Anda di halaman 1dari 12

Makalah Seni Budaya

Teater Tradisional Dalam Konteks Kehidupan Masyarakat

Oleh : Mutia Marwa XI IPA 2

SMA Negeri 1 Bogor Jl. Ir. H. Juanda 16 Bogor 16122 - Telp. (0251) 8321758 Tahun Ajaran 2012-2013

Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Taala yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul Teater Tradisional Dalam Konteks Kehidupan Masyarakat Tujuan dibuatnya makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas seni budaya dan untuk lebih mengenal dan mengapresiasi seni teater. Makalah ini membahas seni teater mulai dari definisi, sejarah, pembagian seni teater, contoh-contoh teater, dan peranan seni teater dalam masyarakat. Terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat.

Penulis

Daftar Isi
Kata Pengantar ........................................................................................................ Daftar Isi ................................................................................................................. A. Pengertian Teater ................................................................................................... B. Mengidentifikasi Makna dan Peranan Teater dalam konteks Sosial Budaya ......... C. Jenis Teater ............................................................................................................. a. Teater TradisionaL ................................................................... b. Teater Nontradisional .............................................................. D. Media Seni Teater/Drama....................................................................................... E. Fungsi Teater Daerah ..............................................................................................
F. Mendeskripsikan Sejarah dan Perkembangan Teater Nusantara .....................................

A. Pengertian Teater
Teater merupakan salah satu pertunjukan seni di mana dunianya meliputi dunia visi, spirit dan antusiasme. Norma yang berlaku dalam dunia teater adalah berusaha menampilkan yang terbaik dan tidak sekedar pertunjukan biasa yang kemudian dilupakan orang. Tidak seorang aktor pun yang ingin mempertunjukkan teater yang buruk. Mereka selalu ingin mempertunjukkan teater yang luar biasa, dikenang banyak orang, atau bahkan dapat mengguncang masyarakat luas. Oleh karena itu, teknik yang digunakan dalam pementasan seni teater harus menggairahkan, memotivasi, dan menginspirasi banyak orang untuk memberikan yang terbaik sehingga seperti seorang aktor panggung yang terkenal. Seni teater selalu menawarkan janji perubahan dan menyadari potensi diri kita sendiri. Seperti ungkapan Charles Handy, filsuf sosial: Jika engkau ingin berhasil, pikirkan teater! Teater tradisi nusantara merupakan seni pertunjukan untuk daerah-daerah setempat di nusantara yang diwarnai kultur etnis yang khas. Keberadaannya mencerminkan kekayaan budaya dan keluhuran budi masyarakat daerah setempat yang telah mentradisi dalam kehidupan masyarakat secara turun-temurun.

Karya sastra teater dan drama dalam sejarah perkembangannya digolongkan menjadi lima kurun sebagai berikut: 1. Kurun Purba Teater dalam kurun purba ini adalah teater primitif dan tidak memiliki sastra. Musik dan tari memegang peranan utama, tidak mengenal ruang, dan pemain serta penontonnya boleh berbaur atau bersifat partisipasi. 2. Kurun Klasik Yang dimaksudkan dengan kurun klasik ini adalah teater-teater Yunani sebelum Masehi. Orang Yunani menyempurnakan teater primitive yang berorientasi pada sastra. Dimulai dari teater Yunani inilah kita mengenal teater modern lengkap dengan pengarang, sutradara, dan aktor. Penonton sudah mulai berjarak dengan pemain. 3. Kurun Pertengahan Pertunjukan teater yang pertama pada abad pertengahan berjudul Quem Quaeritis. 4. Kurun Renaissance Mutu kebudayaan dimulai dari kurun Renaissance dan citra kebudayaan Indonesia berangkat dari gaung zaman ini di Eropa. Pada kurun ini, semua lading kesenian bangkit dan mencapai puncaknya.

5. Kurun Modern Pada kurun modern, gejala kebudayaan yang tampak adalah sekitar gagasan merombak pola teater yang telah ada sejak zaman Yunani klasik sampai Renaissance, Gagasan merombak ini turut membawa serta lahirnya sejumlah aliran dalam teater. Di Indonesia teater dan drama pada awalnya merupakan upacara agama. Sifatnya lebih puitis daripada di Barat. Dalam penggambarannya secara visual dan ekspresif ditambahkan elemen tari dan musik sebagai tambahan sekunder. Di Barat sebaliknya, upacara keagamaan lebih bersifat penceritaan.

B. Mengidentifikasi Makna dan Peranan Teater dalam konteks Sosial Budaya


Istilah teater berasal dari bahasa Yunani theatron yang diturunkan dari kata theaomai yang berarti takjub memandang atau melihat. Secara harafiah berarti gedung atau tempat pertunjukan. Dalam perkembangan selanjutnya istilah teater memiliki arti sebagai berikut : a. b. c. d. Gedung pertunjukan, tempat orang menonton atau sajian tontonan. Tontonan yang disajikan di gedung pertunjukan, terutama yang memaparkan lakon. Adegan, pemain, dan gagasan yang dipandang sebagai drama. Medan atau wilayah suatu tindakan terjadi.

Kata teater sekarang lebih dimengerti sebagai drama atau segala sesuatu yang berkaitan dengan drama, penulisan dan akting lakon. Pada zaman sebelum Perang Dunia II dikenal istilah tonil (toneel) yang berasal dari bahasa Belanda. Kanjeng Gusti Pangeran Mangkunegara VII menggunakan istilah sandiwara dari kata sandi dan warah. Sandi berarti tersamar, terselubung, rahasia, sedangkan warah berarti didik, bombing, ajar. Secara harafiah sandiwara berarti pendidikan yang diberikan secara terselubung. Lalu perbedaan teater dan drama (sandiwara, film, sinetron, dll.) adalah sebagai berikut :

Drama
1. drama tidak memerlukan pengucapan vokal yang cukup kuat, karena diperkuat atau diambil oleh microfone 2. emosi tidak perlu kuat, karena akan diperkuat oleh kamera yang mengambil secara short shoot atau close up 3. make up cukup tipis, karena akan diperkuat oleh kamera 4. pengambilan adegan secara partial atau sebagian-sebagian yang dipotong-potong menjadi sangat pendekpendek sesuai dengan yang akan di

Teater
1. pengucapan vokal harus sangat kuat, karena penampilan dilakukan di atas panggung dan vokal harus terdengar hingga penonton di barisan yang paling belakang. 2. emosi atau perasaan harus ekstreem, karena penampilan dilakukan di atas panggung dan emosi atau perasaan harus terlihat hingga penonton di barisan yang paling belakang. 3. make up harus ekstreem, karena penampilan dilakukan di atas panggung

ceritakan, sehingga adegan yang salah bisa diulang-ulang hingga mencapai seperti yang dikehendaki oleh sutradara

dan make up harus terlihat hingga penonton di barisan yang paling belakang. 4. adegan dari awal hingga akhir penampilan atau show harus sempurna, karena tidak ada jeda atau pengulangan bagi adegan yang salah, salah pada salah satu adegan atau dialog, maka rusaklah semua performa yang sedang ditampilkan.

C. Jenis Teater
Konsep dasar teater yang dimaksud merupakan persiapan yang berkenaan dengan teknik tatalaksana pertunjukan yang dipentaskan. Teater di sini lebih menyerupai sanggar, sehingga pertunjukan tari, atau sulap pun dapat dikategorikan sebagai seni teater. Pada perkembangannya, teater menjadi lebih kompleks. Seni teater adalah bentuk seni pertunjukan yang berhubungan dengan kisah kehidupan manusia, baik langsung atau tidak langsung berhadapan dengan penonton. Seni teater di Indonesia dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:

a. Teater TradisionaL
Teater tradisional muncul jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka dan berkembang diberbagai daerah. Teater Tradisional berasal dari kebudayaan Indonesia sendiri. Teater Daerah memiliki ciri-ciri tertentu, sebagai teater tradisional nusantara yang memiliki berbagai bentuk. Teater daerah yang satu dengan yang lain memiliki ciri khas tersendiri. Secara umum teater daerah memiliki ciri yang sama, yaitu sebagai berikut : Anonim, artinya tidak dapat diketahui atau dikenal lagi siapa pencipta atau penyusun pola seninya. Arena terbuka, artinya pementasan dilakukan di tempat terbuka, misalnya di halaman pasar dan alun-alun. Penonton menikmati pertunjukan dengan membuat lingkaran. Improvisasi, artinya pemainnya banyak mengandalkan kecakapan alamiah, baik dialog maupun akting, tidak dipola oleh naskah atau sutradara. Contoh teater tradisional yaitu: 1. Wayang orang

Wayang orang yang merupakan teater tradisi terdapat di Jawa. Pementasannya mengambil lakon dalam kisah Mahabarata dan Ramayana. Wayang orang ini menggunakan sajian tari. Jauh sebelum wayang orang muncul, telah muncul wayang kulit yang dikenal dengan Wayang Kulit Purwa Jawa (WKPJ). 2. Ketoprak dan ludruK Ketoprak mirip dengan wayang orang. Bedanya adalah lakon yang dibawakan merupakan cerita rakyat dan kisah kepahlawanan. Unsur dagelan atau humor masih ada, namun gerakan/tariannya lebih sederhana dan waktu pertunjukannya lebih singkat. Ketoprak merupakan salah satu jenis teater daerah Jawa, yang dahulu dikenal dengan ketoprak ongkek, ketoprak barangan, yang hampir setingkat dengan ngamen. Sarana angkutan gamelannya dari satu tempat ke tempat lain menggunakan pikulan. Oleh karena itu ketoprak ongkek sering dikenal dengan nama ketoprak pikulan atau ketoprak kelilingan. Tempat pentasnya kebanyakan di tempat-tempat luas di pinggir pasar, lapangan, atau tempat lain yang ramai. Sekarang ini ketoprak sudah mengalami perkembangan dan perubahan besar. Ketoprak dipentaskan di gedung dengan musik yang lengkap, tidak hanya gamelan, melainkan dicampur dengan musik modern. Tat arias dan tata busananya juga sudah bagus yang ditambah tata lampu yang menakjubkan. Ludruk berasal dari daerah Jawa Timur. Pertunjukan ini merupakan sejenis ketoprak yang semua pemainnya pria. Ludruk diawali dengan tarian yang ditarikan sambil bernyanyi dan disebut Tari Ngremo.

3. Lenong Sandiwari berdialek Betawi. Bersifat improvisatif, bergaya lugu dan lucu, dengan nyanyian dan tarian yang diiringi musik gambang kromong.

4. Lawak dan dagelan Lawak adalah drama yang lepas dari logika cerita, acting, dan adegan. Pemain lebih cenderung pada usaha membuat kelucuan. Dagelan adalah lawak versi Jawa. 5. Sanghyang

Sanghyang adalah salah satu jenis teater tradisi di Bali yang disuguhkan dalam bentuk tari yang bersifat religius dan secara khusus berfungsi sebagai tarian penolak bala atau wabah penyakit. Masih banyak teater di Bali, seperti teater tari Calon Arang, Kecak, Barong, dan Drama Gong yang hamper semuanya bersifat religius. 6. Randai

Randai merupakan salah satu jenis teater rakyat daerah Minangkabau. Randai dimainkan tanpa menggunakan naskah, melainkan dengan improvisasi, seperti pada umumnya jenis teater daerah lain. Dalam pertunjukannya, selain disampaikan melalui dialog, drama tersebut juga disampaikan melalui dendang atau gurindam. Dalam satu adegan dimungkinkan seorang pelaku mengajak atau meminta komentar penonton, memancing pelaku untuk berakting, atau berdialog. Pertunjukan randai dilakukan dalam bentuk arena, formasi penonton, dan permainan yang disuguhkan melingkar. 7. Mamanda

Mamanda merupakan salah satu teater tradisi Kalimantan Selatan. Pertunjukan ini disuguhkan dengan busana yang serba gemerlapan, tetapi dengan peralatan permainan sederhana yang bersifat sugestif. 8. Topeng Bonjet

Topeng bonjet adalah salah satu jenis teater tradisi; yakni sandiwara tradisional yang ada di Jawa Barat dan banyak terdapat di Kerawang. Seni ini tersusun dari beberapa elemen artistic yang memesona.

b. Teater Nontradisional
Teater nontradisional bukan berasal dari kebudayaan Indonesia, sifatnya lebih modern. Teater daerah yang satu dengan teater daerah yang lain yang berada di nusantara memiliki kesamaan, di samping perbedaan-perbedaan. Apalagi dengan teater daerah di mancanegara. Teater daerah yang merupakan teater tradisional di mancanegara, batas penonton dan yang ditonton sangat tegas. Akan tetapi, teater daerah di nusantara belum begitu tegas, walaupun dalam perkembangannya teater tradisional di nusantara ada batas antara yang ditonton dengan penonton. Selain itu juga telah ada panggung sebagai tempat pergelaran. Contoh teater nontradisional yaitu: 1. Pembacaan karya sastra Puisi dan prosa memaparkan berbagai kisah kehidupan manusia. Ia merupakan karya sastra, tetapi menjadi seni teater pada saat dibacakan sebagai pertunjukan. 2. Sandiwara atau drama Sandiwara merupakan pertunjukan berupa rangkaian tindakan pura-pura guna mengekspresikan kisah yang mungkin terjadi atau secara logika dapat terjadi dalam kehidupan manusia. Semakin logis jalan ceritanya, semakin tinggi tingkat dramatikanya, dan disebut drama murni. Sandiwara konvesional dapat dipentaskan di panggung, melalui radio atau televisi. 3. Film dan Sinetron Film adalah seni drama yang disajikan dalam bentuk yang lebih kompleks dan sempurna. Sebenarnya, film adalah bagian dari kamera film, berupa klise panjang yang terbuat dari bahan seluloid untuk merekam peristiwa yang bergerak. Namun karena keberadaannya sangat menunjang kreatifitas pembuatan drama, film menjadi bentuk seni sendiri. 4. Opera / operet Opera juga merupakan seni multimedia. Drama jenis ini seringkali lepas dari tatanan akting atau adegan yang biasa, melibatkan tarian, kostumnya relative mewah, dan hampir seluruh dialognya dinyanyikan dan diiringi musik. Operet adalah opera sederhana. 5. Pesan niaga Pesan niaga adalah reklame yang disiarkan/ditayangkan melalui media elektronik seperti radio atau televisi. Dikategorikan sebagai seni teater karena penyelenggaraannya menggunakan konsep teater. Sastra drama dan teater tradisi di mancanegara, khususnya seni drama Barat yang memiliki mutu tinggi, terkenal, dan dikagumi dari penulis-penulis kenamaan, antara lain sebagai berikut.

a. Agamemnon, karya penulis Aeschyllus dari Yunani. Pada awalnya, Agamemnon merupakan karya drama tragedi. b. Electra, Antigone, dan Oedipus Tyrannus atau Raja Oedipus karya Sophoeles, penulis tragedi yang terbesar pada masa Yunani kuno. c. Hamlet, Romeo and Juliet, dan Raja Lien karya Shakespeare di Inggris. Karya-karya tersebut merupakan karya yang diangkat dari tradisi kebangsaan dan mengetengahkan tema-tema percintaan yang diakhiri dengan tragedi pembunuhan.

D. Media Seni Teater/Drama


Media Dasar dalam seni teater meliputi yakni: tubuh, suara, kata, gerak/akting, dan ilustrasi musik Secara sederhana, peralatan untuk orang yang bermain peran dalam teater hampir sama dengan seni tari. Tapi dalam teater, properti panggung untuk seting adegannya lebih kompleks. Sedangkan untuk teater modern yang lebih rumit seperti film, peralatannya dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: Peralatan proses pembuatan Kamera, film, kamera foto, lampu, alat editing, generator, peralatan laga/akting, peralatan suara, dan sebagainya. Peralatan properti Adalah subjekdasn objek visualisasi film yang meliputi hampir seluruh wujud makhluk atau benda yang ada di alam ini. Aktor pameran dengan segala kostum dan riasnya, benda-benda pembentuk seting, dan pemandangan sekitar merupakan contoh peralatan properti ini. E. Fungsi Teater Daerah Fungsi teater daerah dalam kehidupan masyarakat tidak lain dan tidak bukan untuk memberi tempat atau wadah bagi budaya masyarakat, yang akhirnya dapat memberi tuntunan masyarakat sesuai dengan budaya yang dimilikinya. Teater manusia mempunyai dua fungsi utama. Pertama, sebagai sarana hiburan yang juga sebagai wadah untuk berkomunikasi antarwarga. Kedua, sebagai fungsi ritual, bersifat transcendental, yaitu sebagai media hubungan antarmanusia. F. Mendeskripsikan Sejarah dan Perkembangan Teater Nusantara Mendeskripsikan sejarah dan perkembangan teater nusantara tidak lepas dari pengaruh para tokoh sastrawan atau dramawan, sutradara, dan aktor yang memiliki karya yang telah dipublikasikan. Para tokoh tersebut, antara lain sebagai berikut : a. Rendra Seorang dramawan, sastrawan, sutradara, dan juga sebagai aktor bernama asli Willybrodus Surendra Rendra. Beliau mendirikan bengkel teater di Jogjakarta. Teater Rendra berhasil mementaskan sejumlah lakon terjemahan dan adaptasi, antara lain: Paraguay Tercinta (Fritz Hichwalder), Oidipus Sang Raja (Sophocles), Kereta Kencana (Eugena Ionesco), Suara-suara Mati (Van Loggen), Lawan Catur (Kenneth Sawyer Goodman), Hello Out There (William Saroyan), dan Perang Pahlawan (George Bernard Shaw).

b. Teguh Karya Teguh Karya adalah seorang sutradara terkenal bernama asli Steven Liem (Liem Tjoen Hoak). Beliau mendirikan Teater Popular pada tahun 1968. Generasi pertama teater ini antara lain Slamet Raharjo Djarot, N. Riantiarno, Franky Rorimpandey, Boyke Koring, Purnama, Hengky Soelaiman, Tuti Indra Malaon, Iskay Iskandar, Rosaline Oscar, Sylvia Nainggolan, Rahayu Effendi, dan Mieke Widjaya. Karya-karya yang telah dipentaskan antara lain berjudul : Hammer Herre Akting yang diangkat dari Ghost/Gengengere karya Henrik Iksen, Antara Dua Perempuan dari Alico Gusterberg, Melintas di tengah Matahari dari Lorraine Hansberry, Perkawinan dari Miholay Grogol, dan Pemburu Perkasa dari Woef Mankiswitz. c. N. Riantiarno N. Riantiarno adalah seorang penulis naskah sekaligus aktor yang mendirikan Teater Koma pada tanggal 1 Maret 1977. Panggilan akrabnya adalah Nano. Para penggagas dan pendiri Teater Koma berasal dari lingkungan Teater Popular, Teater Ketjil, dan Teater Mandiri. Pementasan perdananya berjudul Rumah Kertas karya Nano sendiri. Pementasan Teater Koma yang lainnya yaitu Bom Waktu, Opera Ikan Asin, Opera Julini, Opera Kecoa, Opera Salah Kaprah, Wanita-Wanita Parlemen, dan lainlain. d. Arifin C. Noer Seorang sutradara dan penulis drama ini merupakan pendiri Teater Ketjil pada tahun 1968. Pementasan lakonnya antara lain: Mega-Mega, Kapai-Kapai, Sumur Tanpa Dasar, Perang Troya Tidak Akan Meletus, Lalat-Lalat, Caligula, Macbett, dan lain-lain. e. Putu Wijaya Beliau mendirikan Teater Mandiri dan langsung mementaskan lakon berjudul Aduh. Berbeda dengan teater-teater lain, teater ini sejak awal didirikannya sampai sekarang, konsisten dan konsekuen hanya mementaskan lakon-lakon yang ditulis dan disutradarai oleh Putu Wijaya sendiri.