Anda di halaman 1dari 2

MANAJEMEN REKAYASA MANAJEMEN REKAYASA Pemahaman tentang kontruksi dibagi menjadi : 1. Teknologi kontruksi (Contructions Tegnology). 2.

Manajemen Konstruksi (Management Contructions). Dalam implementasinya keduanya saling bersinergi untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi. Constructions tegnology : 1. Mempelajari metoda / teknik yang digunakan mewujudkan bangunan fisik dalam lokasi proyek. Manajement contructions : 2. Bagaimana mengaplikasikan sumber daya secara tepat didalam proyek konstruksi. Yang dimaksud dari sumber daya : manpower, material, machine, money, metode. Proyek rekayasa sipil mempunyai karakteristik : bersifat unik dan tunggal. Konsekuensi dari karakteristik proyek sipil : Timbulnya kebutuhan akan manajemen yang lebih fleksible sehingga dapat diaplikasikan keberbagai jenis proyek. Proyek rekayasa sipil bersifat dinamis Ditunjukkan dengan selalu berubahnya sumber daya yang dibutuhkan, baik jenis maupun jumlahnya. TUJUAN MANAJEMEN REKAYASA Pada umumnya dipandang sebagai pencapaian suatu sasaran tunggal dan jelas terdifinisikan. Sasaran sekunder dan bersifat sebagai Constraint selalu terlibat dalam proyek rekayasa sipil dan selalu berhubungan dengan persyaratan kinerja, waktu penyelesaian, batasan biaya, mutu dan kualitas pekerjaan, serta keselamatan kerja. Bagaimana menggunakan sumber daya dalam pelaksanaan proyek berada pada posisi minimum ? Aspek penting ini dapat dicapai melalui penggunaan teknik manajemen yang mencakup : 1. Pembentukan situasi dimana keputusan dapat diambil pada tingkat menejemen yang paling rendah dan mendelegasikan kepada mereka yang mampu. 2. Memotifasi orang-orang untuk memberikan yang terbaik dalam batas kemampuannya. 3. Pembentukan semangat kerja sama kelompok dalam organisasi. 4. Penyediaan fasilitas memungkinkan orang-orang yang terlibat dalam proyek meningkatkan kemampuan dan cakupannya. FUNGSI MANAJEMEN REKAYASA Delapan fungsi dasar manajemen dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok kegiatan 1. Kegiatan perencanaan a. Penetapan tujuan (Goal Setting). b. Perencanaan (Planning). c. Pengorganisasian (Organizing) 2. Kegiatan pelaksanaan a. Pengisian staf (Staffing). b. Pengarahan (Directing). 3. Kegiatan pengendalian a. Pengawasan (Supervising). b. Pengendalian (Controlling). c. Koordinasi (Coordinating). PENETAPAN TUJUAN a. Tujuan yang ditetapkan harus realistis, artinya memungkinkan untuk dicapai. b. Tujuan yang ditetapkan harus spesifik, artinya memiliki kejelasan apa yang ingin dicapai. c. Tujuan yang ditetapkan harus terukur, artinya memiliki ukuran keberhasilan.

Tujuan yang ditetapkan terbatas waktunya, artinya mempunyai durasi Tidak terjadi rangkaian kegiatan yang sama. pencapaian. Proyek bersifat sementara. PERENCANAAN Melibatkan grup pekerja yang berbeda. Setiap proyek konstruksi selalu dimulai dengan proses perencanaan, dan agar proses b. Membutuhkan sumber daya (resources) berjalan dengan baik ditentukan terlebih dulu sasaran utamanya. Membutuhkan sumber daya dalam penyelesaian. Perencanaan mencakup penentuan berbagai cara, yang kemudian menentukan salah Pengorganisasian dilakukan oleh manajer proyek. satu cara yang tepat dengan mempertimbangkan semua kendala yang timbul. Membutuhkan penguasaan teori kepemimpinan. Perkiraan jenis dan jumlah sumber daya yang dibutuhkan dalam proyek menjadi c. Membutuhkan organisasi sangat penting untuk mewujudkan tujuannya. Mempunyai keragaman tujuan. Perencanaan dapat didefinisikan sebagai peramalan masa yang akan datang dan Terlibatnya sejumlah individu dengan ragam keahlian dan perumusan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan ketidakpastian. berdasarkan peramalan tersebut. Menyatukan visi yang telah ditetapkan oleh manajer proyek. Bentuk perencanaan dapat berupa : Jenis proyek konstruksi perencanaan prosedur, perencanaan metode kerja, perenc standart pengukuran hasil, Proyek konstruksi dibedakan menjadi dua kelompok bangunan : perenc anggaran biaya, perenc program (rencana kegiatan beserta jadwal). 1. Bangunan gedung : rumah, kantor, pabrik. PENGORGANISASIAN 2. (proyek konstruksi yang menghasilkan tempat orang bekerja / tinggal, Kegiatan ini bertujuan melakukan pengaturan dan pengelompokan kegiatan proyek, dilaksanakan pada lokasi yang sempit, jenis pondasi telah diketahui, manajemen agar kinerja yang dihasilkan sesuai harapan. proyek untuk progressing pekerjaan). PENGISIAN STAFF 2. Bangunan sipil : jalan, jembatan, bendungan, saluran irigasi. Pada tahap ini merupakan proses awal dalam perencanaan personel sebagai pengelola (sebagai pengendali alam agar berguna bagi manusia, dilaksanakan pada lokasi proyek. Atau definisi pengisian staf adalah pengerahan, penempatan, pelatihan, yang luas, kondisi pondasi sangat berbeda satu sama lain dalam satu proyek, pengembangan tenaga kerja untuk menghasilkan kondisi tepat personel (right people), manajemen untuk memecahkan permasalahan) tepat posisi (right position), tepat waktu (right time). Tahap kegiatan dalam proyek konstruksi PENGARAHAN Kegiatan konstruksi pada umumnya berproses panjang, disamping itu terdapat Tahap ini dapat didefinisikan sebagai kegiatan mobilisasi sumber daya yang dimiliki rangkaian yang berurutan dan berkaitan. Rangkaian tersebut dimulai dari : agar bergerak sebagai kesatuan sesuai rencana yang telah dibuat. Need.munculnya gagasan&kebutuhan. PENGAWASAN Feasibility Study. kemungkinan keterlaksanaannya Didefinisikan sebagai interaksi langsung antar individu dalam organisasi untuk Breafing. keputusan membangun & pembuatan Penjelasan lebih rinci mencapai kinerja dalam tujuannya. Preliminary design. penuangan rancangan awal Dalam implementasinya pengawasan dilakukan oleh pihak pelaksana dan pihak user. Design development pembuatan rancangan and detail design. rinci Pengawasan oleh pelaksana bertujuan mendapatkan hasil yang telah ditetapkan, Procurement. persiapan pengadaan penyedia Jasa. sedang pengawasan oleh user untuk memperoleh keyakinan apa yang diterimanya Constructions implementasi proyek sesuai dengan apa yang dikendaki. Maintenance, start-up.pemeliharaan & Persiapan Penggunaan. PENGENDALIAN Merupakan proses penetapan atas apa yang telah dicapai, evaluasi kinerja dan langkah Tahap studi kelayakan perbaikan bila diperlukan. Atau pengendalian dapat dikatakan : membandingkan apa Tahap ini bertujuan meyakinkan user bahwa proyek yang diusulkan layak untuk yang seharusnya terjadi dengan apa yang telah terjadi. dilaksanakan baik dalam aspek rencana maupun rancangan, aspek ekonomi, aspek KOORDINASI lingkungan. Kegiatannya berupa: Pemantauan prestasi kegiatan dari pengendalian akan digunakan sebagai bahan untuk 1. Menyusun rancangan proyek dan membuat estimasi biaya. melakukan langkah perbaikan, baik proyek dalam keadaan terlambat atau lebih 2. Meramalkan manfaat yang diperoleh baik manfaat langsung/manfaat cepat.Koordinasi adalah mempertemukan semua unsur / pihak-pihak yang terlibat ekonomi maupun manfaat tidak langsung (fungsi sosial). dalam konstruksi untuk menyelesaikan semua permasalahan yang muncul selama 3. Menyusun analisis kelayakan proyek, baik secara ekonomi maupu financial. implementasi proyek. Koordinasi internal untuk mengevaluasi diri terhadap kinerja. 4. Menganalisis dampak lingkungan. Koordinasi eksternal untuk menyelesaikan masalah yang timbul. Tahap penjelasan (briefing) MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI Pada tahap ini user menjelaskan kepada konsultan perencana mengenai fungsi proyek Manajemen dan biaya. Sehingga diharapkan konsultan dapat menafsirkan keinginan user dalam Menurut H. Koontz (1982) : membuat tafsiran biaya. Kegiatannya berupa : Proses merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan kegiatan, serta 1. Menyusun rencana kerja dan menunjuk konsultan perencana. sumber daya untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. 2. Mempersiapkan jadwal waktu, lingkup kerja, rencana pelaksanaan. Proses : mengerjakan sesuatu dengan pendekatan yang sistimatis. 3. Mempertimbangkan kebutuhan pemakai, keadaan lokasi, persyaratan mutu. Proyek adalah kegiatan sekali lewat, dengan waktu dan sumber daya terbatas untuk Tahap perancangan (design) mencapai hasil akhir yang telah ditentukan, dibatasi oleh anggaran, jadwal dan mutu. Manajemen Proyek adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan Tahap ini bertujuan melengkapi penjelasan proyek dan menentukan tata letak proyek, rancangan, metode konstruksi, dan taksiran biaya agar disetujui pemilik mengendalikan sumber daya untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. proyek dan pihak-pihak yang berwenang. Pada tahap ini termasuk gambar rencana Karakteristik proyek konstruksi membutuhkan organisasi, dan proses penyelesaiannya dan spesifikasi.kegiatannya berupa : berpegang pada tiga kendala (triple Constrain) yaitu sesuai time scadule, sesuai biaya 1. Mengembangkan ikhtisar proyek menjadi penyelesaian akhir. yang direncanakan, sesuai spesifikasi yang direncanakan. 2. Memeriksa masalah teknis. Tiga karakter proyek tersebut adalah : 3. Meminta persetujuan akhir dari pemilik proyek. a. Proyek bersifat unik. d.

Mempersiapkan gambar rencana, gambar kerja, spesifikasi, jadwal waktu, engineering estimate. Tahap procurement /tender Tahap ini bertujuan menunjuk penyedia jasa sebagai pelaksana. Kegiatannya berupa : 1. Pembentukan panitia lelang. 2. Pra kualifikasi/pasca kualifikasi. 3. Dokumen kontrak. Tahap Implementasi (Construction) Tahap ini bertujuan mewujudkan bangunan yang dibutuhkan user dalam batasan biaya, waktu, dan mutu yang telah disyaratkan. Kegiatan ini meliputi : 1. Kegiatan perencanaan dan pengendalian : Jadwal waktu pelaksanaan. Organisasi lapangan. Sumber daya. 2. Kegiatan Koordinasi Mengkoordinasikan seluruh kegiatan,serta semua fasilitas dan kelengkapannya. Mengkoordinasikan para sub kontraktor. Penjeliaan pada semua kegiatan. Tahap pemeliharan dan persiapan penggunaan Tahap ini bertujuan menjamin kesesuaian bangunan yang telah dikerjakan dengan dokumen kontrak dan spesifikasi sebagaimana mestinya. Selain itu dibuat catatan mengenai petunjuk operasinya dan melatih staf dalam menggunakan fasilitas yang ada. Kegiatannya berupa : 1. mempersiapkan Catatan selama pelaksanaan atas terjadinya perubahan dari gambar rencana yang telah disepakati (as built drawing). 2. Meneliti bangunan secara cermat dan memperbaiki kerusakan yang terjadi. 3. Mempersiapkan petunjuk operasional dan pedoman pemeliharaan. 4. Melatih staf dalam melaksanaan pemeliharaan. PIHAK YANG TERLIBAT DALAM PROYEK KONSTRUKSI Dalam kegiatan proyek konstruksi terdapat proses pengolahan sumber daya menjadi hasil kegiatan berupa bangunan. Proses ini melibatkan pihak-pihak baik secara langsung maupun tidak langsung yang dituangkan dalam gambar dibawah ini : Manajemen Proyek adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan sumber daya untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. ORGANISASI PROYEK Mengorganisir Mengatur unsur-unsur sumber daya perusahaan dalam suatu gerak langkah yang singkron untuk mencapai tujuan organisasi dengan efektif dan efisien. Untuk maksud tersebut diperlukan organisasi. Proses mengorganisir : a. Melakukan identifikasi dan klasifikasi pekerjaan. b. Mengelompokkan pekerjaan. c. Menyiapkan pihak yang menangani pekerjaan. d. Mengetahui wewenang dan tanggung jawab. e. Menyusun mekanisme koordinasi. Struktur organisasi 1. Organisasi Fungsional : Disebut demikian karena dikelompokkan menjadi unit-unit berdasarkan fungsinya, dan yang mengerjakan pekerjaan sejenis dikelompokkan dalam satu unit yang dinamakan bidang atau departemen. Dengan maksud yang sama bidang dipecah lagi menjadi sub unit yang lebih kecil. Ciri utama organisasi fungsional memiliki struktur piramida, dengan konsep otoritas dan hirarki vertikal dengan sifat-sifat : Prinsip komando tunggal, masing-masing personil memiliki satu atasan.

4.

Setiap personil mempunyai wewenang dan tanggung jawab yang jelas. Arus informasi dan pelaporan bersifat vertikal. Hubungan kerja horizontal diatur dengan prosedur kerja, kebijakan, petunjuk pelaksanaan. Mekanisme koordinasi antar unit dengan rapat-rapat. Keuntungan : Mudah pengawasan dan kepenjeliaannya. Berpotensi meningkatkan ketrampilan / spesialisasi. Konsentrasi terpusat pada sasaran bidang yang bersangkutan. Mudah pengendalian kinerja, biaya, jadwal, dan mutu. Kerugian : a. Cenderung memprioritaskan kinerja, mengurangi tujuan secara menyeluruh. b. Makin besar organisasi, makin panjang prosedur pengendalian keputusan. c. Sulit mengkoordinasi dan mengintegrasikan pekerjaan yang multi disiplin. d. Kurangnya jalur komunikasi horizontal. 2. Organisasi Produk dan Area Bilamana perusahaan berkembang keanekaragaman produk tertentu besar, sehingga sulit ditangani dengan struktur fungsional,jalan keluarnya dibentuk divisi yang bersifat setengah mandiri, diberi kekuasaan untuk merangsang memproduksi memasarkan sendiri dari devisi tersebut. Didalam devisi dibentuk sub devisi yang pembagian kerjanya didasarkan pada fungsi. Struktur produk ini bersifat otonomi artinya bertanggung jawab atas labarugi devisi yang bersangkutan. Kepala devisi tetap melapor ke pimpinan untuk mendapat keputusankeputusan yang menyangkut perusahaan. 3. Organisasi Matrik Sama seperti pada organisasi produk dan area yang mempunyai jalur pelaporan dan arus kegiatan vertikal, maka pada organisasi matrik disamping jalur formal vertikal terdapat pula jalur formal horizontal. 4. Organisasi Proyek Dalam menyusun organisasi proyek disamping memenuhi syarat umum sebagaimana layaknya organisasi formal, penyusunan ini harus memenuhi konsep manajemen proyek. Yang berkisar pada : Arus horizontal disamping arus vertikal. Penanggung jawab tunggal. Pendekatan sistem dalam perencanaan dan implementasi. 4.1 Organisasi Proyek Fungsional (OPF) Pada organisasi proyek fungsional lingkup kegiatan proyek diserahkan dan menjadi bagian atau tambahan kegiatan fungsional serta dipimpin oleh manajer lini yang telah ada. Dengan demikian disamping tugas sehari-hari sebagai manajer lini, harus pula bertanggung jawab atas pelaksanaan proyek. Kelemahan pokok penggunaan OPF adalah : a. Tidak adanya pengaturan formal untuk menampung arus horizontal. b. Tidak ada penanggung jawab tunggal. (khusus Proyek) c. Tidak efektif untuk menangani proyek berukuran besar, kompleks dan multi disiplin. 4. 2 Organisasi Proyek Koordinator (OPK) Dari segi penanganan proyek bentuk ini lebih maju dibanding OPF, karena ada penunjukan seorang koordinator yang bertugas sepenuhnya mengurusi proyek/mengkoordinasi pekerjaan, tenaga

4.

4.

dan kegiatan lain yang berhubungan dengan proyek. Tetapi kegiatannya sebatas pada koordinasi pekerjaan-pekerjaan proyek saja. 3 Organisasi Proyek Murni (OPMi) Disini proyek berstatus mandiri, artinya proyek ini terpisah dan sejajar dengan devisi/departemen lain dalam perusahaan. Ciri organisasi proyek murni : a. Pimpro berfungsi seperti manajer lini. b. Pimpro mempunyai wewenang penuh. c. Tenaga pelaksana dipindahkan kedalam organisasi proyek. d. Hanya memerlukan sedikit dukungan dari unit fungsional. Dalam implementasinya pimro lebih cenderung menggunakan OPMi disebabkan (keunggulannya) : a. Dengan komando tunggal, tim proyek memiliki wewenang penuh atas sumber daya yang ada. b. Dengan adanya tim tersebut, adanya perubahan akan diambil keputusan yang tepat. c. Dengan dipindahkannya tenaga spesialis ke wadah tim proyek, maka penjeliaan dan pengendalian lebih efektif. d. Memudahkan koordinasi dan integrasi personil dan kegiatannya. Kelemahannya : Dipandang dari sudut perusahaan, terlalu mahal dan tidak efisien untuk membagi sumber daya. (dengan OPMi berarti perusahaan membentuk satu departemen fungsional tambahan, yaitu departemen proyek. Umumnya departemen fungsional tambahan ini sesuai umur proyek. Hal ini bertentangan dengan kaidah yang mendasari pembentukan departemen fungsioanal). 4 Organisasi Proyek Matrik (OPM) Organisasi ini mengambil segi-segi positif struktur fungsional dan OPMi dari sudut pandang perusahaan secara menyeluruh dalam menangani proyek. Pada OPM tergabung 2 unsur dasar yaitu unsur organisasi fungsional dan proyek. a. Yang berhubungan dengan fungsional. Menjaga mutu teknis pekerjaan sesuai dengan spesifikasi. Memakai prosedur spesifik. Mengusahakan efisiensi penggunaan sumber daya. Mengikuti perkembangan teknologi. b. Yang berhubungan dengan proyek Pencapaian constrain (anggaran, jadwal, mutu) Koordinasi dan integrasi kegiatan. Mejaga hubungan dengan pemilik dan stake holder (pihakpihak yang mempunyai kepentingan dalam proyek). Keunggulan : Adanya penanggung jawab tunggal, kepentingan proyek terjaga. Memungkinkan tanggapan atas persoalan yang timbul dengan cepat. Pemakaian bersama terhadap tenaga ahli dan sumberdaya secara efisien, oleh lebih dari satu proyek. Kelemahan : Keputusan pelaksanaan pekerjaan & keperluan personil berada di departemen lain diluar jangkauannya. Mempunyai sifat ketergantungan tinggi antara proyek dan organisasi lain pendukung proyek. Terdapat 2 jalur pelaporan (2 atasan) bagi anggota tim inti proyek.