P. 1
Spesifikasi Jalan Hpji

Spesifikasi Jalan Hpji

|Views: 9,516|Likes:
Dipublikasikan oleh agusimamhamdani

More info:

Published by: agusimamhamdani on Jul 13, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

PEMBEKALAN UNTUK SERTIFIKASI TENAGA AHLI PELAKSANA DAN PENGAWAS JALAN DAN JEMBATAN

SPESIFIKASI JALAN

DPD HPJI DKI 2006

TUJUAN PEMBEKALAN
MEMANTAPKAN PEMAHAMAN DAN PENGERTIAN ATAS KANDUNGAN SPESIFIKASI BAIK YANG SPESIFIKASI, TERSURAT MAUPUN YANG TERSIRAT, SEHINGGA DAPAT MENGHINDARI KESALAHAN DALAM PENYIAPAN PENAWARAN DALAM PELELANGAN (AHS, AKA, DLL), DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI.

1

CAKUPAN MATERI PEMBEKALAN
A. JENIS SPESIFIKASI & PENGERTIAN B. B STRUKTUR SPESIFIKASI YANG BAKU PE F G B C. ULASAN TENTANG : DISKRIPSI; PENGUKURAN HASIL KERJA; CARA PEMBAYARAN; METODA PELAKSANAAN DAN PERALATAN; D. D PENGENDALIAN MUTU (QC); E. DIVISI-DIVISI YANG PENTING (Mobilisasi, Drainase, Pek. Tanah, Perkerasan Berbutir, Perkerasan Aspal, Perkerasan Beton Semen, Pengembalian Kondisi dan Pemeliharaan Rutin).

PENGERTIAN SPESIFIKASI (TEKNIK)
S ES F K S SPESIFIKASI adalah bagian dari Dokumen Lelang bag an dar yang menjelaskan persyaratan teknik Pekerjaan yang dilelangkan. Persyaratan Teknik tersebut mencakup : - Persyaratan Bahan Baku - Persyaratan Bahan Olahan y - Cara Pelaksanaan Pekerjaan, termasuk persyaratan teknik peralatan yang dipergunakan. - Persyaratan teknik produk akhir Pekerjaan yang harus dicapai.

2

FILOSIFI SPESIFIKASI

SPESIFIKASI UMUM (General Specifications) mencakup semua persyaratan teknik yang berlaku k k k b l k umum untuk seluruh paket proyek yang ada. SPESIFIKASI KHUSUS (Special Specifications) mencakup persyaratan-persyaratan teknik yang persyaratanberlaku hanya untuk paket-paket proyek atau jenispaketjenisjenis pekerjaan tertentu saja.

3

MAKSUD SPESIFIKASI : Sebagai pedoman bagi Peserta Pelelangan dalam mengajukan Penawaran. Sebagai pedoman bagi Pelaksana / Kontraktor dalam melaksanakan Pekerjaan. Sebagai pedoman bagi Pengawas dalam mengawasi pelaksanaan Pekerjaan oleh Kontraktor. Sebagai pedoman bagi Pinpro yang mewakili Pemilik Pekerjaan, dalam mempertanggungjawabkan proyek secara k keseluruhan. l h TUJUAN SPESIFIKASI : Tercapainya produk akhir Pekerjaan yang memenuhi keinginan Pemilik Pekerjaan (Owner).

KEINGINAN PEMILIK PEKERJAAN :
Dinyatakan d l m Din t k n dalam : Gambar Rencana (bentuk, ukuran, elevasi, lokasi) Spesifikasi (persyaratan-persyaratan teknik)

Mutu h l P k hasil Pekerjaan disebut b k apabila : d b baik, bl Produk Akhir = Keinginan Pemilik (persis sesuai dengan yang tertera dalam Gambar dan Spesifikasi)

4

DOKUMEN PELELANGAN

Buku I Buku II Buku III Buku IV Buku V Buku VI

: INSTRUKSI KEPADA PESERTA LELANG : SYARAT-SYARAT UMUM : SPESIFIKASI : GAMBAR : DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA : ADDENDA (kalau ada)

JENISJENIS-JENIS SPESIFIKASI
End Result Specification / Performance Specification (Spesifikasi Produk Akhir), yaitu jenis
Spesifikasi dimana yang dipersyaratkan adalah dimensi dan kualitas produk akhir yang harus dicapai, tanpa mempersoalkan metode kerja untuk mencapai hasil akhir tsb.

Process Specification (Spesifikasi Proses Kerja), yaitu

jenis Spesifikasi dimana yang diatur adalah semua ketentuan yang harus dilaksanakan selama proses pelaksanaan Pekerjaan. Dengan mengatur semua proses pelaksanaan Pekerjaan, j diharapkan hasil kerja akan diperoleh sesuai dengan yang diinginkan. dii i k

langkah: material, metode kerja dan hasil kerja yang diharapkan.

Multi Step and Method Specification (Spesifikasi Bertahap), yaitu jenis Spesifikasi yang mengatur semua

5

SAAT INI JENIS SPESIFIKASI YANG MANA YANG BANYAK DIPAKAI DI INDONESIA ?
1. SPESIFIKASI BERTAHAP (SEMUA DIATUR) LEBIH BANYAK DIPAKAI; SPESIFIKASI HASIL AKHIR (END RESULT SPEC ) MASIH SANGAT TERBATAS. SPEC.) TERBATAS 2. DALAM HAL “DISIPLIN INDUSTRI KONSTRUKSI” MASIH SEPERTI SEKARANG, SPESIFIKASI BERTAHAP DIANGGAP LEBIH TEPAT. 3. SEMUA DIATUR SAJA, HASIL INDUSTRI KONSTRUKSI MASIH BELUM MEMADAI, APALAGI KALAU TIDAK DIATUR; TERSERAH PARA PELAKUNYA !!. 4. ADA YANG BERPENDAPAT: BAHWA SPESIFIKASI BERTAHAP MENGHAMBAT INOVASI ??. INGAT MASIH ADA PCM ( Pre Construction Meeting)

BEBERAPA YANG MENARIK DARI SPESIFIKASI “BERTAHAP”
1. CIRI-CIRI KHAS SPESIFIKASI (“BERTAHAP”). 2. HAL-HAL YANG MENARIK DAN PERLU DICERMATI : a. STRUKTUR UMUM SPESIFIKASI b. DISKRIPSI c. CARA MENGUKUR VOLUME HASIL KERJA d. CARA PEMBAYARAN e. KEGIATAN YANG ”TIDAK DIBAYAR” f. STATUS QUALITY CONTROL g. dll

6

CIRICIRI-CIRI KHAS SPESIFIKASI “BERTAHAP”
1. 1 PERATURANNYA MENGANDUNG NUANSA : * SIMPLIFIKASI (PERIKSA CARA PENGUKURAN HASIL KERJA); * MENGURANGI KEMUNGKINAN TERJADINYA “PERTENGKARAN DI LAPANGAN”; MESKIPUN DALAM BEBERAPA HAL “MERUGIKAN KONTRAKTOR”; TETAP DAPAT DIKATA KONTRAKTOR ; DIKATAKAN ADIL; KARENA CALON KONTRAKTOR MENGETAHUI SEMUA KONDISI TERSEBUT MELALUI DOKUMEN TENDER YANG DIBELINYA, SEBELUM MENYUSUN PENAWARAN.

2.

STRUKTUR SPESIFIKASI TEKNIK YANG BAKU
1. UMUM (URAIAN): TEBAL; BENDA UJI; TOLERANSI; RUJUKAN; BATASAN CUACA; DLL. 2. MATERIAL: SPESIFIKASI; SUMBER PASOKAN; DLL. 3. PERALATAN DAN METODA PELAKSANAAN 4. 4 PEMBUATAN & PRODUKSI CAMPURAN 5. PENGENDALIAN & PENGUJIAN MUTU DI LAPANGAN. 6. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

7

YANG PENTING DARI DISKRIPSI ATAU URAIAN
1. YANG TERSURAT << YANG TERSIRAT ATAU YANG HARUS DIKERJAKAN >> DARI TERSURAT DALAM JUDUL JUDUL. YANG

2. MISALNYA : • JUDUL GALIAN (“PERLU BULLDOZER”) • LINGKUP PENGGALIAN; PEMBUANGAN (MEMUAT; MENGANGKUT; MEMBUANG, MERATAKAN DAN MEMADATKAN) >> JUDUL (PERLU BULLDOZER; LOADER; DUMP TRUCK; GRADER; ALAT PEMADAT) ) YANG HARUS DIKERJAKAN LEBIH BANYAK DARI YANG “TERSURAT” DALAM JUDUL PEKERJAAN. ALAT YANG DIPERLUKAN LEBIH BANYAK DARI ALAT YANG “TERSURAT” DARI JUDUL PEKERJAAN.

YANG PENTING DARI CARA MENGUKUR HASIL KERJA / VOLUME PEKERJAAN

MENGANDUNG “SIMPLIFIKASI” & “MEMINIMASI PERTENGKARAN DI LAPANGAN” a. PERIKSA CAPTION GALIAN KONSTRUKSI b. INGAT “AVERAGE END AREA” PADA PERHITUNGAN VOLUME PEKERJAAN CUT & FILL (EARTH WORK)

8

ILUSTRASI NUANSA* SPESIFIKASI
GALIAN KONSTRUKSI

*SIMPLIFIKASI &
MENGHINDARI PERTENGKARAN DI LAPANGAN !!

C

C

C
TITIK POTONG TERRENDAH.

A

B

A

1. 2. 3. 4.

A+ B C A B

= GALIAN KONSTRUKSI = GALIAN NON KONSTRUKSI = GALIAN KONTRUKSI YANG TIDAK DIBAYAR = GALIAN KONSTRUKSI YANG DIBAYAR

DAMPAK DARI CARA MENGUKUR HASIL KERJA PADA DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA (VOL V)
1. “ASUMSI” : VOLUME YANG TERCANTUM DALAM BUKU V DIHARAPKAN AKAN MERUPAKAN VOLUME YANG AKAN DIBAYAR. 2. VOLUME YANG AKAN DIBAYAR ADALAH VOLUME YANG TELAH DIHITUNG DENGAN CARA SEBAGAIMANA DIJELASKAN PADA BUTIR “CARA MENGHITUNG VOLUME HASIL KERJA” DALAM SPESIFIKASI. 3. 3 DENGAN DEMIKIAN PADA UMUMNYA: DEMIKIAN, VOLUME PADA BUKU V < VOLUME YANG HARUS DIKERJAKAN MENURUT SPESIFIKASI. MENGHITUNG HARGA SATUAN, DAN KEBUTUHAN ALAT BERDASARKAN VOLUME PADA BUKU V; PERLU DIKOREKSI.

9

YANG PENTING TENTANG METODA PELAKSANAAN & PERALATAN

1. MEMUAT SEGALA PERATURAN / KETENTUAN TENTANG CARA / METODE DAN URUTAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PADA SETIAP TAHAPAN: DARI PERSIAPAN, PERCOBAAN SAMPAI PELAKSANAAN AKHIR. 2. MEMBERIKAN INFORMASI JENIS DAN KOMPOSISI PERALATAN YANG DISARANKAN DISARANKAN. SEKALI LAGI: “SEMUANYA DIATUR” SECARA RINCI

CARA PEMBAYARAN
1. MENGGUNAKAN NOMOR MATA PEMBAYARAN DAN SATUAN PEMBAYARAN TERTENTU (Standar): Rp/m; Rp/m2; Rp/m3; Rp/kg; Rp/ton; Rp/buah; LUMP SUM; dll. 2. ADA BEBERAPA PEKERJAAN YANG “TIDAK DIBAYAR” SECARA TERPISAH/TERSENDIRI (TIDAK MEMPUNYAI MATA PEMBAYARAN). 3. 3 BUTIR 2. DIANGGAP: 2 TERMASUK PADA BAGIAN PEKERJAAN “UTAMA”NYA atau TERSEBAR KE DALAM PAY-ITEM2 YANG LAIN; atau CONTINGENCIES kalau ada; atau KOEFISIEN YANG LAIN.

10

BEBERAPA CONTOH KEGIATAN YANG “TIDAK DIBAYAR”
1. 1 YANG “TIDAK DIBAYAR BIASANYA MERUPAKAN : TIDAK DIBAYAR” PEKERJAAN PENDUKUNG; VOLUMENYA TIDAK BESAR; BESARAN VOLUMENYA MERUPAKAN “PROSENTASE” DARI VOLUME PEKERJAAN YANG DIDUKUNG; dan atau ALASAN PRAKTIS LAINNYA. 2. BEBERAPA CONTOH PEKERJAAN YANG TIDAK PUNYA MATA PEMBAYARAN atau “TIDAK DIBAYAR” :

Lantai Kerja; Percobaan (Pemadatan; Campuran); Pengendalian Mutu; Bahan Aditiv Semen; Pengaturan Lalu Lintas; d.l.l.

RUANG LINGKUP SPESIFIKASI JALAN DAN JEMBATAN

11

Secara garis besar Spesifikasi Jalan dan Jembatan dibagi menjadi 10 Divisi: (Versi Direktorat Jenderal Bina Marga, “Buku III, Spesifikasi Umum”) p f m m ) Divisi Divisi Divisi Divisi Divisi Divisi Divisi Divisi Divisi Divisi 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : 7 : 8 : 9 : 10 : Umum Drainase Pekerjaan Tanah Pelebaran Perkerasan dan Bahu Jalan Perkerasan Berbutir Perkerasan Aspal Struktur Pengembalian Komdisi dan Pekerjaan Minor Pekerjaan Harian Pekerjaan Pemeliharaan Rutin.

TIGA JENIS UTAMA KEGIATAN KONSTRUKSI PADA PEKERJAAN PENINGKATAN JALAN
1. ROUTINE MAINTENANCE (PEMELIHARAAN RUTIN): KEGIATAN PERBAIKAN KERUSAKAN RINGAN DAN LOKAL PADA BAGIAN SEGMEN JALAN YANG BERKONDISI MANTAP AGAR SEGMEN JALAN TERSEBUT TETAP DALAM KONDISI MANTAP. HARUS DIKERJAKAN SECEPATNYA DILAKSANAKAN SECARA TERUS MENERUS 2. REINSTATEMENT (PENGEMBALIAN KONDISI): KEGIATAN PERBAIKAN KERUSAKAN PADA BAGIAN SEGMEN JALAN YANG AKAN DITINGKATKAN AGAR DAPAT DILALUI LALU LINTAS. PERSIAPAN SEBELUM DITINGKATKAN. 3. IMPROVEMENT (PERBAIKAN/PENINGKATAN): KEGIATAN PERKUATAN / PENINGKATAN STRUKTUR PADA SEGMEN YANG TELAH SELESAI DI-REINSTATEMENT. BERUPA PELAPISAN ULANG/OVERLAY/RESURFACING DENGAN UMUR RENCANA.

12

MASALAH BEKAITAN DENGAN KEGIATAN UTAMA
1. KURANG DISADARI PERAN/FUNGSI DARI KEGIATAN ROUTINE MAINTENANCE DAN REINSTATEMENT SEHINGGA DILAKSANAKAN DENGAN TIDAK BENAR PENYEBAB KERU KERUSAKAN DINI. 2. PENDORONG LAIN DARI PENYIMPANGAN : DIANGGAP TERMASUK PEKERJAAN MINOR, NJLIMET, NILAI PEMBAYARANNYA “KECIL” 3. KEMUNGKINAN PENYIMPANGAN DAN AKIBATNYA : ROUTINE MAINTENANCE YANG TIDAK BENAR SALAH SATU PENYEBAB KERUSAKAN (BUKAN BEBAN LALU-LINTAS SAJA). REINSTATEMENT YANG TIDAK BENAR BERAKIBAT IMPROVEMENT AKAN TERLETAK DI ATAS DASAR YANG TIDAK KOKOH, DAN AKHIRNYA BERPENGARUH TIDAK BAIK PADA PRODUK IMPROVEMENT TERSEBUT.

CONTOH PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI (REINSTATEMENT) YANG DILAKSANAKAN KURANG BAIK D L K K K K

DPD HPJI DKI

13

Permukaan jalan yang rusak dibongkar dengan jack hammer setelah batasbatasnya dipotong dengan pavement cutter.

Kalau dasar galian lapis pertama masih menunjukkan retak-retak atau tidak kokoh, perlu digali lebih dalam.

14

Penyemprotan Tack Coat perlu dilakukan merata ke seluruh bidang, termasuk bidang tegak. Tack Coat yang baik adalah dari Aspal Emulsi.

• Hindari Tack Coat yang berlebihan / tergenangan, karena akan berpotensi menimbulkan bleeding. • Bagian perkerasan yang tidak kokoh harus dibongkar kembali.

15

SKEDUL UTAMA KEGIATAN KONSTRUKSI
MASA KONTRAK ======================================================== MASA PEMEL. RUTIN :
INTENSIVE REGULAR

======================================== MASA KONSTRUKSI PHO WARTY.P. FHO ======================================================== MOBILISASI PENINGKATAN 3-12 bulan ========== TERGANTUNG FASILITAS LAB. SIFAT PROYEK ========== SURVAI LAP AWAL OLEH KONTRAKTOR; (Artikel 1.9.2) ==== UNTUK REVIEW DESAIN OLEH DIREKSI PEKERJAAN ==== REINSTATEMENT ======

MASALAH AKTUAL SKEDUL

1. KURANG DIFAHAMI

FILOSOFI SIMPLIFIED DESIGN.

2. KURANG DIFAHAMI ARTI YANG TERKANDUNG DALAM SIKUEN / URUTAN KEGIATAN 3. MENGARTIKAN LAIN, BAHKAN MEMANFAATKAN LAIN (SENGAJA ATAU TIDAK), KEGIATAN REVIEW DESIGN. 4. MENUNDA-NUNDA 4 MENUNDA NUNDA KEGIATAN ROUTINE MAINTENANCE MAINTENANCE, KHUSUSNYA R.M. INTENSIVE, DENGAN MAKSUD YANG KURANG BAIK (AGAR VOLUMENYA BERTAMBAH).

16

DESAIN BERTAHAP (PHASED DESIGN) DALAM PENINGKATAN JALAN Tahap I : Untuk Tender saja, disebut Simplified Design. • Mata Pembay. Utama (mengenai perkerasan aspal) didesain teliti (lokasi, volume) (lokasi • Mata Pembay. Minor didesain dengan pendekatan statistik / perkiraan. Tahap II : Untuk pedoman pelaksanaan (Review Desain). Dilakukan pendetailan / revisi minor thd Desain Tahap I : • Kontraktor melakukan Survey Awal dalam masa Mobilisasi dengan supervisi Konsultan, untuk menentukan lokasi-lokasi perbaikan. • Hasil Survai ini dijadikan bahan untuk membuat Review Desain oleh Direksi.

MOBILISASI (ARTIKEL 1.2.1)
1. PENGERTIAN UMUM :
a. MEMBELI / MENYEWA TANAH UNTUK BASE CAMP b. MENDATANGKAN; MENYEDIAKAN; MEMBANGUN DAN MEMELIHARA : - STAF/PERSONIL, - PERALATAN LABORATORIUM LAPANGAN, - PERALATAN KONSTRUKSI UTAMA, - KANTOR LAPANGAN BESERTA FASILITASNYA UNTUK KEPERLUAN KONTRAKTOR DAN DIREKSI PEKERJAAN. - BENGKEL, - GUDANG DLL.

2. DILENGKAPI SKEDUL, GAMBAR, LAYOUT, DAN DIMINTAKAN PERSETUJUAN DIREKSI PEKERJAAN. 3. SATUAN PENGUKURAN / PEMBAYARAN: LUMP SUM (50%/50%; 20%/PERALATAN UTAMA; 30%/DEMOB)

17

MASALAH MOBILISASI

1. 2.

ACAP KALI DIMULAI DENGAN KEGIATAN YANG BERSIFAT “FORMALITAS” KEGIATAN “TIDAK SEPENUH HATI” KURANG MEMAHAMI BAHWA DI DALAM MASA MOBILISASI BANYAK TERDAPAT KEGIATAN-KEGIATAN PENENTU. SURVAI LAP. AWAL; R.M. INTENSIVE; REINSTATEMENT; REVIEW DESIGN. PENYIAPAN PROPOSAL MOBILISASI, BAIK PADA MASA PENAWARAN MAUPUN MASA KONTRAK, KURANG CERMAT.

3.

DAFTAR PERALATAN LABORATORIUM & LAPANGAN LAMPIRAN 1.4.A
1. PEMERIKSAAN TANAH :
f. KADAR PORI - 3 ITEM a. PMRKS. KEPADATAN - 13 ITEM g. PENGEBORAN INTI - 5 ITEM b. b CBR LAB LAB. - 11 ITEM h TERMOMETER BESI - 2 ITEM h. c. BERAT JENIS - 3 ITEM I. PERLENGKP. & ALAT - 8 ITEM d. ATTERBERG - 7 ITEM j. PEMERIKSAAN e. ANLS SARINGAN - 10 ITEM LENDUTAN - 3 ITEM f. KEPADATAN LAP. - 7 ITEM g. KADAR AIR - 2 ITEM TOTAL : 101 ITEM - 10 ITEM - 5 ITEM - 2 ITEM - 3 ITEM - 5 ITEM CATATAN : “DAFTAR DI ATAS HANYALAH MERUPAKAN DAFTAR MINIMUM”. TIDAK MENGURANGI TANGGUNG JAWAB KONTRAKTOR UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN YANG DIPERLUKAN SESUAI SPEC.

2. BITUMINOUS TESTING :
a. PMRKS ASPAL PMRKS. b.EKSTRAKSI/C c. EKSTRAKSI/R d. B. J. AGRGT KASAR e. B. J. AGRGT HALUS

18

PEMBAYARAN FASILITAS & PELAKSANAAN PENGUJIAN ARTIKEL 1.4.4

1. FASILITAS PENGUJIAN : - TIDAK DIBAYAR TERSENDIRI atau TERPISAH - TERMASUK PADA MATA PEMBAYARAN MOBILISASI 2. PELAKSANAAN PENGUJIAN SESUAI SPESIFIKASI : - TIDAK DIBAYAR TERSENDIRI atau TERPISAH - SUDAH HARUS DIMASUKKAN KE DALAM PERHITUNGAN BIAYA HARGA-HARGA SATUAN MATERIAL YANG BERSANGKUTAN.

PENGENDALIAN MUTU (QUALITY CONTROL)
1. TIDAK SELALU TERDAPAT / TERGABUNG PADA SUATU ARTIKEL KHUSUS (menyulitkan). 2. SPESIFIKASI PENGENDALIAN MUTU YANG BAKU BERSTRUKTUR “2-3-5”. 3. 2 3 5 DIMENSI DAN KUALITAS BAHAN BAKU: BAHAN OLAHAN; PRODUK JADI 5 HAL : TEST APA; METODA APA; FREKWENSI / INTERVAL BERAPA; SPESIFIKASI BAGAIMANA; TOLERANSI BAGAIMANA.

19

HASIL PENGAMATAN TERHADAP SPESIFIKASI QC YANG ADA PADA SAAT INI

1. BELUM SEMUANYA LENGKAP DALAM HAL KETENTUAN “2-3-5” 2. BEBERAPA MASIH BERKETENTUAN KUALITATIF (SEHARUSNYA KUANTITATIF) 3. BEBERAPA MASIH BERKETENTUAN “BERDASARKAN PETUNJUK DIREKSI” TIDAK LENGKAP = POTENSI MASALAH (Khususnya Harga Penawaran menjadi tinggi)

STATUS HASIL PENGENDALIAN MUTU
1. SEBAGAI PERANGKAT UNTUK DAPAT DILAKUKAN PEMBAYARAN. PEMBAYARAN BAGIAN PEKERJAAN YANG SUDAH LOLOS QC. 2. SEBAGAI PERANGKAT UNTUK DAPAT DILAKSANAKAN BAGIAN PEKERJAAN BERIKUTNYA YG TERKAIT. 3. SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM QUALITY ASSURANCE. 4. MESKIPUN SECARA QC SUDAH DITERIMA; TIDAK MELEPASKAN TANGGUNG JAWAB KONTRAKTOR ATAS MUTU HASIL PEKERJAAN SECARA KESELURUHAN. MASIH ADA PHO; FHO dan PASAL KEGAGALAN BANGUNAN DALAM UU No. 18/1999 (UUJK).

20

POSISI & STATUS QC
CEK PROSES CEK PROSES CEK PROSES

Q C Ag. I
CEK PROSES

Q C

Q C Ag. Kelas A Tahap Bahan Olahan
Dimensi : Gradasi Kualitas : CBR DIMENSI

Q C Lapis Pondasi Agregat Tahap Produk Jadi
Dimensi : Tebal Kualitas : CBR

+

Ag.II

Tahap Bahan Baku
Dimensi : Gradasi Kualitas : Abrasi

QC

QC = CEK PRODUK

KUALITAS

SISTEM JAMINAN MUTU
(QUALITY ASSURANCE SYSTEM)
Periksa Check List utk Pek. Jalan dan Jembatan

CEK PROSES

PEKERJAAN TANAH (Divisi 3)

21

22

GALIAN YANG TIDAK DIUKUR UNTUK PEMBAYARAN
Gal an di Galian d luar garis yang ditentukan dalam profil gar s d tentukan prof l melintang yang disetujui. Galian utk pembuatan selokan drainase dan saluran air. Galian utk pemasangan gorong-gorong pipa. Galian utk pengembalian kondisi perkerasan lama. Galian utk pengembalian kondisi bahu jalan. Galian utk pemeliharaan rutin rutin. Galian utk pengambilan material dari sumber bahan (borrow pits). Galian dan pembuangan selain utk tanah, batu dan perkerasan lama.

BAHAN Timbunan Biasa

TIMBUNAN

- Tidak berplastisitas tinggi, A-7-6 (AASHTO M145) atau CH (Unified Soil Classif. System), kecuali utk pada dasar timbunan atau pada penimbunan kembali tanpa diperlukan daya dukung atau kekuatan geser yg tinggi. - Utk lapis tanah dasar (subgrade), 30 cm di bawah permukaan), ada syarat tambahan: CBR ≥ 6 % (AASHTO T193), dan kepadatan 100 % (AASHTO T99). - Tanah “very expansive” dengan Nilai Aktif ≥ 1,25 tidak boleh digunakan. (Nilai Aktif = Indeks Plastisitas dibagi Kadar Lempung).

23

TIMBUNAN (lanjutan) Timbunan Pilihan - Berlaku persyaratan utk Timbunan Biasa Biasa, dengan tambahan persyaratan. - CBR ≥ 10 %, Kepadatan 100 % - Bila pemadatan dalam keadaan jenuh air tidak dapat dihindari, PI ≤ 6 %. Timbunan Pilihan di atas Rawa - Pasir atau kerikil bersih dengan PI ≤ 6 %.

ACTIVITY 1.25

24

PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN
• Bila tinggi timbunan ≤ 1 meter, dasar pondasi timbunan harus dipadatkan sampai 15 cm bagian permukaan atas dasar pondasi memenuhi persyaratan timbunan di atasnya. • Ti b Timbunan di atas l t s lereng h harus dibuat b t s dib t bertangga. • Penghamparan harus dilakukan berlapis setebal 20 cm gembur, dan dipadatkan pada kadar air antara 3 % di bawah sampai 1 % di atas kadar air optimum / OMC. • Lapisan tanah pada kedalaman > 30 cm di bawah permukaan tanah dasar harus dipadatkan sampai 95 % (AASHTO T99). • Lapisan tanah pada kedalaman ≤ 30 cm di bawah permukaan tanah dasar harus dipadatkan sampai 100 % (AASHTO T99).

CARA PENGHAMPARAN YANG SALAH !!! (alat, material)

25

Tamping-foot roller untuk memadatkan tanah berlempung

Pemadatan dengan smooth drum roller

26

CARA PEMADATAN SALAH !!!

PERKERASAN BERBUTIR (Divisi 5)

27

Persyaratan Mutu Material Agregat (Batuan):
Sifat-sifat Standar Uji Kelas A 0 – 40 % 0-6 0 - 25 0–5% Min. 90 % Kelas B 0 – 40 % 0-4 0 - 35 0–5% Min. 35 %

Abrasi Indeks Plastisitas Batas Cair Bagian Yang Lunak CBR

AASHTO T 96 AASHTO T 90 AASHTO T 89 AASHTO T 112 AASHTO T 193

Penghamparan campuran harus merata, kadar air harus merata dalam rentang yang disyaratkan. Tebal padat maksimum 20 cm cm. Pemadatan dilakukan dengan alat yang cocok (bila dengan pemadat roda besi mengakibatkan agregat pecah, dapat digunakan roda karet) sampai paling sedikit 100 % kepadatan maksimum (AASHTO T108 method D); dan pada kadar air 3 % di bawah sampai 1 % di atas kadar air optimum.

28

29

SPESIFIKASI BARU CAMPURAN BERASPAL (Divisi 6)

DPD HPJI DKI

JENIS CAMPURAN BERASPAL
LATASIR (SAND SHEET) Kelas A dan Kelas B Ditujukan untuk jalan dengan lalu lintas ringan. Pemilihan Kelas A atau Kelas B tergantung dari gradasi pasir yg digunakan. LATASTON (HRS) Terdiri dari dua macam, yaitu Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) dan Lataston Lapis Permukaan (HRS-Wearing Course). Ukuran maks agregat 19 mm. Kunci perencanaan campuran: - Gradasi benar-benar senjang - Sisa rongga udara pada kepadatan membal (refusal density) harus memenuhi ketentuan spesifikasi. LASTON (AC) Terdiri dari tiga macam campuran, yaitu Laston Lapis Aus (AC-WC), Laston Lapis Pengisi (AC-BC) dan Laston Lapis Pondasi (AC-Base). Ukuran maks agregat masing-masing campuran 19 mm; 23,4 mm; dan 37,5 mm. Campuran AC yang menggunakan aspal modifikasi masing-masing disebut AC-WC Modified, AC-BC Modified dan AC-Base Modified.

30

TEBAL NOMINAL RANCANGAN CAMPURAN ASPAL DAN TOLERANSI
JENIS CAMPURAN SIMBOL TEBAL NOMINAL MINIMUM (cm) TOLERANSI TEBAL (mm)

Latasir Kelas A Latasir Kelas B Lapis Aus Lataston Lapis Pondasi Lapis Aus Laston Lapis Antara Lapis Pondasi

SS-A SS-B HRS-WC HRS-Base AC-WC AC-BC AC-Base

1,5 ± 2,0 2,0 3,0 ± 3,0 3,5 4,0 5,0 6,0 ± 3,0 ± 4,0 ± 5,0

PERSYARATAN AGREGAT KASAR
PENGUJIAN STANDAR NILAI

Kekekalan bentuk agregat terhadap larutan Natrium dan Magnesium Sulfat Abrasi dengan mesin Los Angeles Kelekatan agregat terhadap aspal Angularitas (kedalaman dari permukaan < 10 cm) Angularitas (kedalaman dari permukaan ≥10 cm) Partikel pipih Partikel lonjong Material lolos saringan No. 200

SNI 03-3407-1994 SNI 03-2417-1991 SNI 03-2439-1991

Maks 12 % Maks 40 % Min 95 % 95/90 80/75 Maks 25 % Maks 10 % Maks 1 %

DoT’s Pennsylvania Test Method No. 621

*)

ASTM-4791 ASTM D-4791 SNI 03-4142-1996

31

*) Catatan : 80/75 menunjukkan bahwa 80 % agregat kasar mempunyai muka bidang pecah satu atau lebih dan 75 % agregat kasar mempunyai muka bidang pecah dua atau lebih.

PERSYARATAN AGREGAT HALUS
PENGUJIAN STANDAR NILAI

Nilai setara pasir Material lolos saringan N0. 200

SNI 03-4428-1997 SNI 03-4428-1997

Min 50 % Maks 8 %

GRADASI AGREGAT GABUNGAN
Ukuran Saringan ASTM 1 ½” 1” ¾” ½” 3/8” No. 8 No. 16 No. 30 No. 200 No. 4 No. 8 No. 16 No.30 No.50 (mm) 37,5 , 25 19 12,5 9,5 2,36 1,18 0,600 0,075 4,75 2,36 1,18 0,600 0,300 10-15 8-13 35-60 6-12 15-35 2-9 4-10 39,1 25,6-31,6 19,1-23,1 15,5 4-8 34,6 22,3-28,3 16,7-20,7 13,7 3-7 39,5 26,8-30,8 18,1-24,1 13,6-17,6 11,4 DAERAH LARANGAN 90-100 75-100 100 100 100 90-100 75-85 50-72 100 90-100 65-100 35-55 100 90-100 Maks 90 28-58 23-39 19-45 100 90-100 Maks 90 % Berat Yang lolos Latasir (SS) Kelas A Kelas B Lataston (HRS) WC Base WC Laston (AC) BC Base 100 90-100 Maks 90

32

33

BAHAN ASPAL UNTUK CAMPURAN BERASPAL
Bahan Aspal yang dapat dipergunakan di Indonesia saat ini terdiri dari : Aspal Keras Pen 60 (kon ensional) (konvensional) Aspal dimodifikasi dengan Asbuton Aspal Multigrade Aspal Polymer g p p Pengambilan contoh bahan aspal dari setiap truk tanki harus dilaksanakan pada bagian atas, tengah dan bawah. Contoh pertama yang diambil harus langsung diuji di laboratorium lapangan untuk memperoleh nilai Penetrasi dan Titik Lembek.

PERSYARATAN ASPAL
NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. JENIS PENGUJIAN Penetrasi, 0,1 mm Titik Lembek,
0C

METODE PENGUJIAN SNI 06-2456-1991 06-2434-1991 06 2433 1991 06-2433-1991 06-2432-1991 06-2441-1991 06-2438-1991 06-2440-1991 06-2456-1991 06-2456-1991 06-2432-1991 06-1968-1991 06-2456-1991

ASPAL KERAS PEN 60 60-79 48-58 Min 200 Min 100 Min 1,0 Min 99 Maks 0,8 Min 54 Min 50 -

ASPAL POLYMER 50-80 Min 54 Min225 Min 50 Min 1,0 Min 99 Maks 1,0 Maks 40 Maks 6,5

ASPAL MOD. DG ASBUTON 40-55 Min 55 Min 225 Min 50 Min 1,0 Min 90 Maks 2,0 Min 55 Min 50 Min 90 -

ASPAL MULTIGRADE 50-70 Min 55 Min 225 Min 100 Min 1,0 Min 99 Maks 0,8 Min 60 Min 50 -

Titik Nyala, 0C Daktilitas, cm Berta Jenis Kelarutan dlm Trichlor Ethylene, % berat Penurunan Berat (TFOT), % berat Penetrasi setelah Kehilangan Berat, Berat % asli Perbedaan Penetrasi setelah TFOT, % asli Daktilitas setelah TFOT, % asli Mineral Lolos Saringan No. 100, % Perbedaan Titik Lembek setelah TFOT, % asli

34

PERSYARATAN ASPAL (lanjutan)

NO. 13.

JENIS PENGUJIAN Stabilitas penyimpanan pada 163 0C selama 48 jam - Perbedaan Titik Lembek, 0C Elastic Recovery pada 25 0C, % j p Uji Bintik / Spot Test (optional) -Standar Naptha -Naptha Xylene -Hepthane Xylene Kekentalan pada 135 0C, cSt

METODE PENGUJIAN SNI 06-2434-1991

ASPAL KERAS PEN 60 -

ASPAL POLYMER Maks 2

ASPAL MOD. DG ASBUTON -

ASPAL MULTIGRADE -

14. 15.

AASHTO T102 Negatif g

Min 30 -

-

-

16.

06-6721-2002

-

300-2000

-

-

BAHAN ADITIV UNTUK CAMPURAN
SIFAT-SIFAT ASBUTON METODE PENGUJIAN TIPE 5/20 TIPE 20/25

Kadar Aspal, % Ukuran Butir Maksimum, mm Kadar Air, % Penetrasi Aspal Asbuton, 0,1 mm

SNI 03-3640-1994

18 - 22

23 - 27

SNI 03-1968-1990

1,18

1,18

SNI 03-2490-1991

Maks 2

Maks 2

SNI 03-2456-1991

≤ 10

19 - 22

Catatan Asbuton Butir Tipe 5/20 : Kelas penetrasi 5 (0,1 mm), dan kadar bitumen 20 % Kelas penetrasi 20 (0,1 mm), dan kadar bitumen 25 %

Asbuton Butir Tipe 20/25 :

35

KETENTUAN SIFAT-SIFAT CAMPURAN LATASIR SIFATUNTUK LALU LINTAS < 0,5 JUTA ESA / TAHUN
SIFAT-SIFAT CAMPURAN LATASIR KELAS A & B

Penyerapan Aspal, % Jumlah Tumbukan per Bidang Rongga dalam Campuran, % Rongga dalam Agregat (VMA), % Rongga Terisi Aspal, % Stabilitas Marshall, kg Marshall Pelelehan, mm Marshall Quotient, kg/mm Stabilitas Marshall Sisa setelah Perendaman selama 24 jam, 60 oC

Maks Min Maks Min Min Min Maks Min Maks Min Min

2,0 50 3,0 6,0 20 75 200 850 2 3 80 75

KETENTUAN SIFAT-SIFAT CAMPURAN LATASTON SIFATUNTUK LALU LINTAS < 1,0 JUTA ESA / TAHUN
SIFAT-SIFAT CAMPURAN Penyerapan Aspal, % Jumlah Tumbukan per Bidang Rongga dalam Campuran, % Rongga dalam Agregat (VMA), % Rongga terisi Aspal, % Stabilitas Marshall, kg Pelelehan, mm Marshall Quotient, kg/mm Stabilitas Marshall Sisa setelah Perendaman selama 24 jam, LATASTON WC HC

Maks Min Maks Min Min Min Min Min Min Min 18

1,7 75 3,0 6,0 17 68 900 3 300 75 2

60 oC
Rongga dalam Campuran pada Kepadatan Membal (Refusal), %

36

KETENTUAN SIFAT-SIFAT CAMPURAN LASTON SIFATUNTUK LALU LINTAS < 5 JUTA ESA / TAHUN
SIFAT-SIFAT CAMPURAN LASTON WC BC Base

Penyerapan Aspal, %
Jumlah Tumbukan per Bidang Rongga dalam Campuran, % Rongga dalam Agregat (VMA), % Rongga terisi Aspal, % Stabilitas Marshall, kg Marshall Pelelehan, mm Marshall Quotient, kg/mm Stabilitas Marshall Sisa setelah Perendaman selama 24 jam, 60 oC Rongga dalam Campuran pada Kepadatan Membal (Refusal), %

Maks Min Maks Min Min Min Maks Min Min Min Min 15 65 800 3 250 75

1,2 112 3,5 5,5 14 63 13 60 1500 5 300 75 2,5

KETENTUAN SIFAT-SIFAT CAMPURAN LASTON DI-MODIFIKASI SIFATDIUNTUK LALU LINTAS > 5 JUTA ESA / TAHUN
SIFAT-SIFAT CAMPURAN ASPAL LASTON (AC) WC Mod BC Mod Base Mod

Penyerapan Aspal, %
Jumlah Tumbukan per Bidang Rongga dalam Campuran, % Rongga dalam Agregat (VMA), % Rongga terisi Aspal, % Stabilitas Marshall, kg

Maks Min Maks Min Min Min Maks Min Maks Min Min Min Min 15 65 1000 3 300 75

1,7 112 3,5 3,5 14 63 13 60 1800 5 350 75 2,5 2500

Pelelehan, mm , Marshall Quotient, kg/mm Stabilitas Marshall Sisa setelah Perendaman selama 24 jam, 60 oC Rongga dalam Campuran pada Kepadatan Membal (Refusal), % Stabilitas Dinamis, lintasan / mm

37

VISKOSITAS DAN TEMPERATUR CAMPURAN BERASPAL

PENGEMBALIAN KONDISI DAN PEKERJAAN MINOR (Divisi 8)
PENGEMBALIAN KONDISI PERKERASAN LAMA (Perbaikan lobang2 besar, keriting/gelombang sedalam > 3 cm, retak2 struktural lebar dan tanah dasar melemah). Harus dilaksanakan sesegera mungkin dalam program pelaksanaan. Lokasi ditetapkan dalam Survai Awal Kontraktor lalu dicantumkan dalam Review Desain. Klasifikasi: Perbaikan lobang > 40x40 cm dengan total volume setelah penggalian ≤ 10 m3 per km; dan pelaburan antara 10 – 30 % setiap 100 m2 jalan beraspal dan luas tiap pelaburan ≤ 40 m2. Pek. yang lebih besar dari Pengembalian Kondisi harus dibayar dengan Peningkatan/Perbaikan (Divisi 2, 3, 5, atau 6). Pek. Yang lebih kecil dari Pengembalian Kondisi harus dibayar dengan Pemeliharaan Rutin (Divisi 10).

38

PEMELIHARAAN RUTIN (Divisi 10)
PEMELIHARAAN RUTIN PERKERASAN, BAHU JALAN, DRAINASE, PERLENGKAPAN JALAN DAN JEMBATAN Dibayar secara bulanan dari Harga Penawaran LUMP SUM (bukan berdasarkan kuantitas bahan aktual yang digunakan). Kontraktor harus dianggap telah melakukan pemeriksaan lapangan secara teliti sebelum mengajukan Penawaran dan telah mengetahui dengan jelas kondisi aktual lapangan, sehingga Harga Penawarannya telah mencakup pekerjaan yang diperlukan selama Periode kontrak, dengan memperhitungkan kondisi lalu lintas perkerasan lama dan cuaca serta kerusakan lintas, cuaca, yang mungkin terjadi antara saat penawaran dan saat lapangan diserahkan. Kegiatan harus dimulai saat serah-terima lapangan sampai berakhirnya Periode Kontrak.

Sabar, masih ada tambahan : Jalan Beton Semen

HPJI

39

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->