Anda di halaman 1dari 2

Dua Pejabat Bea Cukai Jadi Tersangka Korupsi "Keduanya terbukti menyalahgunakan wewenang dan melawan hukum".

SENIN, 14 MEI 2012, 19:46 WIB

VIVAnews - Dua pegawai Kantor Pelayanan Bea Cukai (KPBC) Tanjung Perak, Surabaya ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Tipikor Polda Jatim, terkait kasus tindak pidana korupsi, dengan modus pengadaan tanah untuk perumahan seluas 5.170 hektar, senilai Rp2,7 miliar berlokasi di Dusun Lecari, Kelurahan Tapakan, Kecamatan Bugul Kidul, Pasuruan, Jatim. Peristiwa itu terjadi pada 2007 silam.

Mereka adalah Suryadi 54, warga Sidoarjo yang saat itu menjabat sebagai Kasubbag Umum KPBC Tipe A2 Pasuruan tahun 2007. Dan, saat ini berdinas di KPBC Tanjung Perak, Surabaya.

Tersangka kedua adalah Bambang 58, warga Jakarta, mantan Kepala KPBC Pasuruan tahun 2007 dan tahun ini telah pensiun.

"Keduanya kami tetapkan setelah penyidik memeriksa sekitar 20 saksi dan melakukan gelar perkara," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Hilman Thayib didampingi Kasubdit Tipikor AKBP Edwan Syaiful , Senin 14 Mei 2012.

Edwan menambahkan, kedua tersangka melakukan mark up harga tanah dan melakukan proses

lelang secara fiktif.

Dijelaskan, pada tahun 2006, Suryadi mengusulkan pada Departemen Keuangan (Depkeu) terkait rencana pengadaan tanah seluas 5.170 Ha senilai Rp2,7 miliar untuk pembangunan rumah dinas pegawai.

Rencananya anggaran itu dimasukkan pada tahun anggaran 2007. Lucunya, sebelum anggaran disetujui, pelaku sudah bekerja sama dengan salah satu makelar tanah setempat untuk mencari lahan atau tanah yang diperlukan. Padahal tanah di lokasi tersebut pada saat itu hanya seharga Rp150 ribu per meter pesegi.

"Usai anggaran disetujui, pada akhir Desember 2006 pelaku berpura-pura mengadakan lelang. Padahal proses lelang itu fiktif, dan seharusnya sesuai dengan Perpres Nomor 36 tahun 2005 sebagaimana diubah menjadi Perpres Nomor 65 tahun 2006 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksana Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, pengadaan tanah di bawah 1 hektar dapat dibeli langsung, tidak perlu lelang," ujarnya.

Edwan mengungkapan, dari hasil pemeriksaan penyidik, ada kerugian negara sekitar Rp1,4 miliar, karena pelaku memanipulasi harga tanah menjadi Rp550 ribu dari harga sebenarnya yang hanya Rp150 ribu per meter pesegi.

"Untuk kepastian jumlah kerugian negara masih dalam proses audit BPKP," Edwan menegaskan.

Terkait kasus ini, kedua tersangka bisa dijerat melanggar Pasal 2,3 dan 9 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana dirubah menjadi UU No 20 tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

"Keduanya terbukti menyalahgunakan wewenang dan melawan hukum yang merugikan keuangan negara. Dalam waktu dekat kedua pelaku akan kita periksa sebagai tersangka," ujarnya.