan untuk berjalan ke arah mana dia diciptakan. Di antara para sahabat Muhammad Saw, ada yang jadi seorang ksatria perang pemberani seperti Khalid bin Walid, ada yang jadi seorang alim mujtahid lagi faqih seperti Ibnu `Abbas dan Ibnu Mas`ud, ada yang jadi seorang zuhud ahli ibadah yang senantiasa memperingatkan manusia Janganlah kalian condong kepada dunia dengan kata-kata dan perbuatannya, seperti Abu Dzar ra. Dan dari kumpulan karakter-karakter ini serta karakterkarakter yang lain, terbentuklah bangunan Islam yang lengkap. Boleh jadi ada orang yang menghimpun segenap keutamaan --dan ini sedikit sekali--, pada lingkup sahabat rashiyallaahu `anhum kamu dapati contoh-contoh sahabat yang memiliki banyak keutamaan, seperti Abu Bakar, `Umar, `Utsman, `Ali serta sahabat yang lain. Mereka adalah dari golongan sahabat. Dan masih banyak lagi yang lain, yakni pada diri orangorang sesudah mereka.

42

Ketiga: Sebagian kita harus menyempurnakan sebagian yang lain, dan jangan sampai perbedaan perhatian di antara kita mendorong kepada pertikaian, pertentangan, cela-mencela dan tuduh menuduh antara satu pihak dengan pihak yang lain. Yang ini menuduh "Bodoh" yang itu, yang itu menuduh yang ini "tenggelam dalam membahas perkara-perkara furu` dan melalaikan realitas ". Dan yang ketiga menuduh yang lain sebagai orang-orang yang "Kasar tabi`at, kering dan condong kepada dunia" .. demikianlah satu sama lain saling menuduh .. sekali-kali jangan begitu .. tapi hendaknya setiap orang mu`min mengatakan pada saudaranya, bahwa dia akan mengerjakan apa yang tidak mampu dilakukan saudaranya, selama perkara tadi tergolong fardhu kifayah, dan dia akan menutup celah yang ditinggalkannya jika dia mampu menutupnya, dan mendo`akannya di luar pengetahuannya, serta melindungi punggungnya dari tikaman orang-orang yang hendak menikam (kehormatan)nya. Jadi kita "jangan membikin kelompok-kelompok" untuk mengamalkan sebagian aspek agama dan memerangi orang yang menekuni aspek lain, akan tetapi jika memang kita tidak mampu mengerjakan suatu kewajiban, maka hendaknya kita berterima kasih pada orang yang mengerjakan kewajiban tersebut, karena dia telah meringankan beban kita. Sungguh beda sekali antara mereka yang saling bertikai dan saling menuduh dengan mereka yang saling bersepaham dan saling tolong menolong. Keempat: Supaya apa yang telah kita nadzarkan untuk diri kita --berupa ilmu, atau ibadah, atau jihad politik atau hal yang lain-tidak sampai memalingkan perhatian kita dari aspek-aspek agama yang lain, kita harus turut ambil bagian di dalamnya. Tidak boleh bagi seorang da`i --siapapun dia-- untuk tidak mengetahui sesuatu yang hukumnya fardhu a`in bagi setiap orang muslim untuk mempelajarinya; seperti mengetahui akidah yang benar, mengetahui hukum-hukum wudhu, shalat, puasa dan ibadah-ibadah yang lain; dan mengetahui apa yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-harinya, seperti adab pergaulan bagi orang yang telah berumah tangga, hukum-hukum zakat dan perniagaan bagi para pemilik harta; dan hukum-hukum yang berhubungan dengan pekerjaan atau profesi seperti kedokteran atau teknik atau bidang yang lain.

43

Dan ini --dengan idzin Allah-- akan mencegah perhatian kita terhadap sesuatu hal, menjadi sebab perantara yang membawa kepada sikap ghuluw (berlebih-lebihan) di dalamnya dan menyebabkan kita meninggalkan perkara selainnya. Karena kesibukan beribadah, jika tidak disertai dengan ilmu syar`i yang benar dan dilandasi dengan dalil dari Al Kitab dan As Sunnah, bisa mengakibatkan seseorang terjerumus ke dalam jurangjurang tasawwuf. Kesibukan berdakwah, jika tidak didasari pemahaman yang benar, pengkajian nash-nash dan pencapaian ilmu, bisa jadi mengakibatkan kepada penghimpunan manusia di atas bid`ah atau penggalangan mereka di atas sesuatu yang nihil. g. Adil terhadap waaqi` (realitas kehidupan/dunia nyata): Sebagian di antara para da`i hidup di abad ini, seolah-olah dia hidup pada abad ke 5 Hijriyah! Tidak tahu zamannya, tidak tahu apa yang terjadi di sekelilingnya, dan selalu dikejutkan oleh berbagai peristiwa kejadian, sebagaimana seorang pejalan kaki dikejutkan oleh bunyi klakson kendaraan yang lalu lalang! Seorang khathib naik mimbar di sebuah kota, sementara di tangannya tergenggam buku berisi materi khotbah yang dia bacakan pada hadirin sidang Jum`at. Di antara kalimat yang dia ucapkan di akhir khotbahnya adalah mendo`akan Amirul Mu`minin Sulthan `Utsmani Fulan, supaya Allah mengekalkan kerajaannya dan mendukung kekuasaannya!! Dia tidak tahu bahwa jasad Khalifah tersebut telah jadi makanan ulat di dalam kuburnya, dan bahwa kerajaannya telah menjadi barang jarahan bagi Timur dan Barat! Potret nyata "ketidak sadaran" ini bisa jadi tidak sering terulang, akan tetapi di sana ada potret-potret yang lebih halus daripada itu, yang secara permanen terulang. Pernah suatu ketika seorang pemuda menanyakan pada saya: "Apa itu Partai Ba`ats? Apa idiologi-idiologi mereka yang lain, selain mereka kafir dengan hari Bi`tsah/kebangkitan?" Dia mengira bahwa penamaannya dengan Partai Ba`ats adalah karena mereka kafir terhadap hari kebangkitan, sebagaimana golongan Qadariyah dahulu dinamai dengan sebutan demikian karena mereka mengingkari takdir!!

44

Sesungguhnya seorang muslim harus hidup di zamannya dan senantiasa perduli dengannya, dia harus senantiasa aktif mencermati apa yang menjadi idealisme masyarakat, mengetahui aliran-aliran pemikiran dan kecenderungankecenderungan politik mereka, dan antusias dalam menemukan solusi-solusi yang benar terhadap berbagai peristiwa baru, dan melakukan penentangan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang muncul setelah dia mengetahuinya dan memahami akar persoalannya. Dan tak mungkin bisa meruntuhkan konsepsikonsepsi pemikiran Barat, seseorang yang tidak memahami akar dan asal muasal timbulnya pemikiran tersebut, kondisikondisinya dan back ground-back groundnya Bukan jadi suatu keharusan bagi setiap da`i untuk memahami persoalan ini, akan tetapi dia harus memberangkatkan sekelompok orang-orang beriman untuk memikul kewajiban tersebut, dan pada skala umum, seorang da`i harus memiliki jendela masuk ke dunia nyata, melalui jendela tersebut dia bisa memahami berbagai peristiwa yang mengitarinya, dan dia mampu menjadi penuntun manusia ke jalan yang benar. Dan sebaliknya dengan mereka yang mengasingkan diri dari dunia nyata, ada orang yang merubah persinggahan ke dunia nyata menjadi semacam bentuk kekalahan dan pencarian apologi-apologi serta justifikasi-justifikasi agar dia bisa mengatakan bahwa prinsip dan keyakinannya itu sesuai dengan Islam, atau ia berusaha melepaskan diri dari sebagian perkaraperkara syar`i karena bersikap toleran terhadap dunia nyata, atau tunduk pada dorongan nafsunya. Yang adil adalah mengenal waaqi` dan menimbangnya dengan hukum Islam, dan meluruskan penyelewenganpenyelewengannya menurut kemampuan. h. Adil dalam mensikapi khilaf: Khilaf (perbedaan) merupakan bagian dari tabi`at manusia, sebagaimana firman Allah Ta`ala:


"Akan tetapi mereka tiada henti-henti berselisih. Kecuali orangorang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu" (Qs Huud 118-119)

45

Tak ada keraguan lagi bahwa akan terjadi perselisihan dan perbedaan di antara manusia lantaran perbedaan niat dan tujuan, perbedaan akal dan penalaran, dan perbedaan ilmu pengetahuan mereka; mensikapi khilaf menuntut suatu sikap syar`i. Sebagian da`i menyeru manusia kepada kesatuan dan persatuan namun melupakan perbedaan tanpa memberikan batasan dan kaidah yang tepat, siapa yang mungkin diajak bersatu, siapa yang harus ditinggalkan karena bid`ah, kesesatan dan penyelewengannya. Di pihak lain, di sana ada orang yang berlebih-lebihan dalam membuat persyaratan, sehingga hampir-hampir tidak ada orang yang sepakat dengannya dalam segala hal, bahkan dalam ijtihad-ijtihad pribadinya, atau pendapat-pendapat khususnya. Jika ada seseorang yang menyelisihinya dalam sebagian ijtihad atau pendapat, maka dia berpaling darinya, dan memposisikannya sebagai lawan, dan jadilah orang tadi sebagai orang yang tidak berarti dan tidak berharga sama sekali dalam timbangannya! Keadilan menghendaki pembolehan khilaf dalam perkara yang dibolehkan khilaf di dalamnya, seperti wasilah-wasilah dakwah, perkara-perkara furu`, dan hukum-hukum yang para pendahulu kita dahulu berbeda pendapat di dalamnya .. dan perbedaan-perbedaan lain, yang ditegakkan di atas landasan ijtihad syar`i di dalam memahami nash-nash, bukan sekedar karena cocok dengan kecenderungan dan selera .. khilaf yang seperti ini sangat dimungkinkan, dan sangat luas ruang lingkupnya. Adapun bersikap toleran terhadap ahli bid`ah akidah yang berat dan terhadap penyelewengan-penyelewengan akidah yang sangat mendasar dengan hujjah demi menyatukan barisan, maka itu adalah cara yang dihias dengan kebohongan, yang tidak ada hubungan sama sekali dengan akal ataupun syari`at. Adapun menuntut orang untuk sepakat dalam segala hal, dan tidak berselisih sama sekali dalam perkara apapun, maka ini sangat mustahil dan hanya sebuah hayalan, tak bisa dibayangkan kecuali hanya dalam benak pikiran seorang penghayal. Kelima: Perasaan yang hidup.

46

Kita membutuhkan seorang da`i, pemilik hati yang tergerak oleh keadaan waaqi` Islam dan kaum muslimin, dan terhadap berbagai kondisi ummat di berbagai penjuru dunia, Timur dan Baratnya. Kasih sayang terhadap saudara-saudaranya, dan menjadikan nyata firman Allah Ta`ala:


"Bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang antara sesama mereka" (Qs Al Fath 29) Keadaannya bukanlah keadaan kaum Khawarij pada masa awal Islam, yang membunuh orang-orang beriman dan membiarkan para penyembah berhala. Sesungguhnya seorang mu`min harus keras terhadap orang-orang kafir, dan kasih sayang kepada orang-orang mu`min, dan mengaktualisasikan di dalam dirinya sabda Nabi Saw.: " "Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal kecintaan, belas kasih dan kasih sayang di antara sesama mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan mengeluh sakit, maka menjalarlah rasa sakit itu ke seluruh tubuh hingga tidak bisa tidur dan panas." Dan sabda Nabi Saw: "Orang mu`min bagi orang mu`min yang lain adalah seperti sebuah bangunan, yang saling menguatkan satu sama lain." Kita membutuhkan seseorang yang bisa merasakan penderitaan saudara-saudaranya muslim. Jika dia mendengar sesuatu musibah menimpa saudara-saudaranya, maka hatinya merasa pilu karenanya, meskipun pada diri mereka yang tertimpa musibah itu ada kelalaian dan bid`ah. Adalah Syeikh Muhammad Rasyid Ridha, merasa pilu terhadap kondisi waqii` kaum muslimin, dan nampak kesedihan pada raut mukanya ketika musibah atau bencana menimpa salah seorang muslim; serta bergembira apabila melihat keadaan yang sebaliknya. Sampai-sampai ibunya mengetahui dengan persis

47

sifat ini. Jika sang ibu melihatnya bersedih dan berduka, maka dia menanyakan padanya: "Ada apa gerangan denganmu wahai anakku, apakah hari ini ada seorang muslim yang mati di China?" Dia tahu persis bahwa kesedihan dan kegembiraan anaknya berhubungan dengan ihwal kaum muslimin. Dia bergembira karena kegembiraan mereka, dan bersedih karena kesedihan mereka. Ini adalah kecintaan dan kesetia kawanan sejati bagi kaum muslimin. Di antara perasaan yang hidup ini ialah, seseorang mempunyai hati yang peka terhadap kesalahan kaum muslimin dan penyelewengan mereka dari ajaran agamanya. Dia akan bersedih melihat tersebar luasnya kefasikan dan kemaksiatan di tengah-tengah mereka dengan suatu kesedihan yang tidak mendorongnya untuk menjauhi mereka, tapi mendorongnya untuk berusaha menyelamatkan mereka seperti seorang dokter terhadap pasiennya. Jika dia tidak bisa menjangkau semua itu, paling tidak dia bisa mengurangi kesesatan tersebut menurut kadar kemampuannya. Hendaknya perasaan ini, mengajaknya untuk memiliki ghirah terhadap dirinya, istrinya dan anaknya; lalu dia memerintah mereka berbuat yang ma`ruf dan melarang mereka dari perbuatan munkar serta mencegah mereka dari mengerjakan perbuatan yang dimurkai Allah `Azza wa Jalla. Banyak para da`i yang bicara tentang Islam, akan tetapi dia tidak memiliki perasaan sejati yang hidup. Sedikit sekali di antara mereka yang memilikinya. Apabila perasaan telah bergerak di dalam hati seorang da`i, maka ia akan membuahkan dakwah, nasehat dan simpati terhadap penderitaan yang dialami kaum muslimin di setiap tempat. Adapun jika perasaan ini hilang pada diri seseorang, maka jadilah kehidupannya hanya untuk (mencari kesenangan bagi) dirinya sendiri, untuk anaknya dan untuk istrinya; dia hidup untuk bersenang-senang dan mereguk kenikmatan dengan apa-apa yang ada di sekelilingnya dan melupakan penderitaan kaum muslimin. Maka saat itu, dia telah terlepas dari kecintaan dan kesetia kawanan sejati terhadap orang-orang beriman. Meskipun dalam pembicaraannya mengenai dakwah, juru dakwah dan musibah-musibah yang menimpa kaum muslimin dia nampak menunjukkan rasa simpatinya .. hanyasaja keadaannya adalah seperti wanita yang meratap karena diupah.

48

Alangkah banyak orang-orang yang biasa mengucapkan perkataan yang senantiasa mereka ulang-ulang dalam berbagai kesempatan .. dan menghafal ungkapan-ungkapan kata yang mereka perdengarkan dan mereka baca tanpa sedikitpun tergugah semangat dan ghirahnya untuk membela agama dan pengikutnya .. lalu berkata-kata kepada ummat .. alangkah besarnya hajat ummat terhadap hati para da`i yang peka dan tergugah melihat nasib dan penderitaan mereka! Keenam: Ambisius Yang dimaksudkan dengan sifat ini adalah hendaknya seorang da`i tidak hidup untuk diri dan dunianya sendiri, tapi dia hidup untuk ummatnya, sebagaimana peri kehidupan Nabi Saw. dahulu seperti yang dituturkan `A'isyah tatkala ia ditanya `Abdullah bin Syaqiq ra: "Pernahkah Nabi Saw. shalat dalam posisi duduk?" Maka `A'isyah ra menjawab: " Ya, setelah orang-orang merusak (fisik)nya!"35 Adalah Nabi Saw. dahulu selalu menerima kedatangan orang, menyambut mereka, mengantarkan kepulangan mereka, memerintahkan mereka berbuat ma`ruf dan melarang mereka berbuat munkar, bercampur dengan mereka dan memikul beban kesalahankesalahan mereka, maka dari itu orang-orang merusaknya dan melemahkan fisiknya, sehingga beliau harus shalat dengan duduk dan cepat beruban rambutnya. Agama itu ada tingkatan-tingkatannya. Islam, kemudian iman kemudian ihsan. Dan ada pula pembagian yang serupa dengan ketiga pengkategorian di atas. Pembagian itu terdapat pada surat Faathir:


"Kemudian Kami wariskan Kitab itu pada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan idzin Allah. Itu adalah karunia yang sangat besar." (Qs Faathir 32)
35

HR. Ahmad (VI/171. 218) dan Muslim (732) dan Abu Dawud (956)

49

Dan pembagian ini sama pula dengan ketiga pengkategorian seperti yang disebutkan Nabi Saw. dalam hadits Firqah Najiyah, di mana beliau menyebut Islam pada urutan pertama, sebab Islam adalah jaminan satu-satunya yang membuat seseorang masuk ke dalam surga, tidak akan masuk surga kecuali seorang muslim. Dan masuk dalam lingkaran besar ini, yakni lingkaran Islam, satu lingkaran yang lebih sempit, yakni lingkaran firqah Najiyah, yang mencakup siapa saja yang menetapi jalan yang lurus dan aqidah yang shahih dan tidak berpaling kepada selainnya. Dan di sana ada lagi lingkaran yang lebih sempit dari lingkaran firqah Najiyah, dan ia lebih utama, lebih mulia dan lebih agung, yakni lingkaran Tha`ifah Manshurah, mereka yang membela agama, memperjuangkannya dan menanggung beban kesusahan, penderitaan dan pembelaan di jalannya, maka Allah `Azza wa Jalla-pun menolong mereka. Seorang muslim haruslah ambisius dan senantiasa berusaha meningkatkan derajatnya, dan senantiasa melihat orang yang berada di atasnya dalam masalah agama, dan melihat orang yang berada di bawahnya dalam masalah dunia .. maka berupayalah untuk menyerupakan dirimu dengan orangorang mulia, para juru perbaikan dan para pembaharu sehingga sebagian kebaikan itu menjadi kenyataan bagimu di dunia ini.. jadilah engkau sebagai pemilik jiwa, yang ambisinya tidak rela berhenti pada satu batas tertentu, dan tak pernah sama sekali merasa kenyang dengan kebaikan hingga ujung akhir perjalananmu adalah surga. Penutup Hendaknya seorang da`i menjadi teladan bagi yang lain, yakni menjauhi perkara-perkara yang makruh, tidak berlapanglapang dalam perkara-perkara yang mubah dan sesuatu yang tidak dibutuhkannya. Memandang rendah dunia dan tidak bersaing di dalamnya sehingga ia mendapatkan kepercayaan manusia, karena dunia itu tak lebih dari apa yang dikatakan oleh Imam Asy Syafi`i:

*** *** ***

50

Siapa yang mau mencicipi dunia, maka sesungguhnya aku telah mengecapnya telah digiring kepada kami nikmatnya dan siksanya Tiadalah dunia kecuali ? ditunggui anjing-anjing yang bernafsu menariknya jika kau menjauhinya, maka kau selamat dari pemiliknya dan jika kau menariknya, kau kan diserang anjing-anjingnya. Yang penting bagi seorang da`i adalah membuat dunia tunduk berada di bawah kedua telapak kakinya, ia jadikan dunia sebagai pelayan, bukan dia yang jadi pelayannya, sehingga manusia tahu bahwa dia bukanlah ahli dunia dan bukan pula pengejar kedudukan. Dan di antara aspek-aspek keteladanan tadi adalah seorang da`i menjauhi perkataan yang menyelisihi perbuatan, sebagaimana ucapan Nabi Syu`aib As: "Dan aku tidak berkehendak menyalahi kalian (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak berkehendak kecuali (melakukan) perbaikan semampuku, dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali." (Qs Huud 88) Karena itu, para ulama jahat mengajak manusia kepada Islam dengan perkataan mereka, tapi mereka menyelisihi ajaran Islam dengan perbuatan mereka. Maka dari itu tamak haraplah kamu wahai saudaraku da`i, untuk menjadi contoh teladan dalam perkataan dan perbuatanmu. Ada persoalan yang perlu diingatkan di sini, bahwa banyak orang mengira bahwa seorang da`i tidak boleh memerintah kecuali kebaikan yang dikerjakannya dan tidak melarang kecuali kemunkaran yang dijauhinya. Ini adalah pandangan yang keliru, tapi yang benar, yang ditunjukkan oleh nash-nash Al Kitab dan As Sunnah adalah bahwa seseorang harus memerintah yang ma`ruf meski dia tidak mampu mengerjakannya, dan melarang dari yang munkar meskipun dia terjerumus ke dalamnya,

51

sampai-sampai salah seorang pakar ahli ilmu mengatakan: "Wajib bagi orang yang mengambil gelas-gelas (minuman keras) untuk melarang sebagian mereka atas sebagian yang lain." Terjerumus dalam kemunkaran tidak boleh menjadi justifikasi bagiku untuk terjerumus ke dalam kesalahan yang lain, yakni aku tidak melarang yang munkar. Syarat satu-satunya bagiku untuk memerintah yang ma`ruf dan melarang yang munkar adalah, hal itu kukerjakan dengan niatan yang benar, bukan untuk memperdaya, mengecoh, menyesatkan dan memperlihatkan kepada orang bahwa aku adalah seorang da`i, sementara aku tidaklah demikian. Sekiranya seorang bapak misalnya, diuji Allah menjadi seorang perokok, lalu dia melihat anaknya merokok, lantas apakah boleh baginya mendiamkannya dengan hujjah bahwa dia terjerumus dalam kemunkaran tersebut? Sekali-kali tidak, tapi dia wajib melarang anaknya dan mengatakan: "Sesungguhnya aku telah menempuh jalan yang salah dan sulit bagiku melepaskannya. Sementara kamu ini masih dalam tarap permulaan .. maka hentikanlah!" .. demikianlah seharusnya dalam perkara-perkara maksiat yang lain. Dan katakan seperti itu, terhadap seorang pemimpin yang melihat sang bawahan terjerumus ke dalam perbuatan maksiat sementara dia terjerumus juga ke dalamnya. Sekiranya orang yang berdosa tak boleh memberi nasehat di tengah-tengah manusia maka siapa yang memberi nasehat pada pelaku maksiat setelah Muhammad Keteladanan itu menghendaki, seorang da`i tidak membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama, tapi dia memberi maaf dan mengampuni serta membalas kejahatan dengan kebaikan seperti yang dahulu dilakukan oleh Nabi Saw. Beliau memberi maaf pada orang yang menzhaliminya, memberi orang yang tidak memberinya dan menyambangi orang yang memutuskan hubungan dengannya. Inilah akhlak para Nabi. Semoga Allah menjadikan kami dan kalian sebagai orangorang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk, bukan orang-orang yang sesat dan menyesatkan, dan memperlakukan kita dengan anugerah dan rahmat-Nya, dan Dia adalah Tuhan Yang pantas ditakuti oleh hamba-hamba-Nya, dan Yang berhak memberikan ampunan.

52

DAFTAR PUSTAKA
Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Asia Tenggara . Prof. Dr. Taufik Abdullah (Ketua Dewan Editor). 2002. Ichtiar Baru Van Hoeve. Jakarta. Hakekat Berpikir (Terj. At-Tafkir). Taqiyuddin an-Nabhani. 2006. Pustaka Thariqul Izzah. Bogor Ihya Ulumuddin: ... Al-Ghazali, Hadiri, Khairuddin. Klasifikasi Kandungan Al-Quran. Cet. V 1996 / 1417 H. Jakarta : Gema Insani Press. Hawwa, Said. Al-Islam. (Terj. Oleh Abu Ridha dan AR Shaleh Tamhid) Cet. I 2000. Jakarta : Al-Itisham Cahaya Umat. Zaidan, Abdul Karim. Ushul al-Dawah. Cet. V 1996/ 1417 H. Beirut Libanon : Muassasatur Risalah. CD. ROM. Al-Quran 6.50 & Al-Hadits. Syirkah Sakhr li Baramij al-Hasib (1991 1997). CD. ROM. Mausuah Ulama al-Islam; Dr. Yusuf al-Qardhawi ; al-Fiqh wa Ushulih. Al-Markaz al-Handasi lil Abhas al-Tatbiqiyah. 53

CD. ROM. Mausuah al-Hadits al-Syarif 2.00 (Al-Ishdar al-Tsani). Syirkah alBaramij al-Islamiyah al-Dauliyah. Terjemah Hadits Shahih Al-Bukhari I-IV (Terj. Shahiih al-Bukhaariy). Imam Bukhari. 1992. Widjaya. Jakarta. Al-Buraikan, Ibrahim Muhammad bin Abdullah. Pengantar Studi Aqidah Islam. Terj. 1998. Cet. I. Jakarta : Robbani Press & Al-Manar.

DAFTAR ISI
Kata Pengantar . Pendahuluan . Muslim dan Dai Inilah Sebahagian Akhlak Tersebut Siddik. Sabar... Ketiga Tawadhu Keempat Adil Kelima .Perasaan Hidup KeEnam Ambisius. Penutup. Daftar Pustaka.. 2 3 4 5 6 11 17 25 46 48 50 53

54

55